Anda di halaman 1dari 15

PERSPEKTIF TEORITIS TENTANG PENDAERAHAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN SEKTOR PEDESAAN DAN PERKOTAAN DI INDONESIA

Oleh : Rio Eryco Vebriadi*)

Pendaerahaan PBB P2 Tahun 2013 adalah batas akhir pengelolaan pajak bumi dan bangunan sektor pedesaan dan perkotaan (PBB P2) oleh pemerintah pusat. UU No. 28 tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah menetapkan bahwa PBB P2 harus dilimpahkan pengelolaannya kepada pemerintah Kota/Kabupaten selambat-lambatnya 1 Januari 2014. PBB P2 yang selama ini kegiatan administrasi, pemungutan, dan penagihannya dikelola oleh pemerintah pusat akan dialihkan kepada pemerintah Kota/Kabupaten. Kebijakan ini ditempuh guna menguatkan kemandirian fiskal daerah melalui perluasan basis pajak. Selama ini hasil pemungutan PBB P2 oleh pemerintah pusat didistribusikan kembali ke pemerintah daerah. Namun nantinya, ketika PBB P2 dialihkan menjadi pajak daerah maka secara penuh pengelolaan tersebut akan dilakukan oleh pemerintah daerah. Hasil penerimaan PBB P2 juga akan diserap penuh oleh tiap-tiap Kota/kabupaten yang wilayahnya meliputi objek pajak PBB. Berdasarkan PP No. 16 tahun 2000 tentang Pembagian Hasil Penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah, Pembagian hasil penerimaan PBB antara pemerintah pusat dan daerah masing-masing sebesar 10% dan 90%. Dari jumlah 90% tersebut dibagi menjadi dua alokasi antara Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kota/Kabupaten 16,2% dan 64,8% serta 9% sebagai upah pungut.

Seminar Perpajakan - 1

Matrik 1 - Bagi Hasil PBB antara Pemerintah Pusat dan Daerah Pemerintah Pembagian ke daerah melalui DBH PBB sesuai Peraturan Menteri Keuangan Pusat No. 04/PMK.07/2008 tentang Pelaksanaan Dan

Penerimaan PBB 100%

16,2 % 64,8% 9%

10%

Pertanggunjawaban Anggaran Transfer Ke Daerah Didistribusikan kepada Pemerintah Provinsi Didistribusikan kepada Pemerintah Kota/Kabupaten Biaya Pungut

Secara keseluruhan 95,95% hasil penerimaan PBB di Indonesia didistribusikan kembali ke pemerintah daerah. Penerimaan PBB ini didistribusikan melalui belanja transfer pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. Agaknya hal ini menimbulkan efek psikis bagi pemerintah daerah yang berimplikasi pada minimnya penggalian potensi Penerimaan Asli Daerah (PAD). Postur APBD pada pos-pos pendapatan daerah didominasi oleh penerimaan yang berasal dari transfer pemerintah pusat. Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan diketahui bahwa pada tahun 2012 kontribusi PAD terhadap total pendapatan daerah rata-rata hanya 8,38% saja. Bahkan PAD Kab. Buru hanya berkontribusi 0,36% terhadap total pendapatan daerah. Pendaerahan PBB P2 diharapkan dapat menambah PAD dan meningkatkan kinerja keuangan pemerintah daerah. World Bank berpendapat bahwa untuk menjalankan otonomi daerah setidaknya kontribusi PAD terhadap total pendapatan daerah minimum sebesar 20% (Achmad Lutfi, 2006). Oleh karena itu pemerintah pusat sangat berharap kebijakan ini dapat meningkatkan kemandirian fiksal di tiap-tiap daerah di Indonesia. Alasan kedua kebijakan pendaerahan PBB P2 adalah untuk meningkatan akuntabilitas keuangan daerah. Melalui pendaerahan PBB P2, pemerintah daerah akan mengelola secara mandiri PBB P2. Ketergantungan Daerah yang sangat besar terhadap dana perimbangan dari pusat dalam banyak hal kurang mencerminkan akuntabilitas Daerah. Pemerintah Daerah tidak terdorong untuk mengalokasikan anggaran secara efisien dan masyarakat setempat tidak ingin mengontrol anggaran Daerah karena merasa tidak dibebani dengan Pajak dan Retribusi. Kebijakan pendaerahan PBB P2 juga didasari oleh common practice negara-negara lain di dunia yang menjadikan pajak properti sebagai pajak daerah. Hal ini dilatarbelakangi kepentingan daerah dalam pemungutan pajak dan sifat-sifat pajak properti itu sendiri. Penyusunan tulisan ini ditujukan untuk membahas bagaimana kelayakan kebijakan
Seminar Perpajakan - 2

pemerintah daerah dilihat dari sudut pandang teori tax assigment dan potensi manfaat (benefit) dari pendaerahan PBB P2 serta mencari titik krusial yang perlu diperhatikan selama proses dan setelah proses pendaerahan PBB P2.

