Anda di halaman 1dari 17

Klasifikasi penyakit periodontal berdasarkan International Workshop for a Classification of Periodontal Disease and Conditions ( 1999 ) : Penyakit Gingiva

A. Penyakit gingiva yang disebabkan oleh dental plaque 1 Gingivitis yang hanya berhubungan dengan dental plaque saja a. Tanpa adanya kontribusi faktor lokal lainnya b. Disertai dengan kontribusi faktor local 2. Penyakit gingiva yang dimodifikasi oleh faktor sistemik a. Berhubungan dengan sistem endokrin 1). Gingivitis yang berhubungan dengan masa pubertas 2). Gingivitis yang berhubungan dengan siklus menstruasi 3). Berhubungan dengan keadaan hamil a). gingivitis b). pyogenic granuloma 4). Gingivitis yang berhubungan dengan diabetes mellitus b. Berhubungan dengan penyakit darah 1). Gingivitis yang berhubungan dengan leukemia Manifestasi gingiva paling sering ditemukan pada bentuk akut dan leukimia monositik, mielogenus, dan limfatik.Tetapi pada leukimia kronis jarang Gambaran gingiva pada leukimia akut: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Gingiva lunak Berwarna merah gelap Terjadi pembengkakan yang sangat besar sehingga gigitertutup gingiva Terjadi pendarahan spontan Terjadi kerusakan jaringan periodontal & puncak tulang alveolar dan apikal Kegoyangan gigi geligi 2). Penyakit gingiva lainnya Gambaran klinis neutropenia: 1. Adanya ulserasi bibir, lidah, mukosa mulut,dan gingiva 2. Adanya nekrosis tepi gingiva yang meluas kedaerah gingiva yang melekat 3. Terjadinya pembengkaka ngingiva

4. Gingiva berwarna merah dan mudah berdarah 5. Lesi rongga mulut menjadi sangatsensitif 6. Terjadinya kerusakan tulang yang luas dan jaringan periodontal secara cepat 7. Terjadi gingivitis ulseratif akut 3. Penyakit gingiva yang dimodifikasi oleh obat a. penyakit gingiva yang dipengaruhi oleh obat 1). Pembesaran gingiva karena pengaruh obat FAKTOR OBAT OBATAN Obat-obatan mengubah aktivitas sistem hemopoetik atau sistem imun baik dengan cara menekan atau menaikkan aktivitas, bisa juga merubah respons gingiva terhadap plak. Antibiotika, fenasetin, sulfonamin, barbituratmenyebabkan terjadinya hipersensitifitas disertai dengan luka pada kulit dan lesi rongga mulut.Obat yang paling berpengaruh secara spesifik terhadap gingiva adalah obat-obat anti konvulsi, misalnya Epanutin HIPERPLASIA EPANUTIN Obat antikonvulsi, Epanutin (dilantin, fenitoin,DPH) seringkali diberikan kepada penderita epilepsi terlihat adanya pembesaran gingiva yang cukup luas.Gingiva pada prmukaan labial gigi-gigi anterior terserang lebih parah daripada gingiva disekitar gigi posterior.Pembengkakan terjadi dari jaringan fibrosa,kecuali bila perubahan inflmasi dapat diredakan. Gambaran klinis pada penderita epilepsi: 1. 2. 3. 4. 5. Terjadi pembengkakan gingiva Ginggiva menjadi keras Berwarna merah muda Berlobus Mudah berdarah secra spontan

Pembengkakan tidak akan menjadi parah apabila kebersihan RM dapat terjaga dengan baik. Tetapi apabila telahterjadi perubahan inflamasi kronis akibat dari plak, maka pemberian epanutin akan semakin meningkatkan aktivitas fibroblas dan lebih banyak serabut kolagen

