Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTEK LAPANGAN

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PURWOKERTO 2007

I.

PENDAHULUAN Banyak sekali nilai-nilai kejuangan Pangsar Jenderal Soedirman yang patut kita pelajari. Yang pertama adalah Soedirman sebagai Sang Ulama. Beliau memiliki sifat religi, memimpin dengan landasan iman dan takwa yang kuat. Kedua, Soedirman sebagai Sang Pendidik. Beliau memiliki sifat pendidik yang mendasarkan pada kemampuan intelektualitas. Ketiga, Soedirman sebagai Sang Demokrat. Beliau memiliki sifat demokrat yang tetap menghargai dan menghormati perbedaan pendapat tanpa harus memaksakan kehendak, serta berorientasi kepada kepentingan rakyat. Keempat, Soedirman sebagai Sang Prajurit. Beliau memliki sifat tegas, disiplin, memiliki keikhlasan dan kerelaan berkorban, berpegang teguh pada prinsi dan cita-cita, pantang menyerah dalam berjuang, mengutamakan kepentingan yang lebih besar daripada kepentingan pribadi/golongan, menjunjung tinggi nama dan kehormatan negara dalam rangka memperkokoh wawasan kebangsaan yang ber-Bhineka Tunggal Ika. Manfaat yang diperoleh dari praktek lapangan ke Monumen Panglima Besar Jenderal Soedirman mahasiswa lebih mengetahui bagaimana sosok seorang Panglima Besar Jenderal Soedirman dan perjuangan yang telah dilakukan beliau dalam berpartisipasi dalam proses memperoleh kemerdekaan dari tangan penjajah khususnya di daerah Banyumas. Praktek lapangan ini ditujukan untuk memenuhi tugas dan menambah pengetahuan serta pengalaman mahasiswa. Pada mata kuliah Jati Diri Unsoed, terdapat materi kuliah tentang Nilai Kejuangan Pangsar Soedirman. Agar kita lebih mendalami materi tersebut, kita perlu melakukan praktek lapangan ke Monumen Panglima Besar Jenderal Soedirman. Adapun tujuan yang dapat kita harapkan yaitu, pemilikan jati diri Unsoed oleh mahasiswa agar mahasiswa dapat benarbenar memahami, meresapi, menghayati serta dapat memberikan motivasi bagi mahsiswa dalam bertindak dan berfikir yang diilhami oleh nilai-nilai kejuangan Panglima Besar Jenderal Soedirman, yang akan lebih memperkokoh sikap dan perilaku akademik bagi kepentingan bangsa dan

negara, sehingga kelak akan menjadi sarjana pejuang yang tangguh, ulet dan berdedikasi tinggi. Dalam sebuah proses pembelajaran, kita mengenal beberapa metode pembelajaran, seperti kuliah, diskusi maupun praktek lapangan. Sebuah mata kuliah tidak hanya dilakukan dengan pemberian materi saja, untuk menunjang proses pembelajaran tersebut, kita perlu terjun langsung ke lapangan. Karena dengan menggunakan metode praktek lapangan proses pembelajaran akan lebih efektif. Jadi kita tidak hanya belajar dari teori saja, tapi kita bisa melihat secara langsung bagaimana perjuangan seorang Soedirman dalam membela tanah air danbangsa.

II.

