Anda di halaman 1dari 8

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah Menurut hukum AS, perdagangan seks didefinisikan sebagai "perekrutan, penampungan, transportasi, penyediaan, atau memperoleh dari seseorang untuk tujuan suatu tindakan seks komersial. Agar dihukum, pelanggaran harus melibatkan "bentuk parah" perdagangan melibatkan (1) orang di bawah usia delapan belas tahun yang telah dibujuk untuk melakukan tindakan seks komersial atau (2) orang dewasa yang telah begitu disebabkan oleh penggunaan "kekuatan, penipuan, atau pemaksaan." Orang dewasa yang menjual seks rela, dengan beberapa jenis bantuan, tidak dianggap korban trafficking di bawah US law. perdagangan yang melibatkan orang-orang di bawah umur atau orang dewasa mengalami kekerasan, penipuan, atau pemaksaan merupakan pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia, dan meningkatnya kesadaran internasional masalah dan upaya untuk menghukum pelaku dan membantu korban merupakan perkembangan yang disambut. Dengan diundangkannya UU 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang rumusan tentang perdagangan orang/human trafficking yang terdapat dalam UU ini menjadi rujukan utama. Pasal 1 angka 1 menyebutkan Perdagangan Orang adalah tindakan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan, atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan,penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan utang atau memberi bayaran atau manfaat,sehingga memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain tersebut, baik yang dilakukan di dalam negara maupun antar negara, untuk tujuan eksploitasi atau mengakibatkan orang tereksploitasi. Dalam Trafficking in Person Report yang diterbitkan oleh Deplu AS dan ESCAP juga telah menempatkan Indonesia pada peringkat ketiga atau terendah dalam upaya penanggulangan trafficking perempuan dan anak. Indonesia dalam peringkat tersebut dikategorikan sebagai negara yang memiliki korban dalam jumlah yang besar dan pemerintahnya belum sepenuhnya menerapkan standar-standar minimum serta tidak atau belum melakukan usaha-usaha yang berarti dalam memenuhi standar pencegahan dan penanggulangan trafficking.

1.2 Rumusan Masalah Penulisan makalah ini membahas mengenai disfungsi orgasme pada wanita

1.3Tujuan Penulisan Penulisan ini bertujuan untuk mempelajari dan meningkatkan pemahaman tentang perdagangan pekerja seksual

1.4 Metode Penulisan Penulisan ini disusun berdasarkan tinjauan kepustakaan yang merujuk dari berbagai literature.

1.5 Manfaat Penulisan Penulisan ini diharapkan dapat bermanfaat serta memberikan informasi dan pengetahuan tentang perdagangan pekerja seksual

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Angka kejadian Perdagangan Pekerja Seks Dari perkiraan 600.000 sampai 800.000 orang diperdagangkan melintasi perbatasan internasional setiap tahunnya, 80 persen korban adalah perempuan, dan sampai 50 persen di bawah umur. Ratusan ribu para perempuan dan anak-anak yang digunakan dalam prostitusi setiap tahun. Meskipun perdagangan wanita ke dan dari setiap benua di dunia , daerah sumber utama secara tradisional adalah Asia Tenggara dan Latin America.Terdapat peningkatan perdagangan pekerja seks dan industri seks ilegal adalah

