Anda di halaman 1dari 46

LAPORAN PRAKTIK PERADILAN PROGRAM STUDI AHWAL SYAKHSHIYYAH JURUSAN SYARIAH FAI UNISSULA SEMARANG Lokasi : Pengadilan Agama

Demak Kelas 1 B Jalan Sultan Trenggono No. 23 Demak

Oleh : Nama : 1. M. Khusnul Maroom 2. M. Asad Awaludin 3. M. Faizal cholid 4. Minhatul Maula 5. Maimunah 6. Siti Maria Ulfah 7. Maslakhah NIM : 05.210.2353 05.210.2352 05.210.2354 05.210.2360 05.210.2357 05.210.2375 05.210.2358

PEMBIMBING 1. Drs. Yasin Arief S, S.H. M.H 2. Drs. Yasin Asy`arie S.H. M.H

PROGRAM STUDI AHWAL SYAKHSHIYYAH JURUSAN SYARIAH FAI UNISSULA SEMARANG 2013

HALAMAN PENGESAHAN LAPORAN AKHIR PRAKTIK PERADILAN Bismillahirrahmanirrahim Setelah memberikan pengarahan, koreksi dan perbaikan seperlunya atas Laporan Akhir Praktik Peradilan dari mahasiswa, atas nama : 1. M. Khusnul Maroom (05.210.2353) 2. M. Asad Awaludin 3. M. Faizal cholid (05.210.2354) 4. Minhatul Maula 5. Maimunah (05.210.2357) 6. Siti Maria Ulfah 7. Maslakhah (05.210.2358) Lokasi : Pengadilan Agama Demak Kelas 1 B Jalan Sultan Trenggono No.23 Demak Laporan ini sudah memenuhi syarat dan sesuai dengan pelaksanaan tugas Praktik Peradilan mahasiswa yang bersangkutan sehingga dapat diajukan sebagai tugas akhir Praktik Peradilan. Demikian pengesahan ini dibuat untuk dapat dipergunakan sebagaimana mestinya. Wassalamualaikum,wr. wb. Semarang, 5 September 2013 Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II (05.210.2352) (05.210.2360) (05.210.2375)

Drs. Yasin Arief S, SH

Drs. A. Yasin Asy`ari S.H M.Si Mengetahui, Dekan Fakultas Agama Islam

Sarjuni, S.Ag, M.Hum

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr. wb. Ucapan rasa syukur berupa lantunan kalimat alhamdulillah tak hentihentinya kami tim penyusun panjatkan kepada Allah SWT atas segala limpahan nikmat, kasih sayang dan karunia-Nya, serta bimbingan-Nya, sehingga tim penyusun dapat menyelesaikan laporan Praktik Peradilan ini yang dilaksanakan di Pengadilan Agama Demak. Mengacu pada landasan pelaksanaan kegiatan Praktik Pengalaman Lapangan atau biasa disingkat menjadi PPL saja yang dilaksanakan oleh mahasiswa Program Studi Ahwal Syakhshiyyah Jurusan Syariah FAI Unissula Semarang, yaitu UU No. 2 Tahun 1989 yang diperbaharui dengan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional, Peraturan Pemerintah No. 60 Tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi dan PP ini pun telah tidak berlaku lagi karena terbitnya PP No 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan. Orientasi dari Sisdiknas sistim pendidikan nasional (UU No 20 Tahun 2003) adalah agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Dalam hal ini, keterampilan yang dibutuhkan oleh mahasiswa Ahwal Syakhshiyyah ialah penguasaan mengenai hukum perdata Islam, hal ini diwujudkan dengan praktik pengalaman lapangan di lembaga-

lembaga yang berkaitan dengan kompetensi mahasiswa tersebut, dan yang dijadikan sebagai tempat asah kemampuan mahasiswa Syariah Unissula adalah Pengadilan Agama Demak yang mana tujuan dari kegiatan ini adalah membekali mahasiswa sesuai dengan kompetensinya dan sebagai evaluasi materi bagi mahasiswa-mahasiswa yang bersangkutan. Beberapa hal penting di ataslah yang ingin dicapai sebuah proses yang bernama pendidikan menurut UU Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003. Undangundang sistem pendidikan nasional ini disahkan oleh DPR dan Presiden pada 11 Juni 2003. Undang-undang ini merupakan pengganti dari UU Sisdiknas Nomor 2 Tahun 1989. Undang-undang ini juga merupakan pengejawantahan dari salah satu tuntutan reformasi yang marak sejak 1998. Berangkat dari UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 tersebut, diharapkan sistem pendidikan di Indonesia dapat membebaskan para peserta didiknya dari segala aspek yang membuatnya tertinggal dalam persaingan kehidupan yang kian ketat ini. Tidak hanya untuk masyarakat kota saja, akan tetapi juga bagi seluruh rakyat Indonesia hingga ke pelosok desa. Sebab, pendidikan adalah hak bagi setiap manusia, atau lebih khusus lagi, pendidikan adalah hak setiap warga negara Republik Indonesia. Dalam pelaksanaannya, pendidikan yang membebaskan bagi rakyat Indonesia memang menjadi tanggung jawab dan kewajiban negara. Hal ini sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945. Disebutkan dalam UUD 45 (amandemen), pasal 31, ayat 3, bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Dan, pasal 31, ayat

5, menyebutkan bahwa pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia. Meskipun demikian, setiap bagian dari warga negara Indonesia juga tidak dilarang bila turut serta dalam menyukseskan pendidikan yang membebaskan di Indonesia. Justru hal ini sangat diharapkan agar proses pendidikan di Indonesia dapat berjalan dengan lebih baik. Di sinilah sesungguhnya kita semua dapat mengambil peran untuk turut serta menyukseskan pendidikan di Indonesia. Seluruh komponen masayarakat semestinya ikut mengambil peran dalam menyukseskan Pendidikan Indonesia. Dalam wilayah yang paling kecil, sudah barang tentu setiap keluarga yang tinggal di wilayah Indonesia dapat mengambil peran ini. Justru berangkat dari keluarga yang mendukung pendidikanlah proses pendidikan secara nasional dapat berhasil. Sebagus apa pun pendidikan yang digerakkan oleh negara bila tidak didukung oleh keluarga-keluarga yang ada di Indonesia maka akan sulit mencapai keberhasilan. Dengan dukungan dari seluruh keluarga yang ada di Indonesia, semoga tujuan utama pendidikan yang ada dalam UU Sisdiknas sebagaimana di atas dapat tercapai dengan baik. Dalam proses penyusunan laporan ini tidaklah terlepas dari kendala dan hambatan, namun berkat bimbingan dan dorongan semua pihak yang telah membantu, tim penyusun dapat menyelesaikan laporan ini. Namun demikian, tim penyusun masih merasa dan yakin bahwa dalam laporan ini masih terdapat banyak kekurangan dan kesalahan sehingga bimbingan dan dorongan yang diberikan kepada tim penyusun sangatlah berarti. Oleh karena itu, tim penyusun

ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada yang terhormat : 1. Bapak Sarjuni, S.Ag. M.Hum, selaku Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang. 2. Bapak Drs. A. Yasin Asy'ari S.H. M.Si, selaku Dosen Pembimbing Lapangan. 3. Bapak Drs. Yasin Arief S, S.H. M.H, selaku Wakil Dekan II FAI Unissula yang selalu mengarahkan kegiatan dari awal hingga akhir. 4. Bapak Drs. Ali Irfan, S.H. M.H dan Bapak Drs. H. Nur Salim, S.H. M.H selaku Hakim Pengadilan Agama Demak dan Pembimbing Lapangan kami di Pengadilan Agama Demak. 5. Bapak Drs. H. Sudarmadi, S.H selaku Kepala Pengadilan Agama Demak. 6. Segenap jajaran Hakim Pengadilan Agama Demak yang senantiasa memberi kami arahan-arahan serta semangat. 7. Mas Faried yang selalu mensupport kami dan selalu menyuruh kami untuk mencari data-data di Pengadilan Agama Demak untuk pembuatan tugas ini. 8. Ibu Asrurotun, S.Ag yang dengan sabar memberikan contoh-contoh gugatan. 9. Segenap Staf dan Karyawan Pengadilan Agama Demak. 10. Semua pihak yang telah membantu baik secara langsung maupun tidak langsung yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu.

