Anda di halaman 1dari 89

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN INDUSTRI KECIL MENENGAH

2002 – 2004

BUKU II

Program Pengembangan Industri Kecil Menengah

DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN RI

2003

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

Dengan memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, Buku II yang merupakan bagian dari Buku I Rencana Induk Pengembangan Industri Kecil Menengah (RIP-IKM) untuk masa pembangunan Tahun 2002 – 2004 telah selesai disusun.

Buku I berisi tentang Kebijakan dan Strategi Umum Pengembangan Industri Kecil Menengah yang disusun dengan tujuan sebagai pedoman umum yang berlaku secara nasional untuk digunakan sebagai arahan ke mana industri kecil menengah akan dikembangkan. Buku II adalah merupakan penjelasan serta penjabaran Buku I, dimana dalam buku ini lebih dibahas dengan rinci tentang hal-hal yang disinggung dalam Buku I. Dalam buku ini dibahas pengertian, prioritas, misi serta sasaran pengembangan komoditi prioritas secara lebih rinci.

Buku II memuat Program Pengembangan Industri Kecil Menengah yang terdiri dari 5 (lima) bab utama,yang terdiri atas :

Bab I

:

Memuat Perhitungan Target Kuantitatif Pengembangan Industri Kecil Menengah.

Bab II

:

Memuat Program Pengembangan Industri Kecil Menengah Penggerak Perekonomian Daerah.

Bab III

:

Memuat

Program

Pengembangan

Industri

Kecil

Menengah

 

Pendukung (Supporting Industry).

 

Bab IV

:

Memuat

Program

Pengembangan

Industri

Kecil

Menengah

 

Berorientasi Ekspor.

 

Bab V

:

Memuat Program Pengembangan Industri Kecil Menengah Inisiatif Baru.

Perlu sedikit diulas bahwa terdapat sedikit perbedaan angka-angka antara angka total

pada Buku I dan Buku II. Perbedaan angka yang

dimaksud adalah karena pada Buku I data diambil dari Buku Pengukuran dan Analisis Ekonomi Kinerja Penyerapan Tenaga Kerja, Nilai Tambah dan Ekspor Usaha Kecil Menengah serta Peranannya terhadap Tenaga Kerja Nasional dan Produk Domestik Bruto, hasil kerjasama Proyek Pengembangan Sistem Informasi Koperasi Usaha Kecil dan Menengah, Kantor Menteri Negara Urusan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah

dengan Badan Pusat Statistik Tahun 2001, sedangkan pada Buku II

PDB, unit usaha dan tenaga kerja,

digunakan data

yang bersumber dari Badan Pusat Statistik yang meliputi Survey Usaha Terintegrasi, Profil Usaha Kecil dan Menengah Tidak Berbadan Hukum, Statistik Industri Besar dan Sedang serta hasil monitoring Direktorat Jenderal Industri dan Dagang Kecil Menengah. Bahan-bahan tersebut diolah oleh Direktorat Jenderal Industri dan Dagang Kecil Menengah dalam rangka kebutuhan Buku II ini. Perbedaan terjadi karena Buku I

menyajikan PDB, unit usaha dan tenaga kerja, tetapi tidak dapat ditelusuri lebih lanjut untuk mendapatkan data-data menurut komoditi prioritas yang tingkatnya sudah sangat rinci.

Selanjutnya kepada semua pihak dan jajaran aparat terkait diharapkan menggunakan acuan program ini dalam melakukan upaya pengembangan industri kecil menengah sesuai dengan tugas dan misinya masing-masing.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu memberkati upaya kita dalam mengembangkan industri kecil menengah sehingga dapat mencapai sasaran yang dituju.

Amin.

Jakarta,

Maret 2003

MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN

RINI M SUMARNO SOEWANDI

DAFTAR ISI

Kata Pengantar…………………………………………………………………… i

iii

Daftar Tabel……………………………………………………………………… vi

Daftar Lampiran …………………………………………………………………. viii

Daftar Isi………………………………………………………………………….

BAB I.

PERHITUNGAN TARGET KUANTITATIF PENGEMBANGAN INDUSTRI KECIL DAN MENENGAH……………………….…

1

1.1 Pendahuluan ………………………………………………….

1

1.2 Simulasi Perhitungan Pertumbuhan IKM……………………

2

1.3 Perhitungan Target PDB, Unit Usaha, Tenaga Kerja dan Nilai Produksi IKM………………………………………………….

4

BAB II.

PROGRAM PENGEMBANGAN INDUSTRI KECIL MENENGAH PENGGERAK PEREKONOMIAN DAERAH….

8

2.1. Umum………

……………………………………

………

8

a. Pengertian, Ciri/Kriteria dan Lingkup Komoditi

Prioritas…

….………………

…………………….….

8

b. Misi Serta Tujuan …………………………………….

9

c. Target Group Pembinaan dan Pengembangan……

9

d. Kondisi Umum Saat Ini………

……………….………

9

e. Sasaran Pengembangan Tahun 2003 - 2004……………

10

f. Arah Pengembangan……………………………

……

11

g. Kebijakan Pengembangan………………………

…….

12

h. Strategi Pengembangan…………………………

…….

12

i. Program Pengembangan……………………………

13

2.2. Pengembangan IKM Penggerak Perekonomian Daerah Per

Kelompok Komoditi ………………………

………………

13

a. Industri Makanan Ringan ……

………………………

13

b. Industri Sutera Alam

…………………………………

15

c. Industri Penyamakan Kulit…….………………………

16

d. Industri Pengolahan Minyak Sawit (CPO-IKM)………

17

e. Industri Pupuk (Alam dan Organik)…………………

19

f. Industri Garam………………………………….……

21

g. Industri Genteng……………………………………….

22

h. Industri Alsintani dan Pande Besi………………………

23

i. Pengembangan Motorisasi Kapal Nelayan……….……

25

j. Industri Kapal

£100 GT……………

……………….

27

 

k. Industri Tenun Tradisional………………

……………

28

l. Industri Perhiasan……………………

……………….

30

m. Industri Kerajinan Anyaman………………….……….

32

BAB III.

PROGRAM PENGEMBANGAN INDUSTRI KECIL MENE- NGAH PENDUKUNG (SUPPORTING INDUSTRY)………… 34

3.1. Umum…………………………………………………….… 34

 

a. Pengertian, Ciri/Kriteria dan Lingkup Komoditi Prioritas………………………………………………. 34

b. Misi serta Tujuan…………………………………….

34

c. Target Group Pembinaan dan Pengembangan ………

35

d. Kondisi Umum Saat Ini

……………………………

35

e. Sasaran Pengembangan Tahun 2003-2004…………

36

f. Arah Pengembangan …………………………………

37

g. Kebijakan Pengembangan……………………………

38

h. Strategi Pengembangan………………………………

38

i. Program Pengembangan………………………………

39

j. Lokasi Pengembangan………………………………

40

3.2. Pengembangan Kelompok Industri Komoditi Terpilih….

41

 

a. Komponen KBM……………………………………

41

b. Mesin dan Peralatan Pabrik

………………………….

42

c. Elektronika…………………………………………… 43

d. Komponen (Barang Karet dan Plastik)……………….

44

BAB IV.

PROGRAM PENGEMBANGAN INDUSTRI KECIL MENE- NGAH BERORIENTASI EKSPOR………….……….………

45

4.1 Umum…………………………

……….…………………

45

 

a. Pengertian, Ciri/Kriteria dan Lingkup Komoditi Prioritas………………………………………………

45

b. Misi Serta Tujuan……………

……………………….

46

c. Target Group Pembinaan dan Pengembangan ………

46

d. Kondisi Umum Saat Ini ………………

……….……

46

e. Sasaran Pengembangan Tahun 2003-2004 ….…………

47

f. Arah Pengembangan ………………………………….

