Anda di halaman 1dari 31

Geologi Sejarah 29 03 2010 Perkembangan Organisme Di Bumi Selama Jaman Kapur PENDAHULUAN FLORA Famili dari Araucaricaceae yang

sekarang hanya ada di bumi belahan selatan. Terawetkan di Arizona. Diameternya 1,5 meter dan panjangnya mencapai 30 meter. Paku pakuan yang pertama ada pada Jaman Jura akhir dan menyebar luas pada Jaman Kapur, sebagaimana telah terfosilkannya dalam bentuk kayu. Sequoias muncul selama Jaman (Stokes, 1973). Kepunahan dan perubahan yang mendadak dalam dunia vegetasi di bumi terjadi pada Jaman Kapur tengah. Awalnya, selama Jaman Trias dan Jura, Jura dan menjadi umum pada Jaman Kapur.

tanaman yang paling banyak adalah gymnospermae, atau tanaman tak berbunga. Variasinya antara cycads, dan tanaman paku pakuan lain. Setelah Jaman Kapur tengah, tanaman yang muncul adalah angiospermae atau tanaman berbunga. Tanaman ini mempunyai struktur bunga dan ada sel telur. Angiospermae ini dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu dikotil dan monokotil. Dikotil merupakan tanaman berakar serabut dan dengan tulang daun yang bercabang. Jenisnya seperti pohon. Monokotil merupakan tanaman berakar tunggal dengan tulang daun yang sejajar. Tanamannya seperti rumput, palem, bunga lili, dan anggrek. Diperkirakan ada sekitar 175.000 spesies tanaman berbunga yang hidup. Sedikitnya, 30.000 fosil spesiesnya telah ditemukan. Tanaman ini berbunga pada semua iklim dan termasuk pepohonan.(Stokes, 1973). Asalmula dari angiospermae merupakan permasalahan yang tak terpecahkan. Umumnya tersebar mendominasi pada Jaman Kapur. Tanaman palem San miguelia, ditemukan pada batuan Jaman Trias atas dari Colorado barat daya, mempunyai kemungkinan sebagai angiospermae yang paling tua yang pernah ditemukan. Sedangkan jejak dari magnolia, sassafras, fig dan willow umumnya hadir pada batuan Jaman kapur atas. Hutan dari angiospermae ini mendukung

pada bentukan dari batubara pada Jaman Kapur. Butiran pollen dari kelompok ini berguna dalam mengetahui keadaan iklim dan sebagai korelasi antara tanaman yang ada.(Stokes, 1973). Fosil dari kelompok tumbuhan berbunga pada Jaman Kapur sangat mirip dengan spesies pada masa kini. Fosil tersebut adalah adanya daun dari Platanus, pada masa kini adalah genus sycamores. Buahnya mirip dengan genus ficus pada masa kini. Tumbuhan yang sejenis antara lain pohon palem, famili oak, dan famili walnut.(Stanley, 1986).

FAUNA Pada akhir Jaman Kapur, terdapat dua kelompok besar plangton bersel satu yang ada sejak Jaman Kapur tengah. Keduanya adalah foraminifera globigerinid dan cocolithophore yang memberikan kontribusi besar pada sedimen calcareous di daerah laut. Selama akhir Jaman Kapur, cocolithophore pada lingkungan laut hangat dapat membentuk coccolith. Apabila terakumulasi dalam volume yang besar, maka dapat menjadi batugamping berukuran butir halus yang umumnya disebut chalk.(Stanley, 1986).

Hewan pelagik yang ada di laut, antara lain Ammonoids dan belemnoids sebagai karnivora berenang yang dominan. Ammonoids sendiri sebagai fosil indeks yang sangat berharga untuk sistem Jaman Kapur. Pada Jaman Kapur ini, hadir ikan teleost. Ciri cirinya adalah ekor yang simetri, relaif melonjong, gigi yang pendek yang disesuaikan untuk mencari makanan. Ikan di jaman sekarang yang hampir sama antara lain ikan salmon, dan piranha amerika selatan. Ikan Hiu Jaman Kapur mempunyai bentukan yang sama dengan sekarang. Reptil laut yang ada seperti Plesiosaurus yang berkembang pada Jaman Kapur akhir. Ada mossasurus, sebagai hewan laut yang dapat tumbuh memanjang hingga 15 meter. Terdapat fosil yang menunjukkan mossasurus menyerang ammonoids. Ada Hesperornis, sebagai burung penyelam, mempunyai ciri ciri kaki lebar dan bersayap kecil yang disesuaikan untuk berenang. Kura kura laut juga ada selama Jaman Kapur ini, sering disebut dengan Archelon.(Stanley, 1986).

Kehidupan di dasar laut, merupakan kelanjutan dari kehidupan pada Jaman Jura. Kebanyakan adalah koral atau heksa koral. Organisme tersebut ada yang masih bertahan hingga masa kini. Beberapa di antaranya foraminifera dan

Alabamina,

Anomalinoides,

Pleurostomella,

Fissoelphidium,

Siphogeneroides. Bryozoa yang hadir pada umumnya adalah cheilostomes, di antaranya ada Rhiniopora dan Onychocella. Organisme ini berasal dari Jaman Jura, mengalami perkembangan yang pesat pada Jaman Kapur ini. Moluska kelas gastropoda yang muncul adalah Neogastropoda atau new snails. Organisme ini memunculkan famili dan genus yang baru. Hewan ini karnivora dengan makanannya berupa cacing, bivalvia, dan snail yang lainnya. Terdapat pula Sea Grass, yang bukan merupakan rumput yang sebenarnya seperti pada era kenozoik, tetapi seperti tanaman berumput yang menyelimuti dasar samudera dan terbentuk selama Jaman Kapur ini. Di antara bivalvia yang hidup di permukaan substratum, terdapat rudist sebagai organisme yang istimewa karena hidupnya seperti koral, pembentuk karang daerah tropis. Pembentuknya berupa heksa koral dan alga coralin. Kehadiran rudist ini dapat mengasumsikan bahwa keadaan yang dominan pada Jaman Kapur berupa pertumbuhan karang di daerah tropis. Hampir semua karang yang berada pada lingkungan shallow didominasi oleh rudist. Pertumbuhannya cepat, seperti koral pembentuk terumbu. Kepunahannya seperti punahnya dinosaurus pada akhir Jaman Kapur. (Stanley, 1986).

