P. 1
Klasifikasi dan kajian spasial kawasan PKL

Klasifikasi dan kajian spasial kawasan PKL

|Views: 696|Likes:
Dipublikasikan oleh emma

More info:

Published by: emma on Jun 19, 2009
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/28/2013

pdf

text

original

KLASIFIKASI DAN KAJIAN SPASIAL KAWASAN PEDAGANG KALI LIMA DI KOTA BOGOR

Oleh : Bambang Wahyu Sudarmadji1 dan Sri Lestari Munajati2

ABSTRAK
Penelitian ini dilakukan di Kota Bogor dengan tujuan untuk mengkaji klasifikasi Pedagang Kaki Lima (PKL) di Kota Bogor beserta kajian spasialnya. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah purposif sampling dan penilaian terhadap berbagai aspek-aspek PKL dilakukan dengan menggunakan variabel-variabel yang bersifat kualitatif, dengan skala pengukuran nominal (ada atau tidak) dan ordinal (tinggi, sedang dan rendah). Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan faktor keramaian, omset dan tenaga kerja serta modal usaha dan durasi kegiatan, dari 39 kawasan PKL yang diteliti, dikelompokkan menjadi 3 kelompok yaitu kelompok pembinaan, penataan dan penertiban. Kawasan yang perlu dilakukan penertiban dan mendapatkan perhatian khusus adalah Kawasan Jembatan Merah dan Pasar Bogor.

ABSTRACT
This research was done in Bogor City with the objective to evaluate classification of the street vendors in Bogor, along with the spatial assessment. The sampling method used was purposive sampling and valuation to several aspects of the street vendors was done by using quantitative variables, in nominal and ordinal valuations. Result of this research showed that based on mass concentration, omset and labor, also capital and activity duration, the 39 areas of street vendors being assessed can be classified into 3 classes: management, arrangement and straightening up. The areas which needs to be straighten up and get special attention are Jembatan Merah and Pasar Bogor. Key Word : Pedagang Kaki Lima (PKL), Purposif Sampling, Kajian Spasial {SpatialAssesment)

PENDAHULUAN
Latar Belakang Kajian ini merupakan kajian lanjutan setelah dilakukan penelitian terhadap karakteristik pedagang kaki lima (PKL) di Kota Bogor (Sudarmadji, 2005). Dari studi karakteristik PKL didapatkan bahwa persebaran kawasan PKL di Kota Bogor mengikuti pola jaringan jalan, pedagangnya sebagian besar didominasi oleh penduduk yang berasal dari luar Kota Bogor dan lebih banyak mereka melakukan aktivitasnya secara permanen. Secara umum, kontribusi keberadaan PKL terhadap gangguan arus lalu lintas memiliki tingkat asosiasi yang relatif rendah, para pemilik toko tidak mengalami penurunan omset, jumlah pengunjung maupun gangguan terhadap keamanan. Modal awal PKL rata-rata sebesar Rp.1.632.000, omset harian rata-rata sebesar Rp.243.000 dan rata-rata penggunaan tenaga kerja 2 orang, serta rata-rata lama berjualan adalah 12 jam per hari. Dari segi pengguna jasa PKL, sebagian besar mereka berasal dari Kota Bogor yang dalam mencari kebutuhan komoditas tertentu dipenuhi dari PKL, serta tidak merasa terganggu oleh keberadaan PKL. Secara umum kawasan yang diperlukan PKL untuk melakukan aktivitasnya adalah kerumunan manusia, bukan kemacetan. Dari studi yang telah dilakukan sebelumnya, maka pada tulisan ini akan dilakukan kajian-kajian berikutnya seperti klasifikasi PKL dan kajian
Drs. Bambang Wahyu Sudarmadji adalah Peneliti pada Pusat Pelayanan Jasa dan Informasi, BAKOSURTANAL 2 Ir. Sri Lestari Munajati M.Agr. adalah Peneliti pada Pusat Pelayanan Jasa dan Informasi, BAKOSURTANAL
1

spasialnya. Tujuan Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah klasifikasi dan kajian spasial PKL di Kota Bogor untuk memberikan masukan kepada pemerintah daerah guna menetapkan kebijakankebijakan yang optimal terhadap keberadaan PKL di Kota Bogor.

METODOLOGI
Pendekatan yang digunakan dalam studi ini, adalah analisis kualitatif. Dalam studi sebelumnya telah dilakukan pengumpulan data melalui wawancara terbimbing, yang dilakukan dengan menggunanakan teknik purposif sampling, dimana hasilnya telah diketahui berbagai karakteristik PKL di Kota Bogor (Sudarmadji, 2005). Penilaian terhadap berbagai aspek-aspek PKL dilakukan dengan menggunakan variabelvariabel yang bersifat kualitatif, dengan skala pengukuran nominal (ada atau tidak) dan ordinal (tinggi, sedang dan rendah). Sistimatika kajian dalam studi ini disajikan pada Gambar 1, dimana studi karakteristik PKL telah dilakukan pada studi awal (Sudarmadji, 2005) dan pada tulisan ini adalah merupakan kelanjutan dari studi sebelumnya yaitu studi klasifikasi PKL dengan berbagai aspeknya sehingga dapat dilakukan berbagai rekomendasi yang meliputi pembinaan, penataan dan penertiban terhadap PKL di Kota Bogor.

