Anda di halaman 1dari 45

HUBUNGAN LAMANYA MENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 TERHADAP TINGKAT DEPRESI PADA PASIEN POLI PENYAKIT DALAM RSD

Dr. SOEBANDI JEMBER

PROPOSAL PENELITIAN SKRIPSI

Oleh Amalia Firdaus NIM 102010101014

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS JEMBER 2013

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii DAFTAR TABEL ..................................................................................................v BAB 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang .......................................................................................1 1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................3 1.3 Tujuan .....................................................................................................3 1.3.1 Tujuan Umum .....................................................................................3 1.3.2 Tujuan Khusus ....................................................................................3 1.4 Manfaat....................................................................................................3 BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Methanol ..................................................................................................5 2.1.1 Metabolisme Methanol ......................................................................5 2.1.2 Keracunan Methanol .........................................................................6 2.2 Ginjal ......................................................................................................8 2.2.1 Struktur Anatomi Ginjal ....................................................................9 2.2.2 Fisiologi Ginjal .................................................................................11 2.2.3 Histologi Ginjal ................................................................................16 2.2.4 Cedera Tubulus Proksimal ...............................................................16 2.2.5 Faktor yang Berpengaruh pada Kerusakan Ginjal ...........................17 2.3 Madu ......................................................................................................18 2.3.1 Karakteristik Madu ..........................................................................19 2.3.2 Komposisi Madu ..............................................................................20 2.3.3 Fungsi Madu .....................................................................................21 2.4 Radikal Bebas .......................................................................................21 2.5 Antioksidan ...........................................................................................22 2.6 Kerangka Konseptual Penelitian ........................................................23

2.7 Hipotesis ................................................................................................24 BAB 3. METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian......................................................................................25 3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ............................................................25 3.3 Populasi, Sampel, Besar Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel25 3.4 Rancangan Penelitian ...........................................................................26 3.5 Variabel Penelitian ...............................................................................27 3.5.1 Variabel Bebas ..................................................................................27 3.5.2 Variabel Terikat ................................................................................27 3.5.3 Variabel Terkendali ..........................................................................27 3.6 Definisi Operasional .............................................................................28 3.7 Alat dan Bahan .....................................................................................29 3.7.1 Alat ...................................................................................................29 3.7.2 Bahan ................................................................................................29 3.8 Prosedur Penelitian ..............................................................................29 3.8.1 Adaptasi Hewan Coba ......................................................................29 3.8.2 Pembagian Kelompok Perlakuan .....................................................30 3.8.3 Pelaksanaan Penelitian .....................................................................30 3.9 Analisis Data .........................................................................................32 3.10 Alur Penelitian ....................................................................................33 DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................34

DAFTAR TABEL

Halaman 2.1 2.1 2.1 2.2 Klasifikasi Etiologi Diabetes Melitus .............................................................6 Diagnosis Diabetes Melitus ............................................................................8 Faktor Resiko Diabetes Melitus .....................................................................8 Klasifikasi nilai BDI (Beck Depression Inventory) ........................................8

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah Diabetes Melitus (DM) adalah penyakit yang akhir-akhir ini semakin banyak dijumpai. Penyakit Diabetes Melitus juga sering disebut dengan istilah kencing manis atau penyakit gula darah. Penyakit ini termasuk jenis penyakit kronis yang tanda awalnya yaitu meningkatnya kadar gula dalam darah sebagai akibat adanya gangguan sistem metabolisme dalam tubuh. Organ tubuh yang terganggu adalah pankreas yang mana sudah tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Pankreas sudah tidak mampu memproduksi hormon insulin dalam memenuhi kebutuhan tubuh. Insulin adalah sejenis hormon jenis polipeptida yang dihasilkan oleh kelenjar pankreas. Fungsi utama insulin ialah untuk menjaga keseimbangan glukosa dalam darah dan bertindak meningkatkan pengambilan glukosa oleh sel badan. Kegagalan tubuh untuk menghasilkan insulin, atau jumlah insulin yang tidak mencukupi akan menyebabkan glukosa tidak dapat masuk ke dalam tubuh dan digunakan oleh sel-sel dalam tubuh (tidak terserap oleh sel-sel dalam tubuh). Dengan demikian glukosa meningkat di dalam darah menyebabkan berlakunya penyakit kencing manis juga dikenal sebagai DM sehingga banyak pakar menyebutkan bahwa DM merupakan gangguan metabolik yang secara genetis dan klinis termasuk heterogen dengan manifestasi berupa hilangnya toleransi glukosa (Price dan Wilson, 2006). DM tipe 2 merupakan salah satu tipe diebetes dimana terjadi resistensi atau kekurangan insulin yang terjadi akibat dari gangguan sekresi insulin bersama resistensi insulin disertai definisi insulin relatif. Berbeda dengan DM tipe 1, dimana tidak terjadi destruksi sel beta (Sudoyo,2009). Beberapa peneliti menunjukan jumlah peningkatan tertinggi pasien DM ternyata terdapat di asia tenggara, dimana salah satunya adalah Indonesia. World Health Organization (WHO) memperkirakan pada tahun 1995, jumlah pengidap

DM yang berusia di atas 20 tahun adalah sebesar 135,3 juta orang dan diperkirakan akan bertambah pada tahun 2025 menjadi 300 juta orang. Indonesia sendiri diprediksi menjadi peringkat ke lima sedunia pada tahun 2025 dengan jumlah penyandang DM sekitar 12,4 juta orang (Sudoyo,2009). Diabetes Melitus tipe 2 mendapat perhatian lebih dari para klinisi di Indonesia. Hal ini dikarenakan sebagian besar penyandang DM di Indonesia kebanyakan adalah penyandang DM tipe 2. Indonesia sendiri telah memasuki epidemi Diabetes tipe 2 dimana peningkatan pasien DM tipe 2 ini nampaknya disebabkan oleh perubahan gaya hidup dan urbanisasi (Perkeni, 2011). Depresi adalah suatu perasaan kesedihan yang psikopatologis, yang disertai perasaan sedih, kehilangan minat dan kegembiraan, berkurangnya energi yang menuju kepada meningkatnya keadaan mudah lelah yang sangat nyata sesudah bekerja sedikit saja, dan berkurangnya aktivitas. Depresi dapat merupakan suatu gejala, atau kumpulan gejala (sindroma), sedangkan tingkat depresi merupakan derajat kondisi emosional berkepanjangan yang mempengaruhi proses berpikir, berperasaan, dan berperilaku seseorang (Kusmanto, 1981). Salah satu dari penyebab dari depresi adalah faktor psikoanalitik dan psikodinamik dimana Freud menyatakan suatu hubungan antara kehilangan objek dan melankolis. Ia menyatakan bahwa kemarahan pasien depresi diarahkan kepada diri sendiri karena mengidentifikasikan terhadap objek yang hilang. Depresi sebagai suatu efek yang dapat melakukan sesuatu terhadap agresi yang diarahkan kedalam dirinya. Apabila pasien depresi menyadari bahwa mereka tidak hidup sesuai dengan yang dicita-citakannya, akan mengakibatkan mereka putus asa. Hal ini juga yang terjadi pada penderita DM tipe 2 dimana DM dapat menimbulkan perubahan psikologis antara lain perubahan konsep diri dan depresi. Stres psikologis dapat timbul pada saat seseorang menerima diagnosa DM. Mereka beranggapan bahwa DM akan banyak menimbulkan permasalahan seperti pengendalian diet serta terapi yang lama dan kompleks (Tarigan, 2003). Berdasarkan permasalahan dan fakta- fakta yang telah diuraikan di atas, penulis tertarik untu meneliti tentang Hubungan Lamanya Menderita Penyakit Diabetes

Melitus Tipe 2 Terhadap Tingkat Depresi Pada Pasien Poli Penyakit Dalam RSD Dr. Soebandi Jember .

