Anda di halaman 1dari 38

KEPENTINGAN ASEAN

Sebelum kewujudan Asean, pelbagai langkah dan tindakan kerjasama telah diambil oleh p e mi m p i n p e mi mp i n t e r d a hu l u d a l a m me n g e r a t k a n h u b u n g a n r a n t a u As i a T e n g g a r a seperti ASA (Association of Southeast Asia) yang dianggotai oleh Malaysia, Thailand danFilipina pada tahun 1961. Diikuti pula dengan penubuhan MAPHILINDO pada tahun1963 dan dianggotai oleh Malaysia, Filipina dan Indonesia. Namun, kesemua usaha inidilihat tidak begitu mencapai matlamat yang telah ditetapkan, malah masih terdapat krisisd a l a ma n ya n g b e r l a k u d a n s e t i a p N e g a r a ju g a me mp u n ya i ma s a l a h d a n i s u d a l a ma n masing-masing. Contohnya isu antara Malaysia dan juga Indonesia serta tuntutan Filipinake atas Sabah yang tetap berlanjutan sehingga pada hari ini. Kata sepakat kemudiannyatelah dicapai memandangkan kesemua negara juga memikirkan mengenai kesan daripada jangka panjang kerana berada dalam rantau yang sama iaitu Asia Tenggara. Jika terus berbalah dan menaruh syak wasangka, tidak akan mendatangkan apa-apa manfaat. Makadengan itu, kelimalima negara Asia Tenggara ini telah mengeluarkan kenyataan bersamadan menandatangani satu pengisytiharan yang dikenali sebagai Pengisytiharan Bangkok/ASEAN(Association of South East Asian Nations), pada 08.08.1967, merangkumi negaraMalaysia, Indonesia, Filipina, Singapura dan Thailand. Matlamat penubuhan Asean inii a l a h u n t u k me n je r n i h k a n k e a d a a n d a n s e t i a p n e g a r a a n g g o t a d i wa k i l i M e n t e r i L u a r masing-masing terdiri dari Tun Adam Malik (Indonesia), Tun Abdul Razak (Malaysia),Tu a n Na r c i s c o R a mo s ( F i l i p i n a ) , Tu a n S . R a ja r a t n a m ( S i n g a p u r a ) d a n Tu n Th a n a t Khoman (Thailand) Selasa, 25 September 2012 PERANAN ORGANISASI INTERNASIONAL(ASEAN,AA, PBB)DALAM MENINGKATKAN HUBUNGAN INTERNASIONAL PERANAN ORGANISASI INTERNASIONAL(ASEAN,AA, PBB)DALAM MENINGKATKAN HUBUNGAN INTERNASIONAL Organisasi internasional adalah sebagai hokum yang di dirikan oleh dua /lebih Negara yang merdeka dan berdaulat, memiliki kepentingan dan tujuan yang sama.Manfaat Organisasi internasional bagi Negara-negara di dunia yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan warganya.

Menurut clive Arccher Organisasi internasional yaitu suatu struktur formal dan berkelanjutan yang di bentuk atas suatu kesepakatan antara pemerintah dan non pemerintah dari dua/lebih Negara berdaulatdengan tujuan mengejar kepentingan bersama para anggotanya. Organisasi internasional di kategorikan menjadi dua yaitu: 1.Organisasi antar pemerintah(Ingofernmental Organization/IGO) Anggotanya terdiri dari delegasi resmi missal(PBB<WTO danASEAN) 2.Organisasi nonpemerintah(Non governmental Organization/NGO). Anggotanya terdiri dari kelompok swasta di bidang keilmuan,keagamaan,kebudayaan dll missal(PMI<Greenpeace,&Oxfam internasional ). 1)ASEAN(Assosiation of South East Asian Nations) ASEAN nerupakan salah satu organisasi internasional yang ada di kawasan Asia tenggara dengan anggota yang juga Negara-negara di kawasan tersebut .Pembentukan ASEAN oleh karna ada nya pertemuan di Bangkok yang di hadiri oleh mentri luar negri dari 5 negara yaitu: a.Adam malik(Indonesia) b.Tun abdul razak(Malaysia) c. Tanat khoman(Thailand) d.S.Rajaradnam(singapura) Akhirnya pada tanggal 8 agustus 1967 di capai kesepakatan untuk membentuk suatu organisasi kerja sama Negara Asia tenggara (ASEAN) A.Latar belakang 1.Persamaan bidang kebudayaan bahasa,tata karma,dan pola kehidupan. 2.Persamaan nasib akibat di tindas penajah. 3.Persamaan letak geogarafis. 4.Berakhirnya konfrontasi yang timbul di asia tenggara yaitu antara Indonesia,Malaysia dan Filipina. B.Tujuan ASEAN 1.Mempercepat pertumbuhan ekonomi,kemajuan sosial serta pengembangan kebudayaan. 2.Meningkatkan perdamaian dan stabilitas regional dengan menghormati jalan keadilan. 3.Meningkatkan kerja sama yang aktif serta saling membantu dalam masalah ekonomi,sosial,budaya,teknik,ilmu pengetahuan dan administrasi. 4.Saling memberikan bantuan dalam bentuk sarana,latihan dan penelitian C. prinsip utama ASEAN 1).Saling menghormati kemerdekaan,kedaulatan. 2).Mengakuio hak setiap bangsa untuk penghidupan nasional yang bebas. 3).Tidak saling turut campur urusan dalam negri masing-masing. 4).Penyelesaian perbedaan dan persengketaan dengan damai. D. Peranan ASEAN 1. ASEAN Regional Forum(ARF)

Forum ini di maksudkan untuk meningkatkan kerjasama politik dan keamanan di Asia pasifik. 2.ASEAN mempelopori Perjanjian Persahabatan dan kerja sama di Asia Tenggara (TAC) TAC merupakan Code of condukt yang mengatur tata hubungan antar negara di kawasan Asia Pasifik. 3.Peranan ASEAN dalam masalah di asia timur. Mengenai masalah-masalah yang di alami asia timur ,ASEAN ,tidak mengambil andil besar karna tuduhan melakukan urusan regional mereka. 4.Menyelesaikan persoalan ASEAN vegetables oil club (AVOC) Mengatur kesepakatan harga minyak kelapa sawit menjadi keruh karena tuduhan melakukan praktik kartel dan melanggar kesepakatan. 2).Konferensi AiaAfrika(KAA) Negara-negara yang berada di kawasan Asia danAfrika sebagian besar merupakan negara bekas jajahan.Sebelum di selenggarakan KAA terlebih dahulu di adakan pertemuan pada tanggal 28 april-2 mei 1954 di kolombo srilanka/disebut Konferensi kolombo yang di hadiri oleh perdana mentri dari berbagai negara yaitu: A).Perdana mentri Ali sastroamidjojo(indonesia) B).Perdana mentri Shri pandit j.N(india) C).Perdana mentri M.Alijinnah(pakistan) D).Perdana mentri sir john kotelawala (Srilanka) E).Perdana mentri U NU (Burma) Pada tanggal 28-29 desember 1954 di adakan di bogor di kenal dengan KONFERENSI BOGOR atau KONFERENSI PANCA NEGARA . A.Latar belakang KAA 1) kedua benua saling berdekatan 2)kedua benua mempunyai persamaan nasib 3) banyak masalah penting yang timbul setelah merdeka. 4)meningkatnya kesadaran berbangsa yang di motori oleh golongan intelektual 5) melemahnya kaum imperialis akibat perang dunia I &II B. Tujuan KAA 1.Memajukan kerja sama antar bangsa Asia Afrika 2.Mempertimbangkan masalah-masalah khusus bangsa di Asia-Afrika 3.Mempertimbangkan masalah sosial,ekonomi ,dan kebudayaan 4.Meninjau kedudukan Asia serta rakyatnya di dunia ini C.Penyelengaraan KAA KAA di selengarakan pada tanggal 18-25 april 1995 di bandung negara yang di undang dalam KAA ada 30 negara yang terdiri dari 5 negara pemrakarsa.KAA memuat pokok-pokok masalah internasional yang hangat yaitu : 1. Kerja sama Ekonomi a.Kerja sama Ekonomi atas dasar saling menguntungkan. b.Saling memberikan bantuan teknik berupa tenaga ahli.

c.Segera dibentuk badan khusus PBB untuk membangun Ekonomi. 2. Kerjasama di bidang Budaya a. Membangun kerjasama dalam bidang budaya b. Pertukaran informasi mengenai kebudayaan 3. Hak Asasi Manusia a. Mendukung sepenuhnya terhadap prinsip hak asasi manusia b. Mengecam kebijakan dan praktik pemisahan 4. Masalah Bangsa yang terjatuh a. Kolonialisme dalam bentuk apapun yang harus segera diakhiri b.Penakluan bangsa dominasi dan Eksplotasi merupakan pelanggaran HAM 5.Masalah Perdamaian Dunia dan kerjasama (internasional) a. Mendukung masuknya beberapa Negara yang memenuhi syarat untuk menjadi anggota PBB b. Menghimbau semua phak untuk membatasi persenjataan D.Hasil KAA KAA menghasilkan keputusan yang di kenal dengan Dasasila Bandung / spirit Bandug 1. Menghormati Hak dasar manusia sebagaimana tercantum dalam piagam PBB 2. Menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua Negara 3. Mengakui persamaan semua bangsa , baik besar maupun kecil 4. Tidak melakukan intervensi /campur tangan masah dalam negri Negara lain 5. Menghormati setiap bangsa untuk mempertahankan diri 6. Tidak melakukan tekanan terhadap Negara lain 7. Tidak melakukan tindakan /ancaman terhadap ketentuan wilayah Negara lain 8. Menyelesaikan segala perselisihan internasional dengan jalan damai 9. Memajuan kerjasama untuk kepentingan bersama 10. Menghormati hukum dan kewajiban internasional 3PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) A. Latar belakang lahirnya PBB PBB merupakan salah satu organisasi internasional yang anggotanya hampir seluruh Negara di dunia. Tujuannya untuk memfasilitasi hukum internasional, pengamanan internasional lembaga ekonomi dan perlindungan social. Pembentukan PBB diawali dengan pembentukan Liga BangsaBangsa pada tanggal 10 Januari 1920 tokohnya adalah presien amerika serikat Woodrow Wilson dengan tujuan untuk mempertahankan perdamaian internasional serta meningkatkan kerjasama internasinal. Tugas LBB adalah menyelesaikan sengketa secara damai. Hasil LBB antara lain perjanjian Locarno (1925) dan perjanjian kallog Briand (1928) karena munculnya kekuasaan Nazi (Jerman) maka pecahlah perang Dunia II. Pecahnya PD II mengakibatkan kerusakan dan penderitaan yang berkepanjangan. Kemudian Franklin Delano.R (Presiden Amerika Serikat) dan Winston mengadakan pertemuan yang menghasilkan piagam altantik (Altantik Charter) yang isinya sbb:

1. 2. 3. 4. 5.

1. 2. 3. 4.

1. 2. 3. 4.

A.

Tidak membenarkan adanya perluasan wilayah atau politik ekspansi Setiap bangsa berhak menentukan nasibnya sendiri Setiap Negara berhak dan bebas ikut serta dalam perdagangan di dunia Perlu diciptakan perdamaian dunia sehingga semua bangsa bebas dari rasa takut dan kemiskinan Mengusahakan penyelesaian sengketa secara damai Piagam PBB mulai berlakuu pada tanggal 24 Oktober 1945 yang kemudian kita kenal sebagai hari lahirnya PBB. PBB bermarkas di New York (Amerika Serikat) Negara Indonesia menjadi anggota PBB yang ke-60 pada tanggal 27 September 1950 tetapi keluar pada tanggal 7 Januari 1965 dan masuk kembali pada tanggal 28 September 1966 B. Tujun PBB a. Menyelamatkan generasi mendatang dari bencana perang b Memperteguh kepercayaan pada hak-hak asasi manusia c.Mendorong kmajuan social dan tingkat kehidupan yang lebih baik d.Memajukan hubungan persahabatan antar bangsa-bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri C. Asas PBB Organisasi ini bersendikan pada asas-asas persamaan derajat dan kedaulatan dari smua anggota Segenap anggota untuk menjamin adanya hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang ada pada negaranya Segenap anggota akan menyelesaikan persengketaan intrnasional dengan cara sedemikian rupa Organisasi ini akan menjamin agar negara-negara bukan anggota PBB tidak sesuai asas-asas nya D. Keanggotaan PBB Anggota PBB dibedakan atas kelompok asli dan tambahan. Anggota asli adalah negara-negara yag ikut serta dalam konverensi San Fransisco yang melahirkan PBB. Sementara itu anggota tambahan adalah negara-negara yang masuk menjadi anggota setelah organisasi PBB. Untuk menjadi anggota PBB harus mempunyai syarat diantaranya: Negara yang bias menjadi anggota PBB adalah negara yang cinta damai Negara tersebut mau menerima kewajiban-kewajiban yang tertera dalam piagam PBB Oleh PBB negara yang bersangkutan dinilai dapat melaksanakan kewajibankewajiban Diterima oleh majelis umum setelah mendapat rekomendasi dari dewan keamanan E. Struktur Organisasi PBB 1Organisasi utama Majelis Umum (General Assembly)

1. 2. 3. B.

1. 2. 3.

1. 2. 3.

1. 2. 3.

1. 2. 3.

Mempunyai tugas dan wewenang sbb: Membersihkan saran dan usulan mengenai usaha perdamaian dan keamanan Membicarakan masalah-masalah internasional dan mengambil keputusan Mengadakan pengawasan terhadap organisasi-organisasi PB lainnya Dewa Keamanan Tugas 1.Menyelesaikan sengketa antarnegara secara damai 2Mengambil tindakan, baik preventif maupun represif dan keamanan dunia 3.Bersama Majelis Umum memilih hakim-hakim internasional C. Dewan Ekonomi dan Sosial Tugas Melaksanakan tugas-tugas sebagaimana ditentukan dalam bidang Majelis Umum Mengajukan usulan dan anjuran kepada Majelis Umum dengan meningkatkan kesejahteraan Mengoordinaskan kegiatan badan-badan khusus PBB D.Dewan Perwakilan Tugas pkok Dewan Perwakilan adalah Mengadakan pengawasan dan melalui negara yang di tunggu secara aktif memajukan pemerinthan daerah sesuai dengan tujuan E.Mahkamah Internasional Tugasnya Memeriksa perselisihan atau persengketaan Mengajukan pendapatnya berkenaan kepada Majeis Umum Mendesak Dewan keamanan untuk menidak suatu negara yang menghiraukan keputusan Mahkamah Internasional F. Sekertariat Tugasnya Memimpin aktivitas ketatausahaan PBB Menyusun laporan tahunan PBB yang dibahas dalam siding Majelis Umum Melaporkan kepada Dewan Keamanan atas setiap perkembangan situasi menurut penilaiannya 2. Organ Subsidier Adalah organ seperti yang dimaksudkan oleh ketentuan-ketentuan 3.Badan Khusus Adalah organisasi internasional publik di bidang ekonomi, social, budaya, pendidikan, kesehatan dan yang berkaitan dengan bidang itu. Beberapa contoh Badan Khusus dibawah naungan Dewan Ekonomi dan Sosial sbb GATT 4. UNESCO ILO 5. WHO FAO 6. IMF dll F.Peranan PBB bagi Dunia dan Indonesia

1. 2. 3. 1. 2. 3.

a. Peranan PBB bagi dunia internasional Bidang keamanan dan perdamaian Bidang ekonomi Bidang sosial, budaya, kesehatan dan kemanusiaan b. Peranan PBB bagi Bangsa dan Negara Indonesia Ketika revolusi Nasional sedang berkobar untuk melawan kolonial belanda di negara kita Pada masa perang colonial ke-2 antara Indonesia dan Belanda Pada saat perjuangan pembebasan Irian Barat. D.Struktur Organisasi ASEAN Setelah KTT di Bali Tahun 1976 1. ASEAN Summit Merupakan pertemuan para kepala pemerintah atau negara se-ASEAN 2.ASEAN Ministerial Meeting (AMM) Merupakan sidang para menteri luar negeri ASEAN berperan sebagai perumusan garis-garis kebijakan dan koordinasi kegiatan-kegiatan ASEAN 3.ASEAN Economic Minister (ACM) Merupakan sidang para menteri ekonomi yang diselenggarakan dua kali dalam setahun 4.ASEAN Finance Ministerial Meeting (AFMM) Merupakan sidang Menteri Keuangan ASEAN yang merumuskan kebijakankebijakan dan koordinasi kerjasama ASEAN 5.Others ASEAN Ministerial Meeting Merupakan sidang para Menteri Non Ekonomi yang berfungsi untuk merumuskan kebijakan dalam bidang tertentu 6.ASEAN Standing Committee (ASC) Komisi tetap ASEAN dipimpin oleh Menteri Luar Negeri yang mendapat giliran menjadi ketua 7.Senior Economic Officials Meeting (SEOM) Senior Officials Meeting (SOM) ASEAN Senior Financials Officials Meeting (ASFOM) dan Committes ASEAN memliki 29 kmisi yang terdiri dari pejabat-pejabat senio kementrian 8.Sub-Sub Komisi dan Kelopok Kerja ASEAN (Sub-Committes and Working Group) ASEAN memiliki122 komisi dan kelompok kerja teknis yang mendukung kerja lembaga-lembaga tingkat Menteri Senior 9.ASEAN Secretariat/Sekretariat ASEAN Berfungsi untuk memprakarsai, memberi nasehat atau pertimbangan Diposkan oleh aminbudi setyanto di 23.06

