Anda di halaman 1dari 3

KOMPAS Cetak : Terancam Penurunan Peringkat Utang Page 1 of 3

KOMPAS.com Bola Entertainment Tekno Otomotif Forum Community Images Mobile Cetak KompasTV SelebTV VideokuTV PasangIklan GramediaShop

Sabtu, 21 Februari 2009

Home
Berita Utama
/ Home
Bisnis & Keuangan
Humaniora
International
Opini
Politik & Hukum
Sosok Terancam Penurunan Peringkat Utang
Nama & Peristiwa
Nusantara
Metropolitan
Olahraga
Sumatera Bagian
Selatan
Sumatera Bagian
Utara
Foto Lepas
Mandat Rakyat 2009

Index Lalu

BERITA TERPOPULER

Getty Images/China Photos


Kalla Siap Jadi Calon Presiden
Para pekerja migran mencari pekerjaan dengan cara menggelar Hillary Cetak "Hattrick"
persyaratan formal di tanah sambil menunggu para majikan di Pasar
Tenaga Kerja di Distrik Jinjiang, Chengdu, Provinsi Sichuan, China,
Spiritualisme Candi Sukuh
beberapa waktu lalu. Beranda RI yang Menyisakan Pisang dan Ubi
Jumat, 20 Februari 2009 | 01:33 WIB Indonesia Terus Terimbas Krisis
Tuntutan pengucuran stimulus fiskal dalam skala masif dan agresif dalam rangka menangkis Bahasa dan Politik
dampak krisis global tidak hanya dialami negara maju, tetapi juga negara-negara 15 Anggota DPRD Sumut Akan Diperiksa
Lapindo Bikin Janji Baru kepada Korban Lumpur
berkembang yang terkena getah imbas krisis di AS.
Sebuah Tabloid di "Persimpangan Jalan"
Bahasa Ibu, Siapa Peduli?
emampuan negara-negara berkembang, termasuk negara berkembang Asia, untuk
Ubah Perilaku "Nimby"
memberikan stimulus pada perekonomiannya memang tak sebesar seperti negara maju TAJUK RENCANA
atau China yang sejauh ini sudah mengucurkan 2,051 triliun dollar AS untuk mengamankan Bebas Pungutan Tanpa Kecuali
Indonesia Belum Punya Negarawan
perekonomian dalam negerinya.
REDAKSI YTH

Negara berkembang tidak mempunyai ”kemewahan” dan keleluasaan untuk melakukan


kebijakan yang dimaksudkan untuk membendung perlambatan ekonomi (countercyclical
policy) yang bersifat menyeluruh, baik dengan meningkatkan defisit fiskal maupun
menurunkan suku bunga.

Alasannya, karena mereka dihadapkan pada persoalan seperti risiko nilai tukar mata uang
terhadap inflasi dan kewajiban eksternal, sempit dan rapuhnya basis pajak, serta mahalnya
ongkos untuk membiayai peningkatan defisit.

Namun, dalam hal stimulus, negara-negara berkembang Asia tak mau ketinggalan, bahkan
ada kesan latah. Akibatnya, bukan hanya defisit fiskal membengkak, tetapi beberapa negara
juga terancam mengalami penurunan peringkat utang, terutama negara-negara yang tingkat
utang dan defisit fiskalnya sekarang ini dinilai sudah tinggi.

Semakin besar stimulus fiskal, semakin besar defisit fiskal, semakin besar pula utang
pemerintah dan rasio utang terhadap PDB, dan semakin besar tekanan terhadap suku
bunga.

Stimulus yang dikucurkan negara-negara berkembang Asia sekarang ini berkisar 1-2 persen
dari PDB. Namun, angka ini masih mungkin bertambah karena sejumlah negara sudah
memberi sinyal akan menambah anggaran stimulusnya.