kejahatan terbesar ketiga di dunia setelah perdagangan narkoba . Ada sekitar 1.2 juta anak diperdagangkan setiap tahunnya dan kebanyakan (anak-anak laki-laki dan perempuan) diperdagangkan untuk eksploitasi seksual. Ada sekitar 2 juta anak di seluruh dunia yang dieksploitasi secara seksual tiap tahunnya dengan keuntungan yang diperoleh dalam industry seksual Jumlah terbesar anak-anak dan wanita yang diperdagangkan di seluruh dunia ada di an dari Asia. Perkiraannya berkisar dari 250.000 sampai 400.000 (30 persen dari angka perkiraan global) Di Indonesia sekalipun banyak gadis yang memalsukan umurnya, diperkirakan 30 persen pekerja seks komersil wanita berumur kurang dari 18 tahun. Bahkan ada beberapa yang masih berumur 10 tahun. Diperkirakan pula ada 40.000-70.000 anak menjadi korban eksploitasi seks dan sekitar 100.000 anak diperdagangkan tiap tahun. Sebagian besar dari mereka telah dipaksa masuk dalam perdagangan seks. Sebagai pelaku perdagangan ke luar negeri, lintas batas atau domestik dan Negara asal. Perdagangan anak baik di lingkup domestik maupun luar negeri meningkat .Tujuan utama anak yang diperdagangkan ke luar negeri adalah Malaysia, Singapura, Brunei, Taiwan, Jepang dan Arab Saudi. Pariwisata seks menjadi isu menarik di daerah tujuan wisata seperti di Bali dan Lombok dimana terdapat banyak pelacuran di lokalisasi pelacur, karaoke, panti pijat, mal, dan sebagainya. Mayoritas pelanggan adalah orang local Data International Organization for Migration (IOM) hingga April 2006 menunjukkan bahwa perdagangan orang di Indonesia mencapai 1.022 kasus dengan rinciannya: 88,6 persen korbannya adalah perempuan, 52 persen dieksploitasi sebagai pekerja rumah tangga, dan 17,1persen dipaksa melacur. Sementara itu, berdasarkan data Badan Reserse Kriminal Polri, jumlah perdagangan orang di Indonesia mencapai 607 kasus, pada tahun 2010, yang melibatkan sebanyak 857 orang pelakunya. Dan para korbannya orang dewasa 1.570 orang (76,4%) dan 485 anak-anak (23,6%). diperdagangkan, dieksploitasi secara seksual maupun kerja paksa Korban yang

2.2 Mekanisme terjadinya perdagangan pekerja seks

1. Akar Penyebab perdagangan pekerja seks Perdagangan pekerja seks tidak akan berkembang jika wanita tidak tertindas dan termarginalisasikan secara sistematis.Para pedagang berhasil memikat perempuan menjadi pekerja seks karena perempuan menjadi korban kemiskinan, terpinggirkan dalam kehidupan sosial , kegagalan beberapa budaya dan masyarakat untuk menempatkan nilai pada pekerjaan tradisional perempuan, dan kurangnya peluang pendidikan dan lapangan kerja bagi perempuan dalam perkembangan dan peralihan abad.selain itu pedangang telah mengambil keuntungan dari ketidaksetaraan status perempuan dan anak perempuan pada beberapa Negara termasuk pandangan yang merugikan mengenai perempuan sebagai properti, komoditas,pelayan, dan obyek seksual. Pedangang , terutama laki-laki, memanfaatkan pelecehan dan subordinasi terhadap perempuan, dan mengorbankan perempuan. Ditilik dari segi sosiodemografi penyebab mudahnya terjadinya perdagangan pekerja seks diantaranya : -usia berkisar dibawah umur sampai setengah baya -status pernikahan, bervariasi namun representasi wanita dengan status janda cukup signifikan -Latar belakang pendidikan yang rendah -Latar belakang ekonomi yang kurang mampu

2. Pengadaan dengan pemaksaan Pedagang pekerja seks cerdik dan memiliki banyak akal, dan teknik untuk pengadaan perempuan bervariasi. Beberapa wanita yang diculik dan dipaksa melakukan hubungan seks .Dalam hal ini , anggota jaringan kejahatan terorganisir memaksa perempuan dari jalanan atau memberi perempuan obat dan menjualnya kepada pedagang pekerja seks . Sering sulit bagi perempuan yang diculik untuk melarikan diri pedagang pekerja seks karena mereka dibuat seolah-olah menghilang dan tidak ada yang tahu apa yang telah terjadi pada mereka. Hal lain yang juga mengganggu adalah bahwa anggota keluarga juga menjual wanita kepada pedagang pekerja seks komersial . Dalam kasus ini , sering ayah wanita itu , paman , atau suami yang menjual perempuan ke jaringan kejahatan terorganisir.

