Anda di halaman 1dari 4

Terobosan Dua Penyandang Cacat Organ Bukan karena merasa sama-sama penderita cacat organ jika saya dan

n Menteri Pekerjaan Um um Djoko Kirmanto sering membuat kesepakatan. Berbagai terobosan memang harus ka mi berdua buat. Terutama untuk mengatasi masalah-masalah infrastruktur. Saya sesekali bertanya kepadanya soal operasi jantung, sementara beliau sesekali bertanya mengenai operasi ganti hati kepada saya. Tapi kami lebih sering berbic ara mengenai bagaimana mewujudkan jalan tol dengan cepat. Beliau adalah pemegang regulasi jalan tol, sedangkan BUMN memiliki perusahaan jalan tol seperti PT Jas a Marga (Persero) Tbk. Untuk mewujudkan jalan tol dari Semarang ke Solo misalnya, kami berdua membuat t erobosan. Ruas Semarang-Ungaran sudah selesai dikerjakan dan awal tahun depan Ja sa Marga akan segera menyelesaikan ruas Ungaran-Bawen. Lalu, bagaimana dengan r uas Bawen-Solo? Dari hitungan bisnis, ruas Bawen-Solo belum menguntungkan. Perlu subsidi negara sampai Rp1,9 triliun. Sungguh sulit mendapatkan suntikan dana sebesar itu dari pemerintah, bahkan mend ekati mustahil, apalagi Menteri Keuangan sangat keras mendisiplinkan fiskal. Melihat gelagat itu saya memilih jalan memutar dengan meminta Deputi Bidang Usah a Infrastruktur dan Logistik Kementerian BUMN Sumaryanto Widayatin untuk menemuk an jalan keluar. Akhirnya jalan memutar itu ditemukan. Syaratnya saya harus membicarakannya denga n Menteri PU. Intinya, Jasa Marga bisa mengerjakan jalan tol Bawen-Solo kalau bisa mendapatkan izin untuk dua jalan tol lainnya, yakni jalan tol sepanjang 3 km dari Daan Mogo t ke Cengkareng dan jalan tol dari Kawasan Berikat Nusantara ke pelabuhan Tanjun g Priok. Kalau izin itu sudah didapat, maka keuntungannya banyak sekali. Jalan tol Semar ang-Solo langsung bisa dikerjakan, sementara kemacetan ruas Daan Mogot ke Cengka reng dan keruwetan kawasan industri sekitar Bekasi ke Tanjung Priok pun terurai. Menteri PU merespons cepat, bahkan kini deputi saya yang dikejar-kejar untuk seg era memproses persyaratannya.

Di depan Presiden SBY saya mengemukakan (juga didengar Menteri PU dan para mente ri lainnya) bahwa bottle neck pembangunan jalan tol Semarang-Solo bisa diselesai kan dengan pola kaset seribu tiga . Dua ruas yang gemuk dipaketkan dengan satu r Pola kaset seribu tiga ini adalah kesepakatan kedua saya dengan Menteri PU.

Yang pertama adalah pembangunan jalan tol di Bali yang menghubungkan bandara Ngu rah Rai yang baru ke kawasan wisata Nusa Dua melalui atas laut. Jalan tol ini na nti menjadi jalan tol di atas laut yang pertama dimiliki Indonesia. Di tengah l aut nanti, akan ada interchange-nya yang meliuk-liuk. Kini jalan tol Bali itu sedang dikerjakan dengan kecepatan tinggi. Dua belas bul an lagi bisa dinikmati. Proyek ini tidak akan berjalan kalau tidak ada terobosan kuat antara Menteri PU, Gubernur Bali, dan Kementerian BUMN. Kemarin malam saya dan Pak Djoko Kirmanto membuat kesepakatan baru lagi. Kali in i untuk menerobos Sumatera.

Tol Sumatera Sudah lebih sepuluh tahun para gubernur di Sumatera menuntut segera dimulainya p embangunan jalan tol sepanjang pulau itu. Sumatera akan menjadi pulau yang membe rikan pertumbuhan ekonomi yang luar biasa kalau listrik tercukupi dan jalan tol dibangun besar-besaran. Minggu lalu, saya bertemu dengan para gubernur seluruh Sumatera. Tuan rumahnya G ubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin. Kami kemukakan bahwa beberapa terobosan s edang dilakukan di Jawa Tengah dan Bali. Mestinya terobosan serupa bisa dilakuka n pula di Sumatera. Para gubernur se-Sumatera memiliki kemampuan keuangan lebih besar dari propinsipropinsi lain. Mereka juga ngebet ingin membangun konektivitas antarpropinsi seSumatera. Kami lalu tawari mereka untuk bersama-sama memulai membangun jalan tol di seluru h Sumatera. Tentu banyak ruas di Sumatera yang secara bisnis kurang menguntungka n, tapi ini tak boleh menghambat pembangunan. Yang kami tawarkan adalah membangun perusahaan patungan antara Jasa Marga dan pe merintah daerah-pemerintah daerah di Sumatera. Maka, dalam rapat yang hanya tiga jam itu disepakati banyak hal, diantaranya kes amaan pandangan bahwa pembangunan jalan tol belum bisa menguntungkan pihak Jasa Marga, tapi sangat menguntungkan propinsi yang dilewati. Karena itu beban berat itu harus dipikul bersama oleh Jasa Marga dan Pemda. Cara nya, Pemda melakukan pembebasan tanah dan pencadangan sejumlah kawasan di sepanj ang jalan tol yang kelak akan dikelola bersama untuk proyek bisnis di masa depan . Hari itu juga kami sepakati pembentukan PT Jasa Marga Lampung, PT Jasa Marga Sum sel, PT Jasa Marga Jambi, PT Jasa Marga Riau, PT Jasa Marga Sumbar, PT Jasa Marg a Sumut, dan PT Jasa Marga Bengkulu. Pada perusahaan-perusahaan itu, Jasa Marga memegang saham mayoritas, sedangkan P emda memegang saham yang besar kecilnya ditentukan kemampuan daerah. Terobosan ini segera saya komunikasikan kepada Menteri PU. Beliau mengamininya. Tinggal urusan administrasi yang harus disiapkan. Dalam kesempatan menghadap Presiden SBY Jumat siang lalu, terobosan di Sumatera ini juga saya sampaikan. Tentu Presiden sangat menghargai kerjasama antara BUMN dan Kementerian PU ini. Presiden bahkan bergurau, kapan dibangun PT Jasa Marga Pacitan? Di bagian akhir kesepakatan Palembang itu dikonkretkan pula jalan tol mana saja yang akan dibangun. Di Lampung akan dibangun ruas Bakauheni - Bandar Lampung, di tambah tol dalam kota. Lalu tol menuju Sumatera Selatan. Di sini, ditentukan jal ur dari Palembang ke Prabumulih, Palembang-Siapi-api, dan Palembang ke perbatasa n Jambi. Di Jambi, dibangun jalan tol dari perbatasan Sumatera Selatan ke kota Jambi, jug a dari kota Jambi ke Tanjung Jabung. Di Riau, dibangun jaln tol dari Pekanbaru ke Dumai dan Pekanbaru ke Palalawan, s edangkan di Sumatera Barat dibangun jalan tol dari Padang ke Padang Panjang dan langsung ke Bukittinggi terus sambung ke perbatasan Riau.

