Anda di halaman 1dari 8

PERAN GURU, DAHULU DAN SEKARANG

Oleh : Juni Panca Sari Harahap, S.Pd Widyaiswara P4TK Bidang Bangunan dan Listrik Medan

Di dalam masyarakat, guru adalah salah satu pekerjaan yang sudah lama dikenal dan tetap akan dibutuhkan. Terutama dalam masyarakat yang sudah semakin maju, yang ditandai sifat rasional dalam berkarya, yang

mengutamakan efisiensi, yang menuntut disiplin sosial yang tinggi terhadap warganya, yang semakin menuntut kemampuan kerjasama atau

berorganisasi dalam warganya dan yang menuntut warganya untuk menguasai ilmu dan teknologi untuk dapat meningkatkan ilmunya. Masyarakat modern semakin merasakan mutlaknya jasa guru. Dalam kondisi masyarakat modern jelas orang tua tidak mampu membimbing anak-anaknya dalam semua persiapan hidupnya. Mereka membutuhkan jasa orang lain untuk membantu persiapan itu. Di dalam masyarakat, guru adalah warga yang diinginkan sebagai pemberi inspirasi, penggerak, dan pelatih dalam penguasaan kecakapan tertentu bagi anak warga agar siap membangun hidup serta lingkungan sosialnya. Sehubungan dengan fungsinya sebagai pengajar, yang melakukan transfer of knowledge, tetapi juga sebagai pendidik, yang melakukan transfer of values, dan sekaligus sebagai pembimbing, yang memberikan pengarahan dan menuntun siswa dalam belajar, maka diperlukan adanya berbagai

peranan pada diri guru. Peranan guru ini akan senantiasa menggambarkan pola tingkah laku yang diharapkan dalam berbagai interaksinya, baik dengan siswa (yang terutama), sesama guru, maupun dengan staf yang lain. Dari berbagai kegiatan belajar mengajar, dapat dipandang sebagai sentral bagi peranannya. Sebab baik disadari atau tidak bahwa sebagian dari waktu dan perhatian guru banyak dicurahkan untuk menggarap proses belajar mengajar dan berinteraksi dengan siswanya. Ketika ilmu pengetahuan masih terbatas, ketika penemuan hasil-hasil teknologi belum berkembang hebat seperti sekarang ini, maka peran utama guru di sekolah adalah menyampaikan ilmu pengetahuan sebagai warisan kebudayaan masa lalu yang dianggap berguna sehingga harus dilestarikan. Dalam kondisi demikian guru berperan sebagai sumber belajar (learning resources) bagi siswa. Siswa akan belajar apa yang keluar dari mulut guru. Oleh karena itu, ada pepatah yang menyebutkan bagaimanapun pintarnya siswa, maka tidak mungkin dapat mengalahkan pintarnya guru. Apakah dalam kondisi yang demikian masih dapat dipertahankan? Apakah ilmu pengetahuan sebagai warisan masa lalu yang harus dikuasai itu hanya dapat dipelajari dari mulut guru? Tentu saja tidak. Dalam abad teknologi dan informasi ini siswa dapat mempelajarinya dari berbagai sumber. Namun demikian, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, guru dalam proses pembelajaran mempunyai peran yang sangat penting. Bagaimanapun hebatnya kemajuan teknologi, peran guru akan tetap diperlukan. Teknologi yang konon bisa memudahkan manusia mencari dan mendapatkan informasi dan pengetahuan, tidak mungkin dapat mengganti peran guru. Lalu apa peran guru dalam kondisi demikian? Apakah guru sebagai satu-satunya sumber belajar masih tetap relevan? Apakah ada peran lain yang dianggap