3 . Pengadaan dengan janji palsu Banyak perempuan yang merasa yakin dan melakukan kesepakatan dengan pedagang pekerja seks dimana perempuan diberi hutang dan sebagai gantinya mereka mendaftar dan diberangkatkan ke Negara di mana lowongan pekerjaan menunggu , tetapi sebaliknya, pada saat mereka datang , mereka

dipaksa menjadi budak seks untuk melunasi hutang mereka . Mekanisme penipuan seperti ini biasanya bekerja terutama untuk menggoda wanita yang tidak memiliki kesempatan kerja yang berarti di Negara asal. Anggota kejahatan terorganisir ini dan pedagang pekerja seks memikat wanita dengan janji-janji palsu dari pekerjaan dengan upah yang layak , seperti pembantu rumah tangga , pengasuh anak, penari , dan models. Perekrut sering mengunjungi kota untuk memangsa perempuan yang rentan secara

ekonomi.Agar terlihat legal pedagang dapat memberikan wanitakontrak palsu untuk pekerjaan bersama .Kasus yang lain wanita menjawab iklan palsu untuk pekerjaan termasuk model dan

matchmaking.Kemajuan Teknologi memudahkan pedagang untuk menjangkau lebih banyak wanita. Pedagang dapat berulang kali menggunakan cara-cara curang yang sama pada desa-desa dan kota-kota yang sama karena keluarga dan teman-teman tetap tidak menyadari penipuan dan kenyataan dari perdagangan seksual. Biasanya , hanya " kisah sukses ", dan kadang-kadang uang . Karena rasa malu terlibat dalam perdagangan seksual , korban sering tidak bisa pulang atau tidak memberitahu keluarga mereka dari kengerian hidup yang mereka jalani. Pekerjaan yang memalukan inilah yang membuat pedagang bertahan dan menjaring perempuan yang rentan secara ekonomi dan komunitas mereka .

2.3 Bentuk-bentuk perdagangan pekerja seksual a.Kompleks rumah bordil resmi (lokalisasi): Tempat ini merupakan manifestasi yang paling formal dan sah menurut hukum di dalam sektor seks, yang terdiri dari sekumpulan tempat yang dikelola oleh pemilik atau manajer dan diawasi oleh pemerintah. Lokalisasi ini berbeda dengan rumah bordil yang cenderung bertempat di luar lokalisasi dan tidak diatur oleh pemerintah. b.Kompleks hiburan: Ini adalah lokasi di mana layanan seks sering kali tersedia selain bentukbentuk hiburan lain. Dalam beberapa kasus, PSK beroperasi secara independen sementara dalam situasi lain layanan seksual tersedia melalui pihak manajemen tempat tersebut. c.Wanita jalanan: Mereka ini adalah PSK yang menjajakan layanan seks di jalan atau di tempat terbuka (misalnya taman, stasiun kereta api, dsb.). d.Penjual teh botol dan minuman ringan: Para gadis yang bekerja di kios makanan kecil sering kali juga masuk ke dalam sektor seks, meski dengan cara yang tidak terlalu terang-terangan. Penghasilan dari kios minuman ini biasanya tidak cukup untuk membuat mereka dapat bertahan hidup, sehingga banyak yang memberikan layanan seks untuk memperoleh penghasilan tambahan. Layanan ini mulai dari memperbolehkan pelanggan meraba-raba dan mencium mereka sampai hubungan seksual yang penetratif (Wawancara, 2003: Yuliandini, 2002). Dalam banyak kasus, penjual teh botol di bawah umur terikat dengan agen karena utang yang dibuat oleh orang tuanya dan mereka tidak akan mampu melunasi utang tanpa juga melakukan kerja seks.