Pelecypoda

jenis

rudist

yang

membentuk

terumbu

pada

Jaman

Kapur

berkembang pesat dan menggeser kedudukan koral. Rudist tersebut antara lain Monopleura, Hippurites, dan Durania. Bentuk umum ketiganya hampir sama, yaitu relatis mengkerucut ke arah bawah. (Mintz, 1981 hal.477)

Pada awal Jaman Kapur, keberadaan dari fauna invertebrata tidak banyak diketahui. Tetapi dari fosil yang tersedia, menunjukkan keberlanjutan dari dinosaurus.reptil reptil ini mempunyai ukuran/bentuk tubuh yang besar, lebih besar dari ukuran dan manusia. Dinosaurus dari karnivora yang hadir adalah ini

Albertosaurus

Tyrannosaurus

genus

Chasmosaurus.

Hewan

tingginya sekitar 4,4 meter. Reptil terbangnya adalah Pterosaurus dari genus Quetzalcoatlus, sedangkan burung air juga ada dengan pembedanya pada sayap keduanya. Terdapat juga buaya dengan panjang sekitar 15 meter. Ular yang hadir merupakan kelompok muda yang primitif. Bila dibangdingkan dengan sekarang, bentukannya seperti phyton. Dinosaurus herbivora yang ada seperti Edmontonia dari genus Corythosaurus. .(Stanley, 1986).

Vertebrata

Jaman

Kapur

yang

punya

masa

depan

bagus

dalam

perkembangannya adalah mamalia, yang berbeda jauh dengan reptil. Ukuran / bentuk tubuhnya kecil. Mamalia pertama adalah jenis marsupial, yang sekarang banyak terapat di Australia seperti kangguru, wombat dan koala. Di Amerika ada Opossum. Kehadiran plasenta berpengaruh terhadap keberadaan mamalia ini. (Stanley, 1986).

KESIMPULAN Pada Jaman Kapur, Kehidupan di daratan didominasi Dinosaurus keberadaan

tersebar di seluruh daratan di muka bumi. Tanaman berbunga (angiospermae) berkemnbang pesat hingga menggantikan dominasi dari gymnospermae yang merupakan tanaman utama pada Jaman sebelumnya. Pada lantai samudera terdapat cococlith yang nantinya mengendap ,membentuk chalk yang tersebar secara luas. Pada akhir Jaman Kapur, muncul dua kelompok plangton baru yaitu diatom dan foraminifera yang tersebar pada waktu yang bersamaan. Pada pertengahan Jaman Kapur, Ikan Teleost muncul dan berkembang bersama dua kelompok karnivora yang telah ada lebih awal yaitu kepiting dan snail predator. Bivalvia jenis rudist menjadi organisme pembentuk karang/terumbu yang dominan, tetapi organisme ini punah pada akhir Jaman Kapur bersamaan dengan punahnya dinosaurus dan organisme lainnya. (Stanley, 1986).

Endapan Mineral Skarn

I. Definisi

Skarn dapat terbentuk selama metamorfisme kontak atau regional. Selain itu juga dari berbagai macam proses metasomatisme yang melibatkan fluida magmatik, metamorfik, meteorik, dan yang berasal dari laut. Skarn dapat ditemukan di permukaan sampai pluton, di sepanjang sesar dan shear zone, di sistem geotermal dangkal, pada dasar lantai samudra maupun pada kerak bagian bawah yang tertutup oleh dataran hasil metamorfisme burial dalam. Skarn dibagi menjadi endoskarn dan eksoskarn dengan didasarkan pada jenis kandungan protolit.

II. Mineralogi

Secara umum, Kuarsa dan kalsit selalu hadir dalam semua jenis skarn. Sedangkan mineral lain hanya hadir pada jenis skarn tertentu seperti talk, serpentine, dan brusit yang hadir hanya pada skarn tipe magnesian.

III. Evolusi skarn

Formasi dari skarn deposit merupakan hasil dari proses yang dinamis. Pada sebagian besar skarn deposit, terdapat beberapa transisi dari metamorfisme distal yang menghasilkan hornfels dan skarnoid ke metamorfisme proximal yang menghasilkan skarn yang mengandung bijih berukuran relatif kasar. Selama gradien suhu yang tinggi dan sirkulasi fluida skala besar akibat intrusi magma, metamorfisme kontak dapat menjadi lebih kompleks dibandingkan model rekristalisasi isokimia yang menyusun metamorfisme regional. Semakin kompleks fluida metasomatisme, akan menghasilkan keterkaitan antara proses metamorfisme yang murni dengan proses metasomatisme.

IV. Zonasi Skarn deposit Terdapat pola zonasi pada skarn pada umumnya. Pola zonasi ini berupa proximal garnet, distal piroksen, dan idiokras (atau piroksenoid seperti wolastonit, bustamit dan rodonit) yang terdapat pada kontak antara skarn dan marmer. Selain itu, masing-masing mineral penyusun skarn dapat menunjukan warna yang sistematis atau komposisi yang bervariasi dalam pola zonasi yang lebih luas.

V. Petrogenesis Sebagian besar skarn deposit secara langsung berhubungan dengan aktivitas pembekuan batuan beku sehingga terdapat hubungan antara komposisi skarn dengan komposisi batuan beku. Karakteristik penting lainnya diantaranya tingkat oksidasi, ukuran, tekstur, kedalaman, maupun seting tektonik dari masing-masing pluton.

Tektonik Setting Klasifikasi tektonik yang sangat berguna dari deposit skarn seharusnya mengelompokkan tipe skarn yang pada umumnya berada bersama dan membedakannya yang secara khusus terdapat dalam tektonik setting yang khusus. Sebagai contohnya, deposit skarn calcic Fe-Cu sebenarnya hanyalah tipe skarn yang ditemukan dalam wilayah busur kepulauan samudra. Banyak dari skarn ini juga diperkaya oleh Co, Ni, Cr, dan Au. Sebagai tambahan, beberapa skarn yang mengandung emas yang bernilai ekonomis muncul dan telah terbentuk pada back arc basin yang berasosiasi dengan busur volkanik samudra (Ray et al., 1988). Beberapa kenampakan kunci yang menyusun skarn tersebut terpisah dari asosiasinya dengan magma dan kerak yang lebih berkembang adalah yang berasosiasi dengan pluton yang bersifat gabbro dan diorit, endoskarn yang melimpah, metasomatisme yang tersebar luas dan ketidakhadiran Sn dan Pb.

