Anda di halaman 1dari 157

MODUL PELATIHAN

PENINGKATAN KOMPETENSI SISWA(PKS)


TINGKAT SEKOLAH MENENGAH PERTAMA
( SMP)
TAHUN 2008
BIDANG STUDI MATEMATIKA
TAHAP I
SCIENCE CENTER
UNIVERSITAS HASANUDDIN
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
1
Daftar Isi
Kata Pengantar
Daftar Isi
Materi 1 Teori Bilangan......... 1
Materi 2 Aljabar........................ 27
Materi 3 Geometri ............... 111
Materi 4 Kombinatorika, Statistika dan Peluang ................... 146
Materi 5 Problem Solving Strategies ...................................... 173
Soal Olimpiade Sains Nasional Tingkat Provinsi 2005 ................................................ 199
Soal Olimpiade Sains Nasional Tingkat Pusat 2005 ............................. 203
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
2
I. TEORI BILANGAN
1.1. BILANGAN REAL
Pada materi kali ini, kita akan mempelajari konsep dasar bilangan real dimulai dari operasi dasar
pada bilangan real dan diakhiri dengan Problem Set mengenai bilangan real.
1.1.1. Operasi dasar bilangan real
Definisi:
Jika n
1
dan n
2
adalah bilangan real, maka ada suatu bilangan real yang ditulis sebagai n
1
+ n
2
yang merupakan jumlah dari n
1
dan n
2
. Juga ada suatu bilangan real n
1
n
2
(atau ditulis sebagai
n
1
. n
2
atau n
1
n
2
) yang merupakan hasil kali dari n
1
dan n
2
.
1.1.2. Sifat-sifat operasi himpunan bilangan real
Beberapa sifat operasi pada bilangan real antara lain adalah:
1. Sifat tertutup
Himpunan bilangan real R dikatakan tertutup terhadap operasi penjumlahan dan perkalian,
karena jumlah dan hasil kali dari 2 bilangan real merupakan bilangan real pula. Dalam notasi
matematika biasa ditulis sebagai berikut:
a. Penjumlahan
Untuk setiap n
1
, n
2
R, berlaku (n
1
+ n
2
) R
b. Perkalian
Untuk setiap n
1
, n
2
R, berlaku (n
1
n
2
) R
2. Sifat Komutatif
a. Penjumlahan
Untuk setiap n
1,
n
2
R, berlaku n
1
+ n
2 =
n
2
+ n
1
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
3
b. Perkalian
Untuk setiap n
1,
n
2
R, berlaku n
1
n
2 =
n
2
n
1
3. Sifat Asosiatif
a. Penjumlahan
Untuk setiap n
1,
n
2
, n
3
R, berlaku (n
1
+ n
2
) + n
3 =
n
1
+ (n
2
+ n
3
)

b. Perkalian
Untuk setiap n
1,
n
2
, n
3
R, berlaku (n
1
n
2
)n
3 =
n
1
(n
2
n
3
)
4. Sifat Identitas
a. Penjumlahan
Untuk setiap n R, berlaku n + 0 = 0 + n = n dimana 0 sebagai identitas penjumlahan
b. Perkalian
Untuk setiap n R, berlaku n 1 = 1 n = n dimana 1 sebagai identitas pekalian
5. Sifat Kebalikan (invers)
a. Penjumlahan
Untuk setiap n R akan terdapat n R sedemikian sehingga berlaku sifat n + (n) = (
n) + n = 0. n disebut invers atau kebalikan dari n terhadap operasi penjumlahan
b. Perkalian
Untuk setiap n 0 R akan terdapat 1/n R sedemikian sehingga berlaku sifat n 1/n =
1/n n = 1. 1/n disebut invers atau kebalikan dari n terhadap operasi perkalian
6. Sifat Distributif
a. Distributif kiri
Untuk setiap n
1,
n
2
, n
3
R, berlaku (n
1
+ n
2
) n
3 =
n
1
n
3
+ n
2
n
3
b. Distributif kanan
Untuk setiap n
1,
n
2
, n
3
R, berlaku n
1
(n
2
+ n
3
)
=
n
1
n
2
+ n
1
n
3
1.1.3. Skema himpunan bilangan real
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
4
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
Bilangan Real ( R )
Bilangan Rasional ( Q )
Bilangan Bulat ( Z )
Bilangan Bulat Negatif ( Z
-
) Bilangan Cacah ( C )
5
Bilangan Pecahan
Bilangan Ganjil
Bilangan Irrasional
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
Bilangan Nol Bilangan Asli ( N )
6
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
Bilangan Genap Bilangan Prima
7
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
8
Secara umum himpunan bilangan real terbagi menjadi dua himpunan besar yaitu himpunan
bilangan rasional dan himpunan bilangan irrasional. Namun sebelum diberikan definisi bilangan
rasional dan irrasional akan diuraikan definisi bilangan yang lainnya.
Definisi bilangan bulat positif (asli):
Bilangan asli atau bilangan alam adalah bilangan-bilangan yang disimbolkan dengan angka 1, 2,
3, .
Kumpulan semua bilangan asli disebut himpunan bilangan asli , yaitu N = {1, 2, 3, 4, }.
Sedangkan gabungan antara bilangan nol dan himpunan bilangan asli disebut himpunan bilangan
cacah, yaitu C = N {0} = {0, 1, 2, 3, }.
Definisi bilangan bulat negatif:
Sebuah bilangan x disebut bilangan bulat negatif bila bilangan x merupakan kebalikan (invers)
dari suatu bilangan bulat positif. Jika a merupakan suatu bilangan bulat positif maka x
disimbolkan dengan x = a.

Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
Bilangan Komposit
9
Kumpulan semua bilangan bulat negatif disebut himpunan bilangan bulat negatif, yaitu {1, 2,
3, }.
Definisi faktor pembagi:
Jika a, b, dan c adalah bilangan-bilangan bulat, serta berlaku ab=c maka a dan b disebut faktor
pembagi dari c, sedangkan c disebut kelipatan dari a dan b.
Definisi bilangan genap dan ganjil:
Sebuah bilangan bulat positif a disebut bilangan genap bila salah satu faktor dari a adalah 2.
Bilangan yang bukan genap disebut bilangan ganjil.
Kumpulan semua bilangan genap disebut himpunan bilangan genap. Sedangkan kumpulan semua
bilangan ganjil disebut himpunan bilangan ganjil.
Definisi bilangan komposit:
Sebuah bilangan bulat positif k 1disebut bilangan komposit bila bilangan k tersebut dapat
dinyatakan sebagai hasil kali dua atau lebih bilangan bulat positif 1.
Kumpulan semua bilangan komposit disebut himpunan bilangan komposit.
Definisi bilangan prima:
Sebuah bilangan bulat positif p 1 disebut bilangan prima bila bilangan p tersebut merupakan
perkalian antara 1 dan p, atau bilangan p hanya mempunyai 2 faktor yaitu 1 dan p sendiri.
Kumpulan semua bilangan prima disebut himpunan bilangan prima, yaitu {2, 3, 5, 7, }
Definisi bilangan rasional:
Sebuah bilangan r disebut bilangan rasional jika bilangan r tersebut dapat dinyatakan sebagai
pembagian dari dua buah bilangan bulat. Dalam notasi matematika sebagai berikut:
0 , , , q bulat q p
q
p
r
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
10
Kumpulan semua bilangan rasional disebut himpunan bilangan rasional yang merupakan
gabungan dari himpunan bilangan bulat dan himpunan bilangan pecahan. Sebuah bilangan
rasional dapat mudah kita kenal dari bilangan desimalnya dimana pada bilangan desimalnya
terdapat pengulangan bilangan yang secara teratur.
Contoh 1.1
Beberapa bilangan rasional yang dapat dilihat dari pola bilangan desimalnya adalah:

... 5000 , 0
2
1

... 3333 , 0
3
1

... 14285714 2857142857 , 0


7
2

... 444444 , 0
9
4

Definisi bilangan irrasional:
Sebuah bilangan c disebut bilangan irrasional jika bilangan c tersebut tidak dapat dinyatakan
sebagai pembagian dari dua buah bilangan bulat. Sebuah bilangan irrasional dapat mudah kita
kenal dari bilangan desimalnya dimana pada bilangan desimalnya tidak terdapat pengulangan
bilangan yang secara teratur.
Contoh 1.2
Beberapa contoh bilangan yang merupakan bilangan irrasional:
, 5 , 3 , 2 , , e
Kumpulan semua bilangan irrasional disebut himpunan bilangan irrasional.
Problem Set
1. Manakah di antara bilangan decimal berikut yang bukan merupakan bilangan rasional?
Jelaskan !
a. 0,959599595
b. 0,696969
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
11
c. 5,344344433
d. 2,889889889
e. 7,79977997799
2. Tentukan bilangan pecahan dari bilangan-bilangan rasional di bawah ini:
a. 0,799999
b. 0,659659659
c. 1,333333
d. 2,898989
e. 5,799979997999
3. Manakah dari pernyataan-pernyataan berikut yang benar? Jelaskan!
a. Hasil penjumlahan antara dua bilangan rasional adalah bilangan rasional
b. Hasil penjumlahan antara dua bilangan irrasional adalah bilangan irrasional
c. Hasil perkalian antara dua bilangan rasional adalah bilangan rasional
d. Hasil perkalian antara dua bilangan irrasional adalah bilangan irrasional
1.2. BILANGAN ASLI
Materi ini akan membahas materi tentang bilangan asli. Bilangan asli sendiri mempunyai sifat-
sifat yang hampir sama dengan bilangan real, namun ada beberapa sifat dari bilangan real yang
tidak dimiliki oleh bilangan asli.
1.2.1. Operasi dasar bilangan asli
Sama seperti bilangan real, pada bilangan asli terdapat dua buah operasi dasar yaitu operasi
penjumlahan dan perkalian.
Definisi:
Jika n
1
dan n
2
adalah bilangan real, maka ada suatu bilangan real yang ditulis sebagai n
1
+ n
2
yang merupakan jumlah dari n
1
dan n
2
. Juga ada suatu bilangan real n
1
n
2
(atau ditulis sebagai
n
1
. n
2
atau n
1
n
2
) yang merupakan hasil kali dari n
1
dan n
2
.
1.2.2. Sifat-sifat operasi himpunan bilangan asli
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
12
Beberapa sifat operasi pada bilangan asli antara lain adalah:
1. Sifat tertutup
Himpunan bilangan asli N dikatakan tertutup terhadap operasi penjumlahan dan perkalian,
karena jumlah dan hasil kali dari 2 bilangan asli merupakan bilangan asli pula. Dalam notasi
matematika biasa ditulis sebagai berikut:
a. Penjumlahan
Untuk setiap n
1
, n
2
N, berlaku (n
1
+ n
2
) N
b. Perkalian
Untuk setiap n
1
, n
2
N, berlaku (n
1
n
2
) N
2. Sifat Komutatif
a. Penjumlahan
Untuk setiap n
1
, n
2
N, berlaku n
1
+ n
2 =
n
2
+ n
1
b. Perkalian
Untuk setiap n
1
, n
2
N, berlaku n
1
n
2 =
n
2
n
1
3. Sifat Asosiatif
a. Penjumlahan
Untuk setiap n
1,
n
2
, n
3
N, berlaku (n
1
+ n
2
) + n
3 =
n
1
+ (n
2
+ n
3
)

b. Perkalian
Untuk setiap n
1,
n
2
, n
3
N, berlaku (n
1
n
2
)n
3 =
n
1
(n
2
n
3
)
4. Sifat Identitas
a. Penjumlahan
Untuk setiap n N, berlaku n + 0 = 0 + n = n
(0 sebagai bukan identitas penjumlahan, 0 N)
b. Perkalian
Untuk setiap n N, berlaku n 1 = 1 n = n
(1 sebagai identitas pekalian, 1 N)
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
13
5. Sifat Distributif
a. Distributif kiri
Untuk setiap n
1,
n
2
, n
3
N, berlaku (n
1
+ n
2
)n
3
= n
1
n
3
+ n
2
n
3
b. Distributif kanan
Untuk setiap n
1,
n
2
, n
3
N, berlaku n
1
(n
2
+ n
3
) =

n
1
n
2
+ n
1
n
3
1.2.3. Bilangan genap
Sebuah bilangan bulat positif a disebut bilangan genap bila salah satu faktor dari a adalah 2.
Kumpulan semua bilangan genap disebut himpunan bilangan genap.
1.2.4. Bilangan ganjil
Bilangan yang bukan genap disebut bilangan ganjil. Kumpulan semua bilangan ganjil disebut
himpunan bilangan ganjil.
1.2.5. Bilangan komposit
Sebuah bilangan bulat positif k 1 disebut bilangan komposit bila bilangan k tersebut dapat
dinyatakan sebagai hasil kali dua atau lebih bilangan bulat positif 1. Kumpulan semua
bilangan komposit disebut himpunan bilangan komposit.
1.2.6. Bilangan prima
Sebuah bilangan bulat positif p 1 disebut bilangan prima bila bilangan p tersebut merupakan
perkalian antara 1 dan p, atau bilangan p hanya mempunyai 2 faktor yaitu 1 dan p sendiri.
Kumpulan semua bilangan prima disebut himpunan bilangan prima, yaitu {2, 3, 5, 7, }
Definisi faktor prima:
Setiap bilangan komposit k dapat dinyatakan sebagai perkalian unik antar beberapa bilangan
prima . Secara notasi matematika sebagai berikut:
( ) ( ) ( )
n
e
n
e e
p p p k
2 1
2 1

Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
14
dimana p
1
, p
2
, ..., p
n
merupakan bilangan-bilangan prima berbeda dan e
1
, e
2
,

,

e
n
merupakan
bilangan-bilangan cacah. p
1
, p
2
, ..., p
n
disebut sebagai faktor prima dari k.
Di dalam himpunan bilangan asli, kita bisa melihat sifat-sifat penting lainnya yang berhubungan
dengan faktor dan kelipatan persekutuan dari bilangan-bilangan asli. Di antaranya adalah FPB
dan KPK.
a. Faktor persekutuan terbesar (FPB)

Faktor persekutuan terbesar (FPB) dari dua atau lebih bilangan asli adalah bilangan asli terbesar
yang merupakan anggota himpunan semua faktor persekutuan dari bilangan-bilangan itu atau
bilangan asli terbesar yang habis membagi bilangan-bilangan tersebut.
Contoh 1.3
Tentukan FPB dari 8 dan 36.
Penyelesaian :
Himpunan faktor dari 8 = {1, 2, 4, 8}
Himpunan faktor dari 36 = {1, 2, 3, 4, 6, 9, 12, 18, 36}
Jadi himpunan faktor dari 8 dan 36 adalah: {1, 2, 4}, sehingga FPB dari 8 dan 36 adalah 4.
Menentukan FPB
Untuk menentukan FPB dari dua atau lebih bilangan asli dapat dilakukan dengan berbagai
macam metode, yaitu:
Mendaftarkan semua faktor dari bilangan-bilangan tersebut
Metode ini merupakan metode yang sangat sederhana, yaitu dengan mendaftarkan semua
faktor dari setiap bilangan tersebut ke dalam sebuah himpunan, setelah itu menentukan
irisan himpunan-himpunan tersebut dan dicari elemen terbesar dari irisan himpunan
tersebut. Contoh 1.3 menggunakan metode ini.
Metode faktor prima
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
15
Metode ini merupakan metode yang sangat umum digunakan, yaitu dengan menguraikan
setiap bilangan tersebut sebagai perkalian antar faktor primanya. Kemudian untuk
menentukan FPB dengan cara:
o Tentukan semua faktor prima yang sama antar bilangan tersebut
o Tentukan bilangan terkecil dari pemangkatan setiap faktor prima yang sama di
atas yang berada pada bilangan-bilangan tersebut
o FPB dari bilangan-bilangan tersebut adalah perkalian antar semua bilangan
terkecil yang sudah diperoleh di atas
Namun metode ini dapat dilakukan jika bilangan-bilangan asli yang ingin dicari FPB nya
merupakan bilangan komposit. Secara matematis sebagai berikut:
Misalkan a, b bilangan asli yang mempunyai faktorisasi prima:
a =
n
a
n
a a
p p p ...
2 1
2 1
dan b =
n
b
n
b b
p p p ...
2 1
2 1
dimana pangkat adalah bilangan bulat tidak negatif, dan semua prima yang muncul di
faktorisasi a atau b muncul di faktorisasi kedua-duanya, bisa dengan pangkat nol.
Maka FPB(a,b) adalah
FPB (a, b) =
) , min( ) , min(
2
) , min(
1
...
2 2 1 1 n n
b a
n
b a b a
p p p
dimana min(x, y) menyatakan nilai terkecil antara x dan y.
Contoh 1.4
Tentukan FPB dari 48 dan 72
Penyelesaian :
Perhatikan bahwa:
48 = 2
4
3
72 = 2
3
3
2
Faktor-faktor prima yang sama dari 48 dan 72 adalah 2 dan 3. Sedangkan pemangkatan
terkecil yang diambil adalah 2
3
dan 3. Sehingga FPB(48, 72) = 2
3
3 = 24.
Algoritma Euclid
Secara sederhana metode yang dilakukan algoritma Euclid adalah mencari faktor
persekutuan terbesar dari bilangan-bilangan yang telah direduksi terus menerus. Cara
mereduksi bilangan ini adalah dengan melihat sisa pembagian antara satu bilangan
dengan bilangan yang lain. Sisa tak nol terakhir adalah nilai FPB yang dimaksud.
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
16
Misalkan ingin dicari FPB(91, 287).
Langkah pertama, bagi bilangan yang lebih besar dengan bilangan yang lebih kecil,
diperoleh
287 = 91.3 + 14 atau 287 91.3 = 14
Artinya pembagi dari 91 dan 287 adalah juga pembagi dari 14 atau
FPB(91, 287) = FPB(14, 91),
sehingga selanjutnya adalah mencari FPB(14, 91).
Bagi bilangan yang lebih besar dengan bilangan yang lebih kecil, diperoleh
91 = 14.6 + 7 atau 91 14.6 = 7
Artinya FPB(91, 287) = FPB(14, 91) = FPB(7, 14).
Bagi bilangan yang lebih besar dengan bilangan yang lebih kecil, diperoleh
14 = 7.2 + 0
Artinya FPB(7, 14) = 7.
Sehingga FPB(91, 287) = FPB(14, 91) = FPB(7, 14) = 7.
Lemma Misalkan a = bq + r, dengan a, b, q dan r adalah bilangan bulat. Maka FPB(a,
b) = FPB(b, r).
Contoh 1.5
Tentukan FPB dari 8 dan 36, 48 dan 72.
Penyelesaian :
FPB (8, 36) = FPB (8, 84+4)
= FPB(8, 4)
= 4
FPB(48, 72) = FPB(48, 48+24)
= FPB(48, 24)
= 24
b. Kelipatan persekutuan terkecil (KPK)
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
17
Kelipatan persekutuan terkecil dari dua atau lebih bilangan asli adalah bilangan asli terkecil yang
merupakan anggota himpunan semua kelipatan persekutuan antara bilangan-bilangan tersebut
atau bilangan asli terkecil yang habis dibagi oleh bilangan-bilangan tersebut.
Contoh 1.6
Tentukan KPK dari 2 dan 3
Penyelesaian :
Himpunan kelipatan dari 2 = {2, 4, 6, 8, 10, 12, }
Himpunan kelipatan dari 3 = {3, 6, 12, 15, }
Jadi himpunan kelipatan dari 2 dan 3 adalah: {6, 12, }, sehingga KPK dari 2 dan 3 adalah 6.
Menentukan KPK
Untuk menentukan KPK dari dua atau lebih bilangan asli dapat dilakukan dengan berbagai
macam metode, yaitu:
Mendaftarkan semua kelipatan dari bilangan-bilangan tersebut
Metode ini merupakan metode yang sangat sederhana, yaitu dengan mendaftarkan semua
kelipatan dari setiap bilangan tersebut ke dalam sebuah himpunan, setelah itu
menentukan irisan himpunan-himpunan tersebut dan dicari elemen terkecil dari irisan
himpunan tersebut. Contoh 1.6 menggunakan metode ini.
Metode faktor prima
Metode ini merupakan metode yang sangat umum digunakan, yaitu dengan menguraikan
setiap bilangan tersebut sebagai perkalian antar faktor primanya. Kemudian untuk
menentukan KPK dengan cara:
o Tentukan semua faktor prima yang sama antar bilangan tersebut
o Tentukan bilangan terbesar dari pemangkatan setiap faktor prima yang sama di
atas yang berada pada bilangan-bilangan tersebut
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
18
o FPB dari bilangan-bilangan tersebut adalah perkalian antar semua bilangan
terbesar yang sudah diperoleh di atas dan semua pemangkatan faktor prima yang
berbeda yang ada di setiap bilangan tersebut.
Namun metode ini hanya dapat dilakukan jika bilangan-bilangan asli yang ingin dicari
KPK nya merupakan bilangan komposit. Secara matematis sebagai berikut:
Seperti FPB, KPK antara dua bilangan bulat juga dapat dicari dengan faktorisasi prima
dari masing-masing bilangan, dengan KPK(a, b) adalah
KPK (a, b) =
) , ( maks ) , ( maks
2
) , ( maks
1
...
2 2 1 1 n n
b a
n
b a b a
p p p
dimana maks(x, y) menyatakan nilai terbesar antara x dan y.
Contoh 1.7
Tentukan KPK dari 48 dan 72, 12 dan 15
Penyelesaian :
Perhatikan bahwa:
48 = 2
4
3
72 = 2
3
3
2
Faktor-faktor prima yang sama dari 48 dan 72 adalah 2 dan 3. Sedangkan pemangkatan
terbesar yang diambil adalah 2
4
dan 3
2
. Sehingga KPK(48, 72) = 2
4
3
2
= 144.
Perhatikan bahwa:
12 = 2
2
3
15 = 3 5
Faktor-faktor prima yang sama dari 12 dan 15 adalah 3. Sedangkan pemangkatan terbesar
yang diambil adalah 3. Semua pemangkatan faktor prima yang berbeda dari dua bilangan
tersebut adalah 2
2
dan 5. Sehingga KPK(12, 15) = 3 2
2
5 = 60.
c. Sifat-sifat FPB dan KPK
Beberapa sifat FPB dan KPK yang penting adalah:
Misalkan a, b, c, d, n adalah bilangan-bilangan asli, maka:
o FPB(ca, cb) = c FPB(a, b)
o FPB(a, bc) = FPB (a, c FPB(a, b))
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
19
o FPB(a
n
, b
n
) = (FPB(a, b))
n
o Jika FPB(a, b) = d, maka FPB(a/d, b/d) = 1
o FPB(a, b) KPK(a, b) = ab
Problem Set
1. Jika m dan n adalah dua bilangan asli dan mn = n + 15, maka carilah semua bilangan n yang
mungkin.
2. Bila diketahui bahwa hasil dari perkalian dari dua bilangan asli adalah 84, tentukanlah hasil
penjumlahan dua bilangan asli tersebut yang mungkin terjadi.
3. Tentukan semua bilangan asli x dan y, jika x
2
+ y
2
= 63
4. Jika 200 201 202 210 dapat ditulis dalam bentuk 2
n
.m, dimana m merupakan
bilangan ganjil. Berapakah nilai dari n ?
5. Jika sembarang bilangan asli yang terdiri dari dua digit kalian pilih. Berapakah hasil yang
kalian temukan jika bilangan tersebut dikurangi dengan jumlah dari kedua digitnya dan
kemudian hasilnya dibagi dengan 9 ? Jelaskan jawaban kalian !
6. Apakah benar setiap selisih kuadrat bilangan ganjil positif dengan bilangan satu merupakan
kelipatan 4? Jelaskan !
7. Apabila suatu bilangan terdiri dari 3 digit dikalikan dengan 4, maka hasil kalinya terdiri dari
3 digit dan mempunyai digit-digit yang sama namun digit pertama dan digit ketiga saling
bertukar. Carilah bilangan tersebut.
8. Apabila suatu bilangan terdiri dari 4 digit dikalikan dengan 9, maka hasil kalinya terdiri dari
4 digit dan mempunyai digit-digit yang sama namun digit pertama dan digit keempat saling
bertukar. Carilah kemugkinan bilangan terbesarnya.
9. Jika 2006 dapat dinyatakan salam penjumlahan dari beberapa bilangan asli berurutan,
maka berapa banyak cara penjumlahan tersebut.
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
20
10. Jika x, y dan z adalah bilangan-bilangan asli yang memenuhi persamaan
x + 3y + 7z = 50
Tentukan semua tripel (x, y, z) yang memenuhi persamaan tersebut.
11. Suatu bilangan asli terdiri dari 3 digit abc yang mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:
a. digit ratusan = digit puluhan + digit satuan
b. b(c + 1) = 52 4a
Tentukan semua bilangan yang memenuhi sifat-sifat tersebut.
12. Suatu bilangan asli terdiri dari 4 digit yang mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:
a. digit ribuan = digit puluhan
b. digit ratusan = satu lebihnya dari digit satuan
Tentukan semua bilangan yang memenuhi sifat-sifat tersebut.
13. Tentukan semua bilangan bulat n sehingga
1
42 7

