Anda di halaman 1dari 40

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM FITOKIMIA

SKRINING FITOKIMIA
OLEH: ALI WARDANA SITEPU NIM 101501043 RIZA AYU TIVANIE NIM 101501046 JEVFRY RUMAHORBO NIM 101501056 PENNI PARASTI AMALIA NIM 101501064 RANI PURWANTY TAMBUNAN NIM 101501076 NUGRAHA SIREGAR NIM 101501080 Partner Hari/Tgl. Percobaan Konsentrasi Asisten : Empat (IV) : Jumat, 3 Mei 2012 : Sains dan Teknologi : NURHAYANI

LABORATORIUM FITOKIMIA FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2013

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Prinsip Percobaan Pengujian golongan senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada tumbuhan segar berdasarkan kelarutannya dengan menggunakan pelarut yang sesuai dengan kepolarannya kemudian diidentifikasi dengan pereaksi warna yang spesifik untuk masing-masing senyawa.

1.2 Tujuan Percobaan 1. Untuk mengetahui tujuan dilakukan uji skrining fitokimia 2. Untuk mengidentifikasi senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada daun kecubung, daun ubi racun, lendir daun lidah buaya, buah cermai, daun jambu biji, daun katuk, bunga berwarna ungu (Mandevilla sanderi) 1.3 Manfaaat Percobaan 1. Melakukan uji skrining fitokimia 2. Mengidentifikasi senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada tumbuhan yang terdapat pada daun kecubung, daun ubi racun, lendir daun lidah buaya, buah cermai, daun jambu biji, daun katuk, bunga berwarna ungu (Mandevilla sanderi)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Uraian Tumbuhan 2.1.1 Datura metel

2.1.1.1 Sistematika Tumbuhan Kingdom Filum Kelas Ordo Familia Genus Spesies : Plantae : Magnoliophyta : Magnoliopsida : Solanales : Solanaceae : Datura : Datura metel

2.1.1.2 Sinonim Sinonim dari tumbuhan kecubung adalah sebagai berikut: Datura fastuosal Linn; Datura alba Ness; Datura foliumi;Datura stramonium (Anonim, 2003). 2.1.1.3 Nama daerah dan Nama Asing Sumatera : toru maho (Nias), kecubung, kecubu (Melayu), kacubueng (Minangkabau). Jawa : kucubung (Sunda), kacubung (Jawa), kacobhung,

cobhung, (Madura). Sulawesi : kecubung, kucubu (Manado), bulutuhe (Gorontalo), kacubong (Makasar), tampong-tampong (Bugis). Nusa Tenggara : kecubung, kecubung cenik (Bali), bembe (Bima), ndondoak (Roti), babotek (Timor). Maluku : toruapale (Seram), kucubu (Halmahera), kucubu, padura (Ternate) (Dalimartha, 2000). 2.1.1.4 Morfologi Tumbuhan Kecubung (Datura metel) termasuk jenis tumbuhan perdu tahunan yang mempunyai pokok batang kayu, keras dan tebal. Cabang : Cabangnya banyak dan mengembang ke kanan dan ke kiri sehingga membentuk ruang yang lebar. Tinggi dari tumbuhan kecubung 0,5-2 m. Daun : Berbentuk bulat telur, tunggal, tipis, dan pada bagian tepinya

berlekuk lekuk tajam dan letaknya berhadap-hadapan. Serta ujung dan pangkal meruncing dan pertulangannya menyirip. Daun Kecubung berwarna hijau. Bunga : bunga Kecubung tunggal menyerupai terompet dan berwarna putih atau lembayung. Mahkotanya berwarna ungu. Panjang bunga lebih kurang 1218 cm. Bunga bergerigi 5-6 dan pendek. Tangkai bunga sekitar 1-3 cm. Kelopak bunga bertaju 5 dengan taju runcing. Tabung mahkota berbentuk corong, rusuk kuat, dan tepian bertaju 5. Taju dimahkotai oleh suatu runcingan. Benang sari tertancap pada ujung dari tabung mahkota dan sebagai bingkai berambut mengecil ke bawah. Bunga mekar di malam hari. Bunga membuka mnjelang matahari tenggelam dan menutup sore berikutnya. Buah : buah Kecubung hampir bulat yang salah satu ujungnya didukung

oleh tangkai tandan yang pendek dan melekat kuat. Buah Kecubung bagian

luarnya dihiasi duri-duri pendek dan dalamnya berisi biji-biji kecil warna kuning kecoklatan. Diameter buah ini sekitar 4-5 cm. Buah yang masih muda berwarna hijau, sedangkan yang sudah tua berwarna hijau tua. Bakal buah dalam paroan bawah beruang 4 dan pada puncak beruang 2. Buah duduk pada dasar bunga yang menebal dan melebar ditambah sisa-sisa dari kelopak. Buah berbentuk bola, dinding pada waktu masak terpecah kecil-kecil dan tidak teratur. Biji : Berwarna kuning cokelat, gepeng berbentuk telinga, berbintik atau bersaluran (tidak terang). Akar : Akar Kecubung adalah sistem perakaran tunggang (Salisbury. 1995).

2.1.1.5 Kandungan Kimia dan Efek Kecubung (Datura Metel) mengandung beberapa senyawa kimia, diantaranya : hiosin, co-oksalat, zat lemak, atropin (hyosiamin) dan skopolamin. Kecubung mengandung 0.3-0.4 % alkaloid (sekitar 85 % skopolamin dan 15 % hyoscyamine), hycoscin dan atropin (tergantung pada varietas, lokasi dan musim). Zat aktifnya dapat menimbulkan halusinasi bagi pemakainya. Jika alkaloid kecubung diisolasi maka akan terdeteksi adanya senyawa methyl crystalline yang mempunyai efek relaksasi pada otot gerak. 2.1.2 Costus Speciosus Smith

2.1.2.1 Sistematika Tumbuhan Divisi Sub divisi Kelas Bangsa Suku Marga Spesies : Spermatophyta : Angiospermae : Monocotyledonae : Zingiberales : Zingiberaceae : Costus : Costus Speciosus Smith

2.1.2.2 Kandungan Kimia dan Efek Diosgenin; Dioscin; Gracilin; Sitosserol; Methyl tritri acontanoate; 8 hydroxy triacontan-25-one,5 alfa-stigmast-9(11)-en-3-beta-01,24-hydroxyaontan26-one; 24 hydroxyacontan-27-one. 2.1.3 Manihot esculenta

2.1.3.1 Sistematika Tumbuhan Kelas Sub Kelas Ordo Famili : Dicotyledoneae : Arhichlamydeae : Euphorbiales : Euphorbiaceae

Sub Famili Genus Spesies

: Manihotae : Manihot : Manihot esculenta Crantz (Allem, 2002).

