Anda di halaman 1dari 9

1. Bagaimana pasien diposisikan saat syok?

Cara ini biasanya dipakai oleh petugas kesehatan dari Responder Pertama atau lebih tinggi. Posisi syok adalah di mana pasien tidur telentang dengan kedua tungkai bawah dinaikkan kurang lebih 8-12 inch. Posisi ini digunakan pada saat pasien menandakan tanda-tanda syok. Posisi syok ini juga digunakan pada pasien yang sedang mengalami heat related emergencies. Tujuan dari posisi syok ini adalah untuk menaikkan kedua tungkai bawah di atas jantung supaya akan membantu aliran darah ke jantung. Berharap agar lebih banyak darah beroksigenasi dan membantu seseorang dengan hipoksia yang menyebabkan syok. Sumber : 1. Unknown, 2008. Shock Position. Available at : http://en.wikipedia.org/wiki/Shock_position. Accessed: 22 June 2008 2. Berapa lama bisa memakai tourniquet? Paling lama bisa memakai torurniquet selama dua jam supaya tidak terjadi kerusakan jaringan dan tidak menyebabkan iskemia distal. Sumber : 1. Marc F. Swiontkowski. Manual Of Orthopaedics, Lippincott Williams & Wilkins, 2006 p134-135 3. Berapa mEq satu fleks natrium bikarbonat? 25 mEq. 1 fleks Sodium Bikarbonate 84 mg/ml Sodium 1mM/mL, Bicarbonate 1mM/mL Osmolarity 2 mOsm/mL Sumber : Apotek

4. Teori Asam Basa Teori asam dan basa Bronsted-Lowry Asam adalah donor proton (ion hidrogen). Basa adalah akseptor proton (ion hidrogen). Pada reaksi antara asam asetik dan air, asam asetik sebagai asam dengan mendonorkan proton kepada air, yang sebagai basa. Persamaan lengkapnya adalah: CH3COOH + H2O H3O+ + CH3COOAir juga bisa sebagai asam, sebagai contohnya bila ia bereaksi dengan ammonia di mana air mendonorkan proton kepada ammonia. NH3 + H2O NH4+ + OHTeori asam dan basa Arrhenius Asam adalah zat yang menghasilkan ion hidrogen dalam larutan. Basa adalah zat yang menghasilkan ion hidroksida dalam larutan. Penetralan terjadi karena ion hidrogen dan ion hidroksida bereaksi untuk menghasilkan air. H+(aq) + OH-(aq) H2O(l) Asam hidroklorida (asam klorida) dinetralkan oleh kedua larutan natrium hidroksida dan larutan ammonia. Pada kedua kasus tersebut, akan memperoleh larutan tak berwarna yang dapat dikristalisasi untuk mendapatkan garam berwarna putih - baik itu natrium klorida maupun ammonium klorida. Keduanya jelas merupakan reaksi yang sangat mirip. Persamaan lengkapnya adalah: NaOH(aq) + HCl(aq) NH3(aq) + HCl(aq) NaCl(aq) + H2O(l) NH4Cl(aq)

Pada kasus natrium hidroksida, ion hidrogen dari asam bereaksi dengan ion hidroksida dari natrium hidroksida - sejalan dengan teori Arrhenius. Akan tetapi, pada kasus ammonia, tidak muncul ion hidroksida. Hal ini dapat difahami dengan mengatakan bahwa ammonia bereaksi dengan air yang melarutkan ammonia tersebut untuk menghasilkan ion ammonium dan ion hidroksida: 2

NH3(aq) + H2O(l)

NH4+(aq) + OH-(aq)