+
n
n
juga bulat
14. Buktikan bahwa semua bilangan yang terdiri dari 6 digit abcabc selalu habis dibagi 91
15. Sebuah bilangan terdiri dari 3 digit yang habis dibagi 12 dan hasil baginya merupakan
jumlah-jumlah dari digit-digit bilangan tersebut. Tentukanlah bilangan yang yang dimaksud
tersebut.
1.3. KETERBAGIAN
Definisi
Jika a dan b bilangan bulat dan a 0, dikatakan a membagi b jika ada bilangan bulat s sehingga
b = as. Jika a membagi b maka disebut a faktor dari b dan b adalah kelipatan dari a. Notasi a|b
jika a membagi b dan a
|
b jika a tidak membagi b.
Teorema
Jika a, b, dan c bilangan bulat, maka
1. Jika a|b dan a|c maka a|(b + c)
2. Jika a|b maka a|bx untuk sebarang bilangan bulat x
3. Jika a|b dan b|c maka a|c
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
21
Sifat-sifat pembagian oleh 2
n
Suatu bilangan bulat habis dibagi 2
n
jika n bilangan terakhir dari bilangan tersebut habis dibagi
2
n
.
a. n = 1, suatu bilangan habis dibagi 2 jika angka terakhir bilangan tersebut habis dibagi 2.
b. n = 2, suatu bilangan habis dibagi 4 (2
2
) jika bilangan 2 angka terakhir bilangan tersebut
habis dibagi 4.
c. i = 3, suatu bilangan habis dibagi 8 (2
3
) jika bilangan 3 angka terakhir bilangan tersebut
habis dibagi 8.
Teorema
Misalkan a = a
n
a
n-1
... a
3
a
2
a
1
a
0
sembarang bilangan bulat.
1. 3|a jika dan hanya jika 3|( a
n
+ a
n-1
+ ... + a
3
+ a
2
+ a
1
+ a
0
)
2. 5|a jika dan hanya jika a
0
=0 atau a
0
=5
3. 7|a jika dan hanya jika 7| a
n
a
n-1
... a
3
a
2
a
1
2a
0
atau 7| a
n
a
n-1
... a
3
a
2
a
1
+5a
0
4. 9|a jika dan hanya jika 9|( a
n
+ a
n-1
+ ... + a
3
+ a
2
+ a
1
+ a
0
)
5. 11|a jika dan hanya jika 11|( a
n
a
n-1
+ a
n-2
a
n-3
+ )
6. 13|a jika dan hanya jika 13| a
n
a
n-1
... a
3
a
2
a
1
9a
0
atau 13| a
n
a
n-1
... a
3
a
2
a
1
+4a
0
7. 17|a jika dan hanya jika 17| a
n
a
n-1
... a
3
a
2
a
1
5a
0
atau 17| a
n
a
n-1
... a
3
a
2
a
1
+12a
0
8. 19|a jika dan hanya jika 19| a
n
a
n-1
... a
3
a
2
a
1
17a
0
atau 19| a
n
a
n-1
... a
3
a
2
a
1
+2a
0
Teorema Algoritma pembagian.
Misalkan a bilangan bulat dan d bilangan bulat positif. Terdapat bilangan bulat q dan r yang
unik, dengan 0 r < d sehingga a = dq + r
Definisi
Dalam persamaan yang diberikan pada algoritma pembagian, d disebut pembagi (divisor), a
disebut yang dibagi (divident), q disebut hasil bagi (quotient), dan r disebut sisa (remainder)
Contoh 1.8
Berapakah hasil bagi dan sisa jika 101 dibagi 11?
Penyelesaian
Karena 101 = 119 + 2, maka hasil baginya adalah 9 dan sisanya adalah 2
Contoh 1.9
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
22
Berapakah hasil bagi dan sisa jika 11 dibagi 3?
Penyelesaian
Karena 11 = 3 4 + 1, maka hasil baginya adalah 4 dan sisanya adalah 1
Problem Set
1. Hitung 123123 : 1001
2. Tunjukkan bahwa 7 membagi 2222
5555
+ 5555
2222
3. Tentukan angka terakhir dari
7
7
7
4. Misalkan N adalah hasil kali dari tiga bilangan bulat positif yang nilainya sama dengan 6
kali penjumlahan ketiga bilangan tersebut. Satu dari bilangan tersebut adalah penjumlahan
dari dua bilangan yang lainnya. Tentukan jumlah dari semua nilai yang mungkin untuk N
5. n adalah sebuah bilangan yang terdiri dari 4 digit bilangan bulat dengan urutan menurun
dari kiri ke kanan. Carilah jumlah semua nilai sisa yang mungkin jika n dibagi 3
6. Pilih satu bilangan sembarang yang lebih besar dari 1. Bilangan berikutnya diperoleh dari
pembagian antara bilangan yang lebih besar 1 dari bilangan yang dipilih dengan bilangan
yang lebih kecil 1 dari bilangan yang dipilih. Kemudian lakukan hal yang sama sekali lagi.
Apakah yang terjadi? Jelaskan
1.4. PERSAMAAN DIOPHANTINE
Suatu peramaan berbentuk ax + by = c dengan a, b, dan c bilangan bulat dan a, b tidak nol
disebut persamaan diopanthine, jika penyelesaiannya dicari pada himpunan bilangan bulat.
Teorema
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
23
Persamaan diopanthine ax + by = c mempunyai penyelesaian jika dan hanya jika FPB(a, b)
membagi c.
Contoh 1.10
Uji apakah persamaan 24x + 78y = 34 mempunyai penyelesaian di himpunan bilangan bulat.
Penyelesaian
Pertama-tama kita cari FPB dari 24 dan 78 dengan algoritma euclid sebagai berikut:
78 = 324 + 6
24 = 46 + 0
Sehingga FPB(24,78)=6, karena 6 adalah sisa pembagian terakhir yang tak nol. Karena 6
|
34,
maka persamaan 24x + 78y = 34 tidak mempunyai penyelesaian di himpunan bilangan bulat.
Teorema
Jika d = FPB(a, b) dan x
0
, y
0
adalah penyelesaian dari persamaan diopanthine ax + by = c, maka
penyelesaian umum dari persamaan tersebut adalah
0
b
d
x x k +
dan
0
a
d
y y k
dengan k parameter bilangan bulat.
Contoh 1.11
Cari penyelesaian dari persamaan 56x + 72y = 40.
Penyelesaian
Pertama-tama kita cari FPB dari 56 dan 72 dengan algoritma euclid sebagai betikut:
72 = 156 + 16
56 = 316 + 8
16 = 28 + 0
Sehingga FPB(56,72)=8, karena 8 adalah sisa pembagian terakhir yang tak nol. Karena 8|40,
maka persamaan 56x + 72y = 40 mempunyai penyelesaian di himpunan bilangan bulat.
Selanjutnya kita mencari nilai x
0
dan y
0
. Perhatikan bahwa :
40 = 58 = 5(56 316)
= 556 1516
= 556 15(72 156)
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
24
= 2056 1572
Sehingga nilai x
0
=20 dan y
0
= 15. Akhirnya solusi umum dari persamaan diophantine 56x + 72y
= 40 adalah :
x = 20 + 9k dan y = 15 7k
dengan k parameter bilangan bulat.
Problem Set
Ujilah apakah persamaan berikut mempunyai penyelesaian di bilangan bulat. Jika mempunyai
penyelesaian, carilah penyelesaian tersebut.
a. 14x + 35y = 93
b. 24x + 138y = 18
c. 754x + 221y = 13
1.5. ARITMATIKA MODULAR
Jika waktu sekarang adalah jam 7, jam berapakah 50 jam dari sekarang? Untuk mengetahui jam
tersebut, kita harus mencari sisa pembagian 50 dengan 24 dan menambahkannya ke jam 7. Ada
banyak kasus-kasus seperti ini dimana yang diperlukan hanyalah sisa pembagian sementara hasil
baginya tidak penting.
Definisi
Misalkan a bilangan bulat dan m bilangan bulat positif. Digunakan a mod m untuk menyatakan
sisa hasil pembagian a oleh m.
Contoh 1.12
Berapakah 17 mod 5 dan 133 mod 9 ?
Penyelesaian
Perhatikan bahwa 17 = 35 + 2, sehingga 17 mod 5 = 2, sedangkan 133 = 149 + 7, sehingga
133 mod 9 = 7
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
25
Definisi
Jika a dan b bilangan bulat dan m bilangan bulat positif, maka a adalah kongruen dengan b
modulo m jika m | (a b). Digunakan notasi a b (mod m) untuk menyatakan a kongruen
dengan b modulo m. Jika a dan b tidak kongruen modulo m, ditulis a
/ b (mod m).
Contoh 1.13
Periksa apakah apakah 17 kogruen ke 5 modulo 6.
Penyelesaian
Perhatikan bahwa, karena 6 | (17 5)=12, maka 17 5 (mod 6)
Teorema
Misalkan m bilangan bulat positif. Bilangan bulat a dan b adalah kongruen modulo m jika dan
hanya jika ada bilangan bulat k sehingga a = b + km.
Teorema
Misalkan m bilangan bulat positif. Jika a b (mod m) dan c d (mod m), maka a + c b + d
(mod m) dan ac bd (mod m)
Contoh 1.14
Tentukan angka satuan pada bilangan 3
2005
.
Penyelesaian
Untuk mencari angka satuan kita gunakan sisa hasil pembagian dengan 10. Karena 3
2
1 (mod
10) , maka:
3
2005
(3
2
)
1002
3 (mod 10)
(-1)
1002
3 (mod 10)
1 3 (mod 10)
3 (mod 10)
Sehingga angka satuan dari 3
2005
adalah 3.
Teorema
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
26
Misalkan m bilangan bulat positif dan a, b, dan c bilangan bulat. Jika ac bc (mod m) dan gcd(c,
m) = 1, maka a b (mod m).
1.6. CHINESE REMAINDER THEOREM
Bila x dibagi 3 bersisa 2, x dibagi 5 bersisa 3, dan x dibagi 7 bersisa 2, berapakah x?
Masalah di atas dapat diterjemahkan menjadi masalah berikut:
Berapakah x sehingga
x 2 (mod 3)
x 3 (mod 5)
x 2 (mod 7).
Masalah seperti ini dapat diselesaikan dengan the chinese remainder theorem.
Teorema The Chinese remainder theorem.
Misalkan m
1
, m
2
, , m
n
bilangan bulat yang saling relatif prima. Sistem
x a
1
(mod m
1
)
x a
2
(mod m
2
)

x a
n
(mod m
n
)
memiliki satu solusi tunggal modulo m = m
1
m
2
m
n
. Dengan kata lain, terdapat satu dan hanya
satu x dengan 0 x < m yang memenuhi sistem tersebut.
Contoh 1.15
Tentukan x yang memenuhi sistem
x 2 (mod 3)
x 3 (mod 5)
x 2 (mod 7)
Penyelesaian
Perhatikan bahwa sistem di atas ekivalen dengan sistem berikut:
35x 70 (mod 105)
21x 63 (mod 105)
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
27
15x 30 (mod 105)
Karena x 36x 35x (21x +15x) 35x (63+30) 70 23 mod 105, maka x = 23 + 105k,
dimana k adalah parameter bilangan bulat.
Problem Set
Cari penyelesaian dari sistem persamaan berikut:
a. x 1 (mod 2), x 2 (mod 3)
b. x 5 (mod 15), 4x 7 (mod 11)
c. x 1 (mod 2), x 3 (mod 3), x 1 (mod 5)
d. x 1 (mod 2), x 2 (mod 3), x 4 (mod 5)
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
28
2. ALJABAR
2.1. HIMPUNAN
Pada materi kali ini, kita akan mempelajari konsep himpunan dimulai dari beberapa pengertian
seputar himpunan sampai akhirnya mengenai penerapan atau pemakaian operasi-operasi pada
himpunan. Di akhir materi ini akan diberikan Problem Set mengenai himpunan.
2.1.1. Pengertian himpunan
Sebuah himpunan adalah setiap daftar, kumpulan atau kelas objek-objek yang didefinisikan
secara jelas. Objek-objek himpunan tersebut dapat berupa: bilangan, orang, surat, sungai dan
sebagainya.
Contoh 2.1
Beberapa contoh himpunan
o Kumpulan siswa yang menyukai pelajaran matematika
o Kumpulan orang-orang yang memiliki tinggi kurang dari 150 cm
2.1.2. Anggota himpunan
Setiap objek yang berada dalam suatu himpunan disebut anggota atau elemen dari himpunan
tersebut.
2.1.3. Notasi himpunan
o Himpunan-himpunan selalu dinyatakan dengan huruf besar, seperti : A, B, X, Y,
o Elemen-elemen dari himpunan selalu dinyatakan dengan huruf kecil, seperti : a, b, x,
y,
Contoh 2.2
o A = himpunan bilangan prima kurang dari 20
o B = himpunan warna lampu pada rambu lalu lintas
2.1.4. Menyatakan suatu himpunan
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
29
Untuk menyatakan suatu himpunan dapat dengan berbagai macam cara, yaitu :
a. Metode daftar (tabular form)
Yaitu mendefinisikan himpunan dengan mendaftarkan atau menyebutkan semua anggota
himpunan tersebut. Caranya semua anggota suatu himpunan tersebut disebutkan atau ditulis di
antara tanda kurung kurawal dan penyebutannya tiap anggota dipisahkan dengan tanda koma.
Contoh 2.3
Pada Contoh 2.2 di atas, himpunan A dan B dapat dinyatakan dalam bentuk :
o A = {2, 3, 5, 7, 11, 13, 17, 19}
o B = {merah, kuning, hijau}
b. Metode aturan (set-builder form)
Yaitu mendefinisikan suatu himpunan tertentu dengan menyatakan sifat-sifat yang harus
dipenuhi oleh anggota-anggotanya.
Contoh 2.4
o A adalah himpunan semua bilangan prima.
Ditulis : A = {x | x bilangan prima}
o B adalah himpunan bilangan ganjil yang lebih dari 10 dan kurang dari 26.
Ditulis : B = {x | x bilangan ganjil, 10 < x < 26}
2.1.5. Notasi anggota himpunan
Bila suatu objek merupakan anggota suatu himpunan maka digunakan lambang . Sebaliknya
bila objek tersebut bukan merupakan anggota suatu himpunan maka digunakan lamabang .
Contoh 2.5
Jika A = {2, 3, 5, 7} maka :
o 2 adalah anggota himpunan A, sehingga ditulis 2 A atau 2 {2, 3, 5, 7}.
o 8 bukan anggota himpunan A, sehingga ditulis 8 A atau 8 {2, 3, 5, 7}.
2.1.6. Notasi banyaknya himpunan
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
30
Banyaknya anggota dari suatu himpunan dinotasikan dengan n. Untuk menyatakan banyaknya
himpunan C ditulis n(C).
Contoh 2.6
Untuk contoh 2.2 di atas, banyaknya anggota himpunan A dan B adalah:
o n(A) = 8
o n(B) = 3
2.1.7. Himpunan berhingga dan tak berhingga
Suatu himpunan dikatakan berhingga bila terdiri dari sejumlah tertentu elemen-elemen yang
berbeda. Bila tidak, maka himpunan tersebut dikatakan tak berhingga.
Contoh 2.7
o Misalkan M adalah himpunan dari hari-hari dalam seminggu, maka M dikatakan
berhingga.
o Misalkan N = {2, 4, 6, 8, }, maka N himpunan tak berhingga.
o Misalkan P = {x | x adalah orang di bumi}, maka P himpunan berhingga.
2.1.8. Kesamaan himpunan
Himpunan A dikatakan sama dengan himpunan B jika kedua himpunan tersebut memiliki
anggota yang sama. Kesamaan himpunan A dan B dinotasikan dengan A = B.
Contoh 2.8
o Misalkan A = {1, 2, 3, 4} dan B = {4, 3, 2, 1}, maka A = B.
o Misalkan E = {x | x
2
3x = 2} dan F = {2, 1}, maka E = F.
2.1.9. Himpunan kosong
Suatu himpunan disebut kosong bila himpunan tersebut tidak mengandung atau tidak mempunyai
anggota. Himpunan kosong dilambangkan dengan { } atau .
Contoh 2.9
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
31
o Misalkan B = {x | x
2
=16, x bilangan ganjil}, maka B = .
o Misalkan D adalah himpunan bilangan asli antara 4 dan 5, maka D = { }.
2.1.10. Himpunan bagian (subset) dan himpunan kuasa (power set)
Himpunan A dikatakan himpunan bagian dari himpunan B jika setiap anggota dari himpunan A
merupakan anggota dari himpunan B. Jika A subset dari B, maka dinotasikan dengan A B,
jika A tidak subset B, maka dinotasikan dengan A B.
Catatan:
o Himpunan kosong merupakan subset dari semua himpunan.
o Jika A B, maka ada sekurang-kurangnya satu elemen dari himpunan A yang bukan
elemen dari himpunan B.
o Jika A subset dari B, maka dapat ditulis dengan B A (dibaca B superset dari A)
o Dua himpunan A dan B adalah sama, yaitu A = B, jika dan hanya jika A B dan B
A.
Himpunan A dikatakan proper subset (himpunan bagian sebenarnya) dari himpunan B, jika:
a. A subset dari B, A B
b. A tidak sama dengan B , A B
Contoh 2.10
Jika A = {1, 3, 5}, B = {6, 5, 4, 3, 2, 1} dan C = {1, 4, 5, 6}, maka A B, C B dan A C.
Himpunan kuasa atau power set dari sebuah himpunan A adalah kumpulan semua himpunan
bagian dari himpunan A. Himpunan kuasa dari himpunan A dinotasikan dengan 2
A
. Jika banyak
anggota himpunan A adalah n, maka banyaknya anggota power set dari himpunan A adalah 2
n
.
Contoh 2.11
Power set dari himpunan A = {1, 3, 6} adalah himpunan {, {1}, {3}, {6}, {1, 3}, {1, 6}, {3,
6}, A} yang mempunyai banyak anggota 2
3
=8.
2.1.11. Himpunan semesta
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
32
Himpunan semesta adalah himpunan yang memuat semua anggota yang sedang dibicarakan.
Himpunan semesta dinyatakan dengan notasi S atau U.
Contoh 2.12
Jika A = {2, 3, 5}, maka himpunan semesta yang mungkin dari A adalah :
o S = {1, 2, 3, 4, 5}
o S = {2, 3, 4, 5}
o S = himpunan bilangan asli
o S = himpunan bilangan prima
2.1.12. Diagram venn
Diagram venn adalah diagram yang menunjukkan hubungan antara dua himpunan atau lebih
dalam himpunan semesta.
Contoh 2.13
o Misalkan S = {2, 3, 4, 5, 6, 7} dan A = {3, 4, 5}
Diagram venn yang menggambarkan
himpunan-himpunan di atas adalah :

o Misalkan
S = himpunan bilangan asli kurang dari 14
P = himpunan bilangan asli antara 2 dan 7
Q = himpunan bilangan genap antara 4 dan 13
Diagram venn yang menggambarkan
himpunan-himpunan di atas adalah :
2.1.13. Irisan dan gabungan dua himpunan
Irisan dua himpunan A dan B adalah himpunan semua anggota yang menjadi anggota A dan
sekaligus anggota B. Irisan antara himpunan A dan B biasa dinotasikan dengan A B.
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
33
Contoh 2.14
Misalkan diketahui
S = himpunan bilangan cacah
A = himpunan bilangan prima yang kurang dari 10
B = himpunan bilangan ganjil yang kurang dari 10
Maka
S = {0, 1, 2, 3, 4, 5, }
A = {2, 3, 5, 7}
B = {1, 3, 5, 7, 9}
A B = {3, 5, 7}
Gabungan dua himpunan A dan B adalah himpunan semua elemen yang menjadi anggota
himpunan A saja atau himpunan B saja atau anggota himpunan A dan himpunan B. Gabungan
antara himpunan A dan B dinotasikan dengan A B.
Contoh 2.15
Misalkan diketahui
S = himpunan bilangan asli kurang dari 10
A = himpunan bilangan prima yang kurang dari 10
B = himpunan bilangan genap yang kurang dari 10
Maka
S = {1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9}
A = {2, 3, 5, 7}
B = {2, 4, 6, 8}
A B = {2, 3, 4, 5, 6, 7 8}
2.1.14. Selisih dua himpunan
Selisih antara himpunan A dan B disimbolkan dengan A B, yang merupakan himpunan yang
terdiri dari anggota-anggota himpunan A namun tidak merupakan anggota himpunan B. Jika
ditulis dalam set-builder form sebagai berikut
A B = { x | x A dan x B }
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
34
Contoh 2.16
Misalkan A = { 2, 4, 7, 9} dan B = { 1, 5, 7, 11, 13}, maka:
o A B = { 2, 4, 9}
o B A = { 1, 2, 11, 13}
2.1.15. Beda simetris dua himpunan
Beda simetris antara himpunan A dan B disimbolkan dengan AB dengan definisi:
AB = (A B) (A B)
Beda simetris ini juga biasa disimbolkan dengan A + B.
Contoh 2.17
Misalkan A = { 2, 4, 7, 9} dan B = { 1, 5, 7, 11, 13}, maka:
A B = (A B) (A B)
= {1, 2, 4, 7, 9, 11, 13} {7}
= {1, 2, 4, 9, 11, 13}
2.1.16. Himpunan saling lepas
Dua himpunan A dan B dikatakan himpunan yang saling lepas bilamana himpunan A dan
himpunan B tidak mempunyai anggota yang bersekutuan. Ilustrasi dalam diagram venn nya
sebagai berikut:
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
35
S
B

A
2.1.17. Himpunan tidak saling lepas
Dua himpunan A dan B dikatakan himpunan yang tidak saling lepas bilamana:
a. Salah satu himpunan merupakan himpunan bagian dari yang lain.
b. Kedua himpunan tersebut mempunyai irisan.
2.1.18. Himpunan ekuivalen
Dua himpunan A dan B dikatakan ekuivalen jika kedua himpunan tersebut mempunyai jumlah
anggota yang sama. Himpunan A ekuivalen dengan himpunan B dinotasikan dengan A B.
Contoh 2.18
Diketahui
P = {huruf vokal dalam huruf abjad}
Q = {bilangan asli yang kurang dari 6}
Sehingga
P = {a, i, u, e, o}, n(P)=5
Q = {1, 2, 3, 4, 5}, n(Q)=5
Jadi n(P) = n(Q) atau P Q.
2.1.19. Menentukan banyaknya anggota dari gabungan dua himpunan
Untuk menentukan banyaknya anggota dari gabungan dua himpunan kita lihat ilustrasi gambar
diagram venn di bawah ini:
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
36
S
B

A
S
B

A
S

c
B
a b
A
Misalkan a, b dan c berurutan menggambarkan banyaknya anggota tiap daerah. Sehingga :
n(A) = a + b
n(B) = b + c
n(AB) = b
n(AB) = a + b + c = a + b + b + c b = n(A) + n(B) n(AB)
2.1.20. Komplemen suatu himpunan
Kompelemen dari suatu himpunan A adalah sebuah himpunan yang terdiri dari anggota-anggota
yang bukan merupakan anggota himpunan A namun masih merupakan anggota dari himpunan
semesta. Komplemen himpunan A dinotasikan dengan A
C
. Ilustrasi komplemen suatu himpunan
diperlihatkan pada diagram venn berikut:
Contoh 2.19
Misalkan S = {a, b, c, d, e, f} dan A = {a, e, f}, maka A
C
= {b, c, d}
2.1.21. Sifat-sifat operasi himpunan
Operasi dasar pada himpunan secara umum terdiri atas dua operasi, yaitu operasi irisan dan
operasi gabungan. Sifat-sifat yang ada pada operasi-operasi tersebut adalah:
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
37
a. Sifat komutatif
Sifat komutatif berlaku pada operasi irisan dan gabungan dua himpunan.
Sifat komutatif pada operasi irisan dua himpunan adalah : A B = B A. Ilustrasi untuk
sifat komutatif irisan dua himpunan sebagai berikut:
Gabungan dua himpunan
Sifat komutatif pada operasi gabungan dua himpunan adalah : A B = B A. Ilustrasi
untuk sifat komutatif irisan dua himpunan sebagai berikut:
b. Sifat asosiatif
Sifat asosiatif berlaku pada operasi irisan dan gabungan tiga himpunan.
Irisan tiga himpunan
Sifat asositatif pada irisan tiga himpunan adalah : (A B) C = A (B C). Ilustrasi
untuk sifat asosiatif irisan tiga himpunan sebagai berikut:
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
38
Gabungan tiga himpunan
Sifat asositatif pada gabungan tiga himpunan adalah : (A B) C = A (B C).
Ilustrasi untuk sifat asosiatif gabungan tiga himpunan sebagai berikut:
c. Sifat distributif
Sifat distributif pada himpunan dibagi menjadi dua bagian, yaitu:
Irisan terhadap gabungan himpunan
Sifat distributif irisan terhadap gabungan himpunan adalah: A (B C) = (A B) (A
C). Ilustrasi untuk sifat distributif irisan terhadap gabungan himpunan sebagai berikut:
Gabungan terhadap irisan himpunan
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
39
Sifat distributif gabungan terhadap irisan himpunan adalah: A (B C) = (A B)
(A C). Ilustrasi untuk sifat distributif gabungan terhadap irisan himpunan sebagai
berikut:
d. Hukum de Morgan
Sifat-sifat yang berhubungan dengan komplemen himpunan, gabungan dan irisan dua
himpunan dinamakan hokum de Morgan. Hukum de Morgan adalah sifat-sifat berikut ini:
(A B)
C
= A
C
B
C
(A B)
C
= A
C
B
C
e. Sifat-sifat pada himpunan kosong dan semesta
Sifat-sifat yang berhubungan dengan himpunan kosong dan himpunan semesta adalah:
A = A
S A = A
A =
S A = S
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
40
f. Sifat-sifat pada komplemen himpunan
Sifat-sifat yang berhubungan dengan komplemen himpunan adalah:
(A
C
)
C
= A
A A
C
= S
A A
C
=
Problem Set HIMPUNAN
1. Diketahui: A B = {1, 5, 7, 8}, B A = {2, 10}, AB = {3, 6, 9}, tentukan: A, B, AB,
AB
2. Diketahui:
a. S = {1, 2, , 10},
b. A = {1, 4, 7, 10},
c. B = {1, 2, 3, 4, 5}, dan
d. C = {2, 4, 6, 8}.
Tentukan: A (B C), B
c
(C A), (A B)
c
C, (B C) (A C)
3. Bila diketahui X = {1, 2, 3, 4} dan Y = { a | a bilangan bulat dan 0 < a < 5 } maka akan
berlaku hubungan sebagai berikut :
a. X Y
b. Y X
c. X = Y
4. Herr-McFee adalah sebuah perusahaan yang memproduksi batangan balok untuk mainan.
Sebelum dikirim ke konsumen, setiap batangan yang diproduksi harus diperiksa dengan sinar
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
41
X. Dari hasil pemeriksaan terhadap 1000 batangan terdapat 10 yang desainnya rusak, 8 yang
casingnya rusak dan 5 mengalami kerusakan baik dari desain maupun casingnya. Berapa
banyak batangan balok yang mengalami kerusakan?
5. Misalkan sebuah keluarga hendak berkemah di suatu bumi perkemahan. Misalkan M
adalah kejadian mereka mendapat kesulitan mekanis pada kemahnya, T adalah kejadian
mereka terkena denda pelanggaran lalu lintas, dan V adalah kejadian bahwa mereka sampai
di bumi perkemahan dan ternyata tidak ada tempat yang kosong. Dengan melihat diagram
Venn pada gambar di bawah ini, manakah daerah-daerah yang yang menyatakan kejadian-
kejadian berikut ini:
a. Keluarga itu tidak mengalami kesulitan mekanis pada kemahnya
dan tidak melanggar lalu lintas, tetapi bumi perkemahan telah penuh.
b. Keluarga itu mengalami kesulitan mekanis pada kemahnya dan
mendapatkan bumi perkemahan telah penuh, tetapi tidak melanggar lalu lintas.
c. Keluarga itu mengalami kesulitan mekanis pada kemahnya atau
mendapatkan bumi perkemahan sudah penuh tetapi tidak melanggar lalu lintas.
6. Dari 40 orang, 28 orang suka pisang dan 16 orang suka apel, sedangkan terdapat 10 orang
yang suka kedua-duanya. Berapa orang yang tidak suka apel dan pisang?
7. Pandang himpuna berikut ini:
A={2, 4, 6, , 57}
a. Berapa banyak anggota dari A ?
b. Berapa banyak yang habis dibagi 3 ?
c. Berapa banyak yang habis dibagi 5 ?
d. Berapa banyak yang habis dibagi 15 ?
e. Berapa banyak yang habis dibagi 3 atau 5 atau kedua-duanya ?
f. Berapa banyak yang tidak habis dibagi 3 maupun 5 ?
g. Berapa banyak yang habis tepat hanya 3 atau 5 ?
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
42
8. Berapa banyak bilangan bulat antara 1 dan 1000 yang tidak mempunyai factor prima yang
sama dengan bilangan 1000 ?
9. Berapa banyak bilangan bulat antara 1 dan 600 yang tidak habis dibagi 3 maupun 5 maupun
7 ?
10. Di dalam sebuah grup terdapat 30 orang, 8 orang bisa berbahasa Inggris, 12 orang bisa
berbahasa Spanyol dan 10 orang bisa berbahasa Perancis. Diketahui bahwa 5 orang bisa
berbahasa Inggris dan Spanyol, 5 orang bisa berbahasa Spanyol dan Perancis dan 7 orang
bisa berbahasa Inggris dan Perancis. Sedangkan yang bias berbahasa ketiga-tiganya sebanyak
3 orang. Berapa banyak yang hanya bisa berbahasa Indonesia ?
11. Apakah kamu percaya, sebuah toko mengadakan survey dengan hasil sebagai berikut: dari
1000 orang, terdapat 816 suka coklat, 723 suka es krim, 645 suka kue, 562 suka coklat dan es
krim, 463 suka coklat dan kue, 470 suka es krim dan kue serta terdapat 310 orang yang suka
ketiga-tiganya ?
12. Sebuah perusahaan asuransi mempunyai 10.000 klien dengan klasifikasi sebagai berikut:
a. Muda atau tua
b. Pria tau Wanita
c. Sudah menikah atau belum menikah
Dari 10.000 klien tersebut, terdapat 3000 yang muda, 4600 pria dan 7000 yang sudah
menikah. Kemudian terdapat pula 1320 pria muda, 3010 pria menikah serta 1400 yang muda
dan sudah menikah. Terakhir 600 pria muda dan sudah menikah. Berapa banyak klien
perusahaan tersebut yang muda, wanita dan belum menikah ?
13. Di dalam sebuah kelas yang terdiri dari 40 siswa, 14 di antaranya sika matematika, 16
suka biologi dan 11 suka fisika. Diketahui pula 7 siswa suka matematika dan biologi, 8 suka
biologi dan fisika, 5 suka matematika dan fisika sedangkan yang suka ketiga-tiganya
sebanyak 4 siswa. Berapa banyak siswa yang tidak suka matematika atau tidak suka biologi
atau tidak suka fisika ?
14. Berapa banyak bilangan bulat di antara 1 dan 3012 yang habis dibagi 5 atau 7 tetapi tidak
habis dibagi kedua-duanya?
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
43
15. Berapa banyak bilangan bulat di antara 1 dan 49000 yang tidak habis dibagi 3, 5 atau 7 ?
16. Berapa banyak bilangan bulat dari 1 sampai 1000000 yang bukan bilangan kuadrat sempurna,
bukan bilangan kubik maupun bukan bilangan pangkat empat?
17. Di dalam sebuah grup terdapat tes pelajaran bahasa Perancis, bahasa Inggris dan matematika.
92 orang ikut tes bahasa Perancis, 72 orang ikut tes bahsa Inggris dan 63 orang ikut tes
matematika. Diketahui bahwa tidak lebih dari 65 orang ikut tes bahasa Perancis dan Inggris,
tidak lebih dari 54 orang ikut tes bahasa Perancis dan Matematika serta tidak lebih dari 48
ikut tes bahasa Inggris dan Matematika. Tentukan jumlah orang terbanyak yang mungkin
mengikuti seluruh tes tersebut ?
2.2. PERSAMAAN KUADRAT
Materi kali ini akan membahas mengenai sebuah persamaan polynomial khususnya derajat dua
yang lebih umum dikenal dengan persamaan kuadrat. Sebuah persamaan polynomial derajat
didefinisikan sebagai berikut:
0 , 0
0 1
1
1
+ + + +

