Anda di halaman 1dari 12

LAMPIRAN 7

PENERAPAN PERJANJIAN INTERNASIONAL DALAM SUASANA


HUKUM NASIONAL OLEH SYAHMIN AK*

* Dari buku Syahmin AK, Hukum Kontrak Internasional, PT RajaGrafindo


Persada, 2006: hal.186 s/d 205

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa dampak ke dalam (internal effect) suatu
perjanjian internasional sangat erat hubungannya dengan sistem hukum nasional suatu
negara peserta. Perjanjian internasional tertentu tidak menghendaki adanya ketentuan
pelaksanaan, sebaliknya ada perjanjian yang menghendaki ketentuan pelaksanaan dalam
hukum nasionalnya. Dalam hukum internasional dikenal dua teori yang menjelaskan
perlu-tidaknya ketentuan pelaksanaan nasional dalam rangka penerapan perjanjian
internasional. Kedua teori dimaksud adalah teori adoption dan incorporation.

Menurut teori adoption, perjanjian internasional mempunyai dampak hukum (legal effect)
dalam suasana nasional. Perjanjian internasioal tetap mempertahankan sifat
internasionalnya (keasliannya), namun diterapkan dalam suasana hukum nasional.
Sebagai dasar teori ini adalah aliran monisme, yangmengajarkan bahwa hukum nasional
dan hukum iternasional merupakan satu kesatuan dari satu siatem hukum pada
umumnya. Sementara itu, menurut teori incorporation, perjanjian internsional itu
terlebih dahulu harus diinkorporasikan ke dalam hukum nasional, baru dapat diterapkan
dan menjadi hukum nasional. Teori ini mendasarkan ajrannya pada aliran dualisme, yaitu
hukum internasional dan hukum nasional merupakan dua sistem hukum yang berbeda.
Menurut pandangan kaum dualisme, ikutnya suatu negara dalam perjanjian internasional
melalui ratifikasi secara simultan menjadikan perjanjian internasional diinkorporasikan ke
dalam sistem hukum nasional. Sebaliknya menurut aliran dualisme yang strict dualist
system, perjanjian internasional harus ditransformasikan ke dalam hukum nasional
dengan ketentuan yang telah ada. Selama tranformasi ini belum ada dampak ke dalam
(internal effect) perjanjian internasional tersbut tidak ada, kecuali bila ada keputusan
hakim nasional atau mengadakan penafsiran hukum nasional, mulai dari asumsi bahwa
pembuat undang-undang tidak bermaksud bertindak atau mempertahankan ketentuan
yang bertentangan dengan kewajiban yang timbul dari perjanjian internasional.

73
Perlu atau tidaknya suatu perjanjian internasional dibuatkan aturan pelaksanaannya jika
diterapkan dalam suasan hukum nasional bergantung pada isi perjanjian itu sendiri, yaitu
apakan isi perjanjian tersebut mempunyai sifat sebagai perjanjian yang self-excuting?
Sebaliknya jika suatu perjnajian tidak berlaku secara otomatis dalam suasana nasional,
perjanjian internasioal itu berarti memiliki sifat non-self executing.

Jika perjanjian secara otomatis beralku sebagi hukum internasional, maka dapat muncul
permasalahannya, yaitu bagaimana status hukum perjanjian tersebut jika berhadapan
dengan hukum nasional yang tidak sesuai dengan isi perjanjian tersebut? Dalam hal ini,
jika kita kembali pada teori transformasi yang mengajarkan bahwa suatu perjanjian yang
telah diajdikan hukum nasional dengan jalan transformasi akan mempunyai status yang
sama sebagai hukum nasional lainnya, asas lex posterior derogat lege priori akan
diterapkan. Sebaliknya jika kita kembali kepada teori adoption yang mengajarkan di
mana perjanjian diterapkan sebagai hukum internasiona, statusnya tidak otomatis sama
dengan hukum nasional, melainkan membutuhkan penetuan sikan dari hukum nasional,
ataupun hukum interasional atau praktik. Dalam hal ini, baik teori monisme maupun
teori teori dualisme berpendapat bahwa suatu perjanjian dapat efektif berlaku pada
akhirnya bergantung pada praktik nasional masing-masing negara. Hal yang jelas perlu
diingat bahwa suatu negara bertanggung jawab atas penerapan perjanjian dalam suasana
nasional. Jika penerapannya melanggar hukum internasional, suatu negara tidak dapat
mempergunakan ketentuan hukum nasionalnya sebagai dalil pembelaan dan pembenaran
atas pelanggaran tersebut.1

