Anda di halaman 1dari 10

I.

PENDAHULUAN Mahasiswa kini tidak hanya belajar dari sumber-sumber yang mereka dapatkan dari kuliah saja, tetapi mahasiswa diharapkan dapat langsung ke lapangan untuk lebih memahami apa yang mereka kerjakan. Maka dari itu untuk menambah kemampuan dan ketrampilan mahasiswa dalam materi yang diajarkan khususnya pada Blok CHEM 1 ini maka diadakanlah praktek lapangan. Praktek lapangan diadakan beberapa kali oleh masing-masing kelompok dengan lokasi yang berbeda-beda, diantaranya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Gunung Tugel, kawasan sekitar Rumah Sakit Umum Margono Soekarjo (RSMS), Industri Tempe di Desa Pliken, Terminal Purwokerto, Puskesmas Purwokerto Utara I, dan Pasar Wage. Tujuan utama dari praktek lapangan Blok CHEM 1 adalah agar mahasiswa dapat mengidentifikasi sumber-sumber agent lingkungan yang terdapat di lingkungan mereka sehari-hari. Walaupun tujuan utamanya adalah mengidentifikasi agent-agent liingkungan, mahasiswa diharapkan dapat pula megidentifikasi dan menjelaskan secara ringkas dan sederhana media transmisi agent lingkungan yang teridentifikasi, serta pintu masuk ( port de entry) agent lingkungan tersebut ke dalam tubuh manusia serta akibat-akibat yang ditimbulkan oleh agent lingkungan tersebut dalam tubuh manusia. Praktek lapangan Blok CHEM 1 kali ini jelaslah sangat bermanfaat bagi mahasiswa pada umumnya. Mahasiswa dapat memahami apa yang menjadi tujuan dari praktek tersebut. Mahasiswa menjadi paham akan agent-agent lingkungan, wahana transmisinya, population at risknya, serta akibat- akibat yang ditimbulkannya. Selain itu mahasiswa juga dapat lebih mengenal lingkungan sekitarnya dan diharapkan timbul kesadaran diri untuk lebih menjaga kebersihan lingkungannya masing-masing agar terhindar dari paparan agent-agent lingkungan yang ada di sekitarnya.

II.

GAMBARAN UMUM Pasar wage merupakan pasar yang terletak di sekitar dan merupakan pasar terbesar di kawasan Purwokerto. Luas pasar wage adalah sekitar kurang lebih. Terdapat dua lantai di pasar wage. Lantai pertama yang pada umumnya merupakan penjual makanan kecil, daging, presto, ayam maupun barang rumah tangga yang terbuat dari plastik. Sedangkan di lantai dua kebanyakan pedagang berjualan sayuran dan beberapa jenis makanan seperti bakso dan soto. Secara umum kondisi Pasar Wage kurang terjaga kebersihannya. Di lantai dua banyak tumpukan sampah baik sampah organik seperti sayur yang sudah busuk maupun sampah anorganik seperti plastik hampir terdapat di setiap sudut ruangan. Sedangkan di lantai pertama, sampah bahkan dibiarkan tercecer begitu saja. Walaupun sudah disediakan tempat pembuangan sampah di Pasar Wage yang terletak di sebelah Pasar Wage, namun kelihatan upaya tersebut kurang berfungsi secara optimal. Di lantai pertama Pasar Wage, banyak kendaraan berlalu lalang melewati jalan setapak yang seharusnya di lewati oleh para pejalan kaki yang ingin membeli barang belanjaan. Padahal, banyak makanan-makanan basah yang tidak tertutup seperti ikan laut dan daging yang dijual disekitar tempat tersebut. Bahkan, tidak jarang penjual memakan bekal makanan yang dibawanya di sekitar tempat tersebut dan tidak peduli walaupun sebelahnya adalah sampah dan banyak kepulan asap kendaraan bermotor dan asap rokok yang berlalu lalang di tempat tersebut. Padahal, banyak kandungan bahan kimia yang terdapat dalam asap kendaraan bermotor dan asap rokok yang dapat sebagian besar dapat menimbulkan gangguan kesehatan. Selain itu, beberapa orang penjual menjual sayuran, daging, dan ayam yang masih hidup pada tempat yang berdekatan dan berada dibawah. Bahkan, hampir sebagian besar penjual makanan yang ada, seperti daging tidak pernah menutup dagangannya sehingga sering dihinggapi oleh lalat maupun vektor lain yang dapat menimbulkan jenis penyakit tertentu.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

