Anda di halaman 1dari 9

Mengembangkan Bahan Ajar dengan Menyusun

Modul
Oleh: N.A. Suprawoto

A. Pendahuluan
Salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh guru dalam rangka mengurangi
kejenuhan belajar pada peserta didik adalah dengan mengembangkan bahan
ajar kedalam berbagai bentuk bahan ajar, misalnya bahan ajar yang berupa
modul. Bahan ajar memiliki banyak ragam/bentuk. Salah satu bentuk bahan
ajar yang paling mudah dibuat oleh guru (karena tidak menuntut alat yang
mahal dan keterampilan yang tinggi) adalah bahan ajar dalam bentuk cetak,
misalnya modul.

Mengembangkan bahan ajar sudah selayaknya merupakan kemampuan yang


harus terus menerus ditingkatkan oleh setiap guru. Jika seorang guru tidak
memiliki kemampuan mengembangkan bahan ajar yang bervariasi maka
guru akan terjebak pada situasi pembelajaran yang monoton dan cenderung
membosankan bagi peserta didik.

B. Pengertian dan Ragam Bahan Ajar


a. Beberapa pengertian tentang bahan ajar

1. Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan oleh


guru/instruktur dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di
kelas. Bahan yang dimaksud bias berupa bahan tertulis atau bahan
tidak tertulis 1.

2. Bahan ajar merupakan informasi , alat dan/atau teks yang diperlukan


oleh guru untuk perencanaan dan penelaahan implementasi
pembelajaran.

3. Bahan ajar adalah seperangkat materi yang disusun secara sistematis


baik tertulis maupun tidak sehingga tercipta lingkungan/suasana yang
memungkinkan siswa untuk belajar.

b. Ragam bentuk bahan ajar

1. Bahan ajar dalam bentuk cetak; misalnya, lembar kerja siswa (LKS),
handout, buku, modul, brosur, leaflet, wllchart, dll.

2. Bahan ajar berbentuk audio visual; misalnya film/video dan VCD.


1
National Center for Vocational Education Research Ltd/National Center for Competency Based
Training.
Page 1 of 9
3. Bahan ajar berbentuk audio misalnya; kasset, radio, CD audio.

4. Visual misalnya; foto, gambar, model/maket.

5. Multi media misalnya; CD Interaktif, computer based learning, internet.

C. Pengertian Modul
Seperti telah dijelaskan di atas bahwa modul adalah salah satu bentuk bahan
ajar yang berupa bahan cetakan. Modul pembelajaran biasanya digunakan
dalam perkuliahan pada perguruan tinggi dengan pembelajaran jarak jauh
(bukan tatap muka). Ada beberapa pengertian tentang modul antara lain:

1. Modul adalah alat atau sarana pembelajaran yang berisi materi, metode,
batasan-batasan materi pembelajaran, petunjuk kegiatan belajar, latihan
dan cara mengevaluasi yang dirancang secara sistematis dan menarik
untuk mencapai kompetensi yang diharapkan dan dapat digunakan secara
mandiri.

2. Modul adalah alat pembelajaran yang disusun sesuai dengan kebutuhan


belajar pada mata kuliah tertentu untuk keperluan proses pembelajaran
tertentu, sebuah kompetensi atau sub kompetensi dikemas dalam satu
modul secara utuh (self contained), mampu membelajarkan diri sendiri
atau dapat digunakan untuk belajar secara mandiri (self instructional),
penggunaannya tidak tergantung dengan media lain (self alone),
memberikan kesempatan mahasiswa untuk berlatih dan memberikan
rangkuman, memberi kesempatan melakukan tes sendiri (self test) dan
mengakomodasi kesulitan mahasiswa dengan memberikan tindak lanjut
dan umpan balik.

Dengan memperhatikan kedua pengertian tentang modul di atas kita dapat


menyimpulkan bahwa modul adalah sarana pembelajaran dalam bentuk
tertulis/cetak yang disusun secara sistematis, memuat materi pembelajaran,
metode, tujuan pembelajaran berdasarkan kompetensi dasar atau indikator
pencapaian kompetensi, petunjuk kegiatan belajar mandiri (self instructional),
dan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menguji diri sendiri
melalui latihan yang disajikan dalam modul tersebut.

Modul memiliki sifat self contained artinya dikemas dalam satu kesatuan
yang utuh untuk mencapai kompetensi tertentu. Modul juga memiliki sifat
membantu dan mendorong pembacanya untuk mampu membelajarkan diri
sendiri (self instructional) dan tidak bergantung pada media lain (self alone)
dalam penggunaannya.