2). Gingivitis oleh karena pengaruh obat a). gingivitis yang berhubungan dengan kontrasepsi oral b). penyakit gingiva lainnya 4. Penyakit gingiva yang dimodifikasi oleh malnutrisi a. gingivitis karena defisiensi asam askorbat b. penyakit gingiva lainnya B. Lesi gingiva yang bukan disebabkan oleh plak 1. Penyakit gingiva yang disebabkan oleh bakteri spesifik a. Lesi yang berhubungan dengan Neisseria gonorrhea b. Lesi yang berhubungan dengan Treponema pallidum c. Lesi yang berhubungan dengan spesies Streptococcus d. Lesi lainnya 2. Penyakit gingiva yang disebabkan oleh virus a. infeksi virus herpes 1). primary herpetic gingivostomatitis 2). recurrent oral herpes 3). infeksi varicella-zoster b. infeksi lainnya 3. Penyakit gingiva yang disebabkan oleh jamur a. infeksi spesies candida 1). generalized gingival candidosis b. linear gingival erythema c. histoplasmosis d. penyakit lainnya 4. Lesi gingiva yang disebabkan oleh genetik a. hereditary gingival fibromatosis b. penyakit lainnya 5. Manifestasi gingiva karena keadaan sistemik a. penyakit mukokutaneus

1). lichen planus 2). pemphigoid 3). pemphigus vulgaris 4). erythema multiforme 5). lupus erythematosus 6). penyakit yang disebabkan oleh obat 7). penyakit lainnya b. reaksi alergi 1. bahan restorasi gigi a). mercury b). nickel c). acrylic d). bahan lainnya 2. reaksi yang diakibatkan oleh a). pasta gigi b). obat kumur c). bahan aditif penmen karet d). makanan dan bahan aditif3) penyakit lainnya 6. Lesi traumatik (tidak wajar, iatrogenic, kecelakaan) a. trauma kemikal b. trauma fisikal c. trauma termal 7. Reaksi tubuh terhadap benda asing
Iritasi dari cincin ortodonti Pemasangan cincin ortodonti yang dipaksakan terlalu jauh ke daerah subgingiva bisa menyebabkan terpisahnya gingiva dari akibat migrasi epitel penyatu ke arah apikal sehingga timbul resesi gingiva. Tekanan dari piranti ortodonti Tekanan ortodonsi yang normal dapat diadaptasi periodonsuim berupa remodeling. Tekanan yang berlebihan bisa menimbulkan nekrose jaringan periodontal dan tulang alveolar, yang pada umumnya bisa mengalami perbaikan apabila tekanannya dikurangi. Namun demikian, apabila kerusakan melibatkan ligamen periodontal yang berada pada krista tulang alveolar, kerusakannya adalah irreversible. Tekanan ortodonsi yang terlalu berlebihan dapat pula menyebabkan resopsi pada apkes akar gigi.

8. Penyakit gingiva lainnya yang tidak spesifik II. Periodontitis Kronik A. Localized B. Generalized III. Periodontitis Aggresif A. Localized B. Generalized IV. Periodontitis Sebagai Manifestasi Penyakit Sistemik A. Berhubungan dengan kelainan hematologic 1. Acquired neutropenia 2. Leukemias 3. Penyakit lainnya B. Berhubungan dengan kelainan genetic 1. Familial and cyclic neutropenia 2. Down syndrome 3. Leukocyte adhesion deficiency syndromes4. Papillon-Lefevre syndrome 5. Chediak-Higashi syndrome 6. Histiocytosis syndrome 7. Glycogen storage disease 8. Infatile genetic agranulocytosis 9. Cohen syndrome 10. Ehlers-Danlos syndrome ( types IV, VIII ) 11.Hypophosphatasia 12.Penyakit lainnya V. Necrotizing Periodontal Disease A. Necrotizing ulcerative gingivitis (NUG) B. Necrotizing ulcerative periodontitis ( NUP ) VI. Abses Periodontal A. Abses gingival B. Abses periodontal

