Anda di halaman 1dari 78

PERT AMBA NGAN

BAB 25

253

BAB 25 P E RTA M B A N GA N I. PENDAHULUAN

Pembangunan pertambangan yang merupakan perwujudan dari amanat Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 Pasal 33 pada hakikatnya merupakan upaya pengembangan sumber daya alam mineral dan energi yang potensial untuk dimanfaatkan secara hemat dan optimal bagi kepentingan dan kemakmuran rakyat, melalui serangkaian kegiatan eksplorasi, pengusahaan, dan pemanfaatan hasil tambang. Upaya tersebut bertumpu pada pendayagunaan berbagai sumber daya, terutama sumber daya alam mineral dan energi, didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kemampuan manajemen. Pembangunan pertambangan merupakan bagian integral dari, pembangunan nasional dalam rangka mewujudkan cita-cita bangsa mencapai masyarakat adil dan makmur yang merata materiil dan spiritual berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

254 Sumber daya alam mineral dan energi memiliki ciri-ciri khusus yang memerlukan pendekatan sesuai dengan pengem bangannya. Ciri khusus sektor pertambangan yang perlu diperhati kan dalam pembangunan pertambangan, antara lain sumber daya alam tambang menempati sebaran ruang tertentu di dalam bumi dan dasar laut, terdapat dalam jumlah terbatas dan pada umumnya tak terbarukan; pengusahaannya melibatkan investasi dan kegiatan sarat risiko, yang seringkali harus padat modal dan teknologi; proses penambangannya memiliki potensi daya ubah lingkungan yang tinggi; hasil tambang mineral dan energi mempunyai fungsi ganda, terutama sebagai sumber bahan baku industri dan energi, baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor; dan usaha pertambangan mampu berperan sebagai penggerak mula dan ujung tombak pembangunan daerah, di samping perannya dalam meme nuhi hajat hidup masyarakat luas. Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) 1993 mengamanatkan bahwa dalam Pembangunan Jangka Panjang II (PJP H) pendayagunaan sumber daya alam sebagai pokok-pokok kemakmuran rakyat dilakukan secara terencana, rasional, optimal, bertanggung jawab dan sesuai dengan kemampuan daya dukungnya dengan mengutamakan sebesar-besar kemakmuran rakyat serta memperhatikan kelestarian fungsi dan keseimbangan lingkungan hidup bagi pembangunan yang berkelanjutan. Tata ruang nasional yang berwawasan nusantara dijadikan pedoman bagi perencanaan pembangunan agar penataan lingkungan hidup dan pemanfaatan sumber daya alam dapat dilakukan secara aman, tertib, efisien, dan efektif. Selanjutnya, dalam PJP II, GBHN 1993 juga menggariskan bahwa pembangunan ekonomi yang mengelola kekayaan bumi Indonesia, seperti pertambangan, harus senantiasa memperhatikan bahwa pengelolaan sumber daya alam, di samping untuk memberi kemanfaatan masa kini, juga harus menjamin kehidupan masa depan. Sumber daya alam yang terbarukan harus dikelola sedemi kian rupa sehingga fungsinya dapat selalu terpelihara sepanjang

255 masa. Oleh karena itu, sumber daya alam harus dijaga agar kemampuannya untuk memperbaharui diri selalu terpelihara. Sumber daya alam yang tidak terbarukan harus digunakan sehemat mungkin dan diusahakan habisnya selama mungkin. Dengan demikian, tugas pokok sektor pertambangan adalah melaksanakan pengelolaan sumber daya alam secara hemat dan optimal, serta menerapkan sistem penambangan yang berwawasan lingkungan. Di samping itu, GBHN 1993 menetapkan bahwa dalam PJP II pembangunan pertambangan diarahkan pula untuk menghasilkan bahan tambang sebagai bahan baku bagi industri dalam negeri sehingga dapat menghasilkan nilai tambah yang setinggi-tingginya dan menciptakan lapangan kerja yang sebesar-besarnya. Pem bangunan sektor ini juga harus membawa manfaat yang sebesar besarnya bagi pengembangan wilayah, pembangunan daerah, dan peningkatan taraf hidup rakyat. Selanjutnya GBHN 1993 meng ingatkan bahwa kegiatan di sektor yang mengelola sumber daya alam dari bumi memiliki potensi untuk merusak lingkungan, baik air, tanah maupun udara. Oleh karena itu, harus selalu dijaga agar kegiatan pembangunan di sektor ini memperhatikan kelestarian fungsi lingkungan hidup. Dalam Rencana Pembangunan Lima Tahun Keenam (Repe lita VI), GBHN 1993 mengamanatkan bahwa kekayaan alam yang potensial berupa barang tambang, minyak dan gas bumi, serta mineral lainnya yang terdapat di darat dan di dasar laut nusantara, makin ditingkatkan eksplorasi, penggalian dan pendayagunaannya untuk menunjang pembangunan dengan tetap menjaga keseim bangan lingkungan dan kelestarian fungsi lingkungan hidup serta dengan memanfaatkan teknologi maju. Di samping itu, dalam Repelita VI pembangunan pertambangan diusahakan memberikan nilai tambah dan manfaat sebesar besarnya bagi kesejahteraan rakyat dan mendorong pertumbuhan

256 industri dalam rangka memperkukuh struktur ekonomi yang seimbang dan meningkatkan pendapatan nasional. Selain untuk menopang program industrialisasi melalui penyediaan bahan baku bagi industri di dalam negeri, serta penyediaan sumber energi primer yang penting meliputi minyak bumi, gas bumi, dan batu bara, pembangunan pertambangan juga diarahkan untuk meningkatkan penerimaan negara dan devisa, meningkatkan dan memeratakan pembangunan ke seluruh wilayah, membuka seluas-luasnya kesempatan berusaha dan kesempatan kerja, serta meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat. Dengan demikian, sektor pertambangan diharapkan dapat berperan semakin nyata ke arah terwujudnya tujuan pembangunan nasional, yaitu masyarakat yang adil dan makmur. Partisipasi aktif dan luas dari masyarakat dalam pembangunan pertambangan tidak saja bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan rakyat, tetapi juga sangat bermanfaat bagi peningkatan ketahanan nasional dan kemampuan bangsa untuk melaksanakan pembangunan yang berkelanjutan. Dalam hubungan ini, peningkatan kualitas sumber daya manusia, yang didukung oleh kemampuan pemanfaatan, pengembangan dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan faktor yang menentukan bagi peningkatan efisiensi dan produktivitas guna mempercepat kemandirian bangsa. Indonesia dikaruniai sumber daya alam yang beranekaragam serta tersebar di seluruh pelosok tanah air. Penggunaan sumber daya mineral dan energi tersebut, sebagai salah satu modal dasar bangsa, diarahkan untuk menjadi pendorong utama dan penggerak pembangunan ekonomi serta memperkukuh ketahanan nasional. Dengan modal dasar ini pertumbuhan ekonomi dapat lebih merata di berbagai wilayah Indonesia. Pertumbuhan ekonomi diharapkan berkembang pula di daerah terpencil yang potensial melalui pembangunan pertambangan. Pengembangan wilayah pada masa mendatang harus mampu mengambil manfaat dari potensi sumber daya alam yang tersedia melalui pengembangan pusat-pusat

257 pertumbuhan ekonomi, termasuk sarana dan prasarananya, yang sejauh mungkin disesuaikan dengan potensi sumber daya di wilayah tersebut. Sesuai dengan petunjuk GBHN 1993, pembangunan pertambangan harus selalu mengarah kepada mantapnya sistem ekonomi nasional yang disusun untuk mewujudkan demokrasi ekonomi. Untuk menjalankan amanat tersebut, bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya sebagai pokok-pokok kemakmuran rakyat dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Pembangunan pertambangan dalam PJP II dan Repelita VI disusun dan diselenggarakan dengan berlandaskan pengarahan GBHN 1993 seperti tersebut di atas. IL PEMBANGUNAN PERTAMBANGAN DALAM PJP I Selama Pembangunan Jangka Panjang Pertama (PJP I) telah dicapai berbagai hasil dan kemajuan di sektor pertambangan. Hasil ini merupakan tumpuan yang kuat untuk memasuki PJP II sebagai tahap tinggal landas yang akan membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa yang maju dan mandiri. Selama PJP I telah berhasil diselesaikan sejumlah peta dan informasi geologi mengenai keberadaan mineral dan energi di Indonesia. Pemetaan geologi bersistem di Pulau Jawa dan Madura telah diselesaikan seluruhnya, yang terdiri 58 lembar peta geologi dengan skala 1:100.000. Untuk daerah di luar Pulau Jawa dan Madura diselesaikan 162 lembar atau 89,5 persen dengan skala 1:250.000. Pemetaan gaya berat bersistem di Pulau Jawa dan Madura dengan skala 1:100.000 telah selesai 49 lembar atau 84,5 persen, sedangkan untuk luar Pulau Jawa dan Madura dengan skala 1:250.000 telah selesai 75 lembar atau 41,4 persen. Bersamaan dengan itu, pemetaan geologi dasar laut bersistem skala 1:250.000

258 telah diselesaikan sebanyak 17 lembar atau 4,7 persen, dan peta geologi kelautan regional dengan skala 1:1.000.000 atau lebih kecil telah selesai 7 lembar atau 25,0 persen dari seluruh wilayah lautan di Indonesia. Kegiatan inventarisasi dan eksplorasi sumber daya mineral selama PJP I telah menyelesaikan pemetaan geokimia mineral skala 1:250.000 sebanyak 38 lembar atau 25,7 persen, dan inventarisasi sumber daya mineral skala 1:250.000 sebanyak 50 lembar atau 33,8 persen dari seluruh wilayah daratan Indonesia yang memiliki potensi. Untuk sumber daya energi diselesaikan peta penyebaran potensi panas bumi di Indonesia dengan skala 1:5.000.000; pemetaan geologi panas bumi skala 1:50.000 di 52 lokasi atau 24,0 peran; penyelidikan geofisika panas bumi di 29 lokasi atau 13,4 persen; penyelidikan geokimia panas bumi di 19 lokasi atau 9,6 persen; dan pengeboran uji panas bumi di 2 lokasi atau 1,0 persen dari seluruh lapangan panas bumi di Indonesia. Bersamaan dengan itu, diselesaikan pula inventarisasi batu bara dan gambut skala 1:250.000 sebanyak 23 lembar atau 46,0 persen dari seluruh wilayah Indonesia yang mengandung batu bara dan gambut. Kegiatan eksplorasi selama PJP I telah menghasilkan data perkiraan cadangan sumber daya mineral logam, antara lain meliputi timah 2 juta ton, nikel 901,2 juta ton, bauksit 924,4 juta ton, emas 1,7 ribu ton, dan perak 8,7 ribu ton. Untuk sumber daya mineral industri, perkiraan cadangan asli adalah sebagai berikut: batu kapur 30 miliar ton, dolomit 1,5 miliar ton, kaolin 9,3 juta ton, pasir kuarsa 4,7 miliar ton, belerang 5,7 juta ton, fosfat 4,3 juta ton, bentonit 1,4 miliar ton, feldspar 2,5 miliar ton, zeolit 207 juta ton, pirofilit 550 juta ton, granit 10 miliar ton, dan marmer 8,6 miliar ton, sedangkan potensi sumber daya energi panas bumi diperkirakan 16.000 megawatt. Pemetaan hidrogeologi bersistem di luar Pulau Jawa dan Madura skala 1:250.000 menghasilkan 74 lembar atau 49,3 persen dari seluruh wilayah Indonesia, sedangkan untuk Pulau Jawa dan

259 Madura peta skala 1:100.000 menyelesaikan 5 lembar atau 8,6 persen dari luas Pulau Jawa dan Madura. Penyelidikan potensi cekungan air tanah tingkat awal telah menyelesaikan 105 cekungan atau 49,1 persen, dan penyelidikan tahap rinci sebanyak 22 cekungan atau 10,3 persen dari seluruh cekungan air tanah di Indonesia. Dalam rangka peningkatan kepedulian sosial dan lingkungan telah dilaksanakan pemetaan dan penyelidikan geologi untuk mitigasi bencana alam geologis dan masukan untuk mendukung penataan ruang. Sehubungan dengan itu, telah diselesaikan pula pemetaan seismik daerah rawan gempa skala 1:250.000 sebanyak 4 lembar atau 5,5 persen dari wilayah rawan gempa di Indonesia; pemetaan geologi kuarter skala 1:50.000 sebanyak 14 lembar atau 11,7 persen dari wilayah Indonesia yang diperkirakan berumur kuarter; pemetaan geomorfologi skala 1:100.000 sebanyak 4 lembar atau 3,4 persen dari seluruh wilayah daratan di Indonesia. Pemetaan geologi gunung api skala 1:50.000 diselesaikan sebanyak 35 gunung api atau 27,1 persen; pemetaan daerah bahaya gunung api skala 1:50.000 sebanyak 91 lembar atau 70,5 persen; pemetaan topografi puncak gunung api skala 1:10.000 sebanyak 30 lembar atau 23,3 persen; pemetaan aliran lahar skala 1:10.000 sebanyak 20 lembar atau 15,5 persen dari 129 gunung api aktif di Indonesia. Pemetaan kerentanan gerakan tanah skala 1:100.000 diselesaikan sebanyak 10 lembar atau 10,0 persen dari wilayah Indonesia yang rawan gerakan tanah; pemetaan geologi teknik skala 1:100.000 sebanyak 10 lembar atau 20,0 persen; dan pemetaan geologi tata lingkungan skala 1:100.000 sebanyak 5 lembar atau 5,6 persen dari daerah yang cepat pertumbuhan ekonominya. Dalam kaitan dengan lingkungan hidup, telah dilaksanakan pula berbagai penyelidikan. Selama PJP I telah diselesaikan penyelidikan daerah geologi kuarter dan seismotektonik pada 126 lokasi dan penyelidikan geologi wilayah pantai pada 49 lokasi. Penyelidikan gunung api meliputi penyelidikan lahar/bahan letusan sebanyak 35 gunung api; penyelidikan kimia sebanyak 21 gunung

