Anda di halaman 1dari 9

KESEHATAN GIGI KELAINAN JUMLAH DAN STRUKTUR GIGI

BAB 1 PENDAHULUAN

Bentuk gigi desidui sudah mulai berkembang pada usia 4 bulan dalam kandungan. Pertumbuhan dan perkembangan gigi melalui beberapa tahap, yaitu tahap inisiasi, proliferasi, histodiferensiasi, morfodiferensiasi, aposisi, kalsifikasi dan erupsi. Pada masing-masing tahap dapat terjadi kelainan yang menyebabkan anomali dalam jumlah gigi, ukuran gigi, bentuk gigi, struktur gigi, warna gigi dan gangguan erupsi gigi. Struktur gigi secara mikroskopis terdiri dari jaringan keras (hard tissue) dan jaringan lunak (soft tissue). Jaringan keras adalah jaringan yang mengandung kapur yang terdiri dari enamel, dentin dan sementum, sedangkan jaringan lunak yaitu jaringan yang terdapat dalam rongga pulpa sampai foramen apikal. Kasus yang sering ditemukan adalah gangguan atau perubahan dari jumlah gigi dan perubahanperubahan dalam struktur gigi

BAB II PEMBAHASAN

1. Perubahan-Perubahan Dalam Jumlah Gigi Jumlah gigi manusia yang normal adalah 20 gigi sulung dan 32 gigi tetap, tetapi dapat dijumpai jumlah yang lebih atau kurang dari jumlah tersebut. Kelainan jumlah gigi adalah dijumpainya gigi yang berlebih karena benih berlebih atau penyebab lain dan kekurangan jumlah gigi disebabkan karena benih gigi yang tidak ada atau kurang. a. Etiologi

Banyak hipotesa yang berbeda telah dikemukakan tentang etiologi kelainan jumlah gigi, sehingga saat ini tidak ada yang dapat dikatakan dengan pasti sebagai etiologi, tetapi sifat herediter mempunyai peranan dengan melihat ras dan tendensi keluarga. Faktor lingkungan dapat menyebabkan pecahnya benih gigi ketika bayi masih dalam kandungan, misalnya : radiasi / penyinaran

trauma infeksi gangguan nutrisi dan hormonal b. Jenis-jenis perubahan dalam jumlah gigi

1. Anodonsia / hipodonsia ( tidak adanya benih gigi ) Anodonsia yaitu tidak dijumpainya seluruh gigi geligi dalam rongga mulut sedangkan hipodonsia atau disebut juga oligodonsia yaitu tidak adanya satu atau beberapa elemen gigi. Kedua keadaan ini dapat terjadi pada gigi sulung maupun gigi tetap. Gigi yang sering mengalami hipodonsia yaitu gigi insisivus lateralis atas, premolar dua bawah, premolar dua atas, molar tiga dan insisivus sentralis bawah. Anodonsia mempunyai dampak terhadap perkembangan psikologis karena adanya penyimpangan estetis yang ditimbulkannya dan menyebabkan gangguan pada fungsi pengunyahan dan bicara. Hipodonsia dapat menimbulkan masalah estetis dan diastema Ada beberapa jenis anodontia yaitu sebagai berikut : anodontia total anodontia parsial pseudoanodontia erupsi anodontia palsu : tidak adanya semua gigi : satu atau beberapa gigi tidak ada : satu atau beberapa gigi tidak ada karena impaksi atau keterlambatan

: gigi telah lepas atau di ekstraksi

Perawatan yang dapat dilakukan pada penderita anodontia dan hipodontia adalah sebagai berikut : Pada keadaan anodonsia, bisa dibuatkan full protesa bila anak sudah dapat diajak untuk bekerja sama. full protesa dapat dibuat semasa gigi sulung dan diganti/ disesuaikan setelah masa gigi tetap. Pada hipodonsia gigi insisivus dua atas tetap dipasang removable protesa dan dapat diganti dengan bridge protesa bila apeks gigi insisivus satu atas sebelahnya sudah tertutup sempurna (tertutup sempurna biasanya 3-6 tahun setelah erupsi). Sedangkan gigi premolar yang hipodonsia dilakukan penutupan ruangan secara ortodonti atau dibuat removable protesa yang diganti dengan fixed protesa dikemudian hari.