2.1.3.2 Nama daerah dan Nama Asing Ubi kayu (Aceh) Garingkau (Batak) Anpen singkong (Sunda) Ubi singkong (Jakarta) Singkong (Jawa Tengah} Ubi kayu (Madura) Kesela Lua ai (Sumba) Ali uhi (Timor) Uwi kayu (Flores) Kasubi (Gorontalo) Lame kayu (Makasar) Lame Kayu (Bugis) Bata kayu (Sulawesi Utara) Mangkale (Tanimbar) Kawawa (Aru) Kasbi (Ambon) Mangkau (Buru) Asbi {Halmahera) Kasibi (Ternate) Kasibi (Tidore) 2.1.3.3 Morfologi Tumbuhan Tanaman ubi kayu dewasa dapat mencapai tinggi 1 sampai 2 meter, walaupun ada beberapa kultivar yang dapat mencapai tinggi sampai 4 meter. Batang ubi kayu berbentuk silindris dengan diameter berkisar 2 sampai 6 cm. Warna batang sangat bervariasi, mulai putih keabu-abuan sampai coklat atau coklat tua. Batang tanaman ini berkayu dengan bagian gabus (pith) yang lebar. Setiap batang menghasilkan rata-rata satu buku (node) per hari di awal pertumbuhannya, dan satu buku per minggu di masa-masa selanjutnya. Setiap satu satuan buku terdiri dari satu buku tempat menempelnya daun dan ruas buku (internode). Panjang ruas buku bervariasi tergantung genotipe, umur tanaman, dan faktor lingkungan seperti ketersediaan air dan cahaya. Ruas buku menjadi pendek dalam kondisi kekeringan dan menjadi panjang jika kondisi

lingkungannya sesuai, dan sangat panjang jika kekurangan cahaya (Ekanayake et al., 1997).

Susunan daun ubikayu pada batang (phyllotaxis) berbentuk 2/5 spiral. Lima daun berada dalam posisi melingkar membentuk spiral dua kali di sekeliling batang. Daun berikutnya atau daun ke enam terletak persis di atas titik awal spiral tadi. Jadi, setelah dua putaran, daun ke 6 berada tepat di atas daun ke 1, daun ke 7 di atas daun ke 2, dan seterusnya. Daun ubikayu terdiri dari helai daun (lamina) dan tangkai daun (petiole). Panjang tangkai daun berkisar 5-30 cm dan

warnanya bervariasi dari hijau ke ungu. Helai daun mempunyai permukaan yang halus dan berbentuk seperti jari. Jumlah jari bervariasi antara 3 dan 9 (biasanya ganjil). Warna rangka helai daun hijau sampai ungu. Bentuk helai daun, terutama lebarnya, juga bervariasi (Ekanayake et al., 1997). Ubi kayu bersifat monoecious, yaitu bunga jantan dan betina terdapat pada satu pohon. Beberapa variatas berbunga secara teratur dan cukup sering, beberapa varitas lain jarang berbunga atau bahkan tidak berbunga sama sekali. Produksi bunga sangat penting untuk pembiakan. Tumbuhnya bunga sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti banyaknya cahaya dan suhu. dihasilkan pada dahan reproduktif. Bunga ubikayu

Bunga jantan berkembang dekat puncak

rangkaian bunga, sedangkan bunga betina tumbuh dekat dasar rangkaian bunga. Setiap bunga, jantan dan betina, mempunyai 5 buah daun bunga terluar berwarna kekuningan atau kemerahan. Bunga jantan mempunyai 10 buah benang sari yang tersusun dalam 2 lingkaran, yang masing-masing berisi 5 benang sari. Tangkai benang sari berdiri bebas dan kepala benang sarinya kecil. Bunga betina

mempunyai indung telur berukuran panjang mencapai 1 cm dan mempunyai 3 buah kantung kecil, masing-masing dengan satu sel telur. Bunga betina mekar 1-2 minggu sebelum bunga jantan (protogini). Penyerbukan biasanya dilakukan oleh

serangga. Penyerbukan sendiri terjadi jika bunga betina dan bunga jantan yang terletak pada dahan yang berbeda dan pohon yang sama mekar pada waktu yang bersamaan. Setelah penyerbukan dan fertilisasi, indung telur berkembang menjadi buah. Buah matang dalam waktu 7090 hari. Buah yang sudah matang berupa kapsul dengan diameter 11,5 cm akan pecah secara alamiah ketika kering atau layu. Biji ubi kayu berbentuk oval dengan panjang 0,71,0 cm. Biji mempunyai kulit bij (testa) yang rapuh, mudah pecah. Biji berwarna abu-abu, kecoklatan atau abu-abu tua dengan bintik-bintik gelap (Ekanayake et al., 1997). Tanaman ubi kayu yang berasal dari biji, mula-mula mengembangkan sistem tap root. Bakal akar (radicle) tumbuh secara vertikal ke bawah dan

berkembang menjadi tap root. Tanaman ubikayu yang berasal dari potongan batang menghasilkan adventitious root di dasar tempat batang dipotong yang tumbuh dalam waktu satu minggu setelah batang ditanam. berkembang menjadi sistem fibrous root. Adventitious root

Sistem fibrous root dapat tumbuh

sampai dengan kedalaman 2 meter atau lebih. Dalam jangka waktu 30 sampai 60 hari beberapa fibrous root diameternya meningkat dan menjadi umbi akar (tuberous root). Umbi tumbuh mengembang karena terjadinya akumulasi pati. Umbi akar tidak menyerap air atau zata hara, secara fisiologis bersifat inaktif. Hanya beberapa fibrous root yang berkembang menjadi umbi akar, selebihnya tetap sebagai fibrous root dan berfungsi sebagai akar yang menyerap air dan zat hara. Banyaknya fibrous root yang berubah menjadi umbi akar dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu genotipe, pasokan makanan, cahaya dan suhu. Biasanya satu tanaman menghasilkan 4-8 umbi akar, namun beberapa genotipe menghasilkan 20 atau lebih umbi. Faktor-faktor yang mempengaruhi pasokan

makanan seperti radiasi, ketersediaan air, kesuburan tanah, kegemburan tanah, dan suhu tanah juga mempengaruhi jumlah dan berat umbi akar. Sebagian besar varitas ubi kayu memulai pembentukan umbi hanya pada kondisi waktu siang yang pendek. Siang yang panjang memperlambat pembentukan umbi,

mengurangi jumlah umbi, dan menyokong pertumbuhan batang baru. Suhu yang tinggi, terutama di malam hari, memperlambat pembentukan umbi (Ekanayake et al., 1997). Potongan melintang ubikayu terdiri dari kulit luar (periderm), kulit dalam (cortex), daging umbi (flesh) dan tali vaskular tengah (central vascular strands). Kulit luar terdiri dari beberapa lapisan sel mati yang membungkus umbi ubi kayu. Warnanya bervariasi, bentuk dan teksturnya kadang tebal dan kasar, kadang tipis dan halus. Kulit dalam terletak di bawah kulit luar, terdiri dari sklerenkima, parenkima kortikal, dan phloem. Warna kulit dalam bervariasi dari putih atau krem sampai merah muda (pink). Daging buah terletak di tengah umbi dan

sebagian besar terdiri dari sel-sel parenkima tempat penyimpanan yang berasal dari kambium. Daging umbi merupakan tempat penyimpanan utama tanaman ubi kayu dimana butir-butir pati disimpan. Warna daging umbi bervariasi dari putih sampai krem atau kuning. Warna kuning menandakan kadar beta karoten yang tinggi. Benang vaskular tengah terdiri dari bundel xylem. Kadar serat dan

kekuatan benang ini tergantung pada kondisi lingkungan dan umur tanaman. Umbi ubikayu bervariasi bentuknya, tergantung kondisi tanah tempat tumbuhnya (Ekanayake et al., 1997). 2.1.3.4 Kandungan Kimia dan Efek Ubi kayu segar banyak mengandung air dan pati.

