Anda di halaman 1dari 5

Tatalaksana kanker payudara a.

Terapi operatif Pasien yang pada awal terapi termasuk stadium 0, I, II dan sebagian stadium III disebut kanker mammae operable. Pola operasi yang sering dipakai adalah sebagai berikut : 1) Mastektomi radikal Tahun 1890 Halsted pertama kali merancang dan memopulerkan operasi radikal kanker mammae, lingkup reseksinya mencakup kulit berjarak minimal 3 cm dari tumor, seluruh kelenjar mammae, m.pectoralis mayor, m.pectoralis minor, dan jaringan limfatik dan lemak subskapular, aksilar secara kontinyu enblok reseksi. 2) Mastektomi radikal modifikasi Lingkup reseksi sama dengan teknik radikal, tapi mempertahankan m.pektoralis mayor dan minor (model Auchincloss) atau mempertahankan m.pektoralis mayor, mereseksi

m.pektoralis minor (model Patey). Pola operasi ini memiliki kelebihan antara lain memacu pemulihan fungsi pasca operasi, tapi sulit membersihkan kelenjar limfe aksilar superior. 3) Mastektomi total Hanya membuang seluruh kelenjar mammae tanpa membersihkan kelenjar limfe. Model operasi ini terutama untuk karsinoma in situ atau pasien lanjut usia. 4) Mastektomi segmental plus diseksi kelenjar limfe aksilar Secara umum ini disebut dengan operasi konservasi mammae. Biasanya dibuat dua insisi terpisah di mammae dan aksila. Mastektomi segmental bertujuan mereseksi sebagian jaringan kelenjar mammae normal di tepi tumor, di bawah mikroskop tak ada invasi tumor tempat irisan. Lingkup diseksi kelenjar limfe aksilar biasanya juga mencakup jaringan aksila dan kelenjar limfe aksilar kelompok tengah. 5) Mastektomi segmental plus biopsy kelenjar limfe sentinel Metode reseksi segmental sama dengan di atas. kelenjar limfe sentinel adalah terminal pertama metastasis limfogen dari karsinoma mammae, saat operasi dilakukan insisi kecil di aksila dan secara tepat mengangkat kelenjar limfe sentinel, dibiopsi, bila patologik negative maka operasi dihentikan, bila positif maka dilakukan diseksi kelenjar limfe aksilar. Untuk terapi kanker mammae terdapat banyak pilihan pola operasi, yang mana yang terbaik masih kontroversial. Secara umum dikatakan harus berdasarkan stadium penyakit dengan syarat dapat mereseksi tuntas tumor, kemudian baru memikirkan sedapat mungkin konservasi fungsi dan kontur mammae.6 b. Radiasi

Penyinaran/radiasi adalah proses penyinaran pada daerah yang terkena kanker dengan menggunakan sinar X dan sinar gamma yang bertujuan membunuh sel kanker yang masih tersisa di payudara setelah operasi. Pada saat ini, radiasi post mastektomi (postmastectomy radiation) dilakukan pada wanita dengan tumor primer T3 atau T4, serta telah mengenai 4 atau lebih limfonodi . Efek pengobatan ini tubuh menjadi lemah, nafsu makan berkurang, warna kulit di sekitar payudara menjadi hitam, serta Hb dan leukosit cenderung menurun sebagai akibat dari radiasi. 5,6 c. Kemoterapi Kemoterapi adalah proses pemberian obat-obatan anti kanker dalam bentuk pil cair atau kapsul atau melalui infus yang bertujuan membunuh sel kanker. Tidak hanya sel kanker pada payudara, tapi juga di seluruh tubuh. Efek dari kemoterapi adalah pasien mengalami mual dan muntah serta rambut rontok karena pengaruh obat-obatan yang diberikan pada saat kemoterapi 6. Kemoterapi menurunkan angka kekambuhan dan meningkatkan harapan hidup pada semua kelompok (penurunan angka rekurensi = 23.5% 2% dan penurunan mortalitas = 15.3% 2%). Hal tersebut sangat menonjol pada wanita premenopausal dan pada reseptor esterogen negatif. Kemajuan terapi akan tampak pada 5 tahun pertama dan 5 tahun kedua. Penurunan rekurensi dan mortalitas tampak sama pada wanita pre maupun post menopause dan pada metastase limfonodi positif maupun yang negatif. Kemoterapi yang diberikan setelah dilakukan terapi operatif dikenal sebagi kemoterapi ajuvan (adjuvant chemotherapy). Kemoterapi ajuvan berfungsi membunuh atau menghambat mikrometastasis carcinoma mamma setelah operasi primer. Pemberian kemoterapi ajuvan dengan atau tanpa pemberian terapi hormonal telah diketahui meningkatkan angka harapan hidup pada penderita. Kemoterapi ajuvan dapat meningkatkan harapan hidup 10 tahun penderita berkisar antara 7%-11% baik pada wanita premenopausal dengan stadium dini dan sebesar 2%-3% pada wanita lebih dari 50 tahun 10. Pilihan kemoterapi lini pertama : Anthracycline-based. Taxanes. Cyclophosphamide, methotrexate and 5-fluorouracil (CMF) Pilihan kemoterapi lini kedua : Jika obat lini pertama menggunakan anthracycline-based atau CMF, obat lini keduanya adalah taxane.