Gambar 1. Gambaran gigi penderita hipodontia 2. Hiperdontia

Definisi Hiperdonsia atau dens supernumerary atau supernumerary teeth yaitu adanya satu atau lebih elemen gigi melebihi jumlah gigi yang normal, dapat terjadi pada gigi sulung maupun gigi tetap.

Gigi ini bisa erupsi dan bisa juga tidak erupsi. Beberapa penelitian melaporkan prevalensinya pada anak-anak 0,3 2,94 %. Menurut Bodin dan Kaler, kasus ini lebih banyak dijumpai pada laki-laki. Akibat yang ditimbulkan tergantung pada posisi yang berlebih, dapat berupa ; malposisi, crowded, tidak erupsinya gigi tetangga, persistensi gigi sulung, terlambatnya erupsi gigi insisivus sentralis tetap, rotasi, diastema, impaksi, resobsi akar dan hilangnya vitalitas. Pembentukan kista dan masalah estetis juga dapat dijumpai. Diagnosa awal dari anomali ini sangat perlu untuk menghindari kerusakan yang lebih parah, gigi berlebih ini dapat didiagnosa dengan pemeriksaan radiografi, juga dengan tanda-tanda klinis yang dapat menimbulkan keadaan patologis. Tanda-tanda klinis gigi berlebih ini antara lain terhambatnya erupsi gigi sulung, terhambatnya erupsi gigi pengganti, perubahan hubungan aksial dengan gigi tetangga dan rotasi gigi insisivus tetap. Berdasarkan lokasinya gigi berlebih dibedakan atas : a. Mesiodens Lokasinya di dekat garis median diantara kedua gigi insisivus sentralis terutama pada gigi tetap rahang atas. Jika gigi ini erupsi biasanya ditemukan di palatal atau diantara gigi-gigi insisivus sentralis dan paling sering menyebabkan susunan yang tidak teratur dari gigi-gigi insisivus sentralis. Gigi ini dapat juga tidak erupsi sehingga menyebabkan erupsi gigi insisivus satu tetap terlambat, malposisi atau resobsi akar gigi-gigi insisivus didekatnya b. Laterodens Laterodens berada di daerah interproksimal atau bukal dari gigi-gigi selain insisivus sentralis. c. Distomolar Lokasinya di sebelah distal gigi molar tiga.

Perawatan pilihan untuk masing-masing kasus harus dianalisa secara individual, tergantung kepada jenis dan posisi gigi yang berlebih. Secara garis besar perawatannya dilakukan dengan pencabutan, pengambilan secara bedah (bila gigi tersebut tidak dapat erupsi) atau pada kasus tertentu gigi dibiarkan berada dalam mulut dengan observasi (misal distomolar di belakang molar tiga dan tidak mengganggu). Pada kasus diastema yang disebabkan mesiodens, perawatan dilakukan dengan pencabutan, kemudian dilanjutkan dengan perawatan ortodonti. Waktu yang ideal untuk pengambilan gigi berlebih pada regio depan adalah usia 6-7 tahun, karena akar insisivus sentralis sedang berkembang, namun belum sepenuhnya terbentuk. Penting untuk memonitor ruangan yang ada serta oklusinya selama periode ini.

Gambar 2. Bentuk dan posisi dari gigi pasien penderita hiperdontia

2.Perubahan-Perubahan Dalam Struktur Gigi A. Perubahan-Perubahan Dalam Struktur Enamel Kelainan pada struktur jaringan keras gigi dapat terjadi pada tahap histodiferensiasi, aposisi dan kalsifikasi selama tahap pertumbuhan dan perkembangan gigi, yang dapat mengenai gigi sulung maupun gigi tetap. Kelainan-kelainan tersebut adalah : 1. Hipoplasia enamel

Hipoplasia enamel atau sering juga disebut enamel hipoplasia adalah suatu gangguan pada enamel yang ditandai dengan tidak lengkap atau tidak sempurnanya pembentukan enamel. Dapat terjadi pada gigi sulung maupun tetap. Gambaran klinis : Terdapatnya groove, pit dan fisur yang kecil pada permukaan enamel Pada keadaan yang lebih parah dijumpai adanya guratan guratan pit yang dalam,tersusun secara horizontal pada permukaan gigi. Etiologi dari hipoplasia enamel adalah sebagai berikut : Faktor Lokal trauma (misal Turner Teeth) infeksi radiasi idiopatik Faktor Umum Lingkungan, Herediter * * * Prenatal : Sifilis kongenital (Hutchinsons Teeth/Mulberry Molar) Neonatal : Hipokalsemia Postnatal : Defisiensi vitamin atau fluor yang berlebihan (Mottlet enamel).