Ubi kayu mengandung racun yang disebut asam sianida (HCN). Berdasarkan kandungan asam sianida, ubi kayu dapat digolongkan menjadi 4 yaitu :

tidak beracun; mengandung HCN sekitar 50 mg per kg umbi segar yang telah diparut

beracun sedikit; mengandung HCN 50 - 80 mg per kg umbi segar yang telah diparut

beracun; mengandung HCN 50 - 100 mg per kg umbi segar yang telah diparut

sangat beracun; mengandung HCN lebih dari 100 mg per kg umbi segar yang telah diparut

2.1.3.5 Sinonim Manihot esculenta Crantz mempunyai nama lain M. utilissima dan M. alpi. Semua Genus Manihot berasal dari Amerika Selatan. Brazilia merupakan pusat asal dan sekaligus sebagai pusat keragaman ubi kayu. Manihot mempunyai 100 spesies yang telah diklasifikasikan dan mayoritas ditemukan di daerah yang relatif kering. 2.1.4 Aloe vera

2.1.4.1 Sistematika Tumbuhan Kingdom Divisi Kelas Bangsa Suku Marga Jenis : Plantae : Angiospermae : Monocotyledoneae : Liliales : Liliaceae : Aloe : Aloe vera (Hutapea, 1993).

2.1.4.2 Sinonim Aloe barbadensis Mill. Aloe perfoliata L. var. vera L. Aloe vulgaris Lam.

2.1.4.3 Nama daerah dan Nama Asing Lidah buaya (Indonesia), jadam (Malaysia), crocodile tongue (Inggris) merupakan tanaman sukulen berbentuk roset (seperti bunga rose) dengan tinggi 30-60 cm dan diameter tajuk 60 cm atau lebih (McVicar, 1994). Daunnya berdaging, kaku, lancip (lanceolate) dengan warna daun hijau keabu-abuan dan memiliki bercak putih (Evans, 1993). Pada bagian pinggir daun terdapat duri-duri kecil berwarna hijau muda (Briggs dan Calvin, 1987). 2.1.4.4 Morfologi Tumbuhan Tanaman lidah buaya sangat mudah dikenali. Tanaman menyerupai kaktus tersebut merupakan jenis sukulen atau banyak mengandung cairan. Lidah buaya merupakan tumbuhan yang dapat hidup di tempat yang bersuhu tinggi atau ditanam di pekarangan rumah sebagai tanaman hias. Ciri-ciri tanaman lidah buaya,

antara lain daunnya agak runcing berbentuk taji, tebal, getas, tepinya bergerigi/ berduri kecil; permukaan berbintik-bintik dengan panjang 15-36 cm dan lebar 2-6 cm. a. Batang Tanaman Lidah buaya atau Aloe vera berbatang pendek dan kecil yang dikelilingi oleh pelepah daun. Batangnya tidak terlihat karena tertutup oleh daun-daun yang rapat dan sebagian terbenam dalam tanah. Melalui batang ini akan muncul tunastunas yang selanjutnya menjadikan anakan. Lidah buaya yang bertangkai panjang juga muncul dari batang melalui celah-celah atau ketiak daun. Lidah buaya tidak mempunyai cabang. Batang lidah buaya juga dapat disetek untuk perbanyakan tanaman. b. Daun Daun tanaman lidah buaya berbentuk pita dengan helaian yang memanjang. Daun lidah buaya melekat dari bagian bawah batu satu dengan yang lain berhadap-hadapan membentuk struktur khas yang disebut roset. Daunnya berdaging tebal, tidak bertulang, berwarna hijau keabu-abuan, bersifat sukulen (banyak mengandung air) dan banyak mengandung getah atau lendir (gel) yang biasanya dimanfaatkan sebagai bahan baku obat. Bentuk daunnya menyerupai pedang dengan ujung meruncing, permukaan daun dilapisi lilin, dengan duri lemas dipinggirnya. Panjang daun dapat mencapai 50 75 cm, dengan berat 0,5 kg 1 kg, daun melingkar rapat di sekeliling batang bersaf-saf. Pada tepi daun terdapat duri yang tidak terlalu keras, warna daunnya berwarna hijau, dan pada daun yang masih muda terdapat bercak-bercak putih. c. Bunga

Bunga lidah buaya berwarna kuning atau kemerahan berupa pipa yang mengumpul, keluar dari ketiak daun. Bunganya berukuran kecil, tersusun dalam rangkaian berbentuk tandan, dan panjangnya bisa mencapai 1 meter. Bunga lidah buaya biasanya muncul bila ditanam di pegunungan. d. Akar Akar tanaman lidah buaya berupa akar serabut yang pendekmenyebar ke samping di bagian bawah tanaman. Panjang akar berkisar antara 50100 cm. Untuk pertumbuhannya tanaman menghendaki tanah yang subur dan gembur di bagian atasnya. 2.1.4.5 Kandungan Kimia dan Efek Komposisi terbesar dari gel lidah buaya adalah air, yaitu 99,5 %. Sisanya adalah padatan yang terutama terdiri dari karbohidrat, yaitu mono dan polisakarida (Morsy, 1991). Kandungan Kimia Kadar air Karbohidrat (g) Kalori (kal) Lemak (g) Protein (g) Vitamin A (IU) Vitamin C (mg) Thiamin (mg) Riboflavin (mg) Niasin (mg) Kalsium (mg) Besi (mg) Jumlah 99,5 % 0,30 1,73 - 2,30 0,05 - 0,09 0,01 - 0,06 2,00 - 4,60 0,50-4,20 0,003 - 0,004 0,001 - 0,002 0,038 - 0,040 9,920 - 19,920 0,060 - 0,320

Sumber : Morsy (1991).

2.1.5

Cermai (Eugenia uniflora)

2.1.5.3 Sistematika Tumbuhan Kerajaan Divisi Kelas Ordo Famili Bangsa Upabangsa Genus Spesies : Plantae : Magnoliophyta : Magnoliopsida : Malpighiales : Phyllanthaceae : Phyllantheae : Flueggeinae : Phyllanthus : P. acidus (Verheij dan Coronel, 1997).