PBB P2 Sebagai Pajak Daerah

Berbicara tentang PBB P2 sebagai pajak daerah maka kita juga akan berbicara tentang teori tax assignment. Tax assignment dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai penetapan pajak. (Bird 1999,p.4) mengutip pernyataan Richard Musgrave yang menyatakan bahwa siapa yang harus membayar pajak, dimana dan kapan merupakan pertanyaanpertanyaan yang dapat dikarakteristikkan sebagai peramasalahan tax assigment[1]. Oates (1996) menetapkan tiga kriteria pajak daerah yaitu (1) on relatively immobile bases,(2) where the base is relatively evenly distributed and (3) where yields are likely to be relatively stable[2]. Merujuk pada pendapat Oates di atas kita dapat mengetahui bahwa PBB secara teori bisa dimasukkan ke dalam pajak daerah. Pada kriteria pertama Oates menerangkan bahwa pajak daerah sebaiknya ditetapkan pada basis yang memiliki mobilitas rendah (imobile). PBB memiliki basis pajak berupa tanah dan bangunan yang mobilitasnya rendah. Tanah dan bangunan yang dijadikan sebagai basis PBB tidak dapat dipindah-pindahkan dari satu tempat ke tempat lain. Karakteristik kedua adalah pajak daerah memiliki basis yang dapat dibagikan secara merata. Karakteristik ini sejalan dengan pendapat yang disampaikan Musgrave bahwa pajak yang memiliki basis pajak yang tidak sama antar daerah lebih baik dilakukan secara terpusat (Imam Baihaqi 2011, p.35) dan karakteristik ketiga adalah hasil pemungutannya relatif stabil. Sebagaimana kita ketahui bahwa properti seperti tanah dan bangunan memiliki kestabilan nilai yang sangat baik. Hal ini menyebabkan penerimaan PBB juga cenderung stabil karena basis pajak-nya adalah nilai dari tanah dan bangunan tersebut. Kondisi ini berbeda dengan pajak penghasilan yang cenderung tidak stabil dimana besarnya penerimaan pajaknya bergantung pada kondisi ekonomi suatu daerah. Bird (2004) berpendapat bahwa ada dua alasan penting mengapa pajak properti seperti PBB digolongkan sebagai pajak daerah. Alasan pertama adalah bahwa properti riil yang dijadikan sebagai basis pajak tidak dapat dipindahkan. Walaupun terdapat perubahan atas kondisi properti, pajak tetap dihitung berdasarkan nilai properti dan dalam jangka panjang perbedaan pajak itu akan berdampak pada dimana lokasi seseorang. Dampak

Seminar Perpajakan - 3

perubahan pajak ini lebih kecil dibandingkan dengan yang terjadi pada pajak penghasilan atau pajak penjualan. Alasan kedua adalah adanya hubungan antara layanan yang diberikan oleh pemerintah daerah dengan keuntungungan yang diberikan kepada nilai properti (benefit to property value). Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Ulbrich (2011) bahwa banyak pelayanan pemerintah daerah yang dibiayai oleh pajak properti digunakan lagi untuk melayani properti tersebut. Seperti penyediaan jalan, pemadam kebakaran, penerangan jalan, dan pengelolaan sampah. Jasa pelayanan tersebut dapat meningkatkan atau menjaga nilai properti, sehingga nilai pelayanan yang diberikan dapat dikatakan proporsional terhadap nilai properti yang dilayani. Jenis-jenis pelayanan yang diberikan tersebut memang menjadi tanggungjawab pemerintah daerah dalam penyediaanya. Sementara jenis-jenis pelayanan pemerintah pusat lebih berfokus pada keamanan, pertahanan, keagamaan, dan fungsi sentral lainnya. Kompensasi yang muncul dari pembayaran pajak properti juga lebih banyak dinikmati oleh masyarakat pedesaan atau perkotaan. Kedua alasan di atas memperkuat alasan mengapa pajak properti dalam konteks Indonesia dikenal dengan PBB khususnya sektor pedesaan dan perkotaan dapat digolongkan sebagai pajak daerah. Selain itu, pengelolaan PBB oleh pemerintah daerah merupakan praktik umum di dunia saat ini.

