Anda di halaman 1dari 10

Plexus brachialis adalah anyaman (Latin: plexus) serat saraf yang berjalan dari tulang belakang C5-T1, kmeudian

melewati bagian leher dan ketiak, dan akhirnya ke seluruh lengan (atas dan bawah). Serabut saraf yang ada akan didistribusikan ke berberapa bagian lengan.

Daftar isi

1 Anatomi o 1.1 Cabang-cabang plexus brachialis 1.1.1 3 Cabang dari ramus 1.1.2 1 Cabang dari trunkus 1.1.3 3 Cabang dari fasciculus lateralis 1.1.4 5 Cabang dari fasciculus posterior 1.1.5 5 Cabang dari fasciculus medialis 2 Lihat pula

Anatomi
Plexus brachialis dimulai dari lima rami ventral dari saraf spinal. Rami (tunggal: ramus yang berarti "akar") akan bergabung membentuk 3 trunkus yaitu: trunkus superior (C5 dan C6), trunkus inferior (C7) dan trunkus medialis (C8 dan T1). Setiap trunkus akan bercabang membentuk dua divisi yaitu divisi anterior dan divisi posterior. Enam divisi yang ada akan kembali menyatu dan membentuk fasciculus. Tiap fasciculus diberi nama sesuai letaknya terhadap arteri axillaris.

Fasciculus posterior terbentuk dari tiga divisi posterior tiap trunkus. Fasciculus lateralis terbentuk dari divisi anterior trunkus anterior dan medalis. Fasciculus medalis adalah kelanjutan dari trunkus inferior.

Cabang-cabang plexus brachialis


3 Cabang dari ramus 1. Nervus dorsalis scapulae o bersal dari ramus C5, mempersarafi otot rhomboideus major dan minor serta otot levator scapulae. 2. Nervus ke subclavius o berasal dari ramus C5 dan C6, mempersarafi otot subclavius. 3. Nervus thoracicus longus o berasal dari ramus C5, C6, dan C7, mempersarafi otot serratus anterior. 1 Cabang dari trunkus

1. Nervus suprascapularis o berasal dari trunkus superior, mempersarafi otot supraspinatus dan infraspinatus. 3 Cabang dari fasciculus lateralis 1. Nervus pectoralis lateralis o mempersarafi otot pectoralis major dan otot pectoralis minor. 2. Nervus musculocutaneus o berasal dari C5 dan C6, mempersarafi otot coracobrachialis, otot brachialis, dan otot biceps brachii. Selanjutnya cabang ini akan menjadi nervus cutaneus lateralis dari lengan atas. 3. Cabang lateral nervus medianus o memberikan cabang C5, C6, C7 untuk nervus medianus. 5 Cabang dari fasciculus posterior 1. Nervus subscapularis superior o mempersarafi otot subscapularis. 2. Nervus thoracodorsalis o mempersarafi otot latissimus dorsi. 3. Otot sibscapularis superior o mempersarafi bagian bawah otot subscapularis dan otot teres major. 4. Nervus axillaris o mempersarafi otot deltoideus, otot ters minor, sendi bahu, dan kulit di atas bagian inferior deltoideus. 5. Nervus radialis o mempersarafi otot triceps brachii, otot anconeus, otot brachioradialis dan otot ekstensor lengan bawah. o mempersarafi kulit bagian posterior lengan atas dan lengan bawah. o merupakan saraf terbesar dari plexus. 5 Cabang dari fasciculus medialis 1. Nervus pectoralis medialis o berasal dari C8 dan T1, mempersarafi otot pectoralis major dan otot pectoralis minor. 2. Cabang medial nervus medianus o memberikan cabang C8 dan T1 untuk nervus medianus. 3. Nervus cutaneus brachii medialis o mempersarafi kulit sisi medial lengan atas. 4. Nervus cutaneus antebrachii medialis o mempersarafi kulit sisi medial lengan bawah. 5. Nervus ulnaris o mempersarafi satu setengah otot fleksor lengan bawah dan otot-otot kecil tangan, dan kulit tangan di sebelah medial.
o

