Anda di halaman 1dari 10

PERKEMBANGAN TERKINI TEKNOLOGI REFRIGERASI

Siklus refrigerasi merupakan sebuah mekanisme berupa siklus yang mengambil energi
(termal) dari daerah bertemperatur rendah dan dibuang ke daerah bertemperatur tinggi.
Siklus ini berlawanan dengan proses spontan yang terjadi sehari-hari, maka diperlukan
masukan energi untuk menjalankan siklus refrigerasi. Teknologi refrigerasi sangat erat
terkait dengan kehidupan dunia modern; bukan hanya pada sisi peningkatan kualitas dan
kenyamanan hidup, namun juga menyentuh hal-hal esensial penunjang kehidupan manusia.
Teknologi refrigerasi dibutuhkan untuk meminimalkan, bahkan bisa meniadakan,
pertumbuhan mikroorganisme perusak bahan-bahan tertentu; maka teknologi ini
dibutuhkan keberadaannya di bidang penyimpanan dan transportasi bahan makanan.
Mesin refrigerasi saat ini dengan mudah kita jumpai di berbagai swalayan yang menjual
bahan kebutuhan sehari-hari. Truk berpendingin sudah menjadi kebutuhan umum guna
mentransportasikan bahan makanan melalui jarak yang cukup jauh. Selain meminimalkan
atau meniadakan pertumbuhan mikroorganisme, pendinginan yang dihasilkan oleh
teknologi refrigerasi juga diperlukan untuk mencegah terjadinya reaksi kimiawi/biologis
yang bisa merusak kondisi suatu zat. Maka teknologi ini juga menjadi tuntutan di bidang
kedokteran (penyimpanan vaksin, obat-obatan, hingga cadangan darah). Dukungan mesin
refrigerasi terhadap kemajuan iptek jelas terlihat dari keberadaan mesin ini di berbagai
instalasi penting berbagai bidang; biologi, kimia, kedokteran, dsb. Teknologi refrigerasi
bukan hanya monopoli perusahaan besar ataupun institusi ilmiah, mesin ini, dalam bentuk
lemari pendingin (refrigerator) dan pengkondisi udara (AC) umum dijumpai di tengah-
tengah masyarakat. Bukan sekedar gaya hidup, karena mesin refrigerasi berfungsi untuk
meningkatkan kualitas hidup manusia.
Pengkondisian udara merupakan salah satu aplikasi penting teknologi refrigerasi.
Teknologi ini bisa menghasilkan dua hal esensial yang diperlukan dalam pengkondisan
udara; yakni pendinginan (cooling) dan pemanasan (heating). Pengkondisian udara adalah
usaha untuk mengatur temperatur dan kelembaban udara agar menghasilkan kenyamanan
termal (thermal comfort) bagi manusia. Pengkondisian udara lengkap meliputi pemanasan
(heating), pendinginan (cooling), pengaturan kelembaban (humidifying dan
dehumidifying), dan pertukaran udara (ventilating). Sedangkan pengkondisian udara skala
kecil umumnya dilakukan tanpa mengikutsertakan pengaturan kelembaban. Pengkondisian
udara saat ini telah menjadi standard bangunan, publik ataupun privat dalam berbagai
skala, di berbagai penjuru dunia. Untuk daerah yang mengalami empat musim, terjadi
perubahan fungsi pengkondisian udara dari pemanasan (heating) pada saat musim dingin
menjadi pendinginan (cooling) pada saat musim panas. Sedangkan pada daerah
khatulistiwa seperti Indonesia, pada umumnya fungsi pengkondisian udara adalah pada
mode pendinginan saja. Mesin pengkondisian udara yang bekerja sebagai pendingin
biasanya disebut sebagai AC (Air Conditioning), sedangkan pada saat bekerja sebagai
pemanas disebut sebagai pompa kalor (heat pump). Kedua fungsi tersebut bisa menyatu
dalam satu mesin (mesin refrigerasi), bisa juga terpisah menjadi dua bagian; tergantung
pada mekanisme yang digunakan.