n
n
n
n
n
a a x a x a x a
dimana a
i
R, i=0, , n dan n bilangan asli.
Di akhir materi ini sedikit diperkenalkan hubungan akar-akar persamaan polynomial derajat n
dengan koefisien-koefisien persamaan polynomialnya.
2.2.1. Bentuk umum
Sebuah persamaan kuadrat adalah sebuah persamaan polynomial derajat dua yang mempunyai
bentuk umum sebagai berikut:
0 , 0
2
+ + a c bx ax
dimana a, b dan c bilangan-bilangan real.
2.2.2. Penyelesaian persamaan kuadrat
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
44
Nilai-nilai x yang memenuhi persamaan kuadrat biasa dinotasikan dengan x
1
dan x
2
. Nilai-nilai x
tersebut sering disebut akar-akar persamaan kuadrat atau penyelesaian/solusi persamaan kuadrat.
a. Jenis-jenis akar persamaan kuadrat
Definisi diskriminan:
Jika diberikan persamaan kuadrat 0
2
+ + c bx ax , maka diskriminan dari persamaan kuadrat
tersebut adalah:
ac b D 4
2

Jenis-jenis akar persamaan kuadrat dapat dilihat berdasarkan nilai dari diskriminan D yang
dikelompokkan menjadi 3 jenis, yaitu:
1. Akar-akar real berbeda (x
1
x
2
)
Sebuah persamaan kuadrat memiliki akar-akar real berbeda x
1
x
2
jika nilai diskriminan D positif
(D > 0).
2. Akar real sama/kembar (x
1
= x
2
)
Sebuah persamaan kuadrat memiliki akar-akar kembar x
1
= x
2
, jika nilai diskriminan D nol ( D =
0 ).
3. Akar-akar kompleks
Sebuah persamaan kuadrat memiliki akar-akar kompleks x
1,2 =
p t qi ( 1 i ) jika nilai
diskriminan D negatif (D < 0). Bilangan yang berbentuk seperti ini disebut bilangan kompleks.
b. Solusi persamaan kuadrat
Untuk mencari solusi atau penyelesaian persamaan kuadrat dapat melalui berbagai macam cara:
1. Faktorisasi
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
45
Faktorisasi adalah langkah pertama yang dapat kita lakukan untuk mencari akar-akar persamaan
kuadrat. Namun tidak semua persamaan kuadrat dengan mudah kita faktorkan. Ada dua hal yang
menyebabkan kita sulit memfaktorkan. Hal yang pertama adalah berkenaan dengan keahlian kita
memfaktorkan, sedangkan yang kedua berkenaan dengan akar-akar yang tidak mudah
difaktorkan (akar-akar irrasional atau akar-akar kompleks).
Ada beberapa tipe persamaan kuadrat yang mudah kita faktorkan, yaitu:
o Bentuk 0 , 0
2
+ b c ax
Bentuk 0
2
+c ax dapat kita faktorkan apabila a bernilai positif dan c bernilai negatif atau
sebaliknya.
Contoh 2.20
Tentukan himpunan penyelesaian dari persamaan kuadrat:
0 9 4
2
x
Penyelesaian
Perhatikan bahwa ) )( (
2 2
b a b a b a + , sehingga kita peroleh:
2
3
atau
2
3
0 3 2 atau 0 3 2
0 ) 3 2 )( 3 2 (
0 3 ) 2 (
0 9 4
2 1
2 2
2

+
+


x x
x x
x x
x
x
akhirnya himpunan penyelesaiannya =

'

2
3
,
2
3
Namun jika a bernilai positif dan c bernilai positif (atau a<0 dan c<0), maka kita tidak dapat
memfaktorkan, tapi kita masih bisa menyelesaikannya dengan cepat dan mudah dengan cara:
1 ,
0
2 , 1
2 , 1
2
2
2
t
t


+
i
a
c
i x
a
c
x
a
c
x
c ax
c ax
dan akar-akar yang kita peroleh adalah akar-akar kompleks.
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
46
Contoh 2.21
Tentukan himpunan penyelesaian dari persamaan kuadrat:
0 9 4
2
+ x
Penyelesaian
Perhatikan bahwa
i x i x
i x
x
x
x
x
2
3
atau
2
3
2
3
4
9
4
9
9 4
0 9 4
2 1
2 , 1
2 , 1
2
2
2

t
t


+
akhirnya himpunan penyelesaiannya =

'

i i
2
3
,
2
3
o Bentuk 0 , 0
2
t c bx ax
Bentuk ini sangat mudah juga difaktorkan, dengan menggunakan sifat distributive sehingga
diperoleh 0 ) (
2
t t b ax x bx ax . Bentuk ini selalu mempunyai nilai akar salah satunya yaitu x
= 0.
Contoh 2.22
Tentukan himpunan penyelesaian dari persamaan kuadrat:
0 5 3
2
x x
Penyelesaian
Perhatikan bahwa 0 ) 5 3 ( 5 3
2
x x x x sehingga diperoleh 0 x atau 0 5 3 x . Akhirnya
diperoleh akar-akarnya, yaitu 0
1
x atau
3
5
2
x
.
Himpunan penyelesaian =

'

3
5
, 0
o Bentuk 0 , 0
2
+ + a c bx x
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
47
Bila bentuk 0
2
+ + c bx x mempunyai akar-akar rasional, maka bentuk ini dapat difaktorkan
menjadi bentuk
0 ) )( ( + + s x q x
dengan
s q b +
dan
qs c
.
Contoh 2.23
Tentukan himpunan penyelesaian dari persamaan kuadrat:
0 15 8
2
+ + x x
Penyelesaian
Perhatikan bahwa 15 = 35 dan 8 =3+5, sehingga persamaan 0 15 8
2
+ + x x dapat difaktorkan
menjadi
0 ) 5 )( 3 ( + + x x
sehingga diperoleh 0 3 + x atau 0 5 + x . Akhirnya diperoleh akar-
akarnya, yaitu: 3
1
x atau 5
2
x .
Himpunan penyelesaian =
{ } 3 , 5
o Bentuk 0 , 0
2
> + + a c bx ax
Bila bentuk 0
2
+ + c bx ax mempunyai akar-akar rasional, maka bentuk ini dapat difaktorkan
menjadi bentuk 0
) )( (

+ +
a
q ax p ax
dengan
q p b +
dan
pq ac
.
Contoh 2.24
Tentukan himpunan penyelesaian dari persamaan kuadrat:
0 4 4 3
2
x x
Penyelesaian
Perhatikan bahwa 3 (4) = 12 = 6 2 dan 4 = 6 + 2, sehingga persamaan 0 4 4 3
2
x x
dapat difaktorkan menjadi 0
3
) 2 3 )( 6 3 (

+ x x
sehingga dengan mengalikan setiap ruasnya
dengan 3 akan diperoleh 0 6 3 x atau 0 2 3 + x . Akhirnya diperoleh akar-akarnya, yaitu:
2
1
x atau
3
2
2
x
.
Himpunan penyelesaian =

'

2 ,
3
2
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
48
2. Kuadrat sempurna
Persamaan kuadrat 0
2
+ + c bx ax dapat diubah ke bentuk q p x +
2
) ( , berdasarkan langkah-
langkah berikut ini:
o Koefisien x
2
dibuat menjadi 1 dengan membagi kedua ruas
persamaan dengan a, sehingga diperoleh:
0
2
+ +
a
c
x
a
b
x
o Selanjutnya persamaan di atas diubah menjadi:
a
c
x
a
b
x +
2
o Ubah persamaan di atas ke bentuk kuadarat sempurna dengan cara:
2
2
2
2 2
2 2
2
2
4
4
2
2 2
2 2 2
2
a
ac b
a
b
x
a
b
a
c
a
b
x
a
b
a
c
a
b
x
a
b
x
a
c
x
a
b
x


,
_

,
_

+
,
_

,
_

+
,
_

+ +
+
kemudian selesaikan persamaan terakhir dengan cara menarik akar dari ruas kanannya dan
seterusnya.
3. Rumus abc
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
49
Rumus abc sebenarnya adalah bentuk akhir dari cara kuadrat sempurna di atas dan merupakan
alternative terakhir jika kita sulit memfaktorkan persamaan kuadrat tersebut. Rumus abc ditulis
sebagai berikut:
a
ac b b
x
2
4
2
2 , 1
t
atau
a
D b
x
2
2 , 1
t

dimana D : nilai diskriminan = b


2
4ac.
2.2.3. Hubungan akar-akar persamaan kuadrat dengan koefisien-koefisien persamaan
kuadrat
Hubungan akar-akar persamaan kuadrat dengan koefisien-koefisien dapat dilehat sebagi berikut:
Jika x
1
dan x
2
adalah akar-akar dari persamaan kuadrat 0
2
+ + c bx ax atau
0
2
+ +
a
c
x
a
b
x
,
maka persamaan tersebut sama dengan persamaan 0 ) ( ) )( (
2 1 2 1
2
2 1
+ + x x x x x x x x x x .
Sehingga diperoleh hubungan
o
a
b
x x +
2 1
o
a
c
x x
2 1
Contoh 2.25
Tentukan nilai x
1
+ x
2
dan x
1
x
2
, jika x
1
dan x
2
adalah akar-akar dari persamaan kuadrat:
0 15 3 5
2
x x
Penyelesaian
o
5
3
2 1
+
a
b
x x
o 3
5
15
2 1

a
c
x x
2.2.4. Menyusun persamaan kuadrat
Persamaan kuadrat dengan akar-akarnya x
1
dan x
2
dapat ditentukan dengan bentuk persamaan:
0 ) (
2 1 2 1
2
+ + x x x x x x
Contoh 2.26
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
50
Jika x
1
= 5 dan x
2
=8

adalah akar-akar dari suatu persamaan kuadrat, maka tentukanlah persamaan
kuadrat tersebut:
Penyelesaian
Perhatikan bahwa:
o 3 8 5
2 1
+ + x x
o 40 ) 8 )( 5 (
2 1
x x
maka persamaan kuadrat yang dimaksud adalah:
0 40 3
0 ) (
2
2 1 2 1
2

+ +
x x
x x x x x x
2.2.5. Persamaan Polinomial Derajat n
Pandang persamaan polynomial derajat n berikut ini:
0 , 0
0 1
1
1
+ + + +

n
n
n
n
n
a a x a x a x a
Jika x
1
, x
2
, , x
n
adalah akar-akar persamaan polynomial derajat n tersebut, maka akan diperoleh
hubungan sebagai berikut:
o
n
n
n
a
a
x x x
1
2 1

+ + +
o
n
n
n n
a
a
x x x x x x
2
1 3 1 2 1

+ + +

o
n
n
n n
a
a
x x x x x
0
1 3 2 1
) 1 (

Contoh 2.27
Tentukan nilai x
1
+x
2
+ x
3
, x
1
x
2
+ x
1
x
3
+ x
2
x
3
dan x
1
x
2
x
3
, jika x
1
, x
2
dan x
3
adalah akar-akar dari suatu
persamaan polynomial derajat 3 berikut:
0 40 5 3 3
2 3
+ x x x
Penyelesaian
Perhatikan bahwa:
o 1
3
3
3 2 1

+ + x x x
o
3
5
3 2 3 1 2 1
+ + x x x x x x
o
3
40
3
40
3 2 1

x x x
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
51
Problem Set
1. Diketahui akar-akar persamaan kuadrat 0 50
2
+ ax x adalah satu lebih kecil dari 3 kali
akar-akar persamaan kuadrat 0
2
+ + b x x . Tentukan persamaan kuadrat yang akar-akarnya
adalah a dan b!
2. Jika jumlah kuadrat akar-akar persamaan kuadrat 0 3
2
+ p x x sama dengan jumlah
pangkat tiga akar-akar persamaan kuadrat 0
2
+ p x x . Tentukan nilai p !
3. Jika akar-akar persamaan kuadrat 0 5 2
2
+ x x adalah a dan b, tentukan
2 2
1 1
b a
+
4. Jika m dan n adalah bilangan bulat sedemikian sehingga 517 30 3
2 2 2 2
+ + n n m m .
Tentukan
2 2
3 n m !
5. Jika akar positif dari persamaan kuadrat 0 1 4
2
x x dikalikan p maka hasil kalinya
sama dengan akar negatif dari persamaan itu. Tentukan nilai p !
6. Jika dan merupakan akar-akar persamaan kuadrat ( ) ( ) 0 2 3 2
2 2
+ p x p x p dan
berlaku hubungan
( ) 2 . + +
, tentukan nilai p !
2.3. SISTEM PERSAMAAN LINEAR
Materi kali ini salah satu materi yang penting untuk dipahami, karena banyak soal matematika
yang harus dimodelkan terlebih dahulu untuk mempermudah mencari solusinya. Di antara
model-model tersebut bisa merupakan suatu sistem persamaan linear atau sistem persamaan non
linear.
Definisi persamaan linear
Persamaan linear adalah suatu kalimat matematika terbuka yang variabel berderajat (berpangkat)
satu.
Bentuk umum persamaan linear
Bentuk umum dari sebuah persamaan linear adalah:
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
52
ax = c (1 variabel)
ax + by = c (2 variabel)
ax + by + cz = d (3 variabel)
dimana a, b, c dan d konstanta.
Contoh 2.28
Contoh persamaan linear 1 , 2 dan 3 variabel adalah:
2x = 6
x + 5y = 10
2x + 6y = 4
x + 2y z = 2
Penyelesaian (solusi) persamaan linear
Penyelesaian (solusi) persamaan linear ialah penentuan nilai dari setiap variabel yang memenuhi
persamaan tersebut dengan memperhatikan domain atau daerah asalnya.
Contoh 2.29
Jika diberikan domain ialah himpunan bilangan bulat, maka
1. 2x = 6 hanya mempunyai satu solusi, yaitu: x = 3.
2. x + 5y = 10 mempunyai banyak solusi, yaitu : (x, y) = (0, 2) atau (10, 0) atau (10
, 4) atau (20, 2) dan lain-lain.
3. 2x + 6y = 4 mempunyai banyak solusi, yaitu : (x, y) = (2, 0) atau (7, 3) atau (
10, 4) atau (8, 2) dan lain-lain.
Definisi sistem persamaan linear (SPL)
Sistem persamaan linear ialah kumpulan dari persamaan-persamaan linear yang saling
berhubungan untuk mencapai tujuan tertentu.
2.3.1. Bentuk umum sistem persamaan linear
SPL dengan 2 variabel dari 2 persamaan, mempunyai bentuk umum sebagai berikut:
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
53

'

+
+
2 2 2
1 1 1
c y b x a
c y b x a
SPL dengan 3 variabel dari 3 persamaan, mempunyai bentuk umum sebagai berikut:

'

+ +
+ +
+ +
3 3 3 3
2 2 2 2
1 1 1 1
d z c y b x a
d z c y b x a
d z c y b x a
Contoh 2.30
o SPL dengan 2 variabel dari 2 persamaan

'

+
+
4 6 2
10 5
y x
y x
o SPL dengan 3 variabel dari 3 persamaan

'

+ +
+
+
11 3 2
7 2 3
2 2
z y x
z y x
z y x
2.3.2. Penyelesaian (solusi) SPL
Penyelesaian SPL dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, yaitu: substitusi, eliminasi,
metode cramer, eliminasi Gauss, eliminasi Gasuss-Jordan dan berbagai macam cara lain dengan
himpunan penyelesaiannya adalah { (x , y) }, dimana (x, y) merupakan pasangan terurut dari
variabel-variabel pada SPL dengan 2 variabel.
Namun metode penyelesaian yang kita pelajari sekarang adalah metode substitusi, eliminasi dan
cramer.
a. Metode eliminasi
Metode eliminasi adalah salah satu metode yang sederhana, yaitu dengan cara
menghilangkan suatu atau beberapa variabel dari semua persamaan yang lain, sehingga
diperoleh nilai dari variabel yang kita inginkan. Setelah itu mensubstitusikan nilai variabel
yang telah kita peroleh tersebut ke dalam persamaan-persamaan lain sehingga diperoleh nilai
variabel-variabel lainnya.
Contoh 2.31
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
54
Diketahui SPL berikut
4 6 2
10 5
+
+
y x
y x
Tentukanlah solusinya !
Penyelesaian
SPL yang diberikan sama dengan SPL berikut ini:
4 6 2
20 10 2
+
+
y x
y x
Dengan mengeliminasi kedua persamaan linear tersebut, akan diperoleh
16 4 y
,
sehingga diperoleh
4 y
. Selanjutnya substitusikan nilai
4 y
ke dalam salah satu
persamaan linear yang ada, sehingga diperoleh:
10
2
20
20 2
4 ) 4 ( 6 2
4 6 2



+
+
x
x
x
y x
Jadi himpunan penyelesaiannya ialah { (x, y)=( 10 , 4) }
b. Metode substitusi
Metode sustitusi adalah salah satu metode lain yang sangat sederhana. Prinsip yang dilakukan
metode ini adalah dari salah satu persamaan linear kita buat nilai eksplisit salah satu
variabelnya terhadap variabel lainnya. Kemudian susbtitusi nilai eksplisit variabel yang
didapat ke dalam persamaan linear yang lainnya, sehingga diperoleh nilai variabel yang
diinginkan.
Contoh 2.32
Diketahui SPL berikut
4 6 2
10 5 3
+
+
y x
y x
Tentukanlah solusinya !
Penyelesaian
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
55
Dari persamaan linear
4 6 2 + y x
kita peroleh nilai eksplisit variabel x, yaitu:
y x 3 2
.
Kemudian substitusi variabel
y x 3 2
ke dalam persamaan linear
10 5 3 + y x
sehingga
diperoleh:
1
4 4
10 5 9 6
10 5 ) 3 2 ( 3
10 5 3


+
+
+
y
y
y y
y y
y x
Selanjutnya substitusi nilai
1 y
ke dalam persamaan
y x 3 2
, sehingga diperoleh
nilai x, yaitu
5 3 2 3 2 + y x
Jadi himpunan penyelesaiannya ialah { (x, y)=(5, 1)}
c. Metode cramer
Pada bagian ini akan diperkenalkan metode lain dalam mengerjakan SPL, yaitu metode
cramer.
Misalkan diberikan sebuah SPL 2 variabel dari 2 persamaan sebagai berikut:

'

+
+
2 2 2
1 1 1
c y b x a
c y b x a
dimana 0
1 2 2 1
b a b a , maka solusi x dan y dari SPL di atas adalah:

1 2 2 1
1 2 2 1
2 2
1 1
2 2
1 1
b a b a
b c b c
b a
b a
b c
b c
x


o
1 2 2 1
1 2 2 1
2 2
1 1
2 2
1 1
b a b a
c a c a
b a
b a
c a
c a
y


Contoh 2.33
Diketahui SPL berikut
2 3 2
4 7 2

+
y x
y x
Tentukanlah solusinya !
Penyelesaian
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
56
o
4
1
8
2
14 6
14 12
) 7 )( 2 ( ) 3 )( 2 (
) 7 )( 2 ( ) 3 )( 4 (
3 2
7 2
3 2
7 4


x
o
2
1
8
4
14 6
8 4
) 7 )( 2 ( ) 3 )( 2 (
) 4 )( 2 ( ) 2 )( 2 (
3 2
7 2
2 2
4 2

y
Jadi himpunan penyelesaiannya adalah:

'

,
_


2
1
,
4
1
) , ( y x
2.4. Sistem Persamaan Non Linear (SPNL)
Definisi persamaan non linear
Persamaan non linear adalah suatu kalimat matematika terbuka yang variabel berderajat tidak
sama dengan satu atau mengandung nilai fungsi non linear, seperti log, sin dan lain sebagainya.
Contoh 2.34
Contoh persamaan non linear 1 , 2 dan 3 variabel adalah:
2x
2
= 6
x
2
+ 5y = 10
2xy + 6y = 4 log (x)
x + 2y
1/2
z = 2x
2
Definisi sistem persamaan non linear (SPNL)
Suatu sistem persamaan non linear adalah kumpulan dari beberapa persamaan non linear
yang saling berhubungan untuk mencapai tujuan tertentu.
Contoh 2.35
o SPNL dengan 2 variabel dari 2 persamaan
a.

'

+
+
4 6 2
10 5
xy x
y xy
b.

'

+
4
4 3
1
5 2
y x
y x
o SPNL dengan 3 variabel dari 3 persamaan
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
57
a.

'

+ +
+
+
11 3 2
7 2 3
2 2 ) 2 (
2
z y x
z y x
z y x x
b.