2.1.5.2 Sinonim - Phyllanthus distichus - Cicca acida - Cicca disticha - Averrhoa acida 2.1.5.3 Nama daerah dan Nama Asing Cerme (Gayo), Ceremoi (Aceh), Ceremai (Melayu), Camin-Camin (Minangkabau), Cereme, Cermei (Sunda dan Jawa), Carmen, Cermen (Bali),

Careme (Madura), Sarume (Bima), Lumpias aoyok, Tili (Gorontalo), Lombituko bulaano (Buol), Caramele (Makasar, Bugis), Ceremin (Ternate), Selemele, Selumelek (Rote), 2.1.5.4 Morfologi Tumbuhan Perdu atau pohon kecil dengan ketinggian sampai 9 m. Percabangannya rendah dan jarang. Sepintas, pohon ceremei (Phyllanthus acidus) mirip dengan pohon belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi). Ceremai banyak ditanam orang di halaman, di ladang dan tempat lain sampai ketinggian 1.000 m dpl. Daun Daun tunggal, bertangkai pendek, tersusun dalam tangkai membentuk rangkaian seperti daun majemuk. Helai daun bundar telur sampai jorong, ujung runcing, pangkal tumpul sampai bundar, tepi rata, pertulangan menyirip, permukaan licin tidak berambut, panjang 2 - 7 cm, lebar 1,5 - 4 cm, warna hijau muda. Daun muda bisa dimakan sebagai sayuran. Bunga Perbungaan berupa tandan yang panjangnya 1,5 - 12 cm, keluar di sepanjang cabang, kelopak bentuk bintang,mahkota merah muda. Terdapat bunga betina dan jantan dalam satu tandan. Buah Buahnya buah.batu, bentuknya bulat pipih, berlekuk 6 - 8, panjang 1,25 - 1,5 cm, lebar 1,75 - 2,5 cm, warnanya kuning muda. Daging buah keputihan, berair, dan berasa masam. Buah muda bisa dimasak bersama sayuran untuk menyedapkan masakan karena memberi rasa asam. Buah masak dapat dimakan langsung setelah diremas dengan air garam untuk mengurangi rasa sepat dan asam, dimakan setelah dibuat manisan atau selai.

2.1.6

Jambu biji (Psidium guajava)

2.1.6.1 Sistematika Tumbuhan Kingdom Divisi Subdivisi Kelas Ordo Famili Genus Species : Plantae (Tumbuhhan) : Spermatophyta : Angiospermae : Dicotyledonae (Biji berkeping dua) : Myrtales : Myrtaceae : Psidium : Psidium guajava L (Parimin, 2008).

2.1.6.2 Sinonim Jambu batu (Psidium guajava) atau sering juga disebut jambu biji, jambu siki dan jambu klutuk adalah tanaman tropis yang berasal dari Brasil, disebarkan di Indonesia melalui Thailand. Jambu batu memiliki buah yang berwarna hijau dengan daging buah berwarna putih atau merah dan berasa asam-manis 2.1.6.3 Nama daerah dan Nama Asing Jambu batu, Jambu biji, Jambu kluthuk (Jawa), giawas (Papua)

2.1.6.4 Morfologi Tumbuhan Jambu biji merupakan tanaman perdu bercabang banyak. Tingginya dapat mencapai 3-10 m. Umumnya umur tanaman jambu biji hingga sekitar 30-40 tahun. Tanaman yang berasal dari biji relatif berumur lebih panjang dibanding hasil cangkokan atau okulasi. Namun, tanaman yang berasal dari okulasi memiliki postur yang lebih pendek (dwarfing) dan bercabang lebih banyak sehingga memudahkan perawatan tanaman. Tanaman ini sudah mampu berbuah saat berumur sekitar 2-3 bulan meskipun ditanam dari biji (Parimin, 2008). Batang Batang jambu biji memiliki cirri khusus, diantaranya berkayu keras, liat, tidak mudah patah, kuat dan padat. Kulit kayu tanaman jambu biji halus dan mudah terkelupas. Pada fase tertentu, tanaman mengalami pergantian atau peremajaan kulit. Batang dan cabang-cabangnya memiliki kulit berwarna cokelat atau cokelat keabu-abuan (Parimin, 2008). Daun Daun jambu biji berbentuk bulat panjang, bulat langsing, atau bulat oval dengan ujung tumpul atau lancip. Warna daunnya beragam seperti hijau tua, hijau muda, merah tua, dan hijau berbelang kuning. Permukaan daun ada yang halus mengkilap dan halus biasa. Tata letak daun saling berhadapan dan tumbuh tunggal. Panjang helai daun sekitar 5-15 cm dan lebar 3-6 cm. Sementara panjang tangkai daun berkisar 3-7 mm (Parimin, 2008). Bunga Tanaman jambu biji dapat berbuah dan berbunga sepanjang tahun. Bunga keluar di ketiak daun. Kelopak dan mahkota masing-masing terdiri dari lima

helai. Benang sari banyak dengan tangkai sari berwarna putih. Bunganya ada yang sempurna (hemaprodit) sehingga pembuahannya akan terbentuk bila terjadi penyerbukan. Ada pula yang tanpa penyerbukan (partenokarpi) sehingga terbentuk buah jambu tanpa biji. Jumlah bunga disetiap tangkai antara 1-3 bunga (Parimin, 2008). Buah Buah jambu biji berbentuk bulat atau bulat lonjong dengan kulit buah berwarna hijau saat muda dan berubah kuning muda mengkilap setelah matang. Untuk jenis tertentu, kulit buah berwarna hijau berbelang kuning saat muda dan berubah menjadi kuning belang-belang saat matang. Ada pula yang berkulit merah saat muda dan merah tua saat tua. Warna daging buah pada umumnya putih biasa, putih susu, merah muda, merah menyala, serta merah tua. Aroma buah biasanya harum 2.1.6.5 Kandungan Kimia dan Efek Beberapa bagian dari tanaman jambu biji dapat dimanfaatkan sebagai bahan untuk membuat resep pengobatan. Beberapa resep tanaman jambu biji telah terbukti mengobati diare, disentri, demem berdarah, gusi bengkak, sariawan, jantung dan diabetes. Berdasarkan penelitian, jambu biji mengandung berbagai zat gizi yang dapat digunakan sebagai obat untuk menyembuhkan penyakit. Kandungan lengkap kadar gizi yang terdapat dalam 100 g jambu biji masak segar adalah protein sebanyak 0,9 g; lemak 0,3 g; karbohidrat 12,2 g; kalsium 14 mg; fosfor 28 mg; besi 1,1 mg; vitamin A 25 SI; vitamin C 87 mg; dan air 86 g dengan total kalori sebanyak 49 kalori. Biji jambu biji sering mengandung 14% protein dan 13% tepung (Parimin, 2008).