Page 2 of 9
D.Tujuan dan manfaat penyusunan modul

Tujuan penyusunan modul salah satunya adalah untuk menyediakan bahan


ajar yang sesuai dengan tuntutan kurikulum dengan mempertimbangkan
kebutuhan peserta didik, yakni bahan ajar yang sesuai dengan karakteristik
materi ajar dan karakteristik peserta didik serta setting atau latar belakang
lingkungan sosialnya.

Modul memiliki berbagai manfaat baik ditinjau dari kepentingan peserta didik
maupun dari kepentingan guru. Bagi peserta didik modul bermanfaat antara
lain;

(1) peserta didik memiliki kesempatan melatih diri belajar secara mandiri,
(2) belajar menjadi lebih menarik karena dapat dipelajari diluar kelas dan
diluar jam pembelajaran,
(3) berkesempatan mengekspresikan cara-cara belajar yang sesuai dengan
kemampuan dan minatnya,
(4) berkesempatan menguji kemampuan diri sendiri dengan mengerjakan
latihan yang disajikan dalam modul,
(5) mampu membelajarkan diri sendiri,
(6) mengembangkan kemampuan peserta didik dalam berinteraksi
langsung dengan lingkungan dan sumber belajar lainnya

Bagi guru, penyusunan modul bermanfaat karena;

(1) mengurangi ketergantungan terhadap ketersediaan buku teks,


(2) memperluas wawasan karena disusun dengan menggunakan berbagai
referensi, (3) menambah khasanah pengetahuan
dan pengalaman dalam menulis bahan ajar, (4) membangun
komunikasi yang efektif antara dirinya dengan peserta didik karena
pembelajaran tidak harus berjalan secara tatap muka,
(5) menambah angka kredit jika dikumpulkan menjadi buku dan
diterbitkan.

E. Prinsip-prinsip penyusunan modul pembelajaran

Sebagaimana bahan ajar yang lain, penyusunan modul hendaknya


memperhatikan berbagai prinsip yang membuat modul tersebut dapat
memenuhi tujuan penyusunannya. Prinsip yang harus dikembangkan antara
lain; (1) disusun dari materi yang mudah untuk memahami yang lebih sulit,
dan dari yang konkret untuk memahami yang semi konkret dan abstrak, (2)
menekankan pengulangan untuk memperkuat pemahaman, (3) umpan balik
yang positif akan memberikan penguatan terhadap peserta didik, (4)

Page 3 of 9
memotivasi adalah salah satu upaya yang dapat menentukan keberhasilan
belajar, (5) latihan dan tugas untuk menguji diri sendiri.

F. Alur Penyusunan Modul

Modul pada dasarnya adalah sarana pembelajaran yang memuat materi dan
cara-cara pembelajarannya. Oleh karena itu penyusunannya hendaknya
mengikuti cara-cara penyusunan perangkat pembelajaran pada umumnya.
Sebelum menyusun modul kita harus lebih dahulu melakukan identifikasi
terhadap kompetensi dasar yang akan dibelajarkan. Selain itu kita juga
melakukan identifikasi terhadap indikator-indikator pencapaian kompetensi
yang terdapat dalam silabus yang telah disusun. Alur penyusunan modul
dapat digambarkan sebagaimana bagan yang disajikan di bawah ini:

ALUR PENYUSUNAN MODUL

JUDUL MODUL
PEMBELAJARAN YANG BUKU-
AKAN DISUSUN BUKU
SUMBER /

Identifikasi Identifikasi
Kompetensi Indikator dan
dasar, Aspek
Materi
pembelajara
n, Kegiatan
pembelajara

Format PENYUSUNAN DRAFT


Penulisan MODUL

VALIDASI DAN FINALISASI


MODUL Page 4 of 9
Berdasarkan gambar bagan di atas kita dapat menyimpulkan bahwa
penyusunan sebuah modul pembelajaran diawali dengan urutan kegiatan
sebagai berikut:

1. Menetapkan judul modul yang akan kita susun.

2. Menyiapkan buku-buku sumber dan buku referensi lainnya.

3. Melakukan identifikasi terhadap kompetensi dasar, melakukan kajian


terhadap materi pembelajarannya, serta merancang bentuk kegiatan
pembelajaran yang sesuai.

4. Mengidentifikasi indikator pencapaian kompetensi dan merancang bentuk


dan jenis penilaian yang akan disajikan.

