Anda di halaman 1dari 3

Kreatinin merupakan produk penguraian keratin.

Kreatin disintesis di hati danterdapat dalam hampir semua otot rangka yang berikatan dengan dalam bentuk kreatin fosfat( creatin phosphate, CP), suatu senyawa penyimpan energi. Dalam sintesis ATP ( adenosinetriphosphate) dari ADP (adenosine diphosphate), kreatin fosfat diubah menjadi kreatindengan katalisasi enzim kreatin kinase (creatin kinase, CK ). Seiring dengan pemakaian energi, sejumlah kecil diubah secara ireversibel menjadi kreatinin, yang selanjutnya difiltrasioleh glomerulus dan diekskresikan dalam urin (Baradero, 2005). Jumlah kreatinin yang dikeluarkan seseorang setiap hari lebih bergantung pada massa otot total daripada aktivitas otot atau tingkat metabolisme protein, walaupun keduanya juga menimbulkan efek. Pembentukan kreatinin harian umumnya tetap, kecuali jika terjadi cedera fisik yang berat atau penyakit degeneratif yang menyebabkan kerusakan masif pada otot (Baradero, 2005). Gagal ginjal kronik (GGK) adalah suatu sindrom klinis yang disebabkan oleh penurunan fungsi ginjal yang bersifat menahun, bersifat progresif dan cukup lanjut. Konsentrasi kreatinin plasma dan nitrogen urea darah (BUN) juga dapat digunakan sebagai petunjuk laju filtrasi glomerulus. Serum kreatinin merupakan indikator kuat dan spesifik bagi fungsi ginjal, karena peningkatan dua kali lipat kadar serum kreatinin dapat mengindikasikan penurunan fungsi ginjal sebesar 50%. Kadar serum kreatinin besarnya sekitar 0,7-1,5 mg/dl. Nilai ini pada pria lebih tinggi dibandingkan dengan 16wanita karena masa otot pada pria lebih besar (Suhardjono, 2001). Analisis kadar kreatinin dalam tubuh merupakan indeks medis yang penting untuk mengetahui kondisi laju filtrasi glomerulus, keadaan ginjal, dan berfungsinya kerja otot (Spiritia, 2009). Pemeriksaan urin dan darah untuk mengetahui kadar kreatinin biasanya menggunakan metode Jaffe Kinetik. Metode ini ditemukan pertama kali oleh Jaffe tahun 1886. ReaksiJaffe berdasar pada reaksi antara kreatinin dan pikrat pada suasanan basah yang akan membentuk warna merah orannye dan terjadi perubahan absorbsi pada panjang gelombang antara 505 nm dan 520 nm. Penentuan kadar kreatinin ini sangat penting untuk dilakukan untuk menunjukan keadaan fungsi ginjal. Prinsip dasar dari reaksi Jaffe adalah reaksi antara kreatinin dengan pikrat dalam suasana alkali tanpa deproteinasi, membentuk kompleks kreatinin pikrat berwarna jingga dan diukur menggunakan spektrofotometer visibel pada panjang gelombang 492 nm (Siangproh et al., 2009).

Metode Jaffe adalah yang paling umum digunakan cara penentuan kreatinin endogenkarena diproduksi dalam tubuh manusia dan penetapan dapat dilakukan dengan murah, stabildan Photometer reagen. Metode ini mempunyai kelebihan yaitu sederhana, murah, mudah,praktis, cepat, dan dapat dibaca pada panjang gelombang yang tinggi tanpa intervensi. Sedangkan kekurangannya adalah metode ini kurang spesifik, sehingga kadar yang terukur tidak hanya kreatinin saja, tetapi juga kromogen-kromogen lain, seperti asam askorbat,glukosa, aseton, asam-asam keton (misal : asetoasetat dan piruvat), dan obat-obatan (misal :guanidin dan cephalosporin). Untuk meminimalisir pengaruh senyawa-senyawa tersebut,maka dilakukan beberapa modifikasi, antara lain : 1. Presipitasi/ Pengendapan, untuk meminimalisir pengaruh protein. 2. Reaksi pembentukan kompleks dengan borat, untuk meminimalisir pengaruh glukosa danasam askorbat 3.On exchange.(Siangproh et al., 2009). Dalam aplikasinya, reaksi Jaffe umumnya dilakukan dengan menggunakan metode batch. Metode batch sering digunakan untuk menyempurnakan reaksi Jaffe yaitu dengan cara mereaksikan kreatinin dengan asam pikrat dalam suatu penangas listrik, namun dikarenakan jumlah sampel yang dibutuhkan besar maka dibutuhkan jumlah reagen yang banyak dengan konsentrasi yang tinggi sehingga mengakibatkan waktu yang dibutuhkan untuk mencapai kesempurnaan reaksi memerlukan waktu yang lama yaitu sekitar 30 menit (Faria & Pasquini, 1992). Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kadar kreatinin dalam darah, diantaranya : 1. Perubahan massa otot 2. Diet kaya daging meningkatakan kadar kreatinin beberapa jam setelah makan 3. Aktivitas fisik yang berlebihan dapat meningkatkan kadar kreatinin dalam darah 4. Obat-obatan seperti sefalosporin, aldacton, aspirin dapat meningkatkan sekresi kreatinin sehingga meninggikan kadar kreatinin darah. 5. Kenaikan sekresi tubulus dan destruksi kreatinin internal 6. Usia dan jenis kelamin pada orang tua kadar kreatinin lebih tinggi daripada yang mda, dan kadar kreatininlaki-laki lebih tinggi daripada perempuan (Sukandar. E,1997). Baradero, Mary, et al. 2005.Klien Gangguan Ginjal.Jakarta : EGC Faria, L.C. and C. Pasquini, 1992, Spectrophotometric Determination Of Creatinine by

Monosegmented Continuous-Flow Analysis, Journal of Automatic Chemistry, 14(3): 97100 Siangproh,W., N. Teshima, T. Sakai, S. Katoh, O. Chailapakul, 2009, Alternative Method for Measurement of Albumin/Creatinin Ratio Using Spectrophotometric Sequential Injection Analysis, Talanta, 79:1111-1117 Spiritia, 2009. HIV dan Penyakit Ginjal. Available online at http://spiritia.or.id/ [ diakses 12 April 2013] Suhardjono, 2001. Ilmu Penyakit Dalam. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta Sukandar E. 1997. Tinjauan Umum Nefropati Diabetik in Nefropati Klinik. Edisi ke-2. Penerbit ITB. Bandung.