1. Masalah kontemporer yang mempengaruhi perkembangan mesin pengkondisian udara

Dewasa ini banyak diserukan pentingnya penghematan energi di berbagai penjuru dunia.
Hal tersebut dipicu oleh kekhawatiran semakin menipisnya cadangan minyak dunia,
sementara pada saat yang sama, manusia belum mampu menemukan bahan bakar
pengganti yang memiliki kemampuan dan ketersediaan yang setara dengan minyak bumi.
Di sisi lain, permintaan minyak dunia terus meningkat sebesar 1 ・2% pertahun (Kerr dan
Service, 2005). Kombinasi faktor-faktor tersebut menyebabkan ketidakstabilan harga
minyak bumi. Selain itu, penggunaan bahan bakar minyak (BBM) mengakibatkan akibat
buruk lain bagi bumi, yakni efek rumah kaca (greenhouse) yang disebabkan oleh
peningkatan jumlah karbon dioksida (CO2) di atmosfer.
Kebutuhan energi pada mesin refrigerasi / pengkondisian udara terhadap pasokan listrik
nasional cukup signifikan. Di Shanghai, Saito (2002) mengemukakan bahwa pada beban
puncak di musim panas, pengkondisian udara mengkonsumsi 1/3 suplai listrik. Suzuki dkk
(2005) memperkirakan bahwa beban listrik untuk mesin pengkondisian udara
mengkonsumsi tidak kurang dari 1/5 suplai listrik di Jepang. Untuk belahan Amerika
Utara, Todesco (2005) menyatakan bahwa kebuhan listrik untuk mesin pengkondisian
udara pada beban puncak mencapai 3.6 ・9.2 GW --bandingkan dengan kemampuan PT
PLN yang sekitar 39.5 GW (Seymour dkk (2002). Sedangkan di Indonesia, Suwono (2005)
menyebut sekitar 60% konsumsi listrik hotel di Jakarta digunakan untuk memasok energi
mesin pengkondisian udara. Oleh karena itu, usaha penghematan energi yang dilakukan
terhadap mesin pengkondisian udara akan berdampak signifikan terhadap usaha
penghematan energi dunia.
Hipotesis yang disampaikan oleh Molina dan Rowland (1974) mengenai dampak buruk
chlorofluoromethane (CFC) terhadap lapisan ozon mencetuskan babak baru dalam dunia
pengkondisian udara. Verifikasi yang dilakukan berbagai penelitian yang dibiayai beberapa
perusahaan penghasil refrigerant (bahan yang digunakan dalam mesin refrigerasi/mesin
pendingin) pada akhir 1970-an menghasilkan temuan yang mendukung hipotesis Molina
dan Rowland. Diperkirakan terjadi perusakan lapisan ozon sekitar 3% per-dekade. Lapisan
ozon yang terdapat di daerah stratosphere berfungsi untuk menghalangi masuknya sinar
ultraviolet-B ke permukaan bumi (Calm, 2002). Sinar ultraviolet-B ini ditengarai akan
menyebabkan masalah kesehatan bagi manusia dan gangguan pada tumbuhan di
permukaan bumi. Setelah sebuah ekspedisi dari Inggris ke daerah Antartika
mengindikasikan adanya kerusakan parah pada lapisan ozon (Farman dkk., 1985), dunia
segera mengambil langkah serius untuk mencegah bertambah parahnya kerusakan lapisan
ozon. Protokol Montreal tahun 1987 mengatur penggunaan dan penghapusan berbagai zat
yang ditengarai menyebabkan kerusakan lapisan ozon; refrigerant CFC termasuk salah satu
diantaranya. Protokol Montreal dan berbagai amandemennya mengamanatkan
penghapusan CFCs di negara maju pada tahun 1996, sedangkan untuk negara berkembang
pada tahun 2010 (United Nations for Environment Programme, 2000). Pada lapisan
stratosphere secara alamiah terjadi proses pembentukan dan penghancuran molekul ozon
(O3) oleh sinar ultraviolet. Keberadaan atom chlorine (Cl) menyebabkan kesetimbangan
reaksi tersebut terganggu. Kerusakan lapisan ozon akibat chlorine (Cl) dijelaskan melalui
reaksi kimia berantai berikut:
O3 + UV → O* + O2
Cl + O3 → ClO + O2
ClO +O*→ Cl + O2
Cl + O3 → ClO + O2
ClO + O* → Cl + O2
Mayoritas ilmuwan dunia meyakini bahwa pemanasan global yang terjadi belakangan ini
diakibatkan oleh gas-gas rumah kaca yang dihasilkan oleh aktivitas manusia (Oreskes,
2002). Selain berkontribusi pada produksi CO2 melalui system pembangkit energi untuk
suplai listrik mesin refrigerasi, teknologi refrigerasi juga berkontribusi langsung pada
pemanasan global melalui kebocoran dan buangan refrigeran (yang bersifat gas rumah
kaca) ke lingkungan. Terkait dengan hal ini, Protokol Kyoto tahun 1997 tentang perubahan
iklim bumi telah mengatur penggunaan refrigerant yang termasuk dalam gas rumah kaca,
yakni HFCs (Hidro Fluoro Carbons). Gas-gas yang memiliki potensi efek rumah kaca
dikategorikan dalam zat GWP (Global Warming Potential), sedangkan zat perusak lapisan
ozon disebut sebagai ODS (Ozon Depleting Substance).
Dengan demikian, terdapat tiga hal yang mempengaruhi perkembangan mesin refrigerasi
saat ini, yakni: (1) Penghematan energi, (2) Tuntutan refrigerant non-ODS, dan (3)
Tuntutan refrigerant non-GWP. Perlu diketahui bahwa efek GWP dan ODS pada zat
refrigerant hanya terjadi bila zat tersebut terlepas ke atmosfer yang disebabkan kebocoran
pada mesin refrigerasi ataupun penggantian dan recycling refrigerant. Di luar sistem
refrigerasi, CFC juga digunakan dalam berbagai aplikasi lain seperti zat pendorong
(propellant), aerosol, zat pengembang, dll. Guna menjawab tiga kebutuhan terkait dengan
perkembangan teknologi refrigerasi di atas, ilmuwan dan teknolog melakukan berbagai
inovasi yang pada umumnya terkategorikan dalam tiga hal: (1) Perbaikan prestasi dan
karakteristik mesin refrigerasi yang telah eksis, (2) Penelitian guna menghasilkan
refrigerant non-ODS dan non-GWP, dan (3) Pencarian teknologi refrigerasi alternatif.

