P. 1
RI-PIKM_BukuII

RI-PIKM_BukuII

|Views: 1,645|Likes:
Dipublikasikan oleh Abdul Mukti Zubir

More info:

Published by: Abdul Mukti Zubir on Jun 19, 2009
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/11/2014

pdf

text

original

Sections

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN INDUSTRI KECIL MENENGAH

2002 – 2004

BUKU II

Program Pengembangan Industri Kecil Menengah

DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN RI 2003

KATA PENGANTAR Bismillahirrahmanirrahim

Dengan memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, Buku II yang merupakan bagian dari Buku I Rencana Induk Pengembangan Industri Kecil Menengah (RIP-IKM) untuk masa pembangunan Tahun 2002 – 2004 telah selesai disusun. Buku I berisi tentang Kebijakan dan Strategi Umum Pengembangan Industri Kecil Menengah yang disusun dengan tujuan sebagai pedoman umum yang berlaku secara nasional untuk digunakan sebagai arahan ke mana industri kecil menengah akan dikembangkan. Buku II adalah merupakan penjelasan serta penjabaran Buku I, dimana dalam buku ini lebih dibahas dengan rinci tentang hal-hal yang disinggung dalam Buku I. Dalam buku ini dibahas pengertian, prioritas, misi serta sasaran pengembangan komoditi prioritas secara lebih rinci. Buku II memuat Program Pengembangan Industri Kecil Menengah yang terdiri dari 5 (lima) bab utama,yang terdiri atas : Bab I Bab II Bab III Bab IV Bab V : Memuat Perhitungan Target Kuantitatif Pengembangan Industri Kecil Menengah. : Memuat Program Pengembangan Industri Kecil Menengah Penggerak Perekonomian Daerah. : Memuat Program Pengembangan Pendukung (Supporting Industry). : Memuat Program Pengembangan Berorientasi Ekspor. Industri Industri Kecil Kecil Menengah Menengah

: Memuat Program Pengembangan Industri Kecil Menengah Inisiatif Baru.

Perlu sedikit diulas bahwa terdapat sedikit perbedaan angka-angka antara angka total PDB, unit usaha dan tenaga kerja, pada Buku I dan Buku II. Perbedaan angka yang dimaksud adalah karena pada Buku I data diambil dari Buku Pengukuran dan Analisis Ekonomi Kinerja Penyerapan Tenaga Kerja, Nilai Tambah dan Ekspor Usaha Kecil Menengah serta Peranannya terhadap Tenaga Kerja Nasional dan Produk Domestik Bruto, hasil kerjasama Proyek Pengembangan Sistem Informasi Koperasi Usaha Kecil dan Menengah, Kantor Menteri Negara Urusan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah dengan Badan Pusat Statistik Tahun 2001, sedangkan pada Buku II digunakan data yang bersumber dari Badan Pusat Statistik yang meliputi Survey Usaha Terintegrasi, Profil Usaha Kecil dan Menengah Tidak Berbadan Hukum, Statistik Industri Besar dan Sedang serta hasil monitoring Direktorat Jenderal Industri dan Dagang Kecil Menengah. Bahan-bahan tersebut diolah oleh Direktorat Jenderal Industri dan Dagang Kecil Menengah dalam rangka kebutuhan Buku II ini. Perbedaan terjadi karena Buku I

i

menyajikan PDB, unit usaha dan tenaga kerja, tetapi tidak dapat ditelusuri lebih lanjut untuk mendapatkan data-data menurut komoditi prioritas yang tingkatnya sudah sangat rinci. Selanjutnya kepada semua pihak dan jajaran aparat terkait diharapkan menggunakan acuan program ini dalam melakukan upaya pengembangan industri kecil menengah sesuai dengan tugas dan misinya masing-masing. Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu memberkati upaya kita dalam mengembangkan industri kecil menengah sehingga dapat mencapai sasaran yang dituju. Amin. Jakarta, Maret 2003

MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN

RINI M SUMARNO SOEWANDI

ii

DAFTAR ISI

Kata Pengantar…………………………………………………………………… Daftar Isi…………………………………………………………………………. Daftar Tabel……………………………………………………………………… Daftar Lampiran …………………………………………………………………. BAB I.

i iii vi viii

PERHITUNGAN TARGET KUANTITATIF PENGEMBANGAN INDUSTRI KECIL DAN MENENGAH……………………….… 1 1.1 1.2 1.3 Pendahuluan …………………………………………………. Simulasi Perhitungan Pertumbuhan IKM…………………… Perhitungan Target PDB, Unit Usaha, Tenaga Kerja dan Nilai Produksi IKM…………………………………………………. 1 2 4 8 8 8 9 9 9 10 11 12 12 13

BAB II.

PROGRAM PENGEMBANGAN INDUSTRI KECIL MENENGAH PENGGERAK PEREKONOMIAN DAERAH…. 2.1. Umum………..……………………………………..……….. a. Pengertian, Ciri/Kriteria dan Lingkup Komoditi Prioritas…..….………………..…………………….…. b. Misi Serta Tujuan ……………………………………. c. Target Group Pembinaan dan Pengembangan……..….. d. Kondisi Umum Saat Ini………..……………….……… e. Sasaran Pengembangan Tahun 2003 - 2004…………… f. Arah Pengembangan……………………………..…….. g. Kebijakan Pengembangan………………………..……. h. Strategi Pengembangan…………………………..……. i. Program Pengembangan……………………………..… 2.2. Pengembangan IKM Penggerak Perekonomian Daerah Per Kelompok Komoditi ………………………..……………… a. Industri Makanan Ringan ……..……………………… b. Industri Sutera Alam ..………………………………… c. Industri Penyamakan Kulit…….……………………… d. Industri Pengolahan Minyak Sawit (CPO-IKM)……… e. Industri Pupuk (Alam dan Organik)………………….. f. Industri Garam………………………………….……... g. Industri Genteng………………………………………. h. Industri Alsintani dan Pande Besi……………………… i. Pengembangan Motorisasi Kapal Nelayan……….…… j. Industri Kapal ≤100 GT……………..……………….

13 13 15 16 17 19 21 22 23 25 27

iii

k. l. m. BAB III.

Industri Tenun Tradisional………………..…………… Industri Perhiasan……………………..………………. Industri Kerajinan Anyaman………………….……….

28 30 32

PROGRAM PENGEMBANGAN INDUSTRI KECIL MENENGAH PENDUKUNG (SUPPORTING INDUSTRY)………… 3.1. Umum…………………………………………………….… a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. Pengertian, Ciri/Kriteria dan Lingkup Komoditi Prioritas………………………………………………. Misi serta Tujuan……………………………………. Target Group Pembinaan dan Pengembangan ……… Kondisi Umum Saat Ini ..…………………………… Sasaran Pengembangan Tahun 2003-2004………….. Arah Pengembangan ………………………………… Kebijakan Pengembangan…………………………… Strategi Pengembangan……………………………… Program Pengembangan……………………………… Lokasi Pengembangan………………………………..

34 34 34 34 35 35 36 37 38 38 39 40 41 41 42 43 44

3.2. Pengembangan Kelompok Industri Komoditi Terpilih…. a. b. c. d. BAB IV. Komponen KBM…………………………………….. Mesin dan Peralatan Pabrik..…………………………. Elektronika…………………………………………… Komponen (Barang Karet dan Plastik)……………….

PROGRAM PENGEMBANGAN INDUSTRI KECIL MENENGAH BERORIENTASI EKSPOR………….……….……….. 4.1 Umum…………………………..……….………………….. a. Pengertian, Ciri/Kriteria dan Lingkup Komoditi Prioritas……………………………………………….. b. Misi Serta Tujuan……………..………………………. c. Target Group Pembinaan dan Pengembangan ……….. d. Kondisi Umum Saat Ini ………………..……….…….. e. Sasaran Pengembangan Tahun 2003-2004 ….………….. f. Arah Pengembangan …………………………………. g. Strategi Pengembangan ……………………………… h. Program Pengembangan………………………….….. Pengembangan Kelompok Industri Komoditi Terpilih…. a. Industri Pengolahan Ikan……..……………………….. b. Industri Kerupuk ………………………………..……. c. Industri Barang Jadi Kulit…………………..………… d. Industri Alas Kaki/Sepatu Kulit…………………..….. e. Industri Pakaian Jadi……………………………..…… f. Industri Barang Jadi Tekstil…………………..………. g. Industri Minyak Atsiri..……………………..…………

45 45 45 46 46 46 47 49 49 49 50 50 52 53 54 55 56 57

4.2

iv

h. i. j. k. l. m. n. o. p. BAB V.

Industri Arang Kayu/Tempurung……………….……. Industri Furniture Kayu/Rotan…..……….………….. Industri Batik………….……………….……………… Industri Perhiasan………………………………..……. Industri Sulaman/Bordir………………….…………… Industri Mainan Anak…………………………..…….. Industri Keramik/Gerabah……………………….……. Industri Kerajinan Kayu……………………….……… Industri Kerajinan Anyaman ………………………….

59 60 62 64 65 66 67 69 70

PROGRAM PENGEMBANGAN INDUSTRI KECIL MENENGAH INISIATIF BARU….…………………………………… 5.1. Umum……………………………………………………….. a. Pengertian, Ciri/Kriteria dan Lingkup Komoditi Prioritas……………………………………………….. b. Misi Serta Tujuan……………..…………..………… c. Target Group Pembinaan dan Pengembangan .…..…… d. Kondisi Umum Saat Ini…………..…………..………. e. Sasaran Pengembangan Tahun 2003 – 2004…………. f. Arah Pengembangan………………………………….. g. Kebijakan Pengembangan……………………………. h. Strategi Pengembangan……………………………….. i. Program Pengembangan………………………………. 5.2. Pengembangan Kelompok Komoditi………………….….. a. Industri Software Komputer……………………..……. b. Industri Pangan Pengaplikasi Bioteknologi …………. c. Industri Kimia Hasil Pertanian / Perkebunan Pengaplikasi Bioteknologi ……………………… d. Industri Kimia Pemanfaat Limbah Pengaplikasi Bioteknologi…………………………………………..

72 72 72 72 72 73 74 75 75 75 76 76 76 78 79 80 81 82

BAB VI.

PENUTUP…………………………………………………………

LAMPIRAN – LAMPIRAN …………………………………………………...

---------------------

v

BAB I PERHITUNGAN TARGET KUANTITATIF PENGEMBANGAN INDUSTRI KECIL MENENGAH

1.1

PENDAHULUAN Sektor industri Indonesia selama enam Repelita dari tahun 1965 sampai dengan tahun 1999 tumbuh dengan laju rata-rata diatas 10%/tahun, hal ini selaras dengan pertumbuhan PDB ekonomi yang tumbuh dengan rata-rata 7%/tahun. Pada periode ini negara tetangga ASEAN seperti Malaysia dan Thailand tumbuh dengan rata-rata 7,8% dan 7,2%. Krisis telah menekan pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan hebat dimana untuk pertama kalinya sejak 30 tahun, yaitu pada tahun 1998 perekonomian terkontraksi hingga 14,6%. Namun secara berangsur-angsur ekonomi Indonesia mampu membaik kembali walaupun belum dapat mencapai tingkat pertumbuhan sejauh 30 tahun yang lalu, disamping masih berfluktuasi. Tahun 2001 PDB Indonesia hanya tumbuh 3,98% atau lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan tahun 2000 yang mencapai 5,19%. Tahun 2002 pertumbuhan sedikit lebih baik dari tahun 2001 dan diharapkan pada tahun 2003 ekonomi Indonesia mampu tumbuh 5%. Peran PDB sektor industri terhadap PDB Nasional sedikit meningkat dari 25,24% naik menjadi 25,71% dan 26,01% pada tahun 1999, 2000 dan 2001. Namun hal ini tidak diikuti peningkatan peran PDB Industri Kecil Menengah (IKM). Peran PDB sektor ini hanya berkisar antara 38 hingga 39% pada tahun 1999 hingga tahun 2001, sektor industri perannya sangat didominasi oleh industri besar. Hingga saat ini sumbangan sektor industri besar sekitar 61% terhadap PDB sektor industri secara keseluruhan. Propenas 2000 – 2004 menggariskan bahwa salah satu tujuan pembangunan sektor industri adalah pengembangan pengusaha kecil menengah dan koperasi yang mampu memperluas basis ekonomi dan dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam mempercepat perubahan struktural, yaitu dengan meningkatnya perekonomian daerah dan ketahanan ekonomi nasional. Perubahan struktur dalam pembangunan sektor industri yang dimaksud mencerminkan tuntutan peningkatan pada dimensi jenis maupun skala industri, yaitu bahwa selain sektor ini tumbuh, tetapi juga memiliki struktur yang kuat. Kekuatan struktur tercermin dari sumbangan sektor yang makin berarti dari setiap sub-sub sektor industri yang merupakan elemen-elemen industri. Sub-sub sektor yang dimaksud seperti misalnya sub-sub (cabang industri) pangan, sandang, kimia, engineering dan sebagainya. Kekuatan struktur dimaksud juga mencerminkan bahwa semakin meningkatnya peran sektor IKM terhadap sektor industri secara keseluruhan.

1

Secara kuantitatif apa yang diamanatkan oleh Propenas mengindikasikan bahwa sektor industri harus dibangun sehingga PDB-IKM mampu menyamai atau bahkan melebihi PDB-Industri Besar (IB). Pertanyaan kini yaitu berapa besar pertumbuhan industri kecil, industri menengah dan berapa industri besarnya sendiri, serta kapan kondisi keseimbangan antara peran IKM dan IB tercapai. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dilakukan simulasi untuk menghitung pertumbuhan industri kecil maupun industri menengah yang selanjutnya disebut dengan IKM dalam mencapai target Program Pembangunan Nasional (Propenas) dimaksud dengan asumsi umum dalam simulasi yaitu pertumbuhan ekonomi akan konstan pada tingkat 5% setelah tahun 2004. 1.2 SIMULASI PERHITUNGAN PERTUMBUHAN IKM Proses simulasi untuk menentukan berapa pertumbuhan IKM ke depan untuk mencapai target Propenas disajikan dengan rinci pada Lampiran 1 dan 2. Hasil yang tersaji pada kedua lampiran tersebut adalah merupakan hasil perhitungan dengan proses iterasi sebagai berikut : a. Iterasi Pertama Asumsi-asumsi awal pada iterasi pertama ditetapkan sebagai berikut : (1) melihat pertumbuhan ekonomi (PDB) pada tahun 1999, 2000 dan 2001, maka diasumsikan bahwa pertumbuhan ekonomi untuk tahun 2003 dan 2004 adalah sebesar 4% dan 5%, (2) kontribusi PDB Industri terhadap PDB Nasional kedepan adalah tetap sama dengan rata-rata kontribusi industri dari tahun 1997 s/d 2001; (3) kontribusi PDB Industri Kecil (IK) dan Industri Menengah (IM) kedepan terhadap industri nasional adalah sama seperti ratarata kontribusi tahun 1997 s/d 2001; (4) kondisi yang ingin dicapai yaitu kontribusi PDB IB sama dengan PDB Industri-PDB IKM. Dengan kondisi-kondisi yang ditetapkan tersebut, hasil perhitungan memperlihatkan bahwa kondisi yang dikehendaki Propenas tercapai bila pertumbuhan IK 6,6% per tahun dan IM 7,4% per tahun atau IKM secara rata-rata akan tumbuh 6,96%. Dengan kedua laju pertumbuhan ini maka dalam 10 tahun yang akan datang atau pada tahun 2012 akan tercapai keseimbangan antara PDB-IKM dengan PDB-IB. Dalam iterasi ini ternyata PDB IB hanya tumbuh antara 3 s/d 3,45% per tahun, kondisi ini tidak mungkin dan boleh dikatakan terlalu kecil jika dibandingkan dengan fakta bahwa perkembangan industri besar selama 6 Repelita yang lalu selalu tumbuh rata-rata 10% per tahun. Dilain pihak industri kecil berdasarkan pengalaman selama ini pertumbuhannya hanya 1 s/d 2% diatas pertumbuhan ekonomi. Untuk itu pendekatan perhitungan harus disesuaikan dan dicoba pada iterasi berikutnya. Iterasi Kedua Laju pertumbuhan industri besar diperbesar menjadi 6% (rata-rata tahun 2000 s/d 2001) sedangkan asumsi pertumbuhan IKM tetap dijaga agar tetap 6,96% (= 7%) seperti pada iterasi 1. Ternyata hasilnya memperlihatkan bahwa dalam 10 tahun target Propenas seperti hasil pada iterasi pertama kini tidak lagi dapat dicapai. Hal ini mengindikasikan bahwa perlu pertumbuhan
2

b.

IKM yang lebih besar, sehingga proses iterasi perlu dilanjutkan dengan mencoba merubah skenario pertumbuhan. c. Iterasi Ketiga Dengan pendekatan yang sama, selanjutnya dilakukan suatu set iterasi dengan mempertimbangkan perilaku industri berdasarkan pengalaman enam Repelita yang lalu. Bila ditetapkan pertumbuhan industri besar antara 7 – 8% (lebih mendekati rata-rata 6 Repelita terdahulu) dan industri menengah 14%, maka keseimbangan IKM dengan IB ternyata dapat tercapai. Secara lengkap sub-iterasi pada iterasi ketiga tersaji dalam Lampiran 1 dan 2. Secara lengkap ringkasan dari hasil iterasi tersaji pada Tabel 1.1 Tabel 1.1 Set Iterasi Ketiga Pertumbuhan IK, IM dan IB serta Ketercapaian Keseimbangan IKM dan IB
ITERASI KE TIGA SUB-ITERASI KE 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 PERTUMBUHAN (%)

IK
6 6 6 6 6 6 6 7 7 7 7 7 7 8 8 8 8 8 8 9 9 9 9 9 9 9 10 10 10 10 10 10 10 10 10

IM
10 12 12 14 14 14 14 10 12 12 14 14 14 10 12 12 14 14 14 10 10 12 12 14 14 14 10 10 12 12 12 14 14 14 14

IB
7,8,9,10 7 8,9,10 7 8 9 10 7,8,9,10 7 8,9,10 7 8 10 7,8,9,10 7 8,9,10 7 8 10 7 8,9,10 7 9,10 7 8 10 7 8,9,10 7 8 9,10 7 8 9 10

KESEIMBANGAN IKM = IB TERCAPAI PADA TAHUN KE ~ 18 ~ 12 16 22 ~ ~ 16 ~ 14 18 ~ ~ 15 ~ 13 17 ~ 18 ~ 14 ~ 12 16 ~ 15 ~ 12 17 ~ 10 13 18 ~

3

d.

Hasil yang Diperoleh Dengan mempertimbangkan bahwa angka ideal untuk industri kecil adalah pada tingkat sebesar 7% dan industri besar pada tingkat sekitar 8%, serta keinginan untuk mencapai keseimbangan struktur seperti yang ditargetkan oleh Propenas harus dipenuhi, maka iterasi ketiga diatas menginformasikan bahwa yang harus dipacu adalah industri menengah dengan angka pertumbuhan sebesar 14%. Dengan kondisi ini diharapkan pada tahun 2020 atau 18 tahun yang akan datang kondisi keseimbangan yang dimaksud dapat tercapai. Angka-angka ini selanjutnya akan dijadikan pegangan menghitung pertumbuhan IKM kedepan dengan pendekatan pada asumsi pertumbuhan seperti yang tersaji Tabel 1.2. Tabel 1.2 Pola Perhitungan Target Pertumbuhan IK, IM , IB
JENIS INDUSTRI 2003 Industri Kecil Industri Menengah Industri Besar 7% 10% 7% 2004 7% 12% 7% TAHUN 2005 7% 14% 8% ……… ……… ……… ……… 2020 7% 14% 8%

1.3

PERHITUNGAN TARGET PDB, UNIT USAHA, TENAGA KERJA DAN NILAI PRODUKSI IKM Untuk menghitung target PDB tahun 2003 dan 2004 akan digunakan PDB industri kecil menengah tahun 1998-2001 sebagaimana yang tersaji pada Tabel 1.3 Tabel 1.3 Perkembangan PDB IKM tahun 1998-2001 Menurut Harga Konstan tahun 1993 (Rp. juta)
NO. URAIAN 1998 32.822.602 9.740.100 3.473.659 12.123.331 4.969.321 2.516.190 1999 33.863.614 9.015.405 3.908.628 12.655.929 5.186.752 3.096.900 2000 36.184.500 8.367.506 5.274.767 12.421.721 6.237.814 3.882.692 2001 38.260.098 8.908.343 5.808.898 12.593.841 6.741.450 4.207.566

INDUSTRI KECIL MENENGAH 1. IKM Pangan 2. 3. 4. 5. IKM Sandang IKM Kimia Bahan Bangunan IKM Logam dan Elektronika IKM Kerajinan

Sumber : Badan Pusat Statistik (BPS diolah Ditjen IDKM)

PDB IKM tahun 1998-2001 yang tersaji dalam Tabel 1.3. selanjutnya diaplikasikan untuk menghitung proyeksi PDB IKM tahun 2003 dan 2004 dengan laju pertumbuhan IK sebesar 7% dan IM 9% untuk tahun 2003, dan 12% untuk tahun 2004, sedangkan IB dihitung dengan laju pertumbuhan 7% untuk tahun 2003 dan 2004, yang hasilnya tersaji pada Tabel 1.4.
4

Tabel 1.4 Proyeksi PDB IKM tahun 2002-2004 (Rp. juta)
NO. URAIAN 2002 40.766.940 9.485.260 6.231.785 13.239.012 7.260.082 4.550.802 2003 44.165.566 10.368.239 6.898.363 13.743.705 8.123.745 5.031.513 2004 48.256.216 11.034.393 7.357.271 15.169.328 9.226.785 5.468.440

INDUSTRI KECIL MENENGAH 1. 2. 3. 4. 5. IKM Pangan IKM Sandang IKM Kimia Bahan Bangunan IKM Logam dan Elektronika IKM Kerajinan

