Anda di halaman 1dari 29

<a title="View TEKSTUR TANAH on Scribd"

href="http://www.scribd.com/doc/13853880/TEKSTUR-TANAH" style="margin: 12px auto


6px auto; font-family: Helvetica,Arial,Sans-serif; font-style: normal; font-
variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; font-
size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none; display: block;
text-decoration: underline;">TEKSTUR TANAH</a> <object
codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#vers
ion=9,0,0,0" id="doc_815092618388074" name="doc_815092618388074"
classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" align="middle" height="500"
width="450" > <param name="movie"

value="http://d.scribd.com/ScribdViewer.swf?document_id=13853880&access_key=key-
22yvv887vo1syq566735&page=1&version=1&viewMode=list"> <param
name="quality" value="high"> <param name="play" value="true"> <param
name="loop" value="true"> <param name="scale" value="showall">
<param name="wmode" value="opaque"> <param name="devicefont"
value="false"> <param name="bgcolor" value="#ffffff"> <param
name="menu" value="true"> <param name="allowFullScreen" value="true">
<param name="allowScriptAccess" value="always"> <param
name="salign" value=""> <param name="mode" value="list">
<embed
src="http://d.scribd.com/ScribdViewer.swf?document_id=13853880&access_key=key-
22yvv887vo1syq566735&page=1&version=1&viewMode=list" quality="high"
pluginspage="http://www.macromedia.com/go/getflashplayer" play="true" loop="true"
scale="showall" wmode="opaque" devicefont="false" bgcolor="#ffffff"
name="doc_815092618388074_object" menu="true" allowfullscreen="true"
allowscriptaccess="always" salign="" type="application/x-shockwave-flash"
align="middle" mode="list" height="500" width="450"></embed> </object>
<div style="display:none"> <br />I. 1.1 Latar Belakang PENDAHULUAN Tanah
merupakan suatu sistem mekanik yang kompleks terdiri dari tiga fase yakni bahan-
bahan padat, cair dan gas. Fase padat hampir menempati 50 % volume tanah sebagian
besar terdiri dari bahan mineral dan sebagian lainnya adalah bahan organik. Sisa
volume selebihnya merupakan ruang pori yang ditempati sebagian oleh fase cair dan
fase gas yang perbandingannya dapat bervariasi menurut musim dan pengelolaan
tanah. Tanah mendukung berbagai bentuk kehidupan, khususnya pertumbuhan tanaman
sebagai contoh utama. Tanah berfungsi sebagai tempat tumbuhnya tanaman yang
menangkap sinar matahari. Dengan fungsi tersebut tanah berperan dalam siklus
global karbon. Dismaping itu kebanyakan unsur-unsur dalam usaha memelihara
kehidupan berada pada siklus yang lebih berat ke tanah dalam hubungan ini tanah
menyediakan lingkungan yang cocok untuk terlaksananya pelapukan bahan-bahan mati
dengan cukup cepat melalui aktivitas mikroorganisme terhadap senyawasenyawa dasar
untuk dapat segera menyusul memasuki kembali siklus, terutama melalui vegetasi.
Sifat fisik tanah mempunyai banyak kemungkinan untuk dapat digunakan sesuai dengan
kemampuan yang dibebankan kepadanya. Kemampuan untuk menjadi lebih keras dan
menyangga kapasitas drainase, menyimpan air, plastisitas, mudah
untuk ditembus akar, aerase dan kemampuan untuk menahan retensi unsur-unsur hara
tanaman. Semuanya erat hubungannya dengan kondisi fisik tanah. Salah satu sifat
fisik tanah yang terpenting adalah tekstur tanah. Tekstur tanah menunjukkan kasar
atau halusnya suatu tanah. Teristimewa tekstur merupakan perbandingan relatif
pasir, debu dan liat atau kelompok partikel dengan ukuran lebih kecil dari
kerikil. Tekstur tanah sering berhubungan dengan permeabilitas, daya tahan
memegang air, aerase dan kapasitas tukar kation serta kesuburan tanah. Walaupun
faktor-faktor lainnya dapat mengubah hubungan tersebut. Dalam klasifikasi tanah
(taksonomi tanah) tingkat famili, kasar halusnya tanah ditunjukkan dalam sebaran
besar butir (particle size distribution) yang merupakan penyederhanaan dari kelas
tekstur tanah dengan memperhatikan pula fraksi tanah yang lebih besar / kasar dari
pasar. Berdasarkan uraian diatas maka praktikum penetapan tekstur tanah perlu
diadakan untuk mengetahui jenis tekstur tanah pada lapisan I, II, dan III pada
tanah Alfisol dan Inceptisol. 1.2 Tujuan dan Kegunaan Tujuan percobaan tekstur
tanah adalah untuk mengetahui kelas tekstur tanah lapisan I, II dan III pada tanah
Alfisol dan Inceptisol serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Kegunaannya
adalah untuk menambah pengetahuan tentang tekstur dan kaitannya dengan usaha
pengelolaan tanah pertanian.