PKL diklasifikasikan berdasarkan beberapa variabel kunci antara lain adalah: 1. Skor komponen kemacetan 2. Skor dampak node yang ada di sekitar kawasan 3. Rata-rata tenaga kerja yang digunakan setiap pedagang 4. Rata-rata omset harian setiap pedagang 5. Rata-rata modal usaha setiap pedagang 6. Rata-rata durasi waktu berjualan Dua variabel pertama dihitung untuk setiap kawasan PKL, sedangkan 4 variabel lainnya dihitung berdasarkan sampel. Komponen kemacetan yang dikaji dalam studi ini, mencakup 8 buah. Ke-8 komponen tersebut, adalah : 1. Ada-tidaknya tempat menunggu kendaraan umum 2. Ada-tidaknya tempat berganti rute perjalanan 3. Ada-tidaknya penggunaan badan jalan oleh PKL 4. Ada-tidaknya penyeberangan pejalan kaki 5. Ada-tidaknya penggunaan badan jalan sebagai tempat parkir 6. Ada-tidaknya terminal bayangan

7. Ada-tidaknya pedagang asongan 8. Ada-tidaknya tempat putaran kendaraan Jika di kawasan PKL terdapat semua komponen kemacetan tersebut, maka kawasan itu memiliki skor 8, dan sebaliknya jika suatu kawasan PKL tidak memiliki satupun dari komponen itu, maka kawasan tersebut memiliki skor 0 (nol). Secara matematis, skor komponen kemacetan dihitung dengan rumus pada Persamaan 1.

dimana, SKM = skor komponen kemacetan Xi = komponen kemacetan ke-i (i=l,2,....,8) Skor dampak ”node” atau pusat pertemuan (keramaian) dihitung dari ada-tidaknya pengaruh pusat keramaian yang mempunyai dampak tinggi, sedang dan rendah. Nilai skor dampak pusat keramaian, dihitung secara tertimbang. Pusat keramaian dampak tinggi diberi bobot 3, sedang 2 dan rendah diberi bobot 1. Nilai skor dampak node suatu kawasan PKL, dihitung dengan rumus pada Persamaan 2.

dimana, SDN T S R

= = = =

skor dampak node node dampak tinggi node dampak sedang node dampak rendah

Mengingat diantara variabel klasifikasi terdapat korelasi yang tinggi, maka tidak baik dilakukan analisis “cluster” secara langsung. Berdasarkan fakta ini, terhadap ke-6 variabel kunci untuk klasifikasi PKL tersebut dilakukan analisis faktor terlebih dahulu.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Klasifikasi PKL Dari hasil perhitungan skor komponen kemacetan (SKM), maka didapatkan bahwa kategori pusat dampak tinggi mencakup Stasiun Kereta Api, Terminal Baranang Siang, Kawasan Pertokoan Jembatan Merah dan Pasar Bogor. Pusat kemacetan dampak sedang mencakup Pjasa Jambu Dua, Pasar Gembrong, Terminal Merdeka, Kawasan Empang, Mega M, Bogor Indah Plasa, Kawasan Air Mancur serta Hero Pajajaran. Selanjutnya pusat kemacetan dampak rendah mencakup Pasar Kemang, Kantor Bank, Sekolah, Kantor Pemerintahan yang memberikan pelayanan publik, Hotel, Sarana Ibadah, Pasar Depris, Lapangan Olah Raga, Rumah Sakit, Pasar Gunung Batu, Pasar Kebon Jahe, TPU, Gedung Pertemuan serta Tempat Hiburan. Simpul-simpul kemacetan di Kota Bogor tersaji pada Lampiran Peta 1. Dari hasil analisis faktor menunjukkan bahwa dari ke-6 variabel awal, terbentuk 3 faktor baru (Tabel 1). Faktor pertama (faktor keramaian) dicirikan (loading > 0,5) oleh dampak node atau keramaian. Faktor kedua (faktor omset dan tenaga kerja) dicirikan oleh penggunaan tenaga kerja dan volume omset. Faktor ketiga (faktor modal usaha dan durasi) dicirikan oleh besarnya modal usaha dan durasi kegiatan. Ketiga faktor tersebut, mampu menjelaskan sebesar 69,6 % (Tabel 2). Dalam analisis selanjutnya, ketiga faktor yang

ditemukan digunakan sebagai variabel klasifikasi. Untuk dapat digunakan sebagai variabel klasifikasi, maka ketiga faktor baru tersebut harus dihitung skornya untuk setiap kawasan PKL. Nilai skor untuk setiap faktor dari setiap kawasan PKL, dihitung dengan menggunakan matriks koefisien skor faktor, seperti disajikan pada Tabel 3. Selanjutnya hasil analisis “cluster” menunjukkan bahwa berdasarkan ketiga faktor keramaian, omset dan tenaga kerja serta modal usaha dan durasi kegiatan; dari 3S kawasan PKL yang diteliti, dikelompokkan menjadi 3 kelompok yaitu kelompok pembina-an, penataan dan penertiban. Karakteristiknya setiap kelompok disajikan pada Tabel 4 dan sebarannya secara spasial disajikan pada Lampiran Peta 2. Tabel 1. Matriks Faktor Terotasi Variabel Skor dampak node Skor komponen kemacetan Rata-rata tenaga kerja Rata-rata omset harian Rata-rata lama kegiatan Rata-rata modal usaha Faktor (“Component”) 1 2 3 -0,137 0,278 0,793 0.073 -0,365 0,742 -0,244 0.023 0,876 0,490 0.032 0,685 0.012 -0,159 0,760 -0.014 0,297 0,728

