Anda di halaman 1dari 54

Oleh :

Prof.DR.Ir. Bambang Suharto, MS


HIDROLOGI
1. Theory of Ground Water Flow by A.
Verruijt, 1975
2. Design and Operation of Farm
Irrigation System by M.E. Jensen,
1980
3. Drainage Principles and Applications,
Vol. III Surveys and Investigations by
ILRI, 1980
4. Introduction to Hydrology by Warren
Viessman, et.al., 1977
Hidrologi :
Suatu ilmu yang menelaah air dalam
semua peredarannya, yaitu meliputi
berbagai bentuk air, yang menyangkut
perubahan-perubahannya antara keadaan
cair, padat dan gas dalam atmosfir, di atas
dan di bawah permukaan tanah.
Hidrologi air tanah :
Merupakan suatu bidang ilmu yang khusus
menelaah dan mempelajari keadaan
pembagian serta gerakan aliran air yang
terdapat di dalam tanah atau batuan.
Jumlah air di bumi 1.3 1.4 milyar km
3

yang terdiri dari :
- 97.3 % di laut
- 1.75 % bentuk es
- 0.73 % - sungai
- air danau
- air tanah
- 0.001 % dalam bentuk uap air
Siklus Hidrologi
Infiltrasi
Intersepsi
Aquiver
Run off
Perkolasi
Air tanah
Evaporasi
Evaporasi
Evapotranspirasi
Hujan
awan
Faktor-faktor yang mempengaruhi
Siklus Hidrologi :
- Kondisi Meteorogi, dipengauhi oleh :
- suhu T>>, bila RH >> uap <
- tekanan udara tekanan atmosfir
- angin >> penguapam tinggi
walaupun RH >>
- Kondisi Topografi ketinggian
tempat
Reservoir Air Tanah :
Suatu air yang terdapat di dalam tanah/batuan
yang bersifat porous sekali, dimana airnya
mengisi lubang-lubang di dalam tanah/batuan.
Lapisan kedap
Kedap
Reservoir (spt. Batu, kerikil
yg mengandung air)
Reservoir air tanah mudah sekali bergerak dari
tempat tinggi menuju tempat yang rendah
(potensial), kalau di tempat yang rendah dapat
keluar sebagai sumber air.
Macam Reservoir Air Tanah :
1. Kerikil lapisan porous yang dapat menyimpan air
2. Pasir
3. Tufa vulkanis (batuan gunung berapi yang porous)
4. Batu gamping yang porous
Pergerakan air tanah yang terjadi pada reservoir tsb
sangat lambat tergantung pada permeabilitas dan
gradient hidarulis.
Kecepatan gerak air ini dilukiskan secara sederhana
oleh H. DARCY.
V = P.I
Dimana : V = Velocity
P = Koefisien permeabilitas
I = gradient Hidraulis
Sedangkan E air tanah yang melewati titik tertentu
dalam waktu tertentu dinyatakan dalam rumus sbb:
D = P.I.A
Dimana : D = E air
A = penampang lintang dari tanah yang
dilaluinya
Aliran air dalam tanah ada 2 :
1. Aliran Efluent : aliran yang terdapat pada suatu
lembah yang airnya mengalir terus-menerus
(merembes terus-menerus sifatnya)
2. Aliran Influent : suatu aliran yang berasal dari
pegunungan yang mengalir ke suatu gurun
sehingga airnya merembes ke bawah
Macam lapisan tanah yang mengandung Air :
1. Aquiver adalah lapisan tanah/batuan yg menyimpan dan
meluluskan air dgn kapasitas yg cukup besar
Lapisan ini bisa berupa lapisan batuan sedimen, spt : pasir
& kerikil, pasir, kerikil, ataupun batuan tufa.
2. Aquiclude adalah suatu lapisan tanah/batuan yg mampu
menahan/menyimpan air tetapi tidak mampu meluluskan air,
misalnya : tanah liat.
3. Aquifuge adalah suatu batuan yg tidak mampu menyimpan
air, sehingga terus menerus mengalir.
Contoh : batuan Granit
Faktor-faktor yg mempengaruhi kemampuan menyimpan air dan
kemampuan utk meluluskan air pada aquiver :
a. Porositas
b. Permeabilitas
c. Luas penyebaran
d. Tebal lapisan
Beberapa nilai porositas dari beberapa batuan
sedimen yg meluluskan air
Macam batuan sedimentasi Porositas (%)
Tanah liat 50 60
Pasir sedang kasar 30 45
Pasir seragam 35 40
Pasir halus sedang 35 45
Kerikil 30 40
Pasir dan kerikil 25 30
Batu pasir 10 20
Batu kapur 1 10
PRESIPITASI
a. Jumlah Presipitasi :
adalah banyaknya air yg jatuh di
permukaan tanah dinyatakan dalam
mm
b. Intensitas Curah Hujan :
adalah banyaknya curah hujan
persatuan waktu (mm/menit, mm/jam,
mm/hari)
Keadaan
curah hujan
Intensitas
(mm/menit)
Kondisi tanam
Hujan sangat
lemah
< 0.02 Tanah agak sedikit basah
Hujan lemah 0.02 0.05 Tanah basah tetapi sulit
dibuat lumpur
Hujan normal 0.05 0.25 Dapat dibuat lumpur &
hujan kedengaran keras
Hujan deras 0.25 1.0 Air tergenang seluruh
permukaan & hujan deras
kedengaran dari genangan
Hujan sangat
deras
> 1.0 Air tergenang, saluran
drainase meluap
Distribusi Curah Hujan
Distribusi curah hujan adalah untuk menentukan suatu
rancangan pemanfaatan air dan rancangan pengendalian
banjir yaitu curah hujan rata-rata pada seluruh daerah
yg bersangkutan.
bukan merupakan curah hujan pada suatu daerah
tertentu.
Curah hujan ini disebut curah hujan daerah/wilayah yg
biasanya dinyatakan dalam mm.
Cara penentuan curah hujan daerah/wilayah yg
bersangkutan, diperhitungkan dgn beberapa titik
pengamatan curah hujan sbb :
1. Cara Aljabar rata-rata : ialah perhitungan rata-
rata secara aljabar curah hujan di sekitar daerah
yg bersangkutan.