Kebanyakan deposit skarn berasosiasi dengan busur magmatik yang berkaitan dengan subduksi dalam kerak benua. Komposisi pluton berkisar dari diorit

sampai granit walaupun pada dasarnya memiliki perbedaan diantara tipe skarn logam yang muncul untuk mencerminkan lingkungan geologi setempat

(kedalaman formasi, pola struktural dan fluida) lebih pada perbedaan pokok dari petrogenesis (Nakano,et al., 1990). Sebaliknya, skarn yang mengandung emas pada lingkungan ini berasosiasi dengan pluton yang tereduksi secara khusus yang mungkin mewakili sejarah geologi yang khusus. Beberapa Skarn, tidak berasosiasi dengan subduksi yang berkaitan dengan magmatisme. Pluton yang berkomposisi granit, pada umumnya mengandung muskovit dan biotit primer, megakristal kuarsa berwarna abu-abu gelap, lubang-lubang miarolitik, alterasi tipe greisen, dan anomali radioaktif. Skarn yang terasosiasi, kaya akan timah dan fluor walaupun induk dari elemen lain biasanya hadir dan mungkin penting secara ekonomis. Perkembangan rangkaian ini termasuk W, Be, B, Li, Bi, Zn, Pb, U, F, dan REE.

4th Stratigraphy Analysis 25 03 2010 Sistem Arus Traksi Struktur Sedimen I. PENDAHULUAN Transport dan pengendapan sedimen dari daerah sumber ke daerah

pengendapannya tidaklah dikuasai oleh jenis jenis mekanisme transport tertentu, misal hanya arus traksi saja, dan sebagainya, tetapi selalu merupakan suatu sistem dari berbagai mekanisme, bahkan bukan hanya bersifat mekanis, tetapi juga bersifat kimiawi (Koesoemadinata, 1981). Beberapa sistem transport dan sedimentasi :

1. 1 2. 2 3. 3

Sistem arus traksi dan suspensi. Sistem arus turbid dan pekat (density current). Sistem suspensi dan kimiawi.

Cara pengendapannya sendiri menurut Rubey (1935), pertikel mengendap dari suatu aliran berdasarkan dua hukum, yaitu :

1.

Hukum Stokes : Berat efektif suatu pola, hal ini berlaku untuk material halus.

2.

Hukum

Impact:

Reaksi

benturan

terhadap

medium,

hal

ini

berlaku untuk material kasar.

Dalam kenyataannya tiap tiap hukum berlaku untuk besar butir tertentu. Lebih kasar besar butir yang dimiliki maka hukum Impact akan berlaku, sedang sebaliknya, makin halus besar butir yang ada maka hukum Stokes yang akan berlaku.

Selain itu juga sifat sifat transport dan pengendapan lainnya akan mengalami perubahan perubahan, seperti :

1. Gerakan partikel/butir. 2. Konsentrasi sedimen transport. 3. Kecepatan aliran dekat dasar. 4. Koefisien kekasaran (maningsin). 5. Struktur sedimrn yang dibangun. 6. Kedalaman air. 7. Sifat permukaan air. 8. Turbulensi.

II. SISTEM ARUS TRAKSI STRUKTUR SEDIMEN Sebenarnya sistem ini terdiri dari 2 faktor, yaitu bed load dan suspended load, dimana diendapkan dari sistem tersendiri. Cara pengendapan bed load

berhubungan erat dengan pembentukan struktur sedimen dan aliran. Konsep yang ada pada dasarnya delam pelbagai kekuatan arus (stream power) transport sedimen, pengendapan dan bentuk dasar (forms of bed roughness), berubah ubah dan memiliki karateristik tersendiri. Bentuk dasar juga tergantung dari besar butir, 0,6 mm sebagai batas.

Traksi

merupakan

salah

satu

mekanika

transportasi

dan

pengendapan.

Mekanika transport dan pengendapan sendiri memuat beberapa bagian, antara lain :

1. Muatan, yaitu jumlah total sedimen yang diangkut oleh suatu aliran (Gilbert, 1914). 2. Kapasitas aliran (stream capacity), yaitu muatan maksimal yang dapat diangkut oleh aliran (Gilbert, 1914). 3. Kompetensi aliran (stream competence), yaitu kemampuan aliran untuk mentransport sedimen dalam pengertian dimensi partikel (Twenhofel, 1950).

Traksi atau gaya gesek kritis juga dipengaruhi oleh hidraulica lift, yaitu pengangkatan yang disebabkan oleh perbedaan tekanan diatas dan dibawah aliran, diukur oleh kecepatan radien dekat dasar aliran.

Berdasarkan cara/gaya mengangkut partikel ini maka transport sedimen secara massal terdapat sebagai berikut (koesoemadinata, 1981) :

1. Rayapan permukaan (surface creep) : menggelundung. 2. Saltasi (rolling, skipping) : meloncat dan meluncur. 3. Suspensi.

Dari segi muatan, maka ini dibagi menjadi :

1. Bed load (surface creep dan saltasi) 2. Suspended load (wash load)

III. STRUKTUR SEDIMEN YANG TERBENTUK DARI ARUS TRAKSI

Arus traksi yang berlangsung mengakibatkan terbentuknya struktur sediment. Struktur sediment yang terbentuk sendiri terbagi menjadi dua, yaitu

(Koesoemadinata, 1981):

1.1

Rezim aliran bawah (lower flow regim), yaitu gaya tarikan lebih berpengaruh. Hal ini mengakibatkan :

1. Terbentuk onggokan onggokan dan scou.r 2. Cara transport diseret dan jatuh bebas ke dalam scour. 3. Struktur sedimen sangat ditentukan sebagai akibat dari jatuhan partikel pertikel kedalam lubang lubang. 4. Sudut kemiringan dari cross laminae adalah searah dengan arah arus.

2. 2

Rezim aliran tinggi. Hal ini mengakibatkan :

1. Onggokan onggokan lebih disebabkan karena penumpukan pada endapan endapan yang lebih awal. 2. Cara transport menerus, karena momentum air dan secara massal. 3. Struktur sedimen acretion terbentuk pada punggung onggokan onggokan. 4. Kadang kadang mengakibatkan terbentuknya :

Horizontal stratification (transition) Low angle cross stratification < 100. Sudut kemiringan berbanding terbalik dengan arah arus.

