P. 1
Patofisiologi abses

Patofisiologi abses

|Views: 20|Likes:
Dipublikasikan oleh bonne_ame

More info:

Published by: bonne_ame on Sep 03, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/02/2014

pdf

text

original

Patofisiologi abses Abses adalah reaksi perlindungan oleh jaringan untuk mencegah perluasan atau penyebaran infeksi ke bagian

lain tubuh. sel-sel lokal dibunuh oleh organisme atau benda asing yang pada akhirnya menyebabkan pelepasan sitokin. Sitokin memicu sebuah respon inflamasi, yang menarik sejumlah besar sel-sel darah putih (leukosit) ke area tersebut dan meningkatkan aliran darah setempat. Abses mempunyai struktur akhir berupa terbentuknya dinding abses atau kapsul oleh sel-sel sehat disekelilingnya abses agar mencegah pus menginfeksi struktur lain disekitar. Namun, seringkali proses enkapsulasi tersebut justru cenderung menghalangi sel-sel imun untuk menjangkau penyebab peradangan (agen infeksi atau benda asing) dan melawan bakteri-bakteri yang terdapat dalam pus (Bolognia, 2007). Abses merupakan suatu penimbunan nanah, biasanya disebabkan suatu infeksi bakteri. Jika bakteri memasuki ke dalam jaringan yang sehat, maka akan terjadi infeksi. Sebagian sel mati dan hancur, meninggalkan rongga yang berisi jaringan dan sel-sel yang terinfeksi. Sel-sel darah putih yang merupakan pertahanan tubuh dalam melawan infeksi, lalu bergerak ke dalam rongga tersebut. Setelah menelan bakteri, sel darah putih akan mati. Sel darah putih yang mati inilah yang membentuk nanah sebagai pengisi rongga tersebut. Akibat penimbunan nanah ini, maka jaringan di sekitarnya akan terdorong. Jaringan pada akhirnya tumbuh di sekeliling abses dan menjadi dinding pembatas abses. Hal ini merupakan mekanisme tubuh untuk mencegah penyebaran infeksi lebih lanjut. Apabila suatu abses pecah di dalam maka infeksi bisa menyebar di dalam tubuh maupun dibawah permukaan kulit, tergantung kepada lokasi abses. Bolognia, J. 2007. Infections, hyper- and hypopigmentation, regional dermatology, and distinctive lesions in black skin. In: Goldman L, Ausiello D, eds. Cecil Medicine . 23rd ed. Philadelphia, Pa: Saunders Elsevier. Myers, J.W., Neighbors, M., Tannehille-Jones, R. 2002. Principles of Pathophysiology and Emergency Medical Care. Clifton Park: Dalmer.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->