dimana :
R = curah hujan daerah/wilayah (mm)
n = E titik pengamatan
R
1
, R
2
, R
n
= curah hujan di tiap-tiap titik
pengamatan (mm)
( ) n R R R
n
R + + + = ....
1
2 1
2. Cara Thiesen : cara ini dipergunakan apabila curah hujan tidak
tersebar secara merata di seluruh daerah yg bersangkutan.






dimana :
R = curah hujan daerah (mm)
R
1
, R
2
, ., R
n
= curah hujan di tiap-tiap titik pengamatan
A
1
, A
2
, ., A
n
= bagian daerah yg mewakili titik-titik
pengamatan
W
1
, W
2
, ., W
n
= A
1
, A
2
, A
3
A A A

n n
n n
n
n n
R W R W R W R
A
R A R A R A
R
A A A
R A R A R A
R
+ + + =
+ +
=
+ + +
+ + +
=
....
...
....
....
2 2 1 1
2 2 1 1
2 1
2 2 1 1
Cara Thiesen ini lebih teliti daripada cara aljabar rata-
rata.
B
A
C
Poligon Thiesen
3. Cara Garis Isohiet
Peta isohiet digambar pada peta topografi dgn perbandingan /
interval 10-20 mm. Berdasarkan pada data-data curah hujan pada setiap
titik pengamatan di dalam dans ekitar daerah yg dimaksud.
Luas bagian antara 2 garis isohiet yg berdekatan diukur dgn
planimeter. Demikian pula harga rata-rata garis-garis isohiet yg
berdekatan.
Curah hujan pada daerah tsb dapat diukur dgn cara sbb :










dimana :
A = luas areal
d = tinggi hujan pada isohiet 0, 1, 2, . n
A
1
, A
2
, ., A
n
= luas bagian areal yg dibatasi oleh
isohiet-isohiet yg bersangkutan

