Anda di halaman 1dari 3

Batuk Pengertian Batuk Batuk adalah suatu reflek fisiologi pada keadaan sehat maupun sakit dan dapat

ditimbulkan oleh berbagai sebab. Reflek batuk lazimnya diakibatkan oleh rangsangan dari selaput lendir saluran pernapasan, yang terletak di beberapa bagian dari tenggorokan (epligotis, larynx, trachea, dan bronchi). Mukosa ini memiliki reseptor yang peka untuk zat-zat perangsang (dahak, debu, peradangan) yang dapat mencetuskan batuk. Seperti yang sudah di jelaskan di atas bahwa batuk merupakan suatu mekanisme fisiologi yang bermanfaat untuk mengeluarkan dan membersihkan saluran pernapasan dari dahak, zat-zat perangsang asing, dan unsur infeksi. Dengan demikian batuk merupakn mekanisme perlindungan Pengobatan Batuk Terapi batuk pertama-tama hendaknya ditunjukan pada mencari dan mengobati penyebabnya, misalnya antibiotika terhadap infeksi bakterial dari saluran kemudian, baru dapat dipertimbangkan apakah perlu diberikan terapi simtomatis guna meniadakan atau meringankan gejala batuk, dan haruslah diadakan perbedaan antara batuk produktif dan batuk non-produktif. Untuk pengobatan sistomatis ini terdapat zat-zat dengan mekanisme kerja yang sangat beraneka ragam. Jenis Batuk a. Batuk produktif merupakan suatu mekanisme perlindungan dengan fungsi mengeluarkan zatzat asing (kuman, debu, dan sebagainya) dan dahak dari batang tenggorokan. Maka pada dasarnya jenis batuk ini tidak boleh ditekan. Tetapi dalam prakteknaya sering kali batuk yang hebat dapat mengganggu tidur dan melelahkan pasien, ataupun berbahaya, misalnya setelah pembedahan. Untuk meringankan dan mengurangi frekuensi batuk diberikan terapi simtomatis dengan obat-obat pereda batuk. Disamping larangan merokok, biasanya dapat dilakukan pengobatan sebagai berikut : Emolliensia yaitu memperlunak rangsangan batuk memperlicin tenggorokan agar tidak kering dan melunakan selaput lendir yang teriritasi. Untuk tujuan ini banyak digunakan sirop ( thyme dan althea ), zat-zat lendir ( infuse carrageen) dan gula-gula seperti drop (akar manis) perme, pastilep isap, dan sebagainya. Ekspektoransia yaitu memperbanyak produksi dahak (yang encer) dan dengan demikian mengurangi kekentalannya, mempermudah pengeluarannya dengan batuk, misalnya guaiakol, radix Ipeca (dalam tablet/pulvis Doveri) dan ammoniumklorida dalam OBH yang terkenal. Mukolitika : asetilsistein, karbissten, mesna, bromheksin, dan ambroksol. b. Batuk non-produktif bersifat kering tanpa adanya dahak misalnya pada batuk rejan (pertusis, kinkhoest), atau juga karena pengeluaranya tidak mungkin seperti pada tumor. Tersedia obatobat yang berdaya menekan rangsangn batuk, yaitu: a. Zat-zat pereda: kodein, noskopin, dekstrometorfan dan pentoksiverin. b. Antihistamika: prometazin, difenhidramin, dan d-klofeniramin. c. Anestetika local : pentoksiverin Obat-obat batuk Antitussiva atau obat batuk dapat dibagi menurut titik kerjanya dalam 2 golongan besar yakni : 1. Zat-zat sentral. Obat-obat ini menekan rangsangan batuk di pusat batuk yang terletak di sumsum-lanjutan (medula) dan mungkin juga bekerja terhadap pusat syaraf lebih tinggi (di otak) dengan efek menenangkan. Zat-zat ini dapat dibedakan antara yang dapat menimbulkan adiksi atau ketagihan dan non adiktif. Zat-zat adiktif : candu (Pulvis Opii, Pulvis Doverin), kodein Zat-zat Non-adiktif : noskapin, dekstrometorfan dan pentoksiverin 2. . Zat-zat perifer. Obat-obat ini bekerja di luar SSP, jadi di periferi dan dapat dibagi pula dalam beberapa kelompok yang sudah disebutkan di atas, yakni:emolliensia, ekspektoransia, dan mukolitika, anestika lokal dan zat-zat pereda. Ekspektoransia : Amonium klorida, guaiakol, ipeca dan minyak terbang Mukolitika : asetilkarbosistein, mesna, bromheksin, ambroksol Zat-zat pereda : oksolamin, dan tipepidin (Asvex)