lebih penting? Bagaimana melaksanakan peran-peran tersebut agar proses pengajaran yang menjadi tanggung jawab lebih berhasil ? Ada beberapa pendapat yang menjelaskan beberapa peranan guru, seperti : 1. Prey Katz, menggambarkan peranan guru sebagai komunikator, sahabat yang dapat memberikan nasehat-nasehat, motivator sebagai pemberi inspirasi dan dorongan, pembimbing dalam pengembangan sikap dan tingkah laku serta nilai-nilai, orang yang menguasai bahan yang diajarkan. 2. Havighurst, menjelaskan bahwa peranan guru di sekolah sebagai pegawai (employee) dalam hubungan kedinasan, sebagai bawahan (subordinate) terhadap atasannya, sebagai kolega dalam hubungannya dengan teman sejawat, mediator dalam hubungannya dengan anak didik, sebagai pengatur disiplin, evaluator dan pengganti orang tua. 3. James W. Brown, mengemukakan bahwa tugas dan peranan guru antara lain : menguasai dan mengembangkan materi pelajaran, merencana dan mempersiapkan pelajaran sehari-hari, mengontrol dan mengevaluasi kegiatan siswa. 4. Federasi dan Organisasi Profesional Guru Sedunia, mengungkapkan bahwa peranan guru di sekolah, tidak hanya sebagai transmiter dari ide tetapi juga berperan sebagai transformer dan katalisator dari nilai dan sikap.

Organi sator

Evalua tor

Sumber Belajar Fasili tator

Motiva tor

Peran Guru

Mana jer

Media tor Inisia tor

Demon strator Infor mator

Trans miter

Dari gambar tersebut, disamping guru sebagai sumber belajar ternyata masih banyak peran yang harus dilaksanakan dalam upaya membelajarkan siswa. Setiap peran akan dijelaskan di bawah ini. 1. Guru sebagai sumber belajar Peran guru sebagai sumber belajar merupakan peran yang sangat penting. Peran sebagai sumber belajar berkaitan erat dengan penguasaan materi pelajaran. Kita bisa menilai baik tidaknya seseorang guru hanya dari penguasaan materi pelajaran. Dikatakan guru yang baik manakala ia dapat menguasai materi pelajaran dengan baik, sehingga benar-benar ia berperan sebagai sumber belajar bagi anak didiknya. Apapun yang ditanyakan siswa berkaitan dengan materi pelajaran yang sedang diajarkannya, ia akan bisa menjawab dengan penuh keyakinan.

Sebaliknya, dikatakan guru yang kurang baik manakala ia tidak paham tentang materi yang diajarkannya. Ketidakpahaman tentang materi

pelajaran biasanya ditunjukkan oleh prilaku-prilaku tertentu, misalnya teknik penyampaian materi pelajaran yang monoton, ia lebih sering duduk di kursi sambil membaca, suaranya lemah, tidak berani melakukan kontak mata dengan siswa, miskin dengan ilustrasi, dll. Prilaku guru yang demikian menyebabkan hilangnya kepercayaan pada diri siswa, sehingga guru akan sulit mengendalikan kelas. 2. Guru sebagai Fasilitator Sebagai fasilitator, guru berperan dalam memberikan pelayanan untuk memudahkan siswa dalam kegiatan proses pembelajaran. Sebelum proses pembelajaran dimulai sering guru bertanya : bagaimana caranya agar ia mudah menyajikan bahan pelajaran? Pertanyaan itu sekilas memang ada benarnya. Melalui usaha yang sungguh-sungguh, guru ingin agar ia mudah menyajikan bahan pelajaran dengan baik. Namun demikian, pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa proses pembelajaran berorientasi pada guru. Oleh sebab itu, akan lebih bagus manakala pertanyaan tersebut diarahkan pada siswa, sehingga pertanyaan tersebut mengandung makna kalau tujuan mengajar adalah mempermudah siswa belajar. Inilah hakikat peran fasilitator dalam proses pembelajaran. 3. Guru sebagai Manajer Sebagai pengelola pembelajaran (learning manajer), guru berperan menciptakan iklim belajar yang memungkinkan siswa belajar dengan nyaman. Melalui pengelolaan kelas yang baik guru dapat menjaga kelas agar tetap kondusif untuk terjadinya proses belajar seluruh siswa.Menurut Ivor. K .Devais, salah satu kecenderungan yang sering dilupakan adalah melupakan bahwa hakikat pembelajaran adalah belajarnya siswa bukan mengajarnya guru. Dalam melaksanakan pengelolaan pembelajaran ada