Selanjutnya, bagaiman sikap Indonesia terhadap perjanjian internasional dalam praktik


ketatanegaraan? Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita harus meninjau kembali
hukum konstitusi, yaitu UUD 1945. UUD 1945 ternyata tidak memberikan jawaban yang
jelas mengenai hal tersebut.2

Hal itu disebabkan oleh sering kali kaidah-kaidah hukum internasional itu memang tidak
jelas atau sudah berubah sebagai refleksi dari masyarakat internasional yang sedang
mengalami masa transisi dan mengalami perubahan yang begitu cepat. Dalam
pemberlakuan perjanjian internasional, terutama perjanjian yan diwariskan oleh
pemerintah kolonial Netherland dan dinyatakan berlaku untuk Hindia Belanda. Kadang-
kadang ditempuh cara tidakan sepihak (unilateral act) akrena tidak ada alternatif lain
bagi negara yang menghendaki perubahan cepat atas norma yang dirasakan tidak adil.

1
Periksa Pasal 27 Konvensi Wina 1969 tentang Hukum Perjanjian.
2
Mochtar Kusumaatmdja, Op.Cit., hlm.87.
74
Akrena tidak adanya petunjuk pada UUD 1945, mengenai sikap Indonesia terhadap
perjanjian ini, Prof. Mochtar Kusumaatmadja menegasakan sebagai berikut.3

“...kita tidak menganut teori transformasi apalagi sistem Amerika Serikat. Kita
condong pada sistem negara Kontinental Eropa..., yakni langsung menganggap diri
kita terikat pada keawajiban melaksanakan dan menaati ketentuan-ketentuan
perjanjian dan konvensi yang telah disahkan tanpa perlu mengadakan lg undang-
undang pelaksana...”

Meskipun demikian, beliau juga mengingatkan sebagai berikut.

“...bahwa sebaikanya kita mengundangkan apa yang telah menjdaikan kita sebagai
pihak peserta suatu perjanjian yang telah mengikat kita, apalagi kelalaian untuk
melakukan hal itu bisa menimbulkan kesulitan dalam pelaksanaan hukum yang
berlaku. Sebaliknya, dalam beberapa hal pengundangan demikian tidak perlu,
masalahnya tidak menyangkut banyak orang atau persoalannya sangat teknis dan
ruang lingkupnya sangat terbatas. Akan tetapi, pengundangan dalam Undang-
Undang Nasional mutlak dipelukan, yakni antara lain apabila diperlukan perubahan
dalam Undang-Undang Nasional yang las\ngsung menyangkut hak warga negara
sebagai perorangan.”

Dari pendapat Prof. Mochtar Kusumaatmadja di atas, jelas kiranya bahwa dalam
memberlakukan kaidah hukum internasional khususnya yang berasal dari suatu
perjanjian internasional, UUD 1945 tidak memuat petunjuk dan untuk mengetahuinya,
kita harus melihatnya pada praktik negara kita sendiri bagaimana.