1.2 Rumusan Masalah Permasalahan yang timbul dari uraian diatas adalah apakah ada hubungan lamanya menderita penyakit Diabetes Melitis Tipe 2 terhadap tingkat depresi pada pasien Poli Penyakit Dalam RSD Dr. Soebandi Jember.

1.3 Tujuan 1.3.1 Tujuan Umum Untuk mengkaji hubungan lamanya menderita penyakit Diabetes Melitis Tipe 2 terhadap tingkat depresi pada pasien Poli Penyakit Dalam RSD Dr. Soebandi Jember.

1.3.2

Tujuan Khusus a. Mengidentifikasi lamanya menderita penyakit Diabetes Melitus Tipe 2 pada pasien Poli Penyakit Dalam RSD DR. Soebandi Jember. b. Mengidentifikasi tingkat depresi penderita Diabetes Melitus Tipe 2 pada pasien Poli Penyakit Dalam RSD DR. Soebandi Jember. c. Menganalisa hubungan lamanya menderita penyakit Diabetes Melitis Tipe 2 terhadap tingkat depresi pada pasien Poli Penyakit Dalam RSD Dr. Soebandi Jember.

1.4 Manfaat Manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut : a. Dapat memberi pengalaman dan wawasan dalam metodelogi penelitian dan masalah-masalah tentang psikologis, khususnya depresi bagi peneliti.

b. Dapat dijadikan informasi ilmiah tentang hubungan lamanya menderita penyakit kronis seperti Diabetes Melitis Tipe 2 terhadap tingkat depresi, sebagai bahan pertimbangan dalam membantu pasien sehingga

mendapatkan rawat bersama. c. d. Dapat dijadikan masukan bagi pengembangan ilmu psikologi kedokteran dan sebagai dasar atau acuan penelitian selanjutnya. e. menambah informasi bagi petugas kesehatan tentang masalah fungsional dan mental khususnya depresi sebagai pertimbangan dalam merawat pasien.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Diabetes Melitus 2.1.1 Definisi Diabetes Melitus Diabetes Melitus (DM), menurut WHO didefinisikan sebagai suatu penyakit atau gangguan metabolisme kronis dengan multi etiologi yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah disertai dengan gangguan metabolism karbohidrat, lipid dan protein sebagai akibat dari insufisiensi insulin. Gangguan insufisiensi insulin dapat disebabkan oleh gangguan produksi insulin oleh sel-sel beta kelenjar pancreas atau disebabakan kurang responsifnya sel-sel tubuh terhadap insulin (Depkes,2005). Pengertian Diabetes Melitus lainnya menurut American Diabetes Assosiation (AHA) suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, gangguan kerja insulin atau keduanya yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf dan pembuluh darah (Hastuti,2008).

2.1.2 Patogenesis Diabetes Melitus merupakan penyakit yang disebabkan oleh adanya kekurangan insulin secara relatif maupun absolute. Defisiensi insulin dapat terjadi melalui 3 jalan, yaitu: a. Rusaknya sel-sel beta pancreas karena pengaruh dari luar (virus. kimia tertentu dan lain lain) b. Desensitasi atau penurunan reseptor glukosa pada kelenjar pancreas

c. Desensitasi/ kerusakan reseptor insulin di jaringan perifer (Soegondo dalam Hastuti, 2008)

2.1.3 Klasifikasi Tabel 2.1 Klasifikasi etiologi Diabetes Melitus Diabetes Melitus Tipe 1 Destruksi sel beta, umumnya menjurus ke defisiensi insulin absolute: Diabetes Melitus Tipe 2 Autoimun idiopatik mulai yang dominan

Bervariasi,

resistensi insulin relative sampai yang dominan defek sekresi insulin disertai resistensi insulin. Diabetes Melitus Tipe Lain defek genetik fungsi sel beta defek genetic kerja insulin penyakit eksokrin pancreas endokrinopati karena obat atau zat kimia infeksi sebab imunologi yang jarang sindroma genetic yang berkaitan dengan DM Diabetes Melitus Gestasional Diabetes Melitus Gestasional adalah keadaan diabetes atau intoleransi glukosa yang timbul selama masa kehamilan, dan biasanya berlangsung hanya sebentar. Sumber:Perkeni,2011

2.1.4 Patofisiologi Diabetes Melitus Tipe 2 Diabetes Melitus Tipe 2 bukan disebabkan oleh kurangnya sekresi insulin, namun karena sel-sel sasaran insulin gagal atau tidak mampu merespon insulin secara normal. Keadaan ini lazim disebut sebagai Resistensi Insulin. Resistensi Insulin terjadi akibat obesitas, kurang aktifitas fisik, dan penuaan. Pada penderita DM tipe 2 dapat terjadi produksi glukosa hepatic yang berlebihan namun tidak terjadi pengrusakan sel-sel beta pankreas Langerhans secara autoimun seperti DM tipe 1. Defisiensi fungsi insulin pada penderita DM tipe 2 bersifat relative tidak absolute (Depkes, 2005). Pada awal perkembangan Diabetes Melitus tipe 2, sel-sel beta Langerhans menunjukkan gangguan pada sekresi insulin tingkat pertama, artinya sekresi insulin gagal untuk mengkompensasi resistensi insulin. Apabila tidak ditangani dengan baik, maka perkembangan selanjutnya akan terjadi kerusakan sel-sel beta pancreas. Kerusakan sel- sel beta pancreas yang terjadi secara progresif seringkali akan mengakibatkan defisiensi insulin, sehingga akhirnya penderita memerlukan insulin eksogen. Pada Diabetes Melitus Tipe 2,memang umumnya ditemukan kedua factor tersebut, yaitu resistensi insulin dan defisiensi insulin (Depkes, 2005).

2.1.5 Gejala Gejala Diabetes Melitus dapat digolongkan menjadi gejala akut dan gejala kronis a. Gejala akut Gejalanya mungkin bervariasi antara satu penderita dengan penderita lain, atau bahkan tidak menunjukkan gejala apapun sampai pada waktu tertentu. 1. Pada permulaan gejala yaitu: - Banyak makan (Polipaghia) - Banyak minum (Polidipsi) - Banyak kencing (Poliuria)

2. Bila pada keadaan tersebut tidak segera diobati maka akan timbul gejala: Banyak makan Banyak minum Nafsu makan berkurang/ berat badan turun dengan cepat (turun 5-10 kg dalam waktu 2-4 minggu) Mudah lelah Bila tidak segera diobati, akan timbul rasa mual, bahkan penderita akan jatuh koma hal ini dinamakan koma diabetik. b. Gejala kronis - Kesemutan - Kulit terasa panas, atau seperti tertusuk tusuk jarum - Rasa tebal di kulit - Kram - Kelelahan - Mudah mengantuk - Mata kabur, biasanya sering berganti kacamata - Gatal disekitar kemaluan, terutama wanita - gigi mudah goyah - Kemampuan seksual menurun, bahkan impotensi - Pada ibu hamil, sering terjadi keguguran atau kematian janin dalam kandungan,atau bayi dengan berat badan lahir > 4 kg. (Darmono dalam Hastuti, 2008).

2.1.6 Diagnosis Seseorang yang didiagnosis menderita Diabetes Melitus bila hasil pengukuran kadar glukosa darah sewaktu > 200 mg/dl atau hasil pengukuran kadar glukosa darah puasa >126 mg/dl.