Imbricated pebbles

Dalam sistem traksi dan suspensi, maka sedimentasi terjadi dari muatan suspensi dan muatan dasar, berselang seling atau sering pula dalam kombinasi. Kombinasi pengendapan traksi dan suspensi terutama terjadi di bagian bawah dari lower flow regim.

3rd Stratigraphy Analysis 25 03 2010 Analisis Struktur Sedimen

I. Maksud dan Tujuan Maksud :

Pengenalan terhadap berbagai struktur sedimen Melakukan pengukuran data struktur sedimen : ripple mark ( beberapa parameter Indeks Ripple ) dan silang siur.

Tujuan : Mampu menggunakan data pengukuran struktur sedimen untuk analisa proses sedimentasi dan interpretasi lingkungan pengendapan.

II. Dasar Teori Sybill (1984) menjelaskan bahwa struktur sedimen adalah sebuah struktur dalam batuan sedimen, seperti cross bedding, ripple marks, dan sandstone dikes, yang terbentuk bersama pada saat deposisi berlangsung (struktur sedimen primer) atau sesaat setelah deposisi (struktur sedimen sekunder).

Struktur sedimen merupakan data dinamis lingkungan pengendapan karena sebagian besar struktur sedimen terbentuk oleh proses fisika sebelum, selama dan sesudah sedimentasi, struktur yang lain dihasilkan oleh proses biogenik dan proses kimia. Proses fisika meliputi pergerakan arus fluida, aliran massa dan transportasi sedimen oleh angin dan salju. Proses fisik dapat terjadi selama sedimentasi atau berupa aktifitas mekanik beberapa saat setelah sedimentasi. Proses biogenik adalah aktifitas tumbuhan dan binatang di tempat dimana sedimen tersebut diendapkan. Sedang proses kimia merupakan proses yang

muncul akibat pelarutan-pelarutan dan reaksi antar komponen penyusun batuan sedimen.

Struktur sedimen mencerminkan kondisi lingkungan saat sedimentasi dan perubahan yang mengontrolnya, sehingga struktur sedimen sangat bermanfaat, antara lain untuk :

1. Interpretasi

lingkungan

pengendapan

yang

mencakup

mekanisme

transportasi sedimen, arah aliran arus, kedalaman air, kekuatan angin, dan kecepatan relatif arus. 2. Menentukan terdeformasi. 3. Menentukan pola arus purba dan paleogeografi suatu daerah. bagian atas dan bawah pada lapisan yang sudah

Berdasarkan genetiknya struktur sedimen dibedakan menjadi empat yaitu:

1. Struktur sedimen erosional 2. Struktur sedimen saat pengendapan (Depositional sedimentary structure) 3. Struktur sedimen yang terbentuk segera setelah/pasca pengendapan (Post depositional sedimentary structure). 4. Struktur biogenik (Trace fossil)

Ripple marks merupakan struktur sedimen yang menunjukkan kenampakan adanya undulasi berjarak teratur pada permukaan pasir atau pada permukaan perlapisan batupasir. Sedang Sybill (1984) mengatakan bahwa ripple marks adalah bentukan permukaan pada material sedimentasi, khususnya material berupa pasir lepas, yang terdiri dari gundukan dan cekungan yang bergantian yang dibentuk oleh gaya angin atau aliran air. Bentuk dan ukuran dari struktur Ripple marks ini dapat bervariasi. Puncak dari sebuah ripple dapat saling berhubungan secara paralel satu dengan yang lainnya atau membentuk anastome pada sebagian tubuh struktur ini. Pada sayatan transversal,

bentuknya

dapat

simetris

atau

asimetris,

dengan

puncak

yang

tajam,

membundar, atau cenderung datar.

Ada beberapa parameter untuk memudahkan penentuan jenis ripple dan juga dapat digunakan untuk interpretasi proses pembentukannya, material

penyusunnya, dan komponen-komponen serta media pembentuknya.

Comments : Leave a Comment

Categories : Artikel Geologi

1st Stratigraphy Analysis 25 03 2010 Analisis Lingkungan Stratigrafi

Faktor faktor yang mempengaruhi dalam analisis lingkungan pengendapan bermacam macam, antara lain adalah :

1. Faktor fisik. Faktor fisik ini meliputi sifat sifat fisik dari lingkungan pengendapan. Hal ini berdasarkan dari jenis batuan, tekstur, dan struktur batuan sedimen.

2. Faktor kimia. Faktor kimia ini meliputi sedimen sedimen yang diendapkan dan proses pengendapannya berdasarkan dari zat yang terlarut, gas yang terlarut, ion ion yang terlarut, kadar garam, derajat keemasan, dan potensial reduksi oksidasi.

3. Faktor biologi.

Faktor ini meliputi sifat sifat biologis lingkungan pengendapan yang dicirikan oleh jenis jenis organisme yang ada pada lingkungan pengendapan. Masing masing memiliki cara hidupnya, yaitu hidupnya mengambang ( pelagic

planktonic ), melayang ( nektonic ), pada dasar laut ( benthonic ).

Comments : Leave a Comment Categories : Artikel Geologi

Geomagnet 10 03 2010 I. MAKSUD & TUJUAN Maksud : Untuk menghitung nilai anomali medan magnet pada suatu daerah dan membuat peta anomali intensitas magnetik total.

Tujuan : Untuk menafsirkan kondisi geologi bawah permukaan berdasarkan data anomali magnetik.

II. DASAR TEORI Pada mulanya penemuan penemuan obyek obyek geologi, termasuk mineral mineral ekonomis, dibawah permukaan ditemukan secara kebetulan. Ilmu kebumian terutama ilmu fisika belum berperan, sebab obyek obyek geologi tersebut belum dipahami dengan baik, sehingga sifat sifat fisika, serta prinsip prinsip fisika untuk mendeteksinya belum diketahui. Setelah itu para ilmuwan kemudian menciptakan metode metode untuk melakukan survey yang salah satunya adalah survey geomagnet.