D. Indonesia dan Konvensi tentang Pengkuan dan Pelaksanaan keputusan


Arbitrase Asing

1. Konvensi Jenewa 1927

Seperti telah penulis utarakan pada bab-bab terdahulu, dengan dikeluarkannya Keppres
No.34 Tahun 1981, tanggal 5 Agustus 1981 Presiden Republik Indonesia telah
menerbitkan Keppres No. 34 Tahun 1981 untuk mengesahkan “Convention on the
Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Awards” yang telah ditandatangani di
New York pada tanggal 10 Juni 1958. Konvensi ini telah mulai terlebih dahulu pada
tanggal 7 Juni 1959. Republik Indonesia baru menyatakan turut serta pada konvensi ini

3
Ibid., hlm.87.
75
dengan cara accescion, dan mulai tanggal 5 Agustus 1981. 4 sebelum Konvensi New York
1958 ini dinyatakan berlaku, di Indonesia sebagai ahli waris dari Hindia Belanda berlaku
Konvensi Jenewa 1927 tenang pelaksanaan Keputusan –keputusan Arbitrase luar negeri.5
Akan tetapi, sering timbul perbedaan paham mengenai masih berlaku atau tidaknya
konvensi tersebut setal RI menjadi negara yang berdaulat. Dengan kata lain, masih
berlaku atau tidaknya perjanjian internsional sehubungan dengan telah terjadinya suksesi
negara/ pergantian negara (succession of state) dari Hindia Belanda sebagai negara yang
digantikan (predecessor state) kepada negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai
negara pengganti (sucessor state).6

Sehubungan dengan hal tersebut, suksesi negara ini dapat dibedakan antara pengertian
yuridis dan pergantian menurut kenyataan.

Pergantian negara karena kenyataan dapat terjadi karena perubahan yang disebabkan
oleh penggabungan satu dan/atau lebih negara menjadi federasi, konfederasi, atau
negara kesatuan, dapat juga karena sesi, aneksasi, dekolonisasi.7

Hal yang menyangkut maslah kita sekarang adalah pergantian negara karena perubahan
karena dekolonisasi. Bagaimanakah nasib perjanjian internasional karena dekolonisasi?
Dalam hukum internsional dibedakan antara personal treaties dan inpersonal treaties,
serta dispositive. Personal treaties ialah perjanjian yang dibuat oleh kepala negara/kepala
pemerintahan secara pribadi sebagai kepala pemerintahan. Perjanjian demikian tidak
akan beralih kepada penggantinya. Bentuk perjanjian tidak akan beralih kepada
penggantinya. Bentuk perjanjian demikian yang personal dapat berbentuk perjanjian
yang bersifat polotis, baik bilateral maupun multilateral. Contoh perjanjian yang bersifat
politis adalah perjanjian persahabatan, persekutuan (aliansi) pemberian bantuan, dan lain
sebagainya. Dapat pula berupa kerja sama dalam bidang peradilan, misalnya perjanjian
ekstradisi dan konvesi tentang pengakuan dan pelaksanaan keputusan hakim arbitrase
luar negeri.

Sementara itu, yang dimaksud dengan perjanjian yang termasuk dalam kategori
dispositive adalah perjanjian yang menyangkut wilayah negara atau tanah. Perjanjian ini

4
Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 40. Lihat Lampiran II buku ini
5
Staatsblad Tahun 1933 No.131.
6
Salah seorang pakar hokum internsional yang banyak mencurahkan perhatian dan banyak melakukan
penelitian tentang succession of state ini adalah D.P.O. Connel. Karya tulidsnnys yang amat terkenal itu di
antaranya ialah: The Law of State Succession, dan State Sucession in Municipal Law and Internasional, dan
State Succession and Problems of Treaty Interpretation, Mac Millan & Co., Ltd, London.
7
Syahmin AK., Hukum Perjanjian Internasional: Menurut Konvensi Wina 1969, (Bandung CV Armico, 1988),
hlm.196; Lihat pula Budi Lazarusli dan Syahmin AK., Suksesi Negara dalam Hubungannya dengan
Perjanjian Internsional (Bandung: CV. Remadja Karya, 1986), hlm.6 dan seterusnya.
76
membebani suatu wilayah dengan status hukum, misalnya pernjanjian pangkalan militer,
perjanjian perbatasan, dan lain sebgainya. Perjanjian ini mengikatkan negara dan tetap
mengikat negara tersbut, meskipun negara tersebut, meskipun telah terjadi suksesi
negara.

