Anda di halaman 1dari 19

MODUL TUMBUH KEMBANG NY.

N DENGAN ANEMIA DEFISIENSI BESI KELOMPOK 2

Inti Herdianti Vera Octasia Hendricus M Ivana Putri O Andreas S Angelia E

030.05.119 030.05.225 030.07.104 030.07.123 030.09.017 030.09.019

Hafizah Wijaya

030.09.105

Margo Sebastian 030.09.143 Maya Liana Ricka Hardi Ridho M Dianto Rinoka Wira PP Reza Gharba 030.09.147 030.09.203 030.09.205 030.09.207 030.09.199

Gita Saraswati 030.09.103

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI JAKARTA Senin, 4 Maret 2011

BAB I Pendahuluan

Anemia defisiensi besi disebabkan karena kurangnya zat besi untuk sintesis hemoglobin. Zat besi (Fe) diperlukan untuk pembuatan heme dan hemoglobin (Hb). Kekurangan Fe mengakibatkan kekurangan Hb. Walaupun pembuatan eritrosit juga menurun, tiap eritrosit mengandung Hb lebih sedikit dari pada biasa sehingga timbul anemia hipokromik mikrositik.

Kekurangan Fe dapat terjadi bila makanan tidak cukup mengandung Fe, komposisi makanan tidak baik untuk penyerapan Fe (banyak sayuran, kurang daging), gangguan penyerapan Fe (penyakit usus, reseksi usus), kebutuhan Fe meningkat (pertumbuhan yang cepat, pada bayi dan adolesensi, kehamilan), perdarahan kronik atau berulang (epistaksis, hematemesis, ankilostomiasis).

Diperkirakan 30% penduduk dunia menderita anemia dan lebih dari 50% penderita ini adalah Anemia Defisiensi Besi dan terutama mengenai bayi, anak sekolah, ibu hamil dan menyusui. Di Indonesia masih merupakan masalah gizi utama selain kekurangaan kalori protein, vitamin A dan yodium. Penelitian di Indonesia mendapatkan prevalensi Anemia Defisiensi Besi pada anak balita sekitar 30-40%, pada anak sekolah 25-35% sedangkan hasil SKRT 1992 prevalensi ADB pada balita sebesar 55,5%. Anemia Defisiensi Besi mempunyai dampak yang merugikan bagi kesehatan anak berupa gangguan tumbuh kembang, penurunan daya tahan tubuh dan daya konsentrasi serta kemampuan belajar sehingga menurunkan prestasi belajar di sekolah. (1)

BAB II Laporan Kasus

Ny.N P1A0 diantar oleh suaminya ke Puskesmas tempat Anda bekerja. Ibu N berencana ingin hamil lagi tetapi dengan kehamilan yang sehat, karena anak pertama yang sudah berumur 2 tahun lahir dengan berat badan kurang, sehingga pertumbuhannya tidak baik. Pertanyaan Ny.N Kehamilan yang akan datang supaya bayi saya lahir dengan berat badan normal? Apa yang harus dan tidak harus saya makan, dok? Keadaan sosial ekonomi mereka terbatas. Sudah KB dengan menggunakan IUD. Ny.N dengan BB 43 kg, TB 157 cm.

Ternyata Ny.N sehari-hari makan hanya sedikit.biasanya makan sayur-sayuran, tahu, tempe, dan jarang makan daging maupun susu. Pada pemeriksaan fisik, conjunctiva pucat, paru-paru dan jantung tidak ada kelainan. Hepar dan lien tidak teraba, kaki tidak edema. Tensi 110/70, nadi 88x/menit. Pemeriksaan laboraturium Hb 9g %, albumin 3,1 g/dl.