Keterangan : Angka yang dicetak tebal adalah nilai loading > 0,5 Tabel 2. Total Keragaman yang Dapat Dijelaskan
Keragam Keragam Keragam Ekstraksi Keragam Keragam -an -an Keragam-an jumlah -an yg -an Jumlah yg bisa yg bisa -an Kumula- kuadrat bisa dije- Kumula- Kuadrat dijelasdijelas- kumulatif tif "Loadin laskan tif "Rotasi" kan kan (%) (%) g" (%) (%) (%) (%)

Faktor (Compo nent) nent)

Akar Ciri Awal

25,145 1,509 25,145 25,145 1,481 24,680 24,680 48,855 1,423 23,709 48,855 1,373 22,877 47,557 69,566 1,243 20,712 69,566 1,321 22,009 69,566 82,844 92,549 100,00 0 Tabel 3. Matriks Koefisien Skor Faktor Variabel Skor komponen kemacetan Rata-rata lama kegiatan Rata-rata tenaga kerja Faktor ("Component") 1 2 3 0,492 0,046 -0,263 0,031 -0,192 -0,150 0,648 0,585 -0,023

1 2 3 4 5 6

1,509 1,423 1,243 ,797 ,582 ,447

25,145 23,709 20,712 13,278 9,706 7,451

Rata-rata modal usaha Rata-rata omset harian Skor dampak node Tabel 4. Karakteristik Kelompok PKL

-0,002 0,311 0,548

0,185 0,485 -0,138

0,540 0,006 0,237

No I

Kelompok

Lokasi

Kategori Faktor Keramaian Sedang Sedang Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Sedang Rendah Rendah Rendah Sedang Rendah Sedang Sedang Sedang Rendah Rendah Rendah Sedang Rendah Rendah Sedang Sedang Sedang Rendah Rendah Sedang Rendah Rendah Rendah Tinggi Tinggi Sedang Sedang Sedang

PKL Pembinaan Jalan Siliwangi

II PKL Penataan

III PKL Penertiban

Jalan Empang Jalan Pahlawan Jalan Raya Tajur Jalan Bangbarung Jalan Taman Kencana Jalan Cidangiang Jalan Malabar Jalan Sancang Jalan Gedong Sawah Jalan pengadilan C Selot Bina Marga Kedung Halang Veteran Gunung Batu Otista Kapten Muslihat Mayor Oking Paledang Terminal Baranang Siang Depan Tugu Kujang Vila Indah Pajajaran Lampu Merah Pangrango Depan Kesatuan Jalan Nyi Raya Permas Jalan Dewi Sartika Jalan MA. Salmun Jalan Salak Jalan Lodaya Jalan Soleh Iskandar Depan Balai Binarum Depan Bogor Permai PertigaanRegina Pacis Jalan Surya Kencana Merdeka Plaza Jambu Dua Depan Hero Pajajaran Air Mancur

Kategori Faktor Omset & TK Rendah Rendah Sedang Sedang Sedang Sedang Rendah Rendah Rendah Sedang Sedang Sedang Rendah Rendah Rendah Sedang Rendah Sedang Rendah Rendah Rendah Sedang Rendah Rendah Sedang Rendah Rendah Rendah Rendah Sedang Rendah Tinggi Rendah Rendah Sedang Rendah Sedang Sedang Tinggi

Kategori Faktor Modal Usaha Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Sedang Sedang Rendah Rendah Rendah Rendah Sedang Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Sedang Rendah Rendah Rendah Sedang Sedang Tinggi Tinggi Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Rendah

Dari informasi yang disajikan pada Tabel 4, ternyata terdapat perbedaan di antara kawasan PKL yang tergabung dalam kelompok penertiban. Kawasan Surya Kencana (Pasar Bogor) dan Jl. Merdeka (Jembatan Merah) tingkat faktor keramaiannya (kemacetan) tergolong tinggi, sedangkan omset dan modal usaha tergolong sedang. Kawasan Air Mancur, tingkat faktor keramaiannya sedang sedangkan tingkat omsetnya tinggi dengan modal usaha rendah. Dua kawasan lainnya, Plasa Jambu Dua dan Hero Pajajaran, tingkat keramaian, omset dan modal usaha sedang. Berdasarkan penilaian secara cluster (kelompok), maka Tabel 5 menjelaskan bahwa kelompok 1 dan 2 (pembinaan dan penataan), tidak mempunyai dampak terhadap pelanggan, keamanan dan omset toko existing dan tidak meninggalkan sampah serta tidak mengganggu pengunjung, sedangkan kelompok 3 (penertiban) terhadap semua kategori dampak kawasan menurun untuk pelanggan, keamanan dan omset toko existing, meninggalkan sampah dan pengunjung merasa terganggung dengan keberadaannya. Tabel 5. Median Kategori Dampak Kawasan a) Dampak thd. pelanggan toko "existing"
b)