C. Abses perikoronal VII. Periodontitis Yang Berhubungan Dengan Lesi Endodontik A. Lesi gabungan periodontik-endodontik VIII. Developmental or Acquired Deformities and Conditions A. Penyakit gingiva / periodontitis karena plak yang dimodifikasi atau diperparah oleh faktor keadaan lokal gigi 1. Faktor anatomi gigi 2. Restorasi / alai gigi 3. Fraktur akar 4. Resorbsi akar bagian servikal dan cemental tears B. Deformitas mukogingival dan keadaan di sekeliling gigi 1. Resesi gingiva jaringan lunak 2. Kurangnya keratinisasi gingiva 3. Berkurangnya kedalaman vestibular 4. Letak frenulum / otot yang salah 5. Gingival excess a. Pseudopocket b.Inconsistent gingival margin c.Excessive gingival display d.Gingival enlargement ( pembesaran gingival ) 6. Warna yang abnormal C. Deformitas mukogingival dan keadaan ridge edentulous 1. Rendahnya ridge dalam arch vertikal dan / atau horizontal 2. Kurangnya gingiva / jaringan yang berkeratinisasi 3. Pembesaran gingiva / jaringan lunak 4. Letak frenulum / otot yang salah 5. Berkurangnya kedalaman vestibular 6. Warna yang abnormal D. Trauma oklusal 1. Primary trauma occlusal 2. Secondary trauma occlusal

Gambaran Klinis Dan Radiografis Penyakit Periodontal Pada umumnya, penyakit periodontal diklasifikasikan menjadi gingivitis dan periodontitis. 5) Adapun tanda dan gejala dari penyakit periodontal, antara lain: 1. Gingivitis: 19) Gingiva mudah berdarah saat menyikat gigi,Gingiva mengalami inflamasi dan peka jika disentuh, Gingiva bengkak, Gingiva berwarna kemerahan, Kemungkinan napas berbau dan mulut terasa tidak enak. 2. Periodontitis Periodontitis terbagi menjadi 3 tahap, yaitu early periodontitis, moderate periodontitis, dan advanced periodontitis. 19) a. Early periodontitis. Mulai terlepasnya gingiva dari permukaan gigi Perdarahan, pembengkakan dan inflamasi mulai terlihat Napas berbau, rasa tidak enak dalam mulut Hilangnya sedikit perlekatan tulang Terbentuk poket sedalam 3-4 mm antara gigi dan gingiva pada satu daerah atau lebih b. Moderate periodontitis. Abses pada gingiva mulai terbentuk Gigi terlihat lebih panjang akibat gingiva yang mulai mengalami resesi Gigi depan mulai bergeser dan terbentuk diastema Napas berbau, rasa tidak enak dalam mulut Poket antara gigi dan gingiva kira-kira sedalam 4-6 mmc. Advanced periodontitis. Gigi goyang bahkan tanggal

Napas berbau, rasa tidak enak dalam mulut yang menetap Akar gigi terbuka dan sensitif terhadap panas dan dingin Poket antara gigi dan gingiva telah mencapai kedalaman 6 mm FAKTOR NUTRISI SEBAGAI FAKTOR ETIOLOGI SISTEMIK Ada dua kesimpulan dari hasil-hasil penelitian mengenai efek nutrisi terhadap jaringan periodonsium, yaitu ada defisiensi nutrisi tertentu yang menyebabkan perubahan pada jaringan periodonsium, perubahan mana dikategorikan sebagai manifestasi penyakit nutrisi pada periodonsium, dan tidak ada defisiensi nutrisi yang sendirian saja dapat menimbulkan gingivitis atau pembentukan saku periodontal. Namun demikian, ada defisiensi nutrisi yang mempengaruhi kondisi periodonsium, sehingga memperparah efek dari iritan local dan tekanan oklusal yang berlebihan. Defisiensi Vitamin C Disamping dapat menyebabkan scurvy, defisiensi vitamin C sering dikaitkan dengan penyakit periodontal. Defisiensi vitamin C memperhebat respon gingival terhadap plak dan memperparah oedema, pembesaran dan pendarahan yang terjadi akibat inflamsi yang disebabkan plak. Ada beberapa hipotesa mengenai mekanisme berperannya vitamin C pada penyakit periodontal: 1. Level vitamin C yang rendah akan mempengaruhi metabolism kolagen dalam periodonsium, sehingga mempengaruhi kemampuan regenerasi dan perbaikan jaringan, namun belum ada hasil penelitian yang mendukung hipotesa ini. 2. Defisiensi vitamin C menghambat pembentukan tulang yang akan menjurus ke kehilangan tulang. 3. Defisiensi vitamin c meningkatkan permeabilitas epitel krevikular terhadap dekstran tertritiasi; vitamin C dalam level yang tinggi dibutuhkan untuk memelihara fungsi penghalang dari epitel terhadap produk bakteri. 4. Peningkatan level vitamin C meningkatkan aksi kemotaksis dan aksi migrasi lekosit, tanpa mempengaruhi aksi fagositosisnya; tampaknya diperlukan megadosis vitamin c untuk memperbaiki aktivitas bakterisidal lekosit. 5. Level vitamin C yang optimal diperlukan untuk memelihara integritas mikrovaskulatur periodonsium, demikian juga respon vascular terhadap iritasi bacterial. 6. Penurunan level vitamin C yang drastic bias mengganggu keseimbangan ekologis bakteri dalam plak sehingga meningkatkan patogenitasnya. Defisiensi Protein