BAB III Pembahasan

Identitas Pasien Nama Umur : : Ny. N Perempuan -

Jenis kelamin : Pekerjaan :

Masalah Ny. N ingin mempunyai anak lagi dengan lahir normal, karena anak pertama mengalami BBLR (Bayi Berat Lahir Rendah) Ny. N memiliki BB = 43 kg dan TB = 157 cm, dimana dengan hitungan BMI (Body Mass Index) Ny. N memiliki berat badan kurang atau dibawah normal, yaitu : BMI = BB/TB2 = 43/(1,57)2 = 43/2,4649 = 17,44. Dan nilai normal BMI adalah 18,525. Jadi kesimpulannya Ny. N memiliki berat badan kurang. Keadaan sosio-ekonomi yang terbatas

Anamnesis 1. Apa yang terjadi pada kehamilan pertama? 2. Bagaimana keadaan saat kehamilan pertama dan pasca kehamilan pertama? 3. Pada saat kehamilan pertama, berapakah kenaikan berat badan yang terjadi? 4. Apakah pernah terkena suatu penyakit atau infeksi pada saat kehamilan pertama? 5. Apakah sering terjadi mual/muntah pada kehamilan pertama? 6. Pernah mengkonsumsi obat-obatan apa saja selama masa kehamilan pertama? 7. Apakah mengkonsumsi alcohol atau merokok? 8. Apakah pernah mengkonsumsi jamu-jamuan? 9. Apakah pernah mengalami defisiensi vitamin pada saat masa kehamilan? 10. Apakah sering mengalami stress pada masa kehamilan? 11. Bagaimana asupan gizi Ny. N? 12. Apakah melakukan pemeriksaan ante-natal secara rutin saat kehamilan pertama? 13. Berapa umur Ny. N? 14. Apakah pekerjaan Ny. N dan sang suami? 15. Bagaimana kondisi tempat tinggal Ny. N?

16. Ny. N sering melakukan aktivitas apa? Apakah berat/tidak?

Pemeriksaan Fisik Tanda Vital :


Suhu Nadi 88x/menit Normal Tekanan Darah 110/70 Di bawah nilai normal / cukup rendah Pernafasan Berat badan : 43 kg Tinggi badan : 157 cm

Keadaan Umum : Kesadaran Keadaan Gizi Jantung dan Paru-Paru Mata Abdomen Extremitas

Pemeriksaan Laboratorium Darah lengkap Hb : 9 gr% di bawah normal Anemia

Diagnosis : Anemia et causa Defisiensi Besi

Penatalaksanaan

Mengontrol dan meningkatkan asupan gizi seimbang sesuai dengan yang dianjurkan Mengurangi aktivitas yang berat Pentingnya menjaga asupan kalori selama kehamilan yaitu 75.000-80.000 kal atau 250-300 kal/hari.

Melepaskan IUD agar dapat hamil kembali

Sebelum Hamil Untuk kasus ini asupan vitamin D diganti dengan ikan teri karena pada Ibu N ini jarang makan daging dikarenakan status sosial ekonomi dibawah, sedangkan untuk vitamin C diberikan dengan tomat dan kacang-kacangan Untuk tablet besi karena kurangnya asupan maka pemberian tablet besi

diberikan sebelum makan dan lakukan pada malam hari karena ada efek mual dan muntah Saat Hamil Gejala-gejala yang timbul pada saat hamil Mual dan muntah Mudah lelah Rentan infeksi Sembelit Bengkak Gastroeosophagus refluk Kejang

Penatalaksaaan pada saat hamil Untuk mual dan muntah karena akan menyebabkan susah untuk makan, maka diberikan serat dan diberikan bersama minum. Dengan catatan sedikit tapi sering. Untuk sembelit dan ada bengkaknya berikan minum air putih yang banyak, sebanyak 8 gelas/hari. Untuk gejala gastroeosophagus yang dilakukan adalah pengelolaan cara makan dan sering banyak minum air. Untuk kejang yang hipertensi yang dilakukan adalah istirahat, dan hindari emosi yang berlebihan, untuk medikamentosa sendiri berikan obat diazepin dan MgSO4.

BAB IV Tinjauan Pustaka

Patofisiologi Anemia Defisiensi Fe Ny. N makannya hanya sedikit; makan sayur-sayuran, tahu, tempe, dan jarang makan daging maupun susu

Kurangnya asupan makanan pada ny. N

Kurangnya produksi sel darah merah karena kurangnya mengkonsumsi bahan makanan yang mengandung zat gizi, asam folat, vitamin B12,dll

Kekurangan zat besi (Fe) yang diperlukan untuk pembentukan hemoglobin

Anemia kekurangan besi Body Mass Index

Perbandingan kalsifikasi Body mass index (BMI) atau Index Massa Tubuh (IMT) menurut WHO 1998 dengan Asia Pasifik 2000.

