Anda di halaman 1dari 17

LAMPIRAN 5

DISKUSI BAPAK I WAYAN PARTHIANA DENGAN BAPAK DAMOS


DUMOLI AGUSMAN MENGENAI MASALAH-MASALAH POKOK/KAJIAN
AKADEMIS (TEORITIS DAN PRAKTIS) SEKITAR PEMBUATAN,
PERSETUJUAN DAN PEMBERLAKUAN PERJANJIAN INTERNASIONAL
KE DALAM HUKUM NASIONAL INDONESIA SESUAI UNDANG-UNDANG
NOMOR 24 TAHUN 2000 TENTANG PERJANJIAN INTERNASIONAL

Umum

 Komentar Damos Dumoli Agusman

Komentar ini ditulis dalam rangka menanggapi Paper Bapak Parthiana yang disampaikan
dalam Expert Group Meeting tentang Perjanjian Internasional yang diselenggarakan di
LPHI FH UI Depok, 9 Januari 2007 yang tidak sempat saya bahas dalam pertemuan
tersebut.

Secara umum Paper tersebut sangat bermanfaat bagi kami di Deplu yang sehari-hari
berkecimpung dalam praktek pembuatan perjanjian internasional. Terlebih lagi
berdasarkan pengamatan kami bahwa Bapak Parthiana adalah salah satu dari sedikit
akademisi yang sangat loyal dan devoted terhadap pengembangan cabang hukum
perjanjian internasional. Sehingga tidaklah mengherankan bahwa paper ini menyentuh
banyak aspek-aspek yang sangat tidak asing bagi kami di Deplu dan bahkan sangat

mum
U
membantu dalam meyakini bahwa masih banyak permasalahan yang perlu dibenahi.

Komentar saya terhadap Paper ini lebih ditekankan kepada persepsi praktek terhadap
isssue yang diangkat oleh Bapak Parthiana. Dalam kaitan ini, saya lebih menekankan
pada apa kata praktek Indonesia terhadap permasalahan yang diangkat. Seperti
difahami, dalam hukum internasional, praktek suatu negara merupakan fundasi
utama dalam menganalisa suatu norma hukum internasional oleh sebab itu saya
akan melengkapi analisa Bapak Parthiana dalam perspektif praktek Indonesia sehingga
tidak terjadi kesenjangan antara apa yang dibayangkan oleh para akademisi dengan
praktek negara.

Secara umum, pertanyaan-pertanyaan yang diangkat oleh Bapak Parthiana dalam


papernya adalah sebagian besar tentang ”status perjanjian internasional dalam hukum
nasional”, masalah sentral yang saya perkenalkan dalam Expert Group Meeting tersebut.
Sekalipun Bapak Parthiana tidak menghendaki pendekatan monisme-dualisme dalam
menganalisa masalah ini, namun tanpa disadari pandangan yang dianut mengarah pada
satu isme, yang dalam rapat interdep pada Pemerintah RI merupakan salah satu kubu
yang cukup kuat.

Motivasi saya untuk membuat komentar ini adalah guna mendorong adanya diskusi dan
diskursus yang intensif tentang masalah ini guna mengklarifikasi permasalahan yang kita
hadapi dalam dunia praktek. Menurut saya, masalah ini sudah berlarut-larut dalam
praktek dan cenderung mengarah pada inkonsistensi dan menimbulkan ketidakpastian
hukum. Oleh sebab itu sudah saatnya masalah ini dikembalikan pada tataran akademisi
guna mendapatkan kejelasan tentang anatomi persoalan ini yang menurut hemat saya
berakar dari perdebatan tentang teori hubungan hukum internasional dan hukum
nasional. Dalam kaitan ini, saya menyambut gembira adanya kesimpulan Expert Group

51
Meeting tersebut tentang perlunya diambil suatu sikap dalam bentuk legal provisions
tentang hubungan hukum internasional dan nasional di Indonesia.

I. Mengenai Pasal 11 UUD 1945

 Makalah I Wayan Parthiana

A. Pasal 11 UUD 1945

Pasal 11 ayat 1:

“Presiden dengan persetujuan DPR menyatakan perang,membuat perdamaian dan


perjanjian dengan negara lain.”

Persoalan pokok:

a. Pasal 11 ayat 1 ini menggabungkan dalam satu wadah (ayat) tentang pernyataan
perang dan membuat perdamaian pada satu pihak dan membuat perjanjian
(internasional) pada lain pihak, padahal keduanya secara substansial amat
kontradiktif. Perang adalah suatu yang harus dicegah dan dihindari dan semakin
berhasil perang itu dicegah dan dihindari ataupun dikurangi terjadinya, semakin
positif bagi masyarakat internasional. Sedangkan perjanjian internasional adalah
suatu vang sangat dibutuhkan dan semakin banyak perjanjian-perjanjian
internasional yang dibuat untuk mengatur masalah internasional adalah semakin
positif bagi masyarakat internasional.

b. Khusus mengenai pembuatan perjanjian internasional, dengan menggunakan


penafsiran secara gramatikal, Pasal 11 ayat l ini menimbulkan beberapa pertanyaan,
yakni:
Pasal 11 UUD
1945

b.1. Apakah persetujuan DPR itu diminta oleh Presiden pada saat atau sebelum
Presiden bermaksud membuat perjanjian dengan negara lain? Dengan kata lain,
apakah yang dimintakan persetujuan oleh Presiden kepada DPR itu, mengenai
maksud atau kehendaknya untuk membuat perjanjian dengan negara lain

b.2. Ataukah yang dimintakan persetujuan itu adalah naskah perjanjian internasional
itu sendiri? Tegasnya, Presiden membuat perjanjian lebih dahulu dengan negara
lain, kemudian hasil atau naskah perjanjian itulah yang dimintakan persetujuan
kepada DPR?

b.3. Apakah setiap perjanjian internasional yang dibuat oleh Presiden dengan negara
lainnya harus dimintakan persetujuan kepada DPR?

b.4. Mengapa Pasal 11 ayat 1 ini hanya berkenaan dengan perjanjian dengan negara
lain saja? Bagaimana jika Presiden membuat perjanjian internasional dengan
subyek-subyek hukum internasional lain selain daripada negara, seperti,
organisasi internasional, Tahta Suci/Vatikan, Palang Merah Internasional,
ataupun organisasi pembebasan, misalnya, PLO?

b.5. Bagaimana jika Presiden (Pemerintah Indonesia) menyatakan persetujuan


terikat pada (meratifikasi) suatu perjanjian internasional yang sudah ada atau
sudah berlaku sebelumnya dan Indonesia tidak terlibat dalam proses
pembuatannya?

b.6. Terlepas dari jawaban atas semua pertanyaan di atas (b.1.- b.5.) apakah DPR
harus selalu menyetujuinya? Bolehkah DPR menolaknya? Jika DPR menolaknya,

52
dalam bentuk hukum apakah penolakan itu harus dikemukakan? Apakah dalam
bentuk Surat Penolakan, Keputusan DPR, ataukah bentuk hukum yang lainnya?
Jika DPR menolaknya, langkah apakah yang bisa ditempuh oleh Pemerintah jika
Pemerintah tetap ngotot untuk tetap terus membuat perjanjian dengan negara
lain tersebut?

