Anda di halaman 1dari 2

Aqidah Asy’ariyah

Jan 23rd, 2009 by wiemasen.

Paham Asy’ari atau Aqidah Asy’ariyah, adalah sebuah sistem tauhid yang disusun
oleh Abu al-Hasan al-Asy’ari. Nama lengkap beliau adalah Abul Hasan Ali bin
Ismail. Beliau adalah keturunan kesekian dari sahabat nabi yang agung, Abu Musa
Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu. Beliau lahir di kota Bashrah pada tahun 270
hijriyah.

Pemikiran Al-Asy’ari dalam masalah Aqidah

Ada tiga periode dalam hidupnya yang berbeda dan merupakan perkembangan ijtihadnya
dalam masalah aqidah.

Periode Pertama

Beliau hidup di bawah pengaruh Al-Jubbai, syeikh aliran Mu’tazilah. Bahkan sampai
menjadi orang kepercayaannya. Periode ini berlangsung kira-kira selama 40-an
tahun. Periode ini membuatnya sangat mengerti seluk beluk aqidah muktazilah,
hingga sampai pada titik kelemahannya dan kelebihannya.

Periode Kedua

Beliau berbalik pikiran yang berseberangan paham dengan paham-paham muktazilah


yang selama ini telah mewarnai pemikirannya. Hal ini terjadi setelah beliau
merenung dan mengkaji ulang semua pemikiran muktazilah selama 15 hari. Selama
hari-hari itu, beliau juga beristikharah kepada Allah SWT untuk mengevaluasi dan
mengkritik balik pemikiran aqidah muktazilah. Di antara pemikirannya pada periode
ini adalah beliau menetapkan 7 sifat untuk Allah SWT lewat logika akal, yaitu:
Al-Hayah (hidup)
Al-Ilmu (ilmu)
Al-Iradah (berkehendak)
Al-Qudrah (berketetapan)
As-Sama’ (mendengar)
Al-Bashar (melihat)
Al-Kalam (berbicara)

Sedangkan sifat-sifat Allah yang bersifat khabariyah, seperti Allah SWT punya
wajah, tangan, kaki, betis dan seterusnya, maka beliau masih menta’wilkannya.
Maksudnya beliau saat itu masih belum mengatakan bahwa Allah SWT punya kesemuanya
itu, namun beliau menafsirkannya dengan berbagai penafsiran. Logikanya, mustahil
Allah SWT yang Maha Sempurna itu punya tangan, kaki, wajah dan lainnya.

Periode Ketiga

Pada periode ini beliau tidak hanya menetapkan 7 sifat Allah, tetapi semua sifat
Allah SWT yang bersumber dari nash-nash yang shahih. Kesemuanya diterima dan
ditetapkan, tanpa takyif, ta’thil, tabdil, tamtsil dan tahrif. Beliau para periode
ini menerima bahwa Allah SWT itu benar-benar punya wajah, tangan, kaki, betis dan
seterusnya. Beliau tidak melakukan:
takyif:menanyakan bagaimana rupa wajah, tangan dan kaki Allah
ta’thil: menolak bahwa Allah punya wajah, tangan dan kaki
tamtsil: menyerupakan wajah, tangan dan kaki Allah dengan sesuatu
tahrif: menyimpangkan makna wajah, tangan dan kaki Allah dengan makna lainnya.

Pada periode ini beliau menulis kitabnya “Al-Ibanah ‘an Ushulid-diyanah.” Di


dalamnya beliau merinci aqidah salaf dan manhajnya.
Komentar Ibnu Taimiyah tentang Al-Asy’ari

Mereka yang beraqidah ini sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh al-Islam Ibnu
Taimiyah adalah paling dekat di antara yang lain kepada ahlussunnah wa al-jamaah.
Aliran mereka adalah polarisasi antara wahyu dan filsafat.

Barangkali di masa itu kebutuhan untuk menjawab tantangan aqidah dengan


menggunakan akal telah menjadi beban. Karena di masa itu sedang terjadi
penerjemahan besar-besaran pemikiran filsafat barat yang materialis dan rasionalis
ke dunia Islam. Sehingga dunia Islam mendapatkan tantangan hebat untuk bisa
menjawab argumen-argumen yang bisa dicerna akal.

Al-Asy`ari adalah salah satu tokoh penting yang punya peranan dalam menjawab
argumen kalangan ahli logika ketika menyerang aqidah Islam. Karena itulah metode
aqidah yang beliau kembangkan merupakan panggabungan antara dalil naqli dan aqli.

Bila dilihat dari kaca lain seperti di zaman di mana tantangan akal ini tidak lagi
mendominasi, bisa saja terasa agak janggal karena metode akal atau rasio yang
digunakan terasa kurang relevan lagi.

Karena itu wajar bila dikritisi lebih detail, ada saja hal-hal yang dirasa kurang
pas dan relevan lagi. Sebagian para pengkritik menyataskan bahwa paham As’ariyah
menyalahi ahlussunnah wa al-jamaah dalam lima belas masalah, salah satunya adalah
masalah asma’ dan sifat. Meski demikian, para pendukung mazhab Asy`ari juga punya
argumen yang membenarkan pendapat mereka.

Penyebaran Aqidah Asy-’ariyah

Aqidah ini menyebar luas di zaman wazir Nizhamul Muluk pada dinasti Saljuq dan
seolah menjadi aqidah resmi negara.

Semakin berkembang lagi di masa keemasan madrasah An-Nidzamiyah, baik yang ada di
Baghdad maupun di kota Naisabur. Madrasah Nizhamiyah yang di Baghdad adalah
universitas terbesar di dunia. Didukung oleh para petinggi negeri itu seperti Al-
Mahdi bin Tumirat dan Nuruddin Mahmud Zanki serta sultan Shalahuddin Al-Ayyubi.

Juga didukung oleh sejumlah besar ulama, terutama para fuqaha mazhab Asy-syafi’i
dan mazhab Al-Malikiyah periode akhir-akhir. Sehingga wajar sekali bila dikatakan
bahwa aqidah Asy-’ariyah ini adalah aqidah yang paling populer dan tersebar di
seluruh dunia.

Para Ulama yang Berpaham Asy-’ariyah

Di antara para ulama besar dunia yang berpaham aqidah ini dan sekaligus juga
menjadi tokohnya antara lain:
Al-Ghazali (450-505 H/ 1058-1111M)
Al-Imam Al-Fakhrurrazi (544-606H/ 1150-1210)
Abu Ishaq Al-Isfirayini (w 418/1027)
Al-Qadhi Abu Bakar Al-Baqilani (328-402 H/950-1013 M)
Abu Ishaq Asy-Syirazi (293-476 H/ 1003-1083 M)

Sumber

Artikel tanya jawab yang pernah dimuat di eramuslim.com oleh Ahmad Sarwat, Lc.