Klasifikasi Cedera Saraf Tidak ada sistem klasifikasi tunggal yang dapat menggambarkan semua variasi cedera saraf. Kebanyakan sistem menghubungkan derajat cedera berdasarkan gejala, patologi dan prognosis. Klasifikasi tradisional cedera saraf perifer adalah klasifikasi Seddon. Seddon mendeskripsikan adanya tiga macam cedera yaitu: neuropraksia, axonotmesis dan neurotmesis.4 Klasifikasi Sunderland mengklasifikasikan tiga tipe cedera oleh Seddon menjadi lima kategori menurut tingkat keparahannya. Cedera grade pertama sesuai dengan neuropraxia dan cedera grade kedua sesuai dengan axonotmesis. Cedera grade ketiga terjadi ketika ada disrupsi axon (axonotmesis) dan juga cedera parsial endoneurium. Kategori cedera grade ketiga terletak antara axonotmesis dengan neurotmesis. Tergantung pada luasnya kerusakan endoneurium, pemulihan fungsional masih memungkinkan. Sunderland membagi

neurotmesis menjadi cedera grade empat dan lima. Pada cedera grade empat, semua bagian saraf telah terkena kecuali epineurium. Pemulihan tidak mungkin tanpa tindakan bedah. Sedangkan cedera grade lima meliputi cedera semua bagian sel saraf dan merupakan yang paling parah. Keberhasilan regenerasi tergantung luasnya keparahan dari awal cedera dan perubahan degenerative yang terjadi. Perubahan patologi ringan bahkan tidak ada pada cedera grade pertama dimana hanya ada hambatan konduksi, dan tidak ada proses regenerasi atau degenerasi yang benar-benar terjadi. Pada cedera grade kedua terjadi sedikit perubahan histologi di daerah cedera atau proksimal dari itu begitu pula di bagian distal dari daerah cedera, sebuah proses yang dimediasi oleh kalsium yang dikenal dengan degenerasi Wallerian atau degenerasi anterograde terjadi. a. Cedera derajat satu atau Neurapraxia

Ini adalah jenis jejas yang paling ringan, dengan tingkat kesembuhan sempurna. Pada kasus ini struktur dari jaringan saraf tetap intak, namun terjadi gangguan dalam konduksi impuls ke serat-serat saraf. Hal ini lebih sering terjadi pada kondisi kompresi atau adanya hambatan pada asupan aliran darah ( iskemik). Hilangnya fungsi akan kembali normal dalam beberapa jam sampai beberapa bulan (rata-rata adalah 6-8 minggu). Degenerasi Wallerian tidak terjadi. Kecepatan kesembuhan saraf motorik dan sensorik lebih baik bila dibandingkan dengan saraf otonom. Untuk alasan yang tidak diketahui, serat motorik lebih rentan terhadap jenis cedera

