Anda di halaman 1dari 12

PROSES KEPERAWATAN PADA KEBUTUHAN SEKSUAL

A. PENGKAJIAN

Pengkajian ini adalah riwayat keperawatan, pemeriksaan fisik, dan pengkajian psikososial. Pada riwayat keperawatan, dapat diidentifikasikan beberapa hal tentang riwayat kesehatan yang berhubungan dengan masalah seksual, seperti penyakit diabetes yang kronik, adanya trauma pada alat genital, terjadi peradangan, dan adanya penyakit pada alat kelamin, seperti HIV, AIDS, Sifilis, dan berbagai penyakit yang dapat mempengaruhi seksual, seperti penyakit jantung yang dapat menimbulkan kecemasan yang tinggi, trauma tulang belakang, dan kondisi pembedahan perlu diperhatikan. (Hidayat, 2006) Pada wanita, dilakukan pengkajian terhadap keadaan atau fisiologis dari haid atau menstruasi. Pengkajian selanjutnya adalah riwayat psikososial, antara lain ada atau tidaknya riwayat psikososial yang berhubungan dengan masalah seksual seperti adanya trauma perkosaan, latar belakang budaya, atau keyakinana dalam berhubungan, atau yang lain, seperti sikap atau nilai yang dianut dalam kehidupan serta pandangan terhadap seksual. (Hidayat, 2006) Keinginan seksual beragam diantara individu; sebagian orang menginginkan dan menikmati seks setiap hari. Sementara yang lainnya menginginkan seks hanya sekali dalam sebulan, dan yang lainnya lagi tidak memiliki keinginan seksual sama sekali dan cukup merasa nyaman dengan fakta tersebut. Keinginan seksual menjadi masalah jika klien sematamata menginginkan untuk merasakan keinginan hubungan seks lebih sering, jika keyakinan klien adalah penting untuk melakukannya pada beberapa norma kultur, atau jika perbedaan dalam keinginan seksual dari pasangan menyebabkan konflik. (Potter & Perry, 2005) a. Factor fisik Klien mengalami penurunan keinginan seksual karena alasan fisik berupa aktifitas seksual dapat menyebabkan nyeri dan ketidaknyamanan, penyakit minor dan keletihan, medikasi, citra tubuh yang buruk. b. Factor hubungan Masalah dalam hubungan dapat mengalihkan perhatian seseorang dari keinginan seks, terhadap perbedaan dalam nilai atau gaya hidup, penurunan minat dalam aktifitas seksual dapat mengakibatkan ansietas. c. Factor gaya hidup

Beberapa factor gaya hidup seperti penyalahgunana alcohol dapat menyebabkan gairah palsu pada saat berhubungan dapat mempengaruhi keinginan seksual. Menemukan waktu yang tepat untuk aktifitas seksual d. Factor harga diri Tingkat harga diri klien juga menyebabkan konflik yang melibatkan seksualitas. Harga diri seksual dapat menurun disebabkan oleh perkosaan, inses, dan penganiayaan fisik atau emosi menyebabkan trauma, kurangnya pendidikan seks, model peran yang negative, dan upaya untuk hidup dalam pengharapan pribadi dan cultural yang tidak realistic. e. Riwayat kesehatan seksual Pada riwayat kesehatan seksual yang dikaji perasaan klien tentang bagian seksual, adanya perubahan dalam mempersepsikan diri sebagai suami atau istri / pria atau wanita, adanya penyakit, medikasi atau pembedahan yang dialami mempengaruhi kehidupan seksual (potter & Perry (2005). f. Riwayat seksual Perawat dapat mengungkapkan riwayat seks klien dengan mengajukan berbagai pertanyaan, sebagai berikut: 1) Bagaimana pandangan klien terhadap kekuatiran seksual mereka ? 2) Apa yang klien anggap sebagai penyebab dari kekuatiran tersebut ? 3) Tindakan seperti apa yang klien cari untuk menghilangkan kekuatiran tersebut ? 4) Bagaimana klien menghendaki kekuatiran untuk diselesaikan dan apa tujuan mereka terhadap pengobatan ? Tujuan pengambilan riwayat seksual adalah untuk menentukan dampak suatu penyakit terhadap kesehatan pasien. riwayat seksual menungkinkan perawat untuk membicarakan hal-hal seksual secara terbuka dan dapat menunjukkan pada klien keinginan perawat untuk mendiskusikan kekhawatirantentang masalah seksual dan memberikan kesempatan kepada klien untuk mengekspresikan kekhawatiran kepada orang yang mengerti dibidangnya (Smeltzer & Bare, 2001)