'

+
+ +
+
1 3
9 4 3
2 2 5
3
yz y x
y z y x
xy z y x
2.4.1. Penyelesaian (solusi) SPNL
Di dalam mencari solusi SPNL tidak ada metode yang baku, namun kita bisa mencoba dengan
pemisalan variabel, substitusi atau eliminasi.
Contoh 2.36
Tentukan solusi dari sistem berikut ini:

'

+
4
4 3
1
5 2
y x
y x
Penyelesaian
Dengan pemisalan suatu variabel baru
x
a
1

dan
y
b
1

akan diperoleh sistem persamaan linear


derajat dua, yaitu:

'

+
+
4 4 3
1 5 2
b a
b a
yang jika kita mencari solusinya akan diperoleh
23
16
a
dan
23
11
b
, sehingga
16
23 1

a
x
dan
11
23 1

b
y
.
Jadi himpunan penyelesaiannya adalah :

'

,
_


11
23
,
16
23
) , ( y x
Problem Set
1. Tentukanlah solusi dari SPL berikut
3
1
9
1
dan
3
2
3
2

+
+

+
y
x
y
x
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
58
2. Tentukanlah solusi dari SPL berikut
11 3 2
7 2 3
2 2
+ +
+
+
z y x
z y x
z y x
3. Seorang nenek mempunyai beberapa orang cucu yang cantik dan beberapa balon.lalu balon
itu dibagikan kepada cucu-cucunya. Jika setiap cucu mendapat masing-masing tujuh balon
maka balon akan tersisa empat. Tetapi jika masing-masing cucu mendapat 8 balon maka
balon nenek tidak tersisa. Berapakah banyaknya balon dan banyaknya cucu nenek tersebut ?
4. Bila jumlah dua bilangan adalah 67 dan selisihnya adalah 45, maka carilah kedua bilangan
tersebut !
5. Sebuah bilangan terdiri dari dua angka yang besarnya tujuh kali jumlah angka-angkanya. Bila
kedua angka dipertukarkan, diperoleh bilangan baru yang nilainya 18 lebih dari jumlah
angka-angkanya. Bilangan manakah itu ?
6. Terdapat sebuah bilangan dua angka, yang jika susunannya dibalik maka selisih dari bilangan
semula dan bilangan baru ialah 18. Berapakah bilangan dua angka terbesar yang memenuhi
kondisi tersebut ?
7. Tiga ekor ikan bertelur. Dari semua telurnya yang meneter 1400 ekor. Ikan A bertelur
sebanyak dua kali jumlah telur ikan B, dan ikan B bertelur sebanyak dua kali jumlah telur
ikan C. Berapa prosen (%) jumlah telur ikan A dan ikan B yang menetas dari jumlah seluruh
telur yang menetas ?
8. Jumlah dari tiga bilangan ialah 26. Jika jumlah dari tiga kali bilangan kedua dan empat kali
bilangan ketiga ialah 45. sedangkan jumlah dari bilangan kedua dan tiga kali bilangan ketiga
ditambah empat kali bilangan pertama ialah 77, maka berapakah bilangan ketiganya?
9. Suatu kelompok terdiri dari empat anak. Berat rata-rata anak pertama dan kedua ialah 55
kg. Rata-rata berat anak kedua dan ketiga ialah 70. Rata-rata berat anak ketiga dan keempat
ialah 75. Berapakah rata-rata berat anak pertama dan keempat ?
10. Bila
64
1
4 2 dan 81 27 3
b a b a
, maka hitunglah nilai a dan b.
2.5. POLA BILANGAN
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
59
Salah satu hal penting di dalam matematika adalah mempelajari pola. Jika diketahui beberapa
bilangan, maka kita ingin mengetahui kelanjutan dari bilangan tersebut. Langkah pertama adalah
menyelidiki tentang perilaku bilangan tersebut dan kemudian kita mencoba melanjutkan pola
bilangan tersebut. Penyelidikan ini dilakukan dengan menggunakan operasi bilangan yang ada,
yaitu penjumlahan dan perkalian.
2.5.1. Barisan (pola) bilangan
Pola
Dengan bantuan pola kita dapat menentukan nilai bilangan tertentu.
Contoh 2.37
Tentukan angka satuan dari 7
2004
Penyelesaian
Untuk menentukan angka satuan ini, tentu kita tidak perlu untuk menghitung nilai sebenarnya.
Pertama, kita hitung 7
n
dengan n cukup kecil, yaitu
7
1
= 7
7
2
= 49 angka satuan 9
7
3
= 3 angka satuan 3
7
4
= 1 angka satuan 1
Jika kita lakukan terus, maka
Suku ke 1 2 3 4 5 6 7
Angka satuan 7 9 3 1 7 9 3
Berdasarkan hasil perhitungan ini kita menduga bahwa angka satuan tersebut adalah 7, 9, 3, 1
dan terus berulang. Perhatikan bahwa 7
4
, 7
8
, 7
12
, atau 7
4k
dengan k bilangan asli selalu berakhir
dengan 1. Khususnya, karena 2004 = 4 501 maka angka satuan 7
2004
adalah 1.
Angka satuan dari 7
n
dapat ditentukan serupa. Misalkan 7
2005
, karena 7
2004
mempunyai angka
satuan 1, maka angka satuan 7
2005
adalah 7.
Secara umum, jika diketahui data bilangan berikut
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
60
3, 7, 11, 15,
pola yang ada tidak tampak langsung. Kita akan mencoba menyelidiki pola bilangan ini dengan
berbagai cara. Sebagai perjanjian, tuliskan u
n
sebagai bilangan ke n. Dengan demikian
u
1
= 3
u
2
= 7
u
3
= 11
M
dan seterusnya.
Langkah pertama untuk menyelidiki hal ini adalah membandingkan dua bilangan tersebut. Ada
dua cara membandingkan, yaitu dengan menggunakan operasi penjumlahan atau perkalian.
Mulai dengan data bilangan
Suku ke 1 2 3 4 5 6 7
Besar suku 3 7 11 15 19
Kita cari hasil bagi antara dua suku berurutan, yaitu
Suku ke 1 2 3 4 5 6 7
Besar suku 3 7 11 15 19
Hasil bagi
3
7
7
11
11
15
15
19
?
Hasil bagi tersebut adalah nilai dari
4
5
3
4
2
3
1
2
, , ,
u
u
u
u
u
u
u
u
. Dalam hal ini kita tidak memperoleh suatu
pola yang mudah dikenali.
Langkah kedua adalah mencari selisih (lawan operasi penjumlahan), yaitu
Suku ke 1 2 3 4 5 6 7
Besar suku 3 7 11 15 19
Selisih 4 4 4 4 ?
Selisih yang dihitung adalah u
2
u
1
, u
3
u
2
, u
4
u
3
, u
5
u
4
, . Dalam hal ini kita memperoleh
suatu pola yang mudah dikenali yaitu selalu bernilai 4. Dengan demikian, kita mencoba
menyimpulkan bahwa pola yang terjadi adalah selisih tersebut selalu sama dengan 4.
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
61
Suku ke 1 2 3 4 5 6 7
Besar suku 3 7 11 15 19
Selisih 4 4 4 4 4 4
Persoalannya sekarang adalah menentukan besarnya suku berikutnya. Untuk suku ke 6 dengan
mudah diisi, karena u
6
u
5
= 4
maka u
6
= 4 + u
5
= 4 + 19 = 23. Demikian pula suku ke 7, 8, mudah dicari.
Suku ke 1 2 3 4 5 6 7
Besar suku 3 7 11 15 19 23 27
Selisih 4 4 4 4 4 4
Jika ditanya tentang nilai suku besar, misalkan ke 100, kita dapat melakukan hal di atas sampai
seratus kali. Tetapi kita ingin melakukan ini dengan lebih cerdik. Kita tahu bahwa
u
2
u
1
= 4
u
3
u
2
= 4
u
4
u
3
= 4
Jika kita jumlahkan, maka ruas kiri menjadi
(u
2
u
1
) + (u
3
u
2
) + (u
4
u
3
) = 4 + 4 + 4
u
4
u
1
= 3 4
Perhatikan bahwa di ruas kiri beberapa suku saling menghapuskan.
(u
2
u
1
) + (u
3
u
2
) + (u
4
u
3
) = 4 + 4 + 4 = 3 4
Dengan cara ini kita dapat menentukan suku ke 100, 1000 atau sebarang nomor suku lainnya.
Bagi pembaca yang sudah mengenal tentang barisan hasil yang dijumpai di sini tidak
mengejutkan. Tetapi teknik yang dipakai memberikan cara untuk mencari suku ke n barisan yang
lain.
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
62
Contoh 2.38
Diketahui barisan bilangan 5, 2, 1, 4, 7,
a. Tentukan suku ke 100.
b. Tentukan suku ke n.
Penyelesaian
Pertama, kita selidiki perbedaan atau selisih antara dua suku berturutan. Dalam hal ini
Suku ke 1 2 3 4 5 6 7
Besar suku 5 2 1 4 7
Selisih 3 3 3 3 ?
a. Berdasarkan perhitungan di awal ini kita menduga bahwa pola barisan adalah selisih yang
tetap, yaitu sebesar 3. Untuk mencari suku ke 100, kita lakukan perhitungan berikut
u
2
u
1
= 3
u
3
u
2
= 3
M
u
100
u
99
= 3
Jumlah 99 persamaan tersebut menghasilkan
u
100
u
1
= 99 3
Jadi u
100
= u
1
+ 99 3 atau u
100
= 5 + 99 3.
b. Untuk mencari suku ke n, kita lakukan serupa. Yaitu
u
2
u
1
= 3
u
3
u
2
= 3
M
u
n
u
n 1
= 3
Kita jumlahkan (n1) persamaan tersebut, menghasilkan
u
n
u
1
= (n 1)3
Jadi
u
n
= u
1
+ (n 1)3
= 5 + (n 1)3
= 3n 8
Pola yang memiliki beda/selisih yang tetap ini biasa dinamakan barisan aritmatika.
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
63
a. Barisan Aritmatika
Barisan aritmatika adalah sebuah barisan bilangan yang mempunyai ciri yang khusus yaitu
selisih dari setiap sepasang barisan yang berurutan mempunyai nilai yang tetap. Secara
simbol matematika adalah sebagai berikut:
Jika n
u u u , , ,
2 1

adalah sebuah barisan bilangan yang mempunyai sifat
b u u u u u u
n n

1 2 3 1 2

, maka rumus suku ke-n dapat ditentukan sebagai berikut:
b n u u
n
) 1 (
1
+
Selain dengan pola selisih (operasi penjumlahan), seringkali membandingkan dua bilangan
dengan operasi pembagian menjadi lebih mudah. Sebagai contoh, misalkan pada masalah
menyimpan uang di bank. Misalkan pada awal tahun pertama kita menyimpan uang sebesar 1000
rupiah dan mendapat bunga sebesar 10% per tahun. Pada akhir tahun pertama, kita mendapat
bunga sebesar
100 1000
100
10

Jika uang tersebut tetap disimpan di bank, maka jumlah uang pada akhir tahun pertama atau pada
awal tahun kedua adalah sebesar
1000 + 100 = 1100
Dengan cara yang sama, kita dapat mencari besar bunga pada tahun kedua, yaitu sebesar
110 1100
100
10

Sedangkan jumlah uang pada akhir tahun kedua atau awal tahun ketiga sebesar
1100 + 110 = 1210
Demikian seterusnya, akan diperoleh bilangan
1000; 1100; 1210; 1331; 1464;
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
64
Perhatikan bahwa hasil bagi dua bilangan berturutan selalu tetap.
Suku ke 1 2 3 4 5 6 7
Besar suku 1000 1100 1210 1331 1464
Hasil bagi 1,1 1,1 1,1 1,1 ?
Pola yang memiliki rasio/perbandingan yang tetap ini biasa dinamakan barisan geometri.
b. Barisan Geometri
Barisan geometri adalah sebuah barisan bilangan yang mempunyai ciri yang khusus yaitu
perbandingan dari setiap sepasang barisan yang berurutan mempunyai nilai yang tetap.
Secara simbol matematika adalah sebagai berikut:
Jika n
u u u , , ,
2 1

adalah sebuah barisan bilangan yang mempunyai sifat
r
u
u
u
u
u
u
n
n

1 2
3
1
2

, maka rumus suku ke-n dapat ditentukan sebagai berikut:


1
1


n
n
r u u
c. Pola Bilangan Order 2 dan Lebih
Perhatikan barisan bilangan 1, 0, 3, 8, 15, 24,
Suku ke 1 2 3 4 5 6 7
Besar suku 1 0 3 8 15 24
Selisih 1 3 5 7 9
Selisih kedua 2 2 2 2 ? ? ?
Selisih antara dua bilangan memberikan barisan bilangan 1, 3, 5, 7, 9, . Barisan ini tidak
memperlihatkan aturan yang mudah dikenali. Tetapi selisih antara dua bilangan berturutan
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
65
adalah 2, 2, 2, 2, . Berdasarkan hasil ini kita menduga bahwa barisan yang terakhir ini akan
terus sama dengan dua.
Kita dapat menggunakan teknik yang terdahulu. Sekarang kita akan mempelajari teknik lain.
Jika barisan semula ditulis sebagai
u
1
= 1, u
2
= 0, u
3
= 3, u
4
= 8, u
5
= 15, u
6
= 24
Tuliskan barisan baru sebagai v
1
, v
2
, v
3
, , maka
u
2
u
1
= v
1
= 1
u
3
u
2
= v
2
= 3
u
4
u
3
= v
3
= 5
u
5
u
4
= v
4
= 7
u
6
u
5
= v
5
= 9
M
u
n
u
n 1
= v
n 1
Selisih dua suku dari barisan v
1
, v
2
, v
3
, adalah
v
2
v
1
= 2
v
3
v
2
= 2
v
4
v
3
= 2
M
Khususnya, jika kita mencari besar dari v
n 1
, maka kita jumlahkan n 2 kesamaan berikut ini
v
2
v
1
= 2
v
3
v
2
= 2
v
4
v
3
= 2
M
v
n 1
v
n 2
= 2
Jumlah ruas kiri adalah
(v
2
v
1
) + (v
3
v
2
) + (v
4
v
3
) + + (v
n 1
v
n 2
) = (n 2) 2
v
n 1
v
1
= (n 2) 2
dengan (n 2) 2 diperoleh dari ruas kanan, yaitu 2 + 2 + + 2 sebanyak (n 2). Jadi
v
n1
= v
1
+ (n 2)2
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
66
= 1 + 2n 4 = 2n 3
Sekarang kita akan mencari besar nilai u
n
. Kita melakukan hal yang serupa dengan mencari
nilai v
n
, yaitu
u
2
u
1
= 1 = v
1
u
3
u
2
= 3 = v
2
u
4
u
3
= 5 = v
3
u
5
u
4
= 7 = v
4
u
6
u
5
= 9 = v
5
M
u
n
u
n1
= 2n 3 = v
n1
Jumlah ruas kiri adalah
(u
2
u
1
) + (u
3
u
2
) + (u
4
u
3
) + + (u
n
u
n 1
) = 1 + 3 + 5 + 7 + + (2n 3)
u
n
u
1
= 1 + 3 + 5 + 7 + + (2n 3)
Jumlah dari
2
) 1 (
) 2 2 )( 1 (
2
1
) 3 2 ( 7 5 3 1

+ + + + +
n
n n n
Dengan demikian
u
n
u
1
= (n 1)
2
atau
u
n
= u
1
+ (n 1)
2
= 1 + (n 1)
2
= 1 + n
2
2n + 1
= n
2
2n
Khususnya jika nilai n diganti dengan 1, 2, 3, 4, 10 diperoleh
u
1
= 1, u
2
= 0, u
3
= 3, u
4
= 8, dan u
10
= 100 20 = 80
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
67
Teknik Lain
Kita sudah mempelajari pola bilangan 1, 0, 3, 8, 15, 24,
Suku ke 1 2 3 4 5 6 7
Besar suku 1 0 3 8 15 24
Selisih 1 3 5 7 9
Selisih kedua 2 2 2 2 ? ? ?
Besar suku ke n adalah u
n
= n
2
2n. Dalam bagian ini kita akan mempelajari hasil ini dengan
cara lain.
Perhatikan pola bilangan yang dibentuk dari rumus u
n
= an
2
+ bn + c. Kita cari nilai
u
n
u
n 1
= an
2
+ bn + c [ a (n 1)
2
+ b (n 1) + c ]
= an
2
+ bn + c an
2
+ 2an a bn + b c
= 2an a + b
Ini adalah hasil selisih pertama dari pola bilangan. Selanjutnya, jika u
n
u
n 1
= v
n
, maka
v
n
v
n 1
= 2an a + b [ 2a (n 1) a + b ]
= 2a
yaitu selisih kedua dari pola bilangan. Berdasarkan hasil ini, jika kita mengetahui bahwa suatu
pola bilangan mempunyai selisih kedua yang konstan, maka rumus dari pola bilangan tersebut
adalah u
n
= an
2
+ bn + c. Masalahnya bagaimana menentukan nilai a, b, c.
Untuk itu perhatikan gambar berikut
Suku ke 1 2 3 4
Besar suku a+b+c 4a+2b+c 9a+3b+c 16a+4b+c
Selisih 3a+b 5a+b 7a+b
Selisih kedua 2a 2a
Berdasarkan hal ini, maka nilai a, b, c dari pola bilangan di atas dapat dicari, yaitu
2a = 2, 3a + b = 1 dan a + b + c = 1
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
68
Sistem persamaan ini memberikan hasil sebagai berikut
a = 1, b = 2 dan c = 0
d. Rumus Rekursif
Jika diketahui pola bilangan, dengan teknik yang telah ada mungkin kita telah dapat
menentukan besar setiap suku. Pada saat ini kita akan menentukan besar setiap suku jika
diketahui hubungan antara besar dua suku. Misalkan u
n
= 3u
n 1
+ 2n. Rumus seperti ini
disebut rumus rekursif. Jika u
1
= 1, maka suku berikutnya dapat ditentukan berdasarkan
rumus rekursif tersebut, yaitu
n = 2 u
2
= 3u
1
+ 4 = 7
n = 3 u
3
= 3u
2
+ 6 = 27
n = 4 u
4
= 3u
3
+ 8 = 89
M M
Masalahnya, dapatkah kita menentukan besar suku u
n
dinyatakan dalam u
n
. Kita mulai hal ini
dengan bentuk yang sederhana.
Misalkan diketahui u
n
= 3u
n 1
. Hubungan ini mengatakan bahwa besar suku u
n
adalah 3 kali
dari suku sebelumnya. Oleh karena itu ini mengingatkan kita akan bentuk perkalian. Tuliskan
hubungan ini untuk beberapa suku, diperoleh
u
2
= 3u
1
u
3
= 3u
2
u
4
= 3u
3
M
u
n
= 3u
n 1
Kalikan semua suku di ruas kiri dan kanan, masing-masing memberikan
u
2
u
3
u
4


u
n 1
u
n
= (3u
1
) (3u
2
) (3u
3
) (3u
n 2
) (3u
n 1
)
Dengan membagi u
2
u
3
u
4


u
n 1
u
n
pada kedua ruas, maka
u
n
= 3 3 3 3u
1
n 1 suku
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
69
= 3
n 1
u
1
Nilai u
n
bergantung pada nilai u
1
.
Teknik ini kita kembangkan untuk rumus rekursif u
n
= 3u
n 1
+ 2n. Berdasarkan hasil di atas,
maka kita menduga bahwa bentuk u
n
adalah
u
n
= A3
n 1
+ an + b
dengan A, a dan b akan ditentukan nilainya. Selanjutnya, nilai
u
n 1
= A3
n 2
+ a(n 1) + b
= A3
n 2
+ an + b a
yaitu dengan mengganti setiap n dengan n 1. Gantikan ini ke persamaan yang diketahui,
maka
A3
n 1
+ an + b = 3[A3
n 2
+ an + b a] + 2n
A3
n 1
+ an + b = A3
n 1
+ 3an + 3b 3a + 2n
Sederhanakan persamaan ini untuk memperoleh
2an 3a + 2b + 2n = 0
(2a + 2)n + 2b 3a = 0
Persamaan ini berlaku bagi setiap n, khususnya untuk n = 1 diperoleh
2a + 2 + 2b 3a = 0
a + 2b = 2
dan untuk n = 2 diperoleh
4a + 4 + 2b 3a = 0
a + 2b = 4
Jumlah keduanya adalah
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
70
4b = 6 atau b =
2
3


dan berdasarkan
a + 2b = 4
a 3 = 4
Jadi a = 1, dan suku ke n adalah
2
3
3
1


n A u
n
n
Untuk menentukan nilai A, kita gunakan syarat bahwa u
1
diketahui, maka
2
3
1
1
A u
atau
2
5
1
+ u A
Dengan demikian nilai
2
3
3
2
5
1
1

,
_

+

n u u
n
n
Khususnya, jika u
1
= 1, dan gantikan nilai n dengan 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10 diperoleh
1, 7, 27, 89, 277, 843, 2543, 7645, 22953, 68879
e. Perumusan Pola
Pada bagian ini kita akan memperlihatkan cara menduga suatu pola bilangan. Hasil dugaan
ini selalu dapat dikaji dengan teknik yang sudah kita pelajari. Mulai dengan yang sederhana.
Misalkan diketahui pola bilangan 2, 4, 6, 8, 10, 12,
N 1 2 3 4 5 6
u
n
2 4 6 8 10 12
Dengan menuliskan bentuk terakhir menjadi
n 1 2 3 4 5 6
u
n
2 . 1 2 . 2 2 . 3 2 . 4 2 . 5 2 . 6
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
71
Mudah diduga bahwa suku ke n adalah
u
n
= 2n
Serupa dengan di atas, adalah pola bilangan ganjil 1, 3, 5, 7, 9, 11,
N 1 2 3 4 5 6
u
n
1 3 5 7 9 11
Dengan menuliskan bentuk terakhir sebagai
n 1 2 3 4 5 6
u
n
2 . 1 1 2 . 2 1 2 . 3 1 2 . 4 1 2 . 5 1 2 . 6 1
Berdasarkan hasil ini kita mudah menduga bahwa
u
n
= 2n 1
Sekarang kita akan meduga bentuk-bentuk yang lebih kompleks, yaitu pola bilangan yang
diperoleh dari penjumlahan bilangan. Sebagai contoh
1 = 1
1 + 3 = 4
1 + 3 + 5 = 9
1 + 3 + 5 + 7 = 16
M
1 + 3 + 5 + 7 + + (2n 1) = ?
Untuk lebih melihat pola yang terjadi, tulis
u
n
= 1 + 3 + 5 + + (2n 1)
Dan kemudian buatlah tabel berikut
N 1 2 3 4 5 6
u
n
1 4 9 16 25 36
1
2
2
2
3
2
4
2
5
2
6
2
Mudah dilihat bahwa suku ke n mempunyai bentuk u
n
= n
2
. Dengan demikian u
n
= n
2
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
72
Seringkali penjumlahan seperti di atas tidak mudah dilihat. Sebagai contoh
1 = 1
1 + 2 = 3
1 + 2 + 3 = 6
1 + 2 + 3 + 4 = 10
1 + 2 + 3 + 4 + 5 = 15
M
1 + 2 + 3 + + n = ?
Tetapi jika kita melakukan pembandingan dengan yang lain, misalkan terhadap n. Tulis u
n
=
1 + 2 + 3 + + n maka
n 1 2 3 4 5 6
u
n
1 3 6 10 15 21
n
u
n
1
2
3
2
2
5
3
2
7

Tuliskan bentuk terakhir dengan penyebut yang sama, diperoleh


n 1 2 3 4 5 6
n
u
n
2
2
2
3
2
4
2
5
2
6
2
7

Berdasarkan bentuk ini mudah diduga bahwa


2
1 +

n
n
u
n
atau kita menggunakan teknik yang lalu untuk memutuskan hal ini. Dengan demikian
) 1 (
2
1
2
1
+
+
n n n
n
u
n
Sekarang kita mencoba menghitung
S
n
= 1
2
+ 2
2
+ 3
2
+ +n
2
Untuk itu kita membandingkan hasil ini dengan
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
73
u
n
= 1 + 2 + 3 + + n
Yaitu
n 1 2 3 4 5 6
S
n
1 5 14 30 55 91
u
n
1 3 6 10 15 21
n
n
u
S
1
3
5
3
7
3
3
11
3
13

Bentuk terakhir menyarankan untuk menuliskan bentuk dengan penyebut yang sama, yaitu
n 1 2 3 4 5 6
n
n
u
S
3
3
3
5
3
7
3
9
3
11
3
13

n 1 2 3 4 5 6
n
n
u
S
3
3
3
5
3
7
3
9
3
11
3
13

n
n
u
S
3
1 1 2 +
3
1 2 2 +
3
1 3 2 +
3
1 4 2 +
3
1 5 2 +
3
1 6 2 +

Berdasarkan hasil ini, maka


3
1 2 +

n
u
S
n
n
Oleh karena itu
) 1 2 )( 1 (
6
1
) 1 2 )( 1 (
2
1
3
1
) 1 2 (
3
1
+ +
+ +
+
n n n
n n n
n u S
n n
f. Pola Telekosping
Pada bagian ini kita akan mempelajari pola dengan bentuk berganti tanda. Misalkan kita ingin
menghitung bentuk
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
74
u
n
= 1 3 + 5 7 + 9 11 +
sampai n suku. Dalam kasus ini kita dapat menyederhanakan bentuk tersebut menjadi

'

+ + + + + + +
+ + + +

+ + + +
+
ganjil 1 2 jika ) 1 2 ( ) 2 ( ) 2 ( ) 2 ( ) 2 (
genap 2 jika ) 2 ( ) 2 ( ) 2 ( ) 2 (
) 1 2 ( ) 1 ( 11 9 7 5 3 1
1
k n n
k n
n u
suku k
suku k
n
n



Dengan demikian untuk n = 2k bilangan genap, maka


n
n
k u
n


) 2 (
2
) 2 (
Jika n = 2k + 1 ganjil, maka
n n n
n
n
n k u
n
+
+

+
) 1 2 ( ) 1 (
) 1 2 ( ) 2 (
2
1
) 1 2 ( ) 2 (
Berdasarkan rumus ini kita memperoleh
n 1 2 3 4 5 6
u
n
1 2 3 4 5 6
Contoh lain, misalkan diberikan
) 1 (
1
4 3
1
3 2
1
2 1
1
+
+ +

+
n n

Perhatikan bahwa kita dapat menuliskan


Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
75
1
1 1
) 1 (
1
4
1
3
1
4 3
1
3
1
2
1
3 2
1
2
1
1
1
2 1
1
+

+

n n n n

Jumlah dari ruas kiri adalah


) 1 (
1
4 3
1
3 2
1
2 1
1
+
+ +

+
n n

dan jumlah dari ruas kanan


1 1
1
1
1
1
1 1
4
1
3
1
3
1
2
1
2
1
1
1
+

,
_

+

,
_

+
+ +
,
_

+
,
_

+
,
_

n
n
n n n

2.5.2. Deret Berhingga Bilangan


Deret berhingga bilangan yang saat ini dipelajari adalah deret aritmatika dan deret geometri.
Kedua deret tersebut merupakan penjumlahan dari barisan aritmatika dan geometri yang
diberikan.
a. Deret Aritmatika
Teknik Gauss
Jika diketahui bilangan 1, 2, 3, 4, , maka seringkali kita harus menghitung jumlah bilangan
1 + 2 + 3 +
sampai dengan bilangan tertentu. Kita dapat menghitung ini dengan cara menjumlahkan satu
persatu. Tetapi kita akan menghitung dengan cara yang lebih cerdik. Misalkan kita akan
menghitung
J = 1 + 2 + 3 + + 100
Cara yang biasa dilakukan adalah menuliskan kembali bilangan-bilangan tersebut dengan urutan
yang terbalik.
J = 1 + 2 + 3 + + 99 + 100
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
76
J = 100 + 99 + 98 + + 2 + 1

2J = 101 + 101 + 101 + + 101 + 101
Perhatikan bahwa ruas kanan ada bilangan 101 sebanyak 100. Oleh karena itu
2J = 100 101
J = 50 101
Khususnya, jika
) 1 (
2
1
3 2 1 + + + + + n n n
Cara di atas dapat dipergunakan untuk menghitung jumlah bilangan dengan pola selisih
pertamanya selalu tetap. Perhatikan pola bilangan 5, 2, 1, 4, 7,
Suku ke 1 2 3 4 5 6 7
Besar suku 5 2 1 4 7
Selisih 3 3 3 3 ?
yaitu barisan dimana selisih dua bilangan berturutan selalu tetap. Kita ingin menghitung
(5) + (2) + 1 + 4 + 7 +
sampai dengan bilangan tertentu. Jumlah n bilangan dari pola di atas adalah
J
n
= (5) + (2) + 1 + 4 + 7 + + (3n 8)
Seperti di atas, kita melakukan pembalikan urutan, maka
J
n
= (5) + (2) + 1 + + (3n 11) + (3n 8)
J
n
= (3n 8) + (3n 11) + (3n 14) + + (2) + (5)