III. BAHAN DAN METODE 3.1 Waktu dan Tempat Praktikum tekstur tanah dilaksanakan
pada hari Sabtu, 18 November 2006 pukul 08.00 WITA, di laboratorium Fisika Tanah
jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian dan Kehutanan, Universitas Hasanuddin,
Makassar. 3.2 Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah
Hidrometer, timbangan, botol tekstur, mesin pengocok, silinder sedimentasi 1000
mL, saringan 0,05 mm, corong, botol semprot, pengaduk, termometer, cawan petridish
dan statif. Bahan-bahan yang digunakan adalah sampel tanah Alfisol dan Inceptisol
lapisan I, II, III yang telah dikering udarakan, aquadest, larutan calgon 0,05 %,
kertas label, tissue roll. 3.3 Prosedur Kerja Prosedur kerja pada praktikum ini
adalah : 1. Menimbang 20 gr tanah kering udara, butir-butir tanah ini berukuran
kurang dari 2mm. 2. Memasukkan tanah ke dalam botol tekstur dan ditambahkan 10 mL
larutan Calgon 0,05 % dan aquadest secukupnya. 3. Mengocok tanah dengan mesin
pengocok selama kurang lebih 10 menit.
4. Menuangkan secara kualitatif semua isinya ke dalam silinder sedimentasi 1000 mL
yang di atasnya dipasang saringan dengan diameter lubang 0,05 mm dan dibersihkan
benar-benar dengan bantuan botol semprot. 5. Mencukupkan larutan suspensi dalam
tabung sedimentasi dengan aquadest hingga 1000 mL. 6. Pasir yang ada didalam
saringan dipindahkan dalam cawan dengan pertolongan botol semprot, kemudian
dimasukkan dalam oven dengan suhu 105oC selama 24 jam. Selanjutnya dimasukkan ke
dalam desikator dan ditimbang hingga berat pasir diketahui (dicatat sebagai c
gram). 7. Masukkan pengocok kedalam silinder sedimentasi lalu diaduk naik turun
selama 1 menit. 8. Masukkan hidrometer kedalam suspensi dengan sangat hati-hati
agar suspensi tidak banyak terganggu. 9. Setelah beberapa detik, dibaca dan
dicatat (H1) pada hidrometer beserta suhunya (t1), dengan hati-hati hidrometer
dikeluarkan dari suspensi. 10. Setelah menjelang 8 jam, hidrometer dimasukkan
kembali untuk pembacaan H2 dan t2. 11. Menghitung berat debu dan liat dengan
menggunakan rumus : Berar debu dan liat : H1 + 0,3 (t1 – 19,8) 2 - 0,5………(a)
Berat debu dan liat : H2 + 0,3 (t2-19,8) - 0,5……………(b)
2 Berat debu : berat (debu + liat)-berat liat……………………….(a-b) 12. Mengitung
persentase pasir , debu dan liat dengan persamaan : % pasir : c a+b % Pasir : ( a-
b) a+b % Liat : b a+b x 100 % x 100 % x 100 % 13. Masukkan nilai yang didapat
dalam segitiga tekstur 12 10 7 3 8 4 11 9 5
1 2 6 Gambar segitiga tekstur (USDA) Keterangan : 1 2 3 4 5 6 = pasir = pasir
berlempung = lempung berpasir = lempung = lempung berdebu = debu 8 9 7 = lempung
liat berpasir = lempung berliat = lempung liat berdebu 10 = liat berpasir 11 =
liat berdebu 12 = liat II. 2.1 Tanah Alfisol TINJAUAN PUSTAKA Tanah Alfisol
memiliki tekstur tanah yang liat. Liat tertimbun di horizon bawah. Ini berasal
dari horizon di atasnya dan tercuci ke bawah bersama dengan gerakan air. Dalam
banyak pola Alfisol digambarkan adanya perubahan tekstur yang sangat pendek di
kenal dalam taksonomi tanah sebagai Ablup Tekstural Change atau perubahan tekstur
yang sangat ekstrim. (Foth, 1998). Partikel tanah liat pada lapisan Alfisol
digerakkan oleh air yang meresap dari horizon A dan disimpan pada horizon B.