Glukosa plasma puasa setelah makan

Glukosa plasma 2 jam

Normal Pra diabetes IFG IGT Diabetes


Sumber : Depkes, 2005

<100 mg/dl

<140 mg /dl

100-125 mg/dl >126 mg/dl

140-199 mg/dl > 200mg/dl

2.1.7 Faktor Resiko Faktor resiko penyakit tidak menular dibedakan menjadi dua, yaitu factor resiko yang tidak dapat diubah dan faktor resiko yang dapat diubah. Faktor yang tidak dapat diubah Umur Jenis kelamin Factor genetik Faktor yang dapat diubah Pola hidup Status kesehatan Aktivitas fisik

2.1.8 Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Menurut Smeltzer dan Bare (2002), tujuan utama terapi diabetes adalah mencoba menormalkan aktivitas insulin dan kadar glukosa darah dalam upaya untuk mengurangi terjadinya komplikasi vaskuler serta neuropatik. Tujuan terapeutik pada setiap tipe diabetes adalah mencapai kadar glukosa darah normal (euglikemia) tanpa terjadinya hipoglikemia dan gangguan serius pada pola aktivitas pasien. Ada lima komponen dalam penalaksanaan diabetes mellitus antara lain : 1) Diet

Diet dan pengendalian berat badan merupakan dasar dari penatalaksanaan diabetes. Penatalaksanaan nutrisi pada penderita diarahkan untuk mencapai tujuan berikut ini : a) Memberikan semua unsur makanan esensial (misalnya vitamin dan mineral) b) Mencapai dan mempertahankan berat badan yang sesuai c) Memenuhi kebutuhan energi d) Mencegah fluktuasi kadar glukosa darah setiap harinya dengan mengupayakan kadar glukosa darah mendekati normal melalui cara-cara yang aman dan praktis e) Menurunkan kadar lemak darah jika kadar ini meningkat 2) Latihan Latihan sangat penting dalam penatalaksanaan diabetes karena efeknya dapat menurunkan kadar glukosa darah dan mengurangi faktor resiko kardiovaskuler. Latihan akan menurunkan kadar glukosa darah dengan meningkatkan pengambilan glukosa oleh otot dan memperbaiki pemakaian insulin. Sirkulasi darah dan tonus otot juga diperbaiki dengan berolahraga. Latihan dengan membawa tahanan (resistance training) dapat meningkatkan lean body mass dan dengan demikian menambah laju metabolisme istirahat (resting metabolic rate). 3) Pemantauan Glukosa dan Keton Dengan melakukan pemantauan kadar glukosa darah secara mandiri (SMBG : self-monitoring of blood glucose), penderita diabetes kini dapat mengatur terapinya untuk mengendalikan kadar glukosa darah secara optimal. Cara ini memungkinkan deteksi dan pencegahan hipoglikemia serta hiperglikemia, dan berperan dalam menentukan kadar glukosa darah normal yang kemungkinan akan mengurangi komplikasi diabetes jangka panjang. 4) Terapi Insulin Pada diabetes tipe I, tubuh kehilangan kemampuan untuk memprodusi insulin. Dengan demikian, insulin eksogenus harus diberikan dalam jumlah tak terbatas. Pada diabetes tipe II, insulin mungkin diperlukan sebagai jangka panjang

untuk mengendalikan kadar glukosa darah jika diet dan obat hipoglikemia oral tidak berhasil mengontrolnya. Di samping itu, sebagian pasien diabetes tipe II yang biasanya mengendalikan kadar glukosa darah dengan diet dan obat oral kadang membutuhkan insulin secara temporer selama mengalami sakit, infeksi, kehamilan, pembedahan atau beberapa kejadian stress lainnya. Penyuntikan insulin sering dilakukan dua kali per hari (atau bahkan lebih sering lagi) untuk mengendalikan kenaikan kadar glukosa darah sesudah makan dan pada malam hari. Karena dosis insulin yang diperlukan masing masing pasien ditentukan oleh kadar glukosa dalam darah, maka pemantauan kadar glukosa yang akurat sangat penting. Pemantauan mandiri kadar glukosa darah telah menjadi dasar dalam memberikan terapi insulin. 5) Pendidikan Diabetes mellitus merupakan sakit kronis yang memerlukan perilaku penanganan mandiri yang khusus seumur hidup. Karena diet, aktivitas fisik dan stres fisik serta emosional dapat mempengaruhi pengendalian diabetes, maka pasien harus belajar untuk mengatur keseimbangan berbagai faktor. Pasien tidak hanya dituntut terampil merawat diri sendiri, tetapi juga harus memiliki perilaku preventif dalam gaya hidup agar terhindar dari komplikasi diabetik jangka panjang. Penghargaan pasien tentang pentingnya pengetahuan dan keterampilan yang harus dimiliki oleh penderita diabetes dapat membantu dalam melakukan pendidikan dan penyuluhan.

2.1.8 Komplikasi Diabetes Mellitus Bilous (2002) menyebutkan bahwa komplikasi dari diabetes dapat terjadi pada semua organ atau semua sistem tubuh, misalnya saraf, jantung, pembuluh darah, ginjal, mata, otak, dan lain-lain yaitu: 1) Kerusakan Saraf (Neuropati) Kerusakan saraf adalah komplikasi diabetes yang paling sering terjadi. Gula darah yang tinggi akan melemahkan dan merusak dinding pembuluh darah kapiler yang memberi makan ke saraf, sehingga terjadi kerusakan saraf yang disebut

Neuropati Diabetik (Diabetic Neuropathy). Akibatnya adalah saraf tidak bisa mengirim atau menghantar pesan-pesan rangsangan impuls saraf, salah kirim atau terlambat kirim, keluhan yang timbul bisa bervariasi, mungkin nyeri pada tangan dan kaki, atau gangguan pencernaan, bermasalah dengan kontrol buang air besar atau kencing, dan sebagainya. 2) Kerusakan Ginjal (Nefropati) Kerusakan saringan ginjal timbul akibat glukosa darah yang tinggi (umumnya diatas 200 mg/dl), lamanya diabetes, yang diperberat oleh tekanan darah yang tinggi (tekanan darah sistolik diatas 130 mg dan diastolik diatas 85 mg). Makin lama kena diabetes, maka semakin mudah pasien mengalami kerusakan ginjal. 3) Kerusakan Mata Penyakit diabetes bisa merusak mata, dan menjadi penyebab utama dari kebutaan. Ada tiga penyakit utama pada mata yang disebabkan oleh diabetes, yaitu retinopati, katarak, dan glaukoma. Ketiganya bisa dicegah atau diperbaiki bila ditemukan pada tahap awal penyakit. 4) Penyakit Jantung Diabetes dapat menyebabkan berbagai penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler), antara lain angina (nyeri dada atau chest pain), serangan jantung (acute myocardial infarction), tekanan darah tinggi, dan penyakit jantung koroner. Diabetes merusak dinding pembuluh darah, yang menyebabkan penumpukan lemak di dinding yang rusak tadi dan menyempitkan pembuluh darah. Akibatnya
suplai darah ke otot jantung berkurang, tekanan darah meningkat, dan dapat terjadi kematian mendadak.

5) Hipertensi Hipertensi atau tekanan darah tinggi jarang memberikan keluhan yang dramatis seperti kerusakan mata atau kerusakan ginjal. Orang diabetes cenderung terkena hipertensi dua kali lipat dibandingkan dengan yang tanpa diabetes. Hipertensi merusak pembuluh darah, antara 35 sampai 75 persen komplikasi diabetes adalah disebabkan hipertensi. 6) Stroke

Dasar timbulnya stroke adalah terjadinya arteriosklerosis atau penyempitan pembuluh darah di otak. Dimulai dari proses inflamasi atau radang, diikuti dengan penumpukan lemak, perlekatan dan penggumpalanm sel darah lekosit dan trombosit, serta kolagen dan jaringan ikat lain pada dinding pembuluh darah, selanjutnya timbul penyumbatan serta tidak ada suplai makanan dan oksigen ke jaringan, sehingga terjadi kematian sel otak. 7) Impotensi Kebanyakan impotensi pada pria diabetes disebabkan oleh gula darah yang tinggi atau lebih lama mengidap diabetes. Penyempitan pembuluh darah akan mengganggu aliran darah untuk mengisi penis. Apabila saraf juga mengalami kerusakan, tidak dapat menghantar impuls pengisian darah ke dalam pembuluh darah kecil di dalam penis, maka penis menjadi lemas dan gagal untuk ereksi.

