Anda di halaman 1dari 15

Traksi Lumbal

Traksi lumbal adalah sebuah alat dengan tenaga mekanik ataupun manual dengan cara kerja yaitu dengan cara memisahkan atau melonggarkan sendi dan jaringan lunak (Cameron, 1999). 1. Jenis-jenis traksi lumbal American Medical Association (2008) membagi traksi menjadi traksi mekanik, traksi manual,autotraction, pneumatic traction dan dengan menggunakan teknik terus-menerus atau continuous, dan terputusputus atau intermittent. Menurut Cameron (1999) manfaat traksi lumbal adalah sebagai berikut : (1) membebaskan sendi dari gangguan-gangguan sendi (joint distraction), (2)mengurangi protursi dari hernia nukleus pulposus, (3) mangulur jaringan lunak, (4) relaksasi otot, (5) mobilisasi persendian, (6) immobilisasi. Cameron (1999) merekomendasikan dosis penggunaan traksi lumbal pada kondisi nyeri punggung bawah dengan sasaran untuk mengurangi spasme otot, menggunakan beban tarikan 25% berat badan, menggunakan traksi lumbal, teknik intermitent dengan perbandingan tarikan/waktu rileks 5/5 detik, total waktu yang diinginkan 20-30 menit, 2/3 kali per minggu,menunjukkan hasil yang signifikan dalam pengurangan nyeri dan perbaikan fungsional. Menurut Hoeker (1994) dikutip oleh Hartini (2007) menggunakan beban tarikan 25% berat badan tarikan kurang dari 10 detik pada fase tarikan menyebabkan jarak antar sendi sangat minimal, akan tetapi dapat mengaktifkan dan merangsang propioreseptor yang ada pada sendi dan otot sehingga nyeri berkurang. Sedangkan fase istirahat/rileks yang lebih pendek tetapi juga berorientasi pada kenyamanan akan berpengaruh pada perasaan panderita dan merasakan releksasi otot sesaat sebelum traksi lumbal dilanjutkan. Hal ini akan dapat mempertahankan otot dalam posisi rileks yang pada akhirnya mengurangi spasme otot, melancarkan peredaran darah sehingga nyeri bisa berkurang. Pemberian teknik intermiten lebih baik dari continous dalam hal rileksasi Cameron (1999). Posisi yang direkomendasikan oleh Thamrin (1991) dikutip oleh Hartini (2007) adalah dengan tidur terlentang tungkai diganjal sehingga terjadi fleksi paha dan lutut sebesar 90, keadaan ini sangat penting untuk mencegah hiperlordosis lumbal yang merupakan suatu posisi yang harus dihindarkan pada penderita NPB, pernyataan tersebut didukung Rachma (2002).

2. Teknik aplikasi traksi lumbal Teknik dalam aplikasi traksi ada dua cara yaitu statik dan intermiten. Dalam penelitian ini prosedur penggunaan tehnik aplikasi traksi lumbal adalah sebagai berikut : a. Penentuan alat

Menggunakan traksi elektrik dengan perangkat semi computer digital. b. Posisi pasien

Posisi yang umum adalah tidur terlantang dalam sedikit paha fleksi 85 derajat dan eksorotasi 10-15 derajat serta lutut dalam keadaan fleksi 85-90 derajat (Thamrin, 1991 dikutp oleh Hartini, 2007) c. Alat pengikat

Menggunakan alat pengikat punggung berupa sabuk ( pelvic belt) yang diikatkan di atas krista iliaka dan dihubungkan ke mesin traksi serta fiksasi pada tubuh bagian atas untuk menghindari bagian atas untuk tertariknya tubuh ke bawah akibat tarikan lumbal.

Michlle H. Cameron merekomendasi parameter yang digunakan dalam aplikasi traksi untuklumbal adalah sebagai berikut : TABEL 2.1 Parameter traksi lumbal (Cameron, 1999)

Area of spine and goals of treatment Initial/acute phase Joint distraction Decrease muscle

