Anda di halaman 1dari 2

A.

Selayang Pandang

Dari luar pagar besi yang mengelilingi area Seri Menanti, bangunan istana berarsitektur khas Minangkabau
terlihat anggun berdiri, keanggunan yang terpancar dari cita rasa seni yang begitu tinggi. Istana yang kini
berfungsi sebagai museum itu menyimpan sejuta kisah pengorbanan para sultan dan rakyat dengan tetesan
darah dan keringat mempertahankan martabat bangsa dari dominasi penjajah.

Istana Lama Seri Menanti, demikian nama cantik istana itu. Seri Menanti sendiri adalah nama daerah di
tengah Bukit Tempurung di mana Istana Lama Seri Menanti berada. Nama “seri menanti” berasal dari
sebuah kisah kedatangan orang-orang Minang dari daerah Payakumbuh ke Negeri Sembilan yang dipimpin
oleh Datuk Putih. Konon, Datuk Putih memiliki ilmu kanuragan tingkat tinggi. Suatu ketika, ia mendapati
jejak seekor naga yang diyakini akan memberikan keberuntungan. Ia mengikuti dan menelusuri jejak naga
itu. Beberapa saat kemudian ia menemukan tiga pohon padi dengan posisi seperti orang duduk menanti
datangnya sesuatu. Maka kemudian Datuk Putih menamakan daerah itu “Padi Menanti”. Akan tetapi,
pemimpin rombongan setelahnya mengganti nama “padi” dengan “seri” sesuai dengan nama istrinya. Maka
nama daerah itu berubah menjadi “Seri Menanti”.

Sejarah pendirian Istana Lama Seri Menanti tidak lepas dari pasang-surut hubungan antara Kerajaan Negeri
Sembilan dengan penjajah Inggris. Pada tahun 1875, dalam sebuah peperangan yang dikenal dengan Perang
Sungai Ujong, pasukan Inggris membakar habis Istana Pulih, istana Negeri Sembilan pertama. Dua puluh
tujuh tahun kemudian, tepatnya tahun 1902, Yang Maha Mulia Yang Dipertuan Besar Negeri Sembilan,
Tuanku Muhammad Shah ibni Almarhum Tuanku Antah (Sultan ke VII Negeri Sembilan, berkuasa pada
1888--1933), menunjuk dua orang arsitek, Kahar dan Taib, memimpin pembangunan istana baru di atas
lahan bekas Istana Pulih.

Pembangunan Istana Lama Seri Menanti memakan waktu enam tahun. Dimulai pada tahun 1902 dan
selesai pada 1908. Bak seorang pahlawan bangsa, nama Kahar dan Taib selalu tercatat di berbagai tulisan
tentang sejarah perjalanan kerajaan Negeri Sembilan. Betapa tidak, pembangunan istana itu berlangsung di
tengah kuatnya dominasi penjajah Inggris, sehingga pendiriannya menjadi simbol eksistensi kerajaan di
tengah dominasi kekuasaan pemerintah kolonial. Maka, tatkala pembangunan istana itu selesai, keduanya
mendapatkan gelar kehormatan dari sang Sultan sebagai Dato` Panglima Sutan.

Pada tahun 1931, Istana Lama Seri Menanti tidak lagi dijadikan pusat pemerintahan dan kediaman resmi
sultan, karena dianggap sudah tidak memadai. Berpuluh-puluh tahun lamanya istana dibiarkan kosong,
hanya sesekali dijadikan tempat pelaksanaan upacara mengadap (upacara menghadap sultan yang diadakan
tiga tahun sekali di Negeri Sembilan). Pada tahun 1959 sampai 1964, Majlis Agama Islam Negeri Sembilan
memanfaatkannya sebagai gedung Sekolah Menengah Agama Tinggi. Baru pada tanggal 14 Juli 1992,
bertepatan dengan 14 Muharram 1413 Hijriah, secara resmi Kerajaan (pemerintah) Negeri Sembilan
menetapkan Istana Seri Menanti sebagai `Muzium Diraja` atau museum negara. Sejak saat itu, wajah istana
berubah. Benda-benda istana diletakkan kembali di tempat semula untuk menjelaskan kepada setiap
pengunjung fungsi tiap-tiap ruang yang ada. Pihak kerajaan telah bekerjasama dengan keluarga istana
untuk memelihara dan melengkapi koleksi museum ini.
B. Keistimewaan

Suasana sejuk menyelimuti para pengunjung, terutama di kala hari masih pagi. Taman hijau yang terhampar
luas dan ribuan pohon lebat menyatu serasi dalam satu area Istana Lama Seri Menanti. Dari kejauhan,
keindahan pemandangan alam dan keanggunan istana seolah memanggil siapa saja untuk mendekatinya.
Semakin dekat kaki melangkah menuju istana, keelokannya semakin kentara. Dan, setelah berdiri tepat di
depannya, sungguh luar biasa. Sentuhan tangan Kahar dan Taib hingga kini masih `menyihir` para
pengunjung tuk segera berucap “benar benar indah”.