A
A
d d
A
d d
R
A A A
A
d d
A
d d
A
d d
R
A A A
R A R A R A
R
i
i i
i
i i
n
n
n n
n
n n
n
n
n

+
=
+
=
+ +
+
+ +
+
+
+
=
+ +
+ + +
=

1
1
1
2 2
....
2
....
2 2
...
....
1 1
2 1
1
2
2 1
1
1 0
2 1
2 2 1 1


A
1
A
2
A
3
A
4
A
5
A
6
A
7
d
0
=10 mm
d
1
=20 mm

d
2
d
3
d
4
d
5
d
6
d
7
Intensitas Hujan :
1) Taibot (1881)
2 2
2
2 2
2 2
) ( ) (
) ( ) )( (
) ( ) (
) )( ( ) )( . (
i i P
it P it i
b
i i P
i it i t i
a
b t
a
i


=


=
+
=
2) Sherman (1905)
2 2
2 2
2
) log ( ) log (
) log )( log log ( ) log )( log (
) log ( ) log (
) log )( log log ( ) log )( log (
log
t t p
t i t p t i
n
t t p
t i t t i
a
t
a
i
n


=


=
=
3) Ishiguro
2 2
2
2 2
2
) ( ) (
) ( ) )( (
) ( ) (
) )( ( ) )( (
i i p
t i t i i
b
i i p
i t i i t i
a
b t
a
i


=


=
+
=
AIR TANAH
Air Tanah : air yg berada/pada permukaan partikel tanah yg langsung
atau tidak langsung berpengaruh thd pertumbuhan tanaman dan
organisme lain yg berada di atas / di dalam tanah
Klasifikasi air tanah (Brady, 1974)
1. Klasifikasi fisik didasarkan atas tegangan air tanah.
Dibedakan 3 bagian :
a. Air Higroskopis
b. Air Kapiler
c. Air Bebas
2. Klasifikasi biologis air tanah
Klasifikasi ini ditinjau dari ketersediaan air tanah dalam
hubunganya dgn pertumbuhan tanaman.
Dibedakan atas 3 bagian :
a. Air Tak Tersedia
b. Air Tersedia
c. Air Mengalir/berkelebihan
Kramer (1977), membedakan air tanah atas 4 klas :
1. Air Gravitasi : air yg terdapat pada pori-pori besar dari
tanah dimana bergerak ke bawah karena adanya gaya
gravitasi
2. Air Kapiler : air yg ditahan oleh permukaan partikel
tanah, yg berupa selaput tipis dalam sudut-sudut
partikel tanah dari pori kapiler
3. Air Higroskopis : air yg ditahan dalam bentuk selaput
yg sangat tipis oleh permukaan partikel tanah
4. Uap air : air yg terdapat dalam atmosfer tanah yg
bergerak sepanjang gradient tekanan uap
5. Koefisien Hygroskopis : yaitu suatu kandungan
kelembaban tanah dalam keseimbangannya dgn
atmosfer yg dikenal dengan kelembaban relatif
Air bergerak dalam pori-pori tanah dari tempat yg
bertekanan rendah ke tempat yg bertekanan tinggi atau air
bergerak dari potensial tinggi menuju tempat yg
berpotensial rendah.
Tekanan - tegangan
Sehingga air mengalir ke bawah dipengaruhi 2 gaya :
- gaya gravitasi
- gaya kapiler
Hillet (1980), menyatakan bahwa aliran cairan melalui media
berpori adalah bergerak sesuai dgn arah dan tekanan yg
proporsional dgn daya penggerak yg bertindak pada aliran
tekanan dan proporsional dgn sifat media untuk melewatkan
cairan tersebut (konduktifitas).
Pergerakan Air Tanah
Dimana pergerakan air dalam arah horizontal terjadi dalam
responnya thd gradient tekanan hydrolis.
Sedangkan aliran dalam arah vertikal disebabkan oleh
tekanan negatif atau daya hisap partikel-partikel tanah.
Dimana :
q = debit air yg keluar
k = konduktifitas hidrolika
L = tinggi tanah dalam tabung
H = tinggi kolom air
H
Air
Tanah L
H
1
Persamaan DARCY :
K
L
H
K q
L
L H
K q
L
H
K q
+ =
+
=
=
1
1
Uap air dalam tanah dalam phase gas dari tanah yg tidak
jenuh air, dan difusi uap air terjadi apabila tekanan uap air
terjadi di dalam tanah.
Persamaan difusi dari uap air adalah sbb :