Cluster

Dampak thd. keamanan toko "existing"
c)

Dampak thd. omset toko "existing" d) 2,00 2,00 3,00

Potensi sampah
e)

Persepsi pengunjung
f)

Pembinaan Penataan Penertiban

2,00 2,00 3,00

2,00 2,00 3,00

1,00 1,00 2,00

2,00 2,00 1,00

Keterangan: a) Berdasarkan data sampel (sampel "purposive") b) 1 = meningkat, 2 = sama saja, 3 = menurun c) 1 = meningkat, 2 = sama saja, 3 = menurun d) 1 = meningkat, 2 = sama saja, 3 = menurun e) 1 = tidak, 2 = ya f) 1 = terganggu, 2 = sama saja, 3 = menguntungkan Karakteristik Kawasan Penertiban Seperti telah dijelaskan sebelumnya, terdapat lima kawasan PKL yang tergolong ke dalam kawasan "penertiban" yaitu Kawasan PKL Surya Kencana (Pasar Bogor), Jl. Merdeka (Jembatan Merah), Plaza Jambu Dua, Hero Pajajaran dan Air Mancur. Dari kelima kawasan ini, Kawasan Jembatan Merah (JM) dan Pasar Bogor (PB) yang perlu mendapat prioritas penanganan, sehingga untuk kedua kawasan ini yang dijelaskan lebih lanjut. Kawasan Jembatan Merah dikenal sebagai kawasan yang paling strategis, baik ditinjau dari ketersediaan rute angkutan umum, perpindahan rute transportasi, pusat perdagangan maupun kedekatan dengan Stasiun Kereta Api, sehingga secara empiris para PKL mengetahui bahwa di kawasan Jembatan Merah, kerumunan massa jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan kawasan lain. Atas dasar hal tersebut, mereka ber-asumsi jika bisa berjualan di kawasan ini, maka mereka akan memperoleh marjin usaha yang lebih besar dibandingkan jika mereka berjualan di kawasan lainnya. Sama seperti halnya dengan kawasan PKL di kawasan Jembatan Merah, PKL

Kawasan Pasar Bogor juga berasumsi jika mereka melakukan jualan di Pasar Bogor yang dikenal sebagai kawasan perdagangan Pasar Tradisional, mereka berkesimpulan jika berjualan di sekitar Pasar, maka keuntungan maupun omset penjualannya akan mengalami peningkatan. Kawasan Jembatan Merah mengalami kemacetan lalu lintas dua kali setiap harinya, yaitu pagi hari antara pukul 9 sampai 10 dan pada saat sore hari yaitu antara pukul 17 sampai 20. Pada puncak kemacetan pagi hari tidak terdapat volume keramaian manusia, justru keramaian itu terjadi antara pukul 6 sampai 8. Sedangkan pada saat puncak kemacetan (antara pukul 9 - 10), perilaku angkutan umum menunggu penumpang sebagai faktor penyebabnya. Pada saat kemacetan pagi hari, ternyata tidak banyak PKL yang melakukan kegiatannya. Berbeda dengan kawasan Jembatan Merah, maka di kawasan Pasar Bogor terjadi puncak kemacetan 3 kali setiap hari kerja yaitu pagi hari pukul 7 sampai 9, siang pukul 12 sampai 13 dan sore hari antara pukul 17 sampai 19:30. Ini bisa dimengerti, mengingat pada pagi hari, manusia cepat-cepat berganti noda dan ingin secepat mungkin sampai di tempat tujuan. Di lain pihak, angkutan umumpun tidak memerlukan waktu banyak untuk mendapatkan penumpang, karena jumlah manusia yang memerlukan jasa angkutan umum sangat banyak jumlahnya. Berbeda dengan sore hari, kemacetan lalu lintas diikuti pula dengan puncak volume manusia. Apabila pada pagi hari manusia mempunyai keterbatasan waktu, maka sore hari menjadi sebaliknya. Mereka mempunyai banyak waktu karena tidak perlu berpacu dengan waktu untuk sampai di rumahnya masing-masing. Pada saat situasi dan kondisi seperti inilah, yang dimanfaatkan oleh pada pedagang untuk berjualan, sehingga memperburuk kemacetan. PKL di Kawasan JM dan PB mayoritas berasal dari Kota Bogor (masing-masing 55,7%) selebihnya dari Kabupaten Bogor (21,8%) dan Kabupaten lainnya (21,6%). Domisili asal pedagang, berkorelasi dengan tenaga kerja yang digunakan oleh para PKL, JM=55,7% dan PB= 72,5% berasal dari Kota Bogor, JM=22,8% dan PB=14,3% dari Kabupaten Bogor dan sisanya JM=21,5% dan PB=27,3% berasal dari tempat lain di luar Bogor. Jenis komoditas yang dijual pada kawasan ini mayoritas makanan dan minuman menempati urutan paling banyak (JM=52,7% dan PB=52,5%), sedangkan yang berjualan pakaian dan asesoris sebanyak (JM=12,7% dan PB=6,6%), untuk jenis komoditas barang kelontong sebanyak JM=5,5%, buah-buahan (JM=1,8% dan PB=13,1%) jenis komoditas di luar yang disebutkan di atas sebanyak JM=27,3% dan tanaman (bibit & bunga) sebanyak PB=9,8%, barang bekas PB=1,6% dan jenis komoditas diluar yang disebutkan diatas sebanyak PB=16,4%. Modal awal para PKL (JM=76,4% dan PB=72,1%) berasal dari modal sendiri, sedangkan sisanya (JM=23,6% dan PB=27,9%) mendapat modal awal dari pihak ketiga. Mengenai frekuensi berjualan, JM=92,7% dan PB=77,0% responden berjualan sebanyak 7 hari dalam sepekan. Responden yang berjualan 6 hari dalam sepekan sebanyak JM=3,6% dan PB=6,6%, sedangkan sisanya hanya berjualan 3 hari dalam sepekan. Dari segi kategori pelayanan kepada konsumen di kedua kawasan yang paling banyak bersifat campuran (JM=72,7% dan PB=49,2%), dalam arti pembelinya bersifat tetap dan tidak tetap, yang bersifat langganan tidak tetap sebanyak JM=3,6% dan PB=45,9% sedangkan sisanya (JM=23,6% dan PB=4,9%), bersifat tetap. Setelah dilakukan survei, JM=52,7% dan PB=59,0% para pedagang memberikan jawaban siap untuk dipindahkan dari kawasan Jembatan Merah jika ada relokasi, sedangkan yang tidak setuju dipindah sebanyak JM=47,3% dan PB=41,0%. Ketika pertanyaan dipertajam tentang persepsi PKL terhadap kesediaannya untuk dilakukan pergiliran waktu berjualan, maka diperoleh jawaban, JM=52,7% dan PB=42,6% PKL tidak bersedia dilakukan pergiliran waktu berjualan. Hanya JM=20,0% dan PB=19,7% yang bersedia digilir, sedangkan JM=27,3% dan PB=37,7% tidak memberikan jawaban.

