Anda di halaman 1dari 2

Preseden arsitektur Preseden dalam bidang arsitektur diartikan sebagai alat analisis untuk melatih penciptaan keseimbangan antara

dua aspek arsitektur yaitu prinsip-prinsip desain yang pernah ada dan prinsip-prinsip desain baru/ inovasi. The work of the past always influence us, whether or not we care to admit it, or to structure an understanding of how that influence occurs - John E. Hancock, 1986 Diartikan sebagai sangat baik untuk mempelajari kebudayaan masa lalu untuk mengetahui berbagai nilai yang ditampilkan oleh arsitek masa lalu. Karya-karya arsitektur yang mengikuti tradisi ini perlu dipahami di dalam setiap penciptaan karya arsitektur. Tradisi dan sejarah dalam hal ini mengandung makna sebagai representasi dari nilai-nilai kemenerusan, sedangkan penciptaan karya baru sering diasosiasikan sebagai menampilkan kemodernan atau kebaruan atau inovasi. Oleh karena itu interaksi antara keduanya di dalam penciptaan karya arsitektur merupakan hal yang rumit/kompleks dan selalu menjadi area eksplorasi design exercise yang menarik. Penggunaan Preseden dalam arsitektur dapat dilakukan dengan dua alternatif yaitu 1. Penggunaan preseden yang didasarkan atas prinsip-prinsip desain (design principles) Arsitek di dalam merancang karya-karyanya mengolah fungsi, ruang dan karakter berdasarkan prinsip desain 2. Penggunaan preseden yang didasarkan atas prinsip-prinsip desain di dalam arsitektur tradisional yang ada dalam suatu setting masyarakat tertentu. dan menerapkan prinsipprinsip desain tersebut di dalam mengolah fungsi, ruang dan karakter Misalnya: Rumah Bali, Jawa, Minangkabau, dll. Peradaban masa lalu telah mewariskan banyak sekali karya arsitektur yang memiliki tingkat estetika dan kandungan makna yang tinggi. Karena itu, preseden-preseden dari masa lalu itu dapat diambil dan diterapkan dalam pembuatan bangunan modern. Tetapi dalam mengambil preseden, tak boleh hanya semata meniru yang akan berujung menjadi meniru bentuk bangunan, arsitek harus mendalami preseden yang ada. Harus pula memiliki pengetahuan akan anatomi bangunan, struktur dan konstruksi, tata ruang, nilainilai yang dikandung, kondisi sosial budaya masyarakat, hingga sejarah yang melatarbelakangi keberadaan sebuah preseden. Dengan begitu, ia akan memperoleh sebuah rancangan baru yang dapat dengan tepat menerapkan prinsip yang sesuai dengan bangunan modern. Analisis preseden meliputi Struktur: frekuensi, pola, kesederhanaan, keteraturan, kesembarangan, dan kerumitan kolom serta bidang bangunan. Dapat dipakai juga dalam menegaskan ruang, menciptakan unit-unit, menjelaskan sirkulasim menyatakan gerakan, memmbentuk komposisi dan modulasi

Cahaya Alamiah: cara bagaimana, dan lokasi dimana suatu cahaya terang memasuki suatu bangunan. Cahaya alamiah dapat memperkuat struktur, geometri, hieraki, da perhubungan unit ke keseluruhan dengan cara penyaringan(filtering), peniraian (screening), dan pemantulan, (reflecting) Pembentukan masa: konfigurasi tiga dimensi dari suatu bangunan.pembentukan masa lebih dari sekedar siluet, atau tampak bangunan. Pembentukan masa adalah gambaran perseptual suatu bangunan secara totalitas, persoalan-persoalan bangunan secara tiga dimensi. Denah ke potongan atau tampak: memulai dari denah, yang merupakan alat untuk mengorganisasikan kegiatan- kegiatan dan penghasil bentuk. Lalu dari denah dilanjutkan ke tampak/ potongan yang akan memperkuat gagasan gagasan pembentukan bangunan Sirkulasi ke ruang-pakai: ruang pakai adalah fokus utama pembuatan keputusan arsitektural nisbi terhadap fungsi, dan sirkulasi adalah alat dengan mana usaha perancangan dihubungkan bersama-sama, pengungkapan akan kondisi pergerakan dan kestabilan membentuk hakikat sebuah bangunan. Unit keseluruhan: suatu unit adalah suatu keberadaan yang dikenal merupakan bagian suatu bangunan.Bangunan dapat terdiri dari satu unit atau lebih. Dapat berupa keberadaankeberadaan resmi atau ruang yang bersesuaian dengan ruang-pakai, komponen struktural, pembentukan massa, volume atau kumpulan dari elemen ini. Perulangan ke unik: konsep-konsep ukuran, orientasi, lokasi, raut, konfigurasi, warna, bahan, dan textur. Simetri dan keseimbangan: keadaan seimbang baik dari segi perseptual maupun konseptual. Kesejajaran terhadap keseimbangan dari berat. Beberapa elemen sebuah bangunan harus setara dalam suatu cara yang dapat diketahui ke bagian lain ruangan tersebut. Geometri: grid-grid yang dikenal sebagai pengulangan geometri sebagai bentuk dari pelipatgandaan, kombinasi, pembagian-pembagian, dan manipulasi Penambahan dan pengurangan: ditambah atau dikurang agar bangunan dapat terbentuk dan menghasilkan bentuk bangunan yang dominan. (cara menonjolkan bangunan) Hieraki: perwujudan fisik dari penyusunan peringkat suatu atribut; seperti suatu peringkat dalam elemen-elemen bangunan yang menandakan perbedaan nilai kualitatif dalam bangunan