1. Terhambatnya aktivitas pembentukan tulang yang normal 2. Semakin parahnya efek destruktif dari iritan local dan trauma oklusal terhadap jaringan periodonsium. Namun untuk dimulainya gingivitis dan keparahannya adalah tergantung pada iritan lokal. PERANAN PENYAKIT KELAINAN ENDOKRIN SEBAGAI FAKTOR ETIOLOGI SISTEMIK Manifestasi jaringan periodontal dari penyakit sistemik bervarisi tergantung penyakit spesifik, respon individual dan faktor lokal yang ada. Faktor sistemik terlibat dalam penyakit periodontal dengan saling berhubungan dengan faktor lokal. Faktor sistemik saja tidak bisa menyebabkan respon keradangan pada penyakit periodontal,tetapi harus ada faktor lokal yang mendukung. Pada pasien kencing manis, bila faktor lokal pada riongga mulutnya buruk, akan bisa menyebabkan gangguan yang lebih lanjut lagi, oleh karena seorang dengan kencing manis mempunyai kelainan pada sistemiknya. Ada beberapa hipotesa mengenai keterlibatan diabetes melitus sebagai faktor etiologi penyakit gingiva dan periodontal, antara lain: 1. Terjadinya penebalan membran basal Pada penderita DM membran basal kapiler gingiva mengalami penebalan sehingga lumen kapiler menyempit. Menyempitnya lumen kapiler akibat penebalan tersebut menyebabkan terganggunya difusi oksigen, pembuangan limbah metabolisme, migrasi lekosit polimorfonukleus, dan difusi faktor- faktor serum termasuk antibodi 2. Perubahan biokimia Level cAMP, yang efeknya mengurangi inflamasi, pada penderita DM menurun, hal mana diduga sebagai salah satu sebab lebih parahnya inflamasi gingiva pada penderita DM. 3. Perubahan mikrobiologis Peningkatan level glukosa dalam cairan sulkular dapat mempengaruhi lingkungan subgingiva, yang dapat menginduksi perubahan kualitatif pada bakteri yang pada akhirnya mempengaruhi perubahan periodontal. 4. Perubahan imunologis Meningkatnya kerentanan penderita diabetes melitus terhadap inflamasi diduga disebabkan oleh terjadinya defisiensi fungsi lekosit polimorfonukleus (LPN) berupa terganggunya khemotaksis, kelemahan daya fagositosis, atau terganggunya kemampuannya untuk melekat ke bakteri 5. Perubahan berkaitan dengan kolagen Peningkatan level glukosa bisa pula menyebabkan berkurangnya produksi kolagen. Di samping itu, terjadi pula peningkatan aktivitas kolagenase pada gingiva. Inflamed, papulonodular hyperplasia of the gingiva in a diabetic patient

