Anda di halaman 1dari 8

Ir. Lendo Novo, alumni Teknik Peminyakan Institut Teknologi Bandung (ITB), angkatan 1983.

Bang Lendo, demikian sering dipanggil orang, pernah mengajar di ITB sebagai dosen Teknik Perminyakan pada tahun 1988 sampai 1989, dan mengikuti kuliah pasca sarjana di Resource Energy Management, Geofisika Terapan ITB, pada tahun 1989. Sewaktu kecil ia sering dihukum guru karena terlalu banyak bertanya. Dia mengaku bahwa duduk diam di kelas adalah siksaan, sehingga dari usia belia ia bercita-cita membuat suatu sekolah yang muridnya kelak dapat menikmati saat-saat belajar mereka. Cita-cita dan idenya terus bermunculan saat berada di balik jeruji besi. Dipenjara tujuh bulan pada masa Orde Baru mematangkan gagasan sekolah alam. Dia pun bermimpi mendirikan sekolah yang tak hanya mendidik orang pintar dan bergelar tinggi, namun juga berbudi luhur dan berguna bagi bangsa dan agama. Lendo dipenjara dengan tudingan sebagai tokoh mahasiswa penggerak unjuk rasa saat kunjungan Menteri Dalam Negeri (alm.) Rudini di Institut Teknologi Bandung. Tidak lama setelah keluar dari penjara, cita-citanya terwujud dengan pendirian TK Salman di Bukit Awi Legar, Bandung, yang bertempat di salah satu rumah milik penduduk. Berbasis alam dan tidak ada pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum. Ini cikal bakal TK Islam terpadu, katanya. TK itu dinamai demikian, karena diinspirasi nama Masjid Salman, masjid kampus ITB, tempat Lendo menempuh pendidikan S1 dan S2. Beberapa pihak, termasuk Ibu Sudharmono, istri wakil presiden kala itu menganggap Lendo tidak mengerti konsep pendidikan dengan alasan ia tidak berlatar belakang pendidikan guru. Namun Lendo pantang mundur. Kecaman itu tidak ditanggapinya serius, ia justru mengundang mereka yang mengkritiknya untuk melihat secara langsung proses pembelajaran di sekolahnya tsb. Kalau anak TK harus duduk diam dan melipat tangannya selama belajar, mungkin waktu sepuluh menit bagi mereka sangat lama, tapi kalau kegiatan belajar mereka menyenangkan, mereka akan menikmati belajar itu walau berjam-jam, ujar ayah dari Bariah, Khalid, Hamzah, Dhia, dan Omar ini penuh keyakinan. Mulai tahun 1992 itu pula, Lendo terus menggodok konsep sekolah yang diimpikannya, hingga lima tahun kemudian, tahun 1997, muncullah kesempatan membuka sekolah alamnya yang pertama, yakni Sekolah Alam Ciganjur, di Jakarta Selatan. Di sekolah alam ini dikembangkan suatu sistem pendidikan tempat siswa dari umur pra-sekolah belajar berinteraksi langsung dengan alam sebagai media belajar mereka setiap harinya. Mereka belajar mengamati, bertanya, mengumpulkan data, membuat hipotesis, dan menguji hipotesis mereka. Dengan cara belajar yang aktif dan kreatif ini, anak-anak belajar mandiri dan menjadi akrab dengan lingkungannya. Lewat sekolah alam, Lendo dianugerahi Ashoka Award pada tahun 2003 oleh sebuah lembaga humanitas international yang berpusat di Amerika Serikat. Anugerah ini merupakan pengakuan dan penghargaan atas kegiatan Lendo Novo di bidang wirausaha sosial dengan gagasan baru, keahlian, dan visi implementasi pembaruan sosial yang luas di bidang kepedulian sosial. Pada tahun 2009, Lendo mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) atas jasanya dalam mengembangkan konsep baru pendidikan yang berwawasan lingkungan. Penghargaan tertinggi karena keberpihakannya terhadap penyelamatan masa depan lingkungan melalui pendidikan. Secara khusus Lendo berharap sekolah alam memberi sumbangan bagi pendidikan di Indonesia. Bahkan Lendo mengatakan, sekolah alam tidak hanya disumbangkan bagi Indonesia, tetapi juga bagi

