Anda di halaman 1dari 8

Degeneratif pada penuaan yang menyebabkan kelainan pada TMJ

Pada dasarnya sejak muda, tulang rahang terus mengalami remodeling dan akan terus bertambah seiring bertambahnya usia. Perlu diketahui juga bahwa tulang rawan sendi kita terdapat sebuah fibrokartilago yang berfungsi sebagai bantalan pada permukaan kondilus sendi. Seiring bertambahnya usia, terjadi beberapa perubahan pada TMJ yakni berkurangnya kemampuan proliferasi secara keseluruhan. Salah satu kelainan pada TMJ akibat adanya suatu degenerasi atau penuaan pada sendi dapat disebut Osteoartritis. Hal ini menyebabkan kemampuan reparasi menurun. kemampuan reaksi jaringan terhadap rangsang pertumbuhan yang ikut menurun, respon imun juga menurun, dan kemampuan pembentukan protein akibat rangsang dari luar juga akan menurun. Hal tersebut dapat mengakibatkan jaringan sendi yang merupakan bagian dari TMJ akan mengalami degradasi sel yang progresif sehingga hanya tersisa sedikit kondrosit dan fibroblast yang akan membuat perubahan pada tulang rawan sendi dimana terjadi pengurangan ketebalan lapisan fibrokartilago pada permukaan kondilus sendi. Degradasi sel tersebut dapat terjadi melalui dua mekanisme, yang pertama melalui peningkatan aktivitas enzim-enzim yang dapat merusak makromolekul tulang rawan sendi seperti MMPs dan juga IL1 yang dapat menstimulasi MMPs untuk mendegradasi matriks ekstraseluler tulang rawan sendi, atau yang kedua dapat langsung terjadi penurunan sintesis kondrosit yang merupakan komponen yang berperan dalam pembentukan dan pemeliharaan matriks tulang rawan sendi yang berupa kolagen, proteoglikan, dan air dikarena proses degeneratif atau proses penuaan itu sendiri. Akibat dari degradasi tersebut terjadi penipisan meniskus sendi dan dapat mengalami arthritis. Pada keadaan arthritis sendiri biasanya ditemukan adanya nodul kalsifikasi pada permukaan artikular sendi. Selain itu, pada keadaan arthritis ukuran kondil mandibula menjadi kecil dan permukaan artikular menjadi rata karena erosi dan celah sendi yang sempit. Keadaan ini nantinya dapat menyebabkan remodeling tulang pada daerah subkondral, yang merupakan awal

dari osteoarthritis. Dengan bertambahnya kepadatan tulang, maka akan terjadi kekakuan sehingga terjadi peningkatan tekanan pada kartilago sendi dan dapat menurunkan kemampuan kartilago terhadap rangsang tekanan, nyeri unilateral tepat di atas condylus, penurunan rentang gerak mandibula, dan keterbatasan saat membuka mulut. Dan dari pemeriksaan radiologi didapatkan gambaran permukaan sendi datar, pembentukan osteofit dan sclerosis tulang subchondral. Sedangkan perubahanan yang terjadi pada cairan sinovial akibat adanya proses degeneratif adalah pengurangan cairan synovial yang dapat mempengaruhi kelancaran pergerakan dari diskus artikularis. Akibat yang lebih lanjut yakni terjadi krepitasi pada gerak sendi dan pada keadaan yang lebih parah, akan merobek/ merusak diskus artikularis. Selain adanya perubahan pada tulang rawan sendi dan cairan sinovial, ternyata proses degeneratif juga membawa perubahan pada ligamen sendi dimana terjadi pengurangan ketebalan kapsula sendi, pengurangan daya tahan regangan pada serat kolagen pembentuk ligamen TMJ sehingga terjadi penurunan keleluasaan artikular sendi TMJ, dan sintesis kolagen menurun sehingga apabila terjadi kerusakan pada ligamentum sendi, maka proses perbaikannya juga akan lambat dan lama. Perubahan-perubahan TMJ yang terjadi akibat adanya proses degeneratif biasanya terdapat pada usia 50 tahun ke atas dan sering terjadi pada wanita post menopause dikarenakan proses metabolisme di tulang memang membutuhkan pengaruh dari hormon estrogen yang berfungsi untuk menjaga keseimbangan osteoklas dan osteoblast serta menghambat terjadinya resorbsi tulang dan lazimnya aktivitas dari hormon estrogen menurun saat wanita memasuki masa menopause. Penurunan sekresi hormone estrogen dimasa menopause akan memberikan dampak semakin memburuknya fungsi anabolic protein. Karena kartilago banyak mengandung matriks organic tulang seperti serabut kolagen yang tersusun atas protein-protein maka kartilago yang merupakan bantalan sendi juga akan mengalami degenerasi yang berakibat adanya gangguan pada pergerakan