Jambu biji mengandung vitamin C yang cukup tinggi. Kandungan vitamin C jambu biji dua kali lebih banyak dari jeruk manis yang hanya 49 mg per 100 g. vitamin C sangat baik sebagai zat antioksidan. Namun, sebagian besar vitamin C pada jambu biji terkonsentrasi di kulit dan daging bagian luarnya yang lunak dan tebal. Kandungan vitamin C jambu biji mencapai puncaknya saat menjelang matang (Parimin, 2008). Selain itu, jambu biji juga kaya serat, khususnya pektin (serat larut air) yang dapat digunakan untuk pembuatan gel atau jeli. Manfaat pektin lainnya adalah menurunkan kolesterol dengan cara mengikat kolesterol dan asam empedu dalam tubuh serta membantu pengeluarannya (Parimin, 2008). Jambu biji mengandung tannin yang menimbulkan rasa sepat pada buah, tetapi bermanfaat memperlancar system pencernaan dan sirkulasi darah serta menyerang virus. Jambu biji juga mengandung kalium yang berfungsi meningkatkan keteraturan denyut jantung, mengaktifkan kontraksi otot, mengatur pengiriman zat-zat gizi ke tubuh, serta menurunkan kadar kolesterol total dan tekanan darah (hipertensi). Menurut Dr. James Cerda, dengan memakan jambu biji 0,5-1 kg/hari selama empat minggu, resiko terkena penyakit jantung dapat berkurang (Parimin, 2008). 2.1.7 Mandevilla sanderi

2.1.7.1 Sistematika Tumbuhan Kingdom : Plantae (Tumbuhhan)

Subkingdom : Trachebionta ( tumbuhan berpembuluh) Super divisi Divisi Kelas Sub kelas Famili Genus Species : Spermatophyta : Magnoliophyta : Magnoliopsida : Asteridae : Apocynaceae : Mandevilla : Mandevilla sanderi

2.1.7.2 Sinonim Bunga terompet berasal dari negara Amerika tengah dan selatan.Bunga terompet juga dikenal dengan nama Buttercup flower, Yellow Bell, Golden trumpet.Bunga terompet memilki bentuk seperti terompet, berwarna kuning. 2.1.7.3 Nama daerah dan Nama Asing Bunga terompet 2.1.7.4 Morfologi Tumbuhan Bunga terompet memiliki bentuk bunga yang dapat mencapai ukuran diameter 5-7,5 cm, Bunga terompet mampu tumbuh sampai lebih dari 2 meter, Bunga terompet memilki tangkai bungaberwarna hijau muda dan

mempunyai daun agak kasar, Bunga terompet mekar setiap tahun. Bunga terompet memiliki mahkota yang berlekatan, tabung mahkota di pangkal, dan mangkuk mahkota berada di ujung. Tabung mahkota lebih panjang

dibanding mangkuk mahkota. Sementara cuping mahkota berukuran sedang (Ratnasari J, 2007) 2.1.7.5 Kandungan Kimia dan Efek Manfaat bunga terompet biasanya digunakan akar,daun dan bunga terompet untuk obat-obatan. Bunga terompet memiliki getah berwarna putih, getah bunga terompet memilki manfaat untuk pencegah kuman/bakteri dan juga obat penyakit kanker. Bunga terompet mengandung Hyoscyamine, atropine, scopolamine, sebagai zat anticholinergics (zat penghilang kesadaran).Selain memilki warna kuning juga ada bunga terompet berwarna putih, merah muda, ungu, orange melalui stek ataupun penyilangan. 2.2. Kajian Teori 2.2.1 Alkaloid Alkaloid merupakan golongan zat tumbuhan sekunder yang terbesar. Pada umumnya alkaloid mencakup senyawa bersifat basa yang mengandung satu atau lebih atom nitrogen, biasanya dalam gabungan, sebagai bagian dari system siklik. Alkaloid seringkali beracun bagi manusia dan banyak yang mempunyai kegiatan fisiologi yang menonjol yang digunakan secara luas dalam bidang

pengobatan.Alkoloid biasanya tanpa warna, seringkali bersifat optis aktif, kebanyakan berbentuk Kristal tetapi hanya sedikit yang berupa cairan ( misalnya nikotina pada suhu kamar ). Prazat alkaloid yang paling umum adalah asam amino, meskipun sebenarnya biosintesis kebanyakan alkaloid lebih rumit. Secara kimia, alkaloid merupakan suatu golongan heterogen. Ia berkisar dari senyawa sederhana seperti

koniina, yaitu alkoloid utama conium maculatum, sampai ke struktur pentasiklik seperti strikhnina , yaitu racun kulit Strychnos. Amina tumbuhan (misalnya meskalina) dan basa Purina dan pirimidina (misalnya kafeina) kadang-kadang digolongkan sebagai alkoloid dalam arti umum. Banyak alkoloid bersifat terpenoid dan beberapa (misalnya solanina alkoloid steroid kentang, Solanum tuberosum) sebaiknya ditinjaudari segi biosintesis sebagai terpenoid termodifikasi. Yang lainnya terutama berupa senyawa aromatic ( misalnya kolkhisina, alkoloid tropolon umbi crocus musim gugur ) yang mengandung gugus basa sebagai gugus rantai samping. Banyak sekali alkoloid yang khas pada suatu suku tumbuhan atau beberapa tumbuhan sekerabat. Jadi nama alkoloid sering kali diturunkan dari sumber tumbuhan penghasilnya, misalnya alkoloid Atropa atau alkoloid tropana, dan sebagainya (Harbrone, 1987). Sebagian besar alkaloid alami yang bersifat sedikit asam memberikan endapan dengan reaksi yang terjadi dengan reagent Mayer ( Larutan Kaliummercuri Iodida); reagent Wangner (larutan Iodida dalam Kalium Iodida); dengan larutan asam tanat,reagent Hager (saturasi dengan asam pikrat); atau dengan reagent Dragendroff (larutan Kalium Bismuth Iodida). Endapan ini berbentuk amorf atau terdiri dari kristal dari berbagai warna. Cream (Mayer),Kuning (Hager),coklat kemerah merahan (Wagner dan Dragendroff). Caffein dan beberapa alkaloid tidak menimbulkan reaksi pengendapan. Ketelitian harus dimulai dari ekstraksi alkaloid yang diuji karena bahan akan membentuk endapan dengan protein. Sebagian dari protein akan membuat tidak larut dari bahan yang telah diekstrak oleh proses evaporasi atau mungkin disebabkan filtrate yang terbongkar. Jika ekstrak asli telah dikonsentrasi ke

konsentrasi rendah akan membentuk ekstrak alkaloid yang berbentuk basa dengan pertolongan suatu pelarut organik kemudian dimasukan dalam larutan asam encer (misalnya : Tartarat),larutan harus bebas dari protein dan siap untuk dilakukan uji alkaloid (Teyler, 1988). Pada bagian yang memaparkan sejarah alkaloid, jelas kiranya bahwa alkaloid sebagai kelompok senyawa, tidak diperoleh definisi tunggal tentang alkaloid. Sistem klasifikasi yang diterima, menurut Hegnauer, alkaloid dikelompokkan sebagai: 1) Alkaloid Sesungguhnya Alkaloid sesungguhnya adalah racun, senyawa tersebut menunjukkan aktivitas phisiologi yang luas, hampir tanpa terkecuali bersifat basa; lazim mengandung Nitrogen dalam cincin heterosiklik ; diturunkan dari asam amino ; biasanya terdapat aturan tersebut adalah kolkhisin dan asam aristolokhat yang bersifat bukan basa dan tidak memiliki cincin heterosiklik dan alkaloid quartener, yang bersifat agak asam daripada bersifat basa. 2) Protoalkaloid Protoalkaloid merupakan amin yang relatif sederhana dimana nitrogen dan asam amino tidak terdapat dalam cincin heterosiklik. Protoalkaloid diperoleh berdasarkan biosintesis dari asam amino yang bersifat basa 3) Pseudoalkaloid Pseudoalkaloid tidak diturunkan dari prekursor asam amino. Senyawabiasanya bersifat basa. Ada dua seri alkaloid yang penting dalam khas ini, yaitu alkaloid steroidal (contoh: konessin dan puri kaffein) (Teyler, 1988).