Dalam survey geomagnet sendiri diperlukan pengertian dasar-dasar fisika tentang kemagnetan, antara lain:

1. Garis gaya adalah suatu garis yang arahnya disetia titik menunjukkan arah kuat medan di titik tersebut.

2. Gaya magnet (F) adalah gaya tarik-menarik atau tolak-menolak dari dua kutub magnet (m1 , m2) yang berjarak r. Hukum Coloumb menyatakan F = m1 . m2 / ( u.r2 ) dimana adalah konstanta permeabilitas magnet. 3. Kuat medan magnet (H) adalah gaya per satuan kuat kutub magnet yang bekerja terhadap suatu kutub kecil (m`) H = F / m` = m / ( r )

4. Momen magnet (M) adalah besaran vektor yang memanjang dari kutub negatif ke kutub positif. 5. Intensitas magnetik (I) merupakan momen magnet per satuan volume. Intensitas magnet ini sebanding dengan kuat medan magnet dan arahnya searah dengan medan magnet yang menginduksi. 6. Susceptibility / kerentanan magnetik (k) merupakan tingkat kemagnetan suatu benda untuk termagnetisasi. I = kH

Newton ( __ ), menduga bahwa akibat perputaran pada sumbunya, bumi tidak berbentuk bulat sempurna, melainkan berbentuk ellipsoid, mendatar pada kutub kutubnya. Dalam tinjauan kemagnetannya, bumi dapat dianggap bola yang termagnetisasi, kutib magnet selatan mengeluarkan garis gaya dan diterima kutub magnet utara, dengan kedua kutub utara dan selatan tersebut terletak kira kira pada 750 LU, 1010 BB dan 670 LS, 1430 BT.

Besarnya medan magnet bumi merupakan gabungan dari tiga jenis medan magnet utama, yaitu:

1. Medan Utama Berasal dari dalam bumi sendiri yang variasinya terhadap waktu berubah lambat dan kecil. Perubahan ini dikenal dengan variasi sekuler, yang

disebabkan oleh berpindahnya kutub-kutub magnet bumi. Pergeseran ini sebesar 1/10o pertahun ke arah barat, pada garis khatulistiwa kira-kira 6 km per tahun. Karena perubahan yang lambat maka pengaruh terhadap

pengukuran anomali medan magnet lokal dapat diabaikan.

2. Medan Luar

Berasal dari luar bumi, mempunyai variasi terhadap waktu yang lebih cepat. Hanya memberikan sumbangan 1% saja dalam medan magnet bumi, terutama:

Variasi harian

Penyebabnya berhubungan dengan interaksi antara radiasi matahari dengan lapisan ionosfer bumi. Variasi ini berperiode dalam 24 jam dan nilainya berkisar antara 10 50 T.

Badai magnetik

Penyebabnya

adalah

partikel-partikel

yang

dilepas

oleh

matahari.

Badai

magnetik dapat berlangsung dalam beberapa jam bahkan sampai beberapa hari, periodenya sampai 27 hari. Nilainya dapat mencapai 500 T. Oleh

karena itu pada saat badai ini terjadi pengukuran yang dilakukan akan menjadi tidak valid.

3. Medan Anomali (anomalous field) Berasal dari anomali magnet lokal di dekat permukaan kerak bumi dan relatif konstan terhadap waktu maupun posisi. Penyebabnya adalah karena perbedaan komposisi mineral yang bersifat magnetik.

Comments : 7 Comments Categories : Artikel Geologi

Gravitasi 10 03 2010

DASAR TEORI

Pada mulanya penemuan penemuan obyek obyek geologi, termasuk mineral mineral ekonomis, dibawah permukaan ditemukan secara kebetulan. Ilmu

kebumian terutama ilmu fisika belum berperan, sebab obyek obyek geologi tersebut belum dipahami dengan baik, sehingga sifat sifat fisika, serta prinsip prinsip fisika untuk mendeteksinya belum diketahui. Setelah itu para ilmuwan kemudian menciptakan metode metode yang salah satunya adalah metode gravitasi atau gaya berat.

Gravitasi atau gaya berat, bersama dengan magnit adalah salah satu alat dasar yang digunakan pada awal tingkatan dari eksplorasi (Sheriff, 1978, hal 3). Sedang Hochstein (1982) menjelaskan bahwa gravitasi adalah gaya yang bekerja pada suatu satuan massa dipermukaan bumi. Dalam menerapkan setiap metode geofisika untuk mengeksplorasi keadaan geologi bawah permukaan perlu diingat hukum hukum geologi yang mengontrol keberadaan dan konfigurasi obyek obyek geologi. Hukum dasar gravitasi dikemukakan pertama kali oleh Isaac Newton yang lebih dikenal dengan hukum Newton, yang terbagi menjadi dua hukum utama.

Hukum Newton I Hukum Newton II Data metode gravitasi yang ada didapatkan melalui pengukuran variasi antar titik titik dipermukaan bumi yang saling berdekatan. Variasi ini disebabkan oleh :

Kondisi bumi tidak seragam Kondisi bumi berbentuk bola Bumi mengalami rotasi.

Tentu pengukuran data dalam mencari harga gravitasi tidak serta merta mutlak begitu saja, banyak pengaruh dari luar. Pada suatu tempat dimuka bumi ini, harga gravitasi dipengaruhi oleh faktor :

Lintang

Elevasi Topografi Efek pasang surut Densitas batuan

Data

gravitasi

yang

sudah

ada

kebanyakan

digunakan

dalam

mencari

hidrokarbon. Gravitasi atau gaya berat ini juga digunakan dalam tingkatan selanjutnya dalam eksplorasi, seperti untuk memeriksa kebenaran interpretasi. Sebuah interpretasi harus sesuai dengan semua informasi yang ada, termasuk gravitasi. Secara umum prosedur interpretasi yang dipakai oleh ahli geofisika adalah membandingkan efek fisika terukur yang ditimbulkan oleh suatu obyek dibawah permukaan (misal kubah garam, cebakan mineral bijih, sesar, dll) dengan efek fisika tertentu dengan formula formula dari suatu model standar.

Menurut Sheriff (1978) hal 15, dengan gravitasi kita punya keuntungan besar dalam penambahan vektor, karena kita tahu bahwa hasil net adalah dalam direksi vertikal, dengan demikian kita hanya butuh menambahkan komponen komponen vertikal, tahu bahwa komponen komponen horizontal akan dijumlah hingga 0. Karena itu kita hanya butuh skala penambahan dan tidak perlu menggunakan semua penambahan vektor.

