Anda di halaman 1dari 3

AIR MATA SURTI

Cerpen Ismalinar

Tidak seorang pun yang ingin jadi penduduk kelas bawah, termasuk Agus dan Surti. Alur
kehidupan yang dijalani keduanya memuarakan mereka sebagai pasangan suami istri dengan
seorang anak, berprofesi sebagai buruh pabrik sepatu, tinggal di kamar ukuran tiga kali tiga
meter, penghasilan hanya cukup untuk makan.

Surti telah dua kali melahirkan. Kesehatan anak keduanya bermasalah. Sejak lahir, setiap habis
menangis tubuh mungilnya membiru. Surti membawa bayinya ke Puskesmas. Dokter
mengatakan kemungkinan besar si bungsu sakit jantung. Ia dirujuk ke rumah sakit Cipto.

"Oalah Nak, hidup kita susah begini, kok ngambil penyakit orang kaya," Surti bergumam sambil
mencium pipi biru anaknya. Air matanya menetes saat menerima surat rujukan dari dokter
Puskesmas.

Sebagai ibu, Surti ikhlas berhenti bekerja dan membawa anaknya berobat ke Cipto. Tapi, mereka
terbentur biaya. Meskipun kartu miskin bisa diurus tetap saja ada yang harus dibayar. Dari
rumahnya ke Cipto tiga kali naik angkutan umum. Pulang pergi enam kali ongkos. Dari mana
uangnya? Upah Agus hanya cukup untuk bayar sewa kamar dan beli beras. Selama ini, upah
Surti untuk beli lauk-pauk dan biaya lainnya. Tidak ada jalan keluar. Si Bungsu gagal berobat ke
rumah sakit besar.

Tidak sanggup hidup berat di dunia, bayi merah Surti balik kepada Sang Khalik. Pasangan itu
tergoncang. Mereka merasa bersalah. Terutama Surti. Hatinya perih dan pedih. Ia terluka.

Hidup Surti dan Agus terus mengalir. Seiring dengan berjalannya waktu, luka jiwa Surti berangsur
sembuh. Meski, sakitnya masih terasa. Dalam keadaan batin belum stabil tersebut, badai kembali
menghantam mereka. Krismon melanda negeri pertiwi, sehingga mempengaruhi kehidupan
berbagai kalangan. Agus dan Surti turut jadi korban. Pabrik tempat Surti dan Agus bekerja
bankrut.

Setiap hari, Agus, Surti, dan teman-temannya tetap datang ke pabrik. Mereka bergerombol dan
mengobrol. Tidak ada pekerjaan lagi. Ketika sebuah koran memberitakan bahwa pemilik pabrik
tempat mereka bekerja kabur ke luar negeri, semua karyawan dan buruh tersentak. Mereka
merasa kecolongan. Secara spontan mereka berdemo di depan pabrik.

Namun, beberapa hari berdemo, tidak seorang pun petinggi pabrik yang menghampiri para
karyawan. Mereka raib tak berbekas. Hanya wartawan yang memotret dan mewawancarai
pendemo. Karena itu, Agus dan teman-temannya memutuskan berdemo di halaman kantor
Depnaker. Mereka menuntut pemerintah memaksa pemilik pabrik bertanggung jawab terhadap
nasib karyawannya.

Surti putus asa. Hari-harinya dan Agus habis untuk berdemo. TV 14 inci, satu-satunya hiburan Si
Sulung, telah terjual. Surti sangat ketakutan membayangkan ia dan Agus tidak punya uang sama
sekali. Ia tak mampu membeli nasi saat si Sulung lapar. Si Sulung akan lapar berhari-hari dan
meninggal, seperti Si Bungsu. Tubuh Surti menggigil. Sebagai ibu, ia merasa tidak berguna lagi.

Diambilnya pisau. Lama diperhatikannya sisi mata pisau yang tajam. Surti melihat Si Bungsu di
sana. Ia sehat dan montok. Di punggungnya tiba-tiba tumbuh sayap. Sambil terbang kian ke
mari, Si Bungsu memanggil-manggil Surti. Ia mengajak Surti bermain-main di taman bunga yang
indah. Surti ingin bergabung dengan Si Bungsu. Gagang pisau dipegangnya erat. Ia siap
melayang.

