Anda di halaman 1dari 30

SPAL Ekalida Manik; Jaja Suparta; Parwoto

BAB

TINJAUAN PUSTAKA
2.1. UMUM Sistem jaringan perpipaan diperlukan untuk mengumpulkan air limbah dari tiap rumah dan bangunan di daerah pelayanan menuju Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) terpusat. Perencanaan Sistem Penyaluran Air Limbah berkaitan dengan kebijakan tata guna lahan, pembangunan, pembiayaan, operasional dan pemeliharaan, keberlanjutan penggunaan fasilitas dan perencanaan infrastruktur daerah layanan. Perencanaan sistem perpipaan menyangkut perencanaan jaringan perpipaan dan perencanaan perpipaan. Kriteria perencanaan yang dipergunakan pada perencanaan jaringan penyaluran air limbah domestik untuk daerah yang akan direncanakan, didasarkan dan disesuaikan dengan keadaan dan kondisi daerahnya, yang merupakan batasan serta parameter di dalam perencanaan teknis cara pengaliran air limbah domestik dan perhitungan lainnya.

Perencanaan Pipa Induk Air Limbah Kota Cirebon

Bab II- 1

SPAL Ekalida Manik; Jaja Suparta; Parwoto

Supaya saluran tetap berfungsi dengan baik dalam keadaan debit maksimum maupun minimum, ada beberapa faktor yang harus diperhatikan, yaitu: a. Luas penampang saluran b. Kemiringan saluran serta kekasarannya c. Kondisi pengaliran (penuh, setengah penuh, steady atau unsteady) d. Belokan atau rintangan lain e. Karakteristik effluent Syarat-syarat kecepatan pengaliran yang harus diperhatikan dalam perencanaan Sistem Penyaluran Air Limbah adalah: a. Pengaliran air limbah di dalam saluran harus secara gravitasi kecuali untuk keadaan yang tidak memungkinkan, diperbolehkan pengaliran dengan bertekanan, misalnya pada tempat-tempat yang memerlukan pemompaan. b. Pengaliran hampir selalu unsteady dan terkadang dapat tidak seragam/nonuniform (tinggi air pada setiap titik pada saluran tidak selalu sama). c. Beban yang besar berupa zat-zat yang dapat mengendap, zat-zat terlarut dan benda-benda terapung harus dapat terbawa dan dihanyutkan oleh aliran air buangan sampai ke instalasi bangunan pengolahan d. Kecepatan aliran dalam saluran harus memungkinkan terjadinya self cleansing dengan tidak menimbulkan kerusakan atau pengikisan pada permukaan saluran. e. Pengaliran air limbah bersifat terbuka di dalam saluran tertutup, yaitu pengaliran secara gravitasi dengan permukaan air di dalam saluran berhubungan dengan udara bebas melalui ventilasi, misalnya di lokasi manhole. Selain itu ventilasi ini berguna untuk

Perencanaan Pipa Induk Air Limbah Kota Cirebon

Bab II- 2

SPAL Ekalida Manik; Jaja Suparta; Parwoto

melepaskan gas-gas yang terjadi akibat penguraian air limbah domestik sehingga tidak terakumulasi di dalam saluran. f. Pengaliran air limbah domestik harus tiba secepatnya sampai ke instalasi pengolahan air limbah domestik untuk menghindari terjadinya pembusukan. Lamanya pengaliran air limbah domestik dalam saluran tidak lebih dari 18 jam.

2.2.

SISTEM

JARINGAN

PADA

PENGOLAHAN

AIR

LIMBAH

TERPUSAT

Ada beberapa sistem jaringan perpipaan dalam sistem pengolahan air limbah terpusat, yaitu: 1. Sistem jaringan saluran air limbah konvensional Sistem pengelolaan air limbah dengan perpipaan untuk menampung dan mengalirkan air limbah ke suatu lokasi untuk selanjutnya diolah di lokasi tersebut. Sistem ini diperuntukan untuk daerah dengan kriteria sebagai berikut : - Disarankan untuk tipe perumahan golongan pendapatan menengah dan tinggi, dimana mereka mampu membayar retribusi. - Ketersediaan air bersih tidak menjadi faktor yang menentukan. - Tingkat kepadatan penduduk lebih dari 300 jiwa/ha, permeabilitas tanah tidak memenuhi syarat, angka permeabilitas tanah terlalu tinggi >4,2x10-3 L/m2/dt atau terlalu rendah <2,7x10-4 L/m2/dt. - Kemiringan tanah lebih besar dari 2% - Muka air tanah kurang dari 2m dan telah tercemar. 2. Shallow sewer Sistem sewerage yang dipasang secara dangkal dengan kemiringan yang lebih landai dibandingkan dengan sistem jaringan saluran air limbah konvensional. Sistem ini mengandalkan air pembilas sedangkan sistem
Perencanaan Pipa Induk Air Limbah Kota Cirebon Bab II- 3

