Anda di halaman 1dari 10

PENDAHULUAN

PAJAK INTERNASIONAL

OLEH KELOMPOK I :

DEDDY S. SURJANTO 100614132 ANGGELA H. MEIRENE 100614237 TRISNA SAFRUDIN 100614049 JENDRA TAMALUMU 100614002 NOVITA LALENSANG 100614131 AYU SETYANINGRUM 110614127

UNIVERSITAS SAM RATULANGI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS PROGRAM REGULER SORE

KATA PENGANTAR

Dalam era globalisasi sekarang ini, banyak sekali negara-negara yang berlomba-lomba untuk menguasai perekonomian dunia. Negara-negara tersebut berupaya untuk memajukan perekonomian di negaranya masing-masing. Salah satu cara yang paling efektif untuk meningkatkan perekonomian di suatu negara adalah dengan menarik investor untuk melakukan penanaman modal di negaranya, karena selain untuk memajukan perekonomian, dengan adanya penanaman modal asing ini, negara tersebut telah terbantu dalam hal pembangunan negaranya, sehingga negara tersebut tidak perlu lagi

mengeluarkan dana negara untuk melakukan pembangunan di negaranya.

Di Negara-negara yang sedang berkembang seperti Amerika Tengah dan Latin serta sebagian wilayah di daratan Asia, investasi merupakan motor penggerak bagi pembangunan di negaranya, karena Negara tidak mampu secara materi untuk membiayai kebutuhan Negara yang mayoritas tidak memiliki kekayaan alam yang melimpah dan kurangnya kualitas sumber daya manusia serta teknologi yang masih ketinggalan dari negara-negara maju, sehingga penanaman modal cukup penting bagi Negara-negara tersebut. Di lain pihak yaitu investor, dalam perkembangan globalisasi ekonomi, bisnis dan investasi sekarang justru mempersubur tumbuh dan berkembangnya perusahaan-perusahaan multinasional untuk memperkokohpijakan usaha

globalnya. Perusahaan-perusahaan tersebut di beberapa negara di luar tempat kedudukannya, mengoperasikan cabang atau anak perusahaan atau instrumen
3

bisnis lain dalam berbagai bentuk. Selanjutnya untuk mengendalikan dan mengkoordinasi bisnis regionalnya, perusahaan membentuk holding company dan atau kantor perwakilan, pembentukan cabang, anak perusahaan sehingga membuatnya semakin memperkuat aliansi strategis mereka untuk

mempertahankan dan menumbuhkembangkan pangsa pasar ekspor dan impor di berbagai negaraBerbagai hal dilakukan oleh negara-negara tersebut dalam menarik investor untuk melakukan penanaman modal di negaranya seperti peningkatan keamanan Negara, kemudahan dalam berbagai bidang seperti prosedur pendirian usaha yang tidak berbelit-belit serta fasilitas-fasilitas pendukung yg diberikan, sampai kepada pemberian insentif perpajakan, agar investor tertarik untuk melakukan penanaman modal di Negaranya. Bahkan dengan berbagai alasan, untuk menarik para investor atau penanam modal, pengusaha industri keuangan, dan sebagainya, terdapat beberapa Negara yang dengan sengaja tidak memungut pajak, atau kalaupun memungut pajak dengan memberlakukan jumlah minimal.

BAB 1 PENDAHULUAN 1. Pengantar Penulisan buku ini dimaksudkan untuk menyajikan deskripsi aplikasi Pajak Penghasilan Indonesia seperti tersurat dalam Undang-undang Nomor 7tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 17 tahun 2000 (UU PPh) dan aturan pelaksanaannya, beserta perjanjian penghindaraan pajak berganda (P3B) yang ditutup negara tersebut terhadap Orang Pribadi atau Badan yang melakukan investasi, menjalankan usaha atau melakukan kegiatan atau memperoleh penghasilan dari Indonesia. Jadi seluruh pembahasan dalam buku ini berfokus kepada Pajak Penghasilan karena pajak tersebut merupakan salah satu faktor yang secara langsung dapat mempengaruhi pengambilan keputusan terhadap aktivitas investasi dan bisnis lintas perbatasan yang dilakukan oleh Orang Pribadi dan Badan.

2. Pertumbuhan Perdagangan dan Investasi Transnasional Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi secara berkelanjutan membuat dunia nampak menjadi semakin menyatu dan mengecil. Semula, hubungan ekonomi internasional hanya diwarnai oleh pertukaran barang, kemudian migrasi sumberdaya manusia, transaksi jasa lintas perbatasan dan kemudian arus modal dan pembiayaan antarnegara serta arus informasi semakin berperan dalam percaturan ekonomi internasional.
5

Peningkatan perdagangan internasional Indonesia dapat dilihat dari kenaikan ekspor dan impor. Sehubungan dengan jasa, terdapat kenaikan pengeluaran neto jasa (impor kurang ekspor) dari sebesar US$ 3.488 juta pada tahun 1994/1995 menjadi sebesar US$ 7.943 juta setahun kemudian. Di pihak lain, terdapat kenaikan arus modal neto (pemasukan modal minus pembayaran utang pokok) sebesar US$ 5.559 juta dalam tahun 1995/1996 (angka tahun 1994/1995 adalah sebesar US$ 4.750 juta). Secara bruto, pemasukan modal tahu 1995/1996 (US$ 16.361 juta) mengalami kenaikan sebesar US$ 5.182 juta dari tahun lalu.