Menurut Carpenitto, 2009, kriteria pengkajian fokus pada pasien dengan masalah seksualitas meliputi: 1. pedoman pengkajian riwayat seksual

a. Diskusikan tentang masalah seksualitas dilingkungan tenang dan pribadi untuk menjamin kerahasiaan. b. Jangan menilai individu berdasarkan keyakinan/praktik anda sendiri. c. Perbolehkan individu untuk tidak menjawab pertanyaan yang diajukan. d. Perjelas kosa kata; jika perlu, gunakan istilah umum untuk mengenai maksud. e. Kaji hanya hal-hal yang berkaitan dengan klien pada saat ini. f. Upayakan untuk bersikap terbuka, hangat, objektif, tidak memalukan, meyakinkan,.

2. Data Subjektif Tentukan riwayat: Usia, jenis kelamin, status hubungan/pernikahan, orientasi seksual, kualitas hubungan dengan orang terdekat, latar belakang agama dan budaya, status keuangan dan pekerjaan, riwayat medis dan pembedahan, penggunaan obat dan alkohol (sekarang dan masa lalu), pola komunikasi dengan orang terdekat lain, jumlah anak dan saudara kandung, penganiayaan seksual, depresi dan meditasi. Kaji kekhawatiran dan pola seksualitas: 1. bagaimana (masalah kesehatan) anda mempengaruhi kemampuan anda untuk

berfungsi sebagai istri/ibu/pasangan/ayah/suami? 2. bagaimana (masalah kesehatan) anda mempengaruhi cara anda memandang diri sendiri sebagai seorang pria/wanita? 3. aspek maan dari seksualitas anda yang telah terpengaruhi oleh (masalah kesehatan) anda? 4. bagaimana (masalah kesehatan) anda mempengaruhi kemampuan anda untuk berfungsi secara seksual?

Fungsi seksual

Pola yang biasa, pola saat ini, kepuasan (individu/pasangan), hasrat, masalah ereksi pada pria (mencapai ereksi, mempertahankan ereksi), masalah ejakulasi pada pria (dini, lambat, memburuk), perubahan lubrikasi pada wanita, perubahan ergasme pada wanita. Masalah seksual Gambaran, awitan (kapan, bertahap/mendadak), pola sepanjang waktu (meningkat, menurun, tidak berubah), konsep individu tentang penyebab, pengetahuan tentang masalah oleh orang lain (pasangan, dokter, orang lain), harapan.

g. Pemeriksaan Fisik Perawat mengkaji payudara dan genitalia internal dan eksternal klien, mengkaji reaksi klien, menjawab pertanyakan yang diajukan klien, dan memberikan informasi tentang pemeriksaan atau struktur anatomis dan fisiologis. Klien wanita dapat belajar untuk melakukan pemeriksaan payudara sendiri selama pemeriksaan fisik, memilih untuk mengajarkan klien melakukan latihan kegel. Klien pria dapat belajar untuk melakukan pemeriksaan testis mandiri selama pengkajian fisik. Pengetahuan struktur anatomis skrotum normal membantu klain dalam menditeksi tanta kanker servik (potter & Perry (2005) Menurut Barbara & Kozier, 2004, data riwayat keperawatan menunjukkan adanya kebutuhan untuk dilakukannya pemeriksaan fisik yang meliputi: 1. Suspicion of infertility, pregnancy, or an STD 2. Report of discharge, presence of a lump, or change in color, size, and shape of a genital organ. 3. Changes in urinary function. 4. Request for birth control

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN Perbedaan dalam mendiagnosis disfungsi seksual atau perubahan pola seksualitas bergantung pada apakah klien merasakan masalah dalam pencapaian kepuasan seksual atau mengekspresikan kekhawatiran mengenai seksualitas. Jika kekhawatiran klien diekspresikan, maka diagnosanya adalah perubahan pola seksual. (Potter & Perry, 2005)