Tim penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu, tim penyusun mengharapkan saran dan kritik dari pembaca demi kesempurnaan laporan ini. Namun, andai ada secercah kebenaran di dalamnya tim penyusun mohon supaya dapat dijadikan pegangan, akan tetapi jika terdapat kesalahan tim penyusun janganlah untuk diambil hati. Tim penyusun haturkan maaf sebesar-besarnya. Akhirnya tim penyusun berharap laporan ini dapat membawa manfaat bagi kita semua, Amin.

Wassalamualaikum,wr. wb.

Semarang, 5 September 2013

Tim Penyusun

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL .................................................................................. HALAMAN PENGESAHAN ..................................................................... KATA PENGANTAR ................................................................................ DAFTAR ISI ............................................................................................... BAB I PENDAHULUAN ........................................................................... A. Latar Belakang ....................................................................................... B. Rencana Kegiatan ................................................................................... C. Tujuan dan Manfaat kegiatan ................................................................. D. Metode Kegiatan .................................................................................... E. Sistimatika Laporan ................................................................................ BAB II GAMBARAN UMUM PA DEMAK ............................................. A. Profil PA Demak .................................................................................... B. Visi dan Misi PA Demak ........................................................................ C. Struktur Organisasi ................................................................................. D. Tugas dan Wewenang ............................................................................ BAB III PELAKSANAAN KEGIATAN ................................................... A. Bentuk Kegiatan ..................................................................................... B. Waktu Pelaksanaan ................................................................................. C. Analisis ................................................................................................... BAB IV PENUTUP .................................................................................... A. Kesimpulan ................................................................................. B. Saran/Rekomendasi ....................................................................

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Kegiatan Persaingan pada dunia kerja semakin keras dan ketat, dimana yang tidak mempunyai kompetensi di bidangnya maka akan kalah dan tersingkirkan. Guna mengatasi masalah ini FAI Unissula menyelenggarakan kegiatan Praktik Pengalaman Lapangan di lingkungan Pengadilan Agama Demak. Hal ini sangat erat kaitannya dengan kompetensi Progam Studi Ahwal Syakhshiyah. Karena, kompetensi Ahwal Syakhshiyyah diantaranya ialah memahami persoalanpersoalan mengenai hukum perdata Islam yangmana telah diatur oleh UU No. 3 Tahun 2006 yaitu masalah pernikahan, wakaf, zakat, waris, shadaqah, infaq, wasiat, dan ekonomi syariah. Kegiatan PPL di PA Demak ini menyalurkan ilmu pengetahuan secara faktuil bagaimana menangani masalah-masalah tersebut. Selain itu, UU No. 3 Tahun 2006 juga mengisyaratkan bahwa alumnus Jurusan Syariah bisa menjadi hakim di lingkungan Pengadilan Agama. Harapan di atas dapat dicapai dengan mengasah kemampuan mahasiswa dalam bidang pengadilan. Oleh karena itu, praktik ini sangat mendukung tercapainya hal tersebut. Tidak hanya melihat, mengamati, namun mahasiswa pun melakukan simulasi dengan didampingi para hakim yang membimbing di PA Demak selama PPL dilaksanakan. Simulasi ditujukan untuk menjadikan mahasiswa lebih mendalami dan menguasai hukum acara di PA secara teori

maupun secara praktik. Untuk memenuhi harapan atau cita-cita sesuai kompetensi di atas, maka diperlukan kurikulum yang berorientasi pada kompetensi dan pemberian pengalaman yang nyata di lapangan. Melalui Praktik Pengalaman Lapangan di Pengadilan Agama akan membentuk mahasiswa yang memiliki kapasitas tinggi di bidangnya, baik pada tataran pengetahuan dan teori maupun praktiknya di lapangan. PPL yang merupakan kegiatan intrakurikuler berupa pelatihan lapangan dilaksanakan oleh mahasiswa Program Studi Ahwal Syakhshiyyah Jurusan Syariah FAI Unissula Semarang guna mengimplementasikan fungsi pemikiran dan pengembangan yang didapat dari teori dengan kondisi yang sesungguhnya di lembaga peradilan dan masyarakat pencari keadilan dalam hal ini dilaksanakan di Pengadilan Agama Demak. Perpaduan antara teori dan praktik sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang No.20 Tahun 2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional. Adapun landasan pelaksanaan Praktik Peradilan bagi mahasiswa Program Studi Ahwal Syakhsiyah jurusan Syariah FAI Unissula Semarang, antara lain, 1. UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 2. Peraturan Pemerintah No. 17 Tahun 2010 tentang Pendidikan Tinggi. 3. Keputusan Dekan FAI Unissula tentang Praktik Peradilan pada Program Studi Ahwal Syakhsiyyah Jurusan Syariah FAI Unissula Semarang.

10

Dengan demikian kegiatan PPL ini akan memberi umpan balik dalam peningkatan kualitas penyelenggaraan pendidikan, penyempurnaan kurikulum dan silabi bagi perguruan tinggi, khususnya program studi Ahwal Syakhshiyyah jurusan Syariah Fakultas Agama Islam Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang. B. Rencana Kegiatan Sebagaimana halnya dalam pelaksanaan suau kegiatan maka rancangan tentang kegiatan tersebut menjadi hal yang mutlak harus ada. Hal ini bertujuan guna mengarahkan dan memfokuskan kegiatan tersebut supaya tetap pada jalurnya dan mencapai tujuannya. Setiap mahasiswa haruslah mengerti secara keseluruhan tahapan-tahapan dari rencana kegiatan ini. Mengapa demikian ? karena supaya mahasiswa dapat memaksimalkan hasil dari kegiatan tersebut. Adapun rencana kegiatan yang berkaitan dengan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) ini meliputi : 1. Pendaftaran Sebelum melaksanakan Praktik Pengalaman Lapangan, para mahasiswa peserta harus memenuhi beberapa persyaratan, di

antaranya : sudah mengambil mata kuliah hukum acara perdata, HPII, waris di Indonesia, hukum perdata I dan II, hukum zakat wakaf di Indonesia. Hal tersebut dibuktikan dengan KHS calon peserta PPL. Kemudian membayar registrasi di Bank Jateng Syariah sebesar Rp. 250.000,- dan dikembalikan ke mahasiswa sebesar Rp. 40.000,- untuk biaya transport.

11

2.

Pembekalan Sebelum mahasiswa peserta Praktik Peradilan mengikuti kegiatan Praktik Peradilan di lapangan terlebih dahulu harus mengikuti kegiatan pembekalan dengan tempat dan waktu yang ditetapkan oleh panitia pelaksana. Dalam pembekalan ini ada beberapa ketentuan yang seharusnya dapat dicapai oleh peserta PPL, diantaranya : a. Tujuan 1. Mennyiapkan secara fisik dan knsepsional serta sarana pendukung bagi mahasiswa peserta PPL. 2. Memberikan tambahan wawasan dan pengetahuan

mengenai hal-hal yang terkait dengan kegiatan PPL. b. 1. Materi dan metode Materi yang diberikan dalam kegiatan pembekalan ini adalah hakikat kegiatan PPL bagi mahasiswa Ahwal Syakhshiyyah FAI Unissula, pengenalan lembaga atau tempat kegiatan PPL dilaksanakan, rencana dan

pelaksanaan program, penyusunan laporan dan penilaian. 2. Metode yang digunakan untuk kegiatan pembekalan adalah metode ceramah dan tanya jawab serta metode lain yang relevan. c. Tata tertib pembekalan

12

Setiap mahasiswa peserta PPL wajib mengikuti pembekalan secara intens (kehadiran, ketekunan,

keseriusan dan kesopanan). Sedang bagi mahasiswa yang tidak mengikuti kegiatan pembekalan ini dinyatakan gugur sebagai peserta PPL. d. Ujian Ujian pembekalan atau teori diadakan oleh panitia pelaksana sesudah kegiatan pembekalan selesai.