Sebagian dari pertanyaan tersebut di atas, tegasnya, pertanyaan butir b.1., b.2. dan
b.3. memang sudah dijawab oleh Presiden sebagaimana dapat dibaca dalam Surat
Presiden Nomor 2826/HK/1960 tanggal 22 Agustus 1960 yang ditujukan
kepada Ketua DPRGR, namun Surat Presiden tersebut belum menjawab semua
masalahnya secara tuntas. Meskipun demikian, Surat Presiden ini selanjutnya
(terutama pada masa Orde Baru) dijadikan sebagai salah satu dasar hukum di dalam
pembuatan dan pemberlakuan (pengesahan dan pengundangan) perjanjian-
perjanjian internasional ke dalam wilayah NKRI sehingga perjanjian itu sah menjadi
bagian dari hukum nasional Indonesia. Oleh Prof. Dr. Hamid Attamimi, SH, Surat
Presiden ini dipandang sudah menjadi konvensi ketatanegaraan.

Pasal 11 ayat 2:

Presiden dalam membuat perjanjian internasional lainnya yang menimbulkan akibat yang
luas dan mendasar bagi kehidupan rakyat yang terkait dengan beban keuangan negara
dan mengharuskan perubahan atau pembentukan undang-undang, harus dengan
Persetujuan DPR.

Persoalan pokok:

a.1. Apakah yang dimaksud dengan; "membuat perjanjian internasional lainnya”"?


Apakah pembuatan perjanjian antara Presiden (Negara Indonesia) dengan subyek-
subyek hukum internasional lainnya selain daripada negara, seperti organisasi
internasional, Palang Merah Internasional, Tahta Suci Vatikan, Organisasi

Pasal 11 UUD
Pembebasan Palestina/ Palestine Liberation Organisation (PLO) ataupun organisasi-

1945
grganisasi pembebasan lain yang ada di pelbagai negara di dunia ini, dan lain-
lainnya?

a.2. Apakah Pasal 11 ayat 2 harus dibaca dan dipahami sebagai satu kesatuan yang utuh,
yaitu "Presiden dalam membuat perjanjian internasional lainnya yang menimbulkan
akibat yang luas dan mendasar bagi kehidupan rakyat yang terkait dengan beban
keuangan negara dan mengharuskan perubahan atau pembentukan undang-
undang”, ataukah Pasal 11 ayat 2 harus dibaca dan dipahami sebagai suatu rincian
hutir-butir yang satu dengan lainnya bisa berdiri sendiri, yaitu: "Presiden dalam
membuat perjanjian internasional lainnya yang:
- menimbulkan akibat yang luas dan mendasar bagi kehidupan rakyat;
- terkait dengan beban keuangan negara;
- mengharuskan perubahan undang-undang, atau
- mengharuskan pembentukan undang-undang, harus dengan persetujuan DPR"

a.3. Meskipun Pasal 11 ayat 2 ini sudah menegaskan kriteria dari perjanjian internasional
lainnya yang harus mendapat persetujuan DPR seperti pada butir a.2. ini, namun
kriteria ini masih bersifat umum yang secara teoritis maupun praktis tetap dapat
menimbulkan multi interpretasi.

 Komentar Damos Dumoli Agusman

Penggabungan pernyataan perang dan membuat perjanjian dalam satu wadah (ayat)
dalam ps 11 ayat 1 UUD 45 pada hakekatnya tidak perlu diperdebatkan apalagi jika
dikaitkan dengan karakternya yang kontras. Pasal 11 ini adalah kewenangan Kepala
Negara dalam kaitannya dengan hubungan dan politik luar negeri yang secara tradisional

53
pada waktu itu adalah perang, damai dan membuat perjanjian. Seperti dimaklumi hukum
internasional tradisional adalah hukum perang dan damai dan membuat perjanjian
sehingga pencantuman ketiga external relations concepts ini dalam satu nafas dapat
dipahami dan sangat logis. Jika ditilik dari segi kontradiktifnya maka lebih tidak mungkin
perang dan damai dalam satu ayat ketimbang dengan perjanjian internasional.

Pasal 11 ayat 1 UUD 45 sudah dijabarkan dalam UU No. 24/2000 dan untuk itu UU ini
harus dilihat, dan mungkin dapat dikonstruksikan sebagai interpretasi atas pasal 11 UUD
45. Sehingga pertanyaan atas butir I.1. b Makalah Bapak Parthiana sudah terjawab.
Dalam hal ini, ”persetujuan DPR” adalah identik dengan ”pengesahan” menurut definisi
UU No. 24/2000.

Apakah DPR dapat menolak memberikan persetujuan (pengesahan)? Tentu saja.


Mekansime penolakan ini sama dengan mekanisme penolakan terhadap RUU yang
outputnya adalah ”RUU yang mengesahkan PI dimaksud tidak disetujui dan dengan
demikian tidak diundangkan”. Pertanyaan Bapak Parthiana yang menarik adalah
bagaimana jika Pemerintah tetap ngotot untuk terikat pada PI dimaksud? Saya lebih
konkrit mempertajam pertanyaan ini dengan ”dapatkah dilakukan melalui Perpu?”.
Jawabannya akan sangat tergantung pada perdebatan tentang status UU yang
meratifikasi PI, apakah produk legislasi atau hanya ”jubah” yang menyatakan
persetujuan DPR. Dari sisi the law of treaties, pengesahan melalui Perpu mengandung
resiko hukum, yaitu jika Perpu ditolak diundangkan maka Indonesia harus menarik diri
dari Perjanjian yang sempat disahkah.

Pengertian tentang ”perjanjian internasional lainnya” pada pasal 11 ayat 2 sudah


dijelaskan oleh Pemerintah RI kepada MK pada kasus judicial review UU Migas, yaitu
sebagai perjanjian yang dibuat dengan subjek HI lainnya dan hal ini didukung oleh data
Pasal 11 UUD

pada historis perumusan pasal ini. Jurisprudensi MK mengakui pengertian semacam ini.
1945

Pertanyaan Pak Parthiana tentang apakah ps 11 ayat 2 dibaca sebagai suatu kesatuan
atau tersendiri (dalam legal drafting kita sering menyebutnya ”or” atau ”and” atau
”or/and”) cukup menarik. Dari segi praktis kami menilai ayat ini sebagai suatu kesatuan
karena historis tentang pasal ini adalah ”trauma Letter of Intent RI-IMF 1997. Kesulitan
kami adalah apakah kriteria ini hanya terhadap ”perjanjian internasional lainnya”?
Apakah terhadap perjanjian internasional versi ayat 1 cukup menggunakan kriteria pasal
10 UU No. 24/2000? Dalam hal ini kekuatiran Pak Parthiana betul bahwa ini dapat
menimbulkan multi interpretasi.

 Komentar I Wayan Parthiana

Saya tetap pada pendirian, bahwa Pasal 11 ayat 1 yang substansinya menggabungkan
antara perang dan perdamaian pada satu pihak dengan perjanjian pada pihak lain, adalah
tidak tepat sama sekali, alasanya:

a. Landasan filosofi dari keduanya sangat berbeda;perang adalah perbuatan


menghancurkan pihak lawan dengan hasil kalah dan menang dengan segala
konsekuensinya, sedangkan perjanjian internasional adalah mewujudkan
perdamaian. Keduanya sangat kontradiktif/bertolak-belakang;

b. Landasan faktualnya juga sangat berbeda; yang pertama harus dicegah atau
ditiadakan atau minimal dikurangi terjadinya, sedangkan yang kedua justru sangat
dibutuhkan dan karena itu semakin banyak ada perjanjian internasional maka sangat
positif bagi masyarakat internasional;

c. Hukum yang mengaturnya juga berbeda, yang pertama diatur oleh hukum perang
atau sekarang: hukum humaniter, sedangkan yang kedua diatur oleh hukum
perjanjian internasional;

54
d. Indonesia sebagai negara cinta damai, walaupun demi kemerdekaan tidak segan
untuk berperang, menjadi sangat aneh kalau UUDnya secara eksplisit
mencantumkan tentang perang. Oleh karena itu saya lebih ektsrim lagi berpendapat,
bahwa tidak perlu ada pencantuman tentang perang di dalam UUD Indonesia.
Tentang perang ini, sudah cukup diatur dalam undang-undang saja sebagai
pentransformasian dari Konvensi Jenewa 1949 yang sejak 1958 sudah diratifikasi
oleh Indonesia tetapi hingga kini belum ada undang-undang pentransformasiannya.