Hasilnya adalah polipodeon dengan horizon-
horizon yang mempunyai tekstur yang berbeda. Macam pita yang terbentuk berhubungan
dengan kandungan liat dan digunakan untuk menggolongkan tanah sebagai lempung,
lempung liat atau tanah liat. (Poerwowidodo, 1991). Alfisol adalah tanah-tanah
dimana terdapat penimbunan liat di horizon bawah (horizon argilik) dan mempunyai
kejenuhan basa tinggi yaitu lebih dari 35 % pada kedalaman 180 cm dari permukaan
tanah. Bila kejenuhan basa sangat tinggi maka makin ke bawah jumlahnya konstan,
sedang bila pada horizon Argilik kadarnya tidak tinggi maka jumlahnya harus
bertambah makin ke horizon bawah. Tanah ini tidak memiliki epipedon molik, oxik,
ataupun horizon spodik. Juga termasuk pada tanah Alfisol adalah tanah-tanah yang
kejenuhan basanya kurang 35 % tetapi pada horizon Argilik dipadatan lidah-lidah
horizon albik dan kejenuhan basa bertambah makin ke horizon bawah. (Hakim, 1986).
Faktor-faktor pembentuk tanah terdiri dari bahan induk dan faktor lingkungan yang
mempengaruhi perubahan bahan induk menjadi tanah. Alfisol terbentuk dari bahan
induk yang mengandung karbonat dan tidak lebih tua dari pleistosin. Di daerah
dingin hampir semuanya berasal dari bahan induk berkapur yang masih muda. Di
daerah basah, bahan induk biasanya lebih tua dari pada di daerah dingin. Alfisol
secara potensial termasuk tanah yang subur meskipun bahaya erosi perlu mendapat
perhatian. (Darmawijaya, 1990). Alfisol pada umumnya berkembang dari batu kapur,
olivin, tufa, dan lahar. Bentuk wilayah beragam dari bergelombang hingga tertoreh,
tekstur berkisar antara sedang hingga halus, drainasenya baik. Reaksi tanah
berkisar antara agak masam
hingga netral, kapasitas tukar kation dan basa-basanya beragam dari rendah hingga
tinggi, bahan organik pada umumnya sedang hingga rendah. Mempunyai sifat kimia dan
fisika relatif baik. Alfisol sebagian ditemukan di daerah beriklim kering dan
sebagian kecil di daerah beriklim basah. Alfisol ini dapat pula ditemukan pada
wilayah dengan temperatur sedang dan sub tropika dengan adanya pergantian musim
hujan dan musim kering. (Munir, 1996). 2.2 Tanah Inceptisol Inceptisol adalah
tanah muda dan mulai berkembang. Profilnya mempunyai horizon yang dianggap
pembentukannya agak lamban sebagai hasil alterasi bahan induk. Horizon-horizonnya
tidak memperlihatkan hasil hancuran ekstrem. Horizon timbunan liat dan besi
aluminium oksida yang jelas tidak ada pada golongan ini. Perkembangan profil
golongan ini lebih berkembang bila dibandingkan dengan entisol. Tanah-tanah yang
dulunya dikelaskan sebagai hutan coklat, andosol dan tanah coklat dapat dimasukkan
ke dalam Inceptisol. (Hardjowigeno, 1992). Kebanyakan Inceptisol memiliki kambik.
Horizon B yang mengalami prosesproses genesis tanah seperti fisik, biologi, kimia
dan proses pelapukan mineral. Perubahan ini menjadi struktur kubus. (Hakim, 1986).