Mahasiswa PPL yang tidak mengikuti ujian pembekalan atau teori pada waktu yang telah ditetapkan dan tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan, tidak ada kesempatan mengikuti ujian susulan dan karena yang bersangkutan tidak mempunyai nilai pembekalan yang merupakan salah satu komponen penilaian. 3. Pelaksanaan

a. Penempatan mahasiswa peserta PPL 1. Penempatan mahasiswa peserta PPL di lembaga peradilan yang telah ditunjuk dilakukan secara serentak oleh panitia pelaksana. 2. Mahasiswa peserta PPL diserahkan oleh panitia pelaksana atau dosen pembimbing PPL kepada lembaga peradilan tempat kegiatan praktik berlangsung. b. Pelaksanaan kegiatan

13

Pelaksanaan kegiatan PPL dibimbing oleh hakim dan dosen pembimbing yang telah ditetapkan oleh ketua jurusan.

c.

Tata tertib dan sanksi Sebagaimana semestinya suatu agenda kegiatan pasti ada yang namanya tata tertib dan sanksinya. Diantara tata tertib dan sanksi PPL ini adalah : 1. Wajib penuh tangggung jawab. 2. almameter. 3. Wajib menyesuaikan diri dengan tata tertib dan ketentuan yang berlaku di lembaga atau tempat PPL. 4. Wajib mengikuti semua rangkaian kegiatan PPL di lembaga yang telah ditentukan. 5. Dalam hal tidak dapat mengikuti agenda PPL sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan, maka yang bersangkutan wajib mengganti (ikut kelompok lain), sebelum dan sesudahnya harus melapor kepada hakim pembimbing dan dosen pembimbing. Apabila mahasiswa peserta PPL tidak mentaati sebgaian atau seluruh tata tertib yang telah ditentukan maka yang bersangkutan akan dikenai sanksi. Sanksi yang diberikan dapat berupa Wajib memlihara akhlak dan citra melaksanakan kegiatan dengan

14

pengurangan nilai atau pembatalan keikutsertaannya dalam kegiatan PPL. d. Penarikan mahasiswa peserta PPL Setelah kegiatan PPL selesai, seluruh mahasiswa peserta PPL akan ditarik kembali ke jurusan lagi oleh panitia pelaksana atau dosen pembimbing PPL. 4. Monitoring Monitoring adalah kegiatan memantau, mengawasi, mengarahkan dan membantu mahasiswa peserta PPL memecahkan masalah-masalah yang dihadapi di lapangan agar kegiatan PPL dapat terarah dan berjalan sesuai dengan rencana. Monitoring dilakukan pada waktu pelaksanaan kegiatan di lapangan. Sedangkan mekanisme monitoring ialah dosen pembimbing mendatangi langsung lokasi atau lembaga tempat PPL untuk mengadakan wawancara dan mendiskusikan masalah-masalah yang timbul dalam pelaksanaan praktik pengalaman lapangan untuk dicarikan jalan keluar. Dosen pembimbing juga meminta peserta PPL untuk memberikan laporan berkala tentang hasil-hasil yang telah diperoleh di lapangan. 5. Pelaporan Adapun hal-hal yang berkaitan dengan penyusunan laporan kegiatan PPL adalah sebagai berikut : a. Penulisan laporan PPL bersifat wajib. Laporan ini dibebankan kepada kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari

15

7-8 mahasiswa peserta PPL. Penulisan pelaporan ini terdiri dari 4 bab yang meliputi pendahuluan, gambaran umum tempat atau lembaga PPL, pelaksanaan kegiatan, dan penutup. b. Laporan diketik pada kertas HVS kwaro 70 gram dengan jarak 2 (dua) spasi dengan ukuran font 12 Times News Roman, dijilid dengan sampul berwarna hitam. c. Laporan harus disahkan oleh lembaga tempat PPL dan dosen pembimbing PPL. d. Laporan dibuat rangkap 2 (dua) eksemplar dan diserahkan paling lambat 2 (dua) hari sebelum ujian praktik. C. Tujuan dan Manfaat Kegiatan Kegiatan Praktik Peradilan dengan didasarkan kepada kompetensi yang mengarahkan mahasiswa untuk mempunyai pengetahuan dan keahlian profesi sesuai dengan kompetensi yang digariskan oleh program studi memiliki tujuan antara lain : 1. 2. 3. 4. Mengetahui administrasi lembaga peradilan Mengetahui rekes perkara Mengetahui proses persidangan Melaksanakan persidangan semu

Adapun manfaat dari pelaksanaan kegitan Praktik Peradilan ini, diharapkan mahasiswa dapat memperoleh manfaat berupa pengalaman nyata dilapangn sebagai wahana terbentuknya tenaga profesional yang memiliki seperangkat pengetahuan, ketrampilan serta sikap dan nilai yang diperlukan

16

oleh tugas profesinya sebagaimana digariskan dalam kompetensi program studi.

D.

Metode Kegiatan Dalam Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) yang dilaksanakan di Pengadilan Agama Demak menggunakan beberapa metode, sebagai berikut : 1. Pengamatan Lapangan Dilakukan dengan mengamati dan menyaksikan secara langsung semua proses kegiatan yang dilakukan oleh Pengadilan Agama Demak. Sebelum mengamati kegiatan yang ada di Pengadilan Agama Demak mahasiswa dibagi menjadi sub kelompok-sub kelompok kecil yang terdiri dari 7-8 mahasiswa. Hal ini bertujuan untuk mengoptimalkan pemahaman mahasiswa. Selain itu, hal ini juga dimaksudkan untuk meminimalkan jumlah mahasiswa yang ditempatkan di setiap tempatnya, yaitu ruang sidang 1, ruang sidang 2 dan kepaniteraan serta ruangan kesekretariatan. Ruang kepaniteraan mendapatkan giliran pertama dalam undian tempat yang akan kami tempati. Undian ini dibuat sendiri oleh para mahasiswa sendiri. Di dalam ruang kepaniteraan mahasiswa melakukan pengamatan terlebih dahulu sebelum menangani perkara yang masuk. Mulai dari proses apa saja yang harus dilakukan ketika ada perkara yang masuk. Namun, tidak semua mahasiswa diperbolehkan untuk dapat membantu ketika ada perkara yang masuk. Penugasan tentang

17

kegiatan apa yang dibutuhkan sudah ditentukan dari pihak kepaniteraan. Hal ini disebabkan pekerjaan yang ada di kepaniteraan membutuhkan pengalaman, dan kecermatan, alih-alih ingin membantu akan tetapi hanya menjadi penghambat kinerja staff PA Demak. Oleh karena itu tugas kami hanya ringan saja namun sudah mewakili dari keseluruhan pekerjaan yang terdapat di ruang kepaniteraan. Mengisi laporan dalam buku induk register, membuat format gugatan/permohonan, relaas, instrumen perkara, membuat BAP berkas acara persidangan , bagian kasir dan pekerjaan lainnya menjadi obyek pengamatan kami. Selain melakukan langsung dalam hal pekerjaan-pekerjaan yang ada, kami pun diberi waktu khusus untuk bertanya-tanya mengenai suatu hal yang berkaitan dengan kinerja di ruang kepaniteraan tersebut. Season ini sangat membantu pemahaman kami. Ruangan selanjutnya ialah ruang sidang 1 dan 2. Pengamatan secara langsung di dalam ruang sidang terkait bagaimana proses saat beracara dalam persidangan kami amati dengan seksama. Sampai ucapan-ucapan dari hakim pun kami amati dan pahami dengan serius. Karena hal tersebut sangat penting. Kegiatan lain selain mengamati adalah mencatat persoalan-persoalan yang kurang ataupun tidak dipahami oleh peserta PPL didalam ruang persidangan, mulai bagaimana seorang panitera menyiapkan semua berkas perkara yang akan disidangkan, kemudian mengetahui kode etik hakim saat di ruang