Force

Hold/relax times (second) static

Total traction time ( minutes) 5-10 20-30 20-30

13-20 kg

22,5 kg ; 50% of 15/15 body weight 25% of body 5/5

spasm Disc problem or strech soft tissue

weight 25% of body weight 60/20 20-30

3. Mekanisme traksi lumbal Mekanisme traksi lumbal dengan teknik intermiten dapat menurunkan nyeri oleh stimulasi dari mekanoreseptor oleh adanya oscillatory movements yang dapat mengaktifkan serabut aferen berdiamter besar sehingga diperoleh penutupan dari spinal gate (Cameron, 1999 dan Mardiman, 2001). Traksi dengan teknik intermiten juga dapat merileksasikan otot-otot punggung bawah dengan stimulasi dari golgi tendon organs (GTOs) untuk menginhibisi alfa motor neuron sehingga menurunkan spasme otot (Cameron, 1999). Johnstan (1986) dan Cryax (1982) dikutip oleh Cameron (1999) tarikan yang dihasilkan oleh traksi lumbal dengan kekuatan tarikan 50% berat badan akan mengurangi penekanan pada permukaan dari sendi faset apabila ada gangguan atau distraksi pada sendi faset yang menekan pada akar syaraf spinalis, dan dapat direkomendasikan untuk kasus HNP ringan. Swezey (1983 ) dan Basmajin (1985) dikutip oleh Cameron (1999) traksi lumbal dilaporkan juga dapat digunakan untuk mengulur jaringan lunak, panjang otot dan fleksibilitas sehingga diperoleh rileksasi otot dari otot-otot para vertebra, dengan kekuatan tarikan 25% berat badan. 4. Kontraindikasi dari traksi lumbal Kontra indikasi dari pemberian traksi lumbal menurut Dellito (1990) dikutip oleh Cameron (1999) adalah : (1) kondisi trauma akut atau inflamasi (2) hipermobilitas atau instabilitas (3) hipertensi yang tidak terkontrol (4) fraktur (5) osteoporosis (6) spondilosis (7) selama proses terapi keluhan nyeri bertambah sehingga dalam pengaplikasian traksi lumbal terapis harus selalu melakukan monitoring. TRAKSI Traksi adalah tahanan yang dipakai dengan berat atau alat lain untuk menangani kerusakan atau gangguan pada tulang dan otot. Tujuan dari traksi adalah untuk menangani fraktur, dislokasim atau spasme otot dalam usaha untuk memperbaiki deformitas dan mmpercepat penyembuhan. Ada dua tipe utama dari traksi : traksi skeletal dan

traksi kulit, dimana didalamnya terdapat sejumlah penanganan. Prinsip Traksi adalah menarik tahanan yang diaplikasikan pada bagian tubuh, tungkai, pelvis atau tulang belakang dan menarik tahanan yang diaplikasikan pada arah yang berlawanan yang disebut dengan countertraksi. Tahanan dalam traksi didasari pada hokum ketiga (Footner, 1992 and Dave, 1995). Traksi dapat dicapai melalui tangan sebagai traksi manual, penggunaan talim splint, dan berat sebagaimana pada traksi kulit serta melalui pin, wire, dan tongs yang dimasukkan kedalam tulang sebagai traksi skeletal (Taylor, 1987 and Osmond, 1999). Penggunaan traksi telah dimulai 3000 tahun yang lalu. Suku Aztec dan mesir menggunakan traksi manual dan membuat splint dari cabang pohon (Styrcula, 1994 a and Osmond, 1990) dan Hippocrates (350 BC) menulis tentang traksi manual dan tahanan ekstensi dan ekstensi yang berlawanan (Styrcula, 1994 a: 71). Pada tahun 1340 ahli bedah Perancis bernama Guy de Chauliac menulis tentang traksi isotonic dengan berat yang ditahan pada kaki tempat tidur pasien, tetapi akibat pertimbangan praktek hal ini dilakukan hingga tahun 1829 ketika traksi berkesinambungan diaplikasikan secara luas (Peltier, 1968: 1603). Sekitar tahun 1848 Josiah Crosby seorang klinisi amerika merupakan orang yang pertama mempromosikan dan menunjukkan traksi kulit yang lebih efektif tidak hanya sebagai terapi dari fraktur melainkan juga untuk menanani deformitas panggul (Peltier, 1968: 1609). Hal ini meripakan aplikasi yang membuat perhatian Gurdon Buck yang pada tahun 1861 melalui pengetahuannya terhadap kerja Crosby mempunyai traksi kulit yang dinamakan nama dirinya sendiri. Hal ini tidak dilakukan hingga pada tahun 1921 seorang ahli bedah Australia Hamilton Russel meluaskan konsep traksi Buck dengan menggunakan doktrin Potts (1780) bahwa fraktur tungkai harus ditempatkan pada posisi pada otot yang relaksm dinamakan fleksi panggul dan lutut, dengan mengembangkan traksi Hamilton Russel (Peltier, 1968: 1612). 26 tahun sebelumnya, pada bulan desember 1895, seorang professor German bernama Rntgen mempublikasikan observasinya dengan tipe baru X-Ray dimana dimulai era baru dalam penelitian fraktur (Peltier, 1968:1613). Dengan menggunakan X-Ray untuk menilai terapi fraktur, dunia ortopedi berhadapan dengan kenyataan dimana terapi traksi Buck tidak memuaskan 100% pada semua kasus dan tahun 1907 Fritz Steinmann secara sukses mengembangkan traksi skeletal dengan menggunakan pin yang dimasukkan kedalam kondylus femur. (Peltier, 1968: 1615). Traksi telah menjadi sebuah ketetapan dalam management ortopedi hingga 1940 ketika fiksasi internal menggunakan nail, pin dan plate menjadi praktek yang sering. Pengembangan ini berpasangan dengan