Dimana : q
d
= kecepatan aliran difusi
D
uap
= koefisien difusi uap air
P = Perbandingan tekana uap antara 2 titik dlm
tanah dgn jarak L

Di dalam tanah lebih rendah daripada di udara terbuka
karena terbatasnya porositas dan adanya pori-pori yg
terisi udara.
L
P
D q
uap
uap d
=
Faktor-faktor yg mempengaruhi pergerakan air tanah :
1. Ukuran & Distribusi Pori
Air masuk ke dalam tanah melalui bagian tanah yg
terbuka yaitu melalui ruang pori, celah berlubang
karena adanya aktivitas akar, binatang atau pengolah
tanah.
2. Stratifikasi
Yaitu adanya lapisan liat, debu, pasir dan sebagainya
yg membentuk suatu lapisan yg impervisus.
3. Tekanan / Selisih Tegangan
Untuk kandungan air tanah di bawah kapasitas
lapang maka hantaran hydrolika akan menurun dgn
cepat.
Pada tegangan 2 atm hantaran hydrolika 10x lebih
baik daripada tegangan 10 atm.
4. Suhu
Suhu makin tinggi maka viscositas semakin rendah
dan sebaliknya suhu rendah viscositas air semakin
tinggi sehinggaakan menghambat pergerakan air
dalam tanah.
0.1 1 10 100
0.000001
0.00001
0.0001
0.001
0.01
Tegangan (atm)
Hantaran
Hydrolika
EVAPORASI & EVAPOTRANSPIRASI
Evapotranspirasi :
1. Evapotranspirasi Aktual, suatu gabungan air
ditransfer dari permukaan bumi ke atmosfer
2. Evapotranspirasi Potensial, suatu laju gerak air
yang tersedia tanpa adanya hambatan dari
permukaan tanaman dan tanah
Standart Tanaman : 2 (reference crops)
1. Tanaman affasta yang dicari secara cukup pada
ketinggian 30-50 cm dan dalam keadaan seragam
Etr
(gedung penghalang)
> 100 m
Alfalfa
fetch
2. Etr : adalah laju evapotranspirasi dari suatu areal rumput yang
mempunyai ketinggian seragam antara 8-15 cm dan tumbuh aktif
menutupi permukaan tanah dan tidak kekurangan air

Jadi : ET = kc x Etr atau ET = kc x Eto ET aktual
Kc 1. Tingkat pertumbuhan tanaman (umur)
2. Kerapatan tanaman
ET diukur pada satuan waktu
- tahunan
- bulanan
- harian
Sehingga E air yang ditranspirasikan dalam waktu tertentu adalah sbb:

dt E k W
dt Et W
tp
t
c et
t
et
. .
.
0
0
}
}
=
=
Rumus ET ada :
1. Penman (Evaporasi)







E = Evaporasi dari permukaan air bebas (mm/hari)
Ho = radiasi netto (cal cm
-2
day
-1
)
Ex = Evaporasi Isothermal (mm day
-1
)
A = Sudut dari pada kurva tekanan uap pada temperatur T
(mm hg
o
C
-1
)
c = Konstanta psychrometer
L = panas latent evaporasi 0,1 cm
3
(= 59 cal )
|
.
|