Inceptisol mempunyai karakteristik dari kombinasi sifat-sifat tersedianya air
untuk tanaman lebih dari setengah tahun atau lebih dari tiga bulan berturut-turut
dalam musim kemarau, satu atau lebih horizon pedogenik dengan sedikit akumulasi
bahan selain karbonat atau silika amorf, tekstur lebih halus dari pasir berlempung
dengan beberapa mineral lapuk dan kemampuan menahan kation fraksi lempung yang
sedang sampai tinggi. Penyebaran liat ke dalam tanah tidak dapat diukur. Kisaran
kadar C- organik dan kapasitas tukar tempat, kecuali daerah kering, mulai dari
kutub sampai tropika. (Ali Kemas, 2005). Tanah Inceptisol memiliki tekstur kasar
dengan kadar pasir 60 %, hanya mempunyai horizon yang banyak mengandung sultat
masam (catday) pH < 3,5 , terdapat karatan. Tanah Inceptisol umumnya memiliki
horizon kambik. Horizon kambik merupakan indikasi lemah atau spodik.
(Hardjowigeno, 1992). Inceptisol dapat berkembang dari bahan induk batuan beku,
sedimen, metamorf. Karena Inceptisol merupakan tanah yang baru berkembang biasanya
mempunyai tekstur yang beragam dari kasar hingga halus, dalam hal ini dapat
tergantung pada tingkat pelapukan bahan induknya. Bentuk wilayah beragam dari
berombak hingga bergunung. Kesuburan tanahnya rendah, jeluk efektifnya beragam
dari dari dangkal hingga dalam. Di dataran rendah pada umumnya tebal, sedangkan
pada daerah-daerah lereng curam solumnya tipis. Pada tanah berlereng cocok untuk
tanaman tahunan atau untuk menjaga kelestarian tanah. (Munir, 1996).
IV . HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Berdasarkan analisis dan perhitungan yang
dilakukan maka diperoleh hasil sebagai berikut : Tabel 4 : Hasil Perhitungan
Tekstur Tanah Alfisol Lapisan I, II, dan III Lapisan I II III % pasir 19,07 %
15,15 % 16,95 % % debu 14,1 % 17,32 % 24,01 % % liat 66,83 % 67,53 % 59,04 % Kelas
tekstur liat liat liat
Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2006 Tabel 5 : Hasil Perhitungan Tekstur
Tanah Inceptisol Lapisan I, II, dan III Lapisan I II % pasir 34,31 % 32,6 % % debu
20,2 % 9,6 % % liat 45,5 % 59 % 51 % Kelas Tekstur liat liat liat III 39 % 11 %
Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2006 Lampiran 3 : Hasil Perhitungan Analisis
Partikel Tanah Alfisol dan Inceptisol Lapisan I, II, dan III. Hasil perhitungan
analisis ukuran partikel tanah Alfisol lapisan I : Dik : H1 : 8 gr t1 : 29 oC C :
1,15 gr H1 + 0,3 (t1 – 19,8) Berat debu dan liat = 2 8 + 0,3 (29 – 19,8) = 2 10,76
= 2 = 4,88 - 0,5 - 0,5 - 0,5 H2 : 6 gr t2 : 30 oC
Berat liat = H2 + 0,3 (t2 – 19,8) - 0,5 2 6 + 0,3 (30 – 19,8) = 2 9,06 = 2 = 4,03
- 0,5 - 0,5 Berat debu = Berat (debu + liat ) – berat liat = 4,88 gr – 4,03 gr =