Sumber : Badan Pusat Statistik (BPS) diolah Ditjen IDKM

Sama hasilnya seperti perhitungan PDB proyeksi perkembangan unit usaha serta tenaga kerja industri kecil menengah untuk tahun 2003 dan 2004 dihitung berdasarkan angka populasi unit usaha, tenaga kerja dan nilai produksi tahun 1998-2004 seperti yang tersaji pada Tabel 1.5 s/d Tabel 1.10. Tabel 1.5. Perkembangan Unit Usaha Industri Kecil Menengah tahun 1998-2001 (unit)
NO. URAIAN 1998 2.114.400 721.490 175.995 422.077 61.030 733.809 1999 2.536.220 838.947 223.089 522.777 60.145 891.262 2000 2.724.670 897.629 213.497 548.278 59.634 1.005.632 2001 2.885.820 950.325 303.767 536.760 57.733 1.037.235

INDUSTRI KECIL MENENGAH 1. 2. 3. 4. 5. IKM Pangan IKM Sandang IKM Kimia Bahan Bangunan IKM Logam dan Elektronika IKM Kerajinan

Sumber : Badan Pusat Statistik (BPS) diolah Ditjen IDKM

Tabel 1.6. Proyeksi Unit Usaha Industri Kecil Menengah tahun 2002-2004 (unit)
NO. 1. 2. 3. 4. 5. IKM Pangan IKM Sandang IKM Kimia Bahan Bangunan IKM Logam dan Elektronika IKM Kerajinan URAIAN 2002 2.901.454 978.834 312.880 552.863 61.853 995.024 2003 2.988.519 1.008.199 322.267 569.449 63.730 1.024.874 2004 3.078.202 1.038.445 331.935 586.533 65.669 1.055.621

INDUSTRI KECIL MENENGAH

Sumber : Badan Pusat Statistik (BPS) diolah Ditjen IDKM

5

Tabel 1.7 Perkembangan Tenaga Kerja Industri Kecil Menengah tahun 1998-2001 (ribu orang)
NO. 1. 2. 3. 4. 5. URAIAN IKM Pangan IKM Sandang IKM Kimia Bahan Bangunan IKM Logam dan Elektronika IKM Kerajinan 1998 8.329,53 2.457,95 1.628,59 2.307,80 590,08 1.345,11 1999 10.135,52 3.064,56 1.848,93 2.797,42 626,06 1.798,55 2000 10.708,42 3.129,10 1.813,05 2.990,08 614,46 2.161,73 2001 11.363,76 3.342,45 2.116,91 3.023,25 655,51 2.225,64

INDUSTRI KECIL MENENGAH

Sumber : Badan Pusat Statistik (BPS) diolah Ditjen IDKM

Tabel 1.8 Proyeksi Tenaga Kerja Industri Kecil Menengah tahun 2002-2004 (ribu orang)
NO. 1. 2. 3. 4. 5. IKM Pangan IKM Sandang IKM Kimia Bahan Bangunan IKM Logam dan Elektronika IKM Kerajinan URAIAN 2002 11.919,15 3.509,57 2.222,76 3.174,42 688,28 2.324,12 2003 12.515,11 3.685,05 2.333,90 3.333,14 722,70 2.440,33 2004 13.140,86 3.869,30 2.450,59 3.499,79 758,83 2.562,34

INDUSTRI KECIL MENENGAH

Sumber : Badan Pusat Statistik (BPS) diolah Ditjen IDKM

Tabel 1.9 Perkembangan Nilai Produksi Industri Kecil Menengah tahun 1998-2001 Menurut Harga Konstan tahun 1993 (Rp juta)
NO. 1. 2. 3. 4. 5. URAIAN IKM Pangan IKM Sandang IKM Kimia Bahan Bangunan IKM Logam dan Elektronika IKM Kerajinan 1998 87.777.433 31.993.127 9.548.948 28.746.039 11.711.649 5.777.670 1999 93.606.297 28.653.283 11.502.744 30.223.172 12.075.717 11.151.381 2000 100.453.677 28.930.188 15.413.056 33.865.111 14.038.876 8.206.446 2001 94.893.822 27.589.516 15.996.143 28.720.149 15.473.954 7.114.060

INDUSTRI KECIL MENENGAH

Sumber : Badan Pusat Statistik (BPS) diolah Ditjen IDKM

6

Tabel 1.10 Proyeksi Nilai Produksi Industri Kecil Menengah tahun 2002-2004 Menurut Harga Konstan tahun 1993 (Rp juta)
NO. 1. 2. 3. 4. 5. IKM Pangan IKM Sandang IKM Kimia Bahan Bangunan IKM Logam dan Elektronika IKM Kerajinan URAIAN 2002 103.163.702 29.763.182 17.346.925 30.862.385 17.383.219 7.807.991 2003 112.218.793 32.108.159 18.813.552 33.176.451 19.546.402 8.574.230 2004 122.140.657 34.637.953 20.406.110 35.677.001 21.998.667 9.420.926

INDUSTRI KECIL MENENGAH

Sumber : Badan Pusat Statistik (BPS) diolah Ditjen IDKM

7

BAB II PROGRAM PENGEMBANGAN INDUSTRI KECIL MENENGAH PENGGERAK PEREKONOMIAN DAERAH

2.1. UMUM a. Pengertian, Ciri/Kriteria dan Lingkup Komoditi Prioritas 1) Pengertian: IKM Penggerak Perekonomian Daerah adalah industri yang memproduksi barang dan jasa yang menggunakan bahan baku utamanya berbasis pada pendayagunaan sumber daya alam, bakat dan karya seni tradisional dari daerah setempat. Ciri/Kriteria: (1) (2) (3) (4) (5) Bahan bakunya mudah diperoleh, utamanya karena tersedia di daerah. Menggunakan teknologi sederhana sehingga mudah dilakukan alih teknologi. Keterampilan dasar umumnya sudah dimiliki secara turun temurun. Bersifat padat karya atau menyerap tenaga kerja yang cukup banyak. Peluang pasar cukup luas, sebagian besar produknya terserap di pasar lokal/domestik dan tidak tertutup sebagian lainnya berpotensi untuk diekspor. Beberapa komoditi tertentu memiliki ciri khas terkait dengan karya seni budaya daerah setempat Melibatkan masyarakat ekonomi lemah setempat. Secara ekonomis menguntungkan. Makanan ringan. Sutera alam. Penyamakan kulit. Minyak sawit (CPO-IKM). Pupuk (alam dan organik). Garam. Genteng. Alsintani dan pande besi. Kapal < 100 GT.
8

2)

(6) (7) (8) 3) (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)

Lingkup Komoditi Prioritas :

(10) (11) (12) (13) (14) b.

Motorisasi kapal nelayan. Alat pertanian tradisional. Tenun tradisional. Perhiasan. Anyaman.

Misi serta Tujuan 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) Memanfaatkan potensi SDA andalan lokal secara optimal, masyarakat IKM setempat dan sebagai pemasok utama pasar lokal. Meningkatkan pendapatan masyarakat dan daerah. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Memperluas kesempatan kerja (mengurangi pengangguran). Melestarikan dan mengembangkan seni tradisional budaya daerah. Mengisi kebutuhan pasar lokal, domestik dan ekspor. Meningkatkan perolehan devisa. Memajukan daerah.

c.

Target Group Pembinaan dan Pengembangan 1) 2) Sasaran pembinaan kelompok masyarakat meliputi: petani, nelayan, masyarakat pedesaan dan kelompok pencari kerja lainnya. Sasaran lokasi pengembangan yang secara geografis memerlukan penanganan yang lebih intensif antara lain: daerah perbatasan, daerah terbelakang, Kawasan Timur Indonesia, kantong-kantong pengangguran di perkotaan serta daerah pedesaan yang potensial untuk dibina.

d.

Kondisi Umum Saat Ini 1) Lingkungan Internal Kekuatan (1) (2) (3) (4) (5) Bahan baku tersedia di pasaran setempat/mudah diperoleh. Keterampilan dasar sudah dimiliki secara turun temurun. Teknologi tersedia dan mudah untuk dikuasai atau ditransfer. Dapat dijadikan usaha andalan/mata pencaharian masyarakat banyak. Adanya dukungan kebijakan dan program dari swasta maupun semua tataran pemerintahan. Manajemen, teknologi dan mesin/peralatan yang digunakan masih sederhana sehingga kurang efisien. Mutu produk beragam dan belum ada standarisasi. Akses informasi pasar masih terbatas/belum dikuasai. Kemasan belum memenuhi persyaratan teknis dan tidak menarik konsumen.
9

Kelemahan (1) (2) (3) (4)

2)

Lingkungan Eksternal Peluang (1) (2) (3) (1) (2) (3) (4) (5) Pangsa pasar dalam negeri cukup luas. Fundamental ekonomi makro Indonesia mulai membaik Dapat dikembangkan untuk pasar ekspor. Daya saing produk masih lemah. Persaingan semakin ketat baik dari produksi dalam negeri maupun barang impor. Iklim usaha belum kondusif bila dibandingkan fasilitasi negaranegara pesaing terhadap IKM-nya. Kebijakan pemerintah di berbagai bidang seperti tarif BBM, tarif transport dan tarif listrik telah meningkatkan biaya yang tidak kecil. Pemahaman/interpretasi otoda belum terstandardisasi antar daerah menjadikan iklim usaha tidak kondusif.

Tantangan/Ancaman

e.

Sasaran Pengembangan Tahun 2003 - 2004 1) Kualitatif (1) (2) (3) (4) (5) Tersedianya informasi peluang pasar dalam negeri untuk berbagai kelompok dan komoditi industri dengan teknologi sederhana. Terbukanya kesempatan usaha baru dengan bahan baku berbasis SDA setempat. Meningkatnya nilai tambah/pendapatan yang diterima perajin. Mengurangi pengangguran. Meningkatnya daya saing industri dengan melakukan penerapan teknologi produksi sederhana dan mudah dikuasai untuk diversifikasi produk dan desain dalam membuat inovasi. Tersedianya bahan baku alternatif yang dapat dijadikan sebagai pilihan. Meningkatnya bantuan permodalan, perpajakan, dan insentif lainnya. Meningkatnya informasi untuk pengembangan manajemen maupun mutu produk. Tumbuh dan berkembangnya perekonomian daerah.

(6) (7) (8) (9) 2)

Kuantitatif Sasaran kuantitatif pengembangan industri penggerak perekonomian daerah dapat dilihat pada Tabel 2.1 :

10

Tabel 2.1 Sasaran Peningkatan Jumlah Unit Usaha, Penyerapan Tenaga Kerja dan Nilai Produksi IKM Penggerak Perekonomian Daerah tahun 2003 - 2004
UNIT USAHA (Unit) NO INDUSTRI Posisi 2002 66.28 8 32.54 7 386 10 412 2.866 197.9 09 404 2.516 2.010 24.32 4 185.4 58 18.95 5 659.9 67 Proyeksi 2003 68.277 33.524 398 10 425 2.952 203.846 416 2.591 2.070 25.054 191.021 19.524 679.766 2004 70.325 34.530 405 11 437 3.041 209.962 429 2.669 2.132 25.806 196.752 20.110 700.159 TENAGA KERJA (Orang) Posisi 2002 240.650 187.870 12.050 10.330 9.660 30.190 941.710 5.230 17.110 26.370 66.360 381.840 49.400 1.087.8 10 Proyeksi 2003 252.680 197.260 12.650 10.850 10.150 31.700 988.800 5.490 17.960 27.690 69.680 400.930 51.870 1.142.2 00 2004 265.310 207.120 13.280 11.390 10.660 33.290 1.038.2 40 5.760 18.860 29.070 73.160 420.980 54.460 1.199.3 10 NILAI PRODUKSI (Juta Rp.) Posisi 2002 1.996.2 01 347.898 141.367 1.114.6 07 142.133 156.239 3.870.1 77 32.403 83.604 350.150 467.352 1.119.1 54 866.379 1.567.7 96 Proyeksi 2003 2.154.3 14 374.068 148.638 1.222.6 13 152.407 170.333 4.095.5 05 36.214 91.003 386.214 496.130 1.219.6 50 947.801 1.705.6 22 2004 2.324.9 53 402.212 156.279 1.341.0 84 163.481 185.734 4.334.3 13 40.506 99.166 426.446 526.721 1.329.4 61 1.037.2 94 1.855.7 96

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

Makanan Ringan Sutera Alam Penyamakan Kulit CPO-IKM Pupuk Garam Genteng Alsintani Motorisasi Kapal Nelayan Kapal < 100 GT Mesin alat pertanian tradisional Tenun Tradisional Perhiasan Anyaman

f.

Arah Pengembangan Pengembangan IKM penggerak perekonomian daerah diarahkan pada : 1) Menetapkan suatu kerangka kebijakan pengembangan IKM penggerak perekonomian daerah yang selaras antara kebijakan pengembangan IKM nasional dan kebijakan pembangunan di daerah. Meningkatkan IKM penggerak pembangunan daerah di bidang teknologi, manajemen dan kualitas SDM yang didukung oleh berbagai pihak: Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, BUMN, BUMD dan lembagalembaga terkait. Memperluas kesempatan berusaha dan kesempatan kerja di daerah sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya di daerah.
11

2)

3)

4)

Memperluas jangkauan pasar, dari lokal menjadi pasar antar provinsi bahkan pasar ekspor melalui peningkatan daya saing dan informasi pasar luar negeri.

g.

Kebijakan Pengembangan Untuk mewujudkan visi, misi dan arah pengembangan IKM penggerak perekonomian daerah ditetapkan kebijakan sebagai berikut : 1) Pengembangan industri ditekankan pada upaya optimalisasi penggunaan sumber daya alam lokal untuk meningkatkan nilai tambah, memperkuat struktur industri, memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri dan memperkuat daya saing produk terutama dalam pasar bebas AFTA tahun 2003. Selalu mengacu kepada pengaruh lingkungan internal dan eksternal, yaitu faktor-faktor kekuatan dan kelemahan serta peluang dan ancaman yang dimiliki masing-masing komoditi terpilih dari kelompok IKM penggerak perekonomian daerah. Memperkuat struktur industri melalui hubungan vertikal hulu hilir antara pemasok/penghasil dengan pengguna bahan baku dan hubungan kemitraan antara lembaga terkait dengan IKM atau antara perusahaan besar dengan IKM terpilih. Menciptakan iklim usaha yang semakin kondusif, antara lain: kemudahan-kemudahan yang dituangkan dalam peraturan perundangundangan, fasilitasi untuk dukungan akses permodalan, akses pasar, akses teknologi informasi, peningkatan kualitas SDM melalui pendidikan dan pelatihan.

2)

3)

4)

h.

Strategi Pengembangan Berdasarkan misi yang diemban, strategi pengembangan industri ini ditempuh melalui 2 langkah, yaitu: 1) Meningkatkan Permintaan (Pull Factors): (1) Memperkuat hubungan kemitraan antara IKM (yang termasuk penggerak perekonomian daerah) dengan industri besar/BUMN maupun lembaga-lembaga pendukung permodalan dan pemasaran. Menciptakan kebijakan iklim usaha yang lebih kondusif seperti: peraturan pajak, bea masuk, distribusi, pemberian insentif, kemudahan kredit, dll. Memberikan dukungan litbang dan prasarana serta fasilitasi promosi dan pemasaran baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Menjaga kontinuitas dan standarisasi mutu bahan baku.
12

(2)

(3) 2)

Meningkatkan Pengembangan Usaha (Push Factors): (1)

(2) (3) (4)

Memperbaiki dan meningkatkan produktivitas mesin/peralatan. Meningkatkan kualitas SDM. Fasilitasi akses permodalan, informasi dan pemasaran.

Penerapan strategi disesuaikan dengan kemampuan internal (kekuatan dan kelemahan) di IKM masing-masing daerah serta faktor-faktor eksternal (peluang dan ancaman) untuk setiap komoditi IKM penggerak perekonomian daerah. i. Program Pengembangan 1) Pengembangan Teknologi (1) Pengenalan/sosialisasi teknologi pengolahan yang lebih baik. (2) Bantuan peralatan pengolahan bagi IKM tertentu. (3) Fasilitasi pengembangan mutu. Peningkatan kualitas SDM (1) (2) (3) 3) 4) Memberi bimbingan dan pelatihan teknis/keterampilan peningkatan manajemen. Sosialisasi peraturan-peraturan menyangkut IKM. Sosialisasi penemuan balai-balai penelitian. dan

2)

Fasilitasi Bantuan Permodalan Fasilitasi akses terhadap lembaga permodalan Bank/Non Bank. Bantuan Pemasaran (1) (2) (3) Fasilitasi pendirian trading house. Fasilitasi penyediaan informasi pasar dan peningkatan teknologi informasi. Fasilitasi untuk mengikuti pameran.

5) 6)

Memfasilitasi Kerjasama/Kemitraan Fasilitasi kemitraan antara BUMN/Swasta besar dengan IKM. Iklim dan Sarana Usaha (1) (2) Fasilitasi penyediaan sarana dan prasarana usaha. Penyusunan dan peninjauan kembali kebijakan dan peraturan yang membantu IKM (penciptaan iklim usaha yang kondusif). Penyediaan jasa pengujian dan assessment mutu produk. Sosialisasi penemuan yang baru dari Balai-balai Litbang.

7)

Pemanfaatan hasil Litbang dan Peningkatan Mutu Produk (1) (2)

2.2. PENGEMBANGAN IKM PENGGERAK PEREKONOMIAN DAERAH PER KELOMPOK KOMODITI.

13

a.

Industri Makanan Ringan 1) Keadaan Spesifik (1) (2) (3) (4) (5) (6) 2) Kurang memperhatikan aspek higienis. Masih ada penggunaan Bahan Tambahan Pangan (BTP) tidak benar/bahan tambahan yang dilarang. Pengelolaan/manajemen usaha masih sederhana. Mutu sangat beragam dan masih banyak yang belum memenuhi standar. Kemasan sangat sederhana, tidak menarik dan label tidak sesuai dengan isi. Masuknya produk-produk makanan ringan dari negara lain yang mempunyai daya saing cukup tinggi.

Sasaran Pengembangan Sasaran peningkatan jumlah Nilai Tambah, Nilai Produksi, Unit Usaha dan Tenaga Kerja yang ingin dicapai pada tahun 2003-2004, tersaji pada Tabel 2.2 : Tabel 2.2 Sasaran Peningkatan Nilai Tambah, Nilai Produksi, Unit Usaha dan Tenaga Kerja Industri Kecil Menengah Makanan Ringan tahun 2003 – 2004
N O. INDIKATOR POSISI 2002 SASARAN

2003 581.400 2.154.31 4 68.277 252.680

2004 619.926 2.324.95 3 70.325 265.310

LAJU PERTUM BUHAN/THN

1. 2.

Nilai Tambah (Rp. Juta) Nilai Produksi (Rp Juta)

532.508 1.996.20 1 66.288 240.650

7,86% 7,88%

3. 4.

Unit Usaha (Unit) Tenaga Kerja (Orang)

3,00% 5,00%

3)

Program Pengembangan tahun 2003 - 2004 (1) Peningkatan Mutu Produk dan Kemasan IKM Makanan Ringan. (a). Fasilitasi pengadaan peralatan produksi makanan ringan. (b). Bimbingan dan sertifikasi sistem mutu. (c). Pengembangan klinik pelayanan kemasan dan label. Peningkatan Sumber Daya Pemberdayaan IKM Makanan Ringan (a). TOT-GMP bagi aparat pembina di daerah. (b). TOT cleaner production industri kecil menengah pangan. Pengembangan Promosi dan Pemasaran IKM Makanan Ringan.
14

(2)

(3)

(a). Partisipasi pamasaran. (b). Penyediaan dan penyusunan informasi bisnis IKM makanan ringan. (c). Fasilitasi pendirian pusat pelayanan bisnis makanan ringan.

(4)

Pengembangan Iklim Usaha IKM Makanan Ringan. (a). Fasilitasi kerjasama antara IKM dengan perusahaan besar. (b). Pemasyarakatan peraturan mengenai makanan ringan. Deli Serdang – Sumatera Utara. Tanjung Karang – Lampung. Ciamis, Bandung – Jawa Barat. Kebumen, Salatiga - Jawa Tengah. Kota Yogyakarta – DI Yogyakarta.

4)

Lokasi Pengembangan (1) (2) (3) (4) (5)

b.

Industri Sutera Alam 1) Keadaan Spesifik (1) (2) (3) (4) (5) (6) 2) Tingkat utilitas produksi benang sutera rendah. Belum menggunakan teknologi tepat guna yang memadai. Bahan baku kokon yang berasal dari petani tidak mampu memenuhi kebutuhan industri pemintalan baik kualitas maupun kuantitas. Bahan baku benang yang berasal dari industri pemintalan tidak mampu memenuhi permintaan industri pertenunan. Ancaman negara pesaing (China, Thailand dan India). Harga produk sutera impor lebih murah.

Sasaran Pengembangan Sasaran peningkatan jumlah Nilai Tambah, Nilai Produksi, Unit Usaha dan Tenaga Kerja tahun 2003 – 2004 yang ingin dicapai, tersaji pada Tabel 2.3 berikut : Tabel 2.3 Sasaran Peningkatan Nilai Tambah, Nilai Produksi, Unit Usaha dan Tenaga Kerja Industri Kecil Menengah Sutera Alam tahun 2003 – 2004
N O. INDIKATOR POSISI 2002 SASARAN LAJU PERTUM BUHAN/THN

2003 98.768 374.068

2004 105.650 402.212

1. 2.

Nilai Tambah (Rp. Juta) Nilai Produksi (Rp Juta)

91.286 347.898

8,66% 8,48%

15

3. 4.

Unit Usaha (Unit) Tenaga Kerja (Orang)

32.547 187.870

33.524 197.260

34.530 207.120

3,00% 5,00%

3)

Program Pengembangan (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) Penerapan teknologi tepat guna. Fasilitasi kemitraan suplai bahan baku. Pengembangan desain. Bantuan tenaga ahli desain dan pengembangan produk sutera. Penerapan teknis pencelupan dengan menggunakan cat warna alam dan alternatif lainnya Promosi Pemasaran Promosi penggunaan merek sendiri dan pendaftaran HaKI. Pengembangan BDS. Pengembangan layanan informasi.