\
|
c
A
+
+
|
.
|

\
|
c
A
=
1
.Ex L Ho
LE


Aerodynamic (Ex)
Ex = 0.35 (0.5 + 0.54 U
2
) (e
sat
e
2
)
U
2
= Kecepatan angin pada ketinggian 2m (mdet
-1
)
e
sat
= Tekanan uap jenuh (mmHg)
e
2
= Tekanan uap pada 2m (mmHg)





U2 = Kecepatan angin pada ketinggian yg lain





2
2 100
log
2
200
log
2 2
x
U U =
( )
+
c + A
+ c
+
+ +
A
=

) )( 54 . 0 5 . 0 ( 35 . 0
) 8 . 0 2 . 0 )( 077 . 0 47 . 0 (
) 273 ( 10 . 118 94 . 0
2 2
2
4
2
9
e e U
N
n
e
T H
N
n
b a
L
E
sat
top
sh
2. Thornwaite


dimana :
Ep = Evapotranspirasi potensial (cm bl
-1
)
T = rata-rata temperatur (
o
C)
I = indeks panas tahunan
a = 0.000000675 I
3
0.00077 I
2
+ 0.01792 I + 0.49239

3. Blaney dan Criddle


dimana :
Ep = potensial evapotranspirasi (mm Pec
-1
)
C
1
BC
= crop coefisien
p
BC
= % bulanan dari jam penyinaran dalam 1 tahun
T = rata-rata suhu udara (
o
C)
a
I
IOT
Ep
|
.
|

\
|
= 6 . 1
) 13 . 8 457 . 0 (
1
+ = T p C Ep
BC BC
4. Jensen Haise





dimana :
Ep = potensial evapotranspirasi (mm day
-1
)
H
sh
= radiasi gelombang pendek yg datang
(cal cm
-2
day
-1
)
T = suhu (
o
C)
59
) 08 . 0 025 . 0 (
sh
H
T Ep + =
5. Metode radiasi



dimana :
C = faktor penyesuaian (konstanta yg kondisinya sudah
ditetapkan berdasarkan suhu dan kecepatan angin
W = faktor tertimbang berdasarkan pada variasi suhu dan
ketinggian tempat
R
s
= radiasi yg setara dengan evaporasi (mm/day)
dipertimbangkan dengan melihat panjang hari
n = panjang hari aktual, panjang hari yg terjadi pada suatu
daerah yg kondisinya berlangsung pada saat itu
N = panjang hari teoritis : panjang hari yg didasarkan pada
posisi lintang tempat
Ra = nilai daripada radiasi yg tertangkap
Ra
N
n
R
mmday WR c E
s
s to
) 50 . 0 25 . 0 (
) (
1
+ =
=

Soal : Suatu daerah terletak pada 10
o
LS & mempunyai data
meteorologi sbb :
Tgl / bln
Kecep. angin
( 10m)(m/det)
T max / min
(
o
C)
R.H
(%)
Lama
penyinaran
mthr (jam)
Hujan
(mm)
1 Juli 1.50 31.0 / 20.9 93 5.2 12.9
2 1.76 31.2 / 20.3 64 0.0 16.5
3 1.81 31.3 / 20.3 58 6.4 59.4
4 1.19 34.2 / 20.0 73 11.1 1.3
5 2.07 31.0 / 19.5 90 3.7 0
6 1.56 31.8 / 21.3 65 4.2 0
7 2.07 32.5 / 21.5 75 6.9 1.0
8 2.73 32.5 / 22.0 74 8.7 33.3
9 2.24 32.2 / 21.2 68 4.4 22.3
10 1.46 32.6 / 21.4 73 2.5 0
Heat index tahunannya = 147.3
Ditanyakan :
Hitung evaporasi dan evapotranspirasi
menurut :
a. Penman dgn mempergunakan tabel
b. Penman dgn mempergunakan nomograph
c. Thorntwaite
d. Blaney Criddle
e. Jensen Haise
Aliran Air dalam Tanah
Syarat adanya aliran Dupult Forchheimer Assumption
1. Driving Force
Head : u = P + z
p.g
P = Pressure head
p.g
z = potensial head
2. Hidraulic gradient sudut / permukaan miring
dari air bebas

