Anda di halaman 1dari 10

ISOLASI, IDENTIFIKASI DAN UJI KEMAMPUAN REDUKSI MINYAK NABATI OLEH CYANOBACTERIA DARI LIMBAH CAIR INDUSTRI KELAPA

SAWIT

Diusulkan Oleh: Hardita Libriasanti Sudarmawan 09/284130/PN/11798

Pembimbing Utama : Ir. Irfan D. Prijambada, M. Eng., Ph. D. Pembimbing Pendamping : Ir. Donny Widianto, Ph. D.

JURUSAN MIKROBIOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2013

ISOLASI, IDENTIFIKASI DAN UJI KEMAMPUAN REDUKSI MINYAK NABATI OLEH CYANOBACTERIA DARI LIMBAH CAIR INDUSTRI KELAPA SAWIT

I. A.

PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Energi mempunyai peranan penting dalam pencapaian kehidupan manusia

di bumi. Berdasarkan data Departemen ESDM (2008), kondisi umum penggunaan energi di Indonesia masih tergantung kepada minyak bumi sebesar 51.66%, gas alam 28.57%, batubara 15.34%, tenaga air 3.11% dan panas bumi 1.32% (Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, 2008). Konsumsi energi terus meningkat sementara bahan bakar tersebut merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui, karena itu perlu dicari alternatif penyediaan energi bagi kelangsungan hidup manusia. Terdapat beberapa jenis BBN yang dikenal di masyarakat umum yaitu biodiesel, bioetanol dan biooil (minyak nabati murni). Biodiesel adalah bahan bakar substitusi solar/diesel yang berasal dari pengolahan (esterifikasi dan transesterifikasi) minyak nabati. Bioetanol adalah bahan bakar substitusi bensin (gasolin) yang berasal dari pengolahan (fermentasi dan hidrolisis) glukosa atau karbohidrat. Penggunaan BBN di Indonesia dan pemasarannya secara umum sudah mulai dilakukan sejak tahun 2006. BBN yang digunakan dan dipasarkan tersebut adalah campuran 5% bio-diesel dengan 95% minyak solar, disebut B5, serta campuran 5% bio-etanol dengan 95% premium, disebut E5. Nama dagang campuran bahan bakar tersebut adalah Bio-solar (B5) dan Bio-premium (E5). Menurut publikasi British Pretoleum (BP) dalam Stastitical Review of World Energi (2005), bahwa produksi tertinggi minyak Indonesia terjadi pada tahun 1997 dengan rata-rata sebesar 1.685 ribu barel per hari. Produksi minyak Indonesia setelah itu tidak pernah lagi mencapai angka tersebut. Pada tahun 2004, produksi minyak Indonesia hanya sebesar 1126 ribu barel per hari. Angka ini sudah berada di bawah konsumsi konsumsi BMM Indonesia yang jumlahnya sebesar 1150 ribu barel per hari. Menurut Apriyantono (2006), dalam rangka

menjamin keamanan pasokan energi dalam negeri dan untuk mendukung pembangunan yang berkelanjutan, telah diterbitkan Peraturan Presiden (Per Pres) No. 5 Tahun 2006 tentang kebijakan energi nasional, dalam peraturan presiden tersebut sasaran peranan BBN (biofuel) dalam konsumsi energi nasional ditargetkan lebih dari 5% pada tahun 2025. BBN yang layak dikembangkan di Indonesia adalah biodiesel dan bioetanol. Secara ilmiah, biodiesel adalah bahan bakar substitusi solar / diesel yang berasal dari ekstraksi minyak nabati yang terbuat dari sumber daya hayati atau biomassa. Pengertian biodiesel dalam kerangka industri / komersial masa kini adalah bahan bakar mesin diesel yang terdiri atas ester alkil asam-asam lemak. Sedangkan bioetanol adalah bahan bakar substitusi bensin (gasolin) yang berasal dari pengolahan (fermentasi dan hidrolisis) glukosa atau karbohidrat (Wahyudi, 2006). Solar banyak digunakan sebagai Bahan Bakar Minyak alternatif, terutama pada kendaraan angkutan dan mesin pabrik. Sementara keberadaaannya di alam sangatlah terbatas, mengingat sifatnya yang membutuhkan waktu sangat lama untuk terjadi (unrenewable source). Karena itulah perlu dicari solusi untuk permasalahan kelangkaan solar tersebut, terutama mengingat populasi penduduk dunia yang terus meningkat dengan pesat. Kini, telah banyak dilakukan penelitian sehubungan dengan pembuatan bio solar sintetis untuk mengatasi permasalahan kelangkaan solar. Namun demikian, hampir seluruhnya didasarkan pada reaksi kimia dan menggunakan bahan bahan yang tidak ramah lingkungan. Karena itu, penulis bermaksud menguji kemungkinan pembuatan biosolar yang didasarkan pada reaksi biologi dengan memanfaatkan Cyanobacteria.