sendi. Selain itu kurangnya hormon estrogen juga dapat mengurangi deposit kalsium dan fosfat serta meningkatkan aktivitas osteoklastik pada tulang, sehingga kecepatan resorbsi matriks tulang akan semakin bertambah. Penuaan selain dapat terjadi pada TMJ yang melibatkan tulang rawan sendi, cairan sinovial dan juga ligamentum sendi. Ternyata penuaan juga membawa perubahan pada tulang itu sendiri yang kemudian menimbulkan

degenerasi yang sering disebut osteoporosis. Osteoporosis adalah penyakit tulang yang paling sering terjadi pada orang dewasa terutama pada usia tua. Osteoporosis lebih disebabkan oleh berkurangnya matriks organik. Sesudah menopause, hampir tidak ada estrogen yang disekresi oleh ovarium. Kekurangan estrogen ini akan menyebabkan berbagai efek seperti yang telah dijelaskan sebelumnya yang pada akhirnya akan berakibat pada kerapuhan tulang. Biasanya pada tulang yang

terkena osteoporosis aktivitas osteoblastik tulang menurun akibatnya kecepatan penimbunan tulang juga menurun. Tetapi kadangkala seperti pada

hiperparatiroidisme, penyebab berkurangnya matriks tulang ini karena aktivitas osteoklastik yang berlebihan. Karena Ostoporosis dapat sangat melemahkan tulang dan menyebabkan fraktur pada tulang. Condyle Head serta angulus mandibula merupakan daerah yang sangat rentan terjadinya fraktur, dengan adanya penyakit degenerasi tulang seperti osteoporosis pada area tersebut maka area tersebut juga akan semakin rentan terjadinya diskontinuitas jaringan tulang.

Proses Pembentukan Osteophyte

Osteofit merupakan respon dari proses degradasi tulang rawan. Tulang rawan yang rusak akan memicu terjadi keradangan atau osteoatritis dan menyebabkan terbentuknya osteofit. Patogenesis Osteoatritis saat ini diyakini tidak hanya proses degeneratif saja namun juga melibatkan berbagai unsur dalam proses inflamasi terutama sinovitis serta keterlibatan tulang subkhondral dan juga akibat kista subkondral yang menekan sinusoid sumsum sehingga mengakibatkan kongesti vena. 1. Konsep degeneratif

Konsep utamanya adalah perubahan yang terjadi pada OA merupakan proses wear and tear atau penggunaan yang lama dan berlebihan menimbulkan gangguan yang diikuti respon perbaikan. Respon perbaikan tulang terlihat sebagai pembentukan osteofit atau spur. Konsep ini dikaitkan dengan faktor risiko usia dan beban biomekanik pada sendi. 2. Konsep inflamatif

Tulang rawan yang rusak akan memicu terjadi keradangan atau osteoatritis dan menyebabkan terbentuknya osteofit.Ada empat tahapan kerusakan rawan sendi yang saling tumpang tindih, yaitu: a. Tahap pertama Terjadi penurunan kadar proteoglikan sedang kolagen masih normal. Meskipun kadar proteoglikan berkurang, justru sintesis awal sel rawan meningkat. Hal ini terlihat dari meningkatnya aktivitas dari mitosis sel rawan yang bertambah. Hal ini membuktikan bahwa sel rawan berperan dalam menjaga keseimbangan antara aktivitas produksi dengan aktivitas destruksi . Respon kesetimbangan tersebut diperankan oleh sel kondrosit. Namun karena penurunan proteoglikan yang terus menerus akan membuat sel kondrosit mengalami penurunan respon perbaikan sehingga destruksi menjadi lebih besar dari produksi. Selanjutnya hal tersebut diikuti dengan penurunan

kadar air yang membuat warna matrik menjadi kekuningan kemudian timbul retakan dan terbentuknya celah. b. Tahap kedua Celah semakin dalam, tetapi belum sampai ke perbatasan daerah subkondral, jumlah sel rawan mulai menurun begitu juga kadar kolagen. c. Tahap ketiga Celah tadi akan semakin dalam sampai daerah subkondral, terbentuk rongga-rongga yang menyerupai kista yang dapat menjadi sangat besar dan pecah sehingga permukaan menjadi tidak teratur. d. Tahap keempat, Serpihan rawan sendi yang terapung dalam cairan sendi akan difagosit sel-sel membran synovial selain itu dalam proses ini dihasilkan IL-1 oleh sel mononuclear dan juga tumor nekrosis faktor. IL-1 menstimulasi MMPs yang berefek pada degradasi kartilago. Sedangkan tumor nekrosis faktor dapat menginduksi kondrosit untuk mensintesis prostaglandin yang dapat menghambat sintesis aggrekan dan meningkatkan degradasi protein pada jaringan, sehingga kartilago mudah rusak dan terjadilah reaksi radang. Selanjutnya keradangan dan degradasi protein akan memicu mekanisme perbaikan pada tepi permukaan artikular yang disebut osteophyte.