Manfaat PBB P2 Setidaknya ada dua manfaat penting yang diperoleh dari pendaerahan PBB P2 menurut Bird (2004). Kedua manfaat tersebut adalah : 1. Sebagai sumber keuangan pemerintah daerah Pajak properti (dalam konteks Indonesia adalah PBB) terbukti dapat memberikan pemasukan yang signifikan di beberapa negara di dunia, terutama negara-negara anggota OECD. Sebagaimana penelitan yang dilakukan Bird dan Slack di tahun 2004 mendapati bahwa dari 25 negara yang diteliti termasuk Indonesia, 11 negara berhasil memperoleh penerimaan PBB secara signifikan. Rasio penerimaan PBB terhadap pendapatan daerah di 11 negara tersebut lebih dari 20%. Bahkan pendapatan pemerintah daerah di Kanada dan Meksiko didominasi oleh pendapatan yang berasal dari PBB (tabel 1). Berdasarkan penelitian tersebut diketahui bahwa pada negara berkembang dan transisi, penerimaan PBB hanya memiliki kontibusi kecil kepada total pendapatan pemerintah daerah. Bird dan Slack menyatakan bahwa hal ini disebabkan oleh tata cara administrasi perpajakan di negara-negara tersebut. Secara umum penerimaan akan meningkat jika
Seminar Perpajakan - 4

pemajakan didasarkan atas basis tanah dan bangunan (tidak terpisah-pisah), jika tidak banyak pengecualian yang diberikan, jika tidak ada perlakuan khusus perpajakan atas kelas-kelas properti tertentu, jika tarif pajak-nya tinggi, dan jika persaingan tarif pajak antra daerah terbatas. Pendapat di atas menunjukkan bahwa guna memperoleh penerimaan yang optimal dari PBB maka dibutuhkan struktur pajak yang tepat, sehingga tidak saja berdampak bagi keuangan daerah dalam jangka pendek tetapi juga dalam jangka panjang. Setidaknya ada beberapa elemen struktur pajak yang perlu diperhatikan yaitu: a) Basis pajak mengenai apakah tanah saja atau berikut penambahan nilai tanah (land improvement) yang dijadikan basis pemajakannya. b) Basis penilaian mengenai apakah menggunakan harga pasar (market value assesment), nilai per area (area based assesment), atau pendekatan harga sewa (rental value assesment). c) Tarif pajak meliputi kewenagan penentuan tarif dan besaran tarif yang tepat.

2. Tata kelola lahan Pemerintah daerah dapat mengendalikan pola kependudukan tidak hanya melalui alatalat perencanaan tetapi juga instrumen keuangan daerah. Hal ini mengingatkan kita kepada tiga fungsi pajak yang salah satunya adalah fungsi reguleter[3]. PBB sebagai instrumen keuangan daerah merupakan salah satu cara yang dapat digunakan dalam pengaturan pola kebijakan perkotaan/pedesaan. Bird (1999) mencontohkan bagaimana pajak properti dapat berperan serta dalam pengaturan kebijakan kependudukan. Misalkan guna mengurangi kepadatan penduduk disuatu wilayah dalam suatu daerah, pemerintah dapat meningkatkan pengenaan PBB di wilayah yang mengalami kepadatan penduduk tadi. Sementara itu wilayah yang kurang berkembang diberikan pengenaan pajak yang lebih rendah sehingga terjadi pemerataan kepadatan dan pembangunan di daerah tersebut. Kebijakan lain yang bisa ditempuh adalah pembedaan nilai bagi kelas-kelas properti yang berbeda (misalnya kawasan perumahan, komersial, pertanian dan industri). Kelly (1989) menambahkan bahwa pajak properti juga dapat membantu mengurangi spekulasi tanah dan mendorong pemilik tanah menggunakan tanah miliknya sebaik-baiknya. PBB yang dinilai berdasarkan nilai pasar akan menyebabkan biaya mahal bagi pemilik tanah apabila membairkan tanah tidak dimanfaatkan (Imam Baihaqi 2011, p. 32). Sekali lagi dengan penetapan PBB yang tepat pemerintah daerah dapat menjadikan PBB sebagai alat bantu perencanaan tata kota atau ekonomi daerah yang sudah dibuat.
Seminar Perpajakan - 5