260 api; penyelidikan fisika sebanyak 19 gunung api; penyelidikan penginderaan jauh sebanyak 19 gunung api; penyelidikan seismik sebanyak 16 gunung api. Penyelidikan geologi teknik dilaksanakan sebanyak 241 lokasi, meliputi penyelidikan fondasi, terowongan, bendungan, waduk, jalan raya dan kereta api, kemantapan lereng, tanah lunak, dan likuifaksi. Penyelidikan geologi lingkungan perkotaan, perdesaan, pantai, wilayah pertambangan, dan geologi lingkungan buangan limbah di berbagai wilayah telah dilakukan pada 124 lokasi. Dalam upaya mitigasi bencana alam geologis, selama PJP I telah dilaksanakan identifikasi 20 daerah sesar aktif yang terbagi dalam 130 bagian sesar; pemantauan fisika dan kimia di 20 gunung api; pengamatan secara terus-menerus di 59 gunung api; pemantauan gas gunung api di 20 lokasi; pemantauan longsor di 5 lokasi daerah rawan longsor; pembuatan sumur pantau air tanah di 62 lokasi; dan konservasi air tanah di 5 daerah. Kegiatan ini akan diperluas dalam PJP II dengan pembuatan stasiun sesar aktif, pemantauan sesar aktif, pemantauan amblasan, dan pemantauan air tanah, pemantauan limbah dan kualitas lingkungan geologi. Dalam 12 tahun terakhir 28 letusan gunung api skala besar yang terjadi di seluruh wilayah Indonesia berhasil diantisipasi. Dengan antisipasi tersebut, 257.000 orang telah berhasil diselamatkan dari bahaya letusan, sedangkan jumlah korban relatif kecil, yaitu 40 orang dari 1 juta penduduk yang bermukim di daerah rawan bahaya gunung api tersebut. Penyuluhan dan informasi bahaya geologi, terutama gunung api dan gerakan tanah, terus disebarluaskan guna memperkecil jumlah korban

dan kerugian. Selama PJP I pembangunan pertambangan mineral dan batu bara mengalami kemajuan pesat seperti terlihat dari peningkatan produksi dan ekspor pada hampir semua jenis mineral. Produksi batu bara meningkat pesat, yaitu sekitar 156 kali, dari tingkat produksi sebesar 185,8 ribu ton pada awal PJP I menjadi sekitar 29 juta ton pada tahun terakhir PJP I.

261 Dari hasil kegiatan inventarisasi dan eksplorasi sampai akhir PJP I telah dapat ditaksir besarnya cadangan batu bara Indonesia, yaitu sebesar 36,3 miliar ton yang terdiri atas cadangan terukur 4,8 miliar, cadangan tereka dan terunjuk 18,9 miliar ton, dan cadangan hipotetis 12,6 miliar ton. Cadangan tersebut terutama tersebar di Sumatera Utara 4,7 persen, Sumatera Tengah 11,5 persen, Sumatera Selatan 51,6 persen, Bengkulu 0,2 persen, Kalimantan Selatan 10,0 persen, Kalimantan Barat 5,8 persen, Kalimantan Tengah 1,2 persen, Kalimantan Timur 14,6 persen, sedangkan sisanya tersebar di Jawa, Sulawesi, dan Irian Jaya. Pemasaran batu bara di dalam negeri dan ekspor selama PJP I menunjukkan perkembangan yang cukup pesat. Sebagian besar pemasaran batu bara di dalam negeri diserap oleh pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), industri semen, industri dasar besi dan baja, pabrik peleburan nikel dan timah, serta berbagai industri kecil lainnya. Tingkat pemasaran batu bara di dalam negeri pada tahun pertama PJP I sebesar 0,2 juta ton dan pada akhir PJP I meningkat menjadi 8,5 juta ton. Adapun ekspor pada akhir Repe lita II adalah 27,3 ribu ton dan pada akhir PJP I diperkirakan mencapai 19,0 juta ton. Menjelang akhir PJP I, penggunaan briket batu bara untuk keperluan rumah tangga dan industri kecil sudah mulai dimasyarakatkan. Dalam PJP I telah dilakukan eksplorasi terhadap potensi gambut yang meliputi daerah di Sumatera (Bengkalis, Siak dan Kumpeh), dan Kalimantan (Sampit, Pangkalan Bun, Pontianak, Banjarmasin, Palangkaraya, dan Kanamit). Areal gambut yang telah dieksplorasi baru seluas 337.450 hektare, sedangkan penye baran gambut di seluruh Indonesia diperkirakan seluas 25 juta hektare. Potensi gambut diperkirakan sebesar 200 miliar ton pada areal dengan ketebalan lebih dari dua meter. Potensi gambut terse but jauh melebihi potensi batu bara Indonesia. Mineral logam utama hasil pertambangan meliputi timah, nikel, bauksit, tembaga, emas, perak, serta pasir besi. Produksi

262 mineral logam selama PJP I menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun, terutama pada tahun-tahun terakhir PJP I. Produksi logam timah meningkat dengan pesat dari 5,8 ribu ton pada awal Repelita I dan diperkirakan menjadi 31,2 ribu ton pada akhir PJP I. Ekspor logam timah memperlihatkan kenaikan dari 5,1 ribu ton menjadi 29,2 ribu ton pada kurun waktu yang sama. Penemuan cadangan timah yang cukup besar terjadi selama PJP I. Cadangan utama timah di Pulau Bangka dan Belitung tercatat sebesar 782,5 ribu ton. Produksi bijih nikel baru mencapai sekitar 990 ribu ton pada akhir Repelita I. Dengan beroperasinya pabrik feronikel di Pomalaa tahun 1976 dan dimulainya ekspor bijih nikel dari Pulau Gebe, produksi bijih nikel pada akhir PJP I diperkirakan mencapai 2.547,5 ribu ton. Sementara itu, volume ekspor bijih nikel memperlihatkan kecenderungan yang terus meningkat dari 830 ribu ton pada akhir Repelita I menjadi sekitar 1.850 ribu ton pada akhir PJP I. Produksi feronikel menjelang akhir PJP I mencapai 5.500 ton nikel per tahun, yang hampir seluruhnya diekspor. Nikel matte, yang mulai diproduksi pada tahun 1976 sebesar 1,7 ribu ton, telah meningkat produksinya menjadi 32 ribu ton pada akhir PJP I, yang sebagian besar juga diekspor. Produksi bauksit sampai saat ini masih dipusatkan pada penambangan cadangan bijih berkadar ekspor di Pulau Bintan dan sekitarnya, dengan pasaran ekspor utama ke Jepang. Namun, karena belum berkembangnya pengolahan bauksit di dalam negeri, keperluan alumina masih harus diimpor. Cadangan bauksit yang jauh lebih besar terdapat di daerah Kalimantan Barat. Jumlah produksi bauksit pada awal PJP I sebesar 874,5 ribu ton berfluktuasi dari tahun ke tahun tergantung pada permintaan pasar, tetapi produksi pada akhir PJP I mencapai 1.087 ribu ton. Satu-satunya tambang di Indonesia yang menghasilkan tembaga dalam bentuk konsentrat terdapat di Irian Jaya. Produksi

263 pertama konsentrat tembaga dimulai pada tahun 1972 sebesar 9,8 ribu ton, dan mencapai 1.042 ribu ton pada tahun terakhir PJP I. Pada tahun 1990 Indonesia merupakan peringkat 15 produsen tembaga dunia. Sejalan dengan tingkat produksinya, ekspor konsen trat tembaga tahun 1972 sebesar 9 ribu ton, dan pada akhir PJP I mencapai 990 ribu ton. Sampai saat ini seluruh produksi konsentrat tembaga masih diekspor karena belum tersedia pabrik peleburan tembaga di dalam negeri. Cadangan terukur emas sampai saat ini adalah 1,7 ribu ton. Dalam PJP I produksi emas telah berhasil ditingkatkan dari 251,6 kilogram pada awal Repelita I menjadi 40.324,0 kilogram pada akhir PJP I. Jumlah produksi tersebut termasuk emas yang terkan dung dalam konsentrat tembaga. Kegiatan eksplorasi yang intensif dalam Repelita V telah berhasil menemukan cadangan baru di daerah Gunung Pongkor, Kabupaten Bogor, dan diharapkan mulai berproduksi pada awal tahun 1994. Sementara itu, produksi perak selama periode PJP I berhasil ditingkatkan dari 10.143,2 kilogram pada awal PJP I dan diperkirakan menjadi 71.094 kilogram pada akhir PJP I. Penambangan pasir besi di Cilacap dimulai pada tahun 1971/72 dengan produksi sebesar 270 ribu ton. Produksi tertinggi yang pernah dicapai selama PJP I adalah sebesar 365,3 ribu ton pada tahun 1974/75. Pemanfaatan produksi pasir besi lebih diarah kan untuk pasaran dalam negeri, terutama untuk industri semen. Dengan berkembangnya industri semen di dalam negeri dalam dekade terakhir PJP I, permintaan pasar domestik akan pasir besi meningkat kembali sehingga produksi pasir besi dapat ditingkatkan hingga mencapai 315,8 ribu ton pada akhir PJP I. Bahan-bahan tambang lainnya, adalah bahan galian industri, seperti batu kapur, dolomit, belerang, kaolin, pasir kuarsa, fosfat, bentonit, feldspar, dan marmer. Pertumbuhan sektor industri yang semakin meningkat di Indonesia telah memacu pengembangan pertambangan bahan galian industri, khususnya dalam usaha memenuhi kebutuhan bahan baku industri tersebut.

264

Produksi batu kapur selama PJP I meningkat dari 696 ribu ton pada awal PJP I menjadi 39.236 ribu ton pada akhir PJP I. Produksi dolomit pada akhir Repelita III adalah sebesar 63,5 ribu ton dan pada akhir PJP I mencapai 103,7 ribu ton. Sebagian besar dolomit yang dihasilkan di Indonesia dimanfaatkan oleh sektor pertanian, dan baru sebagian kecil yang dimanfaatkan untuk industri. Produksi belerang pada tahun pertama PJP I adalah sebesar 528 ton dan menjelang akhir PJP I mencapai 4.250 ton, walaupun masih diperlukan impor untuk kebutuhan dalam negeri. Produksi belerang di Indonesia berasal antara lain dari Gunung Papandayan, Gunung Telaga Bodas, Gunung Welirang, Gunung Ijen, dan Pulau Damar. Pada tahun pertama PJP I produksi kaolin sebesar 8,1 ribu ton dan menjelang akhir PJP I meningkat menjadi 209,6 ribu ton. Produksi kaolin Indonesia berasal dari Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Belitung, Bangka, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Lampung. Di samping untuk ekspor, produksi tersebut juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan kaolin di dalam negeri sebagai bahan keramik. Pasir kuarsa pada permulaan PJP I produksinya adalah sebesar 6,3 ribu ton dan diperkirakan meningkat menjadi 1.097,3 ribu ton pada tahun terakhir PJP I, dengan produksi terbesar di Bangka, Belitung, Jawa Timur, dan Kalimantan. Fosfat, yang produksinya pada tahun terakhir Repelita I adalah sebesar 819 ton, diperkirakan meningkat menjadi 99.950 ton pada tahun terakhir PJP I. Industri pupuk merupakan pemakai fosfat yang utama. Dibanding dengan tingkat konsumsi di dalam negeri, produksi fosfat Indonesia masih sangat kecil, dan kekurangannya masih dipenuhi melalui impor. Bentonit, pada akhir Repelita II produksinya sebesar 4,2 ribu ton dan menjelang akhir PJP I meningkat menjadi 46,6 ribu ton

265 dan masih diperlukan lagi peningkatan produksinya, karena kebu tuhan dalam negeri masih dipenuhi melalui impor. Sampai saat ini bentonit baru dihasilkan dari Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Produksi feldspar sebesar 349 ton pada tahun pertama PJP I meningkat menjadi 13,3 ribu ton menjelang akhir PJP I. Konsumsi feldspar di dalam negeri pada tahun 1993 mencapai 134,9 ribu ton. Feldspar digunakan untuk pembuatan barang-barang keramik dan porselen, industri gelas dan barang-barang dari gelas, serta untuk industri lainnya seperti genteng dan barang-barang dari tanah liat. Sementara itu, produksi marmer pada awal PJP I adalah sebesar 9,2 ribu ton dan produksi tersebut diperkirakan mening kat menjadi 1.839,4 ribu ton pada akhir PJP I. Selama PJP I minyak bumi, gas bumi, dan panas bumi sangat besar peranannya dalam pembangunan. Minyak dan gas bumi merupakan sumber energi dan bahan baku untuk industri dalam negeri serta menjadi sumber penerimaan dan devisa negara. Pemboran eksplorasi minyak dan gas bumi selama PJP I telah menghasilkan 1.504 sumur temuan (discovery well) yang terdiri atas 1.069 sumur minyak dan 435 sumur gas. Dengan bertam bahnya data bawah permukaan sebagai hasil dari penyelidikan dan pengeboran, diketahui bahwa di Indonesia terdapat 60 cekungan tersier, 36 cekungan di antaranya telah dieksplorasi dan dibor selama PJP I. Sesuai dengan peningkatan kegiatan pertambangan, produksi minyak bumi, termasuk kondensat, selama PJP I menunjukkan kenaikan dari tahun ke tahun. Pada tahun pertama Repelita I produksi minyak bumi mencapai 284,3 juta barel, dan pada akhir PJP I produksi minyak bumi dan kondensat diperkirakan mencapai 560 juta barel.

