Anda di halaman 1dari 10

SATUAN ACARA PENYULUAHAN DI POLI ANAK RSUD KOTA TASIKMALAYA

Di ajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Keperawatan Anak

Dosen pembimbing:
Ida Juhaerawati.,S Kep.,Ners

Disusun oleh:
Indra Setiadi Moch Indra Fajar Mohammad Kemal O Nita Siti Rohimah Nidia Destiani

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bakti Tunas Husada Tasikmalaya Jl.Cilolohan No.36, tlp (0265)334740, Tasikmalaya 46115

SATUAN ACARA PENYULUHAN DI POLI ANAK RSUD TASIKMALAYA

Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan Sasaran Target Hari/Tanggal Waktu Tempat

: Penyakit Pada Anak : Epilepsi : Pengunjung di Poli Anak : Orangtua Anak di Poli Anak : Kamis 18 April 2013 : 25 Menit : Depan Poli Anak

A. Latar Belakang Pada tahun 2000, diperkirakan penyandang epilepsi di seluruh dunia berjumlah 50 juta orang, 37 juta orang diantaranya adalah epilepsi primer, dan 80% tinggal di negara berkembang. Laporan WHO (2001) memperkirakan bahwa rata-rata terdapat 8,2 orang penyandang epilepsi aktif diantara 1000 orang penduduk, dengan angka insidensi 50 per 100.000 penduduk. Angka prevalensi dan insidensi diperkirakan lebih tinggi di negara-negara berkembang. Hasil penelitian Shackleton dkk (1999) menunjukkan bahwa angka insidensi kematian di kalangan penyandang epilepsi adalah 6,8 per 1000 orang. Sementara hasil penelitian Silanpaa dkk (1998) adalah sebesar 6,23 per 1000 penyandang. Epilepsy adalah kompleks gejala dari beberapa kelainan fungsi otak yang ditandai dengan terjadinya kejang secara berulang. Dapat berkaitan dengan kehilangan kesadaran, gerakan yang berlebihan, atau kehilangan tonus atau gerakan otot, dan gangguan prilaku suasana hati, sensasi dan persepsi (Brunner dan suddarth, 2000).

Epilepsi atau penyakit ayan dikenal sebagai satu penyakit tertua di dunia (2000 tahun SM). Penyakit ini cukup sering dijumpai dan bersifat menahun. Penderita akan menderita selama bertahun-tahun. Sekitar 0,5 1 % dari penduduk adalah penderita epilepsy (Lumbantobing, 1998).

B. Tujuan Umum Setelah Orangtua di Poli Anak mengikuti penyuluhan selama 1x25 menit, 90% Orangtua di Poli Anak dapat memahami Penyakit Epilepsi, sehingga terjadi penurunan penyakit Epilepsi dari 10 menjadi 2 orang anak untuk 6 bulan yang akan datang.

C. Tujuan Khusus 1. Orangtua dapat menjelaskan pengertian Epilepsi 2. Orangtua dapat menyebutkan penyebab Epilepsi 3. Orangtua dapat menyebutkan patofisiologi Epilepsi

D. Metode Yang Digunakan 1. Ceramah 2. Tanya Jawab

E. Media 1. Powerpoint 2. Leaflet

F. Garis Besar Materi 1. Pengertian Epilepsi 2. Etiologi Epilepsi 3. Jalan Penyakit Epilepsi 4. Tanda Dan Gejala Penyakit Epilepsi 5. Pencegahan Penyakit Epilepsi 6. Penatalaksanaan Gawat Darurat 7. Tips Pengobatan Epilepsi G. Proses Pelaksanaan No Kegiatan Penyuluhan 1 Pembukaan Salam 2 Kerja Kontrak Waktu Tujuan Persepsi Penyampaian materi Memberi kesempatan untuk bertanya Menjawab Pertanyaan 3 Penutup Evaluasi Menyimpulkan Salam Penutup Menjawab Mendengarkan Menjawab Salam 5 Menit Mendengarkan Menanyakan Peserta Jawab salam Mendengarkan Mendengarkan Menjawab Mendengarkan 17 Menit Waktu 3 Menit

H. Setting Tempat

Penyuluhan diset didepan Poli Anak dengan media Projektor (PPT) dan leaflet dengan menggunakan metode ceramah dan tanya jawab.