2J
n
= (3n 13) + (3n 13) + (3n 13) + + (3n 13) + (3n 13)
Perhatikan bahwa ruas kanan terdapat penjumlahan (3n 13) sebanyak n. Jadi
2J
n
= n (3n 13)
atau
) 13 3 (
2
1
n n J
n
.
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
77
Secara sederhana, untuk mencari deret aritmatika n n
u u u S + + +
2 1 , kita dapat menggunakan
rumus:
( ) b n u
n
S
n
) 1 ( 2
2
1
+
b. Deret Geometri
Penjumlahan Bilangan Dengan Pola Perkalian
Teknik serupa juga dapat dikembangkan untuk bilangan dengan pola perkalian. Misalkan
diketahui bilangan
2, 4, 8, 16, 32,
yaitu bilangan berikutnya diperoleh dengan mengalikan 2 bilangan di depannya. Untuk
mudahnya, kita dapat menuliskan bilangan tersebut dalam bentuk
2, 2
2
, 2
3
, 2
4
, 2
5
,
Kemudian, suku ke n dari pola bilangan ini adalah 2
n
, dan kita ingin mencari
J = 2 + 2
2
+ 2
3
+ + 2
n
2J = 2
2
+ 2
3
+ + 2
n
+ 2
n +1
Selisih antara dua penjumlahan ini memberikan
2J J = 2
n +1
2
J = 2
n +1
2
Secara sederhana pula, untuk mencari deret geometri n n
u u u S + + +
2 1 , kita dapat
menggunakan rumus:
r
r a
S
n
n

1
) 1 (
Problem Set
1. Carilah angka satuan dari bilangan
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
78
(a) 5
2004
(b) 9
2004
2. Selidiki pola barisan bilangan berikut. Carilah suku ke 100.
(a) 3, 7, 11, 15, 19,
(b) 9, 6, 3, 0, 3,
3. Dengan berbagai teknik yang ada, carilah suku ke 10, 100, dan ke n dari pola bilangan
berikut
(a) 1, 2, 9, 20, 35,
(b) 7, 14, 23, 34, 47,
(c) 3, 15, 35, 63, 99, 143, 195,
(d) 1, 4, 21, 56, 115,
(e) 4, 15, 38, 79, 144,
4. Dengan berbagai teknik yang ada, carilah suku ke 10, 100, dan ke n dari pola bilangan
berikut. Tuliskan suku ke n ini dalam bentuk yang sederhana.
(a) 1, 1+2, 1+2+3, 1+2+3, 1+2+3+4,
(b) 1
2
, 1
2
+2
2
, 1
2
+2
2
+3
2
, 1
2
+2
2
+3
2
+4
2
,
(c) 1
3
, 1
3
+2
3
, 1
3
+2
3
+3
3
, 1
3
+2
3
+3
3
+4
3
,
(d) 12, 12+23, 12+23+34, 12+23+34+45,
5. Tentukan u
n
jika
(a) u
n
= 3u
n 1
(b) u
n
= 3u
n 1
+ 3n
(c) u
n
= 3u
n 1
+ n
2
(d) u
n
= 2u
n 1
(e) u
n
= 2u
n 1
3n
6. Diketahui u
n
= u
n 1
+ 6u
n 2
(a) Tuliskan bahwa persamaan rekursif tersebut dapat ditulis sebagai u
n
+ 2u
n 1
= 3 (u
n 1
+
2u
n 2
)
(b) Tulis u
n
+ 2u
n 1
= v
n
, maka persamaan di (a) dapat ditulis sebagai v
n
= 3v
n 1
(c) Selesaikan ini (carilah v
n
) dan selesaikan pula persamaan semula (cari u
n
).
7. Selesaikan persamaan nomor (7) dengan memisalkan Penyelesaianan persamaan
mempunyai bentuk u
n
= p
n
.
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
79
8. Diketahui u
n
= 2u
n 1
+ 15u
n 2
. Carilah u
n
.
9. Diketahui u
n
= 6u
n 1
+ 9u
n 2
. Carilah u
n
.
10. Tiga bilangan dari suatu pola adalah 5, 15, 25, habis dibagi 5. Apakah tiga bilangan
berikutnya dari pola juga habis dibagi 5.
11. Tiga bilangan dari suatu pola adalah 3, 13, 23, merupakan bilangan prima. Apakah
tiga bilangan berikutnya dari pola juga merupakan bilangan prima.
12. Tentukan suku ke n dari pola bilangan :
(a) 1, 3, 5, 7, 9, 11,
(b) 1 . 2, 2 . 3, 3 . 4, 4 . 5,
(c) 1, 3, 6, 10, .
13. Hitunglah sampai n suku
(a) 1
2
2
2
+ 3
2
4
2
+ 5
2
6
2
+
(b) 1
3
2
3
+ 3
3
4
3
+
(c)
+

+
5 3
1
4 2
1
3 1
1
(d)
+
+ + +
+
+ +
+
+ 4 3 2 1
1
3 2 1
1
2 1
1
(e) 1 + 3 + 6 + 10 +
(f) 1 3 + 5 7 + 9 11 +
(g)
+ + + +
63
1
35
1
15
1
3
1
14. Sederhanakan penjumlahan berikut
(a) 1 . 2 + 2 . 3 + 3 . 4 + + n (n + 1)
(b) 1
3
+ 2
3
+ 3
3
+ 4
3
+ + n
3
2.6. PERTIDAKSAMAAN
Pertidaksamaan adalah sesuatu yang sering ditemukan dalam masalah-masalah matematika.
Konsep dasar dari pertidaksamaan adalah membandingkan nilai antar bilangan yang ada (sifat
keterurutan antar bilangan) dan aturan-aturan apa saja yang dapat dijalankan untuk mencari
solusi dari masalah pertidaksamaan yang dihadapi.
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
80
Definisi
Misalkan a, b R, maka:
a. 0 > b a jika b a > atau a b <
b. 0 > b a jika b a atau a b
a. Sifat-sifat dasar pertidaksamaan
Beberapa sifat yang penting dari pertidaksamaan antar lain adalah:
Misalkan a, b, c, d R, maka:
a. Jika b a > maka c b c a + > +
b. Jika b a > dan d c > maka d b c a + > +
c. Jika b a > dan 0 > c maka bc ac >
Jika b a > dan 0 < c maka bc ac <
d. Jika 0 > a maka 0 / 1 > a
Jika 0 < a maka 0 / 1 < a
e. Jika b a > dan c b > maka
c a >
f. Jika b a dan a b maka b a
g. Untuk setiap a R berlaku 0
2
a
h. Jika 0 > ab maka:
o 0 > a dan 0 > b atau
o 0 < a dan 0 < b
i. Jika 0 < ab maka:
o 0 < a dan 0 > b atau
o 0 > a dan 0 < b
b. Menyelesaikan masalah pertidaksamaan
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
81
Untuk menyelesaikan masalah pertidaksamaan, kita gunakan sifat-sifat pertidaksamaan
sebelumnya sehingga diperoleh hasil yang benar-benar diinginkan.
Pertidaksamaan AM GM HM
Definisi Rataan Aritmatika (AM), Rataan Geometri (GM) dan Rataan Harmonis (HM)
Misalkan n bilangan asli dan n
a a a , , ,
2 1

bilangan-bilangan real positif, maka
a. Rataan Aritmatika (AM) dari bilangan-bilangan tersebut adalah:
n
a a a
n
+ + +
2 1
b. Rataan Geometri (GM) dari bilangan-bilangan tersebut adalah:
n
n
a a a
2 1
c. Rataan Harmonis (HM) dari bilangan-bilangan tersebut adalah:
n
a a a
n
1 1 1
2 1
+ + +
Hubungan Pertidaksamaan AM GM HM adalah :
HM GM AM
Problem Set
1. Tentukan himpunan penyelesaian yang bulat dari sistem pertidaksamaan
5 25 25 5 + < + x x dan 10 15 45 8 + > + x x
2. Carilah interval dari nilai x yang memenuhi pertidaksamaan:
3
12
6
15

x x
dan
5
11
2
3 9 +

x x
3. Diketahui 5 2 x ,
12 3 y
dan
5 3 , 0 w
, berapakah
Nilai terkecil yang mungkin dari (x+y)
Nilai terbesar yang mungkin dari (y-x) dan y/w.
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
82
4. Bila
5
1
+
t
t
, hitunglah nilai dari:
i.
2
2
1
t
t + ii.
4
4
1
t
t +
5. Tentukan nilai x yang memenuhi p x +47 dan q x 12 , diman p dan
q adalah dua bilangan asli yang berurutan
6. Bila b a b a + dan 1 ab b a , berapakah nilai dari
( ) ( ) [ ] { } 2 2 5 2 5 50
7. Bila ab=6, bc=12 dan a+c=6, Carilah nilai a, b dan c
8. Berapakah nilai dari
100 99
1
4 3
1
3 2
1
2 1
1
+
+ +
+
+
+
+
+

9. Berapakah nilai dari ( ) ( ) ( ) 123456788 123456790 123456789
2

2.7. EKSPONEN
2.7.1. Bilangan berpangkat sebenarnya (positif)
Pemangkatan sebuah bilangan a terhadap bilangan n dinotasikan sebagai berikut:
n
a
dimana:
a = bilangan dasar/bilangan pokok
n = eksponen/pangkat
Definisi pangkat sebenarnya:
Pangkat sebenarnya (positif) sebuah bilangan a adalah pemangkatan bilangan a terhadap
bilangan cacah n.
Pangkat positif a
n
memiliki arti sebagai perkalian a sebanyak n faktor.


faktor n
n
a a a a a
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
83
Contoh 2.39
a. 16 2 2 2 2 2
4

b. a a a a
3
c.
8
1
2
1
2
1
2
1
2
1
3

,
_


d. ( ) 16 2 2 2 2 2
4

2.7.2. Bilangan berpangkat tak sebenarnya (pangkat negatif dan pecahan)
Definisi pangkat tak sebenarnya:
Pangkat sebenarnya (positif) sebuah bilangan a adalah pemangkatan bilangan a terhadap
bilangan n yang bukan merupakan bilangan cacah (bilangan negatif atau pecahan).
a. Pangkat negatif
Misalkan a, n bilangan real, maka:
0 ,
1

a
a
a
n
n
b. Pangkat pecahan
Misalkan a bilangan real, n bilangan asli, maka:
n n
a a
/ 1
Contoh 2.40
a.
16
1
2
1
2
1
.
2
1
.
2
1
.
2
1
2 2 2 2 2
4
1 1 1 1 4


b.
3 3 / 1
a a
c. 8 2 2 2
2
1
2
1
2
1
2
1
1 1 1 3

,
_


,
_


,
_


,
_



d.
( )
( ) 16
1
2
1
2
4
4



Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
84
2.7.3. Sifat-sifat bilangan berpangkat
Beberapa sifat penting dalam bilangan berpangkat adalah:
Misalkan a, b, m, n bilangan-bilangan real, maka:
o 0 , 1
0
a a
o
n m n m
a a a
+

o
n m
n
m
a
a
a

o
( )
nm
m
n
a a
o ( )
n n n
b a ab
o
n
n
n
b
a
b
a

,
_

o
( )
m
n n m n m
a a a
/
Problem Set
1. Diketahui
0
4
3
3
2
.
a
b a
p

, jika a = 27 dan b = 16, maka nilai p sama dengan


2. Bentuk sederhana dari
3
1
3
1
3
1
2
1
2
1
2
1
2
3
x x
x x
x x
x x

+
+

adalah
3. Diketahui x, y, z adalah bilangan riil yang lebih besar dari 1 dan w adalah bilangan riil
positif. Jika
24
x w , 40
1
w y
, dan
12
w xyz , tentukan w yang dinyatakan dalam z !
4. Jika diketahui
7
8
3
4
2
3
1
2 1
8
,...,
4
,
3
,
2
, 2006
x
x
x
x
x
x
x
x x
. Tentukan 8 2 1
...x x x
5. Carilah solusi dari

,
_

4
1
4
1
7
12
x
x
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
85
6. Hitung ( )( )( )( ) 7 6 5 7 6 5 7 6 5 7 6 5 + + + + + +
7. Jika
p
x
x
x x

3
, 0 > x dan 1 x , p adalah bilangan rasional maka tentukanlah nilai
p !
8. Jika 47 2 2
2 2
+
x x
, tentukan nilai dari
x x
+2 2
!
2.8. LOGARITMA
Logaritma yang disingkat dengan log adalah nama lain untuk pangkat atau eksponen pada
bilangan berpangkat. Contohnya untuk bilangan berpangkat 2
4
= 16, maka logaritmanya adalah 4.
Hal itu dapat juga dituliskan sebagai
2
log 16 = 4, yang dibaca logaritma dengan bilangan pokok
2 dari 16 adalah 4.
Dari keterangan di atas terlihat bahwa ada dua pernyataan yang ekuivalen atau sama benarnya,
sehingga diperoleh hubungan sebagai berikut.
2
4
= 16
2
log 16 = 4
(bentuk pangkat) (bentuk logaritma)
Jadi secara umum, logaritma didefinisikan sebagai invers atau balikan dari eksponen yaitu:
a
m
= b
a
log b = m ( a 1, b > 0)
Contoh 2.41
Untuk lebih memahami logaritma, hitung:
a.
4
log 256 c.
8
1
log
2
b.
10
log 10.000.000 d.
81
1
log
3

Penyelesaian
a. Misalkan x =
4
log 256 maka berlaku
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
86
4
x
= 256 4
x
= 4
4
x = 4
Jadi
4
log 256 = 4
b. Misalkan x =
10
log 10.000.000, maka berlaku
10
x
= 10.000.000 10
x
= 10
7
x = 7
Jadi
10
log 10.000.000 = 7
c. Misalkan x =
8
1
log
2
maka berlaku
2
x
=
8
1
2
x
= 2
3
x = 3
Jadi
8
1
log
2
= 3
d. Misalkan x =
81
1
log
3
maka berlaku
3
x
=
81
1
3
x
= 3
4
x = 4
Jadi,
81
1
log
3
= 4
Sifat Logaritma
Sifat bilangan berpangkat dapat digunakan untuk menyederhanakan kalimat terbuka ataupun
pernyataan yang memuat bentuk pangkat. Karena logaritma adalah pangkat atau eksponen dari
bilangan berpangkat, maka sifat logaritma yang kita pelajari di sini adalah yang mirip dengan
sifat bilangan berpangkat.
1. Penjumlahan dua logaritma dengan bilangan pokok yang sama.
Pertama-tama, perhatikan contoh berikut.
2
log 16 +
2
log 2 = 4 + 1 = 5
Selanjutnya, kita juga mempunyai hubungan berikut:
2
log 32 = 5
Maka, berlaku hubungan:
2
log 32 =
2
log16 +
2
log2 atau
2
log (16 2) =
2
log 16 +
2
log2
Kemudian perhatikan persamaan berikut dan bandingkan dengan persamaan di atas.
a
m
a
n
= a
m+n
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
87
Oleh karena logaritma sama dengan pangkat, maka dapat dikatakan bahwa hasil kali logaritma
merupakan jumlah dari masingmasing logaritma dengan bilangan pokok yang sama. Atau
perkalian dua bilangan berpangkat juga menghasilkan bilangan berpangkat di mana pangkat yang
dihasilkan merupakan jumlah dari pangkat masingmasing bilangan dengan bilangan pokok
yang sama.
Jadi, secara umum Logaritma hasil kali dua bilangan adalah jumlah dari masing-masing
logaritma bilangan tersebut dengan bilangan pokok yang sama.
a
log x +
a
log y =
a
log (xy)
2. Pengurangan dua logaritma dengan bilangan pokok yang sama.
Pertama-tama, perhatikan contoh berikut.
3
log 27
3
log 9 = 3 2 = 1
Kita juga mempunyai hubungan:
3
log 3 = 1,
maka berlaku:
3
log 3 =
3
log 27
3
log 9 atau
3
log
,
_

9
27
=
3
log 27
3
log 9
Kemudian perhatikan persamaan berikut dan bandingkan dengan persamaan di atas.
n
m
a
a
= a
m-n
Sekali lagi, karena logaritma adalah pangkat, maka dapat dikatakan bahwa hasil bagi logaritma
merupakan pengurangan masingmasing logaritma dengan bilangan pokok yang sama. Atau
dapat juga kita katakan bahwa pembagian bilangan berpangkat menghasilkan bilangan
berpangkat juga. Pangkat yang dihasilkan merupakan pengurangan dari pangkat bilangan
berpangkat yang dioperasikan dalam bilangan pokok yang sama.
Secara umum Logaritma hasil bagi dua bilangan adalah selisih dari masing-masing logaritma
bilangan tersebut dengan bilangan pokok yang sama.
a
log x
a
log y =
a
log

,
_

y
x
3. Bilangan yang dilogaritmakan berbentuk bilangan berpangkat.
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
88
Perhatikan contoh berikut.
2
log 4
3
=
2
log 64 = 6
3
2
log 4 = 3
2
log4 = 3 2 = 6
sehingga berlaku:
2
log 4
3
= 3
2
log 4
Ketentuan yang sama juga berlaku untuk contoh berikut ini.
2
log 8
2
=
2
log 64 = 6
2
2
log 8 = 2
2
log8 = 2 3 = 6
sehingga berlaku:

2
log 8
2
= 2
2
log 8
Kemudian perhatikan persamaan berikut ini dan bandingkan dengan contoh di atas.
(a
m
)
n
= a
mn
Berdasarkan pada alasan yang sama dengan sifat sebelumnya, maka bilangan berpangkat yang
dipangkatkan menghasilkan bilangan berpangkat juga. Pangkat yang dihasilkan merupakan
perkalian dari pangkat bilangan yang dipangkatkan dengan pangkatnya, atau dapat dikatakan
bahwa logaritma dari bilangan berpangkat sama dengan perkalian dari logaritma bilangan itu
dengan pangkatnya.
Secara umum Logaritma bilangan berpangkat bilangan lain adalah bilangan lain tersebut kali
logaritma bilangan tersebut dengan bilangan pokok yang sama.
a
log x
y
= y
a
log x
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
89
Berdasarkan uraian di atas, kita lebih memahami sifat logaritma yang mirip dengan sifat bilangan
berpangkat. Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh berikut ini.
Contoh 2.42
1. Hitung pernyataan logaritma berikut ini.
a.
6
log 4 +
6
log 9
b.
3
log 54
3
log 2
c.
4
log 16
5

Penyelesaian
a.
6
log 4 +
6
log 9 =
6
log (4 9)
=
6
log 36
= 2
b.
3
log 54
3
log 2 =
3
log
,
_

2
54
=
3
log 27
c.
4
log 16
5
= 5
4
log 16
= 5 2
= 10
2. Sederhanakan pernyataan berikut ini.
a.
5
log 3 +
5
log 4
5
log 6
b. 3
3
log 2 +
3
log 5
Penyelesaian
a.
5
log 3 +
5
log 4
5
log 6 =
5
log (3 4)
5
log 6
=
5
log 12
5
log 6
=
5
log
,
_

6
12
=
5
log 2
b. 3
3
log 2 +
3
log 5 =
3
log 2
3
+
3
log 5
=
3
log 8 +
3
log 5
=
3
log (8 5)
=
3
log 40
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
90
Aplikasi Logaritma
Untuk melengkapi pembahasan logaritma ini, perhatikan contoh aplikasi berikut ini:
1. Misalkan kita menabung uang sejumlah P(0) dengan tingkat bunga r, yang
bersifat majemuk dengan m kali per tahun, maka nilai uang P yang dihitung setelah akhir
tahun ke t memenuhi rumus
mt
m
r
P P
1
]
1

+ 1 ) 0 (
Jika r = 20%, m = 1, maka berapa lama agar ung kita bernilai sebesar dua kalinya.
Penyelesaian
Karena r = 20%, m = 1, dan P = 2 P(0), maka didapat persamaan,
[ ]
t
P P 2 , 0 1 ) 0 ( ) 0 ( 2 +
t
2 , 1 2
2 2 , 1
t
2 ln 2 , 1 ln
t
2 ln 2 , 1 ln t
4 8 , 3
2 , 1 ln
2 ln
t
tahun.
Fungsi Logaritma
Definisi Fungsi Logaritma
Fungsi f yang didefinisikan dalam persamaan f(x) =
b
log x disebut fungsi logaritma dengan
bilangan pokok b, dengan b > 0 dan b 1 serta x > 0. Daerah definisi dari f(x) adalah semua
bilangan real positif. Sedangkan rangenya adalah semua bilangan real.
Contoh 2.43
Jika f adalah fungsi logaritma dengan bilangan pokok 4, tentukan f(4), f
,
_

4
1
, dan f(8).
Penyelesaian
Karena f adalah fungsi logaritma dengan bilangan pokok 4 , maka f(x) =
4
log x, dan
f(4) =
4
log 4 = 1,
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
91
f
,
_

4
1
=
4
log
4
1
=
4
log 4
1
=
4
log 4 = 1
f(8) =
4
log 8 =
4
log 4
3/2
=
2
3

4
log 4 =
2
3
Contoh 2.44
Jika f adalah fungsi logaritma dengan bilangan pokok
4
1
, tentukan f(4), f
,
_

4
1
, dan f(8).
Penyelesaian
Karena f fungsi logaritma dengan bilangan pokok
4
1
, maka f(x) =
1/4
log x, maka
f(4) =
1/4
log 4 =
1/4
log
1
4
1

,
_

=
1/4
log
4
1
= 1,
,
_

4
1
f
=
1/4
log
4
1
= 1, dan
f(8) =
1/4
log 8 =
1/4
log 4
3/2
=
1/4
log
2
3
1
4
1
1
1
]
1

,
_


=
1/4
log
2
3
4
1

,
_

=
2
3


1/4
log
4
1
=
2
3

Persamaan Logaritma
Sebagaimana pada bagian sebelumnya, pada bagian ini akan dibahas mengenai cara mencari
penyelesaian suatu persamaan yang melibatkan logaritma sehingga persamaan yang dimaksud
menjadi pernyataan yang benar. Untuk memudahkan perlu diperhatikan kembali logaritma dan
sifatsifatnya. Karena logaritma merupakan invers eksponen, maka dalam penyelesaian
logaritma sering digunakan eksponen.
Bentukbentuk dan cara penyelesaian suatu persamaan logaritma adalah sebagai berikut.
a.
a
log f(x) = b f(x) = a
b
Contoh 2.45
Tentukan nilai x yang memenuhi persamaan
2
log (x + 1) = 4.
Penyelesaian
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
92
2
log (x + 1) = 4 x + 1 = 2
4
x = 2
4
1 = 16 1 = 15
Himpunan penyelesaian = {15}
b.
a
log f(x) =
a
log g(x) f(x) = g(x)
Contoh 2.46
Tentukan nilai x yang memenuhi persamaan
3
log(3x
2
6) =
3
log (2x
2
- x).
Penyelesaian
3
log(3x
2
6) =
3
log(2x
2
- x) 3x
2
6 = 2x
2
x x
2
+ x 6 = 0 (x + 3) (x 2) = 0
x = 3 atau x = 2 dan setelah diperiksa kembali ternyata logaritmanya terdefinisi.
Himpunan penyelesaian ={3, 2}
c.
f(x)
log a = b [f(x)]
b
= a
Contoh 2.47
Tentukan nilai x yang memenuhi persamaan
x
log 16 = 2.
Penyelesaian
xl
og 16 = 2 x
2
= 16
x = 4 atau x = 4
untuk x = 4 logaritma terdefinisi, sedangkan untuk x = 4 logaritma tidak terdefinisi.
Himpunan penyelesaian = {4}.
d. Persamaan logaritma yang dapat diselesaikan dengan cara persamaan kuadrat ax
2
+
bx + c = 0.
Dalam menyelesaikan persamaan tipe ini, pertama buat pemisalan sehingga terbentuk persamaan
kuadrat. Selanjutnya selesaikan persamaan ini dan substitusikan kembali ke pemisalan semula.
Dengan memperhatikan persyaratan logaritma yang ada, akhirnya tentukan himpunan
penyelesaiannya.
Contoh 2.48
Tentukan x yang memenuhi
2
log
2
x
2
logx 6 = 0; dengan
2
log
2
x = (
2
log x)
2
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
93
Penyelesaian
Misalkan y =
2
log x, maka persamaan logaritma di atas dapat ditulis sebagai berikut
y
2
y 6 = 0 (y 3) (y + 2) = 0 y = 3 atau y = 2
Selanjutnya, substitusikan kembali ke pemisalan maka didapat,
3 =
2
log x atau 2 =
2
log x x = 2
3
= 8 atau x =

2
2
= 1/4
Himpunan penyelesaian = {8, 1/4}.
Contoh 2.49
Tentukan x yang memenuhi persamaan logaritma berikut. log log (x + 2) = 0
Penyelesaian
log log (x + 2) = 0
log (log (x + 2) = log 1
log (x + 2) = 1
log (x +2) = log 10
x + 2 = 10
x = 8
Himpunan penyelesaian = {8}
PROBLEM SET
1. Unyil membeli kancing baju dengan harga Rp. 9,00 per buah. Ia membayar seluruh
kancing yang ia beli Rp. 8.32a.b52,00. jika a b = 3, tentukan nilai a dan b.
2. 24 pecatur bertanding dalam suatu turnamen catur. Panitia membagi mereka dalam 2
grup, A dan B, dimana seorang pesreta bertanding satu kali dengan peserta lain dalam
grupnya masing-masing. Jumlah pertandingan di grup B 69 kali lebih banyak daripada
jumlah pertandingan di grup A. Cuplis adalah salah seorang peserta di grup A yang tak
terkalahkan dan meraih poin 5,5 (menang = 1 poin, remis = poin). Berapa kali Cuplis
bermain remis?
3. Jika diketahui
1
2 x
x
- = dan x > 0, maka nilai dari
1
.... x
x
+ =
4. x, y, z memenuhi persamaan 2 10
x y +
= , 2 20
y z +
= , dan 2 30
z x +
= , maka nilai x, y dan z
adalah..
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
94
5. Hasil penjumlahan dari
1 3 7 15 1023
...
2 4 8 16 1024
+ + + + + adalah.
6. Jika a, b, c, d ,e adalah bilangan-bilangan real sedemikian sehingga a + b < c + d, b + c <
d + e, c + d < e + a, dan d + e < a + b, maka bilangan terbesar dan terkecil adalah..
7. jika
5
2 2
4 3