SPAL Ekalida Manik; Jaja Suparta; Parwoto

konvensional mengandalkan kecepatan untuk membersihkan sendiri. Sistem ini diperuntukan bagi daerah dengan kriteria sebagai berikut: - Tipe daerah perumahan teratur dan permanen dalam suatu lingkungan yang terbatas. - Ketersediaan air bersih merupakan faktor yang penting, diisyaratkan telah terlayani oleh PDAM atau dapat bersumber dari sumur/air tanah dengan debit yang mencukupi. - Tingkat kepadatan penduduk lebih dari 300 jiwa/ha, sebab pada tingkat kepadatan seperti ini tidak disarankan untuk pembangunan tangki septik. - Fasilitas sanitasi setempat tidak merupakan faktor yang berpengaruh sebab shallow sewer merupakan perpipaan yang menerima buangan langsung WC berupa cairan dan padatan. - Permeabilitas tanah tidak memenuhi syarat, angka permeabilitas tanah terlalu tinggi > 4,2x10-3 L/m2/dt atau terlalu rendah < 2.7x10-4 L/m2/dt - Dapat diterapkan pada berbagai kemiringan tanah. - Muka air tanah kurang dari 2 m. 3. Small Bore Sewer Sistem ini merupakan saluran air limbah dengan diameter kecil untuk menerima limbah cair buangan tangki septik yang bebas benda padat. Sistem ini tidak bergantung pada banyaknya air untuk pembilas, tetapi sarana air bersih harus dipikirkan sebagai sarana sanitasi yang harus disediakan sebelumnya, perpipaan air bersih umumnya akan dipasang di daerah dimana sistem small bore sewer dipertimbangkan. Sistem ini

diperuntukkan bagi daerah dengan kriteria sebagai berikut: - Tipe daerah perumahan teratur dan permanen - Ketersediaan air bersih tidak menjadi faktor yang menentukan - Tingkat kepadatan penduduk tidak lebih dari 500 jiwa/ha

Perencanaan Pipa Induk Air Limbah Kota Cirebon

Bab II- 4

SPAL Ekalida Manik; Jaja Suparta; Parwoto

- Permeabilitas tanah tidak memenuhi syarat, angka permeabilitas tanah terlalu tinggi > 4,2x10-3 L/m2/dt atau terlalu rendah < 2.7x10-4 L/m2/dt - Dapat diterapkan pada berbagai kemiringan tanah. - Keharusan adanya bangunann tangki septik, sebab small bore sewer direncanakan sebagai perpipaan yang menerima beban buangan yang berupa effluent dari tangki septik dan tidak memungkinkan dibangun bidang resapan. - Muka air tanah tidak menentukan tetapi disarankan permukaan air tanah yang dalam untuk efektifitas tangki septik.

2.3.

SISTIM PERPIPAAN Sistim perpipaan dalam penyaluran air limbah mulai dari sumber/asal

air limbah hingga sampai ke instalasi pengolahan terdiri dari: 1. Pipa persil Pipa persil adalah saluran yang menyalurkan air limbah dari rumah penduduk, bangunan umum, dan sebagainya ke pipa servis. Adapun syarat yang perlu diperhatikan pada sambungan ke rumah adalah: - Letak pipa masih di dalam halaman, dengan kedalaman awal 0,45 m 0,6 m - Diameter minimum pipa ini ditetapkan 4-6 sedangkan diameter maksimum tergantung dari volume air limbah yang dialirkan sesuai dengan pipa air limbah gedung. - Dengan kemiringan saluran minimum tidak kurang dari 1 % 2 % - Pada ujung akhir pipa persil dilengkapi bak persil servis. - Diameter saluran dihitung berdasarkan debit puncak satuan air limbah hari maksimum kontrol sebelum

dihubungkan dengan pipa servis, disebut pipa dinas sambungan pipa

Perencanaan Pipa Induk Air Limbah Kota Cirebon

Bab II- 5

SPAL Ekalida Manik; Jaja Suparta; Parwoto

- Sambungan tidak mengganggu jalannya aliran air buangan dalam jaringan pengumpul, sehingga penyambungan dilakukan menyerong dengan besar sudut maksimum 45o. Apabila perbandingan debit antara q (dari rumah) dengan Q saluran pengumpul kecil sekali, maka penyambungan dapat dilakukan secara tegak lurus. - Sedapat mungkin sambungan-sambungan tersebut diperiksa agar mempermudah pemeliharaan saluran. - Air dalam jaringan pengumpul jangan sampai menghambat air yang berasal dari rumah tangga, untuk itu sambungan dari rumah-rumah harus diletakkan di atas permukaan aliran air limbah yang tertinggi. 2. Pipa Retikulasi Pipa retikulasi terdiri dari pipa servis dan pipa lateral. Satu unit daerah retikulasi mempunyai daerah pelayanan sekitar 10 ha dan panjang pipa retikulasi sekitar 5 km. Pipa servis adalah saluran yang menyalurkan air limbah yang menghubungkan beberapa sambungan dari rumah, bangunan umum, dan sebagainya (dari pipa persil) ke pipa lateral. Adapun syarat yang perlu diperhatikan: Terdapat dua macam perletakan di trotoar dan brandgang, diameter pipa ini paling kecil 6 , dengan kedalaman benam awal 60 cm. Diameter saluran dihitung berdasarkan debit puncak rata-rata pipa persil dengan memperhatikan faktor keseragaman dan jumlah pipa persil. Dapat melayani sekitar 50 rumah. Pada bagian hulu dilengkapi dengan terminal clean out box. Kemiringan saluran umumnya berkisar 0,6-1%. Dilengkapi dengan manhole pada percabangan dengan pipa lateral.

3. Pipa lateral adalah saluran yang menampung air limbah dari pipa servis untuk dialirkan ke pipa cabang. Untuk sistim yang kecil, pipa servis dapat