4)

Lokasi Pengembangan (1) (2) (3) (4) (5) (6) Kab. Wajo, Enrekang, Soppeng – Sulawesi Selatan. Kab. Garut, Sukabumi, Tasik Malaya – Jawa Barat. Kab. Boyolali, Purworejo, Magelang, Banyumas, Pemalang – Jawa Tengah. Kab. Sleman, Kota Yogyakarta – DI. Yogyakarta. Kab. Tanah Datar – Sumatera Barat. Kota Denpasar – Bali.

c.

Industri Penyamakan Kulit 1) Keadaan Spesifik (1) (2) (3) (4) (5) (6) 2) Tingkat utilitas produksi penyamakan rendah. Suplai kulit mentah dalam negeri terbatas. Mesin peralatan umumnya relatif tua. Kualitas produksi kulit samak belum memenuhi persyaratan industri besar. Persaingan yang ketat dengan negara pesaing, seperti: Korea. Pencemaran lingkungan.

Sasaran Pengembangan Sasaran peningkatan jumlah Nilai Tambah, Nilai Produksi, Unit Usaha dan Tenaga Kerja tahun 2003 – 2004, disajikan pada Tabel 2.4 berikut :

16

Tabel 2.4 Sasaran Peningkatan Nilai Tambah, Nilai Produksi, Unit Usaha, Tenaga Kerja Industri Kecil Menengah Penyamakan Kulit tahun 2003 – 2004
SASARAN NO. INDIKATOR POSISI 2002 LAJU PERTUM BUHAN/THN

2003 48.907 148.636 398 12.650

2004 47.968 156.279 405 13.280

1. 2. 3. 4.

Nilai Tambah (Rp. Juta) Nilai Produksi (Rp. Juta) Unit Usaha (Unit) Tenaga Kerja (Orang)

43.379 141.367 386 12.050

8,66% 8,46% 3,00% 5,00%

3)

Program Pengembangan (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Fasilitasi pengadaan bahan baku dari berbagai sumber di luar negeri. Fasilitasi kemitraan dalam rangka peningkatan produksi dan pemasaran. Fasilitasi relokasi industri. Penyusunan panduan pengolahan limbah. Penerapan cleaner production/teknologi produksi bersih. Penerapan Sertifikasi Penerapan Sistem Mutu (SPSM)/ISO 9000. Fasilitasi pendirian sarana untuk proses penyamakan kulit, dari kulit mentah hingga menjadi wet blue (beam house). Diversifikasi bahan baku kulit hewan lain seperti: kulit ikan, kulit reptil dan lainnya. Kab. Padang Panjang – Sumatera Barat. Kota Jakarta Barat –DKI Jakarta Kab. Sukaregang (Garut) – Jawa Barat. Kab. Batang – Jawa Tengah. Kab. Bantul, Kota Yogyakarta – DI. Yogyakarta. Kab. Magetan – Jawa Timur. Kab. Kupang – Nusa Tenggara Timur. Kota Medan – Sumatera Utara.
17

4)

Lokasi Pengembangan (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)

(9) d.

Papua

Industri Pengolahan Minyak Sawit (CPO-IKM) Hasil dari pengolahan minyak sawit ini misalnya adalah minyak goreng sawit, sabun, margarine, oleo kimia, bio gas, bio diesel, dan bio lubricant. 1) Keadaan Spesifik (1) (2) CPO digunakan sebagai bahan baku utama untuk produk industri minyak. Posisi tawar petani/pekebun kelapa sawit rakyat rendah, karena hasil TBS perkebunan rakyat masih diolah pada pabrik pengolahan industri besar. Keinginan petani perkebunan rakyat dan dunia usaha untuk mengelola pabrik CPO mini sangat besar. Luas areal perkebunan rakyat ± 1 juta Ha akan mampu menghasilkan 3 juta ton CPO per tahun apabila memiliki industri pengolah CPO IKM sendiri dengan kapasitas/skala antara 500 kilo TBS per jam sampai dengan 3 ton TBS per jam. Telah mulai dihasilkan teknologi tepat guna permesinan CPO Mini dalam negeri yang telah terandalkan. Sebuah pabrik mini akan dapat menyerap tenaga kerja ± 20 orang per unit dengan melibatkan ± 200 kepala keluarga sehingga mampu menumbuhkan usaha baru. Akan menjadi penggerak sektor ekonomi lainnya di daerah. Bantuan mesin dan peralatan pendirian minyak goreng terpadu dari produk olahan CPO

(3)

(4) (5)

(6) (7)

2)

Sasaran Pengembangan Sasaran peningkatan jumlah Nilai Tambah, Nilai Produksi, Unit Usaha dan Tenaga Kerja tahun 2003–2004 disajikan pada Tabel 2.5 berikut Tabel 2.5 Sasaran Peningkatan Nilai Tambah, Nilai Produksi, Unit Usaha dan Tenaga Kerja Pengolahan Minyak Sawit (CPO-IKM) tahun 2003 – 2004
SASARAN NO. INDIKATOR POSISI 2002 275.241 1.114.607 10 LAJU PERTUM BUHAN/THN 7,04% 7,52% 3,00%

2003
283.842 1.222.613 10

2004
331.349 1.341.084 11

1. 2. 3.

Nilai Tambah (Rp. Juta) Nilai Produksi (Rp. Juta) Unit Usaha (Unit)

18

4.

Tenaga Kerja (Orang)

10.330

10.850

11.390

5,00%

3)

Program Pengembangan (1) (2) (3) (4) (5) (6) Promosi investasi mini plant CPO IKM. Kajian pemasaran/perdagangan dan distribusi CPO IKM. Pilot project pendirian industri minyak goreng terpadu dari produk olahan CPO, di Kab. Pasaman, Deli Serdang dan Lampung Selatan. Pilot project pendirian industri CPO – IKM terpadu di Kab. Lampung Selatan, Mamuju, Pasir dan Sanggau. Pengembangan industri pupuk kompos berbahan baku tandan kelapa sawit. Pengembangan industri biodiesel dan biolubricant bahan baku CPO untuk skala IKM.

4)

Lokasi Pengembangan (1) Kab. Aceh Selatan, Kab. Aceh Timur, Kab. Aceh Barat, Kab. Aceh Utara – Nanggore Aceh Darusalam. (2) Kab. Tapanuli Selatan, Kab. Tapanuli Tengah, Kab. Tapanuli Utara, Kab. Labuhan batu, Kab. Asahan, Kab. Simalungun, Kab. Deli Serdang – Sumatera Utara. (3) Kab. Pesisir Selatan, Kab. Sawahlunto/Sijunjung, Kab. Pasaman, Kab. Solok, Kab. Agam – Sumatera Barat. (4) Kab. Batanghari, Kab. Bungo Tebo, Kab. Tanjung Jabung, Kab. Sarolangun Bangko – Jambi. (5) Kab. Bengkulu Utara, Kab. Bengkulu Selatan – Bengkulu. (6) Kab. Lampung Selatan, Kab. Lampung Tengah. Kab. Lampung Utara, Kab. Lampung Barat, Kab. Tulang Bawang – Lampung. (7) Kab. Sanggau, Kab. Ketapang, Kab. Sintang, Kab. Sambas, Kab. Pontianak – Kalimantan Barat. (8) Kab. Kota Waringin Barat, Kab. Kota Waringin Timur, Kab. Barito Utara – Kalimantan Tengah. (9) Kab. Pasir, Kab. Kutai – Kalimantan Timur. (10) Kab. Poso - Sulawesi Tengah. (11) Kab. Luwu, Kab. Mamuju – Sulawesi Selatan. (12) Kab. Manokwari, Kab. Jayapura – Papua .

e.

Industri Pupuk (Alam dan Organik) 1) Keadaan Spesifik (1) (2) (3) Mutu produk pupuk skala kecil menengah belum terjamin konsistensi kandungan haranya. Masih sederhananya peralatan produksi yang dimiliki IKM. Belum disosialisasikannya standar mutu (SNI) pupuk IKM.

19

(4)

(5) (6) 2)

Berkembangnya agro industri, meningkatkan kebutuhan penyediaan pupuk alternatif yang diproduksi oleh produsen pupuk skala kecil menengah. Perlu adanya pengaturan yang serasi antara produsen pupuk besar dengan produsen pupuk IKM. Masih lemah didalam masalah permodalan

Sasaran Pengembangan Sasaran peningkatan jumlah Nilai Tambah, Nilai Produksi, Unit Usaha dan Tenaga Kerja tahun 2003 – 2004 disajikan pada Tabel 2.6 berikut Tabel 2.6 Sasaran Peningkatan Nilai Tambah, Nilai Produksi, Unit Usaha, Tenaga Kerja Industri Kecil Menengah Pupuk tahun 2003 – 2004
SASARAN NO. INDIKATOR POSISI 2002 LAJU PERTUM BUHAN/THN

2003 31.357 152.407 425 10.150

2004 35.777 163.481 437 10.660

1. 2. 3. 4.

Nilai Tambah (Rp. Juta) Nilai Produksi (Rp. Juta) Unit Usaha (Unit) Tenaga Kerja (Orang)

30.325 142.133 412 9.660

7,04% 7,52% 3,00% 5,00%

3)

Program Pengembangan (1) (2) (3) (4) (5) (6) Peningkatan keterampilan pembuatan pupuk IKM. Sosialisai SNI pupuk IKM di wilayah Jawa dan Sumatera. Pengadaan peralatan dan sarana laboratorium uji pupuk di Jatim (Kab. Sidoarjo). Peningkatan kemitraan antara pengusaha pupuk IKM dengan BUMN Pupuk dan PTP Menghilangkan peraturan yang menghambat peredaran pupuk IKM dalam upaya mendukung sektor pertanian dan perkebunan. Fasilitasi sertifikasi SNI khususnya SNI wajib bagi IKM pupuk.

4)

Lokasi Pengembangan (1) Provinsi NAD (2) Provinsi Sumatera Utara. (3) Provinsi Lampung. (4) Provinsi Banten (5) Provinsi DKI Jakarta (6) Provinsi Jawa Barat. (7) Provinsi Jawa Tengah. (8) Provinsi DI. Yogyakarta.
20

(9) (10) (11) (12) (13) (14) f.

Provinsi Jawa Timur. Provinsi Bali Provinsi Nusa Tenggara Barat Provinsi Sulawesi Utara Provinsi Sulawesi Tengah Provinsi Sulawesi Selatan

Industri Garam 1) Keadaan Spesifik (1) Umumnya kualitas garam rakyat masih rendah, sehingga tidak dapat diproses secara langsung untuk garam beryodium (garam konsumsi). (2) Peralatan produksi garam beryodium (IKM) masih sederhana. (3) Masih kurangnya kesadaran produsen garam beryodium untuk produksi sesuai dengan SNI 01-3556-1994. (4) Masih adanya produsen garam beryodium yang belum memiliki ijin industri tetapi telah memasarkan hasil produksinya. (5) Masih rendahnya kesadaran konsumen untuk mengkonsumsi garam beryodium. (6) Kualitas garam impor lebih baik dan harganya lebih murah, sehingga impor garam curah dari luar negeri, khususnya Australia, India dan RRC makin meningkat dari tahun ke tahun. Sasaran Pengembangan Sasaran peningkatan jumlah Nilai Tambah, Nilai Produksi, Unit Usaha dan Tenaga Kerja tahun 2003–2004 disajikan pada Tabel 2.7 berikut: Tabel 2.7 Sasaran Peningkatan Nilai Tambah, Nilai Produksi, Unit Usaha dan Tenaga Kerja Industri Kecil Menengah Garam tahun 2003 – 2004
SASARAN NO. INDIKATOR POSISI 2002 LAJU PERTUM BUHAN/THN

2)

2003 53.703 170.333 2.952 31.700

2004 60.452 185.734 3.041 33.290

1. 2. 3. 4.

Nilai Tambah (Rp. Juta) Nilai Produksi (Rp. Juta) Unit Usaha (Unit) Tenaga Kerja (Orang)

51.852 156.239 2.866 30.190

7,04% 7,52% 3,00% 5,00%

3)

Program Pengembangan (1) Membantu peningkatan produktivitas dan kualitas garam rakyat di NTB, NTT, Sulteng, NAD.
21

(2) (3) (4) (5) 4)

Peningkatan kemampuan pengemasan dan yodisasi untuk IKM garam di provinsi NTT, NTB, Sulteng, NAD. Pelatihan peningkatan mutu IKM garam di provinsi Jabar, Banten, Jateng dan Jatim. Sosialisasi penerapan mutu garam beryodium terhadap petani produsen dan pedagang di 2 provinsi (Jatim, Jateng). Monitoring dan evaluasi industri IKM garam yang tidak memiliki ijin. Kab. Aceh Utara, Kab. Pidie – Nanggroe Aceh Darusalam Kab./Kota Tangerang – Banten DKI Jakarta. Kab. Indramayu, Kab. Cirebon – Jawa Barat. Kab. Pati, Kab. Rembang – Jawa Tengah. Kab. Sampang, Kab. Pamekasan, Kab. Pasuruan – Jawa Timur. Kab. Bima, Kab, Sumbawa – Nusa Tenggara Barat. Kab. Ngada, Kab. Ende – Nusa Tenggara Timur. Kab. Takalar, Kab. Jeneponto – Sulawesi Selatan.

Lokasi Pengembangan (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)

g.

Industri Genteng 1) Keadaan Spesifik (1) (2) (3) (4) (5) 2) Umumnya kualitas genteng yang diproduksi IKM mutunya masih rendah. Peralatan dan mesin produksi yang digunakan IKM masih sederhana. Masih kurangnya kesadaran produsen genteng dalam menerapkan SNI. Diberlakukannya perdagangan bebas akan memberikan peluang produk genteng untuk memperluas pemasarannya. Masuknya produk genteng terutama dari Itali perlu diwaspadai oleh industri genteng dalam negeri.

Sasaran Pengembangan Sasaran peningkatan jumlah Nilai Tambah, Nilai Produksi, Unit Usaha dan Tenaga Kerja tahun 2003–2004 disajikan pada Tabel 2.8 berikut: Tabel 2.8 Sasaran Peningkatan Nilai Tambah, Nilai Produksi, Unit Usaha dan Tenaga Kerja Industri Kecil Menengah Genteng tahun 2003 – 2004
NO. INDIKATOR POSISI 2002 SASARAN LAJU PERTUM BUHAN/THN

2003

2004

22

1. 2. 3. 4.

Nilai Tambah (Rp. Juta) Nilai Produksi (Rp. Juta) Unit Usaha (Unit) Tenaga Kerja (Orang)

2.602.114 3.870.177 197.909 941.710

2.709.748 4.095.505 203.846 988.800

2.911.136 4.334.313 209.962 1.038.240

7,04% 7,52% 3,00% 5,00%

3)

Program Pengembangan (1) (2) (3) (4) Sosialisasi dan penerapan SNI genteng Meningkatkan mutu dan desain produk melalui penyediaan tenaga ahli, instruktur dan fasilitator. Melaksanakan pelatihan teknis, magang dan studi banding untuk meningkatkan kemampuan teknis dan desain. Fasilitasi akses permodalan dan pemasaran.

4)

Lokasi Pengembangan (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Kab. Cirebon – Jawa Barat. Kab. Jepara – Jawa Tengah. Kab. Malang – Jawa Timur. Kab. Bima – Nusa Tenggara Barat. Kab. Deli Serdang – Sumatera Utara. Kab. Makasar – Sulawesi Selatan. Kab. Pandeglang – Banten. Kab. Bantul – DI Yogyakarta.

h.

Industri Alsintani dan Pande Besi 1) Keadaan Spesifik (1) Memproduksi alat-alat dan mesin-mesin pertanian baik dengan menggunakan teknologi tepat guna maupun modern, dalam rangka membantu meningkatkan produktivitas sektor pertanian. Produk-produk tersebut antara lain: hand tractor, reaper, tresher dan casava mills. Pandai besi membuat alat-alat pertanian yang berskala kecil dan dilaksanakan dengan teknologi sederhana seperti: cangkul, sekop Masih berorientasi pada pasar dalam negeri. SDM yang handal sesuai dengan kebutuhan sulit ditemukan. Penguasaan teknologi manufaktur modern jumlahnya masih terbatas. Untuk mencapai kualitas ekspor, produk dibanyak sektor belum memadai. Tingkat kepercayaan konsumen akan kualitas dan keandalan produk dalam negeri, terlebih lagi IKM belum juga membaik.

(2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)

23

(9)

Globalisasi memaksa produk IKM langsung harus berbenturan dengan produk-produk perusahaan multinasional. (10) Tuntutan masyarakat/konsumen akan mutu produk/hasil produksi yang kian tinggi dengan bench-mark pada produk-produk luar negeri. (11) Minat bekerja generasi muda di industri alsintani terus berkurang. 2) Sasaran Pengembangan Sasaran peningkatan jumlah Nilai Tambah, Nilai Produksi, Unit Usaha dan Tenaga Kerja tahun 2003–2004 disajikan pada Tabel 2.9 berikut Tabel 2.9 Sasaran Peningkatan Nilai Tambah, Nilai Produksi, Unit Usaha dan Tenaga Kerja Industri Kecil Menengah Alsintani tahun 2003 – 2004
NO. INDIKATOR POSISI 2002 SASARAN LAJU PERTUM BUHAN/THN

2003 14.198 36.214 416 5.490

2004 15.705 40.506 429 5.760

1. 2. 3. 4.

Nilai Tambah (Rp. Juta) Nilai Produksi (Rp. Juta) Unit Usaha (Unit) Tenaga Kerja (Orang)

13.054 32.403 404 5.230

12,73% 12,49% 3,04% 5,00%

3)

Program Pengembangan Alsintani (1) (2) Memperkenalkan desain-desain dan prototipe sederhana tetapi bermanfaat (teknologi tepat guna). Mendorong bengkel-bengkel alsintani untuk memproduksi alat-alat tersebut bekerjasama antar IKM dan atau menjalin kemitraan dengan industri besar pemegang merek. Meningkatkan mutu produk melalui bantuan penyediaan tenaga ahli dan instruktur serta fasilitator. Sosialisasi dan penerapan Gugus Kendali Mutu (GKM) dan Standardisasi seperti SNI dan ISO-9000. Melaksanakan pelatihan teknis, magang, studi banding dan sejenisnya untuk lebih meningkatkan kemampuan teknis dan memperkenalkan budaya manufaktur. Fasilitasi pertemuan-pertemuan (business matching) diantara para pengusaha IKM yang saling terkait dan saling membutuhkan dalam peningkatan bisnisnya.

(3) (4) (5)

(6)

24

(7) (8)

Penguatan pasar spesifik alsintani di daerah-daerah Sumatera Selatan, DKI Jakarta dan Jawa Timur. Memberikan kesempatan yang sebesar-besarnya bagi kelompok IKM Alsintani untuk memperkuat kelembagaan dalam kaitan pengembangan usaha.

Pande Besi (1) (2) (3) (4) (5) 4) Memberikan bantuan tenaga ahli untuk teknologi tepat guna pande besi dan peningkatan Quality, Cost dan Delivery (QCD). Membantu akses pinjaman modal dana bergulir. Fasilitasi pembangunan pasar spesifik alat pertanian. Fasilitasi pasar alat pertanian di BUMN dan pembelian pemerintah lainnya. Membantu akses kemudahan pengadaan bahan baku.

Lokasi Pengembangan (1) Bengkel Alsintani : Kota Bukittinggi (Sumbar); Kab. Sidrap, Pinrang (Sulsel); Kab. Pringsewu (Lampung); Kab. Serang (Banten); Kab. Bandung (Jabar); Kab. Kulonprogo (DIY); dan Kab. Pasuruan (Jatim). Bengkel Pande Besi : Kab. Labuhan Batu, Simalungun, Nias, Tapanuli Selatan (Sumut); Kab. 50 Koto, Agam, Pasaman (Sumbar); Kota Palembang, Kab. OKI (Sumsel); Kab. Serang, Lebak (Banten); Kab. Garut, Majalengka, Bogor, Sukabumi (Jabar); Kab. Pati, Kudus, Banjarnegara, Wonosobo (Jateng); Kab. Bondowoso, Pamekasan, Lumajang, Jombang, Blitar, Bangkalan (Jatim); Kab. Karang Asem, Klungkung, Gianyar, Tabanan (Bali); Kab. Sumbawa, Lombok Tengah (NTB); Kab. Manggarai, Sumba Barat, Kota Kupang (NTT); Kab. Hulu Sungai Selatan (Kalsel); Kab. Bolaang Mongondow, Sangir Talaud (Sulut); Kab. Buton (Sultra); Kab. Poso (Sulteng) dan Kab. Gorontalo (Gorontalo).

(2)

i.

Pengembangan Motorisasi Kapal Nelayan 1) Keadaan Spesifik (1) (2) Penggunaan kapal nelayan bermotor kecil < 100 GT belum berkembang. Sebagai sarana mekanisasi/modernisasi dengan harga yang terjangkau oleh nelayan sehingga dapat meningkatkan produktivitas. Adanya saingan produk motor penggerak dari luar negeri menjadi ancaman.

(3)

25

(4) (5) (6) (7) (8)

Teknologi yang dikembangkan perajin kapal kayu masih tradisional. Fasilitas penunjang galangan serta peralatan produksi sebagian besar masih manual. Peraturan tentang penyediaan kayu sebagai konstruksi kapal belum ada. Terbatasnya jangkauan pelayanan/operasi kapal karena disamping ukuran kapal kecil juga karena belum dimotorisasi. Kemampuan permodalan perajin kapal kayu maupun nelayan pemilik kapal rendah.

2)

Sasaran Pengembangan Sasaran peningkatan jumlah Nilai Tambah, Nilai Produksi, Unit Usaha dan Tenaga Kerja tahun 2003 – 2004 disajikan pada Tabel 2.10 berikut : Tabel 2.10 Sasaran Peningkatan Nilai Tambah, Nilai Produksi, Unit Usaha dan Tenaga Kerja Industri Kecil Menengah Produksi Motorisasi Kapal Nelayan tahun 2003 – 2004
NO. INDIKATOR POSISI 2002 SASARAN LAJU PERTUM BUHAN/THN

2003 44.684 91.003 2.591 17.960

2004 49.240 99.166 2.669 18.860

1. 2. 3. 4.

