Anda di halaman 1dari 6

Narkoba Mempengaruhi Kerja Otak

[06 Juli 2006, 14:49 WIB] Oleh : SADAR BNN Juni 2006 / Adi KSG IV

Tahukah Anda bahwa pemakaian narkoba sangat mempengaruhi kerja otak yang berfungsi sebagai
pusat kendali tubuh dan mempengaruhi seluruh fungsi tubuh? Karena bekerja pada otak, narkoba
mengubah suasana perasaan, cara berpikir, kesadaran dan perilaku pemakainya. Itulah sebabnya
narkoba disebut zat psikoaktif.

Ada beberapa macam pengaruh narkoba pada kerja otak. Ada yang menghambat kerja otak, disebut
depresansia, sehingga kesadaran menurun dan timbul kantuk. Contoh golongan opioida (candu,
morfin, heroin, petidin), obat penenang/tidur (sedativa dan hipnotika) seperti pil BK, Lexo, Rohyp,
MG dan sebagainya, serta alkohol.

Ada narkoba yang memacu kerja otak, disebut stimulansia, sehingga timbul rasa segar dan semangat,
percaya diri meningkat, hubungan dengan orang lain menjadi akrab, akan tetapi menyebabkan tidak
bisa tidur, gelisah, jantung berdebar lebih cepat dan tekanan darah meningkat. Contoh amfetamin,
ekstasi, shabu, kokain, dan nikotin yang terdapat dalam tembakau. Ada pula narkoba yang
menyebabkan khayal, disebut halusinogenika. Contoh LSD. Ganja menimbulkan berbagai pengaruh,
seperti berubahnya persepsi waktu dan ruang, serta meningkatnya daya khayal, sehingga ganja dapat
digolongkan sebagai halusinogenika. Dalam sel otak terdapat bermacam-macam zat kimia yang
disebut neurotransmitter. Zat kimia ini bekerja pada sambungan sel saraf yang satu dengan sel saraf
lainnya (sinaps). Beberapa di antara neurotransmitter itu mirip dengan beberapa jenis narkoba. Semua
zat psikoaktif (narkotika, psikotropika dan bahan adiktif lain) dapat mengubah perilaku, perasaan dan
pikiran seseorang melalui pengaruhnya terhadap salah satu atau beberapa neurotransmitter.
Neurotransmitter yang paling berperan dalam terjadinya ketergantungan adalah dopamin.

Bagian otak yang bertanggung jawab atas kehidupan perasaan adalah sistem limbus. Hipotalamus
adalah bagian dari sistem limbus, sebagai pusat kenikmatan. Jika narkoba masuk ke dalam tubuh,
dengan cara ditelan, dihirup, atau disuntikkan, maka narkoba mengubah susunan biokimiawi
neurotransmitter pada sistem limbus. Karena ada asupan narkoba dari luar, produksi dalam tubuh
terhenti atau terganggu, sehingga ia akan selalu membutuhkan narkoba dari luar.

Yang terjadi pada ketergantungan adalah semacam pembelajaran sel-sel otak pada pusat kenikmatan.
Jika mengonsumsi narkoba, otak membaca tanggapan orang itu. Jika merasa nyaman, otak
mengeluarkan neurotransmitter dopamin dan akan memberikan kesan menyenangkan. Jika memakai
narkoba lagi, orang kembali merasa nikmat seolah-olah kebutuhan batinnya terpuaskan. Otak akan
merekamnya sebagai sesuatu yang harus dicari sebagai prioritas sebab menyenangkan. Akibatnya, otak
membuat program salah, seolah-olah orang itu memerlukannya sebagai kebutuhan pokok. Terjadi
kecanduan atau ketergantungan.

Pada ketergantungan, orang harus senantiasa memakai narkoba, jika tidak, timbul gejala putus zat, jika
pemakaiannya dihentikan atau jumlahnya dikurangi. Gejalanya bergantung jenis narkoba yang
digunakan. Gejala putus opioida (heroin) mirip orang sakit flu berat, yaitu hidung berair, keluar air
mata, bulu badan berdiri, nyeri otot, mual, muntah, diare, dan sulit tidur.