Memang benar Pasal 11 ayat 1 UUD 1945 ini sudah dijabarkan di dalam UU Nomor 24
tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional, tetapi penjabaran ini hanya terbatas
mengenai (pembuatan) perjanjian internasional saja. Sedangkan tentang perang dan
perdamaian (keduanya harus dibaca sebagai satu kesatuan, bukan terpisah), hingga kini
belum ada undang-undang tentang penjabarannya.

Dalam hal terjadi ketegangan antara Presiden (eksekutif) dan DPR (legislatif) berkenaan
dengan perjanjian internasional (sudah tentu perjanjian yang pengikatan diri pada
perjanjian internasional itu dan selanjutnya tentang pemberlakuannya ke dalam hukum
nasional membutuhkan persetujuan DPR/dengan undang-undang), adalah sangat besar
risikonya bagi Presiden (eksekutif) jika Presiden memaksakan kehendaknya untuk
meneruskan mengikatkan diri pada perjanjian itu dengan melangkahi DPR, ataupun
dengan memberlakukan (mengesahkan dan mengundangkan) perjanjian internasional
itu dengan PERPU, sebab sudah dapat dipastikan bahwa DPR pada waktunya nanti akan
menolaknya, sehingga tindakan Presiden itu menjadi mubazir, kecuali jika belakangan
DPR berubah pendirian. Bahkan DPR bisa menggunakan haknya untuk meminta
interpelasi kepada Presiden.

Tentang pemberlakuan perjanjian internasional dengan PERPU: Yang saya maksudkan


adalah, jika keadaan memaksa/mendesak, yakni, karena satu dan lain hal tidak ada

Pasal 11 UUD
kesempatan lagi bagi Presiden untuk meminta persetujuan DPR dalam rangka meratifikasi

1945
dan memberlakukan suatu perjanjian internasional ke dalam hukum nasional Indonesia
dengan undang-undang. Misalnya, karena Presiden bermaksud untuk menghadiri
konperensi internasional antar negara-negara pihak/peserta pada suatu Konvensi
Internasional, dan untuk memperkuat posisi kehadiran dalam konperensi tersebut,
Presiden memandang perlu untuk menjadi pihak pada Konvensi itu dan selanjutnya
memberlakukan (mengesahkan dan mengundangkan) ke dalam hukum nasional. Oleh
karena dalam keadaan mendesak/memaksa seperti ini, maka Presiden sebaiknya
memberlakukannya ke dalam hukum nasional dengan PERPU, bukan dengan
Keppres/Perpres seperti yang berlaku selama ini. Dalam praktek tentulah akan lebih
banyak lagi ada alasan untuk memilih bentuk PERPU dan memberlakukan suatu
perjanjian internasional ke dalam hukum nasional.

Bahwa PERPU ini secara internasional (eksternal) akan menimbulkan risiko, yakni, sesuai
dengan ketentuan UUD 1945, jika setelah berlaku satu tahun, PERPU itu harus
dimintakan persetujuan pada DPR. Jika disetujui oleh DPR maka statusnya menjadi
undang-undang (UU/Prp) sehingga tidak ada masalah apapun yang timbul.

Jika DPR menolaknya, makan PERPU itu harus dicabut atau dinyatakan tidak berlaku lagi.
Akan tetapi PERPU semacam ini mengandung dimensi internasional, yakni, tentang
keterikatan Indonesia sebagai negara yang telah meratifikasinya. Apakah Indonesia harus
menarik diri secara sepihak, dengan alasan masalah domestik (DPR menolaknya)? Bisa
saja! Namun, alasan ini tampaknya kurang elok.

Hal ini bisa disiasati dengan mengajukan persyaratan (reservation) yang harus diajukan
dalam waktu yang bersamaan dengan pengajuan pernyataan persetujuan untuk terikat.
Pensyaratan itu ditujukan terhadap pasal perjanjian yang mengatur tentang mulai

55
terikatnya negara yang bersangkutan (dalam kasus ini: Indonesia) pada perjanjian
internasional itu. Kira-kira pensyaratan itu berbunyi sebagai berikut
“Dengan ini Indonesia mengajukan pensyaratan terhadap Pasal…, bahwa Indonesia baru
bersedia terikat pada Perjanjian ini, setelah DPR RI menyetujui untuk terikat pada
Perjanjian ini sebagaimana diatur di dalam hukum nasional Indonesia. Sebaliknya, jika
DPR RI menolaknya, maka Indonesia dengan sendirinya tidak akan terikat pd Perjanjian
ini dan dengan demikian tidak akan menjadi pihak/peserta pada Perjanjian ini.”

Sudah tentu pensyaratan tersebut bisa diajukan, apabila perjanjian itu secara tegas
membolehkannya, atau secara tegas tidak melarangnya, atau jika keduanya itu tidak ada,
sepanjang pensyaratan itu tidak bertentangan dengan maksud dan tujuan perjanjian itu
sendiri.

 Komentar Lanjutan Damos Dumoli Agusman

Saran Bapak Parthiana untuk mengajukan reservasi ini terlihat sangat logis namun dalam
praktek tidak mungkin aplikatif. Reservasi semacam ini tidak lazim dan bahkan Konvensi
Wina 1969 dan 1986 tampaknya tidak membuka ruang adanya kemungkinan suatu
negara yang telah mengikatkan diri pada suatu perjanjian juga diberi keleluasaan untuk
menarik diri jika ternyata masalah internalnya di kemudian hari menentukan lain. Itulah
sebabnya pasal 54 tentang penarikan diri dalam Konvensi ini memuat kriteria yang
sangat restrictive sekali dan tidak mencakup masalah internal suatu negara.

Pasal 25 Konvensi Wina memang mengatur tentang provisional applicaton yang mungkin
dapat digunakan untuk menyiasati persoalan menunggunya kepastian tentang status
Perpu tersebut. Namun sayangnya pemberlakuan secara sementara hanya dapat
dilakukan jika semua pihak sepakat untuk maksud tersebut. Berdasarkan petimbangan
ini maka dapat disimpulkan bahawa penggunaan lembaga reservasi untuk menyiasati
status Perpu akan ditolak oleh negara pihak lainnya.

 Komentar I Wayan Parthiana

Mengenai Putusan Mahkamah Konstitusi dalam kasus judicial review atas UU Migas, saya
tidak bisa berkomentar sebab saya belum pernah membacanya apalagi menelaahnya
Pasal 11 UUD

secara mendalam. Mudah-mudahan saya bisa memperolehnya dalam tempo cepat.


Terima kasih atas informasinya.
1945

Tentang proses pemberlakuan suatu PI ke dalam hukum nasional (Indonesia),


sebenarnya sudah terjawab dalam UU Nomor 24/2000 tentang Perjanjian Internasional,
yakni:

- Pasal 9 ayat 2, Pasal 10, dan Pasal 11 ayat 1 dan 2 yang pada pokoknya
membedakan ke dalam dua kelompok perjanjian yakni, perjanjian internasional yang
disahkan dengan undang-undang dan yang disahkan dengan keppres (sekarang:
perpres?).
- Pasal 15 ayat 1 berkenaan dengan perjanjian-perjanjian internasional yang berlaku
(pada tataran/aras internasional maupun nasional, IWP) setelah penandatanganan
atau pertukaran dokumen-dokumen perjanjian/nota diplomatic, atau melalui cara
lain sebagaimana disepakati para pihak pada perjanjian itu.