PERANAN ASEAN DALAM MENINGKATKAN HUBUNGAN INTERNASIONAL

PEMBENTUKAN ASEAN Terbentuknya ASEAN didasari oleh adanya kepentingan-kepentingan bersama dan masalah-masalah bersama di Asia Tenggara. Dengan terbentuknya ASEAN akan memperkukuh ikatan solidaritas, terciptanya perdamaian, dan kerja sama yang saling menguntungkan di antara negaranegara di Asia Tenggara. ASEAN singkatan dari Association of South East Asian Nations atau dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai Perbara (Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara). ASEAN didirikan pada tanggal 8 Agustus 1967 di Bangkok, ibu kota negara Thailand yang diprakarsai oleh lima Menteri Luar Negeri berikut ini. a. Indonesia : Adam Malik b. Malaysia : Tun Abdul Razak c. Thailand : Thanat Khoman d. Filipina : Narcisco Ramos e. Singapura : S. Rajaratnam Kelima negara itulah yang mendirikan ASEAN. Terbentuknya ASEAN ditandai dengan ditandatanganinya Deklarasi Bangkok. Organisasi ASEAN pada awalnya menghindari kerja sama dalam bidang militer dan politik. A . TUJUAN ASEAN Tujuan terbentuknya ASEAN tercantum dalam naskah Deklarasi Bangkok, antara lain sebagai berikut. 1. Mempercepat pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial, serta pengembangan kebudayaan di kawasan ASEAN melalui usaha bersama dalam semangat dan persahabatan untuk memperkukuh landasan sebuah masyarakat bangsa-bangsa Asia Tenggara yang sejahtera dan damai. 2. Meningkatkan perdamaian dan stabilitas regional dengan jalan menghormati keadilan dan ketertiban hukum di dalam negara-negara di kawasan ASEAN. Selain itu, juga mematuhi prinsip-prinsip Piagam PBB. 3. Meningkatkan kerja sama yang aktif serta saling membantu satu dengan yang lain di dalam menangani masalah kepentingan bersama yang menyangkut berbagai bidang. Misalnya, di bidang ekonomi, sosial, kebudayaan, teknik, ilmu pengetahuan, dan administrasi. 4. Saling memberikan bantuan dalam bentuk sarana pelatihan dan penelitian dalam bidang pendidikan, profesional, teknik, dan administrasi. 5. Meningkatkan kerja sama yang lebih efektif dalam meningkatkan penggunaan pertanian serta industri, perluasan perdagangan komoditas internasional, perbaikan sarana pengangkutan dan komunikasi, serta peningkatan taraf hidup mereka. 6. Memelihara kerja sama yang lebih erat dan bergabung dengan organisasi internasional dan regional lainnya untuk menjajaki segala kemungkinan saling bekerja sama secara lebih erat di antara mereka sendiri. B . STRUKTUR ASEAN Struktur organisasi ASEAN telah mengalami perkembangan dan penyempurnaan sejak pembentukannya sampai sekarang.

1) Sebelum KTT pertama di Bali 1979 Struktur organisasi ASEAN sebelum KTT di Bali adalah sebagai berikut : - Sidang Tahunan Para Menteri - Standing Committee - Komite-komite Tetap dan Khusus - Secretariat nasional ASEAN pada setiap ibu kota Negara-negara anggota ASEAN. 2) Sesudah KTT di Bali 1979 Setelah berlangsung KTT ASEAN di Bali tahun 1976, struktur organisasi ASEAN mengalami perubahan, yaitu sebagai berikut : 1. Pertemuan para kepala pemerintah (Summit Meeting). Pertemuan ini merupakan kekuasaan tertinggi dalam ASEAN. 2. Sidang tahunan menteri-menteri luar negeri ASEAN (Annual Ministerial Meeting). 3. Sidang para menteri ekonomi. 4. Sidang para menteri non-ekonomi. 5. Standing Committee. 6. Komite-komite ASEAN. 3) Sekertariat ASEAN (ASEAN Secretariat) Pejabat yang pernah menjadi Sekretariat Jenderal Sekretariat ASEAN adalah sebagai berikut : - HR. Dharsono Indonesia (1977-1978) - Umarjani Notowijono Indonesia (1978-1979) - Datok Ali Bin Abdullah Malaysia (1979-1980) - Narciso G Reyes Filipina (1980-1982) - Chan Kai Yu Singapura (1982-1984) - Pan Wannamethee Thailand (1984-1986) - Roderick Yong Brunai Darusalam (1986-1989) - Rusli Noor Indonesia (1989-1993) - Datok Ajit Singh Malaysia (1993-1998) - Rodolf Certeza Severio, Jr Filipina (1998-2002) - Ong Keng Yong Singapura (2003-sekarang) Tugas dari sekretariat ASEAN pada saat ini adalah selain bertanggung jawab atas pelaksanaan tugas-tugas yang ditetapkan oleh Sidang Tahunan para Menteri Luar Negeri dan Standing Committee juga juga bertugas menyelaraskan, memperlancar serta memonitor kemajuan pelaksanaan kegiatan ASEAN dan bertindak sebagai badan administrative untuk membantu peningkatan implementasi secara efektif proyek-proyek dan kegiatan-kegiatan ASEAN. Secretariat ASEAN juga berfungsi sebagai jalur komunikasi resmi antara ASEAN dengan organisasiorganisasiregional/Internasional. Perkembangan ASEAN. Berdasarkan Deklarasi Bangkok tanggal 8 Agustus 1967 sebenarnya latar belakang

pembentukan ASEAN, adalah bersifat politik, seperti terlihat dalam konsideran Deklarasi sebagai berikut : Mengingat : Bahwa Negara Asia Tenggaralah yang sama-sama bertanggung jawab untuk memperkuat stabilitas ekonomi dan sosial budaya kawasan ini dan menjamin pembangunan nasional mereka yang berlangsung secara damai dan progresif dan bahwa mereka telah bertekat untuk menjaga stabilitas dan keamanan mereka dari campur tangan pihak luar dalam segala bentuk manifestasinya demi memelihara identitas nasional mereka sesuai dengan cita-cita dan aspirasi-aspirasi rakyat mereka. Menyatakan : bahwa semua pangkalan militer asing bersifat sementara dan hanya berada dengan persetujuan Negara-negara yang bersangkutan serta tidak dimaksudkan untuk digunakan secara langsung atau tidak langsung untuk melakukan subversi terhadap kemerdekaan dan kebebasan nasional Negara-negara dikawasan ini atau merugikan proses pembangunan nasional mereka yang berlangsung dengan tertib. Dalam deklarasi kesepakatan ASEAN ditegaskan bahwa mereka terikat pada Deklarasi-deklarasi Bandung, Bangkok, Kuala Lumpur serat piagam PBB dan berusaha untuk membina perdamayan kemajuan, kemakmuran dan kesejahteraan rakyat negara-negara anggota serta berikhtiar untuk memantapkan hasil-hasil ASEAN dan pemperluas kerjasama ASEAN dalam bidang-bidang ekonomi, sosial, budaya dan politik. Sebagai kerangka kerjasama ASEAN mereka menetapkan bidang kegiatan : politik, ekonomi, sosial, keamanan dan perbaikan mekanisme ASEAN. Dalam mengadakan perjanjian mereka berpedoman pada azas-azas : 1. Saling menghormati kemerdekaan, kedaulatan-kedaulatan persamaan keutuhan wilayah dan kepribadian nasional dari semua bangsa. 2. Hak setiap Negara untuk melangsungkan kehidupan nasionalnya bebas dari campur tangan, subversi atau tekanan dari luar. 3. Tidak campurtangan mengenai urusan dalam negeri satu sama lain. 4. Penyelesaian perselisihan atau persengketaan dengan cara-cara damai. 5. Penolakan ancaman dengan kekerasan atau penggunaan kekerasan. 6. Kerjasama yang efektif antara mereka. Kerjasama ASEAN Dalam Bidang Ekonomi. Sejak KTT Bali tahun 1976, para menteri ekonomi ASEAN meningkatkan kegiatan dan sampai saat ini banyak kemajuan yang telah dicapai dalam bidang kerjasama ekonomi ASEAN. Pedoman pelaksanaan dibidang kerjasama ekonomi terdapat dalam Deklarasi Kesepakatan ASEAN yang menyatakan bahwa dalam rangka kerjasama di bidang ini, beberapa program kegiatan telah disetujui, antara lain meliputi : 1. Komoditi utama, terutama pangan dan energi. 2. Kerjasama bidang Industri. 3. Kerjasama bidang Perdagangan.

4. Pendekatan bersama atas persoalan komoditi internasional dan persoalan ekonomi diluar kawasan ASEAN. 5. Mekanisme kerjasama ekonomi ASEAN. Dalam kerjasama ASEAN dalam bidang ekonomi dilakukan dalam sektor-sektor sebagai berikut : - Sektor Perdagangan dan Pariwisata. - Sektor Pangan, Pertanian dan Kehutanan. - Sektor Industri, Pertambangan dan Energi. Kerjasama ASEAN Dalam Bidang Sosial Budaya. Didalam Deklarasi Kesepakatan ASEAN khusus untuk bidang Sosial Budaya ditetapkan kerangka kerjasama sebagai berikut : Sosial 1. Kerjasama dalam bidang pembangunan nasional, dengan menekankan pada kesejahteraan golongan berpendapatan rendah dan penduduk pedesaan, melalui perluasan kesempatan kerja yang produktif dengan pembayaran yang wajar. 2. Bantuan bagi ikut sertanya secara aktif semua sector dan lapisan masyarakat ASEAN terutama kaum wanita dan pemuda, dalam usaha-usaha pembangunan. 3. Intensifikasi dan perluasan kerjasama yang telah ada dalam menanggulangi masalah perkembangan penduduk didalam wilayah ASEAN dan dimana mungkin, menyusun strategi baru dalam bekerjasama dengan badan-badan internasional yang bersangkutan. 4. Intensifikasi kerjasama antara Negara-negara anggota sebagaimana juga dengan badan-badan internasional yang berhubungan dengan itu dalam pencegahan dan pemberantasan penyalagunaan narkotika dan pengedaran obat bius secara tidak sah. Kebudayaan dan Penerangan 1. Diperkenalkannya pelajaran mengenai ASEAN, Negara-negara anggotanya dan bahasa-bahasa nasionalnya sebagai bagian dari kurikulum di sekolah-sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan lainnya di negara-negara anggota. 2. Bantuan kepada para cendikiawan, penulis, artis dan wakil masa media ASEAN untuk memungkinkan mereka memainkan peranan yang aktif dalam memupuk rasa kepribadian dan persahabatan regional. 3. Menyebar luaskan pengkajian masalah-masalah Asia Tenggara melalui kerjasama yang lebih erat antara lembaga-lembaga nasional. Dana ASEAN (ASEAN Fund). Disamping anggaran rutin untuk perbelanjaan ASEAN secretariat, masih ada suatu biaya untuk keperluan proyek-proyek ASEAN diluar anggaran rutin yang disebut Dana ASEAN. Sebagaimana tercantum dalam pasal II ayat 1 dan 2 Agroement for the Estabilishmsent of a Fund the association of South East Asean Nations yang

ditandatangani oleh wakil-wakil 5 negara ASEAN pada tanggal 17 Desember 1969, maka setiap Negara anggota diwajibkan membayar (menyediakan) 1 juta US $ untuk dana pembiayaan proyek-proyek ASEAN. Dana ini diwajibkan disimpan dimasing-masing Negara anggota sendiri, dalam suatu rekening bank yang disebut ASEAN Fund National Account Indonesia di bank Indonesia. di 9:20:00 PM

Peranan Asean demi manfaat rantau dan juga jagat


Oleh Chairul Fahmy Hussaini JIKA Menteri Ehwal Luar, Encik George Yeo, sebelum ini memberikan gred C kepada Asean atas kelakonan dan kemampuan institusi itu menangani pelbagai isu rumit menyentuh Myanmar, namun dengan berakhirnya Mesyuarat Menteri-Menteri Asean (AMM) dan Forum Serantau Asean (ARF) kelmarin, ia kini wajar diberi gred yang lebih baik sedikit B.Asasnya cukup mudah: Asean sebagai institusi penting rantau ini yang ditubuhkan pada 1967 telah berjaya mengekalkan keharmonian politik dan perpaduan serumpun sepanjang empat dekad, berbanding rantau lain dengan institusi mereka sendiri, selepas berakhirnya Perang Dingin.Meskipun ia dikecam hebat kerana gagal mendapatkan Myanmar menuruti gagasan demokrasi yang ditunjangi Barat, ini tidak bermakna Asean harus dilihat sebagai sebuah institusi lemah atau bak singa tidak bertaring. Satu perkara yang harus diakui masyarakat antarabangsa, Asean telah memainkan peranan penting dalam mendapatkan Myanmar membuka pintu bagi kemasukan bantuan asing selepas berlakunya taufan Nargis yang meranapkan sebahagian negara itu pada Mei lalu.Dan Asean jugalah yang berusaha membuka ruang agar Myanmar menerima kehadiran wakil khas Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu (PBB), Profesor Ibrahim Gambari.Selain itu, pelbagai usaha juga telah dilakukan Asean sejak penubuhannya lebih empat darsawarsa.Namun perkembangan institusi utama Asia Tenggara lewat setahun dua inilah yang perlu diberi perhatian teliti.Paling utama sekali adalah pelaksanaan Piagam Asean dan kegigihan pemimpinnya dalam membangunkan kerana Asean mutu adalah kehidupan sebuah juta masyarakat yang di serantau, menerusi kemajuan dan ekonomi, sosiobudaya dan modal insan.Pelaksanaan Piagam Asean cukup penting institusi warga memayungi kepentingan kesejahteraan lebih 568.3 rantau ini.Dengan keupayaannya

membentuk mekanisme dan rangka kerja undang-undang lebih kukuh, ia mampu menjadi sebuah organisasi relevan.Dengannya, Asean akan mampu menangani serta menghurai konflik yang dihadapi antara negara anggota.Contohnya, konflik Myanmar dan juga pertikaian Thailand-Kemboja sekarang ini.Sepanjang mesyuarat

baru lalu juga, isu hak asasi turut dibincangkan dengan sebuah badan hak asasi manusia dijangka dibentuk di bawah piagam itu. Apa yang perlu difahami ialah Asean berusaha melakukan yang terbaik untuk warga di rantau ini mengikut cara dan rentaknya yang tersendiri yang disenangi dan diterima kesemua 10 negara anggota.Lebih daripada itu, Asean juga cuba meluaskan memulakan peranannya latihan dengan mendampingi bantuan masyarakat Asia menerusi alam, pelaksanaan ARF.Dan persetujuan yang dicapai daripada 27 negara anggota untuk serantau dalam kemanusiaan bencana menunjukkan pergerakan Asean mahupun pelaksanaan ARF bukan sesuatu yang sia-sia.Dan kesediaan Korea Utara untuk menandatangani Perjanjian Persahabatan dan Kerjasama Asean menunjukkan besarnya pengaruh institusi ini dalam mempromosikan keamanan jagat.Bak dinyatakan Encik Yeo, langkah negara komunis itu menandatangani perjanjian tersebut sebagai simbol penting kerana ia menunjukkan kesediaan Korea Utara untuk menjalin hubungan lebih luas dalam ehwal antarabangsa.Namun selain cabaran kecil yakni mendapatkan pengesahan atau ratifikasi daripada tiga negara Indonesia, Filipina dan Thailand bagi melengkapi persetujuan tujuh negara lain dalam melaksanakan Piagam Asean, institusi itu hari ini sebenarnya berhadapan satu lagi cabaran besar:

Peranan dan penglibatan Malaysia untuk mewujudkan kestabilan serantau khususnya dalam aspek politik dan keselamatan
Pengenalan: Asia Tenggara merupakan satu perkataan baru yang hanya muncul pada masa Perang Dunia Kedua sebelum ini hanya lebih dikenali dengan panggilan Alam Melayu . Umumnya Asia Tenggara meliputi dua jenis masyarakat besar iaitu negeri-negeri di Tanah Besar dan negerinegeri kepulauan. Kedua-duannya terdiri daripaa Vietnam, Kemboja, Laos, Thailand, Myanmar, Malaysia, Singapura, Brunei, Indonesia dan Filipina.[1] Kerjasama serantau di antara negaranegara di Asia Tenggara ini sebenarnya telah bermula sejak abad yang ke-13 lagi. Kerjasama serantau ketika itu meliputi tiga aspek besar iaitu kerjasama dari sudut sosiobudaya, politik, dan diplomasi serta perdagangan dan ekonomi. Namun kerjasama ketika itu melibatkan dua buah negara sahaja contohnya hubungan Siam dengan Melaka, Myanmar dengan Siam dan Majapahit dengan negeri-negeri Nusantara [2]. Sejarah kerjasama serantau di Asia Tenggara selepas kemerdekaan boleh dikesan daripada cadangan Tunku Abdul Rahman kepada Presiden Garcia (Filipina) pada bulan Januari 1959 untuk menubuhkan sebuah persatuan bukan politik di kalangan negara-negara Asia Tenggara bagi meningkatkan kerjasama politik, ekonomi dan sosial. Kerjasama serantau pertama yang ditubuhkan ialah Perjanjian Ekonomi dan Persahabatan Negara-negara Asia Tenggara ( Southeast Asian Friendship and Economic Treaty atau ringkasnya SEAFET) pada tahun 1959 yang dianggotai oleh Tanah Melayu dan Filipina. Kedua diikuti dengan Persatuan Asia Tenggara (ASA) pada tahun 1961 yang dianggotai oleh Tanah Melayu, Thailanad, Filipina. Kerjasama serantau Asia Tenggara yang ketiga ialah MAPHILINDO yang ditubuhkan pada tahun 1963 dan

dianggotai oleh Tanah Melayu , Filipina dan Indonesia dan kerjasama serantau yang keempat daan merupakan pertubuhan kerjasama yang terakhir ialah Persatuan Negara-negera Asia Tenggara (ASEAN) yang ditubuhkan pada tahun 1967 dan dianggotai oleh 10 buah negara secara berperingkat iaitu Malaysia, Thailand. Singapura, Indonesia, Filipina, Brunei, Vietnam, Laos, Kemboja, Hanoi, Pertubuhan ini kekal hingga ke hari ini. Penulisan ini akan membincangkan peranan dan penglibatan Malaysia untuk mewujudkan kestabilan serantau khususnya dalam aspek politik dan keselamatan. Penulis akan cuba mengupas dan mengalurkan peranan yang telah dimainkan oleh Malaysia dalam menyelesaikan beberapa isu dengan menjaga hubungan dan semangat setiakawan ASEAN.Selain daripada menjalinkan hubungan diplomatic, Malaysia juga telah menggunakan kaedah atau pendaktan rundingan, bertolak-ansur, cara diplomasi dan yang lebih menarik lagi Malaysia telah memainkan peranan sebagai orang perantaraan dalam menyelesaikan isu-isu yang melibatkan dua buah negara yang bertelagah seperti yang berlaku di Kemboja. Di mana Malaysia telah bertindak sebagai orang tengah dalam menyelesaikan prgolakan politik yang berlaku di Kemboja. Selain daripada itu, penulis cuba memperlihatkan peranan dan penglibatan Malaysia dalam menyelesaikan isu tuntutan bertindih dengan cara rundingan dan cuba menyelesaikan sebarang pertikaian melalui ICJ. Isu Malaysia-Singapura juga turut dilihat bagi menunjukkan bahawa Kerajaan Malaysia sentiasa mendukung hasrat murni untuk menjalinkan hubungan baik dengan negara jiran. SEBAB-SEBAB PERLUNYA KEPADA KERJASAMA SERANTAU Sebagai sebuah negara yang baru dibebaskan dari belenggu penjajahan dan menghirup angin kemerdekaan , negara-negara di Asia Tenggara menghadapi pelbagai masalah dalam mengatur dasar luar negara mereka. Ini menyebabkan timbulnya tekanan ke atas soal-soal menubuhkan satu pakatan kerjasama di rantau Asia Tenggara. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi keadaan ini: a. Terdapatnya tekanan nasionalismanya sendiri agar negara yang baru merdeka itu mengambil mengambil peranan, mendapat tempat dan diterima sebagai setaraf dengan negara lain di dunia, b. Kemampuan yang begitu terhad serta keadaan dalam negara yang serba kekurangan seperti keadaan politik yang tidak stabil, masyarakat yang terbahagi-bahagi dan ekonomi yang begitu lemah, c. Asia Tenggara merupakan satu rantau yang strategik tetapi paling lemah kerana berpecahbelah dan kucar-kacir. Pengalaman sejarah menunjukkan bahawa keadaan sedemikian memudahkan kuasa-kuasa besar dunia menjadikanya sebagai gelanggang pertelagahan. Dalam era Perang Dingin, Asia Tenggara menjadi salah satu tumpuan perebutan kuasa Barat dengan komunis. d. Negara-negara Asia Tenggara sedang menghadapi tugas-tugas besar dalam menegakkan perpaduan negara dan memperbaiki ekonomi yang masih berbentuk kolonial. Keadaan luar yang tidak stabil akan memberatkan lagi tugas-tugas ini. Di samping itu terdapat pelbagai gejala yang dapat mencetuskan pertikaian sesama sendiri terutama dalam soal-soal yang belum selesai hasil kolonialisma seperti isu sempadan negara, taburan ethnik dan semangat kedaerahan serta wujudnya perbezaan pandangan dan ideolgi setiap negara serantau. Burma dengan neutralssosialis, Thai- terikat kuat pada Amerika Syarikat, Indonesia militant-nationalist, Filipina dianggap sebagai ranting Asia Ameria Syarikat, Vietnam Utara, nationals / communist dan sebagainya.[3]

Di atas kesedaran ini maka Malaysia sebagai sebuah negara yang terawal menyedari akan hakikat pentingnya kepada penubuhan kerjasama serantau ini membuat satu kesimpulan bahawa keselamatan negara-negara serantau di Asia Tenggara tidak akan terjamin selagi ianya masih hidup berpecah-belah dan membawa haluan masing-masing. Perpaduan adalah mesti untuk membangunn dengan lebih sempurna terutama dari terus bergantung pada kuasa-kuasa luar.Kerjasama ini dapat dilihat dalam peringkat ASEAN dan dunia luar dalam aspek politik dan keselamatan, ekonomi dan sosial. Dalam peringkat kerjasama dalam ASEAN tujuannya adalah demi kepentingan pengukuhan ASEAN manakala kerjasama ASEAN dengan dunia luar adalah lebih berperanan dalam perdagangan antarabangsa atau lebih kepada kepentingan ekonomi. Dalam hal ini Malaysia telah mengatur langkah-langkah tertentu di arena politik antarabangsa . Oleh itu, penekanan diberikan kepada soal-soal menubuhkan pakatan kerjasama serantau, mengadakan satu jaminan keselamatan yang membolehkan tenaga ditumpukan ke arah penglibatan isu-isu politik dunia mengikut kemampuan dan kepentingan nasional dari semasa ke semasa. Dalam usaha membina dan mengukuhkan kerjasama serantau ini Malaysia tidak ketinggalan memainkan peranan dan penglibatan dalam beberapa isu di Asia Tenggara.

Dasar Luar Malaysia


Malaysia adalah sebuah negara kecil di Asia Tenggara yang pastinya tidak mampu hidup bersendirian. Atas kesedaran ini, Malaysia berpendapat kerjsama serantau adalah merupakan agenda penting dalam hubungan luarnya untuk mengujudkan kestabilan serantau dalam menghadapi ancaman musuh. Peranan dan penglibatan ini juga penting kepada Malaysia kerana sebagai sebuah negara yang baru merdeka perlu mengambil peranan, mendapat tempat dan diterima setaraf dengan negara-negara lain di dunia seterusnya mencipta identity sendiri. Dasar luar Malaysia adalah kesinambungan kepada dasar negara bertujuan untuk menjaga dan mengekalkan keselamatan, keharmonian, kesejahteraan ekonomi dan lain-lain kepentingan negara. Pada hakikatnya, walaupun terdapat pelbagai persepsi dan pengertian mengenai dasar luar negara, setiap dasar luar negara yang dibentuk perlu mengambilkira persekitaran luar yang dinamik. Pengertian di atas juga merujuk kepada dasar luar negara Melaysia. Kepelbagaian faktor geografi, sejarah, sosial dan politik menyumbang kepada pembentukan dan halatuju hubungan anatarabangsa Malaysia dengan negara-negara lain. Selain daripada faktor-faktor tersebut, faktor globalisasi di ambang perkembangan era komunikasi dan teknologi maklumat juga memainkan peranan yang semakin penting. Walau apa pun faktor-faktornya, objektif dasarnya adalah sama iaitu ke arah menjaga dan mengekalkan kepentingan Malaysia di arena antarabangsa[4]. Contohnya dalam konteks ASEAN, kesemua negara anggota ASEAN berganding bahu dalam usaha meningkatkan kerjasama di kalangan ahli-ahalinya. Manakala serantau pula secara umumnya dapat didefinasikan sebagai satu proses yang melibatkan sebahagian negara yang terhad disesuatu rantau berkenaan dan akhirnya dibentuk sebagai suatu rganisasi serantau[5]. Oleh itu kerjasama serantau membawa kepada penyatuan negaranegara dalam keperluan politik, ekonomi dan pertahanan. Penelitian mendalam dasar luar Malaysia menunjukkan bahawa semenjak tahun 1957 ianya melalui perubahan yang stabil sejajar dengan perubahan pucuk kepimpinan politik negara. Tunku Abdul Rahman, Perdana Menteri Malaysia yang pertama telah mengamalkan dasar antikomunis dan sikap pro-Barat dengan mengadakan hubungan yang rapat dengan negara-negara Komenwel. Beliau juga telah merintis usaha kepada dasar berkecuali , neutral dan keamanan bersama. Di bawah kepimpinan Tun Abdul Razak Hussein pula, Malaysia telah menganggotai Pertubuhan Persidangan Islam (OIC) dan mula dikenali sebagai negara Islam. Semangat ingin berbaik-baik dan mencari rakan baru pada masa itu juga telah merapatkan lagi hubungan

Malysia dengan Pertubuhan Negara-negera Berkecualai (NAM). Selain itu, Malaysia turut menggalakkan pelaburan selain daripada sumber-sumber British.

Era kepimpinan Tun Hussein Onn pula menyaksikan Malaysia mempereratkan hubungan serantau. ASEAN, contohnya telah menjadi prinsip asas kepada dasar luar Malaysia selepas kejatuhan Saigon (sekarang Ho Chi Minh City) pada 1975, pengunduran pengakalanpengakalan tentera Amerika Syarikat di Asia Tenggara dan serangan Vietnam ke atas Kampuchea (sekarang Cambodia)Walau bagaimanapun , dasar luar Malaysia telah melalui perubahan yang dramatik selepas Tun Dr. Mahathir Mohamad dilantik sebagai Perdana Menteri yang keempat pada tahun 1981. Di bawah kepimpinan beliau dasar luar Malaysia lebih berorientasikan kepada aspek-aspek ekonomi. Pada masa yang sama, dasar luar Malaysia dilihat lebih menekankan kepada hak, kepentingan dan aspirasi negara-negara membangun dan sokongan kerjasama selatan-selatan.Kepimpinan Tun Dr. Mahathir Mohamad juga telah dapat menyaksikan pelbagai inisiatif. Antaranya, Antartika sebagai hak warisan manusia sejagat, Dasar Pandang ke Timur, Pelaburan Imbal-Balik, Kokus Ekonomi Asia Timur (EAEC), Kumpulan 15 (G 15), Penyatuan Islam dan memperjuangkan hak-hak negara membangun dalam isu-isu alam sekitar, hak asasi manusia serta demokrasi.Evolusi dasar luar Malaysia di bawah kempatempat Perdana Menteri setakat ini telah menunjukan bahawa mereka telah memberi respon pragmatik bersesuaian dengan perubahan geopolitik dan ekonomi yang berlaku pada masa itu. Ini kerana untuk terus menjadi relevan kepada keperluan negara, dasar luar negara tidak boleh berada dalam keadaan static. Ianya memerlukan perubahan. Walau bagaimanapun, dalam masa yang sama , kesinambungan dalam konteks dasar luar negara juga perludititikberatkan. Kedua-dua perubahan dan kesinambungan ini sesungguhnya menampakkan rasa yakin diri dan kematangan Malaysia dalam urusan hubungn antarabangsanya. Malaysia merupakan sebuah negara di rantau ini yang bergerak cergas dalam beberapa pertubuhan serantau bagi meningkatkan kerjasama di kalangan negara-negara Asia Tenggara. Pembinaan kerjasama ini telah dimulakan sejak tahun 1950-an lagi. Ini dapat dilihat semasa lawatan rasmi Tunku Abdul Rahman ke Filipina pada bulan Januari 1959, beliau telah mengumumkan pembentukan Perjanjian Ekonomi dan Persahabatan Negara-negara Asia Tenggara (Southeast Asian Frienship and Economic Treaty) yang dipersetujui oleh Tunku Abdul Rahman dan Presiden Filipina , Carlos P. Garcia.

KERJASAMA-KERJASAMA SERANTAU DI ASIA TENGGARA


SEATO / SEAFET SEATO atau Southeast Asia Trety Organization telah ditubuhkan pada 8 September 1954 di Manila dan merupakan kerjasama yang pertama di rantau Asia Tenggara. Ia hanya dianggotai oleh dua buah negara sahaja iaitu Indonesia dan Filipina dan lebih merupakan satu pakatan ketenteraan SEAFET atau Perjanjian Ekonomi dan Persahabatan Negara-negara Asia Tenggara pula ditubuhkan pada Januari 1959 ketika lawatan rasmi Tunku Abdul Rahman ke Filipina. Ia dianggotai oleh Tanah Melayu dan Filipina. Sepanjang penubuhan SEATO dan SEAFET ini tiada kerjasama serantau yang dapat dijalankan. Ini berikutan keengganan beberapa negara untuk menyertai dan merestuinya. Ketika ini sikap nasionalisma kenegaraan masih menebal dan penuh dengan syak wasangka terhadap negara lain lebih-lebih lagi Indonesia yang mendakwa Tanah Melayu dan Filipina masih mempunyai hubungan dengan penjajah. Ini adalah berikutan hubungan Filipina dengan beberapa kuasa Barat melalui SEATO dan Tanah Melayu yang mengikat perjanjian pertahanan dengan Britain melalui AMDA.

Namun sebenarnya kerjasama yang disarankan oleh Malaysia adalah berbentuk pakatan ekonomi, kebudayaan dn teknikal dan secara kebetulan mengenai soal-soal keselamatan. Kegagalan usaha Malaysia yang pertama untuk mengujudkan kerjasama sebenarnya adalah disebabkan tanggapan yang salah dari negara jiran dan tekanan politik semasa. Setelah mendapati SEAFET tidak dapat bertahan lama, Malaysia tidak berputus asa lantas bersama dengan Filipina dan Indonesia mengusahakan penubuhan ASAS (Association of Southeast Asian States) yang kemudiannya dikenali sebagai ASA (Asociation of Southeast Asia) pda 31 Julai 1961. Hasrat Malaysia ingin mewujudkan kerjasama terbukti dengan adanya kerjasama dalam bidang ekonomi, social, budaya, saintifik dan petadbiran. Antara usaha yang dilakukan ialah mengadakan pertukaran maklumat teknik dan kepakaran, menggalakkan pelancongan di antara negara anggota, pertukaran tenaga pengajar antara Universiti Malaya dan Universiti Filipina serta lawatan dan rombongan kebudayaan. Terdapat juga kerjasama dalam bidang perkapalan dan penerbangan namun ianya terbatas akibat daripada penguasaan saham syarikat asing iaitu Scadinavian Airline Sistem (SAS). Malangnya kerjasama ini juga tidak dapat bertahan lama apabila berlakunya perbalahan di mana Filipina menuntut Sabah atau Borneo Utara sebagai sebahagian daripada hak Kesultanan Sulu daripada British semasa penubuhan Malaysia. Malahan Indonesia juga mengumumkan konfrontasi pada Januari 1963 menentang penubuhan Malaysia. ASA Setelah gagal dalam usaha menubuhkan suatu kerjasama serantau akibat daripada prasangka beberapa negara yang berfahaman neutrailima, Malaysia sekali lagi berusaha untuk menubuhkan kerjasma serantau namun usahanya kali ini hanya berjaya menarik perhatian negara Thai dan Filipina sahaja. Pada 31 Julai 1961, Persatuan Asia Tenggara (ASA) telah diisytiharkan secara rasmi. Setelah gagal menarik Indonesia menyertai pakatan ini, ASA hanya berpuas hati dengan penyertaan tiga buah negara sahaja iaitu Tanah Melayu, Thailand dan Filipina.Penubuhan ASA yang disertai dengan Pengisytiharan Bangkok pada 1 Ogos 1961 sebenarnya membawa seribu pengharapan kepada negara anggotanya. Beberapa persetujuan kerjasama dirancang terutama dalam aspek ekonomi dan sosial, budaya, saintifik dan pentadbiran. Pertubuhan ini juga berusaha untuk menubuhkan makenisme berkesan bagi mempertingkatkn kerjasama dalam pelbagai lapangan, terutamanya sains dan pentadbiran, kemudahan latihan dan penyelidikan untuk kepentingan bersama serta berusaha mewujudkan keamanan dan kestabilan politik serantau. Impian ketiga-tiga negara dalam ASA ialah agar kemiskinan di rantau ini dapat dibendung, fahaman komunis dihapuskan seterusnya menjadi sebuh pertubuhan yang bebas dari mana-mana blok kuasa besar. Melalui ASA beberapa kerajasama ekonomi dan social telah berjaya dilaksanakan. Antaranya ialah seperti membuat pertukaran maklumat, teknik dan kepakaran, penggalakkan di bidang pelancongan, kerjasama di bidang perkapalan dan penerbangan , pertukaran pelajar di anatara universiti seperti di antara Universiti Malaya dan Univeristi Filipina dan yang terakhir ialah kerjasama di bidang kesenian dan kebudayaan iaitu mengadakan rombongan dan lawatan sesama mereka untuk mengeratkan lagi perhubungan dan semangat setiakawan.Malang sekali, seperti juga SEATO dan SEAFET, ASA juga tidak dapat bertahan lama kerana terdapat beberapa masalah dalaman yang membawa kepada penolakkannya. Antaranya iaah apabila Filipina membantah kemasukan Sabah ke dalam penubuhan Malaysia pada tahun 1963 yang didakwa adalah sebahagian daripada Sulu yang memang berada dalam kawasannya. Filipina akhirnya menarik diri dri menganggotai ASA. Faktor kedua ialah apabila menerima kecaman hebat dari Indonesia berikutan penubuhan Malaysia 1963. Ekoran dari itu, Indonesia telah menjalankan dasar Ganyang Malaysia dalam konfrontasinya terhadap Malaysia pada