e.Pelayan di tempat perhentian truk dan warung: Ada beberapa lokasi seperti kios yang menjajakan minuman keras atau warung di pinggir jalan, yang melayani sopir truk antarkota di mana mungkin tersedia perempuan dan gadis muda yang dapat dipandangi, diraba-raba dan diajak melakukan hubungan seks. Layanan ini ditawarkan sebagai sampingan dari lain pekerjaan mereka sebagai pelayan (Hull et al., 1998: 41; Sulistyaningsih, 2002: 64). f.Perempuan yang bekerja di perusahaan (yaitu staf bidang hubungan masyarakat atau Humas): Diduga bahwa dalam konteks transaksi bisnis tertentu di Indonesia, staf perempuan mungkin diminta (atau didorong) untuk memberikan layanan seks sebagai bagian dari, atau untuk memuluskan jalan bagi enandatanganan kontrak dalam perusahaan komersial yang legal (Hull et al., 1998:35). g.Sekretaris plus: Ini adalah layanan untuk eksekutif asing yang bekerja di Jakarta. Jasa yang diberikan seorang sekretaris profesional adalah penanganan urusan administrasi juga pemberian layanan seks kepada sang klien. Bayaran untuk pengaturan semacam ini adalah 3 juta rupiah per hari untuk minimum satu minggu dengan 60% bayaran masuk ke kantong karyawan bersangkutan. Syaratnya, perempuan tersebut harus fasih berbahasa Inggris, bergelar sarjana dan mempunyai penampilan fisik yang menarik (Sulistyaningsih, 2002: 39, Wawancara, 2003). h.Panti pijat: Layanan pijat dapat juga menyediakan berbagai layanan seks. Praktik ini merupakan sesuatu yang lazim dan ditemukan di begitu banyak tempat di seluruh Indonesia, termasuk hotel dan spa kelas atas (Greenbury, 2000). i.Resepsionis hotel: NGO Hotline Surabaya memberitahu tentang beberapa hotel di mana perempuan yang bekerja di meja penerimaan tamu (front desk reception) dapat memberikan layanan seks jika ada tamu yang meminta (Wawancara, 2002). Menurut sejumlah sumber lain, praktik ini biasa ditemui di seantero Indonesia di hotel-hotel tertentu (Wawancara, 2002). j.Anak jalanan, pedagang keliling dan pedagang kaki lima: Menurut sebuah survei mengenai perilaku yang berisiko PMS/HIV yang dilaksanakan di Kuta, Bali, ada sejumlah anak lelaki dan perempuan (umur 12-17 tahun) yang bekerja sebagaipekerja seks tidak resmi. Mereka melayanani berbagai macam klien, termasuk wisatawan dalam negeri dan asing yang mengunjungi pulau itu. Selain itu, sebagian anak jalanan lebih muda yang bekerja sebagai pengemis, penjual gelang dan pencopet ditekan untuk berhubungan seks dengan lelaki asing (Ruddick, 2000: 12).

2.4 Akibat dari perdagangan pekerja seks 1. Isolasi dan Kontrol Korban perdagangan seks sering bekerja dalam kondisi seperti budak dan tidak manusiawi. korban dibatasi kebebasan mereka,dokumen-dokumen penting mereka disembunyikan.

2. Perkosaan Banyak korban perdagangan pekerja seks menderita pemerkosaan dan kekerasan oleh pedagang dan konsumen, sering berulang.Korban dipaksa untuk berhubungan seks dengan dua puluh pria atau lebih per hari.Pemerkosaan adalah alat yang sering digunakan digunakan untuk memulai korban ke dunia prostitusi, meskipun sering tidak perawan diperkosa sampai setelah keperawanan mereka telah " dijual " pada price tinggi Setelah diperkosa oleh " pelanggan " sepanjang hari , banyak korban yang diperkosa oleh mereka pedagang di malam hari . Salah satu korban yang dilaporkan

3 . Kekerasan fisik dan Ancaman Kekerasan fisik dan bahkan pembunuhan adalah ketakutan bagi banyak korban . Pedagang tidak hanya membahayakan korban mereka , tetapi mereka juga mengancam akan mencelakakan keluarga korban.pedagang yang memiliki koneksi kejahatan internasional yang terorganisir yang mencakup koneksi di negara asal korban . pedagang membuat jelas bahwa mereka memiliki kemampuan untuk melaksanakan ancaman pada keluarga korban di negara asal mereka .Dengan demikian , ancaman ini biasanya cukup efektif untuk mempertahankan kontrol atas korban .