Reaksi ini merupakan reaksi reversibel, dan pada larutan ammonia encer yang khas, sekitar 99% sisa ammonia ada dalam bentuk molekul ammonia. Meskipun demikian, pada reaksi tersebut terdapat ion hidroksida, dan kita dapat menyelipkan ion hidroksida ini ke dalam teori Arrhenius. Akan tetapi, reaksi yang sama juga terjadi antara gas ammonia dan gas hidrogen klorida. NH3(g) + HCl(g) NH4Cl(s) Pada kasus ini, tidak terdapat ion hidrogen atau ion hidroksida dalam larutan karena bukan merupakan suatu larutan. Teori Arrhenius tidak menghitung reaksi ini sebagai reaksi asam-basa, meskipun pada faktanya reaksi tersebut menghasilkan produk yang sama seperti ketika dua zat tersebut berada dalam larutan. Teori asam dan basa Lewis Teori ini memperluas pemahaman mengenai asam dan basa. Asam adalah akseptor pasangan elektron. Basa adalah donor pasangan elektron. Reaksi asam basa ini adalah suatu reaksi di mana satu pasangan elektron tersendiri daripada suatu basa diterima oleh suatu molekul asam. Misalnya, dalam reaksi antara NH3 dan BF3, molekul BF3, yang berperan sebagai suatu asam Lewis, menerima satu pasangan elektron tersendiri daripada molekul NH 3, yang berperan sebagai suatu basa Lewis. NH3 + BF3 Sumber: 1. Unknown, 2008. Brnsted-Lowry Aid-Base Theory. Available at: http://en.wikipedia.org/wiki/Br%C3%B8nsted-Lowry Accessed : 22 June 2008 2. John L.Park, !997. The Acid Base Theory of Brnsted and Lowry. Available at: http://www.chem-istry.org/?sect=belajar&ext=kfisika_05_01 Accessed: 22 June 2008. NH3BF3

5. Berapa dosis adrenalin intratrakea? Dewasa : 2-2,5 mg Anak : 0,1 mg/kgBB Sumber: 1. Morgan GE, Michael MS, eds. Clinical Anesthesiology. Fourth Edition, Lange Medical Book, 2006,p 991. 6. Obat resusitasi yang dapat diberikan intratrakea dan tidak bisa diberikan secara intratrakea. Bisa diberikan intrakea Atropine Sulfat Epinephrine Lidokain Vasopressin Tidak bisa diberikan intrakea ACE Inhibitors Adenosine Amiodarone Aspirin -Blockers Kalsium Klorida Clopidogrel Digibind Digoxin Diltiazem Dobutamine Dopamine Fibrinolytic Agent Flumazenil Furosemide Glucagon Glycoprotein IIb/IIIa Inhibitors Heparin Unfractionated 4

(UFH) Inamrinone Isoproterenol Magnesium Sulfat Mannitol Milrinone Morphine Sulfate Naloxone Hydrochloride Nitrogliserin Nitroprusside Norepinephrine Procainamide Natrium Bikarbonat Verapamil Sumber : 1. John M. Field, Mary Fran Hazinski. Handbook Of Emergency Cardiovascular Care For Health Providers, American Heart Association,2005 p 43-62.

7. Mekanisme kerja dari dopamin, dobutamin, adrenalin dan noradrenalin? Dopamin Menstimulasi kedua reseptor adrenergik dan dopaminergik. Dosis kecil terutama menstimulasi reseptor dopaminergik dan menghasilkan vasodilatasi ginjal dan mesentrik. Dosis tinggi menstimulasi kedua reseptor dopaminergik dan 1-adrenergik dan menghasilkan stimulasi jantung dan vasodilatasi ginjal. Dosis yang lebih besar menstimulasi reseptor -adrenergik. Dobutamin Menstimulasi reseptor 1-adrenergik menyebabkan peningkatan