0,85 c % pasir = a+c 1,15 = 4,88 + 1,15 = 19, 07 % ( a- b) = a+c 4,88 - 4,03 =
4,88 + 1,15 = 14,1 % b x 100 % x 100 % % debu x 100 % x 100 %
% liat = a+c 4,03 = 4,88 + 1,15 = 66,83 % x 100 % x 100 % Hasil Perhitungan
Ukuran Partikel Tanah Alfisol Lapisan II : Dik : H1 : 10 gr t1 : 29 oC C : 1,05 gr
H2 : 7 gr t2 : 31 oC H1 + 0,3 (t1 – 19,8) Berat debu dan liat = 2 10 + 0,3 (29 –
19,8) = 2 12,76 = 2 = Berat liat = 2 7 + 0,3 (31 – 19,8) = 2 10,36 = - 0,5 - 0,5
5,88 H2 + 0,3 (t2 – 19,8) - 0,5 - 0,5 - 0,5 - 0,5
2 = Berat debu 4,68 = Berat (debu + liat ) – berat liat = 5,88 gr – 4,68 gr = 1,2
gr c % pasir = a+c 1,05 = 5,88 + 1,05 = % debu = a+c 5,88 - 4,68 = 5,88 + 1,05 =
17,32 % x 100 % 15,15 % ( a- b) x 100 % x 100 % x 100 %
b % liat = a+c 4,68 = 5,88 + 1,05 = 67,53 % x 100 % x 100 % Hasil Perhitungan
Ukuran Partikel Tanah Alfisol Lapisan III : Dik : H1 : 10 gr t1 : 29 oC C : 1,2 gr
H2 : 6 gr t2 : 31 oC H1 + 0,3 (t1 – 19,8) Berat debu dan liat = 2 10 + 0,3 (29 –
19,8) = 2 12,76 = 2 = Berat liat = 2 6 + 0,3 (31 – 19,8) = 2 9,36 - 0,5 5,88 H2 +
0,3 (t2 – 19,8) - 0,5 - 0,5 - 0,5 - 0,5
= 2 = Berat debu 4,18 - 0,5 = Berat (debu + liat ) – berat liat = 5,88 gr – 4,18
gr = 1,7 gr c % pasir = a+c 1,2 = 5,88 + 1,2 = % debu = a+c 5,88 - 4,18 = 5,88 +
1,2 = 24,01 % x 100 % 16,95 % ( a- b) x 100 % x 100 % x 100 %
b % liat = a+c 4,18 = 5,88 + 1,2 = 59,04 % x 100 % x 100 % Hasil Perhitungan
Ukuran Partikel Tanah Inceptisol Lapisan I: Dik : H1 : 10 gr t1 : 30 oC C : 3,15
gr Peny : H1 + 0,3 (t1 – 19,8) Berat debu dan liat = 2 10 + 0,3 (30 – 19,8) = 2 =
Berat liat = 2 6,03 H2 + 0,3 (t2 – 19,8) - 0,5 - 0,5 - 0,5 H2 : 6 gr t2 : 31 oC
6 + 0,3 (31 – 19,8) = 2 = Berat debu 4,18 - 0,5 = Berat (debu + liat ) – berat
liat = 6,03 gr – 4,18 gr = 1,85 gr c % pasir = a+c 3,15 = 6,03 + 3,15 = % debu =
a+c 6,03 - 4,18 = 6,03 + 3,15 = 20,2 % b x 100 % 34,31 % ( a- b) x 100 % x 100 % x
100 %
% liat = a+c 4,18 = 6,03 + 3,15 = 45,5 % x 100 % x 100 % Hasil Perhitungan
Ukuran Partikel Tanah Inceptisol Lapisan II : Dik : H1 : 8,5 gr t1 : 30 oC C :
2,55 gr Peny : H1 + 0,3 (t1 – 19,8) Berat debu dan liat = 2 8,5 + 0,3 (30 – 19,8)
= 2 = Berat liat = 2 5,28 H2 + 0,3 (t2 – 19,8) - 0,5 - 0,5 - 0,5 H2 : 7 gr t2 : 30
oC
7 + 0,3 (30 – 19,8) = 2 = Berat debu 4,53 - 0,5 = Berat (debu + liat ) – berat
liat = 5,28 gr – 4,53 gr = 0,75 gr c % pasir = a+c 2,55 = 5,28 + 2,55 = % debu =
a+c 5,28 - 4,53 = 5,28 + 2,55 = 9,6 % b x 100 % 32,6 % ( a- b) x 100 % x 100 % x
100 %
% liat = a+c 4,53 = 5,28 + 2,55 = 59 % x 100 % x 100 % Hasil Perhitungan Ukuran
Partikel Tanah Inceptisol Lapisan III : Dik : H1 : 8 gr t1 : 29 oC C : 3,1 gr Peny
: H1 + 0,3 (t1 – 19,8) Berat debu dan liat = 2 8 + 0,3 (29 – 19,8) = 2 = Berat