tahun 1963-1966.Akibat daripada konfrontasi, ASA sebenarnya tidak dapat bergerak. Walau pun tidak dimansuhkan namun ketiadaan Indonesia sebagai anggota menyebabkan kerjasama sebenar yang diharapkan tidak akan dicapai. Walaupun ketiga-tiga anggota ASA iaitu Malaysia, Thailand dan Filipina telah bersepakat untuk melupakan perselisihan yang lain dan ingin terus bekerjasama demi faedah bersama. MAPHILINDO.Pada bulan Julai 1963, Tunku Abdul Rahman, Presiden Sukarno dan Presiden Macapagal telah mengadakan perjumpaan di Manila untuk menyelesaikan perselisihan yang muncul akibat pembentukan Malaysia. Persetujuan dicapai untuh menubuhkan sebuah lagi persatuan serantau yang dinamakan Maphilindo. Ia adalah hasil idea Presiden Filipina, Macapagal yang ingin mewujudkan sebuah Persekutuan Gabungan Dunia Melayu yang agung. Tujuan beliau ialah untuk menghuraikan perbezaan-perbezaan kemerdekaan di antara Indonesia dan cadangan penubuhan negara Malaysia. Maphilindo juga menitikberatkan keahlian yang berketurunan Melayu (Malay Origin). Dengan demikian penyertaan Thailand telah disekat.Sebagai satu konsep, Maphilindo bertentangan dengan konsep kerjasama yang dipegang oleh Malaysia, Maphilindo yang berteraskan penggabungan negara-negara Asia Tenggara berketurunan Melayu tampak politikal dan rasial. Idea tajam Sukarno dan Macapagal ini dilihat seperti menyindir Malaysia. Mapahilindo hanya bertahan beberapa minggu sahaja tanpa sempat untuk melancarkan asas-asas kegiatannya. Ia dibubarkan pada tahun 1963. Seperti dua kerjasama sebelum ini, Maphilindo lenyap begitu sahaja. Sebenarnya terdapat beberapa sebab yang membawa kegagalan kepada SEATO, SEAFET, ASA dan Maphilindo. Kesemua negara anggota ini mempunyai latar belakang yang berbeza. Kesemuanya telah dijajah tetapi telah menagalami bentuk penjajahan yang berbeza. Oleh itu, mereka juga mendasari system pemerintahan yang juga berbeza. Selepas kemerdekaan juga wujud dasar luar yang berbeza. Contohnya Malaysia condong kepada Britain, Indonesia ke arah Russia dan China manakala Filipina pula pada Amerika Syarikat. Kesan daripada itu semua maka wujud benteng syak wasangka dan keraguan antara satu sama lain dan ini menyebabkan kerjasama yang diharapkan masih belum tercapai. ASEAN..Persatuan negara-negara Asia Tenggara lebih dikenali sebagai ASEAN (Association of Southeast Asian Nationals) yang ditubuhkan pada 7 Ogos 1967 di Bangkok oleh kerajaan Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand. ASEAN yang sebelum ini memakai nama SEAARC (Southeast Asian Association of Regional Cooperation ) telah ditubuhkan kesan daripada konfrontasi Indonesia - Malaysia antara tahun 1963-1966. Ia telah membuka lembaran baru dalam perkembangan kerjasama di kalangan negara-negara Asia Tenggara. Antara lain, dengan penubuhan ASEAN adalah bertujuan untuk memulihkan semula semangat ASA yang terkubur selepas terjadinya peristiwa konfrontasi dan isu tuntutan Filipina ke atas Sabah.Pengisytiharan ASEAN telah ditandatangani oleh menteri luar kelima-lima negara iaitu Tun Adam Malik dari Indonesia, Tun Abdul Razak Hussein dari Malaysia, Tuan S. Rajaratnam dari Singapura dan Tuan Thanat Khoman dari Thailand. Pada peringkat awal pintu persahabatan ASEAN dibuka kepada semua negara di rantau Asia Tenggara ini untuk mewujudkan satu kerjasama dalam bidang social dan ekonomi serantau. Hanya lima negara sahaja yang telah menganggotai ASEAN pada tahun 1967 ini. Objektif penubuhan ASEAN pada waktu itu mengandungi tujuh matlamat iaitu:-a) Memperhebatkan pertumbuhan ekonomi, kemajuan social dan kebudayaan serantau dengan berusaha bersama-sama dengan semangat persamaan demi memperkukuhkn asas bagi satu masyarakat negara Asia Tenggara yang makmur dan aman.b) Menggalakkan keamanan dan stability dengan mematuhi dan menghormati keadilan dan undang-undang negara anggota dan mematuhi prinsip Piagam Bangsa-bangsa Bersatu (PBB)c) Menggalakkan kerjasama dan saling bantu-membantu atas masalah bersama dalam lapangan ekonomi, kebudayaan, teknikal, saintifik dan pentadbiran.d) Saling bantu-membantu dalam lapangan latihan dan kemudahan-kemudahan penyelidikan , teknikal dan pentadbiran. e) Menuntut kerjasama yang bersungguh-sungguh untuk memajukan dan memesatkan lagi pertanian dan perusahaan. Antara lain mengembangkan perdagangan antarabangsa, membaiki

kemudahan kemudahan pengangkutan dan perhubungan secara meninggikan taraf kehidupan rakyat.f) Menggalakkan pengkajian tentang Asia Tenggara. g) Memelihara hubungan yang rapat dan bekerjasama dengan badan-badan antarabangsa dan serantau yang mempunyai matlamat dan cita-cita yang sama serta mengkaji semua bidang untuk mengadakan kerjasama yang lebih rapat antara negara-negara anggota.Pada tahun 1984, keanggotaan ASEAN telah bertambah dengan kemasukan negara Brunei Darul Salam pda 7 Januari 1984, Vietnam pada 28 Jualai 1995, Laos dan Myanmar pada 23 Julai 1997 dan akhir sekali Kemboja sebagai ahli ASEAN yang terakhir telah memenuhi misi penubuhan ASEAN pada tahun 1967 di Bangkok iaitu mahu menjadikan ASEAN 10 berjaya dan seterusnya membawa negara-negara di Asia Tenggara kepada satu era yang lebih maju dari segi sosio-ekonomi, politik dan keselamatan serantau.

KERJASAMA SERANTAU ASEAN DALAM BIDANG POLITIK


Walaupun matlamat awal penubuhan ASEAN ialah untuk meningkatkan kerjasama dalam bidang sosial dan ekonomi namun sejak awal penubuhan ASEAN iaitu pada tahun 1967 sehingga tahun 1974 banyak menyentuh tentang bentuk rundingan dan juga kerjasama serantau terutama dalam persoalan politik serantau. Dengan kejatuhan Vietnam Selatan kepada komunis pda tahun 1975 dan diiikuti dengan pencerobohan terhadap kemboja pada tahun 1978 merupakan cabaran yang besar terhadap ASEAN untuk mengorak langkah dalam menangani masalah ini. Oleh itu, satu persidangan di antara ketua-ketua negara ASEAN buat pertama kalinya telah diadakan di Bali, Indonesia pada bulan Februari 1976.Pertemuan pertama selepas sembilan tahun penubuhan ini telah berjaya menghasilkan dua dokumen yang berkaitan iaitu Perjanjian Persahabatan dan Kerjasama di Asia Tenggara dan Deklarasi Kerukunan ASEAN. Kedua-dua kesetiaan ini adalah memberi tumpuan kepada kestabilan politik serantau seperti usaha membendung ancaman komunis , campurtangan kuasa-kuasa luar selain daripada menyelesaikan masalah dalaman ASEAN sendiri. Dengan menwujudkan beberapa kerjasama politik ASEAN seperti pelancaran konsep ZOPFAN, ARF dan Keselamatan serantau menyebabkan negara ASEAN terselamat dari pencabulan hak oleh negara dunia pertama. ZOPFAN (Zone of Peace, Freedom & Neutrality) Konsep ZOPFAN (Zone of Peace, Freedom & Neutrality) atau dikenali sebagai Zon Aman, Bebs dan Berkecuali telah diumumkan oleh Menteri-menteri luar ASEAN melalui Deklarasi Kuala Lumpur pada 27 November 1971 juga di Kuala Lumpur. Konsep ZOPFAN (Zone of Peace, Freedom & Neutrality) ini meliputi seluruh kawasan Asia Tenggara dan ia bermula hasil cadangan Tun Abdul Razak Bin Hussein.Deklarasi tersebut juga dikenali Deklarasi Kuala Lumpur. Konsep ZOPFAN (Zone of Peace, Freedom & Neutrality) telah dijadikan sebagai inti dasar luar bagi negara-negara ASEAN sebagai asas kepada semangat keserantauan di kalangan ahli. Antara inti utama, deklarasi ialah bahagawa negara-negara berkenaan berhasrat untuk mengendurkan ketegagangan antarabangsa dan mencapai perdamaian yang kekal di Asia Tenggara.Jawatankuasa ini telah memperincikan maksud Zon Aman, Bebas dan Berkecuali dalam ZOPFAN iaitu keutuhan, kemerdekaan dan identity kebangsaan dapat diwujudkan dn dikekalkan supaya mereka dapat mencapai pembangunan negara. Kerjasama serantau selaras dengan prinsip PBB dan bebas daripada campurtangan kuasa-kuasa luar.Aman bermaksud situasi hubungan yang teratur dan kewujudan keharmonian di kalangan negara. Keadaan aman tidak akan wujud sekiranya timbul konflik politik, ekonomi dan sebagainya antara negara-negara zon ini dengan kuasa luar. Manakala Bebas bermakna kebebasan sebuah negara daripada kawalan atau campurtangan negara-negara lain semasa menguruskan hal-ehwal dalaman atau luaran. Ini bermaksud negara-negara dalam zon berhak menyelesaikan masalah tempatan mengikut cara mereka sendiri demi keselamatan dan hubungan serantau yang lebih baik.

Konsep pengecualian ini telah menjadi kenyataan dan ASEAN telah berusaha bagi memastikan pengiktirafan dan penghorrmatan ke atas Asia Tenggara sebagai sebuah zon keamanan , kebebasan dan berkecuali serta bebas dari apa juga bentuk campurtangan kuasakuasa luar. Oleh itu dalam mesyuarat Jawatankuasa Pegawai Tinggi ASEAN pada Jualai 1972 telah mencapai kata sepakat dalam interpretasi sebuah Zon Aman, Bebas dan Berkecuali.Terdapat beberapa dan peristiwa penting yang telah berlaku di Asia Tenggara yang telah mendorong timbulnya konsep ZOPFAN (Zone of Peace, Freedom & Neutrality). Pertama, ialah kedudukan Asia Tenggara yang agak strategic kepada kuasa-kuasa besar dalam konteks ketegangan politik blok Timur-Barat, pergolakan politik di Vietnam, serta keputusan pengunduran tentera-tentera British dari Asia Tenggara dan Amerika dari Vietnam pada awal 1970-an. Perkembangan tersebut telah menimbulkan kecurigaan di kalangan negara ASEAN kerana dengan sebab ini ia mungkin menjejaskan kestabilan serantau.Sebab kedua ialah peperangan di Vietnam yang telah menyakinkan ASEAN bahawa campurtangan dan sokongan tentera kuasakuasa besar dalam pertelingkaan negera kecil Asia Tenggara sering menjejaskan kestabilan di rantau ini. Manakala factor yang ketiga membawa penubuhan ZOPFAN ini ialah adalah regionalisme yang telah menghasilkan pertubuhan kerjasama ekonomi serntau ASEAN yang dapat digunakan sebagai jentera untuk mencapai tujuan ZOPFAN. Adalah menjadi anggapan pengangur-penganjur ZOPFAN bahawa Asia Tenggara telah menjadi kawasan yang penuh dengan kegoncangan politik dan peristiwa perang akibat campurtangan kuasa-kuasa besar dalam hal-ehwal negara-negaranya.Untuk merealisasikan ZOPFAN (Zone of Peace, Freedom & Neutrality) ini maka negara-negara Asia telah menggariskan beberapa tujuan dan matlamat yang perlu dicapai. Diantaranya ialah untuk mewujudkan suatu suasana di Asia Tenggara dengan negara-negara di rantau ini mengamalkan dasar berkecuali iaitu tidak memihak atau melibatkan diri kepada mana-mana kuasa besar dan tidak membenarkan kuasa-kuasa besar ini campurtangan dalam hal-ehwal politik dan ketenteraan di Asia Tenggara seperti negara Russia, China dan Amerika Syarikat. Selaras dengan konsep ini, setiap negara di rant Asia Tenggara harus dibenarkan menentukan nasib negaranya sendiri tanpa campurtangan kuasa-kuasa luar ini. Manakala tujuan dan matlamat yang kedua ialah menjadikan Asia Tenggara berkecuali dan menghindarkan konflik yang boleh mengheret negara-negara di rantau ini serta kuasa-kuasa besar yang berminat dengan kawasan ini. Walaupun ZOPFAN yang diusahakan oleh ASEAN tetapi ia meliputi seluruh Asia Tenggara termasuklah kawasan yang didiami oleh Vietnam, Laos, Kampuchea dan Burma (Myanmar). Bagi ASEAN usaha iini penting kerana sejak beratus tahun lalu rantau Asia Tenggara sering menjadi rebutan kuasa-kuasa luar kawasan ini. Tujuan yang ketiga pula ialah untuk memastikan bahawa negara-negara dalam zon ini berhak menyelesaikan masalah tempatan mengikut cara mereka sendiri demi keselamatan dan hubungan serantau yang lebih baik. Menyelesaikannya secara aman dan tidak menggunakan sebarang kekerasan. Melalui usaha ini tidak ada negara atau kuasa-kuasa besar mampu dan berpeluang untuk mencari alasan supaya campurtangan dalam hal-ehwal rantau Asia Tengara . Ini adalah kerana keamanan dan kestabilan adalah syarat utama untuk kemerdekaan serta kesejahteraan sosial dan ekonomi penduduk Asia Tenggara. Untuk menjayakan matlamat ini kerjasama negara-negara Asia Tenggara amatlah diperlukan dalam meningkatkan perpaduan dan seterusnya menjalinkan hubungan yang rapat. Manakala tujuan yang terakhir ialah mengelak ancaman idealogi komunis melalui isu pelarian Vietnam dan seterusnsya memastikan Teori Domino gagal dilaksanakan. Ini untuk memastikan bahawa negara-negara Asia Tenggara tidak jatuh di bawah kuasa Komunis yang diketuai oleh China dan Russia. Negara-negara Asia Tenggara pada hakikatnya bebas menwujudkan persahabatan dengan semua negara di dunia