Nilai Tambah (Rp. Juta) Nilai Produksi (Rp. Juta) Unit Usaha (Unit) Tenaga Kerja (Orang)

41.250 83.604 2.516 17.110

12,73% 12,49% 3,04% 5,00%

3)

Program Pengembangan (1) (2) (3) (4) Demo teknologi, temu bisnis, akses pasar IKM. Bantuan tenaga ahli/kerjasama dengan industri motor penggerak < 100 GT. Mapping penggunaan motor penggerak pada kapal nelayan. Penumbuhan bengkel perawatan dan perbaikan. Kab. Bagansiapiapi - Riau. Kab. Kuala Tungkal - Jambi. Kab. OKI, Kota Palembang - Sumsel. Kab. Belitung - Babel.
26

4)

Lokasi Pengembangan (1) (2) (3) (4)

(5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20) j.

Kab. Lampung Selatan - Lampung. Kab. Indramayu - Jabar. Kab. Serang - Banten. Kab. Tegal - Jateng. Kab. Banyuwangi - Jatim. Kab. Badung - Bali. Kab. Lombok Barat - NTB. Kota Samarinda - Kaltim. Kota Banjarmasin - Kalsel. Kota Pontianak - Kalbar. Kab. Bulukumba - Sulsel. Kab. Donggala - Sultra. Kota Kendari - Sultra. Kota Menado - Sulut. Kab. Kota Baru - Maluku Utara. Kota Jayapura - Papua.

Industri Kapal ≤ 100 GT 1) Keadaan Spesifik (1) (2) (3) (4) (5) Kurang tenaga trampil di bidang teknik produksi (sangat tradisional). Peralatan produksi sederhana/manual. Konstruksi tradisional. Kualitas pembuatan kapal belum memenuhi standar kelaikan BKI. Bahan baku kayu, fiberglass, aluminium, ferrocement, atau laminasi.

2)

Sasaran Pengembangan Sasaran peningkatan jumlah Nilai Tambah, Nilai Produksi, Unit Usaha dan Tenaga Kerja tahun 2003 – 2004 disajikan pada Tabel 2.11 berikut :
Tabel 2.11 Sasaran Peningkatan Nilai Tambah, Nilai Produksi, Unit Usaha dan Tenaga Kerja Industri Kecil Menengah Kapal <100 GT tahun 2003 – 2004
SASARAN NO. INDIKATOR POSISI 2002 LAJU PERTUM BUHAN/THN

2003 182.474

2004 202.152

1.

Nilai Tambah (Rp. Juta)

167.501

12,73%

27

2. 3. 4.

Nilai Produksi (Rp. Juta) Unit Usaha (Unit) Tenaga Kerja (Orang)

350.150 2.010 26.370

386.214 2.070 27.690

426.466 2.132 29.070

12,49% 3,04% 5,00%

3)

Program Pengembangan (1) Mendorong penggunaan standar BKI dalam pembuatan kontruksi kapal kayu; yang meliputi antara lain : • Menyusun panduan konstruksi kapal kayu berdasarkan BKI. • Sosialisasi panduan konstruksi ke IKM kapal kayu. • Mendorong pelatihan pembuatan kapal kayu berdasarkan BKI dibeberapa daerah potensi melalui temu usaha bekerjasama dengan pemerintah Kabupaten/Kota. Memberikan fasilitasi pemasaran kapal seperti ke perusahaan KOPELRA, Himpunan Nelayan Indonesia (HNI), dan lain-lain. Melakukan sinergi program lain yang mendukung langsung ekonomi daerah (transportasi laut, pengembangan galangan kapal, motorisasi, elektronisasi kapal, peningkatan SDM dll). Bantuan tenaga ahli. Kota Medan, Kab.Belawan-Sumut. Kab. Bengkalis, Kota Pekanbaru-Riau. Kota Padang-Sumbar Kota Pelembang-Sumsel. Kab. Belitung-Babel Kab. Cirebon-Jabar Kab. Serang-Banten Kota Jakarta Utara-DKI Jakarta Kab Batang-Jateng Kab. Banyuwangi-Jatim Kab. Badung-Bali Kab Lombok Barat-NTB Kota Samarinda-Kaltim Kota Banjarmasin, Sanggata-Kalimantan Selatan. Kota Palangkaraya-Kalimantan Tengah Kota Pontianak-Kalimantan Barat Kab. Bulukumba-Sulawesi Selatan Kab. Buton-Sulawesi Tenggara Kota Manado-Sulawesi Utara
28

(2) (3)

(4) 4) (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19)

Lokasi Pengembangan

(20) Kab. Gorontalo-Gorontalo k. Industri Tenun Tradisional 1) Keadaan Spesifik (1) (2) (3) (4) 2) Sebagai bahan dasar adibusana/busana resmi dan kebutuhan interior serta cinderamata. Desain didominasi corak tradisional yang cenderung bertahan dalam pola-pola tetap. Sering terjadi kelangkaan bahan baku. Memerlukan desainer yang cukup banyak

Sasaran Pengembangan Sasaran peningkatan jumlah Nilai Tambah, Nilai Produksi, Unit Usaha dan Tenaga Kerja tahun 2003 – 2004 disajikan pada Tabel 2.12 berikut : Tabel 2.12 Sasaran Peningkatan Nilai Tambah, Nilai Produksi, Unit Usaha dan Tenaga Kerja Industri Kecil Menengah Tenun Tradisional tahun 2003 – 2004
SASARAN NO. INDIKATOR POSISI 2002

2003 664.786

2004 714.900

LAJU PERTUM BUHAN/THN

1. 2. 3. 4.

Nilai Tambah (Rp. Juta) Nilai Produksi (Rp. Juta) Unit Usaha (Unit) Tenaga Kerja (Orang)

602.817

9,62% 9,84% 3,00% 5,00%

1.119.154 1.219.650 1.329.461 185.458 381.840 191.021 400.930 196.752 420.980

3)

Program Pengembangan (1) Promosi dan Pemasaran (a) Partisipasi pameran. (b) Uji coba pasar melalui outlet. (c) Penyusunan sistem informasi dan kit-kit promosi. Pengembangan SDM (a) Diklat dalam pengembangan desain dan teknik produksi. (b) Magang bagi pengusaha tenun. (c) Bantuan tenaga ahli desain dan teknik produksi dalam rangka diversifikasi produk. Pengembangan produksi dan teknologi
29

(2)

(3)

(a) (b) (4) (5) (6) 4) (1) (2) (3) (4) (5)

Sosialisasi standard mutu bahan baku. Sosialisasi dan bimbingan HaKI.

Pengembangan permodalan serta fasilitasi akses ke sumber-sumber permodalan. Pengembangan kemitraan melalui temu usaha dengan instansi terkait dalam rangka pemasaran dan fasilitasi perolehan bahan baku. Pemetaan produk indikasi geografis. Songket dari Kota Palembang - Sumatera Selatan; Kota Bukittinggi-Sumatera Barat Tapis dari Kota Bandar Lampung – Lampung; Kabupaten Agam – Sumatera Barat Ulos dari Kab. Tapanuli Utara, Kab. Toba Samosir – Sumatera Utara Tenun cak-cak dari Kabupaten Gianyar - Bali. Tenun ikat dari NTT; Kabupaten Jepara – Jawa Tengah; Kabupaten Wajo; Kabupaten Luwu Utara; Kabupaten Toraja; Kabupaten Mamasa; Kabupaten Mamuju; Kabupaten Goa/Takalar – Sulawesi Selatan; Kabupaten Buton; Kabupaten Kendari – Sulawesi Tenggara; Kabupaten Lombok Barat; Kabupaten Lombok Timur NTB

Lokasi Pengembangan

l.

Industri Perhiasan 1) Keadaan Spesifik (1) (2) (3) (4) Memiliki nilai budaya dan seni tradisional yang tinggi. Belum mampu bersaing dengan negara-negara lain. Mesin dan peralatan produksi belum memadai. Produksi monoton/statis umumnya berupa sejenis batu akik (cobochon). (5) Diversifikasi produk terbatas dengan desain yang kurang inovatif. (6) Mutu dan desain belum sepenuhnya sesuai permintaan selera pasar. (7) Informasi pasar terbatas. (8) Kurang mampu mengakses pasar langsung melalui teknologi informasi. (9) Standarisasi mutu bahan belum ada. (10) Peluang pasar dalam negeri dan luar negeri masih belum terbuka luas. (11) Desain produk dan diversifikasi produk akan sangat beragam bila didukung oleh mesin dan peralatan yang memadai. 2) Sasaran Pengembangan

30

Sasaran peningkatan jumlah Nilai Tambah, Nilai Produksi, Unit Usaha dan Tenaga Kerja tahun 2003 – 2004 disajikan pada Tabel 2.13 berikut :

Tabel 2.13 Sasaran Peningkatan Nilai Tambah, Nilai Produksi, Unit Usaha dan Tenaga Kerja Industri Kecil Menengah Perhiasan tahun 2003 – 2004
SASARAN NO. INDIKATOR POSISI 2002 LAJU PERTUM BUHAN/THN

2003 258.971 663.461 13.667 36.309

2004 282.232 726.106 14.077 38.122

1. 2. 3. 4.

Nilai Tambah (Rp. Juta) Nilai Produksi (Rp. Juta) Unit Usaha (Unit) Tenaga Kerja (Orang)

234.072 606.465 13.269 34.580

9,62% 9,84% 3,00% 5,00%

3)

Program Pengembangan (1) Promosi dan pemasaran, seperti : (a) Peningkatan jumlah pameran di dalam dan luar negeri. (b) Promosi potensi batu mulia di pusat-pusat wisata kerjasama dengan PHRI dan sektor pariwisata. (c) Penyusunan sistem informasi Mengoptimalkan potensi sumber daya alam batu mulia yang belum digali dengan meningkatkan peran tenaga ahli dibidang pertambangan. Pengembangan keahlian tenaga kerja, khususnya dalam bidang : (a) Peningkatan kemampuan penggosok batu mulia. (b) Pengembangan kemampuan diversifikasi produk melalui penyediaan bantuan tenaga ahli dan desainer. Pengembangan produksi dan teknologi (a) Peningkatan kemampuan penerapan manajemen mutu. (b) Pengembangan desain. (c) Bimbingan dan penyuluhan penerapan HaKI.

(2)

(3)

(4)

31

(5) (6)

Pengembangan kemitraan peningkatan sistem subkontraktor dengan para eksportir dan industri besar yang saling menguntungkan. Peningkatan pemasaran) (a) dukungan faktor-faktor eksternal (iklim dan

Dukungan pemerintah pusat dan daerah dalam upaya perlindungan terhadap eksploitasi pengiriman bahan mentah batu mulia ke luar negeri yang belum diolah. Mengupayakan Pengembangan Kawasan Khusus Industri Perhiasan

(b) 4)

Lokasi Pengembangan (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) Kab. Sukabumi, Kab. Garut-Jawa Barat. Kab. Pacitan-Jawa Timur. Kab. Ketapang-Kalimantan Barat. Kab. Langkat-Sumatera Utara. Kab. Pesisir Selatan-Sumatera Barat. Kab. Sarko-Jambi. Kab. Pidie, Kab. Aceh Tenggara-NAD. Pulau Bacan- Maluku Utara. Kab Banjar, Kota Banjar Baru-Kalimantan Selatan

m.

Industri Kerajinan Anyaman 1) Keadaan Spesifik (1) (2) (3) (4) 2) Bercorak nilai budaya dan seni tradisional. Mutu belum konsisten. Persaingan dengan produk negara lain sangat ketat. Dampak negatif dengan masuknya pedagang/investor asing ke sentra.

Sasaran Pengembangan Sasaran peningkatan jumlah Nilai Tambah, Nilai Produksi, Unit Usaha dan Tenaga Kerja tahun 2003 – 2004 disajikan pada Tabel 2.14 berikut : Tabel 2.14 Sasaran Peningkatan Nilai Tambah, Nilai Produksi, Unit Usaha dan Tenaga Kerja Industri Kecil Menengah Kerajinan Anyaman tahun 2003 – 2004
SASARAN NO. INDIKATOR POSISI 2002

2003

2004

LAJU PERTUM BUHAN/THN

32

1. 2. 3. 4.

Nilai Tambah (Rp. Juta) Nilai Produksi (Rp. Juta) Unit Usaha (Unit) Tenaga Kerja (Orang)

1.069.554 1.178.611 1.263.481 1.567.796 1.705.622 1.855.796 659.967 679.766 700.159

9,26% 9,84% 3,00% 5,00%

1.087.810 1.142.200 1.199.310

3)

Program Pengembangan Anyaman Rotan, Bambu, Mendong, Purun dan Agel. (1) Promosi dan pemasaran (a). Peningkatan jumlah pameran di dalam dan di luar negeri (b). Uji coba pasar Pengembangan SDM (a) Pengembangan desain melalui bantuan tenaga ahli (b) Pengembangan kemampuan manajemen usaha (c) Pengembangan wirausaha baru. Pengembangan produksi dan teknologi (a) Sosialisasi standard mutu bahan baku dan mutu produk (b) Sosialisasi dan fasilitasi penerapan HaKI. (c) Peningkatan teknologi, proses pengawetan bahan baku serta finishing. Pengembangan permodalan khususnya bantuan modal kerja. Pengembangan kemitraan dengan perusahaan besar dalam membantu pengembangan pasar, khususnya pemasaran ke luar negeri. Kab. Langkat-Sumatera Utara. Kab. Solok-Sumatera Barat. Kab. Tanjung Jabung-Jambi. Kab. Rejang Lebong-Bengkulu. Kab. Musi Banyuasin-Sumatera Selatan. Kab. Lampung Selatan-Lampung. Kab. Belitung-Bangka Belitung. Kab. Garut-Jawa Barat. Kab. Magelang-Jawa Tengah. Kab. Kulon Progo-DI. Yogyakarta. Kab. Ponorogo-Jawa Timur. Kab. Sambas-Kalimantan Barat. Kab. Palangkaraya-Kalimantan Tengah. Kab. Tapin-Kalimantan Selatan. Kab. Donggala-Sulawesi Tengah.

(2)

(3)

(4) (5)

4)

Lokasi Pengembangan (1). (2). (3). (4). (5). (6). (7). (8). (9). (10). (11). (12). (13). (14). (15).

33

(16). (17). (18). (19). (20). (21).

Kab. Kendari-Sulawesi Tenggara. Kab. Gowa-Sulawesi Selatan. Kab. Gorontalo-Gorontalo. Kab. Bangli-Bali. Kab. Lombok Tengah, Kab. Lombok Timur, Kab. Dompu-NTB. Kab. Timor Tengah Selatan, NTT.

34

BAB III PROGRAM PENGEMBANGAN INDUSTRI KECIL MENENGAH PENDUKUNG (SUPPORTING INDUSTRY)

3.1. UMUM a. Pengertian, Ciri/Kriteria dan Lingkup Komoditi Prioritas 1) Pengertian: Industri pendukung (supporting industry) adalah industri yang membuat barang dan jasa bukan untuk memenuhi kebutuhan sendiri tetapi dijual ke pasar bebas atau industri lain untuk mendukung produk akhirnya yang memiliki nilai tambah yang lebih tinggi. 2) Ciri/Kriteria (1) (2) (3) (4) 3) (1) (2) (3) (4) b. Hasil produksinya dipasok ke pasar bebas/ke industri lain. Terjadi peningkatan nilai tambah. Bersifat substitusi impor. Pada umumnya berfungsi sebagai subcontracting Komponen Kendaraan Bermotor (Roda 4 dan Roda 2), Jasa Reparasi, Jasa Rekondisi. Komponen Permesinan (Mesin Tekstil/Migas, Permesinan Sederhana), Bengkel Perakitan, Reparasi/Maintenance. Komponen Elektronika (Alat Komunikasi, Panel dan Gear Listrik, Alat Rumah Sakit, Alat Bangunan/Rumah. Komponen barang-barang karet dan plastik.

Lingkup Komoditi Prioritas

Misi serta Tujuan 1) 2) 3) 4) 5) 6) Menciptakan industri pendukung untuk memenuhi kebutuhan konsumen industri dan komponen after market. Memfasilitasi akses IKM komponen dalam negeri dengan distributor global komponen. Memfasilitasi IKM Pendukung dengan para pemasok komponen dunia, seperti Delphi dan lain sebagainya. Mengurangi impor komponen. Memperkuat struktur industri. Menciptakan lapangan kerja baru.

34

c.

Target Group Pembinaan dan Pengembangan 1) 2) 3) 4) IKM dan bengkel komponen alat angkut (KBM-R4, KBM-R2, kapal dan lain-lain). IKM dan bengkel komponen peralatan dan mesin (CPO, pupuk, tekstil, migas dan lain-lain). IKM dan bengkel elektronika (alat komunikasi, alat rumah sakit, panel listrik, gear listrik, pendingin dan lain-lain). Bengkel perbaikan dan pemeliharaan (jasa service, toko onderdil dan lain-lain).

d.

Kondisi Umum Saat Ini 1) Peluang pasar industri pendukung, impor komponen, suku cadang dan elektronika cukup besar dari US $ 3.492,15 juta tahun 1999 meningkat menjadi US $ 5.454,78 juta pada tahun 2000. Dengan membaiknya perekonomian maka impor akan semakin besar. Impor Komponen Tahun 1999-2000 tersaji pada Tabel 3.1 : Tabel 3.1 Impor Komponen tahun 1999 - 2000 US $ Juta
NO KOMODITI 1999 2000 LAJU PERTUM BUHAN/THN

1 2

Komponen dan suku cadang Komponen elektronika/alat2 listrik

2.601,3 890,85

4.176,0 1.278,78

60.53% 43.55%

2)

Lingkungan yang Berpengaruh Lingkungan Internal Kekuatan (1) Industri pendukung dalam negeri telah mampu memasok 80% komponen sepeda motor, 40% kendaraan roda empat, serta sebagian komponen elektronika dan pemeliharaan pabrikpabrik. Adanya komitmen pemerintah yang tinggi untuk mendorong industri pendukung. Tenaga kerja yang cukup bersaing. Adanya dukungan lembaga penelitian dari Balai-balai Besar yang mendukung industri supporting. Telah mampu memasok industri sepeda motor dengan kandungan lokal yang sudah tinggi (80%).

(2) (3) (4) (5)

Kelemahan Bidang Manajemen (1) Perusahaan umumnya dikelola secara usaha keluarga.
35

(2) (3) (4) (5) (6)

Pengetahuan tentang strategi pemasaran sangat minim dan kurang aktif melakukan kegiatan promosi pemasaran. Kurang motivasi untuk mengembangkan teori-teori manajemen di dalam perusahaannya. Pelatihan yang diadakan di dalam perusahaan masih dilakukan secara sederhana. Keterlambatan pengiriman barang (delivery) sering terjadi. Sistem quality control (QC) pada umumnya belum dikuasai (masih lemah).

Bidang Teknologi (1) (2) Penerapan teknologi dan pengendalian produksi secara modern sangat kurang. Belum terbiasa melaksanakan budaya manufakturing sesuai teknologi yang digunakan.

Lingkungan Eksternal Peluang di Dalam Negeri (1) Potensi pasar yang cukup besar, impor barang modal dan permesinan tahun 1995 sebesar US$ 8,61 milyar dan tahun 2000 sebesar US$ 4,68 milyar, dengan peningkatan rata-rata 17,95% per tahun. Liberalisasi perdagangan dunia khususnya AFTA (regional). Adanya trend Global Sourcing di industri otomotif, permesinan dan elektronika.

(2) (3)

Ancaman (1) (2) (3) (4) (5) (6) Masalah keamanan dan ketidakpastian hukum yang mengakibatkan menyusutnya investasi. Masalah ketenagakerjaan (kenaikan UMP/UMK). Kurs rupiah terhadap mata uang asing (US $) yang tidak stabil. Persaingan yang ketat dan insentif yang lebih menarik dari negara tetangga seperti Thailand, Malaysia dan Cina. Posisi prinsipal dan buyers yang banyak menentukan penggunaan industri pendukung. Birokrasi yang masih menghambat dan menimbulkan ekonomi biaya tinggi.

e.

Sasaran Pengembangan Tahun 2003-2004 1) Kualitatif (1) (2) (3) Adanya kesempatan kerja baru sebagai akibat dari hasil ekspansi produksi komponen dan sub komponen. Berkurangnya impor komponen. Meningkatnya daya saing industri perakitan dan komponen dengan meningkatkan jumlah pembuatan komponen di dalam negeri dengan mutu tinggi dan efisiensi biaya produksi.
36

(4) (5) (6)

Meningkatnya basis kemampuan teknologi sehingga memperkuat infrastruktur teknologi. Meningkatnya teknologi proses dan desain produk Meningkatnya bantuan permodalan, perpajakan dan insentif lainnya.

2)

Kuantitatif Sasaran kuantitatif pengembangan industri pendukung tahun 2002 2004 tersaji pada Tabel 3.2 : Tabel 3.2 Sasaran Pengembangan Industri Pendukung tahun 2002-2004
SASARAN PENGEMBANGAN INDUSTRI 2002 2003 2004 LAJU PERTUMBUHAN/THN

1. Komponen: - Kendaraan bermotor - Mesin & peralatan pabrik - Elektronika 2. Komponen (barang karet dan plastik) Nilai Tambah (Rp. Juta) Nilai Produksi (Rp. Juta) Unit usaha Tenaga kerja Nilai Tambah (Rp. Juta) Nilai Produksi (Rp. Juta) Unit Usaha (Unit) Tenaga Kerja Nilai Tambah (Rp. Juta) Nilai Produksi (Rp. Juta) Unit Usaha Tenaga Kerja Nilai Tambah (Rp. Juta) Nilai produksi (Rp. Juta) Jumlah unit usaha Tenaga kerja 659.938 1.238.971 834 50.200 244.459 394.515 721 28.850 547.929 1.345.452 2.292 56.580 839.120 2.722.209 13.886 229.300 740.482 1.401.918 859 52.710 266.326 438.964 743 30.290 611.603 1.522.114 2.361 59.410 865.967 2.980.132 14.302 240.760 842.587 1.586.584 885 55.350 295.061 488.877 765 31.810 692.730 1.722.306 2.432 62.380 1.004.356 3.262.720 14.731 252.800 12,73 % 12,49 % 3,04 % 5,00 % 12,73 % 12,49 % 3,04 % 5,00 % 12,73 % 12,49 % 3,04 % 5,00 % 7,04 % 7,52 % 3,00 % 5,00 %

f.