Metode yang paling berguna dan banyak digunakan untuk mengukur tingkat massa tubuh adalah BMI (Body Mass Index), yang didapat dengan cara membagi berat badan (kg) dengan kuadrat dari tinggi badan (meter). Nilai BMI yang didapat tidak tergantung pada umur dan jenis kelamin. Rumus : BMI = Berat Badan (kg)

(Tinggi Badan)2 (m2) Keterbatasan BMI adalah tidak dapat digunakan bagi:

Anak-anak yang dalam masa pertumbuhan Wanita hamil Orang yang sangat berotot, contohnya atlet

BMI dapat digunakan untuk menentukan seberapa besar seseorang dapat terkena resiko penyakit tertentu yang disebabkan karena berat badannya. Seseorang dikatakan obese dan membutuhkan pengobatan bila mempunyai BMI di atas 30, dengan kata lain orang tersebut memiliki kelebihan BB sebanyak 20%. WHO 1998(2)

Asia-Pasifik 2000

Para ahli sedang memikirkan untuk membuat klasifikasi BMI tersendiri untuk penduduk Asia. Hasil studi di Singapura memperlihatkan bahwa orang Singapura dengan BMI 27 28 mempunyai lemak tubuh yang sama dengan orang-orang kulit putih dengan BMI 30. Pada

orang India, peningkatan BMI dari 22

menjadi 24 dapat meningkatkan prevalensi DM

menjadi 2 kali lipat, dan prevalensi ini naik menjadi 3 kali lipat pada orang dengan BMI 28.

Klasifikasi Berat Badan yang diusulkan berdasarkan BMI pada Penduduk Asia Dewasa (IOTF, WHO 2000)

Kategori Underweight Batas Normal Overweight: At Risk Obese I Obese II

BMI (kg/m2) < 18.5 kg/m2 18.5 - 22.9 kg/m2 23 23.0 24.9 kg/m2 25.0 - 29.9kg/m2 > 30.0 kg/m2

Risk of Co-morbidities Rendah (tetapi resiko terhadap masalahmasalah klinis lain meningkat) Rata rata

Meningkat Sedang Berbahaya

Jadwal pemeriksaan kehamilan(3) Pemeriksaan pertama kali yang ideal adalah sedini mungkin ketika haidnya terlambat satu bulan. Periksa ulang 1 X sebulan sampai kehamilan 7 bulan. Periksa ulang 2 X sebulan sampai kehamilan 9 bulan. Periksa ulang setiap minggu sesudah kehamilan 9 bulan. Periksa khusus bila ada keluhan-keluhan.

Gerak badan Kegunaan : Sirkulasi darah menjadi baik, nafsu makan bertambah, pencernaan lebih baik, dan tidur lebih nyenyak. Gerak badan yang melelahkan dilarang. Dianjurkan berjalan-jalan pada pagi hari dalam udara yang masih segar. Gerak badan di tempat: Berdiri jongkok Telentang kaki di angkat Telentang perut diangkat Melatih pernapasan

Antenatal Care

Pemeriksaan trimester I, untuk menghindari cacat atau keguguran janin: 1. Pemeriksaan fisik : umur, KU, TB, BB, tensi 2. Pemeriksaan penunjang : Laboratorium rutin : darah lengkap, urin lengkap

Tujuan pemeriksaan USG pada trimester I : 1. Menentukan ada kehamilan atau tidak 2. Kehamilan intrauterin atau ekstrauterin 3. Menentukan umur kehamilan 4. Kehamilan tunggal atau kembar 5. Apakah janin tumbuh dengan baik 6. Apakah janin mati 7. Apakah ada tanda-tanda abortus 8. Apakah ada kelainan di uterus atau adneksa 9. Apakah ada Nuchal Tranlucency (NT) 10. Apakah ada cacat bawaan janin (kongenital anomali) Pemeriksaan penunjang pada trimester II 1. Pemeriksaan biokimia : AFP. Beta HCG, estriol 2. Pemeriksaan karyotiping (pemeriksaan kromosom) 3. Pemeriksaan amniocentesis 4. Pemeriksan USG untuk : Pemeriksaan tumbuh janin Apa ada IUGR/PJT Apakah ada kelainan jantung janin