a. Kehamilan Kehamilan secara sendirian tidak dapat menyebabkan gingivitis. Gingivitis pada kehamilan adalah disebabkan oleh plak bakteri, sebagaimana pada orang yang tidak hamil. Kehamilan akan memperparah respon gingival tehadap plak dan memodifikasi gambaran klinis yang menyertainya. Tanpa adanya iritan lokal tidak terlihat perubahan secara klinis pada gingival wanita yang sedang mengalami kehamilan. Ada beberapa mekanisme bagaimana kehamilan berperan sebagai faktor etiologi penyakit gingival dan periodontal, yaitu: 1. Peningkatan level estradiol dan progesteron yang menyebabkan peningkatan bakteri Prevotella intermedia. 2. Tertekannya respon limfosit-T maternal selama kehamilan mempengaruhi respon periodonsium terhadap plak. 3. Peningkatan level estradiol dan progesterone juga menyebabkan dilatasi dan simpang siurnya mikrovaskulator gingival, stasis sirkulasi, dan peningkatan kerentanan terhadap iritasi mekanis. Perubahan tersebut memudahkan masuknya cairan ke perivaskular. b. Kontrasepsi Hormonal Perubahan yang diakibatkan oleh kehamilan yang dikemukakan di atas bias pula terjadi pada wanita yang menggunakan kontrasepsi hormonal (bentuk pil, implant, atau suntikan) untuk jangka waktu lebih dari satu setengah tahun. 15. Peranan kelainan/penyakit darah berikut sebagai factor etiologi sistemik : A. Leukimia Leukemia adalah neoplasma maligna pada precursor sel darah putih. Berdasarkan evolusinya, leukemia dibedakan atas bentuk: (1) akut, yang bersifat fatal; (2) subakut; (3) kronis. Pada leukemia akut sel-sel leukemia menginfiltrasi gingival, dan jarang sekali bisa infiltrasi ke tulang alveolar. Keadaan ini bisa menyebab terjadinya pembesaran gingival (leukemic gingival enlargement). Infiltrasi yang banyak dari sel-sel leukemik yang tidak matang disamping sel-sel inflamasi yang biasa menyebabkan respon gingival terhadap iritasi adalah berbeda dibandingkan dengan yang bukan penderita leukemia. B. Anemia Anemia adalah defisiensi dalam defisiensi dalam kuantitas maupun kualitas darah yang dimanifestasikan dengan berkurangnya jumlah eritrosit dan hemoglobin. Ada empat tipe anemia berdasarkan morfologi selulernya dan kandungan hemoglobinnya, yaitu: (1) anemia makrositik hiperkromik (pernicious anemia);

(2) anemia mikrositik hipokromik (iron deficiency anemia); (3) sickle cell anemia; dan (4) anemia normositik-normokromik (hemolytic anemia/aplastic anemia). Diantara keempat tipe anemia tersebut, tampaknya anemia aplastik yang turut berperan dalam etiologi penyakit gingival dan periodontal. Pada tipe anemia ini kerentanan gingival terhadap inflamasi meningkat karena terjadinya neutropenia. 16. Peranan faktor-faktor sebagai faktor etiologi sistemik : A. Penyakit yang melemahkan Penyakit yang melemahkan (debilitating diseases) seperti sifilis, nefritis kronis, dan tuberkulosa bisa menjadi factor pendorong bagi terjadinya penyakit gingival dan periodontal, dengan jalan melemahkan pertahanan periodonsium terhadap iritan local, dan menimbulkan kecenderungan terjadinya gingivitis dan kehilangan tulang alveolar. B. Gangguan Psikosomatik Dengan gangguan psikosomatik dimaksudkan efek merusak sebagai akibat pengaruh psikis terhadap control organic jaringan. Ada dua cara gangguan psikosomatik mempengaruhi periodonsium dan jaringan di rongga mulut lainnya: (1) melalui timbulnya kebiasaan buruk yang dapat mencederai periodonsium; (2) dengan efek langsung system saraf otonom terhadap keseimbangan jaringan yang fisiologis. Dibawah tekanan mental atau emosional, mulut akan menjadi sasaran pemuasan bagi orang dewasa. Hal ini menimbulkan kebiasaan buruk seperti: klensing; menggigit pensil, ballpoint, atau kuku; merokok secara berlebihan; yang kesemuanya berpotensi mencederai periodonsium. Meningkatnya aktivitas system saraf otonom oleh pengaruh psikis antara lain bisa menyebabkan perubahan respon pada kapiler gingival. C. AIDS/ Infeksi HIV Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) ditandai dengan penurunan system imunitas yang menyolok. Kondisi yang pertama kali dilaporkan tahun 1981 adalah disebabkan oleh virus yang dinamakan human immunodeficiency virus (HIV). Infeksi HIV menyebabkan gangguan terutama terhadap sel-TH, disamping terhadap monosit, makrofag, dan beberapa sel lainnya. Meskipun limfosit B tidak terpengaruh, namun akibat terganggunya fungsi limfosit T akan menyebabkan deregulasi pada sel-B. Penurunan system imunitas pada penderita yang terinfeksi HIV menyebabkan peningkatan kerentanannya terhadap penyakit gingival dan periodontal.