Perencanaan Pipa Induk Air Limbah Kota Cirebon

Bab II- 6

SPAL Ekalida Manik; Jaja Suparta; Parwoto

berfungsi sebagai pipa lateral, sedangkan untuk jaringan yang besar pipa lateral dapat berkembang sebagai pipa cabang. Adapun syarat yang perlu diperhatikan adalah : Umumnya pipa lateral berdiameter lebih besar dari 12 atau tergantung dari debit dan performa hidrolis yang diinginkan. Pada ujung bagian hulu dilengkapi dengan bangunan penggelontor baik yang bersifat kontinyu maupun berkala. Dan setiap percabangan dengan pipa servis selalu dilengkapi dengan manhole. Dan harus diperhatikan pada unung awal pipa lateral kedalam air tidak Boleh lebih dari 0,6 diameter dan pada bagian hilir tidak boleh lebih dari 0,8 diameter. 4. Pipa Mayor Perpipaan mayor dimulai dari percabangan lajur-lajur pipa lateral pada suatu manhole pertemuan. Sistim jaringan perpipaan mayor terdiri dari perpipaan cabang perpipaan induk/utama (main/trunk sewer) dengan kelas orde sesuai dengan besar kecil sistim jaringan dalam daerah pelayanan. Kriteria perhitungan diameter identik dengan perhitungan diameter pipa lateral. Pipa cabang adalah saluran air limbah yang menyalurkan air limbah dari pipa lateral ke pipa induk. Pipa induk adalah saluran air buangan yang menyalurkan air limbah dari pipa cabang menuju instalasi pengolahan air limbah. Ukuran pipa induk tergantung dari jumlah populasi pada daerah pelayanan. Pola jaringan perpipaan mayor mengikuti sistim penyaluran secara keseluruhan. Terdapat empat pola, yaitu : 1. Pola Interseptor Pola interceptor merupakan sistim tercampur terkendali, yaitu kedalaman perpipaan hulu dimasukkan air hujan dengan porsi

Perencanaan Pipa Induk Air Limbah Kota Cirebon

Bab II- 7

SPAL Ekalida Manik; Jaja Suparta; Parwoto

tertentu dengan pemasukan terkendali, dimana air campuran tersebut mempunyai kualitas memenuhi baku mutu untuk kemudian di buang ke badan air penerima. Ujung akhir perpipaan hulu diletakkan melintas di atas perpipaan interceptor.

Gambar 2.1. Jaringan Perpipaan Pola Interseptor


Sumber: Pengelolaan Air Limbah Domestik Perkotaan-KemenPU

2. Pola Zona Atau Wilayah Pola zona atau wilayah adalah pola yang dipergunakan pada daerah pelayanan tersebut, atau pipa penyebrangan tidak mungkin atau sangat mahal dibangun maupun karena kondisi topografi daerah tersebut.

Gambar 2.2. Jaringan Perpipaan Pola Zoning/Wilayah


Sumber: Pengelolaan Air Limbah Domestik Perkotaan-KemenPU

Perencanaan Pipa Induk Air Limbah Kota Cirebon

Bab II- 8

SPAL Ekalida Manik; Jaja Suparta; Parwoto

3. Pola Kipas Pola kipas adalah pola yang dipergunakan pada daerah pelayanan yang terletak pada suatu lembah.

Gambar 2.3. Jaringan Perpipaan Pola Kipas


Sumber: Pengelolaan Air Limbah Domestik Perkotaan-KemenPU

4. Pola Radial Pola radial adalah pola yang dipergunakan pada daerah pelayanan yang terletak pada suatu perbukitan.

Gambar 2.4. Jaringan Perpipaan Pola Radial


Sumber: Pengelolaan Air Limbah Domestik Perkotaan-KemenPU

Perencanaan Pipa Induk Air Limbah Kota Cirebon

Bab II- 9

SPAL Ekalida Manik; Jaja Suparta; Parwoto

5. Bahan Perpipaan Seperti telah diuraikan sebelumnya, saluran air limbah harus tertutup dan kedap air. Sebagian besar biaya dalam membangun suatu jaringan pipa, baik air bersih maupun air limbah, digunakan untuk biaya perpipaan. Karena itu sangatlah penting menentukan jenis pipa yang paling sesuai sehingga pemakaiannya bisa optimal dan ekonomis. Tabel 2.1. Perbandingan Bahan Saluran

Tabel 2.2. Dimensi Pipa Beton Bertulang

Sumber : www.ellingsoncompanies.com/resources/documents/concrete.pdf

Perencanaan Pipa Induk Air Limbah Kota Cirebon

Bab II- 10

SPAL Ekalida Manik; Jaja Suparta; Parwoto

6. Perletakan Pipa Perletakan pipa tergantung dari : Jaringan jalan yang ada. Jenis, kondisi, dan topografi tanah yang dilalui. Sistim perpipaan yang lain (air minum, listrik, gas). Kapasitas dan lokasi gas yang dilayani.

Umumnya pipa dipasang di pertengahan jalan karena : Tidak perlu membebaskan tanah penduduk Pemeriksaan saluran lebih mudah

Pipa di pasang di pinggir jalan jika : Bangunan pada satu sisi jalan lebih banyak daripada sisi lainnya Perbedaan ketinggian antara kedua sisi jalan terlalu besar

Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam perletakan saluran, diantaranya adalah sebagai berikut : Kedalaman saluran minimum adalah 1,00 m pada awal

penanamannya (untuk pipa servis) dan paling dalam 7,0 m pada akhir saluran. Apabila kedalaman ujung saluran telah mencapai 7,00 m, maka aliran air buangan dalam saluran harus dinaikkan dengan menggunakan pompa, yaitu dengan bangunan drop manhole. Penempatan saluran dapat di tengah jalan jika badan jalan tidak terlalu lebar dan lalu lintas kendaraan tidak terlalu ramai. Bila beban penerimaan air limbah dari kanan dan kiri jalan tidak sama, saluran ditempatkan di tepi jalan di bagian yang paling banyak memberikan air buangan. Bila beban penerimaan air limbah dari kanan dan kiri jalan sama dan badan jalan cukup lebar, arus lalu lintas cukup padat maka saluran ditempatkan di kanan dan kiri jalan.

Perencanaan Pipa Induk Air Limbah Kota Cirebon

Bab II- 11

SPAL Ekalida Manik; Jaja Suparta; Parwoto

Di daerah pemukian, bila terdapat Brandgang , maka saluran ditempatkan di brandgang belakang rumah.