Arah Pengembangan 1) Pengembangan industri pendukung diarahkan untuk meningkatkan dan menumbuhkan IKM atau bengkel-bengkel di dalam negeri, agar mampu memproduksi komponen-komponen yang masih banyak di impor, khususnya KBM-R4 dan komponen permesinan. Penumbuhan rancang bangun permesinan baru hasil reverse engineering yang dapat diproduksi dan dijual di dalam negeri. Peningkatan kemampuan bengkel-bengkel perbaikan dan pemeliharaan untuk keperluan industri-industri BUMN/besar. Penumbuhan wirausaha-wirausaha baru permesinan modern. Penumbuhan IKM/bengkel logam dan mesin berorientasi ekspor.

2) 3) 4) 5)

37

g.

Kebijakan Pengembangan Kebijakan pengembangan industri pendukung ditetapkan berdasarkan prinsip-prinsip, sebagai berikut: 1) Pengembangan industri ditekankan pada mekanisme pasar dalam upaya meningkatkan daya saing yang cukup untuk memasuki pasar internasional. Industri pendukung yang dikembangkan diutamakan pada industri yang berskala kecil menengah. Pengembangan industri diarahkan untuk memperkuat struktur industri melalui hubungan vertikal antara industri pendukung dengan para assembler dan para pemasok komponen skala global. Melibatkan secara aktif perusahaan besar dalam rangka menarik supporting industry-nya di luar negeri untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Meningkatkan iklim usaha yang semakin kondusif serta menyediakan fasilitas dan kemudahan lainnya.

2) 3)

4)

5)

h.

Strategi Pengembangan Dengan memperhatikan berbagai hambatan baik ditingkat internal maupun eksternal perusahaan dapat dilakukan langkah sebagai berikut : 1) Meningkatkan Pemintaan (Pull Factors) (1) (2) Strategi untuk memperkuat hubungan kemitraan antara perakit dan pasar cuku cadang dengan pembuat komponen. Strategi untuk mengembangkan permintaan pasar/industri untuk mengisi pasar suku cadang dan (pengembangan industri sepeda motor, elektronika konsumsi, kendaraan roda 4 sektor transportasi, mendorong lokalisasi komponen) serta pasar IKM mesin dan peralatan pabrik. Strategi untuk mengembangkan infrastruktur teknologi, distribusi dan pemasaran perkuatan MIDC, menarik investasi baru, QS-9000, perkuat database, perkuat jaringan keteknikan nasional, pasar mesin dan peralatan pabrik IKM. Strategi untuk mengembangkan infrastruktur ekonomi, jalan listrik, telepon dan air (peraturan konsisten, suplai tenaga kerja berkualitas, insentif perpajakan).

2)

Meningkatkan Upaya Pengembangan (Push Factors) (1)

(2)

3)

Pendekatan yang dilakukan: Pendekatan I Menetapkan suatu kerangka kebijakan pengembangan industri pendukung yang dapat diterima semua pihak.

38

Pendekatan II Meningkatkan kemampuan industri pendukung dalam bidang teknologi produksi dan keterampilan manajemen. Dalam hal ini perlu adanya dukungan dari Pemerintah, dukungan dari assemblers, distributor dan bengkel-bengkel after market serta organisasiorganisasi lainnya. Pendekatan III Meningkatkan volume dan nilai sub kontrak industri pendukung dari assemblers, transfer teknologi dari assemblers kepada sub kontrak akan mendorong informasi untuk promosi bisnis sub kontrak, seperti informasi pembeli, informasi penjual, kebutuhan pasar juga akan dipacu perkembangannya. i. Program Pengembangan 1) Peningkatan dukungan teknis dan kemampuan R&D, melalui: peningkatan promosi, transfer teknologi, penumbuhan dunia usahabaru industri kecil permesinan modern. Peningkatan kemampuan manajemen dengan mengadopsi dan sertifikasi QS 9000. Peningkatan kemampuan pengembangan produk/komponen berupa peningkatan kemampuan komponen lokal oleh assembler. Penyediaan dukungan keuangan melalui two step loan komersial bantuan ADB sebesar US $ 85 juta. Revitalisasi Kemampuan (BBLM/MIDC): (1) Balai Besar Logam dan Mesin

2) 3) 4) 5)

Mendidik bidang teknologi kunci yang masih lemah, pendidikan kewirausahaan dan manajerial serta meningkatkan kemampuan UPT-UPT logam di Sukabumi, Tegal dan Surabaya untuk menjadi rujukan dibidang permesinan modern. Peningkatan jaringan kerja dengan Balai-balai latihan kerja Depnaker.

(2) 6)

Penataan kembali lingkungan industri untuk didorong menjadi lingkungan industri komponen serta mendorong kawasan industri swasta dalam rangka menyediakan lingkungan industri di dalam kawasan. Peningkatan dukungan sistem tarif dan perpajakan melalui penataan pajak yang kurang mendukung inisiatif para assembler eksportir untuk membeli komponen dan bahan baku dari dalam negeri. Peningkatan akses terhadap pasar internasional melalui peningkatan hubungan dengan perusahaan komponen dunia yang melaksanakan global sourcing seperti dengan Delphi dan lain sebagainya.
39

7)

8)

9)

Promosi pasar dan investasi, untuk mendorong IKM komponen luar negeri bermitra dengan IKM dalam negeri dan penanaman modal di Indonesia (promosi di Jepang, Korea, Taiwan).

j.

Lokasi Pengembangan 1) Komponen permesinan dan peralatan pabrik dari logam, karet, plastik di : (1). (2). (3). (4). (5). (6). (7). (8). (9). (10). Kota Medan-Sumatera Utara Kota Padang-Sumatera Barat DKI Jakarta Kota Cilegon, Kab. Tangerang, Serang-Banten Kota Bandung, Kab. Kuningan-Jawa Barat Kota Semarang, Kab. Tegal, Boyolali, Ceper-Jawa Tengah DI Yogyakarta Kota Surabaya, Kab. Pasuruan, Gresik, Sidoarjo-Jawa Timue Kota Banjarmasin-Kalimantan Selatan Kota Samarinda, Kota Balikpapan, Kab. Bontang- Kalimantan Timur (11). Kota Makasar-Sulawesi Selatan 2) Komponen elektronika di (1). (2). (3). (4). 3) Kota Batam-Riau DKI Jakarta Kota Bandung, Kab. Kuningan-Jawa Barat Kota Surabaya, Kab. Pasuruan, Gresik, Sidoarjo-Jawa Timur

Komponen kendaraan bermotor dari logam, karet, plastik di : (1). (2). (3). (4). (5). (6). (7). (8). Kota Medan-Sumatera Utara DKI Jakarta Kab. Tangerang, Serang-Banten Kota Bandung, Kab. Kuningan-Jawa Barat Kota Semarang, Kab. Tegal, Boyolali, Ceper-Jawa Tengah DI Yogyakarta Kota Surabaya, Kab. Pasuruan, Gresik, Sidoarjo-Jawa Timur Kota Makasar-Sulawesi Selatan

4)

Produk barang jadi karet dan plastik di: (1). (2). (3). (4). (5). (6). (7). Kota Medan-Sumatera Utara Kota Palembang-Sumatera Selatan DKI Jakarta Kota Bandung, Kab. Kuningan-Jawa Barat Kota Semarang, Kab. Tegal, Boyolali, Ceper-Jawa Tengah DI Yogyakarta Kota Surabaya, Kab. Pasuruan, Gresik, Sidoarjo-Jawa Timur

40

3.2. PENGEMBANGAN KELOMPOK INDUSTRI KOMODITI TERPILIH. a. Komponen Kendaraan Bermotor (KBM) : 1). Keadaan Spesifik.
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)

Sebagian besar masih dikerjakan oleh industri menengah dan besar, karena sifat teknologinya. Memerlukan skala ekonomi yang tinggi untuk efisiensi. Adanya persyaratan yang ketat dibidang standarisasi mutu. Mahalnya harga bahan baku Banyaknya produk impor ilegal Peluang pasar sangat besar dalam negeri Produksi sebagian besar untuk after market Sistim pembayaran yang memberatkan produsen. Budaya kerja menufacturing belum memasyarakat di industri kecil

2).

Sasaran Pengembangan Sasaran peningkatan jumlah unit usaha, tenaga kerja dan nilai produksi tahun 2003 – 2004 tertera pada Tabel berikut. Tabel 3.3 Sasaran Peningkatan Jumlah Unit Usaha, Tenaga Kerja dan Nilai Produksi Komponen KBM tahun 2003 – 2004
POSISI 2002 834 50.200 1.238.971 SASARAN 2003 859 52.710 1.401.918 2004 885 55.350 1.586.584 LAJU PERTUMBUHAN/TAHUN 3,04 % 5,00 % 12,49 %

INDIKATOR - Unit Usaha (unit) - Tenaga Kerja (orang) - Nilai Produksi (Rp. Juta)

3). Program Pengembangan
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

Lokalisasi komponen Promosi investasi Peningkatan penerapan standardisasi Mengembangkan bursa komponen Meningkatkan pendekatan kemitraan dengan prinsipal Memperkuat MIDC dan UPT Logam Mendorong kerjasama dengan industri komponen global.

41

4). Lokasi Pengembangan : (1). (2). (3). (4). (5). (6). DKI Jakarta Bogor, Sukabumi, Bandung-Jawa Barat Tangerang-Banten Tegal, Klaten-Jawa Tengah Yogyakarta-DI Yogyakarta Sidoarjo, Pasuruan-Jawa Timur

b. Mesin dan Peralatan Pabrik 1). Keadaan Spesifik.
(1) (2) (3)

Bahan baku spesifik sulit didapat Peralatan, permesinan dan SDM yang ada belum tersedia optimal. Engineering company dengan coverage penguasaan teknologi yang kurang bervariasi.

2). Sasaran Pengembangan Sasaran peningkatan jumlah unit usaha, tenaga kerja dan nilai produksi tahun 2003 – 2004 tertera pada Tabel berikut. Tabel 3.4 Sasaran Peningkatan Jumlah Unit Usaha, Tenaga Kerja dan Nilai Produksi Mesin dan Peralatan Pabrik tahun 2003 – 2004
SASARAN INDIKATOR - Unit Usaha (unit) - Tenaga Kerja (orang) - Nilai Produksi (Rp. Juta) POSISI 2002 721 28.850 394.515 2003 743 30.290 438.964 2004 765 31.810 488.877 LAJU PERTUMBUH AN/TAHUN 3,04 % 5,00 % 12,49 %

3).

Program Pengembangan
(1) (2) (3) (4)

Mengembangkan permintaan pasar , Mengembangkan infra struktur teknologi, distribusi dan perkuatan MIDC dan UPT Logam serta menarik investasi baru. Mengembangkan Reverse Engineering Menumbuhkan Wira Usaha baru

4).

Lokasi pengembangan (1). Kota Medan-Sumatera Utara (2). DKI Jakarta (3). Tangerang-Banten
42

(4). (5). (6). (7). (8). c. Elektronika. 1).

Bogor, Bekasi, Sukabumi, Bandung-Jawa Barat Tegal, Klaten, Semarang-Jawa Tengah DI Yogyakarta Sidoarjo-Jawa Timur Kota Makasar- Sulawesi Selatan

Keadaan Spesifik.
(1) (2)

Share pasar domestik yang cenderung semakin tertekan. Banyaknya industri Multi National Company yang melakukan relokasi yang berakibat kurangnya aktifitas sub contracting.

2).

Sasaran Pengembangan Sasaran peningkatan jumlah unit usaha, tenaga kerja dan nilai produksi tahun 2003 – 2004 tertera pada Tabel berikut. Tabel 3.5 Sasaran Peningkatan Jumlah Unit Usaha, Tenaga Kerja dan Nilai Produksi Elektronika tahun 2003 – 2004
POSISI 2002 2.292 56.580 1.345.452 SASARAN 2003 2.361 59.410 1.522.114 2004 2.432 62.380 1.722.306 LAJU PERTUMBUHAN PER TAHUN 3,04 % 5,00 % 12,49 %

INDIKATOR - Unit Usaha (unit) - Tenaga Kerja (orang) - Nilai Produksi (Rp. Juta)

3).

Program Pengembangan
(1) (2) (3)

Mengembangkan industri penunjang pembuat komponen elektronika. Mendorong transfer teknologi dari industri perakit ke sub contractornya. Pemanfaatan infra struktur Teknologi Informasi yang ada.

4).

Lokasi Pengembangan : (1). (2). (3). (4). (5). Kota Batam DKI Jakarta Tangerang-Banten Bogor, Bekasi, Kuningan, Bandung-Jawa Barat Kota Surabaya, Pasuruan, Gresik, Sidoarjo-Jawa Timur

43

d. Komponen (Barang Karet dan Plastik). 1). Keadaan Spesifik.
(1) (2)

Bahan baku sebagian besar tergantung pada impor Keterbatasan Teknologi Produksi

2)

Sasaran Pengembangan Sasaran peningkatan jumlah unit usaha, tenaga kerja dan nilai produksi tahun 2003 – 2004 tertera pada Tabel berikut. Tabel 3.6 Sasaran Peningkatan Jumlah Unit Usaha, Tenaga Kerja dan Nilai Produksi Komponen (Barang Karet dan Plastik) tahun 2003 – 2004
SASARAN INDIKATOR POSISI 2002 LAJU PERTUMBUHAN PER TAHUN

2003 14.302 240.760 2.980.132

2004 14.731 252.800 3.262.800

- Unit Usaha (unit) - Tenaga Kerja (orang) - Nilai Produksi (Rp. Juta)

13.886 229.300 2.722.209

3,00 % 5,00 % 7,52 %

3).

Program Pengembangan
(1) (2) (3) (4)

Peningkatan kemampuan SDM Peningkatan Akses Permodalan Peningkatan akses Pasar Peningkatan standardisasi produk

4).

Lokasi Pengembangan (1). (2). (3). (4). (5). (6). Kota Medan-Sumatera Utara Kota Palembang-Sumatera Selatan Bandung, Kuningan-Jawa Barat Semarang, Tegal-Jawa Tengah DI Yogyakarta, Kota Surabaya, Pasuruan, Gresik, Kab. Sidoarjo-Jawa Timur.

44

BAB IV PROGRAM PENGEMBANGAN INDUSTRI KECIL MENENGAH BERORIENTASI EKSPOR

4.1. UMUM a. Pengertian, Ciri/Kriteria dan Lingkup Komoditi Prioritas 1) Pengertian : Industri kecil dan menengah berorientasi ekspor adalah industri yang memiliki daya saing yang cukup sehingga produknya mampu mengisi pasar internasional baik dilakukan sendiri maupun oleh pedagang/ mediator. 2) Ciri/Kriteria (1) (2) (3) (4) 3) (1) Memiliki daya saing cukup. Berbasis SDA dalam negeri. Padat karya, menyerap banyak tenaga kerja. Peluang pasar luas. Pangan - Ikan Olahan. - Kerupuk. Sandang - Barang Jadi Kulit. - Sepatu/ Alas Kaki. - Pakaian Jadi. - Barang Jadi Tekstil. Kimia dan Bahan Bangunan (KBB) - Minyak Atsiri. - Arang Kayu/Tempurung. - Furniture Kayu. - Furniture Rotan. Kerajinan - Perhiasan. - Sulaman Bordir. - Mainan Anak. - Keramik/Gerabah. - Kerajinan Kayu.

Lingkup Komoditi Prioritas

(2)

(3)

(4)

45

- Kerajinan Anyaman. - Batik. b. Misi Serta Tujuan 1) 2) 3) 4) 5) Mendorong IKM yang memiliki kemampuan diversifikasi produk ekspor yang bernilai tambah lebih tinggi. Meningkatkan perolehan devisa. Memacu IKM lainnya untuk meningkatkan daya saing. Memperluas lapangan kerja. Menciptakan hubungan bisnis (networking) antara IKM lokal dengan pemasok dunia.

c.

Target Group Pembinaan dan Pengembangan 1) Target group pembinaan adalah pengusaha industri kecil menengah yang produk dan proses produksinya sudah mampu memenuhi persyaratan QCD atau dapat dengan mudah dibina sehingga memenuhi ketentuan dan persyaratan ekspor. Para pedagang/trader yang menjembatani produsen industri kecil menengah dengah pasar ekspor.

2)

d.

Kondisi Umum Saat Ini 1) Gambaran keadaan Jumlah Unit Usaha, Tenaga Kerja, Nilai Produksi yang merupakan potensi yang dapat digerakkan untuk ekspor serta Nilai Ekspor1) tahun 2001 dari IKM berorientasi ekspor, tersaji dalam Tabel 4.1 berikut : Tabel 4.1 Jumlah Unit Usaha, Tenaga Kerja, Nilai Produksi dan Nilai Ekspor IKM Berorientasi Ekspor tahun 2001
Unit Usaha Cabang Industri 1. Pangan 2. Sandang 3. Kimia dan Bahan Banguna n 4. Kerajinan Jumlah Unit 950.325 303.767 536.760 1.037.23 5 % 33,6 1 10,7 4 18,9 8 36,6 7 2.828.08 100, Tenaga Kerja Orang 3.342.45 0 2.116.91 0 3.023.25 0 2.225.64 0 10.708.2 100,00 % 31,22 19,77 28,23 20,78 Nilai Produksi Juta Rp 27.589.5 16 15.996.1 43 28.720.1 49 7.114.06 0 79.419.8 % 34,7 4 20,1 4 36,1 6 8,96 100, 2.150,9 100,00 Nilai Ekspor IK US$ Juta 62,46 1.546,3 7 123,21 418,88 % 2,90 71,89 5,73 19,48

1)

Catatan : Nilai ekspor dari komoditi terpilih oleh karena sangat sulit untuk dipisahkan dari nilai ekspor industri besar dihitung berdasarkan suatu rasio tertentu dari keduanya. Rasio diambil dari sampling yang dilakukan terhadap sejumlah besar perusahaan IKM dan IB dari komoditi terpilih tersebut.

46

7

00

50

68

00

2

2)

Keadaan lingkungan yang mempengaruhi Lingkungan Internal Kekuatan (1) (2) (3) (1) (2) (3) (4) (5) (6) Bahan baku (sebagian besar) tersedia di dalam negeri. Tersedianya tenaga kerja dengan keterampilan dasar yang tinggi. Dukungan Pemerintah. Kemampuan dalam mengakses pasar masih terbatas. Belum adanya sistem/perdagangan yang dapat mendeteksi perubahan selera pasar, agar diketahui secara cepat oleh perajin. Mutu belum konsisten. Pemahaman dan penerapan HaKI masih terbatas. Belum adanya trading house yang dapat membantu pemasaran di luar negeri. Bantuan keuangan untuk ekspor belum tersedia.

Kelemahan

Lingkungan Eksternal Peluang (1) Peluang pasar di pasaran dunia cukup besar, saham ekspor Indonesia relatif masih kecil (0,1% s/d 4%) terhadap pasar dunia. Kerjasama perdagangan regional (AFTA) maupun internasional (WTO). Munculnya negara berkembang pesaing baru. Perubahan pola konsumen global. Meningkatnya biaya tenaga kerja, energi, dll. Muncul isu-isu non trade yang menjadi hambatan perdagangan, seperti isu ecolabeling dan isu non trade lainnya. Penyelundupan bahan-bahan baku (seperti kayu, rotan, dll), sangat membantu negara-negara pesaing Indonesia.

(2)

Ancaman (1) (2) (3) (4) (5)

e.

Sasaran Pengembangan Tahun 2003 – 2004 1) Kualitatitf (1) Bertambahnya jumlah perusahaan yang mampu membuat produk yang memenuhi permintaan ekspor (memenuhi persyaratan QCD)

47

(2) (3) (4) (5) 2)

Meningkatnya produktivitas dan effisiensi IKM binaan sehingga mampu memenuhi persyaratan permitaan ekspor. Berkurangnya jumlah dan nilai impor dari produk orientasi ekspor dipasaran. Meningkatnya minat, volume dan nilai ekspor para eksportir produk IKM. Penghematan devisa.

Kuantitatif Sasaran kuantitatif pengembangan industri berorientasi ekspor dapat dilihat pada Tabel 4.2 : Tabel 4.2 Sasaran Kuantitatif Nilai Ekspor Pengembangan Industri Kecil Berorientasi Ekspor
( Juta US $)
NO JENIS KOMODITI POSISI 2002 SASARAN LAJU PERTUMBUHAN/THN

2003 57,77 7,44 223,45 34,15 1.184,46 155,14 77,15 21,95 144,84 460,43 119,67 6,03 122,90 17,89 152,70 103,99 2.889,96

2004 62,10 8,26 261,43 36,88 1.362,13 193,92 81,01 23,10 176,70 561,72 125,36 7,23 153,63 21,02 175,60 124,79 3.374,88

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

Ikan Olahan Kerupuk Barang jadi kulit Sepatu kulit/alas kaki Pakaian jadi Barang jadi tekstil Minyak atsiri Arang kayu/tempurung Furniture kayu/rotan Batik Perhiasan emas/perak Sulaman bordir Mainan anak Keramik/gerabah Kerajinan kayu Kerajinan anyaman Total

53,86 6,77 192,63 31,92 1.039,00 127,16 74,18 21,10 120,70 383,69 115,07 5,13 102,42 15,56 135,73 88,50 2.513,42

7,37 % 10,50 % 16,50 % 7,50 % 14,50 % 23,49 % 4,50 % 4,62 % 21,00 % 21,00 % 4,37 % 18,74 % 22,47 % 16,24 % 13,74 % 18,74 % 16,23 %

48

f.

Arah Pengembangan Pengembangan IKM berorientasi ekspor diarahkan untuk meningkatkan volume dan nilai ekspor IKM, baik yang selama ini secara potensial mempunyai kinerja ekspor yang tinggi maupun produk-produk yang berpotensi dapat diekspor melalui peningkatan berbagai faktor internal dan eksternal perusahaan agar dayasaingnya di luar negeri meningkat. Selain itu juga akan didorong kemampuan mengakses pasar ekspor dalam rangka membantu persaingan pasar ekspor yang semakin ketat.

g.

