Anda di halaman 1dari 2

MEDIA TV ISLAM

Rabu, 28 Januari 2009 pukul 08:35:00

Dunia Islam Luncurkan Televisi Satelit

RABAT-- Pemberitaan media Barat yang bias terhadap dunia Islam mulai mendapat
perhatian para menteri informasi dari negara-negara Islam yang tergabung dalam
OKI. Guna mengatasi masalah itu, Konferensi Menteri Informasi Islam ke-8 yang
digelar di Rabat, Maroko, berencana meluncurkan stasiun televisi satelit Islam.

Televisi satelit Islam itu akan menjadi corong dunia Islam. Konferensi Menteri
Informasi Islam ke-8 yang telah dibuka pada Selasa (26/1) itu dihadiri 57 negara
anggota OKI. Menteri Komunikasi dan Juru Bicara Pemerintah Maroko, Khalid
Naciri, menegaskan, konferensi itu bertujuan untuk membahas peran media di dunia
Islam.

''Pertemuan ini adalah sebuah kesempatan untuk meluruskan penyimpangan imej


Islam yang dipropagandakan media Barat,'' kata Naciri. Agenda peluncuran televisi
satelit Islam mendapat dukungan dari berbagai negara. Salah satu yang mendukung
rencana itu adalah Menteri Kebudayaan, Seni, dan Warisan Sejarah Qatar, H E Dr
Hamad bin Abdul Aziz Al-Kuwari.

Seperti diberitakan Peninsula, Al-Kuwari yang memimpin delegasi Qatar akan turut
memperjuangkan berdirinya stasiun televisi milik dunia Islam. Selain membahas
rencana peluncuran stasiun televisi satelit Islam, Konferensi Menteri Informasi ke-8
itu juga membahas masalah Palestina.

Terkait nasib Palestina, Menteri Informasi Malaysia, Datuk Ahmad Shabery Cheek,
mengusulkan agar OKI melatih rakyat Palestina tentang konsep Citizen Journalism.
Selain melatih mereka tentang jurnalistik, Malaysia pun menyarankan agar warga
Palestina dibekali dengan peralatan media yang canggih.

Malaysia berharap dengan cara itu, warga Gaza dapat melaporkan kondisi mereka
kepada dunia luar. Sehingga, dunia Islam dan internasional bisa mengetahui
perkembangan dan keadaan yang dihadapi warga Gaza. Ahmad Shabery yang
memimpin lima anggota delegasi menegaskan, gagasan itu dilontarkan Malaysia
untuk menghindari kesimpangsiuran informasi seperti yang terjadi saat Gaza
dibombardir Zionis Israel.

Ahmad Shabery mengungkapkan, guna membantu menyebarkan informasi tentang


Palestina bisa dilakukan melalui media baru, seperti internet, layanan pesan singkat
(SMS), serta melalui blog. Menurut dia, laporan dari lapangan, gambar dan foto dari
rakyat Palestina dapat menjadi dokumen dan bukti kekejaman Israel sebagai bentuk
kejahatan perang. Pihaknya juga mendukung diluncurkannya jaringan televisi satelit
Islam.

Sejumlah agenda penting lainnya yang akan dibahas dalam konferensi itu, antara lain,
peningkatan kualitas atau restrukturisasi Kantor Berita Islam Internasional atau
International Islamic News Agency (IINA) yang bermarkas di Jeddah, Arab Saudi.
Selain itu, konferensi juga mengagendakan pembahasan mengenai Persatuan
Penyiaran Islam Internasional (ISBU).

Kedua lembaga tersebut diharapkan bisa lebih berperan dalam menyiarkan informasi
yang dapat bermanfaat bagi kepentingan umat Islam di seluruh dunia. Konferensi ini
juga akan membahas peningkatan peran Global Digital Solidarity Fund. Konferensi
Menteri Informasi Islam ke-8 itu yang bertepatan dengan ulang tahun ke-40 OKI juga
mengagendakan pembahasan kode etik sebagai petunjuk bagi media di negara-negara
anggota OKI. Kode etik yang akan dibahas dalam pertemuan ini tetap menjaga nilai-
nilai dan kepentingan negara-negara anggota.

Menteri Informasi Maroko menambahkan, digelarnya konferensi tersebut di


negaranya, membuktikan bahwa media di Maroko begitu penting dan berkualitas.
Menurut Naciri, Maroko telah mengalami kemajuan dalam kebebasan berbicara, salah
satunya kebebasan pers.

Konferensi Menteri Informasi Islam ke-8 itu dibuka Sekjen OKI, Professor
Ekmeleddin Ihsanoglu. Pihaknya berharap agar negara-negara Muslim bekerja sama
dalam bidang informasi. hri/peninsula/iina/bernama