49

g. Strategi Pengembangan ………………………………

49

h. Program Pengembangan………………………….…

49

4.2 Pengembangan Kelompok Industri Komoditi Terpilih….

50

 

a. Industri Pengolahan Ikan……

………………………

50

b. Industri Kerupuk ………………………………

…….

52

c. Industri Barang Jadi Kulit…………………

…………

53

d. Industri Alas Kaki/Sepatu Kulit…………………

54

e. Industri Pakaian Jadi……………………………

……

55

f. Industri Barang Jadi Tekstil…………………

……….

56

g. Industri Minyak Atsiri

……………………

…………

57

h.

Industri Arang Kayu/Tempurung……………….…….

59

i. Industri Furniture Kayu/Rotan…

……….…………

60

j. Industri Batik………….……………….………………

62

k. Industri Perhiasan………………………………

…….

64

l. Industri Sulaman/Bordir………………….……………

65

m. Industri Mainan Anak…………………………

……

66

n. Industri Keramik/Gerabah……………………….…….

67

o. Industri Kerajinan Kayu……………………….………

69

p. Industri Kerajinan Anyaman ………………………….

70

BAB V.

PROGRAM PENGEMBANGAN INDUSTRI KECIL MENE- NGAH INISIATIF BARU….……………………………………

72

5.1. Umum………………………………………………………

72

a. Pengertian, Ciri/Kriteria dan Lingkup Komoditi Prioritas………………………………………………

72

b. Misi Serta Tujuan……………

…………

…………

72

c. Target Group Pembinaan dan Pengembangan .…

……

72

d. Kondisi Umum Saat Ini…………

………. …………

73

e. Sasaran Pengembangan Tahun 2003 – 2004………….

74

f. Arah Pengembangan…………………………………

75

g. Kebijakan Pengembangan…………………………….

75

h. Strategi Pengembangan………………………………

75

i. Program Pengembangan……………………………….

76

5.2. Pengembangan Kelompok Komoditi………………….…

76

a. Industri Software Komputer……………………

…….

76

b. Industri Pangan Pengaplikasi Bioteknologi

………….

78

c. Industri Kimia Hasil Pertanian / Perkebunan Pengaplikasi Bioteknologi

………………………

79

d. Industri Kimia Pemanfaat Limbah Pengaplikasi

Bioteknologi…………………………………………

80

BAB VI.

PENUTUP…………………………………………………………

81

LAMPIRAN – LAMPIRAN …………………………………………………

82

---------------------

BAB

I

PERHITUNGAN TARGET KUANTITATIF PENGEMBANGAN INDUSTRI KECIL MENENGAH

1.1

PENDAHULUAN

Repelita dari tahun 1965 sampai

dengan tahun 1999 tumbuh dengan laju rata-rata diatas 10%/tahun, hal ini selaras dengan pertumbuhan PDB ekonomi yang tumbuh dengan rata-rata 7%/tahun.

Pada periode ini negara tetangga ASEAN seperti Malaysia dan Thailand tumbuh dengan rata-rata 7,8% dan 7,2%. Krisis telah menekan pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan hebat

Sektor industri Indonesia selama enam

dimana

untuk

pertama

kalinya

sejak

30

tahun,

yaitu

pada

tahun

1998

perekonomian

terkontraksi

hingga

14,6%.

Namun

secara

berangsur-angsur

ekonomi Indonesia mampu membaik kembali walaupun belum dapat mencapai tingkat pertumbuhan sejauh 30 tahun yang lalu, disamping masih berfluktuasi. Tahun 2001 PDB Indonesia hanya tumbuh 3,98% atau lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan tahun 2000 yang mencapai 5,19%. Tahun 2002 pertumbuhan sedikit lebih baik dari tahun 2001 dan diharapkan pada tahun 2003 ekonomi Indonesia mampu tumbuh 5%. Peran PDB sektor industri terhadap PDB Nasional sedikit meningkat dari 25,24% naik menjadi 25,71% dan 26,01% pada tahun 1999, 2000 dan 2001. Namun hal ini tidak diikuti peningkatan peran PDB Industri Kecil Menengah (IKM). Peran PDB sektor ini hanya berkisar antara 38 hingga 39% pada tahun 1999 hingga tahun 2001, sektor industri perannya sangat didominasi oleh industri besar. Hingga saat ini sumbangan sektor industri besar sekitar 61% terhadap PDB sektor industri secara keseluruhan. Propenas 2000 – 2004 menggariskan bahwa salah satu tujuan pembangunan sektor industri adalah pengembangan pengusaha kecil menengah dan koperasi yang mampu memperluas basis ekonomi dan dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam mempercepat perubahan struktural, yaitu dengan meningkatnya perekonomian daerah dan ketahanan ekonomi nasional. Perubahan struktur dalam pembangunan sektor industri yang dimaksud mencerminkan tuntutan peningkatan pada dimensi jenis maupun skala industri, yaitu bahwa selain sektor ini tumbuh, tetapi juga memiliki struktur yang kuat. Kekuatan struktur tercermin dari sumbangan sektor yang makin berarti dari setiap sub-sub sektor industri yang merupakan elemen-elemen industri. Sub-sub sektor yang dimaksud seperti misalnya sub-sub (cabang industri) pangan, sandang, kimia, engineering dan sebagainya. Kekuatan struktur dimaksud juga mencerminkan bahwa semakin meningkatnya peran sektor IKM terhadap sektor industri secara keseluruhan.

Secara kuantitatif apa yang diamanatkan oleh Propenas mengindikasikan bahwa sektor industri harus dibangun sehingga PDB-IKM mampu menyamai atau bahkan melebihi PDB-Industri Besar (IB). Pertanyaan kini yaitu berapa besar pertumbuhan industri kecil, industri menengah dan berapa industri besarnya sendiri, serta kapan kondisi keseimbangan antara peran IKM dan IB tercapai. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dilakukan simulasi untuk

yang

kecil

menghitung

selanjutnya disebut dengan IKM dalam mencapai target Program Pembangunan Nasional (Propenas) dimaksud dengan asumsi umum dalam simulasi yaitu pertumbuhan ekonomi akan konstan pada tingkat 5% setelah tahun 2004.

pertumbuhan

industri

maupun

industri

menengah

1.2 SIMULASI PERHITUNGAN PERTUMBUHAN IKM

Proses simulasi untuk menentukan berapa pertumbuhan IKM ke depan untuk mencapai target Propenas disajikan dengan rinci pada Lampiran 1 dan 2. Hasil yang tersaji pada kedua lampiran tersebut adalah merupakan hasil perhitungan dengan proses iterasi sebagai berikut :

a. Iterasi Pertama

Asumsi-asumsi awal pada iterasi pertama ditetapkan sebagai berikut : (1) melihat pertumbuhan ekonomi (PDB) pada tahun 1999, 2000 dan 2001, maka diasumsikan bahwa pertumbuhan ekonomi untuk tahun 2003 dan

2004 adalah sebesar 4% dan 5%, (2) kontribusi PDB Industri terhadap PDB

Nasional kedepan adalah tetap sama dengan rata-rata kontribusi industri dari tahun 1997 s/d 2001; (3) kontribusi PDB Industri Kecil (IK) dan Industri

Menengah (IM) kedepan terhadap industri nasional adalah sama seperti rata- rata kontribusi tahun 1997 s/d 2001; (4) kondisi yang ingin dicapai yaitu kontribusi PDB IB sama dengan PDB Industri-PDB IKM. Dengan kondisi-kondisi yang ditetapkan tersebut, hasil perhitungan memperlihatkan bahwa kondisi yang dikehendaki Propenas tercapai bila pertumbuhan IK 6,6% per tahun dan IM 7,4% per tahun atau IKM secara rata-rata akan tumbuh 6,96%. Dengan kedua laju pertumbuhan ini maka dalam 10 tahun yang akan datang atau pada tahun 2012 akan tercapai keseimbangan antara PDB-IKM dengan PDB-IB. Dalam iterasi ini ternyata PDB IB hanya tumbuh antara 3 s/d 3,45% per tahun, kondisi ini tidak mungkin dan boleh dikatakan terlalu kecil jika dibandingkan dengan fakta bahwa perkembangan industri besar selama 6 Repelita yang lalu selalu tumbuh rata-rata 10% per tahun. Dilain pihak industri kecil berdasarkan pengalaman selama ini pertumbuhannya hanya 1 s/d 2% diatas pertumbuhan ekonomi. Untuk itu pendekatan perhitungan harus disesuaikan dan dicoba pada iterasi berikutnya.