kurangnya pembedahan fraktur dengan kebutuhan ekonomi untuk perawatan rumah sakit yang lebih Penggunaan Traksi telah didokumentasikan melalui banyak literature : traksi digunakan untuk mempromosikan istirahat/imobilisasi, dimana membuat keurusan tulang dan jaringan lunak menyembuh (Taylor, 1987; Dave 1995 and Redemann, 2002). Hal ini menolong untuk mengistirahatkan inflamasi yang ada dan mengurangi nyeri (Taylor, 1987; Dave, 1995 and Osmond, 1999). Osmond (1999) Menyatakan bahwa hal ini mengurangi subluksasi atau dislokasi dari sendi dan Styrcula (1994a) serta Rosen, Chen, Hiebert dan Koval (2001) memberikan kredit dalam penggunaan traksi dengan reduksi tahanan yang dibutuhkan ketika melakukanreduksi fraktur selama pembedahan. Akhirnya, traksi juga dikatakan untuk membantu pergerakan dan latihan (Dave, 1995 and Redemann, 2002). Mekanisme traksi meliputi tidak hanya dorongan traksi sebenarnya tetapi juga tahanan yang dikenal sebagai kontertraksi, dorongan pada arah yang berlawanan, diperlukan untuk keefektifan traksi, kontertraksi mencegah pasien dari jatuh dalam arah dorongan traksi. Tanpa hal itu, spasme otot tidak dapat menjadi lebih baik dan semua keuntungan traksi hanya menjadi lewat saja. Ada dua tipe dari mekanik untuk traksi, dimana menggunakan Kontertraksi dalam dua cara yang berbeda. Yang pertama dikenal dengan traksi keseimbangan, juga dikenal sebagai traksi luncur atau berlari. Disini traksi diaplikasikan melalui kulit pasien atau dnegan metode skeletal. Berat dan katrol digunakan untuk mengaplikasikan tahanan langsung sementara berat tubuh pasien dalam kombinasi dengan elevasi dari dorongan tempat tidur traksi untuk menyediakan kontertraksinya (Taylor, 1987, Styrcula, 1994a; Dave, 1995 and Osmond, 1999). Traksi Buck akan menjadi contoh dari ha ini. Yang kedua dinamakan traksi fixed dan kontertraksi dimasukkan diantaran 2 point cocok yang tidak membutuhkan berat atau elevasi tempat tidur untuk mencapai traksi dan kontertraksi. Splibt Thomas merupakan contoh dari system traksi ini. (Taylor, 1987, Styrcula, 1994a; Dave, 1995 and Osmond, 1999). Komponen Mekanis dari system traksi, katrol (pulley), tahanan vector dan friksi, terkait dengan beberapa factor : cara dimana kontertraksi diaplikasikan dan sudut, arah, serta jumlah tahanan traksi yang diaplikasikan (Taylor, 1987: 3). Sudut dan arah dorongan traksi bergantung pada posisi katrol dan jumlah efek katrol sama dengan jumlah dorongan yang diaplikasikan. Ketika dua katrol segaris pada berat traksi yang sama maka disebut dengan block and tackle effect hamper menggandakan jumlah dari tahanan dorongan. Tahanan vector diciptakan dengan mengaplikasikan tahanan traksi pada dua yang berebda tetapi tidak berlawanan terhadap sisi tubuh yang sama. Hasil