Dengan catatan, bahwa istilah “pengesahan” di dalam UU tersebut diartikan sebagai


pemberlakuan suatu perjanjian internasional ke dalam hukum nasional, maka menurut
UU tersebut ada tiga kategori perjanjian internasional, yakni:

1. Perjanjian internasional yang disahkan (diberlakukan) dengan UU;


2. Perjanjian internasional yang disahkan (diberlakukan) dengan Keppres; dan

56
3. Perjanjian internasional yang diberlakukan secara langsung (perjanjian internasional
tanpa bentuk hukum/tanpa kendaraan) karena langsung diberlakukan. Inikah yang
disebut: self-executing treaty?
Sebagai suatu perjanjian internasional, pada aras internasional dia sudah mendapat
nama dan bentuk, apapun nama dan bentuknya itu, seperti: treaty, convention,
agreement, arrangement, charter, statute, covenant, pact, act, dan lain-lain. Sayangnya,
nama-nama ini tidak selamanya menggambarkan bobot isi atau substansinya. Dengan
kata lain, meminjam istilah Pak Damos, perjanjian itu sudah mendapat “jubah”. Namun
karena dia akan masuk ke dalam dan menjadi bagian dari hukum nasional negara-negara
yang sudah menyatakan persetujuan terikat (meratifikasi) dan salah satu negara itu
misalnya, Indonesia, maka perjanjian itu diberi jubah lagi yang tersedia di dalam hukum
nasional (Indonesia), seperti undang-undang dan keppres, kecuali perjanjian
internasional dalam kategori self-executing treaty di atas.

Setelah perjanjian internasional itu masuk ke dalam dan menjadi bagian dari hukum
(positif) nasional Indonesia, secara yuridis formal, dia sama seperti undang-undang
ataupun keppres yang lain, yakni, sama-sama mengikat sebagai hukum positif nasional.
Akan tetapi, karena dia hukum yang berasal dari luar yang masuk ke dalam wilayah dan
menjadi bagian dari hukum nasional Indonesia, tentu saja dia berinteraksi dan

Pasal 11 UUD
menimbulkan dampak/pengaruh terhadap hukum nasional pada umumnya, peraturan
perundang-undangan nasional pada Indonesia pada khususnya.

1945
Apa saja pengaruhnya itu? Memang tidak mudah untuk menjawab secara pasti atas
pertanyaan ini, sebab masalahnya menjadi cukup kompleks. Kalaupun seya jawab, akan
terlalu panjang jadinya. Bahkan bisa menjadi satu makalah tersendiri. Saya saranka,
supaya Deplu bekerjasama dengan Dephukham atau dengan instansi lain yang terkait,
memprakarsai penyelenggaraan seminar tentang: Status Hukum Perjanjian
Internasional dan Pengimplementasiannya dalam Hukum Nasional Indonesia.

Menurut pendapat saya, substansi yang beraneka macam dari perjanjian-perjanjian


internasional yang selanjutnya diberi nama oleh negara-negara yang membuatnya tanpa
standar yang pasti itulah yang menjadi sumber masalah yang utama dalam menjawab
pertanyaan tentang bagaimana pengimplementasian perjanjian internasional di dalam
wilayah negara (termasuk: Indonesia). Jadi substansi masing-masing perjanjian itulah
yang harus dikaji secara mendalam terlebih dahulu, sehingga menjadi jelas.

Sedangkan doktrinnya, dapat disusun atau dirumuskan sesuai dengan situasi riil dan
yang paling sesuai dengan kenyataan di lapangan. Patut disadari, bahwa doktrin yang
rumusannya abstrak dan umum, tidak berasal dari langit dan diturunkan ke bumi untuk
menjawab masalah-masalah di bumi, melainkan dirumuskan dari kenyataan-kenyataan di
bumi yang kemudia diabstraksikan ke dalam rumusan secara sistematis, abstrak dan
umum dan selanjutnya itulah disebut doktrin.

II. Mengenai Dimensi Nasional dan Internasional PI

A. Dimensi Nasional Perjanjian Internasional


Dimensi Nasional dan

Makalah I Wayan Parthiana


Internaional PI

Dari sudut pandang suatu negara, temasuk Indonesia, setiap perjanjian internasional
sudah pasti mengandung dimensi nasional dan internasional yang keduanya tidak bisa
dipisahkan antara satu dengan lainnya.

Beberapa dimensi domestik (nasional) dari suatu perjanjian internasional, adalah:

57
a. Lembaga pemerintah/lembaga negara yang manakah yang berwenang untuk
mengambil inisiatif untuk membuat atau mengadakan perjanjian internasional
dengan negara lain ataupun dengan subyek-subyek hukum internasional lain selain
daripada negara?;
b. Bagaimana proses penunjukan dan pengangkatan serta pemberian surat kuasa (full
powers) bagi wakil atau utusan Pemerintah Indonesia dalam melakukan perundingan
ataupun menghadiri konperensi internasional yang akan merumuskan naskah
perjanjian internasional?

c. Target ataupun sasaran yang hendak dicapai oleh Indonesia ataupun masalah-
masalah apa saja yang akan diperjuangkan oleh Indonesia dalam perundingan atau
konperensi internasional yang akan merumuskan naskah perjanjian internasional
tersebut?

d. Untuk perjanjian-perjanjian internasional yang pada aras internasional,sebelumnya


sudah ada atau sudah berlaku sebagai hukum internasional positif, lembaga
negara/pemerintah yang manakah yang berwenang menyatakan persetujuan terikat
pada (meratifikasi) suatu perjanjian internasional?

e. Bagaimanakah proses pemberlakuan (pengesahan dan pengundangan) perjanjian-


perjanjian internasional dimana Indonesia sudah menyatakan persetujuannya untuk
terikat atau sudah meratifikasinya, ke dalam wilayah Indonesia sehingga perjanjian
internasional itu masuk ke dalam dan berlaku sebagai bagian dari hukum nasional
Indonesia?

f. Setelah perjanjian internasional seperti pada butir c tersebut mulai berlaku dan
Dimensi Nasional dan Internaional

menjadi bagian dari hukum nasional Indonesia, tentu saja akan menimbulkan
implikasi domestik, baik besar ataupun kecil, baik terhadap hukum atau peraturan
perundang-undangan nasional yang terkait ataupun terhadap kehidupan non-hukum
(seperti ekonomi, politik, sipil dan sosial budaya);

g. Oleh karena itu, sebelum Indonesia menyatakan persetujuan terikat pada suatu
perjanjian internasional dan memberlakukannya ke dalam dan menjadi bagian dari
PI

hukum nasional, sebaiknya dilakukan pengkajian secara mendalam atas substansi


perjanjian itu maupun dampak yang ditimbulkannya pada aras domestik.

h. Jika setelah dilakukan pengkajian, ternyata ada ketentuan perjanjian itu yang
bertentangan dengan hukum ataupun kepentingan nasional Indonesia, sedangkan
pada lain pihak Indonesia memandang perlu untuk menjadi pihak/peserta pada
perjanjian internasional itu, maka Indonesia dapat mengajukan persyaratan
(reservation) atas ketentuan perjanjian tersebut. Namun persyaratan (reservation)
itu hanya diperkenankan, apabila, tidak dilarang secara tegas oleh perjanjian itu,
atau jika tidak ada larangan, pensyaratan itu tidak bertentangan dengan maksud dan
tujuan dari perjanjian itu, atau jika pensyaratan itu tidak berkaitan dengan kaidah
hukum vang tergolong jus cogens.

i. Ruang lingkup teritorial dari berlakunya suatu perjanjian internasional di dalam


wilayah NKRI. Ada perjanjian internasional yang berlakunya di seluruh wilayah RI,
ada pula yang hanya bisa diberlakukan di sebagian saja, atau di bagian wilayah
tertentu saja.

j. Persoalan yang timbul setelah suatu perjanjian internasional yang sudah


diberlakukan ke dalam wilayah dan menjadi bagian dari hukum nasional Indonesia,
adalah tentang pengimplementasiannya di dalam wilayah Indonesia.