266 Produksi gas bumi selama PJP I meningkat 22 kali lipat, yaitu dari 116 miliar kaki kubik pada awal PJP I menjadi 2.502 miliar kaki kubik menjelang akhir PJP I. Kenaikan produksi gas tersebut terutama disebabkan oleh pengembangan pemanfaatan gas untuk gas alam cair (liquefied natural gas, LNG) sejak 1977, di samping dimanfaatkan juga untuk pabrik pupuk, pabrik baja, dan pemanfaatan dalam negeri lainnya. Pemanfaatan gas bumi, baik sebagai bahan bakar maupun sebagai bahan baku, meningkat dari tahun ke tahun selama PJP I. Pada tahun pertama Repelita I gas yang dimanfaatkan baru 51,6 persen dari gas yang diproduksi, terutama untuk pemakaian di lapangan sebagai gas pengangkat atau gas penekan dalam rangka membantu produksi minyak. Adapun sisanya sebesar 48,4 persen dibakar. Menjelang akhir PJP I pemanfaatan gas bumi meningkat menjadi 94,0 persen dan hanya 6,0 persen yang dibakar. Pengolahan minyak mentah mengalami peningkatan yang cukup besar. Dalam tahun pertama Repelita I minyak mentah yang diolah sebesar 77,1 juta barel. Dengan pembangunan, perluasan, peningkatan dan perbaikan kilang Cilacap, Balikpapan, Dumai, Sungai Pakning dan Sungai Musi yang dilakukan selama PJP I, pada tahun terakhir Repelita V minyak yang diolah mencapai 311,9 juta barel atau meningkat hampir 4 kali lipat selama PJP I. Bahan bakar minyak (BBM) yang dihasilkan oleh kilang minyak meningkat dari 52,2 juta barel pada tahun pertama PJP I menjadi 232,2 juta barel menjelang tahun terakhir PJP I. Kilang minyak itu juga menghasilkan produk non-BBM, yang produksinya meningkat dari 21,1 juta barel pada tahun pertama PJP I menjadi sekitar 66,4 juta barel pada tahun terakhir PJP I. Pengolahan gas mengalami peningkatan sejak dimulainya produksi LNG di kilang gas Bontang pada tahun 1977 dan di kilang gas Arun pada tahun 1978. Menjelang akhir PJP I produksi LNG mencapai 25 juta ton. Demikian pula, produksi gas minyak

cair (liquefied petroleum gas, LPG) meningkat selama PJP I, yaitu dari 11,8 ribu ton pada tahun pertama PJP I menjadi sekitar 2,9 juta ton pada tahun terakhir PJP I. Kilang polipropilena yang mulai beroperasi pada tahun 1973 diperkirakan menghasilkan 13,4 ribu ton polipropilena per tahun pads . akhir Repelita V. Kilang asam tereftalat murni (Purified Terephthalic Acid, PTA), mulai beroperasi pada tahun 1986, dan diperkirakan memproduksi 205 ribu ton PTA pada tahun terakhir Repelita V. Kilang metanol mulai beroperasi pada tahun 1986, dan mencapai tingkat produksi 273 ribu ton pada akhir Repelita V. Paraxilena dan benzena mulai diproduksikan pada tahun 1990. Tingkat produksi pada akhir PJP I diperkirakan mencapai 242 ribu ton untuk paraksilena dan 102 ribu ton untuk benzena. Konsumsi BBM di dalam negeri meningkat dari 6,2 juta kiloli ter pada awal Repelita I menjadi sekitar 42 juta kiloliter pada akhir PJP I yang berarti naik hampir 7 kali lipat selama 25 tahun, atau naik rata-rata 8,5 persen setahun. Dari berbagai jenis BBM yang digunakan di dalam negeri, bensin pesawat terbang (avgas) menunjukkan penurunan, sebaliknya bahan bakar pesawat jet (avtur) naik rata-rata 8,2 persen per tahun, bensin naik rata-rata 7,1 persen per tahun, minyak tanah (kerosin) naik rata-rata 4,2 persen per tahun, minyak solar (ADO) naik rata-rata 11,6 persen per tahun, minyak diesel (IDO) naik rata-rata 6,4 persen per tahun, dan minyak bakar naik rata-rata 7,4 persen per tahun. Penjualan gas untuk rumah tangga dan industri oleh Perusaha an Umum Gas Negara (PGN) mengalami kenaikan hampir 29 kali lipat dari 5,6 juta meter kubik pada tahun pertama PJP I menjadi 733,9 juta meter kubik pada tahun terakhir Repelita V. Sejak tahun 1974 mulai dilakukan survei dan eksplorasi panas bumi. Sebagai hasil kegiatan eksplorasi, diidentifikasikan 217 daerah prospek panas bumi dengan jumlah potensi lebih dari 16.000 megawatt. Pada akhir PJP I telah dapat dimanfaatkan 267

268 sebesar 199,5 megawatt, yaitu dari lapangan Kamojang, Gunung Salak, Dieng, dan Lahendong.

III. TANTANGAN, KENDALA, DAN PELUANG PEMBANGUNAN

Pembangunan di sektor pertambangan terutama minyak dan gas bumi, selama PJP I telah memberikan sumbangan yang sangat besar bagi pembangunan nasional. Dalam Repelita VI minyak dan gas bumi masih merupakan komoditas andalan baik sebagai sumber energi primer maupun dalam penyediaan anggaran pemerintah. Demikian pula berbagai bahan tambang lainnya masih dapat dimanfaatkan untuk jangka waktu yang cukup panjang. Untuk dapat meningkatkan kemampuan di bidang pertambangan dalam rangka mendukung pembangunan nasional pada PJP II, segala tantangan dan kendala yang ada harus dapat diantisipasi, di sam ping berbagai peluang yang dapat dimanfaatkan. 1. Tantangan Dalam Repelita VI pembangunan pertambangan dihadapkan kepada tantangan bagaimana meningkatkan sumber daya manusia yang profesional baik dalam jumlah maupun kualitasnya. Tingkat penguasaan teknologi tenaga-tenaga pertambangan belum dapat memenuhi kebutuhan yang semakin meningkat. Kegiatan eksplo rasi dan pengusahaan pertambangan pada masa mendatang cen derung semakin mengarah ke daerah yang lebih sulit dan terpen cil. Hal ini menuntut perlunya upaya mempercepat penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi pertambangan yang lebih maju. Tantangan yang juga dihadapi sektor pertambangan adalah bagaimana meningkatkan keterkaitan antara usaha pertambangan dengan industri pengolahan dan sektor-sektor lainnya. Belum berkembangnya keterkaitan tersebut berakibat hilangnya kesempatan untuk memperoleh nilai tambah yang potensial serta

269 ketergantungan industri dalam negeri terhadap impor bahan baku hasil tambang. Dalam kaitan itu, pengembangan serta penerapan standardisasi produk dan jasa pertambangan, yang menyangkut bidang geologi, penambangan, dan pengolahan hasil tambang, termasuk pengujian dan analisis l a b or a t or i um , merupakan tantangan yang juga harus mendapatkan perhatian khusus dalam rangka mengembangkan keterkaitan usaha pertambangan dengan sektor industri secara efisien. Di samping itu, tantangan lain yang juga dihadapi sektor pertambangan adalah pengembangan keterkaitan antara usaha pertambangan dengan sektor-sektor lainnya. Indonesia selain memiliki cadangan mineral berskala besar juga memiliki cadangan mineral berskala kecil dan tersebar di banyak tempat. Cadangan mineral tersebut sering tidak efisien jika diusahakan secara modern dan menggunakan teknologi canggih, tetapi masih ekonomis jika diusahakan oleh pertambangan rakyat. Pertambangan jenis ini sering diusahakan oleh rakyat setempat tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan ataupun peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sementara itu, usaha pertam bangan rakyat secara tradisional tidak mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat penambang secara nyata. Dengan demi kian, tantangan yang dihadapi adalah bagaimana meningkatkan peran serta masyarakat dalam pembangunan pertambangan secara efektif sehingga usaha pertambangan rakyat dapat ditata dan di kembangkan secara mantap dan terpadu sebagai bagian integral dari sistem pertambangan nasional yang berwawasan lingkungan. Arus globalisasi telah mendorong terjadinya persaingan yang makin ketat dalam menarik investasi, baik persaingan antarnegara maupun persaingan antarsektor ekonomi. Tantangan yang dihadapi adalah bagaimana menciptakan iklim investasi yang lebih men dukung serta sistem insentif untuk menarik masuknya investor baru dalam usaha pertambangan. Hal ini penting mengingat sifat usaha pertambangan adalah penuh risiko, padat modal, dan bersifat jangka panjang.

270 Kegiatan perencanaan dan pengembangan pertambangan, baik oleh swasta maupun Pemerintah, menuntut tersedianya data dan informasi geologi sumber daya mineral secara lengkap dan rinci. Dewasa ini upaya pengumpulan, pengolahan, penyimpanan serta pemanfaatan informasi geologi dan sumber daya mineral belum sepenuhnya mampu memberikan informasi secara cepat, lengkap dan efisien. Tantangan yang dihadapi adalah bagaimana mengem bangkan sistem informasi geologi dan sumber daya mineral yang terpadu dengan memanfaatkan teknologi informasi yang mutakhir. Dalam Repelita VI minyak bumi diperkirakan masih akan menjadi sumber energi primer yang penting. Di samping itu, minyak bumi juga merupakan komoditas ekspor yang memberikan sumbangan besar bagi pendapatan negara dan penerimaan devisa. Pangsa minyak bumi dalam konsumsi energi telah berhasil ditu runkan, tetapi jumlah pemakaiannya masih terus meningkat dari tahun ke tahun. Apabila tidak ditemukan cadangan-cadangan minyak baru, dalam waktu yang tidak terlalu lama Indonesia akan menjadi negara pengimpor minyak neto. Oleh karena itu, peman faatan sumber energi primer lainnya terutama gas bumi, batu bara dan panas bumi perlu segera dipacu peningkatannya. Penganekara gaman sumber energi telah lama diupayakan, tetapi hasilnya belum memuaskan. Dengan demikian, tantangan yang dihadapi adalah bagaimana mengupayakan diversifikasi dan konservasi sumber energi primer secara optimal. Kegiatan usaha pertambangan banyak menimbulkan dampak negatif terhadap kelestarian fungsi lingkungan hidup fisik meliputi air, udara, tanah, dan bentang alam, ataupun nonfisik seperti sosial ekonomi dan budaya masyarakat. Persyaratan lingkungan yang semakin ketat di tingkat nasional dan internasional memerlukan perhatian yang semakin besar terhadap aspek lingkungan hidup dalam kegiatan pertambangan. Di samping itu, pembangunan pertambangan sebagai upaya pemanfaatan sumber daya alam seharusnya dilaksanakan, ditata, dan dikembangkan secara terpadu dengan pembangunan wilayah dalam suatu kerangka tata ruang

271 yang didasarkan kepada hasil inventarisasi geologi dan evaluasi sumber daya mineral, dan disusun sesuai dengan prinsip peman faatan lahan berganda, termasuk pengembangan wilayah pasca tambang. Oleh karena itu, juga merupakan tantangan untuk memanfaatkan sumber daya mineral dan energi melalui penerapan sistem pertambangan yang berwawasan lingkungan, serta untuk menjamin kesinambungan kegiatan ekonomi setelah kegiatan pertambangan berakhir. 2. Kendala

Pembangunan pertambangan dalam Repelita VI dan PJP II dihadapkan pada berbagai kendala. Kendala pertama adalah berkaitan dengan kebutuhan modal untuk investasi. Berbagai kegiatan usaha pertambangan mulai dari eksplorasi, penambangan, serta pengolahan hasil tambang memerlukan dana yang besar. Pembangunan di sektor pertambangan masih sangat tergantung kepada investasi asing. Investasi asing, di samping membawa modal, juga sekaligus memasukkan kemampuan teknologi, manajemen, dan saluran pemasaran. Namun, persaingan untuk menarik investasi tersebut, baik antarnegara maupun antarsektor ekonomi di dalam negeri, diperkirakan akan makin ketat. Harga komoditas mineral dan minyak bumi yang tidak stabil dan cende rung menurun di pasaran internasional, juga merupakan kendala. Keterbatasan dalam kemampuan penguasaan teknologi juga menjadi kendala. Walaupun selama PJP I telah dicapai kemajuan dalam teknologi pertambangan di Indonesia, pada umumnya kemajuan baru pada taraf mengaplikasikan teknologi yang diimpor. Proses alih teknologi berlangsung relatif lambat. Oleh karena itu, dalam pengusahaan pertambangan ketergantungan kepada tenaga ahli asing untuk berbagai bidang keahlian masih cukup besar. Sementara itu, infrastruktur kelembagaan yang mendukung upaya percepatan penguasaan teknologi pertambangan, termasuk lembaga pendidikan dan pelatihan serta lembaga penelitian dan pengembang an, masih terbatas kemampuannya.