Jika lini pertama menggunakan taxane, maka obat lini keduanya adalah anthracyclinebased atau CMF. Regimen capecitabine, 5-fluorouracil (via infusion), vinorelbine, dan mitoxantrone. Kegagalan penggunaan dua atau tiga regimen kemoterapi menurut Eastern Cooperative Oncology Group merupakan indikasi untuk pemberian terapi suportif saja. 10 Pada pasien dengan tumor yang mengekspresikan HER2/neu, dapat dipertimbangkan pemberian trastuzumab yang dikombinasikan dengan paclilaxel, docetaxel atau vinorelbine. Trastuzumab juga dapat dikombinasikan dengan doxorubicin dan cyclophosphamide (AC), namun penggunaan trastuzumab dengan AC sering dihubungkan dengan efek toksik pada jantung. Trastuzumab merupakan antibodi monoklonal (humanized monoclonal antibody) yang berfungsi menduduki reseptor gen HER-2/neu pada domain ekstraseluler. Sebagai agen tunggal, trastuzumab berhasil meningkatkan respon terapi sebesar 15% pada kanker payudara stadium lanjut (advanced breast cancer), sebagai terapi lini kedua 11. d. Terapi hormonal Terapi hormonal diberikan jika penyakit telah sistemik berupa metastasis jauh, biasanya diberikan secara paliatif sebelum kemoterapi karena efek terapinya lebih lama. Terapi hormonal paliatif dilakukan pada penderita pramenopause. Hal ini disebabkan adanya reseptor esterogen pada sel karsinoma mammae pada sebagian besar wanita dengan ca mammae. Reseptor tersebut dapat dimasuki oleh hormon esterogen yang diproduksi ovarium. Akibat pengaruh esterogen tersebut, dapat memacu proliferasi sel tumor mammae, sehingga wanita pre menopause dengan ca mamma mempunyai prognosis yang buruk. Esterogen dapat menstimulasi pertumbuhan sel kanker payudara, namun dapat berefek sebaliknya jika diberikan dengan dosis tinggi 8. Manipulasi hormonal dapat dilakukan dengan cara : a. Ovarektomy bilateral, disebut juga sebagai prophylactic oophorectomy telah diketahui mampu menurunkan resiko terjadinya kanker payudara. Pada sebuah penelitian prospektif, pemberian HRT (hormone replacement therapy) pada pasien post ooforektomi bilateral tidak mampu menurunkan resiko kanker payudara pada penderita yang memiliki gen mutasi BRCA1.8 b. Memberikan obat first line hormonal therapy berupa Tamoksifen 2 x 10 mg selama 2 tahun. Tamoxifen merupakan obat anti kanker non steroid yang memiliki efek antiesterogen pada payudara. Obat ini bekerja menghambat esterogen berikatan dengan reseptor esterogen pada sel kanker yang sensitif esterogen. Obat ini digunakan pada ca mamma dengan reseptor esterogen positif. Selain itu, obat ini juga diduga memiliki efek

preventif pada wanita yang memiliki resiko tinggi terkena ca mamma. Pemberian tamoxifen sebagai terapi ajuvan pada terapi ca mamma telah dikemukakan oleh Early Breast Cancer Trialists Collaborative Group (EBCTCG), bahwa pada terapi tamoxifen selama 5 tahun pada wanita penderita kanker payudara dengan esterogen receptor positive (ER+) berhasil menurunkan rasio kematian akibat kanker payudara per tahun sebesar 31%, tidak tergantung usia, cara pemberian kemoterapi, status reseptor progesteron, maupun karakteristik tumor 4,8,9,12 2.2.9`Prognosis Karakteristik dari beberapa tumor sangat penting untuk dikenali karena dapat menentukan prognosis secara signifikan dan dapat dipertimbangkan sebagai acuan dalam penentuan strategi terapi pada tiap individu penderita. Prognosis karsinoma mamma tergantung dari : Usia Ukuran tumor. Adanya metastasis ke kelenjar limfe. Hal ini sangat panting dalam memprediksi rekurensi penyakit dan harapan hidup. Dimana pasien tanpa metastase ke kelenjar limfe angka harapan hidup 10 tahun mencapai 70%-80%, dan prognosis akan mebih buruk pada pasien dengan metastase ke kelenjar limfe. Derajat kanker secara histologis. Adanya reseptor estrogen (ER) dan reseptor progesterone (PR). Pasien dengan tumor dengan reseptor positif memiliki resiko kekambuhan yang lebih rendah dan harapan hidup yang lebih panjang dibandingkan dengan tumor reseptor negatif. HER2-neu (C-erb B2). 10 Namun Stadium klinis dari kanker payudara merupakan indikator terbaik untuk menentukan prognosis penyakit ini. Menurut National Cancer Data Base, berdasarkan jumlah penderita kanker payudara pada tahun 2001 dan 2002 didapatkan persentase harapan hidup pasien kanker payudara dalam lima tahun digambarkan dalam tabel five-year survival rate berikut ini : Stage 0 I IIA 5-year survival rate 93% 88% 81%

IIB IIIA IIIB IIIC IV

74% 67% 41% 49% 15%

(Sumber : American Cancer Society, 2011)

Anda mungkin juga menyukai