2.2.2

Glikosida Glikosida adalah suatu senyawa yang bila dihidrolisis akan menghasilkan

satu atau lebih gula yang disebut glikon dan bagian bukan gula disebut aglikon. Jika bagian gulanya adalah glukosa maka disebut glukosida, sedangkan jika bagian gulanya selain glukosa disebut glikosida (Teyler,1977) . Menurut Fransworth (1966), pembagian glikosida berdasarkan ikatan yang menghubungkan bagian gula dan bukan gula adalah : 1. C-glikosida, jika atom C menghubungkan bagian gula dan bukan gula. Contoh: aloin. 2. O-glikosida, jika atom O menghubungkan bagian gula dan bukan gula. Contoh: salisin. 3. N-glikosida, Jika atom N menghubungkan bagian gula dan bukan gula. Golongan ini sebagian gulanya bukan gula sebenarnya tetapi derivatnya. Contoh: vidarabin. 4. S-glikosida, jika thiol (SH) yang menghubungkan bagian gula dan bagian bukan gula. Contoh: sinigrin. 2.2.3 Glikosida sianogenik Glikosida sianogenik adalah senyawa hidrokarbon yang terikat dengan gugus CN dan gula. Beberapa tanaman tingkat tinggi dapat melakukan sianogenesis, yakni membentuk glikosida sianogenik sebagai hasil sampingan reaksi biokimia tanaman . Keberadaan glikosida sianogenik pada tanaman memiliki fungsi penting terhadap kelangsungan hidup tanaman tersebut.

Glikosida sianogenik berperan sebagai sarana protektif terhadap gangguan predator terutama herbivora. Adanya kerusakan jaringan pada tanaman akibat hewan pemakan tumbuhan akan menyebabkan pelepasan HCN yang mengganggu kelangsungan hewan tersebut. Pada Trifolium repens, keberadaan glikosida sianogenik berfungsi untuk melindungi kecambah yang masih muda agar tidak dimakan siput dan keong (Anonim,2009). 2.2.4 Glikosida Antrakuinon 1. Definisi Glikosida antrakinon, golongan glikosida ini aglikonnya adalah sekerabat dengan antrasena yang memiliki gugus karbonil pada kedua atom C yang berseberangan (atom C9 dan C10) atau hanya C9 (antron) dan C9 ada gugus hidroksil (antranol). 2. Identifikasi Ditimbang 5g bagian dalam/lender dari tanaman lidah buaya, dihaluskan dan ditambahkan 100 ml air dengan pemanasan. Kemudian disaraing, dinginkan. Diambil 5 ml sari kemudian kedalamnya ditambahkan 1 ml HCl pekat. Dipanskan dengan mencelupkannya dipenangas air selama 15 menit. Kemudian dinginkan. Dikocok dengan 5 ml CCl4, dipisahkan CCl4 dengan menyaringnya dengan kertas saring. Bagian CCl4 dikocok dengan 3 ml larutan ammonia encer. Lapisan ammonia berwarna merah jambu menunjukkan adanya antrakuinon. 3. Struktur

4. Aktivitas Glikosida antrakinon adalah stimulan katartika dengan meningkatkan tekanan otot polos pada dinding usus besar, aksinya akan terasa sekitar 6 jam kemudian atau lebih lama. Adapun mekanisme belum jelas, namun diduga antrakinon dan antranol dan turunannya berpengaruh terhadap transpon ion dalam sel colon dengan menghambat kanal ion Cl-.

Untuk antron dan antranol mengeluarkan kegiatan lebih drastik (itulah sebabnya ada beberapa simplisia yang boleh digunakan setelah disimpan selama satu tahun, untuk mengubah senyawa tersebut menjadi antrakinon), bila jumlahnya lebih besar daripada antrakinon akan mengakibatkan mulas dan rasa tidak enak.

2.2.5 Saponin 1. Definisi Saponin adalah segolongan senyawa glikosida yang mempunyai struktur steroid dan mempunyai sifat-sifat khas dapat membentuk larutan koloidal dalam air dan membui bila dikocok. 2. Identifikasi

Ditimbang 0,5 g bahan tumbuhan, dihaluskan, dimasukkan kedalam tabung reaksi. Ditambahkan 10 ml air panas, dinginkan dan kemudian dikocok kuat kuat selama 10 detik. Jika senyawaa yang diperiksa berupa sediaan cair, diencerkan 1 ml sediaan yang diperiksa dengan 10 l akuades dan dikocok kuat

kuat selama 10 menit, setinggi 1 cm sapai 10 cm kemudian pada penambahan 1 tetes HCl 2N, buih/busa tidak hilang

3. Struktur Kimia

4. Aktivitas

Saponin mempunyai aktifitas farmakologi yang cukup luas diantaranya meliputi: immunomodulator, anti tumor, anti inflamasi, antivirus, anti jamur, dapat membunuh kerang-kerangan, hipoglikemik, dan efek hypokholesterol. Saponin juga mempunyai sifat bermacam-macam, misalnya: terasa manis, ada yang pahit, dapat berbentuk buih, dapat menstabilkan emulsi, dapat menyebabkan

hemolisis. Dalam pemakaiannya saponin bisa dipakai untuk banyak keperluan, misalnya dipakai untuk membuat minuman beralkohol, dalam industri pakaian, kosmetik, membuat obat-obatan, dan dipakai sebagai obat tradisional1. 2.2.6 Tanin 1. Definisi Tanin merupakan salah satu jenis senyawa yng termasuk ke dalam golongan polifenol. Senyawa tanin ini banyak di jumpai pada tumbuhan. Tanin dahuludigunakan untuk menyamakkan kulit hewan karena sifatnya yang dapat mengikatprotein. Selain itu juga tanin dapat mengikat alkaloid dan glatin.Tanin secara umum didefinisikan sebagai senyawa polifenol yang memiliki beratmolekul cukup tinggi (lebih dari 1000) dan dapat membentuk kompleks denganprotein. Berdasarkan strukturnya, tanin dibedakan tannins) menjadi dan dua kelas

yaitutaninterkondensasi

(condensed

tanin-terhidrolisiskan

(hydrolysabletannins) (Harbone, 1987). Tanin memiliki peranan biologis yang kompleks. Hal ini dikarenakan sifat taninyang sangat kompleks mulai dai pengendap protein hingga pengkhelat logam. Makadari itu efek yang disebabkan tanin tidak dapat diprediksi. Tanin juga dapat berfungsisebagai antioksidan biologis. Sifat-sifat Tanin : 1. Dalam air membentuk larutan koloidal yang bereaksi asam dan sepat. 2. Mengendapkan larutan gelatin dan larutan alkaloid. 3. Tidak dapat mengkristal. 4. Larutan alkali mampu mengoksidasi oksigen.