272 Pembangunan pertambangan dalam Repelita VI juga diha dapkan pada kurangnya tenaga ahli dan tenaga terampil, termasuk untuk pengembangan pertambangan rakyat yang efisien dan pertam bangan yang berwawasan lingkungan. Belum mantapnya penataan ruang menjadi kendala dalam pengembangan usaha pertambangan karena sering mengakibatkan tumpang tindih dalam pemberian hak pemanfaatan lahan dan ruang. 3. Peluang

Sektor pertambangan di Indonesia mempunyai cukup peluang untuk berkembang dalam masa PJP II. Indonesia sebagai negara yang memiliki sumber daya mineral yang sangat besar serta posisi yang strategis di kawasan Asia Pasifik mempunyai peluang untuk mengembangkan potensi mineralnya apabila ditunjang dengan strategi yang sesuai serta iklim berusaha yang mendukung. Jumlah penduduk Indonesia yang besar dengan tingkat penda patan yang meningkat sejalan dengan laju pertumbuhan ekonomi akan menjadi pasar yang potensial bagi produk yang berbasis sumber daya mineral. Restrukturisasi industri di negara-negara maju juga akan membuka peluang. Dengan sumber daya alam mineral dan energi yang kaya, Indonesia memiliki peluang yang besar sebagai tempat relokasi industri dari negara maju, termasuk industri pengolahan hasil tambang. Pertumbuhan pasar di kawasan Asia Pasifik akan menciptakan peluang dan kesempatan khusus bagi Indonesia untuk mengem bangkan industri pertambangan dengan skala yang ekonomis, yang memungkinkan peningkatan efisiensi dan daya saing.

273
IV. ARAHAN, SASARAN, DAN KEBIJAKSANAAN PEMBANGUNAN 1. Arahan GBHN 1993

Pembangunan pertambangan diarahkan untuk memanfaatkan kekayaan surnber daya alam tambang secara hemat dan optimal bagi pembangunan nasional demi kesejahteraan rakyat, dengan tetap menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup serta ditujukan untuk menyediakan bahan baku bagi industri dalam negeri, bagi keperluan energi, dan bagi keperluan masyarakat, serta untuk meningkatkan ekspor, meningkatkan penerimaan negara dan pendapatan daerah, serta memperluas lapangan kerja dan kesempatan usaha. Dalam pembangunan pertambangan perlu ditingkatkan upaya peningkatan produksi, penganekaragaman hasil tambang, penge lolaan usaha pertambangan secara efektif dan efisien, didukung oleh usaha inventarisasi dan pemetaan serta eksplorasi dan eksploitasi kekayaan bahan tambang yang makin meningkat dengan menguasai dan memanfaatkan teknologi yang tepat. Pengembangan pertambangan perlu diarahkan untuk mendorong kegiatan ekonomi dengan mempertimbangkan prinsip penggunaan lahan berganda dan pola tata ruang nasional melalui kebijaksanaan optimasi manfaat dari pendayagunaan kekayaan alam. Pembangunan pertambangan diselenggarakan secara terpadu dengan pembangunan daerah dan pembangunan berbagai sektor lainnya, terutama yang berkaitan erat dengan perluasan lapangan kerja dan kesempatan usaha, serta pengembangan wilayah dengan selalu memperhatikan kebutuhan masa depan dan kelestarian fungsi lingkungan hidup. Pengetahuan geologi perlu ditingkatkan untuk memperoleh manfaat maksimal dan kemampuan untuk memper kirakan secara tepat bencana alam geologis sehingga dapat mem berikan perlindungan bagi masyarakat.

274

Pemanfaatan bahan dan hasil tambang terus dikembangkan melalui peningkatan produksi dan usaha pemasarannya di dalam negeri dan di luar negeri serta pengolahannya perlu didukung oleh industri pengolahan yang maju agar mampu meningkatkan nilai tambah dan pendapatan negara. Upaya untuk memproduksi minyak dan gas bumi serta menemukan cadangan baru perlu ditingkatkan, disertai usaha perluasan pemasaran produk hasil pengolahan minyak dan gas bumi dalam rangka peningkatan dan penganekaragaman sumber penerimaan dan devisa negara. Dengan makin terbatasnya cadangan minyak dan gas bumi serta makin sulitnya menemukan ladang baru, upaya penganekaragaman sumber energi perlu makin ditingkatkan, terutama batu bara, sehingga ketergantungan pada minyak dan gas bumi makin berkurang. Pertambangan rakyat dilindungi, dibimbing, dan ditingkatkan pengelolaannya antara lain melalui pengaturan, penyuluhan, dan pembinaan usaha pertambangan, termasuk usaha koperasi, dalam rangka perluasan lapangan kerja dan kesempatan usaha serta peningkatan pendapatan dan taraf hidup rakyat, khususnya rakyat penambang. Kerja sama pertambangan rakyat dengan usaha pertambangan negara dan swasta besar perlu didorong agar saling menunjang dan saling memperkuat. Penanaman modal swasta di sektor pertambangan di luar pertambangan rakyat dan galian strategis, baik modal dalam negeri maupun modal asing, terus didorong dan ditingkatkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi pembangunan nasional dan alih teknologi, antara lain melalui penciptaan iklim yang lebih sehat dan menarik bagi penanaman modal. Penguasaan teknologi pertambangan, termasuk teknologi eksplorasi dan eksploitasi bahan tambang di darat maupun di dasar

275 laut, terus ditingkatkan melalui keterampilan dan keahlian di sektor pertambangan. Penambangan dan pengelolaan bahan galian yang tidak vital dan tidak strategis harus mengikutsertakan rakyat setempat dengan tetap menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup. Untuk memelihara kelestarian fungsi lingkungan, upaya reklamasi pascatambang perlu dilaksanakan sejak awal sehingga bekas tambang dapat lebih dimanfaatkan. 2. Sasaran a. Sasaran PJP II

Sasaran pembangunan pertambangan dalam PJP II adalah mendukung terciptanya perekonomian nasional yang mandiri dan andal melalui pendayagunaan sumber daya alam mineral dan energi secara hemat dan optimal serta berwawasan lingkungan. Dalam kaitan itu, pada akhir PJP II seluruh kebutuhan informasi dasar geologi, baik berupa peta-peta dasar geologi maupun informasi bencana alam geologis dan lingkungan hidup, telah tersedia. Dalam PJP II akan dicapai tingkat kemandirian yang tinggi melalui penguasaan pengetahuan dan teknologi; pemurnian, pengolahan, serta penggunaan bahan hasil tambang; dan peningkatan manajemen usaha pertambangan. Dalam hal minyak bumi dan gas bumi, akan lebih dikembangkan eksplorasi dan pengusahaan di laut, dan hampir seluruh cekungan tersier sudah dieksplorasi. Khususnya potensi panas bumi akan dimanfaatkan minimal 25 persen atau sekitar 4.000 megawatt. b. Sasaran Repelita VI

Sasaran pembangunan pertambangan dalam Repelita VI adalah meningkatnya produksi dan diversifikasi hasil tambang untuk

276 memenuhi kebutuhan bahan baku industri dan sumber energi primer, peningkatan ekspor dan pemenuhan keperluan masyarakat lainnya; terwujudnya sistem pertambangan yang efisien dan produktif yang didukung oleh kemampuan penguasaan teknologi, kualitas sumber daya manusia dan manajemen usaha pertambangan; meningkatnya peran serta masyarakat dalam usaha pertambangan terutama melalui wadah koperasi; meluasnya pembangunan pertambangan di daerah guna mendukung pengembangan wilayah, terutama kawasan timur Indonesia; tersedianya pelayanan informasi geologi dan sumber daya mineral yang andal, baik untuk eksplorasi lanjut, penataan ruang, maupun mitigasi bencana alam geologis. Sektor pertambangan akan ditumbuhkembangkan rata-rata sebesar 2,6 persen per tahun selama Repelita VI. Dalam upaya perluasan lapangan kerja dan kesempatan berusaha, sektor pertambangan diupayakan mampu meningkatkan penyerapan tenaga kerja dari sekitar 842 ribu orang pada tahun 1993 menjadi sebesar 989 ribu orang pada akhir Repelita VI. Hal ini berarti bahwa sektor pertambangan akan mampu memberikan tambahan kesempatan kerja kepada 147 ribu orang selama Repelita VI. Penyerapan tenaga kerja ini, terutama terwujud melalui makin tumbuh dan berkembangnya usaha pertambangan rakyat, termasuk pertambangan skala kecil (PSK), dalam bentuk koperasi. Dalam Repelita VI akan dipercepat penyelesaian informasi dasar geologi. Sasaran pokoknya adalah penyelesaian peta geologi dan daerah bahaya seluruh gunung api Indonesia, pemetaan geofisika udara di Pulau Kalimantan dan Sulawesi, penyelesaian peta dasar lainnya bagi daerah pertumbuhan di Pulau Jawa serta pembangunan pos pengamatan gunung api yang mempunyai derajat bahaya yang tinggi. Dalam Repelita VI diprogramkan penyelesaian pemetaan dan penyelidikan geologi dan geofisika sejumlah 104 peta; pemetaan dan penyelidikan geologi kelautan sejumlah 25 lembar peta dan 30

2772 77
lokasi; inventarisasi dan pemetaan serta eksplorasi sumber daya mineral sejumlah 55 lembar peta dan 105 lokasi; inventarisasi dan pemetaan serta eksplorasi sumber daya energi sejumlah 25 lembar peta dan 45 lokasi, dan 3 kegiatan pengeboran; pemetaan hidro geologi sejumlah 25 lembar peta dan 23 penyelidikan air tanah. Lihat Tabel 25 - 1. Sasaran pertambangan mineral dan batu bara yang akan dica pai pada akhir Repelita VI adalah produksi batu bara akan menca pai 71 juta ton, yang akan dipakai di dalam negeri sebanyak 31,9 juta ton dan ekspor sebanyak 39,1 juta ton; produksi timah sebesar 40,3 ribu ton; produksi bijih nikel sebesar 2,75 juta ton, feronikel sebesar 11 ribu ton, dan nikel matte sebesar 50 ribu ton, sedang ekspornya masing-masing sebesar 1,9 juta ton bijih nikel, 11 ribu ton feronikel dan 45 ribu ton nikel matte; produksi bauksit sebesar 1 juta ton; produksi konsentrat tembaga sebesar 1.761 ribu ton, yang akan diekspor sebesar 1.311 ribu ton, sedang 450 ribu ton konsentrat tembaga akan diproses di dalam negeri menjadi logam; produksi emas sebesar 70,6 ribu kilogram dan perak sebesar 143 ribu kilogram; dan produksi pasir besi sebesar 340 ribu ton. Di bidang minyak dan gas bumi direncanakan pada akhir Repelita VI sebanyak 60 persen dari cekungan telah dibor, termasuk cadangan gas bumi di Kepulauan Natuna dan di kawasan timur Indonesia. Pemanfaatan panas bumi telah mencapai 6 persen dari total sumber dayanya. Kilang minyak berorientasi ekspor (export oriented oil refinery, EXOR) telah beroperasi, demikian pula Train G kilang LNG Bontang. Laju pertumbuhan konsumsi BBM dalam negeri diharapkan dapat ditekan menjadi sekitar 6 persen per tahun. Sasaran yang akan dicapai dalam pertambangan minyak dan gas bumi pada akhir Repelita VI adalah produksi minyak bumi dan kondensat dipertahankan sebesar 547,5 juta barel per tahun atau 1.500 ribu barel per hari; produksi gas bumi sebesar 2.960 miliar kaki kubik atau 8,1 miliar kaki kubik per hari dan pemanfaatannya