Di Sumatera Utara, dibangun jaln tol dari Medan ke Tebing Tinggi, terus ke Kuala Tanjung, juga dari Medan ke Binjai. Gula Jumat sore lalu saya langsung ke Semarang. Di perkebunan kopi Banaran, kami mengumpulkan para manajer dari 10 pabrik gula y ang paling sulit di Indonesia. Ini kelanjutan dari acara bahtsul masail kubro d i Surabaya sebulan sebelumnya. Sampai menjelang tengah malam, kami bahas bagaimana 10 pabrik tersulit itu bisa keluar dariasfalas safilin! Problem pokok pabrik gula adalah satu pertanyaan mendasar, di manakah gula itu d ibuat? Orang awam tentu menjawab: gula dibuat di pabrik gula! Yang benar, gula itu dibuat di sawah! Tanaman tebu yang semula kecil tumbuh besar lalu berisi gula. Ada tebu bergula s edikit, ada tebu bergula banyak. Tergantung bibit, cara tanam, pemeliharaan, pem upukannya, dan seterusnya. Di sinilah ditentukan banyak sedikitnya gula akan diproduksi. Walhasil pabrik-pabrik gula harus kembali memperhatikan tata cara penanaman tebu yang benar. Pabrik gula bukanlah pembuat gula. Pabrik gula justru hanya membuang gula. Kadar gula dari sebatang tebu yang katakanlah 1 kg, setelah digiling hanya mengeluark an gula 0,6 kg. Bukankah ini berarti tugas pabrik gula malah hanya mengurangi gu la? Malam itu, di Banaran, para manajer 10 pabrik gula asfalas safilin menyepakati u ntuk back to basic. Tanaman tebu diperhatikan dan efisiensi pabrik ditingkatkan . Paginya, setelah ke Universitas Negeri 11 Maret Solo dan Universitas Muhammadiya h Solo, saya menuju Bantul dan Gunung Kidul, diajak melihat program peningkatan produksi beras dengan model korporasi. Pelaksananya PT Sang Hyang Seri, salah sa tu BUMN pangan kita. Di sawah di Bantul inilah untuk pertama kali saya mengemudikan mesin panen padi. Memakai mesin ini, panen padi begitu cepat dilakukan, tasanya seperti di Ameri ka Serikat saja. Sore itu kami berdiskusi dengan petani. Ternyata pola pikir mereka sudah begitu berubah. Mereka serba menginginkan modernisasi. Mereka minta traktor, mesin pane n, mesin perontok gabah, mesin blower untuk menghilangkan gabuk, dan mesin penge ring gabah. Beda sekali dengan ketika saya sering kerja di sawah saat remaja dulu. Saya bias a ndaud benih, mencangkul di sawah, nggaruk, dan memegang ani-ani untuk panen. Tapi dari Bantul saya melihat kita semua, para pelayan petani, harus mengubah to tal pola berpikir bahwa petani kita sudah menghendaki modernisasi yang paripurna . Itu salah!

Sekarang di bidang pangan ini, BUMN memiliki tiga program besar, yaitu Gerakan P eningkatan Produksi Pagan berbasis Korporasi (GP3K), Proberas, dan Food Estate. GP3K adalah program bantuan petani agar bisa mendapatkan benih unggul, pupuk yan g cukup, dan obat hama yang diperlukan. Bantuan itu dikembalikan saat panen nant i. Istilahnya yarnen (bayar saat panen). Proberas adalah program untuk menampung sawah-sawah petani yang kurang produktif . Kini banyak petani yang hanya mengusahakan sawahnya dengan hasil 5,1 ton/ha. Dar ipada seperti itu lebih baik sawahnya diserahkan ke BUMN. Targetnya BUMN akan me ngerjakannya secara intensif dan akan menghasilkan sekitar 6,7 ton/ha. Petaninya untung, negara pun memiliki produksi beras yang cukup. Sedangkan program Food Estate adalah pembukaan sawah baru 100.000 ha di Kalimant an Timur yang kini lagi dalam tahap persiapan pengadaan lahan. Terobosan harus banyak dibuat, di jalan tol maupun di sawah.