ini daripada serat sensorik atau simpatik. Kerentanan modalitas secara berurutan adalah: motorik, proprioseptif, sentuhan, sensasi suhu, sensasi nyeri, dan fungsi simpatik. b. Cedera derajat kedua atau Axonotmesis Ini adalah jejas pada jaringan saraf dengan tingkat keparahan lebih tinggi, ditemukannya kerusakan pada neuronal axon, tapi selubung myelin tetap utuh. Kerusakan saraf seperti ini dapat menyebabkan paralisis pada saraf motorik, sensorik dan autonom. Jenis ini lebih sering ditemukan pada crush injury. Jika gaya yang menyebabkan kerusakan pada saraf tersebut diangkat pada waktu yang tepat, axon akan melakukan regenerasi, yang akan berlanjut pada penyembuhan. Secara elektris, saraf menunjukkan degenerasi yang cepat dan komplit. Regenerasi dari motor end plate akan terjadi selama tubulus endoneural tetap intak. Axonotmesis mengalami kehilangan hubungan kontinuitas dari axon dan selubung myelin yang melingkupinya, tapi masih menyisakan jaringan ikat yang merupakan rangka dari saraf (jaringan capsul, epineurium, dan perineurium masih baik). Karena kontinuitas axon terputus, degenerasi Wallerian terjadi. Elektromiografi (EMG) yang dilakukan 2-3 minggu kemudian akan memperlihatkan potensial fibrilasi dan denervasi pada bagian distal otot yang mengalami luka. Kehilangan fungsi motorik dan sensorik lebih tampak jelas pada axonotmosis dari pada yang dapat terlihat pada neurapraxia, dan kesembuhan hanya dapat terjadi melalui regenerasi dari axon, suatu proses yang sangat membutuhkan waktu. Axonotmesis biasanya terjadi akibat benturan ataupun contussio yang lebih parah dari pada neuropraxia, namun hal ini juga bisa terjadi ketika saraf teregang (tanpa adanya kerusakan epineurium). Disini biasanya ditemukan elemen dari degenerasi retrograde proximal dari axon, dan agar regenerasi terjadi, hal tersebut harus telah dilewati terlebih dahulu. Jaringan yang mengalami regenerasi harus melewati tempat injuri dan melakukan regenerasi melalui proximal atau retrograde dari area degenerasi yang membutuhkan waktu beberapa minggu. Regenerasi kemudian akan berlanjut ke bagian distal, seperti di pergelangan ataupun jari-jari. Lesi proximal dapat tumbuh ke distal kira-kira 2-3 mm per hari dan lesi distal kira-kira 1,5 mm per hari. Regenerasi dapat berjalan berminggu-minggu hingga bertahun-tahun. c. Cedera derajat tiga Tingkatan ketiga yang diajukan oleh Sunderland adalah cedera intrafascicular yang melibatkan gangguan dari akson serta tabung endoneurialnya (lamina basal sel Schwann).

Perineurium terhindar dan karenanya arsitektur fascicular saraf tersebut dapat dipertahankan. Degenerasi retrograde parah, dan beberapa sel saraf tubuh hilang, mengurangi jumlah akson yang tersedia untuk regenerasi. Fibrosis intrafascicular (scar), yang merupakan akibat dari pendarahan, edema, dan iskemia, menjadi penghalang untuk regenerasi aksonal. Oleh karena itu, pemulihannya tidak lengkap. Regenerasi akson terbatas dalam fasciculi asli, tetapi tidak lagi terbatas dalam tabung endoneurial aslinya. Oleh karena itu, pertumbuhan yang salah arah dapat terjadi: misalnya akson sensorik mungkin melakukan regenerasi sepanjang tabung motorik. Cedera proksimal lebih cenderung mengakibatkan kematian sel saraf dan dalam proporsi yang signifikan untuk akson yang salah arah. Pemulihan setelah tingkat tiga cedera saraf sangat tertunda. Tampilan luar saraf tidak akan secara akurat mencerminkan tingkat parahnya gangguan intrafascicular dan disorganisasinya. d. Cedera derajat empat Ini merupakan cedera yang parah menurut Sunderland yang melibatkan pecahnya perineurium dan dengan demikian fasciculi terganggu. Badan sel saraf masih dalam kontinuitas, tetapi dikonversi di tempat cedera menjadi bekas luka padat yang mengandung sel-sel Schwann dan akson yang mengalami regenerasi, yang bila membesar membentuk sebuah neuroma. Efek retrograd lebih parah daripada di cedera tingkat tiga, sehingga akson bahkan lebih sedikit yang bertahan untuk regenerasi. Akson yang mengalami regenerasi tidak lagi terbatas dalam fasciculi, dan banyak tersasar ke jaringan interfascicular sekitarnya. Beberapa akson dapat mencapai target yang sesuai. Pemulihan fungsional, jika ada, biasanya sangat terbatas. Tingkat keempat cedera memerlukan eksisi bedah. e. Cedera derajat lima atau Neurotmesis

Tingkatan ini merupakan yang paling parah dari cedera saraf yang melibatkan hilangnya kontinuitas badan sel saraf. Saraf yang putus mungkin tetap terpisah, atau mungkin bergabung dengan jaringan parut yang terdiri dari fibroblast, sel Schwann, dan regenerasi akson. Luasnya jaringan parut bervariasi. Regenerasi sangat terbatas, dan secara fungsional dapat diabaikan. Bahkan dengan reseksi dan perbaikan saraf, hambatan yang signifikan terhadap pemulihan tetap penuh. Ini termasuk kehilangan akson akibat efek retrograd dari cedera, dan akson yang salah arah. Kemungkinan pemulihan dapat ditingkatkan oleh tindakan bedah yang sesuai.