Dilihat dari sisi status lokasi berjualan, maka sebanyak JM=69,1% dan PB=88,5% mempunyai lokasi berjualan yang sifatnya tetap. Ini berarti ada semacam persetujuan diantara para pedagang tentang siapa dan dimana tempat berjualannya, hanya sekitar JM=30,9% dan PB=11,5% PKL yang lokasinya dapat berpindah-pindah tempat. Dari segi sarana berjualan, kebanyakan (JM=58,2% dan PB=41,0%), menggunakan Gerobak Dorong, JM=29,1% dan PB=21,3% tidak mempergunakan sarana khusus untuk berjualan, artinya para PKL cukup dengan menggelar barang dagangannya dengan sistim membuka lapak. PKL yang berjualan dengan menggunakan sarana tenda sebanyak JM=9,1% dan PB=24,6%, sisanya atau sebanyak JM=3,6% dan PB=13,1% menggunakan sarana berjualan yang bersifat semi permanen. Untuk jenis lokasi berjualan, para PKL lebih menyukai pemanfaatan trotoar atau bahu jalan terdapat JM=67,3% dan PB=54,1%. Badan jalan yang dijadikan tempat usaha oleh PKL sebanyak 20,0%, yang menggunakan tempat parkir sebanyak JM=9,1% dan PB=8,2%, sedangkan sisanya sebanyak JM=3,6% dan PB=37,7% mempergunakan sarana Iain-Iain seperti pemisah jalur jalan (median jalan) atau lahan hutan kota Perilaku PKL dalam melakukan aktifitas berjualan, dapat diketahui bahwa para pedagang melakukan aktivitasnya sangat bervariasi, ada yang berjualan pagi saja, pagi sampai siang, pagi sampai sore, dan sebagainya. Dari variasi berjualan tersebut nampak juga bahwa mayoritas pedagang berjualan sampai sore. Perilaku PKL Pasar Bogor dalam melakukan aktifitas berjualan, mayoritas berjualan dari pagi sampai sore (47,5%), siang sampai malam (26,2%), siang sampai sore (8,2%), pagi sampai malam (16,4%) dan yang berjualan pagi saja hanya 1,6%. Tidak terdapat kesamaan yang signifikan antara satu PKL dengan PKL lainnya dalam hal pembayaran retribusi walaupun kawasan berjualannya sama-sama di Jembatan Merah, hal ini terlihat dari data yang berhasil dikumpulkan. Sebanyak JM=87,3% dan PB= 91,8% responden menjawab bahwa mereka hanya mebayar 1 (satu) jenis retribusi, JM=10,9% dan PB=6,6% responden membayar 2 (dua) jenis retribusi dan hanya JM=1,8% dan PB=1,6% saja yang menjawab bahwa mereka membayar 3 (tiga) jenis retribusi. Dari uraian yang telah dijelaskan dapat disimpulkan bahwa karakteristik PKL di kawasan Jembatan Merah dan Pasar Bogor, hampir sama yaitu, diokupasi oleh pedagang yang berdomisili di Kota Bogor, mayoritas menggunakan tenaga kerja lokal, menggunakan modal sendiri, menggunakan trotoar atau lahan parkir sebagai tempat jualan-nya. Respon pedagang bervariasi saat ditanya pendapatnya, jika direlokasi atau dilakukan pergiliran waktu berjualan. Pola waktu kemacetan yang membedakan ke dua kawasan ini adalah, di kawasan Jembatan Merah terjadi puncak kemacetan di waktu pagi dan sore hari, sedangkan di kawasan Pasar Bogor terjadi 3 kali puncak kemacetan yaitu pagi, siang dan sore hari. Secara umum kawasan yang diperlukan PKL untuk melakukan aktivitasnya adalah kerumunan manusia, bukan kemacetan. Di kawasan Jembatan Merah, misalnya, waktu puncak kemacetan di pagi hari, tidak disertai dengan kegiatan PKL dan ternyata saat macet di pagi hari, tidak disertai dengan kerumunan manusia. Alternatif Penanganan PKL Karena sifatnya yang masih makro, studi ini hendaknya dipandang sebagai sebuah langkah awal dalam menyikapi keberadaan PKL yang semakin hari terasa semakin memerlukan perhatian dan penanganan yang arif dan bijaksana. Berdasarkan hasil pengelompokkan kawasan PKL, dapat diturunkan beberapa indikasi program penanganan dari setiap kelompok kawasan PKL yaitu: 1. Program pembinaan PKL, berupa kegiatan; a. Pembentukan Koperasi yang anggotanya para PKL b. Penambahan Modal usaha