+
b a
b a
, maka nilai dari
2 2
6 a b
ab
+
adalah..
8. Bila
x 2
3
5 log
4

, maka
0,04
log8 =.......
9. 3 bilangan real a, b, dan c memenuhi persamaan
(a + b)(a + b + c) = 120
(b + c)(b + c + a) = 96
(c + a)(c + a + b) = 72
Nilai dari 3a + 2b + c adalah....
10. Buktikan bahwa jika a, b, c adalah bilangan bulat positif maka
( )( )( )( ) c b a c b a c b a c b a + + + + + + adalah bilangan bulat
11. 1.1! + 2. 2! + 3.3! + .+ 99.99! = ..
12. Sederhanakan
2 2 2 2
1 1 1 1
1 . 1 . 1 ... 1
2 3 4 99
_ _ _ _


, , , ,
13. Hitung
1 1 1 1
...
1.2 2.3 3.4 99.100
+ + + +
14. Jika p dan q merupakan bilangan positif dan p
2
+ 2q
2
= 34 dan p
2
q
2
= 7, carilah nilai p
15. m, n adalah bilangan bulat positif sedemikian sehingga mn + m + n = 71 dan m
2
n + mn
2
=
880. Tentukan m
2
+ n
2
16. a, b, c adalah bilangan bulat positif yang membentuk barisan geometri, b a adalah kuadrat
sempurna dan
6 6 6
log log log 6 a b c + + = . Tentukan a + b + c
17. Jika a
2
+ a
2
= 4, carilah a
6
+ a
6
18. Jika n
2
+ 1 = 5n, hitunglah
4
4
1
n
n
_
+

,
19. Jika
2 1 2
10
2

+
+


+
x
B
x
A
x x
x
, hitunglah nilai A dan B
20. Jika diketahui x + y = 1 dan x
3
+ y
3
= 19, tentukan x
2
+ y
2
21. Jika
5
2
4
m n
m n
+
=
+
, tentukanlah nilai dari
3
3
m
n
22. Carilah penyelesaian yang bernilai positif dari persamaan
69 10
1
45 10
1
29 10
1
2 2 2


+
x x x x x x
23. Jika 2 3 6
a b c
= = , tunjukkan bahwa
ab
c
a b
=
+
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
95
24. Notasi a b didefinisikan sebagai a adalah kelipatan dari b dan a dan b adalah bilangan
bulat positif. Dari pernyataan di bawah ini manakah yang benar. Jelaskan!
a. x y dan x z maka x (yz)
b. x y dan y z maka x + y z
c. x y dan y z maka x z
d. w x dan y z maka (wy) (xz)
25. Buktikan bahwa n
4
+ 4 adalah bilangan prima hanya jika n = 1 untuk n adalah bilangan asli.
26. Buktikan bahwa perkalian 4 bilangan bulat tak nol yang berurutan tidak pernah menjadi
kuadrat sempurna!
27. Carilah jumlah semua bilangan dari 1 sampai 1000 yang tidak habis dibagi 3 atau 5
28. Selesaikan system berikut:
3 3
2 2
126
21
x y
x xy y
+
+
29. Jika

4
5
0
8
x y u
y u v
u v x
v x y
+ +
+ +
+ +
+ +
Tentukan nilai x, y, u, v yang memenuhi system di atas
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
96
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
97
3. GEOMETRI
Pada materi ini kita akan membahas materi geometri yang khususnya mengenai koordinat
geometri, persamaan garis lurus,dalil Pythagoras dan bangun datar.
3.1. Koordinat Geometri dan Persamaan Garis Lurus
a. Koordinat kartesius
Koordinat kartesius atau koordinat bidang adalah tempat kedudukan sepasang nilai (x, y).
Koordinat kartesius dibagi dalm empat bidang (kuadran) oleh sumbu x dan sumbu y. Posisi
sebuah titik direpresentasikan oleh (x, y).
b. Titik tengah
Titik tengah dari sebuah garis yang menghubungkan titik A(x
1
, y
1
) dan B(x
2
, y
2
) adalah titik
C(x
3
, y
3
) =
,
_

+ +
2
,
2
2 1 2 1
y y x x
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
98
x
y
A(x
1
, y
1
)
O
B(x
2
, y
2
)
C(x
3
, y
3
)
x
y
Kuadran I Kuadran II
Kuadran III
O
Kuadran IV
c. Jarak
Jarak antara titik A(x
1
, y
1
) dan B(x
2
, y
2
) adalah
2
1 2
2
1 2
) ( ) ( y y x x AB +
d. Gradien
Gradien m dari sebuah garis lurus yang menghubungkan titik A(x
1
, y
1
) dan B(x
2
, y
2
) adalah
nilai kemiringan dari garis lurus tersebut. Representasi dalam rumusnya adalah sebagai
berikut:
1 2
1 2
x x
y y
m
AB

Beberapa sifat gradien:


Garis lurus yang sejajar dengan sumbu x mempunyai nilai gradien nol
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
99
x
y
A(x
1
, y
1
)
O
B(x
2
, y
2
)
|AB|
x
y
A(x
1
, y
1
)
O
B(x
2
, y
2
)
m
AB

Garis lurus yang sejajar dengan sumbu y tidak mempunyai nilai gradient
Dua garis lurus yang saling sejajar mempunyai nilai gradien yang sama
Bila m
1
dan m
2
adalah gradient dari garis-garis lurus yang saling tegak lurus, maka
m
1
.m
2
= 1.
e. Kolinear
Tiga buah titik A(x
1
, y
1
), B(x
2
, y
2
) dan C(x
3
, y
3
) dikatakan terletak dalam satu garis lurus yang
sama (kolinear) jika dan hanya jika gradien AB = gradien BC = gradien AC atau ditulis
sebagai berikut:
1 3
1 3
2 3
2 3
1 2
1 2
x x
y y
x x
y y
x x
y y

f. Luas Segitiga
Sebuah segitiga yang terbentuk dari tiga buah titik yang tidak segaris A(x
1
, y
1
), B(x
2
, y
2
) dan
C(x
3
, y
3
) mempunyai luas yang ditentukan dengan formula:
) ( ) ( ) (
2
1
2
1
2
1
Luas
2 1 3 3 1 2 3 2 1
3 1 2 3 1 2 1 3 3 2 2 1
1 3 2 1
1 3 2 1
y y x y y x y y x
y x y x y x y x y x y x
y y y y
x x x x
+
+ +

g. Luas Segiempat
Sebuah segiempat yang terbentuk dari empat buah titik yang tidak segaris A(x
1
, y
1
), B(x
2
, y
2
),
C(x
3
, y
3
) dan D(x
4
, y
4
) mempunyai luas yang ditentukan dengan formula:
) ( ) ( ) ( ) (
2
1
2
1
2
1
Luas
3 1 4 4 2 3 3 1 2 4 2 1
4 1 3 4 2 3 1 2 1 4 4 3 3 2 2 1
1 4 3 2 1
1 4 3 2 1
y y x y y x y y x y y x
y x y x y x y x y x y x y x y x
y y y y y
x x x x x

+ + +

h. Persamaan garis lurus


Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
100
Bentuk umum persamaan garis lurus adalah:
b
a
m c by ax + + , 0
Untuk menentukan persamaan garis lurus dapat dilakukan berbagai macam tergantung dari
kasus yang dihadapi.
Bentuk khusus 1
Persamaan garis lurus yang melalui (0, c) dan mempunyai gradient m adalah:
c mx y +
Bentuk khusus 2
Persamaan garis lurus yang memotong sumbu x di (a, 0) dan memotong sumbu y di (0, b)
adalah:
ab ay bx +
Bentuk khusus 3
Persamaan garis lurus yang melalui dua titik (x
1
, y
1
) dan (x
2
, y
2
) ditentukan oleh
persamaan:
1 2
1
1 2
1
x x
x x
y y
y y

Bentuk khusus 4
Persamaan garis lurus yang melalui titik (x
1
, y
1
) dengan gradient m adalah:
) (
1 1
x x m y y
i. Titik potong
Titik potong antara dua garis yang tidak sejajar adalah sebuah titik yang ditentukan oleh
solusi dari sistem persamaan linear (metode substitusi atau eliminasi).
3.2. Dalil Pythagoras
1. Dalil Pythagoras
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
101
Dalam suatu segitiga siku-siku, luas persegi pada sisi di depan sudut siku-siku (hipotenusa)
sama dengan jumlah luas persegi pada dua sisi yang lain.
2. Dalil Pythagoras dalam bentuk rumus
Dalam suatu ABC siku-siku di C dengan panjang AB = c, BC = a dan AC = b, maka c
2
= a
2
+ b
2
.
3. Kebalikan dalil Pythagoras
Dalam suatu ABC apabila berlaku sifat c
2
= a
2
+ b
2
, maka ABC adalah segitiga siku-siku
di C.
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
102
a
b
c
a
2
c
2
b
2
C
A
B
a
c
b
4. Tripel Pythagoras
Untuk m, n bilangan asli dan m > n, maka ketiga bilangan asli berikut: m
2
+ n
2
, m
2
n
2
dan
2mn merupakan tripel Pythagoras.
5. Perbandingan sisi-sisi pada segitiga siku-siku
Perbandingan sisi pada segitiga siku-siku untuk sudut 30
0
dan 60
0
Misalkan ABC segitiga siku-siku di C, A = 30
0
dan B = 60
0
, maka:
Perbandingan sisi pada segitiga siku-siku untuk sudut 45
0
dan 45
0
Misalkan ABC segitiga siku-siku di C, A = 45
0
dan B = 45
0
, maka:
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
103
30
0
60
0
3 a
a 2
a
C
A
B
45
0
45
0
a
2 a
a
C
A
B
BC : AB : AC = 1 : 2 : 1

atau
a : c : b = 1 : 2 : 1
BC : AB : AC = 1 : 2 : 3
atau
a : c : b = 1 : 2 : 3
Problem Set
1. Carilah nilai a agar jarak antara titik (a, 2) dan (3, 4) adalah 8 satuan panjang
2. Tunjukkan bahwa titik-titik (2a, 4a), (2a, 6a) dan (2a+a 3 , 5a) merupakan titik-titik
ujung sebuah segitiga sama sisi
3. Apakah ketiga titik berikut (a, b+c), (b, c+a), (c, a+b) terletak pada satu garis lurus yang
sama ? Jelaskan !
4. Tunjukkan bahwa garis-garis berikut ini :
7x 2y + 10 = 0, 7x + 2y 10 = 0 dan y + 2 = 0
membentuk sebuah segitiga sama kaki ! Hitunglah luasnya !
5. Rasio volume 2 kerucut adalah 1 : 4 dan rasio antar diameternya 4 : 5. Tentukan rasio
antar tinggi kedua kerucut tersebut.
3.3. Segitiga
Segitiga merupakan dasar dari bentuk geometri. Segitiga adalah sebuah bangun datar yang
terbentuk dari 3 buah titik yang tidak segaris.
a. Jenis-jenis segitiga
Segitiga ditinjau dari panjang sisi-sisinya dikenal dalam berbagai jenis, yaitu:
Segitiga sama kaki
Segitiga sama kaki adalah sebuah bangun segitiga yang 2 sisi yang sama panjang. Segitiga
sama kaki juga dapat mudah dikenali dengan terdapatnya 2 sudut yang sama besar.
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
104
Segitiga sama sisi
Segitiga sama sisi adalah sebuah bangun segitiga yang ketiga sisinya sama panjang. Segitiga
sama sisi juga dapat mudah dikenali dengan melihat ketiga sudut yang sama besar.
Segitiga sembarang
Segitiga sembarang adalah sebuah bangun segitiga yang ketiga ukuran panjang sisinya
berbeda semuanya. Segitiga sembarang juga dapat mudah dikenali dengan melihat ketiga
sudut yang berbeda semuanya
b. Sudut segitiga
Segitiga merupakan sebuah bangun datar yang mempunyai sudut dengan jumlah ketiga
sudutnya adalah 180
0
. Hal ini berakibat untuk segitiga sama sisi mempunyai besar sudut 60
0
untuk ketiga sudutnya.
c. Keliling dan luas segitiga
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
105
o
Keliling dari sebuah segitiga adalah jumlah panjang semua sisinya. Sehingga jika sebuah
segitiga mempunyai panjang sisi-sisinya adalah a, b dan c, maka keliling segitiga adalah a +
b + c.
Luas dari sebuah segitiga dapat dicari dengan berbagai cara:
a. Dengan menggunakan rumus standar:
2
tinggi alas
Luas

b. Dengan menggunakan informasi keliling


) )( )( ( Luas c s b s a s s
dimana
a, b dan c adalah panjang sisi-sisi segitiga
s = keliling/2 = (a + b + c)/2
d. Kesebangunan
Segitiga ABC dan PQR dikatakan sebangun (ditulis ABC PQR) jika memenuhi salah
satu dari syarat berikut:
a. Terdapat 2 sudut yang bersesuaian yang sama besar.
b. Panjang sisi-sisi yang bersesuaian sebanding yaitu perbandingan panjang sisi-
sisinya sama besar.
z
c
y
b
x
a

Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
106
x
a
b
y
c
z
A
B
C
P Q
R
e. Garis Tinggi segitiga
Garis tinggi sebuah segitiga adalah garis yang ditarik dari salah satu titik sudutnya dan tegak
lurus terhadap sisi yang berada di hadapan titik sudut tersebut. Pada ABC di bawah ini AE
(t
A
), BF (t
B
) dan CD (t
C
) adalah garis-garis tinggi ABC.
Untuk mencari nilai t
A
, t
B
dan t
C
kita gunakan hubungan dengan luas segitiga
) )( )( (
2
c s b s a s s
tinggi alas


sehingga diperoleh bahwa:
i.
) )( )( (
2
c s b s a s s
a
t
A


ii.
) )( )( (
2
c s b s a s s
b
t
B

iii.
) )( )( (
2
c s b s a s s
c
t
C

dimana
2
c b a
s
+ +

Sifat lain yang dapat diperoleh adalah:


i.
c b a
t t t
C B A
1
:
1
:
1
: :
ii. CD : CA = BF : AB
f. Garis Berat segitiga
Garis berat sebuah segitiga adalah garis yang membagi sisi segitiga menjadi 2 bagian yang
sama panjangnya. Pada ABC di bawah ini AE (z
A
), BF (z
B
) dan CD (z
C
) adalah garis-garis
berat ABC. Titik perpotongan antar garis berat disebut titik berat, yaitu titik O.
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
107
A
B
C
D
E
F
t
A
t
B
t
C
a
c
b
A
B
C
D
E
F
O
Beberapa hal yang harus dipahami sebagai akibat terbentuknya garis berat pada ABC, yaitu:
i. AO : OE = BO : OF = CO : OD = 2 : 1
ii. Garis EF sejajar AB, sehingga EF = AB/2 yang diperoleh dari sifat
kesebangunan segitiga.
iii.
2 2 2
) ( 2
2
1
a c b z
A
+

iv.
2 2 2
) ( 2
2
1
b c a z
B
+
v.
2 2 2
) ( 2
2
1
c b a z
C
+
g. Garis Bagi segitiga
Garis bagi sebuah segitiga adalah garis yang membagi sudut pada segitiga tersebut menjadi
dua bagian sama besarnya. Pada ABC di bawah ini AE (k
A
), BF (k
B
) dan CD (k
C
) adalah
garis-garis bagi ABC. Titik perpotongan antar garis bagi disebut titik bagi, yaitu titik O.
Beberapa hal yang merupakan akibat terbentuknya garis bagi:
i. c b a a : :
2 1
ii.
c b
ab
a
+

1
dan
c b
ac
a
+

2
iii.
2 1
2
a a bc k
A
iv.
2 1
2
b b ac k
B

v.
2 1
2
c c ab k
C

dimana a=a
1
+a
2
, b=b
1
+b
2
dan c=c
1
+c
2
.
h. Panjang proyeksi
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
108
A
B
C
D
E
F
O
a
1
a
2
c
1
b
1
c
2
b
2
Panjang proyeksi sisi segitiga terhadap sisi lainnya bergantung dari jenis
sudut yang menghadap sisi tersebut. Sehingga penentuan panjang proyeksi
menggunakan dalil Pythagoras.
Panjang proyeksi sisi dengan sudut lancip (< 90
0
)
Perhatikan ABC di bawah ini, panjang proyeksi sisi AC (b) terhadap sisi AB (c) adalah
panjang sisi AD (p) ditentukan dengan formula:
c
a c b
p
2
2 2 2
+

Sedangkan panjang proyeksi sisi BC (a) terhadap sisi AB (c)


adalah panjang sisi BD (c p) ditentukan dengan formula:
c
b c a
p c
2
2 2 2
+

Panjang proyeksi sisi dengan sudut siku-siku (90
0
)
Perhatikan ABC di bawah ini, panjang proyeksi sisi AC (b) terhadap sisi AB (c) adalah
panjang sisi AB (c) ditentukan dengan formula:
2 2
a b c
Panjang proyeksi sisi dengan sudut tumpul (> 90
0
)
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
109
A
B
C
D
a
b
p c p

A
B
C
a
b
c
Perhatikan ABC di bawah ini, panjang proyeksi sisi AC (b) terhadap sisi AB (c) adalah
panjang sisi AD (p) ditentukan dengan formula:
c
a c b
p
2
2 2 2
+

i. Dalil Stewart
Dalil Stewart digunakan untuk menentukan panjang garis yang ditarik dari
titik sudut segitiga ke satu titik yang terletak pada sisi di hadapan sudut
tersebut. Perhatikan ABC di bawah ini, panjang CD (x) ditentukan oleh
formula:
c
c c c c b c a
x
2 1 2
2
1
2
+

j. Dalil Meneleous
Pada gambar di bawah, selalu berlaku:
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
110
A B
C
a
b
c D
p
A
B
C
a b
c=c
1
+ c
2
x
c
1
c
2
D
A
B
C
R
Q
P
1
RB
RA
QC
QB
PA
PC
k. Dalil De Ceva
AQ, BR dan PC sembarang garis yang melalui satu titik dalam ABC, maka akan selalu
berlaku:
1
RA
RC
QC
QB
PB
PA
3.4. Lingkaran
Suatu lingkaran adalah sebuah tempat kedudukan titik-titik dimana semua titik tersebut
mempunyai jarak yang tetap terhadap suatu titik tertentu. Titik tertentu tertsebut tersebut
dinamakan titik pusat lingkaran dan jarak yang tetap tersebut disebut jari-jari lingkaran. Hal-hal
yang sekarang dipelajari adalah sebagai berikut:
a. Panjang busur lingkaran
Panjang busur AB dapat ditentukan
dengan perbandingan sudut dan
perbandingan keliling sebagai berikut:
0
360 lingkaran keliling
AB busur panjang

sehingga
r

2
360
AB busur panjang
0

b. Luas juring lingkaran
Sama seperti panjang busur di atas, luas juring
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
111
A
B
C
P
Q
R
O
B
A
r
r
O

O
r
B
A
r

lingkaran dapat ditentukan dengan


perbandingan sudut dan luas sebagai berikut:
0
360 lingkaran luas
OABO juring luas

sehingga
2
0
360
OABO juring luas r


c. Luas tembereng lingkaran
Tembereng adalah daerah yang terbentuk
di antara sebuah juring dan segitiga terbesar
yang berada di dalam juring tersebut
atau daerah tertutup yang dibatasi tali busur
dan busur lingkaran, sehingga luas tembereng
tersebut:

,
_



t AB r
2
1
360

OAB luas - OABO juring luas ABCA tembereng luas
2
0


d. Hubungan antara busur, juring dan sudut pusat
Hubungan antara dua buah busur, juring dan sudut pusat
lingkaran adalah sebagai berikut:


OCDO juring luas
OABO juring luas
CD busur panjang
AB busur panjang
e. Sudut pusat dan keliling lingkaran
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
112
B
A
O
r
r

t
C
O
B
A

C
D
B
A
O

Sudut disebut sudut pusat lingkaran


yang dibentuk dari dua jari-jari lingkaran.
Sudut disebut sudut keliling lingkaran
yang dibentuk dari dua tali busur lingkaran.
Hubungan antara sudut pusat dan keliling
adalah:
sudut pusat = 2 sudut keliling
f. Perpotongan tali busur dalam lingkaran
Perpotongan dua buah tali busur dalam lingkaran ada berbagai macam tipe, di antaranya
adalah:
i. Perhatikan gambar di samping, jika X adalah
titik perpotongan antara tali busur AD dan BC,
maka akan diperoleh hubungan sebagai
berikut:
AX XD = CX XB
ii. Perhatikan gambar di samping, jika X adalah
titik perpotongan antara tali busur AC dan BD,
maka akan diperoleh hubungan sebagai
berikut:
XA XC = XB XD
iii. Perhatikan gambar di bawah ini, jika X adalah titik perpotongan antara tali
busur AC dan garis singgung lingakran pada titik D, maka akan diperoleh hubungan
sebagai berikut:
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
113
D
C
B
A
X
O
D
C
B
A
X
O
XA XC = (XD)
2
g. Garis singgung pada lingkaran
Beberapa jenis garis singgung pada lingkaran yang dipelajari adalah:
1. Panjang garis singgung yang ditarik dari titik di luar
lingkaran
Jika sebuah garis singgung AP dibentuk dari titik A dan P, maka jari-jari OA akan tegak
lurus terhadap garis singgung AP tersebut, sehingga dengan dalil Pythagoras panjang AP
dapat ditentukan dengan hubungan berikut ini:
(OP)
2
= (AP)
2
+ r
2

2. Panjang garis singgung persekutuan luar dua lingkaran
Jika terdapat dua buah lingkaran dengan jari-jari R dan r, d merupakan jarak antara pusat
kedua lingkaran tersebut. Sebuah garis singgung persekutuan luar AB dibentuk dari titik
A dan B, maka jari-jari OA dan OB akan tegak lurus terhadap garis singgung AB
tersebut, sehingga dengan dalil pythagoras panjang AB dapat ditentukan dengan
hubungan berikut ini:
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
114
D
C
A
X
O
A
P
O
r
d
2
= (AB)
2
+ (R r)
2
3. Panjang garis singgung persekutuan dalam dua lingkaran
Jika terdapat dua buah lingkaran dengan jari-jari R dan r, d merupakan jarak antara pusat
kedua lingkaran tersebut. Sebuah garis singgung persekutuan dalam AB dibentuk dari
titik A dan B, maka jari-jari OA dan OB akan tegak lurus terhadap garis singgung AB
tersebut, sehingga dengan dalil Pythagoras panjang AB dapat ditentukan dengan
hubungan berikut ini:
d
2
= (AB)
2
+ (R + r)
2
h. Lingkaran luar, dalam singgung segitiga
Beberapa jenis lingkaran yang dibentuk dari sebuah segitiga yang dipelajari adalah:
1. Lingkaran luar sebuah segitiga
Jika diberikan sebuah ABC dengan panjang sisi-sisinya a, b dan c, maka lingkaran luar
yang dapat dibentuk dari sebuah segitiga mempunyai jari-jari sebagai berikut:
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
115
A
B
O
1
r
R
O
2
r
d
A
B
O
1
r
R
O
2
R+r
d
) )( )( ( 4
4
c s b s a s s
abc
L
abc
r
l

2. Lingkaran dalam sebuah segitiga


Jika diberikan sebuah ABC dengan panjang sisi-sisinya a, b dan c, maka lingkaran
dalam yang dapat dibentuk dari sebuah segitiga mempunyai jari-jari sebagai berikut:
s
c s b s a s
s
L
r
d
) )( )( (


3. Lingkaran singgung sebuah segitiga
Jika diberikan sebuah ABC dengan panjang sisi-sisinya a, b dan c, maka lingkaran
singgung yang dapat dibentuk dari setiap sisi segitiga tersebut mempunyai jari-jari
sebagai berikut:
) (
) )( (
) ( a s
c s b s s
a s
L
r
a



) (
) )( (
) ( b s
c s a s s
b s
L
r
b


) (
) )( (
) ( c s
b s a s s
c s
L
r
c


Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
116
C
A
B
b
a
c
c
O
r
l
r
d
B
a
C
A
b
c
c
A
B
C
r
a
O
a
b
c
B
Problem Set
1. Diketahui ABC sama sisi dengan panjang sisi a. Dari setiap sudut segitiga tersebut
dibuat 3 buah lingkaran sama besar yang saling bersinggungan seperti gambar di bawah ini.
Berapakah luas dari daerah yang diarsir?
2. Tentukan luas daerah yang diarsir pada gambar berikut ini
3. Pada gambar di bawah ini =120, jari-jari lingkaran tersebut adalah 3 cm dan panjang
AC=2 cm. Hitunglah luas tembereng ADC
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
117
5 cm
10 cm
4 cm
4 cm
4. Tentukan luas daerah yang diarsir berikut ini
5. Berapakah keliling dari daerah yang diarsir berikut ini, jika luas persegi tersebut adalah a
2
cm
2
6. Pada sebuah sudut AOB, garis OC adalah garis bagi untuk sudut tersebut.
a. Jika OK adalah sebuah garis pada sudut dalam, buktikan bahwa
2
| | KOA KOB
KOC


b. Jika OK adalah sebuah garis pada sudut luar, buktikan bahwa
2
KOA KOB
KOC
+

Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
118
7. Misalkan x dan y sudut-sudut yang saling tegak lurus. Rasio antara sudut pelurus dari x
dan y adalah
5
4
. Tentukan besar sudut x dan y !
8. Pada gambar berikut BA // FH , CB dan CF adalah garis bagi untuk sudut B dan F. Jika

40 E . Tentukan BCD !
9. Pada gambar a, jika AB // CD , AD // EC,

40 ABF ,

75 BEC . Tentukan
ECD !
Gambar (a) Gambar (b)
10. Pada gambar (b), ABC dan DEF adalah segitiga sama sisi. Jika panjang BF = 17
cm, EC = 3 cm. Tentukan jumlah dari panjang-panjang AB + AH + DH + DF !
11. Pada ABC , O adalah pertemuan garis-garis bagi dari sudut-sudut dalam . Jika
OE // BC, OD // AB dan panjang AD = 4 cm, DE = 5 cm, EC = 6 cm. Tentukan keliling dari
OED
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
119
A
C
G
E
F
H
K
B
D
40
o
A
40
o
75
o
B
F
E
C D
H
A
B E C F
D
A
B
O E
D
C
12. Diketahui AH BC, AD = DC = BH dan