b. Iterasi Kedua

Laju pertumbuhan industri besar diperbesar menjadi 6% (rata-rata tahun

2000 s/d 2001) sedangkan asumsi pertumbuhan IKM tetap dijaga agar tetap

6,96% (= 7%) seperti pada iterasi 1. Ternyata hasilnya memperlihatkan bahwa dalam 10 tahun target Propenas seperti hasil pada iterasi pertama kini tidak lagi dapat dicapai. Hal ini mengindikasikan bahwa perlu pertumbuhan

IKM yang lebih besar, sehingga proses iterasi perlu dilanjutkan dengan mencoba merubah skenario pertumbuhan.

c. Iterasi Ketiga

Dengan pendekatan yang sama, selanjutnya dilakukan suatu set iterasi dengan mempertimbangkan perilaku industri berdasarkan pengalaman enam

Bila ditetapkan pertumbuhan industri besar antara 7 –

8% (lebih mendekati rata-rata 6 Repelita terdahulu) dan industri menengah

14%, maka keseimbangan IKM dengan IB ternyata dapat tercapai. Secara lengkap sub-iterasi pada iterasi ketiga tersaji dalam Lampiran 1 dan 2. Secara lengkap ringkasan dari hasil iterasi tersaji pada Tabel 1.1

Repelita yang lalu.

Tabel 1.1 Set Iterasi Ketiga Pertumbuhan IK, IM dan IB serta Ketercapaian Keseimbangan IKM dan IB

ITERASI KE TIGA SUB-ITERASI KE

PERTUMBUHAN (%)

KESEIMBANGAN IKM = IB TERCAPAI PADA TAHUN KE

IK

IM

IB

1

6

10

7,8,9,10

~

2

6

12

7

18

3

6

12

8,9,10

~

4

6

14

7

12

5

6

14

8

16

6

6

14

9

22

7

6

14

10

~

8

7

10

7,8,9,10

~

9

7

12

7

16

10

7

12

8,9,10

~

11

7

14

7

14

12

7

14

8

18

13

7

14

10

~

14

8

10

7,8,9,10

~

15

8

12

7

15

16

8

12

8,9,10

~

17

8

14

7

13

18

8

14

8

17

19

8

14

10

~

20

9

10

7

18

21

9

10

8,9,10

~

22

9

12

7

14

23

9

12

9,10

~

24

9

14

7

12

25

9

14

8

16

26

9

14

10

~

27

10

10

7

15

28

10

10

8,9,10

~

29

10

12

7

12

30

10

12

8

17

31

10

12

9,10

~

32

10

14

7

10

33

10

14

8

13

34

10

14

9

18

35

10

14

10

~

d.

Hasil yang Diperoleh

Dengan mempertimbangkan bahwa angka ideal untuk industri kecil adalah pada tingkat sebesar 7% dan industri besar pada tingkat sekitar 8%, serta keinginan untuk mencapai keseimbangan struktur seperti yang ditargetkan oleh Propenas harus dipenuhi, maka iterasi ketiga diatas menginformasikan bahwa yang harus dipacu adalah industri menengah dengan angka pertumbuhan sebesar 14%. Dengan kondisi ini diharapkan pada tahun 2020 atau 18 tahun yang akan datang kondisi keseimbangan yang dimaksud dapat tercapai. Angka-angka ini selanjutnya akan dijadikan pegangan menghitung pertumbuhan IKM kedepan dengan pendekatan pada asumsi pertumbuhan seperti yang tersaji Tabel 1.2.

Tabel 1.2 Pola Perhitungan Target Pertumbuhan IK, IM , IB

   

TAHUN

JENIS INDUSTRI

2003

2004

2005

………

2020

Industri Kecil

7%

7%

7%

………

7%

Industri Menengah

10%

12%

14%

………

14%

Industri Besar

7%

7%

8%

………

8%

1.3 PERHITUNGAN TARGET PDB, UNIT USAHA, TENAGA KERJA DAN

NILAI PRODUKSI IKM

Untuk menghitung target PDB tahun 2003 dan 2004 akan digunakan PDB industri kecil menengah tahun 1998-2001 sebagaimana yang tersaji pada Tabel 1.3

Tabel 1.3 Perkembangan PDB IKM tahun 1998-2001 Menurut Harga Konstan tahun 1993 (Rp. juta)

NO.

URAIAN

1998

1999

2000

2001

INDUSTRI KECIL MENENGAH

32.822.602

33.863.614

36.184.500

38.260.098

1.

IKM Pangan

9.740.100

9.015.405

8.367.506

8.908.343

2.

IKM Sandang

3.473.659

3.908.628

5.274.767

5.808.898

3.

IKM Kimia Bahan Bangunan

12.123.331

12.655.929

12.421.721

12.593.841

4.

IKM Logam dan Elektronika

4.969.321

5.186.752

6.237.814

6.741.450

5.

IKM Kerajinan

2.516.190

3.096.900

3.882.692

4.207.566

Sumber : Badan Pusat Statistik (BPS diolah Ditjen IDKM)

PDB IKM tahun 1998-2001 yang tersaji dalam Tabel 1.3. selanjutnya diaplikasikan untuk menghitung proyeksi PDB IKM tahun 2003 dan 2004 dengan laju pertumbuhan IK sebesar 7% dan IM 9% untuk tahun 2003, dan 12% untuk tahun 2004, sedangkan IB dihitung dengan laju pertumbuhan 7% untuk tahun 2003 dan 2004, yang hasilnya tersaji pada Tabel 1.4.

Tabel 1.4 Proyeksi PDB IKM tahun 2002-2004 (Rp. juta)

NO.

URAIAN

2002

2003

2004

INDUSTRI KECIL MENENGAH

40.766.940

44.165.566

48.256.216

1.

IKM Pangan

9.485.260

10.368.239

11.034.393

2.

IKM Sandang

6.231.785

6.898.363

7.357.271

3.

IKM Kimia Bahan Bangunan

13.239.012

13.743.705

15.169.328

4.

IKM Logam dan Elektronika

7.260.082

8.123.745

9.226.785

5.

IKM Kerajinan

4.550.802

5.031.513

5.468.440

Sumber : Badan Pusat Statistik (BPS) diolah Ditjen IDKM

Sama hasilnya seperti perhitungan PDB proyeksi perkembangan unit usaha serta tenaga kerja industri kecil menengah untuk tahun 2003 dan 2004 dihitung

berdasarkan angka populasi unit usaha,

tenaga kerja dan nilai produksi tahun

1998-2004 seperti yang tersaji pada Tabel 1.5 s/d Tabel 1.10.

Tabel 1.5. Perkembangan Unit Usaha Industri Kecil Menengah tahun 1998-2001 (unit)

NO.

URAIAN

 

1998

1999

 

2000

2001

INDUSTRI KECIL MENENGAH

2.114.400

 

2.536.220

 

2.724.670

2.885.820

1.

IKM Pangan

 

721.490

838.947

 

897.629

950.325

2.

IKM Sandang

175.995

223.089

213.497

303.767

3.

IKM Kimia Bahan Bangunan

422.077

522.777

548.278

536.760

4.

IKM Logam dan Elektronika

61.030

60.145

59.634

57.733

5.