Kekhawatiran terhadap risiko kelatahan ini diungkapkan sejumlah lembaga pemeringkat


sebagaimana dikutip Reuters. Mereka sependapat, stimulus fiskal sangat diperlukan untuk
mencegah perlambatan ekonomi yang lebih parah yang bisa menuntun pada implikasi
sosial.

Menurut Kim Eng Tan, analis peringkat utang pemerintah dari Standard and Poor’s, semakin
lama stimulus ditunda, persoalan akan semakin berkembang menjadi problem struktural
yang kian sulit diatasi. Namun, mereka juga mencemaskan lonjakan rasio defisit dan utang
terhadap PDB akan membahayakan kemampuan pemerintah negara-negara ini dalam
membayar cicilan dan bunga utang.

mhtml:file://C:\Documents and Settings\gatot.METRO-MPI\My Documents\KOMPAS Ce... 6/19/2009


KOMPAS Cetak : Terancam Penurunan Peringkat Utang Page 2 of 3

”Jika penurunan ekonomi ini berkepanjangan dan defisit terus meningkat jauh di atas yang
diperkirakan, peringkat utang bisa diturunkan. Risiko ini dihadapi negara, seperti India,
Pakistan, Vietnam, dan Sri Lanka,” ujar Kim Eng Tan.

Di India yang pertumbuhan ekonominya diperkirakan melambat dari 9 persen tahun lalu
menjadi 7 persen tahun ini, dikeluarkannya paket stimulus membuat defisit membengkak
menjadi 6 persen dari PDB, tertinggi dalam 14 tahun terakhir, dari sebelumnya 2,7 persen
pada 2007-2008.

Jika ditambah dengan stimulus yang sudah dikeluarkan pemerintah sebesar 1,8 persen dari
PDB, total defisit menjadi 7,8 persen dari PDB. Pada 2009-2010 baru defisit ini diperkirakan
turun menjadi 5,5 persen.

Di Indonesia, stimulus fiskal senilai Rp 71,3 triliun atau 1,4 persen dari PDB membuat defisit
membengkak dari 1 persen dari PDB menjadi 2,5 persen dari PDB. Stimulus fiskal juga
membengkakkan defisit fiskal Taiwan menjadi 2 persen dari PDB, Malaysia 4,8 persen dari
PDB, Thailand 3,5 persen dari PDB, Singapura 3,5 persen dari PDB, dan Vietnam 7 persen
dari PDB.

Vietnam yang menyuntikkan paket stimulus senilai 6 miliar dollar AS mendapat peringkat
negatif outlook (artinya ada kemungkinan peringkat akan diturunkan dalam tiga bulan
mendatang) dari tiga lembaga pemeringkat. Sementara Pakistan yang mendapat fasilitas
pinjaman darurat dari IMF untuk menghindari krisis neraca pembayaran dan gagal bayar
utang juga mendapat predikat negative outlook dari Moody’s.

Sri Lanka yang mengucurkan stimulus 141 juta dollar AS menyusul perlambatan
pertumbuhan ekonomi ke titik terendah dalam lima tahun terakhir berisiko diturunkan
peringkatnya satu titik menjadi B atau lima level di bawah peringkat layak investasi (below
investment grade).

Lembaga-lembaga pemeringkat sendiri mengatakan, mereka tidak akan bereaksi secara


ekstrem dalam menurunkan peringkat utang negara yang defisitnya membengkak karena
adanya paket stimulus. Mereka memang melihat akan adanya pemburukan fiskal di seluruh
negara Asia karena dorongan politis untuk mengamankan pertumbuhan ekonomi, tetapi
perubahan peringkat akan bergantung pada posisi peringkat masing-masing negara dan
seberapa lama tekanan fiskal berlangsung.

”Beberapa negara sekarang ini dalam posisi lebih kuat dibandingkan sepuluh tahun lalu.
Cadangan devisa dan potensi mendapatkan dukungan eksternal dalam kerangka fasilitas
swap AS juga jauh lebih baik,” ujar Viktor Hjort, analis kredit Morgan Stanley.