GAMBARAN UMUM Monumen Panglima Besar Jenderal Soedirman terletak di Jalan Raya Kapten Pattimura Karanglewas Purwokerto sekitar 15 kilometer dari pusat kota Purwokerto. Monumen ini diapit oleh dua sungai yaitu sungai Logawa di sebelah barat dan sungai Apa di sebelah timur. Gedung monumen Panglima Besar Jenderal Soedirman berbentuk lingkaran bulat dengan diameter 16 meter dimana memiliki daya tampung 150 orang.. Di atas Gedung monumen tersebut terdapat sebuah patung Jenderal Soedirman yang sedang menunggang kuda. Patung tersebut terbuat dari perunggu dengan tinggi 4.5 meter dan berat 5.5 ton, dengan posisi wajah Jenderal Soedirman yang menghadap ke arah Timur. Jika kita melihat kuda yang dikendarai oleh Panglima Besar Jendral Soedrman, kita akan mendapat diskripsi tentang kuda yang tampak kuat dan berdiri kokoh. Kepala kuda dari patung tersebut menghadap ke arah barat. Jika kita perhatikan lebih cermat lagi, kita dapat melihat tali kuda yang digenggam erat dengan tangan kirinya Panglima Besar Jendral Soedirman. Cara pembuatan patung itu cukup rumit, bagian-bagian dari patung tersebut dibuat di Bandung oleh beberapa pembuat patung yang merupakan orang asli Banyumas tetapi menetap di Bandung. Proses perakitan daripada patung itu sendiri dilakukan di Purwokerto.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN Pemilihan tempat Monumen Panglima Besar Jenderal Soedirman yang berada di Jalan Raya Kapten Pattimura Karanglewas Purwokerto ini dikarenakan dahulu tempat ini merupakan tempat Panglima Besar Jenderal Soedirman menyusun konselidasi untuk melucuti senjata jepang di SMA 2. Gedung monumen Panglima Besar Jenderal Soedirman yang berbentuk lingkaran bulat ini dikarenakan bentuk lingkaran bulat tersebut memiliki makna bahwa bangsa Indonesia dengan kebulatan tekadnya siap mempertahankan kemerdekaan yang diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945. Di atas Gedung monumen tersebut terdapat sebuah patung Jenderal Soedirman yang sedang menunggang kuda. Keseluruhan monumen Panglima Besar Soedirman mengahadap ke arah Gunung Slamet melambangkan perjalanan dan hidup manusia dalam mencari kebahagiaan dunia dan akhirat. Dengan posisi wajah Jenderal Soedirman yang manajemen menghadap ke timur tersebut melambangkan bahwa Jenderal Soedirman taat pada pemerintah karena di Purwokerto merupakan pusat dan seni. pemerintahan rancang bangun tata kota Banyumas serta pusat pengetahuan Jika kita melihat kuda yang dikendarai oleh Panglima Besar Jendral Soedrman, kuda itu tampak kuat dan berdiri kokoh mendampingi pejuangan sang Soedirman. Hal ini menggambarkan jiwa TNI sebagai kekuatan utama dari bangsa Indonesia yang kuat dan setia. Kepala kuda dari patung tersebut menghadap ke arah barat, ini menggambarkan sifat religi karena barat melambangkan arah kiblat umat Islam yaitu kabah. Jika kita melihat tali kuda yang digenggam erat dengan tangan kiri ini melambangkan bahwa hal-hal yang negatif, maksiat, yang diumpamakan tangan kiri harus dikendalikan secara arif dan bijaksana. Di bawah patung tersebut terdapat dinding yang melingkar dan berukir relief mengenai perjalanan hidup dan perjuangan Jenderal Soedirman. Relief ini dibuat oleh pemahat Banyumas yaitu Riyadi A. S. , Koeswadi, Nur Ahmad Sadimin dan Syukur. Relief tersebut terbagi ke dalam lima bagian. Bagian pertama menggambarkan kehidupan Jenderal Soedirman

sejak lahir hingga remaja dan aktif dalam organisasi kepanduan milik gerakan Muhammadiyah yang terkenal dengan Hizboel Wathan (HW). Kelahiran HW diprakarsai oleh pendiri Muhammadiyah yaitu KH. Ahmad Dahlan yang didirikan pada tahun 1920 dengan nama Hizboel Wathan yang artinya pembela tanah air atau cinta tanah air. Selain itu, digambarkan pula bahwa Jenderal Soedirman merupakan salah satu anggota DPRD yang mewakili Kabupaten Cilacap di Karesidenan Banyumas pada masa pendudukan Jepang. Bagian kedua menggambarkan tentang tindakan nyata Jenderal Soedirman dalam merebut kemerdekaan. Hal ini dibuktikan dengan keikutsertaan beliau dalam Pasukan Pembela Tanah Air (PETA) bentukan Jepang yang pada saat itu masih menguasai Indonesia. Jenderal Soedirman mengikuti pendidikan Daidanco yang merupakan pendidikan untuk membentuk komandan batalyon yang sekarang ini sejajar dengan Letkol. Setelah lulus pendidikan tersebut, Jenderal Soedirman di tempatkan sebagai Daidanco di Kroya walaupun pendidikan formal yang dijalani beliau hanya sampai MULO yang sekarang setara dengan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, karena pada waktu itu Daidanco di Purwokerto adalah Muhammad Bachrun. Dalam relief ini juga dijelaskan tentang pelucutan senjata tentara jepang kepada pihak Indonesia oleh Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Pelucutan senjata ini adalah yang terbesar sepanjang sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pelucutan ini dilakukan tanpa adanya perlawanan dari pihak Jepang. Kemudian senjata yng didapat dari pihak Jepang tersebut disebarkan ke berbagai daerah yang sedang berjuang melawan penjajah dan belum memiliki senjata. Daerah tersebut sebagian besar berada di daerah Jawa Barat, antara lain Jakarta, Cirebon, Cianjur dan Karawang. Bagian ketiga menggambarkan mengenai perang fisik. Setelah kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Kemudian, Jenderal Soedirman membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) di Banyumas yang merupakan cikal bakal dari TNI. Selain itu, juga terdapat gambar udang yang mempunyai arti supit urang yang merupakan strategi yang dilancarkan

