Anda di halaman 1dari 3

REFLEKSI KASUS STASE BEDAH Nama : NIM : RSUD : Panembahan Senopati Bantul

1. Pengalaman OS datang ke poli bedah dengan keluhan terdapat benjolan pada leher sebelah kiri sejak sekitar 10 tahun yang lalu. Benjolan tersebut pada awalnya dirasa kecil yang kemudian membesar secara perlahan. OS mengeluhkan agak seret saat makan. Pasien ini didiagnosa menderita struma nodusa non toksik dan direncanakan operasi lubektomi 2. Masalah yang dikaji Apa saja etiologi dari struma nodusa non toksik? Bagaimana penatalaksanaannya? 3. Analisa Kritis Struma adalah pembesaran pada kelenjar tiroid yang biasanya terjadi karena folikel-folikel terisi koloid secara berlebih. Setelah bertahun-tahun, sebagian folikel tumbuh semakin besar dengan membentuk kista dan kelenjar tersebut menjadi noduler. Struma nodosa non toksik adalah pembesaran kelenjar tiroid yang secara klinik teraba nodul satu atau lebih tanpa disertai tanda-tanda hipertiroidisme. Adanya gangguan fungsional dalam pembentukan hormon tiroid merupakan faktor penyebab pembesaran kelenjar tiroid, antara lain : 1. Defisiensi iodium Pada umumnya, penderita penyakit struma sering terdapat di daerah yang kondisi air minum dan tanahnya kurang mengandung iodium, misalnya daerah pegunungan. 2. Kelainan metabolik kongenital yang menghambat sintesis hormon tiroid a. Penghambatan sintesis hormon oleh zat kimia (seperti substansi dalam kol, lobak, kacang kedelai) b. c. Penghambatan sintesis hormon oleh obat-obatan Hiperplasi dan involusi kelenjar tiroid Pada umumnya ditemui pada masa pertumbuhan, pubertas, menstruasi, kehamilan, laktasi, menopause, infeksi, dan stress lainnya. Ada beberapa makanan yang mengandung substansi goitrogenik yakni makanan yang mengandung sejenis propiltiourasil yang mempunyai aktifitas antitiroid sehingga juga menyebabkan pembesaran kelenjar tiroid akibat rangsangan TSH. Beberapa bahan goitrogenik ditemukan pada beberapa varietas lobak dan kubis. Iodium merupakan semua bahan utama yang dibutuhkan tubuh

untuk pembentukan hormon tiroid. Bahan yang mengandung iodium diserap oleh usus, masuk ke dalam sirkulasi darah, dan ditangkap paling banyak oleh kelenjar tiroid. Dalam kelenjar, iodium dioksida menjadi bentuk yang aktif yang distimulasi oleh Tiroid Stimulating Hormon (TSH) kemudian disatukan menjadi molekul tiroksin yang terjadi pada fase sel koloid. Senyawa yang terbentuk dalam molekul diiodotironin membentuk tiroksin (T4) dan triiodotironin (T3). T4 menunjukkan pengaturan umpan balik negatif dari sekresi TSH dan bekerja langsung pada tirotropihypofisis, sedangkan T3 merupakan hormon metabolik tidak aktif. Beberapa obat dan keadaan dapat mempengaruhi sintesis, pelepasan, dan metabolisme tiroid sekaligus menghambat sintesis tiroksin dan melalui rangsangan umpan balik negatif meningkatkan pelepasan TSH oleh kelenjar hypofisis. Keadaan inilah yang menyebabkan pembesaran kelenjar tiroid. Pilihan terapi nodul tiroid : 1. Terapi Terapi supresi dengan hormon levotiroksin 2. Pembedahan 3. Iodium radioaktif 4. Suntikan etanol 5. US Guided Laser Therapy 6. Observasi, bila hasil PA menunjukkan nodul tidak ganas

Indikasi operasi pada struma adalah : 1. Struma difus toksik yang gagal dengan terapi medikamentosa 2. Struma uni atau multinodosa dengan kemungkinan keganasan 3. Struma dengan gangguan tekanan 4. Kosmetik

4. Dokumentasi Identitas Nama Usia Alamat Pekerjaan Agama Nomor RM Kondisi Umum : Ny S S : 51 tahun : Ngibikan Garden jetis Bantul : Swasta : Islam : 480910 : Baik, sadar, tidak tampak anemis.

Vital Sign

: TD : 110/80 mmHg N : 80 x/menit

RR : 20 x/menit T : 36,1 C

Laboratorium : (Darah Lengkap) Hb AL AE AT Segmen Ureum Kreatinin Cl K Na HbsAg T4 TSH 5. Referensi Pierce dan Neil. 2007. At a Glance Ilmu Bedah. Ed : 3. Jakarta : Penerbit Erlangga. Price dan Wilson. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Ed: Ke-6. Jakarta: EGC. Schwartz, Shires&Spencer. Intisari Prinsip-prinsip Ilmu Bedah. Edisi6. Cetakan pertama. Jakarta : penerbit buku kedokteran EGC.20004. Sjamsuhidajat, R dan de Jong, Wim. 2011. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC : 12,8 : 7,6 : 4,34 : 237 : 73 : 29 : 0,6 : 106,8 : 3,79 : 140,3 : Negatip : 7,2 : 0,438

Dokter Pembimbing Refleksi

(dr. Gunawan Siswadi, Sp.B)