Beberapa pertanyaan yang dapat diajukan, antara lain:

58
1. Apakah perjanjian internasional itu dapat diimplementasikan secara langsung di
dalam wilayah Indonesia, sebagaimana peraturan perundang-undangan nasional
Indonesia yang lainnya?

(Catatan: Jawaban atas pertanyaan ini tidaklah mudah, sebab nama, bentuk,
macam, demikian pula substansi dari perjanjian internasional itu bermacam-
macam, dari hal yang paling umum dan globa hingga yang paling teknis-
operasional.)

2. Bagaimana jika dalam pengimplementasiannya itu ternyata baru diketemukan,


bahwa ada ketentuan perjanjian internasional tersebut yang bertentangan
dengan peraturan perundang-undangan nasional Indonesia, baik UUD, UU,
atauptun peraturan perundang-undangan lain yang lebih rendah? Mana yang
harus diutamakan penerapannya dan mana yang harus dikesampingkan? Yang
manapun diutamakan, masing-masing ada konsekuensi hukumnya.

3. Apakah terhadap suatu perjanjian internasional yang sudah diberlakukan ke


dalam wilayah dan menjadi bagian dari hukum nasional Indonesia dapat
dimohonkan hak uji materiil ke hadapan Mahkamah Agung terhadap perjanjian
internasional yang diberlakukun dengan keputusan presiden /peraturan
presiden ataupun hak uji konstitusional ke hadapan Mahkamah Konstitusi
terhadap perjanjian internasional yang diberlakukan dengan undang-undang?

4. Jika dapat dan ternyata diputuskan bahwa keppres ataupun undangundang


tentang pemberlakuan perjanjian internasional itu dinyatakan tidak sah karena
bertentangan dengan undang-undang ataupun Undang-undang Dasar, tentu

Dimensi Nasional dan Internaional


saja hal ini akan menimbulkan dampak internal (domestik) maupun eksternal
(internasional).

k. Lembaga atau organ pemerintah/negara yang manakah yang berkewajiban untuk


menyimpan atau mendokumentasikan semua dokumen dan risalahrisalah yang
berkenaan dengan perjanjian internasional tersebut? Misalnya, dokumen full powers,
dokumen persetujuan untuk terikat (peratifikasian), dokumen pensyaratan yang

PI
diajukan oleh Indonesia, dokumen penolakan yang diajukan oleh negara lain
terhadap pensyaratan yang diajukan oleh Indonesia, dokumen penolakan yang
diajukan oleh Indonesia terhadap persyaratan yang diajukan oleh negara lain,
dokumen penarikan diri Indonesia dari suatu perjanjian internasional, dan lain-lain,
dokumen yang berupa naskah perjanjian internasional itu sendiri, dan lain-lain.

 Komentar Damos Dumoli Agusman

Tentang dimensi domestik dari suatu PI pada makalah Bapak Parthiana dapat saya
kemukakan sbb:

a. Tentang lembaga yang mana yang berwenang untuk mengambil inisiatif tidak
menimbulkan masalah praktis karena kejalasan tupoksi masing-masing lembaga
negara menjadi faktor utama.

b. Pemberian full power juga tidak mengalamai masalah praktis karena selalu dibahas
dalam mekansime rapat interdep. Menlu sendiri sebagai pejabat yang mengeluarkan
full power memiliki pengaturan khusus tentang ini.

c. Target dan sasaran yang hendak dicapai dalam pembuatan PI selalu dibahas dalam
rapat interdep dan telah menjadi acuan baku mekanisme pemerintah dalam
menyikapi PI

59
d. Pada hakekatnya yang berwenang menyatakan terikat pada PI (termasuk perjanjian
yang sudah menjadi hukum positif) adalah Pemerintah dengan mekanisme
pengesahan dari DPR jika masuk kriteria pasa 10 UU No. 24/2000. Pemerintah dalam
kaitan ini harus dilihat sebagai suatu kesatuan. Namun dalam internal pemerintah,
lembaga yang berwenang menentukan adalah yang memiliki tupoksi yang kemudian
disetujui serta disampaikan oleh Menlu kepada Presiden. Jika terjadi perdebatan
internal pemerintah maka diputuskan oleh Presiden. Dalam kaitan ini keputusan
pemerintah diambil sesuai dengan mekanisme pengambilan keputusan pemerintah
mulai dari tingkat teknis ke tingkat kebijakan dan politik. Pertanyaan yang justru
menarik pada butir ini adalah lembaga mana yang berwenang memonitor dan
mengendorse bahwa suatu hukum kebiasaan internasional positif mengikat RI?

e. Pertanyaan tentang proses pemberlakukan PI dalam hukum nasional adalah


pertanyaan sentral yang jawabannya belum berkembang di dunia akademisi apa lagi
pada dunia praktis. Untuk itulah kami meminta agar hal ini menjadi bahasan
akademis dengan berbagai metodologinya serta teori yang mendukungnya. Sayang
sekali para akademisi justru cenderung ingin melihat masalah teoritis ini secara
praktis sehingga membiarkan pertanyaan ini tetap tebuka dan tidak terjawab. Dunia
praktisi tidak pernah mendapat jawaban dari dunia akademisi tentang masalah ini.

f. Masalah ini hanya dapat terjawab jika butir e sudah terjawab.

g. Dalam pengesahan PI, sudah menjadi standar baku bahwa sebelum dilakukan
pengesahan harus dilakukan pengkajian mendalam atas substansi maupun dampak
yang ditimbulkan terhadap aras domestik. Sistematika naskah akademis/penjelasan
RUU/Rperpres tentang pengesahan suatu perjanjian telah menggambarkan kajian ini.
Hal ini tidak pernah menjadi permasalahan praktis. Akar masalah justru kembali ada
Dimensi Nasional dan Internaional

pertanyaan butir e, jika sudah disahkan apa statusnya pada aras domestik?
Pertanyaan yang tampaknya justru tidak menarik perhatian para akademisi.

h. Pertanyaan butir h tentang reservasi terhadap PI yang bertentangan dengan hukum


nasional, berdasarkan pelajaran dari dunia praktis, justru ingin saya pertajam
dengan ”dapatkah kita membuat perjanjian yang bertentangan dengan hukum
nasional”? Jika jawabannya tidak dapat maka dapat saja menggunakan reservasi.
PI

Tentang reservasi itu sendiri tidak ada masalah dari segi praktis karena aturannya
sudah jelas. Yang tidak jelas justru pada pertanyaan diatas tadi.

i. Pertanyaan pada butir i tentang territorial application of a treaty justru semakin


menarik setelah lahirnya beberapa UU otonomi khusus yang memberikan
kewenangan kepada Daerah untuk memberikan persetujuan kepada setiap PI yang
menyangkut kepentingan Daerah tersebut. Saya justru mengkuatirkan bahwa akan
muncul apa yang disebut ”double ratification” terhada PI semacam ini, yaitu oleh
pusat dan daerah.

j. ”Apakah PI itu dapat diimplementasikan secara langsung di dalam wilayah Indonesia


sebagaimana peraturan perundang-undangan nasional Indonesia yang lainnya”?
Pertanyaan ini justru pertanyaan sentral tentang hubungan hukum internasional
dengan hukum nasional yang belum terbangun sistemnya dalam sistem hukum
Indonesia. Pandangan Bapak Parthiana bahwa hal ini sulit karena nama, bentuk,
macam substansi PI bermacam-macam tidaklah begitu relevan, karena untuk
Indonesia akar masalah bukan pada keragaman PI itu tetapi justru pada ketiadaan
doktrin dan legislasi Indonesia yang mengatur tentang hubungan hukum ini.
Beberapa pandangan Bapak Parthiana dalam makalahnya justru mengindikasikan
bahwa ”direct application of a treaty” tidak mungkin dilakukan karena Bapak
Parthiana tanpa sengaja menganut aliran bahwa untuk mengaplikasikan suatu PI
yang sudah diratifikasi masih dibutuhkan perundang-undangan nasional yang dalam

60
teori dikenal dengan dualisme (misalnya terindikasi dari pertanyaan pada butir III. 9
makalah).