Ternyata dengan timbulnya negara-negara baru setelah Perang Dunia II dalam


penyelesaian maslah pernjanjian internsional yang dibuat oleh negara penjajahnya timbul
praktik yang berbeda-beda. Mereka tidak seluruhnya menaati teori di atas. Dalam
hukum internasional, ada dua doktrin yang populer yang dapat dipakai untuk
menganalisis sikap negara-negara baru dalam hal perjanjian internsional sehubungan
suksesi negara. Doktrin tersebut ialah acquired rigths doctrine atau vested rights
doctrine dan clean state doctrine.

Menurut acquired rights doctrine, hak yang telah diperoleh oleh negara yang diganti
beralih kepada negara yang menggantikannya. Teori ini juga disebut dengan teori
universal. Sementara itu, doktrin yang kedua berpendapat bahwa negara baru tidak
dibebani dengan kewajiban yang timbul dari perjanjian internsional yang mengikat negara
tersbut sebelum terjadinya suksesi negara. Doktrin ini juga disebut free choice doktrine.
Ternyata dalam praktiknya, doktrin tersebut tidak dapat diikuti dengan strict dan
penyelesaian masalah perjanjian internasional dalam kaitannya dengan suksesi negara
berbeda-beda, bergantung pada sikap negara-negara baru yang bersangkutan.

Cara lain untuk menyelesaikan masalah perjanjian internsional sehubungan dengan


suksesi negara ialah dengan cara membuat inheritance agreement atau disebut
perjanjian peralihan. Perjanjian peralihan ini merupakan cara agara beralihnya hak dan
kewajiban yang timbul dari suatu perjanjian internasional dalam rangka suksesi negara
dapat berjalan dengan lancar. Sebagai contoh untuk perjanjian peralihan ini adalah
perjanjian yang dibuat antara negara bekas jajahan Prancis dengan Prancis. Indonesia
sendiri mengadakan perjanjian dengan Kerajaan Belanda, mulai dari perjanjian
Linggarjati tentang penyerahan kedaulatan (1947), dan ditindaklanjuti dengan perjanjian
Konferensi Meja Bundar (KMB) tentang masalah Irian Barat (1949), kemudian disertai
dengan perjanjian peralihan yang menampung kedudukan perjanjian internasional yang
dibuat oleh pemerintah Kerajaan Belanda yang dinyatakan berlaku bagi Hindia belanda.
Pasal 5 ayat (1 dan 2) Perjanjian Peralihan KMB menyatakan bahwa perjanjian yang
dibuat oleh Belanda tidak otomatis berlaku bagi bekas jajahannya di Netherlands Indie.
Namun, setelah pemutusan perjanjian KMB, sikap Indonesia tetap bahwa perjanjian

77
internasional yang dibuat oleh pemerintah Hindia Belanda dan dinyatakan berlaku bagi
wilayah Hindia Belanda tidak otomatis berlaku bagi Indonesia.8

Masalah perjanjian internasional dalam kaitannya dengan terjadinya suksesi negara dapat
diatasi dengan adanya Konvensi Wina 1978 tentang Suksesi Negara dalam hubungannya
dengan penghormatan pada perjanjian internasional (Vienna Convention on Sucession of
State in Respect of Treaties) yang diterima PBB pada 23 Agustus 1978.

Pasal 11 Konvensi Wina Tahun 1978 menetapkan bahwa suksesi negara tidak dapat
memengaruhi apa pun terhadap garis batas wilayah dan hak yang berhubungan dengan
rezim perbatasan yang ditetapjan oleh perjanjian internasional.9 Sementara itu, Pasal 12
ayat (1,a-b) menetapkan pembentukan basis/pangkalan militer asing di wilayah negara
itu karena terjadinya suksesi negara tidak mengikat negara pengganti. 10 Jadi, Pasal 12
(3) merupakan pengecualian atas prinsip yang ditetapkan dalam Pasal 12 (1,2). Pasal 11
dan Pasal 12 (1,2) sesuai dengan teori dispositive treaties tetap belaku, meskipun telah
terjadi suksesi negara. Isi ketentuan ini sesuai dengan ketentuan pasal 62 (2,a) Konvensi
Wina 1969 tentang Hukum Perjanjian yang menegaskan bahwa perubahan mendasar
tidak dapat dipakai sebagai dasar untuk mengakhiri suatu perjanjian perbatasan.11