2.2 Depresi 2.2.1 Definisi Depresi Depresi adalah suatu periode yang berhubungan dengan perasaan sedih atau mudah tersinggung yang ditandai gangguan tidur, apatis, gangguan psikomotor, penurunan konsentrasi, mudah lelah, putus asa, tidak berdaya, dan selalu berpikir untuk bunuh diri. Menurut WHO depresi adalah gangguan mental umum yang ditandai perasaan sedih, hilangnya minat, merasa bersalah, merasa dirinya tidak berharga, gangguan tidur, energi berkurang, dan penurunan konsentrasi (Kaplan, 2007;WHO,2006). Depresi adalah gangguan perasaan atau mood yang disertai komponen psikologi berupa sedih, susah, tidak ada harapan dan putus asa disertai komponen biologis atau somatik misalnya anoreksia, konstipasi dan keringat dingin. Depresi dikatakan normal apabila terjadi dalam situasi tertentu, bersifat ringan dan dalam waktu yang singkat. Bila depresi tersebut terjadi di luar kewajaran dan berlanjut maka depresi tersebut dianggap abnormal (Atkinson et all, 1993). Maramis (2005) memasukkan depresi sebagai gangguan afek dan emosi. Afek ialah nada perasaan, menyenangkan atau tidak (seperti kebanggaan,

kekecewaan, kasih sayang), yang menyertai suatu pikiran dan biasanya berlangsung lama serta kurang disertai oleh komponen fisiologis. Sedangkan emosi merupakan manifestasi afek keluar dan disertai oleh banyak komponen fisiologis, biasanya berlangsung relative tidak lama (misalnya ketakutan, kecemasan, depresi dan kegembiraan). Afek dan emosi dengan aspek-aspek yang lain seorang manusia (umpama proses berpikir, psikomotor, persepsi, ingatan) saling mempengaruhi dan menentukan tingkat fungsi dari manusia itu pada suatu waktu.

2.2.2 Epidemiologi Depresi Depresi merupakan gangguan umum pada masa usia lanjut dengan prevalensi 25% pada usia 60 tahun keatas. Prevalensi seseorang untuk menderita depresi seumur hidupnya adalah 42% untuk pria dan 25 % pada wanita (Surelina,2003).

2.2.3 Etiologi Depresi Kaplan & Saddock pada tahun 1997 menyatakan bahwa sebab depresi dapat ditinjau dari beberapa aspek, antara lain: aspek biologi, aspek genetik, aspek psikologi dan aspek lingkungan sosial. 1) Aspek biologi Penyebabnya adalah gangguan neurotransmiter di otak dan gangguan hormonal. Neurotransmiter antara lain dopamin, histamin, dan noradrenalin. a) Dopamin dan norepinefrin Keduanya berasal dari asam amino tirosin yang terdapat pada sirkulasi darah. Pada neuron dopaminergik, tirosin diubah menjadi dopamin melalui 2 tahap: perubahan tirosin menjadi DOPA oleh tirosin hidroksilase (TyrOH). DOPA tersebut akan diubah lagi menjadi dopamin (DA) oleh enzim dopamin beta hidroksilase (DBH-OH). Pada jaringan interseluler, DA yang bebas yang tidak disimpan pada vesikel akan dioksidasi oleh enzim

MAO menjadi DOPAC. Sedangkan pada jaringan ekstraseluler (pada celah sinap) DA akan menjadi HVA dengan enzim MAO dan COMT. b) Serotonin Serotonin yang terdapat pada susunan saraf pusat berasal dari asam amino triptofan, proses sintesis serotonin sama dengan katekolamin, yaitu masuknya triptofan ke neuron dari sirkulasi darah, dengan bantuan enzim triptofan hidroksilase akan membentuk 5-hidroksitriptofan dan dengan dekarboksilase akan membentuk 5-hidroksitriptamin (5-HT). 2) Aspek genetik Pola genetik penting dalam perkembangan gangguan mood, akan tetapi pola pewarisan genetik melalui mekanisme yang sangat kompleks, didukung dengan penelitian-penelitian sebagai berikut: a) Penelitian keluarga Dari penelitian keluarga secara berulang ditemukan bahwa keturunan pertama dari penderita gangguan bipoler I berkemungkinan 8-18 kali lebih besar dari keturunan pertama subjek kontrol untuk menderita gangguan bipoler I dan 2-10 kali lebih mungkin untuk menderita gangguan depresi berat. Keturunan pertama dari seorang penderita berat berkemungkinan 1,5-2,5 kali lebih besar daripada sanak keluarga turunan pertama subjek kontrol untuk menderita gangguan bipoler I dan 2-3 kali lebih mungkin menderita depresi berat. b) Penelitian adopsi Penelitian ini telah mengungkapkan adanya hubungan faktor genetik dengan gangguan depresi. Dari penelitian ini ditemukan bahwa anak biologis dari orang tua yang menderita depresi tetap beresiko menderita gangguan mood, bahkan jika mereka dibesarkan oleh keluarga angkat yang tidak menderita gangguan.

c) Penelitian kembar Penelitian terhadap anak kembar menunjukkan bahwa angka kesesuaian untuk gangguan bipoler I pada anak kembar monozigotik 33-90 persen;

untuk gangguan depresi berat angka kesesuaiannya 50 persen. Sebaliknya, angka kesesuaian pada kembar dizigotik adalah kira-kira 5-25 persen untuk gangguan bipoler I dan 10-25 persen untuk gangguan depresi berat. 3) Aspek psikologi Sampai saat ini tak ada sifat atau kepribadian tunggal yang secara unik mempredisposisikan seseorang kepada depresi. Semua manusia dapat dan memang menjadi depresi dalam keadaan tertentu. Tetapi tipe kepribadian dependen-oral, obsesif-kompulsif, histerikal, mungkin berada dalam resiko yang lebih besar untuk mengalami depresi daripada tipe kepribadian antisosial, paranoid, dan lainnya dengan menggunakan proyeksi dan mekanisme pertahanan mengeksternalisasikan yang lainnya. Tidak ada bukti hubungan gangguan kepribadian tertentu dengan gangguan bipolar I pada kemudian hari. Tetapi

gangguan distimik dan gangguan siklotimik berhubungan dengan perkembangan gangguan bipoler I di kemudian harinya. 4) Aspek lingkungan sosial Berdasarkan penelitian, depresi dapat membaik jika klinisi mengisi pada pasien yang terkena depresi suatu rasa pengendalian dan penguasaan lingkungan.

