Anda di halaman 1dari 3

REFLEKSI KASUS STASE OBSTETRI GINEKOLOGI Nama : Fitrina Noor F.P.

NIM : 20080310181 RSUD : Panembahan Senopati Bantul

1. Pengalaman Pasien datang sadar dengan keluhan nyeri perut kanan bawah sejak 2 hari yang lalu, nyeri perut awalnya muncul di daerah ulu hati kemudian dirasakan menjalar ke kanan bawah. Nyeri ini dirasakan seperti tertusuk-tusuk dan terus menerus. Nyeri semakin memberat saat perut ditekan dan bila pasien bergerak sehingga pasien tidak dapat beraktivitas seperti biasanya. BAK dan BAB dikatakan normal oleh pasien. Pasien tidak mengeluh pusing (-), demam (-), mual (-), dan muntah (-). Dari hasi pemeriksaan fisik terdapat nyeri tekan pada titik Mc Burney (+), terdapat nyeri lepas tekan (+), defans musculer (), Rovsing Sign (+), psoas sign (+) dan obturator sign (+). Hepar dan lien tidak teraba. Pasien ini didiagnosa appendicitis akut. 2. Masalah yang dikaji Apa saja etiologi dari abortus inkomplitus ? Bagaimana patofisiologi appendicitis akut? 3. Analisa Kritis Appendisitis adalah peradangan pada appendiks vermiformis dan merupakan penyebab pembedahan abdomen akut yang paling sering (Mansjoer, 2000). Apendisitis akut dapat disebabkan oleh beberapa sebab terjadinya proses radang bakteria yang dicetuskan oleh beberapa faktor pencetus diantaranya: Peranan Lingkungan (diet dan higiene), peranan obstruksi, preanan flora bacterial, kecenderungan

familiar. Gejala awal yang merupakan gejala klasik apendicitis adalah nyeri samar-samar dan tumpul di daerah epigastrium di sekitar umbilikus atau periumbilikus. Keluhan ini sering disertai rasa mual dan kadang ada muntah. Pada umumnya nafsu makan menurun. Kemudian dalam beberapa jam, nyeri akan berpindah ke kuadran kanan bawah, ke titik Mc Burney. Di titik ini nyeri terasa lebih tajam dan jelas letaknya, sehingga merupakan nyeri somatik setempat. Namun terkadang tidak dirasakan nyeri di daerah epigastrium,tetapi terdapat konstipasi sehingga penderita merasa memerlukan obat pencahar. Tindakan ini dianggap berbahaya karena bisa mempermudah terjadinya perforasi. Bila terdapat rangsangan peritoneum, biasanya penderitamengeluh sakit perut bila berjalan atau batuk. Appendisitis juga dapat disertai dengan demam ringan, dengan suhu sekitar 37,5 - 38,5C. Timbulnya gejala peradangan apendiks tergantung dari letak apendiksnya. Bila letak apendiks retrosekal retroperitoneal, yaitu di belakang sekum (terlindung oleh caecum), tanda nyeri perut kanan bawah tidak begitu jelas dan tidak ada tanda rangsangan peritoneal. Rasa nyeri lebih kearah perut kanan atau nyeri timbul pada saat melakukan gerakan seperti berjalan, bernapas dalam, batuk, dan mengedan. Nyeri ini timbul karena adanya kontraksi

m.psoas mayor yang menegang dari dorsal. Bila apendiks terletak dirongga pelvis dan terletak di dekat atau menempel pada rektum, akan timbul gejala dan rangsangan sigmoid atau rektum, sehingga peristaltik meningkat, pengosongan rektum akan menjadi lebih cepat dan berulang-ulang. Jika apendiks terletak di dekat atau menempel pada kandung kemih, dapat terjadi peningkatan frekuensi kemih, karena rangsangan dindingnya. Bila diagnosis klinis sudah jelas maka tindakan paling tepat adalah apendiktomi dan merupakan satu-satunya pilihan yang baik. Penundaan tindak bedah sambil pemberian antibiotik dapat mengakibatkan abses atau perforasi. Apendiktomi bisa dilakukan secara terbuka atau pun dengan cara laporoskopi. Pada apendisitis tanpa komplikasi biasanya tidak perlu diberikan antibiotik, kecuali pada apendisitis gangrenosa atau apendisitis perforata (Syamsuhidajat, 2011). 4. Dokumentasi A. IDENTITAS PASIEN Nama Umur Agama Alamat : Nn.R : 23 tahun : Islam : Bantul

Pekerjaan : Karyawan Tanggal masuk : 1 Oktober 2012

B. PEMERIKSAAN FISIK (Tanggal 01 Oktober 2012) Pemeriksaan Umum Keadaan Umum Kesadaran Keadaan Gizi Tekanan darah Nadi : tampak kesakitan : composmentis : Baik. : 110/70 mmHg : 64 kali/menit RR Suhu : 36.8oC : 24 kali/menit

USG Ren dextra: calices tak melebar, tak tampak batu Appendix: lumen normal, dinding lumen melebar, dinding menebal. Vesica urinaria: dinding mucosa tak menebal, tak tampak batu Uterus: echostruktur dan ukuran normal Kesan: menyokong appendisitis

5. Referensi Pierce dan Neil. 2007. At a Glance Ilmu Bedah. Ed : 3. Jakarta : Penerbit Erlangga. Price dan Wilson. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Ed: Ke-6. Jakarta: EGC. Schwartz, Shires&Spencer. Intisari Prinsip-prinsip Ilmu Bedah. Edisi6. Cetakan pertama. Jakarta : penerbit buku kedokteran EGC.20004. Sjamsuhidajat, R dan de Jong, Wim. 2011. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC Widjaja, I. Harjadi. 2008. Anatomi abdomen. Jakarta: EGC

Dokter Pembimbing Refleksi

(dr. Gunawan Siswadi, Sp.B)