Kembali lepada persoalan, bagaimanakah sikap Indonesia terhadap perjanjian


internacional yang dibuat oleh pemerintah Kerajaan Belanda dan dinyatakan berlaku bagi
Hindia Belanda dalam hubungannya dengan telah terjadinya suksesi negara pada tahun
1945? Setelah berlakunya KMB sebagai perjanjian peralihan (devolution agreement),
ternyata hubungan antara Indonesia dan Negeri Belanda tidak harmonis karena masalah
Irian Barat, di mana pada saat itu Irian Barat masih tetap dikuasai oleh Kerajaan
Belanda.

Perselisihan antara Indonesia dan Belanda mengenai masalah Irian Barat itu, kemudian
dipergunakan oleh Indonesia untuk membatalkan secara sepihak hubungan dengan pihak
Kerajaan Belanda. Republik Indonesia dengan menggunakan prinsip rebus sic stantibus

8
Lihat, Keppres No.33 Tahun 1950, Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1950.
9
Konvensi Wina Tahun 1978, Article 11 – “Boundary Regime” merumuskan: A succession of States does not
as such affect;
(1) a boundary established by treaty; or
(2) obligations and rights established by a treaty and relating to the regime of a boundary.
10
Article 12 par.(3) merumuskan sebagai berikut.
The provision of the present article do not apply to treaty obligations of the predecessor State providing for
the establishment of foreign military bases on the territory to which the sucession of States relates.
11
Article 62 tentang Fundamental change of circumstances: par. (2.a) merumuskan: fundamental change of
circumstances may not be invoked as a ground for terminating or withdrawing from a treaty:
(a) if the treaty establishes boundary.
78
dan berlandaskan pada Undang-undang Nomor 13 tahun 195612, menyatakan tidak
terikat lagi pada Perjanjian KMB, dan secara tegas telah memutuskan ikatannya dengan
perjanjian Konferensi Meja Bundar tersebut. Setelah pemutusan terhadap perjanjian
KMB, sikap Indonesia terhadap perjanjian internasional dalam kaitannya dengan suksesi
negara berlandaskan pada UU No. 13 tahun 1956. Hal ini dapat kita ketahui dari
pernyataan Indonesia kepada Sekretaris Jenderal PBB (sebagai deposan untuk perjanjian
yang didaftarkan pada LBB/PBB sesuai dengan ketentuan Pasal 102 (1) Piagam PBB)
Indonesia secara tegas menyatakan sikap tetap terikat oleh beberapa konvensi, antara
lain adalah:

a. Convention for the Settlement of Certain Conflicts of Laws in Connection with


Cheques and Protocol (Geneva March 19, 1931);
b. Convention on the Stamps Laws in Connection with Cheques (Geneva, March 19,
1931);
c. Convention Providing Uniform Law for Cheques and Protocol (Geneva, March 19
1931).

Oleh karena itu, untuk selanjutnya sikap Republik Indonesia terhadap perjanjian
internasional yang dahulu dibuat oleh Kerajaan Belanda dan dinyatakan berlaku untuk
Hindia Belanda, tidak secara otomatis berlaku. Hal ini sesuai dengan Surat Departemen
Luar Negeri Republik Indonesia tanggal 19 Desember 1972 o. 12727, yang pada
pokoknya berbunyi sebagai berikut:

“…Praktik yang dianut oleh Indonesia dewasa ini ialaha bahwa Republik Indonesia
hanya menjadi pihak pada suatu perjanjian yang dahulu dibuat oleh Nederland dan
dinyatakan berlaku untuk Hindia Belanda, selama Republik Indonesia secara tegas
menyatakan demikian, sesuai dengan prosedur dalam hukum perjanjian
internasional, kecuali mengenai perbatasan.”13

Kembali pada persoalan. Bagaimana sikap Republik Indonesia terhadap Konvensi Jenewa
1927 tentang Pengakuan dan Pelaksanaan Keputusan Hakim Arbitrase Luar Negeri?
Mengenai hal ini ada perbedaan pendapat. Pendapat pertama dikemukakan oleh Prof.
Sudargo Gautama sebagai berikut.