Pemeriksaan trimester III 1. Memantau kesejahteraan janin 2. Apakah ada plasenta previa 3. Apakah ada solutio plasenta 4. Apakah perlu pemeriksaan seks janin 5. Pemantauan kelainan bawaan yang ditemukan di pemeriksaan trimester II Pemeriksaan Umum Kehamilan(4)

1. Bagaimana keadaan umum penderita, keadaan gizi, kelainan bantuk badan, kesadaran. 2. Adakah anemia, cyanosis, icterus, atau dyspnoe. 3. Keadaan jantung dan paru-paru. 4. Adakah oedem : Oedema dalah kehamilan dapat disebabkan oleh toxemia gravidarum atau oleh tekanan rahim yang membesar pada vena-vena dalam panggul yang mengalirkan darah dari kaki, tetapi juga oleh hypovitaminose B1, hypoproteinaemia dan penyakit jantung. 5. Refleks : terutama refleks lutut. Refleks lutut negatif pada hypovitaminose B1 dan penyakit urat syaraf. 6. Tensi : Tensi pada orang hamil tidak boleh mencapai 140 systolis atau 90 diastolis. Juga perubahan 30 systolis dan 15 diastolis di atas tensi sebelum hamil menandakan toxemia gravidarum. 7. Berat badan : walaupun prognosa kehamilan dan persalinan bagi orang gemuk kurang baik di bandingkan dengan orang yang normal beratnya, dalam menimbang seseorang bukan beratnya saja yang penting, tapi lebih penting lagi perubahan berat setiap kali ibu memeriksakan diri. Berat badan dalam triwulan ke III tidak boleh tambah lebih dari 1 kg seminggu atau 3 kg sebulan. Penambahan yang lebih dari batas-batas tersebut di atas disebabkan oleh penimbunan (retensi) air dan di sebut praoedema. 8. Pemeriksaan Laboratorium Urin : terutama diperiksa atas glukose, zat putih telur dan sedimen. Adanya glukose dalam urine orang hamil harus dianggap sebagai gejala penyakit diabetes kecuali kalau kita dapat membuktikan bahwa hal-hal lain yang menyebabkannya. Dalam akhir kehamilan dan dalam nifas reaksi reduksi dapat menjadi positif adanya laktose dalam air kencing. Zat putih telur positsf dalam air kencing pada nefritis, toxemia gravidarum dan radang dari saluran kencing.

Darah : dari darah perlu ditentukan Hb, sekali 3 bulan karena pada orang hamil sering timbul anemia karena defisiensi Fe. Selanjutnya perlu di periksa reaksi serologis (WR) dan golongan darah. Juga pemeriksaan kadar gula darah. Reaksi Wasserman positif dan lues, tetapi juga pada fraimboesia. Golongan darah ditentukan supaya kita cepat dapat mencairkan darah yang cocok jika penderita memerlukannya. Kalau ibu golongan O maka mungkin timbul ABO antagonisme.

Faeces diperiksa atas telur-telur cacing.

Kebutuhan Gizi Ibu Hamil (5)

Seorang ibu hamil memiliki kebutuhan gizi khusus. Beberapa kebutuhan gizi ibu hamil dapat ditutupi oleh makanan sehat yang seimbang. Selain pilihan makanan sehat, pada saat kehamilan dibutuhkan vitamin. Idealnya adalah tiga bulan sebelum kehamilan. Hal ini dapat membantu mendapatkan gizi yang dibutuhkan. Namun, terkadang diperlukan tambahan makanan, bahkan suplemen sesuai kebutuhan.

Berikut adalah beberapa syarat makanan sehat bagi ibu hamil :

Menyediakan energi yang cukup (kalori) untuk kebutuhan kesehatan tubuh anda dan pertumbuhan bayi

Menyediakan semua kebutuhan ibu dan bayi (meliputi protein, lemak, vitamin, mineral)

Dapat menghindarkan pengaruh negatif bagi bayi Mendukung metabolisme tubuh ibu dalam memelihara berat badan sehat, kadar gula darah, dan tekanan darah.