dH = dh = c|
dx dx cx
c| = derivatif suatu besaran / parameter pada arah
cx yg bersangkutan
A. Berdasarkan Head Darcy law


Kenyataan di lapang
Y
q
q
q
q
x
z y
q
x
= -k c|
cx
q
y
= -k c|
cy
q
z
= -k c|
cz
q
x
, q
y
, q
z
= specific Discharge Vector
B. Persamaan Kontinuitas


Vol. Kontrol
Air masuk Air keluar
A
1
V
1
= A
2
V
2
= Debit aliran
A
2
V
2
A
1
V
1
A
1
V
1
A
2
V
2
A
1
>A
2
V
1
<V
2

A B
C
D
A
Ay
Ax
q
y
(x,y Ay)
q
x
(x Ax,y) q
x
(x + Ax,y)
q
y
(x,y + Ay)
Y
X
AD = x Ax; BC = x + Ax; AB = y Ay; DC = y + Ay
q
x
(x Ax, y) - Ay + q
y
(x, y Ay) - Ax =
q
x
(x + Ax, y) - Ay + q
y
(x, y + Ay) - Ax. : Ax Ay
q
x
(x Ax, y) + q
y
(x, y Ay) =
Ax Ay
q
x
(x + Ax, y) + q
y
(x, y + Ay) =
Ax Ay
q
x
(x Ax, y) - q
x
(x + Ax, y) + q
y
(x, y Ay) - q
y
(x, y Ay) = 0
Ax Ax Ay Ay
q
x
(x Ax, y) - q
x
(x + Ax, y) + q
y
(x, y Ay) - q
y
(x, y Ay) = 0
Ax Ay

x 0 cq
x
+ cq
y
= 0 R. Continuitas
y 0 cx cy 2 Demensi
cq
x
+ cq
y
+ cq
z
= 0
cx cy cz
R. Continuitas 3 Demensi

Hubungan Darcy dan Continuitas :
q
x
= -k c|, q
y
= -k c|, q
z
= -k c|
cx cy cz
0 =
c
|
.
|

\
|
c
c
c
+
c
|
|
.
|

\
|
c
c
c
+
c
|
.
|

\
|
c
c
c
z
z
k
y
y
k
x
x
k
|
|
|
|
| | |
|
|
|
2
2
2
2
2
2
0
0
V = =
c
c
+
c
c
+
c
c
=
(
(
(
(
(

c
|
.
|

\
|
c
c
c
+
c
|
|
.
|

\
|
c
c
c
+
c
|
.
|

\
|
c
c
c

z y x
z
z
y
y
x
x
k
R. LAPLACE
V
2
= operator Laplace

Laplace 1 Demensi
2
2
2
2
2
2
2
z y x c
c
+
c
c
+
c
c
= V
D cx
C
x
x
+ =
=
c
c
=
c
c
|
|
|
0
2
2
Integral I
Integral II (general solution)
C,D = konstanta
| = cx + D General solution
B.C. d Saar x = 0 | = H
1
H
1
= C (0) + D D = H
1
x = L | = H
2
H
2
= C (L) + D
H
2
= CL + H
1
CL = H
2
H
1
C = H
2
H
1
L
| = H
2
H
1
. x + H
1
c | = H
2
H
1
L cx L
Lx
x
H
1
H
2
Contoh :
qx = - k c|
cx
qx = - k (H
2
H
1
)
L
qx = k (- H
2
H
1
)
L
= k (H
1
H
2
)
L