tenpa mengira fahaman ideology politik supaya keamanan dan keselamatan di rantau akan terus terjamin. Semua perkembangan ini membawa perubahan besar di rantau Asia yang memerlukan pengubahsuaian serta perhatian semua anggota ASEAN mengenai keselamatan dan langkahlangkah yang perlu diambil bagi membendung masalah ini. Usaha bagi keselamatan negara dan serantau adalah terpulang kepada negara-negara anggota untuk dilaksanakan melalui rancangan-rancangan pembangunan melalui kerjasama mereka dengan negara-negara lain dalam dan luar rantau dan dengan pertubuhan-pertubuhan serta agensi antarabangsa.Dari sudut perlaksanaannya, beberapa langkah telah berjaya dilakukan dalam memastikan segala tujuan dan matlamat ZOPFAN (Zone of Peace, Freedom & Neutrality) tercapai. Diantaranya ialah mewujudkan dasar tidak campur tangan.Ini sekaligus memberi hak setiap negara untuk mewujudkan cara hidupnya sendiri dengan bebas tanpa campurtangan luar dan tidak akan mencampuri urusan dalam bagi negara yang lain.Antara lain, menyelesaikan perselisihan atau pertikaian secara damai iaitu tidak menggunakan ancaman atau ugutan kekerasan serta bekerjasama secara berkesan antara negara-negara anggota.Ini dapat dilihat bagaiman pertikaian mengenai isu sempadan, isu gerakan pemisah , dan beberapa isu lain dapat diselesaikan secara aman tanpa memerlukan kekerasan jauh sekali penggunaan senjata.Dalam menjayakan konsep ZOPFAN ini juga berjaya elenyapkn perasaan tersisih yang biasanya boleh membawa kepada tindkan yang tidak bijak. Antara lain ialah memberi keyakinan kepada negara anggota agar menjadi lebih matang untuk membuat dan menerima dasar demi kepentingan bersama. Selain daripada itu ASEAN juga berjaya menghalang negara-negara anggota daripada berasa lemah dalam menjalankan pentadbiran mereka bagi mencapai kemajuan. ASEAN bertahun-tahun lamanya memberi negara anggota kekuatan, kemampuan dan keupayaan yang mengizinkan mereka bertindak bukan sahaja sebagai alat tetapi sebagai sebahagian dari system politik antarabangsa. Akhirnya melalui konsep ZOPFAN ini telah mendapat pengiktirafan dan sokongan dari negara-negara kesatuan Eropah, Pergerakan Negara-negara Berkecuali (NAM), Persidangan Komenwel serta beberapa negara lain seperti Jepun, Pakistan, Rumania dan Republik Demokratik Korea. Melalui ZOPFAN juga, negara anggota ASEAN berjaya menghalang merebaknya ideologi komunis dan teori Domino melalui pendekatan yang perlahan dan begitu berwaspada. Walaupun menghadapi pelbagai rintangan dan halangan dalaman dan luaran akhirnya ASEAN berjaya juga menjinakkan Vietnam yang kemudiannya mengiktiraf ASEAN dan konsep ZOPFAN itu sendiri.Penubuhan ASEAN Regional Forum (ARF) pada tahun 1994 adalah salah satu daripada pelaksanaan ZOPFAN. Ia penting bagi menggalakkan kestabilan politik dan keamanan di kawasan Asia Pasifik . ASEAN Reginal Forum dianggotai oleh negara-negara ASEAN, rakanrakan Dialog ASEAN iaitu Australia, Kanada, Kesatuan Eropah, Jepun, Korea Selatan, New Zealand dan Amerika Syarikat. Selain itu, negara China da Persekutuan Russia sebagai consultative partners dan Laos dan Papua New Guinea sebagai pemerhati. Di antara pendirian ASEAN Regional Forum ialah seperti memperjuangkan penyelesaian politik di Kemboja di mana tentera Vietnam diberi tekanan agar segera berundur dari Kemboja dan rakyatnya diberi peluang menentukan nasib sendiri.Di samping kejayaan-kejayaan, ZOPFAN juga mengundang masalah. Konsep ZOPFAN pada mulanya agak sukar diterima oleh kebanyakan negara anggotanya. Dasar Berkececuali agar kuasa-kuasa besar tidak campurtangan dalam hel-ehwal negara-negara ASEAN ternyata tidak begitu dipatuhi. Singapura dan Filipina contohnya masih mengekalkan pengakalan tentera Amerika Syarikat di negara mereka yang sudah tentu mempunyai pengaruh terhadap dasar ketenteraan negara tersebut. Pengunduran tentera-tentera tersebut akan mengancam keselamtan mereka. Ia juga akan mendatangkan kesan-kesan ekonomi yang buruk iaitu dari segi kehilangan pendaptan an

pekerjaan tempatan di pengkalan-pengkalan tersebut. Indonesia juga mengambil sikap tunggu dan lihat manakala Thailand yang sedang berhadapan dengan masalah keselamatan yang rumit kurang berminat untuk memberi sokongan. Begitu juga dalam pelaksanaan konsep ZOPFAN ini kerjasama yang diharapkan terutama ke arah tindakan yang kolektif ternyata bukalanlah semudah yang disangka. Terlalu sukar untuk meletakkan kepentingan serantau mendahului kepentingan nasionlisme sesebuah negara itu. Namun hingga kini ASEAN masih terus berjuang dan berusaha memastikan konsep ZOPFAN ini akan merealisasikan impian setiap negara Asia Tenggara ke arah Zon Aman, Bebas dan Berkecuali itu.

PERJANJIAN SEANWFZ
Perjanjian SEANWFZ adalah lanjutan dari konsep ZOPFAN. Sidang kemuncak ASEAN di Bangkok pada tahun 1995 berjaya mencapai persetujuan menjadikan Asia Tenggara sebagai kawasan bebas nuclear (SEANWFZ). Persetujuan ini ditandatangani oleh kesemua sepuluh ketua-ketua negara Asia Tenggara yang bermatlamat menjadikan Asia Tenggara sebagai kawasan bebas nuclear dn mereka juga bersetuju untuk mengelakkan rantau ini daripada menjadi tempat persaingan tenaga nuclear. Di samping menggalakkan keamanan dan keselamatan di rantau ini daripada kuasa-kuasa besr seperti China, Amerika dan sebagainya.Selain itu dengan wujudnya SEANWFZ ramtau Asia Tenggara juga akan bebas dari masalah pencemaran alam sekitar akibat sisa-sisa radioaktif dan bahan-bahan toksid. Sejarah di Nagasaki dan Hiroshima, Jepun serta Tragedi Chernoybell , Russia memberikan pengalaman kepada ASEAN untuk menangani masalah ini. Perjanjian penting bagi mengukuhkan keselamatan serantau di Asia Tenggara agar penubuhan SEANWFZ secara global dapat dibentuk. Dengan penguatkuasaan perjanjian SEANWFZ pada 27 Mac 1997 telah menyebabkan Asia Tenggara selamat daripada kemusnahan akibat senjata nuclear. Dipetik dari Utusan Malaysia pada tahun 197 mengenai SEANWFZ iaitu berdasarkan kenyataan daripada Menteri Luar Malaysia pada masa tersebut Datuk Seri Abdullah Ahmad Badawi ialah beliau menyeru negara kuasa nuclear supaya menunjukkan sokongan merea keada zon bebas senjata nuclear di Asia Tenggara dengan turut menyertai Perjanjian Zon Bebas Senjata Nuklear Asia Tengara (Southeast Nuclear Weapon Free Zone) .Oleh yang demikian, kesimpulannya adalah jelas bahawa pendekatan kolektif ASEAN dalam menyelesaikan isu-isu keselamtan politik di dalam perhubungan luar negeri telah berjaya walaupun tidak sepenuhnya. Sehingga kini, kebimbangan mengenai gerakan-gerakan dari luar seperti komunis dan tekanan dari kuasakuasa besar telah memberi dorongan yang besar bagi ASEAN untuk membangun dan mempertahankan tindakan kolektifnya. Ini dapat dilihat kejayaan ASEAN dalan menguruskan Hanoi dan Peking dalam hubungan luarnya, maslah Vietnam dan teori Domino serta isu pelarian pada hakikatnya telah membuka jalan kepada ASEAN dalam memperteguhkan hubungan politik setiap negara anggota. Walaupun bergelut dengan beberapa masalah peribadi namun usaha masih tetap diteruskan untuk memastikan negara rantau ini berada dalam aman dan jauh dari campurtangan kuasa asing. PERANAN DAN PENGLIBATAN MALAYSIA DALAM KERJASAMA SERANTAU DARI ASPEK POLITIK DAN KESELAMATAN. Bagi merealisasikan usaha untuk mengujudkan kestabilan serantau, Malaysia telah melibatkan diri dengan pelbagai cara dan pendekatan dalam dasar hubungan luarnya. Anataranya adalah

melalui rundingan, dasar hubungan luar, hubungan diplomasi, bertolak ansur, perantaraan, perdamaian, kerjasama dalam bidang ekonomi dan social. Namun agak sukar untuk memisahkan setiap isu dengan peranan dan penglibatan Malaysia berdasarkan satu cara dan penglibatannya.Malaysia memegang beberapa prinsip asas dalam hubungan luarnya. Anataranya adalah hormat-menghormati kedaulatan negara masing-masing dan kedaulatan wilayah, tidak campurtangan, penyelesaian secara aman, perhubungan dua hala yang menguntungkan dan keamanan bersama. Sesungguhnya dasar luar Malaysia yang jelas adalah dari segi pertahanan dan keselamatan, pembangunan dan perdagangan, kerjasama antarabangsa dan diplomasi. Malaysia amat menekankan usaha untuk meneruskan hubungan yang rapat dengan negara-negara jirannya. Setiap usaha diplomasi yang telah dilakukan adalah untuk memastikan hubungan dua hala Malaysia dengan jiran-jirannya tidak terjejas.Di antara peranan dan penglibatan Malaysia dalam kerjasama serantau ini adalah melalui rundingan damai. Melalui proses ini, rundinngan secara damai akan dibuat antara dua pihak yang terlibat. Perundingan ini akan dibuat dengan membincangkan dan seterusnya menyelesaikan masalah yang sebenarnya wujud tanpa percanggahan pendapat. Semasa rundingan ini berjalan, semua pihak akan cuba untuk memenuhi keinginan dan matlamat rundingan. Contohnya rundinganrundingan antara menteri dan pegawai-pegawai. Pada tahun 1982, Kementerian Luar Thailand berkata, lebih 400 rundingan telah dijalankan. Dalam hal ini Malaysia melibatkan diri dalam beberapa rundingan bagi menyelesaikan krisis hubungan Malaysia dengan Filipina. Krisis hubungan Malaysia dengan Filipina tegang apabila Filipina tidak mahu mengugurkan tuntutannya ke atas Sabah. Malahan Filipina telah menghantar orang-orang yang dilatih khas bagi melakukan pengkhianatan menyusup masuk ke Sabah. Di samping itu Filipina telah menjadikan undang-undang dengan memasukkan Sabah sebagai sebahagian daripada wilayahnya. Ini dibuatnya melalui satu Akta Perampasan Sabah.Beberapa rundingan telah beberapa kali dijalankan di Bangkok, namun menemui kegagalan. Akhirnya dari usaha gigih Malaysia, hubungan ini berjaya dipulihkan dan diumumkan oleh Perdana Menteri Malaysia, Tunku Abdul Rahman di Cameron Highland pada 16 dan 17 Disember 1968. Walaupun demikian tuntutan ke atas Sabah belum lagi digugurkan meskipun ianya pernah dikatakan berulang kali iaitu semasa pemerintahan Presiden Marcos dan semasa pemerintahan Presiden Corazon Aquino dan kini ikrar itu masih belum dapat ditunaikan oleh pemimpin Filipina itu. Malah presiden Aquino pernah meminta Malaysia membayar pampas an kepada Filipina dan juga kepada waris-waris Kesultanan Sulu yang dikatakan memiliki Sabah. Untuk mewujudkan keamanan dan kestabilan di rantau ini, Malaysia menyatakan hasratnya bersedia untuk berunding tanpa sebarang syaratHubungan ini juga kembali menjadi tegang apabila Filipina menuduh Malaysia memberikan bantuan senjata kepada Barisan Kebangsaan Moro. Hubungan ini perlu dipulihkan adalah untuk menstabilkan keamanan dan Malaysia menganggap perkara sempadan itu masih boleh dibawa berunding tanpa perlu memutuskan hubungan diplomasi. Oleh yang demikian, Malaysia tidak memberikan sokongan kepada pihak Pembebasan Moro walaupun ianya berjuang untuk agama Islam demi untuk menjaga hati negara jirannya iaitu Filipina.Di samping itu juga, Malaysia menjalankan dasar berkecuali dalam hubungan luarnya. Dasar berkecuali bermaksud sesebuah negara itu tidak memihak kepada mana-mana blok kuasa besar dunia. Dasar luar sesebuah negara itu bergantung kepada pemerintah dan ianya menjadi panduan dalam menentukan bentuk hubungan dengan negara

lain. Hal ini juga berlaku kepada Malaysia yang sentiasa dinamik selaras dengan peredaran persekitaran. Ini jelas dapat dilihat dalam tahun 1957 hingga 1963 dasar luar Malaysia berorientasikan pro-Barat dan anti-komunis. Hal ini penting kerana Tunku Abdul Rahman merasakan bahawa Malaysia tidak mempunyai keupayaan ketenteraan yang canggih serta diancam oleh anasir komunis. Oleh yang demikian dasar pro-barat ini dapat dilihat apabila Malaysia menyokong penglibatan pihak Amerika dalam Perang Vietnam serta tidak membuat sebarang hubungan diplomatik dengan negara-negara komunis. Tindakan Tanah Melayu (Malaya) menanadatangani Perjanjian AMDA antara lain didorong oleh kedudukan pertahanan negara yang tidak kuat. Tanah Melayu ketika itu hanya mempunyai satu pasukan Rejimen Melayu Diraja dengan tidak mempunyai angkatan tentera laut dan udara. Sebarang ancaman dan serangan dari luar tidak mungkin mampu dihadapi oleh Tanah Melayu secara bersendirian. Tambahan pula pergolakan politik serantau , terutamanya di Indo-china amat membimbangkan Tanah Melayu. Tunku Abdul Rahman melihat kemaraan fahaman komunis di Asia Tenggara merupakan ancaman yang sangat merbahaya ke atas keselamatan Tanah Melayu. Oleh itu, perjanjian AMDA ditandatangani sebagai tulang belakang keselamtan Tanah Melayu dari segi pertahanan. Tunku Abdul Rahman telah menegaskan kepentingan AMDA:Dari segi hubungan luar, dasar luar sepanjang tahun 1957-1963 memperlihatkan Tanah Melayu lebih menumpukan hubungan luar dengan negara-negara Barat yang mempunyai sistem pemerintahan dan idealogi yang sealiran dengannya.Di bawah kepimpinan Tun Abdul Razak Hussein pula,memperlihatkan perubahan dasr luar yang ketara dari sikap pro-Barat dan antikomunis kepada dasar luar yang berkecuali. Ini jelas dapat dilihat berdasrakan ucapan Tun Razak semasa beliau buat pertama kalinya menghadiri Persidangan Negara-negara Berkecuali di Lusaka, Zambia pada Disember 1970. Tun Abdul Razak mengumumkan bahawa:Malaysia telah menganggotai Pertubuhan Persidangan Islam (OIC) serta Pertubuhan Negara-negera Berkecuali (NAM). Era kepimpinan Tun Hussein Onn pula menyaksikan Malaysia memperatakan hubungan seranatau contohnya pengunduran tentera Amerika Syarikat di Asia Tenggara dan serangan Vietnam ke atas Kemboja. Dasar luar Malaysia melalui perubahan di mana ianya lebih berorientasikan kepada aspek-aspek ekonomi. Pada masa yang sama , dasar luar Malaysia dilihat lebih menekankan kepada hak , kepentingan dan aspirasi negara-negara membangun. Evolusi dasar luar Malaysia ini menunjukkan bahawa keempat-empat Perdana Menteri telah memberikan respon yang bersesuaian dengan perubahan geopolitik dan ekonomi. [7] Contoh dasar luar yang banyak membantu dalam mewujudkan kestabilan serantau daripada campurtangan kuasa-kuasa asing iaitu Amerika Syarikat, Russia, dan China adalah dasar konsep Kawasan Aman, Bebas dan Berkecuali (ZOPFAN). Dasar ini telah dibawa oleh Malaysia dan diumumkan pada dunia pada 27 November 1971 di dalam Deklarasi Kuala Lumpur. Objektif ZOPFAN adalah untuk menjadikan kawasan rantau Asia Tenggara bebas dari percaturan kuasa-kuasa besar dan tidak menyebelahai mana-mana pihak. Ia juga bertujuan untuk mengendurkan ketegangan antarabangsa dan mencapai perdamaian yang kekal di Asia Tenggara serta memastikan keaman dan kestabilan penduduk di Asia Tenggara. Langkah untuk menghadapi cabaran ini diwujudkan dua strategi iaitu pakatan tentera yang dianggotai leh negara-negara Asia Tenggara bagi menentang pencerobohan serta strategi diplomatik. Ini adalah kerana kuasa-kuasa besar iaitu Amerika Syarikat dan Russia masih lagi mempunyai kepentingan di ranatau ini dari segi ekonomi, strategik, politik demi untuk memenuhi kepentingan nasional masing-masing. Malah adalah sukar bagi kuasa besar ini meninggalkan satu rantau yang strategik yang menghubungkan laluan laut Timur-Barat. Di samping itu juga,