Gambar 3. Keadaan gigi penderita hipoplasia enamel

2.

Amelogenesis Imperfekta

Amelogenesis Imperfecta (AI) adalah kelainan formasi dari enamel atau permukaan luar gigi permanen yang diturunkan. Karakteristik dari AI terjadi hipokalsifikasi, hipoplasia, atau hipomaturasi yang menyeluruh. Gejala klinis Amelogenesis Imperfekta adalah sebagai berikut : mempunyai gigi yang berwarna abnormal antara putih opaque, kuning, coklat sampai abu-abu. dentin dan pulpa normal, banyak kehilangan enamel. mempunyai resiko tinggi terhadap karies. sangat sensitif terhadap perubahan suhu. Amelogenesis terbagi atas empat tipe utama yaitu sebagai berikut : Tipe hipoplastik Yaitu kurangnya email yang normal, menyebabkan mahkota gigi-gigi nampak pucat, coklat kekuningan, berlubang-lubang atau beralur. Secara radiografis seluruh gigi lengkap, tetapi mahkota gigi-gigi terlihat sangat tipis atau tidak ada email. Gigi-gigi mirip preparasi mahkota dengan tanda khas ruang interdental yang lebar. Tipe hipomatur Tipe ini mempunyai email yang normal banyaknya, tetapi emailnya lunak dan kurang mineral, karenanya sonde gigi bila ditekan akan melubangi permukaan email. Pada tipe ini, mahkota-mahkota gigi berkontak di interproksimal, tetapi tampak berkapur, kasar, beralur, dan ada perubahan warna. Email mudah patah. Tipe kalsifikasi Pada tipe ini, gigi mempunyai email yang lunak, tetapi hialng jauh leboh cepat dan mengakibatkan terbukanya dentin segera sesudah erupsi. Warna gigi biasanya mempunyai gigi-gigi berwarna madu dengan corak permukaan kasar, gigi-gigi tidak erupsi multipel dan gigitan terbuka interior. Tipe hipoplasia-hopomaturasi dengan tipe taurodontisme Pada tipe ini memperlihatkan gigi-gigi yang kekuning-kuningan dengan bercak-bercak opak, berlubang-lubang di servikal, atrisi dan taurodontisme. Kelainan yang menyertai amelogenesis adalah sebagai berikut : Karies Kegoyangan gigi Deep bite Kehilangan dimensi vertikal

Penatalaksanaan kelainan amelogenesis imperfekta adalah sebagai berikut : Gigi goyang stabilisasi dengan splint Deep bite& penurunan dimensi vertical Pembuatan restorasi sementara/ peninggian gigit sampai oklusi normal. Karies & loss enamel yang banyak krn A.I pembuatan restorasi tetap porcelain fused to metal. Penatalaksanaan pada penderita amelogenesis imperfekta adalah sebagai berikut : Dental Health Education (DHE) Kontrol Plak Perbaikan Oral Hygiene Aplikasi Fluoride Perbaikan Kebiasaan Makan dan Kesehatan Rongga Mulut

Gambar 4. Keadaan gigi penderita amelogenesis imperfekta

Perawatan untuk amelogenesis imperfekta biasanya adalah mahkota penuh untuk alasan estetik. B.Perubahan-Perubahan Struktur Dentin 1. Displasia Dentin Displasia dentin adalah kelainan pada dentin yang melibatkan sirkum pulpa dentin dan morfologi akar, sehingga akar terlihat pendek yang disebabkan herediter yang diturunkan secara autosomal dominan. Ditandai oleh perubahan-perubahan dalam bentuk dentin yaitu kelainan pada dentin yang melibatkan sirkum pulpa dentin dan morfologi akar, sehingga akar terlihat pendek. Ketidaknormalan tersebut diklasifikasikan dalam dua tipe yaitu : Tipe 1 ( displasia dentin radikuler ) Pada tipe ini gigi-gigi sulung dan tetap secara klinis tampak normal tetapi radiograf menunjukan kelainan perkembangan akar dengan hamper tidak ada pembentukan akar sama sekali dan ada batu pulpa besar serta penyumbatan pulpa total dari gigi-gigi sulung sebelum erupsi gigi, ditandai dengan gigi-gigi yang goyang dan radiolusensi periapikal multipel yang tak diketahui sebabnya. Tipe II ( displasia dentin coronal ) Pada tipe ini saluran pulpa gigi-gigi sulung sering kali tersumbat karena mengalami dentinogenesia imperfekta. Sebaliknya pada gigi tetap secara klinis tampak normal, kecuali saluran-saluran pulpa