Neurotmesis ini dapat terjadi pada contussio hebat, regangan, laserasi, atau toksisitas dari anestesi lokal. Bukan hanya akson, tapi jaringan ikat yang menyelubunginya juga kehilangan kontinuitas. Derajat dari neurotmesis yang paling parah disebut transsection, namun jejas neurotmesis pada umumnya tidak menghasilkan hilangnya kontinuitas jaringan masif, tapi lebih kepada kerusakan pada arsitektur internal dari saraf itu sendiri, termasuk perineurium dan endoneurium, axon dan selubungnya. Perubahan denervasi yang tercatat pada EMG sama seperti yang terlihat pada cedera axonotmesis. Terdapat kehilangan fungsi komplit pada motorik, sensorik dan autonom. Karena tipe ini adalah tipe yang paling parah, penyembuhan tidak mungkin terjadi tanpa dilakukannya bedah saraf.

Spondylolysis / Stress Fracture of Pars Interarticularis


Dari : Joweer

Pendahuluan : Spondylolysis adalah patah tulang pada bagian pars interarticularis pada tulang belakang, hal ini sering terjadi karena sendi pada tulang belakang dipaksakan bekerja secara berlebihan/overuse injury. Biasanya ini terjadi pada atlet-atlet muda yang sering memforsir gerakan tertentu untuk mendapatkan hasil yang maksimal, cedera ini terjadi jika sendi tulang belakang dipaksa untuk menegakkan punggung/over extension dengan disertai rotasi secara berlebihan. Olahrga yang sering memicu cidera ini misalkan tolak peluru, tennis, baseball dan cricket.Jika cedera ini terjadi pada kedua sisi (pars interarticularis) disebut sebagai spondylolistesis. Gejala Spondylolysis: a. Sering terasa nyeri pada punggung bawah terutama pada salah satu sisi dari tulang belakang, meskipun pada beberapa kasus nyeri tidak dikeluhkan pasien. b. Nyeri makin bertambah bila kita menegakkan punggung/extension activity c. Nyeri secara tiba-tiba pada punggung, kebanyakan disaat kita menegakkan punggung. d. Hyperlordosis atau peningkatan kurva lumbal sering dijumpai pada kasus ini. e. Terjadi penegangan pada otot paha bagian belakang/m. hamstring f. Nyeri timbul jika pasien disuruh berdiri dengan satu kaki (kaki yang ada nyeri) dan menegakkan punggung, disini fisioterapis memfasilitasi gerakkan. g. Nyeri tekan terjadi pada daerah yang mengalami patah tulang. h. Patah tulang selalu terjadi berlawanan arah dengan nyeri, jika patah tulang terjadi pada daerah kiri maka daerah sebelah kanan yg timbul nyeri. i. Untuk memastikan diagnosis suruhlah pasien melakukan X-ray atau MRI guna mengetahui hasil yang akurat.