18

sidang, serta bagaimana tata cara bersidang yang baik dan benar kemudian kami tanyakan setelah persidangan selesai. Tempat terakhir menjadi hak bagi ruangan kesekretariatan untuk kami masuki dan kami dalami pekerjaan-pekerjaan seperti apa yang terdapat di dalamnya. Ruangan ini merupakan ruangan yang sedikit porsi pekerjaanya. Karena sudah dikerjakan oleh para pejabat yang ada di bagian tersebut. Selain pekerjaan yang sedikit, ruangan ini juga hanya mengurusi bagian rumah tangga Pengadilan Agama Demak, seperti urusan surat masuk, gaji para pegawai, bantuan hukum dari PA lainnya, dan yang biasa kami bantu dalam ruangan ini adalah mencatat akta cerai. 2. Wawancara atau tanya jawab. Wawancara kepada hakim di luar acara persidangan, pegawai PA, para pihak yang berperkara yang intinya terkait hal-hal proses persidangan. Tanya jawab dilakukan di ruang sidang saat pesidangan telah selesai. Mahasiswa diberi kesempatan oleh majelis hakim untuk bertanya terkait masalah persidangan atau masalah yang terkait dengan keperdataan lainnya. Hal ini tentunya tak disia-siakan oleh para mahasiswa untuk bertanya sebanyak-banyaknya, karena selama ini yang mereka ketahui tentang proses persidangan adalah bagian dari teori. Begitu pula yang dilakukan oleh para mahasiswa peserta PPL yang di luar persidangan, mereka ada yang di ruang kepaniteraan, ruang administrasi/ kesekretriatan juga di ruang mediasi.

19

E.

Sistimatika Laporan Dalam hal membuat kemudahan pada penyusunan laporan ini, tim penyusun membagi menjadi 4 (empat) bab yang mana di dalam bab-bab tersebut terdiri dari sub bab-sub bab tertentu pula. Gambaran sistimatika laporannya ialah sebagai berikut : BAB I Bab ini biasa disebut sebagai PENDAHULUAN, yang meliputi: Latar Belakang Kegiatan, Rencana Kegiatan, Tujuan dan Manfaat Kegiatan, Metode Kegiatan, dan Sistimatika Laporan. BAB II GAMBARAN UMUM LEMBAGA TEMPAT PRAKTIK

PERADILAN, terdiri dari : Profil Pengadilan Agama Demak, Visi dan Misi Pengadilan Agama Demak, Struktur Organisasi, Tugas dan Wewenang. BAB III PELAKSANAAN KEGIATAN, meliputi : Bentuk Kegiatan, Waktu Pelaksanaan, dan Analisis. BAB IV PENUTUP, meliputi : Kesimpulan, Saran/ Rekomendasi

20

BAB II GAMBARAN UMUM PENGADILAN AGAMA DEMAK

A. Profil Pengadilan Agama Demak Pengadilan Agama Demak apabila dirunut ke belakang dengan mengkaji sejarah pemerintahan kerajaan Islam Demak, ternyata ada kesinambungan sejarah peradilan pada masa pemerintahan Kesultanan Demak yang diperintah oleh Raden Fatah (1475-1518) dengan sejarah peradilan agama di Indonesia, pada saat itu Syariat Islam telah diberlakukan dalam sistim peradilan, baik untuk perkara peradta maupun pidana. Pemberkuan Syariat Islam itu dapat dimaklumi mengingat begitu kuatnya pengaruh Islam dalam sistim pemerintahan kerajan Islam, termasuk di Demak, dengan bukti misalnya pemakaian istilah Sultan dengan tambahan Sayyidin Panotogomo Abdurrahman pada raja-raja saat itu. Kerajaan-kerajaan Islam yang sudah berdiri di Indonesia telah melaksanakan Syariat Islam dalam wilayah kekuasaan masing-masing. Kerajaan Islam Pasai yang berdiri di Aceh Utara pada akhir abad ke 13 M, merupakan kerajaan Islam pertama, kemudian diikuti dengan berdirinya

21

kerajaan-kerajaan Islam lainnya, misalnya di Demak, Jepara, Tuban, Gresik, Ngampel dan Banten. Di bagian Timur Indonesia berdiri pula kerajaan Islam, seperti, Tidore, Ternate, dan Makasar. Pada pertengahan abad ke 16, berdiri suatu dinasti baru, yaitu kerajaan Mataram yang memerintah di Jawa telah berhasil menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil di pesisir utara sehingga sangat besar pengaruhnya dalam peenyebaraan Islam. Yuridis Formal Secara yuridis formal, pengadilan agama sebagai suatu Badan Peradilan yang terkait dengan sistim kenegaraan untuk pertama kali lahir di Jawa dan Madura adalah pada tanggal 1 Agustus 1882, yaitu didasarkan suatu keputusan Raja Belanda (Koninklijk Besluit) yakni semasa Raja Willem III tanggal 19 Januari 1882 Nomor 24 yang dimuat dalam Staatsblat 1882 Nomor 152, badan peradilan ini bernama Priesterraden yang kemudian lazim disebut Rapat Agama atau Raad Agama dan kemudian menjadi Pengadilan Agama. Berpijak dari uraian diatas serta informasi dari beberapa sesepuh Pengadilan Agama Demak baik dari mantan pegawai maupun para mantan hakim yang masih hidup yang diwawancarai oleh tiem penyusun sejarah Pengadilan Agama Demak pada tahun 2009, telah diperoleh informasi bahwa Pengadilan Agama Demak sudah berdiri sejak zaman Kolonial Belanda yang dibentuk berdasarkan Staatsblat Tahun 1882 Nomor 152 dan Staatsbalt Tahun 1937 Nomor 116 dan 610, dengan nama Priesterrat (Raad Agama), kemudian

22

berdasarkan Javance Cournt Nomor 25 Tahun 1948 diganti dengan nama Penghulu Serechten, yang diketuai oleh Penghulu Agung Prawiro Soedirdjo. Pergedungan. 1. Awal mula Pengadilan Agama Demak bertempat di Jalan Pemuda (pusat kota) yang letaknya berdekatan dengan Pengadilan Negeri Demak pada saat itu (sekarang Pengadilan Negeri Demak terletak di Jalan Sultan Trengono). 2. Beberapa tahun kemudian Pengadilan Agama Demak pindah, bertempat di pawastren (tempat shalat wanita) yang berada di Masjid Agung Demak bagian samping kanan. 3. Membangun bangunan sendiri di lokasi Masjid Agung Demak, adapun letaknya di sebelah kanan Masjid, saat itu terdiri dari 3 (tiga) ruangan yakni ruang sidang, ruang kerja dan ruang untuk Kantor Urusan Agama. Di samping bangunan Kantor Pengadilan Agama Demak tersebut pada lokasi yang sama tepatnya sebelah kanan depan masjid terdapat bangunan Kantor Kementerian Agama Demak. Bangunan Kantor Pengadilan

Agama Demak itu sekarang dipergunakan sebagai kantor Majlis Ulama Indonesia Kabupaten Demak. 4. Pada Tahun 1975 Pengadilan Agama Demak pindah tempat di Jalan Sultan Fatah Nomor 12 Demak, gedung berdiri diatas tanah PT Kereta Api Indonesia seluas 2.500 M2 dengan kuas bangunan 800 M2. Pembangunan pertama kalinya dilakukan pada tahun anggaran 1975/1976. Kemudian