dunia, dan diharapkan dapat mengatasi persoalan pemanasan global. Karena dari sekolah alam akan banyak duta lingkungan yang lahir dari sekolah, yang dapat memperjuangkan kelestarian alam Indonesia. Kalau dari kecil anak sudah terbiasa hidup di alam hijau dan ditanamkan semangat mencintai lingkungan, maka begitu besar ia tidak akan melakukan penebangan pohon, demikian keyakinannya. Kini setelah 20 tahun berselang, banyak masyarakat yang mengembangkan model sekolah alam. Di penjuru Nusantara hingga kini telah ada puluhan buah sekolah alam. Lendo berharap sekolah alam kelak ada di semua provinsi di Indonesia, sehingga bisa menjadi contoh positif dan dapat mempengaruhi pendidikan. Ditulis dari, oleh salah satu muridnya: Eko Kurnianto W berbagai sumber dan pergaulan bersama beliau Saya berkenalan dengan Bang Lendo pada tahun 1999, pada masa reformasi terjadi. Di sela jeda demo masif kala itu, Bang Lendo berhasil memikat dan meyakinkan saya untuk keluar dari Lab Aerodinamika PPAU IR ITB dan bersamanya mewujudkan cita-cita luhurnya di sekolah alam. ================================ Lendo Novo Sekolah Alam Edisi 695 | 13 Jul 2009 | Cetak Artikel Ini Selamat bertemu kembali pembaca Perspektif Baru. Tamu kita minggu ini amat menarik dan membawa hal yang baru, yaitu Lendo Novo. Saya harus memberikan pendahuluan sebab kini pekerjaan dia tidak konvensional, membutuhkan kelincahan pikiran untuk menghayatinya. Dia memimpin, membina, dan mengembangkan satu jaringan sekolah yang tidak lazim, yang disebutnya sebagai sekolah alam. Lendo Novo mengatakan ide membangun sekolah alam adalah agar bisa membuat sekolah dengan kualitas sangat tinggi tapi murah. Itu dilakukan karena sebagian besar rakyat Indonesia miskin. Sedangkan paradigma pendidikan adalah sekolah berkualitas selalu mahal. Dari situ kita mencoba mengembangkan konsep-konsep sekolah alam. Yang menjadikan sekolah itu mahal karena infrastrukturnya, seperti bangunannya, kolam renang, lapangan olahraga, dan lain-lain. Sedangkan yang membuat sekolah itu berkualitas bukan infrastruktur. Kontribusi infrastruktur terhadap kualitas pendidikan tidak lebih dari 10%. Sedangkan 90% kontribusi kualitas pendidikan berasal dari kualitas guru, metode belajar yang tepat, dan buku sebagai gerbang ilmu pengetahuan. Ketiga variabel yang menjadi kualitas pendidikan ini sebetulnya sangat murah, asalkan ada guru yang mempunyai idealisme tinggi. Menurut Lendo Novo, sebetulnya dia tidak keluar dari mainstream. Namun sedang mengedukasi mainstream supaya belajar seperti sekolah alam. Kalau dulu kita belajar fisika, matematika, kimia, biologi dengan cara guru menjelaskannya dan siswa mencatat. Kalau sekarang siswa langsung menanam pohon, kemudian berinteraksi dengan binatang, sehingga pelajaran fisika, kimia, biologi menjadi terintegrasi. Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Lendo Novo.