ini menghasilkan tahanan ganda untuk dorongan traksi yang actual. (Taylor, 1987 and Styrcula, 1994a). Friksi selalu ada dalam setiap system traksi. Friksi memberikan resistansi terhadap dorongan traksi mala mengurangi tahanan traksi. Hal ini diperlukan untuk meminimalisir kapanpun dan bagaimanapun kemungkinan nantinya. (Taylor, 1987 and Styrcula, 1994a). Kita dapat mnggunakan traksi : (1) untuk mendorong tulang fraktur kedalam tempat memulai, atau (2) untuk menjaga mereka immobile sedang hingga mereka bersatu, atau, (3) untuk melakukan kedua hal tersebut, satunya diikuti dengan yang lain. Untuk mengaplikasikan traksi dengan sempurna, kita harus menemukan jalan untuk mendapatkan tulang pasien yang fraktur dengan aman, untuk beberapa minggu jika diperlukan. Ada dua cara untuk melakukan hal tersebut : (1) memberi pengikat ke kulit (traksi kulit). (2) dapat menggunakan Steinmann pin, a Denham pin, atau Kirschner wire melalui tulangnya (traksi tulang). Tali kemudian digunakan untuk mengikat pengikatnya, pin atau wire, ditaruh melalui katrol, dan dicocokkan dengan berat. Berat tersebut dapat mendorong pasien keluar dari tempat tidurnya, sehingga kita biasanya membutuhkan traksi yang berlawanan dengan meninggikan kaki dari tempat tidurnya. Salah satu dari tujuan utama dari traksi adalah memperbolehkan pasien untuk melatih ototnya dan menggerakkan sedinya, jadi pastikan bahwa pasien melakukan hal ini. Traksi membutuhkan waktu untuk diaplikasikan dan diatur, tetapi hal ini dapat dengan mudah datur dengan asisten. Traksi kebanyakan berguna pada kaki. Dilengan hal ini masih kurang nyaman, tidak meyakinkan, sulit untuk dijaga, dan frustasi untuk pasien. Untuk kesemua alasan ini, traksi lengan hanya digunakan dalam keadaan pengecualian yang lebih jauh. Mengelaborasikan Jenis dari traksi, seperti Hamilton dan Russel untuk kaki, membutuhkan peralatan yang tidak semuanya punya. Jadi, hanya dibahas alat-alat sederhana yang digunakan dimakalah ini. Klasifikasi Traksi didasari pada penahan tubuh yang dicapai : 1. Traksi Manual menunjukkan tahanan dorongan yang diaplikasikan terhadap seseorang di bagian tubuh yang terkena melalui tangan mereka. Dorongan ini harus constant dan gentle. Traksi manual digunakan untuk mengurangi fraktur sederhana sebelum aplikasi plesrer atau selama pembedahan. Hal ini juga digunakan selama pemasangan traksi dan jika ada kebutuhan secara temporal melepaskan berat traksi (Taylor, 1987; Styrcula, 1994a and Osmond, 1999). 2. Traksi Sekeletal menunjukkan tahanan dorongan yang diaplikasikan langsung ke sekeleton melalui pin, wire atau baut yang telah

dimasukkan kedalam tulang (Taylor, 1987; Styrcula, 1994a dan Osmond, 1999). Untuk melakukan ini berat yang besar dapat digunakan. Traksi skeletal digunakan untuk fraktur yang tidak stabil, untuk mengontrol rotasi dimana berat lebih besar dari 25 kg dibutuhkan dan fraktur membutuhkan traksi jangka panjang (Styrcula, 1994a and Osmond, 1999). 3. Akhirnya traksi kulit menunjukkan dimana dorongan tahanan diaplikasikan kepada bagian tubuh yang terkena melalui jaringan lunak (Taylor, 1987; Styrcula, 1994a and Osmond, 1999). Hal ini bisa dilakukan dalam cara yang bervariasi : ekstensi adhesive dan non adhesive kulit, splint, sling, sling pelvis, dan halter cervical (Taylor, 1987; Styrcula, 1994a and Osmond, 1999). Dikarenakan traksi kulit diaplikasikan kekulit kurang aman, batasi kekuatan tahanan traksi. Dengan kata lain sejumlah berat dapat digunakan (Taylor, 1987; Styrcula, 1994a and Osmond, 1999). Berat harus tidak melebihi (3-4 kg) (Taylor, 1987; Osmond, 1999 dan Redemann, 2002). Traksi kulit digunakan untuk periode yang pendek dan lebih sering untuk manajemen temporer fraktur femur dan dislokasi serta untuk mengurangi spasme otot dan nyeri sebelum pembedahan (Taylor, 1987; Styrcula, 1994a and Dave, 1995). Traksi Kulit versus Traksi Tulang Kulit hanya bisa dapat menahan sekitar 5 kg traksi pada orang dewasa. Jika lebih dari ini tahanan yang dibutuhkan untuk mendapatkan dalam menjaga reduksi, traksi tulang mungkin diperlukan. Hindari traksi tulang pada anak-anak- plate pertumbuhan dapat dengan mudah hancur dengan pin tulang. Indikasi untuk traksi kulit Anak-anak Traksi temporer- hanya untuk beberapa hari, missal pre operasi Tahanan kecil dibutuhkan untuk menjaga reduksi 5kg Kerusakan kulit atau adanya sepsis diarea tersebut Indikasi Traksi Skeletal Orang dewasa membutuhkan > 5kg traksi Kerusakan kulit membutuhkan dressings Jangka panjang Counter Traction Setiap tahanan diperlukan tahanan yang berlawanan. Jika traksi mendorong tungkai kedistal pasien akan meluncur turun melalui katrol, dan traksi tidak akan menjadi efektif. Berikan tahanan yang berlawanan dengan meninggikan kaki dari kasur pada blok tertentu.