5. Mengendapkan protein dari larutannya dan bersenyawa dengan protein tersebut sehingga tidak dipengaruhi oleh enzim protiolitik. 2. Identifikasi Berdasarkan sifat-sifat diatas maka untuk menganalisis tanin dapat dilakukan berbagaicara sesusai tujuanya. Untuk analisis secara kualitatif dapat dilakukan dengan mengunakanmetode : a. Diberikan larutan FeCl3 berwarna biru tua / hitam kehijauan b. Ditambahkan Kalium Ferrisianida + amoniak berwarna coklat. c. Diendapkan dengan garam Cu, Pb, Sn, dan larutan Kalium Bikromatberwarna coklat Sedangkan untuk menganalisis secara kuantitatif dapat dilakukan denga mengunakan metode : a. Metode analisis umum phenolik, karena tanin merupakan senyawa phenolik (Metodeblue prussian dan Metode Folin) b. Metode analisis berdasarkan gugus fungsinyac. c. Dengan menggunakan HPLC, dan UV-Visd. d. Metode presipitasi menggunakan protein

3. Struktur dan klasifikasi Senyawa tanin termasuk kedalam senyawa poli fenol yang artinya senyawa yang memiliki bagian berupa fenolik. Senyawa tanin dibagi menjadi dua yaitu tanin yang terhidrolisis dan tanin yang terkondensasi. 1. Tanin Terhidrolisis (hydrolysable tannins)

Tanin ini biasanya berikatan dengan karbohidrat dengan membentuk jembatan oksigen, maka dari itu tanin ini dapat dihidrolisis dengan menggunakan asam sulfat atau asam klorida. Salah satu contoh jenis tanin ini adalah gallotanin yang merupakan senyawa gabungan dari karbohidrat dengan asam galat. Selain membentuk gallotanin, dua asam galat akan membentuk tanin terhidrolisis yang bisa disebut Ellagitanins.Berat molekul galitanin 1000-1500,sedangkan Berat molekul Ellaggitanin 1000-3000. Ellagitanin sederhana disebut juga ester asam hexahydroxydiphenic (HHDP). Senyawa ini dapat terpecah menjadi asam galic jika dilarutkan dalam air. Asam elagat merupakan hasil sekunder yang terbentuk pada hidrolisis beberapa tanin yang sesungguhnya merupakan ester asam heksaoksidifenat. 2. Tanin terkondensasi (condensed tannins). Tanin jenis ini biasanya tidak dapat dihidrolisis, tetapi dapat terkondensasi meghasilkan asam klorida. Tanin jenis ini kebanyakan terdiri dari polimer flavonoid yang merupakan senyawa fenol. Oleh karena adanya gugus fenol, maka tannin akan dapat berkondensasi dengan formaldehida. Tanin terkondensasi sangat reaktif terhadap formaldehida dan mampu membentuk produk kondensasi Tanin terkondensasi merupakan senyawa tidak berwarna yang terdapat pada seluruh dunia tumbuhan tetapi terutama pada tumbuhan berkayu. Tanin terkondensasi telah banyak ditemukan dalam tumbuhan paku-pakuan. Nama lain dari tanin ini adalah Proanthocyanidin. Proanthocyanidin merupakan polimer dari flavonoid yang dihubungan dengan melalui C8dengan C4. Salah satu contohnya adalah Sorghum procyanidin, senyawa ini merupakan trimer yang tersusun dari epiccatechin dan catechin.

4. Aktivitas

Kegunaan Tanin : 1. Sebagai pelindung pada tumbuhan pada saat masa pertumbuhan bagian tertentu pada tanaman, misalnya buah yang belum matang, pada saat matang taninnya hilang. 2. Sebagai anti hama bagi tanaman sehingga mencegah serangga dan fungi. 3. Digunakan dalam proses metabolisme pada bagian tertentu tanaman. 4. Efek terapinya sebagai adstrigensia pada jaringan hidup misalnya pada gastrointestinal dan pada kulit. 5. Efek terapi yang lain sebagai anti septic pada jaringan luka, misalnya luka bakar, dengan cara mengendapkan protein.
6. dll

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil No. Nama Tumbuhan Golongan Senyawa Kimia Alkaloid Pereaksi Hasil Kesimpulan

1.

Daun Kecubung Datura metel Famili: Solanaceae

Meyer

Terbentuk endapan putih (keruh) Terbentuk warna coklat Terbentuk warna kuning

(+)

Bauchardat

Dragendorf

2.

Daun Ubi racun (Manihot esculenta) Famili: Euphorbiaceae Daun Lidah buaya (Aloe vera) Famili: Liliaceae Buah cermai (Eugenia uniflora) Famili: Myrtaceaea Daun jambu biji (Psidium guajava) Famili: Myrtaceae

Glikosida Sianogenik

Asam pikrat Kertas saring pada kertas merah saring

(+)

(+) 3. Glikosida antrakuinon NaOH 2N Lap. benzene: tdk berwarna Lap. air: berwarna pink Buih=1.6 cm Setelah (+)HCl= 1.5 cm Daun tua: biru tua Daun muda: biru muda (+)

4.

Saponin

Air panas

Tannin

FeCl3 10%

5.

(+) (+)

6.

Bunga berwarna ungu (Mandevilla sanderi) Famili: Apocynaceae

Flavonoida

Zn+HClp Mg+HClp

Merah intensif (+) Kuning jingga

(+)

7.