2.2.4 Patofisiologi Depresi Patofisiologi depresi sangatlah kompleks, para ahli seringkali

menggunakan lebih dari satu pendekatan untuk menjelaskannya. Pendekatan secara endokrinologis dan imunologis dijelaskan oleh Guyton yaitu setelah stressor diketahui maka stressor tersebut mempengaruhi system tubuh kita. Salah satu mekanismenya yaitu dengan peningkatan Adrenocorticotropic Hormon (ACTH) oleh kelenjar hipofisis anterior. Adanya stress dapat merangsang hipotalamus untuk mengeluarkan faktor pelepas kortikotropin/Corticotrophin Releasing Factor (CFR), selanjutnya CRF desekresikan ke dalam pleksus kapiler utama dari sistem portal hipofisis di puncak media hipotalamus dan kemudian dibawa ke kelenjar hipofisis anterior, dimana CRF ini akan merangsang sekresi

ACTH. Bila tidak ada CRF, maka kelenjar hipofisis anterior ini hanya dapat mensekresi sedikit ACTH (Guyton dan Hall, 2005). Perangsangan dalam dalam waktu panjang pada korteks adrenal oleh ACTH tidak hanya meningkatkan aktivitas sekresinya, tetapi juga menyebabkan hipertrofi dan proliferasi sel-sel adrenokortikal, khususnya pada zona fasiculata dan retikularis, tempat kortisol dan androgen disekresikan. Dari sekresi ACTH oleh perangsangan CRF akan dihasilkan kortisol olek korteks adrenal, sehingga akan terjadi glikolisis. Glukosa yang dihasilkan dari glikolisis inilah yang digunakan sebagai energi untuk kebutuhan pada stress yang lebih besar. Proses ini akan berlangsung terus sampai ada mekanisme yang segera mengatasi stressor yang muncul.jika terlalu lama maka cadangan glukosa akan habis, sehingga timbullah tanda-tanda sakit (Guyton dan Hall, 2005). Selain itu akan terjadi perubahan ukuran organ-organ limfoid dan perubahan jumlah sel darah putih dalam darah sehingga meningkatkan resiko menderita penyakit tertentu (Davidson et al,2004 ).

2.2.5 Penurunan Aktivitas Sistem Neurotransmiter Norepinefrine dan Serotonin Sebagai Penyebab Depresi Dari banyak bukti yang dikumpulkan, terlihat bahwa depresi mungkin disebabkan oleh berkurangnya pembentukan norepinefrin atau serotonin atau keduanya. Pasien yang depresi mengalami gejala rasa sedih, tidak bahagia, putus asa dan sengsara. Selain itu, mereka kehilangan nafsu makan dan dorongan seksualnya serta mengalami insomnia yang berat. Sejumlah neuron yang mensekresi norepinefrin terletak di batang otak, terutama pada lokus serules. Mereka mengirimkan serat-seratnya ke atas menuju sebagian besar system limbic, thalamus, dan korteks serebri. Selain itu ada banyak neuron yang menghasilkan serotonin terletak di nuclei rafe garis tengah pada bagian bawah pons dan medulla, dan serat-serat yang menonjol ke banyak area system limbik dan ke beberapa area lain pada otak.

Alasan utama untuk mempercayai bahwa depresi disebabkan oleh penurunan aktivitas system norepinefrin dan serotonin, seperti reserpin seringkali menyebabkan depresi. Sebaliknya, sekitar 70 % pasien yang depresi dapat diobati secara efektif dengan obat yang meningkatkan efek eksitasi norepinefrin dan serotonin pada ujung saraf, sebagai contoh, (1) inhibitor monoamine okside,yang menghambat penghancuran norepinefrin dan serotonin ketika keduanya

terbentuk;(2) antidepresan trisiklik, seperti imipramin dan amitriptilin, yang menghambat pengambilan kembali norepinefrin dan serotonin oleh ujung-ujung saraf, sehingga transmitter-transmiter ini tetap aktif untuk jangka waktu yang lam setelah disekresi ;(3) golongan obat baru yang meningkatkan kerja serotonin saja, seringkali lebig sedikit menimbulkan efek samping. Depresi mental dapat juga diobati secara efektif dengan terapi elektrokonfulsif. Pada terapi ini, syok listrik digunakan untuk menghasilkan kejang umum yang mirip dengan serangan epilepsy. Hal ini juga telah memperlihatkan penguatan efisiensi penjalaran norepinefrin. Beberapa pasien penderita depresi mental bentuk lain, yaitu antar keadaan depresi dan mania, yang disebut bipolar dan psikosis manik-depresif, dan lebih sedikit lagi pasien yang memperlihatkan episode mania tanpa episode depresif. Obat-obat yang mengurangi pembentukan atau menurunkan kerja norepinefrin dan serotonin, seperti senyawa lithium, dapat menjadi obat yang efektif dalam mengobati kondisi mania.

2.2.6 Jenis-jenis Depresi Pada umunya depresi dapat dibedakan dalam tiga jenis yaitu: a. Depresi Reaktif Merupakan depresi yang timbul sebagai reaksi dari suatu bencana dalam hidup yang merupakan trauma psikis dan lansung muncul setelah trauma berlangsung. b. Depresi Neurotis

Merupakan depresi yang timbul oleh mekanisme pertahanan diri dan pelarian diri yang keliru yang kemudian muncul banyak konflik intrapsikis misalnya depresi pada usia puber. c. Depresi Psikogen Merupakan depresi yang disebabkan oleh kesalahan dalam mengolah yang patologis sifatnya dari peristiwa-peristiwa yang dialami sendiri oleh pribadi yang bersangkutan (Kartono, 2006).

2.2.7

Gejala Klinis Menurut Setyonegoro (1991), gejala klinis depresi terdiri dari:

1) Simptom psikologi: a) Berpikir: kehilangan konsentrasi, lambat dan kacau dalam berpikir, pengendalian diri, ragu-ragu, harga diri rendah. b) Motivasi: kurang minat bekerja dan lalai, menghindari kegiatan kerja dan sosial, ingin melarikan diri. c) Perilaku: lambat, mondar-mandir, menangis, mengeluh. 2) Simptom biologi: a) Hilang nafsu makan atau bertambah nafsu makan. b) Hilang libido. c) Tidur terganggu. d) Lambat atau gelisah. Menurut Maslim (2001) dalam Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia (PPDGJ III), kriteria depresi didefinisikan sebagai suatu bentuk gangguan mood yang ditandai dengan: a. Gejala utama Afek depresif (kekecewaan, hilangnya kasih sayang) Kehilangan minat dan kegembiraan Berkurangnya energi yang menuju pada keadaan mudah lelah dan menurunnya aktivitas. b. Gejala lainnya

Konsentrasi dan perhatian berkurang Harga diri dan kepercayaan diri berkurang Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna Pandanga masa depan yang suram Perbuatan yang membahayakan diri sendiri atau bunuh diri Adanya gangguan pola tidur Menurunnya nafsu makan.

2.2.8

Diagnosis Depresi Diagnosis depresi biasanya ditegakkan berdasarkan tanda-tanda dan gejala

serta riwayat depresi sebelumya. Untuk membantu menentukan diagnosis depresi, menggunakan Beck Depression Inventory dengan cara mengajukan pertanyaan tertulis yang diarahkan secara verbal oleh penanya (Kaplan, 2007). a. Depresi Ringan 1. Sekurang-kurangnya ada 2 gejala utama 2. Ditambah sekurang-kurangnya 2 gejala lain 3. Tidak boleh ada gejala yang berat diantaranya 4. Seluruh episode berlangsung sekurang-kurangnya sekitar 2 minggu 5. Hanya sedikit kesulitan dalam pekerjaan dalam pekerjaan dan kegiatan sosial yang biasa dilakukannya. b. Depresi Sedang 1. Sekurang-kurangnya ada 2 gejala utama 2. Ditambah sekurang-kurangnya 3 gejala lain 3. Seluruh episode berlangsung minimal 2 minggu 4. Individu biasanya mengalami kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan, dan urusan rumah tangga. c. Depresi Berat 1. Harus ada 3 gejala utama 2. Ditambah sekurang-kurangnya 4 gejala lain 3. Retardasi psikomotor yang berat

4. Disertai waham, halusinasi atau stupor depresif 5. Episode depresif berlangsung sekurang-kurangnay 2 minggu, akan tetapi bila gejala amat berat dan beronset sangat cepat maka boleh menegakkan diagnosis kurang dari dua minggu. 6. Individu tidak mampu meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan atau urusan rumah tangga (Maslim, 2011).