Dengan merubah tempat tidur pada arah berlainan tendensi untuk meluncur akan ditahan. Pada traksi servikal sisi depan dari tempat tidur harus ditinggikan, dan dengan traksi Dunlop sisi tempat tidur dekat dengan luka membutuhkan elevasi. Sistem Katrol Multiple Dalam banyak keadaan katrol yang multioel digunakan, sehingga mengurangi berat amatlah diperlukan. Katrol multiple seringkali digunakan pada traksi pelvis dimana tahanan tinggi (biasanya lebih dari 40 kg) dapat diperlukan. Jika triple dan dobel blok dgunakan dalam gambar hanya 405 atau 8 kg, dibutuhkan untuk dapat mencapai 40 kg. Penaikturun katrol diperlukan. Traksi Kulit Ekstremitas Bawah Traksi kulit Bucks paling sering digunakan pada tungkai bawah untuk fraktur femur, nyeri belakang, fraktur acetabulum dan pinggang. Traksi kulit jarangkali mengurangi fraktur, tetapi mengurangi nyeri dan menjaga panjangnya fraktur. Bucks Traction: Traksi Buck adalah traksi kulit seimbang dengan menggunakan dorongan pada satu tempat terhadap ekstremitas bawah melalui perluasan kulit (Taylor, 1987; Styrcula, 1994; Osmond, 1999 and Redemann, 2002). Dinamakan setelah Gurdon Buck yang pada tahun 1861 mempublikasikan pengalamannya dengan trapi untuk dua puluh satu kasus dari fraktur (Peltier, 1968: 1610). Traksi Buck digunakan sebagai pengukuran jangka pendek dengan tahanan traksi yang dibutuhhkan untuk imobilisasi fraktur panggul sebelum pembedahan dan mengurangi spasme otot (Styrcula, 1994d and Redemann, 2002). Hal ini juga bisa digunakan untuk dislokasi panggul, kontraktur panggul dan lutut, fraktur tidak berpindah asetabulum dan nyeri pinggang bawah bilateral (Taylor, 1987 and Styrcula, 1994d) meskipun penggunaannya jarang terlihat pada akhir-akhir ini . Pasien diposisikan dalam posisi supine dengan kaki lurus pada posisi alami, dimana melalaikan abduksi (Taylor, 1987 and Styrcula, 1994d). Pembungkus kemudian diaplikasikan dan tahanan traksi digunakan segaris dengan panjang aksis kaki melalui tali yang diikat di kaki dari perluasan melewati katrol pada akhir tempat tidur yang dihubungkan dengan pemberat (Taylor, 1987; Styrcula, 1994d and Osmond, 1999). Katrol tidak mempunyai efek pada tahanan t=fraksi tetapi bertindak untuk merubah arah dorongan untuk bekerja dengan gravitasi (Taylor, 1987 and Osmond, 1999). Kontertraksi dicapai dengan mengelevasikan kaki dari tempat tidur pada ketinggian tertentu untuk mencegah pasien terjatuh dar tempat tidur.

Untuk mengoptimalisasi kenyamanan pasien adalah hal yang penting untuk mempunyai keseimbangan antara tahanan traksi dengan tahanan kontertraksi. Jika tempat tidur butuh untuk dielevasikan terlalu tinggi untuk mencegah pasien terdorong dari tempat tidur maka pemberat dapat terlalu berat dan perlu untuk ditinjau ulang (Dave, 1995 and Osmond, 1999). Hari ini Traksi Buck digunakan kebanyakan pada orang tua (Styrcula, 1994d: 61) dan kontroversinya timbul melebihi kefektifitasannya. Metode Kulit dipersiapkan dan dicukur- harus sampai kering. Balsem Friar dapat digunakan untuk meningkatkan adhesi. Pengikat yang tersedia secara komersil diaplikasikan kekulit dan luka dengan lapisan yang overlap. Perban harus tidak melebihi diatas tingg fraktur. Bahaya Traksi Kulit Distal Oedema Kerusakan vaskular Peroneal nerve palsy Nekrosis kulit melalui tulang-tulang prominen Hindari timbulnya komplikasi dalam keinginan untuk mencoba meningkatkan adhesi dengan mengikat perban lebih ketat Perfusi Jaringan yang Berubah, Bahaya untuk deep vein thrombosis (DVT) atau pulmonary embolism (PE) merupakan masalah yang sering is (Taylor, 1987; Styrcula, 1994d; Osmond, 1999; Rosen et al, 2001 dan Redemann, 2002). Pernafasan yang dalam dan latihan pompa siku sama halnya dengan penggunaan stocking dan terapi antikoagulan merupakan cara untuk mencegah hal ini terjadi (Taylor, 1987; Styrcula, 1994d; Rosen et al, 2001 and Redemann, 2002). Calves harus diinspeksi untuk kekakuan, hangat yang tidak biasa, dan kemerahan (Carroll, 1993 and Bright and Gorgi, 1994) dan setiap tanda dispnea dan tachypnea dapat mengindikasikan (Smeltzer and Bare, 1996 and Turpie, Chin and Gregory, 2002). Ada juga akan resiko tinggginya disfungsi perifer seperti sindrom kompartemen atau paralisis saraf. Periksa neurovascular dan penilaian gerakan harus dilakukan sebelum mengaplikasikan traksi kemudian setiap jam selama 24 jam pertama dan jika baik dilakukan 4 jam sekali (Taylor, 1987; Styrcula, 1994b and Kunkler, 1999). Meskipun traksi dikatakan untuk mengurangi nyeri danspasme otot hal in dapat menjadi tidak cukup dan management nyeri untuk itu merupakan bagian penting dalam perawatan. Nyeri dapat dinilai dengan menggunakan skala 1-10 (McCaffery and Pasero, 2001 and