Daun katuk (Sauropus androgenus) Famili: Pylantaceae

Steroida

Pereaksi LiebermanBurchart

Biru kehitaman (+)

4.2 Pembahasan Berdasarkan hasil percobaan pada daun kecubung (Datura metel), didapatkan positif mengandung alkaloid yang ditandai adanya endapan putih (keruh) dengan penambahan pereaksi Meyer, terbentuknya larutan warna kuning ketika ditambahkan pereaksi Dragendorff dan membentuk larutan warna coklat dengan pereaksi Bourchardat. Alkaloid mencakup senyawa bersifat basa yang mengandung satu atau lebih atom nitrogen, biasanya dalam gabungan sebagai bagian dari sistem siklik. Karena kelarutan dan sifat lain alkaloid sangat berbeda-beda, cara penentuan senyawa khas harus dilakukan dengan pereaksi alkaloid itu sendiri misalnya pereaksi Dragendorff dan sebagainya. Hasil dinyatakan positif apabila semua uji memberikan reaksi positif (Harborne,1996). Pada percobaan daun ubi racun (Manihot esculenta) ditemukan adanya senyawa glikosida sianogenik yang ditandai oleh merahnya kertas saring yang telah dicelupkan asam pikrat. Perubahan warna dari kuning ke coklat kemerahan menunjukkan pembebasan HCN dari tumbuhan secara enzimatis. Bila reaksi negatif, tabung harus disimpan pada suhu kamar selama 24-48 jam kemudian diperiksa lagi apakah HCN dibebaskan secara non enzim. Intensitas perubahan warna pada kertas sesuai dengan banyaknya kandungan sianogen yang ada. Kekuatan warna

dapat diamati sebagai ukuran konsentrasi linimarin dan lotaustralin. Hasil positif bisa didapat dari jaringan tumbuhan herbarium, tetapi pada umumnya uji tersebut lebih baik dilakukan pada tumbuhan segar (Harborne, 1996). Percobaan glikosida antrakuinon pada lidah buaya (Aloe vera)

menunjukkan hasil yang sama dengan berbagai literatur yaitu pada lapisan air berwarna merah dan lapisan benzen tidak berwarna atau hasil positif. Pengujian kestabilan buih atau kandungan saponin menunjukkan hasil positif. Berdasarkan literature, suatu sampel dikatakan mengadung sapaonin apabila buih yang terbentuk stabil dan mantap (tidak hilang selam 30 detik). Pembentukan warna biru tua dengan penambahan FeCl3 pada daun jambu biji yang sudah dihaluskan menunjukkan bahwa daun tersebut positif mengandung tannin. Uji flavonoida pada bunga berwarna ungu (Mandevilla sanderi), dengan menggunakan pereaksi Zn+HClp dihasilkan warna merah intensif, sedangkan dengan menggunakan pereaksi Mg+HClp dihasilkan warna kuning jingga. Warna merah sampai jingga diberikan oleh senyawa flavon, warna merah tua diberikan oleh flavonol atau flavonon, warna hijau sampai biru diberikan oleh aglikon atau glokosida. Filtrat D digunakan untuk uji KLT (Marliana, 2005). Warna biru kehitaman yang terjadi pada daun katuk dengan menggunakan pereaksi Liebarman-Buchart mengindikasikan bahwa pada tanaman tersebut terdapat golongan stroid.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan 1. Dapat diketahui metode dan gambaran mengenai golongan senyawa metabolit sekunder yang terdapat dalam tumbuhan. 2. Golongan senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada: 5.2 Saran 1. Diharapkan untuk praktikum selanjutnya digunakan sampel yang berbeda dan lebih bervariasi 2. Diharapkan dilakukan uji terhadap minyak atsiri 3. Sebaiknya pada percobaaan dilakukan prosedur yang sesuai untuk mendapatkan hasil yang maksimal. 4. Praktikan sebaiknya berhati-hati dalam menggunakan alat selama melakukan percobaan. 5. Selama melakukan percobaan sebaiknya praktikan menggunakan alat pelindung untuk mengantisipasi terjadinya kontak langsung dengan zat-zat kimia yang berbahaya. Daun kecubung (Datura metel) adalah alkaloida Daun ubi kayu (Manihot esculenta) adalah glikosida sianogenik Lendir daun lidah buaya (Aloe vera) adalah glikosida antrakuinon Buah cermai (Eugenia uniflora) adalah saponin Daun jambu biji (Psidium guajava) adalah tannin Bunga berwarna ungu (Mandevilla sanderi) adalah flavonoida Daun katuk (Sauropus androgenus) adalah steroid

DAFTAR PUSTAKA Agoes.G.2007.Teknologi Bahan Alam.21,38 39.Bandung : ITB Press94, 142158, 234-238. Bandung : ITB Press Allem AC. 2002. The origins and taxonomy of cassava. Di dalam Hillocks RJ, Thresh JM, Bellotti AC, editor. Cassava: Biology, Production and Utilization. New York: CABI Publishing. hlm 1-16. Anonym.(2013).http://caramanfaat.com/manfaat-bunga-terompet/. Diakses pada tanggal 8 Mei 2013 22.31 Anonym.(2013).http://nikenprawesty.blogspot.com/2011/12/vbehaviorurldefaultv mlo_28.html. Diakses pada tanggal 9 Mei 2013 11.31 Anonim. 2009. Glycoside. http://www.pom.go.id/public/siker/desc/produk/racunalamitanaman.pdf Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial RI Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 2000. Inventaris Tanaman Obat Indonesia(I) Jilid 1.Jakarta. Briggs, G.B and C. L. Calvin. 1987. INDOOR PLANTS. John Wiley and Sons. New York Ekanayake IJ, Osiru DSO, Porto MCM. 1997. Morphology of cassava. http://www.iita.org/cms/details/trn_mat/ir961.html. Gunawan,D,.2004. Ilmu Obat alam ( Farmakognosi ) Jilid 1. Jakarta : Penebar Swadaya . Halaman 98-99 . Harborne. J.B.,1987. Metode Fitokimia , terjemahan K. Radmawinata dan I. Soediso . Bandung : ITB Press . Halaman 69- 94, 142-158, 234-238. Hutapea, J. R. 1993. INVENTARIS TANAMAN OBAT INDONESIA (II). Departemen Kesehatan RI Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Jakarta Morsy, E. M. 1991. The Final Technical Report of Aloe vera : Stabilization and Processing for The Cosmetics Beveage and Food Industries. Aloe Industry and Technology Institute. Phoenix. USA. Parimin. (2007). JAMBU BIJI: BUDIDAYA DAN PEMANFAATANNYA. Jakarta: Penebar Swadaya. Halaman 8-12 RAGAM

Ratnasari, J. (2007). GALERI TANAMAN HIAS BUNGA. Depok : Penebar Swadaya. Halaman 9 Teyler.V.E.et.al.1988 . Pharmacognosy . 9th Edition . Phiadelphia : Lea & Febiger .Page : 187 188

LAMPIRAN FOTO 1. ALKALOIDA

Keterangan: B = Bauchardat D = Dragendorf M = Meyer 2. GLIKOSIDA SIANOGENIK sebelah kiri = belum ditambah ammonia pekat sebelah kanan = sudah ditambah ammonia pekat

Kertas saring setelah dipaparkan dengan sinar matahari.

3. GLIKOSIDA ANTRAKUINON

Lapisan atas Lapisan bawah 4. SAPONIN

: lapisan benzene : lampisan air

Sebelah kiri Sebelah kanan

: sebelum penambahan HCl, buih = 1.6 cm : sesudah penambahan HCl, buih = 1.5 cm

5. TANIN

Berwarna biru tua

6. FLAVONOIDA

Sebelah kiri Sebelah kanan 7. STEROIDA

: dengan Zn+HClp, warna merah intesif : dengan Mg+HClp, warna kuning jingga

Dengan pereaksi Lieberman-Burchart, warna biru kehitaman