Tabel 2.3. Kemiringan Saluran untuk Tiap Diameter

7. Jenis Pengaliran Ada dua jenis pengaliran di dalam sistim penyaluran air limbah, yaitu : Pengaliran di bawah tekanan, yaitu pengaliran yang disebabkan gaya dari luar, seperti tekanan hidraulik atau pemompaan. Pengaliran terbuka, yaitu pengaliran secara gravitasi dengan tekanan sama dengan tekanan udara luar.

Perencanaan Pipa Induk Air Limbah Kota Cirebon

Bab II- 12

SPAL Ekalida Manik; Jaja Suparta; Parwoto

2.4.

PERHITUNGAN DEBIT AIR LIMBAH

1. Debit rata-rata aliran (QR) Debit ini diperoleh dengan menghitung besarnya debit air limbah yang dihasilkan oleh suatu blok pelayanan. Debit rata-rata air limbah untuk tiap blok dihitung berdasarkan jumlah limbah perkapita dan jumlah penduduk yang dilayani serta oleh aktivitas lainnya. Debit rata-rata air buangan yang berasal dari rumah tangga, fasilitas umum, fasilitas komersil dalam sebuah kota. Dari semua fasilitas tersebut, tidak semua terbuang menjadi air buangan dan terkumpul di saluran. Hal ini disebabkan karena beragamnya aktivitas yang dilakukan manusia. Menurut literatur, faktor timbulan air buangan berkisar antara 50%-80%. Untuk menghitung debit rata-rata digunakan persamaan berikut: Qr = Fab x Qam Keterangan: Qr : Debit rata rata air buangan (L/detik) Fab : Faktor timbulan air buangan Qam : Besarnya kebutuhan rata-rata air minum (L/det) 2. Debit harian maksimum (Qmd) Merupakan debit harian tertinggi relatif terhadap hari-hari biasanya. Perhitungan besarnya debit ini didasarkan atas faktor maksimum (fm), dimana untuk kota-kota di Indonesia adalah 1,10 1,30 dari debit rata-rata air limbah. Debit puncak didapat dari hasil perkalian antara faktor puncak dengan debit rata-rata. 3. Debit infiltrasi (Qinf) Infiltrasi adalah masuknya air tanah ke dalam saluran melalui sambungan pipa atau celah-celah retakan pipa. Infiltrasi hampir tidak dapat dihindarkan dalam saluran air limbah sehingga tambahan debit infiltrasi ini perlu

Perencanaan Pipa Induk Air Limbah Kota Cirebon

Bab II- 13

SPAL Ekalida Manik; Jaja Suparta; Parwoto

diperhitungkan. Masuknya air tanah ke dalam saluran ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti: Tinggi muka air tanah Kondisi porositas lapisan sebelah bawah Pekerjaan pemasangan atau penyambungan pipa Kondisi material yang dipergunakan

Jumlah aliran infiltrasi yang masuk tergantung pada dimensi saluran (diameter dan panjang saluran). Dalam suatu sistem penyaluran air buangan, terdapat kemungkinan terjadinya pertambahan jumlah air yang masuk ke saluran yang berasal dari infiltrasi air tanah dan resapan air hujan. Dalam kondisi ideal, air yang masuk maupun keluar dari sistem penyaluran tidak dibenarkan, tetapi infiltrasi tidak dapat dihindarkan sepenuhnya karena hal berikut: Jenis-jenis bahan saluran dan bahan sambungan yang digunakan. Pengerjaaan sambungan pipa yang kurang sempurna. Kondisi tanah dan air tanah.

Persamaan yang dipakai untuk menghitung debit infiltrasi yaitu: Qinf = Cr.P.Qr + L.qinf Keterangan: Qinf : Debit infiltrasi (L/detik) Qr : Debit rata-rata air buangan (L/detik) qinf : Debit inflow (L/detik) Cr : Koef.infiltrasi rata-rata daerah persil = 0.2-0.3 P : Populasi
Perencanaan Pipa Induk Air Limbah Kota Cirebon Bab II- 14

SPAL Ekalida Manik; Jaja Suparta; Parwoto

L : Panjang lajur pipa lateral (km). 4. Debit aliran jam puncak (Qp) Debit puncak perlu diperhitungkan dalam menentukan dimensi saluran, agar saluran yang direncanakan dapat menampung serta menyalurkan air limbah pada kondisi puncak. Debit puncak didapat dari hasil perkalian antara faktor puncak dengan debit rata-rata. Untuk menghitung faktor puncak dari beberapa literatur diketahui sebagai berikut: 1. Persamaan Babbit 2. Persamaan Harmon Fp = 5/P0.2 Fp = 14/(4+p0.5)

3. Persamaan Fair & Geyer Fp = (18+(P)0.5)/(4+P)0.5) 4. Persamaan Melbourne & Metropolitan Board Of Works (MMBW) Fp = (2.25+(15x106)/P1.414)1/6 Keterangan: Fp : Faktor puncak. P : Jumlah Penduduk. Untuk mencapai debit puncak, persamaan yang digunakan adalah: Qpeak = Fp x Qmd + Cr.P.Qr + L .qinf Keterangan: P : Jumlah Populasi yang dilayani ( jiwa). Qmd : Debit maksimal = 1.15 Qr (L/detik) Qr : Debit rata-rata (L/detik) L : Panjang pipa (m). Cr : Koefisien infiltrasi daerah persil = 0.2-0.3 qinf : Debit Infiltrasi 5. Debit aliran minimum (Qm) Terjadi pada saat pemakaian air minimum sehingga jumlah aliran air limbah yang terjadi juga minimum. Dengan mengetahui kondisi minimum