"Mama mau potong apa?" tanya Si Sulung polos. Surti terperanjat. Si Sulung menyadarkannya
kembali ke alam nyata. Buru-buru Surti meletakkan pisau. Dipeluknya Si Sulung dengan penuh
haru. Si Sulung telah menyelamatkan jiwanya. Hampir saja ia menjadi pengikut setan, setan jahat
yang mewujud Si Bungsu untuk menggodanya.

"Maafkan Mama, Nak. Mama tak akan meninggalkanmu. Mama akan cari uang. Kamu tidak
boleh busung lapar," Surti berjanji. "Tuhan, ampuni hamba," mohonnya tulus. "Stop berdemo.
Uang kita hanya cukup untuk bertahan seminggu, Bang," kata Surti pada Agus.

"Tidak! Abang dan teman-teman ingin kerja lagi atau dapat pesangon. Masa kerja kita telah
belasan tahun, jadi pantas dapat pesangon," Agus bersikukuh. "Untuk makan sehari-hari, Sur,
ngutanglah dulu di warung. Kalau pesangon telah keluar, semua kita bayar," Agus tetap kukuh
pada pendiriannya.

Semalaman Surti tidak bisa tidur. Ia ingin berjualan. Tapi, tidak punya modal. Surti memeras
otaknya, agar dapat ide, bagaimana caranya, bisa menghasilkan uang. Tiba-tiba, Surti ingat Ipan,
pengasong koran di pabrik. Sejumput harapan singgah di kepala Surti. Surti pernah mengobrol
panjang lebar dengan Ipan. Dari Ipan, Surti tahu untuk berdagang koran tidak perlu modal. Yang
penting mendapat kepercayaan dari agen. Kalau sudah dipercaya, ambil koran pagi, langsung
dijual. Besok paginya, ke agen lagi mengambil koran yang terbit hari itu dan membayar koran
yang dibawa kemarin.

"Aku akan dagang koran," Surti memutuskan. Bibirnya tersenyum. Puas. Tapi sayang, sejak
pabrik tutup Surti tidak pernah lagi bertemu Ipan. Maka ia mencari sendiri alamat agen koran.
Dengan bertanya ke sana ke mari akhirnya ia berhasil menemukan rumah sang agen. Syukurlah,
si agen bersedia mengutangi Surti. Ia menyarankan Surti berjualan di tempat yang ramai. Saat itu
juga terbayang di pikiran Surti perempatan jalan dekat pabriknya. Siang malam perempatan itu
selalu ramai.

Sore itu Surti pulang dengan tubuh dekil dan keringat di jidat. Ternyata, berdagang koran juga
berat. Dini hari, ketika orang lain masih berselimut, ia harus berangkat ke bursa koran,
menembus dinginnya cuaca. Begitu mendapat koran, langsung dibawanya ke tempat mangkal.
Seharian menunggu pembeli, panas terik membakar kulit, setiap detik menghirup debu jalanan.
Namun, Surti puas. Hari pertama ia jualan, korannya laris manis. Lima korannya bersisa, tapi
bisa dikembalikan ke agen. Surti tidak menanggung rugi.

Malamnya, Surti mengibaskan dua lembar uang sepuluh ribuan pada Agus. "Bang Gus, ini
untung Sur hari ini. Banyak ya, Bang," wajahnya sumbringah. "Kalau kita gerobak koran yang
ada rak-raknya, kita bisa dagang majalah juga. Pasti labanya lebih gede lagi. Sekarang Sur
hanya bisa mengasong koran dan tabloid," Surti menerangkan. "Tapi, kalau dagang majalah,
harus kita beli kontan. Agen tidak kuat memodalinya."