TABEL 25 - 1 RENCANA KEGIATAN PEMETAAN DAN PENYELIDIKAN GEOLOGI SEKTOR PERTAMBANGAN 1994/95-1998/99 Akhir Repelita V *) 11 Repelita VI 199 1997 6/97 /98 22 24

Jenis Sasaran 1. Pemetaan geologi dan geofisika

Satu an lemb ar lemb ar loka si lemb ar loka si lemb ar loka si lemb ar loka si

1994/ 95 15

1995 /96 22

1998/ 99 21

Jum lah 104

2. Pemetaan geologi dasar laut

25

3. Penyelidikan geologi kelautan

30

4. Inventarisasi dan pemetaan sumber daya mineral 5. Eksplorasi sumber daya mineral 6. Inventarisasi dan pemetaan sumber daya energi 7. Eksplorasi dan penyelidikan sumber daya energi 8. Pemetaan hidrogeologi 9. Penyelidikan air tanah

11

11

11

11

11

55

10 3

21 5

21 5

21 5

21 5

21 5

105 25

10

10

10

48

3 5

5 4

5 5

5 4

5 5

5 5

25 23

Catatan: *) Angka perkiraan realisasi (tahun terakhir Repelita V)

278

279 sebesar 7,7 miliar kaki kubik per hari; potensi panas bumi dimanfaatkan sebesar 1.025 megawatt; penjualan BBM dalam negeri sebesar 52.283,7 ribu kiloliter dan gas bumi sebesar 3.670,7 juta meter kubik; ekspor minyak mentah sebesar 263.107 ribu barel; produksi LNG sebesar 28 juta ton, dan produksi LPG sebesar 3,5 juta ton. Lihat Tabel 25 - 2. 3. Kebijaksanaan

Dalam rangka pembangunan pertambangan sesuai dengan arahan GBHN 1993 dan untuk mencapai berbagai sasaran di atas, dikembangkan kebijaksanaan pembangunan pertambangan, yang meliputi pengembangan informasi geologi dan sumber daya mineral sebagai pendukung dasar pembangunan pertambangan; pemantapan penyediaan komoditas mineral dan energi melalui peningkatan produksi, pengolahan, dan diversifikasi hasil tam-bang; peningkatan peran serta rakyat dan pelestarian fungsi lingkungan hidup dalam pembangunan pertambangan; pengembangan kemampuan sumber daya manusia dan penguasaan teknologi pertambangan guna mendukung peningkatan efisiensi dan produktivitas usaha pertambangan; serta pengembangan sistem pendukung lainnya bagi peningkatan efektivitas pembangunan pertambangan. a.
Pengembangan Informasi Geologi dan Sumber Daya Mineral

Pengembangan geologi dan sumber daya mineral sebagai pendukung dasar pembangunan pertambangan dan energi ditingkatkan dan diarahkan untuk penyediaan data dasar bagi kegiatan eksplorasi lanjutan, pengusahaan tambang, pemanfaatan panas bumi dan pemanfaatan air tanah; penyediaan informasi mengenai geologi bagi penanggulangan bencana alam geologis sehingga korban

jiwa dan kerugian materiil dapat ditekan secara maksimal; dan penyediaan informasi geologi tata lingkungan sebagai bahan acuan dalam menyusun tata ruang nasional. Untuk itu, disusun peta dasar geologi, berbagai peta sumber daya mineral dan energi di

280

TABEL 25-2 PERKIRAAN PRODUKSI PERTAMBANGAN MINERAL DAN ENERGI SEKTOR PERTAMBANGAN 1994/95-1998/99 Janis Sasaran Satua juta barel miliar kaki kubik ribu ton MW ribu ribu - ton - ton ribu ribu ribu kg kg Akhir Repelita 500,0 2.502,0 29.000,0 199,5 31,2 2.547,5 5.500,0 32.000,0 1.087,0 1.042,0 315,7 40.324,0 71.094,0 2.945, 5 35.00 0,031 3 50.00 1.05 340 42.00 93.50 0,0 3.068, 0 44.000 ,0 51 3 10.000 50.000 34 47.300 98.200 ,0 34 120.20 0,0 34 143.30 0,0 34 143.00 0,0 598.20 0,0 3.025,8 52.000, 660 37 2.890,8 60.000, 740 4 2.960,0 71.000, 4 14.888, 1 262.000 3.24 18 1904 55 8,5 1995/ 55 6,3 Repelita Vi 1998/9 1997/9 553, 0 551, 2 1998/9 547, 5 Juml 2.766,5

1. Minyak bumi
dan kondensat 2. Gas bumi 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Batubara Panas bumi 2) Logam timah Bijih nikel - feronikel - nikel matte Bauksit Konsentrat tembaga Pasir besi Emas 3) Perak 4)

Catatan: 1) Angka perkiraan realisasi (tahun terakhir Repelita V) 2) Daya terpasang 3) Termasuk emas dalam konsentrat tembaga 4) Termasuk perak dalam konsentrat tembaga

281 darat dan di laut, serta peta hidrogeologi, geologi teknik, geologi tata lingkungan, daerah bahaya gunung api, gerakan tanah dan gempa bumi. Upaya tersebut didukung oleh kegiatan penelitian geologi dan geofisika; inventarisasi, eksplorasi dan evaluasi kekayaan sumber daya mineral, air bawah tanah dan panas bumi; dan penyelidikan serta pemantauan bencana alam geologis.
b. Pemantapan Penyediaan Komoditas Mineral dan Energi

Pembangunan pertambangan ditingkatkan dan diarahkan pada pemanfaatan segenap kekayaan sumber daya mineral dan energi yang dimiliki untuk menunjang pembangunan nasional. Untuk itu, diupayakan peningkatan jenis, jumlah, dan mutu komoditas mineral yang ditambang, terutama dalam rangka penyediaan sumber energi primer serta bahan baku untuk industri di dalam negeri. Efisiensi dan efektivitas penambangan dan pengolahan hasil tambang ditingkatkan melalui pemanfaatan teknologi tepat dan perbaikan manajemen. Pembangunan pertambangan diupayakan makin terkait erat dengan pembangunan industri di dalam negeri dalam rangka meningkatkan nilai tambah komoditas mineral dan energi. Industri pengolahan hasil tambang dan industri manufaktur lainnya dikembangkan dengan memberikan prioritas kepada penciptaan mata rantai hulu-hilir industri pertambangan yang makin kukuh dengan daya saing yang meningkat. Mengingat keterbatasan cadangan minyak bumi di masa mendatang, ditingkatkan upaya untuk menggantikan peranan minyak bumi sebagai sumber utama energi primer. Pemanfaatan minyak bumi sebagai penyedia energi supaya diarahkan hanya untuk penggunaan yang benar-benar belum dapat digantikan oleh sumber energi lain, dan sebagai bahan baku industri yang menghasilkan nilai tambah

lebih tinggi. Keterpaduan upaya pemanfaatan energi alternatif di dalam negeri untuk menggantikan peranan BBM

282 di sektor rumah tangga, industri, dan transportasi ditingkatkan. Pengembangan energi alternatif dengan cadangan besar seperti halnya batu bara, ditetapkan dalam suatu kebijaksanaan nasional yang menyangkut berbagai aspek dalam bentuk peraturan perundang-undangan yang mempunyai jangkauan ke depan. Pengembangan pertambangan memperhatikan dan diserasikan dengan kebijaksanaan umum di bidang energi, pembangunan daerah, pertahanan keamanan negara, keselamatan dan kesehatan kerja, kebijaksanaan umum lingkungan hidup, keselamatan terhadap bencana alam geologis, dan kepentingan lintas sektoral lainnya. Di samping itu, ditingkatkan pula perhatian terhadap kelangsungan kehidupan sosial ekonomi pascatambang di daerah pertambangan.
c. Peningkatan Peran Serta Masyarakat dan Pelestarian Fungsi Lingkungan Hidup

Untuk meningkatkan peran serta masyarakat dalam pengusahaan pertambangan, ditempuh pengembangan pertambangan rakyat secara lebih terpadu melalui penyuluhan, pembimbingan, serta pembinaan usaha pertambangan termasuk pertambangan skala kecil (PSK) dalam wadah koperasi. Pola pengembangan PSK yang telah dirintis di beberapa daerah sejak tahun 1991 dimantapkan dan diperluas pelaksanaannya. Penertiban dan pembinaan usaha pertambangan rakyat didukung oleh upaya identifikasi cebakan mineral dan pencadangan usaha untuk pertambangan rakyat di daerah. Pengembangan pertambangan dapat mendorong tumbuhnya kegiatan sosial ekonomi daerah, terutama di daerah terpencil, dengan mempertimbangkan prinsip penggunaan lahan berganda dalam tata ruang daerah yang bersifat dinamis, melalui optimasi manfaat neto pendayagunaan kekayaan alam.

283 Kegiatan sosial ekonomi yang tumbuh selama usaha pertambangan berlangsung diupayakan agar terus berlanjut pada masa pascatambang. Oleh karena itu, harus dipersiapkan perencanaan, pelaksanaan, dan pengembangan transformasi struktural sesuai dengan potensi sumber daya yang terdapat di wilayah yang bersangkutan. Transformasi struktural diarahkan pada proses perubahan kegiatan ekonomi suatu wilayah pertambangan secara bertahap ke sektor ekonomi lain yang produktif. Sektor yang tumbuh dan berkembang selama kegiatan usaha pertambangan berjalan diharapkan mampu menyerap dan mengembangkan potensi lokal dan memanfaatkan keunggulan komparatif yang dimiliki daerah seoptimal mungkin, serta menciptakan keunggulan kompetitif sehingga mampu menggantikan kegiatan usaha pertambangan yang suatu ketika akan berakhir. Dengan demikian, pengembangan ekonomi wilayah setelah kegiatan usaha pertambangan terhenti dapat terus dijaga kesinambungannya. Kawasan timur Indonesia relatif belum berkembang meskipun memiliki kekayaan sumber daya alam yang cukup besar dan beragam, terutama sumber daya mineral dan energi. Potensi tersebut dalam PJP II dikembangkan dan dimanfaatkan sebagai modal awal dan penggerak mula dalam memacu pembangunan ekonomi kawasan ini. d.
Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Penguasaan Teknologi Pertambangan

Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang lebih mantap diperlukan untuk mendukung pembangunan pertambangan yang makin berkembang, meningkatkan nilai tambah, memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup dan memperkecil kerugian akibat bencana alam geologis. Penguasaan teknologi maju ditingkatkan melalui peningkatan pendidikan dan pelatihan guna memenuhi kebutuhan tenaga profesional dan tenaga terampil. Upaya alih teknologi pada tenaga bangsa Indonesia secara sistematis ditingkatkan dan dipercepat. Penguasaan ilmu

pengetahuan dan teknologi tersebut diperlukan dalam usaha menemukan cadangan sumber daya mineral dan energi, meningkatkan efisiensi dalam eksplorasi dan produksi, meningkatkan konservasi dan penganekaragaman pemanfaatan sumber daya, mendukung pengembangan industri pengolahan hasil tambang, dan mendukung pengembangan wilayah melalui pemanfaatan sumber daya setempat. Kemampuan penelitian dan pengembangan harus ditingkatkan sehingga mampu menghasilkan teknologi tepat serta menyediakan informasi bagi pemantapan kebijaksanaan ataupun dalam menunjang operasi dan pengelolaan pertambangan. Untuk itu, kegiatan penelitian dan pengembangan, baik dalam eksplorasi, penambangan, pengolahan, ekstraksi, dan pemurnian hasil tambang, maupun pemanfaatannya diberi perhatian khusus.
e. Pengembangan Sistem Pendukung Pertambangan

Untuk mengoptimalkan pemanfaatan bahan dan hasil tambang dalam upaya memenuhi kebutuhan di dalam negeri dan ekspor, terus dilanjutkan usaha standardisasi proses dan produk per tambangan yang menyangkut teknik eksplorasi, sistem penam bangan, pengolahan dan pendistribusian komoditas hasil tambang, serta pengujian mutu. Upaya tersebut dikembangkan agar dapat dicapai kesesuaian tolok ukur kualitas antara produsen dan konsumen, di samping tercapai efisiensi yang lebih tinggi. Usaha menarik penanaman modal, baik asing maupun dalam negeri, dalam usaha pertambangan terus ditingkatkan melalui penyediaan informasi, pemberian kemudahan perizinan, dan sistem insentif, dengan tetap memperhatikan keserasian usaha yang saling terkait di antara para pelaku ekonomi, baik dari segi pendanaan , teknologi maupun manajemen. Pertambangan minyak dan gas bumi dalam Repelita VI masih berperan cukup besar dengan menghasilkan berbagai bahan hasil tambang yang dapat dimanfaatkan, baik sebagai sumber energi, 284

bahan baku industri, maupun sumber penerimaan negara. Untuk menjamin kelangsungan pengusahaannya, sebagian dari hasil tambang tersebut, terutama migas, diinvestasikan kembali, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam arus globalisasi dengan persaingan yang makin tajam, peran informasi dalam pembangunan pertambangan sangat vital. Sistem jaringan informasi yang andal dalam penyediaan data dan informasi bagi semua pihak yang berkepentingan dalam penanganan pertambangan, terus ditingkatkan.
V. PROGRAM PEMBANGUNAN

Dalam rangka mencapai sasaran Repelita VI dan PJP II, sesuai dengan arahan GBHN 1993 dan sebagai pelaksanaan kebijaksanaan tersebut di atas, akan dikembangkan berbagai program pembangunan sektor pertambangan, yang meliputi program pokok dan program penunjang. Berbagai program tersebut merupakan program nasional sebagai acuan pelaksanaan kegiatan pembangunan sektor pertambangan bagi Pemerintah dan dunia usaha serta masyarakat pada umumnya. 1. Program Pokok a. Program Pengembangan Geologi dan Sumber Daya Mineral

Dalam program pengembangan geologi dan sumber daya mineral akan dilaksanakan beberapa kegiatan pokok yang bertujuan terutama untuk menyediakan data dasar geologi, potensi sumber daya mineral, geologi kelautan, serta informasi geologi tata lingkungan dan mitigasi bencana alam geologis.