”Bagaimana jika ternyata PI bertentangan dengan hukum nasional?” pertanyaan ini


juga inti dari masalah hubungan hukum.

k. Pertanyaan tentang organ pemerintah/negara yang me-manage ”treaty-related


documents” dalam praktek sudah cukup jelas dan tidak menimbulkan masalah. Pasal
17 UU No. 24/2000 telah menugaskan Menlu untuk melaksanakan fungsi ini dan
sudah dilakukan dengan baik oleh Ditjen HPI dengan menggunakan mekanisme yang
sudah established.

B. Dimensi Internasional PI

 Makalah I Wayan Parthiana

Di bawah ini dapat dipaparkan beberapa dimensi eksternal atau internasional dari suatu
perjanjian internasional, antara lain:

a. Tentang surat kuasa (full powers) yang harus dibawa oleh wakil atau utusan
pemerintah Indonesia untuk melakukan perundingan (negotiation) dengan wakil atau
utusan negara lain ataupun untuk menghadiri konperensi internasional yang akan
merumuskan naskah perjanjian internasional. Bagaimana jika keabsahan surat kuasa
(full powers) tersebut dipersoalkan oleh pihak mitra berunding ataupun oleh Komisi
Surat Kuasa (Full Powers Commission) dalam suatu konperensi internasional?

b. Tentang persetujuan untuk terikat pada (meratifikasi) suatu perjanjian internasional,


lembaga atau organ pemerintah/negara yang manakah yang berwenang menyatakan

Dimensi Nasional dan Internaional


persetujuan untuk terikat (meratifkasi) suatu perjanjian internasional? Apakah
Presiden, DPR, Presiden bersarna-sama dengan DPR, ataukah juga perlu
menyertakan lembaga pemerintah/negara yang lainnya, seperti Mahkamah Agung,
dan lain-lain?

(Catatan: hal ini sehenarnya merupakan dimensi domestik (nasional) Indonesia,


namun sekaligus juga merupakan dimensi eksternal (internasional) karena dokumen

PI
persetujuan untuk terlibat (peratifikasian) itu harus disampaikan kepada negara lain
(untuk perjanjian bilateral ataupun multilateral terbatas, atau negara ataupun
organisasi internasional (untuk perjanjian -perjanjian internasional regional ataupun
unilateral) yang ditugaskan untuk menyimpan naskah yang otentik dari perjanjian
internasional tersebut serta semua dokumen lain yang berhubungan dengan
perjanjian itu.)

c. Tentang hak-hak yang diterima atau dinikmati dan kewajiban yang dipikul oleh
Indonesia sebagai konsekuensi dari posisinya sebagai pihak atau peserta pada suatu
perjanjian internasional,

d. Perjanjian-perjanjian internasional yang memberikan hak dan atau membebani


kewajiban kepada Indonesia. Dalam hal ini, Indonesia tidak sebagai pihak/peserta
pada perjanjian internasional tersebut atau dengan kata lain, posisi Indonesia
sebagai pihak-ketiga.

e. Suatu perjanjian internasional lama yang diganti dengan perjanjian internasional


baru dari Indonesia menjadi pihak/peserta pada perjanjian internasional lama. Jika
Indonesia kemudian menjadi pihak peserta pada perjanjian internasional yang baru.
Hal ini dapat (tidak selalu) menimbulkan masalah internasional, yakni, antara
Indonesia dengan negara-negara peserta yang masih tetap menjadi pihak/peserta
pada perjanjian yang lama pada satu pihak dan antara Indonesia dengan negara--

61
negara yang menjadi peserta pada perjanjian internasional yang baru pada lain
pihak. Hal ini pula menimbulkan masalah domestik, yakni, keberlakuan antara
undang-undang/keppres yang memberlakukan perjanjian yang lama dengan
undang-undang/keppres yang memberlakukan perjanjian internasional yang baru
yang kedua-duanya mengenai masalah pokok yang sama. Apakah cukup dengan
berpedoman pada asas hukum lex posteriari derogat legi priori?
f. Perjanjian-perjanjian internasional yang beberapa ketentuannya dijabarkan secara
Dimensi Nasional dan Internaional

lebih rinci dalam suatu perjanjian (seperti beberapa ketentuan suatu Konvensi
dijabarkan dalam suatu Protokol). Jika Indonesia memutuskan untuk menyatakan
persetujuan terikat pada Konvensinya apakah sekaligus akan menyatakan
persetujuan terikat pada Protokolnya? Atau jika sebelumnya Indonesia sudah terikat
pada Konvensinya, kemudian beberapa ketentuannya dijabarkan dalam suatu
Protokol, apakah Indonsia akan menyatakatan persetujuan terikat pada Protokolnya?
PI

g. Indonesia menjadi anggota dari suatu organisasi internasional dengan cara


menyatakan persetujuan terikat pada (meratitikasi) suatu perjanjian internasional
yang merupakan piagam/statuta dari organisasi internasional vang bersangkutan.

h. Indonesia menyatakan persetujuan terikat (meratifrkasi) suatu perjanjian


internasional yang substansinya secara langsung menyangkut hajat hidup dan
menimbulkan pengaruh yang sangat fundamental terhadap kehidupan seluruh rakyat
Indonesia. Misalnya, suatu perjanjian internasional mengenai pemberlakuan satu
mata uang tunggal ASEAN, suatu perjanjian internasional tentang penggabungan
negara Indonesia dengan negara-negara lain dengan nama yang baru sama sekali.
Perjanjian semacam ini tidah cukup diserahkan kepada Presiden dan DPR untuk
memutuskannya, tetapi harus melalui referendum dari seluruh rakyat Indonesia.

 Komentar Damos Dumoli Agusman

Beberapa masalah dimensi eksternal PI yang disinggung oleh Bapak Parthiana pada
umumnya tidak merupakan issue (butir a, c, d, e, f, g) dalam aras praktis karena telah
diatur secara konkrit dalam Perjanjian itu sendiri dan tunduk pada aturan Konvensi Wina
1969/1986 serta hukum kebiasaan internasional. Tentang lembaga atau organ
pemerintah/negara yang berwenang menyatakan persetujuan dalam praktek diplomatik
dilakukan oleh unit negara yang melakukan fungsi hubungan luar negeri yang oleh
hukum internasional dikenal dengan head of states, head of goverments and Menlu.
Penyampaikan pernyataan persetujuan juga lazimnya dilakukan melalui suatu diplomatic
channel. Praktek ini sudah berlaku umum dan tidak menimbulkan permasalahan. Untuk
Indonesia, pernyataan persetujuan terhadap PI dikeluarkan oleh Menlu melalui
instrument of ratification/accession dengan format yang sudah baku.