Hal yang perlu digaris bawahi dalam kasus ini adalah pentingnya pendiagnosisan yang tepat, karena jika diketahui dari awal maka patah tulang akan segera ditangani sehingga pada proses penyambungan tulang/healing akan berada pada posisi semula sehingga efek/nyeri rujukan dapat dihindari. Untuk kasus spondylolysis proses healing lebih cepat dibandingkan jika terjadi spondyloliystesis. Daerah yang sering terkena patah tulang ini adalah daerah lumbal 4 dan lumbal 5 (L4 & L5) dan proses healing L4 lebih cepat daripada l5. Fisioterapi Pada Spondylolysis a. Edukasi kepada pasien agar menghindari aktivitas/olahraga yang menambah nyeri b. Memberikan streetching pada otot hamstring dan otot gluteal. c. Mendesign latihan untuk penguatan core musle dan otot-otot punggung bawah (sangat penting dan disegerakan) d. Memberikan back support/lumbal corset untuk pasien. e. Pengetahuan, edukasi dan mengajarkan kepada pasien tentang tehnik yang tepat ketika melakukan olahraga pemicu patah tulang belakang. ulang belakang pada manusia ibarat tiang pada sebuah rumah. Sebagai tiang penyanggah, maka setiap hari bekerja menopang berat atau beban. Pentingnya kekuatan dan kesehatan tiang tersebut maka harus selalu dalam keadaan kuat dan sehat. Jika terdapat gangguan padanya, seperti keropos dimakan waktu, atau rusak karena rayap maka secara perlahan akan mengganggu keadaan rumah. Begitu pula pada manusia, jika terdapat gangguan pada tulang belakang maka akan mengganggu stabilitas tubuh, dan anda akan merasakan tidak nyaman karena nyeri. Pada keadaan normal tulang belakang tersusun bertumbuk satu sama lainnya dalam satu garis lurus. Pada istilah spondylolisthesis, salah satu ruas tulang belakang bergeser dari tempatnya sehingga mencederai jaringan dan saraf di sekitarnya. Hal ini menimbulkan rasa nyeri dan tidak nyaman pada daerah leher, punggung atas, punggung bawah, tergantung lokasi tulang yang terkena. Pada masa kanak-kanak penyebab utamanya adalah cedera. Sedangkan pada orang dewasa bisa disebabkan oleh proses degenerative diskus intervertebralis yang memungkinkan terjadi pergeseran. Spondylolisthesis pada dewasa terutama pada wanita diatas 50 tahun, selain karena proses denegeratif keadaan lain disebabkan perubahan kadar hormone estrogen akibat dari proses menopause sehingga hubungan antar tulang dan ligament melemah. Gejala yang dirasakan adalah nyeri di daerah punggung bawah, pinggul dan bokong. Nyeri dirasakan memburuk jika pada posisi berdiri atau menekukkan tubuh ke belakang dan lebih terasa tidak nyaman apabila memposisikan tubuh condong ke depan. Rasa tegang dan kejang otot juga merupakan gejala yang sering dikeluhkan penderita spondylolisthesis. Dalam kondisi tertentu, dimana terdapat keterlibatan saraf maka penderita akan merasakan kesemutan, rasa kebas, dan kelemahan otot. Pada beberapa kasus juga terdapat keluhan buang air besar dan buang air kecil. Diagnosis dilakukan melalui anamnesis mengenai gejala yang dirasakan, aktivitas sehari-hari, posisi tubuh dalam pekerjaan sehari-hari, dan hal-hal yang dilakukan untuk meredakan nyeri. Setelah itu dilakukan pemeriksaan fisik seperti postur tubuh, seberapa jauh jarak gerakan yang