Narkoba juga mengganggu fungsi organ-organ tubuh lain, seperti jantung, paru-paru, hati dan sistem
reproduksi, sehingga dapat timbul berbagai penyakit. Contoh: opioida menyebabkan sembelit,
gangguan menstruasi, dan impotensi. Jika memakai jarum suntik bergantian berisiko tertular virus
hepatitis B/C (penyakit radang hati). Juga berisiko tertular HIV/AIDS yang menurunkan kekebalan
tubuh, sehingga mudah terserang infeksi, dan dapat menyebabkan kematian. Ganja menyebabkan
hilangnya minat, daya ingat terganggu, gangguan jiwa, bingung, depresi, serta menurunnya kesuburan.
Sedangkan kokain dapat menyebabkan tulang sekat hidung menipis atau berlubang, hilangnya memori,
gangguan jiwa, kerja jantung meningkat, dan serangan jantung.

Jadi, perasaan nikmat, rasa nyaman, tenang atau rasa gembira yang dicari mula-mula oleh pemakai
narkoba, harus dibayar sangat mahal oleh dampak buruknya, seperti ketergantungan, kerusakan
berbagai organ tubuh, berbagai macam penyakit, rusaknya hubungan dengan keluarga dan teman-
teman, rongrongan bahkan kebangkrutan keuangan, rusaknya kehidupan moral, putus sekolah,
pengangguran, serta hancurnya masa depan dirinya. (Adi KSG IV)

Pengaruh Narkoba terhadap Sistem Saraf

DEWASA ini, banyak orang yang mengonsumsi obat-obatan atau narkoba, mulai dari
anak kecil sampai dewasa, bahkan orang yang lanjut usia. Sebenarnya, narkoba ini
digunakan di rumah sakit-rumah sakit, seperti narkotika yang digunakan untuk
menghilangkan rasa sakit pasien pada saat operasi.

Untuk pemakaian ini, narkotika harus digunakan sesuai dengan dosis yang tepat dan di
bawah pengawasan dokter. Namun, karena efeknya yang dianggap dapat membuat jiwa
lebih tenang dan nyaman, ada upaya sebagian orang untuk menyalahgunakannya, yaitu
menenangkan jiwa yang sedang kacau sehingga beban tersebut terasa hilang. Padahal,
beban tersebut tetap ada, malahan pemakaian obat-obatan tersebut menambah masalah
baru bagi dirinya, terutama kesehatannya. Masalah tersebut akan timbul apabila si
pemakai telah merasa ketagihan, yaitu dengan rusaknya alat tubuh terutama sistem saraf,
penurunan gairah seksual, dan kemandulan.

Ada empat macam obat yang berpengaruh terhadap sistem saraf, yaitu:

1. Sedatif, yaitu golongan obat yang dapat mengakibatkan menurunnya aktivitas normal
otak. Contohnya valium.

2. Stimulans, yaitu golongan obat yang dapat mempercepat kerja otak. Contohnya
kokain.

3. Halusinogen, yaitu golongan obat yang mengakibatkan timbulnya penghayalan pada si


pemakai. Contohnya ganja, ekstasi, dan sabu-sabu.

4. Painkiller, yaitu golongan obat yang menekan bagian otak yang bertanggung jawab
sebagai rasa sakit. Contohnya morfin dan heroin.
Penggunaan obat-obatan ini memiliki pengaruh terhadap kerja sistem saraf, misalnya
hilangnya koordinasi tubuh, karena di dalam tubuh pemakai, kekurangan dopamin.
Dopamin merupakan neurotransmitter yang terdapat di otak dan berperan penting dalam
merambatkan impuls saraf ke sel saraf lainnya. Hal ini menyebabkan dopamin tidak
dihasilkan. Apabila impuls saraf sampai pada bongkol sinapsis, maka gelembung-
gelembung sinapsis akan mendekati membran presinapsis.

Namun karena dopamin tidak dihasilkan, neurotransmitte tidak dapat melepaskan isinya
ke celah sinapsis sehingga impuls saraf yang dibawa tidak dapat menyebrang ke
membran post sinapsis. Kondisi tersebut menyebabkan tidak terjadinya depolarisasi pada
membran post sinapsis dan tidak terjadi potensial kerja karena impuls saraf tidak bisa
merambat ke sel saraf berikutnya.