285286 1)
Geologi Sumber Daya Mineral

Dalam Repelita VI direncanakan pemetaan geologi bersistem berbagai skala sebanyak 68 lembar serta pemetaan gaya berat berbagai skala sebanyak 36 lembar. Kegiatan inventarisasi dan eksplorasi sumber daya mineral logam dan energi, penelitian dan penyelidikan geologi, geofisika, pengeboran eksplorasi, serta analisis laboratorium kimia dan fisika mineral akan dilaksanakan dengan memberikan prioritas kepada kawasan timur Indonesia dan daerah berpotensi lainnya. Pelaksanaan inventarisasi sumber daya mineral logam direncanakan di 15 wilayah dan inventarisasi bahan galian industri di 15 wilayah. Eksplorasi sumber daya bahan galian industri akan dilakukan di 30 daerah, eksplorasi mineral logam di 30 daerah, eksplorasi geokimia di 15 daerah, dan eksplorasi geofisika di 30 daerah. Dalam rangka inventarisasi dan eksplorasi sumber daya energi juga akan dilakukan penyelidikan terhadap panas bumi untuk melengkapi data geologi, geofisika, dan geokimianya. Prioritas akan diberikan pada daerah yang tidak mempunyai energi alternatif selain panas bumi dan diperkirakan mempunyai potensi energi panas bumi yang berskala kecil (sekitar 10 megawatt). Dalam Repelita VI akan dilakukan penyelidikan secara terpadu pembuatan peta geologi panas bumi skala 1 : 50.000 serta penyelidikan geofisika dan geokimia panas bumi di 15 lapangan, termasuk di kawasan timur Indonesia. Pengeboran uji panas bumi juga akan dilakukan di lapangan yang mempunyai potensi pengembangan. Inventarisasi sumber daya energi batu bara dan gambut akan dilakukan di 10 wilayah dan

eksplorasinya di 30 daerah. 2)
Geologi Kelautan

Kegiatan di bidang geologi kelautan diarahkan untuk menyediakan informasi dasar mengenai potensi geologi dan sumber daya mineral dan energi dasar laut. Dalam Repelita VI kegiatan pemetaan geologi dan geofisika dasar laut akan ditingkatkan untuk

pengungkapan potensi sumber daya mineral dan energi di dasar laut, sebagai upaya mengantisipasi kebutuhan mineral dan energi di masa yang akan datang. Penyelidikan geologi dan geofisika kelautan akan dilakukan untuk memperoleh informasi struktur dan stratigrafi dasar laut. Informasi ini sangat berguna sebagai petunjuk adanya cebakan hidrokarbon. Pada kawasan yang penting dan jalur pelayaran internasional yang sibuk, kondisi dasar laut, jenis sedimen, dan proses sedimentasinya akan diselidiki. Penyelidikan geologi kawasan pantai ditekankan pada wilayah yang telah dan akan berkembang pesat sehingga informasi ini dapat dipakai untuk mengantisipasi dampak lingkungannya. Penyelidikan geologi wilayah pantai ini juga diarahkan untuk menunjang pengelolaan dan pelestarian lingkungan pantai dan lepas pantai dalam upaya penanggulangan bencana alam geologis. Perencanaan teknis dan geoteknik kelautan sangat dibutuhkan dalam perencanaan pembangunan pelabuhan dan pendirian bangunan lepas pantai. Dalam Repelita VI akan dilakukan pemetaan geologi dasar laut sebanyak 25 lembar dan kompilasi peta geologi regional skala 1:1.000.000 dan lebih kecil sebanyak 5 lembar. Penyelidikan geologi wilayah pantai dan lepas pantai akan dilakukan di 25 wilayah pantai di Pulau Jawa dan kawasan timur Indonesia. 3) Geologi Tata Lingkungan dan Mitigasi Bencana
Alam Geologis

287

Pemetaan hidrogeologi bersistem direncanakan untuk menyelesaikan 15 lembar peta berskala 1:250.000 di kawasan timur Indonesia dan daerah pusat pertumbuhan ekonomi, serta menyelesaikan 10 lembar peta hidrogeologi Pulau Jawa dan Madura dengan skala 1:100.000, termasuk di wilayah yang memiliki kantung kemiskinan. Direncanakan pula penyelidikan potensi air tanah tingkat awal guna memperoleh data dan informasi air tanah secara semikuantitatif serta kemungkinan pengembangannya pada 20 cekungan air tanah.

288

Penyelidikan potensi air tanah tingkat rinci direncanakan mencakup tiga cekungan air tanah guna kemungkinan pengembangannya dalam memenuhi keperluan penyediaan air bersih di daerah perkotaan dan perdesaan. Prioritas utama akan diberikan pada daerah yang mempunyai kantung kemiskinan. Penyelidikan penyediaan air untuk daerah sulit air akan dilaksanakan di 25 lokasi; penyelidikan geologi teknik di 33 lokasi; penyelidikan geologi lingkungan di 30 lokasi; dan penyelidikan geologi lingkungan buangan limbah di 15 lokasi. Dalam Repelita VI akan dilakukan pemetaan seismotektonik daerah rawan gempa sebanyak 10 lembar; pemetaan geologi kuarter 15 lembar; pemetaan geomorfologi 10 lembar; pemetaan geologi gunung api 20 lembar; pemetaan daerah bahaya gunung api 38 lembar; pemetaan topografi puncak gunung api 20 lembar; pemetaan aliran lahar 30 lembar; pemetaan kerentanan gerakan tanah 19 lembar; pemetaan geologi teknik 13 lembar; pemetaan geologi tata lingkungan skala 1:100.000 sebanyak 30 lembar; dan pemetaan geologi tata lingkungan skala 1:250.000 sebanyak 5 lembar. Kegiatan penelitian dan penyelidikan akan meliputi aspek geologi kuarter dan seismotektonik di 40 lokasi; penyelidikan lahar/bahan letusan gunung api di 15 gunung api; penyelidikan kimia gunung api di 20 lokasi; penyelidikan fisika gunung api di 22 lokasi; penyelidikan penginderaan jauh gunung api di 30

lokasi; penyelidikan seismik gunung api di 10 lokasi. Kegiatan mitigasi bencana alam geologis berupa pembuatan stasiun pengamat sesar aktif di 3 lokasi, dan pemantauan sesar aktif di 2 lokasi; pemeriksaan kegempaan rata-rata di 3 lokasi setiap tahun; konservasi geologi di 5 lokasi; pemantauan gunung api dilakukan pada 79 gunung api aktif dan pada gunung api yang menunjukkan gejala peningkatan aktivitas akan dilaksanakan secara intensif pada 20 lokasi.

Pemantauan tanah longsor di 5 lokasi daerah rawan longsor, yaitu Cianjur, Ciloto, Ciamis, Majenang, dan Banjarnegara; pemeriksaan tanah longsor pada 30 lokasi setiap tahunnya; pembuatan sumur pantau air tanah 6 buah setiap tahun, sehingga pada akhir Repelita VI akan dimiliki 92 sumur pantau yang tersebar di Jakarta, Semarang, Bandung, Denpasar, dan Medan; pembuatan stasiun pengamat amblasan sebanyak 1 stasiun setiap tahunnya di Jakarta; konservasi air tanah di 6 daerah yang penggunaan airnya sangat intensif, yaitu Jakarta, Semarang, Surabaya, Bandung, Denpasar dan Medan; dan pemantauan masalah air, limbah, dan kualitas lingkungan geologi di 6 lokasi. b. Program Pembangunan Pertambangan Dengan memperhatikan kebijaksanaan pembangunan pertambangan nasional dan mengantisipasi perkembangan peningkatan permintaan akan hasil-hasil tambang, dalam Repelita VI akan diupayakan peningkatan produksi dan penganekaragaman hasil tambang. 1) Pertambangan Batu Bara Produksi batu bara direncanakan sebesar 35 juta ton untuk tahun 1994/95 dan pada tahun 1998/99 diproyeksikan sebesar 71 juta ton. Peningkatan produksi ini berasal dari produksi badan usaha milik negara (BUMN) yang membuka tambang baru di sekitar Tanjung Enim (Muara Tiga Besar, Bangko Barat, Bukit Kendi), dan di sekitar Sawahlunto (Waringin atau Sugar), sehingga tingkat produksi dari BUMN akan mencapai 11,6 juta ton pada akhir Repelita VI. Investor swasta diharapkan akan meningkatkan produksinya dengan membuka beberapa tambang baru.

Pada akhir Repelita VI tingkat produksi perusahaan swasta kontrak kerja sama diperkirakan akan mencapai 56,2 juta ton. Di samping itu, tambang berskala kecil yang dikelola oleh swasta nasional dan koperasi diharapkan dapat mencapai tingkat produksi sebesar 3,2 juta ton per tahun. 289

290

Eksplorasi terinci batu bara akan dilakukan di sekitar Tanjung Enim, seperti di Kungkilan Banjarsari, Arahan dan Suban Jeriji; juga di sekitar Sawahlunto seperti di Sigalut dan Air Keruh; di Mampun Pandan (Jambi), di sekitar Cerenti (Riau); di Sangkulirang (Kalimantan Timur) dan di Satui II (Kalimantan Selatan). Eksplorasi di daerah baru seperti Irian Jaya dan Maluku akan dilakukan pada lokasi yang potensial. Kegiatan pengusahaan pertambangan batu bara termasuk gambut tetap berpedoman kepada sistem penambangan yang berwawasan lingkungan, terutama sekali dikaitkan dengan pengelolaan masa pascatambang. Rencana umum tata ruang (RUTR) merupakan salah satu acuan dalam pembangunan pertambangan, khususnya yang berkaitan dengan pengembangan wilayah. Dalam rangka meningkatkan daya muat akan dibangun pelabuhan batu bara Tarahan III dan beberapa pelabuhan batu bara lain, untuk memuat dan menyalurkan produksi yang berasal dari perusahaan swasta asing, swasta nasional, ataupun pertambangan skala kecil dan koperasi lainnya. Batu bara Indonesia telah mulai menembus pasaran internasional, terutama di kawasan Asia Pasifik. Ekspor bate bara pada akhir Repelita VI diperkirakan mencapai sebesar 39,1 juta ton. Untuk menunjang pengembangan briket batu bara bagi keperluan rumah tangga, akan dibangun kilang

briket oleh BUMN, antara lain di Tanjung Enim, Ciwandan, dan Gresik. Produksi briket batu bara tersebut diharapkan pada akhir Repelita VI dapat memenuhi 63 persen dari kebutuhan briket batu bara sebesar 4,8 juta ton per tahun. Kekurangannya diharapkan dapat dipenuhi oleh usaha swasta. Sarana penunjang untuk pemuatan dan distribusi briket batu bara akan dikembangkan. Dalam Repelita VI diharapkan bahwa sumber daya gambut sudah mulai dapat dimanfaatkan sebagai bahan energi serta bahan baku industri, baik di dalam negeri maupun untuk tujuan ekspor.