Strategi Pengembangan 1) Meningkatkan permintaan pasar ( pull factors). (1) (2) (3) (4) (5) Membuka outlet-outlet pemasaran untuk produk ekspor di dalam dan luar negeri. Meningkatkan bisnis intelejen dan marketing di luar negri. Meningkatkan promosi dan pemasaran melalui pameran di luar negeri dan pameran internasional di dalam negeri Melakukan kemitraan usaha dengan trader/eksportir besar Memperbaiki iklim usaha perdagangan luar negeri agar para pedagang tentengan kecil dengan mudah dan murah keluar masuk Indonesia. Peningkatan intensitas komunikasi dengan Atperindag dan ITPC

(6) 2)

Meningkatkan kemampuan produksi perusahaan (push factors). (1) Meningkatkan produktivitas dan effisiensi perusahaan IKM (2) Meningkatkan kemampuan teknis produksi IKM melalui service centre, Bisnis Development Centre maupun bantuan langsung keperusahaan. (3) Meningkatkan kemampuan diversifikasi produk dan berkembangnya desain/ produk baru (4) Fasilitasi permodalan ( modal investasi dan modal kerja). (5) Peningkatan manajemen mutu ditingkat perusahaan.

h.

Program Pengembangan 1) Peningkatan Effisiensi dan Produktivitas (1) (2) 2) Restrukturisasi permesinan. Peningkatan proses produksi yang lebih effisien serta teknologi baru. Promosi dan pemasaran di Bali, serta lokasi-lokasi strategis ekspor lainnya.
49

Peningkatan Pasar Ekspor (1)

(2) (3) (4) 3)

Pengembangan trading house. Peningkatan kemampuan SDM bidang ekspor. Pengembangan kemitraan dengan BUMN pengekspor. Pengembangan desain. Peningkatan penerapan GMP. Peningkatan kualitas kemasan. Peningkatan kemampuan SDM bidang mutu. Kredit Ekspor. Penjaminan/asuransi kredit.

dan

industri

Peningkatan Mutu (1) (2) (3) (4)

4)

Bantuan Permodalan (1) (2)

4.2. PENGEMBANGAN KELOMPOK INDUSTRI KOMODITI TERPILIH a. Industri Pengolahan Ikan 1) Lingkup Komoditi (1) (2) (3) (4) 2) (1) (2) (3) (4) (5) 3) Ikan kering/ikan asin. Ikan asap. Ikan pindang. Ikan olahan lainnya. Memiliki prospek peluang pasar yang baik karena bahan baku ikan cukup tersedia. Kemampuan ekspor relatif masih rendah. Banyak pesaing dari negara lain. Teknologi sudah dikuasai. Menyerap banyak tenaga kerja.

Keadaan Spesifik

Sasaran Pengembangan Sasaran pengembangan ekspor industri pengolahan ikan tahun 2003 – 2004 tersaji pada Tabel 4.3 Tabel 4.3 Sasaran Pengembangan Ekspor IKM Pengolahan Ikan tahun 2003 - 2004
NO 1. 2. 3. 4. URAIAN Nilai Ekspor IK (US $ juta) Nilai Tambah (Rp. Juta) Nilai Produksi (Rp. Juta) Unit Usaha (Unit) POSISI 2002 53,86 347.224 2.036.075 11.705 SASARAN 2003 57,77 380.321 2.195.505 12.056 2004 62,10 403.422 2.367.425 12.418 LAJU PERTUMBUHAN/THN 7,37 % 7,86 % 7,88 % 3,00 %

50

5.

Tenaga Kerja (Orang)

144.660

151.890

159.480

5,00 %

4)

Program Pengembangan tahun 2003-2004 (1) Peningkatan Mutu Produk dan Kemasan IKM Pengolahan Ikan. - Fasilitasi pengadaan peralatan. - Sertifikasi sistem mutu. - Pengembangan pusat pelayanan kemasan dan label produk ikan olahan. Peningkatan Sumber Daya IKM Pengolahan Ikan. - TOT-GMP bagi aparat pembina di Daerah. - TOT Cleaner Production Industri Kecil Menengah Pengolahan Ikan. - Pengembangan Business Development Service Provider (BDSP). - Fasilitasi magang pengusaha ikan olahan di dalam maupun di luar negeri. Pengembangan Promosi dan Pemasaran IKM Pengolahan Ikan. - Pameran produk IK pengolahan ikan yang diproduksi dengan baik. - Partisipasi pameran di dalam dan luar negeri. - Penyediaan dan penyusunan informasi bisnis IKM pengolahan ikan. - Pengembangan forum konsultasi ekspor bisnis IKM ikan olahan. Pengembangan Iklim Usaha IKM pengolahan ikan.. - Fasilitasi kerjasama pembinaan dengan perusahaan Besar. - Fasilitasi kemitraan antara IKM pengolahan ikan dengan perusahaan besar. - Sosialisasi peraturan tentang pangan berkaitan dengan produk ikan olahan dari dalam dan luar negeri kepada IKM pengolahan ikan.

(2)

(3)

(4)

5)

Lokasi Pengembangan Industri pengeringan/penggaraman (1). Kab. Asahan, Kab. Tapanuli Tengah, Kab. Sibolga-Sumatera Utara. (2). Kab. Bengkalis, Kab. Indragiri Hilir-Riau. (3). Kab. Rembang, Kab. Pekalongan, Kab. Tegal, Kab. Pati, Kab. Cilacap- Jawa Tengah. (4). Kab. Sumenep, Kab. Tuban, Kab. Sidoarjo-Jawa Timur. (5). Kab. Barru, Kab. Wajo-Sulawesi Selatan. Industri pengasapan ikan

51

(1). Kab. Cilacap, Kab. Batang, Kab. Pekalongan, Kab. Semarang, Kab. Rembang-Jawa Tengah. (2). Kab. Minahasa, Kab. Manado-Sulawesi Utara. (3). Kab. Maluku Utara-Maluku Utara.

b.

Industri Kerupuk 1) Lingkup Komoditi Terpilih/ Prioritas (1) (2) 2) (1) (2) (3) (4) 3) Kerupuk hewani khususnya kerupuk ikan dan kerupuk udang. Kerupuk non hewani seperti kerupuk bawang. Memiliki peluang pasar yang cukup luas. Bahan baku lokal cukup tersedia. Teknologi sudah dikuasai. Menyerap banyak tenaga kerja.

Keadaan Spesifik

Sasaran Pengembangan Sasaran pengembangan Ekspor IKM kerupuk tahun 2003 – 2004, tersaji pada Tabel 4.4 Tabel 4.4 Sasaran Pengembangan Ekspor IKM Kerupuk tahun 2003 – 2004
NO 1. 2. 3. 4. 5. URAIAN Nilai Ekspor IK (US $ juta) Nilai Tambah (Rp. Juta) Nilai Produksi (Rp. Juta) Unit Usaha (Unit) Tenaga Kerja (Orang) POSISI 2002 6,77 1.063.790 3.222.586 135.630 489.420 SASARAN 2003 7,44 1.160.304 3.478.362 139.699 513.890 2004 8,26 1.239.186 3.754.441 143.890 539.580 LAJU PERTUMBUHAN/THN 10,50 % 7,86 % 7,88 % 3,00 % 5,00 %

4)

Program Pengembangan tahun 2003-2004 (1) Peningkatan mutu produk dan kemasan IKM Kerupuk - Fasilitasi pengadaan peralatan. - Sertifikasi sistem mutu. - Pengembangan klinik pelayanan kemasan, label dan merek. Peningkatan sumber daya IKM Kerupuk. - TOT-GMP bagi aparat pembina di daerah. - TOT Cleaner Production industri kecil kerupuk. - Fasilitasi magang pengusaha kerupuk di luar negeri.

(2)

52

(3)

Pengembangan promosi dan pemasaran IKM Kerupuk. - Mengikuti pameran internasional produk IK kerupuk yang diproduksi dengan baik. - Penyediaan informasi melalui penyusunan dan penyebaran direktori, leaflet, booklet dan audio visual IKM kerupuk. - Pengembangan pusat pelayanan bisnis industri kerupuk. - Pengembangan forum konsultasi bisnis IKM kerupuk. Pengembangan iklim usaha IKM Kerupuk. - Fasilitasi kemitraan antara IKM kerupuk dengan perusahaan besar, khususnya untuk membantu pemasaran ke luar negeri. Kab. Sidoarjo - Jawa Timur. Kab. Palembang - Sumatera Selatan. Kab. Tegal, Kab. Pekalongan - Jawa Tengah. Kab. Cirebon, Kab. Indramayu – Jawa Barat.

(4)

5)

Lokasi Pengembangan (1). (2). (3). (4).

c.

Industri Barang Jadi Kulit 1) Keadaan Spesifik (1) (2) (3) (4) 2) Peluang pasar domestik maupun ekspor cukup luas. Menyerap banyak tenaga kerja. Bahan baku cukup tersedia. Ada dukungan lembaga pendidikan dan pengembangan.

Sasaran Pengembangan Sasaran pengembangan ekspor IKM Barang Jadi Kulit tahun 2003 – 2004 tersaji pada Tabel 4.5: Tabel 4.5 Sasaran Pengembangan Ekspor IKM Barang Jadi Kulit tahun 2003 – 2004
NO 1. 2. 3. 4. 5. URAIAN Nilai Ekspor IK (US $ juta) Nilai Tambah (Rp. Juta) Nilai Produksi (Rp. Juta) Unit Usaha (Unit) Tenaga Kerja (Orang) POSISI 2002 192,63 349.058 793.313 2.088 20.350 SASARAN 2003 223,45 352.168 800.382 2.150 21.370 2004 261,43 356.280 809.728 2.215 22.430 LAJU PERTUMBUHAN/THN 16,50 % 16,11 % 15,9 % 3,00 % 5,00 %

3)

Program Pengembangan (1) (2) (3) Fasilitasi pengembangan pasar spesifik barang jadi kulit. Fasilitasi pengembangan trading house. Peningkatan kemampuan SDM.

53

(4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) 4)

Fasilitasi restrukturisasi peralatan. Penerapan SPSM/ISO 9000. Bantuan tenaga ahli desain. Promosi penggunaan merek sendiri dan pendaftaran HaKI. Promosi pemasaran/partisipasi pameran. Pengembangan BDS. Pengembangan layanan informasi.

Lokasi Pengembangan (1) Kab. Bogor, Garut, Kota Bandung – Jawa Barat. (2) Kab. Sidoarjo – Jawa Timur. (3) Kab. Bantul – DI. Yogyakarta. (4) Kota Jakarta Timur – DKI. Jakarta. (5) Kota Denpasar – Bali. (6) Kota Bukittinggi – Sumatera Barat. (7) Kab. Tebing Tinggi – Sumatera Utara.

d.

Industri Alas Kaki/Sepatu Kulit 1) Keadaan Spesifik (1) Bahan baku cukup tersedia. (2) Peluang pasar domestik/dalam rangka mendukung ekspor cukup besar. (3) Menyerap banyak tenaga kerja. (4) Nilai tambah tinggi. Sasaran Pengembangan Sasaran pengembangan ekspor IKM Alas Kaki/Sepatu Kulit tahun 2003 – 2004 yang ingin dicapai tersaji pada Tabel 4.6 Tabel 4.6. Sasaran Pengembangan Ekspor IKM Alas Kaki/Sepatu Kulit tahun 2003 – 2004
NO URAIAN POSISI 2002 31,92 384.241 1.314.019 15.035 117.610 SASARAN LAJU PERTUMBUHAN/THN 16,69 % 8,66 % 8,46 % 3,00 % 5,00 %

2)

2003
34,15 419.656 1.417.395 15.486 123.490

2004
36,88 448.455 1.529.001 15.950 129.670

1. 2. 3. 4. 5.

Nilai Ekspor IK (US $ juta) Nilai Tambah (Rp. Juta) Nilai Produksi (Rp. Juta) Unit Usaha (Unit) Tenaga Kerja (Orang)

3)

Program Pengembangan (1) (2) (3) Fasilitasi pengembangan pasar spesifik. Promosi pemasaran/partisipasi pameran. Promosi penggunaan merek sendiri dan pendaftaran HaKI.
54

(4) (5) (6) (7) (8) (9) 4) (1) (2) (3) (4) e.

Peningkatan kemampuan SDM dibidang produksi. Fasilitasi bantuan permodalan serta bantuan tenaga ahli. Pembangunan Indonesia Footwear Service Centre (IFSC) di Sidoarjo. Penerapan SPSM/ISO 9000. Pengembangan BDS. Pengembangan layanan informasi. Kab. Bogor, Kota Bandung – Jawa Barat. Kab. Sidoarjo, Kab. Mojokerto, Kota Surabaya – Jawa Timur. Kota Medan – Sumatera Utara. Kota Jakarta Timur – DKI. Jakarta.

Lokasi Pengembangan

Industri Pakaian Jadi 1) Keadaan Spesifik (1) (2) (3) (4) (5) 2) Peluang pasar domestik/ekspor cukup luas. Bahan baku cukup tersedia. Teknologi relatif sederhana dan sudah dikuasai. Menyerap banyak tenaga kerja. Adanya dukungan Litbang/Balai Besar Tekstil.

Sasaran Pengembangan Sasaran pengembangan ekspor IKM Pakaian Jadi tahun 2003 – 2004 yang ingin dicapai tersaji pada Tabel 4.7 Tabel 4.7 Sasaran Pengembangan Ekspor IKM Pakaian Jadi tahun 2003 – 2004
POSISI 2002 1.039,00 2.666.930 7.656.219 108.252 765.580 SASARAN 2003 1.184,46 2.927.811 8.268.537 111.500 803.860 2004 1.362,13 3.127.038 8.930.507 114..850 844.050 LAJU PERTUMBUHAN/THN 14,50 % 8,66 % 8,46 % 3,00 % 5,00 %

NO

URAIAN

1. 2. 3. 4. 5.

Nilai Ekspor IK (US $ juta) Nilai Tambah (Rp. Juta) Nilai Produksi (Rp. Juta) Unit Usaha (Unit) Tenaga Kerja (Orang)

3)

Program Pengembangan (1) (2) (3) Peningkatan mutu dan desain. Fasilitasi pengembangan trading house. Fasilitasi kemitraan dalam rangka peningkatan produksi dan pemasaran ekspor.
55

(4) (5) (6) (7) (8) (9) 4) (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) f.

Promosi penggunaan merek sendiri dan pendaftaran HaKI. Promosi pemasaran/partisipasi pameran. Fasilitasi modernisasi mesin dan peralatan. Penerapan SPSM/ISO 9000. Pengembangan BDS. Pengembangan layanan informasi. Kab. Deli Serdang – Sumatera Utara. Kota Bukittinggi – Sumatera Barat Kab. Bandung – Jawa Barat. Kota Tangerang – Banten. Kota Jakarta Selatan, Kota Jakarta Barat – DKI Jakarta. Kab. Pekalongan, Pemalang, Semarang, Kudus – Jawa Tengah. Kab. Probolinggo, Malang, Pasuruan, Tulung Agung – Jawa Timur. Kota Yogyakarta – DI. Yogyakarta.

Lokasi Pengembangan

Industri Barang Jadi Tekstil 1) Keadaan Spesifik (1) (2) (3) (4) (5) (6) 2) Bahan baku cukup tersedia. Tenaga kerja tersedia. Adanya dukungan Litbang. Teknologi produksi relatif mudah dikuasai. Menyerap banyak tenaga kerja. Pangsa pasar dalam negeri untuk mendukung ekspor cukup besar.

Sasaran Pengembangan Sasaran pengembangan ekspor IKM Barang Jadi Tekstil, tahun 2003 – 2004 yang ingin dicapai tersaji pada Tabel 4.8 : Tabel 4.8 Sasaran Pengembangan Ekspor IKM Barang Jadi Tekstil tahun 2003 – 2004
NO 1. 2. 3. 4. 5. URAIAN Nilai Ekspor IK (US $ juta) Nilai Tambah (Rp. Juta) Nilai Produksi (Rp. Juta) Unit Usaha (Unit) Tenaga Kerja (Orang) POSISI 2002 127,16 1.164.927 2.617.814 25.990 172.310 SASARAN 2003 155,14 1.480.603 3.327.198 26.770 180.930 2004 193,92 1.898.421 4.266.116 27.573 189.980 LAJU PERTUMBUHAN/THN 23,49 % 16,11 % 15,9 % 3,00 % 5,00 %

3)

Program Pengembangan (1) Pengembangan desain dan diversifikasi produk.
56

(2) (3) (4) (5) 3) (1) (2) (3) (4) (5) g.

Fasilitasi kemitraan bahan baku dan pemasaran. Promosi pemasaran/partisipasi pameran. Pengembangan BDS. Pengembangan layanan informasi. Kab. Bandung – Jawa Barat. Kota Jakarta Selatan – DKI Jakarta. Kab. Jepara, Pekalongan – Jawa Tengah. Kota Pasuruan – Jawa Timur. Kab. Gianyar, Kota Denpasar – Bali.

Lokasi Pengembangan

Industri Minyak Atsiri 1) Keadaan Spesifik (1) Laju pertumbuhan perdagangan dunia minyak atsiri : 9,38%, sedangkan laju pertumbuhan minyak atsiri Indonesia hanya 0,12%. Market share minyak nilam Indonesia di pasar dunia lebih kecil dari 50% yang seharusnya dapat mencapai di atas 80%, minyak akar wangi sekitar 10% yang seharusnya dapat mencapai di atas 40% dan minyak kenanga lebih kecil dari 15% yang seharusnya dapat mencapai di atas 45%. SNI minyak atsiri sudah dimasyarakatkan. Engineering company BPPT, BALITRO, Balai Industri, Perguruan Tinggi dan jasa perbengkelan mempunyai kemampuan dalam merekayasa teknologi unit destilasi minyak atsiri. Pembinaan dan pengembangan industri minyak atsiri belum terintegrasi. Mampu menumbuhkan industri baru dan menggerakkan sektor ekonomi lainnya.

(2)

(3) (4)

(5) (6) 2)

Sasaran Pengembangan Sasaran pengembangan ekspor IKM minyak atsiri tahun 2003 – 2004, tersaji pada Tabel 4.9 : Tabel 4.9 Sasaran Pengembangan Ekspor IKM Minyak Atsiri tahun 2003 – 2004
NO 1. 2. 3. 4. 5. URAIAN Nilai Ekspor IK (US $ juta) Nilai Tambah (Rp. Juta) Nilai Produksi (Rp.Juta) Unit Usaha (Unit) Tenaga Kerja (Orang) POSISI 2002 74,18 125.668 321.782 217 6.820 SASARAN 2003 77,15 134.034 353.489 223 7.160 2004 81,01 151.639 388.322 230 7.520 LAJU PERTUMBUHAN/THN 4,50 % 7,04 % 7,52 % 3,00 % 5,00 %

57

3)

Program Pengembangan (1) Peningkatan Promosi dan Pemasaran (a). Merintis marketing arm serta ekspor langsung dari IKM ke luar negeri (b). Merintis kerjasama pemasaran ke luar negeri. (c). Penyusunan informasi bisnis Peningkatan SDM (a). Magang para pengusaha minyak atsiri ke Jawa Barat dan Jawa Timur. Peningkatan Mutu dan Teknologi (a). Rumusan dan revisi SNI minyak Atsiri. (b). Pendirian laboratorium mini minyak atsiri di Kab. Garut dan Blitar. (c). Mengaktifkan penyulingan minyak atsiri di Provinsi NAD untuk meningkatkan mutu ekspor minyak atsiri. (d). Kajian alat penyulingan dengan rendemen > 2% (e). Pembinaan langsung dengan bantuan tenaga ahli di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

(2)

(3)

4)

Lokasi Pengembangan Minyak Nilam: (1). Kab. Aceh Selatan, Kab. Aceh Utara, Kab. Aceh Barat – NAD (2). Kab. Dairi, Kab. Nias – Sumatera Utara (3). Kab. Solok, Mentawai, Kab. Pasaman – Sumatera Barat (4). Kab. Kuningan – Jawa Barat. Minyak Sereh Wangi: (1). Kab. Sukabumi – Jawa Barat (2). Kab. Karanganyar – Jawa Tengah (3). Kab. Banjar Baru – Kalimantan Selatan (4). Kab. Soppeng – Sulawesi Selatan (5). Kab. Fak-fak - Papua. Minyak Cengkeh: (1). Kab. Banyumas – Jawa Tengah (2). Kab. Kulonprogo – DI Yogyakarta. Minyak Akar Wangi: (1). Kab. Garut – Jawa Barat Minyak Pala: (1). Kab. Aceh Selatan – NAD (2). Kab. Deli Serdang – Sumatera Utara (3). Kota Bukit Tinggi – Sumatera Barat (4). Kab. Cianjur, Sukabumi – Jawa Barat Minyak Kenanga: (1). Kab. Kuningan – Jawa Barat (2). Kab. Boyolali – Jawa Tengah

58

(3). Kab. Blitar – Jawa Timur Minyak Jahe: (1). Kab. Cirebon, Sukabumi – Jawa Barat Minyak Kayu Putih: (1). Kab. Lamongan- Jawa Timur (2). Maluku Utara (3). Pulau Buru - Maluku h. Industri Arang Kayu/Tempurung 1) Keadaan Spesifik (1) (2) (3) (4) 2) Bahan baku tersedia dengan melimpah. Peluang pasar dalam negeri dalam mendukung ekspor cukup besar. Teknologi sederhana mudah dikuasai. Menjadi sumber devisa dan sumber pendapatan asli daerah bagi daerah penghasil kelapa. Jumlah unit usaha secara nasional tahun 2002 adalah 449 perusahaan. Jumlah tenaga kerja yang diserap: 7.070 orang. Luas areal tanaman kelapa: 3,6 Juta hektare dengan produksi 2,7 Juta ton per tahun. Tempurung kelapa yang dihasilkan: 325.098,1 ton per tahun. Ekspor arang tempurung tahun 1999 US $ 23,48 juta (menempati ranking ke 2 setelah RRC). Namun kecenderungan ekspor tersebut menurun karena terbatasnya modal, daya saing rendah dan terbatasnya informasi pasar.