IKM Kerajinan

733.809

891.262

1.005.632

1.037.235

Sumber : Badan Pusat Statistik (BPS) diolah Ditjen IDKM

 
 

Tabel 1.6. Proyeksi Unit Usaha Industri Kecil Menengah tahun 2002-2004 (unit)

 

NO.

URAIAN

2002

 

2003

 

2004

INDUSTRI KECIL MENENGAH

 

2.901.454

 

2.988.519

 

3.078.202

1.

IKM Pangan

 

978.834

 

1.008.199

 

1.038.445

2.

IKM Sandang

312.880

 

322.267

331.935

3.

IKM Kimia Bahan Bangunan

552.863

569.449

586.533

4.

IKM Logam dan Elektronika

 

61.853

63.730

65.669

5.

IKM Kerajinan

 

995.024

 

1.024.874

1.055.621

Sumber : Badan Pusat Statistik (BPS) diolah Ditjen IDKM

Tabel 1.7 Perkembangan Tenaga Kerja Industri Kecil Menengah tahun 1998-2001 (ribu orang)

NO.

URAIAN

 

1998

1999

2000

2001

INDUSTRI KECIL MENENGAH

 

8.329,53

10.135,52

10.708,42

11.363,76

1.

IKM Pangan

 

2.457,95

3.064,56

3.129,10

3.342,45

2.

IKM Sandang

1.628,59

1.848,93

1.813,05

2.116,91

3.

IKM Kimia Bahan Bangunan

2.307,80

2.797,42

2.990,08

3.023,25

4.

IKM Logam dan Elektronika

590,08

626,06

614,46

655,51

5.

IKM Kerajinan

1.345,11

1.798,55

2.161,73

2.225,64

Sumber : Badan Pusat Statistik (BPS) diolah Ditjen IDKM

 
 

Tabel 1.8 Proyeksi Tenaga Kerja Industri Kecil Menengah tahun 2002-2004 (ribu orang)

 

NO.

URAIAN

2002

 

2003

 

2004

INDUSTRI KECIL MENENGAH

 

11.919,15

12.515,11

 

13.140,86

1.

IKM Pangan

3.509,57

 

3.685,05

 

3.869,30

2.

IKM Sandang

2.222,76

2.333,90

2.450,59

3.

IKM Kimia Bahan Bangunan

3.174,42

3.333,14

3.499,79

4.

IKM Logam dan Elektronika

 

688,28

722,70

758,83

5.

IKM Kerajinan

2.324,12

2.440,33

2.562,34

Sumber : Badan Pusat Statistik (BPS) diolah Ditjen IDKM

Tabel 1.9 Perkembangan Nilai Produksi Industri Kecil Menengah tahun 1998-2001 Menurut Harga Konstan tahun 1993 (Rp juta)

NO.

URAIAN

1998

1999

2000

2001

INDUSTRI KECIL MENENGAH

87.777.433

93.606.297

100.453.677

94.893.822

1.

IKM Pangan

31.993.127

28.653.283

28.930.188

27.589.516

2.

IKM Sandang

9.548.948

11.502.744

15.413.056

15.996.143

3.

IKM Kimia Bahan Bangunan

28.746.039

30.223.172

33.865.111

28.720.149

4.

IKM Logam dan Elektronika

11.711.649

12.075.717

14.038.876

15.473.954

5.

IKM Kerajinan

5.777.670

11.151.381

8.206.446

7.114.060

Sumber : Badan Pusat Statistik (BPS) diolah Ditjen IDKM

Tabel 1.10 Proyeksi Nilai Produksi Industri Kecil Menengah tahun 2002-2004 Menurut Harga Konstan tahun 1993 (Rp juta)

NO.

URAIAN

2002

2003

2004

INDUSTRI KECIL MENENGAH

103.163.702

112.218.793

122.140.657

1.

IKM Pangan

29.763.182

32.108.159

34.637.953

2.

IKM Sandang

17.346.925

18.813.552

20.406.110

3.

IKM Kimia Bahan Bangunan

30.862.385

33.176.451

35.677.001

4.

IKM Logam dan Elektronika

17.383.219

19.546.402

21.998.667

5.

IKM Kerajinan

7.807.991

8.574.230

9.420.926

Sumber : Badan Pusat Statistik (BPS) diolah Ditjen IDKM

BAB

II

PROGRAM PENGEMBANGAN INDUSTRI KECIL MENENGAH PENGGERAK PEREKONOMIAN DAERAH

2.1.

UMUM

a. Pengertian, Ciri/Kriteria dan Lingkup Komoditi Prioritas

1)

Pengertian:

IKM Penggerak Perekonomian Daerah adalah industri yang memproduksi barang dan jasa yang menggunakan bahan baku utamanya berbasis pada pendayagunaan sumber daya alam, bakat dan karya seni tradisional dari daerah setempat.

2)

Ciri/Kriteria:

(1)

Bahan bakunya mudah diperoleh, utamanya karena tersedia di

(2)

daerah. Menggunakan teknologi sederhana sehingga mudah dilakukan alih

(3)

teknologi. Keterampilan dasar umumnya sudah dimiliki secara turun temurun.

(4)

Bersifat padat karya atau menyerap tenaga kerja yang cukup

(5)

banyak. Peluang pasar cukup luas, sebagian besar produknya terserap di

(6)

pasar lokal/domestik dan tidak tertutup sebagian lainnya berpotensi untuk diekspor. Beberapa komoditi tertentu memiliki ciri khas terkait dengan karya

(7)

seni budaya daerah setempat Melibatkan masyarakat ekonomi lemah setempat.

(8)

Secara ekonomis menguntungkan.

3)

Lingkup Komoditi Prioritas :

(1)

Makanan ringan.

(2)

Sutera alam.

(3)

Penyamakan kulit.

(4)

Minyak sawit (CPO-IKM).

(5)

Pupuk (alam dan organik).

(6)

Garam.

(7)

Genteng.

(8)

Alsintani dan pande besi.

(9)

Kapal < 100 GT.

(10)

Motorisasi kapal nelayan.

(11)

Alat pertanian tradisional.

(12)

Tenun tradisional.

(13)

Perhiasan.

(14)

Anyaman.

b. Misi serta Tujuan

1)

Memanfaatkan potensi SDA andalan lokal secara optimal, masyarakat

2)

IKM setempat dan sebagai pemasok utama pasar lokal. Meningkatkan pendapatan masyarakat dan daerah.

3)

Meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

4)

Memperluas kesempatan kerja (mengurangi pengangguran).

5)

Melestarikan dan mengembangkan seni tradisional budaya daerah.

6)

Mengisi kebutuhan pasar lokal, domestik dan ekspor.

7)

Meningkatkan perolehan devisa.

8)

Memajukan daerah.

c. Target Group Pembinaan dan Pengembangan

1)

masyarakat pedesaan dan kelompok pencari kerja lainnya. 2) Sasaran lokasi pengembangan yang secara geografis memerlukan penanganan yang lebih intensif antara lain: daerah perbatasan, daerah terbelakang, Kawasan Timur Indonesia, kantong-kantong pengangguran di perkotaan serta daerah pedesaan yang potensial untuk dibina.

Sasaran pembinaan kelompok masyarakat meliputi: petani, nelayan,

d. Kondisi Umum Saat Ini

1)

Lingkungan Internal

Kekuatan

(1)

Bahan baku tersedia di pasaran setempat/mudah diperoleh.

(2)

Keterampilan dasar sudah dimiliki secara turun temurun.

(3)

Teknologi tersedia dan mudah untuk dikuasai atau ditransfer.

(4)

Dapat dijadikan usaha andalan/mata pencaharian masyarakat

(5)

banyak. Adanya dukungan kebijakan dan program dari swasta maupun semua tataran pemerintahan.

Kelemahan

(1)

Manajemen, teknologi dan mesin/peralatan yang digunakan masih

(2)

sederhana sehingga kurang efisien. Mutu produk beragam dan belum ada standarisasi.