kawasan juga merupakan sumber berbagai-bagai bahan mentah dan pasaran yang menarik bagi hasil pengeluaran dan khidmat kuasa besar ini. Pada sidang Kemuncak ASEAN di Bangkok pada 1995, perjanjian SEANFTZ telah dipersetujui oleh semua negara anggota. Objektif perjanjian ini adalah untuk menjadikan Asia Tenggara sebagai kawasan bebas nuclear dan bebas dari dijadikan tempat persaingan tenaga nuclear. Malaysia sebagai sebuah negara yang memandang berat hal ini telah menyatakan hasratnya melalui kenyataan Datuk Seri Abdullah Ahmad Badawi, Menteri Luar Melaysia pada tahun 1997. Beliau menyeru negara kuasa nuklear agar memberikan sokongan mereka dan turut menyertai perjanjian ini.[8] Kesimpulannya, Malaysia mengalami banyak faedah dengan menjalankan konsep ZOPFAN dan SEANFTZ ini. Kesan daripada dasar ini adalah Melaysia mempunyai banyak sahabat baru di dunia ini kerana tidak terkongkong dengan mana-mana kuasa.[9] Namun demikian, setelah hampir 20 tahun berlalu gagasan ini hanya di sanjung oleh Malaysia sedangkan negara-negara ASEAN yang lain tidak merasakan kepentingannya. Contohnya Indonesia tidaak menganggap Gagasan ZOPFAN itu sesbagai sesuatu yang mendesak. Filipina msih lagi menjadi tuan rumah untuk pangkalan bersenjata Amerika yang terlengkap di Asia Tenggara. Singapura pula menyediakan kemudhan perbekalan dan pembaikan kerosakan kepada angkatan tentera Amerika Syarikat serta mengalu-alukan kehadiran tentera asing di rantau Asia Tenggara. Hal ini terjadi akibat tiadanya kepentingan nasional masing-masing. Lantas negara ini berpura-pura memberikan sokongan walaupun disedari kebaikan gagasan ini dlam jangka masa yang panjang.Di samping itu juga Malaysia menjalankan hubungan diplomatic dalam mewujudkan kestabilan serantau. Ini jelas di mana, antara tahun 1972 hingga 1973, Malaysia menjalinkan hubungan diplomatic dengan negara-negara komunis seperti Republik Monggolia, Vietnam Utara dan Jerman Timur. Pada tahun 1975, kerajaan demokratik di Vietnam Selatan dan Kampuchea digulingkan dan digantikan dengan rejim komunis. Namun begitu kedua-dua kerajaan ini terus diiktiraf oleh Malaysia yang bersikap berkecuali.[10] Di samping itu juga , Malaysia berusaha mencari sahabat-sahabat baru tanpa mengira ideolagi politik mereka. Kini, Malaysia mempunyai hubungan diplomatik peringkat kedutaan atau konsol dengan hampir seluruh negara di dunia termasuk negara komunis di Eropah Timur.Malahan sejak 1974, Malaysia telah menempa sejarah apabila membuat hubungan diplomatik dengan Republik Rakyat China iaitu negara blok komunis yang terbesar. [11]Hubungan diplomatik ini perlu untuk mendapatkan satu jaminan dari Kerajaan China agar tidak campurtangan dalam urusan Malaysia serta menghentikan sokongan kepada Parti Komunis Malaya. Hasil daripada hubungan diplomatik ini telah menydarkan Kerajaan China dan menyokong usaha ASEAN mengenai isu di Kampuchea.[12]Dengan mengamalkan dasar berbaik-baik dan adanya hubungan diplomatik ini, Malaysia bukan sahaja mendapat ramai sahabat, tetapi dapat meluaskan pasaran untuk barang-barang keluaran Malaysia. Malah Malaysia dapat menstabilkan turun-naik harga yang hebat akibat terlalu bergantung kepada Amerika Syarikat dan Eropah. Oleh yang demikian, jelas di sini hubungan diplomasi yang dijalankn oleh Malaysia berjaya memperkenalkan Malaysia di mata dunia. Tun Razak menjelaskan bahawa adalah menjadi dasar kerajaan kepimpinannya untuk mengadakan hubungan diplomatic dengan semua negar, tanpa mengira haluan politik mereka dengan syarat mereka mestilah menghormati kedaulatan dan kemerdekaan Malaysia. Beliau menegaskan bahawa:kita hendaklah menerima dunia seperti dalam keadaan yang ada sekarang dn bukan sebagaimana yang kita

kehendaki. Walaupun usaha-usaha untuk berbaik-baik dengan negara komunis dijalankan, tetapi ini tidak bermakna kita mengenepikan perjuangan menentang penganas-penganas komunis yang bergerak dalam negara kerana ia merupakan dua perkara yang berbeza.[13] Peranan dan penglibatan Malaysia tidak hanya bertumpu kepada hubungan diplomasi tetapi juga telah mengamalkan sikap bertolak-ansur. Pihak yang terlibat harus bertolak-ansur serta setuju menerima cadangan atau idea masing-masing.[14]Sikap bertolak-ansur dan atas perikemanusiaan ini terserlah ke atas isu pelarian Vietnam yang telah mendarat di wilayah Malaysia terutamanya di Terengganu dan Kelantan. Pada Mei 1978, Malaysia yang telah menampung penyaraan hidup 13 000 orang pendatang haram dari Vietnam ini. Hingga pada tahun 1988 jumlahnya elah mencapai seramai 19 200 orang. Kehadiran yang terlalu ramai ini telah mengundang pelbagai masalahh terutamanya dari segi keselamatan.Oleh yang demikian, Malaysia telah bertindak untuk menutup khemah pelarian yang terbesar di Pulau Bedong. Dengan ini, semua pendatang atau pelarian ini tidak dibenarkan mendarat di mana-mana wilayah di Malaysia. Justeru untuk menyelesaikan maslah ini, maka diadakan satu persidangan di Geneva pada tahun 1978. Di akhir persidangan ini, Malaysia diminta memberikan perlindungan sementara kepada pelarianVietnam di mana kewangan an makanan di bawah tanggungan UNHCR.Sehubungan dengan itu , satu pasukan petugas telah ditubuhkan di bawah Majlis Keselamatan Negara di Jabatan Perdana Menteri. Jabatan ini adalah gabungan pasukan tentera udara, darat serta laut kerajaan Malaysia yang ditugaskan mengawal kemasukan pelarian Vietnam. Pasukan tentera udara akan membuat tinjauan udara di Laut China Selatan dan akan memaklumkan kepada pasukan tentera laut yang meronda perairan Malaysia. Mereka akan memastikan pelarian ini tidak membawa sebarang senjata api yang boleh menjejaskan keselamatan. Nelayan dan penduduk tempatan juga memberikan kerjasama dengan memaklumkan sebarang kehadiran pelarian ini. Di samping itu juga, dari segi kebajikan sosial pelarian Vietnam ini, pihak Malaysia juga menghulurkan bantuan melalui Persatuan Bulan Sabit Merah Malaysia (PBSMM). Dari segi perkidmatan perubatan bangunan-bangunan hospital dan klinik pergigian telah dibina di kemkem pelarian terutamanya di Sungai Besi dan Pulau Bedong. Langkah-langkah pencegahan penyakit berjangkit serta suntikan pelalian akan diberikan. Contohnya semburan racun serangga serta suntikan pelalianmalaria. Air yang dibekalkan akan diperiksa dari semasa ke semasa oleh jabatan Kimia di Kuala Terengganu. Seorang doctor gigi dari Malaysia telah dibiayai oleh Persatuan Palang Merah Switzerland. Selain daripada itu, Persatuan Bulan Sabit ini juga mengambil berat mengenai makanan, pemerliharaan kebajikan social, pendidikan serta pusat pengesanan dan pengiriman bagi menemukan saudara-mara pelarian ini.[15]Walaubagaimanapun, Malaysia tidak boleh meyelesaikan maslah ini sendirian dan telah mengambil inisiatif untuk menyelesaikan masalah pelarian ini. Ini terbukti dalam mesyuarat tahunan Menteri-menteri Luar ASEAN yang diadakan di Bangkok. Hal ini kemudiannya dibawa ke International Conference on Indochinese Refugee (ICIR) yang diadakan di Geneva di bawah anjuran PBB pada tahun 1989. Malahan kesungguhan ini dapat dilihat apabila Timbalan Perdana Menteri Malaysia, Encik Ghaffar Baba telah melawat Vietnam pada Ogos 1988 dan berjaya memperoleh persetujuan kerajaan itu untuk menrima kembali orang pelariannya.[16] Melalui usaha Malaysia seramai 237, 907 orang pelarian Vietnam telah dihantar ke negara ketiga sejak tahun 1975 hingga 1990. Ini jelas menunjukkan bahawa peranan Malaysia adalah sebagai

menyediakan tempat perlindungan sementara sahaja kepada pelarian Vietnam ini. Kesimpulannya Malaysia mengambil tindakan ini bertujuan memastikan keselamatan negara serta untuk menjaga hati rakyat Malaysia yang berbangsa Cina memandagkan pelarian Vietnam adalah keturunan yang sama. Selain daripada itu, Malaysia juga telah menjadi orang perantaraan dalam isu di Kemboja. Perantaraan adalah melibatkan orang tengah atau pihak ketiga dalam proses penyelesaian. Biasanya orang tengah mempunyai segala kepakaran serta pihak ini haruslah memainkan peranannya dengan penuh teliti supaya tidak timbul kekeliruan dalam penyelesaian tersebut. Hal ini telah dilakukan oleh Malaysia dalam menangani pergolakan politik di Kemboja.Setelah kejatuhan kerajaan beraja di Kemboja, pimpinan Putra Norodom Sihanouk, negara itu terus mengalami masalah politik di mana rampasan kuasa sering berlaku silih berganti. Malahan negara ini mendapat bantuan ekonomi, kewangan, senjata dan kepakaran tentera daipada Amerika Syarikat. Manakala Parti Komunis Kemboja pula mendapat bantuan dari China iaitu dari segi sokongan kepada gerila komunis. Pengaruh Amerika Syarikat itu kemudiannya tamat apabila Kerajaan Demokrasi yang terakhir pimpinan Perdana Menteri Polpot tewas di tangan di komunis. Sebenarnya kekalahan ini adalah akibat gerila komunis Kemboja yang menggelarkan diri mereka Khmer Rouge. Pemerintahan Polpot adalah amat zalim di mana pembunuhan beramai-ramai dilakukan kepada sebarang penentangan kerajaan.Sepanjang pemerintahan rejim Pol pot , rakyat di negara itu hidup dalam kesengsaraan dan penderitaan akibat kawalan ketat oleh pihak kerajaan. Sejak tahun 1970 rakyat negara itu telah terlibat dalam kancah perang saudara. Bilangan kematian adalah tinggi akibat peperangan, wabak penyakiy dan kekurangan makanan. Berasaskan sumber diplomatik tidak rasmi sehingga akhir tahun 1975, jumlah kematian yang dicatitkan seramai 80 000 orang, sementara sumber dari kedutaan Amerika Syarikat melaporkan 1.2 juta rakyat dikhuatiri mati akibat kebuluran, pembunuhan dan peperangan.[17] Namun begitu usia kerajaan Khmer Rouge juga tidak lama apabila Rejim Heng Samrin yang disokong oleh Vietnam telah memasuki Kemboja pada akhir tahun 1977. Pejuang Kampuchea yang terdiri daripada fahaman berkecuali, komunis dan bukan komunis telah menentang penceronohan ini. Fahaman berkecuali telah dipimpin oleh Putera Norodom Sihanouk di bawah Parti Moulinaka, parti komunis dipimpin oleh Kieu Samphan dan kumpulan bukan komunis dipimpin oleh Sonn Sann. Manakala dua keuasa besar iaitu China dan Russia cuba meluaskan kuasa mereka di IndoChina akibat campurtangan mereka keadaan di rantau ini semakin tidak stabil.Kemudian isu wakil Kampuchea di Pertabuhan Bangsa-Bangsa Bersatu yang tidak mendapat pengiktirafan antarabangsa iaitu wakil Rejim Hang Samrin yang telah mengulingkan wakil kerajaan Polpot mula timbul. Rejim ini mendapat sokogan Russia dan negara komunis yang lain.ASEAN pula berusaha untuk mengekalkan wakil pimpinan Polpot dan telah dipersetujui oleh banyak negara di dunia. Malaysia telah menjadi orang perantaraan dengan dibantu oleh negara-negara ASEAN mengadakan rundingan dengan pemimpin-pemimpin kumpulan pejuang tersbeut supaya bersatu dan menubuhkan Kerajaan Campuran di Kampuchea.Di bawah formula ini, ketiga-tiga kumpulan akan berkongsi kuasa samarata dalam pemerintahan tersebut.Malaysia telah menghantar seorang perutusan khas menjemput menjemput Putera Norodom untuk menandatangani perjanjian. Pada 13 Jun 1982 satu upacara persetujuan menubuhkan satu kerajaan campuran telah dijalankan di Rumah Malaysia di Jalan Ampang Kuala Lumpur.Menurut persetujuan ini, presiden Kerajaan Campuran ialah Putera Norodom Sihanouk, Naib Presiden Kiue Samphan dan Perdana Menteri Sonnsann. Sementera itu portfolio hal-ehwal luar negeri di

pegang oleh Khmer Rouge. Ini jelas membuktikan peranan dan penglibatan Malaysia sebagai perantaraan untuk mewujudkan kestabilan di rantau ini. Bekas Perdana Menteri Malaysia, Tun Dr. Mahathir bin Mohammad ketika mengulas persetujuan ini berkata, Kerjasama dan perpaduan di antara tiga kumpulan ini dapat bergabung tenaga dalam mengusir keluar dan membebaskan negara mereka daripada tentera Vietnam. Malaysia bertindak sedemikian adalah bertujuan untuk menangani pertikaian yang berterusan dan berharap pengaruh komunis tidak menjalar sehingga ke Malaysia. Ini juga selaras dengan pendapa Perdana Menteri Malaysia yang pertama, Tunku Abdul Rahman yang pernah berkata bahawa keselamatan Malaysia tidak akan terjamin sehingga ia dan jirannya masih hidup berpecah belah dan berbagai haluan.Malaysia begitu bijak dalam menangani permasalahan politik yang berlaku sekiranya Malaysia bertindak mengikut kemampuan dalam menjalankan sebarang tindakan. Perdamaian adalah salah satu cara mengatasi konflik yang wujud . Objektif perdamaian adalah demi mencapai kaamanan. Pada bulan April 1975, Vietnam Selatan telah jatuh ke tangan Vietnam Utara. Kemenangan Khmer Rouge dan Barisan Pembebasan Kebangsaan di Vietnam telah mewujudkan teori domino yang membimbangkan negara bukan komunis di Asia Tenggara. Tambahan pula Vietnam mempunyai pasukan tentera yang terbesar di Asia Tenggara dan sebuah gudang senjata dan alat-alat militari yang lengkap yang telah dirampas oleh Kerajaan Saigon. Malahan,Vietnam juga mempunyai para pejuang yang handal dan berpengalaman. Disamping itu, Thailand bimbang Vietnam akan mempercepatkan pemberontakan komunis yang membekalkan mereka senjata. Oleh itu, ASEAN khususnya Malaysia memberikan tumpuan mengenai isu ini dan menanganinya dengan perdamaian. Pendekatan ini dimulakan dengan pengumuman Menteri-menteri Luar ASEAN pada bulan Mei 1975 untuk mengeratkan perhubungan den persahabatan yang harmoni dengan negara-negara Indochina. Menurut Tun Razak, ini adalah satu peluang yang baik untuk mewujudkan satu dunia baru yang aman dan bebas dari penaklukan dan pengaruh luar serta bekerjasama bagi kepentingan bersama. Malangnya sehingga pertengahan tahun 1978, Vietnam enggan mengiktiraf ASEAN sebagi sebuah pertubuhan serantau. Penolakan ini adalah berpunca ASEAN memberikan sokongan kepada campurtangan Amerika di Vietnam secara langsung dan tidak langsung sebelum tahun 1975. Vietnam bimbang ASEAN sebagai boneka militari Amerika Syarikat. Namun demikian Vietnam menunjukkan kejayaan dalam bidang politik dan konominya yang telah tertarik dengan aktiviti ASEAN. Semasa AMM ke-25 Menteri Luar ASEAN di Manila pada 21 Julai 1992, Vietnam dan Laos telah memberikan persetujuan untuk turut serta dalam kerjasama bersama ASEAN.Kesimpulannya, peranan dan penglibatan Malaysia dapat dilihat dalam beberapa isu politik dan keselamatan. Contohnya hubungan Malaysia dan Filipina , isu pelarian Vietnam, Isu Kemboja, Isu hubungan dengan Vietnam, konsep ZOPFAN dan SEANFTZ dan lain-lain lagi. Peranan dan penglibatan Malaysia dalam mewujdukan kestabilan serantau melalui kerjasama tidak terhenti setakat isu-isu yang dibincangkan, malahan beberapa isu yang lain.

Kaedah Penyelesaian Isu Tuntutan Bertindih yang diamalkan Malaysia


Meskipun Malaysia sentiasa mendukung prinsip dasar luar yang adil dan saksama namun ini tidak bermakna Malaysia terlepas daripada sebarang pertikaian dan perselisihan dengan negara-negara jiran seperti Indnesia, Singapura, Filipina dan Thailand. Contohnya, hubungan Malaysia dan Singpura telah mencapai tahap meruncing namun begitu ia masih dapat

dipertahankan atas dasar yang ikhlas dan demi semangat setiakawan yang tinggi.dalam mengupas isu-isu ini sesunguhnya kematangan hubungan luar Malaysia telah banyak menyelamatkan keadaan daripada menjadi tegang.Berikutan dengan perkembangan dalam negara, strategi dasar luar negara kita sedang menuju ke arah perubahan. Perubahanperubahan ini telah mendorong negara kita kepada satu dasar yang lebih fleksibel dan pragmatik demi keharmonian dan semangat setiakawan ASEAN.