“…kami sendiri berpendapat bahwa Konvensi Jenewa tahun 1927 ini masih berlaku
untuk negara kita. Hal ini disebabkan oleh karena dalam Konferensi Meja Bundar,
dalam pasal peralihan telah dinyatakan bahwa berkenaan dengan pengakuan
12
Lihat Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 27 tahun 1956.
13
Budi Lazurusdi dan Syahmin AK., Op. Cit., hlm. 95.
79
kedaulatan dari Kerajaan Belanda kepada Republik Indonesia dihubungkan dengan
Penetapan Presiden No. 2 tanggal 10 Oktober 1945, maka persetujuan internasional
yang berlaku untuk wilayah Republik Indonesia pada saat penyerahan kedaulatan
tetap berlaku.”14

Jika kita hubungkan dengan pendapat yang telah penulis utarakan di muka, agaknya Prof.
Sudargo Gautama ini menganut teori acquired rights/vested rights, atau juga disebut
dengan teori universal.

Pendapat kedua dianut oleh Prof. Asikin Kusumaatmadja, yaitu sebagai berikut.

“Konvensi ini sudah tidak berlaku lagi sejak Konferensi Meja Bundar. Hal ini
disebabkan oleh karena tidak ada pernyataan secara tegas dan aktif oleh pihak
Indonesia bahwa kita hendak menganggap diri terikat pada konvensi itu.”

Pendapat yang kedua ini tampaknya sesuai dengan doktrin clean state.

Agaknya terhadap pendapat yang berbeda-beda sebagaimana telah penulis paparkan di


atas masing-masing mempunyai pendukungnya. Sekali lagi penulis tegaskan bahwa
adanya perbedaan pendapat ini disebabkan tidak adanya ketentuan perundang-undangan
kita yang tegas-tegas mengatur masalah tersebut.

2. Implementasi Konvensi New York 1958 di Indonesia

Seperti telah penulis utarakan pada bagian awal pembahasan bab ini, Indonesia menjadi
peserta Konvensi New York 1958 dengan pernyataan ikut serta (aksesi) melalui
Keputusan Presiden Nomor 34 tahun 1981, tanggal 5 Agustus 1981. Aksesi ini
didaftarkan pada Sekretariat Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 7 Oktober 1981.

Indonesia hanya mengajukan persyaratan (reservation) pertama saja, yaitu reciprocity


principles (asas perberlakuan secara timbal balik).

Aksesi ini merupakan langkah penting terhadap perkembangan iklim arbitrase di


Indonesia. Hal ini penting karena dewasa ini dengan semakin meningkatnya kontrak
internasional yang diadakan oleh pengusaha Indonesia dengan pihak asing, di mana
klausul arbitrase tercakup di dalamnya, keppres tersebut merupakan bukti bahwa

14
Sudargo Gautama, Op. Cit., hlm. 68
80
pemerintah bersungguh-sungguh menghormati klausul tersebut beserta akibat hukum
yang ditimbulkannya.

Meskipun Indonesia telah mengaksesi Konvensi New York 1958, yang berarti bahwa
ketentuan-ketentuan konvensi tersebut mengikat Indonesia, ternyata dalam
pelaksanaannya kemudian masalah baru tentang pelaksanaan keputusan arbitrase yang
dibuat di luar negeri muncul. Masalah ini baru berkisar pada adanya dua pendapat yang
saling bertolak belakang antara Mahkamah Agung Republik Indonesia dengan para pakar
hukum ternama, khususnya Prof. Mr. Dr. Sudargo Gautama.