Jenderal Soedirman dalam melawan penjajah. Strategi supit urang ini sangat efektif dalam menumpas para penjajah. Kinerja dari supit urang ini adalah pertama-tama pasukan melebar kemudian menyempit setelah sampai di markas musuh, sehingga musuh terjebak di tengah, setelah itu pasukan dari belakang turut membantu yang di depan. Srategi ini sangat efektif untuk memukul mundur tentara Belanda dari Ambarawa. Bagian keempat menggambarkan Panglima Besar Jendral Soedirman memimpin perempuran rakyt semesta, atau yang dikenal dengan Permesta. Permesta ini dilakukan secara bergerilya dari hutan ke hutan, gunung ke gunung, dan lembah ke lembah. Taktik ini terbukti efektif, dan tentara musuh dibuat kwalahn denganya. Pada saat perang ini, sang Soedirman menderita penyakit paru-paru, sehingga dalam perjalananya beliau harus menggunakan tandu. Pada bagian keempat ini juga menjelaskan tentang perubahan BKR yang terbentuk tanggal 5 Oktober 1945 menjadi TKR pada tanggal 19 Oktober 1945, dan pengangkatan Soedirman sebagai Panglima TNI. Bagian kelima relief ini menggambarkan tentang masuknya jajaran kepolisian kedalam ABRI. Jadi dengan ini, komponen pertahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) lain Tentara Nasional Indonesia (TNI), kepolisian, Angkatan Darat (AD) dan Angkatan Laut (AL). Setelah kita membahas tentang bagian luar museum, maka kita selanjutnya akan membahas tentang bagian dalam museum yang isinya adalah foto-foto, tandu dari Pangsar Soedirman, dan patung kepala Jendral Soedirman. Adapun foto-fotonya yaitu sebagai berikut :

Sekolah Taman Kanak-Kanak Aisiah Cilacap tempat Pak Dirman pernah bersekolah disini.

Gedung Sekolah Lanjutan Pertama Negeri Cilacap Taman Siswa Tempat Pak Dirman menimba ilmu. Di seklah ini Pak Dirman tidak genap setahun karena sekolah tersebut ditutup dikarenakan kekurangan dana untuk biaya operasional.

Jenderal Soedirman sedang melakukan inspeksi terhadap anggota TRI yang bertugas mengawal pemulangan tentara Jepang pada April 1946.

Panglima Besar Jenderal Soedirman sedang melakukan inspeksi pasukan di komplek Candi Borobudur.

Panglima Besar Jenderal Soedirman meletakan karangan bunga pada tugu pahlawan kemerdekaan di Blitar pada Desember 1946.

Presiden Soekarno dan Panglima Besar Jenderal Soedirman menyambut kedatangan Douwes Dekker dari Belanda pada 3 Januari 1947.

Dikala suka dan duka Pak Dirman selalu berada di tengah-tengah anak buahnya.

Duplikat Tandu Jenderal Soedirman ketika memimpin perang gerilya.

Di atas tandu inilah Pak Dirman memimpin perang gerilya. Walaupun dalam keadaan sakit, Pak Dirman tetap memiliki semangat juang yang tinggi.