(3)

Akses informasi pasar masih terbatas/belum dikuasai.

(4)

Kemasan belum memenuhi persyaratan teknis dan tidak menarik konsumen.

2)

Lingkungan Eksternal

Peluang

(1)

Pangsa pasar dalam negeri cukup luas.

(2)

Fundamental ekonomi makro Indonesia mulai membaik

(3)

Dapat dikembangkan untuk pasar ekspor.

Tantangan/Ancaman

(1)

Daya saing produk masih lemah.

(2)

Persaingan semakin ketat baik dari produksi dalam negeri maupun

barang impor. (3) Iklim usaha belum kondusif bila dibandingkan fasilitasi negara-

(4)

(5)

negara pesaing terhadap IKM-nya. Kebijakan pemerintah di berbagai bidang seperti tarif BBM, tarif transport dan tarif listrik telah meningkatkan biaya yang tidak kecil. Pemahaman/interpretasi otoda belum terstandardisasi antar daerah menjadikan iklim usaha tidak kondusif.

yang tidak kecil. Pemahaman/interpretasi otoda belum terstandardisasi antar daerah menjadikan iklim usaha tidak kondusif.

e. Sasaran Pengembangan Tahun 2003 - 2004

1)

Kualitatif

 

(1)

Tersedianya informasi peluang pasar dalam negeri untuk berbagai

(2)

kelompok dan komoditi industri dengan teknologi sederhana. Terbukanya kesempatan usaha baru dengan bahan baku berbasis

(3)

SDA setempat. Meningkatnya nilai tambah/pendapatan yang diterima perajin.

(4)

Mengurangi pengangguran.

(5) Meningkatnya daya saing industri dengan melakukan penerapan

 

teknologi produksi sederhana dan mudah dikuasai untuk diversifikasi produk dan desain dalam membuat inovasi.

 

(6) Tersedianya bahan baku alternatif yang dapat dijadikan sebagai pilihan. (7) Meningkatnya bantuan permodalan, perpajakan, dan insentif lainnya.

(8)

Meningkatnya informasi untuk pengembangan manajemen maupun

(9)

mutu produk. Tumbuh dan berkembangnya perekonomian daerah.

2)

Kuantitatif

Sasaran kuantitatif pengembangan industri penggerak perekonomian daerah dapat dilihat pada Tabel 2.1 :

Tabel 2.1 Sasaran Peningkatan Jumlah Unit Usaha, Penyerapan Tenaga Kerja dan Nilai Produksi IKM Penggerak Perekonomian Daerah tahun 2003 - 2004

   

UNIT USAHA (Unit)

TENAGA KERJA (Orang)

NILAI PRODUKSI (Juta Rp.)

NO

INDUSTRI

Posisi

Proyeksi

Posisi

Proyeksi

Posisi

Proyeksi

2002

2003

2004

2002

2003

2004

2002

2003

2004

1

 

66.28

         

1.996.2

2.154.3

2.324.9

Makanan Ringan

8

68.277

70.325

240.650

252.680

265.310

01

14

53

2

 

32.54

               

Sutera Alam

7

33.524

34.530

187.870

197.260

207.120

347.898

374.068

402.212

3

Penyamakan Kulit

386

398

405

12.050

12.650

13.280

141.367

148.638

156.279

4

             

1.114.6

1.222.6

1.341.0

CPO-IKM

10

10

11

10.330

10.850

11.390

07

13

84

5

Pupuk

412

425

437

9.660

10.150

10.660

142.133

152.407

163.481

6

Garam

2.866

2.952

3.041

30.190

31.700

33.290

156.239

170.333

185.734

7

 

197.9

       

1.038.2

3.870.1

4.095.5

4.334.3

Genteng

09

203.846

209.962

941.710

988.800

40

77

05

13

8

Alsintani

404

416

429

5.230

5.490

5.760

32.403

36.214

40.506

9

Motorisasi Kapal Nelayan

2.516

2.591

2.669

17.110

17.960

18.860

83.604

91.003

99.166

10

Kapal < 100 GT

2.010

2.070

2.132

26.370

27.690

29.070

350.150

386.214

426.446

11

Mesin alat pertanian tradisional

24.32

               

4

25.054

25.806

66.360

69.680

73.160

467.352

496.130

526.721

12

 

185.4

         

1.119.1

1.219.6

1.329.4

Tenun Tradisional

58

191.021

196.752

381.840

400.930

420.980

54

50

61

13

 

18.95

             

1.037.2

Perhiasan

5

19.524

20.110

49.400

51.870

54.460

866.379

947.801

94

14

 

659.9

   

1.087.8

1.142.2

1.199.3

1.567.7

1.705.6

1.855.7

Anyaman

67

679.766

700.159

10

00

10

96

22

96

f. Arah Pengembangan

Pengembangan IKM penggerak perekonomian daerah diarahkan pada :

1)

Menetapkan suatu kerangka kebijakan pengembangan IKM penggerak perekonomian daerah yang selaras antara kebijakan pengembangan IKM nasional dan kebijakan pembangunan di daerah.

2)

Meningkatkan IKM penggerak pembangunan daerah di bidang teknologi, manajemen dan kualitas SDM yang didukung oleh berbagai pihak:

Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, BUMN, BUMD dan lembaga- lembaga terkait.

3) Memperluas kesempatan berusaha dan kesempatan kerja di daerah sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya di daerah.

4)

Memperluas jangkauan pasar, dari lokal menjadi pasar antar provinsi bahkan pasar ekspor melalui peningkatan daya saing dan informasi pasar luar negeri.

g. Kebijakan Pengembangan

Untuk mewujudkan visi, misi dan arah pengembangan IKM penggerak perekonomian daerah ditetapkan kebijakan sebagai berikut :

1)

Pengembangan industri ditekankan pada upaya optimalisasi penggunaan sumber daya alam lokal untuk meningkatkan nilai tambah, memperkuat struktur industri, memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri dan memperkuat daya saing produk terutama dalam pasar bebas AFTA tahun

2003.

2)

Selalu mengacu kepada pengaruh lingkungan internal dan eksternal, yaitu faktor-faktor kekuatan dan kelemahan serta peluang dan ancaman yang dimiliki masing-masing komoditi terpilih dari kelompok IKM penggerak perekonomian daerah.

3)

Memperkuat struktur industri melalui hubungan vertikal hulu hilir antara pemasok/penghasil dengan pengguna bahan baku dan hubungan kemitraan antara lembaga terkait dengan IKM atau antara perusahaan besar dengan IKM terpilih.

4)

Menciptakan iklim usaha yang semakin kondusif, antara lain:

kemudahan-kemudahan yang dituangkan dalam peraturan perundang- undangan, fasilitasi untuk dukungan akses permodalan, akses pasar, akses teknologi informasi, peningkatan kualitas SDM melalui pendidikan dan pelatihan.

h. Strategi Pengembangan

Berdasarkan misi yang diemban, strategi pengembangan industri ini ditempuh melalui 2 langkah, yaitu:

1)

Meningkatkan Permintaan (Pull Factors):

(1) Memperkuat hubungan kemitraan antara IKM (yang termasuk penggerak perekonomian daerah) dengan industri besar/BUMN maupun lembaga-lembaga pendukung permodalan dan pemasaran.

(2) Menciptakan kebijakan iklim usaha yang lebih kondusif seperti:

 

peraturan pajak, bea masuk, distribusi, pemberian insentif, kemudahan kredit, dll.

 

(3)

Memberikan dukungan litbang dan prasarana serta fasilitasi promosi dan pemasaran baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

2)

Meningkatkan Pengembangan Usaha (Push Factors):

(1) Menjaga kontinuitas dan standarisasi mutu bahan baku.

(2)

Memperbaiki dan meningkatkan produktivitas mesin/peralatan.

(3)

Meningkatkan kualitas SDM.

(4)

Fasilitasi akses permodalan, informasi dan pemasaran.