20 DBC . Tentukan besar C !


13. Pada ABC ,

90 A ,

30 C , dan

15 DBC dan CE = EB. Tentukan besar


EDB !
9. Perhatikan gambar 1, ABC adalah segitiga sama sisi dengan panjang sisi a cm. Jika P
titik dalam segitiga sehingga PD // AB, PE // AC dan PF // BC, maka berapakah |PD| + |PE| +
|PF| ?
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
120
B
A
H
20
o
D
E
C
C
A
E
B
D
B
A
C
D
E
F
P
gambar 1
A B
C
D
E
gambar 2
10. Perhatikan gambar 2, jika |AB|=12 cm, |AD|=8 cm, |AD|=|AE|, DAB = 40
0
dan CDE
= 20
0
, maka berapakah |CE| ?
11. Diketahui bahwa a, b dan c adalah panjang sisi-sisi dari sebuah segitiga sama kaki ABC
yang merupakan bilangan asli. Jika terdapat hubungan (a + b + c)(a + b c)=13 di antara
panjang sisi-sisinya. Tentukan besar a, b dan c yang dimaksud.
12. Perhatikan gambar 3, jika CA AB, ADC = 20
0
, ABC = 10
0
dan |AD|=6 cm, maka
berapakah |BC| ?
13. Perhatikan gambar 4, jika A = 90
0
, B = 75
0
dan |AB|=6 cm, maka berapakah |AC| ?
14. Perhatikan gambar 5, jika DE // BC, DH // AC, EF // AB, |AD|=3 cm, |DB|=9 cm dan |
BC|=16 cm, maka tentukan |FH|
15. Berapa banyak sisi dari sebuah polygon, jika jumlah seluruh sudut dalamnya sebagai
berikut:
i. 360
0
ii. 540
0
iii. 900
0
iv. 1440
0
v. 1800
0
vi. 2160
0
vii. 2880
0
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
121
A
B
C
D
gambar 3
B
A
C
gambar 4
A
B C
D
E
F H
K
gambar 5
16. Perhatikan gambar 6, ABC adalah segitiga siku-siku dan DFBE belah ketupat. Jika |AB|
=8 cm dan |AC|=6 cm, tentukan panjang belah ketupat tersebut.
17. Perhatikan gambar 7, ABCD adalah sebuah trapezium dan AECD adalah sebuah jajaran
genjang. Jika |AE|=|EB| dan |DK|= 4 cm, maka tentukan |KN| dan |NB|.
18. Perhatikan gambar 8, titik pusat dari dua buah setengah lingkaran yang kongruen dengan
radius 2 cm adalah M dan N. Kedua buah setengah lingkaran tersebut saling bersinggungan
pada titik K. Jika M, P, T dan S, L, N masing-masing terletak pada satu garis yang sama,
maka tentukanlah |PT|
19. Pada gambar 9, segitiga ABC dengan A = 90
0
, B = 15
0
dan |BC|=16 cm, maka
berapakah luas daerah segitiga ABC ?
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
122
A B
C
D
E
F
gambar 6
A B
C D
K
N
gambar 7
M P
T
N L S
K
gambar 8
C
A
B
gambar 9
C
A B
gambar 10
D
E F
K
20. Perhatikan gambar 10, pada persegi ABCD diketahui |DE|=|EF|=|FC|. Jika jumlah luas
segitiga EKF dan AKB adalah 20 cm
2
, maka luas daerah persegi tersebut adalah?
21. Perhatikan gambar 11, diketahui bahwa DH // BC, DE // AC dan EF // AB, jika |BE|=3|
EC| dan luas daerah DEFH adalah 30 cm
2
, maka tentukan luas segitiga ABC
21. Luas sisi-sisi suatu balok adalah 14 cm
2
, 8 cm
2
, dan 7

cm
2
. Volume balok tersebut adalah....
22. Pada gambar 12 diketahui bahwa sisi dari persegi adalah 6 cm. Pada persegi tersebut
terdapat lingkaran dengan pusat O dan lingkaran dengan pusat B.. Jika |BE| = |EC|, carilah
jari-jari lingkaran yang berpusat di O
23. Pada segitiga ABC di gambar 13 terdapat jajaran genjang AFHE dan DBHE. Jika |DG| =
2 |GE| dan |AB| = 12 cm, tentukan |EH|
24. Misalkan , , , , , adalah sudut-sudut pada gambar 14, tentukan jumlah dari + +
+ + +
25. Diketahui sisi persegi pada gambar 15 adalah 1 satuan panjang. Daerah yang diarsir pada
gambar tersebut dibentuk dari 4 daerah seperempat lingkaran yang berpusat masing-masing
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
123
Gambar 12 Gambar 13
di tiap titik sudut persegi. Seperempat lingkaran yang berhadapan saling bersinggungan.
Carilah luas daerah yang diarsir!
26. Tentukan luas daerah pada gambar 16 jika diketahui |AB| = 5 cm, |BC| = 10 cm, |DC| = 13
cm, dan |AD| = 12 cm.
27. Pada persegi ABCD, busur dari lingkaran yang berpusat di B dan D digambarkan seperti
pada gambar 17. Jika diketahui panjang sisi dari persegi adalah 6 cm, maka berapa luas
daerah yang diarsir?
28. Pada persegi panjang ABCD gambar 18, lingkaran dengan pusat K berjari-jari 2 cm
bersinggungan dengan seperempat lingkaran yang berpusat di B dan sisi AD dan DC. Jika |
AB| = 8 cm, tentukan jari-jari lingkaran yang berpusat di B.

Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
124


Gambar 14
D
C
B A
Gambar 16
Gambar 18
Gambar 17
A B
C
D
4. KOMBINATORIKA, STATISTIKA DAN PELUANG
4.1. KOMBINATORIKA
Persoalan kombinatorik berkisar pada persoalan pencacahan atau klasifikasi dari suatu
pengaturan. Dasar utamanya adalah teori permutasi dan kombinasi. Sehingga kata-kata seleksi,
pola pengaturan, permutasi dan kombinasi sering kali digunakan. Pada umumnya persoalan
kombinatorik bersifat diskrit. Banyak persoalan kombinatorik sederhana sudah diketahui dan
diselesaikan oleh masyarakat umum, sebagai contoh adalah berapa banyak tim basket (terdiri
dari 5 pemain) yang bisa dibentuk bila ada 7 orang siswa.
Metode Pencacahan
Metode pencacahan dibagi menjadi dua, yaitu:
a. Pencacahan secara langsung
o Prinsip penjumlahan dan perkalian
o Permutasi
o Kombinasi
b. Pencacahan secara tidak langsung
o Prinsip Inklusi Eksklusi
Prinsip penjumlahan
o Bila suatu himpunan S terbagi ke dalam himpunan bagian S
1
, S
2
, , S
n
maka jumlah unsur dalam himpunan S akan sama dengan jumlah dari semua unsur yang ada
dalam setiap himpunan S
i
, i=1,2,,n.
o Masing-masing himpunan bagian tersebut tidak saling tumpang tindih
(overlapping).
o Bila overlapping maka digunakan Prinsip inklusieksklusi.
Prinsip penjumlahan dapat dinyatakan dalam bentuk kombinatorik sbb:
Misalkan ada sebanyak r
1
cara mengambil bola di kotak pertama, dan r
2
cara mengambil bola di
kotak kedua, dan seterusnya. Maka ada r
1
+ r
2
+ + r
k
cara untuk mengambil bola dari salah satu
kotak yang ada.
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
125
Contoh 4.1
Seorang guru di SMP Harapan mengajar di kelas 1, 2 dan 3. Jumlah murid kelas 1 adalah 30, di
kelas 2 adalah 32 dan kelas 3 adalah 27. Maka banyaknya murid yang diajar oleh guru tersebut
pada SMP Harapan adalah 30 + 32 + 27 = 89.
Contoh 4.2
Seorang akan membeli sebuah mobil dan dihadapkan pada 3 merek kendaraan yaitu Toyota,
Honda, dan Daihatsu. Untuk mobil merek Toyota ada 7 jenis pilihan, Honda ada 4 jenis pilihan,
dan Daihatsu ada 2 jenis pilihan. Maka orang tersebut mempunyai pilihan sebanyak ?
Prinsip perkalian
Bila suatu kejadian dapat terjadi dalam m cara dan kejadian lain dapat terjadi dalam n cara, maka
akan ada m x n cara kedua kejadian tersebut dapat terjadi.
Kejadian dapat merupakan jumlah dari cara pengaturan suatu pola atau pencacahan sejumlah
objek.
Contoh 4.3
Sebuah rumah makan akan membuat paket menu yang terdiri dari : sup, salad, steak dan es krim.
Bila rumah makan tersebut mempunyai 4 jenis sup, 2 jenis salad, 5 jenis steak dan 3 jenis es
krim. Berapa paket menu yang dapat dibuat ?
Penyelesaian
Banyak paket menu = 4 2 5 3 = 120 paket menu
Contoh 4.4
Berapa banyak bilangan 4 digit yang dapat dibentuk dari angka 0, 2, 3 dan 5
a. jika semua angka boleh berulang?
b. jika angka tidak boleh berulang?
c. jika angka tidak berulang dan merupakan kelipatan 2?
Penyelesaian
Banyak bilangan 4 digit yang dapat dibentuk dari angka 0, 2, 3 dan 5 adalah:
a. 4 4 4 4 = 256
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
126
b. 4 3 2 1 = 24
c. 3 2 1 2 = 12
Prinsip Dasar
Banyak persoalan counting tidak dapat diselesaikan hanyak dengan prinsip perkalian ataupun
penjumlahan saja melainkan harus kombinasi keduanya
Contoh 4.5
Berapa banyak bilangan 4 digit yang dapat dibentuk dari angka 0, 2, 3 dan 5, dimana angka
pertama tidak boleh 0, tidak ada angka berulang serta bilangan tersebut habis dibagi 5?
Jawab :
Banyaknya angka tersebut adalah
3 2 1 1 + 2 2 1 1 = 6 + 4 = 10
Problem Set
1. Setiap user pada sistem komputer memiliki password yang
terdiri dari 6 sampai 8 karakter, dimana karakter tersebut terdiri dari huruf besar atau angka.
Setiap password harus mengandung paling sedikit satu angka. Berapa banyak password yang
dapat dibuat?
2. Berapa banyak barisan angka 0 dan 1 dengan panjang empat
dan tidak terdapat dua angka 1 berturutan?
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
127
3. Di suatu acara pesta ada 20 orang yang saling bersalaman.
Banyaknya salaman yang terjadi ialah
4. Ada banyak bilangan yang terdiri dari 3 angka yang jika dibagi
7 dan 8 tidak bersisa. Hitunglah banyaknya bilangan tersebut !
5. Berapakah bilangan terbesar dari bilangan-bilangan 3 angka
yang dimaksud ?
6. Sebuah keluarga mempunyai 3 orang anak. Saudara tahu
bahwa satu diantaranya perempuan. Berapakah probabilitas kedua anaknya perempuan ?
Konsep dasar yang sering digunakan dalam permutasi dan kombinasi adalah konsep bilangan
faktorial (n!), yang didefinisikan sebagai berikut:
n! = n (n-1) (n-2) 2 1
dimana n adalah bilangan asli.
4.1.1. Permutasi
Permutasi n obyek berbeda x
1
, x
2
, , x
n
adalah penyusunan obyek tersebut dalam suatu urutan
tertentu dimana n! adalah permutasi dari n elemen.
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
128
0
1
0
0
0
1
0
1
0
0
0
0
1
0
1
0
1
1
Contoh 4.6
3! = 6 adalah permutasi dari 3 elemen a, b, c :
abc bac cab
acb bca cba
Permutasi-r
Permutasi r dari n elemen x
1
, x
2
, , x
n
yang berbeda adalah penyusunan r elemen dengan r < n.
Teorema 5.7
Untuk r < n, maka banyaknya permutasi r dari n objek yang berbeda adalah
)! (
!
) , (
r n
n
r n P

atau
) 1 ( ) 2 )( 1 ( ) ( + r n n n n n,r P
Contoh 4.8
Misalkan seorang salesman harus mengunjungi 8 kota yang berbeda, dimana dia harus mulai dari
sebuah kota dan mengunjungi ke tujuh kota lain dengan urutan sesuai keinginan salesman
tersebut. Berapa banyak cara salesman tersebut dapat mengunjungi kota-kota tersebut dengan
urutan yang berbeda?
Penyelesaian
Karena kota pertama ditentukan maka untuk mengunjungi ke tujuh kota lain ada 7! =
7.6.5.4.3.2.1 = 5040 cara
4.1.2. Kombinasi
Misalkan X = { x
1
, x
2
, , x
n
} adalah himpunan yang mengandung n elemen yang berbeda.
Kombinasi r dari X adalah penyusunan (tanpa memperhatikan urutan) r elemen dari X, untuk r <
n.
Banyaknya kombinasi r dari himpunan X adalah berupa koefisien binomial yaitu :
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
129
)! ( !
!
) , (
r n r
n
r n C

Contoh 4.9
Berapa banyak cara dapat memilih 5 orang pemain tenis untuk membentuk suatu grup dari 10
orang pemain?
Penyelesaian
cara C 252
! 5 ! 5
! 10
! ) 5 10 ( ! 5
! 10
) 5 , 10 (

Contoh 4.10
Berapa banyak cara membagikan 5 buah kartu kepada 4 orang pemain jika banyaknya kartu ada
52 buah.
Penyelesaian
Karena setiap pemain aakan memperoleh 5 kartu maka kartu yang tersisa adalah 52-5.4=32,
sehingga banyak cara untuk membagikan kartu tersebut pada keempat pemain adalah:
! 32 ! 5 ! 5 ! 5 ! 5
! 52
Problem Set
1. Dari 367 orang maka paling sedikit terdapat 2 orang yang lahir pada tanggal yang sama,
buktikan
2. Dari 26 kata dalam Bahasa Indonesia maka paling sedikit terdapat 2 kata yang dimulai
dengan huruf yang sama, buktikan
4.2. STATISTIKA
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
130
4.2.1 PENGERTIAN DASAR STATISTIKA
Statistika adalah ilmu yang mempelajari bagaimana mengumpulkan,
menganalisis dan menginterpretasikan data mengenai suatu kegiatan
tertentu dan mengambil kesimpulan, dalam keadaan dimana terdapat
ketidakpastian.
Dalam prakteknya, statistika digunakan untuk berbagai bidang seperti ekonomi, politik,
psikologi, kedokteran, kimia, fisika, biologi, geografi, komunikasi, dsb.
Secara umum statistika dibagi menjadi dua kelompok utama, yaitu:
1. Statistika Deskriptif
Statistika Deskriptif berusaha menjelaskan, meringkas dan
menggambarkan karakteristik-karakteristik penting dari data, seperti
rata-rata, median, penyajian dalam bentuk tabel atau grafik.
2. Statistika Inferensi
Statistika inferensi berusaha membuat penaksiran, keputusan, peramalan
atau generalisasi terhadap suatu populasi berdasarkan sampel yang
diambil dari populasi tersebut.
Beberapa pengertian penting yang harus diketahui dalam statistika adalah datum, data, populasi,
sampel dan skala pengukuran data.
Datum adalah sebuah informasi yang didapat dari fenomena yang diamati. Kumpulan dari datum
disebut data. Secara umum data dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu data kualitatif (data
kategorik) dan data kuantitatif (data numerik).
Data kualitatif (data kategorik) adalah data yang dinyatakan bukan dalam bentuk angka seperti
jenis kelamin (laki-laki, perempuan), tingkat pendidikan (SD, SMP, SMA, Diploma, S-1, S-2, S-
3), kecenderungan (tidak setuju, kurang setuju, biasa, setuju, sangat setuju), dan sebagainya.
Data kuantitatif (data numerik) adalah data yang dinyatakan dalam bentuk angka seperti suhu,
tinggi badan, berat badan, banyaknya mahasiswa di suatu universitas, dan sebagainya. Data
numerik dapat dibedakan lagi menjadi data diskrit dan data kontinu. Suhu, tinggi badan dan berat
badan termasuk data kontinu sedangkan banyaknya mahasiswa, jumlah anak, banyaknya
kecelakaan merupakan data diskrit. Data diskrit adalah data yang diperoleh dengan cara
mencacah. Sementara data kontinu adalah data yang diperoleh dengan cara mengukur.
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
131
Populasi adalah himpunan data yang mencirikan suatu fenomena yang akan diamati. Sedangkan
sampel adalah bagian dari populasi yang diambil dengan cara tertentu.
Contoh 4.11
Berikut adalah data dari 40 orang siswa kelas XI A di SMP XYZ
Tabel 1
Data siswa kelas XI A SMP XYZ
No
Tingg
i
Badan
Berat
Badan
Jenis
Kelamin
No
Tingg
i
Badan
Berat
Badan
Jenis
Kelamin
1 152 41 Perempuan 21 170 65 Perempuan
2 167 60 Laki-laki 22 168 63 Perempuan
3 148 39 Perempuan 23 168 53 Perempuan
4 175 72 Laki-laki 24 177 68 Perempuan
5 162 56 Perempuan 25 174 71 Laki-laki
6 162 60 Perempuan 26 168 64 Perempuan
7 180 75 Laki-laki 27 164 49 Perempuan
8 170 75 Laki-laki 28 170 59 Laki-laki
9 172 62 Laki-laki 29 168 60 Laki-laki
10 180 80 Laki-laki 30 164 45 Perempuan
11 172 72 Laki-laki 31 167 48 Perempuan
12 159 53 Perempuan 32 167 58 Perempuan
13 168 55 Perempuan 33 160 58 Laki-laki
14 168 60 Laki-laki 34 175 70 Laki-laki
15 172 65 Laki-laki 35 169 70 Laki-laki
16 174 72 Laki-laki 36 173 90 Laki-laki
17 159 48 Perempuan 37 152 39 Perempuan
18 170 62 Perempuan 38 150 38 Perempuan
19 161 59 Perempuan 39 165 60 Laki-laki
20 172 85 Laki-laki 40 165 55 Perempuan
Dari data diatas, data tinggi badan dan berat badan merupakan data kuantitatif, sedangkan data
jenis kelamin merupakan data kualitatif.
4.2.2. UKURAN PEMUSATAN DATA
Ukuran pemusatan data (ukuran tendensi sentral) adalah ukuran yang
menunjukkan pusat data. Ukuran-ukuran tersebut adalah mean (rataan),
median dan modus.
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
132
Pada materi ini pembahasan tentang ukuran pemusatan data akan dibagi menjadi dua bagian
yaitu ukuran pemusatan untuk data tunggal dan ukuran pemusatan untuk data berkelompok.
4.2.2.1. Ukuran Pemusatan Data Tunggal
a. Rata-rata (Mean)
Di lain pihak, jika n
x x x x , , , ,
3 2 1

adalah nilai-nilai pengamatan dari suatu data maka:
Contoh 4.12
Nilai ujian biologi dari 10 orang siswa yang dipilih secara acak adalah 83, 56, 63, 78, 82, 35, 44,
70, 62, dan 53, hitunglah rata-rata nilai yang diperoleh kesepuluh siswa tersebut!
Penyelesaian
Rata-rata nilai yang diperoleh kesepuluh siswa tersebut adalah
6 , 62
10
626
10
53 62 70 44 35 82 78 63 56 83

+ + + + + + + + +
x
b. Median
Misalkan n
x x x x , , , ,
3 2 1

adalah nilai-nilai pengamatan dari suatu data yang telah diurutkan
dari yang terkecil sampai terbesar atau sebaliknya, maka median adalah nilai yang tepat berada
di tengah-tengah jika banyaknya pengamatan ganjil dan rata-rata dari dua nilai yang berada di
tengah jika banyaknya pengamatan genap.
Median dilambangkan dengan x
~
.
Contoh 4.13
Tentukan median dari contoh 2
Penyelesaian
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
133
Rata-rata (mean) adalah
n
x
x
n
i
i

1
Sebelum menentukan median dari data, terlebih dahulu data akan diurutkan dari yang terkecil
sampai terbesar, yaitu:
35, 44, 53, 56, 62, 63, 70, 78, 82, 83
x
~
Karena banyaknya pengamatan genap, n = 10, maka median dari data di atas adalah rata-rata dari
dua nilai yang berada di tengah yaitu nilai ke-5 dan ke-6,
5 , 62
2
63 62
~

+
x
c. Modus
Modus dari suatu data adalah nilai yang paling sering muncul atau yang mempunyai frekuensi
yang paling tinggi
Contoh 4.14
Tentukan modus dari data berikut: 9 9 9 3 3 6 7 8 2 10 10 5 5 3
Penyelesaian
Modus dari data ini adalah nilai yang paling sering muncul atau yang mempunyai frekeunsi
tinggi yaitu 9 yang muncul sebanyak 3 kali.
Catatan:
Jika suatu data mempunyai dua modus disebut bimodus
Suatu data dapat tidak mempunyai modus.
4.2.2.2. Ukuran Pemusatan Data Berkelompok
a. Rata-rata (Mean)
Untuk data yang berkelompok seperti pada tabel distribusi frekuensi yang telah dipelajari
sebelumnya, maka rata-rata dapat ditentukan dengan:
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
134
n
x f
x
k
i
i i

1
dimana: k = banyak kelas
n = banyaknya pengamatan
i
x
= titik tengah kelas ke-i
i
f
= frekuensi kelas ke-i
Contoh 4.15
Tentukan rata-rata dari data yang disajikan pada tabel berikut!
Distribusi Frekuensi Berat Badan Siswa Kelas XI A SMP XYZ
Kelas Batas Kelas Tepi Kelas Titik Tengah Frekuensi
I 38 46 37,5 46,5 42 5
II 47 55 46,5 55,5 51 7
III 56 64 55,5 64,5 60 14
IV 65 73 64,5 73,5 69 9
V 74 82 73,5 82,5 78 3
VI 83 91 82,5 91,5 87 2
Penyelesaian
Kelas
Titik Tengah
( )
i
x
Frekuensi
( )
i
f
i i
x f
I 42 5 210
II 51 7 357
III 60 14 840
IV 69 9 621
V 78 3 234
VI 87 2 174
n = 40
2436
i i
f x

Dari tabel diperoleh bahwa:


6
1
2436
60, 9
40 40
i i
i
f x
x

Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
135
b. Median
Median untuk data berkelompok dapat ditentukan dengan:
dimana:
med
b
= tepi bawah kelas yang memuat median
l = lebar interval kelas
n = banyaknya pengamatan
( )
med
f
= jumlah frekuensi sebelum kelas yang memuat median
med
f
= frekuensi kelas yang memuat median
Contoh 4.16
Tentukan median dari data yang disajikan pada Contoh 4!
Penyelesaian
Kelas Tepi kelas
Frekuensi
( )
i
f
I 37,5 46,5 5
II 46,5 55,5 7
III 55,5 64,5 14
IV 64,5 73,5 9
V 73,5 82,5 3
VI 82,5 91,5 2
n = 40
Banyaknya pengamatan dari data ini adalah 40, maka median akan berada pada kelas III
(Mengapa?), sehingga
5 , 55
med
b
; l = 9 ;
( ) 12

med
f
dan
14
med
f
.
Jadi mediannya adalah
( )
64 , 60
14
8
9 5 , 55
14
12 20
9 5 , 55
2 ~

,
_

+
,
_

,
_

+

med
med
med
f
f
n
l b x
c. Modus
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
136
( )

,
_

+

med
med
med
f
f
n
l b x
2 ~
Modus untuk data berkelompok dapat ditentukan dengan:
dimana:
mod
b
= tepi bawah kelas yang memuat modus
l = lebar interval kelas
n = banyaknya pengamatan
1
= selisih antara frekuensi kelas modus dengan frekuensi kelas sebelum kelas
modus
2
= selisih antara frekuensi kelas modus dengan frekuensi kelas sesudah kelas
modus
Contoh 4.17
Tentukan modus dari data yang disajikan pada Contoh 4!
Penyelesaian
Kelas Tepi kelas
Frekuensi
( )
i
f
I 37,5 46,5 5
II 46,5 55,5 7
III 55,5 64,5 14
IV 64,5 73,5 9
V 73,5 82,5 3
VI 82,5 91,5 2
n = 40
Modus untuk data ini berada pada kelas III (Mengapa?), sehingga
5 , 55
mod
b
; l = 9 ;
7 7 14
1
dan 5 9 14
2
.
Jadi
75 , 60
12
7
9 5 , 55
5 7
7
9 5 , 55
2 1
1
mod

,
_

+
,
_

+
+

,
_

+ l b Modus
4.2.3. RATA-RATA GABUNGAN
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
137

,
_

+
2 1
1
mod
l b Modus
Dua kelompok data (atau lebih) yang diketahui nilai rata-rata dan
frekuensinya, jika digabung maka rata-rata gabungannya adalah:
1 1 2 2
1 2
. . x f x f
x
f f
+

+
dimana:
1
x
= rata-rata data I
f
1
= frekuensi data I
2
x
= rata-rata data II
f
2
= frekuensi data II
Beberapa ukuran numerik lain yang sering dijumpai dalam statistik adalah rata-rata geometrik,
rata-rata harmonik dan koefisien keragaman.
4.2.4. RATA-RATA GEOMETRIK DAN RATA-RATA HARMONIK
Rata-rata yang telah kita pelajari sebelumnya disebut juga rata-rata aritmatika. Disamping rata-
rata aritmatika, terdapat jenis rata-rata lain yaitu rata-rata geometrik dan rata-rata harmonik.
Rata-rata Aritmatik
Rata-rata Geometrik
Rata-rata Harmonik
Contoh 4.18
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
138
1 2
n
G n
x x x x L
1 2
1 1 1
H
n
n
x
x x x