B.

Tujuan Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan mendapatkan suatu spesies

Cyanobacteria yang memiliki kemampuan mereduksi minyak nabati yang terlarut dalam limbah cair industri kelapa sawit dan menghasilkan senyawa biosolar sebagai produk akhirnya.

C.

Kegunaan Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat mendorong perkembangan teknologi

sintesis bahan bakar alternatif secara hayati. Dengan ditemukannya spesies Cyanobacteria yang mampu mereduksi limbah minyak nabati menjadi biosolar maka membuka kemungkinan produksi biosolar secara massal dengan biaya bahan baku yang sangat murah. Selain itu, pertumbuhan Cyanobacteria relatif pesat sehingga waktu produksi pun dapat dipersingkat, dibandingkan dengan memanfaatkan bahan bahan kimia. Dengan pemanfaatan Cyanobacteria, usaha yang dilakukan memberi efek lebih ramah pada lingkungan karena residu yang dihasilkan tidak meracuni lingkungan sekitarnya seperti halnya pada produksi biosolar dengan bahan baku kimia.

II.

STUDI PUSTAKA

Sebagai Negara agraris di kawasan tropis, ada banyak jenis sumber bahan baku nabati yang dapat diolah menjadi BBN (biofuel) yang beberapa diantaranya sudah dimanfaatkan sebagai sumber lipid atau minyak untuk keperluan komersial, seperti minyak sawit, minyak kelapa dan tebu. Sementara sebagian lainnya belum termanfaatkan secara optimal seperti ganggang mikro. Terdapat beberapa kelebihan pemanfaatan ganggang mikro sebagai sumber BBN dibandingkan sumber lainnya. Komoditas ini juga memiliki potensi lain seperti menjadi bahan pangan, pakan ternak dan berguna untuk berbagai industri pengolahan (Tjitrosoepomo, 2005). Ganggang mikro memiliki potensi untuk dapat dibudidayakan dan dimanfaatkan sebagai penghasil BBN. Ganggang mikro juga tahan terhadap perubahan lingkungan dan memiliki laju pertumbuhan yang tinggi. Baik proses fisik maupun kimia dapat digunakan untuk menghasilkan minyak dari galur ganggang yang memiliki kandungan lipid tinggi, dengan demikian maka eksplorasi ganggang mikro sebagai sumber BBN dari berbagai wilayah di Indonesia menjadi pilihan yang penting dan strategis (Tjitrosoepomo, 2005). Cyanobacteria atau ganggang biru-hijau adalah filum (atau divisi) bakteri yang mendapat energi melalui fotosintesis. Jejak fosil cyanobacteria telah ditemukan sejak 3,8 miliar tahun lalu. Cyanobacteria sekarang adalah salah satu kelompok terbesar dan terpenting bakteri di bumi. Cyanobacteria dapat ditemukan di hampir semua habitat yang bisa dibayangkan, dari samudera ke air tawar ke batu sampai tanah. Mereka bisa bersel tunggal atau koloni. Koloni dapat membentuk filamen ataupun lembaran. Beberapa koloni filamen memiliki kemampuan untuk berdiferensiasi menjadi tiga tipe sel yang berbeda: sel vegetatif adalah yang normal, sel fotosintesis pada kondisi lingkungan yang baik, dan tipe heterokista yang berdinding tebal yang mengandung enzim nitrogenase. Setiap individu sel umumnya memiliki dinding sel yang tebal, lentur, dan Gram negatif. Cyanobacteria tidak memiliki flagela. Mereka bergerak dengan meluncur sepanjang permukaan. Kebanyakan cyanobacteria ditemukan di air tawar, sedangkan lainnya tinggal di lautan, terdapat di tanah lembab, atau bahkan

kadang-kadang melembabkan batuan di gurun. Beberapa bersimbiosis dengan lumut kerak, tumbuhan, berbagai jenis protista, atau spons dan menyediakan energi bagi inang. Cyanobacteria secara tradisional diklasifikasikan menjadi lima kelompok, berdasar struktur tubuhnya yaitu: Chroococcales, Pleurocapsales, Oscillatoriales, Nostocales dan Stigonematales.