Pengolahan data gravitasi meliputi konversi ke harga miligal, koreksi pasang surut, koreksi tinggi alat, koreksi drift, koreksi lintang, koreksi udara bebas, dan koreksi bouguer yang menghasilkan anomali bouguer sederhana di topografi. Biasanya anomali bouguer sederhana kemudian diproyeksikan ke suatu bidang datar dengan menggunakan metode sumber ekivalen titik massa

(geosociety.com).

Penjelasannya menurut Nettleton (1940), koreksi gaya berat yang perlu dilakukan ada empat macam yaitu :

a)

Koreksi lintang

Pada koreksi ini selalu digunakan suatu titik lintang sebagai dasarnya. Untuk koreksi lintang ini dipakai konstanta K yang besarnya :

= 0.8122 sin2 (mgal/km)

= 1.307 sin2 (mgal/mil)

b)

Koreksi ketinggian

Koreksi ini dibagi lagi menjadi dua koreksi yaitu koreksi udara bebas (free air correction) dan koreksi Bouguer (Bouguer correction). ketinggian adalah sebagai berikut : Besarnya koreksi

Free air correction = 0.3086 mgal/m.(h) atau 0.09406 mgal/ft.(h)

Bouguer Correction = 0.04185 . h (mgal/m) atau 0.01272 . h (mgal/ft)

c)

Koreksi topografi (terrain correction)

Untuk koreksi ini menggunakan zona chart yang dibuat oleh Hammer (1939). Harga koreksi dari chart Hammer ini selalu ditambahkan tanpa melihat apakah ada bukit ataupun depresi di sekitar stasiun.

d)

Koreksi pasang surut

Koreksi ini dikontrol oleh adanya gaya tarik antara matahari dan bulan yang berkaitan erat dengan posisinya. Hal ini dapat mempengaruhi pengukuran yang dilakukan dengan gravimeter dikarenakan posisi bulan dan matahari dapat menyebabkan pasang surutnya air laut sehingga koreksi ini perlu dilakukan.

Comments : Leave a Comment

Categories : Artikel Geologi

3rd Structure Geology 7 03 2010

Proses Terbentuknya Lipatan

I. PENGERTIAN

Lipatan adalah hasil perubahan bentuk atau volume dari suatu bahan yang ditunjukkan sebagai lengkungan atau kumpulan lengkungan pada unsure garis atau bidang dalam bahan tersebut. Unsur bidang yang disertakan umumnya perlapisan (Hansen 1971, diambil dari Panduan Praktikum 1991). Atau

terlipatnya suatu lapisan batuan (Sybil P. Parker, 1984).

Lipatan merupakan salah satu gejala struktur geologi yang amat penting. Struktur lipatan sangat menentukan distribusi batuan dan strujtur bawah permukaan, selain itu lipatan berhubungan erat dengan pola tegasan atau gaya yang berpengaruh di daerah tersebut dan gejaIa struktur yang lain, misalnya sesar.

Cara

yang

biasa

dilakukan

dalam

analisa

lipatan

adalah

dengan

merekonstruksikankan dalam penampang.

Kenampakan kenampakan dari lipatan sendiri berupa antiformal, sinformal, antiklin, sinklin, antiklinal band, sinklinal band, monoklin, terrace, vertical fold, normal fold, dll.

Untuk menganalisa Iebih lanjut terhadap arah lipatan, bidang sumbu, bentuk lipatan, garis sumbu, penunjaman dan pola tegasan yang berpengaruh terhadap pembentukan lipatan, perlu dilakukan pengukuran secara menyeluruh pada suatu daerah dimana gajala lipatan itu terbentuk. Hasil pengukuran

pengukuran itu disamping disajikan di dalam peta, juga dianalisa dengan menggunakan diagram Beta dan diagram kontur, penggunaan kedua diagram

ini pada dasarnya sama, karena tujuan yang akan dicapai adalah kedudukan lipatan dan disinibusi hasil pengukuran yang diplot dalam proyeksi kutub.

II. PROSES TERBENTUK

Lipatan atau terlipatnya suatu lapisan batuan terbentuk biasanya diakibatkan oleh adanya gaya deformasi. Lipatan dikenali dengan lapisan batuan telah mengalami penyimpangan bentuk menjadi bentukan seperti ombak (Sybil P. Parker, 1984). Mekanisme gaya yang menyebabkannya ada 2 macam, yaitu :

1.Buckling (melipat)

: Disebabkan oleh gaya tekan yang arahnya sejajar

dengan arah permukaan lempeng.

2.Bending (pelengkungan)

: Disebabkan oleh gaya tekan yang arahnya tegak

lurus dengan permukaan lempeng.

Pada referensi lainnya, pembentukan lipatan menurut Billings (1986), adanya bentukan lipatan pada umumnya disebabkan karena proses tektonik dan non tektonik.

1. Tektonik

Proses tektonik ini disebabkan oleh gaya gaya dalam bumi. Gaya ini adalah gaya tekan hortisontal karena sejajar dengan permukaan bumi. Penyebab utama terbentuknya perlipatan oleh gaya tektonik atau gaya tekan mendatar karena adanya teori teori sebagai berikut :

a. Teori kontraksi Teori klasik bahwa bumi semakin lama sesuai waktu geologinya semakin kecil, dengan adanya pendinginan, pembentukan mineral yang lebih padat, dan ekstrusi magma dan lapisan batuan lainnya, maka ada penyesuaian karena pengerutan bumi tersebut dan menghasilkan gaya tekan.

b. Pengapungan Benua Teori ini bagian dan tektonik lempeng yang menerangkan tentang pemekaran dasar samudera, tumbukan lempeng, pengapungan benua, perlipatan serta patahan yang disebabkan karena adanya aliran konveksi berupa gerakan magma. Karena adanya aliran yang bergerak di sepanjang dasar kerak bumi tersebut menyebabkan kerak bumi terlipat ke bawah dan lapisan yang di atasnya juga ikut terlipat.

c. Pergeseran karena Gaya Berat Pergeseran ini terjadi karena adanya pengangkatan dari batuan dasar yang membuat batuan dasar retak. Karena terus berlangsung maka retakan

menyebabkan patahan yang berurutan hingga karena adanya gaya berat maka lapisan akan bergeser membentuk lipatan.