1. Kalori (Energi) Seorang wanita selama kehamilan memiliki kebutuhan energi yang meningkat. Energi ini digunakan untuk pertumbuhan janin, pembentukan plasenta, pembuluh darah, dan jaringan yang baru. Selain itu, tambahan kalori dibutuhkan sebagai tenaga untuk proses metabolisme jaringan baru. Namun dengan adanya pertambahan kebutuhan kalori ini tidak lantas menjadikan anda terlalu banyak makan. Tubuh anda memerlukan sekitar 80.000 tambahan kalori pada kehamilan. Dari jumlah tersebut, berarti setiap harinya sekitar 300 tambahan kalori dibutuhkan ibu hamil. Memang cukup sulit untuk mengetahui berapa kalori yang telah dikonsumsi setiap harinya. Untuk jangka pendek, gunakanlah rasa lapar anda sebagai panduan kebutuhan kalori. Monitorlah berat badan anda untuk membantu menilai apakah anda mengkonsumsi makanan sejumlah kalori yang tepat. Mungkin saja anda membutuhkan bantuan dokter ataupun ahli gizi untuk membantu anda dalam mencukupi kebutuhan kalori selama kehamilan.

2. Protein Seorang wanita selama kehamilan membutuhkan protein lebih banyak selama kehamilan dibandingkan waktu-waktu lain di seluruh hidup anda. Hal ini dikarenakan protein diperlukan untuk pertumbuhan jaringan pada janin. Ibu hamil membutuhkan sekitar 75 gram protein setiap harinya, lebih banyak 25 gram dibandingkan yang lain. Menambahkan protein ke dalam makanan merupakan cara yang efektif untuk menambah kalori sekaligus memenuhi kebutuhan protein. Produk hewani seperti daging, ikan, telur, susu, keju, dan hasil laut merupakan sumber protein. Selain itu protein juga bisa didapat dari tumbuh-tumbuhan seperti kacang-kacangan, biji-bijian, tempe, tahu, oncom, dan lainnya. 3. Folat (Asam Folat) Folat merupakan vitamin B yang memegang peranan penting dalam perkembangan embrio. Folat juga membantu mencegah neural tube defect, yaitu cacat pada otak dan tulang belakang. Kekurangan folat juga dapat meningkatkan kehamilan kurang umur (prematur), bayi dengan berat badan lahir rendah (bayi berat lahir rendah/BBLR), dan pertumbuhan janin yang kurang. Sebenarnya, asam folat sangat diperlukan terutama sebelum kehamilan dan pada awal kehamilan. Namun, ibu hamil tetap harus melanjutkan konsumsi folat. 600 mg folat disarankan untuk ibu hamil. Folat dapat didapatkan dari suplementasi asam folat. Sayuran berwarna hijau (seperti bayam, asparagus), jus jeruk, buncis, kacang-kacangan dan roti gandum merupakan sumber alami yang mengandung folat. 4. Zat Besi Zat besi dibutuhkan untuk memproduksi hemoglobin, yaitu protein di sel darah merah yang berperan membawa oksigen ke jaringan tubuh. Selama kehamilan, volume darah bertambah untuk menampung perubahan pada tubuh ibu dan pasokan darah bayi. Hal ini menyebabkan kebutuhan zat besi bertambah sekitar dua kali lipat. Jika kebutuhan zat besi tidak tercukupi, ibu hamil akan mudah lelah dan rentan infeksi. Risiko melahirkan bayi tidak cukup umur dan bayi dengan berat badan lahir rendah juga lebih tinggi. Kebutuhan zat besi bagi ibu hamil yaitu sekitar 27 mg sehari. Selain dari suplemen, zat besi bisa didapatkan secara alami dari daging merah, ikan, unggas, sereal sarapan yang telah difortifikasi zat besi, dan kacang-kacangan.