c. Pemberian insentif retribusi d. Penyerasian lapak e. Penyediaan bantuan sarana usaha 2. Program penataan PKL, berupa kegiatan; a. Pembatasan jam operasi b. Pembatasan kawasan usaha c. Pembatasan luas usaha d. Pengenaan dis-insentif retribusi maupun pajak bagi kawasan yang telah mengarah kepada penciptaan gangguan lalu-lintas, estetika dan sebagainya. 3. Program penertiban PKL, berupa kegiatan; a. Pemindahan tempat usaha bagi pedagang yang mengganggu lalu-lintas b. Pengenaan dis-insentif retribusi maupun pajak untuk mencegah pengembangan c. Penutupan usaha bagi mereka yang nyata-nyata mengganggu Keterbatasan sumber-sumber manajemen, urgensi dan besarnya volume masalah yang harus ditangani, memaksa kita kepada penentuan prioritas. Berdasarkan hasil analisis, nampaknya kawasan-kawasan yang tergabung ke dalam Kelompok Penertiban seyogyanya mendapat prioritas penanganan. Lebih khusus lagi, kawasan PKL Pasar Bogor dan Jembatan Merah harus mendapat prioritas lebih tinggi dari kawasan lainnya dalam kelompok ini. Hasil studi dengan menggunakan teknik purposif sampling yang dikembangkan dengan snow balling method, pada lokasi PKL di Jembatan Merah dan Pasar Bogor langkahlangkah kongkrit upaya penertibannya akan diuraikan pada Sub Bab selanjutnya. Akan tetapi, rekomendasi yang diajukan hendaknya tidak diartikan sebagai upaya yang paling tepat. Keterbatasan data hasil studi, tetap merupakan kendala besar. Disamping itu, penyelesaian partisipatif yang kondusif akan mengeluarkan kesepakatan dari dua sudut pandang kepentingan, Pemerintah Kota Bogor di satu sisi, para PKL-nya sendiri di sisi lain. Sehingga bisa saja rekomendasi hasil studi ini, mendapat masukan penyempurnaan dari berbagai pihak. Pola waktu kemacetan yang membedakan kedua kawasan ini adalah di kawasan Jembatan Merah terjadi puncak kemacetan di waktu pagi dan sore hari, sedangkan di kawasan Pasar Bogor terjadi 3 kali puncak kemacetan yaitu pagi, siang dan sore hari. Alternatif Penanganan PKL di Kawasan Jembatan Merah Hasil studi yang meliputi kegiatan observasi di lapangan, kebutuhan optimum luas lapak dari obsesi PKL, persepsi pengguna jasa PKL serta kepentingan Pemilik Toko, menyimpulkan bahwa ukuran luas lapak yang paling ideal bagi setiap PKL adalah panjang 1,5 meter dan lebarnya 0,5 meter. Sedangkan jarak antar PKL yang optimun, adalah 1 meter. Atas dasar analisis tersebut, untuk lokasi PKL di Jembatan Merah langkah pertama yang direkomendasikan untuk ditempuh adalah penutupan lapak PKL yang berjualan dengan menggunakan sarana badan jalan. Ditinjau dari semua sudut pandang apalagi kepentingan umum, tidak ditemukan alasan apapun untuk membenarkannya. Selain itu, studi ini merekomendasikan pula penggunaan trotoar atau bahu jalan, jika masih dapat ditoleransi sesuai dengan Perda Nomor 1 Tahun 1990, maka seyogyanya dalam satu koridor trotoar, hanya digunakan satu sisi saja. Hal ini penting, agar para pejalan kaki maupun akses jalan keluar dan masuk ke Toko maupun rumah tinggal, tidak merasa terganggu. Secara lebih rinci hasil studi ini menghitung optimalisasi lapak PKL di kawasan Jembatan Merah antara lain lokasi trotoar atau bahu jalan sederetan antara Tempat Billiar, Toko Naga Mulia sampai dengan menjelang pertigaan Jalan Kapten Muslihat, daya tampung maksimal sekitar 40 lapak PKL, untuk lokasi trotoar dari Toko Irama Nusantara, Kimia Farma sampai dengan Gang Ambi,;.daya tampung optimalnya kurang lebih 56 lapak PKL, untuk lokasi pertokoan Muria sampai dengan Jembatan Merah daya tampungnya kurang lebih