III. Mengenai Undang-undang No.24 tahun 2000

 Makalah I Wayan Parthiana


Undang-undang No. 24 tahun

1. Undang-undang Nomor 24 Tahun 2000 ini sudah lebih lengkap dan rinci jika
dibandingkan dengan Surat Presiden Nomor 2826/HK/1960.

2. Undang-undang ini menggabungkan antara perjanjian antara negara dengan negara


(Konvensi Wina 1969) dan perjanjian antara negara dengan organisasi internasional
2000

serta perjanjian antara organisasi internasional dengan organisasi internasional


(Konvensi Wina 1986).

62
3. Memang keduanya cukup diatur dalam satu undang-undang saja (tidak perlu dua
undang-undang) tetapi perlu disusun secara lebih sistematis, misalnya, ada Bagian
yang mengatur perjanjian antara negara dengan negara, ada Bagian yang mengatur
perjanjian antara negara dengan organisasi internasional dan organisasi
internasional dengan organisasi internasional.

4. Tentang istilah "pengecualian": dalam undang-undang ini belum atau tidak jelas
perbedaan antara “pengesahan” dalam pengertian persetujuan untuk terikat pada
perjanjian (consent to be bound by a treaty) pada satu pihak, dengan "pengesahan"
dalam pengertian pemberlakuan suatu perjanjian ke dalam wilayah dan menjadi
bagiaan dari hukum nasional Indonesia pada lain pihak.

5. Sebaiknya dibedakan secara tegas antara "persetujuan untuk terikat pada suatu
perjanjian internasional" (consent to be bound by a treaty) yang merupakan
tindakan ke luar pada satu pihak dengan pemberlakuan (pengesahan dan
pengundangan) suatu perjanjian internasional ke dalam wilayah dan menjadi bagian
dari hukum nasional Indonesia yang merupakan tindakan ke dalam pada lain pihak.

6. Tentang kriteria dari perjanjian internasional yang diberlakukan (disahkan dan


diundangkan) dengan undang-undang (pasal 10) dan perjanjian internasional yang
diberlakukan dengan keputusan presiden (keppres) (pasal 11 ayat 1 dan 2)
walaupun sudah rinci, tetap beberapa butir diantaranya masih belum jelas sehingga
dapat menimbulkan multi-interpretasi.

7. Tentang perjanjian internasional yang diberlakukan secara langsung (tidak dengan


undang-undang dan juga tidak dengan keppres) seperti ditegaskan dalam Pasal 15
ayat 1, memberi ruang yang cukup luas kepada pemerintah (Presiden) untuk
membuat perjanjian internasional di luar dari perjanjian-perjanjian internasional
yang diberlakukan dengan undang-undang dan dengan keppres tersebut. Karena

Undang-undang No. 24 tahun


perjanjian ini pemberlakuannya secara langsung, atau tidak dengan undang-undang
ataupun keppres, maka perlu dikaji lebih dalam mengenai dampaknya terhadap
kehidupan ekonomi, sosial-budaya dan politik Indonesia. DPR seyogyianya
melakukan hak kontrolnya dengan lebih efektif terhadap perjanjian-perjanjian dalam
kategori ini.

2000
8. Kesalahan dalam pemberlakuan suatu perjanjian internasional dengan undang-
undang atau dengan keppres, misalnya, suatu perjanjian internasional yang
seharusnya diberlakukan dengan undang-undang tetapi diberlakukan dengan
keppres ataupun sebaliknya, dapat menimbulkan dampak yang besar baik pada
tataran domestik (nasional) maupun eksternal (internasional).

9. Jika Presiden bermaksud menyatakan persetujuan terikat pada suatu perjanjian


internasional dan selanjutnya akan memberlakukannya ke dalam wilayah dan
perjanjian itu selanjutnya akan menjadi bagian dari hukum nasional disebabkan oleh
keadaan yang memaksa, jadi tidak sempat meminta persetujuan sebelumnnya
kepada DPR, Presiden setelah menyatakan persetujuan terikat (setelah meratifikasi)
selanjutnya dapat memberlakukannya ke dalam wilayah negara dan menjadikannya
sebagai bagian dari hukum nasional indonesia, dengan suatu Peraturan Pemerintah
Pengganti Undang-undang (Perpu), jadi bukan dengan keppres. Selanjutnya harus
diikuti prosedur dan mekanisme pemberlakuan/pencabutan Perpu menjadi undang--
undang. Sudah tentu hal ini dapat menimbulkan dampak domestik maupun
internasional.

 Komentar Damos Dumoli Agusman

Bapak Parthiana menyarankan agar bagian tentang pembuatan perjanjian dengan negara
dipisahkan dengan bagian tentang pembuatan perjanjian dengan organisasi internasional.

63
Dari segi praktis pembagian ini tidak terlalu dibutuhkan karena mekanisme dan prosedur
yang dilakukan oleh Indonesia dalam membuat perjanjian dengan kedua entitas itu tetap
saja sama. Selain itu, justru para akademisi mempermasalahkan kenapa harus ada
Konvensi Wina 1969 yang terpisah dengan Konvensi 1986 mengingat materinya sama
saja. Seperti dimaklumi bahwa pemisahan kedua Konvensi tersebut adalah karena
pertimbangan politis dan bukan juridis karena pada tahun 1969 negara belum rela
dipersamakan kedudukannya dengan organsiasi internasional.

Saya sependapat dengan Bapak Parthiana bahwa UU No. 24/2000 tidak membedakan
aspek eksternal dari pengesahan dengan aspek internalnya, atau lebih tepatnya adalah
UU ini tidak terlalu menyentuh aspek internal dari pengesahan. Hal ini disebabkan karena
hukum nasional kita pada waktu itu dan bahkan sampai saat ini belum menyediakan
jawaban tentang apa status PI dalam hukum nasional, sehingga pada waktu pembahasan
UU ini, implikasi pengesahan PI terhadap hukum nasional dibiarkan terbuka dan
diinterpretasikan oleh hukum nasional sendiri. Namun pemahaman dan maksud perumus
UU ini pada waktu itu adalah jelas bahwa jika PI sudah disahkan dengan perundang-
undangan maka diasumsikan sudah menjadi bagian dari hukum nasional. Hal ini
tercermin dari penjelasan Pasal 13 UU No. 24/2000: ”Penempatan peraturan perundang-
undangan pengesahan suatu perjanjian internasional di dalam lembaran negara
dimaksudkan agar setiap orang dapat mengetahui perjanjian yang dibuat pemerintah dan
mengikat seluruh warga negara Indonesia”. Sesuai dengan maksud perumus perundang-
undangan maka UU/Perpres yang mengesahkan suatu PI adalah produk hukum yang oleh
kelompok monisme mungkin dianggap ”UU/Perpres yang menginkorporasi” PI tsb
kedalam hukum nasional, sedangkan oleh kelompok dualisme dapat diartikan sebagai
UU/Perpres yang men-transformasikan. Namun kelompok dualisme lainnya, yang tidak
mengakui UU/Perpres pengesahan ini sebagai ”yang mentransformasikan” tetap
menuntut adanya legislasi (UU/Perpres material/substantif) lain untuk
mentransformasikan PI tsb.
Undang-undang No. 24 tahun

Saran Bapak Parthiana untuk membedakan kedua aspek pengesahan ini dalam UU tidak
mungkin terealisasi sebelum ditegaskan hubungan kedua hukum ini. Misalnya, dapatkah
HTN atau Bapak Parthiana menyetujui adanya legal provisions yang menegaskan bahwa
”setiap perjanjian yang disahkan telah berlaku dan menjadi bagian dari hukum nasional”,
2000

atau bersediakah kelompok monisme di Indonesia (termasuk Deplu) menerima jika


rumusan menjadi ”setiap perjanjian yang disahkan hanya dapat berlaku dalam hukum
nasional setelah diundangkan dalam perundang-undangan nasional. Jadi
permasalahannya bukan pada ketidakinginan memisahkan kedua aspek ini melainkan
lebih kepada ketiadaan jawaban dalam HTN Indonesia tentang pendekatan mana yang
harus ditempuh.