Tabel Rasio Penerimaan PBB Terhadap Pendapatan Lokal Daerah

Sumber : Bird dan Slack (2005) Land and property taxation in 25 countries : a comparative review

Model Pendaerahan PBB P2 di Indonesia

Pendaerahan PBB P2 di Indonesia meliputi seluruh kewenangan pengelolaan PBB P2 yang selama ini dilakukan oleh Pemerintah Pusat. Fungsi-fungsi yang dilimpahkan meliputi
Seminar Perpajakan - 6

fungsi administrasi, fungsi pemungutan, fungsi penagihan, fungsi pembuatan legal draft terkait PBB P2 di tingkat daerah, dan fungsi perencaan dan evaluasi kebijakan di tingkat daerah. Pasal 180 ayat 5 UU No. 28 tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah menyatakan bahwa Undang-undang No. 12 tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan berikut perubahannya tetap berlaku sampai dengan 31 Desember 2013 sepanjang belum ada Peraturan Daerah yang mengatur tentang PBB P2. Dengan kata lain maka jika suatu daerah kota/kabupaten telah memiliki Peraturan Daerah yang mengatur tentang PBB P2 maka secara legal Undang-Undang PBB beserta perubahannya tidak boleh lagi digunakan dalam pelaksanaan PBB P2 oleh daerah tersebut. Untuk itu kita perlu melihat pokok-pokok dan kewenangan apa saja yang diberikan UU No. 28 tahun 2009 kepada Pemerintah Daerah dalam mengelola PBB P2. Berikut ini akan dibahas berdasarkan struktur pajak sebagaimana dikemukan di atas. 1. Objek pajak Objek PBB P2 yang nantinya dikelola oleh pemerintah daerah masih sama dengan PBB P2 ketika dikelola oleh pemerintah pusat. Objek PBB P2 tersebut adalah tanah dan bangunan. Jika kita lihat maka tidak ada perluasan basis pajak dari pendaerahan ini. Pengertian bangunan yang digunakan dalam UU No. 28 tahun 2009 juga mengadung pengertian luas tentang bangunan. 2. Penilaian objek pajak Basis penilaian yang wajib digunakan oleh Pemerintah Daerah untuk menilai objek pajak adalah menggunakan pendekatan nilai pasar. Ini terlihat dari pengertian Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) yaitu harga rata-rata yang diperoleh dari transaksi jual beli yang terjadi secara wajar. NJOP digunakan sebagai dasar pengenaan PBB P2. Pemutakhiran NJOP dilakukan setiap 3 tahun sekali dan ditetapkan oleh Kepala Daerah. Setelah pendaerahan basis yang digunakan dalam dasar pengenaan PBB P2 tetap sama dengan yang digunakan sewaktu PBB P2 dikelola oleh pemerintah pusat. 3. Penentuan tarif pajak Dalam menentukan tarif pajak, kita perlu mengkaji beberapa hal, yaitu siapa yang berhak menetukan tarif pajak? Apakah tarifnya terdiferensiasi? Jika ya maka bagaimana pembagiannya? Dan berapa tarif yang tepat/sesuai? a) Penentu Tarif Tarif PBB P2 ditentukan masing-masing oleh tiap daerah kota/kabupaten. Namun UU No. 28 tahun 2009 menentukan batas tarif maksimal yaitu 0,3% dari NJKP (Nilai Jual Kena Pajak). Bird dan Slack mengatakan bahwa dalam
Seminar Perpajakan - 7

penentuan tarif, pemerintah daerah perlu mempertimbangkan besarnya pemasukan dan pengeluaran terkait kegiatan pengumpulan pajak. Jangan sampai tarif pajak yang ditetapkan terlalu rendah sehingga tidak dapat menutupi biaya pemungutan pajak itu sendiri.