23

secara bertahap gedung tersebut dikembangkan, pada tahun anggaran 1979/1980 sebesar Rp. 12.500.000,- (dua belas juta lima ratus ribu rupiah) dan Rumah Dinas sebesar Rp. 7.500.000,- (tujuh juta lima ratus ribu rupiah). Setelah mendapatkan status tanah Hak Guna Bangunan, berdasarkan Surat Keputusan Bupati Demak Nomor 18/BKD/VI/1984 tanggal 9 Juni 1984 lalu dilanjutkan dengan anggaran tahun 1986/1986 sebesar Rp. 7.198.000,- (tujuh juta seratus sembilan puluh delapan ribu rupiah) . Pada tahun 2002 bangunan disempurnakan dengan anggaran swadaya sebesar Rp. 73.000.000,- (tujuh juta tiga ratus ribu rupiah). 5. Pada Tahun 2008 Pengadilan Agama Demak mendapatkan dana belanja modal dengan DIPA dari Mahkamah Agung Republik Indonesia untuk membelian tanah seluas 7.546 (tujuh ribu lima ratus empat puluh enam) M2 terletak di Jalan Sultan Trengono Nomor 23 Demak (Jalan Utama Semarang-Demak). 6. Kemudian pada tahun anggaran 2009 mendapatkan anggaran

pembangunan gedung sebesar Rp. 4.090.000.000,- (empat milyard sembilan puluh juta rupiah), yang dimulai peletakan batu pertama tanggal 9 Juli 2009. Gedung berdiri diatas tanah seluas 4.900 M2 dengan bangunan seluas 1.400 M2 dan sisa lahan seluas 2.456 M2 untuk bangunan rumah dinas pimpinan dan sarana lain. Pembanguan gedung dilaksanakan oleh PT Puramas Mahardika Semarang dan diresmikan oleh Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia DR. H. HARIFIN ANDI TUMPA, S.H. pada tanggal 25 Maret 2010. Kemudian diresmikan

24

penempatannya oleh Ketua Pengadilan Tinggi Agama Semarang Drs. H. Chatib Rasyid, S.H. M.H. dan mulai dipergunakan pada tanggal 1 Juni 2010. Sebagai pelayan masyarakat dalam bidang hukum, kini Pengadilan Agama Demak telah melakukan perbaikan-perbaikan pelayanan bagi para pencari keadilan (justisiabel), agar proses berperkara sesuai dengan asas peradilan yang sederhana, cepat dan biaya ringan, yaitu dengan menerapkan Sistem Informasi Administrasi Perkara pada Pengadilan Agama (SIADPA) sejak awal tahun 2007 lalu. Sejalan dengan tuntutan keterbukaan informasi dan peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat, Pengadilan Agama Demak sejak awal Mei 2008 telah berlangganan Telkom Speedy dan sejak awal Juli 2008 telah mengaktifkan situs web di internet dengan sub domain Pengadilan Tinggi Agama Semarang, dengan alamat www.pa-demak.ptasemarang.net. Selain fasilitas diatas Pengadilan Agama Demak yang sekarang dilengkapi ruang sidang I dan II, ruang Ketua, ruang Wakil Ketua, ruang Hakim, ruang Panitera/Sekretaris, ruang kepaniteraan, ruang ATK, ruang arsip dan ruang tunggu sidang I dan II. B. Visi dan Misi Pengadilan Agama Demak Visi :

25

"Terwujudnya putusan yang adil dan berwibawa sehingga kehidupan masyarakat mejadi tenang, tertib dan damai, dibawah lindungan Allah SWT"

Misi: "Menerima, memeriksa, mengadili dan menyelesaikan perkara-perkara yang diajukan oleh umat Islam Indonesia, di bidang perkawinan, waris, wasiat, hibah, wakaf, zakat, infaq, sadaqah dan ekonomi syariah, secara cepat, sederhana dan biaya ringan" C. Struktur Organisasi Guna mendukung dan membangun lembaga PA Demak semakin maju, haruslah didukung oleh struktural yang profesional dalam kinerjanya masingmasing. Struktural organisasi PA Demak diketuai oleh Bpk Sudarmadi, S.H yang dinas pertamanaya di daerah Masohi, maluku tengah. Beliau baru memimpin lembaga ini selama 2 tahun terakhir. Pada masa kepemimpinan beliau inilah PA Demak menempati di gedung baru di jalan Sultan Trenggono No. 12. Beliau mengusung motto Bersih, Berwibawa, Transparan dan Akuntabel. Sebagai hakim yang telah malang melintang di dunia Peradilan Agama di Indonesia beliau tidak diragukan lagi mengenai keilmuannya. Tahun ini PA Demak kehilangan panitera atau sekretarisnya yaitu bapak Kusnadi yang baru saja meninggal dunia. Posisinya tersebut tidak diketahui

26

oleh tim penyusun siapa yang menggantikannya. Struktural organisasi PA Demak selengkapnya sebagai berikut :

27

D. Tugas dan Wewenang Adapun yang berkaitan dengan tugas dan wewnang Peradilan Agama/ Mahkamah Syariah yaitu sebagai berikut: 1. Tugas Peradilan Agama/ Mahkamah Syariah merupakan salah satu pelaksana kekuasaan kehakiman bagi rakyat mencari keadilan yang beragama Islam, mengenai perkara perdata tertentu yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006. Meliputi : perkawinan, waris, wasiat, hibah, wakaf, zakat, infaq, shadaqah dan ekonomi Syariah. 2. Wewenang a. Kewenangan Peradilan Agama meliputi : memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara di tingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam dibidang perkawinan, waris, wasiat, hibah, wakaf, zakat, infaq, shadaqah dan ekonomi Syariah. b. Peradilan Agama/Mahkamah Syariah berwenang memeriksa, mengadili, memutus dan menyelesaikan perkara yang diatur dalam Pasal 49 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 yang telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Peradilan Agama dan perkara bidang ahwalusy alSyakhsiyah (hukum keluarga), muamalah (hukum perdata), jinayah (hukum pidana) yang didasarkan atas Syariat Islam yang

28

diatur dalam Pasal 128 ayat(3) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006. c. Perincian jenis kewenangan Peradilan Agama/Mahkamah

Syariah di bidang ahwalusy al- Syakhsiyah meliputi perkawinan, waris dan wasiat. Di bidang muamalah meliputi jual-beli, sewamenyewa, utang-piutang, wakaf, hibah, zakat, infaq, shadaqah dan hadiah.

29

BAB III PELAKSANAAN KEGIATAN A. Bentuk Kegiatan Bentuk kegiatan selama Praktik Pengalaman Lapangan di Pengadilan Agama Demak meliputi proses persidangan yang wajib diikuti oleh peserta praktik Peradilan. Selain itu peserta juga wajib mengikuti proses tahapan penerimaan perkara dari berbagai meja, diantaranya: Meja I, Meja II, dan Meja III, yang mana setiap meja memiliki tugas masing-masing. Namun, di Pengadilan Agama Demak ada sedikit perbedaan daripada yang terdapat di teori yaitu adanya pra-meja dalam susunan kepaniteraan. Hal ini merupakan suatu kebijaksanaan dari ketua PA Demak untuk membantu pihak-pihak yang berperkara. Dimana pada pra-meja ini ada petugas yang mengecek mengenai kelengkapan pendaftaran gugatan ataupun permohonan. 1. Meja I : a. Menerima surat gugatan/permohonan, perlawanan atas putusan (verzet), pernyataan banding, kasasi, permohonan peninjauan kembali, dan eksekusi. b. Memberi penjelasan dan penafsiran/menaksir panjar biaya perkara dan biaya eksekusi yang kemudian dituangkan dalam SKUM. c. Membuat surat kuasa untuk membayar (SKUM) rangkap tiga dan menyerahkan SKUM tersebut kepada calon penggugat atau pemohon. d. Menyerahkan kembali surat gugatan/permohonan kepada calon penggugat/pemohon.