Redemann, 2002) dan pasien harus diminta untuk mengambil analgetik sebelum nyeri menjadi lebih parah. Edukasi untuk mencegah ketakutan dan resiko konstipasi sebaiknya juga dilakukan (Redemann, 2002:316). Sama dengan pasien yang imobilisasi ada tingginya resiko untuk konstipasi tidak hanya menghasilkan imobilitas tetapi juga kombinasinya dengan ambilan analgetik dan untuk pasien traksi terutama tantangan dalam nyeri, ditambah dengan malunya mereka untuk membuka ususnya ditempat tidur (Taylor, 1987; Winney, 1998 and Redemann, 2002). Penggunaan dari alat fraktur, privasi, ambilan cairan yang tinggi, teratur dalam diet dapat menolong eliminasi untuk mencapai usus yang normal (Winney, 1998 and Redemann, 2002). Pertukaran gas yang terganggu merupakan kesulitan pada pasien dengan traksi pada resiko masalah respirasi. Posisi rekumben atai semirecumbent pasien ini diyakinkan untuk tidak diijinkan bergerak penuh pada diafragmanya yang bisa menyebabkan tidal kecul dan volume residu yang besar(Redemann, 2002:317). Untuk mencegah masalah in elevasi reposisi yang sering dari kepala tempat tidur kapanpun memungkinkan dikombinasikan dengan batuk dan latihan nafas yang dalam dan penggunaan spirometer kesemuanya dapat membantu untuk menjaga pertukaran gas yang adekuat. (Smeltzer and Bare, 1996 and Redemann, 2002). Tingginya resiko untuk terluka terutama relevansinya pada pasien traksi sebagai management yang tidak benar dapat menyebabkan ketidaknyamanan yang harus dipertimbangkan (Taylor, 1987 and Redemann, 2002). Traksi harus diperiksa melalui perbagian untuk menjamin tidak ada yang dapat membahayakan pasien, garis dorongan dijaga, semua clamps ketat dan tidak ada tali yang rapuh atau knot yang tidak aman. Tali musti dibebaskan melalui katrol, gars traksi harus dijaga setiap saat. Baik pemberat ataupun tali harus disentuh oleh kasur. Bantal tidak ditaruh dibawah kaki yang sakit dan ketika menggerakkan pasien pemberat tidak boleh dipindahkan. Ketika melakukan perluasan sekali traksi manual harus diaplikasikan. Traksi Gallows Traksi ini digunakan pada bayi dan anak-anak dengan fraktur femur . Indikasi Traksi Gallows Berat anak-anak harus kurang dari 12 kg Fraktur femur Kulit harus intak Kedua dari femur yang fraktur dan yang baik ditempatkan dalam traksi kulit dan bayi ditahan dari sudut yang istimewa. Compromise vascular merupakan bahaya terbesar. Periksa sirkulasi dua kali sehari.