2.2.9

BDI atau Beck Depression Inventory Beck Depression Inventory (BDI, BDI-II), dicipta oleh Dr. Aaron T. Beck,

adalah multiple-choice self-report inventory, instrument yang digunakan secara meluas untuk mengukur taraf keparahan depresi serta telah banyak teruji validitasnya oleh banyak peneliti.. Kuisioner versi terkini dibuat untuk individual berumur 13 dan ke atas, dan terdiri dari item berkaitan dengan simptom depresi dimana merupakan gambaran 6 karakteristik depresi dan 9 karakteristik yang disebutkan dalam DSM IV. BDI mengandung skala depresi yang terdiri dari 21 item yang menggambarkan 21 kategori, yaitu: 1. Perasaan sedih 2. Perasaan pesimis 3. Perasaan gagal 4. Perasaan tak puas 5. Perasaan bersalah 6. Perasaan dihukum 7. Membenci diri sendiri 8. Menyalahkan diri 9. Keinginan bunuh diri 10. Mudah menangis 11. Mudah tersinggung 12. Menarik diri dari hubungan sosial 13. Tak mampu mengambil keputusan 14. Penyimpangan citra tubuh

15. Kemunduran pekerjaan 16. Gangguan tidur 17. Kelelahan 18. Kehilangan nafsu makan 19. Penurunan berat badan 20. Preokupasi somatik 21. Kehilangan libido (Bumberry, 1978). Klasifikasi nilainya menurut Bumberry (1978) adalah sebagai berikut:

NILAI / SKOR 0-9 10-15 16-23 24-63

KATEGORI DEPRESI Tidak ada depresi Depresi Ringan Depresi Sedang Depresi Berat

2.3 Hubungan Diabetes Melitus dengan Depresi

2.4 Hipotesis Penelitian Ada hubungan lamanya menderita penyakit Diabetes Melitis Tipe 2 terhadap tingkat depresi pada pasien Poli Penyakit Dalam RSD Dr. Soebandi Jember.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1

Rancangan Penelitian Metode Penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan desain penelitian

korelasional dan pendekatan cross sectional serta menggunakan teknik pengumpulan data dengan metode survei . Pendekatan cross sectional adalah jenis penelitian yang menekaknkan pada waktu pengukuran atau observasi data variabel independen (bebas) dan dependen (terikat) hanya satu kali, pada suatu saat. Pada jenis ini variabel independen dan dependen dinilai secara simultan pada suatu saat, jadi tidak ada follow up (Nursalam,2006). Menurut Gempur (2009), penelitian korelasional merupakan penelitian yang dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui ada tidaknya dan besar kecilnya hubungan suatu variabel. Menurut Nan Lin (2009), Teknik pengumpulan data dengan metode survei adalah suatu metode pengumpulan data yang mengunakan instrumen kuesioner atau wawancara untuk mendapatkan tanggapan dari responden yang disampel.

3.2 3.2.1

Populasi dan Sampel Populasi Populasi penelitian adalah seluruh pasien dengan diagnosis Diabetes

Melitus Tipe 2 yang melakukan pengobatan di Poli Penyakit Dalam Rumah Sakit Dr. Soebandi Jember. 3.2.2 Sampel Sampel untuk penelitian adalah seluruh pasien dengan diagnosis Diabetes Melitus Tipe 2 melakukan pengobatan di Poli Penyakit Dalam Rumah Sakir Dr. Soebandi Jember yang ada pada waktu diadakan penelitian.

3.2.3 Teknik Pengambilan Sampel Teknik pengambilan kasus dan control dalam penelitian ini adalah dengan cara non probability sampling dengan metode Consecutive sampling. Yaitu semua objek yang berkunjung ke Poli Penyakit Dalam dan memenuhi kriteria pemilihan dimasukkan dalam penelitian, sampai semua jumlah subjek yang diperlukan terpenuhi (Budiarti,2002,Sastroasmoro,2002). 3.2.4 Besar Sampel

3.2.5 Kriteria Inklusi Kriteria Inklusi ialah seluruh pasien dengan diagnosis Diabetes Melitus Tipe 2 yang ada pada waktu diadakan penelitian, melakukan pengobatan di Poli Penyakit Dalam Rumah Sakir Dr. Soebandi Jember dan bersedia untuk mengisi kuisioner.

3.2.6 Kriteria Eksklusi Kriteria Inklusi ialah seluruh pasien dengan diagnosis Diabetes Melitus Tipe 2 yang ada pada waktu diadakan penelitian, melakukan pengobatan di Poli Penyakit Dalam Rumah Sakir Dr. Soebandi Jember dan tidak bersedia untuk mengisi kuisioner.

3.3 3.3.1

Variabel Penelitian Variabel Bebas Variable bebas dalam penelitian ini adalah lamanya pasien menderita

Diabetes Melitus Tipe 2.

3.3.2

Variabel Terikat Variabel terikat dalam penelitian ini adalah tingkat depresi yang dialami

oleh pasien penderita Diabetes Melitus Tipe 2.

3.4

Instrumen Penelitian Instrument penelitian ini adalah lembar pengumpul data berupa kuisioner.

Kuisioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang dibaca dan dijawab oleh responden penelitian (Sitiatava, 2012).

3.5

Tempat dan Waktu Penelitian Tempat : Poli Penyakit Dalam RSD Dr. Soebandi, Jember Waktu : ?

3.6 -

Definisi Operasional Diabetes Melitus adalah kelainan metabolis yang disebabkan oleh defisiensi sekresi hormone insulin, aktivitas insulin, atau keduanya, dengan gejala berupa hiperglisemia kronis dan gangguan metabolism karbohidrat, lemak, dan protein. Diabetes Melitus tipe 2 adalah diabetes yang diakibatkan oleh defisiensi sekresi insulin, seringkali disertai resistensi insulin dimana menurut
American Diabetes Association (2005), Diabetes Mellitus tipe 2 ini hanya dapat diterapi dengan mengendalikan kadar glukosa agar tetap pada kisaran normal dengan pengobatan seumur hidup.

Lamanya menderita Diabetes Melitus Tipe 2 ?

Depresi adalah gangguan alam perasaan (mood) yang ditandai dengan kemurungan dan kesedihan yang mendalam dan berkelanjutan sehingga hilangnya kegairahan hidup, tidak mengalami gangguan dalam menilai realitas (Reality Testing Ability, masih baik), kepribadian tetap utuh atau tidak mengalami keretakan kepribadian perilaku dapat terganggu tetapi dalam batas-batas normal (Hawari Dadang, 2006). Didiagnosis depresi jika memenuhi criteria diangnostik episode depresi ringan, sedang dan berat menurut PPDGJ-III.

Tingkat depresi pada penelitian ini dinilai dengan Depresi diukur dengan BDI (Becks Depression Inventory). Standar cut off point-nya menurut Bumberry (1978) adalah sebagai berikut:

1) Nilai 0-9 menunjukkan tidak ada gejala depresi. 2) Nilai 10-15 menunjukkan adanya depresi ringan. 3) Nilai 16-23 menunjukkan adanya depresi sedang. 4) Nilai 24-63 menunjukkan adanya depresi berat. Namun pada penelitian ini yang dinilai adalah skornya, bukan klasifikasi depresi itu sendiri.

3.7

Pengolahan Data Data yang telah terkumpul diolah dengan menggunakan komputer dengan

langkah- langkah sebagai berikut: 3.7.1 Cleaning

Memeriksa kembali lembar kuisioner yang telah diisi oleh responden jika terdapat jawaban ganda atau belum terjawab. Jika hal ini tidak dilakukan, dan terdapat jawaban ganda atau lembar observasi belum terisi, maka kuisioner tersebut gugur atau dibatalkan, karena peneliti tidak boleh mengisi jawaban sendiri. 3.7.2 Coding

Memberikan kode identitas responden untuk menjaga kerahasiaan identitasnya dan mempermudah proses penelusuran biodata responden jika

diperlukan, serta untuk mempermudah penyimpanan arsip data. Lalu, menetapkan kode untuk scoring jawaban responden atau hasil observasi yang telah dilakukan. 3.7.3 Scoring

Tahap ini dilakukan setelah ditetapkan kode jawaban. Sehingga, setiap jawaban responden atau hasil observasi dapat diberikan skor. 3.7.4 Entering

Memasukkan data ke dalam program komputer.