3. Pertimbangan Ekonomis Perdagangan Internasional Perdagangan internasional dapat memberikan manfaat ekonomi timbal balik kedua Negara, misalnya permintaan akan satu produk atau komoditas dari luar negeri dapat meningkatkan atau mengoptimalkan produktivitas, kesempatan kerja, dan penghasilan bruto kedua negara. Kelengkapan investasi dengan sumber daya manusia dan teknologi yang berkualitas dan berpengalaman dari mancanegara dapat ikut meningkatkan kualitas pengalaman sumber daya domestik.

Negara tempat aktivitas dilakukan mengenakan pajak atas penghasilan dengan penalaran bahwa penghasilan tersebut diperoleh dari sumber yang berada (bahkan di bawah perlindungan keamanan dan fasilitas) negara tersebut.

4. Kebijakan Pemajakan Secara umum, dapat disebut bahwa kebijakan pemajakan atas arus penghasilan internasional kepada perolehan manfaat ekonomis maksimal dari investasi orang asing yang dilakukan di dalam negeri dan investasi dimancanegara yang dilakukan oleh orang dalam negeri. Arnold (1986) menunjuk beberapa kebijakan pemajakan tersebut seperti (1) keadilan (equity), (2) netralitas (neutrality), (3) penerimaan (revenue), dan administrasi dan kepatuhan (administrative and compliance). (4) pertimbangan

Beberapa aspek ekualitas pemajakan tersebut antara lain (1) status wajib pajak (ekualitas WPDN-WPLN), (2) nature wajib pajak (ekualitas Orang Pribadi-Badan), (3) cakupan geografis sumber (ekualitas domestic-

mancanegara/global), (4) perangkat usaha (ekualitas cabang-anak perusahaan), dan (5) alokasi penerimaan penerimaan pajak (ekualitas negara sumber-

domisili). Dalam system pajak, netralitas dimaksudkan sebagai suatu pola kebijakan pemajakan (tax policy) yang tidak mencampuri atau mempengaruhi maupun mengarahkan pemilihan wajib pajak untuk apakah melakukan kegiatan ekonomi atau investasi di dalam atau di luar negeri. Suatu pajak yang netral merupakaan dambaan dari setiap pemegang juridiksi pemajakan karena system yang demikian mendorong alokasi sumber daya yang paling efisien dan optimal. Netralitas perpajakan international dapat terjadi apabila pola (kebijakan) pemajakan tidak mempengaruhi pilihan seseorang untuk bertempat tinggal atau melakukan investasi di dalam negeri atau di luar negeri.
7

Doernberg(1989) menyebut tiga unsur netralitas (1) netralitas ekspor modal (capital-export neutrality), (2) netralitas impor modal (capital-import neutrality), (3) netralitas nasional (national neutrality). System pajak memberikan beban pembagian penghasilan (revenue sharing) yang sama terhadap hasil dari investasi atau kegiatan apakah dilakukan di dalam atau di luar negeri. Capitalimpor neutrality menghendaki bahwa setiap investasi yang dilakukan pada suatu mancanegara dikenakan pajak berdasarkan tarif (ketentuan) yang sama, tanpa memperhatikan asal kebangsaan atau tempat kedudukan investor. Setiap kebijakan perpajakan baik pada aspek domestic maupun internasional, tujuan yang paling dominan adalah mengumpulkan penerimaan (dana) untuk memenuhi pengeluaran pemerintah.

5. Maksud dan Tujuan Ketentuan Pajak Internasional Dalam buku International Tax Primer (1995), Arnold dan Mclntyre menyatakan bahwa istilah Pajak Internasional merupakan suatu sebutan yang kurang cocok atau salah kaprah. Aspek internasional yang paling mengemuka dari system perpajakan negara terutama adalah Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (P3B, tax treaty) yang ditutp oleh kebanyakan negara pemungut pajak. P3B umumnya bersifat membatasi hak pemajakan negara penandatanganan perjanjian, tidak pajak malahan bersifat meringankan beban pajak para wajib pajak dari Negara dimaksud.

Secara umum, ketentuan pajak internasional suatu negara meliputi 2 (dua) dimensi luas yaitu (1) pemajakan terhadap wajib pajak dalam negeri (WPDN) atas penghasilan dari luar negeri, dan (2) pemajakan terhadap wajib pajak luar negeri (WPLN) atas penghasilan dalam negeri (domestic). Sementara itu, ketentuan pajak internasional suatu negara pada umumnya disusun untuk mencapai sekurang-kurangnya 4 (empat) tujuan: (1) memperoleh bagian penerimaan dari transaksi lintas perbatasan secara adil, (2) meningkatkan keadilan (fairness) dalam perpajakan, (3) memperkuat daya saing ekonomi domestic, dan (4) netralitas ekspor modal (capital-export neutrality) dan netralitas impor modal (capital-import neutrality). Agar tercapainya netralitas impor modal, suatu negara (pengekspor modal) tidak sepantasnya mendesain ketententuan pajak internasional yang menyebabkan perusahaan

multinasionalnya (negara pengimpor modal) disbanding dengan beban pajak perusahaan multinasional negara lain.

6. Selintas Sistem Perpajakan Internasional Secara Global Indonesia merupakan salah satu dari beberapa Negara yang tidak secara terbatas hanya mengaplikasikan prisip pemajakan teritorial. Dalam system

perpajakan internasional, terdapat suatu norma yang diterima dan diikuti secara global, termasuk Indonesia, untuk menyerahkan hak pemajakan utama (primary taxing rights) kepada Negara sumber penghasilan yang mempunyai pertalian territorial (sumber) dan mempertahankan wewenang pemajakan residual (residual tax claim) kepada negara domisili dengan pertalian personal.
9

DAFTAR PUSTAKA

1. Prof. Dr. Gunadi, M.Sc.,Ak., PAJAK INTERNASIONAL:.EDISI REVISI, UI, FAKULTAS EKONOMI, 2007

10

Anda mungkin juga menyukai