1. Non tektonik

Proses ini sebagian besar dihasilkan oleh proses eksogenik, yang antara lain berupa erosi dan deposisi. Proses non-tektonik ini terjadi karena penyebab penyebab antara lain :

a. Perbedaan Kompaksi Sedimen

Karena adanya perbedaan kekompakan atau keresistensian hingga nanti dalam pengendapan selanjutnya lapisan secara otomatis akan terlipatkan melengkung.

b. Proses Pelarutan

Proses ini terjadi karena bahan kimia yang mengalami pelarutan dapat menghasilkan struktur yang besar, seperti kubah yang terbentuk dan garam yang menumpang.

III. KESIMPULAN

Geologi struktur diartikan sebagai suatu ilmu yang membahas suatu bentuk kerak bumi dan gejala gejala pembentukannya. Dengan demikian, inti geologi struktur adalah deformasi pada kerak bumi, apa yang menyebabkannya, dan bagaimana akibatnya. Geologi struktur ini merupakan studi mengenal unsur unsur struktur geologi, yaitu studi tentang perlipatan, rekahan, sesar, dan sebagainya, yang terdapat didalam suatu satuan tektonik. Sehingga struktur geologi, termasuk lipatan ini saling terkait dan saling mempengaruhi struktur geologi satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu tidak menutup kemungkinan lipatan ini memyebabkan terjadinya struktur geologi yang lain, semisal sesar, khususnya sesar turun. Kenampakan lipatan dapat juga digunakan untuk interpretasi lapangan berupa mendeterminasi bentuk dan ukuran tubuh batuan dalam suatu daerah/wilayah, dapat mendeterminasi proses proses fisik yang menghasilkan struktur geologi tersebut, serta mengetahui urut urutan kejadian geologi pada suatu daerah/wilayah.

Comments : Leave a Comment

Categories : Artikel Geologi

2nd Stucture Geology 6 03 2010

Klasifikasi Lipatan (Billings;1986)

Berdasarkan bentuk penampang tegak :

Lipatan simetri :lipatan dimana axial plane-nya vertikal

Lipatan asimetri :lipatan dimana axial plane-nya condong

Overturned fold :lipatan dimana axial plane-nya condong dan kedua sayapnya miring ke arah yang sama dan biasanya pada sudut yang berbeda

Recumbent fold :lipatan dimana axial plane-nya horizontal

Vertical isoclinal fold :lipatan dimana axial plane-nya vertical

Isoclined isoclinal fold :lipatan dimana axial plane-nya condong

Recumbent isoclinal fold :lipatan dimana axial plane-nya horizontal

Chevron fold :lipatan dimana hinge-nya tajam dan menyudut

Box fold :lipatan dimana crest-nya luas dan datar

Fan fold :lipatan dimana sayapnya membalik

Monocline :lipatan dimana kemiringan lapisan secara lokal terjal

Structure terrace :lipatan dimana kemiringan lapisan secara lokal dianggap horizontal

Homocline :lapisan yang miring dalam satu arah pada sudut yang relatif sama

Berdasarkan intensitas lipatan :

Open fold :lipatan yang lapisannya tidak mengalami penebalan atau penipisan karena deformasi yang lemah

Closed fold :lipatan yang lapisannya mengalami penebalan atau penipisan karena deformasi yang kuat

Drag fold :lipatan-lipatan kecil yang terbentuk pada sayap-sayap lipatan yang besar akibat terjadinya pergeseran antara lapisan kompeten dengan lapisan tak kompeten

En enchelon fold :beberapa lipatan yang sifatnya lokal dan saling overlap satu dengan yang lain

Culmination dan depression :lipatan-lipatan yang menunjam pada arah yang berbeda, sehingga terjadi pembubungan dan penurunan

Anticlinorium :yaitu antiklin mayor yang tersusun oleh beberapa lipatan yang lebih kecil

Synclinorium :yaitu sinklin mayor yang tersusun oleh beberapa lipatan yang lebih kecil

Berdasarkan sifat lipatan dan kedalaman :

Similar fold :lipatan yang tiap lapisannya lebih tipis pada sayapnya dan lebih tebal pada hinge-nya

Paralel/concentric fold :lipatan dengan anggapan bahwa ketebalan lapisan tidak berubah selama perlipatan

Pierching/diaphiric fold :lipatan dimana intinya yang aktif telah menerobos melalui batuan diatasnya yang lebih rapuh

Supratenuous fold :lipatan yang terbentuk karena adanya perbedaan kompaksi sedimen pada saat pengendapan terjadi di punggung bukit

Disharmonic fold :lipatan yang bentuknya tak seragam dari lapisan ke lapisan

Berdasarkan kedudukan axial surface dan hinge line :

Horizontal normal :lipatan dimana kedudukan axial surface vertikal dan hinge line horizontal

Plunging normal :lipatan dimana kedudukan axial surface vertikal dan hinge line menunjam

Horizontal inclined :lipatan dimana kedudukan axial surface miring dan hinge line horizontal

Plunging inclined :lipatan dimana kedudukan axial surface miring dan hinge line menunjam, tetapi jurus axial plane miring terhadap sumbu lipatan

Reclined :lipatan dimana kedudukan axial surface miring dan hinge line menunjam, tetapi jurus axial plane tegak lurus terhadap sumbu lipatan

Vertical :lipatan dimana kedudukan axial surface dan hinge line vertical

Recumbent :lipatan dimana kedudukan axial surface dan hinge line horizontal

Comments : Leave a Comment

Categories : Artikel Geologi 1st Structure Geology 6 03 2010

Aplikasi Geologi Struktur Dalam Ilmu Geologi

A. Pengertian.

Geologi struktur diartikan sebagai suatu ilmu yang membahas suatu bentuk kerak bumi dan gejala gejala pembentukannya. Dengan demikian, inti geologi struktur adalah deformasi pada kerak bumi, apa yang menyebabkannya, dan bagaimana akibatnya.