Konflik Wilayah Pulau Sipadan dan Ligitan


Isu ini merupakan satu isu yang telah berlanjutan dalam tempoh yang cukup lama. Malahan ICJ telah membuat keputusan mengenai isu ini dengan mengambil masa sekitar 41 tahun untuk menyelesaikannya. Selain itu, ia juga merupakan kes pertama dari Asia yang dibawa ke ICJ melalui satu Perjanjian Khas.Punca kepada pertikaian ini adalah disebabkan tindakan Malaysia yang telah mengisytiharkan wilayah pelantar laut Malaysia. Di dalam perisytiharan ini Malaysia telah memasukkan Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan ke dalam wilayahnya. Ini telah dibantah oleh pihak Indonesia. Justeru Malaysia telah membantah dakwaan tersebut dan mempertahankan akan kewilayahan yang dialami sebagi hak negara ini atas dasar ia telah ditadbir sejak sekian lama dahulu dn pengesahan itu telah diakui oleh Konvensyen Amerika Syarikat-Britain pada tahun 1930-an.Dalam perkara ini secara ringkasnya kita dapat kaitkan bahwa apa yang telah berlaku merupakan hasil ketidakjelasan perjanjian 1824 antara British dengan Belanda. Di dalam perjanjian ini kedua belah pihak lebih sekadar memenuhi tuntutan semasa dalam menyelesaikan maslah yang berlaku tetapi langsung tidak mengambilkira kesan jangka panjang. Lantaran itu dalam menangani isu tuntutan bertindih ini pihak Malaysia telah mengutarakan hujah Konvensyen 1891 sebagi bukti hak dan kedaulatannya. Melalui konvensyen yang telah diadakan di London pada 20 januari 1891, sempadan antara British dan Belanda termasuk Borneo telah ditakrifkan. Sebenarnya konvensyen ini hanya menunjukkan persempadanan di darat sahaj dan peta yang dikeluarkan pada 1919 menunjukkan dengan jelas kedudukan sempadan antara Borneo Utara dengan Borneo Belanda yang diakui sehingga kini. Berdasarkan hujah dan bukti tersebut jugalah yang telah membawa kemenangan Malaysia di ICJ.Berdasarkan apa yang telah kita ketahui bahawa sekalipun masalah atau konflik ini berpunca daripada angkara kuasa penjajahan asing namun Malaysia dalam melaksanakan dasar luarnya sentiasa cuba menyelesaikan isu-isu yang melibatkan tuntutan bertindih ini secara adil dan saksama. Walaupun dari satu aspek memang diakui bahawa apaa yang menjadi perkara utama iaitu pertikaian ini telah berjaya diselesaikan secara aman, namun dalam konteks hubungan dua hala antara Kuala Lumpur dan Jakarta.

Konflik Pulau Batu Putih


Isu yang sentiasa menjadi persengketaan dan masih lagi belum menemui penyelesaian ialah tuntutan bertindih Pualau batu Putih (Pualau Pedra Branca). Jika dilihat dari segi geografi, Pulau Batu Putih ini mempunyai keluasan 2.2 km (0.2 hektar) persegi iaitu merupakan keluasan dasar pulau itu sendiri. Jaraknya dari Teluk Rumania negeri Johor ialah 12.8 km manakala dari singapura ialah 64 km. Dari segi sejarahnya pulau ini pada dasrnya adalah milik Kerajaan johor di bawah pemerintahan Sultan Hussin mauhammad Shah. Pada 2 Ogos 1824, satu perjanjian di antara British melalui Syarikat Hindia Timur Inggeris dengan Kerajaan Johor mengenai penyerahan Pulau Singapura kepada pihak British. Di dalam perjanjian tersebut, Singapura telah diserahkan kepada British termasuklah persekitaran pantai sehingga 10 batu jaraknya dari pantai. Pulau-pulau lain seperti Pulau Batu Putih tidak diserahkan kepada British[18].

Daripada isu wilayah yang telah diperkatakan di atas dapat kita lihat dengan jelas sikap tidak bertanggungjawab para penjajah asing terhadap negara negara yang satu masa dahulu pernah dianggap sebagai negeri naungannya. Selain itu juga dari aspek ekonomi kita dapat perhatikan di sini bahawa setiap perkara yang telah dilakukan oleh para penjajah adalah semata-mata untuk meastikan kelancaran dan perkembangan ekonomi mereka tidak terjejas. Situasi ini telah terserlah tanpa dapat diselindung lagi.British yang menganggap bahawa mereka lebih maju daripada negeri yang dinaunginya telah mengambil pendekatan yang cukup mudah sehingga memperkecilkan pihak berkuasa tempatan yang merupakan pemerintah sebenar ke atas wilayah Alam Melayu. British telah mengadkan satu proses hitam putih perjanjian denganpihak Belanda dalam menentukan kawasan-kawasan wilayah masing-masing. Namun dalam hal Pulau Batu Putih mereka hanya menggunakan kaedah lisan tanpa ada satu perjanjian yang jelas. Sikap yang telah British tunjukkan ini jelas membuktikan apakah tanggapan mereka terhadap negeri Melayu pada masa itu.Lantaran daripada angkara yang telah mereka lakukan ini kesannya dapat kita lihat berpanjangan dan tidak kunjung selesai sehingga meliputi lebih dua abad. Isu Pulau Batu Putih ini telah kerap kali menimbulkan ketegangan yang cukup getir antara kedua pihak yang bertelagah. Ini adalah sesuatu yang sukar untuk dinafikan kerana ia memperkatakan tentang kedaulatan dua wilayah yang merdeka. Selaras dengan konsep ini sudah semestinya kedua belah pihak perlu mengambil segala langkah perlu bagi mempertahankan kedaulatan masing-masing. Sayang sekali isu konflik wilyah ini telah dicetuskan oleh angkara kuasa penjajah asing. Mereka sehingga kini terus berdiam diri dan berpeluk tubuh tanpa mengambil tindakan susulan bagi meredakan isu yang bergelora sekarang. Pada hal apa yang berlaku pada masa ini merupakan kesan tindakan yang telah mereka lakukan pada masa lalu.Tindakan terbaik bagi menyelesaikan masalah ini adalah dengan menggunakan pihak ketiga iaitu Mahkamah Keadilan Antarabangsa (ICJ). Ia adalah saluran yang betul demi menjaga perpaduan dan semangat kejiranan. Oleh itu pada 6 Februari 2003, Malaysia dan singapura telah mengambil tindakan yang bijak dengan menandatangani perjanjian untuk membawa kes ini ke Mahkamah Keadilan Antarabangsa.[19] Dalam kes ini, ICJ menjamin bahawa isu tuntutan bertindih ke atas pulau itu akan diadili dengan cara yang baik, menyeluruh, adil serta mengmbilkira semua factor sejarah dan realiti.ICJ juga mengesahkan bahawa akan mengkaji secara terperinci semua dokumen perjanjian yang dimiliki oleh bekas empayar Belanda dan British yang tersimpan di muzium sejarah di Belanda daan London. [20]

Isu Wilayah Pattani


Selain itu juga kita dapat melihat dengan jelas sebagai contoh bahawa isu-sisu wilayah yang kini menjadi pertikaian antara Malaysia dan negara jirannya adalah berpunca angkara penjajahan Barat tatpi menjadi tanggungjawab kerajaan Malaysia menyelesaikan dengan cara yang terbaik. Isu Pattani yang merupakan sebauah negeri Melayu yang sekian lama menerima ancaman daripada musuh tradisi negeri Melayu Utara iaitu Siam sehingga kini telah ditakluki oleh kerajaan Siam dari era pemerintahan raja-raja Dinasti Chakri sehinggalah ke zaman kerajaan Thailand.Melalui isu Pattani dapat kita perkatakan di sini bahawa ia juga adalah salah satu daripada konflik wilayah antara Malaysia dengan negara jirannya Thailand. Melalui isu ini pihak Thailand sering mencurigai Malaysia kerana dianggap memberi bantuan kepada gerakan pemisah Pattani yang merupakan bangsa serumpun dan seagama dengan orang Melayu di Malaysia. Malahan isu wilayah yang tertunda melibatkan Bukit Jeli juga kadangkala turut menjadi persoalan yang belum terjawab tentang status kedudukannya sama ada ia adalah milik Malaysia ataupun Thailand. Peristiwa Tak Bai dan tindakan ganas tentera Thailand terhadap penduduk

Islam di Selatan Thailand telah menyebabkan Malaysia dituduh sebagai peranan dalam memberi sokongan kepada gerakan pemisah di Selatan Thailand. Namun, Malaysia telah cuba menggunakan saluran-saluran diplomasi untuk menjelaskan kedudukan dan peranan Malaysia dalam menangani konflik tersebut.Dengan memetik kenyataan Datuk Mohamed Jawhar Hassan, Pengarah Institut Kajian Antarabangsa dan Strategik (ISIS), beliau menyatakan bahawa kenyataan dan spekulasi dari pelbagai pihak ini mungkin akan menjejaskan pihak berkuasa terutama Wisma Putra untuk membuat tuntutan.[21] Kenyatan ini beliau lakukan lantaran wujud pihak-pihak tertentu yang mengeluarkan kenyataan mengenai isu ini di dada-dada akhbar yang boleh menyebabkan kenyataan itu disalahtafsirkan sehingga membawa provokasi kepada pihak lain. Seterusnya tindakan kerajaan Malaysia membawa isu ini ke ICJ dianggap bijaksana supaya ia dapat diadili dengan saksama. Dengan ini diharapkan kedua-dua pihak akan berpuashati dan redha akan apa juga keputusan yang dibuat oleh ICJ. Apa yang penting ialah hubungan kedua-dua pihak yang sedia terjalin terus harmoni dan berkekalan. Ini kerana kedua-dua negara saling bergantungan antara satu sama lain dalam pelbagai aspek sama ada ekonomi, politik ataupun social.

Isu Tuntutan Filipina ke atas Sabah


Mengenai isu wilayah Sabah yang menjadi salah satu konflik wilayah antara Malaysia dengan negara jirannya adalah salah satu bukti yang cukup jelas bahawa Malaysia telah cuba menyelesaikan isu tuntutan Filipina dengan cara diplomasi. Dalam menganalisa isu ini seperkara lagi yang ingin diutarakan mengenai sikap British yang telah membuat perjanjian tanpa pengetahuan semua pihak yang terlibat. British misalnya telah menandatangani perjanjian atau persetujuan dengan kuasa asing lain seperti Belanda, Sepanyol dan Amerika tetapi telah mengabaikan Kesultanan Brunei dan Kesultanan Sulu yang merupakan pihak yang paling utama. Dalam hal ini, kuasa-kuasa penjajah asing ini masing-masing berlagak seolah-olah wilayah Kesultanan Melayu Brunei dan Sulu itu adalah hak milik mereka. Mereka dengan senagaja meminggirkan pihak-pihak ini dalam perjanjian yang mereka tandatangani dengan hasrat dapat memanipulasi wilayah yang dikuasai untuk memenuhi impian ekonomi mereka. Mereka telah memanipulasi isi kandungan perjanjian yang telah mereka tandatangani bersama untuk kepentingan mereka sahaja. Selain itu, mereka sengaja memperkenalkan konsep-konsep dan pelbagai peraturan baru yang kurang sesuai untuk diimplementasi di negeri-negeri Melayu dengan niat untuk menguasai sesuatu wilayah sahaja. Kesan daripada tindakan yang dilakukan oleh pihak British telah ditanggung oleh Malaysia di mana isu tuntutan Sabah oleh Filipina masih belum dapat diselesaikan. Ini disebabkan Filipina tidak mahu mengugurkan tuntutannya ke atas Sabah. Lebih buruk lagi apabila Filipina telah melancarkan kegiatan pengkhianatan terhadap Malaysia sekitar tahun 1968. Filipina telah menghantar orang-orang yang dilatih khas menyusup masuk ke Sabah. Mereka ditugaskan melakukan pengkhianatan terhadap wilayah Malaysia di Sabah. Boleh dikatakan sekitar tahun 1968 hubungan Malaysia-Filipina dapatlah diibaratkan seperti Ranjau dalam Daging.Bagaimanapun , Malaysia tetap meneruskan usaha untuk berdamai dengan kerajaan Filipina. Malaysia tetap tidak berputus asa untuk mencari jalan penyelesaian ke atas isu ini. Rundingan demi rundingan telah diadakan beberapa kali di Bangkok tetapi semuanya menemui kegagalan. Sebaliknya Filipina telah menjadikan satu undang-undang dengan memasukkan Sabah sebagai sebahagian daripada wilayahnya. Ini telah dilakukan oleh Filipina melalui satu

Akta Perampasan Sabah. Tindakan ini telah menyebabkan terputusnya hubungan diplomatic antara kedua-dua negara.

Isu Malaysia-Singapura
Selain daripada isu tuntutan bertindih Pulau Batu Putih dengan Singapura, Malaysia juga berhadapan dengan pelbagai isu lain yang sering menghantakan hubungan kedua buah negara seperti Isu kastam, imigresen dan Kuarantin (CIQ), Keratapi di Tanjung Pagar[22], Isu Air[23] dan Isu Tambak Laut[24] .Berdasarkan kepada isu-isu yang telah dipaparkan di atas, ternyata hubungan Malaysia-Singapura sentiasa panas kerana masalah yang menjadi kekangan tidak menemui jalan penyelesaiannya. Dalam hal ini kedua-dua negara saling menimbulkan provokasi di antara satu sama lain melalui mediamassa. Konflik-konflik yang timbul akan menyebabkan wujud gambaran bahawa keduadua negara tidak mempunyai semangat kejiranan yang baik. Sungguhpun dari segi kedudukan geografi kedua-dua buah negara sangat rapat dan hampir tetapi dari segi hubungan diplomatic adalah sebaliknya.Pertelingkahan dan pertelagahan yang sering berlaku di antara Malaysia-Singapura boleh dianggap sebagai satu tradisi. Ini kerana isuisu hangat yang sering menjadi punca pertelingkahan telah wujud sejak era pemerintahan Tunku Abdul rahman lagi. Seterusnya satu demi satu isu lain timbul walaupun yang sedia wujud belum dapat diselesaikan. Dalam kes ini kedua-dua buah negara sepatutnya mengambil tindkan bijaksanan bagi menangani isu yang wujud demi kepentingan bersama. Dalam hal ini juga kedua-dua pihak boleh menggunakan pihak ketiga iaitu ASEAN untuk membantu menyelesaikan pelbagai masalah yang tertangguh ini.

[22] Berhubung dengan kes KTM ini, terdapat dua lagi isu yang mempunyai sangkut paut iaitu isu pemindahan kastam dan CIQ. Singapura dianggap bersikap mementingkan dii untuk menagih keuntungan di mana telah memaksa Pusat Pemeriksaan Kastam, Imigresen dan Kuarantin (CIQ) yang diputuskan oleh pemerintah Singapura berpindah dari Tanjung Pagar ke Woodlands. Berdasrkan kepada rentetan peristiwa menunjukkan Singapura seolah-olah cuba mempermainkan Malaysia. Dalam kes ini Malaysia boleh dikira telah bertolak ansur dengan kerajaan Singapura. Desakan Singapura supaya kastam, imigresen dan kuarantin (CIQ) KTMB berpindah ke Woodlans mengambarkan taktik Singapura untuk menjatuhkan maruah Malaysia. Sehingga kini, isu ini belum menemui jalan penyelesaiannya. (untuk keterangan lanjut lihat: http://app9. internet.gov.sg/scripts/mfa/sections/press/report & http://www.mita.gov.sg/sgmy/wat ertalks; malays [23] Sejarah pembekalan air dri Johor ke Singapura telah nbermula sejak tahun 1927 lagi. Perjanjian rasmi pembekalan air telah dibuat melalui dua perjanjian. Perjanjian Pertama pada 1 September 1961 dan dijangka tamat pada 2011. Perjanjian kedua iaitu Perjanjian Air 1962 telah ditandatangani pada 29 September 1962. Bagi mengukuhkan perjanjian tersebut Kerajaan Malaysia melalui Kerajaan Johor berjanji akan membekalkan air secara berterusan dengan harga yang telah ditetapkan dan dipersetujui oleh Kerajaan Malaysia melalui Akta Parlimen No.53, 1965, Perkara 14 yang menyebut: ..The government of Malaysia shall guarantee that the goverment of state of Johore will on and after Singapore day; also abide by the terms and conditions of said two water agreements.. (Perjanjian Air :1961) Dalam perjanjian

tersebut juga dinyatakan tentang harga air dan tempoh semakan semula iaitu selepas 25 tahun perjanjian di tandatangani. Ini bermakna semakan Perjanjian Air 1961 dan 1962 perlu disemak pada tahun 1986 dan 1987 yang lalu. Namun kerajaan Malaysia dan Johor gagal berbuat demikian pada tahun tersebut. Ini menjadi salah satu hujah Singapura untuk bertegas bahawa Malaysia hilang kelayakan kerna tidak membuat perubahan harga air pada ketiak aitu. Bagi Singapura hak Malaysia untuk membuat semakan harga air terbatal dngan sendirinya apabila tempoh itu berlalu. Persoalannya kenapakah isu harga air yang baru tidak dibincangkan pada tahun tersebut? Keterangan lanjut lihat Dewan Masyarakat April 1998 hal. 32, Utusan Malaysia 11 Jun 1997[24] Aktiviti penambakan laut oleh Singapura telah dijalankan secara kecil-kecilan sejak tahun 1962 lagi. Kegiatan penambakan laut ini telah diperluaskan lagi sepanjang Marina East sehingga ke Changi, Pulau Tekong, Pulau Ubin, Pualau Serangoon dan Punggol Point. Antara projek yang sedang giat dijalankan sekarang ialah mencantumkan Pulau Tekong dan Pulau Ubin untuk dijadikan kawasan tadahan hujan dan tempat rekreasi. Masalahnya ialah aktiviti penambakan laut oleh Singapura telah memberi implikasi kepada laluan kapal di Selat Tebrau menjadi sempit, berlaku pencemaran pantai di pantai Johor, pencemaran air yang semakin serius yang boleh memusnahkan tumbuhan dan hidupan laut yang menjejaskan pendpatan nelayan. Lihat Nik Anuar Nik Mahmud, Singapura Duri Dalam daging kepada Malaysia Dewan Masyaeakat Jun 2003 hal. 37 & Mohd. Zaki Pileh, Akibat Buruk Tambak Laut Singapura Massa, Mac 2002 hal.13.Posted 9th May 2012 by AZMAN

Posted on 16.59 by Wayan Gracias

PERANAN ORGANISASI INTERNASIONAL (ASEAN, AA, PBB) DALAM MENINGKATKAN HUBUNGAN INTERNASIONAL. Organisasi Internasional. Organisasi internasional atau yang disebut Multilateralisme adalah suatu istilah hubungan internasional yang menunjukkan kerjasama antar beberapa negara. Sebagian besar organisasi internasional, seperti PBB dan WTO, bersifat multilateral.

1. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). PBB secara resmi lahir pada 24 Oktober 1945. Itu adalah hari lahir di mana Piagam diratifikasi oleh sebagian besar dari 51 negara anggota mula-mula.Sesungguhnya upaya mendirikan PBB sudah dimulai ketika Perang Dunia II masih berlangsung. Pada tanggal 14 Agustus 1941 misalnya negaranegara Sekutu telah berhasil membuat Atlantic Charter. Kemudian tanggal 26 Juni 1945 ditetapkan Charter of Peace (Piagam Perdamaian) di San Fransisco, Amerika Serikat yang memuat dasar-dasar pembentukan PBB. Namun karena Piagam PBB itu hakikatnya adalah sebuah perjanjian

internasional, yang memerlukan ratifikasi oleh negara-negara pembuat perjanjian agar efektif berlaku, maka lahir PBB ditetapkan sesuai tanggal pemenuhan syarat tersebut diatas.Pada awal kelahirannya Piagam PBB ditandatangani oleh 51 negara dan sekaligus sebagai anggota lembaga di dunia saat itu. Sejak itu keanggotaan PBB terus meningkat, hingga hampir semua negara di dunia menjadi anggotanya.Menurut catatan Buerguetahl & Maier (1990;38), pada tahun 1990-an tinggal Swiss, Taiwan, Korea Selatan, Korea Utara dan beberapa negara kecil yang tidak menjadi anggota PBB. PBB merupakan organisasi internasional, baik dari segi keanggotaannya yang mencakup hampir semua negara didunia maupun dari segi tujuan yang ingin dicapainya. Sampai bulan Maret 1995 jumlah anggota PBB telah mencapai 185 negara.Markas besar PBB terletak di kota New York, Amerika Serikat, namun tanah dan bangunannya merupakan wilayah internasional. PBB memiliki bendera, kantor pos, dan perangko sendiri. Dalam persidangan PBB digunakan enam bahasa resmi, yaitu Arab, Inggris, Mandarin, Perancis, Rusia, dan Spanyol. Tujuan PBB.
- Memelihara perdamaian dan keamanan internasional.-Mengembangkan hubungan-hubungan

persaudaraan antara bangsa-bangsa.-Menciptakan kerjasama dalam memecahkan masalah usaha internasional dalam bidang ekonomi, sosial budaya, dan hak asasi.-Menjadikan PBB sebagi pusat usaha dalam mewujudkan tujuan bersama cita-cita di atas. b. Asas organisasi PBB
-Berdasarkan persamaan kedaulatan dari semua anggotanya.-Semua anggota harus memenuhi

dengan ikhlas kewajiban-kewajiban mereka sebagaimana tercantum dalam Piagam PBB.-Semua anggota harus menyelesaikan persengketaan-persengketaan internasional dengan jalan damai tanpa membahayakan perdamaian, kemanan dan keadilan.-Dalam hubungan-hubungan internasional semua anggota harus menjauhi penggunaan ancaman atau kekerasan terhadap orang lain. c. Badan/alat perlengkapan PBB Konferensi San Fransisco menghasilakan suatu piagam yang menyebutkan organ utama PBB, yaitu Majelis Umum (General Assembly), Dewan Keamanan (Security Council), Dewan Ekonomi dan Sosial (Economic and Social Council), Dewan Perwalian (Trsteeship Council), Mahkamah Internasional (International Court of Justice), Sekretariat. 1. Majelis Umum Majelis Umum PBB atau Sidang Umum PBB adalah salah satu dari enam badan utama PBB. Majelis ini terdiri dari anggota dari seluruh negara anggota dan bertemu setiap tahun dibawah seorang Presiden Majelis Umum PBB yang dipilih dari wakil-wakil. Pertemuan pertama diadakan pada 10 Januari 1946 di Hall Tengah Westminster di London dan termasuk wakil dari 51 negara.

Pertemuan ini biasanya dimulai di Selasa ketiga bulan September dan berakhir pada pertengahan Desember. Pertemuan khusus dapat diadakan atas permintaan dari Dewan Keamanan, mayoritas anggota PBB. Pertemuan khusus diadakan pada Oktober 1995 untuk memperingati perayaan 50 tahun PBB. Setiap negara dapat menunjuk 5 orang wakil untuk hadir dalam Sidang Umum, tetapi hanya berhak mengeluarkan satu suara (Pasal 5 dan 18, Piagam PBB). Dalam setiap sidang PBB, Majelis Umum memilih seorang ketua. Sidang Umum mempunyai kekuasaan untuk mengatur organisasi dan administrasi PBB, kecuali masalah yang sedang diselesaikan Dewan Keamanan. Bahasa Resmi yang digunakan antara lain: bahasa Inggris, Prancis, Rusia, Spanyol, dan Cina, termasuk dalam siaran dan pemberitaan pers. Tugas dan kekuasaan Majelis Umum sangat luas, yaitu sebagai berikut : -Berhubungan dengan perdamaian dan keamanan internasional,-Berhubungan dengan kerja sama ekonomi, kebudayaan, pendidikan, kesehatan dan perikemanusiaan,-Berhubungan dengan perwakilan internasional termasuk daerah yang belum mempunyai pemerintahan sendiri yang bukan daerah strategis-Berhubungan dengan keuangan,-Penetapan keanggotaan,-Mengadakan perubahan piagam,-Memilih anggota tidak tetap Dewan Keamanan, Ekonomi, dan Sosial, Dewan Perwalian, Hakim Mahkamah Internasional, dan sebagainya. 2. Dewan Keamanan (Security Council) Dewan Keamanan PBB adalah badan terkuat di PBB. Tugasnya adalah menjaga perdamaian dan keamanan antar negara. Sedangkan badan PBB lainnya hanya dapat memberikan rekomendasi kepada para anggota. Dewan Keamanan mempunyai kekuatan untuk mengambil keputusan yang harus dilaksanakan para anggota di bawah Piagam PBB.Dewan Keamanan mengadakan perte-muan pertamanya pada 17 Januari 1946 di Church House, London dan keputusan yang mereka tetapkan disebut Resolusi Dewan Keamanan PBB.Dewan Keamanan terdiri dari lima anggota tetap yang mempunyai hak veto, yakni: Amerika Serikat, Inggris, Rusia, Prancis, dan Cina, ditambah dengan 10 anggota tidak tetap yang dipilih untuk masa 2 tahun oleh Majelis Umum. Hak veto adalah hak untuk membatalkan keputusan atau resolusi yang diajukan oleh PBB atau Dewan Keamanan PBB. Hak veto sampai dengan sekarang, hanya dimiliki negara-negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB.Dewan keamanan diberi hak dan wewenang untuk menentukan suatu hal atau masalah yang dianggap mengganggu perdamaian, mengancam perdamaian, atau tindakan agresif. Selanjutnya, sebagai tambahan, ada suatu komite staf militer dari negara anggota tetap dan dimaksudkan agar dapat mempersiapkan tindakan segera apabila terdapat ancaman perdamaian. Dewan Keamanan diberikan wewenang untuk melakukan tindakan segera guna menjaga ketertiban dan keamanan dunia. 3. Dewan Ekonomi dan Sosial (Economic and Social Council atau ECOSOC)

ECOSOC (Dewan Ekonomi dan Sosial) beranggotakan 18 negara, kemudian dengan amandemen tahun 1963 yang mulai berlaku tahun 1965 bertambah menjadi 27 negara. Berdasarkan amandemen tahun 1971, yang berlaku tahun 1975, jumlah anggota berubah lagi menjadi 54 negara. Dewan Ekonomi dan Sosial dipilih oleh Sidang Umum untuk masa 3 (tiga) tahun dan bersidang sedikitnya tiga kali dalam setahun. Tugas ECOSOC adalah sebagai berikut. -Bertanggung jawab dalam menyelenggarakan kegiatan ekonomi dan sosial yang digariskan oleh PBB. -Mengembangkan ekonomi, sosial dan budaya.-Memupuk hak asasi manusia.-Mengkoordinasi kegiatan-kegiatan dari bidang khusus dengan berkonsultasi dan menyampaikannya pada sudang umum kepada mereka dan anggota PBB. 4. Dewan Perwalian (Trusteeship Council) Dewan Perwalian atau Trusteeship Council , merupakan lembaga PBB yang dibentuk dalam rangka untuk mendorong, membantu mengusahakan kemajuan penduduk Daerah perwalian untuk mencapai kemerdekannya. Kompoisis Dewan Perwalian terdiri dari : -Anggota yang menguasai daerah perwalian,- Anggota tetap Dewan Keamanan,-Sejumlah anggota yang dipilih untuk selama 3 tahun oleh Sidang Umum. Fungsi Dewan Perwalian adalah: -Mengusahakan kemajuan penduduk daerah perwalian dalam negara untuk mencapai kemerdekaan sendiri,-Memberikan dorongan untuk menghormati hak-hak manusia,-Melaporkan hasil pengawasan kepada Sidang Umum PBB. Piagam PBB menyebutkan bahwa kolonialisasi harus dihapuskan. Oleh sebab itu, daerah yang belum merdeka diusahakan oleh Dewan Perwalian untuk mendapatkan kemerdekaannya. Pada umumnya sekarang daerah-daerah perwalian itu sudah merdeka. 5. Mahkamah Internasional (International Court of Justice)

Mahkamah Internasional ialah badan perlengkapan PBB yang berkedudukan di Den Haag (negara Belanda). Anggotanya terdiri atas ahli hukum dari berbagai negara anggota PBB. Masa jabatan mereka adalah 9 tahun, sedangkan tugasnya adalah memberikan saran dan pendapat kepada Dewan Keamanan dan Majelis Umum bila diminta.Mahkamah Agung Internasional merupakan Mahkamah pengadilan tertinggi di seluruh dunia. Mahkamah Internasional terdiri atas 15 orang hakim yang dipilih dari 15 orang hakim yang dipilih dari 15 negara berdasarkan kecakapannya dalam hukum. Semua anggota PBB adalah Piagam Mahkamah Internasional.Negara-negara bukan anggota PBB juga menjadi peserta Piagam Mahkamah Internasional menurut ketentuan yang sudah ditetapkan oleh Majelis Umum atas usul Dewan Keamanan. Negara-negara yang menyetujui Mahkamah

Internasional setiap waktu dapat menanyakan bahwa mereka dengan sendirinya akan tunduk kepada keputusan-keputusan Mahkamah Internasional, termasuk dalam hubungan mereka dengan salah satu negara, asalkan negara yang terakhir ini menyatakan akan tunduk juga.Mahkamah Internasional dalam mengadili suatu perkara berpedoman pada perjanjian-perjanjian internasional (traktat-traktat dan kebiasaan-kebiasaan internasional) sebagi sumber-sumber hukum. Keputusan Mahkamah Internasional merupakan keputusan terakhir walaupun dapat dimintakan banding. Di samping pengadilan Mahkamah Internasional, terdapat juga pengadilan arbitrasi internasional. Arbitrasi hanya untuk perselisihan hukum, dan keputusan para arbitet tidak perlu berdasarkan peraturan-peraturan hukum. Tugas pokok Mahkamah Internasional adalah mencakup hal-hal berikut : -Memeriksa perselisihan atau sengketa antara negara-negara anggota PBB yang diserahkan kepada Mahkamah Internasional.-Memberi pendapat kepada Majelis Umum tentang penyelesaian sengketa antara negara-negara anggota PBB.-Menganjurkan Dewan Keamanan PBB untuk bertindak terhadap salah satu pihak yang menghiraukan keputusan Mahkamah Internasional.-Memberi nasihat tentang persoalan hukum kepada Majelis Umum dan Dewan Keamanan. 2. Association of South East Asian Nations (ASEAN). ASEAN didirikan pada tanggal 8 Agustus 1967 di Bangkok. ASEAN didirikan oleh lima negara pemrakarsa, yaituIndonesia, Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand di Bangkok melalui Deklarasi Bangkok. Menteri luar negeri penandatangan Deklarasi Bangkok kala itu ialah Adam Malik (Indonesia), Narciso R. Ramos (Filipina), Tun Abdul Razak (Malaysia), S. Rajaratnam (Singapura), dan Thanat Khoman (Thailand).Sejarah pembentukan ASEAN, didasarkan pada kepentingan bersama dalam bidang ekonomi, sosial, budaya, faktor internal dan eksternal. -Faktor Internal yaitu adanya tekad bersatu untuk memperjuangkan kepentingan bersama dan bersama-samasebagai bekas negara jajahan barat.- Faktor Eksternal, yaitu adanya perang Vietnam (Indo Chino) dan sikap RRC ingin mendominasi Asia Tenggara. a. Asas ASEAN ASEAN sebagai organisasi kerja sama regional di Asia Tenggara menganut asas keanggotaan terbuka. Ini berarti bahwa ASEAN memberi kesempatan kerja sama kepada negara-negara lain yang berada di kawasan Asia Tenggara, seperti Timor Leste dan Papua Nugini. b. Dasar atau Prinsip Utama ASEAN Pembentukan ASEAN, didasarkan pada prinsip-prinsip utama sebagai berikut: - Saling mengormati terhadap kemerdekaan, kedaulatan, kesamaan, integritas wilayah nasional dan identitas nasional setiap negara,-Mengakui hak setiap bangsa untuk penghidupan nasional yang

bebas dari campur tangan luar, subversif dan intervensi dari luar,-Tidak saling turut campur urusan dalam negeri masing-masing,-Penyelesaian perbedaan atau pertengkaran dan persengketaan secara damai,- Tidak mempergunakan ancaman (menolak penggunaan kekuatan) militer, dan-Menjalankan kerjasama secara efektif antara anggota. c. Tujuan ASEAN

Organisasi ASEAN yang didirikan di Bangkok, memiliki dasar-dasar pertimbangan yang menjadi tujuan bersama sebagai berikut : -Mempercepat pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial, dan pengembangan kebudayaan di kawasan Asia Tengggara,-Meningkatkan perdamaian dan stabilitas regional dengan jalan menghormati keadilan dan tertib hukum,-Meningkatkan kerja sama yang aktif dalam bidang ekonomi, sosial, budaya, teknik, ilmu pengetahuan dan adminsitrasi,-Saling memberikan bantuan dalam bentuk sarana-sarana latihan dan penelitian, -Meningkatkan penggunaan pertanian, industri, perdagangan, jasa dan meningkatkan taraf hidup, dan-Memelihara kerja sama yang erat dan bermanfaat dengan organisasi-organisasi internasional dan regional. 3. Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia-Afrika

a. Sejarah Singkat Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika (KTT Asia-Afrika, kadang juga disebut Konferensi Bandung) adalah sebuahkonferensi tingkat tinggi antara negara-negara Asia dan Afrika, yang kebanyakan baru saja memperoleh kemerdekaan. KTT ini diselenggarakan oleh Indonesia, Myanmar (dahulu Burma), Sri Lanka (dahulu Ceylon), India dan Pakistan dan dikoordinasi oleh Menteri Luar Negeri Indonesia Roeslan Abdulgani. Pertemuan ini berlangsung antara 18 April-24 April1955, di Gedung Merdeka, Bandung, Indonesia dengan tujuan mempromosikan kerjasama ekonomi dan kebudayaan Asia-Afrika dan melawan kolonialisme atau neokolonialisme Amerika Serikat, Uni Soviet, atau negara imperialis lainnyaSepuluh poin hasil pertemuan ini kemudian tertuang dalam apa yang disebut Dasasila Bandung, yang berisi tentang pernyataan mengenai dukungan bagi kedamaian dan kerjasama dunia. Dasasila Bandung ini memasukkan prinsip-prinsip dalam Piagam PBB dan prinsip-prinsip Nehru. Konferensi ini akhirnya membawa kepada terbentuknya Gerakan Non-Blok pada 1961

Anda mungkin juga menyukai