Perlu kita ketahui bahwa sistem persekolahan di Indonesia dan tempat lain sebetulnya perpaduan antara kebutuhan pendidikan dan juga kelaziman institusi. Jadi kita memiliki sekolah dengan gedung yang kokoh, memiliki kurikulum seperti sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), dan sekolah menengah atas (SMA). Itu hal yang institusional tapi inti dari sekolah adalah proses belajar dan mengajar. Lalu, apa sekolah alam yang merupakan ide Anda dan sekarang subur berkembang? Sekolah alam itu ada sejak 20 tahun lalu dan merupakan hasil penelitian kita. Kita penghobi penelitian. Moto kita adalah eksperimen sampai mati karena kalau kita tidak eksperimen terus maka akan menjadi pengekor (follower) bagi negara-negara maju. Idenya sederhana bagaimana bisa membuat sekolah dengan kualitas sangat tinggi tapi murah. Itu dilakukan karena sebagian besar rakyat Indonesia miskin. Paradigma pendidikan adalah sekolah berkualitas selalu mahal. Jadi bermimpilah bagi rakyat Indonesia mendapatkan sekolah berkualitas. Bagi kami anak-anak muda terpacu untuk menyelesaikan persoalan ini. Tidak ada sesuatu ujian yang tidak ada solusinya. Dari situ kita mencoba mengembangkan konsepkonsep sekolah alam. Yang menjadikan sekolah itu mahal karena infrastrukturnya, seperti bangunannya, kolam renang, lapangan olahraga, dan lain-lain. Sedangkan yang membuat sekolah itu berkualitas bukan infrastruktur. Konstribusi infrastruktur terhadap kualitas pendidikan tidak lebih dari 10%. Darimanakah Anda mendapatkan angka tersebut? Riset dari badan pendidikan di Amerika menunjukkan 90% kontribusi kualitas pendidikan berasal dari kualitas guru, metode belajar yang tepat, dan buku sebagai gerbang ilmu pengetahuan. Ketiga variabel yang menjadi kualitas pendidikan ini sebetulnya sangat murah, asalkan ada guru yang mempunyai idealisme tinggi. Apakah itu maksudnya guru tidak bisa dibayar menurut skala pasar tenaga kerja komersil, tapi harus ada dedikasinya? Ya betul, tapi kita juga memiliki solusinya. Kita mengembangkan program teacherpreneur. Seorang guru yang baik harus menjadi seorang pengusaha yang baik juga karena pada akhirnya setiap tujuan dunia pendidikan agar orang bisa mencari nafkah. Bagaimana guru bisa mengajarkan mencari nafkah kalau dia sendiri tidak bisa mencari nafkah. Kemudian dari riset kita, kita mempunyai guru yang hebat, metode belajar yang perlu kita kembangkan, dan buku. Kalau buku, kita bisa mencari buku bekas, misalnya, di Bandung ada tempat buku bekas di Palasari. Artinya, untuk buku-buku dimana saja bisa didapatkan. Itu akan memudahkan rakyat untuk membaca. Di bidang metodologi, kita menemukan sebuah perspektif baru. Kalau cara belajar di kelas berupa guru mengajar dan murid mencatat maka itu tidak dialogis, satu arah. Padahal inti dari proses pendidikan sebetulnya dialektika antara guru dan murid. Akhirnya kita fokus pada cara-cara bagaimana membangun dialog yang baik. Dengan konsep itu akhirnya kami mengeliminir gedung-gedung, laboratorium dan lain-lain dengan alam. Anda sebetulnya sarjana teknik perminyakan dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan dulu juga aktif di organisasi kemahasiswaaan. Aktivitas tersebut membuat Anda mempunyai sejarah yang berwarna di zaman Orde Baru, seperti pernah ditahan masuk penjara. Kita tidak ada waktu untuk membahas hal itu sekarang, kecuali Anda mau menceritakannya. Namun saya bisa mengerti mengapa Anda bisa melahirkan ide yang begitu orisinil dan cemerlang karena memang hidup Anda penuh tantangan. Sekolah alam ini bukan suatu ilusi, tapi sudah ada. Berapa jumlahnya di seluruh Indonesia? Lebih dari 1.000 sekolah alam. Kalau di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi

(Jabodetabek) ada sekitar lima puluhan. Macam-macam cara pengembangannya, ada orang datang lalu mengembangkannya, ada orang melihat di televisi lalu mengembangkannya, dan sebagainya. Itu sangat cepat karena memang untuk membangun sekolah alam ini sangat sederhana, sangat murah. Intinya mengumpulkan orang, mengolah lahan menjadi sebuah proses konservasi, langsung belajar bersama alam. Bagaimana hubungan sekolah alam dengan SMP dan SMA untuk segi level dan kurikulumnya, apakah kalau orang ikut sekolah alam masih perlu ikut SMP dan SMA? Kita sebetulnya tidak keluar dari mainstream. Kita sebetulnya sedang mengedukasi mainstream supaya belajar seperti kita. Kalau dulu kita belajar fisika, matematika, kimia, biologi dengan cara guru menjelaskannya dan siswa mencatat. Kalau sekarang siswa langsung menanam pohon, kemudian berinteraksi dengan binatang, sehingga pelajaran fisika, kimia, biologi itu terintegrasi. Kalau dulu terpisah-pisah, sedangkan sekarang dari satu obyek saja kita belajar semua ilmu secara terintegrasi. Apakah gurunya juga mempunyai pengetahuan yang terintegrasi? Sangat harus. Guru menjadi fokus pengembangan kita yang paling utama karena kami sangat yakin dengan kualitas guru yang sangat tinggi maka Indonesia bisa mengalahkan negara lain. Sudah terbukti dan sekarang barangkali untuk mencapai pengetahuan terintegrasi lebih mudah dari dulu karena gurunya rajin browsing daripada rajin bicara. Nah secara tipikalnya, berapa jumlah guru untuk satu sekolah? Kita memakai rasio jumlah antara guru dan murid adalah 1 : 10. Itu yang ideal sebetulnya. Kalau kita mau melahirkan sebuah proses pendidikan yang terbaik maka harus sesuai dengan rasionya. Apakah kalau orang ikut sekolah alam masih harus ikut sekolah biasa? Tidak, karena kita terintegrasi. Bagaimana kalau mau kerja, apakah dapat ijazah? Ya, kita bisa mendapat ijazah. Kita bisa ikut ujian nasional, atau ikut ujian kesetaraan karena undangundang (UU) pendidikan memungkinkan kita untuk mencari ilmu dari berbagai jalur. Ini untuk pengetahuan awam yang tidak tahu termasuk saya, siapa saja yang boleh mengikuti ujian nasional tapi bukan murid sekolah biasa? Homeschooling sudah difasilitasi pemerintah. Waktu itu saya pernah menyampaikan kepada beberapa menteri pendidikan sebelumnya bahwa orang Indonesia tidak perlu sekolah, tapi ikut bimbingan tes pasti lulus. Sekolah itu tempat dialektika, kebudayaan, membangun peradaban, dan sebagainya. Jadi lebih banyak berbicara tentang how to build a character. Jadi sekarang kalau ada anak pintar tapi malas sekolah karena bosan, gurunya kurang enak, masih memiliki pilihan ya? Sangat punya. Konsep kami ke depan adalah learning from maestro, jadi belajar dari maestronya bukan dari dosen. Misalnya, ada wood maestro, communication maestro, fashion design maestro, dan

sebagainya. Jadi kurikulumnya sangat cair. Kita merencanakan membuat perguruan tinggi yang konsep belajarnya langsung magang pada maestro-maestro. Tapi tentu tetap ada acuannya supaya kalau ikut ujian negara tetap bisa lulus, sehingga harus tahu biologi dan lainnya. Betul, tetap ada. Kalau dasar ilmu pengetahuan itu kita berikan, tapi lebih fokus kepada pembentukan karakter dan bakat. Apakah kalau mengikuti homeschooling ada batasan masa pendidikan seperti berapa tahun harus mengikutinya, lalu apakah suatu saat dianggap lulus dan selesai? Menurut UU itu tidak dibatasi, cuma pemerintah kalau tidak mengatur-atur pasti stress. Belakangan yang saya dengar, kalau mau ikut Paket C harus pernah tiga tahun ikut homeschooling. Jadi sebetulnya karena ketakutan pemerintah terhadap orang-orang tidak mau sekolah, dan memilih homeschooling saja. Jadi tetap diikat sehingga orang terpaksa harus sekolah. Apakah seseorang harus ikut dari homeschooling yang tersertifikasi? Apakah sekolah alam Anda juga memiliki izin? Ya, untuk sekolah menengah. Namun karena kami merancang sebuah konsep belajar hanya empat tahun untuk menempuh SMP-SMA sehingga sampai hari ini kita belum dikasih izin. Apakah anak muridnya harus membayar? Ya, bayar. Istilahnya membayar guru bukan membayar sekolah. Jadi guru menerima gaji dan di Indonesia tidak ada guru yang full time barangkali. Apakah gurunya bisa menyediakan waktu yang cukup untuk muridnya? Ya, kalau di sekolah kami tentu guru fokus 100%. Mereka fokus di pendidikan. Mereka rata-rata