Anda di halaman 1dari 10

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1.

Pemberian Air Selama Masa Irigasi Tata tanam tahunan menguraikan areal yang direncanakan dengan tanaman tertentu selama tahun irigasi. Didalam mana termasuk dijelaskan sistem golongan, tanaman yang ditanam dalam golongan dan tanggal mulai garap dan penanaman didalam tiap golongan. Para petani diberi informasi oleh para mahasiswa (simulasi) atau petugas pengairan yang bersangkutan mengenai tata tanam tahunan pada waktu diadakan rapat Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A). Tata tanam tahunan direncanakan berdasarkan air irigasi yang diharapkan dan kebutuhan air untuk tanaman yang akan ditanam, serta kondisi dari Daerah Irigasi yang ada. Rencana dibuat sedemikian rupa sehingga kebutuhan air untuk Daerah Irigasi itu selama masa irigasi sesuai dengan persediaan air yang diharapkan. Sesudah rencana tata tanam ini disetujui oleh pengurus mahsiswa (simulasi) atau oleh Panitia Irigasi Kabupaten, penyuluhan kepada para petani diadakan, sesudahnya baru diadakan pelaksanaan rencana pembagian air. Jika segala sesuatu berjalan sesuai dengan rencana, pelaksanaan akan lancar. Rencana pembagian air yang direncanakan untuk tata tanam tahunan harus diikuti. Para petani dalam salah satu golongan mulai dengan penanaman sesuai dengan ketetapan tanggal yang ditentukan, mereka menerima air menurut jumlah air yang direncanakan, dll. Tetapi pelaksanaan dari rencana pembagian air tidak semudah yang diharapkan. Ada beberapa alasan mengapa rencana tata tanam tahunan tidak dapat diikuti secara penuh . Alasan pokoknya adalah : 1) Tidak semua petani didalam golongan akan dapat mulai dengan pengolahan dan tanam pada tanggal yang ditentukan. Ini sukar untuk dipredik, berapa petani akan mulai dengan pengolahan dan tanam pada waktu yang sama. 2) Beberapa petani boleh jadi tidak memulai pengolahan dan tanam, karena beberapa alasan. 3) Lain petani menanam tanaman lain daripada yang direncanakan.

4) Persediaan air di sungai bisa lebih kecil dari pada yang diketahui lebih dulu. Ini adalah normal dalam rencana tahunan air tersedia dihitung menurut dasar air yang tersedia (dependable flow). Perubahan selama musim bisa saja terjadi. Biasanya periode air kecil tidak selalu lama. Penyimpangan-penyimpangan dalam rencana tahunan bisa terjadi selama masa irigasi. Penyimpangan dalam kebutuhan air (tanaman-tanaman di lapangan) dan dalam pemberian air debit (debit disungai). Pengelolaan irigasi yang baik adalah usaha untuk pembagian dan pemberian ir yang adil dan tepat guna dengan kepastian semua tanaman menerima jatah air yang dibutuhkan dan jika terjadi kekurangan air, dibagi seimbang sampai kepada suatu tingkat tertentu. Untuk alasan tersebut dibutuhkan pengaturan yang teratur bagi pemberian air sehingga pemberian air sesuai dengan tanaman yang nyata tertanam di lapangan. Paling sedikit dibutuhkan beberapa keterangan untuk menentukan pengaturan pemberian air yaitu : i) air yang tersedia, ii) kebutuhan air untuk tanaman, dan iii) kehilangan air Air yang tersedia dan air yang dibutuhkan biasanya berubah selama masa irigasi. Tidak perlu air tiap irigasi hari menentukan periode perubahan tersebut tetap dalam dan pemberian tidak air. Normal periode pemberian air adalah 10 atau 15 hari. Pengaturan pintu air untuk pemberian selama berubah. Selama proses pemberian air secara kontinyu pada masa irigasi, pertanyaan dibawah ini perlu ada jawaban seperti : Air yang tersedia di sumbernya Kebutuhan air untuk tanaman Kehilangan air Di Indonesia bermacam-macam metoda dipakai untuk memberikan jawaban tsb : 1. Metoda Pasten 2. Metoda K factor 3. Metoda FPR

2.2 Metode Pasten Kebutuhan air untuk tanaman yang ditanam dalam Petak Tersier dinyatakan dalam jumlah hektar palawija. Kehilangan air dalam sistem irigasi dinyatakan dalam tambahan hektar palawija. Menjadi jumlah luas palawija hektar. Perbandingan dengan air yang tersedia menghasilkan jumlah air yang tersedia tiap hektar palawija di sawah. Harga ini umumnya dinamakan Pasten. Pemberian air pada tiap pintu pengambilan air dapat dihitung dengan mengalikan luas palawija relatif di Pintu Air dengan Pasten. Metode pasten secara skematis dapat dilihat pada Gambar 1. Sistem irigasi ini terdiri atas 3 petak Sekunder. Saluran induk mempunyai cabang -2 saluran sekunder SSI di pembagi air B dan saluran-2 sekunder SSII dan SSIII di pembagi air C. 1. Kebutuhan air dari tanaman dihitung sbb : Dalam tiap Petak tersier disusun daftar tanaman yang sungguh-2 tertanam menurut fase pertumbuhan dan persiapannya (pengolahan sawah dan pembibitan). Rencana pertumbuhan atau pengurangan tanaman dan persiapannya dijumlahkan untuk rencana yang akan datang. 2. Luas tanaman dalam hektar dan persiapannya diubah menjadi luas relatif palawija dengan mengalikan luas ha tanaman dengan faktor tanaman yang mana telah dijelaskan dalam modul mengenai tanah, air dan tanaman. 3. Hasilnya adalah kebutuhan air bersih dinyatakan dalam ha palawija disawah dalam petak tersier. Singkatannya : Ha Pal. Rel.