Moody’s Investor Services melihat Jepang, Korea Selatan, China, Taiwan, dan Thailand
yang peringkat utangnya bervariasi dari tertinggi ”Aaa” hingga ”A1” akan mencatat defisit
fiskal besar, tetapi untuk negara-negara yang memiliki peringkat di bawah itu tidak akan
memiliki kemewahan serupa dalam ekspansi fiskal.

”Mereka yang memiliki posisi finansial terlemah adalah yang paling tidak mampu
menanggung defisit besar, seperti Filipina dan Indonesia,” kata Tom Byrne, regional credit
officer di Moody’s. Peringkat Filipina dan Indonesia sekarang ini masing-masing empat dan
tiga titik di bawah peringkat layak investasi.

Fitch Ratings juga mencemaskan peringkat negara-negara yang gap fiskalnya kemungkinan
tidak akan turun dengan pulihnya ekonomi nanti. ”Kami khawatir dengan negara seperti
Vietnam, Sri Lanka, Malaysia, dan India di mana defisit tampaknya masih akan bertahan
pada level yang lebih tinggi untuk sementara waktu,” ujar James McCormack, pimpinan
Fitch.

Kredibilitas

Kalangan analis sendiri mulai mempertanyakan kredibilitas dan ketajaman dari paket
stimulus yang diluncurkan. ”Paket-paket stimulus di Asia itu memiliki daya terbatas untuk
mengisolasi perekonomian dari resesi global,” kata Byrne. Alasannya, tak seperti di
kawasan lain, porsi peran pemerintah negara-negara di Asia terhadap PDB lebih kecil
dibandingkan dengan negara-negara lain.

Selain itu, tidak sedikit dari negara-negara ini juga memiliki kendala fisik. ”Banyak negara
dihadapkan pada kendala administratif, seperti kurangnya sumber daya manusia atau mesin
yang dibutuhkan dalam implementasi program-program berskala besar,” ujarnya.

Ia menunjuk Indonesia, Filipina, dan Vietnam sebagai contoh. Kendala institusional


sebelumnya juga disinyalir oleh Direktur Perencanaan Makro Bappenas Bambang
Prijambodo.

mhtml:file://C:\Documents and Settings\gatot.METRO-MPI\My Documents\KOMPAS Ce... 6/19/2009


KOMPAS Cetak : Terancam Penurunan Peringkat Utang Page 3 of 3

Peningkatan defisit untuk urgensi apa pun, menurut dia, hendaknya benar-benar
mempunyai arah yang tepat, yaitu meningkatkan kemampuan membayar (digunakan untuk
kegiatan pembangunan yang memberi dampak bagi masyarakat luas) serta dalam batas
kemampuan membayar (mempertimbangkan risiko pembiayaan defisit saat ini dan ke
depan).

Kondisi institusi yang kurang memadai untuk menjabarkan ekspansi fiskal yang tepat dan
cepat, menurut Bambang, hanya akan mendorong belanja pada pengeluaran yang kurang
memberi dampak multiplier besar. (sri hartati samhadi)

Share on Facebook
- Beri Rating Artikel - Rate A A A

Rubrik: Nasional Regional Internasional Megapolitan Bisnis & Keuangan Kesehatan Olahraga Perempuan Properti Sains Travel Otomotif
Situs: KOMPAS.com Bola Entertainment Tekno Otomotif Forum Community Images Mobile Cetak KompasTV SelebTV VideokuTV PasangIklan

Surat Kabar Majalah dan Tabloid Penerbit Media Elektronik Industri dan Lain-lain Hotel & Resort
------------- ------------- ------------- ------------- ------------- -------------

| About Kompas.com | Info iklan | Privacy policy | Terms of use | Karir | Contact Us |© 2008 - 2009 Kompas Gramedia. All rights reserved

mhtml:file://C:\Documents and Settings\gatot.METRO-MPI\My Documents\KOMPAS Ce... 6/19/2009