Matrik Perbedaan PBB P2 sebelum dan setelah berlakunya UU PDRD

UU PBB Objek Bumi dan/atau bangunan

UU PDRD Bumi dan/atau bangunan, kecuali kawasan yang

digunakan untuk kegiatan usaha perhutanan, pertambangan Tarif NJKP Sebesar 0,5% 20% sd 100% (PP 25 tahun 2002 ditetapkan sebesar 20% dan 40% NJOPTKP Setinggi-tingginya Rp12 juta PBB terutang Tarif x NJKP x (NJOP NJOPTKP) 0,5% x 20% x (NJOP NJOPTKP), atau 0,5% x 40% x (NJOP NJOPTKP)
Sumber : http://www.bppk.depkeu.go.id/webpajak/index.php/artikel/ok-pbb/1082pendaerahan-pbb

perkebunan, dan

Paling tinggi 0,3% Tidak dipergunakan

Paling rendah Rp10 juta

Tarif x (NJOP NJOPTKP) Maksimal 0,3% x (NJOP NJOPTKP)

Selanjutnya mereka berpendapat pula bahwa pemerintah pusat hendaknya memberikan batasan tarif pajak. Ini dimaskudkan untuk menghindari persaingan tarif pajak antar daerah. Daerah kaya memiliki kecenderungan menetapkan tarif rendah agar dapat menarik investasi bisnis atau kepentingan yang lain di daerah tersebut. Dengan basis pajak yang lebih luas daripada
Seminar Perpajakan - 8

daerah miskin, mereka dapat memperoleh penerimaan pajak yang sebanding dengan daerah lain kendatipun tarif pajak-nya rendah. Guna menjembatani permasalah tersebut maka sebaiknya pemerintah pusat bersama DPR dapat merumuskan kebijakan penentuan tarif yang tepat sehingga upaya perkuatan kemandirian fiskal daerah bisa tercapai. Misalnya melalui pembagian zona tarif pajak.

b) Diferensiasi Tarif UU PBB 1986 menetapkan bahwa tarif PBB adalah tarif tunggal yaitu 0,5%. Sedangkan pada UU No. 28 tahun 2009 tarif PBB setinggi-tingginya adalah 0,3%. Apakah tarif yang dimaksud oleh UU No. 28 tahun 2009 juga tarif tunggal? Apakah deferensiasi tarif diperbolehkan dalam penerapan UU No. 28 tahun 2009? Penjelasan UU No. 28 tahun 2009 tidak menyatakan hal teresbut. Jika kita mengasumsikan bahwa diferensiasi tarif diperbolehkan maka ini akan menjadi salah satu peluang pemerintah daerah dalam mengoptimalkan pemasukan PBB P2 daerah tersebut.

Hasil penelitian Bird dan Slack menunjukkan bahwa banyak negara didunia menetapkan deferensiasi tarif pajak properti berdasarkan kawasan. Tarif pajak dibedakan berdasarkan kegunaan kawasan misalnya kawasan komerisal, residensial, industri, atau pertanian. Sistem seperti ini memberikan kewenagan bagi pemerintah daerah untuk mengelola pendistribusian beban pajak meliputi seluruh jenis properti yang ada di wilayah yuridiksinya. Pemberlakuan sistem ini memiliki beberapa dasar pemikiran diantaranya : (1) Distribusi beban pajak lebih adil Misalnya dengan penerapan tarif pajak yang lebih tinggi bagi kawasan pemukiman mewah dan tarif pajak yang lebih rendah bagi kawasan pemukiman sederhana. Pemilik rumah mewah memiliki kemampuan membayar pajak yang lebih baik dan biasanya layanan umum yang tersedia disekitar perumahan mewah (seperti penerangan jalan, akses jalan dan fasilitas kebersihan) cukup tersedia. Sehingga akan lebih adil jika kita menerapkan tarif pajak yang lebih tinggi kepada kawasan pemukiman mewah karena memenuhi asas manfaat dan keadilan. (2) Alasan Efisiensi
Seminar Perpajakan - 9

Misalnya kawasan bisnis tertentu dikenakan tarif pajak yang lebih rendah. Ini bertujuan untuk mendukung efisiensi usaha dan memajukan sektor bisnis yang menjadi unggulan daerah tersebut. (3) Kebijakan penggunaan lahan Ketika pemerintah daerah memiliki program percepatan di wilayah tertentu maka dapat ditetapkan tarif pajak rendah. Sedangkan di wilayah yang memiliki pertumbuhan properti yang tinggi dapat dikenakan tarif pajak yang lebih tinggi. c) Tarif yang tepat Penentuan tarif yang tepat akan berbeda pada tiap-tiap daerah sesuai dengan karakteristiknya. pemenuhan asas Permasalahan efisiensi yang perlu digarisbahawi Pemerintah adalah daerah

pemungutan

pajak.

diharapakan dapat membuat suatu perhitungan kebutuhan anggaran dalam melakukan kegiatan pengelolaan PBB P2 dan asumsi penerimaan PBB P2 yang akan diperoleh. Berdasarkan perhitungan tersebut, pemerintah daerah dapat menentukan tarif pengenaan PBB P2 yang ideal. Keputusan diferensiasi tarif pun berangkat dari hal yang sama. Penetapan tarif yang tepat diharapkan tidak saja berdasarkan perhitungan politis tetapi juga matematis. Jangan sampai pajak yang diperoleh tidak berhasil menutupi biaya-biaya yang dikeluarkan sehubungan

pengelolaannya.

