Anda di halaman 1dari 5

SPESIFIKASI TEKNIS

Pekerjaan Tanah 1. Pembersihan/Clearing Terdiri dari pekerjaan pembersihan dan pembuangan pohon, semak belukar dan material lain yang tidak digunakan termasuk pemindahan pagar apabila diperlukan. 2. Penggusuran/Grubbing Tanah yang digusur dari pekerjaan jika terdapat bekas pohon, akar, tunggul-tunggul kayu dan material lain yang tidak berguna, mengganggu, harus bongkar sampai bersih dan semua lubang-lubang yang terjadi akibat gusuran harus ditutup dengan bahan/ material lain yang disetujui oleh Pejabat Pembuat Komitmen, dan dipadatkan berlapis-lapis serta diperoleh kepadatan yang sama dengan kepadatan tanah sekitarnya. 3. Stripping Top Soil Semua tanah bagian teratas sampai sedalam yang diperintahkan oleh Pejabat Pembuat Komitmen atau sekurang-kurangnya 20 cm harus dibuang dari daerah-daerah yang akan direncanakan sebagai lapisan teratas. Bila pengupasan Topsoil diperlukan dalam perencanaan, pada waktu pengangkatan stripping, topsoil akan ditempatkan di lokasi yang disetujui. Galian a) Galian biasa untuk material timbunan Bahan galian yang memenuhi persyaratan yang akan digunakan sebagai material timbunan harus bebas dari bahan-bahan organik dalam jumlah yang merusak, seperti daun, rumput, akar dan kotoran.

b) Galian biasa sebagai bahan konstruksi Bahan galian yang tidak memenuhi persyaratan sebagai bahan timbunan atau material galian dianggap sehingga tidak diperlukan dalam konstruksi bila Konsultan Pengawas dan Direksi Teknis menentukan demikian.

Urugan

Pemadatan urugan tanah harus dilakukan hanya bila kadar air bahan tersebut berada didalam batas 3% kurang dari kadar air optimum sampai 1% lebih dari kadar air optimum. Kadar air optimum akan ditetapkan sebagai kadar air dimana kepadatan kering maksimum dicapai bila tanah tersebut dipadatkan sesuai dengan AASHTO T99. Urugan timbunan harus dipadatkan dimulai pada ujung paling luar serta masuk ketengah dalam satu cara dimana masing-masing bagian menerima desakan pemadatan yang sama.

Penyiapan Tanah Dasar Bahan tanah dasar dan kualitasnya harus sesuai dengan persyaratan yang berkaitan untuk timbunan biasa, timbunan pilihan atau galian tanah dasar yang ada. Bahan-bahan yang digunakan dalam masing-masing keadaan harus seperti diperintahkan Konsultan Pengawas dan Direksi Teknis, dan harus dipasang seperti yang ditetapkan pada Bab sebelumnya.

Lapisan Sub Base Bahan subbase harus terdiri dari material yang mempunyai partikel dengan tingkat kekerasan atau fragmen dengan butiran agregat yang terdiri dari campuran sirtu, batu pecah, kerikil atau material sejenis dari sumber yang telah disetujui. Material material tersebut harus bersih dari humus, lumpur, lempung yang berlebihan serta bahan organik lainnya. Jumlah fraksi agregat yang lewat saringan No. 200 tidak boleh lebih dari jumlah fraksi agregat yang lewat saringan No.40. Seluruh agregat yang dipakai untuk agregat subbase, termasuk fraksi agregat yang lewat saringan No. 40 harus mempunyai liquid limit tidak lebih dari 25% dan plasticity indexnya tidak lebih darl 6% bila ditest dengan persyaratan ASTM 4318. Sand equivalent + 95 % dan maksimum jumlah material yang lebih halus dari 0.02 mm harus kurang dari 3 %.