H
1
H
2
= positif
L = positif
Aliran mengalir dari H
1
ke H
2

Analisis 2 Demensi
Bagaimana kalau areal tersebut jatuh hujan dengan intensitas
= N mm det
-1

x
H
1 H
2
Ax
Q
1
h
Q
2
Qx = h.qx
N
soil
Apabila tidak ada hujan Q
1
= Q
2
Apabila ada hujan Qx + Ax Qx = N Ax
atau : Q [ (x + Ax) Qx ] = N
Ax
Lim. Ax 0
cQ = N diintegralkan
cx
Qx = Nx + C
Qx = h.qx qx = - k . c| | = h
cx
= - k . ch
cx
Karena : Qx = h.qx
Qx = - k. h. ch
cx
Misal : h
2
= x d.h
2
= dx
2h.d.h = dx
h.d.h =
Qx = -k.h. ch Qx = -k . ch
2
Qx = Nx + C
cx 2 cx
-k . ch
2
= Nx + C
2 cx
ch
2
= -2N x 2C diintegralkan
cx K K




h = head
K = Hidraulic conductivity
N = intencity
C, D = constanta
D x
K
C
x
K
N
h + =
2
2 2
General solution
Kalau ada hujan
x
H
1
H
2
h

N
L
y
Mencari besarnya Konstanta :
Bila ada hujan :
h2 = - N. x2 2C.x + D (General solution)
K K
B.C. Untuk x = 0 h = H
1
H
1
2
= - N (0)
2
2C (0) + D H
1
2
= D
K K
x = L h = H
2
H
2
2
= - N (L)
2
2C (L) + H
1
2

K K
2C.L = (H
1
2
H
2
2
) N (L)
2

K K
C = K (H
1
2
H
2
2
) NKL
2

2L 2LK
C = K (H
1
2
H
2
2
) NL
2L 2
2 2
) (
) (
2 2
) (
2
2
2
2
1
2
1
2
1
2
1
2 2
2
1
2
2
2
1
2 2
NL
L
H H
K Nx Q
C Nx Q
H x
LK
NL
x
L
H H
x
K
N
h
H x
K
NL
KL
H H K
x
K
N
h

+ =
+ =
+ +

=
+
(

=
x
H
1
H
2
h

Soil
L
y
Bila tidak ada hujan :
h2 = - 2C.x + D (General solution)
B.C. X = 0 h = H
1
H
1
2
= -2C (0) + D H
1
2
= D
K
x = L h = H
2
H
2
2
= -2C (L) + H
1
2
K
2C.L = H
1
2
H
2
2
K
C = K(H
1
2
H
2
2
)
2L
h
2
= -2K(H
1
2
H
2
2
) x + D
2LK
h
2
= - (H
1
2
H
2
2
) x + H
1
2
L
Q = Nx + C
Q = K ((H
1
2
H
2
2
)
2L
Contoh : Diketahui seperti pada Gambar, dan tidak ada hujan.
x
H
1
= 8 m
H
2
= 2 m
h

K = 10
-6
m / detik
L = 50 m
y
Penyelesaian :
h
2
= - N/K.x 2 C/K.x + D General solution
Karena tidak ada hujan, maka N = 0 persamaan menjadi
h
2
= -2 C/K.x + D General solution
Kondisi Batas :
Untuk x = 0 h = H
1
= 8 (8)
2
= - 2 C/K (0) + D
64 = 0 + D
D = 64
Untuk x = 50 h = H
2
= 2 (2
2
) = -2 C/10
-6
(50) + D
C = 6 x 10
-6
/100
C = 6 x 10
-7
Maka persamaan menjadi :
h
2
= -2 (6 x 10
-7
) / 10
-6
x + 64
h
2
= -1,2 x + 64
Qx = Nx + C Krn tidak ada hujan N = 0
Qx = C = 6 x 10
-7
m
3
/detik