Penerapan strategi disesuaikan dengan kemampuan internal (kekuatan dan kelemahan) di IKM masing-masing daerah serta faktor-faktor eksternal (peluang dan ancaman) untuk setiap komoditi IKM penggerak perekonomian daerah.

i. Program Pengembangan

1)

Pengembangan Teknologi

(1)

Pengenalan/sosialisasi teknologi pengolahan yang lebih baik.

(2)

Bantuan peralatan pengolahan bagi IKM tertentu.

(3)

Fasilitasi pengembangan mutu.

2)

Peningkatan kualitas SDM

(1) Memberi bimbingan dan pelatihan teknis/keterampilan dan peningkatan manajemen.

(2)

Sosialisasi peraturan-peraturan menyangkut IKM.

(3)

Sosialisasi penemuan balai-balai penelitian.

3)

Fasilitasi Bantuan Permodalan

Fasilitasi akses terhadap lembaga permodalan Bank/Non Bank.

4)

Bantuan Pemasaran

(1)

Fasilitasi pendirian trading house.

(2) Fasilitasi penyediaan informasi pasar dan peningkatan teknologi informasi.

(3)

Fasilitasi untuk mengikuti pameran.

5)

Memfasilitasi Kerjasama/Kemitraan

Fasilitasi kemitraan antara BUMN/Swasta besar dengan IKM.

6)

Iklim dan Sarana Usaha

(1)

Fasilitasi penyediaan sarana dan prasarana usaha.

(2)

Penyusunan dan peninjauan kembali kebijakan dan peraturan yang membantu IKM (penciptaan iklim usaha yang kondusif).

7)

Pemanfaatan hasil Litbang dan Peningkatan Mutu Produk

(1)

Penyediaan jasa pengujian dan assessment mutu produk.

(2)

Sosialisasi penemuan yang baru dari Balai-balai Litbang.

2.2.

PENGEMBANGAN IKM PENGGERAK PEREKONOMIAN DAERAH PER KELOMPOK KOMODITI.

a. Industri Makanan Ringan

1)

Keadaan Spesifik

(1)

(2) Masih ada penggunaan Bahan Tambahan Pangan (BTP) tidak

Kurang memperhatikan aspek higienis.

(3)

(4)

(5)

(6)

benar/bahan tambahan yang dilarang. Pengelolaan/manajemen usaha masih sederhana. Mutu sangat beragam dan masih banyak yang belum memenuhi standar. Kemasan sangat sederhana, tidak menarik dan label tidak sesuai dengan isi. Masuknya produk-produk makanan ringan dari negara lain yang mempunyai daya saing cukup tinggi.

tidak sesuai dengan isi. Masuknya produk-produk makanan ringan dari negara lain yang mempunyai daya saing cukup
tidak sesuai dengan isi. Masuknya produk-produk makanan ringan dari negara lain yang mempunyai daya saing cukup
tidak sesuai dengan isi. Masuknya produk-produk makanan ringan dari negara lain yang mempunyai daya saing cukup

2)

Sasaran Pengembangan

Sasaran peningkatan jumlah Nilai Tambah, Nilai Produksi, Unit Usaha dan Tenaga Kerja yang ingin dicapai pada tahun 2003-2004, tersaji pada Tabel 2.2 :

Tabel 2.2 Sasaran Peningkatan Nilai Tambah, Nilai Produksi, Unit Usaha dan Tenaga Kerja Industri Kecil Menengah Makanan Ringan tahun 2003 – 2004

N

INDIKATOR

POSISI

SASARAN

LAJU PERTUM

O.

2002

2003

2004

BUHAN/THN

1.

Nilai Tambah (Rp. Juta)

532.508

581.400

619.926

7,86%

2.

Nilai Produksi (Rp Juta)

1.996.20

2.154.31

2.324.95

7,88%

1

4

3

3.

Unit Usaha (Unit)

66.288

68.277

70.325

3,00%

4.

Tenaga Kerja (Orang)

240.650

252.680

265.310

5,00%

3)

Program Pengembangan tahun 2003 - 2004

(1)

Peningkatan Mutu Produk dan Kemasan IKM Makanan Ringan.

(a).

Fasilitasi pengadaan peralatan produksi makanan ringan.

(b).

Bimbingan dan sertifikasi sistem mutu.

(c).

Pengembangan klinik pelayanan kemasan dan label.

(2)

Peningkatan Sumber Daya Pemberdayaan IKM Makanan Ringan

(a).

TOT-GMP bagi aparat pembina di daerah.

(b).

TOT cleaner production industri kecil menengah pangan.

(3)

Pengembangan Promosi dan Pemasaran IKM Makanan Ringan.

(4)

(a).

(b). Penyediaan dan penyusunan informasi bisnis IKM makanan

Partisipasi pamasaran.

(c).

ringan. Fasilitasi pendirian pusat pelayanan bisnis makanan ringan.

Pengembangan Iklim Usaha IKM Makanan Ringan.

(a).

Fasilitasi kerjasama antara IKM dengan perusahaan besar.

(b).

Pemasyarakatan peraturan mengenai makanan ringan.

4)

Lokasi Pengembangan

(1)

Deli Serdang – Sumatera Utara.

(2)

Tanjung Karang – Lampung.

(3)

Ciamis, Bandung – Jawa Barat.

(4)

Kebumen, Salatiga - Jawa Tengah.

(5)

Kota Yogyakarta – DI Yogyakarta.

b. Industri Sutera Alam

1)

Keadaan Spesifik

(1)

Tingkat utilitas produksi benang sutera rendah.

(2)

Belum menggunakan teknologi tepat guna yang memadai.

(3)

Bahan baku kokon yang berasal dari petani tidak mampu memenuhi kebutuhan industri pemintalan baik kualitas maupun kuantitas.

(4) Bahan baku benang yang berasal dari industri pemintalan tidak mampu memenuhi permintaan industri pertenunan.

(5)

Ancaman negara pesaing (China, Thailand dan India).

(6)

Harga produk sutera impor lebih murah.

2)

Sasaran Pengembangan

Sasaran peningkatan jumlah Nilai Tambah, Nilai Produksi, Unit Usaha dan Tenaga Kerja tahun 2003 – 2004 yang ingin dicapai, tersaji pada Tabel 2.3 berikut :

Tabel 2.3 Sasaran Peningkatan Nilai Tambah, Nilai Produksi, Unit Usaha dan Tenaga Kerja Industri Kecil Menengah Sutera Alam tahun 2003 – 2004

N

INDIKATOR

POSISI

SASARAN

LAJU PERTUM

O.

2002

2003

2004

BUHAN/THN

1.

Nilai Tambah (Rp. Juta)

91.286

98.768

105.650

8,66%

2.

Nilai Produksi (Rp Juta)

347.898

374.068

402.212

8,48%

3.

Unit Usaha (Unit)

32.547

33.524

34.530

3,00%

4.

Tenaga Kerja (Orang)

187.870

197.260

207.120

5,00%

3)

Program Pengembangan

(1)

Penerapan teknologi tepat guna.

(2)

Fasilitasi kemitraan suplai bahan baku.

(3)

Pengembangan desain.

(4)

Bantuan tenaga ahli desain dan pengembangan produk sutera.

(5)

Penerapan teknis pencelupan dengan menggunakan cat warna alam

(6)

dan alternatif lainnya Promosi Pemasaran

(7)

Promosi penggunaan merek sendiri dan pendaftaran HaKI.

(8)

Pengembangan BDS.

(9)

Pengembangan layanan informasi.

4)

Lokasi Pengembangan

(1)

Kab. Wajo, Enrekang, Soppeng – Sulawesi Selatan.

(2)

Kab. Garut, Sukabumi, Tasik Malaya – Jawa Barat.

(3)

Kab. Boyolali, Purworejo, Magelang, Banyumas, Pemalang – Jawa

(4)

Tengah. Kab. Sleman, Kota Yogyakarta – DI. Yogyakarta.