+ + + L
( )
1 2
1
A n
x x x x
n
+ + + L
Tentukan rata-rata aritmatik, rata-rata geometrik, dan rata-rata harmonik dari data berikut:
9 9 9 3 3 5 6 7 8 2 10 10 5 5 3
Penyelesaian
( )
1
9 9 9 3 3 5 6 7 8 2 10 10 5 5 3 6, 27
15
A
x + + + + + + + + + + + + + +
15
9 9 9 3 3 5 6 7 8 2 10 10 5 5 3 5, 60
G
x
15
4,89
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1
9 9 9 3 3 5 6 7 8 2 10 10 5 5 3
H
x
+ + + + + + + + + + + + + +
Catatan:
Pada umumnya, hubungan antara ketiga rata-rata ini adalah
A G H
x x x
Problem Set
1. Perhatikan tabel berikut ini:
Nilai ujian 3 4 5 6 7 8 9
Frekuensi 3 5 12 17 14 6 3
Seorang siswa dinyatakan lulus jika nilai ujiannya lebih tinggi dari nilai
rata-rata dikurangi 1. Dari tabel di atas, berapakah jumlah siswa yang
lulus?
2. Tes matematika diberikan kepada tiga kelas siswa berjumlah 100
orang. Nilai rata-rata kelas pertama, kedua, dan ketiga adalah 7, 8, dan
7,5. Jika banyaknya siswa kelas pertama 25 orang dan kelas ketiga 5
orang lebih banyak dari kelas kedua, maka nilai rata-rata seluruh siswa
adalah ..
3. Umur rata-rata dari suatu kelompok yang terdiri dari dokter dan jaksa
adalah 40 tahun. Jika umur rata-rata para dokter adalah 35 tahun dan
umur rata-rata para jaksa adalah 50 tahun, maka perbandingan
banyaknya dokter dan jaksa adalah ..
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
139
4. Rata-rata 15 bilangan adalah 13,4. Rata-rata 8 bilangan pertama
adalah 12,5 sedangkan rata-rata 6 bilangan kedua adalah 14,5, maka
bilangan ke-15 adalah .
5. Seorang pekerja toko memiliki 4 kantong berisi kentang yang masing-
masing beratnya kurang dari 100 kg. Neraca yang akan dipergunakan
hanya dapat menimbang benda yang beratnya lebih dari 100 kg. Ia
memecahkan masalah ini dengan menimbang 2 kantong sekaligus. Hasil
penimbangan yang diperolehnya adalah 103 kg, 105 kg, 106 kg, 106 kg,
107 kg, dan 109 kg. Berat kantong yang paling ringan adalah
4.3. PELUANG
4.3.1. PELUANG SUATU KEJADIAN
4.3.1.1. Ruang Sampel dan Kejadian
Terdapat beberapa pengertian penting yang perlu diketahui sebelum
mempelajari peluang suatu kejadian, yaitu pengertian tentang percobaan
(eksperimen) acak, ruang sampel (ruang contoh), titik sampel (titik contoh),
dan kejadian.
Konsep peluang (probabilitas) berhubungan dengan percobaan
(eksperimen) yang memberikan hasil yang tidak pasti, artinya walaupun
percobaan tersebut diulang pada kondisi yang sama akan memberikan hasil
yang dapat berbeda-beda. Himpunan semua hasil yang mungkin dari suatu
percobaan disebut ruang sampel (ruang contoh) yang dinotasikan dengan
S. Anggota dari suatu ruang sampel disebut titik sampel (titik contoh).
Banyaknya titik sampel dinotasikan n(S). Sedangkan definisi dari kejadian
adalah himpunan bagian dari suatu ruang sampel. Jika suatu percobaan telah
dilakukan dan hasil yang diperoleh termasuk dalam himpunan bagian A,
maka dikatakan bahwa kejadian A telah terjadi.
Beberapa catatan penting yang perlu diperhatikan adalah:
Kejadian ditulis dengan huruf besar A, B, C, ..
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
140
Gabungan kejadian A dan B dinotasikan dengan B A ,
Irisan kejadian A dan B dinotasikan dengan B A
Komplemen kejadian A (kejadian selain kejadian A) dinotasikan dengan
C
A
Ingat Dalil De Morgan, bahwa:
( )
C C C
B A B A
( )
C C C
B A B A
Contoh 4.19
Misalkan sebuah percobaan acak berupa pelemparan sebuah dadu. Kejadian
A adalah munculnya mata dadu ganjil dan dan kejadian B adalah munculnya
mata dadu yang lebih besar dari 2. Tentukan ruang sampel S, kejadian A, B,
B A , B A ,
C
A
, dan
C
B
.
Penyelesaian
S = {1, 2, 3, 4, 5, 6}
A = {1, 3, 5}
B = {3, 4, 5, 6}
B A = {1, 3, 4, 5, 6}
B A = {3, 5}
C
A
= {2, 4, 6}
C
B
= {1, 2}
4.3.1.2. Peluang Suatu Kejadian
Definisi dari peluang adalah sebagai berikut:
Misalkan suatu ruang sampel S mempunyai N hasil yang mungkin yang banyaknya berhingga
dan masing-masing mempunyai kemungkinan yang sama untuk terjadi. Misalkan A adalah suatu
kejadian yang mempunyai k hasil, maka peluang kejadian A adalah:
Contoh 4.20
Dari contoh 2.13, hitunglah P(A), P(B), dan P( B A )
Penyelesaian
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
141
( )
N
k
A P
Banyaknya hasil yang mungkin pada eksperimen ini = 6
Banyaknya hasil yang mungkin pada kejadian A = 3, sehingga
( )
2
1
6
3
A P
Banyaknya hasil yang mungkin pada kejadian B = 4, sehingga
( )
3
2
6
4
A P
Banyaknya hasil yang mungkin pada kejadian B A = 2, sehingga
( )
3
1
6
2
B A P
Sifat-sifat Peluang :

( ) 1 0 A P

( ) 0 P
Kejadian yang tidak pernah terjadi

( ) 1 S P Kejadian yang pasti terjadi


4.3.1.3. Peluang Komplemen Suatu Kejadian
Misalkan S adalah ruang sampel dengan n(S) = N, A adalah kejadian pada ruang sampel S
dengan n(A) = k, dan
C
A
adalah komplemen pada kejadian A, maka ( ) k N A n
C
.
Akibatnya, peluang dari komplemen kejadian A adalah:
Contoh 4.21
Untuk contoh 10, tentukan ) (
C
A P dengan menggunakan definisi di atas!
Penyelesaian
Karena
( )
2
1
A P
, maka
( ) ( )
2
1
2
1
1 1 A P A P
C
4.3.1.4. Frekuensi Harapan Suatu Kejadian
Jika A adalah suatu kejadian pada ruang sampel S dengan peluang P(A), maka frekuensi harapan
munculnya kejadian A dalam M kali percobaan adalah
( ) M A P
.
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
142
( ) ( ) A P
N
k
N
k N
A P
C

1 1
Contoh 4.22
Jika percobaan pada contoh 10 dilakukan sebanyak 300 kali. Tentukan frekuensi harapan
munculnya kejadian A?
Penyelesaian
Diketahui
( )
2
1
A P
, maka frekuensi harapan munculnya kejadian A adalah
150 300
2
1

kali.
4.3.2. PELUANG KEJADIAN MAJEMUK
Pada sub bab ini, kita akan membahas bagaimana peluang suatu kejadian yang merupakan
gabungan atau irisan dari dua kejadian yang lain. Selain itu, pada sub bab ini juga akan dibahas
tentang peluang bersyarat, kejadian saling lepas, kejadian saling bebas dan teorema Bayes.
4.3.2.1. Gabungan Dua Kejadian
Dari sifat fungsi himpunan diketahui bahwa:
( ) ( ) ( ) ( ) B A n B n A n B A n +
Maka berdasarkan hal ini, peluang gabungan kejadian A dan B adalah:
Contoh 4.23
Misalkan sebuah percobaan acak berupa pelemparan sebuah dadu. Kejadian
A adalah munculnya mata dadu ganjil dan dan kejadian B adalah munculnya
mata dadu yang lebih besar dari 2. Tentukan P( B A )!
Penyelesaian
S = {1, 2, 3, 4, 5, 6}
A = {1, 3, 5} ( )
6
3
A P
B = {3, 4, 5, 6} ( )
6
4
B P
B A = {3, 5} ( )
6
2
B A P
maka
( ) ( ) ( ) ( ) B A P B P A P B A P +
6
2
6
4
6
3
+ =
6
5
4.3.2.2. Kejadian Saling Lepas
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
143
( ) ( ) ( ) ( ) B A P B P A P B A P +
Jika
{ } B A
, maka peluang gabungan dua kejadian adalah
( ) ( ) ( ) B P A P B A P +
.
Dalam keadaan ini, A dan B disebut dua kejadian yang saling lepas.
Contoh 4.24
Misalkan sebuah percobaan acak berupa pelemparan sebuah dadu. Kejadian
A adalah munculnya mata dadu ganjil dan dan kejadian B adalah munculnya
mata dadu genap. Tentukan P( B A )!
Penyelesaian
A = {1, 3, 5} ( )
6
3
A P
B = {2, 4, 6} ( )
6
3
B P
B A = { }
( ) 0 B A P
maka
( ) ( ) ( ) B P A P B A P +
6
3
6
3
+ = 1
Perhatikan contoh 4.24, terlihat bahwa dua kejadian disebut saling lepas jika
kedua kejadian tersebut tidak dapat terjadi secara bersamaan.
4.3.2.2. Peluang Bersyarat
Peluang bersyarat adalah peluang suatu kejadian yang bergantung pada
kejadian lainnya.
Jika A dan B adalah dua kejadian dalam ruang sampel S maka peluang kejadian A dan B dapat
ditentukan bahwa:
( ) ( ) ( ) A B P A P B A P |
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
144
Peluang bersyarat dari kejadian B jika diketahui kejadian A
telah terjadi adalah:
( )
( )
( ) A P
B A P
A B P

|
;
( ) 0 > A P
atau
( ) ( ) ( ) B A P B P B A P |
Contoh 4.25
Tiga bola lampu yang sudah rusak secara tidak sengaja tercampur dengan 8 bola lampu yang
masih baik. Bila dua bola lampu diambil secara acak dan tanpa pengembalian, hitunglah:
a) peluang bahwa kedua bola lampu masih baik
b) peluang bahwa kedua bola lampu rusak
c) peluang bahwa terambil satu bola lampu rusak dan satu yang masih baik
Penyelesaian
Misalkan A
1
= kejadian terambilnya bola lampu pertama baik
A
2
= kejadian terambilnya bola lampu kedua baik
B
1
= kejadian terambilnya bola lampu pertama rusak
B
2
= kejadian terambilnya bola lampu kedua rusak
a) Peluang kedua bola yang terambil baik = ( )
1 2
P A A
Berdasarkan definisi peluang bersyarat maka
( ) ( ) ( )
1 2 1 2 1
| A A P A P A A P

10
7
11
8

55
28
110
56

b) Peluang kedua bola yang terambil baik = ( )
1 2
P B B
Berdasarkan definisi peluang bersyarat maka
( ) ( ) ( )
1 2 1 2 1
| B B P B P B B P

10
2
11
3

55
3
110
6

c) Kejadian terambil satu bola lampu rusak dan satu baik mempunyai dua kemungkinan yaitu
lampu pertama baik dan lampu kedua rusak (A
1
B
2
) atau lampu pertama rusak dan lampu
kedua baik (B
1
A
2
).
( ) ( ) ( )
1 2 1 2 1
| A B P A P B A P

10
3
11
8

55
12
110
24


( ) ( ) ( )
1 2 1 2 1
| B A P B P A B P
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
145

10
8
11
3

55
12
110
24

Maka P ( 1 rusak, 1 baik) = ( ) ( )
1 2 1 2
P A B P B A +
=
55
12
55
12
+
=
55
24
Problem Set
1. Dua kartu bridge diambil berurutan secara acak dari satu set kartu
bridge. Kartu pertama dikembalikan dan kartu diacak kembali setelah itu
kartu kedua diambil. Berapa probabilitas paling sedikit satu dari kedua
kartu yang diambil adalah As?
2. Seorang siswa menghadapi 3 jenis test: Matematika, Fisika, dan
Biologi. Peluang ia lulus berturut-turut adalah 8/10, 9/10, dan 7/10.
Tentukan peluang ia lulus paling sedikit 1 jenis test.
3. Sebuah kotak terdiri dari 6 pulpen merah, 7 pulpen hijau dan 3 pulpen
biru. Jika 4 pulpen diambil secara acak tanpa pengembalian, hitunglah
probabilitas bahwa tidak satupun dari yang terpilih berwarna merah!
4. Suatu keranjang berisi 25 salak dan 2 diantaranya busuk. Jika kita
mengambil 3 salak sekaligus, maka probabilitas terambilnya salak baik
semua adalah
5. Probabilitas 3 penembak menembak tepat pada sasarannyamasng-
masing 1/6, , dan 1/3. Masing-masing mendapat kesempatan satu kali
untuk menembak ke arah sasaran. Berapa probabilitas hanya seorang
yang tepat menembak mengenai sasaran?
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
146
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
147
SOAL OLIMPIADE SAINS NASIONAL
TINGKAT PROVINSI, TAHUN 2005
BIDANG MATEMATIKA
A. SOAL ISIAN SINGKAT
1. Perhatikan segi enam berikut ini. Banyaknya segitiga yang dapat ditemukan pada gambar
tersebut adalah:
2. Bilangan asli n terbesar yang memenuhi
2005
3 2 1
<
+ + + +
n
n
adalah
3. Bilangan A adalah bilangan asli terkecil yang merupakan hasil kali dari 3 bilangan prima
pertama. Dua buah bilangan antara 200 dan 300 yang memiliki faktor prima tepat sama
dengan bilangan A tersebut adalah
(Catatan: 10 dan 30 punya faktor prima yang tidak tepat sama, sedangkan 12 dan 18
memiliki faktor prima yang tepat sama)
4. Semua pasangan bilangan asli m dan n yang memenuhi persamaan
1
3 2
+
n m
adalah
5. Bilangan 45 dapat dinyatakan sebagai selisih dari bilangan kuadrat, yakni
2 2
b a ,
dengan a dan b adalah bilangan asli. Semua pasangan bilangan asli a dan b yang memenuhi
45
2 2
b a adalah
6. 16 dapat dinyatakan sebagai 3x + 7y sebab jika x diganti dengan 3 dan y diganti dengan 1,
maka diperoleh 3.3+7.1 yang bernilai 16. 7 (tujuh) bilangan antara 100 dan 122 yang dapat
dinyatakan ke dalam bentuk 6x + 9y adalah
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
148
7. Tiga bilangan bulat membentuk kumpulan data yang berata-rata 10. Banyaknya
kombinasi bilangan yang mungkin (sebutkan juga datanya), jika diketahui selisih data
terbesar dan terkecilnya tidak lebih dari 4 adalah
8. H adalah himpunan yang didefinisikan oleh { x B| x
2
10, x - 1 < 2 } dengan B adalah
himpunan bilangan bulat. Banyaknya himpunan bagian tak kosong dari H adalah
9. Bilangan-bilangan real x yang memnuhi 0
1 2
1 2
2
2
+
x x
x x adalah
10. Dalam menentukan jawab perkalian bilangan 1493 dan 1507, seorang anak
mengurangkan langsung 49 dari 2.250.000. Dia sama sekali tidak mengalikan kedua bilangan
tersebut dengan panjang. Prinsip matematika yang digunakan oleh anak tersebut adalah
B. SOAL URAIAN
1. Perhatikan gambar berikut. Andaikata Anda diminta untuk mencari luas daerah di dalam
kurva ABCDE. Jika jarak terdekat dua titik secara mendatar atau vertikal adalah 5 cm,
berapakah luas segilima ABCDE ?






2. Seseorang memiliki sejumlah koin senilai 1000 rupiah. Setelah diperhatikan dengan
seksama, ternyata koin yang dimilikinya terdiri dari tiga macam koin di antara 4 macam koin
yang sekarang masih berlaku (500-an, 200-an, 100-an dan 50-an). Selidiki dan tentukan
berapa banyak kombinasi koin yang mungkin dimiliki oleh orang tersebut
3. Suatu bilangan X terdiri dari 6 angka dan dimulai dari angka 1. Jika angka pertama
dipindahkan dari ujung paling kiri ke ujung paling kanan tanpa mengubah susunan angka-
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
149
C
A
B
D
E
angka yang lainnya, bilangan yang baru terbentuk adalah tiga kali lipat bilangan semula.
Berapakah bilangan X tersebut?
4. Pada gambar di bawah, titik O adalah pusat lingkaran yang berjari-jari r. Jika panjang
ruas garis ED juga sama dengan r, buktikanlah bahwa
AOB DEC
3
1
5. Ada berapa banyakkah pasangan terurut bilangan asli (a, b), dengan syarat a < b dan
FPB(a, b) = 4 serta KPK (a, b) = 140 ?
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
150
A
B
O C
E
D
r
r
r
SOAL OLIMPIADE SAINS NASIONAL
TINGKAT PUSAT, TAHUN 2005
BIDANG MATEMATIKA
1. A adalah suatu himpunan bilangan. Himpunan A memiliki sifat tertutup terhadap
pengurangan, artinya hasil pengurangan dua bilangan di A akan menghasilkan bilangan di A
juga. Jika diketahui dua anggota dari A adalah 4 dan 9 tunjukkan bahwa:
a. 0 A
b. 13 A
c. 74 A
Selanjutnya, daftarkan semua anggota himpunan A
2. (2, 0, 4, 1) adalah salah satu selesaian/jawab dari
7
4 3 2 1
+ + + x x x x
. Jika semesta
pembicaraan pada persamaan ini adalah himpunan semua bilangan bulat tidak negatif,
tentukan banyak penyelesaian yang mungkin dari
7
4 3 2 1
+ + + x x x x
.
3. Adi adalah karyawan pada salah satu perusahaan tekstil yang bertugas menyimpan data.
Suatu ketika Adi diminta pimpinan perusahaan untuk menyiapkan data tentang kenaikan
produksi selama lima periode. Setelah dicari, Adi hanya menemukan empat data kenaikan,
yaitu 4%, 9%, 7% dan 5%. Satu lagi, yaitu data ke-5 tidak ditemukan. Selidiki data kenaikan
produksi yang ke-5, bila Adi hanya ingat bahwa rata-rata hitung dan median dari 5 data
tersebut adalah sama.
4. Tentukan semua pasangan bilangan bulat (x, y) yang memenuhi sistem persamaan:
1 ) 1 (
1 ) 1 (
2
2
+
+
x x y
y y x
5. Diketahui gambar berikut, ABCD adalah persegi dan E adalah titik sembarang di luar persegi
ABCD.
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
151
D
B A
E
C
Selidiki apakah berlaku hubungan
2 2 2 2
) ( ) ( ) ( ) ( DE BE CE AE + + ?
6. Di antara bilangan 1/5 dan 1/4 terdapat tak hingga banyak bilangan pecah. Tentukan 999
bilangan pecah di antara 1/5 dan 1/4 sehingga selisih antara bilangan pecah berikutnya
dengan bilangan pecah sebelumnya konstan.
(Maksudnya jika
999 2 1
, , , x x x
adalah bilangan pecah yang dimaksudkan, maka
998 999 3 4 2 3 1 2
x x x x x x x x
)
7. Pada gambar-gambar di bawah adalah: Gambar berikutnya diperoleh dengan menambah
gambar segitiga sama sisi berwarna hitam yang ukuran sisinya setengah dari masing-
masing segitiga warna putih yang tersisa pada gambar selanjutnya. Jika pola tersebut
berkelanjutan (kontinu) sampai tak hingga,
Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3 Gambar 4
a. Jika diketahui luas segitiga sama sisi pada gambar 1 adalah 1 satuan luas,
tentukan luas keseluruhan daerah yang dibentuk oleh segitiga-segitiga hitam pada gambar
5.
b. Andaikata anda diminta untuk menentukan luas keseluruhan luas daerah yang
dibentuk oleh segitiga-segitiga hitam pada gambar ke-20, rumus yang bagaimanakah
yang bisa anda gunakan.
8. Untuk setiap pasangan bilangan asli a dan b, kita definisikan a*b = ab + a - b. Bilangan asli x
dikatakan penyusun penyusun bilangan asli n jika terdapat bilangan asli y yang memenuhi
x*y = n. Sebagai contoh, 2 adalah penyusun 6, karena terdapat bilangan asli 4 sehingga 2*4 =
2.4 + 2 - 4 = 8 + 2 - 4 = 6. Tentukan semua penyusun 2005.
9. Tiga orang hendak makan siang di suatu rumah makan. Untuk menentukan siapakah yang
membayar, mereka membuat permainan. Masing-masing mengetos satu koin secara bersama-
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
152
sama. Jika hasilnya muka semua atau belakang semua, maka mereka mengetos lagi. Jika
tidak demikian, maka orang ganjil (yaitu orang yang koinnya muncul dari dua orang
lainnya) yang membayar. Tentukan semua banyaknya hasil yang mungkin jika permainan
berakhir pada pengetosan:
a. Pertama
b. Kedua
c. Ketiga
d. Kesepuluh
10. Diketahui bentuk n y x +
2 2
3 , dengan x dan y adalah bilangan-bilangan bulat.
a. Jika n < 20, bilangan berapa sajakah n tersebut, dan diperoleh dari pasangan (x, y)
apa saja.
Tunjukkan bahwa tidak mungkin menghasilkan
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
153
OLIMPIADE SAINS NASIONAL SMP-MTs
TAHUN 2007
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
DIREKTORAT JENDERAL MANAJEMEN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH
DIREKTORAT PEMBINAAN SEKOLAH MENENGAH PERTAMA
HARI: I
Petunjuk
1. Terdapat lima soal yang perlu Anda jawab di hari pertama.
2. Jawablah masing-masing soal secara lengkap di tempat yang
disediakan.
3. Skor masing-masing soal maksimal 7.
4. Waktu yang disediakan untuk menjawab semua soal di hari pertama ini
adalah 3 jam (180 menit).
5. Jika Anda merasa ada yang tidak jelas, silahkan mengajukan
pertanyaan kepada pengawas dengan didahului mengangkat tangan
Anda.
SOAL 1:
Satu set kartu memuat 100 kartu yang masing-masing ditulisi bilangan dari 1
sampai dengan 100. Pada setiap dua sisi kartu ditulis bilangan yang sama,
sisi pertama berwarna merah dan sisi yang lain berwarna hijau. Pertama-
tama Leny menyusun semua kartu dengan tulisan merah menghadap ke
atas. Kemudian Leny melakukan tiga langkah berikut ini:
I. Membalik semua kartu yang nomornya habis dibagi 2
II. Membalik lagi semua kartu yang nomornya habis dibagi 3
III. Membalik lagi semua kartu yang nomornya habis dibagi 5, namun tidak
membalik semua kartu yang nomornya habis dibagi 5 dan 2.
Tentukan banyak kartu Leny sekarang yang bernomor berwarna merah dan
menghadap ke atas!
SOAL 2:
Hitunglah luas daerah dari tiga daerah setengah lingkaran yang beririsan
seperti tampak pada gambar berikut.
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
154

SOAL 3:
Diketahui bahwa . 7
1
+
x
x Tentukan nilai A agar 6 / 5
1
2 4
2

+ + x x
Ax
.
SOAL 4:
Ada 13 kado berbeda yang akan dibagikan semuanya kepada Ami, Ima, Mai,
dan Mia. Jika Ami mendapat paling sedikit 4 kado, Ima dan Mai masing-
masing mendapat paling sedikit 3 kado, dan Mia mendapat paling sedikit 2
kado, ada berapa banyak susunan kado yang mungkin diperoleh?
SOAL 5:
Suatu bilangan asli disebut bilangan kuaprim jika memenuhi keempat syarat
berikut.
(i) Tidak memuat angka nol.
(ii) Angka-angka penyusun bilangan itu berbeda.
(iii) Satu angka pertama dan satu angka terakhir
merupakan bilangan prima atau bilangan kuadrat.
(iv) Setiap pasang angka berurutan membentuk bilangan
prima atau bilangan kuadrat.
Sebagai contoh, kita periksa bilangan 971643.
(i) 971643 tidak memuat angka nol.
(ii) Angka-angka penyusun 971643 berbeda.
(iii) Satu angka pertama dan satu angka terakhir dari
971643, yaitu 9 dan 3 merupakan bilangan prima atau bilangan kuadrat.
(iv) Setiap pasang angka berurutan, yaitu 97, 71, 16, 64,
dan 43 membentuk bilangan prima atau bilangan kuadrat.
Jadi 971643 merupakan bilangan kuaprim.
a. Carilah bilangan kuaprim 6-angka paling besar.
b. Carilah bilangan kuaprim 6-angka paling kecil.
c. Angka berapa yang tidak pernah termuat dalam sebarang bilangan
kuaprim? Jelaskan.
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
155
a
a
b
b
OLIMPIADE SAINS NASIONAL SMP-MTs
TAHUN 2007
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
DIREKTORAT JENDERAL MANAJEMEN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH
DIREKTORAT PEMBINAAN SEKOLAH MENENGAH PERTAMA
HARI KE 2
Petunjuk
1. Terdapat lima soal yang perlu Anda jawab di hari kedua (Soal 6 sampai
dengan Soal 10).
2. Jawablah masing-masing soal secara lengkap di tempat yang
disediakan.
3. Skor masing-masing soal maksimal 7.
4. Waktu yang disediakan untuk menjawab semua soal di hari kedua ini
adalah 3 jam (180 menit).
5. Jika Anda merasa ada yang tidak jelas, silahkan mengajukan
pertanyaan kepada pengawas dengan didahului mengangkat tangan
Anda.
SOAL 6:
Empat bangun berbentuk layang-layang seperti
gambar berikut ( a b > , dan a b bilangan asli kurang
dari 10) ditata sedemikian rupa sehingga
membentuk persegi dengan lubang berbentuk
persegi pula di tengah-tengahnya. Lubang
berbentuk persegi di tengah-tengah tersebut
memiliki keliling 16 satuan panjang. Berapakah
keliling yang mungkin diperoleh dari persegi terluar
yang terbentuk jika diketahui pula bahwa
a
dan b
adalah bilangan-bilangan yang relatif prima.
SOAL 7:
Jika
3
p
a
,
3
q
b
,
3
r
c
, dan
3
s
d
dan jika p, q, r, dan s adalah bilangan asli,
berapakah nilai terkecil dari
p q r s
yang memenuhi
2 3 5 7
a b c d + +
?
SOAL 8:
Ucok bermaksud menyusun suatu kode kunci (password) yang terdiri atas 8
angka dan memenuhi ketentuan berikut:
(i) Angka yang dipakai adalah 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9.
(ii) Angka pertama yang dipakai adalah minimal 1, angka kedua minimal 2,
angka ketiga minimal 3, dan seterusnya.
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
156
(iii) Angka yang sama bisa digunakan beberapa kali.
a) Berapa banyak password berbeda yang mungkin disusun Ucok?
b) Berapa banyak password berbeda yang mungkin disusun Ucok, jika
ketentuan (iii) diganti dengan: tidak boleh ada angka yang digunakan
lebih dari satu kali.
SOAL 9:
Untuk sebarang bilangan bulat a, b, dan c berlaku
a (b + c) = (a b) + (a c).
a. Cari contoh yang menunjukkan bahwa
a + (b c) (a + b) (a + c).
b. Kapan berlaku
a + (b c) = (a + b) (a + c)?
Jelaskan jawaban Anda.
SOAL 10:
Hasil survey terhadap N orang dengan pertanyaan apakah mereka
memelihara anjing, burung, atau kucing dirumah adalah sebagai berikut: 50
orang memelihara burung, 61 orang tidak memelihara anjing, 13 orang tidak
memelihara kucing, dan paling sedikit ada 74 orang yang memelihara paling
sedikit dua jenis binatang di rumah. Berapakah nilai maksimum dan
minimum dari nilai N yang mungkin?
Modul Matematika
PKS-SMP Science Center FMIPA-UNHAS
Januari 2008
157