NO. 1

SUMBER Asap kendaraan bermotor

JENIS AGENT NO2, SO2, HC

CARA TRANSMISI

DAMPAK iritasi pada saluran pernapasan, sakit kepala, kelelahan, kepeningan, keadaan mengantuk, atau kemuakan, anemia, penurunan kadar mental, gangguan fungsi syaraf kanker paru, bronkhitis kronik, kanker mulut, tenggorok, pankreas, kandung kencing, penyakit jantung, stroke dan gangguan janin. karsinogenik, kanker kulit seperti basalioma, kulit terbakar, dan mutasi gen menjadi tempat perkembangbiakan mikroorgsnisme menimbulkan pencemaran lingkungan, diare, kolera, dll.

Pb, CO / CO2, inhalasi, oral

Asap rokok

CO, NO, tar inhalasi nikotin

Sinar Matahari

Sinar UV

dermal

Sampah organik

Plasmodium, virus. Spora, jamur, bakteri, cacing, amoniak, H2S

dermal

Sampah anorganik

Inhalasi Dermal Ingesti

Pembahasan 1. Asap kendaraan bermotor

kendaraan bermotor pencemar polusi udara Asap kendaraan bermotor banyak mengandung zat-zat toksik yang berbahaya bagi tubuh manusia seperti Pb, CO / CO2, NO2, SO2, HC. Timah hitam ( Pb ) merupakan logam lunak yang berwarna kebiru-biruan atau abu-abu keperakan dengan titik leleh pada 327,5C dan titik didih 1.740C pada tekanan atmosfer. Kadar Pb di alam sangat bervariasi tetapi kandungan dalam tubuh manusia berkisar antara 100400 mg. Sumber masukan Pb adalah makanan terutama bagi mereka yang tidak bekerja atau kontak dengan Pb. Diperkirakan rata-rata masukkan Pb melalui makanan adalah 300 ug per hari dengan kisaran antara 100500 mg perhari. Rata-rata masukkan melalui air minum adalah 20 mg dengan kisaran antara 10100 mg. Hanya sebagian asupan (intake) yang diabsorpsi melalui pencernaan. Pada manusia dewasa absorpsi untuk jangka panjang berkisar antara 510% bila asupan tidak berlebihan kandungan Pb dalam tinja dapat untuk memperkirakan asupan harian karena 90% Pb dikeluarkan dengan cara ini. Kontribusi Pb di udara terhadap absorpsi oleh tubuh lebih sulit diperkirakan. Distribusi ukuran partikel dan kelarutan Pb dalam partikel juga harus dipertimbangkan biasanya kadar Pb di udara sekitar 2 mg/m3 dan dengan asumsi 30% mengendap di saluran pernapasan dan absorpsi sekitar 14 mg/per hari. Mungkin perhitungan ini bisa dianggap terlalu besar dan partikel Pb yang dikeluarkan dari kendaraan bermotor ternyata bergabung dengan filamen karbon

dan lebih kecil dari yang diperkirakan walaupun agregat ini sangat kecil (0,1 mm) jumlah yang tertahan di alveoli mungkin kurang dari 10%. Uji kelarutan menunjukkan bahwa Pb berada dalam bentuk yang sukar larut. Hampir semua organ tubuh mengandung Pb dan kira-kira 90% dijumpai di tulang, kandungan dalam darah kurang dari 1% kandungan dalam darah dipengaruhi oleh asupan yang baru (dalam 24 Jam terakhir) dan oleh pelepasan dari sistem rangka. Manusia dengan pemajanan rendah mengandung 1030 mg Pb/100 g darah. Manusia yang mendapat pemajanan kadar tinggi mengandung lebih dari 100 mg/ 100 g darah. Kandungan dalam darah sekitar 40 mg Pb/100g dianggap terpajan berat atau mengabsorpsi Pb cukup tinggi walau tidak terdeteksi tanda-tanda keluhan keracunan. Terdapat perbedaan tingkat kadar Pb di perkantoran dan pedesaan wanita cenderung mengandung Pb lebih rendah dibanding pria, dan pada perokok lebih tinggi dibandingkan bukan perokok. Gejala klinis keracunan timah hitam pada individu dewasa tidak akan timbul pada kadar Pb yang terkandung dalam darah dibawah 80 mg Pb/100 g darah namun hambatan aktivitas enzim untuk sintesa haemoglobin sudah terjadi pada kandungan Pb normal (3040 mg). Timah Hitam berakumulasi di rambut sehingga dapat dipakai sebagai indikator untuk memperkirakan tingkat pemajanan atau kandungan Pb dalam tubuh. Anak-anak merupakan kelompok risiko tinggi. Menelan langsung bekas cat yang mengandung Pb merupakan sumber pemajanan, selain emisi industri dan debu jalan yang berasal dari lalu lintas yang padat. Mungkin keracunan Pb ada juga hubungannya dengan keterbelakangan mental tetapi belum ada bukti yang jelas. 2. Rokok Rokok merupakan suatu pabrik bahan kimia yang memproduksi tidak kurang dari 2000 4000 bahan kimia yang bersifat toksis, baik yang bersifat gas maupun bukan gas. Sebahagian zat kimia bentuk gas yang bersifat toksis dalam asap rokok antara lain : Karbon monoksida, Asetaldehida, Nitrogen oksida, Hidrogen sianida, Akrolein, Amoniak, Formaldehid, Piridina, Akrilonitril, 2-nitripropan, Hidrazina, Uretan, Dimentilnitrosamina, Vinil klorida, dan berbagai senyawa nitrosamina lainnya.