5. Merancang format penulisan modul.

6. Penyusunan draft modul

Setelah draft modul tersusun, kegiatan berikutnya yang tidak kalah penting
adalah melakukan validasi dan finalisasi terhadap draft modul tersebut.
Kegiatan ini sangat penting supaya modul yang disajikan (dibelajarkan)
kepada peserta didik benar-benar valid dari segi isi dan efektifitas modul
dalam mencapai kompetensi yang ditetapkan.

Kegiatan validasi ini antara lain dengan menguji apakah hubungan antara
tujuan mata pelajaran, standar kompetensi dan kompetensi dasar dengan
indikator telah sesuai. Kecuali itu kita juga harus menguji tingkat efektifitas
kegiatan belajar yang kita pilih mampu membantu siswa dalam mencapai
kompetensi minimal yang ditetapkan, serta mempertimbangkan
keterjangkauan tersedianya alat dan bahan kegiatan pembelajaran.

Dalam kegiatan finalisasi hal penting yang perlu diperhatikan adalah yang
berhubungan dengan bahasa (penulisan kalimat) dan tata letak (layout).
Penulisan kalimat dalam modul hendaknya menggunakan kalimat yang
sederhana dan mudah difahami. Kecuali itu kalimat harus dipola sedemikian
rupa sehingga menjadi komunikatif dan akrab bagi peserta didik. Penulisan
kalimat yang komunikatif berpengaruh terhadap minat belajar. Tata letak
yang baik akan menimbulkan daya tarik tersendiri terhadap minat belajar
peserta didik. Tata letak (layout) berhubungan dengan ilustrasi, ukuran huruf,
spasi, serta hal-hal lain yang berhubungan dengan penampilan modul secara
fisik. Ilustrasi sangat penting terutama yang dapat memperjelas pemahaman
siswa atas konsep materi yang dibelajarkan sehingga mengurangi
verbalisme. Konsistensi terhadap ukuran huruf dan jenis huruf juga akan
berpengaruh terhadap kenyamanan dalam membaca. Demikian pula halnya
Page 5 of 9
dengan spasi (ruang kosong) antar baris atau kata perlu dijaga
konsistensinya sehingga perbedaan antar bab, sub bab, serta bagian-bagian
lain dalam modul tidak membingungkan.

G.Format
Pada umumnya modul pembelajaran mengikuti format sebagai berikut:

Halaman judul

Halaman isi

Pokok bahasan

a. Pengantar

b. Standar Kompetensi

c. Kompetensi Dasar

d. Tujuan Pembelajaran

e. Kegiatan Belajar 1

(Judul Kegiatan Belajar / Sub Pokok Bahasan)

1) Uraian dan Contoh

a) Sub-sub Pokok Bahasan

b) Sub-sub Pokok Bahasan

c) Dan seterusnya………..

2) Latihan 1

a) Petunjuk

b) Soal latihan

3) Rangkuman 1

4) Tes Formatif 1

5) Umpan balik dan Tindak Lanjut

f. Kegiatan Belajar 2

Idem

g. Kegiatan Belajar 3
Page 6 of 9
Idem

h. Kunci Jawaban

1) Kunci Jawaban Tes Formatif 1

2) Kunci Jawaban Tes Formatif 2

3) Kunci Jawaban Tes Formatif 3

i. Daftar Pustaka

H.Pengisian Format
1. Halaman sampul paling tidak memuat judul pokok bahasan dan logo. Pada
halaman ini dapat juga ditambahkan beberapa hal misalnya nama penulis,
pertemuan keberapa, nama mata pelajaran, dan keterangan lain yang
dirasa sangat perlu sebagai informasi.

2. Pokok bahasan : Ditulis seperti tertulis pada Standar Kompetensi. Pada


mata pelajaran IPA kelas 5 Semester 1 misalnya, kita tulis “Makhluk hidup
dan Proses Kehidupan”.

3. Pengantar berisi tentang kedudukan modul dalam suatu mata pelajaran,


ruang lingkup materi modul, serta kaitan antar pokok bagasan dan sub-
sub pokok bahasan.

4. Kompetensi Dasar dikutip dari Standar Isi (Kurikulum). Satu kompetensi


dasar biasanya dirancang menjadi beberapa kegiatan belajar tergantung
pada keluasan dan kedalam materi.

5. Kompetensi Dasar dikutip dari Standar Isi (Kurikulum). Satu kompetensi


dasar biasanya dibuat untuk satu kegiatan belajar.