Keadaan Industri Saat Ini (1) (2) (3) (4) (5)

3)

Sasaran Pengembangan Sasaran pengembangan ekspor IKM arang kayu/tempurung tahun 2003 – 2004, tersaji pada Tabel 4.10 Tabel 4.10 Sasaran Pengembangan Ekspor IKM Arang Kayu/Tempurung tahun 2003 – 2004
NO URAIAN POSISI 2002 SASARAN 2003 2004 LAJU PERTUMBUHAN/THN

1. 2. 3. 4.

Nilai Ekspor IK(US $ juta) Nilai Tambah (Rp. Juta) Nilai Produksi (Rp.Juta) Unit Usaha (Unit)

21,10 79.339 224.583 449

21,95 82.534 238.070 463

23,10 89.488 252.402 477

4,62 % 7,04 % 7,52 % 3,00 %

59

5.

Tenaga Kerja (Orang)

7.070

7.420

7.790

5,00 %

4)

Program Pengembangan (1) Peningkatan SDM (a). (2) Pelatihan teknis produksi dan pengadaan peralatan inkubator.

Peningkatan Mutu dan Teknologi (a). Pengadaan peralatan tungku bakar (drum kiln) arang tempurung untuk provinsi Lampung (Bandar Lampung), Sumatera Barat (Padang Pariaman), Jawa Barat (Bekasi), Banten (Lebak), Jambi (Kuala Tungkal), Kalimantan Selatan (Barito Kuala) dan Sulawesi Selatan (Makassar). (b). Penerapan standard mutu produk (c). Pembinaan langsung melalui tenaga ahli

5)

Lokasi Pengembangan (1). (2). (3). (4). (5). (6). (7). Kab. Padang Pariaman – Sumatera Barat Kab. Kuala Tungkal, Kab. Jambi - Jambi Kab. Bandar Lampung – Lampung Kab. Bekasi– Jawa Barat Kab. Lebak - Banten Kab. Barito Kuala – Kalimantan Selatan Kota Manado – Sulawesi Utara.

i.

Industri Furniture Kayu / Rotan Furniture Kayu 1) Keadaan Spesifik (1) (2) (3) (4) 2) Bahan baku walau cukup tersedia, tetapi seringkali tidak mudah diperoleh oleh IKM. Pangsa pasar dalam negeri maupun ekspor terbuka luas. Menyerap banyak tenaga kerja. Menghasilkan devisa cukup besar.

Program Pengembangan (1) Peningkatan Promosi dan Pemasaran (a). Pendirian pusat desain dan pemasaran produk furnitur kayu (b). Penyusunan profil industri meubel kayu. Peningkatan SDM
60

(2)

(a).

Pelatihan pengembangan desain meubel kayu di provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. (b). Pelatihan peningkatan manajemen pemasaran dan keuangan.

(3)

Peningkatan Mutu dan Teknologi (a). Bantuan tenaga ahli untuk IKM furniture kayu terpilih dalam rangka peningkatan mutu dan desain (b). Pengadaan peralatan pengawetan dan pengeringan kayu (Kiln Driyer) (c). Fasilitasi penerapan ekolabel produk mebel kayu.

3)

Lokasi Pengembangan (1). (2). (3). (4). (5). (6). (7). (8). Kota Jambi - Jambi DKI Jakarta Kab. Cirebon, Kab. Sumedang – Jawa Barat Kab. Jepara, Blora, Sukoharjo, Klaten- Jawa Tengah Kab. Pasuruan – Jawa Timur Kota Pontianak – Kalimantan Barat Kota Banjarmasin – Kalimantan Selatan Kota Samarinda – Kalimantan Timur

Furniture Rotan 1) Keadaan Spesifik (1) (2) (3) (4) (5) (6) 2) (1) (2) (3) (4) (1) Bahan baku yang tersedia cukup melimpah. Peluang pasar dalam negeri dalam mendukung ekspor cukup besar. Teknologi secara sederhana mudah dikuasai. Menjadi sumber devisa dan sumber pendapatan asli daerah. Bersifat padat karya/ menyerap banyak tenaga kerja. Menjadi penggerak sektor ekonomi lainnya. Jumlah IKM: 548 perusahaan. Investasi Rp. 944 Milyar. Tenaga Kerja yang diserap 198.990 orang. Nilai ekspor tahun 2001 US $ 67,52 Pengembangan

Keadaan Industri tahun 2000

Juta

Program

Peningkatan Promosi dan Pemasaran (a). Pendirian pusat desain pemasaran furniture rotan. (b). Kajian distribusi bahan baku rotan lintas daerah dalam rangka peningkatan ekspor industri rotan. (c). Pelatihan manajemen pemasaran, produksi dan keuangan bagi UKM rotan.

61

(2)

Peningkatan Mutu dan Teknologi. (a). Sosialisasi dan bimbingan penerapan HaKI untuk produk furniture rotan. (b). Optimalisasi mesin pengolahan rotan dalam rangka peningkatan kemampuan centra furniture rotan di Hulu sungai Utara (Amuntai) Kalimantan Selatan. (c). Pengadaan peralatan finishing. (d). Pembinaan langsung melalui tenaga ahli.

3)

Lokasi Pengembangan (1). (2). (3). (4). Sentra mebel rotan : Tegal Wangi-Cirebon-Jawa Barat Sentra mebel rotan : Kecamatan Menganti-Gresik-Jawa Timur Sentra Rotan : Kab. Donggala-Sulawesi Tengah Sentra Rotan : Kab. Mona-Sulawesi Tenggara.

5)

Sasaran Pengembangan Sasaran pengembangan ekspor IKM furniture kayu / rotan tahun 2003 – 2004, tersaji pada Tabel 4.11 berikut. Tabel 4.11 Sasaran Pengembangan Ekspor IKM Furniture Kayu / Rotan tahun 2003 – 2004
NO 1. 2. 3. 4. 5. URAIAN Nilai Ekspor IK (US $ juta) Nilai Tambah (Rp. Juta) Nilai Produksi (Rp.Juta) Unit Usaha (Unit) Tenaga Kerja (Orang) POSISI 2002 120,70 3.604.071 7.680.590 198.373 812.530 SASARAN 2003 144,84 3.751.486 8.144.674 204.324 853.150 2004 176,70 4.045.960 8.638.094 210.454 895.810 LAJU PERTUMBUHAN/THN 21,00 % 7,04 % 7,52 % 3,00 % 5,00 %

j.

Industri Batik 1) Keadaan Spesifik (1) (2) (3) (4) (5) 2) Basis produksi tersebar di 17 propinsi. Bersifat padat karya/ menyerap banyak tenaga kerja. Adanya dukungan litbang (balai) dan kelembagaan yang cukup kuat (Koperasi, Yayasan, dll). Pangsa pasar dalam negeri cukup besar untuk mendukung kemampuan ekspor. Peluang pasar ekspor cukup besar.

Sasaran Pengembangan
62

Sasaran pengembangan ekspor IKM batik tahun 2003 – 2004, tersaji pada Tabel 4.12

Tabel 4.12 Sasaran Pengembangan Ekspor IKM Batik tahun 2003 – 2004
NO 1. 2. 3. 4. 5. URAIAN Nilai Ekspor IK(US $ juta) Nilai Tambah (Rp. Juta) Nilai Produksi (Rp. Juta) Unit Usaha (Unit) Tenaga Kerja (Orang) POSISI 2002 383,69 866.023 1.842.601 36.027 578.820 SASARAN 2003 460,43 923.368 1.964.613 37.108 607.770 2004 561,72 1.001.278 2.130.378 38.221 638.150 LAJU PERTUMBUHAN/THN 21,00 % 16,11 % 8,46 % 3,00 % 5,00 %

3)

Program Pengembangan (1) Promosi dan pemasaran (a). Penyusunan informasi industri. (b). Pemetaan produk indikasi geografis dan pengetahuan tradisional. (c). Promosi dan peningkatan pasar diantaranya melalui partisipasi pameran di dalam dan luar negeri. (d). Bimbingan/pemanfaatan teknologi informasi untuk melakukan akses pasar di luar negeri. Pengembangan SDM (a). Bantuan tenaga ahli proses desain dan finishing. (b). Pelatihan informasi, mutu dan desain teknologi. (c). Peningkatan jenis dan desain kemasan diantaranya melalui pelatihan dan bantuan tenaga ahli. (d). Peningkatan kemampuan SDM bidang tata niaga di negara tujuan ekspor. Pengembangan produksi dan teknologi (a). Peningkatan apresiasi, penerapan dan sosialisasi ISO 9000. (b). Peningkatan penerapan dan sosialisasi HaKI. (c). Pengembangan desain. (d). Bantuan teknis pencelupan dan pewarnaan dengan menggunakan zat pewarna alami (zat warna nabati) dan pencampur warna untuk zat warna buatan. (e). Perlindungan batik motif khas daerah melalui HaKI.
63

(2)

(3)

(f). (g). (4)

Penerapan standar mutu produk. Bantuan kemudahan pengadaan bahan baku kain sutera.

Pengembangan permodalan (a). Dukungan perbankan/lembaga keuangan (misal ventura) serta lembaga penjamin (trading house). Pengembangan kemitraan (a). Fasilitasi kemitraan dengan eksportir dan PHRI.

(5) 4)

Lokasi Pengembangan (1). Kota Jambi. (2). Kota Jakarta Selatan, Jakarta Pusat – DKI Jakarta (3). Kab. Indramayu, Kab. Cirebon – Jawa Barat (4). Kab. Pekalongan, Kota Surakarta – Jawa Tengah (5). Kab. Sleman, Kota Yogyakarta – DI Yogyakarta (6). Kab. Sidoarjo, Kab. Bangkalan, Kab. Pamekasan, Kab. TubanJawa Timur (7). Kab. Gianyar – Bali

k.

Industri Perhiasan 1) Keadaan Spesifik (1) (2) (3) (4) 2) Bahan baku tersedia dalam jumlah yang memadai. Peluang pasar dalam negeri cukup besar untuk mendorong kemampuan ekspor. Menjadi sumber devisa dan sumber pendapatan asli daerah. Padat karya yang/menyerap banyak tenaga kerja.

Sasaran Pengembangan Sasaran pengembangan ekspor IKM perhiasan tahun 2003 – 2004, tersaji pada Tabel 4.13 berikut. Tabel 4.13 Sasaran Pengembangan Ekspor IKM Perhiasan tahun 2003 – 2004
NO 1. 2. 3. 4. 5. URAIAN Nilai Ekspor IK (US $ juta) Nilai Tambah (Rp.Juta) Nilai Produksi (Rp. Juta) Unit Usaha (Unit) Tenaga Kerja (Orang) POSISI 2002 115,07 100.317 259.941 5.687 14.820 SASARAN 2003 119,67 110.988 284.340 5.857 15.561 2004 125,36 120.957 311.188 6.033 16.338 LAJU PERTUMBUHAN/THN 4,37 % 9,62 % 9,84 % 3,00 % 5,00 %

3)

Program Pengembangan (1) Promosi dan pemasaran (a). Mengikuti pameran/promosi nasional dan internasional. (b). Membangun portal sistim informasi untuk ekspor.
64

(c). Mengikuti perlombaan desain di luar negeri (d). Studi banding bagi para pengusaha/perajin ke luar negeri (e). Promosi melalui media cetak, leaflet dan katalog (2) Pengembangan SDM (a). Peningkatan kemampuan dibidang desain. (b). Peningkatan kemampuan bidang ekspor-impor dan teknik negosiasi. (c). Peningkatan keterampilan di bidang mutu produk. (d). Peningkatan kemampuan mengasah batu mulia. Pengembangan produksi dan teknologi (a). Peningkatan kemampuan sistem manajemen mutu. (b). Peningkatan kesadaran serta dorongan mengaplikasikan tentang HaKI. (c). Bantuan mesin/peralatan untuk meningkatkan mutu penggosokan batu mulia (d). Penguatan peran perguruan tinggi dalam teknik perencanaan/pembuatan perhiasan CAD/CAM serta penjaminan kualitas batu mulia. Pengembangan bantuan permodalan Pengembangan kemitraan (a). Peningkatan kemitraan dengan perusahaan besar untuk merintis pasar ekspor dan transfer pengetahuan tentang desain. (b). Kemitraan dengan penghasil bahan baku dan pemasaran. (c). Fasilitasi kemitraan dengan instansi terkait dalam rangka pemanfaatan asuransi dan pembiayaan ekspor (d). Mengadakan kerja sama dengan negara-negara yang unggul dalam desain dan model Peningkatan dukungan faktor-faktor eksternal (iklim dan pemasaran) (a) Dukungan pemerintah pusat dan daerah dalam upaya perlindungan terhadap eksploitasi pengiriman bahan mentah batu mulia ke luar negeri yang belum diolah Mengupayakan tersedianya pengembangan industri perhiasan kawasan khusus

(3)

(4) (5)

(6)

(b) 4)

Lokasi Pengembangan (1). Kota Bandung – Jawa Barat (2). Kota Gede, Kota Yogyakarta – DI Yogyakarta (3). Kota Surabaya, Kab. Pasuruan – Jawa Timur (4). Desa Celuk Kab. Gianyar – Bali

l.

Industri Sulaman/Bordir 1) Keadaan Spesifik (1) Bahan baku tekstil cukup tersedia.

65

(2) (3) (4) 2)

Bersifat padat karya serta menyerap banyak tenaga kerja. Teknologi sederhana dan relatif sudah dikuasai. Tenaga terampil cukup tersedia.

Sasaran Pengembangan Sasaran pengembangan ekspor IKM sulaman/bordir tahun 2003 – 2004, tersaji pada Tabel 4.14 Tabel 4.14 Sasaran Pengembangan Ekspor IKM Sulaman/Bordir tahun 2003 – 2004
NO 1. 2. 3. 4. 5. URAIAN Nilai Ekspor IK (US $ juta) Nilai Tambah (Rp.Juta) Nilai Produksi (Rp. Juta) Unit Usaha (Unit) Tenaga Kerja (Orang) POSISI 2002 5,13 188.780 312.922 18.148 58.690 SASARAN 2003 6,03 209.053 345.295 18.693 61.620 2004 7,23 228.685 381.287 19.253 64.700 LAJU PERTUMBUHAN/THN 18,74 % 9,62 % 9,84% % 3,00 % 5,00 %

3)

Program Pengembangan (1) Promosi dan pemasaran (a). Penyusunan data base sistem informasi industri sulaman/bordir. (b). Sosialisasi dan pameran hasil Indonesia Good Design Selection. (c). Peningkatan pemasaran diantaranya melalui pameran di dalam/di luar negeri. (2) Pengembangan SDM (a). Peningkatan kemampuan teknologi proses, khususnya melalui bantuan tenaga ahli pengembangan desain. (b). Pengembangan kemampuan di bidang teknologi informasi. (c). Peningkatan kemampuan tentang prosedur ekspor. (3) Pengembangan produksi dan teknologi (a). Peningkatan penerapan sistem manajemen mutu. (b). Peningkatan kesadaran dan penerapan HaKI. (4) Pengembangan terhadap akses permodalan Lokasi Pengembangan (1). Kab. Agam, Kota Bukit Tinggi – Sumatera Barat (2). Kota Jakarta Timur – DKI Jakarta (3). Kab. Tasikmalaya – Jawa Barat

4)

m.

Industri Mainan Anak 1) Keadaan Spesifik (1) Bahan baku khususnya dari kayu cukup tersedia.
66

(2) (3) (4) 2)

Jumlah tenaga kerja terampil dan berbakat cukup banyak dan memadai. Investasi yang diperlukan relatif tidak besar. Peluang pasar dalam negeri maupun ekspor cukup luas.

Sasaran Pengembangan Sasaran pengembangan ekspor IKM mainan anak Tahun 2003 - 2004 dapat dilihat pada Tabel 4.15 Tabel 4.15 Sasaran Pengembangan Ekspor IKM Mainan Anak tahun 2003 – 2004
NO 1. 2. 3. 4. 5. URAIAN Ekspor IK (US $ juta) Nilai Tambah (Rp.Juta) Nilai Produksi (Rp. Juta) Unit Usaha (Unit) Tenaga Kerja (Orang) POSISI 2002 102,42 41.575 70.556 18.680 9.900 SASARAN 2003 122,90 46.504 79.837 19.240 10.390 2004 153,63 52.936 90.404 19.820 10.910 LAJU PERTUMBUHAN/THN 22,47 % 9,62 % 9,84 % 3,00 % 5,00 %

3)

Program Pengembangan (1) Promosi dan pemasaran (a). Peningkatan pemasaran diantaranya melalui fasilitasi pameran dan promosi dalam dan luar negeri. (b). Peningkatan peluang investasi industri mainan anak dan industri penunjang untuk memperkuat ekspor. Pengembangan SDM (a). Peningkatan kemampuan melalui bantuan Tenaga Ahli bidang proses produksi, desain dan finishing. (b). Peningkatan pengembangan desain dan diversifikasi produk. (c). Bantuan tenaga ahli bagi pengembangan di bidang pemasaran dan Teknologi Informasi. Pengembangan produksi dan teknologi (a). Peningkatan standard mutu bahan baku. (b). Peningkatan dan pemanfaatan HaKI. (c). Peningkatan dan pemanfaatan sistem manajemen mutu. Pengembangan permodalan melalui fasilitasi kerjasama dengan lembaga keuangan dan asuransi dalam rangka permodalan. Pengembangan kemitraan (a). Fasilitasi dalam rangka peningkatan kemitraan dengan eksportir dan PHRI. (b). Fasilitasi peningkatan kerjasama kemitraan dengan industri penghasil bahan baku dan pemasaran.
67

(2)

(3)

(4) (5)

4)

Lokasi Pengembangan (1). Kab. Bogor, Bekasi, Sukabumi – Jawa Barat

n.

Industri Keramik dan Gerabah 1) Keadaan Spesifik (1) (2) (3) (4) (5) (6) 2) Deposit bahan baku cukup tersedia di beberapa daerah. Tenaga terampil dan mudah dilatih cukup tersedia. Teknologi relatif mudah dikuasai. Peluang pasar dalam negeri dalam rangka peningkatan ekspor cukup besar. Bersifat padat karya yang menyerap banyak tenaga kerja. Sektor pariwisata merupakan industri penarik yang cukup besar untuk ekspor.

Sasaran Pengembangan Sasaran pengembangan ekspor IKM keramik/gerabah tahun 2003 – 2004 tersaji pada Tabel 4.16 : Tabel 4.16 Sasaran Pengembangan Ekspor IKM Keramik/Gerabah tahun 2003 – 2004
NO 1. 2. 3. 4. 5. URAIAN Nilai Ekspor IK (US $ juta) Nilai Tambah (Rp.Juta) Nilai Produksi (Rp. Juta) Unit Usaha (Unit) Tenaga Kerja (Orang) POSISI 2002 15,56 357.940 481.045 27.066 109.340 SASARAN 2003 17,89 394.783 524.753 27.878 114.800 2004 21,02 424.753 572.586 28.715 120.540 LAJU PERTUMBUHAN/THN 16,24 % 9,62 % 9,84 % 3,00 % 5,00 %

3)

Program Pengembangan (1) Peningkatan pemasaran diantaranya melalui (a). Promosi dan pemasaran. (b). Uji coba pasar. (c). Peningkatan partisipasi pameran dalam dan luar negeri. Pengembangan SDM, diantaranya melalui : (a). Bantuan Tenaga Ahli bidang desain dan teknologi. (b). Bantuan Tenaga Ahli bidang teknologi informasi, serta Diklat teknologi informasi. Pengembangan produksi dan teknologi, diantaranya melalui : (a). Pengembangan diversifiksi produk/desain.
68

(2)

(3)

(b). Sosialisasi hasil riset, Litbang. (c). Pemanfaatan teknologi informasi secara optimal. (d). Lomba desain cinderamata. (4) Peningkatan kemitraan dengan memfasilitasi sistem pembinaan terpadu (Pembina/LSM, akses pasar, pendanaan dan technical expert).

4)

Lokasi Pengembangan (1). Desa Pleret, Kab. Purwakarta – Jawa Barat (2). Desa Kasongan, Kab. Bantul – DI Yogyakarta (3). Banyumulek Lombok Barat – Nusa Tenggara Barat.

o.

Industri Kerajinan Kayu 1) Keadaan Spesifik (1) (2) (3) 2) Teknologi sudah dikuasai. Peluang pasar khususnya ekspor cukup luas. Padat karya serta menyerap banyak tenaga kerja.

Sasaran Pengembangan Sasaran pengembangan ekspor IKM kerajinan kayu tahun 2003 – 2004 tersaji pada Tabel 4.17 Tabel 4.17 Sasaran Pengembangan Ekspor IKM Kerajinan Kayu tahun 2003 – 2004
NO 1. 2. 3. 4. 5. URAIAN Nilai Ekspor IK (US $ juta) Nilai Tambah (Rp.Juta) Nilai Produksi (Rp. Juta) Unit Usaha (Unit) Tenaga Kerja (Orang) POSISI 2002 135,73 398.630 680.951 33.237 94.070 SASARAN 2003 152,70 440.728 747.309 34.234 98.770 2004 175,60 478.957 820.572 35.261 103.710 LAJU PERTUMBUHAN/THN 13,74 % 9,62 % 9,84 % 3,00 % 5,00 %

3)

Program Pengembangan (1) Peningkatan promosi dan pemasaran, diantaranya : (a). Partisipasi pameran dalam dan luar negeri. (b). Peningkatan sistem informasi. (c). Fasilitasi jaringan bisnis dengan PHRI. (d). Uji coba pasar. Pengembangan SDM melalui : (a). Peningkatan dan pengembangan mutu dan desain.

(2)

69

(b). Peningkatan kemampuan teknologi proses dan diversifikasi produk. (c). Peningkatan kemampuan untuk mengakses sistem teknologi informasi. (d). Peningkatan tentang tata cara dan prosedur ekspor. (3) Pengembangan produksi dan teknologi, diantaranya melalui : (a). Sosialisasi bantuan pendaftaran dan penerapan HaKI. (b). Peningkatan kesadaran dan pemanfaatan manajemen mutu. (c). (4) (5) 4) Peningkatan teknologi, desain dan finishing, termasuk diversifikasi produk/desain.

Pengembangan permodalan Pengembangan kemitraan melalui kemitraan UKM dengan eksportir dan perusahaan besar lainnya.