Perencanaan Pipa Induk Air Limbah Kota Cirebon

Bab II- 15

SPAL Ekalida Manik; Jaja Suparta; Parwoto

ini dapat ditentukan mengenai kecepatan aliran air limbah dalam saluran selama debit minimum. Debit minimum adalah debit air buangan pada saat pemakaian air minimum. Debit minimum ini digunakan dalam menentukan kedalaman minimum, untuk menentukan perlu tidaknya penggelontoran. Qmin = 0,2 x P1,2 x Qr Qmin = Debit minimum (L/detik) Qr = Debit rata-rata air buangan (L/detik/ribuan jiwa) P = Jumlah penduduk (dalam ribuan jiwa) 2.5. PERHITUNGAN KECEPATAN PENGALIRAN Hal lain yang harus diperhatikan dalam pengaliran air limbah adalah kecepatan pengaliran. Kecepatan pengaliran meliputi : 1. Kecepatan Pengaliran Maksimum ditetapkan sebagai berikut : - Untuk aliran yang mengandung pasir, kecepatan maksimum 2,0 2,4 m/det - Untuk aliran yang tidak mengandung pasir, kecepatan maksimum 3,0 m/dtk. Batas kecepatan pengaliran di atas ditetapkan berdasarkan pertimbangan: - Saluran harus dapat mengantarkan air limbah secepatnya menuju instalasi pengolahan air limbah - Pada kecepatan tersebut penggerusan terhadap pipa belum tejadi, sehingga ketahanan pipa dapat dijaga

2. Kecepatan Pengaliran Minimum Kecepatan pengaliran minimum yang diizinkan adalah 60 cm/dtk dan diharapkan pada kecepatan ini aliran mampu untuk membersihkan diri di dalam pipa, sehingga dapat terjadi pengendapan

Perencanaan Pipa Induk Air Limbah Kota Cirebon

Bab II- 16

SPAL Ekalida Manik; Jaja Suparta; Parwoto

dan penguraian air buangan yang akan menaikkan konsentrasi sulfur. Konsentrasi sulfur yang dapat mengubah sulfur menjadi sulfida. Sulfida akan membentuk Hidrogen Sulfida yang jika konsentrasinya tinggi melampaui kejenuhan dalam larutan akan keluar dari larutan dan membentuk gas H2S yang sangat berbau dan berbahaya bagi kesehatan. Jika gas ini, di dalam pipa mengalami oksidasi maka akan terbentuk asam sulfat yang sangat korosif terhadap pipa.

2.6.

KEDALAMAN AIR DALAM PIPA Kedalaman aliran air limbah dalam saluran tidak boleh terlalu kecil,

karena dapat mengakibatkan materi air limbah yang berbentuk padat akan tertahan sehingga akan menyumbat aliran. Untuk menghindari hal ini, maka : 1. Pada pipa cabang dan pipa induk, kedalaman aliran di awal saluran diperhitungkan sebesar 60% dari diameter pipa atau d/D = 0,6. 2. Pada saat debit puncak, di akhir saluran d/D maks = 0,80 3. Pada saat kecepatan minimum, kedalaman air harus mencapai kedalaman berenang, yaitu 7,5 10 cm untuk pipa beton, >5 cm untuk pipa yang lebih halus (pipa PVC, fiberglass dll). Kedalaman berenang adalah kedalaman yang dianggap mampu membawa partikel berenang mengikuti aliran pada saat kecepatan minimum. 4. Pada saat debit minimum tidak tercapai kedalaman berenang maka saluran harus digelontor.

2.7.

PENGGELONTORAN

Syarat dari air penggelontor adalah sebagai berikut : - Debit harus cukup untuk penggelontoran.

Perencanaan Pipa Induk Air Limbah Kota Cirebon

Bab II- 17

SPAL Ekalida Manik; Jaja Suparta; Parwoto

- Air tidak banyak mengandung lumpur/pasir, bersih dan tidak bersifat asam atau basa. - Penggelontoran dilakukan dengan sistim berkala, yaitu pada saat debit aliran minimum dan kedalaman air tidak mencapai kedalaman berenang.

2.8.

Bangunan pelengkap Bangunan pelengkap adalah semua bangunan yang ikut mengambil

bagian dalam menunjang kelancaran perjalanan air limbah di dalam sistim penyaluran air limbah. 1. Manhole Manhole adalah tempat untuk memeriksa atau memperbaiki atau membersihkan saluran dari kotoran yang terbawa aliran. Mengingat fungsi tersebut, maka manhole harus direncanakan dengan baik sehingga dapat memberikan kemudahan bagi petugas dalam melaksanakan tugasnya. Manhole harus ditutup untuk mencegah aliran air dari luar dan dilengkapi ventilasi untuk mengeluarkan gas dan untuk mengatur tekanan udara. Penempatan manhole ditetapkan pada tempat-tempat tertentu, yaitu : Pada perubahan arah aliran (belokan, pertemuan saluran) Pada perubahan diameter saluran Ada perubahan kemiringan saluran Pada jarak tertentu

Bentuk penampang manhole: Penampang empat persegi panjang, umumnya digunakan untuk manhole dengan kedalaman kecil dan direncanakan tidak

Perencanaan Pipa Induk Air Limbah Kota Cirebon

Bab II- 18

SPAL Ekalida Manik; Jaja Suparta; Parwoto

dimasuki operator. Manhole jenis ini untuk ditempatkan pada tempat-tempat yang tidak akan dikenai beban yang terlalu besar Tabel 2.4. Jarak manhole berdasarkan diameter saluran Diameter saluran (mm) <200 200 500 500 1000 1000 2000 >2000 Jarak manhole (m) 50 -100 100 - 125 125 150 150 - 220 200