291 Energi gambut sejauh mungkin dapat membantu program nasional pengentasan desa tertinggal dan daerah yang relatif terpencil, mengingat sifat arang gambut yang secara ekonomis kurang menguntungkan untuk ditranspor. Penggunaan gambut juga direncanakan untuk percobaan ekstraksi asam humat (lignin), sebagai pengencer lumpur pengeboran, pengatur pengerasan semen, dan media semai. Upaya pemanfaatan gambut tersebut tetap memperhatikan kegunaan lahan bagi keperluan pertanian dan usaha lain, dan menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup. 2) Pertambangan Mineral Produksi timah akan diarahkan pada pemenuhan peluang ekspor serta peningkatan kebutuhan industri di dalam negeri. Untuk itu, akan dilakukan berbagai upaya meningkatkan produksi timah, antara lain dengan meningkatkan kegiatan eksplorasi tambang aluvial dalam di lepas pantai dan di daratan; meningkat kan kapasitas penambangan di darat; meningkatkan kualitas produk dengan menghasilkan timah berkadar timbal rendah; meningkatkan pemasaran ekspor dan promosi serta menjamin lancarnya pemasokan sebagai bahan baku industri di dalam negeri. Produksi timah pada awal Repelita VI diproyeksikan sebesar 34 ribu ton dan pada akhir Repelita VI meningkat menjadi 40,3 ribu ton. Dalarn periode Repelita VI, produksi bijih nikel akan ditingkatkan dari 2,4 juta ton pada tahun pertama menjadi 2,75 juta ton pada tahun kelima. Produksi nikel

matte akan ditingkatkan pada akhir Repelita VI.

menjadi 50 ribu ton nikel

Perluasan pabrik feronikel Pomalaa tahap I yang telah dimulai pada akhir Repelita V diharapkan akan mulai berproduksi pada tahun kedua Repelita VI. Dengan selesainya perluasan pabrik, produksi feronikel akan meningkat dari 5,5 ribu menjadi 11 ribu ton nikel. Pengolahan nikel akan ditingkatkan kapasitasnya secara bertahap, sehingga ekspor utama komoditas nikel pada akhir Repelita V I a ka n t e r di r i a t a s ni ke l ol a ha n. U s a ha p e n go pt i m a l a n

292 penggunaan energi dalam pembuatan feronikel akan dilakukan dengan menjajagi penggunaan sumber energi yang lebih murah seperti PLTA, serta kemungkinan pembuatan feronikel menggunakan teknik selain proses Elkem. Untuk dapat lebih memanfaatkan potensi cadangan nikel, usaha penjajagan proses leaching juga akan diteruskan dalam Repelita VI. Atas dasar studi ini, akan dibuat rencana perluasan/pengembangan tahap II. Dalam meningkatkan nilai tambah komoditas nikel dan memanfaatkan cadangan nikel yang ada, pada Repelita VI juga akan dilakukan pengkajian kemungkinan dibangunnya pabrik baja tahan karat
(stainless steel).

Untuk meningkatkan cadangan nikel, dalam Repelita VI akan diteruskan kegiatan eksplorasi. Cadangan yang telah ditemukan pada Repelita V di Pulau Halmahera akan dievaluasi lebih lanjut serta disiapkan rencana pengembangannya. Kajian mengenai potensi tenaga air di daerah ini sebagai sumber energi juga akan dilakukan bersamaan dengan evaluasi cadangan yang dapat ditambang sehingga pembangunan pabrik pemurniannya dapat dimulai pelaksanaannya pada akhir Repelita VI. Untuk memanfaatkan cadangan nikel di Pulau Gag secara optimal, dalam Repelita VI akan mulai dilakukan perundingan dengan perusahaan swasta nasional/asing yang tertarik menanamkan modalnya berikut mengembangkan proses pengolahannya.

Perencanaan dan persiapannya juga akan dilakukan dalam Repe-lita VI sehingga pembangunannya dapat dimulai pada Repelita VII. Untuk memproduksi bijih bauksit berkualitas ekspor, pada Repelita VI akan dilakukan penambangan di Pulau Bintan yang pelaksanaannya sesuai dengan rencana pengembangan Pulau Bintan menjadi pusat pariwisata dan zona industri. Kegiatan eksplorasi yang lebih rinci akan dilanjutkan di daerah Tayan, Pantas, dan Munggu Pasir untuk mengevaluasi cadangan dan perencanaan tambang. Juga akan dilakukan penyelesaian terhadap

masalah tumpang tindih lahan dengan pihak kehutanan (hutan tanaman industri). Diharapkan dalam Repelita VI pembukaan tambang baru berikut pengembangan bauksit di wilayah ini dapat dirumuskan. Sebagai upaya mengisi mata rantai produksi antara industri hulu dan hilir, pemanfaatan cadangan bauksit berkadar rendah di Pulau Bintan dan pengembangan cadangan bauksit di Kalimantan Barat merupakan pertimbangan pokok untuk pendirian pabrik alumina di Indonesia. Usaha penelitian pembuatan tawas cair dari bahan baku bauksit, terutama dalam penggunaannya untuk penjernihan air, akan dilanjutkan dalam Repelita VI. Dalam Repelita VI produksi konsentrat tembaga akan ditingkatkan menjadi 1.761 ribu ton. Selain itu, akan diusahakan diversifikasi vertikal industri tembaga Indonesia dengan mendirikan pabrik peleburan tembaga di dalam negeri, termasuk rencana pendirian pabrik peleburan tembaga di Gresik dengan kapasitas pengolahan 450 ribu ton konsentrat per tahun. Di samping itu, pada akhir Repelita VI diperkirakan telah dapat dibuka tambang baru di Pulau Sumbawa. Dalam Repelita VI produksi emas dan perak akan ditingkatkan, disertai dengan upaya pengembangannya ke arah industri hilir. Dengan berproduksinya tambang emas Pongkor, produksi emas dan perak pada akhir Repelita VI akan meningkat menjadi 70.600 kilogram emas dan 1.43.000 kilogram perak. Komoditas ini

293

memiliki prospek yang cerah di mesa depan karena pasaran yang baik di dalam dan di luar negeri. Kegiatan eksplorasi untuk menambah cadangan emas dan perak akan dilanjutkan selama Repelita VI di beberapa daerah. Di Pulau Jawa akan dilakukan eksplorasi yang lebih intensif sehingga pada akhir Repelita VI dapat diketahui secara pasti potensi daerah yang akan dikembangkan. Kegiatan penyelidikan juga akan dilanjut kan di daerah Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Sumatera.

294 Mengingat banyaknya cadangan emas dalam jumlah kecil yang dimungkinkan untuk ditambang dengan tambang terbuka, dalam masa Repelita VI akan dievaluasi kemungkinannya untuk membuka tambang emas dengan kapasitas produksi ekonomis di bawah 1 ton per tahun. Usaha ini akan membantu pengembangan daerah dan penataan serta pemantapan usaha pertambangan rakyat. Dengan adanya potensi pasar yang baik untuk barang perhiasan, dalam masa Repelita VI akan dilakukan penelitian dan kemungkinan investasi untuk mengembangkan industri barang perhiasan, Produksi pasir besi akan ditingkatkan dalam Repelita VI, seiring dengan peningkatan kapasitas pabrik semen dalam negeri. Evaluasi potensi pasir besi Lumajang akan dilanjutkan dalam rangka pendirian pabrik semen di daerah Jawa Timur. Usaha pemanfaatan pasir besi Cilacap serta Kutoarjo dalam skala kecil atau menengah yang telah dimulai sejak Repelita V akan diteruskan dengan pengkajian kemungkinan pendirian pabrik pengolahan pasir besi. Pengembangan bahan galian industri akan lebih diarahkan pada pemenuhan kebutuhan bahan baku konstruksi, pertanian, dan berbagai industri pengolahan di dalam negeri. Industri pengolahan hasil pertambangan berteknologi tinggi, seperti produksi keramik halus, bahan komposit, bahan baku untuk industri elektronik, logam baru, dan logam tanah langka akan dirintis dan dikembangkan.

3) Pertambangan Minyak Bumi, Gas Bumi, dan Panas Bumi Dalam Repelita VI direncanakan mengeksplorasi minyak dan gas bumi pada satu cekungan tersier yang belum dibor. Melalui upaya peningkatan eksplorasi dan pengurasan lanjut, produksi minyak bumi diperkirakan 547,5 juta barel pada akhir Repelita VI. U n t u k m e n c a p a i t i n g k a t p r o d u ks i t e r s e b u t , a ka n dilakukan

pengeboran sumur pengembangan sebanyak 773 buah sumur rata-rata per tahun. Sejalan dengan upaya peningkatan minyak mentah yang diolah di dalam negeri, pangsa ekspor minyak mentah diperkirakan akan mulai berkurang. Produksi gas bumi diproyeksikan mencapai 2.960 miliar kaki kubik pada akhir Repelita VI dengan tingkat pemanfaatan rata-rata sebesar 7,7 miliar kaki kubik per hari atau 94 persen dari produksi. Dalam Repelita VI diupayakan untuk mempertahankan dan meningkatkan ekspor LNG sekaligus peningkatan konsumsi LNG di dalam negeri. Produksi LNG akan ditingkatkan dari 25,7 juta ton pada tahun pertama menjadi sebesar 28 juta ton pada tahun terakhir Repelita VI. Untuk itu, direncanakan pendirian kilang LNG Train G di Bontang dengan kapasitas 2,3 juta ton per tahun, yang akan beroperasi sebelum akhir Repelita VI, sedangkan produksi LPG sekitar 3,5 juta ton per tahun. Dari potensi panas bumi sebesar 16.000 megawatt direncanakan untuk dimanfaatkan sebesar 1.025 megawatt pada akhir Repe-lita VI. Untuk itu, akan dilakukan pengembangan lapangan Gunung Salak (200 megawatt), Gunung Darajat (110 megawatt), Gunung Lahendong (20 megawatt), Gunung Dieng (55 megawatt), Gunung Sibayak (20 megawatt), Gunung Ulubelu (20 megawatt), Gunung Lumut Balai (20 megawatt), Gunung Sarula (110 megawatt), Gunung Patuha (40 megawatt), Gunung Wayang Windu (40 megawatt), Gunung Karaha (55 megawatt), Gunung Kamojang (55 megawatt), dan Gunung Buyan Bratan (40 megawatt). Dengan makin meningkatnya kebutuhan BBM, akan dilakukan pengoptimalan penggunaan kilang melalui perbaikan, penyesuaian, dan penyempurnaan alat-alat

kilang sehingga kapasitas kilang dapat ditingkatkan menjadi 1.042 ribu barel per hari takwim (thousands barrels per calendar day, MBCD) pada akhir Repelita VI. Untuk itu, dalam Repelita VI akan dilaksanakan upaya penambahan kapasitas kilang seperti pembangunan kilang mini di Kasim, penyempurnaan kilang Balikpapan I, modifikasi kilang Balikpapan 295

296 II, dan perbaikan kilang Cilacap, sehingga tambahan kapasitas kilang mencapai sekitar 165 MBCD. Untuk mengangkut BBM ke seluruh wilayah Nusantara, diperlukan armada kapal tanker dengan kapasitas 4,7 juta DWT pada akhir Repelita VI. Fasilitas pengangkutan minyak mentah dan produk minyak akan ditingkatkan, demikian jugs kinerja untuk memenuhi kebutuhan yang terus meningkat. Sistem angkutan dengan pemindahan dari kapal ke kapal di Teluk Semangka akan mulai ditinggalkan, dan pengembangan sistem transportasi BBM terpadu akan ditingkatkan. Demikian pula pendayagunaan prasarana maritim dan kebandaraan, galangan kapal, teknik bawah air, dan telekomunikasi akan ditingkatkan kemampuannya. Sistem jaringan pipa penyaluran minyak beserta terminal distribusinya juga akan ditingkatkan kemampuannya dalam memperlancar distribusi BBM untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Produk non-BBM terutama Low Sulphur Waxy Residue (LSWR) dan nafta, dalam Repelita VI akan mulai dipergunakan sebagai bahan baku oleh industri petrokimia di dalam negeri. c.
Program Pengembangan Usaha Pertambangan Rakyat Terpadu

Program ini ditujukan untuk meningkatkan peran serta masyarakat dalam pembangunan pertambangan

secara lebih luas dan produktif. Untuk itu, akan dilakukan peningkatan pembinaan terhadap potensi usaha pertambangan rakyat dalam bentuk program terpadu yang merupakan bagian dari sistem pertambangan nasional yang tangguh. Konsep yang telah ada dan akan terus dikembangkan adalah pola pertambangan skala kecil (PSK), yang dirintis sejak tahun 1991. Sasaran yang akan dicapai melalui PSK ini ialah membina dan menyalurkan potensi rakyat dalam suatu konsep kegiatan pertambangan yang tertata dan mendukung sistem perekonomian nasional;

memberikan wahana ekonomi yang sesuai dengan aspirasi, kebutuhan, dan kemampuan rakyat setempat untuk ikut berperan aktif dalam usaha pertambangan yang berskala ekonomis sehingga mampu meningkatkan kesempatan berusaha dan perluasan lapangan kerja serta peningkatan kesejahteraan rakyat di daerah; menyediakan wadah pembinaan bagi peningkatan peran serta rakyat dalam pertambangan oleh Pemerintah dan para pelaku ekonomi yang kuat, melalui pengembangan sistem pertambangan yang terpadu dan sesuai dengan permasalahan yang dihadapi masyarakat penambang setempat; mendorong terselenggaranya pemanfaatan kekayaan sumber daya alam oleh rakyat dengan daya guna dan hasil guna yang lebih besar, perlindungan terhadap kerusakan lingkungan, kemitraan usaha yang saling menguntungkan dengan pertambangan besar, keterkaitan dengan industri pengolahan, pemasaran hasil dan jasa pelayanan lainnya, serta mendukung pengembangan wilayah; melaksanakan upaya pencadangan usaha pertambangan rakyat secara proaktif pada lokasi yang cocok dengan konsep PSK. Jika dilihat sifat, pola, serta tujuan pengembangan PSK, bentuk organisasi usaha yang sesuai untuk dikembangkan adalah koperasi. Hal ini jugs sesuai dengan ciri-ciri usaha pertambangan rakyat dan tujuan membangun ekonomi di daerah perdesaan. PSK sebagai kegiatan pertambangan tidak dapat dilepaskan dari masalah kewilayahan sehingga pemerintah daerah dilibatkan secara aktif sebagai pembina teknis di lapangan. Kegiatan pertambangan rakyat yang telah ada akan dibina, dan bilamana mungkin ditingkatkan kemampuannya sesuai dengan pola PSK. Di samping pembinaan yang terpadu dan utuh tersebut, akan

ditingkatkan pula penataan dan pembinaan terhadap usaha pertambangan rakyat lainnya serta dipersiapkan wilayah pencadangan yang sesuai untuk usaha tersebut. Cara ini merupakan kegiatan sektor pertambangan dalam upaya pemerataan pembangunan dan pengentasan rakyat dari kemiskinan di daerah perdesaan.