40 lapak PKL, sementara untuk lokasi PKL di Mall (Pasar Depris) sampai dengan Lembaga Pemasyarakatan Paledang, daya tampungnya kurang lebih 90 lapak PKL. Sejalan dengan hasil prediksi optimasi luas lapak optimal yang dikaitkan dengan fenomena lainnya, seperti bangkitan arus lalu lintas yang sangat tinggi, volume pergerakan manusia sangat dinamis, penyebaran lokasi pemberhentian angkutan umum, potensi terjadinya kemacetan arus lalu lintas, simpul-simpul kemacetan lalu lintas serta fenomena lain yang diungkapkan dalam tulisan sebelumnya, maka direkomendasikan penutupan usaha PKL pada lokasi kawasan Jembatan Merah, diluar lokasi-lokasi yang disebutkan di atas. Tentunya dengan pengertian, setelah diperoleh solusi yang lebih baik terlebih dahulu, misalnya dengan alternatif relokasi di tempat lain, yang situasi dan kondisinya tidak berbeda jauh dengan tempat usahanya yang ada sekarang. Dalam menangani penertiban PKL di kawasan Jembatan Merah, jawaban mayoritas responden PKL yang menyatakan bahwa mereka bersedia dipindahkan, akan tetapi tidak bersedia dilakukan pergiliran waktu berjualan, dapat dijadikan acuan pengambilan kebijakan oleh Pemerintan Kota Bogor. Rekomendasi penataan dan penertiban kawasan PKL di lokasi Jembatan Merah secara spasial, dapat dilihat pada Lampiran Peta 3. Alternatif Penanganan PKL di Kawasan Pasar Bogor Atas dasar optimasi yang sama seperti dalam melakukan analisa pada kawasan PKL di Jembatan Merah, untuk lokasi PKL di Kawasan Pasar Bogor, lebih spesifik lagi di Jalan Otista tidak direkomendasikan pengurangan maupun penambahan lapak PKL, mengingat keberadaannya sudah settle, begitu juga dengan kawasan PKL di lahan parkir Klenteng. Berbeda halnya untuk lokasi PKL di seberang Pasar Bogor sampai dengan Kesatuan, studi ini merekomendasikan jumlah lapak PKL optimum kurang lebih 112. Sedangkan jumlah optimun PKL yang dapat ditampung di lokasi depan Toko Sepatu Bata sampai dengan Jalan Ranggagading, sebanyak kurang lebih 86 lapak. Apabila hasil pendataan lanjutan (hasil sensus) diperoleh data jumlah lapak PKL melebihi angka optimal, maka studi ini menilai beberapa lokasi yang dimungkinkan sebagai alternatif relokasi, antara lain halaman depan Pasar Bogor dapat menampung maksimum 65 lapak PKL, dan trotoar Kebun Raya maksimum untuk 120 lapak PKL, dengan catatan lokasi PKL eksisting yang ada sekarang (di lokasi Telepon Umum), dilakukan penertiban (dipindahkan). Akan tetapi apabila jumlah PKL hasil sensus nantinya mengungkapkan hal yang sebaliknya, maka kedua lokasi alternatif tersebut tidak direkomendasikan sebagai kawasan pengembangan PKL. Rekomendasi penataan dan penertiban kawasan PKL di lokasi Pasar Bogor secara spasial, dapat dilihat pada Lampiran Peta 4. Seperti diutarakan dalam tulisan sebelumnya, bahwa mayoritas responden PKL di Pasar Bogor bersedia dipindahkan dan digilir waktu berjualannya, maka hal ini bisa dijadikan referensi untuk mencari inovasi upaya penertiban PKL. Artinya, jika masih dimungkinkan pengaturan rotasi berjualan yang disesuaikan dengan pengelompokan komoditas barang yang dijual, upaya relokasi atau pengembangan PKL ke kawasan lain dipilih sebagai alternatif penertiban.

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Kesimpulan PKL di Kota Bogor diklasifikasikan berdasarkan kategori pusat kemacetan meliputi dampak tinggi, sedang dan rendah. Pusat dampak tinggi meliputi Stasiun Kereta Api, Terminal Baranang Siang, Kawasan Pertokoan Jembatan Merah dan Pasar Bogor. Pusat dampak sedang mencakup Plasa Jambu Dua, Pasar Gembrong, Terminal Merdeka, Kawasan Empang, Mega M, Bogor Indah Plasa, Kawasan Air Mancur serta Hero Pajajaran.