Sumber: Pengelolaan Air Limbah Domestik Perkotaan-KemenPU

Penampang bulat, digunakan untuk manhole yang mempunyai ukuran lebih besar digunakan bentuk penam-pang bulat, karena konstruksinya lebih kuat sehingga mampu menahan beban lebih besar dibandingkan dengan bentuk persegi empat. Tabel 2.5. Diameter Manhole menurut kedalaman

Komponen lain yang perlu diperhatikan adalah : Pintu masuk manhole Tangga manhole Dasar manhole Diameter manhole Drop manhole

2. Drop manhole Berfungsi sama dengan manhole tetapi pemakaiannya berbeda. Drop manhole dipakai untuk pertemuan saluran yang mempunyai

perbedaan ketinggian relative besar 60-90 cm. Tujuan pemasangan


Perencanaan Pipa Induk Air Limbah Kota Cirebon Bab II- 19

SPAL Ekalida Manik; Jaja Suparta; Parwoto

drop manhole adalah untuk mencegah semburan (splashing) air limbah yang dapat merusak.

Gambar 2.5. Typical Manhole


Sumber: Pengelolaan Air Limbah Domestik PerkotaanKemenPU

Gambar 2.6. Drop Manhole


Sumber: Pengelolaan Air Limbah Domestik PerkotaanKemenPU

3. Ventilasi Udara Ventilasi adalah bangunan pelengkap sistem penyaluran air buangan. Ventilasi udara dibutuhkan waktu lebih besar dari 18 jam hingga sampai ke instalasi pengolahan air buangan karena selama waktu tersebut diperkirakan dapat terjadi gas-gas yang berbahaya bagi kesehatan dan dapat

mempengaruhi daya tahan pipa. Penempatan ventilasi udara pada tutup manhole dan dapat diusahakan dapat mencegah infiltrasi aliran air dari luar. Fungsi dari ventilasi adalah: Mengeluarkan gas yang terakumulasi dalam pipa dan untuk menyesuaikan tekanan udara dalam dalam saluran atau manhole menjadi sama dengan tekanan udara luar.

Perencanaan Pipa Induk Air Limbah Kota Cirebon

Bab II- 20

SPAL Ekalida Manik; Jaja Suparta; Parwoto

Untuk mencegah terakumulasinya gas-gas yang eksplosif dan juga gas-gas yang korosif. Untuk mencegah terlepasnya gas-gas berbau yang terkumpul pada saluran. Untuk mencegah timbulnya H2S sebagai dekomposisi zat-zat organik dalam saluran. Untuk mencegah terjadinya tekanan di atas dan di bawah tekanan atmosfer yang dapat menyebabkan aliran balik pada water seal alatalat plambing.

4. Terminal Clean Out Terminal clean out adalah suatu bangunan pelengkap yang berfungsi sebagai : Lubang tempat penyisipan alat pembersih ke dalam saluran Pipa tempat penggelontoran saluran, yaitu dengan memasukkan air dari ujung bagian atas terminal clean out. Bangunan ini terdiri dari pipa dengan diameter tertentu yang sesuai dengan diameter saluran, dan disambungkan vertikal dengan menggunakan Y connection dan bend, kemudian bagian atasnya ditutup dengan frame yang terbuat dari besi tuang, biasanya bangunan ini terletak pada bagian awal saluran, yaitu pada pipa servis dan mempunyai jarak ke manhole sekitar 50 75 m. 5. Tikungan (Bend) Bend adalah bangunan pelengkap yang berfungsi untuk membelokkan arah aliran, banyak dipakai pada pertemuan antara pipa lateral dengan pipa servis, pipa lateral dengan pipa subutama, pipa sub-utama dengan pipa utama serta mengikuti arah belokan jalan. Mengingat pada tikungan terjadi kehilangan energi
Perencanaan Pipa Induk Air Limbah Kota Cirebon Bab II- 21

SPAL Ekalida Manik; Jaja Suparta; Parwoto

Gambar 2.7. Terminal Clean Out


Sumber: Pengelolaan Air Limbah Domestik Perkotaan-KemenPU

yang cukup besar, maka perlu diperhatikan beberapa persyaratan dalam merencanakan tikungan, yaitu : Tidak boleh terjadi perubahan diameter atau kemiringan. Pembuatan dinding harus selicin mungkin. Harus ada manhole untuk pemeriksaan. Radius minimum belokan lebih besar atau sama dengan diameter saluran. 6. Transition dan Junction Transition adalah tempat terjadinya perubahan diameter saluran (membesar atau mengecil). Junction adalah tempat penggabungan beberapa buah saluran. Pada pipa transition dan junction terjadi kehilangan energi yang cukup besar, karena itu dalam perencanaan perlu diperhatikan : Pembuatan dinding harus selicin mungkin. Pada junction di usahakan kecepatan aliran seragam dan perubahan arah aliran tidak terlalu tajam.

Perencanaan Pipa Induk Air Limbah Kota Cirebon

Bab II- 22

SPAL Ekalida Manik; Jaja Suparta; Parwoto

Harus ada manhole untuk pemeriksaan. Radius minimum belokan lebih besar atau sama dengan diameter saluran.