Optimalisasi PBB

Upaya optimalisasi PBB perlu dilakukan agar tujuan awal pendaerahan PBB P2 dapat tercapai. Kemandirian fiskal daerah dapat terlihat dari kontribusi PAD terhadap total penerimaan daerah. Ahmad Lutfi (2006) menyatakan bahwa secara teoritik PAD meruapkan suatu sumbangan nyata yang diberikan oleh masyarakat setempat guna mendukung status otonom yang diberikan kepada suatu daerah. Besaran perolehan PAD penting artinya bagi suatu pemerintah daerah karena mencerminkan keleluasaan yang lebih dalam melaksanakan kegiatan kepemerintahan sehari-hari maupun pembangunan yang ada di wilayahnya. Bird berpendapat bahwa ada dua kriteria pajak daerah yang baik. Pertama pajak daerah harus memberikan pendapatan yang cukup bagi daerah sesuai dengan derajat otonomi fiskal yang

Seminar Perpajakan - 10

dimiliknya. Kedua, pajak daerah harus secara jelas berdampak pada tanggung jawab fiskal yang dimiliki oleh pemerintah daerah yang bersangkutan[4]. Sebagaimana dijelaskan di atas, ketidakmampuan negara-negara berkembang dan transisi dalam mengoptimalkan pajak properti dikarenakan cara mereka dalam

mengadiministrasikannya. Seringkali dijumpai, pemerintah daerah tidak memiliki kapasitas untuk mengadminstrasikan pajak. Banyak fungsi administratif yang dilakukan secara manual ketimbang dilakukan secara terkomputerisasi. Kondisi ini menyebabkan tidak semua basis pajak terpajaki, tingkat ketertagihan pajak rendah, dan pelaksanaan (enforcement) perpajakannya hampir sulit ditemui. Terdapat tiga langkah utama dalam pengadministrasian PBB menurut Bird dan Slack yaitu proses identifikasi objek pajak, penilaian objek pajak dan penetapan pajak terutang, dan proses penagihan pajak. Tahap identifikasi memainkan peranan penting untuk menjaring sebanyak mungkin wajib pajak/objek pajak. Penerapan prosedur yang tepat akan menyulitkan wajib pajak untuk melakukan penghindaran pajak. Selanjutnya tahap penilaian atau penetapan hendaknya dapat membuat wajib pajak sulit untuk menghindari diri dari seluruh kemampuannya dalam membayar pajak. Supaya diperoleh penilaian atau penetapan yang tepat maka diperlukan standard baku penilaian. Standard ini akan mengurangi diskresi yang berlebihan dalam melakukan penilaian. Saat ini, yang paling mudah dilakukan oleh pemerintah daerah adalah dengan mengadopsi standard penilaian properti yang selama ini digunakan oleh pemerintah pusat. Proses terakhir dalam administrasi PBB adalah melakukan penagihan. Penagihan diharapkan mampu memastikan bahwa kewajiban pembayaran pajak yang dibebankan kepada wajib pajak dapat dilakukan dengan benar. Benar sesuai dengan ketentuan dan pelanggaran atas ketetentuan yang berlaku diberi ganjaran sesuai sanksi yang ada. Dalam mengadministraikan PBB seringkali dijumpai kegiatan-kegiatan yang merujuk pada penghindaran, penipuan dan kolusi pajak. McMaster mencoba untuk mengidentifikasi hal-hal tersebut yaitu: a) Tahap identifikasi wajib pajak berusaha untuk menghindari proses identifikasi oleh fiskus atau fiskus telah berhasil mengidentifikasi objek pajak namun gagal mengenakan pajak. b) Tahap penilaian wajib pajak menyembunyikan kewajiban-kewajibannya atau fiskus disuap untuk melakukan undervalue atas penilaian properti.