Agus tidak bereaksi. Ia terlihat bengong. Jauh di lubuk hatinya, ia malu pada Surti. Untuk
mengimbangi usaha Surti mencari uang, Agus berjanji dalam hatinya akan menggantikan tugas
harian Surti, memasak dan merapikan rumah, serta menjaga Si Sulung. Jika ia berdemo, Si
Sulung akan dibawanya.

Hampir setengah tahun Agus dan teman-temannya menghabiskan waktu menuntut haknya. Atas
izin Tuhan, keluar juga pesangon yang didambakan Agus. Tapi jumlahnya sedikit. Itu pun
ditalangi pemerintah. Uangnya hanya cukup untuk membuat gerobak koran dan modal membeli
majalah. Agus kecewa. Ia berharap, uang pesangonnya jauh lebih besar. Sebab yang di-PHK
hanya dua orang, yaitu dirinya dan Surti. Surti menghiburnya. Dibujuknya Agus agar pasrah pada
Tuhan. Ia juga mengajak Agus berjualan koran.

Siang itu Surti bersama Agus, dan Si Sulung, menunggui gerobak koran. Mereka baru saja
memakan nasi bungkus yang dibeli di Warteg. Sejak berjualan majalah dan punya gerobak,
pembeli tambah banyak. Dagangan mereka terlihat semarak.

Tapi tiba-tiba, ketika mereka melayani pembeli, tiga mobil loosback berhenti di depan dagangan
Surti. Puluhan petugas trantib melompat turun. Petugas menyuruh Surti dan Agus keluar
gerobak. Selanjutnya, mereka beramai-ramai mengangkat gerobak Surti ke atas mobil. Koran,
tabloid, dan majalah, ikut mereka bawa. Sebagian bahkan berserakan, terinjak kaki petugas.

Agus dan Surti terkesima. Ketika Surti melihat dagangannya terinjak-terinjak, hatinya mendidih.
Bagaikan singa betina terluka Surti mengamuk. Diberikannya si sulung kepada Agus. Dengan
membabi buta Surti menarik, menjambak, dan memukul seorang petugas. Ia berteriak-teriak
histeris. Agus dengan sebelah tangannya menggendong Si Sulung berusaha merangkul Surti.
Tapi, tenaga Surti telah berlipat ganda. Ia berontak dari rangkulan Agus.

Seorang petugas memegang kedua tangan Surti. Surti kesal, diludahinya petugas itu.
Tersinggung diludahi, tangan besar sang petugas menampar pipi Surti. Melihat istrinya ditampar,
Agus kehilangan kendali. Diambilnya sebuah batu di tanah dan dipukulkannya ke kepala
petugas. Kepala petugas itu bocor. Darah mengucur deras.

Agus dan Surti diringkus petugas yang lain. Sebelum dibawa ke kantor polisi, petugas yang
marah, karena temannya terluka, menghajar Agus. Tubuh Agus babak belur. Ia pingsan. Surti
mati rasa. Pikirannya kosong. Si sulung menghilang. Seorang penculik anak, menggunakan
kesempatan dalam kesempitan. Surti dan Agus tidak bisa lagi memikirkan anak semata
wayangnya itu.

Para petugas trantib pulang ke rumah. Bercengkerama dengan anak istri mereka. Tugas hari itu
sudah dilaksanakan dengan baik. Jalan protokol telah bersih. Insentif dijamin dapat. Di balik
senyum puas petugas trantib dan atasannya itu, terdengar tawa Surti bercampur tangisan pilu.
Tangis yang mendayu, mengiringi lagu kehidupannya. Menyapa Agus yang linglung di penjara.

Otak Agus serasa mau pecah memikirkan keberadaan si Sulung. Mungkinkah Agus menyusul
Surti ke rumah sakit gila? Aparat tak lagi peduli. Yang penting jalan bersih. Masyarakat nyaman.
Tahun depan sang bakal penguasa terpilih lagi.

"Horas Indonesiaku! Horas penguasa! Aku Surti pendukungmu! Aku adalah sampah yang harus
kau buang, Tra la la la la. Kau gus-sur, Tri li li li." Surti terus bernyanyi sepanjang waktu, diselingi
seringai, tawa, tangisan, rintihan dan makian.

()