yang lebih sempit dan berbentuk bunga widuri yang sering kali ditempati oleh dentikel-dentikel. Akar gigi kemungkinan pendek, tumpul, menguncup, dan dapat mempunyai garis radiolusens horizontal.

2.Dentinogenesis Imperfekta Dentinogenesis imperfecta adalah suatu kelainan genetik yang mempengaruhi struktur gigi, akibat terjadi gangguan pada tahap histodiferensiasi pertumbuhan dan perkembangan gigi. Secara umum mahkota gigi pada penderita dentinogenesis imperfecta biasanya mempunyai ukuran yang normal, namun adanya pengerutan pada bagian servikal gigi. Akar gigi terlihat ramping dan pendek. Dentinogenesis imperfecta adalah suatu kelainan genetik yang mempengaruhi struktur gigi, akibat terjadi gangguan pada tahap histodiferensiasi pertumbuhan dan perkembangan gigi. Pada waktu histodiferensiasi, terjadi proses diferensiasi sel, proliferasi, pergeseran dan pematangan sebagai dental organ melalui tahap lonceng dan aposisi. Bagian perifer dari dental organ akan menjadi odontoblas, lapisan ini akan membentuk dentin. Gangguan diferensiasi selsel formatif benih gigi akan menghasilkan struktur email dan dentin yang abnormal. Kegagalan odontoblas berdiferensiasi pada tahap ini akan menghasilkan struktur dentin abnormal, yang dikenal dengan dentinogenesis imperfecta Klasifikasi dari dentinogenesis imperfecta adalah sebagai berikut: 1. Shields tipe I dentinogenesis imperfecta yang terjadi bersamaan dengan osteogenesis imperfecta 2. Shields tipe II dentinogenesis imperfecta yang terjadi tidak bersamaan dengan osteogenesis imperfecta 3. Shields tipe III dentinogenesis imperfecta yang terjadi pada populasi Brandywine di Maryland Selatan, Amerika. Dentinogenesis merupakan proses pembentukan dentin. dentinogenesis imperfecta adalah suatu kelainan genetik yang mempengaruhi struktur kolagen dentin selama embryogenesis terutama pada tahap diferensiasi jaringan dan formasi matriks orgamik. Dentinogenesis imperfecta terjadi gangguan pada tahap histodiferensiasi perkembangan gigi. Selama tahap histodiferensiasi terjadi diferensiasi sel pada dental papilla menjadi odontoblas dan sel epitel email dalam menjadi ameloblas. Histodiferensiasi, terjadi proses diferensiasi sel, proliferasi, pergeseran dan pematangan sebagai dental organ melalui tahap lonceng dan aposisi. Bagian perifer dari dental organ akan menjadi odontoblas, lapisan ini akan membentuk dentin. Gangguan diferensiasi sel-sel formatif benih gigi akan menghasilkan struktur email dan dentin yang abnormal, salah satunya adalah dentinogenesis imperfecta. Akibat dari Dentinogenesis imperfecta dapat menimbulkan pewarnaan gigi, dan gigi sensitive akibat atrisi, berkurangnya tinggi gigitan, gangguan fungsi otot-otot pengunyahan, dan gangguan fungsi bicara yang kan mengganggu penampilan seseorang. Adanya atrisi yang ditimbulkan akibat rapuhnya struktur gigi, sehingga dentin akan mudah terbuka, dengan demikian gigi akan menjadi lebih sesitif