Geologi struktur merupakan studi mengenal unsur unsur struktur geologi, yaitu studi tentang perlipatan, rekahan, sesar, dan sebagainya, yang terdapat didalam suatu satuan tektonik. Tektonik sendiri dianggap suatu studi yang mencakup masalah bentuk, pola evolusi dari satuan tektonik dalam ukuran yang lebih besar seperti : cekungan sedimentasi, rangkaian pegunungan, paparan dan sebagainya. Geologi struktur dalam hal ini sudah pasti erat hubungannya dengan studi tentang struktur sekunder, yaitu suatu struktur yang terbentuk setelah terjadi pengendapan batuan. Macam macam struktur sekunder :

1. Kekar (joint) : yaitu rekahan rekahan dalam batuan yang terjadi karena tekanan atau tarikan yang disebabkan oleh gaya yang bekerja dalam kerak bumi. 2. Sesar (fault) : adalah rekahan rekahan dalam kulit bumi, yang telah mengalami pergeseran. 3. Lipatan (fold) : yaitu penekukan pada batuan, baik dalam batuan sedimen atau metamorf. 4. Ketidakselarasan (unconformity) : yaitu suatu bidang erosi yang

memisahkan antara batuan yang lebih muda dari yang lebih tua.

B. Tujuan & Manfaat Penerapan Geologi Struktur.

Geologi struktur nampak seperti cabang ilmu yang sempit, hanya sebatas mempelajari struktur struktur geologi. Tetapi sebenarnya penggunaannya sangat luas, dan pengaruh terhadap cabang ilmu geologi lain sangat besar.

Tujuan tujuan serta manfaat manfaat penerapan geologi struktur adalah antara lain :

1. Memahami

bagaimana

sejarah

struktur

pada

suatu

batuan

yang

terbentuk. Hal ini untuk membantu penelitian petroleum, gas, atau mineral lain. 2. Dapat mendeterminasi bentuk dan ukuran tubuh batuan. 3. Dapat mendeterminasi proses proses fisik yang menghasilkan struktur geologi tersebut. 4. Mengetahui urut urutan kejadian geologi memalui struktur geologi. 5. Mengetahui wujud/bentuk struktur pada suatu batuan, misal untuk mengetahui batuan masih aktif atau tidak. 6. Dengan mengetahui jenis struktur yang ada, maka kita akan memahami bentuk muka bumi dengan baik. 7. Membantu dalam mengetahui kestabilan suatu kawasan. 8. Bersama cabang ilmu lain yang bersangkutan, dapat meneliti penggunaan tanah, eksplorasi air tanah, dan pengawasan alam sekitar. 9. Dapat mengetahui posisi stratigrafi suatu batuan dengan batuan yang lain. 10. Dalam aplikasinya dapat membantu dalam mencari minyak bumi, gas,

geologi teknik, dan geohidrologi.

C. Hubungan Dengan Ilmu Geologi Lain. Geologi struktur ini sangat berkaitan dengan bidang ilmu geologi lain, seperti geologi fisik & dinamik, geomorfologi, sedimentologi, petrologi, geologi teknik, geohidrologi, geofisika, dll. Tanpa mengaitkan geologi struktur dengan ilmu geologi lain, maka akan kesulitan dalam mengkaji suatu masalah.

Contoh contoh kaitannya dengan cabang ilmu geologi lain adalah :

1. Bersama stratigrafi, sedimentologi, dan paleontologi, mempelajari struktur tektonik. Juga mempelajari tentang perlapisan batuan,

mengenai penyebaran, komposisi, ketebalan, umur, dan lainnya. 2. Bersama petrologi dan geokimia, mempelajari asal usul struktur dan metodenya. 3. Bersama geomorfologi, mempelajari aktivitas struktur geologi yang sedang terjadi. 4. Bersama geofisika, oseanografi, dan geologi bawah tanah, mempelajari struktur bawah tanah dan struktur dasar laut. 5. Bersama mineral. 6. Bersama fisiografi, mempelajari bentuk batuan dan mineral beserta prosesnya. 7. Bersama geomedical, mempelajari kawasan bencana geologi untuk kesehatan masyarakat. geologi ekonomi, mempelajari hitungan nilai ekonomis

D. Cara Mempelajari Geologi Struktur.

Dalam mempelajari geologi struktur ini memerlukan beberapa cara, agar geologi struktur dapat dipelajari dengan lebih mudah. Beberapa cara antara lain sebagai berikut :

1. Mempelajari pengetahuan 3 dimensi seperti bidang arsitektur. 2. Menggunakan peta topografi, gambarfoto, dan imej lain seperti satelit dan radar. 3. Kerja lapangan, yaitu terjun langsung ke lapangan. Misal mengenali kepastian, pengukuran, dan penafsiran langsung lapangan. 4. Mengaitkan hubungan struktur kecil dengan struktur besar di lapangan. Biasanya setiap struktur kecil berpengaruh besar terhadap struktur besar yang ada.

E. Penampilan Struktur Secara Geometris.

Deskripsi geometri adalah penggambaran suatu obyek secara tepat, serta merupakan digunakan cara adalah pemecahan proyeksi problema ortografi, ruang proyeksi secara grafis. Cara yang

perspektif,

dan

proyeksi

stereografi. Yaitu pengubahan bentuk dan posisi suatu obyek dalam 3 dimensi menjadi gambaran 2 dimensi.

1. Proyeksi Ortogonal : Yaitu penggambaran obyek dengan garis proyeksi dibuat saling sejajar dan tegak lurus terhadap bidang proyeksi.

2. Proyeksi Perspektif : Yaitu proyeksi suatu obyek terhadap suatu titik. Pada dasarnya adalah cara penggambaransuatu obyek pada suatu bidang tertentu, bila obyek tersebut dilihat dari suatu titik. Hal ini didasari oleh akibat gejala pandangan, dimana besaran dari obyek berubah bila dilihat dari jarak dan posisi yang berbeda, misal proyeksi kutub.

3. Proyeksi Stereografis : Yaitu penggambaran didasarkan kepada perpotongan garis atau bidang dengan permukaan bola. Penerapan geometris terhadap struktur struktur geologi, merupakan suatu usaha dalam penafsiran. Masih menjadi pertanyaan apakah dibenarkan kita menggunakan bentuk bentuk geometri tertentu untuk menggambarkan hubungan struktur yang sebenarnya antara bentuk batuan yang satu dengan batuan yang lain, atau didalam batuan itu sendiri.

Unsur geometri utama dalam struktur struktur geologi adalah bidang bidang dan garis garis. Mereka tidak saja sebagai batas batas luar dari suatu batuan, tetapi juga memberikan pola unsur unsur struktur didalam batuan itu sendiri, seperti perlapisan, rekahan dan sebagainya.

Comments : Leave a Comment

Categories : Artikel Geologi