UNAUTHORIZED LIFTING OF WATER

Luas Tanaman Tiap Petak Tersier

X Faktor Tanaman (ft) U N Luas Pal.Rel. Dalam Tiap A Faktor Kehilangan Dalam U Petak Tersier Netto (LPR) Petak Tersier (PT). (Kt) T H O Luas Pal. Rel. RI Di Pintu ZTersier Gross (LPRGT) E D LPRGT LPRGT LPRGT LI Faktor Kehilangan Air PT1 + PT2 + PT3 F X Dalam Sal. Sek. (Ks) (Kt) Tiap Sal Sekunder TI N G O F X W Luas Pal. Rel. Di Pintu A Sekunder Gross (LPRGS) T E LPRGS LPRGS LPRGSR Faktor Kehilangan Air X Sek 1 + Sek 2 + Sek 3 Dalam Sal. Induk (KI) (Ks) (Kt) Tersedianya air Q

Luas Pal Rel Dipintu pengambilan LPRGP

PASTEN (P) Gambar 1. Contoh skema sistem Pasten Pasten x LPRGI Pasten x LPRGS = Pemberian Air Di Pintu Tersier = Pemberian Air di Pintu Sekunder

Angka-angka dalam kolom memperlihatkan luas areal dari tanaman yang direncanakan di petak tersier 1 dari sal. Sekunder II Tanaman 1 Kebutuhan Air thd Palawija 1. Padi a. persemaian + pengolahan b. pertumbuhan I c. pertumbuhan II d. pemasakan 2. Tebu a. pengolahan tanah + tanam b. tebu muda c. tebu tua 3. palawija a. yang perlu banyak air b. yang perlu sedikit air 1.00 0.50 50 10 50 5 3.00 2.00 0.50 20 60 4.50 4.00 2.5 2 1 9 4 2 luas tanaman (ha) 3 = 1x2 Luas Relatif thd pal. (ha)

Perbandingan Rencana

Jumlah 83 128 Kolom 1 memperlihatkan faktor pengubahan untuk macam-macam tanaman dan tahap pertumbuhan. Luas palawija relatif dihitung dengan mengkalikan angka-angka dalam kolom 1 dan kolom 2. Kehilangan air yang terjadi di saluran tersier, sekunder dan primer. Kehilangan air ini dinyatakan dalam tambahan ha palawija untuk air.Kehilangan air disaluran tersier ditaksir dengan dugaan efisiensi, 70-80 %. Oleh karena itu luas palawija relatif disawah dilakukan dengan faktor antara 100/800 = 1.25 dan 100/70 = 1.43. Faktor ini dinamakan faktor kehilangan air dalam petak tersier. Dalam contoh maksudnya luas palawija relatif untuk Petak tersier III dari saluran sekunder II banyaknya adalah : Faktor kehilangan 1.43 x jumlah luas pal relatif 128 = 128 ha pal

Untuk tiap petak tersier luas palawija relatif sekarang bisa dihitung dengan cara ini Normal kehilangan air dalam saluran sekunder lebih kecil dari pada kehilangan air di saluran tersier. Alasan pokok ialah penyaluran air dengan debit yang besar kehilangan airnya akan lebih kecil. Kehilangan air di saluran sekunder ditaksir dengan perkiraan efisiensi 80-90 %. Ini berarti adalah faktor perkalian antara 100/80 = 1.25 dan 100/90 = 1.11. Luas palawija relatif dari semua petak-petak tersier dari jaringan irigasi ini dikalikan dengan 1.11 atau 1.25.

2.3 Nilai Pasten Pemberian air ditentukan dengan menghitung berapa jatah air bagi tiap ha palawija. Jumlah air per ha palawija ini dinamakan Pasten Air tersedia Pasten = --------------------------------------------( lt/det/ha pal)

Jum luas pal rel dipintu pengambilan Anggap bahwa air yang tersedia ada 350 l/det Air tersedia dalam , l/det Jumlah luas pal rel dipintu pengambilan 350 l/det 1595 ha pal

Pasten = ------------------------------------------------- = ------------ = 0.22 l/det ha.pal.