Lokasi Pengembangan (1). Kota Jakarta Pusat, Jakarta Selatan – DKI Jakarta (2). Kab. Subang – Jawa Barat (3). Kab. Badung - Bali

p.

Industri Kerajinan Anyaman 1) Keadaan Spesifik (1) (2) (3) (4) (5) 2) Bahan baku cukup tersedia. Bersifat padat karya serta menyerap tenaga kerja yang cukup besar. Teknologi relatif sederhana dan sudah dikuasai. Tradisi membuat anyaman sudah dilaksanakan turun temurun. Peluang pasar baik regional maupun ekspor cukup besar.

Sasaran Pengembangan Sasaran pengembangan ekspor IKM kerajinan anyaman tahun 2003 – 2004 tersaji pada Tabel 4.18 Tabel 4.18 Sasaran Pengembangan Ekspor IKM Kerajinan Anyaman tahun 2003 – 2004
NO 1. 2. 3. 4. URAIAN Nilai Ekspor IK (US $ Juta) Nilai Tambah (Rp.Juta) Nilai Produksi (Rp. Juta) Unit Usaha (Unit) POSISI 2002 88,50 450.847 650.127 71.195 SASARAN 2003 103,99 496.620 705.887 73.331 2004 124,79 531.496 766.435 75.531 LAJU PERTUMBUHAN/THN 18,74 % 9,62 % 9,84 % 3,00 %

70

5.

Tenaga Kerja (Orang)

257.050

269.910

283.400

5,00 %

3)

Program Pengembangan Program pengembangan untuk komoditi ekspor anyaman rotan dan mendong adalah sebagai berikut : (1) Peningkatan promosi dan pemasaran (a). Peningkatn jumlah pameran di dalam dan di luar negeri. (b). Melaksanakan fasilitasi jaringan bisnis dengan eksportir. (c). Melaksanakan uji coba pasar. Pengembangan SDM (a). Pengembanga desain melalui bantuan tenaga ahli. (b). Pengembangan kemampuan manajemen usaha dan ekspor. Pengembangan produksi dan teknologi (a). Melaksanakan sosialisasi serta fasilitasi penerapan HaKI. (b). Meningkatkan standar mutu produksi. (c). Meningkatkan penerapan PMT/GKM. (d). Peningkatan teknologi proses pengawetan bahan baku. Pengembangan permodalan serta pendanaan khususnya dalam rangka ekspor. Pengembangan kemitraan dengan perusahaan besar dan eksportir dalam rangka peningkatan mutu dan perluasan pasar ekspor.

(2)

(3)

(4) (5)

4)

Lokasi Pengembangan Anyaman rotan : (1). Kab. Cirebon – Jawa (2). Kab. Lombok Tengah, Lombok Barat – Nusa Tenggara Barat Anyaman bambu : (1). Kab. Garut – Jawa Barat (2). Kab. Sleman – DI Yogyakarta (3). Kab. Ponorogo – Jawa Timur. Anyaman mendong, Purun, Agel, dll : (1). Kab. Tasikmalaya – Jawa Barat (2). Kab. Pekalongan – Jawa Tengah (3). Kab. Kulon Progo – DI Yogyakarta

71

BAB V PROGRAM PENGEMBANGAN INDUSTRI KECIL MENENGAH INISIATIF BARU

5.1

UMUM a. Pengertian, Ciri/Kriteria dan Lingkup Komoditi Prioritas 1) Pengertian : Industri kecil menengah inisiatif baru merupakan suatu usaha untuk mengembangkan industri berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi (knowledge- base) yang menghasilkan nilai tambah yang tinggi. 2) Ciri/Kriteria Kelompok industri ini dicirikan oleh penggunaan teknologinya yang tergolong maju/tinggi, yang pada umumnya merupakan cabang/jenis industri yang akan berkembang pesat di masa mendatang. Ruang lingkup teknologi berkisar pada pemanfaatan teknologi informasi, pemanfaatan material baru, teknologi nano serta bio-teknologi. 3) Lingkup Komoditi Prioritas (1) (2) b. Industri yang menghasilkan produk/memberikan jasa layanan di bidang teknologi informasi dan komunikasi (ICT). Industri bioteknologi berskala kecil.

Misi Serta Tujuan Pengembangan industri misi/tujuan untuk : 1) kecil menengah inisiatif baru mempunyai

2) 3)

Mendorong tumbuh dan berkembangnya industri yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai wahana modernisasi industri di masa depan, sehingga akan mendinamisasi pertumbuhan industri nasional. Meningkatkan sumbangan nilai tambah industri kecil menengah secara lebih progresif. Mendorong tumbuhnya peluang-peluang industri baru di bidang teknologi informasi, serta mendorong tumbuhnya industri yang mengolah sumber daya alam dalam negeri yang terbarukan.

c.

Target Group Pembinaan dan Pengembangan 1) Lulusan (fresh graduate) bidang informatika, biologi dan kimia dari perguruan tinggi.

72

2)

Pemilihan didasarkan pada pertimbangan bahwa di daerah yang di kembangkan tersebut banyak terdapat perguruan tinggi yang mampu untuk melahirkan usahawan baru di bidang industri ICT dan bio teknologi.

d.

Kondisi Umum Saat ini Industri Information and Communication Technology (ICT) 1) 2) Dibandingkan dengan negara Filipina dan Thailand, Indonesia masih tertinggal. Besarnya peluang yang dapat dimanfaatkan dalam pengembangan industri software komputer. Industri kecil menengah yang tergolong ke dalam kelompok ini belum banyak berkembang. Potensi sumber daya alam sebagai bahan baku yang akan dikembangkan cukup beragam, serta SDM (lulusan perguruan tinggi) di bidang ini cukup andal.

Industri Bioteknologi 1) 2)

Kekuatan dan Kelemahan Industri Information and Communication Technology (ICT) 1) Kekuatan (1) Peluang pasar sangat luas dan terus berkembang, indikasinya: (a) Budget dunia untuk belanja teknologi informasi (IT) sebesar US $ 2.1 T (1999) dan diperkirakan meningkat menjadi US $ 3 T (2003) dengan pertumbuhan 9% per tahun. Prediksi untuk Indonesia US $ 1.13 T dengan pertumbuhan 9% per tahun (sumber: prospek bisnis TI di Indonesia, Setio B. Agung ResTI-TELKOM, Agustus 2000). Banyak sekolah yang menghasilkan lulusan yang baik dalam bidang informatika. Kesempatan terbuka luas karena sejalan dengan programprogram lain yang sedang digalakkan, seperti: ECommerce dan E-Government. Makro ekonomi Indonesia menunjukkan kemajuan yang cukup tinggi sehingga akan mendorong pertumbuhan permintaan akan produk-produk. Terdapat kecenderungan pergeseran basis produksi hardware dan software ke negara yang banyak tersedia tenaga kerja semi skill dan memiliki programmer yang berbakat. Adanya pembangunan telematika Indonesia (untuk mendukung pembangunan infrastruktur dan aplikasi telematika).

(b)

(c) (d)

(e)

(f)

(g)

73

(h) (i) 2) Kelemahan (1) (2) (3) (4)

Kemampuan kreasi content cukup kuat. Terletak di geostationer dan telah mengoperasikan satelit.

berpengalaman

Kesadaran (Awarness) masyarakat terhadap tuntutan penerapan IT dalam usaha belum tinggi/merata. Belum mendapat dukungan yang memadai dari hukum, perundangan, standarisasi dan budaya informasi. Penguasaan teknologi produk dan manufactur masih lemah. Kurangnya promosi kemampuan SDM Indonesia di bidang IT.

Industri Bioteknologi 1) Kekuatan (1) (2) (3) (4) 2) SDM di bidang ini mulai tersedia. Sumber daya alam dan hayati sebagai bahan baku cukup beragam dan tersedia. Tersedianya hasil penelitian dan pengembangan yang sudah pada tahap aplikasi Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap aspek kesehatan dan lingkungan. Persepsi masyarakat bahwa industri bioteknologi hanya bisa dikerjakan dalam skala industri besar. Untuk memulai usaha ini diperlukan "start-up capital", sedangkan calon pelaku usaha ini adalah para lulusan perguruan tinggi yang belum mempunyai modal dan pengalaman usaha. Ada kecenderungan kurang mempercayai hasil penelitian dan pengembangan (litbang) lokal dibandingkan dengan luar negeri sehingga cenderung untuk membeli produk litbang luar negeri.

Kelemahan (1) (2)

(3)

e.

Sasaran Pengembangan Tahun 2003-2004 1) Jenis Industri (1) (2) (1) (2) (3) 2) Industri software komputer. Industri bioteknologi Sekolah Informatika. Sekolah dengan dasar biologi, kimia, pertanian dan teknologi pertanian yang kuat Tenaga terdidik dan berpengalaman eks-PHK (akibat pemutusan hubungan kerja).

Lulusan (fresh graduate) dari:

Wilayah Utama Sumatera Utara, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara.
74

3)

Jumlah Unit Usaha: (1) (2) Industri software komputer 75 unit usaha. Industri bioteknologi 25 unit usaha.

f.

Arah Pengembangan 1) Pengembangan industri kecil menengah inisiatif baru diarahkan untuk dapat dijadikan wahana bagi penerapan inovasi-inovasi iptek modern yang ditujukan untuk memperluas kegiatan industri yang unggul kompetitif di masa depan. Pengembangan industri kecil menengah inisiatif baru diutamakan pada upaya mendorong faktor-faktor "supply-push", terutama dari segi SDM intelektual yang inovatif dibantu dengan dukungan sumber daya, prasarana/sarana dan iklim yang menunjang termasuk fasilitasi untuk pengembangan pasar.

2)

g.

Kebijakan Pengembangan Untuk mencapai visi, misi yang telah ditetapkan maka kebijakan pengembangan industri inisiatif baru sebagai berikut : 1) Pengembangan industri ditekankan pada upaya optimalisasi penggunaan tenaga-tenaga lulusan (fresh-graduate) dari Sekolah Informatika, Sekolah dengan dasar biologi dan kimia yang kuat, tenaga terdidik dan berpengalaman eks-PHK. Mengacu kepada pengaruh lingkungan internal dan eksternal, yaitu faktor-faktor kekuatan dan kelemahan serta peluang dan ancaman yang dimiliki masing-masing komoditi terpilih kelompok inisiatif baru. Menciptakan iklim usaha yang semakin kondusif, antara lain: kemudahan-kemudahan dan fasilitasi untuk dukungan akses permodalan, akses pasar, akses teknologi informasi, peningkatan kualitas SDM melalui pendidikan dan pelatihan.

2)

3)

h.

Strategi Pengembangan 1) Menciptakan Permintaan (Pull Factors). (1) (2) (3) 2) Meningkatkan kesadaran bahwa potensi pasar dikedua bidang ini cukup besar. Mendorong perusahaan besar untuk menspin-off kegiatan IT dan reseachnya menjadi perusahaan-perusahaan yang mandiri. Mendorong perusahaan besar untuk melakukan out-sourcing.

Memperkuat Upaya Pengembangan (Push Factors). Mengembangkan program inkubator dikedua bidang yang akan menyediakan (1) (2) Fasilitasi permodalan. Meningkatkan keterampilan teknis dan manajerial.
75

(3) (4) i.

Memberikan bantuan peralatan produksi/teknologi. Membantu pemasaran dengan perusahaan besar dan luar negeri.

Program Pengembangan 1) 2) 3) 4) Program inkubator. Program peningkatan pasar. Mencari mitra luar negeri yang akan membantu. Merumuskan insentif yang menunjang akselerasi tumbuhnya industri.

5.2. PENGEMBANGAN KELOMPOK KOMODITI a. Industri Software Komputer 1) Keadaan Spesifik (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Merupakan industri yang relatif baru. Bagi pemula relatif tidak memerlukan investasi yang besar. Dapat dilakukan oleh beberapa orang saja (usaha kecil). Indonesia relatif tertinggal dibandingkan dengan negara tetangga. Peluang pasar cukup luas dan berkembang. Memiliki sekolah-sekolah yang menghasilkan SDM yang cukup baik di bidang tersebut. Mempunyai tenaga sangat terdidik dan pengalaman/wawasan luas (eks PHK) di bidang bisnis yang cukup potensial untuk dikembangkan di bidang industri tersebut. Lulusan (fresh graduate) bidang informatika dari perguruan tinggi. Daerah yang memiliki banyak perguruan tinggi yang mampu untuk melahirkan usahawan baru di bidang informatika. Daerah tersebut harus memiliki tingkat perkembangan perekonomian yang tinggi sehingga pasar cukup besar di bidang software komputer. Target jumlah unit usaha industri software komputer 75 unit usaha. Sosialisasi program (a) (b) Memilih perguruan tinggi dan melakukan sosialisasi program ke perguruan tinggi tersebut. Melakukan sosialisasi program ke industri software komputer yang besar yang diharapkan dapat menjadi pemberi order. Melakukan sosialisasi ke pemerintah daerah guna mendapatkan dukungan dalam pengembangan selanjutnya.

2)

Sasaran Pengembangan (1) (2)

(3) 3)

Program Pengembangan (1)

(c)

76

(2)

Promosi dan Pemasaran (a) Mengadakan kerjasama untuk inisiasi wira usaha baru software komputer, dengan perguruan tinggi terpilih dan dengan industri software komputer yang besar. Promosi kemampuan perusahaan software komputer bersangkutan ke dunia usaha untuk memperluas pasar. Bantuan penerapan sistem mutu dan sertifikasi dalam rangka perluasan pasar. Pelatihan, baik aspek kewirausahaan, manajerial maupun teknis. Bimbingan usaha. Mengikutsertakan wira usaha baru tersebut ke dalam seminar/kursus/pendidikan/pelatihan, baik di dalam maupun di luar negeri, untuk meningkatkan kemampuan dan wawasannya. Bekerjasama dengan negara maju untuk “menset-up” model pelatihan bagi peningkatan SDM. Set-up inkubator : o Rekruitment calon pengusaha. o Penyusunan kurikulum. o Pengadaan fasilitas usaha (untuk digunakan secara gratis oleh para calon wira usaha selama maksimal 1 tahun), antara lain ; ü Ruangan kantor dan tempat kerja. ü Peralatan (komputer dan furniture). (b) Program Inkubator : o o o o Pelatihan yang diperlukan (termasuk kewirausahaaan). sesuai kurikulum

(b) (c) (3)

Peningkatan kemampuan SDM (a) (b) (c)

(d) (4)

Pendirian Prototype (a)

Membuka hubungan kerja dengan industri software komputer yang besar untuk mendapat "order". Bimbingan teknis dan usaha oleh perguruan tinggi asal peserta dan industri besar pemberi order. Bantuan permodalan (modal kerja dan investasi) untuk keluar dari inkubator. Pada tahap ini diberlakukan sistim "matching grant", yaitu : 25% kebutuhan modal kerja disediakan oleh calon pengusaha dengan pinjaman dari LPT Indak yang harus dikembalikan dan sisanya disediakan berupa grant oleh proyek pemerintah (pusat, provinsi, kabupaten/kota).
77

(c) (5) (6) 4)

Bekarjasama dengan negara maju untuk mengadopsi sistem yang telah berjalan.

Penerapan HaKI Bantuan penerapan Hak atas Kepemilikan Intelektual (HaKI). Monitoring dan evaluasi.

Lokasi Pengembangan Wilayah Utama pengembangan meliputi : (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) Sumatera Utara. DKI Jakarta. Jawa Barat. Jawa Tengah. DI Yogyakarta. Jawa Timur. Sulawesi Selatan. Sulawesi Utara. Bali.

b.

Industri Pangan Pengaplikasi Bioteknolgi 1) Ciri Spesifik (1) Industri pangan hasil fermentasi yang memberikan manfaat tambahan nutrisi, meningkatkan kesehatan pencernaan ; atau pengolahan lebih lanjut Peluang pasar cenderung meningkat Investasi yang dibutuhkan relatif tidak besar Beberapa contoh produk yang termasuk dalam golongan ini antara lain yoghurt, keju dan Single Cell Protein (SCP) Lulusan perguruan tinggi (fresh graduate) biologi, kimia atau teknologi pangan. Para pemodal (investor) Sosialisasi Program (a) (b) (2) Memilih perguruan tinggi dan melaksanakan sosialisasi program kepada perguruan tinggi terpilih tersebut Melakukan sosialisasi ke pemerintah daerah guna mendapatkan dukungan dalam pengembangan selanjutnya.

(2) (3) (4) 2)

Sasaran Pengembangan (1) (2)

3)

Program Pengembangan (1)

Promosi dan Pemasaran Promosi investasi (melalui : workshop, temu investor dan koordinasi program dengan pemerintah daerah serta lembaga keuangan).

(3)

Penumbuhan Wirausaha Baru
78

4)

Lokasi Pengembangan Wilayah utama sebagai awal pengembangan : (1) Jawa Timur (2) Jawa Tengah (3) Jawa Barat (4) Sumatera Utara (5) Nusa Tenggara Barat

c.

Industri Kimia Pemanfaat Hasil Pertanian/Perkebunan Pengaplikasi Bioteknologi 1) Ciri Spesifik (1) (2) (3) (4) Bahan-bahan kimia yang digunakan untuk keperluan pertanian, industri dan rumah tangga Peluang pasar cukup baik dengan harga bersaing Investasi yang dibutuhkan relatif tidak besar Beberapa contoh produk yang termasuk dalam golongan ini antara lain alkohol, asam sitrat dan biopestisida

2)

Sasaran Pengembangan (1) (2) Lulusan perguruan tinggi (fresh graduate) biologi atau kimia. Para pemodal (investor).

3)

Program Pengembangan (1) Sosialisasi program (a) Memilih perguruan tinggi dan lembaga penelitian dan pengembangan; serta melaksanakan sosialisasi program kepada lembaga terpilih tersebut Melakukan sosialisasi ke Pemerintah Daerah guna mendapatkan dukungan dalam pengembangan selanjutnya.

(b) (2)

Promosi dan Pemasaran Promosi investasi (melalui : workshop, temu investor dan koordinasi program dengan Pemerintah Daerah dan Lembaga Keuangan).

(3) Penumbuhan Wirausaha Baru 4) Lokasi Pengembangan Wilayah utama sebagai awal pengembangan : (1) (2) (3) (4) (5) (6) Jawa Timur Jawa Tengah Jawa Barat Daerah Istimewa Yogyakarta Sumatera Utara Lampung
79

d.

Industri Kimia Pemanfaat Limbah Pengaplikasi Bioteknologi 1). Ciri Spesifik
(1) (2) (3) (4)

Pengolahan langsung limbah-limbah organik hasil pertanian/ perkebunan Menghasilkan produk-produk kimia Investasi yang dibutuhkan relatif tidak besar Beberapa contoh produk yang termasuk golongan ini antara lain: pupuk dan lumpur aktif

2).

Sasaran Pengembangan
(1) (2)

Lulusan perguruan tinggi (Fresh Graduate) biologi atau kimia Para pemodal investor

3).

Program Pengembangan
(1)

Sosialisasi Program (a) Memilih perguruan tinggi dan lembaga penelitian dan pengembangan; serta melaksanakan sosialisasi program kepada lembaga terpilih tersebut Melakukan sosialisasi ke pemerintah daerah guna mendapatkan dukungan dalam pengembangan selanjutnya

(b)
(2)

Promosi Pemasaran Promosi investasi (melalui : workshop, temu investor dan koordinasi program dengan pemerintah daerah dan lembaga keuangan).

(3)

Penumbuhan Wirausaha Baru

4).

Lokasi Pengembangan Wilayah utama sebagai awal pengembangan :
(1) (2) (3) (4) (5) (6)

Jawa Timur Jawa Tengah Jawa Barat DI Yogyakarta Sumatera Utara Lampung

80

BAB VI PENUTUP

Penjabaran RIP-IKM kedalam program pengembangan sebagaimana yang diuraikan dalam buku ini, menunjukkan bahwa pengembangan industri kecil menengah sangat luas, tidak boleh dilaksanakan secara terkotak-kotak namun harus dilaksanakan secara tersinergi serta menuntut komitmen dan upaya yang sungguh-sungguh dari seluruh pihak yang bertanggungjawab dalam penanganan kelompok industri ini. Tanpa itu semua, program pengembangan industri kecil menengah ini tidak akan membuahkan hasil yang berarti dan hanya akan membuahkan pemborosan. Industri kecil menegah adalah merupakan lingkungan yang dinamis, oleh karenanya program pengembangan industri kecil menengah ini akan senantiasa diperbaiki, disesuaikan dengan perkembangan dan kebutuhan yang terjadi. Untuk itu RIP-IKM yang terdiri atas Buku I dan II ini masih akan dilenkapi dengan sebuah buku tambahan yaitu Buku III yang akan mengupas analisis SWOT untuk masing-masing komoditi di setiap lokasi pengembangan (kabupaten/kota). Mengingat cepatnya dinamika perkembangan yang harus diantisipasi maka Buku III juga akan sangat cepat berubah. Oleh karenanya Buku III tidak dipublikasikan, tetapi hanya merupakan pegangan bagi aparat pembina di lingkungan Direktorat Jenderal Industri dan Dagang Kecil Menengah serta diharapkan juga para jajaran Dinas Perindustrian dan Perdagangan di daerah, yang akan direvisi setiap 3 sampai dengan 6 bulan. Untuk lebih melengkapi tuntutan akan sebuah perencanaan yang lengkap, dalam lampiran Buku II ini disajikan juga sebuah matrik tentang perkiraan sasaran makro pengembangan IKM yang diperkirakan dapat dicapai hingga tahun 2004. Perkiraan ini dihitung dengan mengikuti dan menyesuaikan sasaran makro ekonomi, seperti pertumbuhan PDB dan sebagainya yang ditetapkan dalam PROPENAS serta REPETA. Akhirnya, diharapkan dengan adanya Buku I dan II RIP-IKM dapat dicapai sinergi dan optimalisasi penggunaan sumber daya dalam pengembangan industri kecil menengah, dan industri yang dimaksud dapat tumbuh menjadi kekuatan sebagaimana misi serta tujuanyang tersirat dalam PROPENAS, REPETA maupun RIP-IKM. Amien.

ooo O ooo

81

LAMPIRAN - LAMPIRAN

82

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->