Anda di halaman 1dari 3

Filter Mangan Zeolit dan Karbon Aktif

Membersihkan dan Menyehatkan Air


Franz Pagono, Yustinus Ade Ozon, Mei 2000, Rubrik Teknologi Lingkungan BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) berhasil menerapkan Filter Mangan Zeolit dan Karbon Aktif untuk membersihkan dan menyehatkan air. Dengan teknologi yang relatif murah, mudah dan sederhana ini, tidak perlu khawatir dengan air yang dikomumsi.

MENGINGINKAN kualitas air yang bersih dan sehat seperti kota - kota besar yang rentan dengan polusi, agaknya sudah menjadi kebutuhan mendasar manusia. Simak saja keluhan Wati yang pusing tujuh keliling karena air sumurnya berubah warna menjadi keruh kekuning - kuningan dan berbau tak sedap. Padahal air tersebut digunakan untuk minum, masak dan mandi. Lain lagi dengan Yanti. Ibu ini terpaksa harus menguras kamar mandi dua hari sekali. Lumut dan bercak - bercak coklat yang melekat di dinding bak mandi menjadi momok yang mengganggu. Pakaian cucianpun berwarna coklat. Kondisi air yang demikian jelas mengganggu dan membahayakan bagi kesehatan bila digunakan secara terus menerus dikosumsi menjadi air minum. Kita tidak tahu bagaimana mengatasinya. Tak jarang di jumpai kualitas air tanah dan air sungai yang di kosumsi masyarakat kurang memenuhi standar sebagai air minum yang sehat. Bahkan di beberapa tempat tak layak minum. Pemakai air minum yang tidak memenuhi standar kualitas tersebut tertentu saja berdampak buruk bagi kesehatan. Khususnya air tanah. Air tanah sering mengandung zat besi (Fe) dan Mangan (Mn) yang cukup besar kandungan Fe dan Mn itu seringkali mengubah warna air yang sebetulnya bening menjadi coklat kekuning - kuningan.

Nah, ini barangkali satu alternatif untuk mendapatkan kualitas air sehat dan layak minum. Caranya? Berdasarkan penemuan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), kini air tawar yang kurang bersih dapat diefesienkan dengan teknologi Filter Mangan Zeolit dan Karbon Aktif. Air yang kotor sekalipun menjadi bersih, tidak bau apalagi berwarna coklat kekuning - kuningan. Tidak hanya itu, air telah melewati proses pengolahan alat ini basi langsung diminum tanpa masak terlebih dahulu. Sebuah langkah maju memang, karena tehnik pengolahan PDAM yang dipraktekan sampai kini masih diragukan. Proses kerjannya cukup sederhana dan tidak ruwet. Air baku cukup di pompa ke bak penampungan kemudian dari filter penampung, air dialirkan keFilter Mangan Zeolit untuk menyaring atau menghilangkan zat besi yang tekandung dalam air. Selain itu, menghilangkan padatan secara tersuspensi. Sesuadah itu, air dari filter ini dialirkan ke Filter Karbon Aktif guna menghilangkan kandungan zat organik, bau serta polutan mikro lainya. Setelah melalui proses tersebut di atas, air dialirkan ke Filter Cartidge. Filter inilah yang bertugas mengolah air menjadi jernih. Untuk mematikan atau membunuh mikro organisme patogen, air dari filter dialirkan ke stelisator ultra violet. Hasilnya? Sangat menajubkan karena air bisa langsung di minum. Adapun sistem pengolahan air ini yang tertolong mudah dan sederhana ini, harganya tak kurang dari 2 - 2,5 juta Rupiah. Bagi mereka yang berkantong tebal harga segitu tentunya tidak seberapa. Prosesnya tidak memerlukan energi yang besar karena alat ini berkerja dengan sistem grafitasi dan hanya memerlukan energi listrik sekitar 30 watt untuk lampu disenfeksi ultra violet. Menurut Nusa Idaman said, Ketua Pengolahan Limbah cair BPPT, alat ini sebenarnya bisa dibuat sendiri dengan bahan yang sederhana dan murah. Untuk membuat mangna zeolit atau filter karbon aktif, bisa saja menggunakan bahan sesuai dengan material yang ada seperti pipa besi, pipa PVC. Misalnya untuk pembuatan filter bahannya bisa berupa pipa PVC.

Pipa PVC 8 dipotong dengan panjang 1 - 1,2 meter. Pada salah satu sisi sama dari pipa tersebut dilubangi dengan diameter 3 inci untukmembuang CO-nya. Usaha agar jarak pusat lubang 15 cm dari ujung - ujung pipa. Selanjutnya dibuat satu buah lubang masing - masing 10 cm dari ujung pipa bagian bawah, diameter lubang kurang lebih 1

inci. Lubang ini dipasang Fiting untuk pipa air olahan dan saringan (strainer) di bagian bawahnya.

Co dipasang pada lubang yang telah di buat kemudian dilas dengan menggunakan las PVC agar tidak bocor. salah satu Dop (tutup) PVC 8 dilubangi pada bagian tengah dengan diameter 3/4 ", kemudian dipasang sock drat luar dan sock drat dalam, kemudian dilas dengan las PVC untuk menahan tekanan pompa. Dop dipasang di bagian atas filter dan berfungsi sebagi tempat memasang sarang atas. Setelah pemasangan CO dan saringan bagian bawah pada piapa Filter 8" selesai, dilanjuakan dengan memasang dop bawah. Untuk dop bawah dipilih bentuk yang rata agar filter dapat berdiri leluasa. Caranya, dengan menggunakan lem PVC dan sesudah kering dilas untuk menahan tekanan pompa. Kemudian, dilanjutkan dengan memasang Dop atas yang dilengkapi dengan sarang (srainer). Begitu semua selesai , giliran pemasangan kran -kran pengaturan aliran masuk, aliran keluar dan kran untuk pencucian balik (Back Wash). untuk filter tunggal pemasangan perpipa dan kran pengatur dilakukan seperti pada gambar. sebenarnya, produk ini bukanlah barang baru karena sudah menjdai public domain. Hanya saja harganya cukup tinggi sehingga sulit terjankau oleh kelas menengah kebawah. Saat ini, BPPT mengembangkan dan mengaplikasikan alat tersebut dari segi prosesnya. Prinsip kerjanya sama, namun bentuk yang lebih sederhana. Dengan bentuk yang lebih sederhana, harganya relatif lebih murah. Untuk mensosialisasikannya, Direktorat Teknologi Lingkungan mengadakan pelatihan pelatihan ke daerah. Antara lain, sudah pernah dilakukan di Riau dan Kalimantan. Alat ini telah digunakan juga dirumah tangga, pesantren. Menurut Nusa Idaman, hasilnya memuaskan. Bahkan, beberapa perguruan tinggi berniat mengembangkan alat ini. Tujuannya tidak lain adalah mengembangkan teknologi bersih lingkungan yang mudah diopersikan. Kita harapkan Direktorat Teknologi Lingkungan BPPT terus mengembangkan dan mengaplikasikan produk ramah lingkungan yang merakyat.

http://kelair.bppt.go.id/Berita/Data/oz0500.htm