Granular Base Course

Aggregate harus terdiri dari batu pecah, fine aggregate yang merupakan hasil screening yang diperoleh dari pemecahan batu (minimum pecah 3 sisi). Batu pecah dari batu gunung, batu kali yang dipecah sedemikian hingga butirannya yang ukurannya sesuai dengan persyaratan dan harus bebas dari kelebihan bahan - bahan yang gepeng/ flat, panjang / elongated, lunak atau hancur, kotor dan bahan lainnya yang tidak diinginkan. Apabila bahan halus tambahan, melebihi dari bahan yang memang terdapat dalam bahan base course, perlu untuk membentuk gradasi bagi pembuatan dari pada gradasi yang dispesifikasikan, atau untuk pengikatan bahan base, atau untuk penggantian kepadatan tanah dari pada bahan yang tertapis dengan saringan No.40, maka bahan tersebut dicampur secara seragam dan diaduk dengan bahan base course pada mesin pemecah atau oleh sebuah mesin yang diuji. Tidak akan ada pekerjaan ulangan dari pada bahan base course ditempat untuk memperoleh gradasi yang dispesifikasikan. Bahan halus tambahan untuk maksud ini harus diperoleh dari pemecahan batu kali atau kerikil. Cement Treated Base Course Agregat 1. Aggregate yang dipakai dapat dari batu pecah, material halus secara alami berasal dari pemecahan agregat sendiri. 2. Gravel yang dipecah maupun yang tidak dipecah harus merupakan batuan yang keras, tahan terhadap keausan, memenuhi kualitas, memenuhi gradasi, dan tidak mengandung batuan pipih, memanjang, bebas dari kotoran dan material lain yang tidak layak untuk konstruksi. 3. Semua material yang lolos saringan No. 4 hasil dari pemecahan batu, gravel, atau hasil daur ulang dapat dicampurkan kedalam material base sepanjang memenuhi persyaratan gradasi. 4. Gradasi harus memenuhi batasan dalam tabel berikut ini apabila diuji dengan metoda ASTM C 136 dan ASTM D 75. Semen Portland Semua Portland yang dipakai harus dari merek yang sudah lazim dipakai di Indonesia dan memenuhi persyaratan ASTM C 150 untuk semen

tipe I. Dengan persetujuan Pejabat Pembuat Komitmen semen dengan additive puzzolan mungkin dipakai dengan syarat kandungan puzzolan tidak lebih dari 30 % berat.. Air Air yang dipakai untuk mencampur dan mengawetkan adukan harus bersih, tidak mengandung bahan-bahan yang dapat mengurangi kualitas seperti lumpur, minyak, asam, bahan-bahan organik, alkali, garan atau kotoran lainnya yang merugikan. Kadar Semen Kadar semen yang akan dipakai adalah kadar semen terhadap berat yang menghasilkan karakteristik kuat laboratorium pada 7 hari tidak kurang dari 52 kg/cm2, berdasarkan tes terhadap sekurang kurangnya 6 silinder. Asphalt Prime Coat Jenis asphalt untuk Prime Coat ini adalah Asphalt Cement 60/70 komposisi sesuai hasil tes viscositas, perihal bahan-bahan dilaksanakan dengan memakai pressure distributtor yang memenuhi syarat. Pemakaian asphalt jenis lain hanya dibenarkan dengan ijin Pejabat Pembuat Komitmen / Direktorat Bandar Udara. Asphalt Tack Coat Jenis asphalt untuk Coating ini biasanya menggunakan Asphalt Cement 60/70 perihal bahan-bahan dilaksanakan dengan memakai pressure distributor yang memenuhi syarat. Pemakaian asphalt jenis lain hanya dibenarkan dengan ijin Pejabat Pembuat Komitmen. Pemakaian tack coat berkisar 1 kg/m2 dengan komposisi berdasarkan tes viscositas aspal, namun jika terlalu pekat diijinkan menggunakan bahan pengencer secukupnya.

Asphalt Hot Mix

Jenis aspal yang digunakan untuk pekerjaan landas pacu, taxiway dan apron sesuai dengan kondisi iklim di Indonesia adalah AC 60/70 dengan kualitas import. Prosentasi berat aspal yang dipergunakan pada campuran aspal hotmix harus berdasarkan hasil analisa saringan agregat dan percobaan campuran sebagaimana yang termuat dalam Job Mix Formula yang telah disetujui oleh Pejabat Pembuat Komitmen. Jenis spesifikasi dan suhu campuran untuk aspal Kualitas Import adalah sebagai berikut : Penetration grade 60 70 Spesification ASTM D 946 Kadar Parafin kurang dari 2 % Mixing Temperature ditentukan biasanya 150 C - 160 C berdasarkan tes viscositas atau

Agregat harus terdiri dari batu pecah, screenings, bahan lain, butiran-butiran, material-material yang disetujui yang mempunyai sifat dan kualitas yang sama dan memenuhi semua persyaratan bila dicampurkan dalam batas gradasi tersebut diatas. Agregat kasar harus terdiri dari bahan yang bersifat tahan aus/keras dan bebas dari lapisan (coatings) yang melekat dan sesuai ketentuan-ketentuan dari persyaratan A.S.T.M. D-692-79, A.S.T.M.D-693-77. Course agregat bila di test berdasarkan Los Angeles Abrassion Test, harus tidak boleh hilang lebih dari 25 %. Bila filler merupakan tambahan yang diperlukan pada agregat yang ada maka harus terdiri dari debu batu pecah. Portland cement atau bahan lain. Marking Cat untuk tanda-tanda pada asphalt concrete (AC) dan pada concrete pavement harus ada cat khusus lalu lintas dari pabrik, atau cat lain yang disetujui. Tanda-tanda landasan harus dicat putih, sedangkan tanda-tanda lainnya harus kuning. Bahan pencampur air supaya tidak mudah licin dan terbakar akibat gesekan terutama pada waktu landing.