Berdiri di tengah hamparan pegunungan yang hijau, Istana Lama Seri Menanti tampil dengan gaya
arsitektur khas Minangkabau yang memesona. Seluruh bahan bangunannya adalah kayu-kayu pilihan yang
diambil dari hutan sekitar. Kayu-kayu itu tersusun apik menggunakan teknik tertentu tanpa satu buah pun
paku besi yang melekat.
Dari luar kita dapat melihat 99 tiang penyangga istana. Jumlah 99 menyimbolkan jumlah pejuang dari
berbagai luak (klan) di Negeri Sembilan saat melawan penjajah. Tiang-tiang itu terbuat dari kayu cengal
yang terkenal keras, dan diukir dengan motif bunga-bungaan, ayat-ayat al-Quran, dan garis-garis abstrak.
Kombinasi warnanya menghasilkan cita rasa seni yang tinggi.

Istana ini memiliki empat tingkat. Tingkat pertama bernama Balai Rong Seri, ruang di mana dahulu sang
sultan menjamu tamu-tamunya. Benda-benda peninggalan kerajaan, seperti singgasana, ranjang, meja dan
kursi, dan beberapa pusaka tampak tertata rapi seperti sedia kala. Beberapa ruangan dihiasi kain-kain
berwarna kuning, warna yang bagi masyarakat Melayu menyimbolkan kewibawaan dan ketinggian budi
pekerti. Korden jendela dan pintu, sprei kasur dan sarung bantal, semuanya berwarna kuning.

Sementara itu, ruangan yang menjorok ke depan adalah ruang pertemuan sultan dengan pembesar-
pembesar kerajaan. Beberapa boneka manusia berbusana Melayu diletakkan dengan posisi duduk bersila
guna menjelaskan kepada pengunjung tata cara dan etika selama berlangsungnya musyawarah.

Tidak seperti pada lantai pertama, benda-benda peninggalan istana di lantai dua tampak tidak lengkap.
Hanya ada beberapa ranjang dan kursi, dan foto sultan dan kerabat istana yang menempel pada dinding-
dinding di ruang tengah. Untuk mencapai lantai tiga dan empat, para pengunjung harus menaiki tangga
yang cukup curam. Perlu berhati-hati saat menaikinya, karena selain curam beberapa anak tangganya
tampak mulai rapuh. Lantai tiga adalah ruang keluarga. Di lantai ini, dahulu sang sultan beristirahat,
berkumpul, dan bercengkerama bersama keluarganya. Namun kini ruangan yang berukuran kira-kira 5x5 m
itu kosong. Seperti halnya lantai tiga, lantai empat yang dinamakan “tingkat gunung” juga kosong.

Dengan berdiri di balik jendela lantai “tingkat gunung”, pandangan mata bebas mengarah ke segala arah.
Hijaunya pegunungan, lebatnya hutan, rumah-rumah penduduk, dan aktivitas masyarakat terlihat jelas dari
ruang mungil ini. Tidak ada benteng atau pagar tinggi yang menghalangi pandangan. Suatu kenyataan yang
menunjukkan adanya kedekatan dan rasa saling percaya antara pemimpin dan rakyatnya, sehingga mereka
membaur jadi satu. Unsur humanitas dalam pembangunan Istana Lama Seri Menanti menyingkap bahwa
seorang sultan dapat dilihat, ditemui, bahkan dijamah oleh siapa saja.
C. Lokasi

Istana Lama Seri Menanti berada di Kota Seri Menanti, Negeri Sembilan, Malaysia.
D. Akses

Jika Anda berada di Kuala Lumpur dan hendak melancong ke Negeri Sembilan, dapat menggunakan bis
umum dari terminal Pudu Raya, atau menyewa mobil. Jarak antara Kuala Lumpur dengan Kota Seremban,
Ibukota Negeri Sembilan, kurang lebih 40 km. Lalu lintas dan kondisi jalan antara kedua kota tersebut
sangat baik, sehingga Anda dapat menikmati perjalanan dengan nyaman. Sesampainya di Seremban,
perjalanan dilanjutkan menuju Seri Menanti dengan jarak kira-kira 13 km melalui jalan pegunungan yang
berkelok-kelok.
E. Harga Tiket

Setiap pengunjung tidak dipungut biaya, cukup mengisi buku tamu dengan menuliskan nama, asal
daerah/negara, asal instansi, dan tanda tangan.
F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Di area Istana Seri Menanti terdapat toko kecil yang menjual cenderamata dan buku-buku sejarah Kerajaan
Negeri Sembilan. Tidak ada pedagang asongan yang akan mengejar atau membuntuti kemanapun Anda
pergi. Aman dan nyaman. Tempat parkir pun aman, luas, lagi gratis. Bagi yang ingin sholat, tersedia surau
di halaman belakang istana.

Informasi selengkapnya seputar Istana Lama Seri Menanti, dapat diperoleh di Lembaga Muzium Negeri
Sembilan dengan menghubungi nomer telepon berikut ini: (+606) 763 1149, atau fax (+606) 761 5355.