5. Zinc (Seng) Dari beberapa studi dilaporkan bahwa ibu hamil yang memiliki kadar zar seng rendah dalam makanannya berisiko melahirkan prematur dan melahirkan bayi dengan berat lahir rendah. Sedangkan uji klinis suplementasi zat seng tidak didapatkan kejelasan mengenai keuntungan mengkonsumsi seng dalam jumlah yang lebih tinggi. Namun mengkonsumsi zat seng dalam jumlah cukup bagi merupakan langkah antisipatif yang dapat dilakukan. Zat seng dapat ditemukan secara alami pada daging merah, gandum utuh, kacang-kacangan, polong-polongan, dan beberapa sereal sarapan yang telah difortifikasi. Pada umumnya, wanita tidak membutuhkan tambahan suplemen. Namun anda dapat mengkonsumsi suplemen (sekitar 25 mg zat seng sehari) jika anda dalam kondisi yang kurang sehat. 6. Kalsium Janin mengumpulkan kalsium dari ibunya sekitar 25 sampai 30 mg sehari. Paling banyak ketika trimester ketiga kehamilan. Ibu hamil dan bayi membutuhkan kalsium untuk menguatkan tulang dan gigi. Selain itu, kalsium juga digunakan untuk membantu pembuluh darah berkontraksi dan berdilatasi. Kalsium juga diperlukan untuk mengantarkan sinyal saraf, kontraksi otot, dan sekresi hormon. Jika kebutuhan kalsium tidak tercukupi dari makanan, kalsium yang dibutuhkan bayi akan diambil dari tulang ibu. Kebutuhan kalsium ibu hamil adalah sekitar 1000 mg per hari. Sumber kalsium dari makanan diantaranya produk susu seperti susu, keju, yogurt. Selain itu ikan teri juga merupakan sumber kalsium yang baik. 7. Vitamin C Vitamin C yang dibutuhkan janin tergantung dari asupan makanan ibunya. Vitamin C merupakan antioksidan yang melindungi jaringan dari kerusakan dan dibutuhkan untuk membentuk kolagen dan menghantarkan sinyal kimia di otak. Wanita hamil setiap harinya disarankan mengkonsumsi 85 mg vitamin C per hari. Anda dapat dengan mudah mendapatkan vitamin C dari makanan seperti tomat, jeruk, strawberry, jambu biji, dan brokoli. Makanan yang kaya vitamin C juga membantu penyerapan zat besi dalam tubuh. 8. Vitamin A

Vitamin A memegang peranan penting dalam fungsi tubuh, termasuk fungsi penglihatan, imunitas, serta pertumbuhan dan perkembangan embrio. Kekurangan vitamin A dapat mengakibatkan kelahiran prematur dan bayi berat lahir rendah. Vitamin A dapat ditemukan pada buah-buahan dan sayuran berwarna hijau atau kuning, mentega, susu, kuning telur, dan lainnya.

Angka Kecukupan Gizi Dewasa normal (tidak hamil) 1900 Ibu Hamil Trimester 1: +180 Trimester 2: +300 Trimester 3: +300 +17 +300 +0 +0 +0 +10 +0,3 +0,3 +4 +200 Ibu menyusui 6 bulan pertama: +500 6 bulan ke2: +550 +17 +350 +0 +4 +0 +45 +0,3 +0,4 +3 +100

Energi (kkal/hari)

Protein (gr/hari) VitaminA (uRE/hari) Vitamin D (ug/ hari) Vitamin E (mg/hari) Vitamin K (ug/ hari) Vitamin C (mg/ hari) Tiamin (mg/ hari) Riboflavin (mg/ hari) Niasin(mg/ hari) Asam folat (ug/ hari)

50 500 5 15 55 75 1 1,1 14 400

Piridoksin Vitamin B12 Ca (mg/ hari) Fe (mg/ hari) Zn (mg/ hari)

1,3 2,4 800 26 9,3-9,8

+0,4 +0,2 +150 +0 Trimester 1: +1,7 Trimester 2: +4,2 Trimester 3: +9,8 +0 +30 +50 +1,7 +5 +0,2 +0,2

+0,5 +0,4 +150 +6 4,6

Fosfor (mg/ hari) Mg (mg/ hari) Yodium (ug/ hari) Seng (mg/ hari) Selenium (ug/ hari) Mangan (mg/ hari) Flour (mg/ hari)

600 240 150 9,3 30 1,8 2,5

+0 +30 +50 +4,6 +10 +0,8 +0,2

ASI Eksklusif (6)

ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa pemberian makanan lain selama 6 bulan pertama. Sehingga pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita sebagian besar ditentukan oleh jumlah ASI yang diperoleh, termasuk energi dan zat gizi lainnya yang terkandung dalam ASI tersebut.