4 . Efek Fisik, emosional, dan Psikologis Efek fisik dan emosional pada perdagangan pekerja seks pada korban adalah menghancurkan . Banyak perempuan hamil dan dipaksa untuk melakukan aborsi , dan menderrita penyakit menular seksual terutama HIV / AIDS , Pedagang biasanya tidak mengizinkan korban untuk mencari perawatan kesehatan - kecuali itu untuk aborsi , dalam hal ini , biaya aborsi tersebut ditambahkan ke hutang korban. Trauma perdagangan pekerja seks menyebabkan banyak wanita yang rusak psikologis dan emosional. Tanpa dukungan emosional , banyak wanita beralih ke obat-obatan dan alcohol. Insiden kekerasan psikis lebih banyak (38,88 persen) dilakukan oleh teman-teman dan pacar (30,11 persen), diikuti oleh klien (22,22 persen) dan germo (13,88 persen). Korban juga dilaporkan pernah mengalami gangguan kejiwaan seperti sulit tidur, resah dan sulit mengingat sesuatu. Dampak psikologis yang ditimbulkan oleh aksi perdagangan pekerja seks diantaranya adalah : -merasa harga dirinya rendah di mata. -merasa minder jika berhadapan dengan orang banyak -sering merenung dan menyendiri serta suka membayangkan hal-hal indah tentang masa lalunya bersama keluarganya. -adanya perasaan tertekan dalam kehidupan bermasyarakat bahkan terkadang muncul suatu keinginan untuk bunuh diri.

-adanya kesenjangan hubungan yang signifikan baik dengan keluarga -tidak adanya motivasi untuk menjalin hubungan yang baik dengan masyarakat, terkait dengan animo masyarakat yang sudah terlanjur mengklaimnya sebagai orang kotor, hina, rendahan dan sampah masyarakat yang tidak ada gunanya sama sekali -adanya rasa ketergantungan yang cukup besar baik kepada seseorang ataupun benda-benda seperti minuman dan rokok. -tertutupnya ide-ide atau gagasan terkait dengan persoalan social kemasyarakatan -adanya perasaan trauma dan takut dalam menjalankan hidup -sering stress, frustasi dan depresi.

2.5 Upaya Penanganan Perdagangan Pekerja Seksual Strategi anti perdagangan manusia yang efektif harus mecakup tiga aspek perdagangan: segi persediaan, para pelaku perdagangan, dan segi permintaan. Pada segi persediaan, kondisi-kondisi yang memicu perdagangan harus diarahkan dengan program-program yang mendidik masyarakat untuk waspada akan bahaya perdagangan, memperbaiki kesempatan pendidikan dan sistem sekolah, menciptakan kesempatan ekonomis, mempromosikan persamaan hak, mendidik masyarakat yang menjadi sasaran mengenai hak-hak hukum mereka dan menciptakan kesempatan hidup yang lebih baik dan lebih luas. Demikian pula perlu dilakukan penyebar luasan tentang bahaya perdagangan manusia melalui poster dan media massa secara lntens agar masyarakat lebih menyadarinya. Pemberian pengetahuan yang memadai kepada masyarakat di desadesa agar mereka mampu mengambil keputusan yang tepat untuk keluarga, karena bila mereka harus mengikuti pendidikan formal kondisi ekonominya sudah sangat miskin sehingga tidak memungkinkan untuk menyekolahkan anaknya. Pada level pelaku perdagangan, program-program pelaksanaan hukum harus mengenali dan menghalangi jalur-jalur perdagangan; mengklarifikasikan definisi-definisi hukum dan mengkoordinasi kan tanggung jawab pelaksanaan hukum; menuntut para pelaku perdagangan dan mereka yang membantu dan bersekongkol dengannya; dan memerangi korupsi yang dilakukan oleh orang-orang yang memfasilitasi dan mengambil keuntungan dari perdagangan manusia, yang mengikis peranan hukum. Pada segi permintaan, orang-orang yang mengeksploitasi orang-orang yang diperjualbelikan harus dikenali dan dituntut. Nama Para majikan kerja paksa dan para pelaku eksploitasi terhadap korban yang diperjualbelikan untuk eksploitasi seksual harus disebutkan dan dibuat malu. Kampanye untuk meningkatkan kesadaran masyarakat harus dilakukan di negara-negara tujuan untuk membuat perdagangan semakin sulit disembunyikan atau diacuhkan. Masyarakat harus ditarik dari situasi perbudakan dan dikembalikan ke keluarga dan masyarakatnya.