Pantatnya harus diangkat jangan mengenai tempat tidur Fraktur Femur Pada Anak yang lebih Besar Anak lebih besar dengan fraktur femur dapat ditangani dengan traksi kulit dengan splint tHomas. Tidak seperti orang dewasa lutut harus dijaga lurus pada splint Thomas. Cincin dari splint Thomas harus membuat pembersihan dua jari pada semua sisi- dicoba pada kaki yang sehat untuk dicocokkan sebelum diaplikasikan. Pengikatan kulit diaplikaskan dan splint Thomas dipasangkan. Tali dari pengikat di ikat hingga akhir dar splint tHomas. Yang paking kuar melewat jarak splint Thomas dan bagian dalam melaluinya. Hal ini merotasikan kaki secara internal. Tungkai diistirahatkan pada tiga strip falnnerl untuk menjaga keamanan pin. Sling Master merupakan strip flannel yang diarahkan kedistal fraktur. Slng ini bisa ditambahkan sehingga garis akhir fraktur pada ruang vertical. Traksi longitudinal membuthkan tambahan setiap haru pada minggu pertama. Simpul dari akhir splint Thomas dilonggarkan. Kualitas reduksi dikonfirmasikan dengan X ray. Splint Thomas ditahan dari Frame Balkan. Frame ini ditempelkan ke tempat tidur. Tungkai dengan splint Thomas ditahan dari puncak dengan maksut berat berlawanan. Traksi longitudinal menggunakan tekanan pada sudut dan berat yang lebih jauh ditempatkan melalui katrol dari frame Balkan. Hal ini segaris dengan panjang aksis tungkai di kaki dari tempat tidur. Perlawanan ini bertindak sebagai tahanan reaktif dari sudut yang digenerasikan oleh traksi kulit. Fraktur Femur Pada Orang Dewasa Hal ini membutuhkan pin skeletal. Pada beberapa rumah sakit, pn Denham merupakan pin yang paling sering digunakan, Ia mempunyai porsi tengah ulir yang dijaganya pada tibia. Untuk fraktur femur pin Denham melalui tibia proksimal, Selalu memasukkan dari lateral ke medial pada tibia proksimal, sebagaimana saraf peroneal tidak terkenda dan tempat keluarnya tidak bisa diprediksikan. Pada beberapa keadaan femur distal, atau bahkan kalkaneus dapat digunakan. Splint tHomas, (periksa apakah cocok dengan mencoba pada kaki yang sehat) diaplikasikan. Tiga sling flannel diamankan dengan keamanan pin dibawah paha. Satu dari splint master dibawah fraktur. Tekanan yang benar pada sling ini akan menggarisi fraktur pada sisi lateral. Lutut dapat difleksikan dengan menggunakan splint fleksi Pearson yang ditempelkan ke splint Thomas pada daerah lutut. Fleksi lutut yang diinginkan dapat dijaga dengan tali pada akhirnya dibawa dari splint tHimas ke Perlengketan Pearson. Tali dari pin Denham apakah harus diikat secara distal ke splnt tHomas (traksi statis) atau mereka

dapat dinaikkan melalui katrol pada akhir dari frame Balkan (traksi dinamis). Pada semua kasus diawali dengan 7 kg (atau 10% berat badan) pada panjang aksis femur. Hal ini melawan trakian dari otot paha. Sebagaimana halnya dnegan anak-anak, traksi dbuat seimbang dengan sisitem katrol pada tungkai horizontal frma Balkan untuk membuat pasien dapat menggerakkan tungkainya. Garis Splint Thomas Splint Thomas harus digariskan dengan menitikkan pada frma belakn searah dengan fragmen proksimal. Perpndahan-Fraktur Femur Proksimal Prox. Femur Flexion Prox. Femur Abduction Frame Garis Flexion & Abduction Fraktur mid shaft dijaga tetap relative sebagaimana otot proksimal dan distalnya seimbang Perpindahan Fraktur Femur Distal Angulasi Posterior dorongan dari gastrocnimeus Sousi fleksi lutut sejauh mungkin Block Tempat Tidur (bed block) Bed Blocks harus ditempatkan dibawah kaki dengan semua tipe traksi diatas. Meninggikan kaki dari tempat tidur beberapa sentimeter memberikan tahanan counter untuk mencegah pasien terdorong secara distal dari tempat tidur oleh traksi longitudinal. Traksi Servikal Halter Traction Traksi halter digunakan untuk traksi servikal jangka pendek. Penggunaannya meliputi cedera leher minor tanpa kejelasan adanya fraktur contoh spasme otot leher, terapi conservative dari lesi di diskus servikal. Anak dengan fraktur servikal juga dapat ditangani dtanpa pin skeletal sebagaimana tulang mereka terlalu rapuh terhadap pin. . Masalah dengan Traksi Halter Tidak nyaman Nyeri di Tempero-mandibular Kontraoindikasi pada fraktur mandibula Sulit untuk mengontrol fleksi dan ekstensi Fleksi Extensi X Ray Cervical Jika pasien mempunyai x-ray cervical yang normal, tetapi mempunyai spasme otot leher, gambaran fleksi ekstensi dapat diperlukan untuk menyingkirkan instabilitas yang serius dari tulang servikal. Traksi