bisa dilakukan tanpa merasakan nyeri, sensasi sentuhan di tubuh untuk mengetahui ada tidaknya keterlibatan saraf serta kekutan dan reflex otot. Pemeriksaan radiologis juga diperlukan, seperti rontgen, CT-Scan arau MRI untuk melihat struktur jaringan lunak. Kebanyakan penderita Spondylolisthesis degeneratif tidak memerlukan tindakan operasi, terutama pada kasus dimana tulang tidak bergeser terlalu jauh. Obat-obatan dapat digunakan untuk meredakan nyeri dan mengatasi kejang otot. Selain itu juga disarankan agar pasien membatasi aktivitas harian, menjaga postur tubuh agar tulang belakang lurus, atau dapat juga dengan alat penyanggah tulang belakang. Ada kalanya untuk mengatasi rasa sakit yang berkepanjangan, maka dilakukan dengan tindakan pembedahan. Pembedahan dilakukan apabila tulang bergeser jauh dari tempatnya atau gejala yang timbul sudah tidak bisa lagi diatasi dengan terapi konservatif. Pada tahap ini gejala yang ada bisa menimbulkan perubahan cara berjalan dan gangguan sistem kemih akibat penekanan saraf oleh tulang yang bergeser. Prosedur operasi yang umum dilakukan adalah laminektomi dan fusi lumbal posterior. REHABILITASI NON BEDAH Terapi ini adalah terapi konservatif jika tidak dilakukan operasi. Caranya sederhana dengan kompres hangat, stimulasi ultrasound dan elektrik untuk meredakan rasa nyeri. Kemudian terapi dengan latihan ringan pada tubuh untuk melemaskan otot-otot yang kaku dan terasa kejang. Dalam kondisi tertentu dianjurkan agar terapi ini didampingi dokter ahli atau terapis berpengalaman. REHABILITASI PASCA PEMBEDAHAN Pada prosedur operasi tertentu disarankan mengenakan alat penyanggah tubuh belakang selama kurang lebih 4 bulan. Selama 4 bulan pasien tidak boleh berdiri, fisioterapi dan latihan berjalan juga baru boleh dilakukan setelah 4 bulan. Jika dalam kurun waktu tersebut masih merasakan sakit, maka sebaiknya melakukan konsultasi dokter yang terdiri dari dokter orthopaedi spesialis spine surgery, dokter rehabilitasi medik dan fisik, atau dokter spesialis saraf dan bedah saraf. Bagaimana pun juga tulang belakang adalah ibarat penyanggah beton dalam sebuah gedung. Perawatan rutin wajib dilakukan demi mendapatkan kesehatan dan daya tahan yang lama. Cara terbaik adalah agar selalu memelihara kesehatan anda. Cara yang paling mudah adalah melakukan olahraga secara teratur, memakan makanan bergizi dan mengatur gerakan tubuh sesuai dengan usia anda. (ed) A. DEFINISI Spondilitis tuberkulosa atau tuberkulosis tulang belakang adalah peradangan granulomatosa yg bersifat kronisdestruktif olehMycobacterium tuberculosis. Dikenal pula dengan nama Pottds

disease of the spine atau tuberculousvertebral osteomyelitis. Spondilitis ini paling sering ditemukan pada vertebraT8 L3dan paling jarang pada vertebraC1 2. Spondilitis tuberkulosis biasanya mengenai korpus vertebra, tetapi jarang menyerang arkus verte

Spondiloathrosis
Spondyloarthrosis cervical merupakan suatu kondisi proses degenerasi pada discus intervertebralis dan jaringan pengikat persendian antara ruas-ruas tulang belakang.

Saat mengalami degenerasi, diskus mulai menipis karena kemampuannya menyerap air berkurang sehingga terjadi penurunan kandungan air dan matriks dalam diskus menurun. Degenerasi yang terjadi pada diskus menyebabkan fungsi diskus sebagai shock absorber menghilang, yang kemudian akan timbul osteofit yang menyebabkan penekanan pada radiks, medulla spinalis dan ligamen yang pada akhirnya timbul nyeri dan menyebabkan penurunan mobilitas/toleransi jaringan tehadap suatu regangan yang diterima menurun sehingga tekanan selanjutnya akan diterima oleh facet joint. Degenerasi pada facet joint akan diikuti oleh timbulnya penebalan subchondral yang kemudian terjadi osteofit yang dapat mengakibatkan terjadinya penyempitan pada foramen intervertebralis. Hal ini akan akan menyebabkan terjadinya kompresi/penekanan pada isi foramen intervertebral ketika gerakan ekstensi, sehingga timbul nyeri yang pada akhirnya akan menyebabkan penurunan mobilitas/toleransi jaringan terhadap suatu regangan yang diterima menurun. Pada uncinate joint yang memang sebagai sendi palsu yang terus mengalami friksi dan iritasi secara terus-menerus akan timbul osteofit juga yang kemudian akan menekan kanalis spinalis sehingga timbul nyeri dan menurunkan mobilitas/toleransi jaringan terhadap suatu regangan Berkurangnya tinggi diskus akan diikuti dengan pengenduran ligamen yang mengakibatkan fungsinya berkurang dan instabilitas. Akibatnya nukleus pulposus dapat berpindah kearah posterior, sehingga menekan ligamentum longitudinal posterior, menimbulkan nyeri dan menurunkan mobilitas/toleransi jaringan terhadap suatu regangan. Spasme otot-otot cervical juga dapat menyebabkan nyeri karena iskemia dari otot tersebut menekan pembuluh darah sehinggga aliran darah akan melambat dan juga terjadi penurunan mobilitas/toleransi jaringan terhadap suatu regangan. Dari kesemua faktor diatas akan menimbulkan penurunan lingkup gerak sendi pada cervical. Ultra sound terapi merupakan suatu terapi dengan menggunakan getaran mekanik gelombang suara dengan frekuensi lebih dari 20.000 Hz, yang digunakan dalam fisioterapi adalah 0,5 MHz-5MHz dengan tujuan untuk menimbulkan efek terapeutik. Nyeri dapat dikurangi dengan menggunakan US, selain dipengaruhi oleh efek panas juga berpengaruh langsung pada saraf. Hal ini disebabkan oleh karena gelombang pulsa dengan intensitas rendah sehingga dapat menimbulkan pengaruh sedative dan analgesi pada ujung saraf afferan II dan IIIa, sehingga diperoleh efek terapeutik berupa