yang mengganggu fungsi pengunyahan dan bicara. Berkurangnya tinggi gigitan dapat menyebabkan oklusi abmormal, selanjutnya akan mengganggu sendi temporomandibula. Dentinogenesis imperfecta dapat terjadi pada gigi sulung maupun gigi permanen.Secara klinis dapat terlihat, mukosa mulut terlihat normal, gigi berwarna abu-abu agak transparan sampai agak kecoklatan Kemudian segera setelah gigi sulung erupsi lengkap, enamel relative mudah patah dari bagian insisal edge pada permukaan gigi anterior dan permukaan oklusal dari gigi posterior. Selanjutnya bagian dentin yang relative lunak akan mudah terkikis, sehingga tubuli dentin terbuka, hal ini dapat menimbulkan rasa ngilu. Selanjutnya pulpa mudah tereksponasi bahkan terjadi pulpa nekrosis. Kadang-kadang diikuti dengan kerusakan jaringan gingival. Dentinogenesis imperfecta biasanya mempunyai ukuran normal, namun pada permukaan servikal terlihat pengerutan, sehingga mahkota gigi terlihat membulat. Pada pemeriksaan radiologis terlihat akar yang ramping dan pendek, kavum pulpa terlihat kecil atau hampir tidak terlihat, saluran akar kecil atau bahkan terlihat seperti garis tipis. Kondisi ini merupakan indikasi kerusakan/ gangguan jaringan mesodermal. Kadang-kadang ditemukan periapikal rasiolusen pada gigi sulung. Adakalanya akar patah bahkan multiple fracture dapat terjadi, yang biasanya pada pasien yang lebih tua. Apabila dibandingkan dengan gigi sulung maka pada gigi permanen biasanya relative lebih baik kondisinya. Struktur jaringan enamel dan dentin terlihat normal, dentinoenamel junction pun tidak tampak sebagai jaringan yang terganggu. Namun demikia ditemukan hubungan daerah fraktur pada permukaan enamel karena ada lekukan/scalloping yang kurang pada dentinoenamel junction. Tubuli dentin terlihat berkurang jumlahnya, dan terlihat tidak beraturan dan bercabang-cabang. Perawatan dentinogenesis imperfekta adalah untuk memperbaiki penampilan, mengembalikan dimensi vertical pasien, mengembalikan fungsi pengunyahan, mencegah terjadi abrasi, mempertahankan kesehatan mulut, dan mengembalikan kepercayaan pada diri pasien. Kelainan gigi yang terjadi pada dentinogenesis imperfecta dapat mengenai semua permukaan gigi, dari gigi anterior sampai posterior. Rencana perawatan yang tepat sangat menentukan keberhasilan perawatan. Terdapat bermacam-macam restorasi yang dapat digunakan dalam perawatan ini, seperti resin komposit untuk gigi anterior, mahkota stainless steel untuk gigi posterior, mahkota celluloid strip untuk gigi sulung dan gigi tetap muda anterior, veneer, dan overdenture untuk gigi dengan atrisi yang luas.

BAB III PENUTUP

1.

Kesimpulan

Masa pembentukan gigi desudui merupakan masa dimana sering terjadi kelainan dalam jumlah gigi, bentuk gigi, struktur gigi, warna gigi dan gangguan erupsi

Anomali jumlah gigi terbagi menjadi dua jenis yaitu tidak adanya benih gigi ( anodonsia dan hipodonsia ) dan kelebihan jumlah gigi ( hiperdonsia ) Anomali jumlah gigi disebabkan oleh faktor herediter dan lingkungan Anomali struktur terbagi atas empat jenis yaitu hipoplasia enamel, amelogenesis imperfekta, dentinogenesis imperfekta, dan displasia dentin Anomali struktur gigi disebabkan oleh factor herediter dan lingkungan

DAFTAR PUSTAKA

http : www.find-pdf.com/amelogenesis imperfekta pada anak http : www.find-pdf.com/amelogenesis imperfekta herediter http : www.openpdf.com/ebook/penatalaksanaan-dentinogenesis-imperfekta-pada-anak-pdf.html http : www.docs.google.com//kelainan-gigi-akibat-gangguan-pertumbuhan-dan perkembangan http : www.tikathedentist.blogspot.com//amelogenesis-imperfekta Langlais, Robert P. 1998. Atlas Berwarna Kelainan Rongga Mulut Yang Lazim. Jakarta : Hipokrates

Anda mungkin juga menyukai