Upaya ibu untuk memberikan ASI eksklusif pada kehamilan ke 2 adalah dengan memperbaiki asupan gizinya sehingga dapat memberikan kualitas dan kuantitas yang terbaik anaknya dan menghindari kurang gizi pada ibu dan anaknya.

Olahraga yang dilakukan pada ibu hamil dapat membantu bumil menjaga kebugaran tubuh dan mengurangi rasa sakit dimasa kehamilan. Beberapa contoh olahraga yang dianjurkan selama masa kehamilan : 1. Jalan santai Salah satu olahraga kardiovaskuler yang dianjurkan untuk wanita hamil. Jalan antai membantu menjaga kebugaran tubuh tanpa harus memperoleh rasa sakit pada lutut dan pergelangan kaki, ini sangat mudah dilakukan hamper dimana saja serta aman pada masa-masa kehamilan 2. Renang

Berenang sangat ideal karena melibatkan otot-otot besar pada tangan dan kaki, memberikan sensasi yang lebih ringan walaupun berat tubuh bertambah karena kehamilan. 3. Stretching Stretching atau peregangan sangat bagus dilakukan untuk melemaskan otot-otot pada tubuh, relaksasi dan mencegah ketegangan oto yang mengakibatkan rasa sakit, pegal, dan nyeri otot.

Wanita hamil yang meluangkan waktunya untuk berolahraga selama masa kehamilan biasanya lebih baik, lebih merasa nyaman dan santai selama menjalani masa kehamilan, serta mempunyai stamina yang lebih dan lebih cepat dalam proses penyembuhan persalinan.

IUD (Intra-Uterine Device)

IUD adalah alat yang dimasukkan ke dalam uterus untuk mencegah terjadinya fertilisasi antara sperma dan ovum. Ada 2 tipe IUD, yaitu : Mirena IUD ini menggunakan hormon progesterone sintetik sehingga dapat menyebabkan berhentinya mentruasi dan adanya efek hormon seperti perubahan mood. ParaGard IUD ini tidak menggunakan hormone, sehingga tidak terjadi efek hormon seperti perubahan mood.

BAB V Kesimpulan

Pada kasus ini, Ny.N agar hamil kembali dengan berat badan bayi normal dan sehat, yang pertama kali harus dilakukan adalah melepas IUD yang digunakan Ny.N agar dapat hamil kembali, setelah itu untuk menjaga kesehatan Ny.N dan janinnya kelak adalah dengan mengkonsumsi makanan-makanan yang mengandung zat-zat yang diperlukan oleh Ny.N dan janinnya agar janin berkembang dengan baik dan berat badan lahir normal.

Daftar Pustaka

1. Scribd. Anemia Defisiensi Besi. Available at: http://www.scribd.com/doc/36459367/AnemiaDefisiensi-Besi. Accessed on April 2, 2011.

2. WHO. BMI. Available at : http://www.who.int/bmi/index.jsp?introPage=intro_3.html. Accessed on April 2, 2011. 3. Mochtar R. Sinopsis Obstetri. 2nd ed . Jakarta: EGC; 1998; p. 8, 61, 403.

4. Medical Journal. Pemeriksaan Umum Pada Kehamilan. Available at: http://www.medicaljournal.co.cc/2010/06/pemeriksaan-umum-pada-kehamilan.html. Accessed on April 2, 2011.

5. Syafiq A, Setiarini A, Utari DM, Achadi EL, Fatmah, Kusharisupeni. Gizi dan Kesehatan Masyarakat. 1st ed. Jakarta: Rajawali pers; 2009; p.145-46. 6. Feminist Womens Health Center. Intrauterine Device.

Available

at

http://www.fwhc.org/birth-control/iudinfo.htm. Accessed on April 2, 2011.