Selanjutnya pusat keramaian dampak rendah mencakup Pasar Kemang, Kantor Bank, Sekolah, Kantor Pemerintahan yang memberikan pelayanan publik, Hotel, Sarana Ibadah, Pasar Depris, Lapangan Olah Raga, Rumah Sakit, Pasar Gunung Batu, Pasar Kebon Jahe, TPU, Gedung Pertemuan serta Tempat Hiburan. Berdasarkan ciri kelompoknya, maka kelompok satu disebut kelompok kawasan yang perlu pembinaan yang meliputi Kawasan Jalan Siliwangi, Empang, Pahlawan, Raya Tajur, Bangbarung, Taman Kencana, Cidangiang, Malabar, Sancang, Gedong Sawah, Pengadilan, Selot, Bina Marga, Kedung Halang, Veteran, Gunung Batu, Otista, Kapten Muslihat, Mayor Oking, Nyi Raja Permas, Dewi Sartika, MA. Salmun dan Jl. Paledang serta Terminal Baranang Siang, Depan Tugu Kujang, Vila Indah Pajajaran, Lampu Merah Pangrango dan Depan Kesatuan. Kelompok dua adalah kelompok kawasan penataan meliputi Kawasan Jl. Salak, Jl. Lodaya dan Jl. Soleh Iskandar, Balai Binarum, Bogor Permai serta Kawasan Regina Pacis. Kelompok tiga disebut kelompok penertiban yang meliputi Kawasan PKL Jl. Surya Kencana (Pasar Bogor), Jl. Merdeka (Jembatan Merah), Kawasan Jambu Dua, Kawasan Air Mancur, Kawasan Hero Pajajaran. Rekomendasi Mengingat hasil analisa dilakukan terhadap data yang sangat terbatas, maka yang dapat dilakukan adalah memberikan informasi mengenai deskriptif analitik, sehingga belum dapat dijadikan sebagai bahan pengambilan keputusan yang bersifat final. Studi yang lebih mendalam dan komprehensif, perlu dilakukan untuk mempertajam hasil analisis. Mengingat keterbatasan data, studi ini hendaknya dipandang sebagai sebuah langkah awal, dalam menyikapi keberadaan PKL yang semakin hari terasa semakin memerlukan perhatian dan penanganan yang arif dan bijaksana. Bagaimanapun juga, menata apalagi meniadakan PKL, akan menimbulkan implikasi dan penafsiran yang beragam, karena masalah PKL menyangkut banyak pihak yang berkepentingan. Keterbatasan sumber-sumber manajemen memaksa kita harus menentukan prioritas. Prioritas pertama hendaknya diberikan kepada kawasan-kawasan PKL yang secara langsung telah mengganggu arus lalu lintas seperti Kawasan Jembatan Merah dan Pasar Bogor. Penanganan kawasan lainnya perlu disesuaikan dengan kondisi kawasan-nya, apakah cukup pembinaan, penataan atau sudah diperlukan penertiban. Disamping rekomendasi tersebut di atas, beberapa pemikiran yang sifatnya terobosan, barangkali perlu permasalahan dikedepankan sebagai sebuah wacana yang dapat dijadikan bahan diskusi dengan melibatkan berbagai unsur yang terkait seperti, akademisi, lembaga swadaya masyarakat, tokoh masyarakat, unsur pemerintah dan tidak ketinggalan para PKLnya itu sendiri. Pemikiran yang sifatnya masih hipotetis itu, antara lain : • Perlukah dilakukan penutupan ruas jalan tertentu pada hari dan jam tertentu, untuk digunakan sebagai arena pekan PKL? • Apakah perlu diatur pengelompokan jenis komoditas tertentu, menempati ruas jalan atau lahan tertentu melaui pengaturan waktu berjualan, sehingga tidak memper-buruk kemacetan? • Apakah dimungkinkan merubah pemanfaatan ruang tertentu, seperti lapangan olah raga, jalur hijau, hutan kota dijadikan sebagai kawasan lokasi PKL yang ada pada waktu-waktu sarana tersebut tidak digunakan?

DAFTAR PUSTAKA
Bintarto, R. dan Surastopo Hadisumarno. Jakarta. 1991. Metode Analisa Geografi. LP3ES.

Cochran, W.G. 1977. Sampling Techniques. John Wiley and Sons. Inc. New York. Daldjoeni, N. 1998. Geografi Kota dan Desa. PT. Alumni. Bandung. Kota Bogor. 2000. Kota Bogor dalam Angka Tahun 1999. Badan Pusat Statistik Kota Bogor. Santoso, Singgih. 2001. SPSS Mengolah Data Statistik Seraca Profesional. PT. Elex Media Komputindo. Jakarta. Singarimbun, Masri dan Sofian Efendi. 1995. Metode Penelitian Survei. PT. Pustaka LP3ES Indonesia. Jakarta. Sitanala Frans THR. 2002. Pola Perjalanan Penglaju ke Tempat Bekerja dari Kota Depok. Jurusan Pasca Sarjana Geografi. FMIPA UI. Depok. Sudarmadji, B.W. 2005. Studi Karakteristik Pedagang Kaki Lima di Kota Bogor. Majalah Ilmiah "Globe". Yayasan Peduli Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Lisuali). Jakarta.

( Sumber tulisan: Jurnal Ilmiah Geomatika Vol.11 No.2, Des 2005 )

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->