30

e. Memberi penjelasan yang dianggap perlu berkenaan dengan perkara yang diajukan. f. Menerima pembayaran uang panjar biaya perkara sebagaimana tersebut dalam SKUM. g. Menerima pembayaran uang panjar biaya eksekusi sebagaimana tersebut dalam SKUM. h. Membukukan uang panjar biaya perkara/eksekusi ke dalam buku jurnal masing-masing perkara yang terdiri dari enam macam jurnal, yaitu untuk perkara permohonan, gugatan, banding, kasasi, peninjauan kembali dan permohonan eksekusi. i. Mencatat seluruh kegiatan keuangan dalam buku Induk Keuangan Perkara. j. Memberi nomor urut pada SKUM sesuai dengan nomor jurnal yang bersangkutan sebagai nomor perkara. k. Menandatangi SKUM, memberikan cap dinas dan memberi tanda lunas pada SKUM. l. Menyerahkan asli serta tindasan pertama SKUM kepada calon penggugat/pemohon. m. Mengembalikan pengugat/pemohon. n. Penerimaan perkara perlawanan (verzet) hendaknya dibedakan antara perlawanan (verzet) terhadap putusan verstek dengan perlawanan pihak ketiga (Derden Verzet). surat gugatan/permohonan kepada calon

31

o. Meja pertama juga berkewajiban memberi penjelasan-penjelasan yang dianggap perlu berkenaan dengan perkara yang diajukan. p. Dalam memberi penjelasan hendaknya dihindarkan dialog yang tidak perlu dan untuk itu supaya diperhatikan surat Ketua Muda Mahkamah Agung RI Urusan Lingkungan Peradilan Agama tanggal 11 Januari 1994, No. MA/Kumdil/012/1/K/1994. 2. Meja II : a. Menerima surat gugatan/permohonan, perlawanan, pernyataan

banding, kasasi, dan peninjauan kembali, serta permohonan eksekusi. b. Mencatat semua itu dalam register masing-masing yang tersedia untuk itu. c. Memberikan nomor register pada surat gugatan/permohonan sesuai dengan nomor SKUM yang dibuat oleh kasir, serta tanggal registernya dan memberi paraf sebagai tanda telah terdaftar dalam register yang bersangkutan, yaitu register induk gugatan, induk perkara

permohonan, permohonan banding, permohonan kasasi, permohonan peninjauan kembali, surat kuasa khusus, penyitaan barang tidak bergerak, penyitaan barang bergerak, eksekusi, akta cerai,

permohonan pembagian harta peninggalan di luar sengketa dan register legalisasi akta keahliwarisan. d. Mengembalikan satu rangkap salinan surat gugatan/permohonan yang telah diregister tersebut kepada penggugat/pemohon.

32

e.

Mengatur berkas perkara dalam Map Berkas Perkara serta melengkapinya dengan instrumen-instrumen yang diperlukan untuk memproses perkara tersebut.

f.

Menyerahkan berkas perkara tersebut kepada wakil panitera untuk kemudian disampaikan kepada ketua Pengadilan Agama melalui Panitera.

g.

Melaksanakan register semua kegiatan perkara sesuai dengan jenisnya masing-masing.

3. Meja III : a. Menerma berkas perkara dari majelis hakim yang telah diputus dan telah diminutasi. b. c. Menyusun dan menjahit berkas-berkas perkara sebagai bendel A. Atas perintah majelis, melanjutkan perintah pemberitahuan isi putusan kepada pihak-pihak yang tidak hadir dalam pembacaan putusan. d. Membuat catatan pada surat putusan/penetapan dan salinannya sesuai dengan perkembangan yang berkenaan dengan putusan/penetapan tersebut. e. Menghiung dan menetapkan tanggal kekuatan hukuk tetap setiap putusan atau penetapan Pengadilan, serta tanggal terjadinya

perceraiaan. f. Mempersiapkan pembuatan akta cerai, dan memberitahukan kepada para pihak tentang telah terjadinya perceraian, menurut pasal 84 ayat C4/UU No. 7 tahun 1989.

33

g.

Menyerahkan salinan putusan/penetapan dan juga akta cerai kepada pihak-pihak yang bersangkutan atas permintaan orang tersebut.

h.

Mengirimkan salinan penetapan/putusan kepada instansi terkait yang bertalian dengan putusan/penetapan tersebut.

i.

Menyerahkan kembali berkas Bendel A yang dimintakan perlawanan (verzet) kepada Majelis Hakim yang mengadilinya.

j. k.

Menerima memori banding, kasasi, dan peninjauan kembali. Memerintah kepada jurusita/jurusita pengganti untuk memberitahukan kepada para pihak tentang pernyataan banding, kasasi, peninjauan kembali, memori dan kontra memori, surat-surat lain dari para pihak, kepada pihak lawan dalam perkara yang bersangkutan.

l.

Menyusun dan menjahit berkas bendel B untuk keperluan banding, kasasi dan peninjauan kembali.

m. Memberitahukan kepada Meja Kedua segala hal yang perlu dicatat dalam register. n. Mempersiapkan pengiriman berkas banding, kasasi, dan peninjauan kembali. o. p. Memberitahukan kepada kasir yang bertalian dengan biaya perkara. Menyerahkan berkas perkara yang telah dijahit dan telah selesai, kepada Penitera Muda Hukum untuk diarsipkan, dibuat data dan dilaporkan. Pengadilan Agama Demak terdapat dua ruang sidang yang masingmasing ruang ditempati tujuh/delapan orang peserta PPL untuk menyaksikan

34

jalannya persidangan. Di akhir kegiatan para peserta yang berada di ruang sidang diberikan kesempatan oleh para Hakim Majelis untuk bertanya terkait dengan perkara selama persidangan. Hal ini dilakukan agar para peserta mengerti dan memahami langsung perkara yang berjalan selama persidangan. Selanjutnya para peserta PPL yang berada di ruang sidang 1 dan 2 tersebut melakukan praktik simulasi sidang yang terdiri dari Penggugat/Pemohon, Tergugat/termohon, saksi, advokat, Hakim Ketua, Hakim Anggota I dan Hakim Anggota II serta Panitera. Hal ini dilakukan agar para peserta dapat mendalami teori yang telah didapatkan selama perkuliahan sehingga dapat menjalankan praktek persidangan yang sebenarnya. Kegiatan tersebut dipandu oleh Hakim Pembimbing Pengadilan Agama Demak. Namun, simulasi tersebut dilaksanakan setelah adanya kepastian mengenai bimbingan. Yang mana dalam bimbingan ini tidak mengenal sub kelompok lagi, akan tetapi semua subkelompok digabungkan menjadi satu. Pada saat bimbingan inilah penguasaan materi peserta PPL diuji lagi dan jika ada yang belum paham dapat ditanyakan di dalam forum tersebut. B. Waktu Pelaksanaan Pelaksanaan Pengalaman Praktik Lapangan (PPL) yang berbobot 4 sks diselenggarakan oleh Fakultas Agama Islam jurusan Syariah Program Studi Ahwal Syakhshiyyah Unissula Semarang yang dijadwalkan pada saat saat liburan semester 5. Pada pelaksanaan kegiatan tersebut kelompok dibagi menjadi 2 kelompok besar yaitu kelompok A dan kelompok B, keduanya samasama mempunyai 29 personil mahasiswa. Pada tahun ini berbeda dengan tahu-