Seminar Perpajakan - 11

c) Tahap penagihan wajib pajak gagal/tidak mampu bayar, fiskus gagal untuk memaksa/menagih wajib pajak untuk membayar, atau wajib pajak sudah membayar tetapi uangnya ditahan oleh fiskus. Oleh karena itu, dengan melihat adanya celah-celah tersebut, kita perlu menyusun administrasi yang lebih ekonomis, efisien dan efektif. Berikut ini akan dibahas beberapa alternatif cara yang dapat ditempuh oleh pemerintah daerah dalam mengoptimalisasikan adminstarsi PBB P2. a) Otomatisasi administasi baik pada tahap identifikasi, penilaian maupun penagihan. Sebagai contoh setiap orang yang mengajukan izin mendirikan bangunan atau melakukan proses pengalihan tanah dan/atau bangunan secara otomatis akan mengisi SPOP[5]. Sehingga data objek pajak bisa langsung termutakhirkan. Penilaian otomatis dapat dilakukan dengan bantuan software penilaian dan pembayaran PBB P2 otomatis dapat dilakukan melalui mesin ATM bank. b) Adanya informasi/data pembanding pada tahap identifikasi dan penilaian. Data atau informasi ini dibutuhkan agar infromasi yang digunakan sebagai input dan dalam pemrosesanya tetap valid dan objektif. Sebagai contoh di tahap identifikasi, fiskus memiliki data pembanding lain atau informasi data lain yang menyatakan bahwa tanah beberapa hektare di kecamatan A sudah dijadikan cluster perumahan. Sedangkan di tahap penilaian perbandingan bisa dilakukan dengan standard penilaian yang ada. Sehingga yang diutamakan adalah mengurangi diskresi penilai atas hasil penilaiannya. c) Rangsangan pemenuhan kewajiban baik pada tahap identifikasi, penilaian dan penagihan. Misalnya pemberian potongan tarif pajak atau insentif pajak lainnya agar merangasan wajib pajak untuk melaporkan objek-objek pajak yang dimiliki-nya. d) Khusus tahap penagihan kriteria kegagalan bayar jelas/tegas, sistem

pembayaran/penagihan yang sebisa mungkin mencegah terjadinya penalti/sanksi, dan sistem pembayaran yang mudah sehingga wajib pajak berkeinginan untuk membarayar (willing to pay). Pemerintah daerah tentunya akan mengeluarkan biaya-biaya sehubungan dengan proses pengadministrasian PBB P2. Adalah penting bagi pemerintah daerah untuk menjaga agar proporsi jumlah biaya yang dikeluarkan tidak melebihi penerimaan pendapatan PBB P2. Dalam menentukan pola-pola administrasi yang tepat maka pemerintah daerah perlu mempertimbangkan cost dan benefit dari suatu alternatif kebijakan dan ketersediaan sumber daya pemerintah daerah itu sendiri. Kita menyadari bahwa usaha-usaha penataan administrasi
Seminar Perpajakan - 12

PBB P2 bukanlah hal yang mudah, terutama di masa-masa transisi dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. Ahmad Lutfi (2006) mengusulkan agar pengelolaan pajak-pajak dan retribusi daerah dikelola oleh suatu lembaga teknis tersendiri dan tidak

mengabungkannya dengan lembaga lainnya. Ini dimaskudkan agar lembaga lain dapat berkonsentrasi dalam melakukan pelayanan masyarakat. Meter dan Horn mengungkapkan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi kesuksesan implementasi suatu kebijakan adalah aktivitas implementasi-nya dan komunikasi antarorganisasi. Maka sudah sepatutnya dalam masa transisi ini, pemerintah pusat dan daerah bersinergi dan berkordinasi secara intensif agar implementasi kebijakan ini tidak berjalan setengah-setengah.