Sehingga menjadi nilai kejuangan Pangsar Soedirman yang patut diteladani yaitu Soedirman Sang Prajurit.

Sebagai orang yang taat beragama Pak Dirman bersama tokoh-tokoh dan masyarakat Jakarta menunaikan Shalat Idul Qurban. Nilai kejuangan beliau yang dapat kita teladani yaitu Soedirman Sang Mubhaliq.

Pangsar Jenderal Soedirman wafat pada tanggal 29 Januari 1950 dalam usia 34 tahun. Jenazah Almarhum Pangsar Jenderal Soedirman sedang diberangkatkan ke mesjid Agung Yogyakarta untuk dishalatkan.

Jasa-jasa Jenderal Soedirman selama perjuangan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan yang terkenal diantaranya : Berhasil meluciti senjata Jepang dalam jumlah sangat besar di Banyumas tanpa pertumpahan darah. Berhasil mengkoordinir penyerangan terhadap Sekutu sehingga musuh meniggalkan Ambarawa dan lari ke Semarang. Memimpin perang Rakyat Semesta (Perang Gerilya) dengan satu paruparu dari atas tandu sampai perang Kemerdekaan selesai dengan gemilang dan menjadi kebanggaan seluruh Bangsa Indonesi. Sebagai penghargaan atas jasa-jasa beliau dalam perjuangan dan pengorbanan nya terhadap bangsa dan Negara, Pemerintah Republik Indonesia menganugrahkan penghormatan berupa tanda jasa/pengorbanaan Negara yang meliputi: 1. Bintang R.I. Tingkat I 2. Bintang R.I. Tingkat II 3. Bintang Gerilya 4. Bintang Mahaputra Adipurna 5. Bintang Sakti 6. Bintang Yudha Dharma Tingkat I 7. Bintang Eka Kartika Pakci Tingkat I 8. Satya Lencana Perang Kemerdekaan ke I 9. Satya Lencana Perang Kemerdekaan ke II

IV. KESIMPULAN Dari praktek lapangan yang dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 18 Nopember 2006, kita dapat menarik kesimpulan bahwa perlunya kunjungan langsung ke museum-museum bersejarah bagi para mahasiswa, agar para mahasiswa sebagai generasi muda tahu bagaimana perjuangan para pendahulunya, bagaimana perjuangan yang begitu hebat, pantang menyerah, rela berkorban, dan cinta yanah air pantas dijadikan sebagai suri teladan bagi mahasiswa dalam bersikap dan bertindak sebagai seorang anggota sivitas akademik, anggota masyarakat, dan sebagai warga Negara Indonesia. Kelemahan dan kekurangan kita bukanlah sebagai hambatan untuk meraih tujuan dan cita-cita, justru sebaliknya, bahwa kekurangan atau kelemahan kita harus dijadikan motivasi bagi diri kita agar lebih baik. Hal ini ditunjukkan pada sosok Panglima Besar Jendral Soedirman yang walaupunmenderita penyakit paru-paru yang kritis, tapi beliau masih turut ikut berjuang merebut kemerdekaan Bangsa Indonesia. Kita sebagai mahasiswa yang nantinya akan terjun dalam kehidupan bermasyarakat, maka kita dalam upaya mencapai tujuan jangan kita hanya mengejar satu aspek tertentu saja, karena pada hakekatnya kita adalah makhluk monopluralis. Panglima Besar Jendral Soedirman dalam hidupnya, beliau tidak hanya mengejar cita-cita dan tujuanya, yaitu Indonesia merdeka, tapi juga aspek religi dan sosialnya juga. Dalam kunjungan kemuseum yang kita laksanakan kemarin, kita juga dapat mengambil nili positif lainya, bahwa untuk menjadi pemimpin kita jangan hanya bias memerintah saja, tapi juga harus mampu memberi motivasi, dorongan, contoh bagi pengikut kita. Kita harus menempatkan kepentingan nasional diatas kepentingan pribadi/golongan. Kita juga menjadi tahu tentang bagaimana peran serta TNI kita sebagai kekuatan nasional kita yang dulu dengan gigihnya berjuang bagi bangsa.