1.1 Perbaikan prestasi dan karakteristik mesin refrigerasi/pengkondisian udara

Saat ini mesin refrigerasi yang paling banyak digunakan di dunia adalah dari jenis siklus
kompresi uap. Sistem lain, seperti sistem magneto-kalorik, absorbsi, adsorpsi, dan efek
Siebeck hingga saat ini masih terbatas penggunaannya. Mesin refrigerasi siklus kompresi
uap memiliki fleksibilitas penggunaan, yakni bisa berfungsi sebagai mesin pendingin (AC)
ataupun pompa kalor (heat pump) dengan mengubah arah aliran refrigerannya. Mesin
refrigerasi jenis ini juga berukuran cukup kompak, sehingga tidak memerlukan ruang yang
besar. Di bawah ini akan dijelaskan prinsip kerja mesin refrigerasi siklus kompresi
uap.Mesin refrigerasi kompresi uap terdiri atas empat komponen utama, yakni kompresor,
kondensor, katup ekspansi, dan evaporator. Kondensor dan evaporator sesungguhnya
merupakan penukar kalor (heat exchanger) yang berfungsi mempertukarkan kalor diantara
dua fluida, yakni antara refrigerant dengan fluida luar (bisa berupa air ataupun udara).
Skema mesin refrigerasi ini dapat dilihat pada Gambar 1 di bawah ini.

Gambar 1. Skema mesin refrigerasi siklus kompresi uap


Sedangkan diagram tekanan−entalpi yang menjelaskan proses pada mesin refrigerasi siklus
kompresi uap bisa dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Diagram tekanan−entalpi pada proses refrigerasi siklus kompresi uap