6. Tujuan Pembelajaran adalah rumusan ingkah laku gambaran tentang


kemampuan tertentu yang akan harus dicapai peserta didik setelah
menyelesaikan pengalaman belajar tertentu. Disamping meggunakan
rumusan tingkah laku yang jelas (menggunakan satu kata kerja yang
operasional dan spesifik), rumusan tujuan pembelajaran sekurang-
kurangnya memuat unsur audiens (A), behafiour (B), dan Content (C).
Akan lebih baik ditambah degree (D) baik kualitatif atau pun
kuantitatif. Rumusan tingkah laku dalam tujuan pembelajaran dapat
berhubungan dengan aspek kognitif, aspek afektif, atau aspek
psikomotorik.

Page 7 of 9
7. Kegiatan belajar. Dalam satu modul biasanya terdiri atas 1 – 3 kegiatan
belajar atau lebih sesuai dengan apa yang tercantum dalam silabus dan
RPP.

8. Judul kegiatan belajar ditulis secara singkat tetapi menggambarkan


keseluruhan isi materi pembelajaran. Dalam hal seperti pada contoh
nomor dua penjelasan ini kita dapat menuliskan judul misalnya; “Fungsi
Organ Tubuh Manusia dan Hewan”.

9. Urain dan Contoh. Pada bagian ini sebelum kita menuliskan uraian dan
contoh kita menuliskan judul dalam sub-sub unit kecil misalnya; “Organ
Pernafasan pada Manusia”. Uraian hendaknya dituliskan menggunakan
bahasa yang sederhana tetapi tidak mengurangi substansi materi.
Penulisan uraian disajikan dalam bentuk bertutur sehingga member kesan
seolah-olah penulis berada di depan pembacanya. Menyertakan contoh
secara lengkap dan jelas dalam uraian akan sangat membantu peserta
didik dalam memahami isi materi pembelajaran yang disajikan dalam
modul.

10.Latihan dalam modul merupakan alat untuk menguji diri sendiri bagi
peserta didik. Dengan mengerjakan tugas atau soal-soal dalam latihan,
peserta didik dapat mengukur seberapa besar kemampuannya menguasai
poko-pokok atau isi materi pembelajaran. Pada bagian ini hendaknya kita
menyertakan petunjuk-petunjuk yang praktis dan jelas. Butir-butir latihan
hendaknya menghidari sejauh mungkin bentuk pilihan ganda atau isian
singkat. Seluruh materi latihan dapat diambil langsung dari uraian dan
contoh, dapat juga sebagian diambil dari materi yang tidak tertulis pada
uraian dan contoh tetapi memiliki hubungan yang erat.

11.Pada bagian rangkuman kita menuliskan pokok-pokok materi yang telah


disajikan dalam uraian dan contoh.

12.Tes formatif pada modul dibuat bertujuan untuk mengukur kemajuan


belajar peserta didik dalam satu unit pembelajaran. Berbeda dengan
latihan, butir-butir tes formatif diberikan dalam bentuk tes objektif (benar-
salah, pilihan ganda, isian atau melengkapi kalimat, dan menjodohkan
atau memasangkan yang sesuai). Pemberian tes objektif memudahkan
siswa dalam melakukan pengukuran (member nilai) atas kemampuan diri
sendiri.

13.Umpan balik dan tindak lanjut. Kita perlu memberikan rumus yang dapat
digunakan untuk memaknai pencapaian hasil belajar peserta didik
sehingga dapat diberikan umpan balik dan tindak lanjut yang harus
dilakukan oleh peserta didik.

Page 8 of 9
14.Kunci jawaban diberikan (pada halaman yang berbeda) dengan maksud
agar peserta didik dapat mengukur kemampuan diri sendiri.

15.Daftar pustaka mencantumkan daftar kepustakaan yang dijadikan sumber


dalam penyusunan modul. Penulisan daftar pustaka menyantumkan nama
penulis buku (tanpa menuliskan gelar), judul buku (dicetak miring dan
digarisbawahi), kota tempat buku diterbitkan, nama penerbit, tahun
terbit, dan halaman.

I. Kesimpulan
Berdasarkan uraian diatas maka pada dasarnya menulis modul tidak terlalu
rumit. Sehingga sangat mungkin setiap guru dapat menyusun modul sebagai
pengembangan kemampuan profesinya dalam bidang pengembangan bahan
ajar. Selain itu, penggunaan modul dalam pembelajaran juga melatih peserta
didik berlatih belajar mandiri. Yang perlu diperhatikan dalam menyusun
modul adalah kecermatan dalam menyusun kalimat, sehingga modul yang
tersusun benar-benar komunikatif dan mudah digunakan sebagai panduan
belajar bagi peserta didik.

Kebumen, 17 Juni
2009

Page 9 of 9