Berdasarkan definisi seksualitas, segala hal yang mempengaruhi kesehatan fisik, psikologis, atau emosional atau sosiokultural atau sikap etik dan keyakinan dapat berdampak pada fungsi seksual. Hal tersebut merupakan bidang pengkajian, diagnosa potensial untuk perubahan atau disfungsi, dan intervensi. (Potter & Perry, 2005) Menurut NANDA dalam Potter & Perry, 2005, diagnosa keperawatan yang dapat diangkat pada klien dengan masalah disfungsi seksual ialah: 1. Perubahan pola seksualitas berhubungan dengan ketakutan tentang kehamilan, efek antihipertensif, konflik atau stresor perkawinan, atau depresi terhadap kematian atau perpisahan dari pasangan. 2. Disfungsi seksual berhubungan dengan cedera medulla spinalis, penyakit kronis, nyeri, atau ansietas mengenai penempatan di rumah perawatan atau panti. 3. Sindrom trauma perkosaan berhubungan dengan ketidakmampuan untuk mendiskusikan pengalaman perkosaan masa lalu. 4. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan efek mastektomi atau kolostomi yang baru dilakukan, disfungsi seksual, atau perubahan pasca persalinan. 5. Gangguan harga diri berhubungan dengan kerentanan yang dirasakan setelah mengalami serangan infark miokard, atau penganiayaan ketika masih kecil. 6. Kurang pengetahuan berhubungan dengan aktivitas seksual pranikah, atau penggunaan kontrasepsi. 7. Konflik pengambilan keputusan berhubungan aktivitas seksual sebelum menikah, atau penggunaan kontrasepsi.

Sedangkan menurut NANDA diambil dari buku Barbara Kozier 2004, diagnosa pada masalah kebutuhan seksualitas ialah 1. Ineffective sexuality pattern 2. Sexual dysfunction.

Sedangkan dalam NANDA, 2010, diagnosa yang diangkat dalam domain seksualitas ialah: 1. Disfungsi seksual 2. Sindrom pasca trauma 3. Ketidakefektifan pola seksualitas 4. Kesiapan meningkatkan proses kehamilan-persalinan

5. Resiko hubungan ibu/janin.

C. INTERVENSI KEPERAWATAN Tujuan umum untuk klien yang mengalami perubahan aktual atau potensial dalam fungsi seksual adalah sebagai berikut: 1. Mendapatkan pengetahuan tentang perkembangan dan fungsi seksual pria dan wanita. 2. Mencapai atau mempertahankan secara biologis dan emosional praktik seksual yang sehat. 3. Menetapkan atau mempertahankan kepuasan seksual bagi diri sendiri dan pasangan. 4. Mencapai, mempertahankan, atau meningkatkan harga diri yang positif dengan mengintegrasikan keyakinan kultural, keagamaan, dan etik; praktik seksual saat ini dan masa lalu; dan realitas situasi. 5. Mencapai kembali, mempertahankan, atau mendapatkan fungsi seksual yang mencukupi untuk menghilangkan ansietas. (Potter & Perry, 2005) Intervensi: intervensi rasional tujuan Hasil yang diharap 1. Libatkan dalam minta membantu memandikan, bercukur, pasangan Sentuhan perawatan, bentuk dasar adalah Klien dan pasangan Pasangan dari akan dan kembali akan

melakukan menyentuh klien ekspresi sampai hari

pasangan komunikasi dalam merupakan kasih sayang

dasar intim kasih sayang kunjungan ke 2. dan dalam 2 minggu. Klien pasangan mencapai kemajuan untuk dan

dan ekspresi seksual.

menyisisr rambut. 2. Ajak pasangan Meningkatkan

untuk memeluk atau keintiman sementara mencium klien yang memperbaiki aktivitas berpisah. toleransi yang

berpegangan tangan, berpelukan, atau

3. Jadwalkan ambulasi

periode menguatkan kapasitas untuk klien.

kasih sayang non seksual tingkat sebelumnya dalam waktu 2 minggu. pada

disesuaikan dengan jam berkunjung.

4. Pandu klien dalam Klien latihan untuk imajinasi, mengungkapkan ketakutan

dapat Klien dan pasangan Klien akan dan kembali bahwa tingkat mencapai pasangan interaksi berbicara dewasa istilah

dan akan dalam tentang

memvisualisasi diri mengenali

sebagai sehat dan orang lain mengalami yang positif dalam kemampuan melakukan rutinitas perasaan yang sama. sehari-hari fungsi seksual. 5. Rujuk kelompok pendukung penderita yang dan Kelompok pendukung pada memberikan kontak 5 minggu. mereka istilah sesuai dalam positif jender

dalam 5 minggu. Pasangan akan

dengan klien serupa untuk memberikan

menggambarkan kekuatan tentang kehilangan dan

penyakit tanda kemajuan. bagi

sama

klien dan pasangan. 6. Diskusikan proses

berkembang pada penerimaan perubahan hidup diperlukan. gaya yang

adaptasi-berduka dan berikan privasi dan izin untuk saling berbagi ketakutan

dan kesedihan. 7. Dorong kesempatan bagi pasangan setiap minggu untuk secara pribadi menceritakan kekhawatiran. 8. Diskusikan alternatif Stres pasangan, Klien menjalankan Klien dan saling

ekspresi

seksual kepuasan perkawinan, kembali hubungan pasangan kenyamanan seksual minggu. dalam 8 bereksperimen dengan sensasi kenikmatan dalam 5 minggu. seksual Klien pasangan dan akan latihan