(5)

Kab. Tanah Datar – Sumatera Barat.

(6)

Kota Denpasar – Bali.

c. Industri Penyamakan Kulit

1)

Keadaan Spesifik

(1)

Tingkat utilitas produksi penyamakan rendah.

(2)

Suplai kulit mentah dalam negeri terbatas.

(3)

Mesin peralatan umumnya relatif tua.

(4)

Kualitas produksi kulit samak belum memenuhi persyaratan industri

(5)

besar. Persaingan yang ketat dengan negara pesaing, seperti: Korea.

(6)

Pencemaran lingkungan.

2)

Sasaran Pengembangan

Sasaran peningkatan jumlah Nilai Tambah, Nilai Produksi, Unit Usaha dan Tenaga Kerja tahun 2003 – 2004, disajikan pada Tabel 2.4 berikut :

Tabel 2.4 Sasaran Peningkatan Nilai Tambah, Nilai Produksi, Unit Usaha, Tenaga Kerja Industri Kecil Menengah Penyamakan Kulit tahun 2003 – 2004

   

POSISI

SASARAN

LAJU PERTUM

NO.

INDIKATOR

2002

2003

2004

BUHAN/THN

1.

Nilai Tambah (Rp. Juta)

43.379

48.907

47.968

8,66%

2.

Nilai Produksi (Rp. Juta)

141.367

148.636

156.279

8,46%

3.

Unit Usaha (Unit)

386

398

405

3,00%

4.

Tenaga Kerja (Orang)

12.050

12.650

13.280

5,00%

3)

Program Pengembangan

(1)

Fasilitasi pengadaan bahan baku dari berbagai sumber di luar

negeri. (2) Fasilitasi kemitraan dalam rangka peningkatan produksi dan

(3)

pemasaran. Fasilitasi relokasi industri.

(4)

Penyusunan panduan pengolahan limbah.

(5)

Penerapan cleaner production/teknologi produksi bersih.

(6)

Penerapan Sertifikasi Penerapan Sistem Mutu (SPSM)/ISO 9000.

(7)

Fasilitasi pendirian sarana untuk proses penyamakan kulit, dari kulit

(8)

mentah hingga menjadi wet blue (beam house). Diversifikasi bahan baku kulit hewan lain seperti: kulit ikan, kulit reptil dan lainnya.

4)

Lokasi Pengembangan

(1)

Kab. Padang Panjang – Sumatera Barat.

(2)

Kota Jakarta Barat –DKI Jakarta

(3)

Kab. Sukaregang (Garut) – Jawa Barat.

(4)

Kab. Batang – Jawa Tengah.

(5)

Kab. Bantul, Kota Yogyakarta – DI. Yogyakarta.

(6)

Kab. Magetan – Jawa Timur.

(7)

Kab. Kupang – Nusa Tenggara Timur.

(8)

Kota Medan – Sumatera Utara.

(9)

Papua

d. Industri Pengolahan Minyak Sawit (CPO-IKM)

Hasil dari pengolahan minyak sawit ini misalnya adalah minyak goreng sawit, sabun, margarine, oleo kimia, bio gas, bio diesel, dan bio lubricant.

1)

Keadaan Spesifik

 

(1)

CPO digunakan sebagai bahan baku utama untuk produk industri

(2)

minyak. Posisi tawar petani/pekebun kelapa sawit rakyat rendah, karena hasil TBS perkebunan rakyat masih diolah pada pabrik pengolahan industri besar.

(3)

Keinginan

petani

perkebunan

rakyat

dan

dunia

usaha untuk

(4)

mengelola pabrik CPO mini sangat besar. Luas areal perkebunan rakyat ± 1 juta Ha akan mampu menghasilkan 3 juta ton CPO per tahun apabila memiliki industri pengolah CPO IKM sendiri dengan kapasitas/skala antara 500 kilo TBS per jam sampai dengan 3 ton TBS per jam. Telah mulai dihasilkan teknologi tepat guna permesinan CPO Mini

(5)

dalam negeri yang telah terandalkan. Sebuah pabrik mini akan dapat menyerap tenaga kerja ± 20 orang

(6)

per unit dengan melibatkan ± 200 kepala keluarga sehingga mampu menumbuhkan usaha baru. Akan menjadi penggerak sektor ekonomi lainnya di daerah.

(7)

Bantuan mesin dan peralatan pendirian minyak goreng terpadu dari produk olahan CPO

2)

Sasaran Pengembangan

 

Sasaran peningkatan jumlah Nilai Tambah, Nilai Produksi, Unit Usaha dan Tenaga Kerja tahun 2003–2004 disajikan pada Tabel 2.5 berikut

Tabel

2.5

Sasaran Peningkatan Nilai Tambah, Nilai Produksi, Unit Usaha dan Tenaga Kerja Pengolahan Minyak Sawit (CPO-IKM) tahun 2003 – 2004

   

POSISI

SASARAN

LAJU PERTUM

NO.

INDIKATOR

2002

2003

2004

BUHAN/THN

1.

Nilai Tambah (Rp. Juta)

275.241

283.842

331.349

7,04%

2.

Nilai Produksi (Rp. Juta)

1.114.607

1.222.613

1.341.084

7,52%

3.

Unit Usaha (Unit)

10

10

11

3,00%

4.

Tenaga Kerja (Orang)

10.330

10.850

11.390

5,00%

3)

Program Pengembangan

(1)

Promosi investasi mini plant CPO IKM.

(2)

Kajian pemasaran/perdagangan dan distribusi CPO IKM.

(3)

Pilot project pendirian industri minyak goreng terpadu dari produk

(4)

olahan CPO, di Kab. Pasaman, Deli Serdang dan Lampung Selatan. Pilot project pendirian industri CPO – IKM terpadu di Kab.

(5)

Lampung Selatan, Mamuju, Pasir dan Sanggau. Pengembangan industri pupuk kompos berbahan baku tandan

(6)

kelapa sawit. Pengembangan industri biodiesel dan biolubricant bahan baku CPO untuk skala IKM.

4)

Lokasi Pengembangan

(1)

Kab. Aceh Selatan, Kab. Aceh Timur, Kab. Aceh Barat, Kab. Aceh

(2)

Utara – Nanggore Aceh Darusalam. Kab. Tapanuli Selatan, Kab. Tapanuli Tengah, Kab. Tapanuli Utara,

(3)

Kab. Labuhan batu, Kab. Asahan, Kab. Simalungun, Kab. Deli Serdang – Sumatera Utara. Kab. Pesisir Selatan, Kab. Sawahlunto/Sijunjung, Kab. Pasaman,

(4)

Kab. Solok, Kab. Agam – Sumatera Barat. Kab. Batanghari, Kab. Bungo Tebo, Kab. Tanjung Jabung, Kab.

(5)

Sarolangun Bangko – Jambi. Kab. Bengkulu Utara, Kab. Bengkulu Selatan – Bengkulu.

(6) Kab. Lampung Selatan, Kab. Lampung Tengah. Kab. Lampung

(7)

Utara, Kab. Lampung Barat, Kab. Tulang Bawang – Lampung. Kab. Sanggau, Kab. Ketapang, Kab. Sintang, Kab. Sambas, Kab.

(8)

Pontianak – Kalimantan Barat. Kab. Kota Waringin Barat, Kab. Kota Waringin Timur, Kab. Barito

(9)

Utara – Kalimantan Tengah. Kab. Pasir, Kab. Kutai – Kalimantan Timur.

(10)

Kab. Poso - Sulawesi Tengah.

(11)

Kab. Luwu, Kab. Mamuju – Sulawesi Selatan.

(12)

Kab. Manokwari, Kab. Jayapura – Papua .

e. Industri Pupuk (Alam dan Organik)

1)

Keadaan Spesifik

(1)

Mutu produk pupuk skala kecil menengah belum terjamin

(2)

konsistensi kandungan haranya. Masih sederhananya peralatan produksi yang dimiliki IKM.