pengurangan nyeri sebagai akibat blockade aktifitas nociseptor pada PHC melalui serabut saraf tersebut. TENS merupakan merupakan suatu pengobatan menggunakan stressor fisis berupa energi listrik guna merangsang sistem saraf melalui permukaan kulit dan terbukti efektif untuk merangsang berbagai tipe nyeri. TENS pada Spondyloarthrosis Cervical juga akan menimbulkan kontraksi yang bermakna yaitu terjadinya pumping action, reabsorbsi sisa metabolisme dan sisa inflamasi sehingga iritasi pada nosisensor dapat dihilangkan/dikurangi sehingga nyeri menurun. TENS juga dapat menstimulus A dan dan membantu menghambat impuls pada cornu posterior medula spinalis dan menstimulus monophase asimetris sehingga mempengaruhi nosisensorik yang akan dibawa talamus ke spinotalamikus sehingga memicu diproduksinya endorphine oleh tubuh sehingga nyeri menurun. Traksi manual adalah traksi yang dilakukan dengan beban dari terapis. Posisi pasien duduk atau tidur terlentang. Salah satu tangan terapis diletakan di bagian occiput di sekitar processus mastoideus, dan satu tangah lagi di letakan pada daerah dagu pasien. Tarikan yang dilakukan biasanya adalah intermitten. Tehnik ini secara tidak langsung dapat memperlebar forament intervertebralis dengan memberi rangsangan kifosis pada cervical akan menambah lebar foramen intervertebralis dan mengurangi tekanan pada akar syaraf, Pelebaran jarak sendi, terjadinya elongasi inter dan paravertebra ligamen dan otot. Spasme otot akan berkurang demikian pula dengan penekanan pada akar syaraf sehingga aliran darah akan lancar, Traksi dapat mengurangi tekanan pada diskus, sehingga menjadi negatif, sehingga terjadi perpindahan cairan ke diskus disertai dengan peningkatan volume. Peningkatan volume ini akan menyebabkan peningkatan tinggi diskus. Dengan demikian akan terjadi peningkatan tekanan osmotik sehingga cairan yang terserap lebih banyak dan diskus menjadi bengkak. Pembengkakan ini tidak bermanfaat pada HNP, tapi sangat bernilai untuk terapi pada degenerasi diskus. Contract Relax Stretching adalah suatu teknik terapi latihan khusus yang ditujukan pada otot yang spasme, tegang/memendek untuk memperoleh pelemasan dan peregangan jaringan otot. Teknik ini dilakukan kontraksi isometric, pada otot sendi bahu diperoleh gerakan minimal sendi bahu tanpa menimbulkan iritasi noxius dan sekaligus memacu sirkulasi dan proses metabolisme struktur jaringan sendi, disini akan diperoleh peningkatan kelenturan jaringan ikat sendi dan nyeri akan berkurang.