lulusan dari ITB, Institut Pertanian Bogor (IPB), dan Universitas Indonesia (UI) yang tidak memiliki background pendidikan sama sekali, tapi memiliki latar belakang keilmuan dan teknologi. Jadi tidak usah harus lulusan universitas pendidikan? Tidak, yang penting mempunyai ilmu yang cukup karena kita menjadi orang tua tidak ada sekolah orang tua. Istilahnya innocent tapi konsepnya sangat dahsyat. Bisa membuka jalan bagi banyak orang untuk mendapatkan pendidikan yang selama ini terikat oleh batas-batas gedung. Tadi juga ada kalimat yang sangat menarik yaitu ini bukan melawan mainstream, justru mengajak mainstream untuk melihat opsi lain. Orang yang mau ke SMA biasa, silakan ke SMA biasa. Tapi orang yang cerdas tapi susah mengikuti rutinitas bisa masuk ke sekolah alam ini. Berapa banyak siswa yang sudah menikmati homeschooling model ini? Kalau sekolah alam yang benar-benar seperti kami kembangkan ada lebih dari 1.000 sekolah alam. Mulai dari Papua di Kirom, Kalimantan ada di Bontang-Balikpapan, Sulawesi di Tomohon, Aceh, Padang, dan Lampung. Hampir di seluruh provinsi sudah ada. Yang menarik sebetulnya sekolah alam

ini menjadi sebuah mazhab baru. Jadi kalau di koran-koran ada penyebutan sekolah nasional, sekolah internasional, juga ada sekolah alam. Kalau pengakuan media sudah ada, tapi apakah sudah ada juga pengakuan masyarakat? Iya, ada. Sekarang kalau sekolah tidak mengadakan outbond, tidak pakai belajar di alam, rasanya tidak sekolah. Jadi sudah mulai menjadi sebuah peradaban. Kita Insya Allah sudah masuk ke fase itu. Cuma memang yang menjadi kendala kita ke depan adalah para pengelola pendidikan yang ada di Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) masih belum sungguh-sungguh mengimplementasikan konsep ini. Kalau konsep ini dikembangkan, saya berani jamin kita tidak pernah akan bisa ditandingi sekolah dimana pun di dunia karena yang memiliki khas tersebut seperti bio diversity dan orangnya hanya ada di Indonesia. Orang Amerika kalau membuat sekolah alam akan beku. Jadi, kita tidak ingin menjadi followers seumur hidup, tapi kita bisa membuat sebuah tren baru di dunia bahwa the best education profile adalah sekolah alam. Kapan Anda mulai membuat sekolah alam? Kita mulai dari 1989. Tadi Anda mengatakan ada 1.000 sekolah alam, apakah semuanya Anda kenal dan itu terkait dalam satu jaringan komunikasi atau sendiri-sendiri? Sebagian terkait, yang sebagian karena mungkin wilayahnya ada yang di gunung berbatu-batu sehingga komunikasi kita mungkin belum terjadi. Bagaimana mereka sampai bisa mengambil ide ini dan jalan sendiri. Apakah konsep ini tidak susah? Ini sepenuhnya benar-benar bantuan teman-teman media yang berkampanye tentang ini. Jadi bagi pembaca Perspektif Baru yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai sekolah alam silakan tulis surat ke yayasan@perspektifbaru.com karena bagi saya ini sangat berarti, lebih daripada program politik atau ekonomi. Dalam kampanye pemilihan presiden (Pilpres) ada yang mengatakan semuanya itu soal politik, ekonomi, dan pemerintah, padahal semua soal orang dan pendidikan. Apa yang ingin Anda lakukan untuk lima tahun ke depan? Saya sedang bermimpi program bernama Tabung Pohon. Saya marah sama calon presiden dan wakil presiden (Capres Cawapres). Mereka bicara tentang pengentasan kemiskinan, tapi sejak Indonesia merdeka sampai hari ini jumlah orang miskin bukan berkurang malah bertambah. Artinya setiap presiden tidak memiliki solusi pengentasan kemiskinan. Saya lihat ada Bantuan Langsung Tunai (BLT), Kredit Usaha Rakyat (KUR), dan lain-lain tapi cuma cukup untuk orang hidup, makan dan minum. Tapi untuk membuat rumah, bisa menyekolahkan anak, beribadah haji tidak bisa. Saya ada ide kalau satu orang miskin diberikan satu hektar lahan untuk ditanami 1.000 pohon, maka dalam waktu 15 tahun dia akan menghasilkan uang Rp 1,7 milyar. Itu kalkulasi yang sangat konservatif. Artinya, kalau presidennya waras karena saat ini kita memiliki 60 juta lahan tandus. Mana partai yang waras?