Diare Pengertian diare Dalam lambung, makanan dicerna menjadi bubur (chymus), kemudian diteruskan ke usus halus untuk diuraikan lebih lanjut oleh enzim-enzim. Setelah terjadi resorpsi, sisa chymus tersebut yang terdiri dari 90 % air dan sisa-sisa makanan yang sukar dicernakan, diteruskan ke usus besar (colon). Bakteri-bakteri yang biasanya selalu berada di sini mencernakan lagi sisa-sisa (seratserat) tersebut, sehingga sebagian besar dari padanya dapat diserap pula selama perjalanan melalui usus besar. Airnya juga diresorpsi kembali, sehingga lamabat laun isi usu menjadi lebih padat. Menurut teori klasik, diare disebabkan oleh meningkatnya peristaltik usus, hingga pelintasan chymus sangat dipercepat dan masih mengandung banyak air pada saat meninggalkan tubuh sebagai tinja. Diare dikeompokan menjadi akut dan kronis. Umumya episode diare akut hilang dalam waktu 72 jam dari onset. Diare kronis melibatkan serangan yang lebih sering selama 2-3 periode yang lebih panjang.Penderita diare akut umumnya mengeluhkan onset yang tak terduga dari buang air besar yang encer, gas-gas dalam perut, rasa tidak enak, dan nyeri periumbillical atau myeri pada kuadran kanan bawah disertai kram dam bunyi pada perut. Pada diare kronis ditemukan adanya penyakit sebelumya. Penurunan berat badan dan nafsu makan. Penyebab diare Menurut teori klasik, diare disebabkan oleh meningkatnya peristaltk usus, hingga perlintasan chymus sangat dipercepat dan masih mengandung banyak air ada saat meninggalakan tubuh sebagai tinja.. Berdasarkan penyebabnya dapat dibedakan 4 jenis gastroenritis dan dare sebagai berikut: Diare akibat virus, misalnya influenza perut dan travellers darrhoe yang disebabkan antara lan oleh rotavirus dan adenovirus. Diare bakteria (invasif). Penyebab terkenal dari jenis diare ini ialah bakteri dalmonella, shigella, campylobacter, dan jenis coli tertentu. Diare parasiter, seperti protozoa Entamoeba histolytica, Giardia Lianbia, Chyptosporidium, dan cyclospora. Diare akibat enterotoksin. Penyebabnya adalah kumanyang membentuk enterotoksin yang terpenting adalah E.colli dan Vibr cholerae dan jarang shigella, salmonella, campylobacter, dan Entamoeba histolytica. Penyebab umum diare Diare bukanlah penyakit yang datang dengan sendirinya. Biasanya ada yang menjadi pemicu terjadinya diare. Secara umum, berikut ini beberapa penyebab diare, yaitu: 1. Infeksi oleh bakteri, virus atau parasit. 2. Alergi terhadap makanan atau obat tertentu. 3. Infeksi oleh bakteri atau virus yang menyertai penyakit lain seperti: Campak, Infeksi telinga, Infeksi tenggorokan, Malaria, dll. 4. Pemanis buatan Gejala Diare Gejala diare atau mencret adalah tinja yang encer dengan frekuensi 4 x atau lebih dalam sehari, yang kadang disertai: Muntah Badan lesu atau lemah Panas Tidak nafsu makan Darah dan lendir dalam kotoran Rasa mual dan muntah-muntah dapat mendahului diare yang disebabkan oleh infeksi virus. Infeksi bisa secara tiba-tiba menyebabkan diare, muntah, tinja berdarah, demam, penurunan nafsu makan atau kelesuan. Selain itu, dapat pula mengalami sakit perut dan kejang perut, serta gejal-gejala lain seperti flu misalnya agak demam, nyeri otot atau kejang, dan sakit kepala. Gangguan bakteri dan parasit kadang-kadang menyebabkan tinja mengandung darah atau demam tinggi.

Diare bisa menyebabkan kehilangan cairan dan elektrolit (misalnya natrium dan kalium), sehingga bayi menjadi rewel atau terjadi gangguan irama jantung maupun perdarahan otak. Diare seringkali disertai oleh dehidrasi (kekurangan cairan). Dehidrasi ringan hanya menyebabkan bibir kering. Dehidrasi sedang menyebabkan kulit keriput, mata dan ubun-ubun menjadi cekung (pada bayi yang berumur kurang dari 18 bulan). Dehidrasi berat bisa berakibat fatal, biasanya menyebabkan syok. Pengobatan Rehidrasi oral. WHO menganjurkan ORS (oral rehydration solution). 1. Garam rehidrasi oral. ORS adalah larutan dari campuran Nacl 3,4 g, KCL 1,5 g, Na-trisitrat 2,5 g dan glukosa 20 g dalam 1 liter air matang (Oralite, ottolit). 2. ORS-beras. Tepung beras sebagai pengganti glikosa dalam campuran ORS memberikan beberapa keuntungan penting. Dalam usus, tepung beras yang terutama pati dicernakan dan menghasilkan dua kali lebih banyak glukosa dari pada dalam ORS biasa. Obat diare Kelompok obat yang sering kali digunakan pada diare adalah : Kemoterapeutika untuk terapi kausal, yakni memeberantas bakteri penyebab diare, seperti antibiotika, sulfonamida, kinolon, dan furazolidon. Obstipansia untuk terapi simtomayis, yang dapat menghentikan diare dengan beberapa cara, yakni : Zat-zat penekan peristaltik : candu dan alkaloidanya, derivatif-derivatif petidin (difenoksilat dan loperamida) dan antikolinergika (atropin, ekstrak belladonna) Adstringensia: asam samak (tanin) dan tannalbumin, garam-garam bismut, dan aluminium. Adsorbensia: carbo adsorbens Spasmolitika, yakni zat-zat yang dapat melepaskan kejang-kejang otot yang sering kali mengakibatkan nyeri perut pada diare, antara lain papaverin dan oksifenonium