Mahkamah Agung berpendapat bahwa meskipun pemerintah Republik Indonesia telah


mengaksesi konvensi melalui Keppres No. 34 tahun 1981, namun dengan adanya
perundang-undangan tersebut tidak serta merta berarti keputusan arbitrase yang dibuat
di luar negeri dapat dilaksanakan di Indonesia. Mahkamah berpendapat perlu adanya
peraturan pelaksanaan dari keppres tersebut agar pelaksanaan (eksekusi) suatu
keputusan arbitrase asing dapat dilaksanakan. Lengkapnya Mahkamah menyatakan
sebagai berikut.

“Bahwa selanjutnya mengenai Keppres No. 34 tahun 1981 tanggal 5 Agustus 1981
dan lampirannya tentang pengesahan Convention on the Recognition and
Enforcement of Foreign Arbitral Awards sesuai dengan praktik hukum yang masih
berlaku harus ada peraturan pelaksanaannya tentang apakah permohonan eksekusi
putusan hakim arbitrase dapat diajukan langsung kepada Pengadilan Negeri, kepada
Pengadilan Negeri yang mana, ataukah permohonan eksekusi diajukan melalui
Mahkamah Agung dengan maksud untuk dipertimbangkan apakah putusan tersebut
tidak mengandung hal-hal yang bertentangan dengan ketertiban hukum
internasional bahwa berdasarkan hal-hal yang diuraikan di atas, permohonan
pelaksanaan putusan hakim arbitrase asing seharusnya dinyatakan tidak dapat
diterima.”15

Sebaliknya, Prof. Dr. Sudargo Gautama berpendapat bahwa keppres tersebut tidak perlu
dijabarkan oleh peraturan perundang-undangan pelaksanaannya. Menurut beliau, sebuah
keppres tidak memerlukan peraturan pelaksanaan, berlainan dengan undang-undang
yang menentukan. Untuk itu, diperlukan peraturan pelaksanaan. Beliau memberikan
sebuah contoh tentang pasal 43 Undang-undang Nomor 1 Tentang Pokok-pokok
Perkawinan di Indonesia Tahun 1974 yang menentukan bahwa anak di luar kawin
mengikuti status hukum sang ibu. Hubungan lebih lanjut antara Ibu dan anak dengan

15
Sudargo Gautama, Ibid., hlm. 57.
81
keluarga sang ibu akan diatur lebih lanjut dalam peraturan pemerintah. Peraturan
pemerintah ini hingga kini belum pernah diterbitkan.

Menurut hemat penulis, sebenarnya tidak perlu ada pertentangan antara pemerintah (cq.
Mahkamah Agung Republik Indonesia) dengan para pakar hukum bila yang
dipertentangkan itu hanya soal perlu tidaknya peraturan pelaksanaan. Kehendak
pemerintah ketika mengaksesi Konvensi New York 1958 sudah jelas antara lain adalah
untuk terikat kepada ketentuan-ketentuan Konvensi New York tahun 1958 dan
menghormati secara timbal balik keputusan hakim arbitrase yang dibuat di luar negeri.
Sebagai konsekuensi dari tindakan itu sudah barang tentu pemerintah seyogianya
berupaya agar keputusan hakim arbitrase asing yang dibuat di luar negeri tersebut
dihormati dan dilaksanakan.

Peran pemerintah disini sudah jelas, yakni sebagai alat pengontrol terhadap keputusan
tersebut agar benar-benar dapat dilaksanakan di dalam negeri. Jadi, peran kontrol inilah
yang diemban oleh pemerintah. Sementara itu, yang memegang kendali utama dan
sebenarnya dalam hal ini adalah tetap ada pada para pihak yang telah membuat klausul
arbitrase dan menetapkan arbitrasenya, serta kesepakatan untuk melaksanakan segala
keputusan yang dikeluarkan oleh arbitrase yang bersangkutan.