I. Pengorganisasian 1. Pembawa Acara 2. Pemateri 3. Moderator 4. Notulis 5. Fasilitator 6. Observer : Nita Siti Rohimah : Nidia Destiani : M Kemal Osmani : Moch Indra Fajar : Indra Setiadi : Indra Setiadi

J. Evaluasi Jenis Evaluasi : Sumatif

Bentuk Evaluasi : Lisan Butir Pertanyaan : 1. Apa Pengertian Epilepsi ? 2. Apa penyebab Epilepsi ? 3. Apa Tanda dan Gejalanya ? 4. Bagaimana Penanganan Gawat Daruratnya ? K. Sumber

Marilyn E. Doenges, 1999, Rencana Asuhan Keperawatan, Penerjemah Kariasa I Made, EGC, Jakarta. http://www.idai.or.id/kesehatananak/artikel. http://www.scribd.com/doc/32523528/Epilepsi-pada-Anak

L. Lampiran Penyakit Epilepsi A. Pengertian Epilepsi adalah penyakit serebral kronik dengan karekteristik kejang berulang akibat lepasnya muatan listrik otak yang berlebihan dan bersivat reversibel (Tarwoto, 2007) Epilepsi adalah gangguan kronik otak dengan ciri timbulnya gejala-gejala yang datang dalam serangan-serangan, berulang-ulang yang disebabkan lepas muatan listrik abnormal sel-sel saraf otak, yang bersifat reversibel dengan berbagai etiologi (Arif, 2000) Epilepsi adalah sindroma otak kronis dengan berbagai macam etiologi dengan ciri-ciri timbulnya serangan paroksismal dan berkala akibat lepas muatan listrik neron-neron otak secara berlebihan dengan berbagai manifestasi klinik dan laboratorik (anonim, 2008)

B. Etiologi Penyebab pada kejang epilepsi sebagian besar belum diketahui (Idiopatik) Sering terjadi pada: 1. Trauma lahir, Asphyxia neonatorum 2. Cedera Kepala, Infeksi sistem syaraf 3. Keracunan CO, intoksikasi obat/alkohol 4. Demam, ganguan metabolik (hipoglikemia, hipokalsemia, hiponatremia)

5. Tumor Otak 6. kelainan pembuluh darah (Tarwoto, 2007) C. Jalan Penyakit Otak merupakan pusat penerima pesan (impuls sensorik) dan sekaligus merupakan pusat pengirim pesan (impuls motorik). Otak ialah rangkaian berjuta-jutaneron. Pada hakekatnya tugas neron ialah menyalurkan dan mengolah aktivitas listrik sarafyang berhubungan satu dengan yang lain melalui sinaps. Dalam sinaps terdapat zat yang dinamakan nerotransmiter. Acetylcholine dan norepinerprine ialah neurotranmiter eksitatif, sedangkan zat lain yakni GABA (gama-amino-butiric-acid) bersifat inhibitif terhadap penyaluran aktivitas listrik sarafi dalam sinaps. Bangkitan epilepsi dicetuskan oleh suatu sumber gaya listrik saran di otak yang dinamakan fokus epileptogen. Dari fokus ini aktivitas listrik akan menyebar melalui sinaps dan dendrit ke neron-neron di sekitarnya dan demikian seterusnya sehingga seluruh belahan hemisfer otak dapat mengalami muatan listrik berlebih (depolarisasi). Pada keadaan demikian akan terlihat kejang yang mula-mula setempat selanjutnya akan menyebar kebagian tubuh/anggota gerak yang lain pada satu sisi tanpa disertai hilangnya kesadaran. Dari belahan hemisfer yang mengalami depolarisasi, aktivitas listrik dapat merangsang substansia retikularis dan inti pada talamus yang selanjutnya akan menyebarkan impuls-impuls ke belahan otak yang lain dan dengan demikian akan terlihat manifestasi kejang umum yang disertai penurunan kesadaran. D. Tanda dan Gejala Tanda dan Gejala Epilepsi Biasanya : 1. Pusing 2. Pandangan Berkunang-kunang 3. Pendengaran kurang sempurna

4. Keluar keringat berlebih 5. Mulut keluar busa (tidak selalu) 6. Urat-urat mengejang, lengan dan tungkai menulur kaku 7. Tangan menggemgam dengan erat 8. Lidah tergigit karena rahang tertutup rapat 9. Apabila sudah bangun tidak ingat lagi dengan apa yang terjadi dengan dirinya