. PERANAN OBAT-OBATAN YANG BERPERAN SEBAGAI FAKTOR ETIOLOGI SISTEMIK MENGENAI a. Jenis obat Beberapa jenis obat dengan efek kerja yang berbeda dapat menginduksi hyperplasia gingival non-inflamasi dengan gambaran klinis yang tidak dapat dibedakan. Obat-obatan yang dimaksud adalah : Fenitoin atau dilantin, suatu antikonvulsan yang digunakan dalam perawatan epilepsi Siklosporin, suatu imunosupresif yang biasa digunakan untuk mencegah reaksi tubuh dalam pencangkokan anggota tubuh. Nifedipin, diltiazem, dan verapamil, yaitu penghambat kalsium (calcium blocker) yang digunakan dalam perawatan hipertensi. b. Mekanisme berperannya Mekanisme penginduksian hyperplasia gingival oleh obat-obatan tersebut diatas atau oleh metabolitnya belumlah jelas betul, namun terlepas darimana yang paling berperan ada beberapa hipotesa yang dikemukakan : Pengaruh obat atau metabolit secara tidak langsung Obat atau metabolit menstimulasi diproduksinya IL-2 oleh sel-T, atau diproduksinya metabolit testosterone oleh fibroblast gingiva, yang pada akhirnya akan menstimulasi proliferasi dan atau sintesa kolagen oleh fibroblast gingiva Pengaruh obat atau metabolit secara langsung Obat/metabolit secara langsung menstimulasi proliferasi fibroblast gingival, sintesa protein, dan produksi kolagen Penghambatan aktivitas kolagenase Obat/metabolit dapat menghambat aktivitas kolagenase hingga penghancuran matriks akan terhambat Penghambatan degradasi kolagenase Obat/metabolit menstimulasi terbentuknya kolagenase fibroblastic inaktif, dengan akibat degradasi kolagen akan terhambat Faktor estetis Akhir-akhir ini dihipotesakan adanya faktor genetis yang menentukan kecenderungan bisa terjadi hyperplasia yang diinduksikan obat-obatan pada seseorang.
PEMERIKSAAN 1. Inflamasi gingiva dan pendarahan Adanya dan keparahan inflamasi gingiva tergantung pada statu kebersihan mulut; bila buruk, inflamasi gingiva akan timbul dan terjadi pendarahan waktu penyikatan atau bahkan pendarahan spontan. Bila penyikatan gigi pasien cukup baik, plak cukup terkontrol tetapi ada deposit subgingiva karena skaling yang kurang adekuat, adnya penyakit

periodontal mungkin tidak ditemukan pada pemeriksaan superfisial.bila dilakukan pemeriksaan riwayat dengan cermat pasien sering melaporkan riwayat pendarahan dimasa lalu yang berhenti ketika ia makin rajin membersihkan giginya. 2. Poket Pengukuran kedalaman poket merupakan bagian penting dari diagnosis periodontal tetapi harus tetap diinterpretasikan bersama dengan inflamasi gingiva dan pembengkakan. Teoritis, bila tidak ada pembengkakan gingiva, poket sedalam lebih dari 2 mm menunjukkan adanya migrasi ke apikal dari epiteluim krevikular, tetapi pembengkakan inflamasi sangat sering mengenai individu muda usia sehingga poket sedalam 3-4mm dapat seluruhnya merupakan poket gingiva atau poket palsu. Pemeriksaan kedalaman poket