3.8 Analisis Data Setelah data terkumpul dilakukan tabulasi data dalam bentuk table dan di kelompokkan. Jawaban setiap pertanyaan akan diberi skor. Kemudian dilakukan

uji Spearman Rho untuk mengetahui hubungan Variabel Independen terhadap Variabel Dependen. Derajat kemaknaan = 0.05 artinya jika uji statistic menunjukkan p 0,05 maka ada hubungan yang signifikasi antara variabel Independen dengan Variabel Dependen.

3.9 Masalah Etika 3.9.1 Informed Consent (Lembar Persetujuan Responden)

Merupakan bentuk Persetujuan antara penelitian dan responden penelitian dengan memberikan lembar pesrsetujuan. Informed Consent tersebut diberikan sebelum penelitian dilakukan dengan memberikan lembar persetujuan untuk menjadi responden (Hidayat,2007). 3.9.2 Anonimity (Tanpa Nama)

Memberikan jaminan dalam penggunaan subjek penelitian dengan cara tidak memberikan atau mencantumkan nama responden pada lembar alat ukur dan hanya menuliskan kode pada lembar pengumpulan data atau hasil penelitian yang akan disajikan (Hidayat, 2007). Untuk menjaga kerahasiaan identitas subjek, peneliti tidak akan mencantumkan nama subjek pada lembar pengumpulan data (kuisioner) yang diisi oleh subjek. Lembar tersebut hanya diberi nomor kode tertentu. 3.9.3 Confidentiality (Kerahasiaan)

Memberikan jaminan kerahasiaan hasil penelitian, baik informasi maupun masalah-masalah lainnya. Semua informasi yang dikumpulkan dijamin

kerahasiaan oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan pada hasil riset (Hidayat, 2007).

3.10

Kerangka Kerja Penelitian

Kerangka kerja adalah pentahapan atau langkah-langkah dalam aktifitas ilmiah, mulai dari penetapan populasi, sampel, sampai penyajian hasil (Nursalam, 2005). Populasi Pasien Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 di Poli Penyakit Dalam RSD Dr. Soebandi, Jember

Sampel Pasien Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 di Poli Penyakit Dalam RSD Dr. Soebandi, Jember yang ada pada saat penelitian dan bersedia menjadi responden

Pengumpulan Data

Lamanya pasien menderita Penyakit Diabetes Melitus Tipe 2 (Survei)

Tingkat depresi (Survei)

Pengolahan Data (Cleaning, Coding, Scoring, Entering)

Penyajian Data

Analisis Data

Kesimpulan

Gambar 3.1 Kerangka Kerja Penelitian

DAFTAR PUSTAKA

Alimul, Aziz. 2007. Riset Keperawatan Dan Tehnik Penulisan Ilmiah. Jakarta: Salemba Medika Atkinson R.L. 1999. Pengantar Psikologi II, Edisi II, Batam : Interaksa. Bilous , R.W. 2002. Seri Kesehatan ; Bimbingan Dokter Pada Diabetes. Dian Rakyat : Jakarta. Departemen Kesehatan. 2005. Pharmaceutical Care untuk Penyakit Diabetes Mellitus Tipe 2. Guyton, A.C. and Hall, J.E., 2005. Textbook of Medical Physiology. 11 th ed. Philadelphia, PA, USA: Elsevier Saunders. Harrison. 1995. Prinsip-prinsip Ilmu Penyakit Dalam. Volume 3. Yogyakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. Hastuti, Rini Tri. 2008. Faktor-faktor Resiko Ulkus Diabetika Pada Penderita Diabetes Melitus (Studi Kasus RS Dr.Moewardi, Surakarta). Tesis Universitas Diponegoro. Hawari Dadang. Manajemen Stres Cemas dan Depresi. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2001. p. 3-11, 27-33, 56-61. Hidayat, A. Aziz A . 2003. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah. Jakarta : Salemba Medika Hidayat. 2007. Metodologi Penelitian keperawatan Dan Teknik Analisa Data. Jakarta: Salemba Medika Hidayat, A. Aziz A. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif. Surabaya : Health Books Publishing. Kesehatan Paradigma

Kaplan H.I, Sadok B.J.1997. Sinopsis Psikiatri, Edisi ketujuh, Jilid I, Binarupa Aksara, Jakarta. PERKENI. 2011. Konsensus pengelolaan dan pencegahan diabetes mellitus tipe 2 di Indonesia. FKUI RSCM. Jakarta. Kartono, Kartini. 2006. Psikologi Wanita 1: Mengenal Gadis Remaja & Wanita Dewasa. Mandar Maju. Bandung

Maslim R. 1996. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa. Rujukan Ringkasan dari PPGDJ-III, Jakarta. Nursalam. 2003. Konsep dan Metodelogi Penelitian Ilmu Keperawatan. Edisi Pertama. Jakarta; Salemba Medika. Pedoman Penggolongan Diagnostik Gangguan Jiwa (PPDGJ III), Direktorat Kesehatan Jiwa Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1993. Price, A. S dan Wilson, M. L. 1995. Patofisiologi Konsep Klinik Proses-proses Penyakit Edisi IV. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. Santoso, Gempur.2005. Metodologi Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Jakarta : Prestasi Pustaka. Setyonegoro, R.K. 1991. Anxietas dan Depresi suatu Tinjauan Umum tentang Diagnostik dan Terapi dala, Depresi: Beberapa Pandangan Teori dan Implikasi Praktek di Bidang Kesehatan Jiwa. Jakarta, pp: 1-16. Sudoyo, Aru W. 2009.Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : Interna Publishing. Tarigan CJ.2003. Perbedaan Depresi Pada Pasien Dispepsia Fungsional dan Dispepsia Organik. Sumatra Utara: Fakultas Kedokteran USU.

Lampiran LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN

Saya telah diminta dan memberikan persetujuan untuk berperan serta dalam penelitian yang berjudul Hubungan Lamanya Menderita Penyakit Diabetes Melitus Tipe 2 Terhadap Tingkat Depresi Pada Pasien Poli Penyakit Dalam RSD Dr. Soebandi Jember, yang dilakukan oleh: Nama Fakultas : Amalia Firdaus : Pendidikan Kedokteran Umum Universitas Jember

Pembimbing : 1. dr. Alif Mardijana, Sp.KJ 2. dr. Kristianningrum Dian Sofiana Saya mengerti bahwa resiko yang akan dating tida akan membahayakan saya, sserta berguna untuk meningkatkan pengetahuan serta kesadaran dalam penanggulangan depresi bagi penderita Diabetes Melitus Tipe 2. Namun saya berhak mengundurkan diri dari penelitian ini tanpa adanya sanksi atau kehilangan hak. Saya mengerti data atau catatan mengenai penelitian ini akan dirahasiakan. Semua berkas yang mencantumkan identitas saya hanya digunakan untuk pengolahan data dan apabila penelitian ini selesai data milik responden akan dimusnahkan. Demikian secara sukarela dan tanpa unsure paksaan dari siapaun saya bersedia berperan serta dalam penelitian ini. No Responden :..

Tanggal/Bulan/Tahun :..

Tanda tangan

()

PERNYATAAN BERSEDIA MENJADI RESPONDEN

Saya yang bertandatangan di bawah ini menyatakan bersedia menyatakan bersedia turut berpartisipasi sebagai responden dalam penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Fakultas Kedokteran Umum Universitas Jember yang diberi judul Hubungan Lamanya Menderita Penyakit Diabetes Melitus Tipe 2 Terhadap Tingkat Depresi Pada Pasien Poli Penyakit Dalam RSD Dr. Soebandi Jember. Tanda tangan saya menunjukan bahwa saya telah diberi informasi dan memutuskan untuk berpartisipasi dalam penelitian ini.