Pemberian air untuk masing-masing saluran sekunder dan tiap pintu sadap tersier dapat dihitung dengan jalan mengkalikan Pasten dengan luas ha.pal.rel. Harga Pasten 0.20 0.25 l/det ha.pal adalah memadai. Bila harga pasten antara adalah masih cukup. 0.15-0.20 l/det ha.pal Tanaman palawija dengan pasten kurang dari 0.15 l/det.ha

pengalaman menunjukkan kurang air. Jika pasten kurang dari 0.10 l/det ha.pal. ini berarti sangat kekurangan air, karena air yang tersedia sangat kecil , sehingga digunakan sistem giliran (rotasi) antara Sub- tersier. 2.4 Prosedur pengelolaan air dalam periode 10-15 harian Selama proses penentuan pembagian air prosedurnya sbb : - Rencana tanaman dalam petak tersier dipersiapkan oleh pengurus P3A pada rapat P3A. - Ulu-2 P3A /ulu-2 memberikan data tsb kepada Juru pengairan dan ia mengisi formulir 01 Lampiran 1. Untuk tiap petak tersier dan dihitung pula luas relatif dalam ha.pal di tiap pintu sadap. Juru pengairan meneruskan daftar ini kepada pengamat pengairan. Jika wewenang juru pengairan meliputi suatu petak sekunder, ia pula menghitung luas relatif sampai pintu sekunder. Pengamat pengairan melengkapi formulir dari sal. Sekunder dalam wilayahnya dan diteruskan kepada seksi pengairan. Jika suatu Daerah irigasi seluruhnya termasuk dalam wilayahnya pengamat, keadaan air yang tersedia di bendung dari penjaga bendung Seksi melengkapi formulir tsb. Dari seluruh Daerah Irigasi dan menghitung Pastennya. Ketepatan Pasten diteruskan kepada pengamat dalam wilayah seksi. Pengamat memberi tahu juru-jurunya dan juru ini dapat menghitung jatah air untuk tiap pintu

sekunder maupun pintu sadap.Ketentuan pasten oleh juru pengairan ditulis pada papan Pasten pada tiap pintu pengambilan. Seterusnya Juru Pengairan mengatur pintu-pintu air sesuai Pasten untuk masing-masing petak tersier dan sekunder. a. Giliran Pembagian Air Selama periode pembagian air, air kurang bisa terjadi, kebutuhan air adalah lebih besar dari pada persediaan air. beberapa faktor : - Debit sungai tidak cukup - Banyak kehilangan air di jaringan irigasi utama - Penutupan sementara saluran oleh karena ada pembangunan dan pemeliharaan saluran-saluran dan bangunan. Kalau terjadi sangat kekurangan air, pembagian air secara giliran dapat digunakan. Pembagian giliran adalah berganti-ganti pemberian air kepada saluran kwarter, sub tersier, tersier atau saluran sekunder. Jumlah air yang dibagikan kepada tanaman adalah sama dengan jumlah air jika dibagi secara kontinyu. Oleh karena itu periode pemberian air adalah pendek dan pengaliran air besar.Giliran ini dapat dinamakan Rotasi Kalau giliran digunakan areal dari Daerah Irigasi dibagi menjadi beberapa golongan (kelompok). Tiap kelompok akan menerima jatah air kira-kira sama dengan rencana , selama waktu yang terbatas. kelompok lainnya tidak mendapat air. Keuntungan dari pemberian air secara kontinyu ke sistem giliran, ialah kehilangan air akan rendah.Lagi pula sedimentasi lumpur dan pasir akan rendah dibandingkan jika saluran bekerja dengan kapasitas penuh. Giliran dapat dilaksanakan di dalam jaringan irigasi utama (giliran antara saluran Sekunder atau antara saluran Tersier), didalam jaringan irigasi tersier (giliran antar saluran sub tersier) dan antara saluran kwarter. Selama kelompok ini mendapat giliran air, Kekurangan air tersebut bisa terjadi akibat dari

DAFTAR PUSTAKA A n k u m , P . , 1 9 8 9 . Irrigation Water Requirement: at field, tertiary and main system level. International Ins titute for Hydraulic and Envir onmental Engineering. Pruitt. Delft, The Neherlands. D o o r e n b o s , Crop Water J. and W.O. FAO. 1984. Requirements.

I r r i g a t i o n and Drainage Paper no.2

Dedi Kusnadi Kalsim, 2002 (edisi ke 2). Rancangan Irigasi Gravitasi, Drainase dan Infrastruktur. Laboratorium Teknik Tanah dan Air, J u r u s a n T e k n i k P e r t a n i a n , Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Martin Smith, 1991. CROP WAT (ver.5.7): Manual andGuidelines . FAO Kusauma, Dr.Ir., SU. 2009. Metoda menghitung Pemberian Pola Air Irigasi Tanam.

Dalam

Perencanaan

http://saturnustiga.blogspot.com/2009/09/modul-metoda-menghitung-pemberianair.html diakses tanggal 23 Oktober 2012 pukul 11:15 WIB Rome.3.D as tane, N.G ., 1974. Effective Rainfall in Irr igated Agr iculture. FAO , Irr igation and Drainage Paper No 25. Rome