3. Resesi gingiva Resesi gingiva dan terbukanya akar dapat meyertai periodontitis kronis tetapi tidak selalu merupakan tanda dari penyakit. Bila ada resesi, pengukuran kedalaman poket hanya merupakan cerminan sebagian dari kerusakan periodontal seluruhnya. 4. Mobilitas gigi Beberapa mobilitas gigi pada bidang labiolingual dapa terjadi pada gigi yang sehat, berakar tunggal, khususnya pada gigi insisivus bawah yang lebih kecil mobil daripada gigi berakar jamak. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan menekan salah satu sisi gigi yang bersangkutan dengan alat atau ujung jari dengan ujung jari lainnya pada sisi gigi yang berseberangna dan gigi tetangganya yang digunakan sebagai titik pedoman sehingga gerakan realtif dapat diperiksa. Cara lain untuk memeriksa mobilitas (walaupun tidak megukurnya) adalah dengan pasien mengoklusikan gigi-geliginya. 5. Derajat mobilitas gigi dapat dikelompokkan Grade 1. Hanya dirasakan Grade 2. Mudah dirasakan, pergeseran labiolingual 1 mm Grade 3. Pergeseran labiolingual lebih dri 1 mm, mobilitas dari gigi ke atas dan kebawah pada arah aksial. 6. Nyeri

Nyeri atau sakit waktu gigi diperkusi menunjukkan adanya inflamasi aktif dari jaringan penopang, yang paling akut bila ada pembentukan abcess dimana gigi sangan sensitif terhadap sentuhan. Sensitivitas terhadap dingin atau panas dan dingin kadang ditemukan bila ada resesi gingiva dan terbukanya pulpa.

LO.2 Manifestasi penyakit sistemik pada penyakit periodontal


FAKTOR GENETIK Ada sejumlah penyakit genetik, beberapa diantaranya langka, yang meningkatkan kerentanan terhadap kerusakan periodontal: sangat

1. Sindroma Down (Trisomi21) Kerentanan disini berhubungan dengan terganggunya fungsi neutrofil/ perubaha nmetabolisme jaringan ikat 2. Sindroma Chediak-Higashi Kondisi autosomal resesif yang langka, ditandai dengan neutrofil yang terganggu. 3. Hifpofosfatasia & sindroma Papillon-Lefevre(hiperkeratosis palmaris et plantaris) Kondisi genetikyang sangat langka yang berhubungan dengan periodontitis yang sangat merusak dan berkembang sangat cepat. 4. Neutropeniasiklik Ditandai dengan reduksi siklik yang drastis dari jumlah neutrofilsirkulasi yang menyebabkan terjadinya infeksi periodontal piogenik yang recurent DIABETES MELLITUS Diabet yang tidak terkontrol Merubah respons jaringan periodontalterhadap plak Menurut Bernick,dkk (1975) anak-anak yangterserang diabetes pada umumnya terseranggingivitis yang jauh lebih parah daripada anak-anak normal dengan skor plak yang sama.

Diabetes mellitus Perubahan jaringan Perubahan vaskuler Peningkatan aktivitas kolagen Perubahan respons perantara sel terhadapantigen plak Kemotaksis PMN & fagositosis terhambat FAKTOR HEMATOLOGI