liat = 2 4,88 H2 + 0,3 (t2 – 19,8) - 0,5 - 0,5 - 0,5 H2 : 6 gr t2 : 30 oC
6 + 0,3 (30 – 19,8) = 2 = Berat debu 4,03 - 0,5 = Berat (debu + liat ) – berat
liat = 4,88 gr – 4,03 gr = 0,85 gr c % pasir = a+c 3,1 = 4,88 + 3,1 = % debu =
a+c 4,88 - 4,03 = 4,88 + 3,1 = 11 % b x 100 % 39 % ( a- b) x 100 % x 100 % x 100 %
% liat = a+c 4,03 = 4,88 + 3,1 = 51 % x 100 % x 100 % V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil yang diperoleh pada praktikum tekstur tanah ini,
maka dapat disimpulkan bahwa : • Pada tanah Alfisol, lapisan I persentase pasir
19,07 %, debu 14,1 %, liat 66,83 %, Lapisan II persentase pasir 15,15 %, debu
17,32 %, liat 67,53 %, Lapisan III persentase pasir 16,95 %, debu 24,01 %, liat
59,04. • Pada tanah Inceptisol, lapisan I persentase pasir 34,31 %, debu 20,2 %,
liat 45,5 %, pada lapisan II persentase pasir 32,6 %, debu 9,6 %, liat 59 %, pada
lapisan II persentase pasir 39 %, debu 11 %, liat 51 %.
• Faktor-faktor yang mempengaruhi kelas tekstur tanah adalah kemampuan tanah
memegang dan menyimpan air, aerasi, serta permeabilitas, kapasitas tukar kation
dan kesuburan tanah. 5.2 Saran Sebaiknya dalam memilih lahan untuk pertanian
diperhatikan masalah tekstur tanah karena mempengaruhi kandungan bahan organik
atau unsur hara yang diperlukan untuk tumbuhan serta kemampuannya menyimpan air
dan aerasi. DAFTAR PUSTAKA Ali Kemas., 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Raja
Grafindo Persada : Jakarta. Darmawijaya, M. 1990. Klasifikasi Tanah. Gadjah Mada
University Press: Yogyakarta. Foth, H. D., 1998. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Gadjah
Mada University Press : Yogyakarta. Hardjowigeno. S., 1987. Ilmu Tanah. Penerbit
Akademika Pressindo : Jakarta. Hakim. N., M.Y. Nyapka, A.M Lubis, S.G Nugroho, M.R
Saul, M.A Dina, G.B Hong, H.H Baile., 1986, Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Penerbit
Universitas Lampung : Lampung. Munir, M., 1996. Tanah-Tanah Utama Indonesia. PT.
Dunia Pusataka Jaya : Jakarta Pairunan, Anna, K., Nanere, J, L., Arifin., Solo, S,
R. Samosir, Romoaldus Tangkaisari, J. R Lalapia Mace, Bachrul Ibrahim., Hariadji
Asnadi., 1985.
Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Perguruan Tinggi Negeri Indonesia Timur : Makassar.
Poerwowidodo. 1991. Genesa Tanah. CV Rajawali : Jakarta. Syarief. H. F.,
Saifuddin. Dr.Ir., 1998, Fisika Kimia Tanah Pertanian. CV Pustaka Buana : Bandung.
4.2 Pembahasan Berdasarkan hasil perhitungan di atas, tanah Alfisol pada lapisan I
persentase pasir 19,07 %, debu 14,1 %, liat 66,83 %. Bahwa tanah pada lapisan ini
termasuk tekstur liat, hal ini terjadi karena persentase liatnya yang lebih besar.