Gambar 2.8. Manhole Belokan


Sumber: Pengelolaan Air Limbah Domestik PerkotaanKemenPU

Gambar 2.9. Tipe Junction pada Manhole


Sumber: Pengelolaan Air Limbah Domestik PerkotaanKemenPU

6. Bangunan Penggelontor Bangunan penggelontor adalah bangunan yang dapat

mengumpulkan air dan dilengkapi dengan peralatan untuk keperluan penggelontoran yang dapat bekerja secara otomatis atau manual. Air untuk keperluan penggelontoran dapat berasal dari PAM, air sungai, air waduk, atau sumber lainnya asalkan memenuhi syarat sebagai air penggelontor, yaitu jernih, tidak mengandung partikel padat atau kolodial dan tidak bersifat asam atau basa. Pada waktu penggelontoran harus diperhitungkan kecepatan gelombang aliran penggelontoran yang aman terhadap pipa atau terjadinya water hammer. Bangunan penggelontor berfungsi untuk mencegah pengendapan kotoran dalam saluran, mencegah pembusukkan kotoran dalam saluran, dan

Perencanaan Pipa Induk Air Limbah Kota Cirebon

Bab II- 23

SPAL Ekalida Manik; Jaja Suparta; Parwoto

menjaga kedalaman air pada saluran. Penggelontoran diperlukan untuk penyaluran air buangan dengan sistem konvensional, sementara penyaluran air buangan dengan menggunakan sistem Small Bore Sewer (SBS), tidak memerlukan penggelontoran, karena pipa saluran hanya mengalirkan effluent cair dari air buangan tidak berikut padatannya. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan pada bangunan penggelontor ini adalah, air penggelontor harus bersih tidak mengandung lumpur, pasir, dan tidak asam. Basa atau asin, selain itu air penggelontor tidak boleh mengotori saluran. a. Jenis Penggelontoran Berdasarkan kontinuitasnya, penggelontoran dibagi menjadi dua: 1. Sistem Kontinu Penggelontoran dengan sistem kontinu, adalah sistem dimana

penggelontoran dilakukan secara terus menerus dengan debit konstan. Dalam perencanaan dimensi saluran tambahan debit air buangan dari

penggelontoran harus diperhitungkan. Dengan menggunakan sistem kontinu maka, kedalaman renang selalu tercapai, kecepatan aliran dapat diatur, syarat pengaliran dapat terpenuhi, tidak memerlukan bangunan penggelontor di sepanjang jalur pipa, tetapi cukup berupa bangunan pada awal saluran atau dapat berupa terminal cleanout yang dihubungkan dengan pipa transmisi air penggelontor. Selain itu, kelebihan dari penggunaan sistem kontinu ini adalah kemungkinan saluran tersumbat kecil, dapat terjadi pengenceran air buangan, serta pengoperasiannya mudah.Sedangkan kekurangannya yaitu, debit penggelontoran yang konstan memerlukan dimensi saluran lebih besar, terjadi penambahan beban hidrolis pada BPAB. 2. Sistem Periodik
Perencanaan Pipa Induk Air Limbah Kota Cirebon Bab II- 24

SPAL Ekalida Manik; Jaja Suparta; Parwoto

Dalam sistem periodik, penggelontoran dilakukan secara berkala pada kondisi aliran minimum. Penggelontoran dilakukan minimal sekali dalam sehari. Dengan sistem periodik, penggelontoran dapat diatur sewaktu diperlukan, debit gelontor akan sesuai dengan kebutuhan. Dimensi saluran relatif tidak besar karena debit gelontor tidak diperhitungkan. Penggunaan sistem penggelontoran secara periodik, akan menyebabkan lebih banyaknya unit bangunan penggelontor di sepanjang saluran, selain itu ada kemungkinan pula saluran tersumbat oleh kotoran yang tertinggal. b. Volume Air Penggelontor Volume air gelontor tergantung pada: Diameter saluran yang digelontor Panjang pipa yang digelontor Kedalaman minimum aliran pada pipa yang digelontor.

Untuk perencanaan penggelontoran sistem kontinu perhitungannya dilakukan bersama dengan perhitungan dimensi penyaluran air buangan, sedangkan untuk sistem periodik perhitungan perencanaannya sebagai berikut: V gelontor = tg x Qg Keterangan: V gelontor : Volume air gelontor (m3) Tg : Waktu gelontor (detik) Qg : Debit air gelontor (m3/detik) c. Alternatif Sumber Air Penggelontor

Perencanaan Pipa Induk Air Limbah Kota Cirebon

Bab II- 25

SPAL Ekalida Manik; Jaja Suparta; Parwoto

Air penggelontor dapat berasal dari berbagai sumber. Air penggelontor dapat berasal dari air buangan dalam pipa riol itu sendiri atau air dari luar seperti air tanah, air hujan, air PDAM, air sungai, danau dan sebagainya. Air

penggelontor yang dari luar harus tawar (bukan air asin), untuk menghindari terjadinya penambahan kadar endapan/suspensi atau kadar kekerasan dan kontaminan yang lebih besar 7. Syphon Siphon merupakan bangunan perlintasan aliran dengan defleksi vertikal/ miring. Misalnya, bila saluran harus melintasi sungai, jalan kereta api, jalan raya rendah, saluran irigasi, lembah, dan sebagainya, dimana elevasi dasarnya lebih rendah dari elevasi dasar saluran riol. Dalam menentukan dimensi syphon beberapa faktor yang harus diperhatikan, yaitu : 8. Kehilangan energy 9. Kemudahan dalam pemeliharaan 10. Kemampuan dalam menyalurkan Kehilangan energi dalam syphon selain dipengaruhi oleh parameter saluran, terutama dipengaruhi oleh kecepatan dalam saluran, oleh karena itu kecepatan dalam syphon dibatasi 1 1,3 m/dtk. Kemudahan pemeliharaan ditentukan oleh lengkungan syphon, karena itu maka radius lengkungan syphon harus cukup besar sehingga endapan lumpur tidak terakumulasi pada belokan. Kemampuan dalam menyalurkan dimaksudkan sebagai

kemampuan syphon dalam menyalurkan air pada setiap kondisi, baik pada waktu aliran minimum atau pada waktu aliran puncak. Syphon biasanya dilengkapi dengan manhole baik pada awal ataupun akhir. a. Kriteria perencanaan
Perencanaan Pipa Induk Air Limbah Kota Cirebon Bab II- 26

SPAL Ekalida Manik; Jaja Suparta; Parwoto

Diameter minimum 15 cm namun untuk memberikan kecepatan yang lebih tinggi diameter bisa lebih kecil (minimal 10 cm) namun untuk menghindari penyumbatan siphon harus dilengkapi pipa penguras (drain).