Pada proses 1−2, kompresor menaikkan tekanan uap refrigerant. Kenaikan tekanan ini
diikuti dengan kenaikan temperatur uap refrigerant. Pada tingkat keadaan (TK) 2, uap
refrigerant berada pada kondisi uap super-panas. Pada proses 2−3, uap refrigerant
memasuki kondensor dan mendapatkan pendinginan dari kondensor. Pendinginan ini
terjadi akibat pertukaran panas antara uap refrigerant dengan fluida luar (misalnya udara
lingkungan ataupun air pendingin). Refrigerant keluar dari kondensor pada TK 3 dalam
kondisi cair jenuh, atau bisa juga pada kondisi cair sub-dingin. Refrigerant kemudian
memasuki katup ekspansi. Katup ekspansi ini pada prinsipnya berupa penyempitan daerah
aliran yang berakibat pada penurunan tekanan fluida secara drastis. Idealnya, refrigerant
melalui katup ekspansi (proses 3−4) secara iso-entalpi (isentalpi). Pada TK 4, refrigerant
berada dalam kondisi campuran cair dan uap. Karena refrigerant berada pada tekanan
jenuhnya (tekanan penguapan), maka dia akan mengalami penguapan; hukum alam
menyatakan bahwa penguapan membutuhkan energi, terjadilah penyerapan energi termal
dari luar evaporator yang menyebabkan efek pendinginan oleh mesin refrigerasi.
Pada mesin refrigerasi siklus kompresi uap, fungsi kondensor dan evaporator bisa dibalik
dengan mengubah arah aliran refrigerant. Dengan demikian, mesin ini bisa berfungsi
sebagai pendingin di musim panas dan pemanas di musim dingin. Pada saat berfungsi
sebagai mesin pendingin, umumnya mesin ini disebut sebagai mesin AC (Air
Conditioning) dan saat berfungsi sebagai mesin pemanas, mesin ini disebut sebagai heat
pump (pompa kalor). Prestasi AC dapat dinyatakan dengan:
COP (tak bersatuan) singkatan dari Coefficient of Performance, QE adalah perpindahan
panas pada evaporator, dan WC adalah kerja kompresor. Persamaan (1) menyatakan
prestasi AC pada satu saat tertentu. Prestasi AC dalam kurun waktu yang lama, misalnya
selama musim panas, dinyatakan dalam SEER (Seasonal Energy Efficiency Ratio). SEER
memiliki bentuk yang sama dengan Persamaan (1), hanya berbeda pada satuan SEER,
yakni Btu.h/Watt.
Sedangkan untuk pompa kalor, prestasi mesin refrigerasi dapat dinyatakan dengan:

PF (besaran tak bersatuan) singkatan dari Performance Factor dan QK adalah perpindahan
panas pada kondensor. Sama halnya dengan AC, untuk menunjukkan prestasi pompa kalor
pada waktu yang lama, misalnya dalam satu kurun musim dingin, orang bisa menggunakan
HSPF (Heating Seasonal Performance Factor). HSPF memiliki satuan yang sama dengan
SEER.

KOMPONEN – KOMPONEN POKOK REFRIGERASI


Operasi refrigerasi butuh suatu mesin yang disebut dengan refrigerator. Refrigerator
merupakan kumpulan serangkaian peralatan, seperti:

1. Kompressor.
2. Kondensor.
3. Akumulator.
4. Mesin ekspansi / katup ekspansi.
5. Evaporator.

1.Kompressor
Kompressor adalah alat yang digunakan untuk menghisap uap refrigerant dan
mengkompresinya sehingga tekanan uap refrigerant naik sampai ke tekanan yang
diperlukan untuk pengembunan (kondensasi) uap regrigerant di dalam kondensor.
Kompressor ini digerakkan oleh sumber tenaga dari mesin penggerak, seperti:
• Motor listrik
• Motor baker
• Diesel
• Mesin uap
• Turbin gas
Pada kompressor, berlaku persamaan neraca energi;

Karena kompressi, fluida kerja (uap refrigerant) terkompressi menjadi naik entalpinya (H2
> H ),sehingga dapat dikatakan energi dari sumber digunakan untuk menaikkan entalphi
fluida kerja.

2.Kondensor
Kondensor merupakan alat penukar panas yang berguna untuk mendinginkan uap
refrigerant dari kompressor agar dapat mengembun menjadi cairan. Pada saat
pengembunan ini, refrigerant mengeluarkan sejumlah kalori (panas pengembunan) yang
mana panas ini diterima oleh media pendingin di dalam kondensor.

3.Akumulator
Merupakan alat yang berguna untuk mengumpulkan cairan refrigerant yang berasal dari
kondensor. Dengan adanya alat ini akan memudahkan pengaturan stock dari total
refrigerant.

4.Mesin Ekspansi atau Katup Ekspansi


Mesin atau katup ekspansi ini berfungsi untuk menurunkan tekanan dari cairan refrigerant
sebelum masuk ke evaporator, sehingga akan memudahkan refrigerant menguap di
evaporator dan menyerap kalori (panas) dari media yang didinginkan.

5.Evaporator
Juga merupakan alat penukar panas. Refrigerant cair dengan tekanan rendah setelah proses
ekspansi, diuapkan dalam alat ini. Untuk penguapan refrigerant cair ini tentunya
diperlukan sejumlah kalori, yang mana diambil dari media yang akan didinginkan oleh
sistem refrigerasi. Misalnya pada mesin Air Conditioning (AC), media yang didinginkan
adalah udara di dalam ruangan (kamar). Begitu pula pada kulkas, media yang didinginkan
adalah ruangan dalam kulkas dan segala sesuatu yang berada dalam kulkas. Uap refrigerant
yang terbentuk di evaporator langsung dihisap oleh kompressor, demikian seterusnya
mengulangi langkah pertama tadi sehingga membentuk suatu siklus, yang disebut dengan
siklus refrigerasi.