Karbon monoksida merupakan salah satu komponen gas hasil pembakaran rokok yang paling berbahaya. Daya ikatnya dengan hemoglobin 230 kali lebih kuat dibandingkan daya ikat zat asam sehingga dengan sejumlah besar ikatan COHb yang beredar, maka sel sel jaringan dan organ tubuh menjadi kekurangan zat asam. Pada orang sehat ditempat terbuka kadar CO mungkin tidak banyak mengganggu tetapi pada penderita penyakit paru dan kardiovaskular besar sekali pengaruhnya. Partikel bukan gas dalam asap rokok antara lain tar, nikotin dan uap air. Nitrogen monoksida merupakan gas yang tidak berwarna dan tidak berbau sebaliknya nitrogen dioksida berwarna coklat kemerahan dan berbau tajam. Nitrogen monoksida terdapat diudara dalam jumlah lebih besar daripada NO2. Pembentukan NO dan NO2 merupakan reaksi antara nitrogen dan oksigen diudara sehingga membentuk NO, yang bereaksi lebih lanjut dengan lebih banyak oksigen membentuk NO2. Di udara ambient yang normal, NO dapat mengalami oksidasi menjadi NO2 yang bersifat racun. NO2 bersifat racun terutama terhadap paru. Pemajanan NO2 dengan kadar 5 ppm selama 10 menit terhadap manusia mengakibatkan kesulitan dalam bernafas dan menyebabkan asfiksia yaitu perubahan patologis yang disebabkan oleh kurangnya oksigen dalam udara pernapasan, yang akhirnya mengakibatkan hipoksia dan hiperkapnia. Wahana transmisi gas ini yaitu melalui udara. Tar merupakan komponen padat dalam asap rokok setelah dikurangi nikotin dan uap air terdiri dari zat kimia, diantaranya golongan nitrosamin, amin aromatik, senyawa alkan, asam karboksilat, Logam (NI, As, Ra, Pb) selain itu juga sisa insektisida dan bambu bambu tembakau, zat zat diatas bersifat karsinogenik, sehingga para perokok menghadapi resiko lebih besar menderita kanker seperti kanker paru, mulut, laring, esofagus, pankreas, kandungan kemih, dan lain-lain. Nikotin adalah partikel padat yang sangat mudah diserap oleh selaput lendir mulut, hidung dan jaringan paru. Efek nikotin diantaranya dapat menyebabkan kecanduan dan efek psikomotor yang kuat sehingga perokok dapat menikmati rokoknya dengan rasa relaksasasi dan stimulasi. Nikotin menyebabkan pengapuran dan penyempitan pembuluh darah arteri serta mempercepat denyut jantung dan efek penggumpalan darah.