dua macam kegiatan yang harus dilakukan, yaitu mengelola sumber belajar dan melaksanakan peran sebagai sumber belajar itu sendiri. 4. Guru sebagai Demonstrator Yang dimaksud peran guru sebagai demonstrator adalah peran untuk mempertunjukkan kepada siswa segala sesuatu yang membuat siswa lebih mengerti dan memahami setiap pesan yang disampaikan. Ada dua konteks yaitu, pertama, sebagai demonstrator berarti guru menunjukkan sikap-sikap yang terpuji. Dalam setiap aspek kehidupan, guru merupakan sosok ideal bagi setiap siswa . Biasanya apa yang dilakukan guru akan menjadi acuan bagi siswa. Kedua, sebagai demonstrator guru harus dapat menunjukkan bagaimana caranya agar setiap materi pelajaran bisa lebih dipahami dan dihayati oleh setiap siswa. 5. Guru sebagai Informator Sebagai pelaksana cara mengajar informative, laboratorium, studi lapangan dan sumber informasi kegiatan akademik maupun umum. 6. Guru sebagai Inisiator Guru sebagai pencetus ide-ide dalam proses belajar. Merupakan ide-ide kreatif yang dapat dicontoh oleh anak didiknya. 7. Guru sebagai transmiter Dalam kegiatan belajar guru akan bertindak selaku penyebar kebijakan pendidikan dan pengetahuan. 8. Guru sebagai mediator Guru sebagai mediator dapat diartikan sebagai penengah dalam kegiatan belajar siswa. Misalnya menengahi atau memberi jalan keluar kemacetan

dalam kegiatan diskusi siswa. Mediator jg diartikan penyedia media. Yaitu bagaimana cara memakai dan menggorganisasikan penggunaan media. 9. Guru sebagai motivator Dalam proses pembelajaran, motivasi merupakan salah satu aspek dinamis yang sangat penting. Sering terjadi siswa yang kurang berprestasi bukan disebabkan kemampuannya yang kurang tetapi dikarenakan tidak adanya motivasi untuk belajar sehingga ia tidak berusaha mengerahkan segala kemampuannya. Dengan demikian, bisa dikatakan siswa yang berprestasi rendah belum tentu disebabkan oleh kemampuannya yang rendah pula, tetapi mungkin disebabkan oleh tidak adanya dorongan atau motivasi. 10. Guru sebagai organisator Guru sebagai organisator, pengelola kegiatan akademik, silabus, workshop, jadwal pelajaran dan lain-lain. Komponen-komponen yang berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar, semua diorganisasikan sedemikian rupa, sehingga dapat mencapai efektifitas dan efisiensi belajar dalam diri siswa. 11. Guru sebagai evaluator Sebagai evaluator, guru berperan untuk mengumpulkan data atau informasi tentang keberhasilan pembelajaran yang telah dilakukan. Terdapat dua fungsi dalam memerankan perannya sebagai evaluator. Pertama, untuk menentukan keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan atau menentukan keberhasilan siswa dalam menyerap materi kurikulum. Kedua, untuk menentukan keberhasilan guru dalam melaksanakan seluruh kegiatan yang telah diprogramkan.

Jadi sebenarnya guru memiliki peranan yang unik dan sangat kompleks di dalam proses belajar mengajar, dalam usahanya mengantarkan siswa ke taraf yang dicita-citakan.Dengan kata lain guru adalah salah satu komponen manusiawi dalam proses belajar mengajar, yang ikut berperan dalam usaha pembentukan sumber daya manusia yang potensial di bidang pembangunan. Oleh karena itu, guru yang merupakan salah satu unsur di bidang pendidikan harus berperan serta secara aktif dan menempatkan kedudukannya sebagai tenaga professional, sesuai dengan tuntutan masyarakat yang semakin berkembang. REFRENSI : AM,Sardiman.1986.Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar.Jakarta:PT.RAJA GRAFINDO PERKASA. Sanjaya, Wina.2008. Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi.Jakarta:Kencana Prenada Media Group Soetjipto.2004.Profesi Keguruan.Jakarta:PT.RINEKA CIPTA Sanjaya, Wina.2009.Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.Jakarta : Kencana Prenada Media Group. Sagala,Syaiful.2007.Konsep ALFABETA dan Makna Pembelajaran.Bandung:CV Guru dan Tenaga

Sagala, Syaiful.2009. Kemampuan Profesional Kependidikan.Bandung:CV ALFABETA