Halter merupakan cara yang baik untuk meredakan spasme sebelum X-Ray dapat dilakukan. Pasien yang dimasukkan dan ditempatkan dalam traksi Halter hingga leher bebas dari spasme otot. Pasien harus tidak mempunyai rasa nyeri ketika leher difelksikan ataupun diekstensikan. Jika gejala neurologis seperti paraesthesia timbul maka X-Ray tidak perlu dilakukan. Traksi Skeletal Pada cedera servikal yang lebih serius, penjepit tulang kepala seperti caliper Cones diinndikasikan. Indikasi termasuk terapi konservatif dari fraktur servik dan dislokasi. Aplikasi Caliper Cones Cukur rambut dibawah area telinga Anastesi Lokal Hindari Masseter Hindari arteri temporal Insisi kecil dibawah telinga segars dengan meatus auditorius Kaitkan pada pin hingga perforasi dari tulang luarl Ikat pada tali Arah dan Berat Tahanan 2.5 kg untuk kepala dan 12 kg untuk setiap vertebra Arah netral segars dengan meatus auditorius Diperlukan Fleksi tinggikan katrol Dperlukan Ekstensi gunakan matras dobel yang berakhir pada bahu Komplikasi dari Traksi Cervical Perdarahan arteri temporalis Tekanan sangat sakit pada tulang Sepsis dari kulit ke abses subdural Perburukan status neurologis Mata juling dari jatuhnya nervus kranialis ke 6 Kontraindikasi Penjepit tulang kepala Anak-anak Sepsis Lokal Fraktur tulang kepala Metode dobel matras merupakan cara yang efektif untuk memperluas leher. Jangan pernah menempatkan katrol kepala terlalu rendah sebagaimana tekanan dapat dihasilkan pada occciput, terutama pada pasien yang tdiak sadar. Reduksi dari Dislokasi Facet

Traksi skeletal terhadap tulang tengkorak dapat digunakan untuk mengurangi dislokasi faset servikal. Berat biasanya ditambahkan secara serial sementara leher diposisikan fleksi. Setelah setiap penambahan 2,5 kg berat, X-Ray lateral diambil untuk membedakan reduksinya. Dokter yang ada harus memeriksa tanda neurologis. Jika ada perubahan neurologis, berat tersebut dpindahkan hingga 20 kg. Traksi dapat digunakan dalam hal ini hanya untuk beberapa jam. Setelah reduksi, leher dalam keadaan ekstensi dan berat maintenance kemudian digunakan. Metode Traksi Lain Traksi Dunlop Penggunaan utama dari Traksi Dunlop adalah untuk maintenance reduksi fraktur supracondylus humerus pada anak. Traksi Dunlop Fraktur supracondylar pada anak Membuat Siku bengkak menjadi tenang kembali Dikontraindikasikan [ada fraktur terbuka dan defek kulit. Traksi kulit ditempatkan pada lengan bawah dan frame khusus digunakan pada sisi tempat tidur. Traksi ditempatkan disepanjang aksis lengan bawah sebagaimana sudut kanan dari humerus dengan sling ditempatkan disekitar lengan atas. Bed blocks dibutuhkan untuk sisi lateral (fraktur ditinggikan) dari tempat tidur. Jika fraktur supracondylar tidak dapat dikurangi hingga dibawah 90 derajat fleksi siku, metode traksi in merupakan alternative terhadap metode invasive seperti percutaneous K-wires. Hal ini membuat pembengkakan sisi sebelahnya. Jangan bergantung pada metode ini untuk mengurangi fraktur supracondylar, sebuah manipulasi bagaimanapun tetap akan diperlukan Traksi Pelvis untuk Nyeri Pinggang Pad skiatik dan penyembuhan pinggang lain dari nyeri dapat dicapai dengan maksud traksi pelvis. Traksi diaplikasikan ke pengikat pelvis dengan berat melebihi akhir tempat tidur. Dengan maksud bantal dibawah lutut, pinggul difleksikan mendekati sudut 90 derajat, sebagaimana halnya dengan lutut. Hal ini memperpendek nervus skiatika dan meredakan nyeri. Traksi Asetabulum Pada terapi konservatif dari fraktur acetabulum, traksi longitudinal pada panjang aksis tungkai seringkali digunakan. Sebagai tambahan dari kepala femur dapat mempengaruhi acetabulum (dislokasi fraktur sentral) dengan maksud manipulasi dibawah anastesi. Reduksi ini

dapat dijaga dengan membuat traksi lateral dari pin yang ditempatkan pada wilayah intertrochanter. DAFTAR PUSTAKA 1) Sjamsuhidajat R dan de Jong, Wim (Editor). Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. Jakarta: EGC.2005 2) Djoko Simbardjo. Fraktur Batang Femur. Dalam: Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah, Bagian Bedah FKUI. 3) Dandy DJ. Essential Orthopaedics and Trauma. Edinburg, London, Melborue, New York: Churchill Livingstone, 1989. 4) Salter/ Textbook of Disorders and injuries of the Musculoskeletal System. 2nd ed. Baltimore/London: Willians & Wilkins, 1983. 5) Rosenthal RE. Fracture and Dislocation of the Lower Extremity. In: Early Care of the Injured Patient, ed IV. Toronto, Philadelphia: B.C. Decker, 1990