Penelitian tentang hubungan antara paparan merokok pasif dengan fungsi paru, didapatkan kesimpulan bahwa terdapat hubungan yang bermakan antara paparan merokok pasif dengan fungsi paru pada penderita denga fibrosis kistik. Penelitian oleh Thomas Kovesi dan kawan kawan pada 340 penderita didapatkan bahwa pada keluarga yang tidak pernah merokok mempunyai fungsi paru yang lebih baik dibandingkan dengan keluarga yang selalu merokok. Sedangkan pada keluarga yang berhenti merokok didapatkan fungsi paru yang lebih jelek dibandingkan dengan keluarga yang merokok dan bermakna secara statistik. 3. Sinar Matahari Matahari merupakan salah satu sumber kehidupan bagi makhluk hidup baik manusia, hewan maupun tumbuhan. Namun, sinar matahari kadang juga bisa menimbulkan beberapa dampak negatif. Misalnya, sinar ultra violet (UV) yang dikandung oleh sinar matahari merupakan salah satu sinar yang berbahaya bagi manusia. Banyak efek yang dapat ditimbulkan oleh radiasi sinar ultra violet, antara lain, kanker kulit, bersifat karsinogenik seperti basilioma serta mutasi gen. Apalagi sudah terjadi pemanasan glonal dan kerusakan lubang ozon yang timbul akibat ulah manusia itu sendiri. Ozon yang berlubang ini memudahkan sinar matahari terutama zat yang berbahaya yang dikandungnya seperti sinar ultra violet untuk lebih menimbulkan potensi timbulnya penyakit-penyakit tersebut. 4. Sampah organik dan anorganik

sampah yang berada di sekitar pasar

Sampah merupakan area yang sangat potensial untuk berkembangnya agen-agen penyakit maupun vektor-vektor yang dapat menyebabkan penyakit. Baik sampah organik maupun sampah anorganik, keduannya dapat berdampah pada keadaan kesehatan di lingkungan sekitar. Banyak penyakit yang dapat ditimbulkan, terutama penyakit yang ditularkan melalui vektor karena vektor dapat tumbuh dan berkembang biak dengan baik di tempat tersebut. Misalnya seekor lalat yang telah hinggap di tempat sampah, kemudian lalat tersebut hinggap di makanan, sehingga makanan tersebut terkontaminasi oleh agen penyakit yang berasal dari sampah dan dibawa oleh lalat. Penyakit yang memungkinkan muncul akibat makanan yang terkontaminasi tersebut diantaranya diare ataupun kolera. Bisa juga makanan tersebut menjadi tempat perkembangbiakan suatu mikroorganisme. Upaya pencegahan yang dapat dilakukan diantaranya : Memakai masker supaya asap kendaraan ataupun asap rokok tidak terhirup. Menutup makanan ataupun barang dagangan yang memungkinkan untuk dihinggapi oleh lalat atau terkontaminasi oleh asap. Membersihkan sampah-sampah yang berada di sekitar pasar, supaya tidak berceceran dimana-mana, sehingga menimbulkan bau tidak sedap.

IV. KESIMPULAN 1. Sumber pencemaran lingkungan di Pasar Wage berasal dari asap kendaraan bermotor, asap rokok, sampah organik dan sampah anorganik. 2. Agen-agen penyebab penyakit yang terdapat di Pasar Wage antara lain : CO / CO2, NO2, SO2, HC cacing. 3. Jalur pemaparan diantaranya melalui inhalasi, dermal, ingesti dan oral. 4. Media transmisi yang digunakan adalah dari udara, tanah, air, makanan, dan lalat. 5. Sumber pencemaran lingkungan di Pasar Wage menimbulkan beberapa dampak, diantaranya : diantaranya : Menggunakan masker Menggunakan krim anti nyamuk Dilakukan fogging. ISPA Kanker Anemia berasal dari asap rokok CO, NO, tar, nikotin sinar matahari sinar UV sampah organik plasmodium, virus sampah anorganik Spora, jamur, bakteri, berasal dari asap kendaraan bermotor Pb,

6. Upaya pencegahan untuk menghindari dampak yang terdapat di Pasar Wage,

DAFTAR PUSTAKA 1. Noor, Nasry. Pengantar Epidemologi Penyakit Menular. 1997. Jakarta: Rineka Cipta. 2. Bustan, MN. Pengantar Epidemologi.2002. Jakarta: Rineka Cipta. 3. Entjang, Indan. Ilmu Kesehatan Masyarakat.1991. Bandung. Citra Aditya Bakti. 4. Palar, Heryando. Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat. 2004. Jakarta: Rineka Cipta. 5. Chadha, P. Vijay. Ilmu Forensik dan Toksikologi. 1995. Jakarta: Widya Medika. 6. Mukono, H.J. Prinsip Dasar Kesehatan Lingkungan. 2000. Surabaya: Airlangga University Press. 7. http://www.depkes.go.id 8. http://www.wikipedia.com.htm