Efek lain dari penggunaan obat-obatan terlarang adalah hilangnya kendali otot gerak,
kesadaran, denyut jantung melemah, hilangnya nafsu makan, terjadi kerusakan hati dan
lambung, kerusakan alat respirasi, gemetar terus-menerus, terjadi kram perut dan bahkan
mengakibatkan kematian. Untuk menyembuhkan para pencandu diperlukan terapi yang
tepat dengan mengurangi konsumsi obat-obatan sedikit demi sedikit di bawah
pengawasan dokter dan diperlukan dukungan moral dari keluarga serta lingkungannya
yang diiringi oleh tekad si pemakai untuk segera sembuh. Hal yang paling penting adalah
ditumbuhkannya nilai agama dalam diri si pemakai.
Sehat Bugar: Narkoba Bisa Merusak Sistem Saraf

| 16-06-2007 |
Akibatnya, Bisa Menimbulkan Kecacatan Permanen

DEWASA ini, banyak orang yang mengonsumsi obat-obatan atau narkoba,


mulai dari anak kecil sampai dewasa, bahkan orang yang lanjut usia.
Sebenarnya, narkoba ini digunakan di rumah sakit, seperti narkotika yang
digunakan untuk menghilangkan rasa sakit pasien pada saat operasi. Namun,
karena efeknya yang dianggap dapat membuat jiwa lebih tenang dan nyaman,
ada upaya sebagian orang untuk menyalahgunakannya, yaitu menenangkan jiwa
yang sedang kacau sehingga beban tersebut terasa hilang. Padahal, beban
tersebut tetap ada, malahan pemakaian obat-obatan tersebut menambah masalah
baru bagi dirinya, terutama kesehatannya. Salah satu efeknya bagi kesehatan
adalah gangguan pada sistem saraf.

Menurut dr Idrat Riowastu SpS, ada empat macam obat yang berpengaruh
terhadap sistem saraf, yakni jenis sedatif, yaitu golongan obat yang dapat
mengakibatkan menurunnya aktivitas normal otak. Contohnya valium. Ada juga,
stimulans, yaitu golongan obat yang dapat mempercepat kerja otak. Contohnya
kokain.

Jenis lainnya yakni halusinogen, yaitu golongan obat yang mengakibatkan


timbulnya penghayalan pada si pemakai. Contohnya ganja, ekstasi, dan sabu-
sabu. Terakhir jenis painkiller, yaitu golongan obat yang menekan bagian otak
yang bertanggung jawab sebagai rasa sakit. Contohnya morfin dan heroin.

Penggunaan obat-obatan ini memiliki pengaruh terhadap kerja sistem saraf. Ada
empat macam gangguan terhadap saraf. Pertama, gangguan saraf sensorik,
dimana ada rasa kebas, penglihatan buram hingga bisa menyebabkan kebutaan.
“Kasus buta akibat penggunaan narkoba sudah pernah saya temukan kasusnya,”
ujarnya saat ditemui di Rumah Sakit Raden Mattaher (RSRM) Jambi.

Kedua gangguan saraf otonom. Gangguan ini menyebabkan gerakan yang tidak
dikehendaki melalui gerak motorik. Sehingga orang yang dalam keadaan mabuk
bisa melakukan apa saja di luar kesadarannya. “Misalnya saat mabuk,
mengganggu orang, berkelahi dan sebagainya,” ujar dr Idrat.

Ketiga, gerakan gangguan saraf motorik. Gerakan tanpa koordinasi dengan


sistem motoriknya. “Orang lagi on, kepalanya goyang-goyang sendiri, pengaruh
obat hilang, baru berhenti,” ujarnya. Keempat gangguan saraf vegetatif yakni
terkait bahasa yang keluar. Bahasa yang keluar di luar kesadaran, ngawur,
biasanya juga disertai gaya bicara yang pelo.

Pengaruh lain ke otak, timbul rasa takut, kurang percaya diri jika tidak
Seperti dijelaskan di atas, efek yang ditimbulkan oleh NARKOBA dapat membuat
pemakainya kehilangan kontrol atas dirinya, sehingga terkadang melakukan hal-hal yang
tidak akan dilakukannya apabila ia sedang dalam kesadaran penuh.