Saya belum tahu. Mudah-mudahan yang terpilih mau melakukan hal itu. Kalau setiap keluarga miskin dikasih satu hektar dan dia menanam pohon, maka 15 tahun kemudian dia akan menjadi orang sejahtera. Kalau besok Anda ditunjuk menjadi menteri pendidikan, bagaimana visible-nya konsep ini terlaksana? Sangat visible. Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) harus segera melakukan reformasi agraria, itu harus segera selesai. Kita siapkan 10 juta hektar lahan untuk semua orang miskin, kemudian kita kembangkan konsep Tabung Pohon. Apakah jumlah absolut lahan di Indonesia cukup untuk dibagi-bagi? Sangat cukup karena ada 60 juta lahan. Jadi sekarang ada pemakaian lahan yang tidak efektif. Bayangkan, satu orang bisa mempunyai kelolaan 5 juta hektar. Itu yang sebetulnya sejak awal sudah memiskinkan rakyat Indonesia. Kalau lima juta hektar itu dibagi lima juta orang, maka lima juta orang akan sejahtera. Jadi mimpi saya adalah setiap kabupaten membuat kebun raya supaya masyarakat bisa belajar tentang konsep-konsep green life secara langsung di sana. Nanti di situ ada sekolah alam, herbal theraphy, energi hijau dan segala macamnya. Jadi nanti setiap Bupati kalau mau membangun kecamatan memakai prinsip-prinsip green life. Kalau Obama nanti ke sini harus ketemu Anda dong karena dia sangat susah payah ingin menanamkan green economy dan green entrepreneur di Amerika. Kalau di Indonesia sudah ada Green School, dan sudah mewabah ke seluruh Indonesia. Kita sudah 10 tahun lebih maju daripada Amerika sebetulnya. Betul. Mereka baru mikir sekarang. Apakah di negara lain ada atau tidak sekolah alam? Sekolah alam tidak ada di negara lain. Cuma mereka ada yang namanya Summer School atau Camp. Tapi kalau kita sehari-hari tidak ada. Jadi Anda tidak mengambil contoh dari model luar negeri untuk pengembangannya? Betul. Saya merasa yakin kalau Indonesia itu bangsa yang besar. Ok, tapi Anda sarjana teknik perminyakan, darimana punya ide-ide seperti ini? Saya sejak kecil menjadi pecinta alam. Saya merasakan sebuah surga alam itu. Apakah itu karena Anda tinggal di daerah? Oh, tidak. Saya dibesarkan di Jakarta. Kebetulan karena diajak teman naik gunung. Saya dulu Ketua Pecinta Alam di SMA 9 Jakarta. Apakah Anda mendapatkan resistensi atau tidak, seperti mungkin ada yang mengatakan, Ah ini ngaco, ngawur, tidak sesuai dengan teori?

Wah, sangat. Setiap sekolah alam dibangun tidak pernah muridnya lebih dari tiga orang. Tapi kami tetap bertahan. Akhirnya orang mulai apresiasi, mulai mengerti, dan sebagainya. Awalnya, ada yang mengatakan kepada saya, "Len, loe mau bikin orang Indonesia jadi tarzan semua? Kan sekarang sudah zaman IT." Saya mengatakan sekarang seluruh dunia bergantung pada hutan kita untuk memproduksi oksigen dan dikonsumsi oleh Barat. Kalau Tabung Pohon 10 juta hektar tentu akan menghasilkan oksigen.