(mis Fondling dan dan cuddling) suatu sebagai seksual

kepuasan, mempengaruhi proses

bukan hanya sebagai pemulihan kesehatan. pemanasan. 9. Diskusikan harapan Ekspresi

realistik yang rendah dalam kontinum dan tekanan untuk secara latihan bertahap untuk kembali memberikan melakuakn pengalaman yang seksual positif, sensasi

mengekspresikan kepuasan tentang aktivitas seksual

hubungan seksual.

dalam 8 minggu.

mengurangi stres, dan menghilangkan tekanan kinerja. Sumber: Potter & Perry, 2005. Fundamental Keperawatan. terhadap

Perubahan pola seksualitas berhubungan dengan ketakutan tentang kehamilan, efek antihipertensif, konflik atau stresor perkawinan, atau depresi terhadap kematian atau perpisahan dari pasangan. Criteria hasil : Pasangan akan menyentuh klien sampai hari kunjungan ke 2. Tujuan Klien dan pasangan akan kembali melakukan ekspresi Intervensi 1. Libatkan pasangan dalam perawatan, minta pasangan membantu dalam Rasional 1. Sentuhan adalah bentuk dasar dari komunikasi dasar dan kasih

merupakan

intim kasih sayang dalam 2 minggu.

memandikan, bercukur, dan menyisisr rambut. 2. Ajak pasangan atau untuk mencium

sayang dan ekspresi seksual. 2. Meningkatkan sementara aktivitas keintiman memperbaiki toleransi yang

memeluk

klien yang berpisah. 3. Jadwalkan periode ambulasi

menguatkan kapasitas klien. 3. Klien dapat mengungkapkan

untuk disesuaikan dengan jam berkunjung. 4. Rujuk pada kelompok penderita

ketakutan

dan

mengenali

bahwa orang lain mengalami perasaan yang sama. 4. Kelompok pendukung

pendukung

penyakit yang sama bagi klien dan pasangan.

memberikan kontak dengan klien serupa untuk

memberikan tanda kemajuan Diagnose: Kurang pengetahuan berhubungan dengan aktivitas seksual pranikah, atau penggunaan kontrasepsi. Criteria hasil: Pasangan akan menggambarkan kekuatan tentang kehilangan dan berkembang pada penerimaan perubahan gaya hidup yang diperlukan. Tujuan: Klien menjalankan kembali hubungan seksual dalam 8 minggu. 1. Rujuk pada kelompok penderita 1. Kelompok pendukung

pendukung

memberikan kontak dengan klien serupa untuk

penyakit yang sama bagi klien dan pasangan. 2. Diskusikan proses adaptasiberduka dan berikan privasi dan izin untuk ketakutan saling dan

memberikan tanda kemajuan. 2. Stres pasangan, kepuasan

perkawinan, dan kenyamanan seksual mempengaruhi

berbagi kesedihan. 3. Diskusikan ekspresi Fondling sebagai bukan

proses pemulihan kesehatan. 3. Ekspresi seksual dalam

alternatif seksual dan (mis

kontinum dan latihan sensasi memberikan seksual mengurangi menghilangkan terhadap kinerja. yang stres, pengalaman positif, dan tekanan

cuddling) kepuasan, sebagai

suatu hanya

pemanasan. 4. Diskusikan realistik tekanan bertahap melakuakn seksual. yang untuk kembali harapan rendah secara untuk

hubungan

Menurut Carpenitto, dalam Buku Saku Diagnosa Keperawatan 1998, kriteria hasil yang ingin dicapai pada pasien yang mengalami masalah perubahan pola seksualitas atau disfungsi seksual ialah: 1. Menceritakan kepedulian/masalah mengenai fungsi seksual. 2. Mengekspresikan peningkatan kepuasan dengan pola seksual. 3. Mengidentifikasi stresor dalam kehidupan. 4. Melanjutkan aktivitas seksual sebelumnya. 5. Melaporkan suatu keinginan untuk melanjutkan aktivitas seksual.