Penyakit darah kelihatannya tidak menyebabkan gingivitis tetapi dapat menimbulkan perubahan jaringan yang merubah espons jaringan terhadap plak. Pendarahan gingiva yang hebat merupakansimptom umum pada leukimia akut. ANEMIA Berkurangnya konsentrasi hemoglobin didalam darah sampai dibawah batas normal. Hb normal pria: 12,5 18,0 g/dl Hbnormal wanita: 12,0 16,5 g/dl Penyeba banemia : 1. Pendarahan 2. Kerusakankimiawidanpenyakit 3. Defisiensizatbesi(10% wanita) Ciri-ciri rongga mulut pada px anemia : 1. 2. 3. 4. 5. Kulitpucat Mukosa rongga mulut kering dan pucat Permukaan papila lidah menjadi halus Terdapat ulser aptosa Terdapat cheilitis angularis yang rekurent Ada beberapa bentuk leukimia yang merupkan proliferasi neoplastik dari jaringan pembentuk leukosit, terutama pada sumsum tulang Menyebabkan meningkatnya jumlah sel darah putih di dalam sirkulasi dan pada berbagai organ jaringan, termasuk pada gingiva. Symptom utama adanya lesi orofaringeal(Scully & Cawson, 1987)

LEUKIMIA

LEUKOPENIA((AGRANULOSITOSISAGRANULOSITOSIS)) Leukopeni penyakit kelainan darah yang timbul dengan sendirinya atau karena peyakit darah lainnya Aktivitas sumsum tulang tertekan. Tertekannya sumsum tulang juga dapat diakibatkan karena obat-obatan: 1. 2. 3. 4. 5. Fenilbutason Kotrimaksasol Sulfonamid Kloramfenikol Obat-obat sitotoksik

Pada leukopenia jumlah sel darah putihberkurang bahkan nol sel pertahanan tubuh mandul / tidak aktif rentan terhadap infeksi. Neutropenia siklik bentuk kongenital dari agranulositisis terdapat reduksi jumlah PMN secara berkala. Disini diperkirakan bahwa sel ini memainkan peranan yang penting dalam mekanisme pertahanan gingiva terhadap bakteri plak terjadinya penurunan resistensi jaringan gingiva ACQUIRED IMMUNE DEFICIENCY SYNDROME (AIDS)SYNDROME (AIDS) HIV 1 dan HIV 2 umumnya menyerang T4helper lymphocytes menganggu sistem imun. Tidak ada manifestasi periodontal yang khas dari penyakit ini dan lesi yang terlihat pada gingiva umumnya disebabkan karena immuno defisiensi yang parah dan infeksi akut. Kandidiasis (trush) dan sarkoma kaposi manifestasi AIDS yang umum dan ditemukan hampir 50% pasien. FAKTOR PSIKOLOGIS Gangguan psikologis dapat meningkatkan laju kerusakan periodontal melalui berkurangnya aliran saliva baik karena akibat kondisi itu sendiri atau karena terapi obat yang diterima pasien.Karena gangguan ini, maka perhatian pasien terhadap kebersihan rongga mulut menjadi berkurang. FAKTOR OBAT OBATAN Obat-obatan mengubah aktivitas sistem hemopoetik atau sistem imun baik dengan cara menekan atau menaikkan aktivitas, bisa juga merubah respons gingiva terhadap plak. Antibiotika, fenasetin, sulfonamin, barbituratmenyebabkan terjadinya hipersensitifitas disertai dengan luka pada kulit dan lesi rongga mulut.Obat yang paling berpengaruh secara spesifik terhadap gingiva adalah obat-obat anti konvulsi, misalnya Epanutin HIPERPLASIA EPANUTIN Obat antikonvulsi, Epanutin (dilantin, fenitoin,DPH) seringkali diberikan kepada penderita epilepsi terlihat adanya pembesaran gingiva yang cukup luas.Gingiva pada prmukaan labial gigi-gigi anterior terserang lebih parah daripada gingiva disekitar gigi posterior.Pembengkakan terjadi dari jaringan fibrosa,kecuali bila perubahan inflmasi dapat diredakan. Gambaran klinis pada penderita epilepsi: 6. Terjadi pembengkakan gingiva

7. Ginggiva menjadi keras 8. Berwarna merah muda 9. Berlobus 10. Mudah berdarah secra spontan Pembengkakan tidak akan menjadi parah apabila kebersihan RM dapat terjaga dengan baik. Tetapi apabila telahterjadi perubahan inflamasi kronis akibat dari plak, maka pemberian epanutin akan semakin meningkatkan aktivitas fibroblas dan lebih banyak serabut kolagen