35

tahun sebelumnya, tahun kemarin waktu 2 minggu berturut-turut tanpa ada jeda. Akan tetapi tahun sekarang waktunya 1 minggu kelompok A kemudian minggu keduanya diisi oleh kelompok B. Hal ini dikarenakan waktu PPL bertepatan dengan bulan Ramadhan, supaya kedua kelompok merasakan praktik PPL di bulan Ramadhan dan tidak ada rasa iri hati di peserta PPL. Jika dikalkulasi waktunya masih sama seperti tahun kemarin, yaitu 1 bulan. Dimulai tanggal 9 Juli sampai denhan tanggal 3 Agustus 2012. Adapun waktu pelaksanaan secara rinci adalah sebagai berikut: Kelompok I Hari/ tanggal Waktu Kelompok II Hari/ tanggal Waktu C. Analisis Sebagai tempat pencari kebenaran dalam hal perdata-perdata Islam yang menjadi kewenangan absolut pengadilan agama maka pengadilan Agama Demak sudah mencapai hasil yang memuaskan. Dimana pelayanannya tidak hanya melalui jalur reguler namun pelayanannya sudah merambah melalui internet. Pemohon atau penggugat bisa mendaftarkan melalui website Pengadilan Agama Demak dengan syarat-syarat tertentu pula. Peradilan Agama berdiri secara independen, artinya dalam : Senin, 16 20 Juli dan 30 Juli 3 Agustus 2012. : Pkl. 08.00 s/d 15.00 WIB : Senin, 9 13 Juli dan 23 27 Juli 2012. : Pkl. 08.00 s/d 15.00 WIB

menyelenggarakan kegiatan hukum tidak boleh mendapat intervensi dari

36

siapapun, atau badan hukum manapun. Kedudukannya sejajar dengan peradilan lainnya, karena sama-sama dalam naungan Mahkamah Agung. Dalam pasal 10 ayat (1) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 disebutkan bahwa: kekuasaan kehakiman dilakukan oleh pengadilan dalam lingkungan: a. Peradilan Umum b. Peradilan Agama c. Peradilan Militer d. Peradilan Tata Usaha Negara Adapun kewenangan dari Peradilan Agama meliputi : menerima, memeriksa, mengadili dan menyelesaikan perkara ditingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam dibidang perkawinan, waris, wasiat, hibah, wakaf, zakat, infaq, shadaqah ( pasal 49 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang kompetensi absolute Pengadilan Agama). Seiring berjalannya waktu Undang-Undang tersebut mengalami amandemen dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 yang memberikan wewenang kepada Pengadilan Agama lebih luas dari pada sebelumnya yaitu tentang ekonomi Syariah. Sedangkan dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 disebutkan bahwa : 1. Kekuasaan kehakiman di lingkungan Peradilan Agama dilaksanakan oleh: a. Pengadilan Agama b. Pengadilan Tinggi Agama

37

2. Kekuasaan kehakiman di lingkungan Peradilan Agama berpuncak pada Mahkamah Agung sebagai Peradilan Negara Tertinggi. Dengan demikian eksistensi Peradilan Agama sudah memiliki landasan yuridis formil dalam menegakkan hukum Islam secara komprehensif di daerah kewenangannya. Dalam hal ini kompetensi relative Pengadilan Agama Demak meliputi seluruh wilayah kabupaten Demak. Pra-meja menjadi proses pertama kali dalam mendaftarkan perkara di Pengadilan Agama Demak. Disanalah penggugat dan pemohon diteliti surat gugatannya atau permohonannya, jika terdapat persyaratan yang belum lengkap supaya dilengkapi terlebih dahulu sebelum didaftarkan di meja 1. Selain itu bagi orang-orang yang tidak bisa membuat surat gugatan dapat dibuatkan di pra-meja ini. Jadi masyarakat yang tidak bisa membuat surat gugatan ataupun permohonan akan dibuatkan oleh pihak Pengadilan. Kemudian surat permohonan ataupu gugatan diserahkan ke meja 1. Selama proses pendaftaran perkara petugas meja I selalu memberi penjelasanpenjelasan yang dianggap perlu berkenaan perkara yang diajukan, serta mencatat dalil-dalil yang diungkapkan oleh Pemohon atau Penggugat untuk nanti dibacakan dalam persidangan. Setelah terdaftar di meja I sekaligus menaksir panjar biaya perkara atas dasar Surat Keputusan Ketua Pengadilan Agama Demak. Dalam penaksiran panjar biaya perkara perlu diperhatikan halhal sebagai berikut : 1. Jumlah pihak-pihak yang berperkara

38

2. para pihak. 3.

Jarak tempat tinggal dan kondisi daerah

Dalam

perkara

cerai

talak

harus

diperhitungkan juga biaya pemanggilan para pihak untuk sidang ikrar talak. Penaksiran panjar biaya perkara tersebut disertai Surat Kuasa Untuk Membayar SKUM dan diserahkan kepada para pihak yaitu Penggugat atau Pemohon untuk dibayarkan ke Bank BRI. Hal ini merupakan ketentuan pedoman teknis administrasi dan teknis Pengadilan Agama BUKU II. Dalam jangka waktu 3 (tiga) hari kerja setelah proses registrasi diselesaikan, petugas Meja II menyampaikan berkas gugatan/permohonan kepada wakil panitera untuk disampaikan kepada Ketua Pengadilan Agama melalui Panitera dengan dilampiri formulir Penetapan Majelis Hakim (PMH). Ketua Pengadilan Agama selambat-lambatnya dalam 3 (tiga) hari kerja menetapkan Majelis Hakim yang akan menyidangkan perkara dan memberikan berkas PMH kepada Panitera untuk diserahkan Majelis Hakim. Penunjukan Panitera Pengganti untuk membantu Majelis Hakim ditunjuk oleh Panitera. Setelah Ketua Majelis Hakim mempelajari berkas perkara dalam waktu 7 (tujuh) hari kerja harus sudah menetapkan hari sidang sesuai dengan perkiraan jauh/dekatnya tempat tinggal para pihak yang berperkara. Hal ini berkaitan erat sekali dengan tahapan selanjutnya, yaitu pemanggilan pihak-pihak yang berperkara secara sah dan patut oleh Jurusita/ Jurusita Pengganti untuk menghadiri sidang. Mengenai sah dan patut ialah bahwa pemanggilan tersebut

39

memang berasal dari pihak yang berwenang dan dalam jangka waktu sedikitdikitnya 3 hari sebelum hari sidang berita pemanggilan sudah diterima oleh para pihak. Bilamana dalam pemanggilan tersebut pihak yang berperkara tidak dapat ditemui di tempat tinggalnya, maka surat pemanggilan tersebut diserahkan kepada Kepala Desa (Lurah) dengan mencatat nama penerima dan ditanda tangani penerima selanjutnya diserahkan kepada yang bersangkutan. Untuk pemanggilan terhadap Tergugat/Termohon yang berada di luar negeri maka surat panggilan harus dikirim melalui Departemen Luar Negeri. Dirjen Protokol dan Konsuler Departemen Luar Negeri dengan tembusan disampaikan kepada Kedutaan Besar Indonesia di negara yang bersangkutan. Sedangkan jika alamat yang bersangkutan tidak diketahui maka berita pemanggilan sidang harus melalui media massa baik itu surat kabar, radio maupun berita elektronik lainnya dan persidangan ditentukan 4 bulan sesudah surat gugatan/permohonan masuk ke Pengadilan. Tahapan berikutnya ialah pelaksanaan persidangan di Pengadilan Agama dengan menghadirkan pihak-pihak yang berperkara. Sidang di Pengadilan Agama Demak dilaksanakan mulai pukul 09.30 WIB sampai selesai sebelum istirahat, kecuali perkara yang memang harus dilanjutkan setelah istirahat. Pertama-tama sebelum sidang dimulai para Majelis Hakim serta Panitera Pengganti mengawali persidangan dengan doa dan menyatakan sidang dibuka untuk umum dan dilanjutkan pemanggilan Penggugat/Pemohon oleh Panitera/Panitera Pengganti. Upaya damai harus selalu diusahakan pada setiap sidang dilangsungkan. Hal ini bertujuan untu memantapkan hati

40

penggugat/pemohon atau menggoyahkannya dan supaya berpikir ulang mengenai tujuan pernikahan. Dalam praktiknya tidak semua jawaban dari gugatan, replik, duplik, harus tertulis, tapi bisa saja hanya dengan ucapan saja. Di Pengadilan Agama Demak dalam praktiknya juga masih dikemukakan surat gugatan perceraian dibacakan di depan sidang pengadilan baik oleh penggugat/pemohon ataupun oleh kuasa hukum mereka. Pada waktu inilah persidangan dinyatakan tertutup untuk umum, yaitu pada pembacaan gugatan dan kesaksian. Selain kedua hal tersebut persidangan dinyatakan terbuka untuk umum. Sedangkan kesimpulan oleh penggugat dan tergugat atau pemohon dan termohon biasanya terwujud secara kondisional ketika proses sidang berlangsung, artinya dari pihak Majelis Hakim sendiri tidak pernah absen dengan pertanyaan terkait kasus apakah tetap dilanjutnya atau diadakan perubahan dan mungkin dicabut. Tahap pelaksanaan sidang dapat dilihat dalam bagan tahap-tahap pemeriksaan perdata sebagai berikut:

41

Majelis Hakim

Penggugat

Upaya Damai

Tergugat

Pembacaan Gugatan Kesimpulan Replik Pembuktian Dari

Jawaban Tergugat

Duplik

Penggugat & Tergugat

Putusan Hakim

Bagan proses/tahapan-tahapan pemeriksaan perdata di atas yang kami kutip dari salah satu buku Hukum Acara Peradilan Agama, upaya damai selalu
Penggugat & Tergugat

disampaikan oleh Majelis Hakim kepada para pihak karena merupakan kewajiban bagi hakim majelis untuk mendamaikan, dan itu dilakukan hakim majelis baik pada awal sidang pertama maupun untuk selanjutnya. Pada sidang pertama, yaitu sidang pengabulan gugatan/permohonan perkara para pihak yang berperkara menjalani tahapan mediasi yang dilaksanakan oleh mediator atau mediator dari unsur hakim. Setelah itu hasil

42

dari mediasi akan dipertanyakan hakim majelis pada sidang berikutnya guna mengetahui apakah kedua belah pihak yang berperkara menginginkan damai atau melanjutkan perkara. Dengan demikian efektifitas proses mediasi kaitannya dengan peran hakim dalam upaya penyelesaian perkara secara damai adalah sangat penting. Beberapa kasus perceraian yang akhirnya diakhiri dengan perdamaian yakni dengan pencabutan gugatan juga pernah terjadi ketika kami terlibat dalam proses persidangan, ini menandakan bahwa upaya hukum perdamaian yang diupayakan oleh para hakim bukan hanya sekedar menjadi bagian rutinitas dan tuntutan kewajiban semata. Dalam kasus gugat cerai jika Penggugat hadir sedangkan tergugat tidak hadir, maka hakim majelis menunda persidangan untuk pemanggilan tergugat kembali. Disamping itu hakim majelis memerintahkan agar penggugat dapat menghadirkan tergugat dengan tujuan supaya dalam pembacaan dalil-dalil gugatan dihadiri tergugat sehingga persidangan dapat berjalan dengan lancar. Menurut pengalaman yang kami lakukan selama Praktik Pengalaman Lapangan tahapan persidangan yang membutuhkan waktu yang relatif lama adalah pada pembuktian. Karena dalam pembuktian kedua belah yang berperkara harus memperlihatkan bukti-bukti tertulis maupun lisan, yaitu menghadirkan masing-masing dua orang saksi, dimana para saksi tersebut harus melihat, mengetahui dan mengalami. Musyawarah hakim majelis dalam pencapaian kesepakatan menjadi salah satu tahap terpenting dalam suatu proses pemecahan masalah di Pengadilan Agama baik ketika sidang pertama maupun sidang terakhir. Hal ini dilakukan

43

dengan tujuan agar tercapai kata sepakat antara Hakim Ketua dengan Hakim Anggota sebelum pengambilan keputusan dan pengucapan amar putusan. BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan Dari seluruh rangkaian Kegiatan PPL yang diawali dengan Pembekalan dari pihak pengadilan Agama Demak di Gedung Fakultas Agama Islam Universitas Islam Sultan Agung, hingga pelaksanaan kegiatan PPL di Pengadilan Agama Kelas IB Demak, serta penarikan kembali Mahasiswa PPL oleh pihak Fakultas, tim penyusun mengambil kesimpulan sebagai berikut : Prosedur pengajuan gugatan/permohonan di Pengadilan Agama Demak melalui pra-meja terlebih dahulu. Hal ini sangat membantu Meja I, karena tugas-tugasnya dalam menerima gugatan/permohonan sangat terbantu oleh kinerja pra-meja. Pra-meja menyeleksi terlebih dahulu, jika ada kekurangan secara administrasi maka akan disuruh melengkapi dahulu. Secara keseluruhan kinerja PA Demak sangat memuaskan dalam hal melayani pihak-pihak yang berperkara. Hal ini dikarenakan sumber daya manusia yang profesional dalam menyokong kinerja PA Demak. Hal ini sesuai dengan motto Pengadilan Agama Demak yaitu Bersih, Berwibawa, Transparan dan Akuntabel. Selain hal tersebut perkara yang tidak diputus/ditetapkan sangatlah sedikit. Dari ribuan perkara yang masuk sudah 96% mempunyai kekuatan hukum tetap.

44

Wewenang Pengadilan Agama adalah memeriksa, memutus

dan

menyelesaikan perkara tingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam dalam bidang perkawinan, waris, wasiat, hibah, wakaf, zakat, infaq, shodaqah dan ekonomi syariah. Untuk Pengadilan Agama Demak, kasus yang mendominasi adalah bidang perkawinan berupa perceraian, dispensasi nikah, wali adhal serta pembatalan perkawinan (ada tapi jarang) kasus kedua yang sering diajukan ke Pengadilan Agama Demak tapi tidak mendominasi adalah kasus sengketa waris, dan walaupun kasus-kasus yang lain jarang atau bahkan belum pernah diajukan di Pengadilan Agama Demak bukan berarti kasuskasus tersebut tidak di temui di masyarakat. Hal ini lagi-lagi masalah persepsi masyarakat serta bentuk hokum islam itu sendiri dalam tatanan praktis. Tentu hal tersebut menjadi koreksi kita bersama yakni bagaimana sekiranya kita merubah paradigm yang berkembang dimasyarakat bahwa Pengadilan Agama bukan sekedar pengadilan keluarga yang kompetensi absolutnya hanya berkisar pada persoalan keluarga, karena pada dasarnya persoalan nono keluarga juga dapat diajukan dan di tangani disini.

B. Saran/ Rekomendasi Dengan mengucap syukur Alhamdulillah atas segala kekuatan yang di berikan oleh Allah SWT, sehingga penyusunan laporan ini berakhir dengan tepat dan tanpa hambatan. Tim penyusun berharap semoga penyusunan laporan ini dapat bermanfaat bagi khalayak umum. Penyusun juga minta maaf apabila dalam penyusunan ini terdapat kesalahan dan tidak lupa saran dan kritik yang

45

membangun sangat penulis harapkan demi kebaikan bersama. Sedangkan saran untuk pihak fakultas adalah : 1. Terlalu difokuskan pada satu Pengadilan Agama saja, oleh karena itu pesertanya menjadi sangat banyak. Hal ini menyebabkan kurangnya optimalisasi pemahaman dari para peserta PPL itu sendiri. Pembagian sub-kelompok yang banyak terkdanag menjadi penghambat kelancaran dari kenerja pegawai Pengadilan Agama itu sendiri. Semoga di tahun ajaran kedepan tidak hanya terfokuskan pada satu Pengadilan Agama saja, ini sangat menyokong untuk meraih sistim pendidikan nasional yang ideal guna pengembangan potensi dari mahasiswa itu sendiri. 2. Waktu pelaksanaan yang hanya 2 minggu saja membuat peserta PPL tidak mempunyai kesempatan untuk mengikuti persidangan suatu perkara sampai tuntas. Tim penyusun berharap pada tahun sesudahnya waktu pelaksanaan diperpanjang lagi. Supaya mahasiswa peserta PPL mempunyai pengamatan yang cermat dalam menganalisis persidangan, 3. Kurangnya pembekalan dan tidak adanya pematangan teori secara intensif sebelum pelaksanaan PPL membuat peserta PPL sedikit buta akan hal-hal yang berkaitan dengan pembuatan gugatan, permohonan, dan jalannya persidangan. Diharapkan supaya pematangan-pematangan teori gencar dilakukan sebelum PPL dilaksanakan.

46