297

298
2. Program Penunjang a. Program Penelitian dan Pengembangan Pertambangan

Program ini ditekankan pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang pertambangan dan pengolahan hasil tambang dalam rangka peningkatan efisiensi dan mutu hasil tambang dengan meningkatkan serta mempercepat pelaksanaan penelitian dan pengembangan terapan. Peningkatan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang geologi dan sumber daya mineral akan dilaksanakan secara bertahap melalui penerapan teknologi maju, seperti survei geofisika udara, pemetaan digital, penerapan geographic information system (GIS); pemanfaatan jasa satelit untuk peringatan dini bahaya gunung api, dan untuk pengamatan gempa bumi dan amblasan; pengembangan sistem telemetri untuk seismik. dan parameter fisika lainnya. Alat-alat deformasi akan digunakan untuk memantau gerakan tanah, amblasan, dan aktivitas gunung api. Untuk meningkatkan efisiensi dalam kegiatan geologi dan pertambangan dilaksanakan pengembangan standardisasi dan manajemen. Dalam Repelita VI direncanakan pembakuan peta dasar geologi untuk 25 jenis peta dan penyusunan prosedur tetap mitigasi bencana alam geologis seperti gempa bumi, tanah longsor, dan gunung api.

Peningkatan efisiensi di bidang pertambangan mineral dan batu bara dilakukan melalui kegiatan pembakuan komoditas tam-bang, teknik penambangan serta pengolahan hasil tambang, standar keselamatan kerja tambang dan lingkungan hidup tambang, dan uji mineral logam serta mineral industri. Peningkatan efisiensi dalam perusahaan minyak dan gas bumi akan diusahakan melalui penerapan manajemen reservoir dalam pengoptimalan pengembangan lapangan, penurunan biaya

299 eksplorasi, pemakaian minyak, pemakaian lanjut; dan LPG kecil. produksi, pemurnian dan pengolahan; gas bumi sebagai bahan bakar di lapangan penggunaan gas untuk menggantikan minyak mentah dalam pengurasan tahap pemanfaatan gas bumi buangan untuk kilang

Penelitian dan pengembangan pertambangan diarahkan pula pada upaya peningkatan cadangan, pengurasan lanjut, peningkatan nilai tambah, diversifikasi dan konservasi energi, kelestarian fungsi lingkungan hidup, dan teknologi material baru. Peningkatan pemanfaatan produksi dalam negeri dan kandungan lokal akan didorong melalui pengembangan kemampuan perekayasaan dan rancang bangun alat-alat pertambangan dan penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI). Pangsa pembelian barang dan jasa dalam negeri secara bertahap ditingkatkan sejalan dengan peningkatan daya saingnya. b. Program Pendidikan, Pelatihan, Penyuluhan, dan Ketenagakerjaan Pertambangan

Program ini bertujuan untuk meningkatkan peran serta masyarakat melalui pengembangan sistem informasi, penyuluhan, dan pelayananan kepada masyarakat, termasuk dunia usaha. Penerbitan peta-peta, buku panduan, buletin dan yang berkaitan dengan geologi, geofisika, gunung api, dan sumber daya

mineral akan ditingkatkan. Kegiatan penyuluhan akan ditingkatkan, khususnya tentang bahaya gempa bumi, gunung api, serta gerakan tanah; informasi tentang air tanah, geologi lingkungan, dan sumber daya mineral; dan penyuluhan hukum di bidang pertambangan mineral dan energi kepada pemerintah daerah, calon atau pemegang kuasa pertambangan, dan kepada masyarakat luas.

300

Penyerapan tenaga kerja pertambangan akan ditingkatkan melalui koordinasi antarsektor serta dukungan terhadap bursa tenaga kerja; pemanfaatan dana iuran wajib pendidikan dan pelatihan; dan intensifikasi pendidikan dan pelatihan dalam upaya menggantikan tenaga kerja asing. Peningkatan keselamatan kerja di bidang pertambangan akan diusahakan dengan mengintensifkan penyuluhan pekerja, pengusaha, dan masyarakat di sekitar tempat kerja; melakukan inspeksi yang teliti; dan menyusun standar keselamatan kerja yang sesuai dengan perkembangan teknologi. Kemampuan pelaksana inspeksi tambang di lingkungan pertambangan akan ditingkatkan dan tugas inspeksi tambang akan dipertimbangkan untuk dijadikan jabatan fungsional. Pengembangan sumber daya manusia di bidang pertambangan akan lebih ditingkatkan lagi melalui pendidikan, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, pengembangan karier melalui jalur jabatan fungsional, serta pendidikan dan pelatihan teknis lainnya. c. Program Pembinaan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup

Program ini ditujukan untuk meningkatkan kepedulian lingkungan dan kepedulian sosial melalui

perencanaan yang terpadu dengan memasukkan aspek penambangan yang berwawasan lingkungan secara dini; penyempurnaan terhadap pelaksanaan dan pengawasan analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL), rencana pengelolaan lingkungan (RKL), dan rencana pemantauan lingkungan (RPL); penyempurnaan peraturan dan prosedur kerja dalam proses kegiatan pertambangan; reklamasi dan pemanfaatan lahan pascatambang secara produktif melalui penerapan konsep penambangan berkelanjutan dan pemanfaatan lahan berganda; serta pengembangan teknologi bersih, teknologi daur ulang, serta pemanfaatan limbah.

Dalam Repelita VI direncanakan akreditasi laboratorium penguji; penyempurnaan peraturan pelaksanaan pengawasan mengenai pengelolaan lingkungan pertambangan; pelaksanaan inspeksi tambang; pedoman teknis reklamasi lahan pascatambang; dan pengalokasian lahan usaha pertambangan serta penertiban usaha pertambangan tanpa izin. Dalam rangka peningkatan kepedulian sosial, pemerataan pembangunan dan pengentasan penduduk dari kemiskinan, industri pertambangan didorong untuk melibatkan masyarakat di sekitar tempat kegiatan dengan membangun sarana kesehatan, pendidikan dan fasilitas kemasyarakatan lain, yang dapat pula dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar.
d. Program Pengembangan Usaha Nasional

301

Program ini ditujukan untuk mendorong dan meningkatkan kemampuan usaha nasional, terutama usaha skala menengah dan kecil. Penciptaan iklim investasi yang menarik akan dikembangkan sehingga mendorong para investor untuk berusaha di bidang pertambangan. Kebijaksanaan investasi akan lebih disempurnakan, yang mencakup aspek fiskal dan moneter serta pendukungnya, termasuk sistem perizinan. Peran koperasi dan swasta nasional dalam pengusahaan pertambangan didorong dalam bentuk kerja sama dengan BUMN dan swasta

asing. Peningkatan partisipasi dunia usaha di bidang pertambangan akan didorong dengan memberikan paket pembimbingan teknis kepada koperasi dan swasta nasional. Bantuan yang direncanakan meliputi pembimbingan teknis eksplorasi bahan galian industri, paket pembimbingan teknis pengeboran, dan paket pembimbingan teknis juru bor. Selain itu, akan dikembangkan pula paket teknolo-gi yang dapat dimanfaatkan oleh dunia usaha.

302 Untuk meningkatkan peran serta swasta dan koperasi di bidang minyak bumi, gas bumi, dan panas bumi, iklim investasi akan dibuat lebih menarik sehingga pihak swasta dan koperasi dapat didorong dalam meningkatkan kemampuannya. Upaya tersebut dilaksanakan, antara lain, melalui pendidikan dan pelatihan; pengikutsertaan dalam pembangunan kilang dan industri petrokimia; pemanfaatan gas skala kecil; pembangunan dan pengelolaan pipa transmisi gas; pengangkutan dan penyaluran BBM dan non-BBM; serta berbagai kegiatan jasa lainnya. Industri minyak dan gas bumi Indonesia yang telah berpengalaman lebih dari seabad dan kemampuan nasional yang telah berkembang dalam teknologi, keahlian, dan pendanaan juga akan dikembangkan untuk mulai beroperasi di luar negeri. Dalam upaya meningkatkan pelayanan kepada masyarakat di bidang usaha pertambangan mineral dan energi, akan dilanjutkan usaha deregulasi dan debirokratisasi dalam perizinan; peningkatan pelayanan dalam pemrosesan kontrak karya; penyederhanaan proses pelaksanaan pemberian kuasa pertambangan; dan bimbingan teknis terutama untuk usaha koperasi dan swasta nasional. Di samping itu, akan ditingkatkan pemantauan produksi dan penjualan bahan galian para pemegang kuasa pertambangan atau kontrak karya; komputerisasi sistem informasi kemineralan yang terpadu meliputi proses dan data usaha pertambangan; dan penyelesaian

masalah tumpang tindih lahan pertambangan. e. Program Internasional Peningkatan Kerjasama

Program ini dilaksanakan sebagai bagian integral dari pembangunan pertambangan dalam rangka mempercepat alih teknologi, stabilisasi harga dan produksi komoditas, serta peningkatan arus investasi di bidang pertambangan.

303 Kerja sama internasional di bidang minyak bumi, gas bumi, dan panas bumi, akan tetap dimanfaatkan untuk kepentingan pembangunan nasional. Kerja sama bilateral dengan berbagai negara akan dilaksanakan untuk kelancaran perdagangan dan ekspor, penyelesaian masalah landas kontinen, serta pengusahaan bersama sumber daya minyak dan gas bumi. Demikian pula, kerja sama antarnegara berkembang akan terus digalakkan dengan semangat saling membantu dan saling menguntungkan. Dalam Repelita VI akan terus diupayakan peningkatan kerja sama internasional dalam rangka studi dan alih teknologi di bidang geologi dan sumber daya mineral, baik secara bilateral maupun multilateral. Kerja sama di bidang komoditas pertambangan mineral dan energi terutama dengan badan-badan internasional, akan ditingkatkan. Di bidang penelitian dan pengembangan akan dilakukan kerja sama internasional antara lain dengan Korea, Jepang, Amerika Serikat, Australia, Jerman, dan berbagai negara berkembang. Demikian juga, diusahakan peningkatan pemanfaatan data dan informasi dari badan-badan internasional sebagai bahan evaluasi guna menetapkan strategi pengembangan industri pertambangan nasional.
VI. RENCANA ANGGARAN PEMBANGUNAN DALAM REPELITA VI

Program-program pembangunan tersebut di atas dilaksanakan baik oleh Pemerintah maupun oleh masyarakat. Dalam program-program tersebut, yang merupakan program dalam bidang pertambangan, yang akan dibiayai dengan anggaran pembangunan selama Repelita VI (1994/95 - 1998/99) adalah sebesar Rp.439.840,0 juta. Rencana anggaran pembangunan pertambangan untuk tahun pertama dan selama Repelita VI menurut sektor, sub sektor dan program dalam sistem APBN dapat dilihat dalam Tabel 25-3.

Tabel 25 3

RENCANA ANGGARAN PEMBANGUNAN PERTAMBANGAN Tahun Anggaran 1994/95 dan Repelita VI (1994/95 1998/99)

(dalam juta rupiah) No. Kod e 07 07.1 07.1. 01 07.1. 07.1. 03 Sektor/Sub Sektor/Program SEKTOR PERTAMBANGAN DAN ENERGI Sub Sektor Pertambangan Program Pengembangan Geologi dan Sumber Daya Mineral Program Pembangunan Pertambangan Program Pengembangan Usaha Pertambangan Rakyat Terpadu 43.870,0 23.000,0 287.350,0 141.570,0 10.920,0 1.000,0 1994/95 1994/95 1998/99

304

~.ull mll