Menurut McCloskey, dalam NIC 1996, intervensi yang dapat dihunakan untuk masalah disfungsi seksual ialah: 1. Menurunkan tingkat ansietas. 2. Mengajarkan manajemen perilaku; seksual. 3. Mengajarkan manajemen teknologi untuk reproduksi. 4. Peningkatan/perbaikan fungsi peran. 5. Peningkatan harga diri. 6. Peningkatan kesadaran terhadap diri. 7. Pendidikan seksualitas.

Sedangkan intervensi pada masalah perubahan pola seksualitas ialah: 1. Menurunkian ansietas. 2. Peningkatan body image. 3. Persiapan kelahiran bayi. 4. Peningkatan koping. 5. Konseling. 6. Perawatan prenatal. 7. Pemeliharan fertilitas/kesuburan. 8. Pendidikan seksualitas yang aman.

Menurut Barabar & Kozier, 2004, kriteria hasil yang ingin dicapai pada klien dengan masalah kebutuhan seksual ialah: 1. mempertahankan, memperbaiki, atau meningkatkan kesehatan seksual.

2. Peningkatan pengetahuan tentang seksualitas dan kesehatan seksual. 3. Pencegahan dari timbulnya atau menyebarnya STD 4. Peningkatan kepuasan fungsi seksual. 5. Pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan. 6. Peningkatan konsep seksualitas diri.

D. IMPLEMENTASI Peran perawat mencakup promosi kesehatan seksual sebagai komponen kesejahteraan yang menyeluruh. a. Perawat dapat meningkatkan kesehatan seksual dengan membantu klien mendapatkan kawasan mengenai masalah mereka dan mengenai metode untuk menghadapi masalah tersebut secara efektif. b. membantu klien mengklasifikasi dan memberikan informasi terhadap perubahan klien terhadap pasangannya atau disfungsi seksual yang menimbulkan kesadaran untuk merawatnya. c. perawat member rujukanyang sesuai seperti konseling atau evaluasi oleh ginekolog atau urolog d. klien harus merasa nyaman dengan seksualitas dan mewaspadai nilai dari bias pribada.

E. EVALUASI Pengungkapan klien atau pasangan menentukan tujuan dan hasil telah dicapai. 1. Klien dan pasangan melakukan ekspresi keintiman setelah dilakukan

implementasi. 2. Klien dan pasangan mencapai kembali interaksi positif tingkat dewasa. 3. Klien kembali melakukan hubungan seksual. 4. klien harus dapat memahami perkembangan tubuh, cara pria dan wanitamerespons seksual, dan perubahan yang normal terjadi bersama dengan proses penuaan dan stres kehidupan. 5. Klien dapat mengungkapkan kekhawatiran, berbgai aktivitas dan kepuasan, dan menunjukkan faktor resiko.

6. Adanya kenyamanan dari isyarat perilaku seperti kontak mata, postur dan gerakan tangan yang berlebihan atau klien menunjukkan berlanjutnya kekhawatiran atau ansietas. (Potter & Perry, 2005)

Sedangkan menurut Barbara & Kozier, 2004, hasil akhir yang diinginkan dapat dievaluasi dengan pertanyaan seperti: 1. Adakah faktor resiko telah dikenali dan dapat diidentifikasi? 2. Adakah klien menyampaikan seluruh rasa takut dan perhatian tentang seksualitas? 3. Adakah klien merasa lebih nyaman selama diskusi tentang permasalahan seksual? 4. Adakah klien mengerti tentang pendidikan seksualitas yang perawat ajarkan? 5. Adakah pendidikan seksual yang diajarkan sesuai dengan budaya dan agama klien? 6. Adakah klien telah siap untuk menyelesaikan permasalahan seksualnya?

Daftar Pustaka: Potter & Perry. (2005). Buku Ajar Fundamental Keperawatan Konsep Proses dan Praktik, Edisi Volume 1. Jakarta: EGC Smeltzer & Bare. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah edisi 8. Jakarta: EGC Barbara & Kozier. (2004). Fundamental of Nursing, concepts, process, and practice. Mosby Carpenitto. (2009). Diagnosa keperawatan; aplikasi pada praktik klinis. Jakarta: EGC Carpenitto. (1998). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta: EGC Hidayat, A.A. (2009). Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta: Salemba Medika McCloskey. (1996). Nursing Intervention Classifications. NANDA International. (2010). Diagnosis Keperawatan definisi dan klasifikasi. Jakarta: EGC