SISTEM REFRIGERASI KOMPRESI UAP


Siklus refrigerasi kompresi mengambil keuntungan dari kenyataan bahwa fluida yang
bertekanan tinggi pada suhu tertentu cenderung menjadi lebih dingin jika dibiarkan
mengembang. Jika perubahan tekanan cukup tinggi, maka gas yang ditekan akan menjadi
lebih panas daripada sumber dingin diluar (contoh udara diluar) dan gas yang mengembang
akan menjadi lebih dingin daripada suhu dingin yang dikehendaki. Dalam kasus ini, fluida
digunakan untuk mendinginkan lingkungan bersuhu rendah dan membuang panas ke
lingkungan yang bersuhu tinggi.
Siklus refrigerasi kompresi uap memiliki dua keuntungan. Pertama, sejumlah besar energi
panas diperlukan untuk merubah cairan menjadi uap, dan oleh karena itu banyak panas
yang dapat dibuang dari ruang yang disejukkan. Kedua, sifat-sifat isothermal penguapan
membolehkan pengambilan panas tanpa menaikan suhu fluida kerja ke suhu berapapun
didinginkan. Hal ini berarti bahwa laju perpindahan panas menjadi tinggi, sebab semakin
dekat suhu fluida kerja mendekati suhu sekitarnya akan semakin rendah laju perpindahan
panasnya.
Siklus refrigerasi ditunjukkan dalam Gambar 1 dan 2 dan dapat dibagi menjadi tahapan
tahapan berikut:
1 – 2. Cairan refrigeran dalam evaporator menyerap panas dari sekitarnya, biasanya udara,
air atau cairan proses lain. Selama proses ini cairan merubah bentuknya dari cair menjadi
gas, dan pada keluaran evaporator gas ini diberi pemanasan berlebih/ superheated gas.
2 – 3. Uap yang diberi panas berlebih masuk menuju kompresor dimana tekanannya
dinaikkan. Suhu juga akan meningkat, sebab bagian energi yang menuju proses kompresi
dipindahkan ke refrigeran.
3 – 4. Superheated gas bertekanan tinggi lewat dari kompresor menuju kondenser. Bagian
awal proses refrigerasi (3-3a) menurunkan panas superheated gas sebelum gas ini
dikembalikan menjadi bentuk cairan (3a-3b). Refrigerasi untuk proses ini biasanya dicapai
dengan menggunakan udara atau air. Penurunan suhu lebih lanjut terjadi pada pekerjaan
pipa dan penerima cairan (3b - 4), sehingga cairan refrigeran didinginkan ke tingkat lebih
rendah ketika cairan ini menuju alat ekspansi.
4 - 1 Cairan yang sudah didinginkan dan bertekanan tinggi melintas melalui peralatan
ekspansi, yang mana akan mengurangi tekanan dan mengendalikan aliran menuju
Gambar 1. Gambaran skematis siklus refrigerasi kompresi uap

Gambar 2. Gambaran skematis siklus refrigerasi termasuk perubahan tekanannya


(Biro Efisiensi Energi, 2004)

Kondenser harus mampu membuang panas gabungan yang masuk evaporator dan
kondenser.
Dengan kata lain: (1 - 2) + (2 - 3) harus sama dengan (3 - 4). Melalui alat ekspansi tidak
terdapat panas yang hilang maupun yang diperoleh.

JENIS REFRIGERAN YANG DIGUNAKAN DALAM SISTEM KOMPRESI UAP


Terdapat berbagai jenis refrigeran yang digunakan dalam sistim kompresi uap. Suhu
refrigerasi yang dibutuhkan sangat menentukan dalam pemilihan fluida. Refrigeran yang
umum digunakan adalah yang termasuk kedalam keluarga chlorinated fluorocarbons
(CFCs, disebut juga Freons): R-11, R-12, R-21, R-22 dan R-502.
Sifat-sifat bahan-refrigeran dan kinerja bahan refrigeran tersebut diberikan dalam 2 Tabel
dibawah:
Pemilihan refrigeran dan suhu pendingin dan beban yang diperlukan menentukan
pemilihan kompresor, juga perancangan kondenser, evaporator, dan alat pembantu lainnya.
Faktor tambahan seperti kemudahan dalam perawatan, persyaratan fisik ruang dan
ketersediaan utilitas untuk peralatan pembantu (air, daya, dll.) juga mempengaruhi
pemilihan komponen.