Sumber: Cyanobacteria adalah satu-satunya kelompok organisme yang mampu mereduksi nitrogen dan karbon dalam kondisi tidak ada oksigen (anaerob). Mereka melakukannya dengan mengoksidasi belerang (sulfur) sebagai pengganti oksigen. Beberapa spesies cyanobacteria memproduksi neutrotoksin, hepatotoksin, sitotoksin, dan endotoksin, membuat mereka berbahaya bagi hewan dan manusia. Ada beberapa cara ekstraksi minyak nabati yang berasal dari ganggang mikro menurut Oilgae (2006), diantaranya adalah 1) Pengepresan (Expeller/Press) Pengepresan adalah penggunaan alat pengepres untuk mengekstraksi minyak yang terkandung dalam ganggang, ganggang yang sudah siap panen dipanaskan dahulu untuk menghilangkan air yang masih terkandung di dalamnya, dengan menggunakan alat pengepres ini dapat diekstrasi sekitar 70 - 75% minyak yang terkandung dalam ganggang.

2) Chemical solvent oil extraction Chemical solvent oil extraction adalah penggunaan pelarut kimia. Minyak dari ganggang dapat diambil dengan menggunakan larutan kimia, misalnya dengan menggunakan, eter, hexana, atau metanol. 3) Supercritical Fluid Extraction Supercritical Fluid Extraction adalah penggunaan CO2, CO2 dicairkan dibawah tekanan normal kemudian dipanaskan sampai mencapai titik kesetimbangan antara fase cair dan gas. Pencairan fluida inilah yang bertindak sebagai larutan yang akan mengekstraksi minyak dari ganggang. Metode ini dapat mengekstraksi hampir 100% minyak yang terkandung dalam ganggang. Namun begitu, metode ini memerlukan peralatan khusus untuk penahanan tekanan. Proses konversi minyak menjadi biodiesel dilakukan melalui tahapan transesterifikasi. Proses transesterifikasi diperlukan dalam pembuatan biodiesel karena minyak lemak (atau minyak nabati) mentah masih mengandung fosfat / fosfolipid yang dapat menyebabkan kerak/ deposit, mengandung asam lemak bebas yang dapat bersifat korosif. Berdasarkan penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa biodiesel (Fatty Acids Methyl Ester) adalah bahan bakar yang bermutu tinggi dan secara teknis, biodiesel layak dimanfaatkan sebagai bahan bakar mesin diesel (Soerawidjaja, 2006).

III.

ALUR DAN METODE PENELITIAN

Metode penelitian digolongkan ke dalam tiga tahapan utama yaitu isolasi Cyanobacteria dari habitat terduga mengandung Cyanobacteria pereduksi minyak nabati, identifikasi koloni murni yang didapatkan serta pengujian kemampuan isolat dalam mereduksi minyak nabati menjadi biosolar. PENGAMBILAN SAMPEL Sampel merupakan air limbah dari industri Minyak Kelapa Sawit. Pengambilan sampel dilakukan dari kolam cooling pond. Sampel dimasukkan dalam satu botol. ISOLASI CYANOBACTERIA Sampel berupa air limbah dicairkan hingga 107 kali. IDENTIFIKASI ISOLAT UJI KEMAMPUAN REDUKSI MINYAK NABATI

IV. 1. 2. 3.

LUARAN PENELITIAN

Buku Laporan Akhir berupa laporan substansi dan keuangan Manuskrip publikasi siap kirim Makalah seminar (oral atau poster)

V.

JADWAL PENELITIAN

DAFTAR PUSTAKA [Departemen ESDM] Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral. 2008. . http://www. djlpe esdm.go.id [12 Desember 2008]. Apriyantono A. 2006. Penyediaan Bahan Baku Biodiesel di Indonesia. Di dalam: Hambali E, Suryani A, Setyaningsih D, Soerawidjaja TH, Brojonegoro TP, Prawita T, Mujdalipah S, editor. Prosiding Simposium Biodiesel Indonesia. Jakarta, 5-6 September 2006. LPPM IPB: Pusat Penelitian Surfaktan dan Bioenergi. hlm 27-34.

[Departemen ESDM] Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral. 2008. . http://www. djlpe esdm.go.id [12 Desember 2008].

[Oilgae] Oil algae. 2006. Algae Oil Extraction.http://www.oilgae.com [26 Desember 2008].

Soerawidjaja TH. 2006. Skenario-Skenario Struktur Perindustrian Biodiesel. Di dalam: Hambali E, Suryani A, Setyaningsih D, Soerawidjaja TH, Brojonegoro TP, Prawita T, Mujdalipah S, editor. Prosiding Simposium Biodiesel Indonesia. Jakarta, 5-6 September 2006. LPPM IPB: Pusat Penelitian Surfaktan dan Bioenergi. hlm 105-114.

Wahyudi B. 2006. Kebijakan Industri biodiesel dan bioetanol di Indonesia. Prosiding Workshop Nasional bisnis biodiesel dan bioethanol di Indonesia. Jakarta, 21 November 2006. hlm 38-39.

Tjitrosoepomo G. 2005. Taksonomi Tumbuhan Obat - Obatan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press