Permasalahan tentang kemungkinan ada kesalahan dalam pengesahan (yang seharusnya


dengan UU tapi dengan Perpres) memang sangat menarik. Jika terdapat perbedaan
penafsiran antara DPR dan Pemerintah tentang masalah ini maka tentu harus ditetapkan
dulu melalui mekanisme sengketa antar lembaga negara. Persoalan eksternal akan
muncul jika memang Perpres itu dinayatakan batal demi hukum yang memaksa
Pemerintah untuk menarik diri dari keterikatannya pada PI yang sudah disahkan.

Sangat menarik perhatian saya adalah pada butir 9, dimana Bapak Parthiana
berpendapat:

Jika Presiden bermaksud menyatakan persetujuan terikat pada suatu perjanjian


internasional dan selanjutnya akan memberlakukannya ke dalam wilayah dan perjanjian
itu selanjutnya akan menjadi bagian dari hukum nasional disebabkan oleh keadaan yang
memaksa, jadi tidak sempat meminta persetujuan sebelumnya kepada DPR (tidak
sempat disahkan melalui UU?), Presiden setelah menyatakan persetujuan terikat
(setelah diratifikasi dengan perpres?) selanjutnya dapat memberlakukannya ke dalam
wilayah negara dan menjadikannya sebagai bagian dari hukum nasional Indonesia,

64
dengan suatu Perpu, jadi bukan dengan Keppres. Selanjutnya harus diikuti prosedur dan
mekanisme pemberlakuan/pencabutan Perpu menjadi UU. Sudah tentu hal ini dapat
menimbulkan dampak domestik maupun internasonal.

65
Terhadap pandangan ini maka saya dapat menyimpulkan bahwa:

1. Pengesahan suatu PI tidak identik dengan pemberlakuannya ke dalam hukum


nasional.

2. Perlu ada legislasi nasional untuk memberlakukan PI dimaksud

3. Legislasi nasional yang memberlakukan itu harus setingkat dengan instrumen hukum
yang meratifikasi (jika diratifikasi dengan UU maka legislasinya harus UU, jika dengan
Perpres maka legislasinya bisa Perpres)

Dari kesimpulan tersebut maka Bapak Parthiana telah mengambil salah satu pendekatan
yang memang tidak asing dalam teori hubungan hukum, yaitu “perlunya legislasi nasional
untuk memberlakukan suatu PI atau dengan kata lain transformation. Pendekatan ini
sangat berdekatan dengan penganut “dualisme”.

Saya menyadari bahwa Bapak Parthiana tidak terlalu menyukai istilah dualisme ini.
Namun apa pun namanya, bagi kami di Deplu pandangan Bapak telah cukup memberi
wacana dan kontribusi dalam rangka membantu menjelaskan tentang eksitensi aliran ini.
Pertanyaan saya yang mendasar adalah apakah pandangan yang dipilih oleh Bapak
Parthiana tersebut diatas dapat diterapkan dengan serta merta dalam praktek? Jawabnya
tentu tidak, karena pandangan ini akan bertabrakan dengan aliran lain yang juga
memiliki keabsahannya yaitu monisme. Pandangan Bapak Parthiana memiliki dasar ilmiah

Undang-undang No. 24 tahun


yang kuat dalam teori namun sayangnya tidak memiliki dasar hukum yang jelas dalam
hukum positif Indonesia, demikian sebaliknya. Dengan demikian sebelum ada dasar
hukum yang kuat terhadap pandangan ini, praktek akan tetap kebingungan. Tapi
bagaimana pun juga, Bapak telah memperkenalkan dan mengembangkan suatu
pandangan yang bermanfaat sebagai suatu doktrin

2000
 Komentar I Wayan Parthiana

Tentang pembedaan antara perjanjian internasional antara negara dengan negara di satu
pihak dengan organisasi internasional dengan negara atau antara sesama organisasi
internasional pada lain pihak, didasarkan atas pertimbangan sebagai berikut:

a. Keduanya memiliki karakter yang berbeda meskipun ada pula kesamaannya;

b. Hukum Perjanjian Internasional sendiri menempatkannya dalam dua konvensi yang


berbeda (Konvensi Jenewa 1969 dan 1986);

c. Kesamaannya itu tampaknya pada proses perumusan hingga pemberlakuannya


(mekanisme dan prosedurnya), yang memang mendominasi hukum perjanjian
internasional itu sendiri.

d. Yang saya maksudkan adalah di dalam (satu) UU tentang Perjanjian Internasional ada
Bagian tentang Perjanjian Internasional Antar Negara dan Bagian Perjanjian
Internasional antar organisasi internasional dengan negara atau antara sesama
organisasi internasional, jadi bukan dalam undang-undang yang berbeda.

Oleh karena (mekanisme dan prosedurnya) sebagian besar sama, maka di dalam Bagian
tentang PI antara OI dan negara atau antara sesama OI dan negara atau antara sesama
OI, cukup satu pasal yang berbunyi:

“Pasal... sampai dengan... dari Bagian...secara mutatis mutandis berlaku bagi


perjanjian internasional antara organisasi internasional dengan negara atau antara
sesama OI.”

66
Tentang pertanyaan Pak Damos tentang legal provisions yang berupa penegasan status
perjanjian internasional di dalam hukum nasional Indonesia: “setiap perjanjian
internasional yang telah disahkan berlaku dan menjadi bagian dari hukum nasional” atau
“setiap perjanjian yang telah disahkan hanya dapat berlaku dalam hukum nasional
setelah diundangkan dalam peraturan perundang-undangan nasional”, saya berpendapat
ketentuan semacam ini tidak perlu.

Alasan saya adalah sebagai berikut:

a. Rumusan ini amat menyederhanakan masalah yang sebenarnya justru sangat


kompleks, mengingat perjanjian internasional itu amat luas dan demikian banyak
jumlah maupun jenisnya (bentuk maupun isinya);

b. Suatu perjanjian internasional yang telah diberlakukan (disahkan dan diundangkan)


ke dalam hukum nasional (Indonesia), sudah dengan sendirinya menjadi bagian dari
hukum nasional (Indonesia);

c. Selanjutnya bagaimana status hukum dan pengimplementasiannya di dalam hukum


nasional (Indonesia), hal ini merupakan masalah lain lagi dan membutuhkan
pengkajian secara lebih mendalam. Karena itu perlu diseminarkan secara
khusus/tersendiri seperti yang saya sarankan di atas.

d. Jika rumusan ini diterima, ada kemungkinan kita akan terjebak dalam masalah
Undang-undang No. 24 tahun

praktis, sebab rumusan atau ketentuan tersebut jika diimplementasikan ternyata


tidak sesuai dengan realitas praktis di lapangan, mengingat perjanjian internasional
itu demikian luasnya seperti saya tegaskan pada butir a di atas ini.

Terakhir, tentang pandangan saya yang tidak memiliki dasar hukum yang jelas dalam
2004

hukum positif Indonesia, boleh jadi benar adanya. Akan tetapi, jika pandangan saya ini
bisa diterima/disetujui, justru bisa dijadikan sebagai hukum positif. Bahkan hukum positif
yang selama ini sudah ada dan dijadikan sebagai dasar hukum oleh para praktisi, bisa
digantikan oleh hukum positif yang baru yang merupakan pentransformasian dari
pandangan saya tersebut.

***

67