kontraktilitas dan denyut jantung dengan efek yang kecil pada reseptor 2 atau reseptor . Epinephrine Aksinya dimediasi melalui reseptor adrenergik. Obat ini terikat pada reseptor 1 pada sel hepar, yang mengaktivasi jalur signal inositolphospholipid, menyebabkan fosforilasi sintesis glikogen dan fosforilase kinase (tidak mengaktivasi dan aktivasi masing-masing), menjurus kepada aktivasi enzim lain-glikogen fosforilase- yang mengkatalisasi pemecahan glikogen (glycogenesis) untuk melepaskan glukosa pada aliran darah. Secara simultan, protein phosphatase-1 (PP1) tidak diaktifkan, jika pada stadium aktif PP1 akan membalikkan semua fosforilasi sebelumnya. Epinephrine juga mengaktivasi reseptor -adrenergik pada sel hepar dan otot, dengan demikian mengaktivasi jalur signal adenylate siklase, yang meningkatkan glikogenolisis. Reseptor 2 ditemukan secara primer pada pembuluh darah otot skelet di mana ia menstimulasi vasodilatasi. Namun, reseptor -adrenergik banyak ditemukan pada otot polos dan splanchnic vessel dan epinephrine menstimulasi vasokontriksi pada pembuluh tersebut. Norepinephrine disintesis dari tyrosine sebagai precursor dan dibungkus ke dalam vesikel sinaps. Kerjanya dimulai dengan melepaskan dirinya ke dalam celah sinaps, di mana ia berkerja di reseptor adrenergic, diikuti oleh terminasi signal, mungkin melalui degradasi norepinephrine atau uptake oleh sel disekelilingnya.

Sumber : 1. Unknown, 2008. Dopamine. Available at : http://www.merck.com/mmpe/lexicomp/dopamine.html Accessed : 22 June 2008. 2. Anthony J. Trevor, Bertram G. Katzung. Pharmacology Examination & Board Review, Sixth Edition, Lange Medical Books/McGrawHill,1998 p 47-48, 82-83. 3. Unknown, 2008. Dobutamine. Available at: http://www.umm.edu/altmed/drugs/dobutamine-044900.htm Accesed : 22 June 2008. 4. Unknown, 2008. Epinephrine. Available at: http://en.wikipedia.org/wiki/Adrenaline Accessed: 22 June 2008. 5. Unknown, 2008. Norepinephrine. Available at: http://en.wikipedia.org/wiki/Noradrenaline Accessed: 22 June 2008.

8. Patient Controlled Analgesia Perkembangan dalam teknologi komputer, telah membentuk patient-controlled analgesia (PCA). Dengan menekan tombol penderita dapat dengan sendiri mengobati diri dengan dosis yang tepat opioid secara intravena.(atau intraspinal) dengan berdasarkan PCA. Orang fisika telah memprogramkan pump infus untuk melepaskan dosis spesifik, interval minimum di antara dosis (lockout period) dan jumlah maksium opioid yang bisa diberikan dalam waktu yang diberikan (biasanya 1 atau 4 jam), infus basal juga bisa dilepaskan secara simultan. Bila PCA dimulai, dosis loading dari opioid harus diberikan oleh staf medis atau tergantung dari keadaan di mana pasien dapat memberikan dosis tersebut dengan sendiri dalam jam pertama. Jika morfin IV PCA digunakan setelah operasi mayor, orang dewasa memerlukan 2-3mg/jam pada 24-48 jam pertama dan 1-2mg/jam pada 36-72 jam berikutnya. Jumlah total obat yang digunakan dalam teknik ini lebih kecil dibanding intramuskular. Pasien lebih menyukai teknik ini karena mereka bisa mengatur analgesia yang diperlukan berdasarkan tingkat nyeri yang bervariasi dengan aktivitas dan waktu. Sumber: 1. Morgan GE, Michael MS, eds. Clinical Anesthesiology. Fourth Edition, Lange Medical Book, 2006,p 396. 9. Apa saja penyebab takikardi? Hipovolemia Hipoksia Ion hidrogen (asidosis) Hipo/hiperkalemia Hipoglikemia Hipotermia 8

Toksin Tamponade jantung Tension pneumothorax Trombosis (jantung/paru) Trauma Sumber: 1. John M. Field, Mary Fran Hazinski. Handbook Of Emergency Cardiovascular Care For Health Providers, American Heart Association, 2005 p 11.

10. Algorithm Takikardi Dilampirkan Sumber: 1. John M. Field, Mary Fran Hazinski. Handbook Of Emergency Cardiovascular Care For Health Providers, American Heart Association, 2005 p 7 and 11.