Seperti telah diutarakan pada bab terdahulu, masalah keputusan hakim arbitrase asing di
Amerika Serikat tidak begitu menjadi masalah yang terlalu signifikan lagi karena memang
para pihak (terutama para pengusaha di negeri Paman Sam itu) telah benar-benar
konsisten dan konsekuen dengan apa yang telah mereka tuangkan di dalam klausul
arbitrase. Jadi, peranan pengadilan di sana tidak begitu banyak. Memang untuk para
pengusaha di Indonesia, tampaknya komitmen dan taraf pemahaman, penghargaan
terhadap klausul arbitrase belum setara dengan para pengusaha di luar negeri (Amerika
Serikat) yang telah cukup lama berkecimpung dalam lembaga arbitrase sebagai alternatif
penyelesaian sengketa komersial mereka. Di tanah air, pengenalan terhadap lembaga
arbitrase saja masih minim sekali. Bukan saja bagi kalangan pengusaha, tetapi juga di
kalangan perguruan tinggi.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, dikeluarkannya Peraturan Mahkamah Agung


Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1990, sekaligus menjawab dua masalah penafsiran
hukum yang saling berkaitan yang telah lama berkembang. Masalah pertama, apakah
suatu keppres memerlukan peraturan perundang-undangan pelaksanaannya atau tidak,
sebagaimana halnya dengan undang-undang? Masalah kedua, badan peradilan manakah

82
yang memiliki wewenang untuk menangani masalah pelaksanaan keputusan hakim
arbitrase asing tersebut?

Masalah pertama, sehubungan dengan Pemerintah Republik Indonesia telah mengaksesi


Konvensi New York tahun 1958 dengan Keppres No. 34 Tahun 1981, tanggal 5 Agustus
1981. Namun, baik Konvensi New York 1958, maupun keppresnya sendiri tidak mengatur
tentang bagaimana prosedur pelaksanaan kepuytusan arbitrase sehingga timbul reaksi
dari para ahli hukum kita. Seperti telah diutarakan di muka bahwa keppres tidak
memerlukan peraturan pelaksanaan, tetapi pihak pemerintah menganggapnya perlu.
Mengulangi pernyataan sebelumnya, menurut hemat kami, peraturan Mahkamah Agung
Nomor 1 tahun 1990 itu sekaligus merupakan penjabaran dan petunjuk lebih lanjut dari
Keppres No. 34 tahun 1981, bukan peraturan pelaksanaan sebagaimana lazimnya yang
dikehendaki oleh peraturan perundang-undangan. Oleh karena itu, dapat disimpulkan di
sini bahwa keppres pun, bila pemerintah menganggap perlu, dapat dibuatkan aturan
pelaksanaan.

Masalah kedua, yaitu siapakah dan atau lembaga peradilan mana yang berwenang
menangani masalah putusan arbitrase asing tersebut? Terjawab dengan ketentuan dalam
Pasal 1 Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia tahun 1990 itu sendiri bahwa
badan yang diberi kewenangan untuk menangani masalah yang berhubungan dengan
pengakuan serta pelaksanaan putusan hakim arbitrase asing itu adalah Pengadilan Negeri
Jakarta Pusat.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa dua pendapat mengenai perlu tidaknya
keppres dibuatkan aturan pelaksanaannya telah mengundang perdebatan yang sengit dan
memperoleh tanggapan yang saling bertolak belakang antara satu pihak dari pemerintah
(cq. Mahkamah Agung Republik Indonesia) dan pihak pakar hukum Indonesia. Akhirnya,
telah terjawab dengan keluarnya Peraturan Mahkamah Republik Indonesia Nomor 1 tahun
1990 itu dimungkinkan. Karena tidak adanya ketentuan dalam peraturan hukum nasional
Indonesia yang mengatur, bagaimanakah penerapan perjanjian internasional sebagai
pelaksanaan dari Pasal 11 UUD 1945? Meskipun ada Surat Presiden No. 2826, dan telah
dijadikan sebagai pedoman dalam hubungannya dengan pelaksanaan Pasal 11 sesuai
dengan konvensi ketatanegaraan, pelaksanaan Surat Presiden No. 2826 dalam praktiknya
belum dilaksanakan secara konsisten dan konsekuen. Akibatnya praktik negara kita
sehubungan dengan perjanjian internasional masih banyak masalah yang harus dibenahi.

83
84