Pipa harus terisi penuh. Kecepatan pengaliran harus konstan agar mampu menghanyutkan kotoran atau buangan padat, kecepatan desain biasanya lebih besar (0.6-0.9) m/detik.

Dibuat tidak terlalu tajam agar mudah dalam pemeliharaan. Perencanaan harus mempertimbangkan debit minimum, rata-rata, dan maksimum. Pada awal dan akhir siphon harus dibuat sumur pemeriksaan untuk memudahkan pembersihan.

b. Pendimensian Dimensi pipa siphon dapat dihitung dengan persamaan kontinuitas Q = A.V=1/4 D2.V Keterangan: Q : Debit air buangan (m3/detik) V : Kecepatan aliran dalam siphon (m/detik) D : Diameter pipa siphon (m) c. Kehilangan Tekanan Kehilangan tekanan dalam siphon berperan dalam perencanaan siphon, dengan mengetahui kehilangan tekanan maka perbedaan ketinggian awal dan akhir saluran siphon dapat ditentukan dengan tepat.

Perencanaan Pipa Induk Air Limbah Kota Cirebon

Bab II- 27

SPAL Ekalida Manik; Jaja Suparta; Parwoto

Berikut persamaan untuk menentukan kehilangan tekanan: h = v2/2g (1+a+b.L/D) a = 1/v-1 b = 1,5 (0.019819+0.0005078) Keterangan: h : Kehilangan tekanan sepanjang siphon a : Koefisien kontraksi pada mulut dan belokan pipa b : Koefisien gaya gesek antar air dengan pipa L : Panjang pipa D : Diameter pipa Agar pengaliran berjalan lancar, elevasi awal siphon harus lebih tinggi dari elevasi akhir siphon. Tinggi yang dibutuhkan adalah headloss selama pengaliran yang berasal dari entrance loss, headloss sepanjang pipa dan headloss dibelokan. d. Inlet Chamber Inlet chamber berfungsi sebagai bangunan peralihan dari pipa air buangan yang sifat alirannya terbuka menuju pipa siphon yang sifat alirannya bertekanan, selain itu inlet chamber pun berfungsi untuk mendistribusikan air buangan ke dalam masing-masing pipa siphon sesuai dengan kondisi alirannya. Inlet chamber berbentuk bujur sangkar atau persegi panjang yang dilengkapi dengan unit pembagi aliran. Dimensi:

Perencanaan Pipa Induk Air Limbah Kota Cirebon

Bab II- 28

SPAL Ekalida Manik; Jaja Suparta; Parwoto

Lebar = diameter pipa air buangan + diameter pipa siphon aliran ratarata + diameter pipa siphon aliran max + 2. Panjangnya disesuaikan dengan panjang manhole. Ketinggiannya diatur sedemikian rupa sehingga tidak terjadi overflow ke dalam manhole di sampingnya.

e. Outlet chamber Fungsi outlet chamber adalah kebalikan dari inlet chamber. Bentuk dimensinya sama dengan inlet chamber hanya dilengkapi dengan sekat dan terjunan agar alirannya tidak kembali masuk ke pipa siphon lainnya. Dimensi sekat memiliki ketinggian yang disesuaikan dengan kedalaman alirannya sedangkan ketinggian terjunan dipertimbangkan terhadap kedalaman

penanaman pipa air buangan. f. Drain Untuk pembersihan pipa bagian dasar, diperlukan pipa drain yang menyalurkan kotorannya ke bak penampung yang terdapat dalam manhole, selanjutnya dipo mpa. Bentuknya berupa pipa horizontal yang dihubungkan dengan pipa siphon dan menggunakan Y connection serta dilengkapi

dengan valve. Diameternya sama dengan diameter pipa siphon. Tempat penyambungannya pada bagian sisi pipa siphon yang menurun. 11. Rumah pompa Stasiun pompa (liftpump station) diperlukan untuk : 12. Mengangkut air limbah dari tempat yang rendah ke tempat yang lebih tinggi. 13. Memberikan head yang cukup pada proses pengolahan.

Perencanaan Pipa Induk Air Limbah Kota Cirebon

Bab II- 29

SPAL Ekalida Manik; Jaja Suparta; Parwoto

14. Sumuran Pengumpul Sumuran pengumpul berfungsi untuk menampung debit rata-rata untuk suatu periode waktu, biasanya antara 10 30 menit. Dalam perencanaan periode waktu ini harus diperhitungkan sehingga tidka terjadi pembusukan. 15. Pompa Umunya dalam penyaluran air limbah dipakai dua jenis pompa, yaitu pompa sentrifugal dan pneumatic ejector. Pompa sentrifugal dapat digolongkan dalam : Axial flow pump (propeller) Mixed flow pump (angle) Radial flow pump (sentrifugal) Pompa sentrifugal biasanya mempunyai kecepatan spesifik yang rendah dan mempunyai efisiensi yang tinggi. Axial flow pump pada umumnya mempunyai kapasitas lebih besar dari 0,6 m3/dtk dengan head berkisar antara 3 7 m dan pemakaiannya yang umum adalah untuk penanggulangan banjir serta untuk keperluan irigasi. Sedangkan mixed flow pump mempunyai kapasitas yang leibh kecil dari axial flow pomp dengan head berkisar antara 7,6-10m. Untuk radial flow pump kapasitas hampir sama dengan axial flow pump.

Perencanaan Pipa Induk Air Limbah Kota Cirebon

Bab II- 30

Anda mungkin juga menyukai