Penutup

Pendaerahan PBB P2 di Indonesia bertujuan untuk meningkatkan kemandirian fiskal daerah. Ini dilatarbelakangi minimnya kontribusi PAD terhadap total pendapatan daerah. Secara teori, pengalihan pengelolaan PBB P2 dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah dapat dilakukan. PBB P2 dapat dipungut oleh pemerintah daerah karena memenuhi kriteria pajak daerah. PBB di negara lain dikenal dengan istilah pajak properti dan sudah menjadi praktik umum di dunia bahwa pajak properti dipungut oleh pemerintah daerah. Manfaat utama PBB P2 bagi daerah adalah sebagai sumber pendapatan dalam APBD dan fungsi pengaturan kebijakan terkait kependudukan dan ketatakotaan. Terdapat tiga hal yang perlu dicermati dalam pendaerahan PBB P2 terkait struktur pajaknya yaitu : basis pajak, penilaian dan penentuan tarif pajaknya. Dalam model pendaerahan PBB P2 di Indonesia, pemerintah daerah memiliki kebebasan dalam penentuan tarif. Dengan penetapan tarif yang tepat maka penerimaan PBB P2 bisa dioptimalkan ditambah lagi dengan pembenahan sistem administrasi PBB P2. Pembenahan struktur dan sistem administrasi pajak merupakan dua hal yang tidak mudah untuk dilakukan. Agar pendaerahan PBB P2 mencapai tujuan yang diharapkan maka perlu pengarahan, pembinaan dan kordinasi dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah.

Catatan Kaki : *) penulis adalah mahasiswa semester X Prodip IV STAN spesialisasi Akuntansi Kurikulum Khusus. Sebelumnya penulis bertugas sebagai pelaksana seksi Ekstensifikasi Perpajakan KPP Pratama Teluk Betung, Bandarlampung.

Seminar Perpajakan - 13

[1]

Bird, R.M. (1999) . Rethinking Subnational Taxes : A new Look at Tax Assignment. Washington : Working Paper of International Monetary Fund. p.4

[2]

Ibid fungsi reguleter adalah pajak berfungsi sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijakan di bidang social dan ekonomi

[3]

[4]

Lutfi, A. (2006). Penyempurnaan Administrasi Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Suatu Upaya Dalam Optimalisasi Penerimaan PAD. Jurnal Bisnis dan Birokrasi

No.1/Vol.XIV/Januari/2006, (Januari 2006), p 344.


[5]

SPOP adalah surat pemberitahuan objek pajak PBB yang digunakan oleh wajib pajak untuk melaporkan kondisi objek pajak yang dikuasai/dimanfaatkannya. SPOP digunakan sebagai dasar penetapan dan penilaian PBB.

Referensi

Jurnal Ilmiah dan Penelitian Terdahulu : Bird, R.M. (1999) . Rethinking Subnational Taxes : A new Look at Tax Assignment. Washington : Working Paper of International Monetary Fund. Lukam, Imam Baihaqi. (2011) . Analisis Faktor-faktor Penentu Kebijakan Pendaerahan Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Pedesaan dan Perkotaan. Skripsi, FISIP Universitas Indonesia. McLure, Charles E. (2001) the Tax Assignment Problem : Ruminations on How Theory and Practice Depend on History. National Tax Journal Vol 54 no. 2 (Juni 2001), p 339-364. Bird, R.M and Enid Slack. (2005). Land and Property Taxation in 25 Countries : A Comparative Review. CESifo DICE Report 3/2005, p. 34-42. Kovacs, Gabor (2009). Local Taxes : Theory and The Practice. Gyor : Working Paper of Departement of Economics, Szchenyi Istvn University Hungary. Lutfi, A. (2006). Penyempurnaan Administrasi Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Suatu Upaya Dalam Optimalisasi Penerimaan PAD. Jurnal Bisnis dan Birokrasi No.1/Vol.XIV/Januari/2006, (Januari 2006), p 343-355. Buku Literatur :

Seminar Perpajakan - 14

Ulbrich, Holley.H. (2011). Public Finance in Theory and Practice Second Edition. New york : Routledge.

Bird, R.M. (2004). International Handbook of Land and Property Taxation. Massachusetts : Edward Edgar Publishing.

Nugroho, R. (2012). Public Policy. Jakarta : PT. Elex Media Komputindo.

Sumber dari Internet : Darwin (2013) Pendaerahan PBB diakses dari http://www.bppk.depkeu.go.id/webpajak/index.php/artikel/ok-pbb/1082-pendaerahanpbb pada 22 Juni 2013 pkl. 18.00 Peraturan Perundang-undangan dan lainnya : Republik Indonesia. Undang-undang No. 28 tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 No. 130. Republik Indonesia. Undang-undang No. 12 tahun 1985 jo Undang-undang No. 12 tahun 1994. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1994 No.62. Pemerintah Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah No. 16 tahun 2000 tentang Pembagian Hasil Penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 No. 36. Kementrian Keuangan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 04/PMK.07/2008 tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Transfer Ke Daerah.

Seminar Perpajakan - 15