(3)

Belum disosialisasikannya standar mutu (SNI) pupuk IKM.

(4)

Berkembangnya agro industri, meningkatkan kebutuhan penyediaan

(5)

pupuk alternatif yang diproduksi oleh produsen pupuk skala kecil menengah. Perlu adanya pengaturan yang serasi antara produsen pupuk besar

(6)

dengan produsen pupuk IKM. Masih lemah didalam masalah permodalan

2)

Sasaran Pengembangan

Sasaran peningkatan jumlah Nilai Tambah, Nilai Produksi, Unit Usaha dan Tenaga Kerja tahun 2003 – 2004 disajikan pada Tabel 2.6 berikut

Tabel

2.6

Sasaran Peningkatan Nilai Tambah, Nilai Produksi, Unit Usaha, Tenaga Kerja Industri Kecil Menengah Pupuk tahun 2003 – 2004

   

POSISI

SASARAN

LAJU PERTUM

NO.

INDIKATOR

2002

2003

2004

BUHAN/THN

1.

Nilai Tambah (Rp. Juta)

30.325

31.357

35.777

7,04%

2.

Nilai Produksi (Rp. Juta)

142.133

152.407

163.481

7,52%

3.

Unit Usaha (Unit)

412

425

437

3,00%

4.

Tenaga Kerja (Orang)

9.660

10.150

10.660

5,00%

3)

Program Pengembangan

(1)

Peningkatan keterampilan pembuatan pupuk IKM.

(2)

Sosialisai SNI pupuk IKM di wilayah Jawa dan Sumatera.

(3)

Pengadaan peralatan dan sarana laboratorium uji pupuk di Jatim

(4)

(Kab. Sidoarjo). Peningkatan kemitraan antara pengusaha pupuk IKM dengan

(5)

BUMN Pupuk dan PTP Menghilangkan peraturan yang menghambat peredaran pupuk IKM

(6)

dalam upaya mendukung sektor pertanian dan perkebunan. Fasilitasi sertifikasi SNI khususnya SNI wajib bagi IKM pupuk.

4)

Lokasi Pengembangan

(1)

Provinsi NAD

(2)

Provinsi Sumatera Utara.

(3)

Provinsi Lampung.

(4)

Provinsi Banten

(5)

Provinsi DKI Jakarta

(6)

Provinsi Jawa Barat.

(7)

Provinsi Jawa Tengah.

(8)

Provinsi DI. Yogyakarta.

(9)

Provinsi Jawa Timur.

(10)

Provinsi Bali

(11)

Provinsi Nusa Tenggara Barat

(12)

Provinsi Sulawesi Utara

(13)

Provinsi Sulawesi Tengah

(14)

Provinsi Sulawesi Selatan

f. Industri Garam

1)

Keadaan Spesifik

(1)

Umumnya kualitas garam rakyat masih rendah, sehingga tidak

Masih adanya produsen garam beryodium yang belum memiliki ijin

(2)

dapat diproses secara langsung untuk garam beryodium (garam konsumsi). Peralatan produksi garam beryodium (IKM) masih sederhana.

(3)

Masih kurangnya kesadaran produsen garam beryodium untuk

(4)

produksi sesuai dengan SNI 01-3556-1994.

(5)

industri tetapi telah memasarkan hasil produksinya. Masih rendahnya kesadaran konsumen untuk mengkonsumsi garam beryodium.

(6)

Kualitas

garam

impor

lebih baik dan harganya lebih murah,

sehingga impor garam curah dari luar negeri, khususnya Australia, India dan RRC makin meningkat dari tahun ke tahun.

2)

Sasaran Pengembangan

Sasaran peningkatan jumlah Nilai Tambah, Nilai Produksi, Unit Usaha dan Tenaga Kerja tahun 2003–2004 disajikan pada Tabel 2.7 berikut:

Tabel 2.7 Sasaran Peningkatan Nilai Tambah, Nilai Produksi, Unit Usaha dan Tenaga Kerja Industri Kecil Menengah Garam tahun 2003 – 2004

   

POSISI

SASARAN

LAJU PERTUM

NO.

INDIKATOR

2002

2003

2004

BUHAN/THN

1.

Nilai Tambah (Rp. Juta)

51.852

53.703

60.452

7,04%

2.

Nilai Produksi (Rp. Juta)

156.239

170.333

185.734

7,52%

3.

Unit Usaha (Unit)

2.866

2.952

3.041

3,00%

4.

Tenaga Kerja (Orang)

30.190

31.700

33.290

5,00%

3)

Program Pengembangan

(1)

Membantu peningkatan produktivitas dan kualitas garam rakyat di NTB, NTT, Sulteng, NAD.

(2)

Peningkatan kemampuan pengemasan dan yodisasi untuk IKM

(3)

garam di provinsi NTT, NTB, Sulteng, NAD. Pelatihan peningkatan mutu IKM garam di provinsi Jabar, Banten,

(4)

Jateng dan Jatim. Sosialisasi penerapan mutu garam beryodium terhadap petani

(5)

produsen dan pedagang di 2 provinsi (Jatim, Jateng). Monitoring dan evaluasi industri IKM garam yang tidak memiliki ijin.

4)

Lokasi Pengembangan

(1)

Kab. Aceh Utara, Kab. Pidie – Nanggroe Aceh Darusalam

(2)

Kab./Kota Tangerang – Banten

(3)

DKI Jakarta.

(4)

Kab. Indramayu, Kab. Cirebon – Jawa Barat.

(5)

Kab. Pati, Kab. Rembang – Jawa Tengah.

(6)

Kab. Sampang, Kab. Pamekasan, Kab. Pasuruan – Jawa Timur.

(7)

Kab. Bima, Kab, Sumbawa – Nusa Tenggara Barat.

(8)

Kab. Ngada, Kab. Ende – Nusa Tenggara Timur.

(9)

Kab. Takalar, Kab. Jeneponto – Sulawesi Selatan.

g. Industri Genteng

1)

Keadaan Spesifik

 

(1)

Umumnya kualitas genteng yang diproduksi IKM mutunya masih rendah.

(2)

Peralatan

dan

mesin

produksi

yang

digunakan

IKM

masih

(3)

sederhana. Masih kurangnya kesadaran produsen genteng dalam

menerapkan

SNI. (4) Diberlakukannya perdagangan bebas akan memberikan peluang

(5)

produk genteng untuk memperluas pemasarannya. Masuknya produk genteng terutama dari Itali perlu diwaspadai oleh

 

industri genteng dalam negeri.

 

2)

Sasaran Pengembangan Sasaran peningkatan jumlah Nilai Tambah, Nilai Produksi, Unit Usaha dan Tenaga Kerja tahun 2003–2004 disajikan pada Tabel 2.8 berikut:

Tabel 2.8 Sasaran Peningkatan Nilai Tambah, Nilai Produksi, Unit Usaha dan Tenaga Kerja Industri Kecil Menengah Genteng tahun 2003 – 2004

POSISI

2002

SASARAN

LAJU

PERTUM

BUHAN/THN

NO.

INDIKATOR

2003

2004

1.

Nilai Tambah (Rp. Juta)

2.602.114

2.709.748

2.911.136

7,04%

2.

Nilai Produksi (Rp. Juta)

3.870.177

4.095.505

4.334.313

7,52%

3.

Unit Usaha (Unit)

197.909

203.846

209.962

3,00%

4.

Tenaga Kerja (Orang)

941.710

988.800

1.038.240

5,00%

3)

Program Pengembangan

(1)

Sosialisasi dan penerapan SNI genteng

(2)

Meningkatkan mutu dan desain produk melalui penyediaan tenaga

(3)

ahli, instruktur dan fasilitator. Melaksanakan pelatihan teknis, magang dan studi banding untuk

(4)