Hal ini sesuai dengan pendapat Foth (1998), bahwa apabila persentase kejenuhan
suatu tanah lebih dari 50 % maka tanah tesebut masuk dalam tekstur liat dan juga
disebabkan oleh tingkat pelapukan yang terjadi pada masing-masing lapisan relatif
besar dan kemampuan mengikat air sangat tinggi. Pada lapisan II persentase pasir
15,15 %, debu 17,32 %, liat 67,53 %. Persentase tertinggi adalah fraksi liat. Hal
ini terjadi karena pada lapisan II mendapat aliran partikel liat dari horizon A
(top soil) atau lapisan I yang digerakkan oleh air kemudian disimpan pada lapisan
II ini. Hal ini sesuai dengan pendapat
Poerwowidodo (1991) bahwa partikel tanah liat pada lapisan Alfisol digerakkan oleh
air yang meresap dari horizon A dan disimpan pada horizon B. Hasilnya adalah
polipodeon dengan horizon-horizon yang mempunyai tekstur yang berbeda. Macam pita
yang terbentuk berhubungan dengan kandungan liat dan digunakan untuk menggolongkan
tanah sebagai lempung, lempung liat atau tanah liat. Pada lapisan III persentase
pasir 16,95 %, debu 24,01 %, liat 59,04 %. Persentase tertinggi adalah fraksi
liat. Hal ini terjadi karena partikel-partikel liat sebelumnya pada lapisan I dan
lapisan II kembali bergerak bersama air atau terjadinya proses eluviasi yang
akhirnya terakumulasi / tertimbun di lapisan III. Peristiwa ini disebut iluviasi.
Hal ini sesuai dengan pendapat Darmawijaya (1990) bahwa lapisan II memiliki
kemampuan untuk menahan air dalam tanah sehingga partikel air mengalir ke lapisan
III. Tanah Inceptisol lapisan I persentase pasir 34,31 %, debu 20,2 %, liat 45,5
%, dan termasuk kedalam tekstur liat. Dilihat dari persentase liatnya ternyata
lebih rendah dari lapisan II, III. Hal ini terjadi karena adanya pengaruh
eluviasi. Sesuai pendapat Hardjowigeno (1987) bahwa tanah-tanah lapisan atas / top
soil adalah zona pencucian yang miskin akan zat-zat terlarut dan telah kehilangan
fraksi liat, besi dan oksida aluminium. Kandungan liat tertinggi dimiliki oleh
lapisan II pada tanah Inceptisol, yaitu 59 %, yang berarti kemampuan menyerap
unsur hara dan tinggi karena permukaan yang lebih besar. Partikel-partikel liat
akan bergabung membentuk kompleks liat pada lapisan ini dan terhindar dari proses
pencucian serta bermuatan listrik yang mampu
mengikat unsur hara bagi tanaman. Hal ini sesuai pendapat Ali Kemas( 2005), bahwa
kehilangan unsur hara karena adanya pencucian sangat kecil karena merupakan zona
pemupukan yang kurang banyak mengandung bahan organik dan mineralisasi, lebih
tinggi kandungan litanya yang bermuatan negatif akan menarik ion bermuatan
positif. Lapisan III Inceptisol persentase pasirnya 39 %, debu 11 %, liat 51 %.
Termasuk tekstur liat. Pada lapisan inilah banyak terkandung unsur hara yang
dibutuhkan oleh tanaman. Sesuai dengan pendapat Syarief (1980) bahwa kemampuan air
dan unsur hara tinggi pada tanah yang kandungan liatnya tinggi karena luas
permukaan besar, partikel-partikel liat akan bergabung membentuk kompleks liat
pada lapisan ini dan terhindar dari proses pencucian serta bermuatan listrik mampu
mengikat unsur hara bagi tanaman. Perbedaan pada tanah Alfisol dan Inceptisol
yaitu persentase liat tertinggi dimiliki oleh lapisan II tanah Alfisol yaitu 67,53
%. Hal ini berarti tanah Alfisol sangat sukar untuk diolah , peredaran air dan
aerasinya tidak baik. Penambahan bahan organik membantu masalah kekurangan air
pada tanah berpasir. Sesuai yang dikemukakan oleh Pairunan,dkk (1985), bahwa bahan
organik membantu mengikat butiran liat, membentuk ikatan butiran yang lebih besar
sehingga akan memperbesar ruang-ruang udara diantara ikatan butiran, sedangkan
pada tanah Inceptisol juga mengandung tanah dengan tekstur liat namun tak sebanyak
kandungan liat yang dimiliki oleh tanah Alfisol sehingga aerasinya masih cukup
baik, namun drainasenya kurang baik karena tergenang air, itulah sebabnya tanah
Inceptisol agak basah, dibanding tanah Alfisol yang kering.
Keterangan : 1 = pasir 2 = pasir berlempung 3 = lempung berpasi 8 7 = lempung liat
berpasir = lempung berliat
</div>