Misalnya, di bawah pengaruh NARKOBA (terutama yang bersifat stimulan dan


halusinogen) sepasang remaja bisa melakukan hubungan seks yang tidak aman, yang
buntut-buntutnya dapat menyebabkan kehamilan yang tidak diinginkan atau penularan
penyakit kelamin.
Selain itu, bergantian memakai jarum suntik juga dapat menularkan virus seperti HIV
yang menyebabkan AIDS dan virus Hepatitis B dan C. Jarum suntik yang tidak steril juga
menjadi pintu masuk bagi bakteri-bakteri yang suka ngendon di katup jantung, sehingga
pecandu NARKOBA suntikan tak jarang yang mengalami kerusakan jantung.

Pada dasarnya, semua obat adalah racun, yang apabila dikonsumsi melebihi dosis yang
aman dapat membahayakan kesehatan bahkan dapat sampai menimbulkan kematian.
Demikian pula dengan obat-obatan atau zat yang bersifat adiktif atau menimbulkan
ketagihan. Apabila seseorang sudah pernah mencoba NARKOBA dan menikmatinya,
besar kemungkinan ia ingin mengulangi pengalaman itu. Apabila hal ini berlangsung
lebih sering, maka ia akan memasuki tahap pembiasaan, di mana penggunaan
NARKOBA sudah menjadi kebiasaannya.

Tahap yang mengikuti tahap pembiasaan adalah tahap kompulsif yaitu mengalami
ketergantungan dan tidak dapat mengendalikan pemakaian obat-obatan tadi. Dalam
keadaan ketagihan, pecandu merasa sangat tidak nyaman dan kesakitan. Baginya, tidak
ada lagi yang lebih penting daripada mendapatkan zat yang menyebabkan dia ketagihan
itu. Untuk mendapatkan itu dia dapat melakukan apa pun, seperti mencuri, bahkan
membunuh.

Konsumsi zat adiktif terus-menerus dapat menyebabkan peningkatan toleransi tubuh


sehingga pemakai tidak dapat mengontrol penggunaannya dan cenderung untuk terus
meningkatkan dosis pemakaian sampai akhirnya tubuhnya tidak dapat menerima lagi.
Keadaan ini disebut overdosis, dan apabila tidak ditangani secara cepat dan tepat, dapat
menyebabkan nyawa melayang.

Overdosis juga dapat disebabkan oleh penggunaan campuran dua jenis atau lebih
NARKOBA. Mencampur beberapa jenis sangat berbahaya karena kalau NARKOBA
dicampur, pengaruhnya akan lebih dahsyat bahkan dapat menimbulkan reaksi lain yang
tak terduga. Campuran yang paling berbahaya adalah campuran dua macam antidepresan
misa1nya heroin dan alkohol dan / atau valium rohypnol. Pengaruh sinergi dari dua jenis
antidepresan dapat menutup rapat pusat pernapasan otak, yang mengakibatkan koma atau
kematian

Dampak Fisik:
1. Gangguan pada system syaraf (neurologis) seperti: kejang-kejang, halusinasi,
gangguan kesadaran, kerusakan syaraf tepi

2. Gangguan pada jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler) seperti: infeksi akut otot
jantung, gangguan peredaran darah

3. Gangguan pada kulit (dermatologis) seperti: penanahan (abses), alergi, eksim

4. Gangguan pada paru-paru (pulmoner) seperti: penekanan fungsi pernapasan, kesukaran


bernafas, pengerasan jaringan paru-paru

5. Sering sakit kepala, mual-mual dan muntah, murus-murus, suhu tubuh meningkat,
pengecilan hati dan sulit tidur

6. Dampak terhadap kesehatan reproduksi adalah gangguan padaendokrin, seperti:


penurunan fungsi hormon reproduksi (estrogen, progesteron, testosteron), serta gangguan
fungsi seksual

7. Dampak terhadap kesehatan reproduksi pada remaja perempuan antara lain perubahan
periode menstruasi, ketidakteraturan menstruasi, dan amenorhoe (tidak haid)

8. Bagi pengguna narkoba melalui jarum suntik, khususnya pemakaian jarum suntik
secara bergantian, risikonya adalah tertular penyakit seperti hepatitis B, C, dan HIV yang
hingga saat ini belum ada obatnya

9. Penyalahgunaan narkoba bisa berakibat fatal ketika terjadi Over Dosis yaitu konsumsi
narkoba melebihi kemampuan tubuh untuk menerimanya. Over dosis bisa menyebabkan
kematian