Dampak Pembentukan Osteophyte

Osteofit

merupakan

tindakan

kompensasi

yang

secara

progresif

menstabilkan sendi yang membatasi mobilitasnya. Pembentukan osteofit sendiri menimbulkan beberapa dampak bagi tubuh kita, seperti nyeri sendi, krepitasi, perdangan dan kekakuan sendi, penurunan kecepatan dan ruang gerak aktif sendi, dan menyebabkan tonjolan tulang yang dapat diraba dan dilihat. Nyeri Sendi Seiring dengan pertambahan usia, jaringan tulang rawan pada sendi mengalami degenerasi yang mengakibatkan terjadinya penipisan jaringan tulang rawan. Penipisan ini menyebabkan rongga antartulang pada persendian semakin menyempit, sehingga persendian akan sulit digerakkan karena tidak dapat menerima beban. Kemudian secara fisiologis sistem tubuh akan berusaha untuk melakukan remodeling, menggantikan tulang rawan yang semakin menipis. Respon tulang rawan yang rusak tersebut adalah dengan membentuk osteofit. Lesi ini meluas dari pinggir sendi ke sepanjang permukaan sendi, di tulang subkondral. Sementara terjadi perluasan lesi, juga terjadi pengikisan yang progresif menyebabkan tulang yang berada di bawahnya ikut terlibat. Tulang subkondral merespon dengan melakukan reparasi sklerosis. Terjadi peningkatan selularitas dan invasi vascular, yang mengakibtakan tulang menjadi padat dan tebal. Oleh karena hal tersebut, sendi menjadi sulit digerakkan rakibat tulang yang padat dan tebal ini tidak bersifat elastis seperti tulang rawan, sehingga timbul rasa nyeri. Krepitasi Pada sendi yang terdapat pembentukan osteofit dan telah mengalami pemadatan tulang, pemakaian sendi saat keadaan tersebut dalam jangka waktu lama akan menyebabkan dislokasi pada sendi. Dislokasi tersebut akan menimbulkan bunyi berderak yang disebut dengan krepitasi saat sendi bergerak. Peradangan Sendi

Dengan terbentuknya osteofit pada tepi sendi maka hal tersebut akan menyebabkan celah antar sendi semakin mengecil. Hal itu akan berdampak pada fungsi persendian yang mengalami perubahan menjadi tidak efektif dan terjadi keterbatasan gerak. Sehingga konsekuensi yang ditimbulkan yaitu, daerah persendian dan juga tulang kecil berbentuk seperti duri/osteofit pada tepi sendi tersebut akan menjadi lebih rentan terhadap gesekan. Akibatnya, ketika sendi mengalami gesekan yang berlebihan dan terus menerus, maka hal itu akan menyebabkan sendi menjadi lebih rentan terhadap terjadinya

inflamasi/peradangan. Dan radang sendi ini biasanya ditandai dengan kemerahan, kekakuan, pembengkakan dan rasa sakit di area persendian. Kekakuan Sendi Terjadinya kekakuan atau keterbatasan dalam pergerakan sendi disebabkan oleh hilangnya tulang muda akibat adanya kerusakan dan penguraian matriks organic tulang. Matriks Organik mengandung 90-95% serabut kolagen dan sisanya adalah berisi substansi dasar (Proteoglikans dan Cairan Ekstraselular). Pada penyakit degenerasi sendi seperti Osteoarthritis, faktor usia juga sangat berperan dalam perjalanan penyakitnya. Penurunan kecepatan dan ruang gerak aktuf sendi Pembentukan osteofit dapat membatasi ruang gerak sendi karena permukaan tulang yang tidak rata akibat adanya penonjolan. Ditambah dengan berkurangnya kelenturan kolagen, hal ini akan menimbulkan iritasi pada kapsul ligamen sendi di area sekitar tempat terbentuknya osteofit sehingga lingkup gerak sendi semakin sempit. lama akan menyebabkan dislokasi pada sendi. Dislokasi tersebut akan menimbulkan bunyi berderak yang disebut dengan krepitasi saat sendi bergerak. Menyebabkan tonjolan yang dapat diraba dan dilihat Pembentukan osteofit akan mengiritasi membran sinovial. Dengan banyaknya reseptor nyeri pada lapisan periosteum tulang, maka iritasi pada membran sinovial yang dihasilkan oleh gesekan dari osteofit akan memberikan

rangsangan inflamasi pada daerah tersebut dan menimbulkan rasa nyeri. Hal ini juga menyebabkan terjadinya pembengkakkan dan penebalan jaringan lunak di sekitar tempat terbentuknya osteofit, sehingga terlihat dari luar adanya bagian tubuh yang membesar.