Tanda Tangan Tanggal/ Bulan / Tahun No. Responden (diisi Peneliti)

: : :

Petunjuk Pengisian: Berilah tanda CENTANG

() pada jawaban yang sesuai dengan yang

Bapak/Ibu/Saudara/I. rasakan saat ini.

Satu jawaban untuk 1(satu) soal SEMUA soal harus diisi.

A. Data Demografi 1. Jenis kelamin : Laki-laki Perempuan 2. Usia : .. Tahun

3. Agama : Islam Budha 4. Tingkat pendidikan : Tidak sekolah Perguruan Tinggi SD SD SMP Akademi/ Protestan Katholik Hindu

5. Pekerjaan : Pegawai Swasta Pegawai Negeri Sipil Wiraswasta Pensiunan Lainnya

6. Hubungan Dengan Keluarga : Istri/ Suami Ibu Ayah Anak

7. Lama Menderita Diabetes Mellitus Tipe 2 : Kurang dari 1 (satu) tahun 1(satu) -5 (lima ) tahun Lebih dari 5(Lima) tahun

B. Data Khusus Kuesioner Tingkat Depresi BDI (BECKS DEPRESSION INVENTORY)


1. Apakah saat ini anda merasa sedih? Saya tidak merasa sedih. Saya merasa sedih. Saya sedih sepanjang waktu dan tidak dapat mengubahnya. Saya begitu sedih atau tidak gembira sehingga saya sama sekali tidak suka. 2. Apakah harapan anda untuk masa depan? Saya tidak berkecil hati tentang masa depan. Saya merasa berkecil hati tentang masa depan. Saya merasa tidak memiliki apa-apa yang diharapkan. Saya merasa bahwa masa depan tidak ada harapan dan bahwa segalanya tidak dapat membaik. 3. Apakah anda merasa gagal? Saya tidak merasa gagal. Saya merasa telah gagal lebih dari rata-rata orang. Saat saya melihat masa lalu, semua yang dapat saya lihat adalah banyak kegagalan. Saya merasa saya adalah orang yang gagal total. 4. Apakah anda merasakan kepuasan dalam hidup ini? Saya mendapatkan banyak kepuasan dari banyak hal, seperti biasanya.

Saya tidak menikmati hal-hal seperti biasanya. Saya tidak lagi mendapat kepuasan sesungguhnya dari setiap hal. Saya tidak puas dan bosan dengan segala sesuatu. 5. Apakah anda merasa bersalah terhadap sesuatu? Saya tidak merasa bersalah. Saya merasa bersalah dalam sebagian kecil waktu. Saya merasa agak bersalah dalam sebagian besar waktu. Saya merasa bersalah sepanjang waktu. 6. Apakah kegagalan yang pernah anda alami sebagai hukuman? Saya tidak merasa sedang dihukum. Saya merasa mungkin dihukum. Saya perkirakan saya dihukum. Saya merasa saya sedang dihukum. 7. Apakah anda merasa kecewa dengan diri anda? Saya tidak merasa kecewa pada diri saya. Saya kecewa pada diri saya. Saya jijik dengan diri saya. Saya membenci diri saya. 8. Apakah anda masih mempunyai minat terhadap orang lain? Saya tidak kehilangan minat pada orang lain. Saya kurang berminat pada orang lain dibanding biasanya. Saya kehilangan sebagian besar minat saya pada orang lain. Saya kehilangan semua minat saya pada orang lain.

9. Apakah anda dapat membuat suatu keputusan? Saya membuat keputusan sebaik yang saya dapat. Saya menunda membuat keputusan lebih dari biasanya. Saya sangat sulit membuat keputusan dibanding biasanya. Saya tidak dapat membuat keputusan sama sekali. 10. Apakah anda merasa diri anda lebih buruk dari biasanya? Saya tidak merasa tampak lebih buruk dari biasanya/ Saya khawatir bahwa saya tampak tua atau tidak menarik. Saya merasa terdapat perubahan menetap pada penampilan saya yang membuat saya terlihat tidak menarik. Saya yakin bahwa saya tampak buruk. 11. Apakah anda bisa bekerja seperti biasanya? Saya dapat bekerja sebaik biasanya. Saya memerlukan usaha extra untuk memulai mengerjakan sesuatu. Saya harus sangat memaksa diri untuk melakukan sesuatu. Saya tidak dapat bekerja sama sekali. 12. Apakah anda bisa tidur dengan nyenyak? Saya dapat tidur sebaik biasanya. Saya lebih mudah lelap dibanding biasanya. Saya lelah setelah melakukan sebagian besar pekerjaan. Saya terlalu lelah untuk melakukan sesuatu. 13. Apakah anda mudah merasa lelah? Saya tidak merasa lelah lebih dari biasanya.

Saya lebih mudah lelah dibanding biasanya. Saya lelah setelah melakukan sebagian besar pekerjaan. Saya terlalu lelah untuk melakukan apapun. 14. Apakah nafsu makan anda berkurang? Nafsu makan saya tidak lebih buruk dari biasanya. Nafsu makan saya tidak sebaik biasanya. Nafsu makan saya jauh lebih buruk sekarang. Saya tidak mempunyai nafsu makan sama sekali. 15. Apakah anda selalu merasa bersalah? Saya tidak merasa lebih buruk dibanding dengan orang lain. Saya kritis terhadap diri saya untuk kelemahan atau kesalahan saya. Saya menyalahkan diri saya untuk kesalahan saya sepanjang waktu. Saya menyalahkan diri saya untuk setiap hal buruk yang terjadi. 16. Apakah anda ingin bunuh diri? Saya tidak terfikir untuk bunuh diri. Saya berfikir untuk bunuh diri tetapi tidak akan melakukannya. Saya ingin bunuh diri. Saya akan bunuh diri jika ada kesempatan. 17. Apakah saat ini merasakan gangguan pada kesehatan? Saya tidak lebih khawatir tentang kesehatan dibanding biasanya. Saya khawatir tentang masalah fisik seperti sakit dan nyeri atau gangguan lambung atau kontipasi (sulit buang air besar)

Saya sangat khawatir tentang masalah fisik, dan sulit untuk memikirkan banyak hal lain. Saya begitu khawatir tentang masalah fisik saya sehingga saya tidak dapay melakukan hal-hal lain. 18. Apakah anda selalu menangis? Saya tidak menangis lagi dibanding biasanya. Saya lebih banyak menangis sekarang dibandingkan biasanya. Saya menangis sepanjang waktu sekarang. Saya biasanya bisa menangis, tetapi sekarang saya tidak dapat menangis meskipun saya ingin. 19. Apakah anda masih mempunyai minat terhadap seks? Saya tidak memperhatikan adanya perubahan minat terhadap seks belakangan ini. Saya kurang tertarik terhadap seks dibanding biasanya. Saya sangat kurang tertarik terhadap seks sekarang. Saya benar-benar hilang minat terhadap seks. 20. Apakah saat ini anda merasa kesal? Sekarang saya tidak lebih kesal dibanding biasanya. Saya lebih mudah terganggu atau kesal dibanding biasanya. Sekarang saya merasa kesal sepanjang waktu. Saya tidak dibuat kesal sama sekali oleh hal-hal yang biasanya membuat saya kesal. 21. Apakah anda merasa berat badan anda menurun? Jika ada penurunan berat badan, saya tidak banyak

mengalaminya belakangan ini. Berat badan saya berkurang lebih dari 2,5 Kg. Berat badan saya berkurang lebih dari 5 Kg. Berat badan saya berkurang lebih dari 7,5 Kg.

TERIMA KASIH BANYAK ATAS PARTISIPASI ANDA

SKOR :