E. Pencegahan Upaya sosial luas yang menggabungkan tindakan luas harus ditingkatkan untuk pencegahan epilepsi. Resiko epilepsi muncul pada bayi dari ibu yang menggunakan obat antikonvulsi yang digunakan sepanjang kehamilan. Cedera kepala merupakan salah satu penyebab utama yang dapat dicegah. Melalui program yang memberi keamanan yang tinggi dan tindakan pencegahan yang aman, yaitu tidak hanya dapat hidup aman, tetapi juga mengembangkan pencegahan epilepsi akibat cedera kepala. Ibu-ibu yang mempunyai resiko tinggi (tenaga kerja, wanita dengan latar belakang sukar melahirkan, pengguna obat-obatan, diabetes, atau hipertensi) harus di identifikasi dan dipantau ketat selama hamil karena lesi pada otak atau cedera akhirnya menyebabkan kejang yang sering terjadi pada janin selama kehamilan dan persalinan.

F. Penatalaksanaan gawat darurat Selama kejang/waktu episode kejang : 1. Lakukan pendekatan dengan tenang 2. Jika anak berada dalam posisi berdiri atau duduk, baringkan anak

3. Letakkan bantal atau lipatan selimut di bawah kepala anak. Jika tidak tersedia kepala anak bisa disangga oleh kedua tangannya sendiri. Jangan : a. b. c. Menahan gerakan anak atau menggunakan paksaan Memasukkan apapun ke dalam mulut anak Memberikan makanan atau minuman

4. Longgarkan pakaian yang ketat 5. Lepaskan kacamata 6. Singkirkan benda-benda keras atau berbahaya 7. Biarkan serangan kejang berakhir tanpa gangguan 8. Jika anak muntah miringkan tubuh anak sebagai satu kesatuan ke salah satu sisi

G. Tips Pengobatan Epilepsi 1. Pastikan anak anda minum obat secara teratur. Penghentian obat tibatiba akan mengakibatkan timbulnya kejang atau status epileptikus. 2. Jika satu dosis terlewat/lupa, segera minum obat tersebut begitu teringat kembali.Tanyakan pada dokter anda apa yang harus dilakukan jika anak lupa minum satu dosis obat. 3. Tanyakan kepada dokter apa yang harus anda kerjakan bila anak kejang. Ajarkan kepada anggota di rumah. 4. Diskusikan obat-obat atau vitamin lain yang diberikan dengan dokter anda apakah bisa mempengaruhi kerja OAE (Obat Anti Epilepsi). Obat seperti dekongestan, asetosal dan obat herbal bisa berinteraksi dengan OAE.

5. Jangan ganti OAE dari merk paten ke obat generik tanpa berkonsultasi dengan dokter, karena perbedaan pemrosesan obat dapat mempengaruhi metabolisme OAE dalam tubuh. 6. Anak penderita epilepsi sebaiknya memakai tanda pengenal 7. Jika OAE diminum ketika anak berada di sekolah, beritahukan guru maupun pengawas mengenai hal tersebut. 8. Bawakan di tas sekolah obat penghenti kejang yang diberikan melalui dubur. Beritahukan adanya obat tersebut kepada guru di sekolah. 9. Hindari habisnya persediaan OAE dengan menyediakan obat cadangan untuk 2 minggu. 10. Simpan OAE di tempat yang sulit dijangkau anak kecil. 11. Untuk anak yang sudah besar, jam dengan alarm pengingat waktu minum obat dilengkapi dengan kotak obat akan sangat bermanfaat. 12. Bagi OAE dalam beberapa dosis untuk pemakaian sehar, hal ini memudahkan ketika anak menginap di luar rumah.

13. Sangat penting untuk mengetahui dan mengenali pencetus kejang pada anak anda sehingga serangan kejang bisa dihindari. Pencetus yang sering dialami : Lupa minum obat, kurang tidur, terlambat atau lupa makan, stres fisik dan emosi, anak dalam keadaan sakit atau demam, kadar obat antiepilepsi yang rendah dalam darah, cahaya yang berkedip-kedip yang dihasilkan komputer, TV, video game dll (pada pasien epilepsi fotosensitif).